BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Bagian ini akan mengulas mengenai teori dan praktek dari rehabilitasi pasien jantung dan
beberapa aspek pada tes latihan yang penting untuk ahli psikiatri. Prinsip dari pengkondisian
kardiovaskular diterapkan dalam klinik melalui beberapa program dan kegiatan. Beberapa
penelitian terbaru mengungkap mengenai kegiatan atau latihan yang dilarang dilakukan pada
pasien jantung.

Bagaimana menilai perkembangan pasien pada program pelatihan juga diteliti lebih lanjut,
termasuk bagaimana mengenali efek dari pelatihan perifer termasuk juga menentukan apakah
latihan tersebut bermanfaat bagi miokardium. Rehabilitasi pasien pada kelompok khusus juga
diperbincangkan, yaitu pada wanita, geraitri, pasien transplantasi jantung, dan orang-orang cacat
dengan penyakit jantung.

Karena berbagai kendala, maka dalam bab ini hanya akan mengulas secara singkat
mengenai peranan dari staf dalam memfasilitasi keadaan fisiologik dan sosial pasien sebaik
mungkin, dalam arti mendekati keadaan pasien ketika sehat. Bagian ini terbatas pada apakah
dokter capat berperan dalam suatu program dan menentukan prognosis, serta mencegah masalah
yang muncul saat ini dan selanjutnya.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Rehabilitas Jantung
Rehabilitasi jantung merupakan suatu proses mengembalikan sebuah individu yang
mempunyai permasalahan jantung kepada tingkatan aktivitas maksimal yang dapat dicapai
dengan kapasitas fungsional jantung yang dimilikinya. Secara tradisional, program rehabilitasi
jantung ini terdiri dari pasien dengan penyakit arteri koroner dan pada saat ini mulai diikuti oleh
pasien dengan miokard infar akut (AMI).

Pada dua dekade terakhir, rehabilitasi jantung digunakan secara luas pada pasien dengan
berbagai tipe penyakit jantung seperti pada angioplasti koroner atau bedah jantung. Pasien
disarankan melakukan rehabilitasi setelah menerima operasi bypass arteri koroner (CABG),
penggantian katup jantung, dan transplantasi janntung. Umur dan kompleksitas pengobatan
bukanlah menjadi kendala yang berarti.

Pada tahun 1996-1997, The Cardiopulmonary Rehabilitation Program Directory yang
diterbitkan oleh American Association of Cardiovascular and Pulmonary Rehabilitation
(AACVPR) mendata mengenai 1191 program. Dari keseluruhan didapatkan, 511 program
rehabilitasi jantung, 584 program rehabilitasi jantung dan paru, serta sebesar 96 program
rehabilitasi paru. Directory of Exercise Programs for Cardiacs pertama kali diterbitkan pada
tahun 1970an sebagai hasil kolaborasi dari Presiden Council on Physical Fitness and Sport dan
American Heart Association. Menurutnya terdapat 83 program rehabilitasi jantung dengan tiga
program yang menyediakan pelayanan tambahan seperti tes fungsi paru dan manajemen diet.

Program Pengawasan

Program rehabilitasi jantung dapat diawasi oleh seorang ahli jantung maupun fisiatris.
Program yang tidak diawasi seharusnya dikonsultasikan pada kasus yang kompleks seperti
misalnya jika seorang fisiatis akan melakukan terapi secara langsung maka konsultasi kepada
ahli jantung diperlukan untuk mengetahui frekuensi terapi yang dibutuhkan, atau pada kasus
yang dapat menyebabkan permasalahn klinis sehingga diperlukan diagnosis yang mendalam.

program stimulasi elektrik. mengerti mengenai teknik pencitraan inti dan interpretasinya meskipun tidak ditunjukkan secara personal. 5. Ketidakmengertian mengenai konsep dari trombolisis. konsultasi kepada fisiatris diperlukan jika pasien mempunyai masalah yang multisistem seperti pada stroke atau penyakit obstruksi pada pembuluh darah ekstremitas bawah dengan tambahan penyakit arteri koroner. faktor yang menyebabkan komplikasi secara signifikan pada pasien ini adalah masalah kardiopulmo. Obat jantung seperti digitalis. Pada pasien baik pada stroke dan AMI baik pada stroke ketika serangan atau pasca serangan ( 2% dari 750 kasus setelah serangan AMI) setelah 4 minggu dengan prevalensi tertinggi sebesar 77% terjadi pada minggu pertama. arti dan penerapan dari kateterasi jantung. ekokardiografi dengan tekanan. dan folow up jangka panjang ( Aerobik sebaik latihan angkat beban) 8. antikoagulan. 7. sedangkan iskemik miokard dan infark menimbulkan komplikasi tersering pada rekonstruksi bedah vaskuler. beta adrenergik. Pasien dengan penyakit obstruksi vaskuler pada ekstremitas bawah dan iskemik mioakrd seringkali muncul pada pada tes kegiatan berat. 3. Pengawasan ECG pada latihan dengan telemeter on-line atau transtelefon. . dan calsium channel blocker. Sebaliknya. Data yang berkaitan mengenai teknik. Fisiatris akan mempertimbangkan program rehabilitasi jantung lengkap secara langsung berdasarkan beberapa kriteria berikut : 1. endarterektomi. Menunjukkan dan menginterpretasikan ECG standar pada tes latihan berat. dan obat yang menurunkan kadar lipid termasuk dalam terapi maintenens. angiografi. 9. stenting. jika ahli kardiologi akan menjalankan program sendiri. angioplasti koroner. 6. Penilaian Keahlian : prosedur dan impilkasi dari beberapa evaluasi gangguan dan kecacatan. Pada amputasi ekstremitas bawah. Prosedur intervesi diet pada arti yang luas. Keahlian dalam mengatur latihan untuk jantung. 4. dan pengawasan Holter. ACE inhibitor. atherektomi. progres. Merekam dan menginterpretasikan 12 lead pada elektrokardiogram (ECGs) 2. vasodilator koroner. obat antiaritmia. yang memerlukan peranan ahli gizi dan edukator diabetes.

Tujuan Rehabilitasi Jantung Tujuan dari rehabilitasi jantung tidak hanya untuk meningkatkan kapasitas fungsional jantung. Efek Pelatihan Perifer Keuntungan objektif dari pelatihan pada pasien AMI diperoleh dari efek yang menguntungkan pada pelatihan perifer dan miokardial. dan kualitas tidur yang lebih baik. pengurangan angina. dan meminimalisasi kekambuhan serta menurunkan morbiditas dan mortalitas. 11. Peningkatan ektraksi oksigen berbeda dengan oksigenasi arterivenosa secara luas. pengurangan kelelahan. Teknik komunikasi untuk menginformasikan kepada rekannya mengenai ekspektasi. pada program ehabilitasi jantung jika individu ini memungkinkan dilibatkan dalam program. Peningkatan utilisasi oksigen dengan mengaktifkan otot dihasilkan dari peningkatan enzim oksidatif pada otot yang dihasilkan pada pelatihan. ahli psikologi. Baik pada ringkasan ahli ataupun pendapat orang awam pada rehabiliasti jantung yang diterbitkan oleh National Heart. termasuk peningkatan kesejahteraan dan rasa percaya diri. Jantung akan melakukan sedikit kerja untuk membawa oksigen yang adekuat ke jaringan. and Blood Institute yang bekerja sama dengan American Assocoatiom of Cardiovascular and Pulmonary Rehabilitation Hasil yang paling jelas dari pelatihan ini adalah adanya efekyang menguntungkan pada latihan toleransi. hasil. Muskuloskeletal akan mengambil oksigen yang memasuki pembuluh darah dan dibawa kembali oleh vena menuju jantung. dan tanpa resiko. Lung. Segala sesuatu yang berhubungan erat dengan melibatkan terapis okupasi dan fisik. perawat. dan metode dari rehabilitasi jantung. yang juga meningkatkan kualitas kehidupan. Adaptasi muskuloskeletal atau perifer termasuk di dalamnya. 12. proses ini berkualitas. Meskipun hampir 100 pasien dilaporkan mendapatkan keuntungan subjektif dari program latihan. Peningkatan konsumsi oksigen maksimal . mahal. 10. Bantuan dasar dan tambahan kehidupan. konselor ahli. pekerja sosial.depresi yang berkurang. tetapi juga untuk mengontrol faktor resiko koroner.

Kelompok terakhir menunjukkan depresi ST yang menurun secara konsisten kurang dari 1. Sehingga. Konsumsi oksigen maksimal (VO2 max). Hal ini sukar dipahami sehingga banyak pencarian untuk mengkonfirmasi keuntungan miokard yang berkelanjutan. yang tidak dapat dinilai sebelum pasien memulai program pelatihan mereka. merupakan perkembangan terbesar. pelatihan fungsi pasien jantung dilakukan pada kebutuhan oksigen miokardial yang rendah.0 mm pada RPP yang sama yang disebabkan karena depresi ST sebelum pelatihan. Daya tahan meningkat dan kelelahan berkurang. seorang pasien angina mungkin akan hidup di bawah ambang angina pada kehidupan sehari-harinya dan dapat menunjukkan gambaran aktivitas yang pasti tanpa angina atau silent iskemik. Efek Latihan Miokard Diantara 169 pasien yang diamati selama 7 tahun sebelum tahun 1976. Keseluruhan pasien yang menunjukkan depresi ST yang lebih rendah pada RPP yang sama akan dilatih kurang dari 2 tahun tanpa penyakit baru dan tanpa perubahan medikasi karena masing-masing perubahan dihasilkan dalam beberapa penemuan. beberapa subjek dilatih melalui program rehabilitasi. Hal-hal yang dilakukan di atas dapat dicapai sebagai hasil perbaikan efisiensi muskoloskeletal. dengan alasan agar penderita mampu beradaptasi. sebuah peningkatan kapasitas akan berpengaruh pada aktivitas sehari-hari (ADL) yang dibawa pada puncak persentase yang lebih rendah. Peningkatan fungsi kontraksi ventrikel ditunjukkan oleh Ehansi dan . Kondisi pasien secara umumnya berubah secara lambat. mulai dari penurunan tekanan darah dan penurunan produksi tekanan rata-rata ( denyut jantung x tekanan darah sistolik) setelah pelatihan. yang diidentifikasi dengan moitor Holter. Penyerapan oksigen maksimal dapat ditingkatkan pada 11- 56% pasien AMI yang dilatih. Meskipun pasien jantung tidak mempunyai kebutuhan khusus untuk meningkatkan puncak kapasaitas. Diantaranya sebanyak 85% menunjukkan efek lathian perifer dan hanya 8. Karena RPP merupakan indikator yang baik pada kebutuhan oksigen miokardial. dan 14 hingga 66% ketika pasien setelah transplantasi koroner dilatih hingga 3 sampai 6 bulan.9% yang menunjukkan efek pelatihan miokardium. Pelatihan ini akan menghasilkan prekembangan simptomatik dengan beberapa mekanisme menyerupai beta bloker.dipengauhi oleh kapasitas kerja fisik.

90% dengan denyut jantung rata-rata pada regimen pelatihan mereka. latihan tersebut memang meningkatkan vaskularisasi miokardium dan memperbesar pembuluh darah utama. Namun demikian berdasarkan data yang didapat dari percobaan random dan dari beberapa metaanalisis. Gambar 54-1. denyut jantung. terdapat sebuah keuntungan yang signifikan yang didapat pada setiap kematian pada periode 3 tahun terakhir setelah terjadinya infark. Oldridge dan kawan-kawan melaporkan penurunan sebesar 24% pada keseluruhan kasus mortalitas dan penurunan 25% pada kematian karena kardiovaskuler. ketika dilatih pada perifernya. tekanan darah. Sedangkan O’Conor dan . Shephard melaporkan sebuah penurunan sebesar 29% pada rata-rata kematian 3 tahun. Mortalitas dan Morbiditas Percobaan individual secara random pada latihan rehabilitasi jantung setelah AMI tidak menunjukkan penurunan kematian secara signifikan pada kelompok rehabilitasi jantung. Gambar 54-1A dan B akan menunjukkan kerja beban. tetapi hanya orang-orang tertentu yang dapat menunjukkan stimulasi terhadap perkembangan pembuluh darah baru pada miokardium. Hasil yang menguntungkan pada perifer dan miokardium sebagai efek dari latihan berdasarkan denyut jantung. Froehlicher dan kawannya.teman-temannya ketika pasien jantung mendapatkan latihan dengan intesitas yang tinggi hingga 85%. tetapi hasil ini tidak dapat diterapkan di manusia. monyet. dan jumlah iskemia EKG pada pasien yang tidak melakukan pelatihan (sebelum program). Penelitian yang dilakukan oleh Kramsch dan kawan-kawannya dalam tujuan khsusus pada monyet yang ditempatkan pada diet aterogenik dan kebutuhan untuk berlari pada treadmill menunjukkan penurunan aterosklerosis koroner yang signifikan dan pelebaran arteri koroner daripada kelompok dengan diet aterogenik yang tidak dilatih. dan iskemi EKG. Pada binatang seperti anjing. May dan kawan-kawan menunjukkan penurunan total mortalitas sebesar 19% pada kelompok latihan. A. dan babi. dan Sebrechtes dkk serta Goodman dan kawan-kawannya melaporkan peningkatan perfusi miokardium pada thalium setelah pelatihan. serta Jensen dan kawannya melaporkan suatu peningkatan fungsi ventrikel. dan ketika mulai menunjukkan efek pelatihan miokardium. tekanan darah. Colins dan kawan-kawan mengestimasi penurunan sekitar 20%. B. meskipun pengamatan patologik didapatkan pada laki-laki yang melakukan kegiatan fisik berat sepanjang hidupnya akan menunjukkan pelebaran arteri koroner. Meskipun sangat menarik.

yang tidak terdapat perbedaan terjadinya infark berulang antara kelompok rehabilitasi dan kontrol. akan tetapi pada pasien yang menjalani rawat inap dalam waktu yang lama akan menimbulkan berbagai komplikasi yang sukar dikondisikan kembali. atau jika terdapat penurunan fasilitas. rehabilitasi jantung dimulai dari edukasi dan aktivitas fisik yang progresif. dan trigliserida. dari pasiff hingga gerakan aktif yang menggunakan beban seberat 1 hingga 2 pound atau kalistenik. peningkatan HDL. Latihan yang dilakukan akan memacu penurunan berat badan. sebagai tambahan penurunan yang berkelanjutan dari faktor resiko ini setelah dilakukan operasi bypass koroner yang akan membantu memperpanjang keutuhan dari jahitan. Latihan diberikan dalam berbagai bentuk baik gerakan latihan progresif. Rehabilitasi Jantung pada Pasien Di rumah sakit atau pelayanan privat. Pada hipertensi. dan memberikan efek yang menguntunkan pada tekanan darah serta meningkatkan utilisasi glukosa dan resistensi insulin. Van Hees dan kawan-kawan pada kerjanya dan konsumsi oksigen puncak (VO2) setelah pelatihan fisik menemukan bahwa penurunan kematian kardiovaskular lebih besar pada peningkatan puncak VO2 setelah latihan fisik. meskipun nilai puncak dari VO2 lebih tinggi setelah latihan daripada sebelumnya. kolesterol. Penurunan Faktor Resiko Penyakit Koroner Penurunan faktor resiko penyakit koroner penting dalam memperlambat perkembangan aterosklerosis koroner. penurunan LDL. latihan fisik mempunyai efek yang menguntungkan dalam menurunkan baik tekanan sistolik maupun tekanan diastolik. tetapi efek ini akan melibatkan latihan yang intensif dalam waktu yang singkat dan hanya berlangsung beberapa bulan setelah latihan dihentikan. Hal ini dibenarkan baik pada pasien post AMI maupun pasien post CABG. Ini adalah keuntungan yang paling sering ditemui. Jika pasien stabil dan mampu pada perawatan komprehensif beberapa hari terakhir. Meskipun dilaporkan penurunan mortalitas. pasien akan memulai program dari pasien itu sendiri dan mungkin gangguan maupun sakit lain yang didapat ketika berada di rumah sakit. post bedah jantung dan pasien yang mempunyai insufisiensi koroner akut tanpa AMI. tetapi secara khusus dilaporkan kematian mendadak selama tahun pertama setelah terjadi infark. Pasien post AMI. Kalistenik .kawan-kawan menemukan penurunan kematian sebesar 20% dari keseluruhan di kelompok rehabilitasi jantung.

Ketika tim rehabilitasi jantung tidak tersedia. Selama masa perawatan. dan mereka akan menirukan gerakan yang digunakan untuk menjaga diri dan gerakan dalam kehidupan sehari-hari. Pergerakan dengan treadmil dapat dimulai dari tingkatan 0% pada kecepatan 1 meter per jam selama 10-15 menit hingga 3 meter per jam ketika daya tahan pasien mulai membaik. fisiatris. tujuan pengobatan.lebih baik digunakan karena melibatkan tidak hanya gerakan ekstremitas tetapi juga leher dan badan. Kebiasaan ini tidak dapat dilakukan melalui kontak pasien personal karena waktu yang tersedia antara ahli . Kebutuhan energi pada masing-masing latihan tertera. atau residen) juga ahli diet. Pada sesi edukasi pasien yang biasanya berhubungan dengan perawat dan asistennya yang ditunjukkan pada rehabilitasi medis (seperti terapis. Terapi okupasional dapat diberikan pada pasien saat ini sehingga sebuah program aktivitas yang progresif akan mengalami perkembangan dari gerakan yang biasa dilakukan ketika mengurusi diri sendiri dan pada kegiatan sehari-hari. Latihan berjalan seawal mungkin dengan treadmil seharusnya tidak menghasilkan denyut jantung diatas 70% dari prediksi maksimum berdasarkan usia dan seharusnya tidak menunjukkan gejala . Latihan berjalan seawal mungkin dapat dimulai pada sebuah treadmil. atau aritmia. fisiatris atau ahli kardiologi seharusnya menyiapkan panduan yang dapat mengontrol faktor resiko yang mungkin terjadi. edukasi pasien berfokus pada anatomi dan fisiologi penyakit jantung. diet makanan sehat untuk jantung. iskemi. Pergerakan seawal mungkin dilakuka sesegera mungkin pada pasien pasien yang keluar dari ruangan ICU. pekerja sosial. ahli latihan fisiologis. proses rehabilitasi dan tujuannya. dan mungkim ahli psikologi. Kelompok pasien dapat dilanjutkan selama 30 hingga 50 menit jika interaksi antara pasien dan staf membantu. Tekanan darah diukur setelah 3 menit pertama dan sebelum dilanjutkan pada kecepatan yang lebih tinggi. perawat. Sesi inisial seharusnya dipersingkat (5 hingga 15 menit) dan melibatkan keluarga jika memungkinkan. Seharusnya tidak terjadi peningkatan tekanan darah lebih dari 20 mmHg pada tingkatan ini dan latihan seharusnya tidak dilanjutkan jika tekanan darah mulai menurun. akibat dari merokok. Kalistenik didesain oleh Karpovich dan Weiss dan dipaparkan melalui gambaran sederhana yang mudah untuk diikuti oleh pasien. sehingga dapat diukur setelah latihan selesai dikerjakan. dengan menggunakan ruangan pasien ataupun sepanjang koridor rumah sakit.

tetapi evaluasi tunggal oleh ahli diet harus mempertimbangkan makanan pasien yang mungkin terjangkau bahkan ketika konseling yang dilakukan tidak berkelanjutan. Beberapa alternatif yang dapat diberikan diantaranya adalah : Berdasar pelayanan menyeluruh pada program pasien rehabilitasi jantung lokal. dan rekomendasi latihan spesifik sangat terbatas. dan tidak hanya ahli gizi. Persentase lemak jenuh dan tak jenuh. American Heart Association merekomendasikan jumlah lemak seharusnya sebesar kurang dari 30% dari kalori total. Memantau diet yang dilakukan pasien dalam 3 hari ( 2 minggu dan akhir minggu pertama) termasuk pada tipe dan porsi makanan yang dimakan. dan evaluasi ini dicatat terutama lemak. American Diets Association akan menyediakan nama-nama individu yang berkualitas di daerah anda. Program komputer sesuai untuk analisis diet pada kantor atau rumah sakit. Tes ini juga menyediakan panduan latihan untuk sehari-hari tetapi tidak sesuai sebagai dasar dari resep karena tes ini tidak diproses dalam lever kerja yang tinggi. dan kalori total. atau akupuntur. teknik yang membantu pasien menghentikan merokok. dengan lemak jenuh kurang dari 10%. Tes Penekanan pada Pasien Tes tersebut merupakan tes yang sering dipraktekkan oleh seorang pengelola pada pasien. Motivasi munculnya program penghentian merokok. yang mana memungkinkan diterapkan di pasien yang dapat dilakukan sendiri di luar rumah seperti tes bertahap dalam mengerjakan pekerjaan rumah dan menyetir. Daftar tersebut tersedia pada American Heart Association. Tes latihan ini dilakukan sebelum memasuki rumah sakit. konseling seks. Pembayar pihak ketiga umumnya tidak mengganti untuk konseling gizi. . Berdasar pada pasien yang tercatat dalam catatan diet dengan pengalaman konseling. mendorong hinpnotis. Pengunyahan permen karet dan klonidin untuk mengurangi keinginan merokok dapat membantu pada beberapa pasien. dan khsusunya untuk membagi resiko dan membantu terapi medis.fisiologi dalam menilai diet.

usia pasien. kurang lebih 5 atau 6 hari setelah serangan jantung.5 meter per jam.0 meter per jam. kemudian secara bertahap ditingkatkan kecepatan berjalan hingga batas yang ditoleransi. dan kira. Tes ini akan menunjukkan adanya depresi ST yang lebih besar atau angina dan keamanannya masih membutuhkan penelitian lebih lanjut. ( 1 MET : konsumsi oksigen pada saat istirahat yang bervariasi). Level yang dikehendaki disesuaikan berdasarkan pada hal-hal yang disebutkan berikut ini: 1. level 10% (5 METs) jika berusia lebih dari atau sama dengan 50 tahun. Kerja ini merepresentasikan kurang lebih 60% dari konsumsi oksigen maksimal berdasarkan umur. dan filosofi dari fisisian. Setelah keluar dari rumah sakit. Tes ini biasanya dilakukan seawal mungkin. Tes yang terbatas pada gejala. tes ini dilakukan pada beberapa kelompok meskipun tidak biasa digunakan. maka pasien seharusnya melakukan sebuah tes latihan untuk menghasilkan upaya maksimal dan memulai sebuah program pengkondisian yang terencana untuk meningkatkan kapasitas fungsional karidovaskular dan daya tahan tubuh. Para perokok lanjutan yang mengembangkan gaya hidup yang sadar akan . 3.di mana tergantung pada luasnya kerusakan miokardium.kira 70% konsumsi oksigen maksimal pada pasien yang mendapatkan terapi beta bloker. Diantara 4 dan 8 minggu setelah episode akut. Edukasi pasien selama periode ini secara langsung dilanjutkan dengan tambahan modifikasi perilaku. 4. 70% dari prediksi denyut jantung maksimal (gambar 54-2) 2. Tes ini dapat berupa tes EKG atau sebuah tes thalium dan scan reperfusi. secara progresif latihan berjalan dilakukan dengan durasi 15 hingga 30 menit. Rata-rata denyut jantung 140 kali per menit atau 7 METs untuk pasien dibawah usia 40 tahun dan 130 kali per menit atau 5 METs untuk pasien berusia lebih dari atau sama dengan 40 tahun. latihan berjalan merupakan latihan yang disarankan karena pasien dapat berjalan setiap hari baik di dalam mamupun di luar rumah. lebih sering digunakan dibandingkan tes tekanan yang diberikan sewaktu-waktu pada denyut jantung tertentu dan dengan beban tertentu. level 10% (6METs) pada protokol Kattus jika berusia dibawah 50 tahun dan 2. 60% dari konsumsi oksigen maksimal pada pasien yang tidak mendapat terapi beta bloker. Pasien yang mendapatkan terapi beta bloker dapat dites dengan treadmil dengan kecepatan 2. urgensi dalam kembali bekerja.

pengobatan yang sesuai. Tes fungsional akan menghasilkan upaya yang maksimal. Modalitas manakah yang seharusnya digunakan untuk menghasilkan perubahan latihan pada pasien ini? Lingkaran? Treadmill? Ergometer lengan? Ergometer lengan-tungkai? 2. percaya diri. sebuah tes latihan fungsional akan dilakukan. Hasil dari tes fungsional biasanya digunakan untuk membuat keputusan untuk memperbolehkan pasien kembali bekerja. Hal ini penting untuk melibatkan anggota keluarga atau anggota lain yang berperan dalam edukasi pasien karena kepatuhan dari perubahan perilaku dipengaruhi oleh berbagai ekspektasi dari pihak-pihak yang berpengaruh. dan aktivitas seksual. Tes fungsional dilakukan dalam pengobatan. Tes Elektrokardiografi pada Latihan Berat Tes Lima Pertanyaan Sebelum melakukan sebuah tes tekanan pada seorang pasien . Sebaliknya. program latihan sendiri tidak selalu menunjukkan adanya keuntungan secara psikososial seperti menganai harga diri. Tes fungsional dilakukan untuk mengevaluasi kapasitas kerja fisik dan fungsi kardiovaskular. angioplasti. Apakah terdapat kontraindikasi untuk menguji pasien ini? Kapankah pasien ini diuji. Konseling keluarga penting dalam hal ini untuk mencegah kegagalan pengobatan pada pasien. Pola latihan manakah (protokol) yang sehaursnya digunakan untuk pasien tertentu? 3. dimana informasi diagnostik biasanya tersamarkan atau menjadi rancu karena pengobatan. berlawanan dengan tipe tes diagnostik. salah satu diagnosis yang perlu diketahui.kesehatan dan mematuhi program latihan reguler sehingga mampu untuk tidak merokok dan selanjutnya akan berhenti merokok. dokter seharusnya menjawab lima pertanyaan berikut ini : 1. Apakah tes ini seharusnya dilakukan dengan submaskimal atau diproses secara maksimal? Bagaimana saya mengenali upaya maksimal pada pasien ini? Apakah tes submaksimal lebih aman dibandingkan tes maksimal? 4. depresi dan aktivitas domestik. Tes fungsional jga berguna untuk menilai efek pengobatan. dimana tes diagnostik akan dihentikaan setelah terjadi depresi ST yang signifikan sebagai informasi diagnostik. atau revaskularisasi. apakah terdapat suatu kewaspadaan jika kontraindikasi terhadap tes ini dialnjutkan? . olahraga. Sebagai akhir dari masa konvalesen.

Lingkaran merupakan pilihan terbaik jika prosedur lain yang tersedia memilki gerakan dada yang terbatas ( seperti latihan ekokardiografi atau radionuklida ventrikulografi yang ditunjukkan dengan baik supinasi maupun bersepeda tegak). Pada beberapa kasus. Seseorang yang diamputasi dapat berjalan di treadmil asalkan dia memiliki gerakan pergelangan kaki yang cukup untuk melalui ban berjalan dan memilih kecepatan yang memungkinkan untuk dilakukan. Apakah terdapat prosedur tambahan yang seharusnya saya tunjukkan sebagai bagian dari tes tekanan ini untuk menjawab pertanyaan mengenai tes mana yang seharusnya dilakukan. Pasien dengan claudicatio pada betis akan berhenti ketika berjalan di treadmil karena mengalami nyeri pada tungkai sebelum terjadi perubahan kardiovaskular yang adekuat. Sebuah percobaan yang sangat lambat dengan periode istirahat pada treadmil lebih mudah dilakukan untuk seorang wanita tua berusia 85 tahun dibandingkan dengan menggunakan lingkaran. Namun demikian. Dokter seharusnya tidak seharusnya memberi perkecualian kepada pasien-pasien yang akan menggunakan teadmil. Tes pada pasien obesitas pada lingkaran membutuhkan tempat duduk yang lebih luas. lingkaran ergometer menjadi pilihan yang lebih baik. 5. Tes pada pasien hemiplegi pada salah satu tungkai membutuhkan pedal yang aman bagi ekstremitas yang mengalami paresis dan pasien yang mengalami gangguan keseimbangan tubuh dapat diseimbangkan ketika duduk di lingkaran. Individu yang mengalami gangguan keseimbangan dan cara berjalan mungkin tidak dapat berjalan di treadmil tanpa menggunakan pegangan tangan. Lingkaran ergometer merupakan pilihan terbaik untuk menguji seseorang yang berencana dilatih dengan lingkaran stastioner atau sepeda. ergometer lingkaran masih digunakan dan berguna pada beberapa situasi. yang seringkali tidak tersedia.Pasien yang cemas dan ketakutan akan melompat turun dari treadmil sehingga seringkai terluka. . Modalitas Meskipun tes tekanan pada negara Skandinavia biasanya dilakukan dengan menggunakan sebuah lingkaran. Individu yang mengalami obesitas yang mempunyai berat ekstra mendekati batas berat di treadmil (350 pound) dapat merusakkan peralatan. tetapi pada Amerika serikat tes ini lebih sering digunakan dengan menggunakan treadmil. meskipun mereka dapat melakukan latihan pada sebuah lingkaran.

2. Kerja dilakukan bertingkat yaitu 1.5 meter per jam pada level 10% ( 4 METs).Tenaga yang diperlukan berkurang. Protokol tes tekanan. bagi mereka yang akan kembali bekerja menjadi tenaga manual yang berat atau untuk pasien yang akan dilatih dengan ekstremitas atas mereka. 3. Karena berenang merupakan aktivitas utama yang menggunakan ekstremitas atas. Ergometer lengan dan tungkai mempunyai keuntungan mendistribusikan beban yang berlebihan kepada massa otot yang lebih besar. dan pada pasien angina dan gagal jantung dapat melakukan pekerjaan sebelum munculnya gejala pada beberapa alat. Lingkaran ergometer pada ekstremitas atas biasanya digunakan untuk pasien dengan gangguan ekstremitas bawah.5 meter per jam setiap 3 menit. Masing-masing level kerja akan muncul setiap sedikitnya 3 menit sehingga sebuah level yang menetap akan dicapai pada setiap tingkatan. . Untuk mengkondisikan pasien.0 meter per jam pada 10 % ( 5 METs). Untuk pasien yang mempunyai beberapa tingkatan kecacatan. Beberapa protokol dapat dilakukan secara intermiten. dengan penghitungan energi yang dikeluarkan. tes ini dapat dihentikan. dan 4. Protokol Tingkat tes latihan biasanya berhubungan dengan kebiasaan berkelanjutan tanpa periode istirahat pada beberapa tingkatan. kami menggunakan versi yang lebih lambat pada tes treadmil Kattus yang mana kemiringannya sebsar 10% dan kecepatannya ditingkatkan sebesar 0. 3.Terdapat konflik yang dilaporkan apakah tes treadmil berguna sebagai dasar latihan pada perenang. dihubungkan dengan fungsi jantung.0 meter per jam pada 10 % (7METs). Tes ini merupakan tes berjalan sepenuhnya sehingga rekaman EKG yang didapat merupakan rekaman yang sangat berkualitas.5 meter per jam pada 10% ( 8 METs). maka sebenarnya ergometri lengan yang diikatkan ketika berenang merupakan tes terbaik untuk para perenang. Tes ini dihentikan atau dilakukan secara intermiten pada pasien tertentu terutama berguna pada pasien tua yang dapat melakukan jumlah latihan yang mengejutkan jika diberikan fase istirahat.0 meter per jam pada 10% (9 METs). dengan adanya sebuah fase istirahat pada masing-masing tingkatan.

Pasien jantung biasanya terbatas pada penyakitnya atau pengkondisian kembali sehingga keadaan fisiologis maksimum pada umunya jarang dicapai. Pada akhir tes. Pasien biasanya diuji untuk usaha puncak atau klinik maksimum. Protokol yang direkomendasikan untuk level tes rendah merupakan salah satu tes yang memulai sebuah pekerjaan pada tingkatan kerja berlevel rendah dan mempunyai intensitas peningkatan secara bertahap.7 meter per jam di treadmill dan meningkat 5% dari 1. Protokol lambat berguna untuk pengkondisikan kembali atau pada individu yang lebih tua yang memulai sebuah program latihan untuk pertama kali. Latihan untuk level ini biasanya mungkin diterapkan pada orang yang normal dan sehat atau pada atlet yang akan mengikuti pertandingan olahraga. Sebagai catatan awal. tekanan darah. Pasien seharusnya dimotivasi untuk melakukan latihan maksimum klinik lanjut bahkan jika mereka ingin mencobanya. . Tes tersebut dimulai pada 2 METs dan ditingkatkan daka 1-MET. yang mana kira-kira sama dengan 85% dari denyut jantung maksimal jika tidak ada supresi pada denyut jantung. karena setengah dari abnormalitas tersebut akan dihilangkan jika pasien tidak berubah pada level terendah ini. Hal ini peting untuk mengetahui fungsi dan tes diagnostik untuk meyakinkan pasien untuk setidaknya melakukan 85% dari denyut jantung maksimal yang diprediksikan. Protokol Naughton/Balke merupakan salah satu protokol yang ditemukan dan digunakan di daerah Unit Pusat Rehabilitasi Medis dan Administrasi Jantung. Maksimal atau Submaksimal Tes untuk keadaan fisiologis maksimum dinilai dari denyut nadi. atau konsumsi oksigen.7 meter per jam sebelum memasuki kecepatan dan tingkatan protokol tradisional. Pasien pada denyut nadi yang rendah karena pengobatan (seperti beta bloker) seharusnya diuji dengan beban kerja eksternal yang akan menimbulkan konsumsi oksigen sebesar 80% dari VO2 maksimum. atau iskemia signifikan. sebuah MET merupakan konsumsi oksigen istirahat multipel dengan pengitungan energi istirahat yang diberikan berdasarkan unit ekuivalen pada 1 MET. yang mana biasanya titik gejala. atau respon hemodinamik abnormal. pada keadaan penyakit koroner akut. aritmia. atau ketiganya untuk meningkatkan beban kerja. sebuah alternatif untuk protokol Kattus akan dimodifikasi menjadi protokol Bruce yang dimulai pada level 1.

Stenosis aorta yang buruk. Kontraindikasi Sebuah kondisi klinis yang dapat diperburuk karena berbagai macam latihan merupakan suatu kontraindikasi dilakukannya tes latihan fungsional. Tes submaksimal biasanya berhenti dengan adanya beberapa abnormalitas. tes ini tidak diperbolehkan untuk mengintrepretasikan latihan EKG karena pada prakteknya dilakukan dengan pengobatan atau tanpa pengobatan. Tabel Kontraindikasi absolut dan relatif pada tes latihan. Contohnya. disaritmia serius. Pada opini kami tes submaksimal umumnya tidak berguna pada pasien. Tes ini akan mencapai level selanjutnya ke tingkatan yang diharapkan pada sebuah tempat senam tetapi di bawah denyut jantung maksimum rata-rata. gagal nafas. Pada beberapa pasien yang mengalami hipertensi karena kecemasan pada awal test. Kadang-kadang kontraindikasi terrlihat sebagai bukan kontraindikasi. dan lainnya. Kontraindikasi absolut Kontraindikasi relattif . Statistik nasional pada morbiditas dan mortalitas dari tes penekanan sama dengan tes maksimal dan submaksimal. dua. Gagal jantung stabil tidak berpengaruh. pada fasilitas kami kami seringkali memulai sebuah tes dengan meningkatkan tekanan darah dasar pda waktu istirahat (sepeti 250/115 mmHg) tanpa komlikasi lanjut. Penyakit jantung ini meliputi MI yang tidak fatal. Hadirnya gagal jantung akut atau perburukan dari gagal jantung kronik merupakan kontraindikasi dari tes. dan angina yang tidak stabil merupakan kontraindikasi absolut karena hal tersebut sangat berbahaya bagi AMI dan penyakit sistemik akut lainnya yang berkontraindikasi baik. Tes submaksimal biasanya digunakan untuk tes non fisik yang diterapkan pada orang- orang sehat. dan peningkatan kecemasan pada latihan. dimana satu orang meninggal dan terjadi penyakit jantung yang lebih serius tiap 10. Meskipun EKG dapat digunakan pada tes ini untuk penghitungan denyut jantung yang akurat. kardiomioptai obstruktif dengan riwayat sinkop juga dipertimbangkan sebagai sebuah kontraindikasi. atau tiga tingkatan tanpa diiringi tanda dari kegagalan sirkulasi atau perubahan EKG yang abnormal. hipertensi buruk yang tidak terkontrol. tekanan darah akan sama atau menurun pada level yang lebih sesuai selama satu.000 tes tekanan. miokarditis dan perikarditis akut. Kondisi jantung akut seperti AMI. meskipun hipertensi yang buruk merupakan suatu kontraindikasi pada tes tekanan. sinkop.

palpitasi. tes ini akan menunjukkan sebuah kontraindikasi yang aman daripada pada pasien yang tidak di tes.Infark miokard akut atau perubahan terbaru Penyakit non kardiak yang kurang serius pada fase istirahat EKG Arterial signifikan atau hipertensi pulmonal Angina aktif yang tidak stabil Takiaritmia atau bradiaritmia Aritmia jantung yang serius Katup moderat atau penyakit jantung Peikarditis akut miokardium Endokarditis Efek obat atau abnormalitas elektrolit Stenosis aorta berat Obstruksi koroner kiri utama atau ekuivalennya Disfungsi ventrikel kiri berat Hipertrofi kardiomiopati Emboli pulmo akut atau Infark pulmo Penyakit psikiatri Penyakit non kardiak akut atau serius Gangguan atau cacat fisik yang memburuk Tes tidak seharusnya diteruskan. dan sinkop yang muncul pada orang muda. aliran yang tidak terobstruksi signifikan. dokter yang mengatasi pengobatan olahraga seharusnya paham mengenai IHSS obstruktif yang signifikan dan menjadi murmur fngsional ataupun non fungsional pada keadaan istirahat. Pada pasien dengan stenosis aorta yang berat yang tidak memiliki kelemahan atau sinkop an pasien yang dapat melakukan berbagai macam latihan. Meskipun ekokardiografi dapat menunjukkan adanya ketebalan septum interventrikular yang abnormal. jika selama awal level latihan terjadi peningkatan tekanan lebih lanjut. dan evaluasi jantung lanjutan. murmur dapat menjadi karakteristik hanya pada auskultasi pasca latihan. dapat melakukan tes fungsional pada level yang aman. meskipun hipertropi kardiomiopati merupakan penyebab utama kematian dalam latihan dan ditemukan pada sebagian besar kasus kematian yang tiba-tiba terjadi pada atlet kompetisi yang muda. tidak semua hipertensi idiopatik stensosi subaortik (IHSS) akan menyebabkan kematian. Tes latihan dapat mengukur kapasitas fungsional jika tidak terdapat kontraindikasi pada berbagai sitasi. namu demikian. khsusunya ketika EKG . Oleh karena itu. Kadangkala. Tes ini menjadi abnormal pada orang muda yang asimptomatik. dispnea ekersional. Hipertrofi stenosis subaorta idiopatik dapat diduga terjadi ketika didapatkan gejala berupa nyeri dada. Hal yang hampir sama.

Kriteria untuk menghentikan tes latihan Klinis Kelemahan. dengan diastol pendek. dispnea. atau insufisiensi atau tanda dari sirkulasi pada iskemi jantung. Meskipun aritmia pada atrium dan ventrikel yang cepat merupakan kontraindikasi dari tes tekanan. Masing-masing kriteria objektif dan subjektif dibutuhkan untuk mengakhiri sebua tes latihan yang terdapat pada Tabel 54-2. atau penurunan tekanan darah. yang umumnya tidak dialami oleh pasien. Tabel 54-2. adanya disaritmia pada saat istirahat bukan merupakan kontraindikasi tes tekanan. Ketika disaritmia meningkat karena latihan pada koroner. dan nyeri tungkai atau ketidaknyamanan pada penyakit iskemi vaskular perifer. mual atau muntah pada iskemia gastrointestinal. kulit dingin. premedikasi dengan nitrogliserin sebelum tes tekanan dapat membantu apakah disaritmia dibutuhkan pada respon iskemik. Keadaan lainnya umumnya tidak berbahaya tetapi akan menunjukkan hasil tes yang akurat. kelemahan atau kelumpuhan pada iskemia sistem saraf pusat. termasuk munculnya abnormalitas konduksi atau takikardi yang cepat. Tes tekanan harus diketahui secara jelas oleh pasien (beberapa pasien mempunyai iskemia diam) dan mencegah overinterpretasi dari penemuan yang tidak signifikan sebagai iskemia. seperti pucat. Ekstrasistol atau ejeksi seringkali muncul pada keadaan lanjut. dan menyebabkan iskemia yang tidak berhubungan dengan penyakit obstruktif koroner. aritmia. pasien dengan dasar disaritmia. kegagalan pengisian koroner.menunjukkan hipertrofi ventrikel kiri. muncul setelah aktivitas berat dalam kehidupan sehari- . tes tekanan penting sebelum latihan dilakukan untuk mengetahui apakah akan terjadi disaritmia. atau keduanya. penurunan tekanan darah tunggal tidak diikuti oleh gejala dan tanda dan seharusnya diulang dan tes tidak akan dilanjutkan jika terdapat penurunan yang terus menerus. Faktanya. Sebuah periode panjang setelah tes tekanan sangat penting. Sayangnya. sinyal berbahaya dari kolaps sirkulasi perifer. Juga. Tes tekanan seharusnya menunggu hingga kerja jantung lannya komplet pada beberapa kasus. namun demikian karena adanya disaritmia di awal tes akan menyebabkan denyut jantung kembali lambat. Prinsip akhir dari tanda dan gejala utama dari iskemia yang mengenai berbagai sistem organ seperti angina.

Jika pasien mempunyai riwayat angina dan dapat melanjutkan aktivitas tanpa angina observasi tersebut dapat diverifikasi dengan tes berjalan. Latihan pasien pada treadmil hingga dia menerima angina ringan tetapi konstan dan kemudian melanjutkan berjalan pada kecepatan dan tingkatan yang sama selama angina. ketidakstabilan. Pertama kali tiga tes kemampuan pasien dilakukan untuk beradaptasi dengan latihan selanjutnya. Pengawasan yang tidak terstandar ditunjukkan ketika pasien tidak dapat menunjukkan tes tekanan atau jika digunakan sebagai sebuah suplemen untuk tes tekanan. Meskipun demikian penderita tersebut dapat mencapai pada tingkat yang . Nyeri dada dari 3+ atau lebih berat Gejala lain yang menginduksi kelemahan. tes berjalan. hari. Pada 10 menit berjalan. tes latihan nitrogliserin. penderita akan merasakan ketidaknyamanan. mual atau muntah Ketidaknyamanan atau nyeri yang meningkat sebagai latihan yang berkelanjutan Tanda dari insufisiensi sirkulasi perifer Pucat Kulit dingin Penurunan tekanan darah Perubahan EKG Deviasi segmen ST pada latihan ( 3mm atau lebih) Takikardi ventrikel Presipitasi PVCs atau agravitasi dengan latihan (lebih dari 25% dari denyut jantung) Takikardia supraventikel ektopik Blok intrakardial yang tidak muncul pada fase istirahat Pasien ingin berhenti PVC : Kontraindikasi ventrikel prematur Tes Tidak Terstandar Terdapat empat tambahan tes tekanan fungsional yang memberikan informasi yang berguna untuk merencanakan program latihan pada pasien. dan pengawasan yang tidak terstandar.

seorang pasien akan dites kembali hingga terjadi angina yang ringan dan konstan. Latihan hingga angina yang konstan dan ringan terjadi kemudian berhenti dan istirahat selama 10 hingga 15 menit. maka prosedur tersebut seharusnya dihentikan. Penggunaan nitrogliserin sebelum kelas latihan penting untuk mengkondisikan pasien dengan angina pektoris. Bukanlah hal penting untuk menghentikan latihan pada pasien untuk menambahkan nitrogliserin pada situasi tes karena keadaan istirahat itu sendiri dapat menurunkan terjadinya angina. Tes usaha yang kedua hampir sama dengan tes berjalan. pasien akan menuju ke level yang lebih tinggi. Pengawasan tak terstandar juga dapat digunakan dengan mesin EKG yang disambungkan pada pasien dengan kabel dan ditempelkan setelah aktivitas untuk evaluasi. dan amputasi pada ekstremitas bawah. Jika terjadi depresi ST atau angina atau keduanya. nitrogliserin dapat digunakan dan latihan dilanjutkan hingga 10 menit. maka hal tersebut akan menunjukkan temuan yang sama . Selama latihan. Tes itu kemudian diulangi dan dilanjutkan ke level selanjutnya tanpa angina. dan membuatnya memungkinkan untuk pasien yang melakukan latihan diatas ambang angina selanjutnya.lebih tinggi tanpa angina. Jika angina berlanjut hingga 10 menit atau memburuk selama tes. Pengawasan Tak Terstandar Monitor Holter atau telemetri EKG dapat digunakan untuk mengevaluasi efek aktivitas fisik yang berbeda dengan latihan yang digunakan pada standar tes latihan tekanan. Jika setelah latihan EKG membutuhkan waktu 10 detik setelah menyelesaikan latihan. sehingga membuatnya mungkin untuk melakukan latihan pada intensitas yang lebih tinggi untuk meningkatkan kekuatan dari otot perifer dan kemudian melanjutkan untuk meningkatkan kemampuan dan tingkatan dari aktifitas fisik. Berbagai upaya dilakukan untuk memprediksi pembukaan lambat pembuluh darah kolaterl pada beberapa pasien tertentu. nitrogliserin dapat diberikan sebelum kelas latihan. Tes latihan nitrogliserin dapat memberikan informasi yang berguna bagi rehabilitasi jantung. sehingga angina tidak memburuk. hingga penderita menunjukkan kapasitas adaptasi. paraplegi. Tipe ini dinilai lebih berguna untuk mengevaluasi kebutuhan rehabilitasi fisik yang tidak memungkinkan seperti hemiplegi. Jika terdapat tes lanjutan yang diakhiri karena perubahan angina atau iskemia ST.

Untuk pasien resiko rendah jantung koroner. Pasien yang memberikan pelayanan pada disiplin rehabilitasi jantung lainnya yang baik Pasien yang mempunyai monitor program lengkap mungkin akan lebih baik. pengobatan dapat dianjurkan dilakukan di rumah dan tidak diawasi. Program ini meliputi petunjuk diet. Pasien yang membutuhkan monitoring ekstra pada denyut jantung atau denyut jantung yang tak dapat diukur. Pasien angina atau hampir angina 4. dll). Pasien yang kurang dari 6 bulan mengalami serangan jantung. Masih menjadi kontroversi apakah seorang pasien membutuhkan sebuah supervisi. atau bedah jantung. khsusunya jika mereka memiliki komplikasi ketika dirawat di RS. penghentian merokok. Individu yang memiliki iskemi selama EKG pada program latihan 3. Pasien yang mempunyai penyakit mayor dan disertai dengan masalah jantung ( diabetes. Van Camp dan Peterson meyakini bahwa program yang tidak termonitor mempunyai morbiditas dan mortalitas yang sama . Tidak terdapat penelitian formal yang menunjukkan bahwa monitoring terhadap rehabilitasi jantung lebih aman dibandingkan dengan yang tidak termonitor. Penelitian terbaru dari rahabilitasi jantung berupa pelayanan tentang pengawasan telemeter transtelepon. program monitor. Penderita yang mempunai penurunan fungsi ventrikel kiri yang buruk ( fraksi ejeksi ventrikel kiri kurang dari 25% (LVEF)) setelah AMI berat 2. Pada komunitas Montefiore terdapat tiga orang yang diresusitasi dan satu diantaranya meninggal di usia 25 tahun. 6. 8. amputasi karena stroke. dan terapi penurunan lemak. 7. Pengawasan Rehabilitasi Laporan terbaru dari rehabilitasi jantung AACVPR dan National Institute of Health akan menunjukkan mengenai keamanan dan efektivitas latihan rehabilitasi jantung yang tidak disupervisi. angioplasti. Pasien yang dikondisikan akan dilatih dalam intensitas tinggi. Namun demikian pemulihan pasien jantung seharusnya tidak dilakukan seorang diri dalam sebuah lingkungan dimana kira-kira tidak ada yang membantu ketika terjadi keadaan gawat.jika dilakukan selama latihan. 5. Kami meyakini beberapa kandidat di bawah ini untuk dimonitor : 1. .

dan frekuensi latihan dengan intensitas merupakan komponen yang paling penting. Meskipun beberapa pasien jantung dapat melakukan lari maraton seperti contohnya kapasitas fungsional pada sebagian besar pasien jantung tidak mampu digunakan. toleransi latihan. Prinsip overload : sebuah latihan. meskipun demikian. durasi. seharusnya mengikuti empat prinsip dari pengkondisian fisik di bawah ini : 1. Dari keseluruhan tipe latihan ini hal yang penting adalah rehabilitasi untuk meningkatkan kemampuan melakukan pekerjaan sehari-hari dan yang berhubungan dengan pekerjaan. Prinsip dari variasi individu : Latihan seharusnya dilakukan secara individu menurut kapastias dan kebutuhan personal. 2. atherectomy. meningkatkan ketidakpekaan terhadap program latihan. Latihan Pasca Angioplasti Tidak didapatkan informasi yang akurat mengenai apakah latihan yang dilakukan baik setelah percutaneous transluminal angioplasty. 3. Prinsip spesifik : Masing-masing tipe latihan akan membawa tentang sebuah metabolik spesifik dan adaptasi fisiologis yang menghasilkan sebuah efek latihan yang spesifik.Prinsip dari Pengkondisian Kardiovaskular Latihan fisik dan latihan berulang berguna untuk meningkatkan kapasitas kerja fisik dan menngkondisikan fisik. harus dikerjakan pada level kerja yang lebih besar daripada yang bisanya dikerjakan oleh seorang individu. Latihan untuk Pasien Transplantasi Jantung . dengan tambahan pengkondisian yang efektif. Prinsip reversibilitas : keuntungan dari efek latihan. Kekuatan latihan menggunakan hasil latihan isometer pada sebuah peningkatan kekuatan tetapi tidak meningkatkan daya tahan. 4. atau stenting dapat menurunkan angka kejadian restenosis. Latihan aerobik merupakan salah satu tipe latihan yang dapat meningkatkan daya tahan dan melatih memperbesar masa otot. Dapat diwujudkan dengan memanipulasi intensitas. akan tetapi berhubungan dengan waktu kegiatan dilakukan. Untuk mendapatkan keuntungan yang signifikan. latihan ini dapat meningkatkan kapsitas fungsi kardiovaskular.

Tidak dilaporkan adanya pengaruh yang berlawanan terhadap hal tersebut. pasien gagal jantung dapat mencapai kapasitas kerja fisik yang setara dengan subyek yang menunjukkan resting ejection fractions yang normal. Ketika seorang pasien mendapatkan transplantasi jantung heterotopik (jantung yang sakit tidak dikeluarkan dan jantung yang baru diposisikan paralel terhadap jantung yang sakit). detak jantung tidak dipertimbangkan dalam mengawasi intensitas latihan. jantung transplantasi menunjukkan respon training yang serupa dengan yang ditunjukkan oleh jantung yang sakit. diketahui lebih berguna dalam menentukan tingkat intensitas latihan. Selama satu decade terakhir. sedangkan jantung yang diinervasi tetapi sakit yang tetap ada akan menunjukkan bradikardi selama latihan dan penurunan ektopi ventrikuler. kami bekerja dengan jantung yang detaknya berubah seiring dengan pengaturan humoral melalui perubahan dalam sirkulasi katekolamin. Pasien dengan Disfungsi Ventrikel Kiri Berat LVEF yang terganggu merupakan konta indikasi untuk cardiac rehabilitation exercise atas dasar asumsi bahwa pengerahan tenaga yang meningkat dapat menimbulkan gagal jantung akut bahkan kematian. Saat memberikan terapi untuk pasien-pasien seperti ini. Sebagai gantinya. dan ambang batas anaerob yang lebih rendah. melalui adanya peningkatan kekuatan motorik perifer dan kapasitas aerob. dan penurunan kembali yang lebih bertahap hingga level pre-exercise setelah latihan dihentikan. khususnya pada ambang batas anaerob. Respon detak jantung terhadap latihan pada jantung yang lemah dibandingkan denan jantung yang utuh menunjukkan peningkatan yang lebih lemah pada permulaan latihan. pendapat ini berubah seiring dengan diadakannya penelitian-penelitian yang menunjukkan bahwa exercise stress testing dapat dilakukan secara aman pada pasien dengan disfungsi ventrikel kiri. Yang mengejutkan. kapasitas fungsional pada pasien gagal jantung kemungkinan tidak berhubungan dengan resting left ventricular ejection fraction. Borg RPE Scale dan pengukuran udara yang dihembuskan. Kadang-kadang. cardiac output. pengambilan oksigen maksimal. lebih rendah pada level puncak. Didapatkan pula left ventricular ejection. . Pada pasien transplantasi orthopedic. Latihan fisik yang tercantum dalam program rehabilitasi jantung pada pasien transplantasi jantung diketahui bermanfaat.

Pada pasien dengan extensive anterior transmural MI.000 wanita meninggal akibat penyakit jantung koroner dan 100. seperti pada pasien tanpa disfungsi ventrikel kiri. peningkatan konsumsi oksigen dan performa latihan yang meningkat. atau dalam eksklusi. Pada individu-individu yang dirawat di rumah sakit dengan left ventricular dysfunction. program penyesuaian dapat dilakukan secara aman di bawah pengawasan yang aman. dan penyakit jantung (38%) menimbulkan lebih banyak kematian pada wanita dibandingkan dengan kanker payudara (4%). Penyakit jantung adalah penyebab kematian utama pada wanita. Angina memiliki kemungkinan lebih besar terjadi pada wanita dibandingkan dengan MI. ada kontroversi apakah pasien-pasien tersebut termasuk dalam kriteria inklusi. lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang mengidap lower ejection fraction.. didapatkan respon hemodinamik abnormal dalam 33%. Hal demikian menunjukkan kapasitas kinerja di antara pasien dengan left ventricular dysfunction berhubungan tidak hanya terhadap fungsi miokardial tetapi juga terhadap adaptasi perifer. yang secara klinis terlihat stabil tanpa tanda-tanda gagal jantung akut. Rehabilitasi jantung juga dapat membantu pasien-pasien tersebut untuk kembali melakukan kegiatan yang produktif. Eksklusi dari laporan- laporan sebelumnya dipengaruhi oleh data jangka panjang selanjutnya. penting untuk melakukan evaluasi aktivitas pemeliharaan terhadap diri sendiri dan ADL lainnya dan untuk memberikan latihan pada bagian-bagian yang kurang.000 akibat kelainan jantung lainnya. pada latihan awal sebelum tahap lengkap penyembuhan infark. didapatkan heart rate pada fase istirahat dan pada tingkat aktivitas sub-maksimal. kapasitas kerja dapat mencapai angka normal meskipun ia memiliki LVEF antara 15-20%. dan 12% hingga 37% memiliki kapasitas kerja yang lebih rendah yaitu 50 hingga 70 watt. Hal ini berguna dalam menentukan rencana pemulangan pasien dan dapat menimbulkan perbedaan antara kembali ke rumah dan ditempatkan di nursing home. dan 28% menunjukkan kapasitas 100watt.menurut pengalaman kami terhadap individu muda dan terlatih. 21% dengan LVEFs atau kurang dari 30% memiliki hemodinamik normal. Untuk pasien-pasien tertentu dengan disfungsi ventrikel kiri yang berat. Meskipun efek latihan setelah pengkondisian fisik kemungkinan tidak lebih terfokus dibandingkan miokardial. Pada pasien dengan LVEF dengan 45%. sekitar 250. Di antara pasien-pasien yang diuji oleh Tavazzi dkk. dan wanita memiliki kemungkinan yang lebih besar . Rehabilitasi Jantung pada Wanita Setiap tahun.

sedangkan pada wanita hanya sekitar 44%. pada wanita didapatkan penurunan HDL 16% . hubungan antara respon detak jantung dan ambang batas anaerob berbeda dibandingkan laki-laki. tabel probabilitas yang menunjukkan kecenderungan penyakit berdasarkan umur. Berikut adalah beberapa dari observasi yang relevan dalam menilai perbedaan antara penyakit koroner pada pria dan wanita: 1. jenis kelamin. Kematian akibat operasi pada wanita 2. Pada laki-laki. Hal ini dideskripsikan sebagai ”sex bias” oleh Tobin (dkk) 2. tetapi tidak ada sebagian besar wanita. 73% laki-laki melampaui ambang batas anaerob. maka target tersebut hanya akan dapat dilampaui oleh sebagian besar laki-laki. Pada wanita. Gejala yang sebenarnya menunjukkan penyakit jantung cenderung ditangani dengan kurang serius apabila terjadi pada wanita dibandingkan pada pria. sehingga wanita mendapatkan pemeriksaan yang lebih lambat dari yang seharusnya dan secara umum menjadi ’lebih sakit’ dibandingkan laki-laki dengan penyakit koroner. pada 85% detak jantung yang diprediksi maksimum.20%. Meskipun ada kemungkinan didapatkan hasil ’false positive’ pada ECG stress test pada wanita dibandingkan pria. Dalam penelitian Coplan dkk. 3. Hasil rehabilitasi jantung pada wanita kurag mendapatkan perhatian karena penelitian-penelitian mengenai hal ini biasanya dilakukan hanya terhadap pria.7 kali lebih tinggi dibandingkan pada laki-laki. gejala. diet tersebut menurunkan LDL 24% hingga 26% dan HDL 0% hingga 12%. . 30% wanita normal menunjukkan tidak adanya perubahan LVEF pada saat latihan. Meskipun mengalami penurunan LDL yang sama. 4. Sebagai contoh. 5. bila target latihan ini telah ditentukan sekitar 70%-85% detak jantung maksimal. Standar yang diterapkan untuk laki-laki mungkin tidak sesuai bila diterapkan pada wanita. Diet standar menurut American Heart Association untuk menurunkan kolesterol mungkin kurang efektif bila diterapkan pada wanita dibandingkan laki-laki.menderita gagal jantung dan ruptur jantung dibandingkan laki-laki. jika ejection fraction pada MUGA menetap atau menurun pada latihan bila dibandingkan dengan pada saat istirahat pada laki-laki. dan adanya payudara yang mempengaruhi thallium scan. dan hal yang ditemukan pada ECG mengindikasikan bahwa uji stres masih berguna bila dilakukan pada wanita. hal ini dapat menjadi abnormal. Oleh karena itu. Wanita cenderung tidak lagi menderita angina setelah operasi bypass atau angioplasti.

Pengkondisian fisik juga dapat dilakukan dengan aktivitas-aktivitas yang dapat dinikmati oleh wanita. mengingat adanya perubahan kondisi akibat penurunan aktivitas fisik. Ditemukan juga bahwa berjalan 600 kaki . Wanita yang benar-benar berpartisipasi akan mencapai manfaat latihan yang setara dengan laki-laki. Wanita lebih cenderung berhenti dari program latihannya dibandingkan pria. atau dapat pula melakuakan uji dengan cycle ergometer. Pengkondisian Latihan pada Pasien Jantung yang Lebih Tua Jumlah pasien yang berusia 65 tahun ke atas di Amerika meningkat dua kali lipat dalam populasi. Penggunaan EKG telemetric pada pasien saat berjalan dengan kecepatannya sendiri mungkin cukup sebagai uji stres pra-latihan untuk individu dengan kondisi lemah. lalu melatih keseimbangan berdiri di samping tempat tidur. Penurunan tersebut berkisar antara 25% atau dapat kurang dengan tetap menjaga gaya hidup fisik yang aktif. Pada pasien manula yang dirawat di rumah sakit. makin ringan latihan yang bisa diberikan untuk melihat ada tidaknya perkembangan. dan meningkatkan kegiatan pemeliharaan diri sendiri. Kegiatan-kegiatan rumah tangga sehari-hari juga dapat dimanfaatkan sebagai aktivitas fisik untuk kesehatan kardiovaskular jika direncakan dengan baik. Pasien yang tidak memilikidaya tahan yang cukup untuk melakukan uji treadmill terus-menerus dapat diuji dengan protokol yang terputus-putus. Semakin lemah pasien.137). Uji stres latihan dilakukan untuk memastikan kapasitas fungsional individu yang lebih tua dinilai penting sebelum program latihan dilaksanakan. seperti menari. mobilisasi bertahap awal dinilai penting untuk mencegah penurunan kondisi lebih lanjut. Seseorang dapat mulai latihan dengan meningkatkan durasi dan frekuensi duduk. Golongan yang paling tua (85 tahun atau lebih) jumlahnya meningkat lebih cepat (134)dengan perkiraan setengah dari golongan ini memiliki beberapa kelainan jantung. mengacu pada format warm-up – stimulus – cool-down pada sesi latihan.(135) Proses penuaan diikuti oleh penurunan fungsi fisiologis yang bertahap dengan penurunan fungsi yang lebih cepat pada sistem kardiovaskular dan kekuatan otot.6. Latihan terbaik untuk orang tua adalah dengan latihan berjalan. Orang dengan usia lanjut yang tidak lagi aktif dapat meningkatkan kapasitas aerobic dan kekuatan ototnya dengan latihan (136. diikuti dengan perpindahan secukupnya. tetapi orang yang lebih tua memiliki derajat perkembangan yang lebih rendah ketika mereka memulai latihan fisik pada usia yang lebih muda dibandingkan dengan usia muda (138).

harus diperkirakan periode waktu istirahat di antara aktivitas fisik. Larsen dkk merekomendasikan untuk diawali dengan berjalan cepat beberapa menit sebelum menaiki tangga. Mungkin lebih perlu untuk lebih melatih ekstremitas bagian atas untuk menjaga kemampuan perpindahan dengan menggunaan alat bantu. baik operasi jantung atau MI. meskipun setelah satu periode pacu. Karena adanya penurunan kemampuan jantun dan kemampuan ’berkeringat’. sering disertai silent ischemia. Yang pertama. Dispneu dapat timbul sebagai tanda-tanda angina dibandingkan sebagai masalah pernapasan. prinsip yang sama dapat diterapkan seperti pada pasien tanpa alat pacu. depresi segmen ST non iskemik dapat terjadi. saat alat pacu jantung masih sedang digunakan. Alat Pacu Jantung Pasien dengan alat pacu jantung tidak dikecualikan dari program latihan jantung. atau sekedar aktivitas memindahkan. setelah tingkat pacu terlampaui.membuat detak jantung pasien mencapai target zone untuk melakukan latihan. Edukasi pasien tentang pentingnya aktivitas fisik yang teratur juga diperlukan.(139) Tidak adanya chest pain sebagai indikator iskemia tidak dapat diterapkan pada orang tua. Pada orang tua yang berusia >70 tahun. uji ”two flight” dimana pasien dimonitor selama menaiki dan menuruni dua tingkat tangga. Bila diminta. . Yang penting dilakukan khususnya pada pasien manula adalah latihan pemanasan untuk meningkatkan fleksibilitas sendi dan meningkatkan ketangkasan. sebagaimana ditentukan oleh uji treadmill pada pasien yang sama. lebih dari 70% menunjukkan hasil uji stres yang abnormal. Ada dua uji tak langsung yang dapat dilakukan. Kelanjutan Kehidupan Normal Aktivitas Seksual Kelanjutan aktivitas seksual adalah salah satu perhatian utama pada pasien yang pernah mengalami penatalaksanaan koroner akut. juga menghindari latihan dan kerja berat pada cuaca yang panas dan lembab.

Kembali bekerja Evaluasi untuk memastikan kapasitas kembali bekerja harus disertai pengukuran terhadap status klinis pasien serta jenis pekerjaan. berhubungan dengan level pengeluaran metabolik yang sesuai dengan pekerjaan yang diperbolehkan. Petunjuk selanjutnya didaatkan dari uji stres. Helstein dan Friedman menunjukkan bahwa ada penurunan puncak detak jantung saat koitus sekitar 5. berguna untuk menyesuaikan kapasitas pasien dengan kebutuhan pekerjaan. Klasifikasi fungsional cardiovaskular oleh New York Heart Association and Canadian Cardiovascular Society. Level kinerja yang ditunjukkan pada uji stres dapat dipergunakan untuk memperkirakan pekerjaan mana yang terlalu berat untuk pasien. Di AS. Jika pasien dapat melakukan level MET 5 sampai 6. Drory dkk menemukan bahwa pada pasien jantung tanpa iskemia pada uji stres yang pulih tidak akan mengalami iskemi selama intercourse (Holter). Penelitian lain menunjukkan pasien jantung yang terlatih penurunan frekuensi koitus yang lebih ringan dibandingkan pasien tak terlatih. Pasien yang dilaporkan memiliki penurunan aktivitas seksual menunjukkan hasil latihan latihan yang kurang. dan pencapaian orgasme adalah pada MET 4-5. pasien yang menunjukkan MET 7 atau lebih tinggi tanpa keterbatasan atau respon abnormal dapat kembali pada hampir semua jenis . tetapi yang menunjukkan hasil iskemi positif dapat mengalami iskemik atau detak jantung yang terlalu tinggi saat melakukan seks.5% setelah latihan. menyetir. ia memiliki kapasitas fisik untuk seks berdasarkan data bahwa sexual intercourse antara pasangan paruh baya yang normal adalah sekitar MET 3-4. Aktivitas seksual pada pasangan yang lama menikah secara umum tidak mengakibatkan detak jantung melampaui 117x/menit dan mungkin menimbulkan depresi atau iskemi ST yang lebih ringan dibandingkan ADL lain: menonton acara olahraga yg menarik. Frohlicher dkk menemukan bahwa meskipun pasien biasanya kembali pada aktivitas seksualnya (sebaik menyetir dan kegiatan outdoor) dalam 12 minggu. lebih dari 50% kembali melakukan aktivitas-aktivitas tersebut dalam 3 minggu pasca MI akut. atau bekerja di kantor. Latihan rehabilitasi jantung pasca MI dapat membuat aktivitas seksual terasa lebih ringan.

sementara pasien dengan MET 3-4 tidak sesuai untuk kembali ke pekerjaan. Program pengkondisian kardiovaskuler dapat menbantu bila penyebab rendahnya pencapaian beban kerja adalah rendahnya level kebugaran fisik. Kondisi lingkungan pekerjaan. disamping perkiraan-perkiraan mengenai kapasitas kerja. kecuali dunia industri berat. beban kerja. naik tangga. Sayangnya. Pasien yang menunjukka MET 5-6 dapat melakukan pekerjaan yang menetap dan pekerjaan rumah sehari-hari. serta pekerjaan-pekerjaan rumah tangga yang dikerjakan setelah bekerja harus dipertimbangkan. dan aktivitas yang dilakukan dalam 8 jam pekerjaan. Pasien jantung dengan tingkat MET 5 atau lebih dapat meningkatkan kapasitasnya 15% hingga skitar 50% setelah 2 atau 3 bulan rekondisi. dan intervensi kebiasaan.pekerjaan. mengangkat. pemakaian transportasi menuju dan dari tempat bekerja. edukasi pasien. DAFTAR PUSTAKA . konseling. Agar dapat menyesuaikan status klinis pasien dan kapasitas fungsional kardiovakular dengan keperluan perkerjaan. evaluasi berkelanjutan terhadap pekerjaan harus memasukkan analisis detail pemakaian energi untuk berjalan. masalah kembali bekerja tidak dapat dikembangkan lebih lanjut karena melibatkan isu sosial dan peraturan.

Milani and A. 2. Oldridge. Masotti 2003. M. Lavie. Jolliffe.. "Cardiac rehabilitation exercise programme." Sports Medicine 6: 45. A. L. Marchionni. 5. Fumagalli. F. S. N. Oldridge. Williams.. J. 2001. Fattirolli. Rees." Circulation 107(17): 2201. N." Journal of the American College of Cardiology 22(3): 678. R. "Exercise-based rehabilitation for coronary heart disease." The New England journal of medicine 345(12): 892. Burgisser and G. D. A. Ades. J. V." Cardiology clinics 19(3): 415. Taylor. F. Del Lungo." Sports Medicine Journal 1: 87. Littman 1993.. 2001. C. Exercise prescription and beyond. P. S. "Exercise testing in cardiac rehabilitation. B. K. "Improved exercise tolerance and quality of life with cardiac rehabilitation of older patients after myocardial infarction: results of a randomized. 4. 1988. controlled trial. C. "Benefits of cardiac rehabilitation and exercise training in secondary coronary prevention in the elderly. . B. N. 3. R.1. Thompson. Oldridge and S. N. Morosi. A. "Cardiac rehabilitation and secondary prevention of coronary heart disease. Ebrahim 2001.

Related Interests