Efek karakteristik tersebut terhadap koagulan adalah sebagai berikut

:
Suhu rendah, suhu berpengaruh terhadap daya koagulasi/flokulasi dan memerlukan
pemakaian bahan kimia berlebih, untuk mempertahankan hasil yang dapat diterima.
pH Nilai ekstrim baik tinggi maupun rendah, dapat berpengaruh
terhadapkoagulasi/flokulasi, pH optimum bervariasi tergantung jenis koagulan yang
digunakan (lihat tabel jenis koagulan).
Alum sulfat danAlkalinitas ferri sulfat berinteraksi dengan zat kimia pembentuk
alkalinitas dalam air, membentuk senyawa aluminium atau ferri hidroksida, memulai proses
koagulasi. Alkalinitas yang rendah membatasi reaksi ini dan menghasilkan koagulasi yang
kurang baik, pada kasus demikian, mungkin memerlukan penambahan alkalinitas ke dalam
air, melalui penambahan bahan kimia alkali/basa ( kapur atau soda abu).
Makin rendah kekeruhan, makin sukar pembentukkan flok. Kekeruhan yang baik.
Makin sedikit partikel, makin jarang terjadi tumbukan antar partikel/flok, oleh sebab itu
makin sedikit kesempatan flok berakumulasi. Operator harus menambah zat pemberat untuk
menambah partikel- partikel untuk terjadinya tumbukan.
Warna berindikasi kepada senyawa organik, Warna dimana zat organik bereaksi dengan
koagulan, menyebabkan proses koagulasi terganggu selama zat organik tersbut berada di
dalam air baku dan proses koagulasi semakin sukar tercapai. Pengolahan pendahuluan
terhadap air baku harus dilakukan untuk menghilangkan zat organic tersebut, dengan
penambahan oksidan atau adsorben (karbon aktif).
Keefektifan koagulan atau flokulan akan berubah apabila karakteristik air baku
berubah. Keefektifan bahan kimia koagulan/koagulan pembantu, dapat pula berubah untuk
alasan yang tidak terlihat atau tidak diketahui, oleh karena itu ada beberapa factor yang
belum diketahui yang dapat mempengaruhi koagulasi – flokulasi . Untuk masalah demikian
Operator harus memilih bahan kimia terlebih dahulu, dengan menggunakan jar – test dengan
variasi bahan kimia, secara tunggal atau digabungkan atau dikombinasikan.
Jar–test secara subyektif masih merupakan uji yang paling banyak digunakan dalam
mengontrol koagulasi dan tergantung semata-mata kepada penglihatan kita (secara visuil)
untuk mengevaluasi suatu interpretasi/tafsiran. Selain itu seorang Operator juga harus
melakukan pengukuran pH, kekeruhan, bilamana mungkin harus melakukan uji “filtrabilitas”
dan “potensial zeta”.
Penentuan dosis optimum koagulan. Untuk memperoleh koagulasi yang baik, dosis
optimum koagulan harus ditentukan. Dosis optimum mungkin bervariasi sesuai dengan
karakteristik dan seluruh komposisi kimiawi di dalam air baku, tetapi biasanya dalam hal ini
fluktuasi tidak besar, hanya pada saat-saat tertentu dimana terjadi perubahan kekeruhan yang
drastis (waktu musim hujan/banjir) perlu penentuan dosis optimum berulang-ulang.
Perlu diingat bahwa hasil jar-test tidak selalu sama dengan operasional di IPA, jadi
harus dibuat koreksi dosis yang dihasilkan jar-test dengan aplikasi dosis di IPA.
Seorang operator perlu membuat suatu grafik hubungan antara nilai kekeruhan vs dosis
koagulan, melalui percobaan jar – test untuk variasi nilai kekeruhan ( rendah, sedang, tinggi )
selama periode waktu minimal satu tahun atau dari data – data yang lalu selama
beberapa tahun untuk sumber air baku yang sama. Sehingga dengan adanya grafik ini
mempermudah penentuan dosis secara cepat jika ada perubahan kekeruhan secara tiba–tiba .
Selanjutnya penentuan dosis dilanjutkan dengan melakukan jar-test.
Penentuan pH optimum. Penambahan garam aluminium atau garam besi, akan
menurunkan pH air, disebabkan oleh reaksi hidrolisa garam tersebut, seperti yang telah
diterangkan di atas. Koagulasi optimum bagaimanapun juga akan berlangsung pada nilai pH

Timbul kesulitan bilamana kualitas air baku tidak baik sehingga tidak semua zat koloid dan kotoran lainnya dapat dihilangkan dengan saringan pasir cepat atau saringan pasir lambat. Zat tersuspensi yang mempunyai ukuran lebih dari 5 – 10 μm dapat dihilangkan agak mudah dengan filtrasi atau sedimentasi dan filtrasi. tertentu (pH optimum). maka diperlukan koreksi pH pada proses koagulasi. Dengan koagulasi-flokulasi zat suspensi tersebut yang juga sebagai pencemar. dengan penambahan bahan alkali seperti : soda abu (Na 2CO3). filtrasi atau flotasi. . bisa dihilangkan dari air. ada beberapa faktor yang harus diperhatikan. Untuk mengatasi hal ini maka proses koagulasi dengan menggunakan bahan kimia dilakukan. sehingga hal ini yang menjadi fungsi utama dari koagulasi-flokulasi. juga ada efek samping yaitu fraksi zat tersuspensi dalam air yang seringkali menyebabkan pencemaran. � Jumlah koagulan � Jenis dan jumlah koagulan/flokulan pembantu � Cara pemakaian koagulan/flokulan pembantu � Resirkulasi sebagian lumpur (jika memungkinkan) Pentingnya koagulasi-flokulasi di IPA terhadap air baku air permukaan dan air tanah yang sudah mengalami pengolahan pendahuluan. dimana pH optimum harus ditetapkan dengan jar-test. Dilakukan penentuan dosis alkali pada dosis optimum koagulan yang digunakan. karena oksidan akan tereduksi oleh zat organik didalam flok sebelum bisa menembus mikroorganisme untuk dimusnahkan. Teknologi koagulasi-flokulasi bisa juga dipadukan dengan proses pengendapan secara kimiawi (bukan proses pengendapan flok secara fisik). Dengan aplikasi teknologi koagulasi-flokulasi zat yang berbentuk suspensi atau koloid dirubah bentuknya menjadi zat yang dapat dipisahkan dari air. Untuk mencapai kondisi flokulasi yang dibutuhkan. yang tidak dapat dimusnahkan oleh proses oksidasi reduksi. karena sering kali mikroorgamisme terdapat di dalam zat padat. kapur (CaO) atau kapur hidrat {Ca(OH)2}. seperti misalnya : � Waktu flokulasi � Jumlah enersi yang diberikan. Sedangkan penghilangan koloid yang tidak tercemar berat dapat menggunakan Saringan pasir lambat. akan tetapi reaksi kimia antara koagulan/flokulan dan zat terlarut didalam air yang menghasilkan senyawa kimia yang tidak larut. Proses koagulasi-flokulasi selain untuk menurunkan tingkat kekeruhan untuk memperoleh air yang bening. Agregasi sebagai akibat dari pemakaian koagulan/flokulan adalah tahap awal dimana selanjutnya dilakukan pemisahan flok dari air misalnya dengan proses sedimentasi. Proses koagulasi-flokulasi bisa juga menghilangkan sebagian atau seluruh zat terlarut. Untuk kasus tertentu ( pada pH air baku rendah dan pada dosis koagulan yang relatif besar ) dan untuk mempertahankan pH optimum. Selain itu juga penting bagi proses desinfeksi dengan adanya pemisahan zat padat sebelum desinfeksi dilakukan. seringkali terdapat zat padat dalam bentuk atau ukuran yang tidak memungkinkan mengendap pada proses sedimentasi saja atau dengan proses lain di dalam waktu dentensi yang efisien.