KONSUMSI JAGUNG

Sebelum tahun 1980an, jagung dikenal sebagai komoditas pangan utama
setelah beras karena merupakan makanan pokok sebagian penduduk Indonesia seperti
di Madura, beberapa kabupaten lainnya di Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur,
Sulawesi Selatan, dan beberapa kabupaten di Sulawesi. Dengan berkembangnya
industri peternakan maka terjadi perubahan pola konsumsi jagung di Indonesia yang
mengubah sacara drastis dari negara eksportis menjadi negara importir. Peningkatan
konsumsi produk peternakan akan memacu permintaan jagung untuk pakan ternak. Di
samping itu, permintaan jagung untuk industri pangan olahan juga akan meningkat.
Dengan perubahan ini maka jagung bukan lagi sebagai komoditas pangan pokok, tapi
telah berubah menjadi bahan baku industri.
Secara umum, konsumsi jagung terdiri dari konsumsi jagung basah dengan
kulit dan jagung pipilan (beras jagung). Sedangkan konsumsi suatu komoditas produk
pertanian terdiri dari konsumsi langsung dan tidak langsung (diolah lebih lanjut
menjadi produk konsumsi atau produk lainnya). Sementara itu, jagung dikonsumsi
untuk memenuhi lima kebutuhan utama, yaitu: (1) kebutuhan industry, (2) kebutuhan
industri pakan ternak, (3) kebutuhan pakan lokal, (4) kebutuhan bibit, (5) konsumsi
langsung (rumah tangga). Secara rata – rata, dalam lima tahun terakhir (2010-2015),
konsumsi langsung (rumah tangga) hanya mencakup 4,25% dari total konsumsi
nasional. Sedangkan kebutuhan industri pakan, bahan baku industri, dan benih
mencapai total 95,75 %. Hal tersebut dapat dilihat dalam grafik di bawah ini.
Grafik Proporsi Kebutuhan Jagung Nasional

Proporsi Kebutuhan Jagung Nasional
0.52% 4.25%

33.53%

61.69%

Kebutuhan pakan Bahan baku industri Kebutuhan benih Konsumsi langsung

Sumber : Dirjen Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian

1. Konsumsi jagung per kapita
Diagram Rata – rata Konsumsi Jagung Per Kapita

Rata-rata Konsumsi Jagung Per Kapita (Kg)
2
1.8
1.6
1.4
1.2
1
0.8
0.6
0.4
0.2
0
2011 2012 2013 2014 2015

Sumber : bahan FGD Kementan, Statistik Konsumsi Pangan Kementan

Konsumsi jagung merupakan salah satu konsumsi pangan terbesar selain beras
dan kedelai, dengan rata – rata konsumsinya sebanyak 1,73 kg/kapita/tahun. Konsumsi
jagung rumah tangga per kapita pada tahun 2012 mengalami kenaikan dari tahun
sebelumnya yaitu tahun 2011 sebesar 1,82 kg/kapita/tahun menjadi 1,90
kg/kapita/tahun. Pada tahun 2013 – 2015 konsumsi jagung rumah tangga cenderung
terus menurun, hingga akhirnya pada tahun 2015 rata – rata konsumsi jagung rumah
tangga sebesar 1,56 kg/kapita/tahun.Konsumsi jagung yang dimaksud disini konsumsi
jagung basah berkulit dan jagung pipilan kering.
Penurunan konsumsi ini terjadi Karena semakin sedikit orang mengkonsumsi
jagung sebagai subtitusi bahan pangan pokok, sedangkan permintaan jagung untuk
industri terutama industri pakan cenderung semakin meningkat. Program
penganekaragaman pangan pengganti beras sampai saat belum berhasil, sehingga perlu
upaya yang lebih keras agar konsumsi beras menurun dan konsumsi sumber
karbohidrat lainnya termasuk jagung meningkat

2. Konsumsi jagung untuk industri
Diagram Konsumsi Jagung Untuk Industri

Konsumsi Jagung Untuk Industri (Juta Ton)
5
4.5
4
3.5
3
2.5
2
1.5
1
0.5
0
2011 2012 2013 2014

Sumber : Survei Penggunaan Jagung- Pusdatin, 2014

Pada tahun 2012 konsumsi jagung untuk industri menunjukkan peningkatan
dari tahun sebelumnya yaitu 3,67 juta ton menjadi sebesar 4,32 juta ton. Peningkatan
kebutuhan jagung untuk industri terus mengalami peningkatan. Pada 2013 peningkatan
kembali terjadi, menjadi 4,5 juta ton dan pada tahun 2014 juga meningkat menjadi
4,46. Hal ini terjadi karena harga jagung impor semakin mahal, sehingga penggunaan
jagung lokal untuk bahan baku industri semakin meningkat.

3. Total konsumsi jagung

Total Konsumsi Jagung (Ribu Ton)
19.5

19

18.5

18

17.5

17

16.5

16

15.5
2011 2012 2013 2014 2015

Sumber : Bahan FGD Kementan, Statistik Konsumsi Pangan Kementan, Aptindo (diolah)

Berdasarkan data di atas dapat diketahui bahwa kebutuhan cukup tinggi
terhadap komoditas jagung dimana konsumsi lebih banyak digunakan untuk kebutuhan
pakan dan bahan baku industri (sekitar 90%). Rata – rata kebutuhan jagung per tahun
mencapai 18.089 ribu ton, dengan peningkatan 3,4% per tahunnya. Sedangkan
konsumsi jagung pada rumah tangga pada kurun waktu 2011 – 2015 mengalami
penurunan. Hal ini menunjukkan penggunaan jagung pipilan kering lebih banyak
digunakan dalam industri pakan ternak dibandingkan dengan untuk konsumsi rumah
tangga,
Dari pemaparan tersebut, terlihat bahwa orientasi pengembangan jagung ke
depan sebaiknya lebih diarahkan pada pemenuhan kebutuhan industri pangan dan
pakan, mengingat produk kedua industri ini merupakan barang normal (elastis terhadap
peningkatan pendapatan), sebaliknya merupakan barang inferior dalam bentuk jagung
konsumsi langsung seiring dengan membaiknya daya beli masyarakat.