BAB V

PEMBAHASAN

5.1 Pembahasan

5.1.1 Hubungan antara lingkungan dengan kejadian Demam Tifoid di

Rumah Sakit Umum Meuraxa Banda Aceh tahun 2015

Menurut teori yang dikemukakan oleh Djabu et al. Bahwa kuman S. typhi

sering ditemukan di sumur-sumur penduduk yang telah terkontaminasi oleh feses

manusia yang terinfeksi oleh kuman tifoid.. bahwa tinja manusia yang terinfeksi

dan dibuang secara tidak layak tanpa memenuhi persyaratan sanitasi dapat

menyebabkan terjadinya pencemaran tanah dan sumber-sumber air. Selanjutnya

air juga bisa berpeluang untuk menginfeksi manusia jika menggunakannya secara

langsung, baik untuk minum maupun untuk keperluan cuci peralatan dapur, dan

sebagainya.22

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa ada hubungan lingkungan

yang kotor dengan kejadian Demam Tifoid di Rumah Sakit Umum Meuraxa

Banda Aceh tahun 2015. Hasil uji Chi-square diperoleh nilai p (0,016) < a (0,05).

Sehingga Ha diterima, yang berarti ada hubungan antara lingkungan dengan

kejadian demam tifoid di Rumah Sakit Umum Meuraxa Banda Aceh tahun 2015.

Dan dapat dikatakan juga bahwa lingkungan merupakan salah satu faktor risiko

timbulnya penyakit Demam Tifoid. Dimana didapatkan hasil penelitian dari 40

responden terdiri dari 26(76,5%) responden yang menderita demam tifoid

memburuk memiliki lingkungan yang kotor ,dan 1 orang memiliki lingkungan

yang bersih. Sedangkan responden yang menderita demam tifoid yang sudah

36

ini yang disebut dengan penderita laten. sampah kering. Dapat juga disebabkan karena makanan tersebut disajikan oleh seorang penderita tifus laten (tersembunyi) yang kurang menjaga kebersihan saat memasak. sumber infeksi.1. dan sebagainya) akan berkembang biak mencapai dosis infektif. 37 . kelebihan populasi. Menurut (Karsinah et. apabila makanan atau minuman yang dikonsumsi kurang bersih. 1994).016 (p<0. kerang. S.2 Hubungan antara Kebiasaan Makan di Luar Rumah dengan Kejadian Demam Tifoid di Rumah Sakit Umum Meuraxa Banda Aceh tahun 2015.al. biasanya terjadi melalui konsumsi makanan di luar rumah atau di tempat-tempat umum. dan kekacauan sosial. Menurut peneliti bahwa adanya hubungan antara lingkungan dengan demam tipoid dikarnakan sumber infeksi.05) bahwa ada hubungan antara lingkungan yang kotor dengan frekuensi penyakit demam tifoid di Rumah Sakit Meuraxa Banda Aceh Tahun 2015. Setelah diuji statistik (uji chi-square) diperoleh nilai p= 0. S. Dapat juga disebabkan karena makanan tersebut disajikan oleh seorang penderita tifus laten (tersembunyi) yang kurang menjaga kebersihan saat memasak. kelebihan populasi dan bisa berada dalam air. yang menyatakan bahwa penularan tifus dapat terjadi dimana saja dan kapan saja. typhi dapat pada berkembang pada kondisi sanitasi yang buruk. Seseorang dapat membawa kuman tifus dalam saluran pencernaannya tanpa sakit. yang bila organisme ini masuk ke dalam vehicle yang cocok (daging. es. typhi dapat berkembang dalam kondisi sanitasi yang buruk.23 5.membaik sebanyak 8(23. Menurut pendapat Addin A 2009: 104. debu.5%) responden memiliki lingkungan yang kotor dan 5 responden memiliki lingkungan yang bersih.

8%) responden yang menderita demam tifoid memburuk memiliki kebiasaan jajan di luar dan 1 responden yang tidak memiliki kebiasaan jajan di luar. dan 6 (85. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa ada hubungan antara kebiasaan makan di luar rumah dengan kejadian Demam Tifoid di Rumah Sakit Umum Meuraxa Banda Aceh tahun 2015.7%) responden memiliki kebiasaan tidak jajan di luar rumah.05) bahwa ada hubungan antara kebiasaan makan di luar rumah dengan frekuensi penyakit demam tifoid di Rumah Sakit Meuraxa Banda Aceh Tahun 2015. Hasil penelitian ini selaras dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Dwi Yulianingsih (2008) di RSUD Kabupaten Temanggung yang meneliti tentang kebiasaan makan di luar rumah dengan kejadian demam Tifoid menunjukkan hasil bahwa ada hubungan yang bermakna antara kebiasaan makan di luar rumah dengan kejadian Demam Tifoid diperoleh dari p value = 0. Setelah diuji statistik (uji chi-square) diperoleh nilai p= 0. Sedangkan responden yang menderita demam tifoid tetapi sudah membaik dan memiliki kebiasaan jajan di luar sebanyak 7(21. Hasil uji Chi-square diperoleh didapatkan sebanyak 26 (78. 38 .Penderita ini dapat menularkan penyakit tifus ini ke banyak orang. apalagi jika dia bekerja dalam menyajikan makanan bagi banyak orang seperti tukang masak di restoran.2%) responden.400 yang berarti bahwa responden yang memiliki kebiasaan makan di luar rumah mempunyai risiko untuk terkena Demam Tifoid 5.004 (p<0.400 kali besar dari pada responden yang tidak memiliki kebiasaan makan di luar rumah.05) dan OR sebesar 5.005(< 0.

24 Penularan bakteri Salmonella typhi salah satunya melalui jari tangan atau kuku. menempel ditempat tersebut dan mudah sekali berpindah ke makanan yang tersentuh. Sedangkan responden yang menderita demam tifoid yang sudah membaik sebanyak 10(52.4%) responden yang menderita demam tifoid memburuk memiliki kebiasaan mencuci tangan . bahwa budaya cuci tangan yang benar adalah kegiatan terpenting. dan 18(85. Menurut teori yang dikemukakan oleh Arisman (2008: 175).6%) responden memiliki kebiasaan mencuci tangan dan 3 responden memiliki kebiasaan tidak mencuci tangan.1. baik flora normal maupun cemaran. Tangan perlu dicuci karena ribuan jasad renik.5.Hasil uji Chi-square diperoleh responden demam tifoid yang memiliki kebiasaan mencuci tangan dengan sabun dari 40 responden didapatkan 9(47. maka tangan harus sudah bersih. selanjutnya orang sehat akan menjadi sakit Akhsin Zulkoni.3 Hubungan kebiasaaan mencuci tangan dengan sabun dengan Demam Tifoid di Rumah Sakit Umum Meuraxa Banda Aceh Tahun 2015.25 Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa ada hubungan antara kebiasaan mencuci tangan sebelum makan dengan kejadian Demam Tifoid di rumah sakit umum Meuraxa Banda Aceh Tahun 2015.7) orang memiliki kebiasaan tidak mencuci tangan dengan sabun. 2010. Setiap tangan yang dipergunakan untuk memegang makanan. Apabila orang tersebut kurang memperhatikan kebersihan dirinya seperti mencuci tangan sebelum makan maka kuman Salmonella typhi dapat masuk ke tubuh orang sehat melalui mulut. 39 . Pencucian dengan benar telah terbukti berhasil mereduksi angka kejadian kontaminasi.

4 Hubungan kesukaan makan makanan mentah dengan Demam Tifoid di Rumah Sakit Umum Meuraxa Banda Aceh Tahun 2015.4%) responden yang menderita demam tifoid memburuk memiliki kebiasaan makan makanan mentah dan 8(44. Setelah diuji statistik (uji chi-square) diperoleh nilai p= 0.Hasil uji Chi-square didapatkan sebanyak 19(86.26 Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa ada hubungan antara Kesukaan makan makanan mentah dengan kejadian Demam Tifoid di rumah sakit umum Meuraxa Banda Aceh Tahun 2015.602 yang berarti bahwa responden yang tidak mencuci tangan sebelum makan mempunyai risiko 2. karena buah dan sayur kemungkinan dipupuk menggunakan kotoran manusia.625 kali lebih besar terkena Demam Tifoid dibandingkan dengan responden yang mempunyai kebiasaan mencuci tangan sebelum makan.025 (p<0.1.625 dan 95%CI=1. Berdasarkan teori yang dikemukakan oleh James Chin 2006: 647 yaitu buah dan sayur dapat terkontaminasi oleh Salmonella typhi. Hasil penelitian ini diperkuat dengan hasil penelitian Arief Rakhman.05) bahwa ada hubungan antara kebiasaan mencuci tangan dengan sabun dengan frekuensi penyakit demam tifoid di Rumah Sakit Meuraxa Banda Aceh Tahun 2015.4%) responden yang tidak memiliki kebiasaan makan makanan mentah. 5. Sedangkan responden yang 40 .dkk (2009) di Kabupaten Bulungan Kalimantan Timur yang meneliti tentang kebiasaan mencuci tangan sebelum makan dengan kejadian Demam Tifoid memperoleh hasil bahwa ada hubungan yang bermakna antara kebiasaan mencuci tangan sebelum makan dengan kejadian Demam Tifoid di Kabupaten Bulungan Kalimantan Timur dengan OR= 2.497-4.

Bahwa mencuci tangan dengan sabun dan air yang mengalir akan menghilangkan banyak 41 .013 (p<0.1. Hasil penelitian ini diperkuat dengan hasil penelitian Alamsyah. ada responden yang menyatakan alasan tidak mencuci bahan makan mentah sebelum dikonsumsi karena tampak bersih bahkan baru dibasahi oleh air hujan sehingga tidak perlu dicuci padahal kontaminasi langsung makanan mentah dengan Salmonella typhi dapat terjadi dari tempat hidup atau asal bahan makanan tersebut misalnya dipupuk dengan pupuk kompos.200 kali beresiko mendapat demam tifoid dari pada responden yang memiliki kebiasaan yang baik mencuci bahan makan mentah langsung konsumsi.6) responden memiliki kebiasaan tidak makan makanan mentah. 5.6%) responden. 10 (55. Sesuai hasil analisis data didapati ada hubungan antara kebiasaan mencuci bahan makan mentah langsung konsumsi dengan kejadian demam tifoid di wilayah kerja Puskesmas Tumaratas dengan OR 5. Apalagi.menderita demam tifoid tetapi sudah membaik dan memiliki kebiasaan makan makanan mentah sebanyak 3(13. 2001.5 Hubungan antara Kebiasaan Mencuci Tangan Dengan Sabun Setelah Buang Air Besar Dengan Kejadian Demam tifoid di Rumah Sakit Umum Meuraxa Banda Aceh Tahun 2015. Hal ini sejalan dengan penelitian Nani dan Muzakkir (2014) menunjukan ada hubungan kebiasaan makan dengan kejadian demam tifoid.05) bahwa ada hubungan antara makan makanan mentah dengan frekuensi penyakit demam tifoid di Rumah Sakit Meuraxa Banda Aceh Tahun 2015. Berdasarkan teori yang dikemukakan Purnawijayanti.Artinya responden yang mempunyai kebiasaan kurang baik mencuci bahan makan mentah langsung konsumsi 5. 2013. Setelah diuji statistik (uji chi-square) diperoleh nilai p= 0.200.

kombinasi antara mengosok tangan dengan sabun dan air yang mengalir akan menghanyutkan partikel kotoran yang banyak mengandung mikrobia ditangan cara ini lebih efektif menghilangkan mikroba di tangan di bandingkan dengan mencuci tangan tanpa sabun.0%) responden memiliki kebiasaan tidak mencuci tangan dengan sabun setelah buang air besar.0. Sedangkan responden yang menderita demam tifoid yang sudah membaik sebanyak 10(58.27 Berdasarkan hasil penelitian didapatkan hasil penelitian dari 40 responden didapatkan 7(41.mikroba yang ada di tangan.887 melakukan cuci tangan pakai sabun lebih banyak pada kelompok kontrol sebanyak 25 orang (61. Setelah diuji statistik (uji chi-square) diperoleh nilai p= 0. maka Ho ditolak.007 (p<0.023<0. Bahwa berdasarkan hasil uji chi square menunjukan bahwa nilai p= 0. Nilai OR 42 . dan 20(87.0%) responden memiliki kebiasaan tidak mencuci tangan dengan sabun setelah buang air besar.2%) responden yang menderita demam tifoid memburuk memiliki kebiasaan Mencuci tangan dengan sabun setelah buang air besar. Hasil penelitian ini diperkuat dengan hasil penelitian Yuli wulan sari 2013.05.05) bahwa ada hubungan antara mencuci tangan dengan sabun setelah buang air besar dengan frekuensi penyakit demam tifoid di Rumah Sakit Meuraxa Banda Aceh Tahun 2015. Responden yang memiliki kebiasaan buruk tidak pernah cuci tangan sesudah BAB lebih banyak pada kelompok kasus sebanyak 24 orang (64.1%).140.5%). Sehingga dapat diartikan ada hubungan antara kebiasan cuci tangan sesudah BAB pakai sabun dengan kejadian demam tipoid.8%) responden memiliki kebiasaan mencuci tangan dengan sabun setelah buang air besar dan 3(13. Dilain sisi responden yang memiliki kebiasaan baik 0.

5.19 Berdasarkan hasil penelitian didapatkan hasil penelitian dari 40 responden didapatkan sebanyak 18(90. Berdasarkan teori yang dikemukakan Noer.1.6 Hubungan riwayat demam tipoid pada keluarga dengan Demam tifoid di Rumah Sakit Umum Meuraxa Banda Aceh Tahun 2015. berarti orang 43 .0%) responden yang menderita demam tifoid memburuk memiliki riwayat demam tifoid didalam keluarga dan 9(45.050). Setelah diuji statistik (uji chi-square) diperoleh nilai p= 0.0%) responden. Sedangkan responden yang menderita demam tifoid tetapi sudah membaik dan memiliki riwayat demam tifoid didalam keluarga sebanyak 2(10. Penelitian ini sebanding juga dengan penelitian Arief Rakhman Pada variabel riwayat tifoid di keluarga.857 (Cl 95% = 1.0%) responden yang tidak memiliki riwayat demam tifoid didalam keluarga. Bahwa orang yang baru sembuh dari demam tifoid masih terus mengekskresi S. 244(95%CI. hasil analisis multivariat memperlihatkan ada hubungan yang bermakna secara statistik dengan kejadian demam tifoid (p- value=0.sebesar 2.161) sehingga dapat diartikan bahwa seseorang yang mempunyai kebiasaan buruk tidak cuci tangan pakai sabun sesudah BAB berisiko sebesar 2.222<OR<4.1. typhi dalam tinja dan air kemih sampai tiga bulan (fase konvalesen) dan hanya 3% penderita yang mengekskresi lebih dari satu tahun.0%) responden yang tidak memiliki riwayat demam tifoid didalam keluarga.1996.012) dengan nilai OR 2.857 kali dibandingkan dengan seseorang yang mempunyai kebiasaan cuci tangan pakai sabun.140-7.007 (p<0. 11(55.05) bahwa ada hubungan antara riwayat dalam keluarga dengan frekuensi penyakit demam tifoid di Rumah Sakit Meuraxa Banda Aceh Tahun 2015.

Upaya yang dapat dilakukan oleh peneliti dalam meminimalisir terjadinya recall bias dalam penelitian yaitu dengan menggunakan teknik wawancara mendalam dan lembar observasi langsung untuk memperoleh informasi yang lebih tepat dan lengkap. Penelitian ini diperkuat juga dengan Santoso yang menemukan adanya hubungan riwayat tifoid anggota keluarga dengan OR =3.yang dalam keluarganya belakangan pernah ada menderita demam tifoid memiliki peluang untuk terkena demam tifoid 2.83 (95% CI.2 Hambatan dan Kelemahan Penelitian 5. 5.93). Recall bias.13<OR<12.2 Kelemahan Penelitian 1.92) dan penelitian yang menemukan adanya hubungan riwayat tifoid dalam keluarga dengan kejadian demam tifoid (OR=2.1 Hambatan Penelitian Hambatan dalam penelitian ini adalah : 1. 44 .244 kali lebih besar dibanding orang yang dalam keluarganya tiga bulan terakhir tidak ada yang menderita demam tifoid.2. Hal ini dapat disebabkan adanya faktor lupa pada responden. Sebagian besar dari responden penelitian hanya bisa ditemui pada hari atau jam-jam tertentu sehingga waktu penelitian disesuaikan dengan waktu responden pada saat responden dapat dilakukan wawancara.2. penelitian ini menggunakan pengumpulan data mengenai faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian Demam Tifoid diperoleh hanya dengan mengandalkan daya ingat responden.1. 5.

sehingga penulis harus melakukan pendekatan secara personal pada saat pelaksanaan wawancara dalam hal mencari informasi yang dibutuhkan dalam penelitian. 45 . Kejujuran responden dalam hal pengisian kuesioner.2.

Related Interests