BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Teori Perilaku
2.1.1 Diagnosis dan Intervensi Komunitas
Diagnosis dan intervensi komunitas adalah suatu kegiatan untuk
menentukan adanya suatu masalah kesehatan di komunitas atau masyarakat dengan
cara pengumpulan data di lapangan dan kemudian melakukan intervensi sesuai
dengan permasalahan yang ada. Diagnosis dan intervensi komunitas merupakan
suatu prosedur atau keterampilan dari ilmu kedokteran komunitas. Dalam
melaksanakan kegiatan diagnosis dan intervensi komunitas perlu disadari bahwa
yang menjadi sasaran adalah komunitas atau sekelompok orang sehingga dalam
melaksanakan diagnosis komunitas sangat ditunjang oleh pengetahuan ilmu
kesehatan masyarakat (epidemiologi, biostatistik, metode penelitian, manajemen
kesehatan, promosi kesehatan masyarakat, kesehatan lingkungan, kesehatan kerja
dan gizi).

2.1.2. Definisi Perilaku

Perilaku adalah tindakan atau aktivitas dari manusia itu sendiri yang
mempunyai cakupan yang sangat luas antara lain: berjalan, berbicara, menangis,
tertawa, menulis, membaca, dan sebagainya. Dari uraian ini dapat disimpulkan
bahwa yang dimaksud perilaku manusia adalah semua kegiatan atau aktivitas
manusia, baik yang dapat diamati langsung, maupun yang tidak dapat diamati
oleh pihak luar (Notoatmodjo, 2007).
Skinner merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi
seseorang terhadap stimulus atau rangsangan dari luar. Oleh karena perilaku
ini terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme, dan kemudian
organisme tersebut merespons, maka teori Skinner ini disebut teori “S-O-R” atau
Stimulus – Organisme – Respon (Notoatmodjo,
2007).

2.1.3. Jenis Perilaku
Ada beberapa jenis perilaku yang ditinjau dari sudut pandangan yang
berbeda, antara lain (Notoadmojo, 2007)

43

dan sebagainya (Notoadmojo. Sedangkan. menarik jari bila kena panas.1. Lain halnya dengan perilaku non reflektif. dan psikomotorik Perilaku kognitif atau perilaku yang melibatkan proses pengenalan yang dilakukan oleh otak.1.1.3. dan sebagainya. yang terarah kepada obyektif.3. seperti berpikir dan mengingat. Perilaku reflektif ini terjadi dengan sendirinya secara otomatis tanpa perintah atau kehendak orang yang bersangkutan. seperti psikotes. faktual. berbaring. 44 . 2.1. kreatifitas. sistem pelayanan kesehatan. Perilaku afektif adalah perilaku yang berkaitan dengan perasaan atau emosi manusia yang biasanya bersifat subyektif. seperti tertawa. berjalan.3. 2007). 2007. sehingga di luar kendali manusia. 2. 2007). dan logis. Misal reaksi kedip mata bila kena sinar. perilaku kesehatan dapat diklasifikasikan menjadi tiga kelompok (Notoadmojo.3 Perilaku kognitif. afektif. Perilaku motorik yaitu perilaku yang melibatkan gerak fisik seperti memukul. dan minuman. 2. perilaku terbuka yaitu perilaku yang bisa langsung diobservasi melalui alat indera manusia. melainkan harus menggunakan alat pengukuran tertentu. menulis. dan sebagainya. Perilaku ini dikendalikan atau diatur oleh pusat kesadaran atau otak.1 Perilaku tertutup dan perilaku terbuka Perilaku tertutup artinya perilaku itu tidak dapat ditangkap melalui indera. Dari batasan ini. 2007).4 Klasifikasi Perilaku Kesehatan Perilaku kesehatan menurut Notoatmodjo (2007) adalah suatu respon seseorang (organisme) terhadap stimulus atau objek yang berkaitan dengan sakit atau penyakit. makanan. Proses perilaku ini disebut proses psikologis (Notoadmojo. berfantasi. dan sebagainya (Notoadmojo. serta lingkungan.2.2 Perilaku reflektif dan perilaku non reflektif Perilaku reflektif merupakan perilaku yang terjadi atas reaksi secara spontan terhadap stimulus yang mengenai organisme. lari. Contohnya: berpikir.

5 Pembentukan Perilaku Ada beberapa cara pembentukan perilaku. 2. pemimpin sebagai panutan yang dipimpinnya. atau menggosok gigi sebelum tidur. dan sebagainya (Notoadmojo.1 Perilaku Pemeliharaan Kesehatan (Health Maintanance) Perilaku pemeliharaan kesehatan merupakan perilaku atau usaha-usaha seseorang untuk memelihara atau menjaga kesehatan agar tidak sakit dan usaha untuk penyembuhan bilamana sakit (Notoadmojo. 2007). hal tersebut menunjukkan 45 . dan Skinner. terutama teori pembiasaan Pavlov. Thorndike. Orang mengatakan bahwa orang tua sebagai contoh anak-anaknya.3 Perilaku Kesehatan Lingkungan Perilaku ini adalah apabila seseorang merespon lingkungan. 2007).1. misalnya datang kuliah jangan terlambat.1.4. 2. b) Melalui pengertian (insight).4. antara lain sebagai berikut: a) Melalui conditioning atau pembiasaan. yang akhirnya terbentuklah perilaku tersebut. Dia menemukan dalam eksperimennya bahwa dalam belajar yang penting adalah pengertian atau insight. karena hal tersebut dapat mengganggu teman-teman yang lain. yaitu pembentukan perilaku melaui model atau contoh teladan. yang juga merupakan tokoh psikologi Gestalt.2.1. Cara ini didasarkan pada teori behaviorism. anak dibiasakan bangun pagi. yaitu memberikan dasar pemahaman atas alasan tentang perilaku yang akan dibentuk. Salah seorang tokoh yang menganut teori ini adalah Kohler. karena helm tersebut untuk keamanan diri. membiasakan diri untuk tidak terlambat datang ke sekolah. Misalnya membuang sampah pada tempatnya. baik lingkungan fisik maupun sosial budaya.4. mengucapkan terima kasih bila diberi sesuatu oleh orang lain. c) Melalui penggunaan model.1. 2. dan sebagainya. yaitu dengan cara membiasakan diri untuk berperilaku seperti yang diharapkan. Bila naik sepeda motor pakai helm.2 Perilaku Pencarian Pengobatan (Health Seeking Behavior) Perilaku ini adalah menyangkut upaya atau tindakan seseorang pada saat menderita penyakit dan atau kecelakaan (Notoadmojo. 2007).

Pengukuran dan indikator perilaku kesehatan (Notoadmojo. posyandu.1. Cara ini disarakan atas teori belajar sosial (social learning theory) atau observational learning theory yang dikemukakan oleh Bandura (Teori Lawrence Green). dan sebagainya. 46 . 3) Health practice. pembentukan perilaku dengan menggunakan model.7 Faktor yang Mempengaruhi Perilaku 2. rumah sakit. pendukung. dan penguat. Fasilitas ini pada hakikatnya mendukung atau memungkinkan terwujudnya perilaku kesehatan. puskesmas. perilaku dipengaruhi 3 faktor yaitu faktor predisposisi. 2007): 1) Health knowledges. 2007): 1) Faktor predisposisi (predisposing factors). merupakan pengetahuan tentang cara-cara memelihara kesehatan. dokter atau bidan praktek swasta. Pengukuran juga dapat dilakukan secara tidak langsung.1 Teori Lawrence Green Menurut Lawrence Green dalam Notoatmodjo.1. pos obat desa. polindes. 2.7. poliklinik.1.6 Pengukuran Perilaku Pengukuran perilaku dapat dilakukan secara langsung yakni dengan wawancara terhadap kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan beberapa jam. yakni dengan mengobservasi tindakan atau kegiatan responden (Notoadmojo. atau bulan yang lalu (recall). merupakan pendapat atau penilaian terhadap hal-hal yang berkaitan pemeliharaan kesehatan. 2007). hari. Lebih jelasnya adalah sebagai berikut (Notoadmojo. Faktor ini mencakup ketersediaan sarana dan prasarana atau fasilitas kesehatan bagi masyarakat seperti. tingkat sosial ekonomi. tradisi. merupakan kegiatan atau aktivitas dalam rangka memelihara kesehatan. 2) Health attitude. tingkat pendidikan. Faktor ini mencakup pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap kesehatan. sistem nilai yang dianut masyarakat. dan kepercayaan masyarakat terhadap hal – hal yang berkaitan dengan kesehatan. 2. 2) Faktor pendukung (enabling factors).

Termasuk juga disini undang-undang.1. tokoh agama dan para petugas kesehatan. 3) Ada atau tidak adanya informasi tentang kesehatan atau fasilitas kesehatan (accessebility of information). tradisi. 47 . 2007) 1) Adanya niat (intention) seseorang untuk bertindak sehubungan dengan objek atau stimulus di luar dirinya. 5) Adanya kondisi dan situasi yang memungkinkan (action situation). tokoh agama dan para petugas terlebih lagi petugas kesehatan. kepercayaan. Disamping itu ketersediaan fasilitas.7. 3) Terjangkaunya informasi (accessibility of information). dan perilaku petugas kesehatan terhadap kesehatan juga akan mendukung dan memperkuat terbentuknya perilaku (Notoadmojo. sikap. 2) Dukungan sosial dari masyrakat sekitarnya (social-support). 4) Otonomi pribadi yang bersangkutan dalam hal ini mengambil tindakan atau keputusan (personal autonomy). sikap. 2007): 1) Niat sesorang untuk bertindak sehubungan dengan kesehatan atau perawatan kesehatannya (behaviour intention).Kar Mengidentifikasi adanya 5 determinan perilaku. Disimpulkan bahwa perilaku seseorang atau masyarakat tentang kesehatan ditentukan oleh pengetahuan. 3) Faktor pendorong (reinforcing factors). melainkan diperlukan perilaku contoh (acuan) dari para tokoh masyarakat. masyarakat kadang-kadang bukan hanya perlu pengetahuan dan sikap positif serta dukungan fasilitas saja. Untuk berperilaku sehat. 2007). 4) Adanya otonomi atau kebebasan pribadi untuk mengambil keputusan (personal autonomy). peraturan-peraturan baik dari pusat maupun pemerintah daerah yang terkait dengan kesehatan. dan sebagainya dari orang atau masyarakat yang bersangkutan. 2. yaitu : (Notoadmojo. Kar mencoba menganalisis perilaku kesehatan dengan bertitik tolak bahwa perilaku merupakan fungsi dari (Notoadmojo.2 Teori Snehandu B. 2) Adanya dukungan dari masyarakat sekitarnya (social support). Faktor ini meliputi faktor sikap dan perilaku tokoh masyarakat.

Tempat – tempat buang air tersebut tidak memenuhi syarat kesehatan karena kotoran atau tinja manusia dapat kembali bersentuhan atau masuk ke dalam tubuh manusia. 2. uang. di pantai. yaitu dalam bentuk pengetahuan. tenaga. kolam. baik lambat ataupun cepat sesuai dengan peradaban manusia. 2. 2011): 48 .1. di empang. sikap. Penyebaran penyakit yang bersumber pada feces dapat melalui berbagai macam jalan atau cara. dan lain sebagainya. Hal ini diilustrasikan seperti pada gambar berikut (Notoadmojo. 2) Orang penting sebagai referensi (personnal references). yaitu (Notoadmojo. waktu. karena kotoran manusia adalah sumber penyebaran penyakit yang multikompleks. kepercayaan. 4) Sosial budaya (culture). persepsi. 3) Sumber daya (resources). 5) Situasi yang memungkinkan untuk bertindak atau tidak bertindak (action situation).1 Pembuangan Kotoran Manusia Kotoran manusia adalah semua benda atau zat yang tidak dipakai lagi oleh tubuh dan yang harus dikeluarkan dari dalam tubuh. di kebun atau pekarangan. dan penilaian seseorang terhadap objek (objek kesehatan). 2007): 1) Pemikiran dan perasaan (thought and feeling). dan CO2 (Notoadmojo. 2011). Masih sering dijumpai orang melakukan buang air besar di tempat terbuka seperti di sungai atau parit. dan lain sebagainya.2 Teori Jamban Sehat 2. kebudayaan ini terbentuk dalam waktu yang lama dan selalu berubah. air seni (urine). Zat-zat yang harus dikeluarkan dari dalam tubuh ini berbentuk tinja (feces).3 Teori WHO (World Health Organization) (1986) Tim kerja dari WHO menganalisis bahwa yang menyebabkan seseorang itu berperilaku tertentu karena adanya 4 alasan pokok. Dilihat dari segi kesehatan masyarakat.7. mencakup fasilitas.2. masalah pembuangan kotoran manusia merupakan masalah yang pokok untuk sedini mungkin diatasi. atau balong.

2011). tambang). sayuran. schistosomiasis. 49 . 2. dan sebagainya) dan bagian – bagian tubuh kita dapat terkontaminasi oleh tinja tersebut. Benda – benda yang telah terkontaminasi oleh tinja dari seseorang yang sudah menderita suatu penyakit tertentu. Gambar 2. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan No. Beberapa penyakit yang dapat disebarkan oleh tinja manusia antara lain: tifus. Kurangnya perhatian terhadap pengelolaan tinja disertai dengan pertambahan penduduk. jelas akan mempercepat penyebaran penyakit-penyakit yang ditularkan melalui tinja (Notoadmojo. 2011) Dari skema tersebut tampak jelas bahwa peranan tinja dalam penyebaran penyakit sangat besar. kremi. 2011). kolera.2. juga air. minuman. bermacam – macam cacing (gelang. Di samping dapat langsung mengontaminasi makanan. dan sebagainya (Notoadmojo. disentri.852 Tahun 2008 tentang Strategi Nasional Sanitasi Total Berbasis Masyarakat. tanah. Berdasarkan uraian di atas maka dapatlah dikatakan yang dimaksud dengan jamban adalah suatu bangunan yang berfungsi mengumpulkan kotoran manusia yang tersimpan pada tempat tertentu sehingga tidak menjadi penyebab suatu penyakit atau mengotori permukaan bumi dilengkapi dengan air untuk membersihkannya.1 Mata Rantai Penularan Penyakit dari Tinja (Sumber: Buku Ilmu dan Seni Kesehatan Masyarakat. 2011). sudah barang tentu akan menjadi penyebab penyakit bagi orang lain. serangga (lalat. dan sebagainya. kecoa. pita.2 Definisi Jamban Sehat Jamban adalah suatu ruangan yang mempunyai fasilitas pembuangan kotoran manusia yang terdiri atas tempat jongkok atau tempat duduk dengan leher angsa atau tanpa leher angsa (cemplung) yang dilengkapi dengan unit penampungan kotoran dan air untuk membersihkannya (Notoadmojo. jamban sehat adalah suatu fasilitas pembuangan tinja yang efektif untuk memutuskan mata rantai penularan penyakit.

2) Tidak berbau dan tinja tidak dapat dijamah oleh serangga maupun tikus. 2.4 Data Epidemiologi Pengunaan Jamban Sehat Berbagai alasan digunakan oleh masyarakat untuk buang air besar sembarangan.syarat sebagai berikut (Depkes RI. dan sebagainya.2. 7) Lantai kedap air. 4) Mudah dibersihkan dan aman penggunannya. dan lain 50 . tempat berpijak yang kuat. 6) Cukup penerang. dan sebagainya. letak lubang penampung berjarak 10-15 meter dari sumber air minum.2. 3) Cukup luas dan landai atau miring ke arah lubang jongkok sehingga tidak mencemari tanah sekitar. 2011): 1) Sebaiknya jamban tersebut tertutup. 5) Dilengkapi dinding dan atap pelindung. serangga dan binatang-binatang lain. terlindung dari pandangan orang (privacy) dan sebagainya. lebih enak buang air besar di sungai. 2. diantaranya adalah anggapan menbangun jamban itu mahal. 2011). tidak menimbulkan bau. 9) Tersedia air dan alat pembersih.3 Kriteria dan Syarat Jamban Sehat Jamban keluarga yang sehat adalah jamban yang memenuhi syarat. 3) Bangunan jamban sedapat mungkin ditempatkan pada lokasi yang tidak mengganggu pandangan. dinding kedap air dan warna. karena jamban dapat mencegah berkembangnya berbagai penyakit saluran pencernaan yang disebabkan oleh kotoran manusia yang tidak di kelola dengan baik (Notoadmojo. maka perlu diperhatikan antara lain (Notoadmojo. 2004): 1) Tidak mencemari sumber air minum. tinja dapat digunakan sebagai pakan ikan. 2) Bangunan jamban sebaiknya mempunyai lantai yang kuat. Jamban keluarga sangat berguna bagi manusia dan merupakan bagian dari kehidupan manusia. artinya bangunan jamban terlindung dari panas dan hujan. 8) Ventilasi cukup baik. 4) Sedapat mungkin disediakan alat pembersih seperti air atau kertas pembersih. Agar persyaratan-persyaratan ini dapat dipenuhi.

sedangkan proporsi rumah tangga BAB di fasilitas milik bersama dan umum maupun BAB sembarangan di perdesaan (masing-masing 6.0%. Dikategorikan sebagai ‘improved’ bila penggunaan sarana pembuangan kotorannya sendiri. sarana pembuangan limbah dan pengelolaan sampah rumah tangga. Sanitasi dasar adalah sanitasi minimum pada tingkat keluarga yang diperlukan untuk menyehatkan lingkungan pemukiman yang meliputi penyediaan air bersih. ‘unimproved’ dan ‘open defecation’.8%) lebih tinggi dibandingkan dengan di perkotaan (6.9%. sanitasi terbagi dalam empat kriteria. Berdasarkan karakteristik. ‘shared’. Akses sanitasi disebut baik menurut SDGs 2030 apabila rumah tangga menggunakan sarana pembuangan kotoran sendiri dengan jenis jamban leher angsa. yaitu sebesar 12. 2013). jenis jamban yang digunakan. Perilaku ini harus diubah karena dapat meningkatkan risiko masyarakat untuk terkena penyakit menular (Notoadmojo.5%. yaitu ‘improved’.2%). dan fasilitas umum (4. 2013). jenis kloset latrine dan tempat pembuangan akhir tinjanya pada tangki septik atau SPAL (Riskesdas. 2013). proporsi rumah tangga dengan pembuangan akhir tinja menggunakan tangki septik di perkotaan lebih tinggi (79. Hasil Riskesdas 2013 menunjukkan bahwa rumah tangga di Indonesia menggunakan fasilitas BAB milik sendiri (76. 2011).2%).9 persen.1%) (Riskesdas. sarana pembuangan kotoran manusia (jamban). dan tempat pembuangan akhir tinja.4%) (Riskesdas. proporsi rumah tangga yang menggunakan fasilitas BAB milik sendiri di perkotaan lebih tinggi (84. Meskipun sebagian besar rumah tangga di Indonesia memiliki fasilitas BAB. dan 5.7%). Sedangkan kriteria yang digunakan JMP WHO-UNICEF 2008. 5. 3. 2013).9%) dibandingkan di perdesaan (67. dan 20. dan tempat pembuangan akhir tinjanya menggunakan tangki septik atau sarana pembuangan air limbah atau SPAL (Riskesdas. masih terdapat rumah tangga yang tidak memiliki fasilitas BAB sehingga melakukan BAB sembarangan.3%). Sebagai indikator untuk menilai baik – buruknya sarana pembuangan kotoran manusia adalah penggunaan jamban atau kepemilikan jamban. Berdasarkan karakteristik.6%. milik bersama (6. 51 . Pembuangan tinja dalam nomenklatur SDGs termasuk ke dalam bagian sanitasi.– lain.4%) dibanding di perdesaan (52.

2 Jamban cemplung berventilasi (ventilasi improved pit latrine) Jamban ini memiliki persyaratan sama dengan jamban cemplung. 2011).2. Jarak dari sumber air minum sekurang-kurangnya sejauh 15 meter (Notoadmojo.2 Jamban Cemplung/ Pit Latrine Sumber: Buku Ilmu dan Seni Keshatan Masyarakat.53 meter saja.1 Jamban cemplung. kakus (pit latrine) jamban ini adalah yang paling sederhana. Jamban semacam ini masih sering ditemukan kurang sempurna. sehingga serangga mudah masuk dan bau tidak bisa dihindari.2.2. sebab bila terlalu dalam akan mengotori air tanah di bawahnya.2.5. 2011): 2. tetapi dapat juga terbuat dari batu bata atau beton. Jamban cemplung ini hanya terdiri atas sebuah galian yang di atasnya diberi lantai dan tempat jongkok. 2011 2. seperti tidak ada rumah jamban dan tanpa tutup. bedanya lebih lengkap. yakni menggunakan ventilasi pipa (Notoadmodjo. serta karena tidak ada rumah jamban.5 Jenis Jamban Keluarga Tipe-tipe jamban yang sesuai dengan teknologi pedesaan antara lain (Notoadmojo. Selain itu. bila musim hujan tiba maka jamban itu akan penuh oleh air.5. jamban cemplung tidak boleh terlalu dalam. Gambar 2. 2011) 52 . Dalamnya pit latrine berkisar antara 1. Lantai jamban ini dapat dibuat dari bambu atau kayu.

demikian seterusnya. Jamban ini mempunyai fungsi. ikan dimakan orang. Gambar 2.2. 2011 2. Dalam sistem jamban empang ini disebut daur ulang (recycling). Gambar 2. Prosedurnya adalah (Notoadmojo.3 Jamban cemplung berventilasi (ventilasi improved pit latrine) Sumber: Buku Ilmu dan Seni Keshatan Masyarakat. daun-daunan.5. 2011 2. hanya lebih dangkal galiannya.2. Disamping itu jamban ini juga untuk membuang kotoran binatang dan sampah. . sungai ataupun rawa.4 Jamban Empang (Fishpond Latrine) Sumber: Buku Ilmu dan Seni Kesehatan Masyarakat. dan selanjutnya orang mengeluarkan tinja yang dimakan.5. 2011): 53 . 2011). juga dapat menambah protein bagi masyarakat (menghasilkan ikan) (Notoadmojo.3 Jamban empang (fishpond latrine) Jamban yang di bangun di atas empang. yakni tinja dapat langsung dimakan ikan.4 Jamban pupuk (the compost primary) Pada prinsipnya jamban ini sama dengan kakus cemplung. yaitu di samping mencegah tercemarnya lingkungan oleh tinja.

serta mencegah masuknya binatang-binatang kecil.5 Jamban leher angsa (angsa latrine/ water seal latrine) Jamban leher angsa merupakan jamban dengan lubang closet berbentuk lengkung.5 Jamban Pupuk (The Compost Primay) Sumber: Buku Ilmu dan Seni Kesehatan Masyarakat.5. 4) Setelah ± 20 inchi. 2) Di lapisan bawah sendiri ditaruh sampah daun-daunan. Kotoran yang berada di tempat penampungan akan tidak tercium baunya. 2011 54 . dan membuat jamban baru. 5) Demikian selanjutnya sampai penuh. 3) Di atasnya ditaruh kotoran dan kotoran binatang (kalau ada) setiap hari. Gambar 2.2.6 Jamban Leher Angsa Sumber: Buku Ilmu dan Seni Kesehatan Masyarakat. selanjutnya ditaruh kotoran lagi. 1) Mula-mula membuat jamban cemplung biasa. 6) Setelah penuh ditimbun tanah. 2011). karena terhalang oleh air yang selalu terdapat dalam bagian yang melengkung. 7) Lebih kurang 6 bulan kemudian dipergunakan pupuk tanaman. Gambar 2. 2011 2. ditutup lagi dengan daun-daunan sampah. Jamban model ini adalah model yang terbaik yang dianjurkan dalam kesehatan lingkungan (Notoadmojo.

2011): 1) Bangunan bagian atas (Rumah Jamban) 55 . Selama waktu tersebut tinja akan mengalami dua proses.7 Septic Tank Sumber: Buku Ilmu dan Seni Kesehatan Masyarakat. sehingga memungkinkan septic tank tidak cepat penuh. 2011 a) Proses kimiawi. penghancuran tinja akan menyebabkan reduksi sehingga sebagian besar (60. Septic tank terdiri dari tangki sedimentasi yang kedap air. Cairan enfluent akhirnya dialirkan melalui pipa dan masuk ke dalam tempat perembesan (Notoadmojo. Oleh sebab itu cara pembuangan tinja semacam ini yang paling dianjurkan.6 Septic tank Latrine jenis septictank ini merupakan cara yang paling memenuhi persyaratan. Hasilnya selain terbentuknya gas dan zat cair lainnya. 2011). dalam proses ini terjadi dekomposisi melalui aktivitas bakteri anaerob dan fakultatif anaerob yang memakan zat. b) Proses biologis. Zat-zat yang tidak dapat hancur bersama-sama dengan lemak dan busa akan mengapung dan membentuk lapisan yang menutup permukaan air dalam tangki tersebut. yaitu (Notoadmojo. yang akan berfungsi pada proses berikutnya (Notoadmojo.zat organik alam sludge dan scum.2. yaitu (Notoadmojo. Lapisan ini disebut ‘scum’ yang berfungsi mempertahankan suasana anaerob dari cairan di bawahnya. adalah juga pengurangan volume sludge. 2011): Gambar 2. Bangunan jamban dapat dibagi menjadi 3 bagian utama.5. yang memungkinkan bakteri-bakteri anaerob dan fakultatif anaerob dapat tumbuh subur. dimana tinja dan air pembuangan masuk dan mengalami dekomposisi.2. 2011). Kemudian cairan ‘enfluent’ sudah tidak mengandung bagian-bagian tinja dan mempunyai BOD yang relatif rendah.70%) zat-zat padat akan mengendap di dalam tangki sebagai ‘sludge’.

mengurangi kadar kelembaban. dan dinding. Slab dibuat dari bahan yang cukup kuat untuk menopang penggunanya. genteng. pasangan bata. Penaburan sedikit sabun ke dalam sumur tinja (pit) setelah digunakan akan mengurangi bau. atau persegi panjang. . kelengkapan bangunan ini disesuaikan dengan kemampuan dari masyarakat di daerah tersebut. dan lain – lain. dan membuatnya tidak menarik bagi lalat untuk berkembang biak. beton. gedek atau anyaman bambu. 2) Bangunan bagian tengah (Slab/ Dudukan Jamban) . 3) Bangunan bagian bawah (Penampung Tinja) Penampung tinja adalah lubang di bawah tanah. Bagian ini secara utuh terdiri dari bagian atap. Dibuat dari bambu. -Atap memberikan perlindungan kepada penggunanya dari sinar matahari. Namun dalam prakteknya. batu bata. angin dan hujan. ring beton. dan dilengkapi dengan tempat berpijak. kayu. dapat berbentuk persegi. . Tempat sabun atau air adalah wadah untuk menyimpan sabun pembersih atau air. bambu dengan tanah liat. dan lain- lain. Rangka digunakan untuk menopang atap dan dinding. Pada tanah yang kurang stabil. Air dan sabun dapat digunakan untuk mencuci tangan dan membersihkan bagian yang lain. dan lain-lain. Dapat dibuat dari daun. Bahan – bahan yang digunakan harus tahan lama dan mudah dibersihkan seperti kayu. Slab menutupi sumur tinja (pit). dsb. Dinding adalah bagian dari rumah jamban. lingkaran atau bundar. seng. rangka. Dapat dibuat dari daun. Kedalaman bergantung pada kondisi tanah dan permukaan air tanah di musim hujan. 56 . Dinding memberikan privasi dan perlindungan kepada penggunanya. . kayu. batu bata. seng. dan lain-lain. sesuai dengan kondisi tanah. penampung tinja harus dilapisi seluruhnya atau sebagian dengan bahan penguat seperti anyaman bambu.

8 Bagian-bagian Jamban 2. Bau berkurang. . tikus. Memutus siklus penyebaran penyakit yang terkait dengan sanitasi. 2011): . . yaitu (Notoadmojo. Adapun cara pemeliharaan yang baik menurut Depkes RI 2004 adalah sebagai berikut : 1) Lantai jamban hendaklah selalu bersih dan kering. 2. . Gambar 2.2. menghasilkan kompos pupuk dan biogas untuk energi.2. sanitasi dan kesehatan meningkat. 7) Tersedia alat pembersih 8) Bila ada yang rusak segera di perbaikki 57 . 5) Lantai selalu bersih dan tidak ada kotoran yang terlihat. Lingkungan yang lebih bersih. Menghemat waktu dan uang. 6) Lalat. Peningkatan martabat dan hak pribadi. 4) Rumah jamban dalam keadaan baik. dan kecoa tidak ada. . 3) Tidak ada sampah berserakan. . Keselamatan lebih baik (tidak perlu pergi ke ladang di malam hari).7 Pemeliharaan Jamban Jamban hendaklah selalu dijaga dan di pelihara dengan baik. 2) Sekeliling jamban tidak tergenang air. Jamban yang baik dan memenuhi syarat kesehatan akan menjamin beberapa hal.6 Manfaat Dan Fungsi Jamban Keluarga Jamban berfungsi sebagai pengisolasi tinja dari lingkungan.

3.10 Kerangka Teori Perilaku Lawrence Green dalam Notoatmodjo. yaitu: Faktor predisposisi • Pengetahuan dan sikap • Tradisi • Kepercayaan • Sistem nilai yang dianut • Tingkat pendidikan • Sosial ekonomi Faktor pendukung Ketersediaan sarana dan prasarana • Puskesmas • Rumah sakit PERILAKU • Poli klinik • Posyandu • Poslindes • Pos obat desa Faktor pendorong • Faktor sikap dan perilaku ▪ Tokoh masyarakat ▪ Tokoh agama ▪ Petugas kesehatan • Undang-undang atau peraturan pemerintah daerah yang terkait Gambar 2. 2011 58 . Kerangka Konsep Konsep yang digunakan dalam penelitian ini merujuk pada teori Lawrence Green yang menyatakan bahwa perilaku dipengaruhi oleh beberapa faktor.2.

11 Kerangka Konsep 59 . Provinsi Banten.2. dapat dibuat suatu kerangka konsep yang berhubungan dengan area permasalahan yang terjadi pada keluarga binaan di Kampung Pabuaran RT 001/ RW 002 Desa Jengkol.4 Kerangka Konsep Berdasarkan teori sebelumnya.Kabupaten Tangerang. PENDIDIKAN SOSIAL EKONOMI PERILAKU PENGGUNAAN JAMBAN SEHAT KETERSEDIAAN SARANA PETUGAS KESEHATAN Gambar 2. Kecamatan Kresek.

lalu mencebok ≤ 5 = Buruk dengan menggunakan air bersih dengan sabun.000.5 DEFINISI OPERASIONAL Tabel 2. Proses jenjang pendidikan terakhir yang 2. Jumlah pendapatan keseluruhan yang diterima oleh keluarga binaan perbulan dari > UMR = Menengah ke atas 3. 3. Membuang air Kuesioner Wawancara Nominal jamban sehat bersih di jamban sehat. Ketersediaan sarana permanen. tersedia air bersih. pencahayaan yang Kuesioner Wawancara Nominal ≤ 4 = Buruk cukup. SD/sederajat. bidan. Ada tidaknya penyuluhan tentang jamban sehat atau upaya yang mendukung pembentukan > 4 = Baik 5. Ekonomi pekerjaan sehari-hari diukur dari UMR Kuesioner Wawancara Ordinal ≤ UMR = Menengah ke bawah kabupaten tangerang yaitu Rp. penggunaan jamban sehat.2. dan bebas dari serangga. tidak mencemari air.1 Definisi operasional No. Tingkat pendidikan rendah = tidak bersekolah. Akademi/Diploma.270. dan perawat. Petugas kesehatan jamban sehat yang diberikan oleh petugas Kuesioner Wawancara Nominal ≤ 3 = Buruk kesehatan seperti dokter. SLTP/sederajat. Pendidikan Kuesioner Wawancara Tingkat pendidikan tinggi = Ordinal ditamatkan. . Variabel Definisi Alat Ukur Cara Ukur Hasil Ukur Skala Ukur Perilaku penggunaan kegiatan atau aktivitas manusia terhadap > 5 = Baik 1. SLTA/sederajat. Perguruan tinggi.00 Terdapatnya jamban sehat yang memenuhi kriteria seperti bangunan yang > 5 = Baik 4.

Related Interests