LAPORAN PENDAHULUAN (LP

)

I. Konsep Penyakit
1.1 Definisi/deskripsi penyakit
Kelainan katup jantung merupakan keadaan dimana katup jantung
mengalami kelainan yang membuat aliran darah tidak dapat diatur dengan
maksimal oleh jantung. Katup jantung yang mengalami kelainan membuat
darah yang seharusnya tidak bisa kembali masuk ke bagian serambi jantung
ketika berada di bilik jantung membuat jantung memiliki tekanan yang
cukup kuat untuk memompa darah ke seluruh tubuh. Akibatnya orang
tersebut tidak bisa melakukan aktifitas dalam tingkat tertentu (Price &
Wilson.2006).
Kelainan katup jantung yang parah membuat penderitanya tidak dapat
beraktifitas dan juga dapat menimbulkan kematian karena jantung tidak
lagi memiliki kemampuan untuk dapat mengalirkan darah. Kelainan katup
jantung biasanya terjadi karena faktor genetika atau keturunan dan terjadi
sejak masih dalam kandungan. Kelainan pada katup jantung juga bias
terjadi karena kecelakaan ataupun cedera yang mengenai jantung. Operasi
jantung juga dapat menyebabkan kelainan pada katup jantung jika operasi
tersebut gagal atau terjadi kesalahan teknis maupun prosedur dalam
melakukan operasi pada jantung. Penyakit katup jantung menyebabkan
kelainan-kelainan pada aliran darah yang melintasi katup jantung. Katup
yang terserang penyakit dapat mengalami dua jenis gangguan fungsional:
(1) regurgitasi-daun katup tidak dapat menutup rapat sehingga darah dapat
mengalir balik (sinonim dengan isufisiensi katup dan inkompetensi katup) ;
dan (2) stenosis katup-lubang katup mengalami penyempitan sehingga
aliran darah mengalami hambatan. Isufisiensi stenosis dapat terjadi
bersamaan pada satu katup, dikenal sebagai ”lesi campuran” atau terjadi
sendiri yang disebut sebagai lesi murni

1

1. Chordate tendineae 2 .3.bilah katup mitral tidak dapat saling menutup selama systole.1. Ventrikel kiri tidak terpengaruh.2.1. sehingga darah merembes dari ventrikel kiri ke antrium kiri. namun antrium kiri mengalami kesulitan dalam menggosongkan darah melalui lumen yang sempit ke ventrikel kiri. Insufisiensi Mitral (Regurgitasi) Insufisiensi mitral terjadi bilah. Pada kasus stenosis berat menjadi penyempitan lumen sampai seleba pensil. mungkin karena metode diagnostic yang semakin maju 1. 1.1 Sindrom Prolaps Katup Mitral Sindrom prolaps katup mitral adalah disfungsi bilah – bilah katup mitral yang tidak dapat menutup dengan sempurna dan mengakibatkan regurgutasi katup.1.1.1. Sindrom ini kadang tidak menimbulkan gejala atau dapat juga atau dapat juga berkembang cepat dan menyebabkan kematian mendadak.1. Pada tahun–tahun belakangan sindrom ini semakin banyak dijumpai.1. Secara normal pembukaan katup mitral adalah selebar tiga jari. Akibatnya ventrikel kanan harus menanggung beban tekanan arteri pulmonal yang tinggi dan mengalami peregangan berlebihan yang berakhir gagal jantung. maka sirkulasi pulmonal mengalami kongesti. yang menyebabkan penyempitan lumen dan sumbatan progresif aliran darah. Stenosis Mitral Stenosis mitral adalah penebalan progresif dan pengerutan bilah-bilah katup mitral. Akibatnya antrium akan melebar dan mengalami hipertrofi karena tidak ada katup yang melindungi vena pulmonal terhadap aliran balik dari antrium.1 TIPE-TIPE GANGGUAN KATUP JANTUNG 1.

Pemendekan atau sobekan salah satu atau kedua bilah katup mitral mengakibtakan penutupan lumen mitral tidak sempurna saat ventrikel kiri dengan kuat mendorong darah ke aorta. Maka meskipun kebocoran mitral hanya kecil namun selalu berakibat terhadap kedua paru dan ventrikel kanan. Mekanisme kompesansi jantung mulai gagal dan munculah tanda – 3 .1. ventrikel kiri akan mendorong sebagaian darah kembali ke antrium kiri. menyebabkan antrium kiri mengalami pelebaran dan hipertrofi. sehingga bilah katup tidak dapat menutup dengan sempurna.4. Bilah– bilah katup aorta saling menempel dan menutup sebagaian lumen diantara jantung dan aorta. memendek. Stenosis Katup Aorta Stenosis katup aorta adalah penyempitan lumen antara ventrikel kiri dan aorta. 1. Pada orang dewasa stenosis bisa merupakan kelainan bawaan atau dapat sebagai akibat dari endokarditisrematik atau kalsifikasi kuspis dengan penyebab yang tidak diketahui. Aliran balik darah ini ditambah dengan darah yang masuk dari paru. sehingga setiap denyut. yang pada giliranya menambah beban ke ventrikel kanan. Akibatnya paru mengalami kongesti. akibatnya terjadilah regurgitasi aliran balik dari ventrikel kiri ke antrium kiri.1. mendorong darah melalui lumen yang sangat sempit. Ventrikel kiri mengatasi hambatan sirkulasi ini dengan berkontraksi lebih lambat tapi dengan energi yang lebih besar dari normal. Penyempitan terjadi secara progresif selama beberapa tahun atau beberapa puluh tahun. Aliran darah balik dari ventrikel akan menyebabkan darah yang mengalir dari paru ke antrium kiri menjadi berkurang.

5. Sistem kardiovaskuler berusaha mengkompesansi melalui refleks dilatasi pembul. Obstruksi kalur aliran aorta tersebut menambahkan beban tekanan ke ventrikel kiri.1. yang biasanya bertekanan tinggi. menyebabkan tekanan darah sistolik meningkat.uh darah arteri perifer melemas sehingga tahanan perifer turun dan tekanan diastolic turun drastis(Price & Wilson.2006) 4 . terjadilah gagal jantung bila obsruksinya terlalu berat. Ventrikel kiri kemudian melebar dan hipertrofi untuk mengakomodasi peningkatan volume ini. Insufiensi Aorta (Regurgitasi) Insufisiensi aorta disebabkan oleh lesi peradangan yang merusak bentuk bilah katup aorta. sehingga ventrikel kiri harus mengatasi keduanya yaitu mengirim darah yang secara normal diterima dari atrium kiri ke ventrikel melalui lumen ventrikel. atau penyakit seperti sifilis dan pecahnya aneurisma yang menyebabkan dilatasi atau sobekan aorta asendens Karena kebocoran katup aorta saat diastole . tanda klinis. demikian juga akibat tenaga mendorong yang lebih normal untuk memompa darah. 1.1. Otot jantung menebal (hipertrofi) sebagai respons terhadap besarnya obstruksi . akan mengalir ke ventrikel kiri. maupun darah yang kembali dari aorta. Defek katup ini bisa disebabkan oleh endokarditis. sehingga masing–masing bilah tidak bias menutup lumen aorta dengan rapt selama diastole dan akibatnya menyebabkan aliran balik darah dari aorta ke ventrikel kiri. maka sebagaian darah dalam aorta. yang mengakibatkan penebalann dinding otot. kelainan bawaan.

2. Berdasarkan etiologinya stenosis katup mitral terjadi terutama pada orang tua yang pernah menderita demam rematik pada masa kanak- kanak dan mereka tidak mendapatkan antibiotik. Di bagian dunia lainnya.2. demam rematik sering terjadi dan menyebabkan stenosis katup mitral pada dewasa. Yang khas adalah jika penyebabnya demam rematik. tetapi sekarang telah lebih banyak ditemukan penyakit katup jenis baru. 1.1.2.2. Stenosis Mitraler. Di negara berkembang seperti Indonesia. Stenosis Aorta Berdasarkan etiologinya stenosis katup aorta merupakan penyakit utama pada orang tua. remaja dan kadang pada anak-anak. penyakit jantung bawaan. trauma dan sebagainya). namun penyakit rematik masih merupakan penyebab lazim deformitas katup yang membutuhkan koreksi bedah 1. yang merupakan akibat dari pembentukan jaringan parut dan penimbunan kalsium di dalam daun katup.3. penyakit jantung koroner. daun katup mitral sebagianbergabung menjadi satu. Stenosis katup aorta seperti ini timbul setelah usia 60 tahun.1. Meskipun terjadi penurunan insidensi penyakit demam rematik. penyebab terbanyak insufisiensi mitral adalah demam reumatik. 1. tetapi 5 .2 Etiologi Penyakit katup jantung dahulu dianggap sebagai peyakit yang hampir selalu disebabkan oleh rematik. endokarditis. Penyakit katup jantung yang paling sering dijumpai adalah penyakit katup degeneratif yang berkaitan dengan meningkatnya masa hidup rata-rata pada orang-orang yang hidup di negara industri dibandingkan dengan yang hidup di negara berkembang. Insufisiensi Mitral Berdasarkan etiologinya insufisiensi atau regurgitasi mitral dapat dibagi atas reumatik dan non reumatik (degeneratif.

masalah baru muncul pada masa pertumbuhan anak. penyebab yang paling sering adalah kelainan bawaan. sering menjadi kaku dan menyempit karena terkumpulnya endapan kalsium.Kesulitan mengambil napas . Pada isufisiensi aorta kronik terlihat fibrosis dan retraksi daun-daun katup.4. atau memiliki bentuk abnormal seperti corong.Kelelahan . Pada orang yang lebih muda.Pingsan 6 . regurgitasi maupun keduanya. lubang/pembukaan katup tersebut. Stenosis katup aorta juga bisa disebabkan oleh demam rematik pada masa kanak-kanak.3 Tanda gejala . Kelainan katub dan kanker aorta juga bias menimbulkan isufisiensi aorta. 1. Lama. biasanya gejalanya baru muncul setelah usia 70-80 tahun. Ukuran katup tidak berubah.Pusing . 1. katup aorta yang menyempit mungkin tidak menyebabkan masalah.Detak jantung tidak beraturan atau tidak normal .Tekanan pada bagian dada terutama saat sedang beraktivitas .lama. Isufisiensi Aorta Penyebab terbanyak adalah demam reumatik dan sifilis. yang umumnya merupakan skuele dari demam reumatik.Penambahan berat badan . dengan atau tanpa kalsifikasi. Pada keadaan ini biasanya disertai dengan kelainan pada katup mitral baik berupa stenosis. Pada masa bayi. sementara jantung melebar dan mencoba untuk memompa sejumlah besar darah melalui katup yang kecil.2. Katup mungkin hanya memiliki dua daun yang seharusnya tiga.

4 Patofisiologi Demam reuma–inflamasi akut dimediasi–imun yang menyerang katup jantung akibat reaksi silang antara antigen streptokokus hemolitik-α grup A dan protein jantung. CT Scan : MRI. EEG. EKG 1. Respon miokardium yang khas terhadap peningkatan volume kerja dan tekanan kerja adalah dilatasi ruang dan hipertrofi otot. Dilatasi miokardium dan hipertrofi merupakan mekanisme kompensasi yang bertujuan meningkatakan kemampuan pemompa jantung. atau pergelangan kaki sebagai akibat tersumbatnya cairan) 1. karena itu akan meningkatkan tekanan kerja miokardium .3.6. Bedah jantung 1. 1. Insufisiensi katup memaksa jantung memompa darah lebih banyak untuk menggantikan jumlah darah yang mengalami regurgitasi atau mengalir balik sehingga meningkatkan volume kerja jantung.2.4. Angina pectoris 1. Laboratorium (tulis nilai normalnya) : 1.6. Gagal jantung kongestif 7 . Penyakit dapat menyebabkan penyempitan pembukaan katup (stenosis) atau tidak dapat menutup sempurna (inkompetensi atau regurgitasi) atau keduanya. USG.5. Disfungsi katup akan meningkatkan kerja jantung.Edema (pembengkakan berlebih di bagian kaki.1.3. ECG.6 Komplikasi Komplikasi-komplikasi yang terjadi pada kelainan katup 1. daerah perut. 1.2. Foto Thoraks 1.5.5.5 Pemeriksaan Penunjang 1. .6. Stenosis katup memaksa jantung meningkatkan tekanannya agar dapat mengatasi resistensi terhadap aliran yang meningkat.5. dll.1.

Penatalaksanaan gagal jantung kongesti adalah dengan memberikan kardiotinikum dan diuretik. maka dapat dilakukan valvuloplasti transluminal perkutan untuk mengurang beberapa gejala. Keadaan yang tak dikoreksi tersebut dapat menyebabkan gagal jantung permanen yang tidak berespond terhadap terapi medis. Penyakit jantung iskemik 1.7.1.1 Stenosis Mitral Terapi antibiotic diberikan untuk mencegah berulangnya infeksi.6. Terdapat risiko kematian mendadak pada pasien yang diobati saja tanpa tindakan bedah. Penyakit jantung rematik 1. Kondisi inflamasi jantung 1.6. 1. 8 .1.7.4. Medis 1.6. Aspek-aspek psikososial perawatan akut 1. 1.8.7.6.7.2 Insufisiensi Mitral Penatalaksanaannya sama dengan gagal jantung kongestif. 1. Intervensi bedah meliputi komisurotomi untuk membuka atau “menyobek” komisura katub mitral yang lengket atau mengganti katub miral dengan katub protesa.1.1. Pada beberapa kasus dimana pembedahan merupakan kontraindikasi dan terapi medis tidak mampu menghasilkan hasil yang diharapkan. Disritmia 1.7 Penatalaksanaan 1.7.3 Stenosis Aorta Penatalaksanaan yang sesuai untuk stenosis aorta adalah penggantian katub aorta secara bedah. intervensi bedah meliputi penggantian katup mitral.5.6.6.

5. Penggantian katup mitral. harus diberikan penatalaksanaan medis sampai dilakukannya pembedahan.7. tetapi kapan waktu yang tepat untuk penggantian katub masih kontroversial.4. 2001) 9 .1. 1. Bila pasien mengalami gejala gagal jantung kongestif. Valvuloplasti translumnal perkutan.1. Terapi antibiotic Kardiotinikum dan diuritik.1. Komisurotoomi. Insufisiensi Aorta Penggantian katub aorta adalah terapi pilihan. Penggantian katup aorta (Brunner & Suddarth. Pembedahan dianjurkan pada semua pasien dengan hipertropi ventrikel kiri tanpa memperhatikan ada atau tidaknnya gejala lain.7.

8 Pathway Defek jarinagn penyambung sejak lahir Ruptur otot dan disfungsi otot pailaris Faktor predisposisi karena aterosklirosis koroner Infeksi streptookok pada faring Malformasi kongenital Kelainan katup jantung Faktor sosioekonomi : situasi kehidupan Lanjut usia untuk mendapat perawatan medis & antibiotik Insufiensi katup Stenosis katup Kelainan katup mitral Kelainan katup aorta mimitra Stenosis mitral Insufiensi mitral Stenosis Aorta Trisufensi Aorta Hipertropi atrium kiri Dilatasi ventrikel kanan Beban ventrikel kiri Dilatasi Ventrikel kiri dilatasi atrium kiri Hipeltrofi ventrikel kiri Hipertrofi ventrikel kiri Tekanan untuk Kongesti vena pulmonalis Dilatasi antrium kiri mempertahankan perfusi Sirkulasi perifer hiperdinamik perifer Hipertrofi antrium kiri Kongesti paru-paru Tekanan akhir diastol Cianosis pada ujung jari Kongesti vena pulmonalis meningkat Hipertnsi pulmonalis dan kaki Kongesti paru-paru Hipertrofi ventrikel kanan Edem paru-paru Hipertensi artenia pulmonulis Curah jantung menetap Aliran darah kurang Hipertrofi ventrikel kanan Sesak nafas Kondisi & pronosis penyakit Denyut jantung cepat Gagal Jantung Gangguan Pola nafas tidak efektif Nyeri pertukaran gas Intoleransi aktifatis kecemasan Pola nafas tidak Peningkatan tekanan efektif atrium kiri 10 . Endokarditis bakterial 1.

1 Riwayat keperawatan Identitas  Nama  Jenis kelamin  Umur  Alamat  Pendidikan  Pekerjaan  Status perkawinan  Agama  Suku/Bangsa  Tanggal masuk RS  Tanggal pengkajian  Diagnosa medis  No. RM 2. pernafasan dan sirkulasi  Abdomen 11 .II. Rencana asuhan klien dengan gangguan 2.1 Pengkajian 2.2 Pemeriksaan fisik: data fokus  Keadaan umum  Kulit  Kepala dan leher  Penglihatan dan mata  Penciuman dan hidung  Pendengaran dan telinga  Mulut dan gigi  Dada.1.1.

dll.1.3 Pemeriksaan penunjang 2.2.  Genetalia dan reproduksi  Ekstrimitas atas dan bawah 2.1.2 Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul Diagnosa 1: Pola nafas tidak efektif 2.1 Definisi Inspirasi dan/atau ekspirasi yang tidak memberi ventilasi yang adekuat 2. 2.1. USG.2 Batasan karakteristik Subjektif Dispnea Napas pendek Objektif Perubahan ekskursi dada Mengambil posisi tiga titik tumpu (tripod) Bradipnea Penurunan tekanan inspirasi-ekspirasi Penurunan ventilasi semenit Penurunan kapsitas vital Napas cuping hidung Ortopnea 2. CT Scan : MRI.3.3.1. EEG.3.1. Foto Thoraks 2. EKG 2.3.2. ECG. Laboratorium (tulis nilai normalnya) : 2.3 Faktor yang berhubungan Ansietas Posisi tubuh Deformitas tulang 12 .2.4.2.1.3.

2.4 Definisi Ketidakcukupan energi fisiologis atau psikologis untuk melanjutkan atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari yang ingin atau harus dilakukan 2.5 Batasan karakteristik Subjektif Ketidaknyamanan atau dispnea saat beraktivitas Melaporkan keletihan atau kelemahan secara verbal Objektif Frekuensi jantung atau tekanan darah tidak normal sebagai respons terhadap aktivitas Perubahan EKG yang menunjukkan aritmia atau iskemia 2.6 Faktor yang berhubungan Tirah baring dan imobilitas Kelemahan umum 13 . Deformitas dinding dada Penurunan energi dan kelelahan Hiperventilasi Sindrom hipoventilasi Kerusakan muskuloskeletal Imaturitas neurologis Disfungsi neuromuskular Obesitas Nyeri Kerusakan persepsi atau kognitif Kelelahan otot-otot pernapasan Cedera medula spinalis Diagnosa 2: Intoleransi aktivitas 2.2.2.

3. dan mencegah reaksi inflamasi/konstriksi di jalan napas  Bantuan ventilator : meningkatkan pola pernapasan spontan yang 14 .3.2 Intervensi keperawatan dan rasional:  Manajemen jalan napas : memfasilitasi kepatenan jalan napas  Pengisapan jalan napas : mengeluarkan sekret jalan napas dengan cara memasukkan kateter pengisap ke dalam jalan napas oral atau trakea pasien  Manajemen anafilaksis : meningkatkan ventilasi dan perfusi jaringan yang adekuat untuk individu yang mengalami reaksi alergi bert ( antigen-antibodi)  Manajemen jalan napas buatan : memelihra sslang endotrakea dan slang trakeostomi serta mencegah komplikasi yang berhubungan dengan penggunaannya  Manajemen asma : mengidentifikasi. mengobati.. Ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen Gaya hidup kurang gerak 2. dan tindakan yang dapat dilakukan untuk menghindarinya 2.3 Perencanaan Diagnosa 1: Pola nafas tidak efektif 2.1 Tujuan dan Kriteria hasil (outcomes criteria):  Menunjukkan pernapasan optimal pada saat terpasang ventilator mekanis  Mempunyai kecepatan dan irama pernapasan dalam batas normal  Mempunyai fungsi paru dalam batas normal untuk pasien  Meminta bantuan pernapasan saat dibutuhkan  Mampu menggambarkan rencana untuk perawatan dirumah  Mengidentifikasi faktor (mis. alergen) yang memicu ketidakefektifan pola napas.

optimal sehingga memaksimalkan pertukaran oksigen dan karbon dioksida di dalam paru  Pemantuan tanda vital : mengumpulkan dan menganalisis dta kardiovaskular. untuk meningkatkan rentang.3. dan tekanan darah serta memantau pola dalam batas normal  Mengungkapkan secara verbal pemahaman tentang kebutuhan oksigen.4 Intervensi keperawatan dan rasional:  Terapi aktivitas : memberi anjuran tentang dan bantuan dalam aktivitas fisik. frekuensi. dan suhu tubuh pasien untuk menentukan dan mencegah komplikasi Diagnosa 2: Intoleransi aktivitas 2. atau durasi aktivitas individu (atau kelompok)  Mnajemen energi : mengatur penggunaan energi untuk mengatsi atau mencegah kelelahan dan mengoptimalkan fungsi 15 . sosial. eliminasi dengan bantuan ambulasi untuk ke kamar mandi)  Menampilkan manajemen pemeliharaan rumah dengan beberapa bantuan (mis. pernapasan. dan/atau peralatan yang dapat meningkatkan toleransi terhadap aktivitas  Menampilkan aktivitas kehidupan sehari-hari (AKS) dengan beberapa bantuan (misalnya. frekuensi pernapasan.3. obat. spiritual yang spesifik. membutuhkan bantuan untuk kebersihan setiap minggu) 2. kognitif.3 Tujuan dan Kriteria hasil (outcomes criteria):  Mengidentifikasi ktivitas atau situasi yang menimbulkan kecemasan yang dapat mengakibatkan intoleransi aktivitas  Berpartisipasi dalam aktivitas fisik yang dibutuhkan dengan peningkatan normal denyut jantung.

Jakarta: EGC. 2005. 6.dkk. Jakarta: EGC 16 . 2001. Price. 2002. konsep klinik proses. dan kesejahteraan psikologis  Terapi latihan fisik : mobilitas sendi : menggunakan gerakan tubuh aktif atau pasif untuk mempertahankan atau memperbaiki fleksibilitas sendi.  Manajemen lingkungan : memanipulasi lingkungan sekitar pasien untuk memperoleh manfaat terapeutik. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah .Diri : membantu individu untuk melakukan AKS  Bantuan perawatan. Patofisiologi. Daftar Pustaka Arif mansjoer. stimulasi sensorik.proses penyakit ed.  Bantuan perawatan. Edisi 8. Kapita Selekta.Diri : membantu dan mengarahkan individu untuk melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari instrumental (AKSI) yang diperlukan untuk berfungsi di rumah atau di komunitas III. Sylvia A. Volume 2. Edisi ke-3. Alih bahasa Brahm U dkk. Jakarta: Media Aesculapitus Brunner dan Suddarth.

............................ Preseptor klinik.......................) 17 .........................................) (. (.......................... 2016 Preseptor akademik. Banjarmasin...