BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Indonesia merupakan Negara kepulauan dengan panjang
garis pantai Indonesia juga dikenal oleh dunia sebagai negara
kepulauan terbesar yang memiliki kondisi konstelasi geografis
yang sangat strategis, karena wilayah Indonesia terletak pada
posisi silang dunia yaitu di antara dua benua dan dua samudera (
antara Benua Asia dan Australia serta di antara Samudera Pasifik
dan Hindia), sehingga dengan posisi geografis tersebut
menyebabkan laut di antara pulau-pulau menjadi alur laut yang
sangat penting artinya bagi lalu lintas pelayaran nasional
maupun internasional. Disamping itu Indonesia memiliki 17.499
pulau, dengan luas perairan lautnya mencapai 5,9 juta km2 dan
garis pantai sepanjang 81.000 km2. Kondisi tersebut menjadikan
Indonesia sebagai center of gravity kawasan Asia. Akan tetapi
dengan kondisi seperti ini pula indonesia berada pada pertemuan
tiga lempeng tektonik utama dunia yang merupakan wilayah
teritorial yang sangat rawan terhadap bencana alam.
Keunikan yang lain dimiliki Indonesia adalah pertemuan
dua pegunungan sirkum pasifik dan sirkum mediterania yang
menyebabkan Indonesia berada pada lingkaran bola api ( ring of
fire ). Keadaan ini menyebabkan banyak gunung api aktif yang
menyebar di Indonesia. Sehingga kadang kala pergerakan
lempeng ini menyebabkan daerah Indonesia rentan akan
terjadinya bencana di sekitar daerah Indonesia. Bencana siap
datang kapan saja dan tidak dapat dipastikan kapan waktu

1
terjadinya, untuk itu masyarakat di harapkan agar selalu siap
siaga di setiap kegiatan yang mereka laksanakan.
Klasifikasi bencana terbagi menjadi dua jenis yakni
bencana yang disebabkan oleh alam dan bencana yang
disebabkan oleh non alam.Bencana non alam di Indonesia bisa
dikatakan jarang namun bukan berarti tidak pernah
terjadi.Sedangkan bencana alam bisa dikatakan sering terjadi di
beberapa wilayah di Indonesia mulai dari longsor, gempa bumi,
gunung meletus, banjir atau bahkan tsunami.
Kejadian bencana yang disebutkan diatas beberapa
diantaranya adalah bencana akibat geomorfologis dan bencana
kelautan. Namun pada makalah ini akan membahas mengenai
bencana kelautan, yaitu “Potensi Dan Mitigasi Bencana
Laut”.

B. Rumusan Masalah
1. Apa sajakah potensi bencana di laut ?
2. Bagaimanakah mitigasi bencana di laut ?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui potensi bencana di laut
2. Untuk mengetahui mitigasi bencana di laut

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Potensi Bencana Di Laut

Bencana adalah serangkaian peristiwa yang mengancam
dan mengganggu kehidupan manusia yang disebabkan oleh
faktor alam dan manusia sehingga dapat menyebabkan
timbulnya korban jiwa, kerusakan lingkungan, kerugian harta
benda dan dampak psikologis. Dalam konteks bencana, dikenal
dua buah yaitu :

1. bencana alam yang merupakan suatu serangkaian
peristiwa bencana yang diebabkan oleh faktor alam yaitu
berupa gempa, tsunami, gunung melentus, banjir,
kekeringan, angin topan, dan tanah longsor.
2. bencana sosial merupakan suatu bencana yang
diakibatkan oleh manusia seperti konflik sosial, penyakit
masyarakat, dan teror. Secara umum beberapa bencana
alam yang terjadi dan mengancam kehidupan manusia
adalah bencana erosi, aberasi, banjir gelombang pasang,
interusi air laut, longsor, dan kebakaran hutan

Bencana laut adalah bencana alam yang berasal dari laut,
lingkungan normal atau perubahan drastis alam laut, sehingga di

3
zona pesisir terjadi di laut atau serius membahayakan
masyarakat, ekonomi dan peristiwa-peristiwa kehidupan serta
properti.

a. Jenis Jenis Bencana Yang Dapat Terjadi Di Laut
1. Tsunami

Tsunami adalah serangkaian gelombang panjang yang
timbul karena adanya perubahan dasar laut atau
perubahan badan air yang terjadi secara tiba-tiba dan
impulsif, akibat gempa bumi, erupsi gunung api bawah
laut, longsoran bawah laut, ekstrusi gas dari volcanic mud,
runtuhan gunung es, ledakan nuklir, bahkan akibat
terjangan benda-benda angkasa luar ke permukaan laut.

2. Gelombang Badai

Gelombang badai Yaitu Gelombang yang terbentuk oleh
angin yang sangat kuat Dengan Kecepatan angin lebih dari
91 Km/jam, Tinggi gelombang 7 meter – 30 meter,
Berbahaya bagi pelayaran dan pemukiman /bangunan di
pantai serta Dapat menyebabkan abrasi pantai. Contoh :
Badai, typhoon / hurricane, La Nina, El nino

3. Kenaikan Permukaan Laut

Kenaikan permukaan laut adalah suatu peristiwa yang
menimbulkan naiknya permukaan air laut ke pesisir pantai
kerena beberapa faktor.

4. El nina dan La nina

El-Nino adalah fenomena dimana terjadi peningkatan suhu
permukaan laut yang biasanya dingin yang menyebabkan
upwelling dan biasaya kita indikasikasikan dengan

4
kekeringan pada daerah tersebut dan La-Nina adalah
fenomena dimana terjadi pendingginan suhu permukaan
laut akibat menguatnya upwellig dan biasanya kita
indikasikan dengan banjir pada daerah tersebut.

5. Banjir

Banjir adalah debit aliran air sungai yang secara relatif
lebih besar dari biasanya/normalnya akibat hujan yang
turun di hulu atau di suatu tempat tertentu secara terus
menerus, sehingga tidak dapat ditampung oleh alur sungai
yang ada, maka air melimpah keluar dan menggenangi
daerah sekitarnya. Selain air sungai, banjir juga dapat
terjadi karena aliran air yang berasal dari laut karena
adanya bencana badai atau tsunami.

6. Abrasi Pantai

Yaitu Pengikisan (erosi) pantai oleh pukulan gelombang laut
yang terus menerus terhadap dinding pantai. Hingga saat
ini luas areal yang hilang dari Brebes hingga Rembang
mencapai lebih 4.000 (ha). Rata-rata daratan yang
terseret arus laut 5-30 meter per tahun. Abrasi itu
mengakibatkan rusak dan hilangnya hutan bakau
(mangrove), perkebunan rakyat, areal pertambakan, dan
permukiman penduduk yang berada di bibir pantai. (WWF).

B. Mitigasi Bencana Di Laut

5
Bencana atau dalam bahasa sanskerta ztancana, yang
bermakna godaary tipuan, kecelakaan, dan kerusakary sudah
sering diiadikan contoh, dalam kitab-kitab suci. Kisah banjir nabi
Nuh, kisah kekeringan panjang pada zarnannabi yusuf, kisah
gempa bumi pada zaman nabi Luth, adalah sebagian contoh
bahwa manusia hidup diiringi dengan bencana. Bencana dalam
bahasa Inggris adalah disaster, berawal dari bahasa Yunati
ilisastro yang berarti bencana yang disebabkan oleh kedudukan
planet yang tidak menguntungkan. oleh karena itu sebenarnya
manusia telah diberikan pembelajaran mitigasi pada kisah-kisah
itu, dimana nabi Nuh dan pengikutnya selamat dari peristiwa
banjir besar setelah diperintahkan Tuhan membuat kapal besar
karena akan ada banjir besar. Demikian pula kisah-kisah lain
yang merupakan mitigasi bencana seperti kekeringan panjang
hingga tujuh tahury sebagian mereka selamat karena
menyimpan sebagian bulir padi untuk mencukupi pangan pada
musim kemarau sangat panjang. suatu peristiwa bencana terah
ada tanda alam sehingga sebagian dari mereka dapat melakukan
mitigasi bencana. Dengan kata lain dapat dinyatakan bahwa
sebenarnya mitigasi bencana bukan barang baru. Tuhan telah
menurunkan penyakit dengan obatnya, demikian pula Tuhan
terah menurunkan bencana dengan mitigasinya. Mitigasi
merupakan istilah berasal dari bahasa Latin mitigationem (kata
benda) yang berasal dari kata ke\a mitigare. Mitigare berasal dari
gabungan kata mitis yang bermakna rembut, 1unak, dan jinak,
serta kata agare yang bermakna melakukan atau membuat.
Jeraslah maknanya mitigasi adalah usaha membuat jinak sesuatu
yang riar. Daram har ini, bencana dianggap sesuatu yang liar,
dimana wilayah dan waktunya sulit diprediksi.

a. Jenis-jenis Mitigasi bencana di laut

6
1. Tsunami

Indonesia terletak pada zona batas empat lempeng
bumi yang sangat aktif sehingga memiliki aktivitas
tektonik dan vulkanik yang sangat tinggi, oleh karena itu
Indonesia mempunyai banyak zona-zona patahan aktif
dan sebaran gunung api. Sebagian patahan dan gunung
api berada di bawah laut sehingga kejadian gempa dan
letusan gunung apinya berpotensi membangkitkan
tsunami. Selain dua sumber utama tsunami ini, peristiwa
longsoran bawah laut yang sering dipicu oleh kejadian
gempa dan letusan gunung api juga dapat menimbulkan
tsunami.

Tsunami adalah serangkaian gelombang panjang
yang timbul karena adanya perubahan dasar laut atau
perubahan badan air yang terjadi secara tiba-tiba dan
impulsif, akibat gempa bumi, erupsi gunung api bawah
laut, longsoran bawah laut, ekstrusi gas dari volcanic
mud, runtuhan gunung es, ledakan nuklir, bahkan akibat
terjangan benda-benda angkasa luar ke permukaan laut.
Kecepatan tsunami bergantung pada kedalaman perairan,
akibatnya gelombang tersebut mengalami percepatan
atau perlambatan sesuai dengan bertambah atau
berkurangnya kedalaman perairan. Dengan proses ini
arah pergerakan arah gelombang juga berubah dan energi
gelombang bisa menjadi terfokus atau juga menyebar. Di
perairan dalam, tsunami mampu bergerak dengan
kecepatan 500 sampai 1000 kilometer per jam.
Sedangkan di perairan dangkal, kecepatannya melambat
hingga beberapa puluh kilometer per jam, demikian juga
ketinggian tsunami juga bergantung pada kedalaman

7
perairan. Amplitudo tsunami yang hanya memiliki
ketinggian satu meter di perairan dalam bisa meninggi
hingga puluhan meter di garis pantai.

Berdasarkan sumber dan jarak pembangkitannya
tsunami dapat dibagi menjadi tsunami jarak jauh (far-field
tsunami) yang posisi sumbernya berjarak lebih dari 1000
km dan melewati pinggiran paparan benua, tsunami
regional (regional tsunami) dengan sumber berjarak
antara 100 km sampai dengan 1000 km dan tsunami lokal
(near field tsunami) yang dibangkitkan di dalam paparan
benua dengan jarak sumber kurang dari 100 km.. Bahaya
tsunami dan kerusakan yang ditimbulkan tergantung pada
kondisi morfologi pantai yang didatanginya. Elevasi
maksimum rayapan bergantung pada paras muka laut
(pasut) saat waktu tsunami mencapai pantai, tsunami
kecil yang terjadi pada saat pasang tinggi dapat
menjangkau elevasi yang lebih tinggi dibandingkan
dengan tsunami yang lebih besar yang tiba pada saat
surut terendah. Kondisi pasut sangat penting untuk dikaji
dan dipertimbangkan dalam menganalisis tinggi
jangkauan rayapan tsunami di suatu daerah.

Kerusakan dan kehancuran karena tsunami
merupakan hasil langsung dari terjangan gelombang dan
arus tsunami, sementara korban jiwa muncul karena
tenggelam dalam golakan tsunami. Arus kuat juga
menyebabkan terjadinya erosi pada kaki pondasi dan
rubuhnya jembatan, menyeret rumah dan membalikkan
kendaraan. Kerusakan yang cukup parah juga disebabkan
oleh puing-puing bangunan yang mengapung termasuk
kapal, mobil dan pepohonan yang dapat menjadi benda-

8
benda berbahaya ketika menghantam gedung, dermaga
dan kendaraan. Kerusakan ikutan lainnya berupa kobaran
api yang berasal dari tumpahan minyak atau ledakan dari
kapal yang hancur di pelabuhan, pecahnya tempat
penyimpanan minyak di pantai dapat menimbulkan
kerusakan yang terkadang lebih parah daripada dampak
langsung gelombang tsunami. Bahaya ikutan lainnya
dapat disebabkan oleh polusi kotoran dan bahan kimia
yang terangkut oleh tsunami dan mencemari sumber air
bersih.

Mitigasi bencana didefinisikan secara umum bahwa
segala upaya yang dilakukan untuk mengurangi dampak
yang ditimbulkan oleh suatu bencana, baik sebelum, saat
atau setelah terjadinya suatu bencana. Untuk
menghindari bencana tsunami perlu upaya untuk tidak
mempertemukan unsur bahaya dan kerentanan dengan
cara: (i) Menjauhkan kerentanan terhadap bahaya,
misalnya memindahkan penduduk ke tempat yang aman
dari bahaya; (ii) Mereduksi bahaya sampai sekecil
mungkin, sehingga bahaya tidak menerjang suatu
kerentanan, misalnya pembangunan tembok penahan
tsunami. Kedua opsi ini terkadang sangat sulit untuk
dilakukan karena menimbulkan permasalahan sosial serta
memerlukan biaya tinggi; kemudian (iii) Mereduksi bahaya
serta menaikan kapasitas dari suatu kerentanan dengan
cara adaptif atau akomodatif menggunakan menejemen
risiko bencana.

Penerapan menajemen risiko bencana ini perlu
dilakukan secara sistimatis melalui kebijakan
administratif, organisasi, kemampuan dalam operasional,

9
strategi dan implementasi serta kemampuan masyarakat
untuk menghadapi bencana sehingga dapat mengurangi
dampak bahaya yang ditimbulkannya. Menejemen risiko
bencana ini mengkaji seluruh aktivitas baik dalam
penanganan struktural (structural measures) maupun
non-struktural (nonstructural measures) untuk
menghindarkan (preventif) atau untuk mengurangi
(mitigasi dan preparedness) efek yang ditimbulkan oleh
bahaya tsunami. Penanganan struktural untuk tsunami
meliputi sistem perlindungan pantai dengan membangun
tembok penahan ombak berupa breakwater, seawall, dan
pintu air yang dikenal sebagai hard protection, dan
perlindungan dengan menggunakan vegetasi pantai
(mangrove dan coastal forest), sand dune dan terumbu
karang atau dikenal sebagi soft protection. Selanjutnya
untuk penanganan non-struktural meliputi: undang-
undang dan peraturan pemerinatah; penegakan hukum;
organisasi pemerintah dan non pemerintah yang terkait
dengan penanganan bencana (PMI, ambulans dan tenaga
medis, pemadam kebakaran, Karang Taruna dan lain lain);
penyediaan peta bahaya dan risiko tsunami, serta peta
jalur evakuasi; konsep penataan ruang yang akrab
bencana tsunami, sistem peringatan dini (TEWS),
pendidikan masyarakat, serta penyiapan fasilitas-fasilitas
penyangga hidup (life line).

Dengan uraian dan penjelasan tentang tingginya
frekuensi tsunami menerjang pesisir Indonesia serta
besarnya kerugian yang ditimbulkan baik jiwa manusia
maupun harta benda, serta tata cara kajian risiko dan
mitigasinya, maka diharapkan kepada pemerintah pusat,

10
pemerintah daerah, kalangan industri dan masyarakat
umum, secara sistimatis, komprehensif, terarah dan lebih
terpadu dapat:

a. Meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko bahaya
tsunami di tingkat masyarakat dan serta
memperkenalkan tindakan lokal yang perlu diambil
untuk mengurangi risiko yang ditimbulkannya.
b. Merangsang kewaspadaan para perencana baik di
tingkat nasional dan maupun lokal untuk
mengimplementasikan perencanaan pembangunan
nasional yang akrab bencana tsunami, khususnya di
daerah-daearah rawan bencana tsunami.
c. Membantu politisi, pemerintah, serta penentu
kebijakan untuk memahami sifat dari jenis risiko
yang dihadapi oleh komunitas serta membantu
memahami dampak yang ditimbulkannya.
d. Mendemonstrasikan cara dan arti dalam mengurangi
risiko-risiko tersebut, pada lingkup nasional dan lokal,
melalui keputusan serta perencanaan yang tepat.

2. Gelombang Badai

gelombang badai terjadi menyusul terjadinya badai
atau tiupan angn yang sangat kencang di lautan
(fenomena meteorologi), tinggi gelombangnya dapat
mencapai belasan meter di daerah dekat sumber angin,
dan gelombang terus berlangsung selama angin bertiup
dan reda bersama dengan redanya tiupan angin.
Berkaitan dengan mekanisme pencetusannya, fenomena

11
gelombang badai ini hanya terjadi pada waktu-waktu
tertentu yang berkaitan dengan musim angin tertentu,
dan hanya akan melanda lokasi-lokasi tertentu pula.

Fenomena gelombang badai muncul berkaitan
dengan fenomena meteorologi berupa tiupan angin yang
kemungkinan waktu terjadinya relatif teratur sepanjang
tahun sesuai dengan perubahan musim. Dengan
demikian, prediksi atau peringatan dini akan terjadinya
gelombang badai lebih mudah dilakukan dari pada
prediksi atau peringatan dini tsunami.

Mengenai sifat merusak dari gelombang badai ini,
kemampuan merusak dari gelombang badai memang
kecil bila dibandingkan dengan tsunami seperti yang
melanda Propinsi Nagroe Aceh Darussalam pada 26
Desember 2004. Meskipun demikian, untuk kondisi
tertentu di suatu tempat tertentu, gelombang badi bisa
cukup kuat, seperti yang terjadi pada 11 Juni 2007 di
Pantai Nobbys, Newcastle, Australia. Gelombang badai
yang terjadi di kawasan pesisir itu mampu
mengkandaskan kapal yang memuat batubara seberat
30.000 ton ke pantai

3. Kenaikan Permukaan Laut

Meningkatnya emisi gas-gas rumah kaca seperti
karbondioksida (CO2), metana (CH4), dinitrooksida (N2O)
dan chlorofluorokarbon (CFC) ke atmosmer bumi telah
menimbulkan efek rumah kaca (green house effect) yang
menyebabkan terperangkapnya radiasi matahari yang
dipantulkan oleh permukaan bumi di dalam atmosfer,
mengakibatkan temperatur permukaan bumi dan

12
atmosfer terus bertambah sampai mencapai
keseimbangan baru. Jumlah panas yang masuk dan keluar
atmosfer tidak berubah, tetapi jumlah panas yang
tersimpan di bumi dan atmosfer semakin meningkat
sehingga menaikkan temperatur permukaan bumi dan
atmosfer. Temperatur rata-rata permukaan Bumi adalah
sekitar 15 °C. Selama seratus tahun terakhir, temperatur
rata-rata ini telah meningkat sebesar 0,6 °C. IPCC (2001)
memperkirakan pemanasan global dapat menaikkan
temperatur pemukaan bumi hingga 1,4 – 5,8 °C pada
tahun 2100. Kenaikan temperatur ini akan mengakibatkan
mencairnya es di kutub dan menghangatkan lautan, yang
mengakibatkan meningkatnya volume lautan yang pada
tahun 2100 diperkirakan akan menaikkan permukaan laut
dunia sekitar 9 – 88 cm. IPCC (2007) menyatakan sejak
tahun 1961 sampai dengan 1993 permukaan laut dunia
telah mengalami kenaikan dengan laju rata-rata 1,8
mm/tahun (1,3 – 2,3 mm/tahun). Sejak tahun 1993 sampai
dengan 2003 kenaikan permuka laut rata-rata 3,1
mm/tahun (2,4 – 3,8 mm/tahun). Berdasarkan penelitian
yang dilakukan WWF, di Indonesia telah terjadi
peningkatan suhu 0,3 °C sejak tahun 1990 dan skenario
perubahan iklim yang dilakukan WWF Indonesia dan IPCC
(1999) melaporkan bahwa suhu di Indonesia akan
mengalami kenaikan sebesar 1,3 °C sampai 4,6 °C pada
tahun 2100 dengan laju kenaikan 0,1 °C sampai 0,4 °C
yang akan meningkatkan kenaikan permukaan laut di
Indonesia sebesar 20 – 100 cm dalam 100 tahun.

Pemanasan global diperkirakan memberikan
pengaruh yang signifikan pada kenaikan muka air laut di

13
abad ke-20 ini. Dampak fisis akibat kenaikan permukaan
laut antara lain meningkatnya frekuensi dan intensitas
banjir karena efek pembendungan oleh adanya kenaikan
permukaan laut. Pembendungan ini mengakibatkan
kecepatan aliran sungai di muara semakin berkurang dan
laju sedimentasi di muara akan bertambah yang akan
mengakibatkan pendangkalan di muara. Pendangkalan
muara dan naiknya permukaan laut akan meningkatkan
frekuensi dan intensitas banjir di daerah di sekitar muara
sungai. Naiknya permukaan laut akan mengakibatkan
mundurnya garis pantai akibat tergenangnya wilayah
pesisir yang landai, hilangnya daerah rawa dan
meningkatnya erosi pantai. Erosi wilayah pesisir akan
diperbesar karena gelombang dapat masuk jauh ke arah
darat akibat naiknya permukaan laut. Kenaikan
permukaan laut bahkan dapat menenggelamkan pulau-
pulau kecil. Intrusi air laut ke darat juga merupakan
masalah serius bagi daerah pesisir. Adanya pemanfaatan
air tanah yang tidak memperhitungkan keseimbangan
mengakibatkan turunnya permukaan air tanah yang akan
memudahkan terjadinya intrusi air laut kedalam air tanah.
Kenaikan permukaan laut juga mengakibatkan volume air
laut yang mendesak masuk ke dalam sungai akan
semakin besar. Air laut yang mendesak masuk jauh ke
darat melalui sungai ini merupakan masalah bagi wilayah
pesisir yang menggantungkan air bakunya dari sungai.
Terjadinya kenaikan paras muka laut juga berdampak
terhadap keamanan bangunan pantai yang ada. Kenaikan
paras muka laut meningkatkan tinggi gelombang dan
akan memperbesar frekuensi overtopping bangunan

14
pantai sehingga tingkat keamanan bangunan pantai
menjadi berkurang. Kenaikan permukaan laut juga
berdampak pada ekosistem pantai akibat kenaikan
salinitasr air laut. Kenaikan salinitas air laut yang terjadi
akibat kenaikan permukaan laut akan mengakibatkan
mangrove bermigrasi ke arah darat ke daerah yang
kurang asin. Spesies yang tidak tahan akan salinitas yang
tinggi akan mati. Untuk mengurangi dampak yang
ditimbulkan oleh bencana alam termasuk naiknya
permukaan laut perlu dilakukan upaya mitigasi. Mitigasi
dapat dilakukan baik secara fisik (struktural) maupun
secara non-fisik (nonstruktural). Pendekatan fisik
dilakukan melalui upaya teknis, baik buatan maupun
alami, sedangkan pendekatan non-fisik menyangkut
penyesuaian dan pengaturan kegiatan manusia agar
sejalan dan sesuai dengan upaya mitigasi baik fisik
maupun upaya lainnya.

Dalam usaha untuk memperkecil dampak dari
kenaikan permukaan laut terdapat tiga strategi adaptif
yaitu: retreat (mundur), accomodation (akomodasi) dan
protection (proteksi). Strategi mundur adalah
meninggalkan daerah yang rentan genangan akibat
kenaikan permukaan laut dan melakukan kembali
penataan ruang, strategi akomodasi adalah melakukan
adaptasi terhadap perubahan lingkungan akibat genangan
misalnya dengan membuat rumah panggung,
memodifikasi drainase dan lain lain, sementara strategi
proteksi adalah tindakan defensif untuk melindungi
daerah pesisir terhadap rendaman, intrusi air laut dan
hilangnya sumber daya alam akibat naiknya permukaan

15
air laut. Strategi proteksi dilakukan dengan membangun
tanggul (dikes) atau dinding pelindung pantai (seawall)

Kenaikan permukaan laut tidak hanya diakibatkan
oleh pemanasan global tetapi juga oleh faktor-faktor lain
seperti pasang surut, turunnya permukaan tanah (land
subsidence), gelombang badai (storm surge) atau
gelombang badai pasang (storm tide), La Nina, dan
tsunami. Upaya mitigasi bencana akibat kenaikan
permukaan laut yang disebabkan oleh faktor-faktor diatas
perlu dilakukan oleh Pemerintah Daerah setiap provinsi
dengan cara menyiapkan peta kerentanan dan peta risiko
rendaman akibat kenaikan permukaan laut.

4. El-Nino dan La-Nina

El-Nino, menurut sejarahnya adalah sebuah
fenomena yang teramati oleh para penduduk atau
nelayan Peru dan Ekuador yang tinggal di pantai sekitar
Samudera Pasifik bagian timur menjelang hari natal
(Desember). Fenomena yang teramati adalah
meningkatnya suhu permukaan laut yang biasanya dingin.
Fenomena ini mengakibatkan perairan yang tadinya subur
dan kaya akan ikan (akibat adanya upwelling atau arus
naik permukaan yang membawa banyak nutrien dari
dasar) menjadi sebaliknya.. Di kemudian hari para ahli
juga menemukan bahwa selain fenomena menghangatnya
suhu permukaan laut, terjadi pula fenomena sebaliknya
yaitu mendinginnya suhu permukaan laut akibat
menguatnya upwelling. Kebalikan dari fenomena ini
selanjutnya diberi nama La-Nina.

16
Fenomena ini memiliki periode 2-7 tahun. Jadi
berdasarkan hal diatas dapat kita memberi pengertian
bahwa yang dimaksud dengan El-Nino adalah fenomena
dimana terjadi peningkatan suhu permukaan laut yang
biasanya dingin yang menyebabkan upwelling dan
biasaya kita indikasikasikan dengan kekeringan pada
daerah tersebut dan La-Nina adalah fenomena
dimanaterjadi pendingginan suhu permukaan laut akibat
menguatnya upwellig dan biasanya kita indikasikan
dengan banjir pada daerah tersebut.

Proses kejadian El Nino dan La Nina

Ketika Peru mengalami musim panas, arus laut
dingin Humbolt tergantikan oleh arus laut panas. Kuatnya
penyinaran oleh sinar matahari pada perairan di Pasifik
Tengah dan Timur menyebabkan meningkatnya suhu dan
kelembapan udara pada atmosfer sehingga tekanan udara
di Pasifik Tengah dan Timur menjadi rendah. Hal ini diikuti
oleh kemunculan awan-awan konvektif, atau awan yang
terbentuk oleh penyinaran matahari yang kuat.

Di sisi lain, di bagian Pasifik Barat awan sulit
terbentuk. Daerah Pasifik Barat contohnya adalah
Indonesia, yang pada dasarnya cuacanya dipengaruhi
oleh angin muson, angin pasat, dan angin lokal walaupun
sebenarnya pengaruh angin muson yang lebih kuat
berasal dari daratan Asia. Oleh karena sifat udara adalah
bergerak dari tekanan udara tinggi ke tekanan udara
rendah, udara dari Pasifik Barat akan bergerak ke Pasifik
Tengah dan Timur. Hal ini menyebabkan awan konvektif di
atas Indonesia bergeser ke Pasifik tengah dan Timur.

17
Pada La Nina, atau kebalikan dari El Nino, fenomena
tersebut terjadi saat permukaan laut di Pasifik Tengah dan
Timur suhunya lebih rendah dari biasanya pada waktu-
waktu tertentu. Kemudian, tekanan udara di kawasan
Pasifik Barat jadi menurun yang memungkinkan
terbentuknya awan. Sebagai akibatnya, tekanan udara di
Pasifik Tengah dan Timur menjadi tinggi sehingga proses
pembentukan awan terhambat.

Sementara itu, di bagian Pasifik Barat, misalnya di
Indonesia, tekanan udara menjadi rendah sehingga
mudah terbentuk awan cumulus nimbus. Awan ini
menimbulkan turunnya hujan lebat yang disertai petir.
Seperti yang disebutkan sebelumnya, sifat udara yang
bergerak dari tekanan udara tinggi ke tekanan udara
rendah menyebabkan udara dari Pasifik Tengah dan Timur
bergerak ke Pasifik Barat. Hal ini menyebabkan awan
konvektif di atas Pasifik Tengah dan Timur bergeser ke
Pasifik Barat.

Dampak El Nino dan La Nina di Indonesia

Dampak yang paling nyata dari fenomena El Nino
adalah kekeringan di Indonesia yang menyebabkan
langkanya air di sejumlah daerah dan kemudian berakibat
pada penurunan produksi pertanian karena tertundanya
masa tanam. Selain itu, meluasnya kebakaran hutan yang
terjadi di beberapa wilayah di Kalimantan dan Sumatera
juga diindikasikan sebagai salah satu dampak dari
fenomena El Nino tersebut. Untuk La Nina, dampak yang
paling terasa adalah hujan deras yang juga menyebabkan
gagal panen pada pertanian karena sawah tergenang.

18
Ada juga keuntungan dari El Nino, yaitu bergerak
masuknya ikan tuna yang berada di Samudera Hindia ke
selatan Indonesia. Hal itu terjadi karena perairan di timur
samudera mendingin, sedangkan yang berada di barat
Sumatera dan selatan Jawa menghangat. Akibat proses
ini, Indonesia mendapat banyak ikan tuna, sebuah berkah
yang perlu dimanfaatkan.

Cara Penanggulangan atau mitigasi El-Nino dan La-Nina

Seperti yang kita ketahui bahwa El-Nino bukan
gejala yang disebabkan oleh ulah manusia El-Nino adalah
peristiwa alam. Oleh sebab itu El-Nino tidak bisa dicegah
maupun dihentikan, maka kita hanya bisa mencoba
mengurangi dampak yang dihasilkan oleh El-Nino. Oleh
sebab itu, tindakan yang dapat dilakukan untuk
beradaptasi dengan El-Nino adalah dengan memberikan
pendidikan dan pelatihan kepada masyarakat dari jauh-
jauh hari. Selain itu pemerintah juga harus
mempersiapkan segala upaya untuk mencegah besarnya
akibat yang dihasilkan oleh El-Nino, seperti membuat
gerakan hemat air karena El-Nino bisa membuat kemarau
yang berkepanjangan, mengatur tata penggunaan air,
irigasi, termasuk ketersediaan air di waduk-waduk, dll.El-
Nino juga bisa mengancam kehidupan nelayan tradisional
di Indonesia. Menurut yang saya baca dari beberapa situs
internet mengatakan bahwa para nelayan hanya bisa
pasrah dan menunggu El-Nino berlalu karena mereka
tidak mempunyai alat yang memadai untuk menangkap
ikan.

19
Untuk menggulangi La-Nina hal yang harus dilakukan
adalah pembuatan waduk, restorasi / reboisasi hutan yang
gundul untuk memperluas resapan air, dan penertiban
pembuangan sampah di daerah sungai

5. Banjir

Banjir adalah debit aliran air sungai yang secara
relatif lebih besar dari biasanya/normal akibat hujan yang
turun di hulu atau di suatu tempat tertentu secara terus
menerus, sehingga tidak dapat ditampung oleh alur
sungai yang ada, maka air melimpah keluar dan
menggenangi daerah sekitarnya. Selain air sungai banjir
juga dapat terjadi karena aliran air yang berasal dari laut
karena adanya bencana badai atau tsunami.

Teknik pengendalian banjir harus dilakukan secara
komprehensip pada daerah yang rawan terkena banjir dan
daerah pemasok air banjir. Prinsip dasar pengendalian
daerah kebanjiran secara teknis dilakukan dengan
meningkatkan dimensi palung sungai sehingga aliran air
yang lewat tidak melimpah keluar dari palung sungai,
manajemen yang bisa dilakukan adalah dengan membuat
tanggul sungai yang memadai serta membuat waduk atau
tandon air untuk mengurangi banjir puncak. Untuk
memenuhi kapasitas tampung palung sungai, upaya lain
yang bisa dilakukan seperti menambah saluran
pembuangan air dengan saluran sudetan (banjir kanal
atau floodway). Disamping itu, pengetatan larangan
penggunaan lahan di bantaran sungai untuk bangunan,
apalagi di badan sungai juga diperlukan, serta larangan
pembuangan sampah ke sungai atau saluran drainase.

20
Berdasarkan KepPres No. 32/1990 dan PP No. 47/1997,
sempadan sungai yang harus merupakan kawasan
lindung adalah lebar minimum dari bibir kiri-kanan sungai
ke arah darat yang berada : di luar pemukiman : 100 m,
anak sungai : 50 m, daerah pemukiman : 10 – 15 m,
bertanggul (dari tepi luar tanggul) : 5 m

Teknik pengendalian banjir di daerah kebanjiran
umumnya dilakukan oleh Departemen Pekerjaan Umum
beserta institusi vertikalnya. Sedangkan teknik
pengendalian banjir di daerah tangkapan air bertumpu
pada prinsip penurunan koefisien limpasan melalui teknik
konservasi tanah dan air, yakni : (1) upaya meningkatkan
resapan air hujan yang masuk ke dalam tanah, (2) dan
mengendalikan limpasan air permukaan pada pola aliran
yang aman. Bentuk teknik yang diaplikasikan dapat
berupa teknik sipil, vegetatif, kimiawi, maupun kombinasi
dari ketiganya, sesuai dengan jenis penggunaan lahan
dan karakteristik tapak (site) setempat. Semua upaya
tersebut sangat terkait dengan kemampuan tanah/lahan
dalam mengendalikan air hujan untuk bisa masuk ke
dalam bumi, termasuk vegetasi/hutan yang ada di
atasnya. Jenis tanaman hutan yang sama dimana yang
satu tumbuh di atas lapisan tanah tebal dan satunya lagi
di atas lapisan tanah tipis, akan memiliki dampak yang
berbeda dalam mengendalikan limpasan air permukaan
atau banjir.

Secara lebih rinci upaya pengurangan bencana banjir
antara lain:

21
a. Pengawasan penggunaan lahan dan perencanaan
lokasi untuk menempatkan fasilitas vital yang rentan
terhadap banjir pada daerah yang aman.
b. Penyesuaian desain bangunan di daerah banjir harus
tahan terhadap banjir dan dibuat bertingkat.
c. Pembangunan infrastruktur harus kedap air.
d. Pembangunan tembok penahan dan tanggul di
sepanjang sungai, tembok laut sepanjang pantai yang
rawan badai atau tsunami akan sangat membantu
untuk mengurangi bencana banjir.
e. Pengaturan kecepatan aliran air permukaan dan
daerah hulu sangat membantu mengurangi terjadinya
bencana banjir. Beberapa upa ya yang perlu dilakukan
untuk mengatur kecepatan air masuk kedalam sistem
pengaliran diantaranya adalah dengan pembangunan
bendungan/ waduk, reboisasi dan pembangunan
sistem peresapan.
f. Pengerukan sungai, pembuatan sudetan sungai baik
secara saluran terbuka maupun dengan pipa atau
terowongan dapat membantu mengurangi resiko
banjir.
g. Pembuatan tembok penahan dan tembok pemecah
ombak untuk mengurangi energi ombak jika terjadi
badai atau tsunami untuk daerah pantai.
h. Memperhatikan karakteristik geografi pantai dan
bangunan pemecah gelombang untuk daerah teluk.
i. Pembersihan sedimen.
j. Pembangunan pembuatan saluran drainase.
k. Peningkatan kewaspadaan di daerah dataran banjir.
l. Desain bangunan rumah tahan banjir (material tahan
air, fondasi kuat).
m. Pelatihan pertanian yang sesuai dengan kondisi
daerah banjir.
n. Meningkatkan kewaspadaan terhadap penggundulan
hutan.

22
o. Pelatihan tentang kewaspadaan banjir seperti cara
penyimpanan/pergudangan perbekalan, tempat
istirahat/ tidur di tempat yang aman (daerah yang
tinggi).
p. Persiapan evakuasi bencana banjir seperti perahu dan
alat - alat penyelamatan lainnya

6. Abrasi pantai

Secara detail penyebab abrasi pantai dapat diuraikan
sebagai berikut:

a. Penurunan Permukaan Tanah. (Land Subsidence)

Pemompaan Air tanah yang berlebihan untuk
keperluan industri dan air minum di wilayah pesisir
akan menyebabkan penurunan tanah terutama jika
komposisi tanah pantai sebagian besar terdiri dari
lempung/lumpur karena sifat-sifat fisik lumpur /lepung
yang mudah berubah akibat perubahan kadar air.
Akibat penurunan air tanah adalah berkurangnya
tekanan air pori. Hal ini mengakibatkan penggenangan
dan pada gilirannya meningkatkan erosi dan abrasi
pantai. Hal ini menunjukkan bahwa potensi penurunan
tanah cukup besar dan memberikan kontribusi
terhadap genangan (rob) pada saat air laut pasang.

b. Kerusakan Hutan Mangrove

Hutan Mangrove merupakan sumberdaya yang dapat
pulih (sustaianable resources) dan pembentuk
ekosistem utama pendukung kehidupan yang penting
di wilayah pesisir. Mangrove memiliki peran penting
sebagai pelindung alami pantai karena memiliki

23
perakaran yang kokoh sehingga dapat meredam
gelombang dan menahan sedimen. Ini artinya dapat
bertindak sebagai pembentuk lahan (land cruiser).
Sayangnya keberadaan hutan mangrove ini sekarang
sudah semakin punah karena keberadaan manusia
yang memanfaatkan kayunya sebagai bahan bakar
dan bahan bangunan.

c. Kerusakan akibat gaya-gaya hidrodinamika gelombang

Orientasi pantai yang relatif tegak lurus atau sejajar
dengan puncak gelombang dominan. Hal ini
memberikan informasi bahwa pantai dalam kondisi
seimbang dinamik. Kondisi gelombang yang semula
lurus akan membelok akibat proses refrksi/difraksi dan
shoaling. Pantai akan menanggai dengan
mengorientasikan dirinya sedemikian rupa sehingga
tegak lurus arah gelombang atau dengan kata lain
terjadi erosi dan deposisi sedimen sampai terjadi
keseimbangan dan proses selanjutnya yang terjadi
hanya angkutan tegak lurus pantai (cros shore
transport)

d. Kerusakan akibat sebab alam lain

Perubahan iklim global dan kejadian ekstrim misal
terjadi siklon tropis. Faktor lain adalah kenaikan
permukaan air laut akibat pemanasan global (efek
rumah kaca) yang mengakibatkan kenaikan tinggi
gelombang

e. Kerusakan akibat kegiatan manusia yang lain
• Penambangan Pasir di perairan pantai
• Pembuatan Bangunan yang menjorok ke arah laut

24
• Pembukaan tambak yang tidak memperhitungkan
keadaan kondisi dan lokasi

Untuk menanggulangi atau mencegah terjadinya
abrasi pantai yaitu :

1) Pelestarian terumbu karang
Terumbu karang juga dapat berfungsi
mengurangi kekuatan gelombang yang sampai ke
pantai. oleh karena itu perlu pelestarian terumbu
karang dengan membuat peraturan untuk
melindungi habitatnya. ekosistem terumbu karang,
padang lamun, mangrove dan vegetasi pantai
lainnya merupakan pertahanan alami yang efektif
mereduksi kecepatan dan energi gelombang laut
sehingga dapat mencegah terjadinya abrasi pantai.
jika abrasi pantai terjadi pada pulau-pulau kecil
yang berada di laut terbuka, maka proses
penenggelaman pulau akan berlangsung lebih
cepat.

2) Melestarikan tanaman bakau/mangrove
Fungsi dari tanaman bakau yaitu untuk
memecah gelombang yang menerjang pantai dan
memperkokoh daratan pantai, selain untuk
mempertahnakan pantai, mangrove juga berfungsi
sebagai tempat berkembangbiakan ikan dan
kepiting.

3) Melarang penggalian pasir pantai
Pasir pantai yang terus menerus diambil akan
mengurangi kekuatan pantai.

25
4) Sedangkan pada pantai yang telah atau akan
mengalami abrasi, akan dibuatkan pemecah
ombak atau talud untuk mengurangi dampak dari
terjangan ombak, tindakan ini sering juga disebut
tindakan pencegahan secara teknis.
upaya untuk meminimalisir resiko abrasi. Upaya
tersebut dapat dilakukan dengan memperkecil
hazard dan vulnerability atau dengan
meningkatkan capacity daerah pesisir. Hazard dari
resiko abrasi sangat susah untuk diperkecil,
sementara vulnerability juga tidak mudah
diterapkan di Indonesia. Memperkecil nilai
vulnerability ini dilakukan dengan membatasi atau
melarang komunitas untuk beraktivitas dan tinggal
di pesisir. Hal tersebut sangat susah dilakukan
karena akan menimbulkan berbagai macam
masalah terutama konflik sosial. Memperbesar nilai
capacity merupakan solusi yang paling realistis
untuk mengurangi resiko abrasi di pesisir.

Peningkatan capacity daerah pesisir untuk
mengurangi resiko abrasi harus dilakukan secara
komprehensif dan terdapat konsesi yang kuat
antara semua pihak yang berkepentingan. Tanpa
adanya itu, peningkatan capacity tidak dapat
dilakukan dengan baik. Cara peningkatan capacity
ini dapat dilakukan dengan adaptasi, mitigasi, dan
inovasi sehingga tercipta daerah pesisir yang
tangguh. Dari ketiga cara tersebut, mitigasi
merupakan upaya yang dapat kita kembangkan
dan terapkan rekayasanya.

26
Mitigasi abrasi di daerah pesisir ini akan dapat
meningkatkan capacity dan mengurangi resiko
abrasi sehingga akan tercipta daerah pesisir yang
tangguh. Beberapa mitigasi yang dapat dilakukan
antara lain membuat pemecah gelombang dan
tanggul di sepanjang pantai, membuat hutan
bakau, membuat rencana tata ruang detail untuk
daerah pesisir dan beberapa cara lain.

Membuat rencana detail tata ruang daerah
pesisir sangat penting untuk mengatur
penggunaan lahan, pengelolaan potensi masalah di
daerah pesisir dan mengarahkan pembangunan
daerah pesisir. Rencana detail tata ruang ini
digunakan untuk membuat zoning kawasan lindung
dan budidaya. Setiap persil seharusnya ditentukan
guna lahan, KDB, KLB, jumlah lantai agar
pembangunan daerah pesisir dapat terarah.

Dalam rencana detail ini juga berisi di mana
akan dibangun pemecah gelombang dan tanggul
karena pemecah gelombang ini dapat
menghambat perjalanan ombak ke pantai. Ombak
akan terpecah saat melewati pemecah gelombang
sehingga ombak yang mencapai bibir pantai
memiliki kekuatan yang lebih kecil. Selain pemecah
gelombang pembangunan tanggul di sepanjang
pantai juga akan mengurangi resiko abrasi. Tanggul
dapat menahan air laut sehingga air laut tidak
dapat masuk ke pemukiman penduduk dan
memperkuat daya tahan pinggir pantai. Selain itu
dalam rencana detail tata ruang hutan bakau

27
seharusnya menjadi kewajiban untuk semua
daerah pesisir di Indonesia. Tanaman bakau dapat
mengurangi resiko abrasi dan dapat mengurangi
resiko intrusi air laut. Dalam rencana detail
dirumuskan pembangunan fisik dan pembangunan
sosial ekonominya. Bagaimana pembangunan
sosial ekonomi penduduk pesisir akan menetukan
keberhasilan pembangunan fisik daerah pesisir
tersebut. Pembangunan sosial selain bertujuan
membuat keadaan sosial yang lebih manusiawi
juga dibutuhkan agar penduduk pesisir dapat
mengelola upaya mitigasi terhadap abrasi.

BAB IV
PENUTUP

28
A. Kesimpulan

Indonesia merupakan negara kepulauan sekaligus
termasuk negara meritim yang memiliki potensi sumberdaya laut
yang berlimpah. Akan tetapi di balik kekayaan potensi sumber
daya laut tersebut indonesia mengalami kondisi rawan bencana
kelautan karena terletak diantara dua benua dan dua samudra
yang memungkinkan bencana datang secara tiba-tiba. Bencana
kelautan yang terjadi dapat berupa tsunami, gelombang badai,
naiknya permukaan laut, el nino dan la nina, banjir dan abrasi
pantai. Ketika bencana ini terjadi tidak dipungkiri akan
merenggut banyak korban jiwa maupun kerugian materi.
Olehnya itu perlu adanya pengetahuan tentang mitigasi bencana
khususnya bencana kelautan, sehingga dapat melakukan
tindakan yang tepat sebelum terjadi bencana, saat terjadi
bencana dan setelah terjadi bencana.

B. Saran

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini
masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, Kami sangat
mengaharapkan kritik dan saran dari dosen dan mahasiswa
untuk perbaikan makalah ini. Dan semoga makalah ini
bermanfaat untuk mengetahui daln menambah wawasan yang
lebih luas untuk kearah yan lebih baik.

29
DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2009. Mengelola Resiko Bencana Di Negara Maritim
Indonesia. Institut Teknologi Bandung. Bandung.

Bakornas PB, 2002. Pengenalan Karakteristik Bencana Dan
Upaya Mitigasinya Di
Indonesia. Badan Kordinasi Nasional Penanggulangan
Bencana (BAKORNAS PB). Jakarta.

http://www.softilmu.com/2013/07/pengertian-laut-dan-klasifikasi-
laut.html (Diakses pada tanggal 28 mei 2016).

30

Related Interests