BAB I

DATA PASIEN

A. Identitas

Nama : An. M

Jenis Kelamin : Perempuan

Umur : 6 tahun

Alamat : Kemuning Mojokerto

Agama : Islam

Status Perkawinan : Belum kawin

Pendidikan Terakhir :

Pekerjaan : Pelajar

Suku Bangsa : Jawa

Tanggal Pemeriksaan : 13 Desember 2016

B. Anamnesis

Keluhan Utama :

 Rambut kepala rontok

Riwayat Penyakit Sekarang :

Riwayat Penyakit Dahulu :

 Sebelumnya pasien tidak pernah sakit seperti ini

 Riwayat Atopi (-)

1

Riwayat Penyakit Keluarga :

 Tidak ada riwayat keluarga yang sakit sesak napas dengan mengi, bersin-bersin di

pagi hari, dan kelainan kulit.

Riwayat Alergi

 Tidak pernah alergi makanan

 Tidak pernah alergi obat

Riwayat Penggunaan Obat

Riwayat Sosial :

C. Pemeriksaan Fisik

Status Generalis :

 Keadaan Umum : Baik

 Kesadaran : Compos mentis

 Hygiene :

 Gizi : Cukup

 Nadi dan RR :-

Kepala dan Leher
 Rambut : keabuan disekitar lesi, mudah rontok
 Mata : Hiperemi (-), anemis (-), ikterus (-), oedema (-)
 Hidung : Dyspnea (-)
 Mulut : Cyanosis (-), lesi (-)
 Telinga : Tidak ditemukan kelainan, lesi (-)
 Leher : Tidak ditemukan kelainan, lesi (-)

2

Thorax
 Cor : S1/S2 tunggal regular
 Pulmo : Rh -/-, Wh -/-
Abdomen
 Inspeksi : Flat (+),
 Auskultasi : Bising usus (+) normal
 Palpasi : Supel (+), distended (-), hepar dan lien tidak teraba
 Perkusi : Timpani seluruh lapang abdomen, meteorismus (-)
Ekstremitas
 Edema (-)
 Akral Hangat Kering Merah (+)
 Kuku tidak ditemukan kelainan
 Sendi-sendi tangan tidak ditemukan kelainan

Status Lokalis :

Pada regio : kapitis

Efloresensi : pada pemeriksaan fisik terdapat lesi macula coklat batas tegas, skuama

tebal, krusta kecoklatan, alopesia (+), di tepinya tampak rambut berwarna keabuan dan

rapuh, tampak gambaran wheat field.

3

D. Pemeriksaan Penunjang  Tidak dilakukan pemeriksaan E. Problem List  Gatal di kepala  Rambut rontok 4 .

Pada area bersisik dan tepi-tepinya tampak botak. Karena ditemukan gejala klinis yang mendukung. Terasa agak gatal dan lama-kelamaan rambut di sekitar borok tersebut makin rapuh dan mudah rontok. maka kasus ini tergolong Tinea kapitis dengan manifestasi klinis grey patch ring worm.Dermatitis seboroik . Rencana Terapi Diagnosa :  Pemeriksaan Langsung KOH 10-20%  Pembiakan (kultur )  Sabouraud’s Dextrose Agar (SDA) + Chloramphenicol+cyclohexamide  Woods Lamp  fluoresensi (+). Diagnosis Banding .Alopecia androgenik I.F. warna hijau terang (mycrosporum) 5 . Diagnosa Sementara Tinea Capitis H.Alopecia areata . G. makin melebar. Resume Pasien datang ke poli kulit dan kelamin dengan keluhan utama timbul putih dan bersisik di kepala sejak 1 bulan yang lalu.

Edukasi . kain. atau handuk penderita setiap hari dan tidak menggunakan peralatan harian bersama-sama. Kontrol 1 minggu lagi untuk mengevaluasi hasil pengobatan dan kemajuan penyakit ( keluhan subyektif dan tanda obyektif).  Suportif : Menghindari garukan agar lesi tetap kering dan bersih dan mengurangi risiko infeksi sekunder bakteri. . . Mencuci pakaian.Penatalaksanaan :  Kausatif  Pengobatan sistemik Griseofulvin 200 mg x 2  Pengobatan topikal (sebagai ajuvan) Ketomed shampo 2-3 kali seminggu Ketoconazole salep pagi dan malam  Simptomatik Desoximetason diberikan bila rasa gatal mengganggu. Menjaga kebersihan agar tetap sehat dan terhindar dari infeksi kulit. Tidak perlu mencukur rambut 6 .

krusta bercak putih dan Desoximetasone timbul baru di kecoklatan. Ketomed shampo kecoklatan. tetap gatal. alopesia (+). 7 . Ketokonazole skuama tebal. di salep beberapa tempat.gatal. Pemantauan Perkembangan Pasien 21 September 2016 S O A P KU : rambut Pada regio kapitis terdapat Tinea kapitis Griseofulvin tidak 2x200mg lesi macula coklat batas tumbuh. skuama tebal. di tepinya tampak rambut berwarna keabuan dan rapuh. krusta bercak putih. tampak gambaran wheat field. tepinya tampak rambut berwarna keabuan dan rapuh. alopesia (+). tampak gambaran wheat field.J. Ketokonazole tegas. 28 September 2016 S O A P KU : rambut Pada regio kapitis terdapat Tinea capitis Griseofulvin tidak tumbuh 2x200mg lesi macula coklat batas tegas.

makin melebar. mudah rontok  Mata : Hiperemi (-). oedema (-)  Hidung : Dyspnea (-)  Mulut : Cyanosis (-). lesi (-)  Leher : Tidak ditemukan kelainan. Status Generalis  Keadaan Umum : Baik  Kesadaran : Compos mentis  Hygiene :  Gizi : Cukup  Nadi dan RR :- Kepala dan Leher  Rambut : keabuan disekitar lesi. ikterus (-). lesi (-)  Telinga : Tidak ditemukan kelainan. Kajian Kasus Pasien datang ke poli kulit dan kelamin dengan keluhan utama timbul putih dan bersisik di kepala sejak 1 bulan yang lalu. BAB II PEMBAHASAN A. anemis (-). lesi (-) Thorax  Cor : S1/S2 tunggal regular  Pulmo : Rh -/-. Terasa agak gatal dan lama-kelamaan rambut di sekitar borok tersebut makin rapuh dan mudah rontok. Pada area bersisik dan tepi-tepinya tampak botak. Wh -/- 8 .

meteorismus (-) Ekstremitas  Edema (-)  Akral Hangat Kering Merah (+)  Kuku tidak ditemukan kelainan  Sendi-sendi tangan tidak ditemukan kelainan Status Lokalis : Pada regio : kapitis Efloresensi : pada pemeriksaan fisik terdapat lesi macula eritematosa batas tegas. alopesia. dan kadang-kadang terjadi gambaran klinis yang lebih berat. kemerah-merahan. krusta kecoklatan. Definisi Tinea Kapitis atau ringworm of the scalp merupakan kelainan pada kulit dan rambut kepala yang disebabkan oleh spesies dermatofita. skuama tebal. alopesia (+). distended (-). tampak gambaran wheat field. akan tetapi tinea kapitis merupakan salah satu bagian dari infeksi jamur bawah. kita dapat menegakkan diagnosa pada pasien ini yaitu Tinea kapitis. di tepinya tampak rambut berwarna keabuan dan rapuh. hepar dan lien tidak teraba  Perkusi : Timpani seluruh lapang abdomen. B. Golongan jamur ini mempunyai sifat 9 . Berdasarkan anamnesa. pemeriksaan fisik. Kelainan ini dapat ditandai dengan lesi bersisik. jadi kita perlu mengetahui secara menyuluruh hal-hal yang berkaitan dengan tinea kapitis.  Auskultasi : Bising usus (+) normal  Palpasi : Supel (+). yang disebut kerion. Abdomen  Inspeksi : Flat (+).

keratolitik. Trichophyton tonsurans menjadi penyebab lebih dari 90% kasus di Amerika Utara dan United Kingdom. yang biasa didapatkan dari kucing maupun anak anjing. 10 . Kasus – kasus di perkotaan biasanya didapatkan dari teman atau anggota keluarga.14 tahun. D. E. (buku ui) C. Patogenesis Golongan jamur dermatofita menyerang jaringan yang mengandung zat tanduk. Epidemiologi Tinea kapitis adalah infeksi jamur yang mengenai anak – anak berumur antara 4 . Trichophyton. Etiologi Tinea Kapitis dapat disebabkan oleh spesies Microsporum dan Trichophyton. dermatofita terbagi dalam 3 genus. dan kuku. hygien yang buruk dan malnutrisi protein memudahkan seseorang mendapatkan penyakit ini. dan Epidermophyton. dibandingkan dengan yang disebabkan oleh M. Di Inggris M. tonsurans lebih dari 95 % menyebabkan tinea kapitis. yaitu Microsporum. canis yang tentunya lebih jarang terjadi. misalnya stratum korneum pada epidermis. rambut. canis tetap menjadi penyebab umum yang menyebabkan Tinea Kapitis. Kepadatan penduduk. dalam hal frekuensi T. Walaupun jamur patogen yang terlibat banyak. Setiap negara dan daerah memiliki perbedaan pada spesies penyebab tinea kapitis misalnya di Amerika Serikat.

Reaksi peradangan ini dapat menimbulkan berbagai gambaran klinis pada lokasi infeksi seperti kemerahan (rubor). dan luka bakar. lapisan kulit yang mengandung keratin. Secara umum. dermatofita dapat masuk ke tubuh melalui kulit yang terluka. panas dan alopesia.Infeksi disebabkan oleh arthrospora atau conidia. menghasilkan ekso- enzim pektinase dan menyebabkan reaksi peradangan pada lokasi infeksi. bengkak (indurasi). Pergerakan hifa jamur tumbuh secara sentrifugal menjauh dari lokasi infeksi pada stratum korneum menimbulkan gambaran klasik lesi cincin. Patogen sebagian besar masuk melalui jaringan mati. 11 . bekas luka.

dan abses 12 . menyebabkan jamur terus bertumbuh ke dalam lapisan kulit hingga folikel rambut kemudian menyebar ke atas pada lokasi pertumbuhan rambut (dapat dilihat dipermukaan kulit pada hari ke 12-14) dan rambut menjadi rapuh kemudian tampak kerusakan rambut yang nyata pada minggu ketiga. Gambar 2: Infeksi dermatofita pada folikel rambut. Gambar 1. Apabila infeksi dermnatofita lebih jauh ke dalam hingga folikel rambut dapat menyebabkan respon inflamasi yang lebih dalam (bintik hitam). Infeksi mengenai batang rambut (bintik merah) mengakibatkan kerusakan dan rambut mudah patah. pustula folikular. Skema Masuknya Dermatofita ke Sistem Host Infeksi jamur pada folikel rambut. Manifestasinya terbentuk nodul inflamasi yang lebih dalam.

Klasifikasi Infeksi Ektothrix Invasi terjadi pada batang rambut luar. Asia. tonsurans di Amerika Utara. T. 13 . violaceum di Eropa. Infeksi Endothrix Infeksi terjadi di dalam batang rambut tanpa kerusakan kutikula. Arthroconidia ditemukan dalam batang rambut. Tipe endothrix: hifa dan arthroconidia terdapat dalam batang rambut (intrapilary). Gray patch merupakan variasi ektothix yang menunjukkan lesi non-inflamasi. canis). Tipe ektothrix: mycelia dan arthroconidia terlihat pada permukaan folikel rambut (extrapilary). sebagian Afrika). Infeksi ini disebabkan oleh Trichophyton spp. (M. (T.  Black Dot Merupakan varian endothrix yang menyerupai dermatitis seboroik. Dermatophytic folikulitis. audouinii dan M. Hifa fragmen ke arthroconidia. menyebabkan kerusakan kutikula. Infeksi ini disebabkan oleh Microsporum spp. Gambar 3.F.

dan gambaran plak anular 14 . Umumnya akan memberikan gambaran rambut rontok dalam berbagai tingkat skala. Gray Patch Gejala klinis terutama disebabkan oleh M. dkk. Afrika Selatan) masih endemik . Sangat jarang di Eropa Barat dan Amerika Utara. Penyakit timbul akibat invasi rambut ektothrix.  Kerion Merupakan varian endothrix dengan plak inflamasi. Richard Allen Johnson. alopesia dan kadang terjadi gambaran yang lebih berat yang disebut kerion. Tampak minimal inflamasi. Gejala dimulai dengan papul kemerahan disekitar rambut. bersisik. limfadenopati servical dan oksipital. pembentukan skuama masif. Gejala Klinis Gejala klinis tinea kapitis sangat bervariasi. jenis invasi rambut dan tingkat respon inflamasi penderita. Di beberapa bagian dunia (Timur Tengah. Klaus Wolff. 2007 G.ferrigineum yang sering ditemukan pada anak-anak. tergantung pada organisme penyebab. audouinii dan M. Fitzpatrick’s Color Atlas & Synopsis of Cinival Dermatology 5th ed.New York Mc Graw Hill. Kelainan pada tinea kapitis dapat ditandai dengan lesi bersisik. dan lesi terasa gatal. lama kelamaan akan melebar secara sentrifugal dan membentuk bercak yang berubah menjadi pucat.  Favus Merupakan varian endothrix dengan arthroconidia dalam batang rambut. kemerah-merahan.

15 . masuk ke bawah permukaan kulit. Gambar 4. tertutup skuama putih. Gambaran lesi yang terbentuk dapat multipel dengan tepi anular. Lesi ini cenderung tersebar disertai rambut rontok minimal dan peradangan minimal sehingga menyerupai dermatitis seboroik atau psoriasis. Gambaran klinis yaitu karena arthrospora terdapat didalam batang rambut sehingga rambut sangat rapuh dan patah pada permukaan scalp. sedangkan pada M. Ujung rambut yang patah dapat tumbuh kedalam. tonsurans dan T.canis gambaran klinis hampir sama tetapi lebih menunjukkan gambaran peradangan. tepat pada muara folikel. violaceum. Tinea Kapitis tipe Gray patch. Tipe ini terutama disebabkan oleh T. Ujung rambut yang hitam di dalam folikel rambut ini memberikan gambaran khas yaitu black dot. sehingga mudah tercabut sehingga dapat terbentuk alopesia setempat.batas tegas. Rambut mudah patah dan terlepas dari akarnya. Black dot “Black dot” tinea kapitis sering disebut sebagai tipe seborrhoic like. Warna rambut berubah menjadi abu-abu dan tidak berkilat lagi karena tertutup arthrospora.

plak atau nodul yang meradang mungkin soliter atau multiple. terutama di daerah perkotaan. Dalam beberapa tahun terakhir disebabkan oleh infeksi endothrix baik disebabkan oleh T.mentagrophytes) atau geofilik (M.verrucosum dan T. Tinea Kapitis tipe Black dot Kerion Kerion merupakan reaksi peradangan yang berat pada tinea kapitis. violaceum. 16 .gypseum). Gambar 5. berupa edema yang menyerupai sarang lebah dengan serbukan sel radang yang padat disekitarnya. diatasnya didapatkan pustula maupun krusta yang tebal. Limfadenopati regional dengan demam dan nyeri dapat terlibat apabila lesi luas. tonsurans atau T. biasanya juga disebabkan oleh spesies zoofilik (T. Selain itu. Gambaran klinis ditandai dengan adanya nyeri. Kelainan ini dapat menimbulkan jaringan parut dan berakibat alopesia yang menetap.

kemudian ditandai dengan krusta kekuningan yang dikenal sebagai skutula disekitar rambut berisi debris kulit dan hifa yang menembus batang rambut. Tinea Kapitis tipe Kerion Favus Gejala tinea yang jarang didapatkan. Gambaran klinis awalnya menunjukkan eritema perifolikular dan rambut kusut. serta batasnya tidak tegas. Gambar 6. H. berminyak dan kekuningan pada area seboroik yang menjadi ciri khasnya. disebabkan T. Diagnosa Banding Dermatitis Seboroik Dermatitis seboroik merupakan kelainan kulit yang berhubungan erat dengan keaktifan glandula sebasea. Rambut pada penderita dermatitis seboroik 17 . schoenleinii. dapat menyerang kulit dan kuku. Skutula memiliki berbau yang khas yaitu berbau tidak sedap seperti tikus “moussy odor” dan rambut secara ekstensif akan hilang menjadi alopesia dan atrofi. dengan manifestasi klinis yaitu mengenai kulit kepala berupa skuama halus dan kasar.

Terdapat tanda exclamation hair mark. telinga post auricular dan leher. glabela. 18 . Dapat pula meluas ke daerah seboroik lainnya yaitu daerah sternal. Etiologi alopesia areata belum diketahui.cenderung rontok. lipatan payudara. mulai di bagian vertex dan frontal. janggut. Tepi lesi dapat eritema pada stadium awal penyakit tetapi warna kembali normal pada stadium selanjutnya. yakni rambut bila dicabut terlihat bulbus yang atrofi. areola mammae. dan bulu mata. kelainan endokrin dan stress emosional. sisa rambut terlihat seperti tanda seru dimana batang rambut yang ke arah pangkal makin halus sedangkan rambut disekitarnya tampak normal tetapi mudah dicabut. Alopesia Areata Gejala klinis alopesia areata ditandai dengan bercak berbentuk bulat atau lonjong dan terjadi kerontokan rambut pada kulit kepala. alis. ummbilikus. sering dihubungkan dengan adanya infeksi lokal. Sering meluas ke dahi. lipat paha. interskapular. dan daerah anogenital.

skuama. Gambaran klinis pada umumnya meliputi alopesia. Rambut rontok secara bertahap dimulai dari bagian verteks dan frontal. eritema. Garis rambut anterior menjadi mundur dan dahi menjadi terlihat lebar. Folikel membentuk rambut yang lebih halus dan berwarna lebih muda sampai akhirnya sama sekali tidak terbentuk rambut terminal. tetapi yang tersering adalah bagian frontoparietal dan vertex menjadi botak. Pada anak-anak. Diagnosis Gambaran klinis bervariasi tergantung organisme penyebab. Puncak kepala menjadi botak. Beberapa varian bentuk kerontokan rambut dapat terjadi. Alopesia androgenik Alopesia androgenik timbul pada akhir umur dua puluh atau awal umur tiga puluhan. gambaran klinis berupa skuama pada kulit 19 . Rambut velus tetap terbentuk menggantikan rambut terminal. Bagian parietal dan oksipital menipis. I. dan derajat respon inflamasi host. inflamasi folikular. tipe invasi.

Sediaan diletakkan diatas gelas obyek dan ditetesi 1-2 tetes larutan KOH 10% untuk kulit dan larutan KOH 20% untuk rambut dan kuku. (M.canis. Cara pengambilan spesimen dapat dilakukan dengan cara. 20 . Setelah tercampur. audouinii dan M.  Pemeriksaan Sediaan Langsung dengan KOH 10-20% Cara pengambilan sampel adalah membersihkan kulit yang akan dikerok dengan kapas alkohol 70%. sehingga bila curiga tinea kapitis dapat dilakukan pemeriksaan KOH dan atau kultur untuk menunjang diagnosis. Selain itu beberapa pemeriksaan laboratorium dapat digunakan untuk menunjang pemilihan obat terapi sistemik yang sesuai dengan organisme penyebab. Pemeriksaan ini dapat memberikan hasil negatif palsu (artinya warna tetap ungu) pada infeksi nonfluorescent M. schoenleinii dapat memberi hasil fluoresensi positif hijau gelap). (kecuali T. gypsium dan Trichophyton spp. rambut dicabut dari daerah kulit yang berkelainan kemudian kulit di daerah terinfeksi dikerok untuk mengumpulkan skuama. kepala disertai rasa gatal dan alopesia. kemudian membuat kerokan kulit pada bagian yang aktif. Sediaan kemudian dilihat dibawah mikroskop. Pemeriksaan laboratorium yang dapat dilakukan antara lain:  Pemeriksaan Lampu Wood Pemeriksaan ini berguna pada infeksi spesies Microsporum spp. ferrugineum) menunjukkan fluoresensi hijau terang dari rambut yang terinfeksi dibawah pemeriksaan lampu Wood. M. Diagnosis hanya berdasarkan gambaran klinis saja terutama pada anak-anak sering kali sulit. biarkan 15-20 menit untuk melarutkan jaringan atau dihangatkan diatas nyala api selama beberapa detik (hindari terjadi penguapan yang dapat membentuk kristal KOH) untuk mempercepat proses lisis.

(M. zinc pyrithione.tonsurans) 3 Favus: Terdapat rantai arthrospora yang renggang dan celah-celah udara pada batang rambut. shampo povidone-iodine. 1 Infeksi Ektothrix : Hifa dan arthroconidia menutupi bagian luar batang rambut dengan kerusakan kutikel. kurang lebih dalam 2-4 minggu atau dapat seminggu 3 x hingga 21 . seminggu 2 x. Bentuk ini merupakan karakteristik dari Microsporum spp. J. Penatalaksanaan Berdasarkan British Association of Dermatologists Guidelines for the Management of Tinea Capitis. mencegah jaringan parut. ketokonazole 2% dan selenium sulfida 1% menunjukan efektifitas pada kasus ini.verrucosum.violaceum dan T. Bentuk ini merupakan karakteristik dari Trichophyton spp. Shampo diaplikasikan pada kulit kepala dan rambut selama 5 menit. Canis dan M.  Terapi topikal Terapi topikal sebagai monoterapi tidak direkomendasikan sebagai management tinea kapitis.  Kultur fungi Pemeriksaan ini untuk mengetahui jenis jamur yang menginfeksi yaitu dilakukan dengan menanamkan sampel pada media agar dextrose sabouraud. tujuan pengobatan antara lain adalah mengeliminasi organisme penyebab. tetapi sisanya di permukanan rambut. Pertumbuhan dermatofita biasanya tampak pada 10-14 hari. (T. Terapi topikal digunakan untuk mengurangi transmisi spora. tetapi juga dapat pada T. 2 Infeksi Endothrix : Batang rambut terisi dengan hifa dan arthroconidia. audouinii). mengurangi gejala. dan mengurangi transmisi penularan ke orang lain.

canis. Pada infeksi Trichophyton dosis perlu ditingkatkan dan pengobatan lebih lama (12-18 minggu).violaceum. T. M. generasi baru agen antifungi. T. Sifat terbinafine adalah fungisidal dengan menghambat squalene epoxidase.01% dapat membunuh arthroconidia pada kelima spesies Trichophyton setelah terpapar selama 15-30 menit. kemerahan dan nyeri kepala.soudanense) sedangkan Griseofulvin lebih efektif melawan spesies Microsporum (M. enzim pengikat membran 22 . Dosis yang dapat diberikan untuk anak-anak 10-25 mg / kgBB dan untuk dewasa 0.  Griseofulvin Merupakan obat fungistatik dan menghambat mitosis dermatofita dengan berinteraksi dengan mikrotubulus dan mengganggu spindle mitosis. Lama pengobatan bergantung pada lokasi penyakit. penyebab dan keadaan imun penderita.5-1 g single dose atau dosis terbagi selama 6-12 minggu rata-rata 8 minggu.  Terapi oral Griseofulvin ataupun terbinafine menjadi pilihan terapi awal (first-line treatments) secara umum terbinafine lebih efektif melawan spesies Trichophyton (T. Obat ini juga bersifat fotosensitif dan dapat mengganggu fungsi hepar. Selanjutnya dapat diberikan krim atau lotion topikal fungisidal sekali setiap hari selama 1 minggu. sehingga merupakan pilihan terapi baik untuk dermatofita yang sedang aktif tumbuh. pasien secara klinis dan mikologi dinyatakan sembuh. Efek samping yang sering muncul adalah gangguan gastrointestinal seperti diare. Terbinafine solution 0.tonsurans.audouinii).  Terbinafine Termasuk obat kelas allyamine.

berat badan 20-40 kg dapat diberikan 125 mg/hari sedangkan berat badan > 40 kg dapat diberi 250 mg/hari selama 2- 4 minggu. Itrakonazole juga dapat dipakai sebagai second line treatment ataupun first-line treatments karena memiliki aktifitas melawan baik Microsporum spp. memblok sistesis ergosterol. 23 . komponen utama membran sel fungi.  Itrakonazole Merupakan obat yang memiliki kerja fungistatik ataupun fungisidal tergantung konsentrasi di jaringan. ataupun Trichophyton spp.  Flukonazole Dapat digunakan sebagai terapi alternatif dari terbinafine.  Ketokonazole Terutama digunakan untuk kasus yang resisten terhadap griseofulvin. tetapi jarang dipakai. Efek samping gangguan gastrointestinal dan kemerahan lebih rendah. namun mode aksi utama adalah fungistatik dengan menghambat enzim dependent sitokrom P-450.5 mg / hari. Berat badan < 20 kg diberikan 62. dan ganti terapi dengan Griseofulvin bila disebabkan oleh Microsporum spp. dan apabila digunakan sebagai terapi awal maka untuk terapi berikutnya dapat diganti terbinafine apabila infeksi disebabkan oleh Trichophyton spp. Dosis yang dapat diberikan adalah 3-6 mg / kgBB/hari untuk anak-anak atau 200 mg / hari untuk dewasa selama 10 hari – 2 minggu. Lebih efektif terhadap infeksi Trichophyton daripada infeksi Microsporum. dalam jalur biosintesis untuk membentuk sterol dari membran sel fungi. Ketokonazole kontraindikasi pada pasien dengan kelainan hepar karena bersifat hepatotoksik. Dosis yang dapat diberikan adalah 100-200 mg selama 2-4 minggu untuk dewasa atau 5 mg/kgBB/hari selama 2-4 minggu untuk anak-anak. Dosis bergantung berat badan.

Proudfoot. Higgins. mengurangi keluhan umum dan gatal. Antoni Bennassar dan Ramon Grimalt.  Antihistamin Pada pasien dengan keluhan gatal. 24 . dalam artikelnya yang berjudul Management of Tinea Capitis in Childhood menyatakan bahwa beberapa data menunjukkan manfaat steroid pada kerion celsi untuk mengurangi scaling dan rasa gatal tetapi tidak menurunkan waktu clearance dibandingkan dengan terapi griseofulvin saja. serta dapat meminimalkan risiko jaringan parut. Laura E. Kortikosteroid oral dan intralesi tidak perlu ditambahkan pada terapi antifungal pada anak-anak dengan tinea kapitis kerion. Selain itu. namun penggunaannya masih kontroversial. mereka menyatakan untuk reaksi dermatophytid (autoeczematization). Kortikosteroid Baik oral maupun topikal dapat digunakan untuk tinea kapitis tipe kerion atau tinea kapitis reaksi berat atau tinea kapitis dengan bentuk lesi kerion untuk menghambat respon inflamasi host. topikal steroid mungkin diperlukan untuk mengontrol gejala namun biasanya terapi oral antifungi tidak perlu dihentikan. Elisabeth M. dan Rachael Morris-Jones dalam penelitiannya yang berjudul A Retrospective Study of the Management of Pediatric Kerion in Trichophyton Tonsurans Infection menyarankan pengobatan kerion didasarkan pada dermatofita yang menginfeksi. walaupun hal ini tidak dianjurkan sebagai bagian routine care kerion. Prednisolon dapat digunakan sebagai pengobatan oral dengan dosis 1 mg/kgBB/hari selama 7 hari. antihistamin dapat mengurangi keluhan dan dapat mencegah distribusi spora melalui garukan (finger scratching).

2008). rambut dengan flouresensi tersebut harus diperiksa lebih jauh. Flouresensi positif terinfeksi oleh Microsporum audouinii. kemudian ditutup dengan gelas penutup. Jika demikian. 2. Fitzpatrick 2008). PEMERIKSAAN PENUNJANG 1.K. Microsporum femgineum. Perlu diketahui bahwa organisme ektotrik seperti Microsporum canis dan Microsporum audouinii akan tampak flouresensi pada pemeriksaan lampu Wood. Rambut yang terinfeksi berflouresensi hijau terang atau kuning kehijauan (Andrews. dipanaskan dengan api Bunsen 2-3 kali untuk melarutkan keratin dan dilihat dibawah mikroskop dengan pembesaran rendah (Fitzpatrick. 2008). Pemeriksaan KOH Pada pemeriksaan KOH. dan ditetesi dengan larutan KOH 10 – 20%. Tric ophyton tonsurans tidak tampak flouresensi (Fitzpatrick. Pada ruangan yang gelap kulit dibawah lampu ini berflouresensi agak biru. Microsporum distorturn. 2006. dan Trichopiton schoenleinii. Rambut yang terinfeksi diletakkan pada object glass. rambut harus dicabut tidak di potong untuk visualisasi di mikroskop dengan pemeriksaan KOH 10 – 20%. Microsporum canis. Hasil positif ada 2 kemungkinan: 25 . Pemeriksaan lampu Wood Pemeriksaan lesi yang melibatkan kulit kepala atau jenggot dengan menggunakan lampu Wood mungkin memperlihatkan gambaran pteridin dari patogen tertentu. Ketombe umumnya cerah putih kebiruan. sedangkan organisme endotrik.

Gambar 4 : Ektotrik dan endotrik (Fitzpatrick. diletakkan diatas object glass dan ditetesi larutan KOH 10 – 20%. 3.  Endotrik: tampak artrokonidia di dalam batang rambut. Hasil positif jika tampak hifa bersepta dan bercabang (Fitzpatrick. dilihat di bawah mikroskop. 2008). makroskopik dan metabolisme organisme. ditutup dengan gelas penutup. Untuk bahan dari skuama. setelah kering skuama dikerok dengan scalpel terutama pada tepi lesi. daerah lesi dibersihkan dengan kapas alkohol. dipanaskan diatas api Bunsen. Pemeriksaan Kultur Spesiasi jamur didasarkan pada karakteristik mikroskopik. Sabouraud Dextrose Agar (SDA) adalah media isolasi yang 26 .  Ektotrik: tampak artrokonidia kecil atau besar membentuk lapisan mengelilingi bagian luar batang rambut. 2008).

Namun kontaminasi saprobes tumbuh pesat pada media ini (Andrews. 2006). L.paling umum digunakan dan sebagai basis untuk gambaran yang paling morfologis. Komplikasi  Scarring alopecia  Dikucilkan  Kerion  Alopecia permanent M. 27 . Prognosis Prognosis tinea capitis dapat menjadi bagus jika terapi dan pengobatan yang dilakukan bagus tetapi rekuren dapat terjadi jika penderita tidak menjaga kebersihan dan hygiene tempat yang terkena infeksi jamur itu dengan baik.

BAB III PENUTUP Telah dilaporkan kasus tinea capitiss pada seorang anak laki-laki atas nama mahardirga. Obat jamur kulit diberikan pada pasien ini berupa terapi sistemik griseofulvin 200 mg x 2. makin melebar. yaitu dexoksimetason salep. Terapi ketokonazol shampoo diberikan sebagai ajuvan. Pemberian antihistamin juga dapat diberikan sebagai terapi simptomatis mengingat pasien ini mengalami gatal-gatal yang tidak tertahankan. alopesia (+). Pada pemeriksaan penunjang tidak dilakukan karena dari anamnesis dan temuan klinis yang khas sudah mencukupi untuk menegakkan diagnosa disamping itu juga terdapat keterbatasan pada peralatan medis. Pasien juga dianjurkan kontrol seminggu kemudian untuk mengetahui respon terhadap terapi dan mengevaluasi keluhan subyektif maupun tanda obyektif yang masih ada. Pasien diberikan edukasi untuk tidak perlu mencukur rambut. di tepinya tampak rambut berwarna keabuan dan rapuh. krusta keputihan. tampak gambaran wheat field. Kemudian pada pemeriksaan fisik didapatkan lesi macula eritematosa batas tegas. Sebagai terapi suportif pasien harus menjaga kebersihan dan lesi kulit dijaga tetap bersih dan kering untuk mengurangi infeksi sekunder bakteri. usia 5 tahun. Terasa agak gatal dan lama-kelamaan rambut makin rapuh dan mudah rontok bahkan terkesan botak. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis putih putih bersisik di kepala sejak 3 bulan yang lalu. Prognosis 28 . skuama tebal.

2014.com/article/1091351-overview tanggal 21 September 2016 . 6 Brent D. New York Mc Graw Hill. Grace F. New York Mc Graw Hill. and Kannabiran. Diakses dari http://www. 29 . Katz SI. Natural Science: Vol. Jakarta: Badan Penerbit FKUI. Recognition. Seventh Edition. 2013. 2010. Del Rosso Sanchez. 2012. D. British Journal of Dermatology.2010. 726-731. Fuller et al. Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine 7th ed.pasein ini baik.3226–228. Goldsmith LA. 10. Cipto Mangunkusumo Jakarta Periode Tahun 2005 – 2010. Evaluation. higiene sanitasi yang jelek. MDVI 2012.medscape. The Journal of Clinical Aesthetic Dermatology.. No. AP López-Barcenas. 2010.org/index.. and Uskal. 4 Sari. James Q. 2010. Adhi. Saavedra AP. R Arenas. Actas Dermosifiliogr Mexico City. Eisen AZ. Fitzpatrick’s Color Atlas and Synopsis of Clinical Dermatology. 9 Wolff K.Inc. 2008. A.2. dkk.7. 2014. U. 2008. 39/3:113 – 117.php/public/information/mdvi-detail- content/143 tanggal 21 September 2016 5 L. and Management Suggestions. Penyakit ini dapat sembuh tetapi perlu adanya edukasi bahwa penyakit ini dapat kambuh kembali jika imunitas penderita menurun. Johnson RA. Tinea Kapitis di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUPN dr. Tinea Capitis. Tinea Capitis in Infants.perdoski. Kakourou. Sehingga penderita diharuskan menjaga kesehatan dan kebersihan diri DAFTAR PUSTAKA 1 Djuanda. 2 Freedberg IM. 7 N Rebollo. WileyPeriodicals. T. Medscape. Wolff K. 8 Kao.B. K. Review on dermatomycosis:pathogenesis and treatment. Guidelines for the Management of Tinea Capitis in Children. 2012. 3 Lakshmipathy. Michaels.C. T. Austen KF.27No. Review Article : Tinea Capitis. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi ke-6. et al. Diakses dari http://emedicine. British Association of Dermatologists Guidelines for the Management of Tinea Capitis. PediatricDermatology Vol.

Higgins. and Grimalt. 2010. Diakses dari 30 . Dove Press Journal: Clinical. Pages 655–657. Bennassar.. Cosmetic and Investigational Dermatology 2010:3 89–98. A Retrospective Study of the Management of Pediatric Kerion in Trichophyton Tonsurans Infection. Proudfoot.. R. M. Pediatric Dermatology. E. LE. 2011. A. Vol 28.. and Morris-Jones.11. 12. Issue 6: Nov/Dec 2011. R. Management og Tinea Capitis in Childhood.