KEBUTUHAN DASAR MANUSIA

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN
GANGGUAN ELIMINASI URIN DAN FEKAL

Makalah ini disusun oleh :
1. Dewi Andriani
2. Misbakhul Munir
3. Nisa Aprilia S
4. Nur Hidayati M
5. Pristian Aji S

Akademi Keperawatan
Tahun Pelajaran 2013/2014

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat,
karunia, serta taufik dan hidayah-Nya lah kami dapat menyelesaikan makalah Asuhan
Keperawatan Kebutuhan Eliminasi Fekal dan Urin ini sebatas pengetahuan dan kemampuan
yang dimiliki. Dan juga kami berterima kasih pada Ibu Lutiyah selaku Dosen mata kuliah
Kebutuhan Dasar Manusia yang telah memberikan tugas ini kepada kami.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta
pengetahuan kita mengenai pengertian,bagaimana cara menangani pasien eliminasi fekal dan

urin. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam tugas ini terdapat kekurangan-
kekurangan dan jauh dari apa yang kami harapkan. Untuk itu, kami berharap adanya kritik,
saran dan usulan demi perbaikan di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu
yang sempurna tanpa sarana yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya.
Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang
membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang
kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di
masa depan.

Purworejo, 8 Oktober 2013

Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Eliminasi adalah proses pembuangan sisa metabolisme tubuh baik berupa urin atau
bowel (feses). Miksi adalah proses pengosongan kandung kemih bila kandung kemih terisi.
Sistem tubuh yang berperan dalam terjadinya proses eliminasi urine adalah ginjal, ureter,
kandung kemih, dan uretra. Proses ini terjadi dari dua langkah utama yaitu : kandung kemih.

Secara progresif terisi sampai tegangan di dindingnya meningkat di atas nilai
ambang, yang kemudian mencetuskan langkah kedua yaitu timbul refleks saraf yang disebut
refleks miksi (refleks berkemih) yang berusaha mengosongkan kandung kemih atau jika ini
gagal, setidak-tidaknya menimbulkan kesadaran akan keinginan untuk berkemih. Meskipun
refleks miksi adalah refleks autonomik medula spinalis, refleks ini bisa juga dihambat atau
ditimbulkan oleh pusat korteks serebri atau batang otak.
Defekasi adalah pengeluaran feses dari anus dan rektum. Hal ini juga disebut bowel
movement. Frekuensi defekasi pada setiap orang sangat bervariasi dari beberapa kali perhari
sampai 2 atau 3 kali perminggu. Banyaknya feses juga bervariasi setiap orang. Ketika
gelombang peristaltic mendorong feses kedalam kolon sigmoid dan rektum, saraf sensoris
dalam rektum dirangsang dan individu menjadi sadar terhadap kebutuhan untuk defekasi.
Eliminasi yang teratur dari sisa-sisa produksi usus penting untuk fungsi tubuh yang
normal. Perubahan pada eliminasi dapat menyebabkan masalah pada gastrointestinal dan
bagian tubuh yang lain. Karena fungsi usus tergantung pada keseimbangan beberapa faktor,
pola eliminasi dan kebiasaan masing-masing orang berbeda. Klien sering meminta
pertolongan dari perawat untuk memelihara kebiasaan eliminasi yang normal. Keadaan sakit
dapat menghindari mereka sesuai dengan program yang teratur. Mereka menjadi tidak
mempunyai kemampuan fisik untuk menggunakan fasilitas toilet yang normal ; lingkungan
rumah bisa menghadirkan hambatan untuk klien dengan perubahan mobilitas, perubahan
kebutuhan peralatan kamar mandi. Untuk menangani masalah eliminasi klien, perawatan
harus mengerti proses eliminasi yang normal dan faktor-faktor yang mempengaruhi
eliminasi.

1.2 Rumusan Masalah
2. Bagaimana pengkajian keperawatan pada pasien dengan gangguan pemenuhan kebutuhan
eliminasi urin dan fekal?
3. Bagaimana diagnosa keperawatan pada pasien dengan gangguan pemenuhan kebutuhan
eliminasi urin dan fekal?
4. Bagaimana membuat perencanaan keperawatan pada pasien dengan gangguan pemenuhan
kebutuhan eliminasi urin dan fekal?
5. Bagaimana membantu pasien dengan eliminasi urin dan fekal?
6. Bagaimana melaksanakan evakuasi fecal?
7. Bagaimana melaksanakan evaluasi asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan
pemenuhan kebutuhan eliminasi urin dan fekal?

3 Tujuan 2. 2. Frekuensi berkemih tergatung pada kebiasaan dan kesempatan. Pola berkemih • frekuensi berkemih frekuesi berkemih menentukan berapa kali individu berkemih dalam waktu 24 jam. Dapat membuat perencanaan keperawatan pada pasien dengan gangguan pemenuhan kebutuhan eliminasi urin dan fekal 5.1. . Mengetahui pengkajian keperawatan pada pasien dengan gangguan pemenuhan kebutuhan eliminasi urin dan fekal 3. Banyak orang berkemih setiap hari pada waktu bangun tidur dan tidak memerlukan waktu untuk berkemih pada waktu malam hari. Mengetahui bagaimana melaksanakan evakuasi fecal 7. Mengetahui bagaimana melaksanakan evaluasi asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan pemenuhan kebutuhan eliminasi urin dan fekal BAB II PEMBAHASAN 2. Mengetahui agaimana membantu pasien dengan eliminasi urin dan fekal 6. Kebiasaan berkemih Pengkajian ini meliputi bagaimana kebisaan berkemih serta hambatannya. Merumuskan diagnosa keperawatan pada pasien dengan gangguan pemenuhan kebutuhan eliminasi urin dan fekal 4.1 Pengkajian Keperawatan Pengkajian pada kebutuhan eliminasi urine meliputi : 1.

2. 6. Perubahan pola eliminasi urine  Ketidakmampuan saluran kemih akibat anomali saluran urinaria  Penurunan kapasitas atau iritasi kandung kemih akibat penyakit  Kerusakan pada saluran kemih  Efek pembedahan pada saluran kemih 2. inkontinensia urine. Faktor yang mempengaruhi kebiasaan berkemih • diet dan asupan (diet tinggi protein dan natrium) dapat mempengaruhi jumlah urine yang dibentuk. Bila produksi urine kurang dari 100 ml/hari dapat dikatakan anuria. Inkontinensia fungsional  Penurunan isyarat kandung kemih  Kerusakan kemampuan untuk mengenal isyarat akibat cedera atau kerusakan kandung kemih . dan penyakit kronis ginjal. • gaya hidup • stress psikologi dapat meningkatkan frekuensi keinginan berkemih • tingkat aktivitas 5. • Disuria Keadaan rasa sakit atau kesulitan saat berkemih. Volume urine Volume urine menentukan berapa jumlah urine yang dikeluarkan dalam waktu 24 jam. bau. • Urinaria supresi Keadaan produksi urine yang berhenti secara mendadak. Keadaan ini dapat terjadi pada penyakit diabetes. infeksi saluran kemih. 3. Keadaan urine Keadaan urine meliputi : warna. trauma pada vesika urinaria.2 Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan yang terjadi pada masalah kebutuhan eliminasi urine adalah sebagai berikut : 1. sedangkan kopi dapat meningkatkan jumlah urine. • Poliuria Keadaan produksi urine yang abnormal yang jumlahnya lebih besar tanpa adanya peningkatan asupan cairan. Tanda klinis gangguan eliminasi urine seperti retensi urine. Keadaan ini ditemukan pada struktur uretra. kejernihan. pH. protein. 4. darah. berat jenis. defisiensi ADH. tetapi bila produksinya antara 100 – 500 ml/hari dapat dikatakan sebagai oliguria.• Urgensi Perasaan seseorang untuk berkemih seperti seseorang ke toilet karena takut mengalami inkotinensia jika tidak berkemih. glukosa.

Mencegah kerusakan kulit. Resiko terjadinya infeksi saluran kemih pemasangan kateter dan kebersihan perineum yang kurang 10. Membantu pasien mempertahankan posisi normal untuk berkemih. Intake cairan secara tepat. Inkontinensia total Defisit komunikasi atau persepsi 6. Inkontinensia stress  Tingginya tekanan Intraabdimibal dan lemahnya otor pelviks akibat kehamilan  Penurunan tonus otot 5. Pasien dengan edema cairannya dibatasi. mengukur intake dan output cairan. faktor penuaan 7. 9. trauma. . 2. Pasien dengan infeksi perkemihan.3 Perencanaan Keperawatan Tujuan : 1. Perubahan body image Inkontinensia dan enuresis 9. Jumlah caiaran yang masuk dan keluar dalam setiap hari harus diukur. 7. 3. untuk mengetahui kesimbangan cairan. Inkontinensia dorongan Penurunan kapasitas kandung kemih akibat penyakit infeksi. Membantu mempertahankan secara normal berkemih. Memulihkan self esteem atau mencegah tekanan emosional. Retensi urine Adanya hambatan pada sfingter akibat penyakit struktur. 8. tindakan pembedahan. Resiko perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit gangguan drainase ureterostomi 2. Memberikan bantuan pada saat pasien pertama kali merasa ingin buang air kecil Jika menggunakan bedpan atau urinal yakin itu dalam keadaan hangat. cairannya sering ditingkatkan. pasien dengan masalah perkemihan yang sering intake jumlah cairan setiap hari ditentukan dokter. Memastikan keseimbangan intake dan output cairan. 4. Memberikan kebebasan untuk pasien. Mencegah infeksi saluran kemih. Inkontinensia refleks Gagalnya fungsi rangsang di atas tingkatan arkus refleks akibat cedera pada medulla spinalis 4. Mencegah ketidakseimbangan cairan dan elektrolit. Kerusakan mobilitas  Kehilangan kemampuan motoris dan sensoris 3. BHP 8. 6. 5. Memberikan intake cairan secara tepat. 10.

monitor terus perubahan retensi urine 4. anjurkan berkemih pada saat terjaga seperti setelah makan.4 Rencana Tindakan 1. anjurkan untuk menahan sampai waktu berkemih 6. monitor/observasi perubahan faktor. 2. latihan fisik. dengan berkemih seperti : mekanisme supra pubis kutaneus . pertahankan hidrasi secara optimal 2. retensi dan urgensia 2. ajarkan untuk meningkatkan kapasitas kandung kemih dengan 3. Bila pasien menggunakan bedpan. apabila terjadi kegagalan pada latihan kandung kemih pertimbangan untuk pemasangan kateter indweeling Inkontinensia stress Kurangi faktor penyebab seperti : 1. Meningkatkan tekanan abdomen dengan cara : • latih untuk menghindari duduk lama • latih untuk sering berkemih sedikitnya tiap 2 jam Inkontinensia fungsional Ajarkan teknik merangsang refleks berkemih. kencangkan otot-otot belakang dan depan dalam waktu 10 detik. mandi 5. dengan cara : • ajarkan untuk mengidentifikasi otot dasar pelviks dan kekuatan dan kelemahannya saat melakukan latihan • untuk otot dasar pelviks anterior bayangkan anda mencoba menghentikan aliran urine. ajarkan pola berkemih terencana (untuk mengatasi kontraksi kandung kemih yang tidak biasa) 4. Kehilangan jaringan atau tonus otot. 12. tanda dan gejala terhadap masalah perubahan eliminasi urine. pertahankan jumlah cairan dan berkemih 2. lakukan kateterisasi urine Inkontinensia dorongan 1. rencanakan program kateterisasi intermiten apabila ada indikasi 3. 11. lakukan kolaborasi dengan tim dokter dalam mengatasi iritasi kandung kemih Inkontinensia total 1. ulangi hingga 10 kali dan lakukan 4 kali sehari 2. kemudian lepaskan atau rileks. kurangi faktor yang mempengaruhi/penyebab masalah 3. Untuk anak kecil meningkatkan kontrol berkemih dan self esteem. tinggikan bagian kepala tempat tidur dengan posisi fowler dan letakkan bantal kecil dibawah leher untuk meningkatkan support dan kenyamanan fisik (prosedur membantu memberi pispot/urinal).

catat jumlah asupan dan pengeluaran 5.3 menit dan berikan jeda waktu 1 menit di antara setiap kegiatan  tekan gland penis  pukul perut di atas ligamen inguinalis  tekan paha bagian dalam 4. berarti sudah tidak ada lagi yang dikeluarkan 3. anjurkan pasien untuk :  posisi setengah duduk  mengetuk kandung kemih secara langsug denga rata-rata 7 – 8 kali setiap detik  gunakan sarung tangan  pindahkan sisi rangsangan di atas kandung kemih untuk menentukan posisi saling berhasil  lakukan hingga aliran baik  tunggu kurang lebih 1 menit dan ulangi hingga kandung kemih kosong  apabila rangsangan dua kali lebih dan tidak ada respon.5 Pelaksanaan (Tindakan Keperawatan) Pengumpulan Urine untuk Bahan Pemeriksaan Mengingat tujuan pemeriksaan berbeda-beda. Cara pengambilan urine tersebut antara lain : pengambilan urine biasa. seperti : a. tingkatkan faktor yang berperan dalam kontinen. nyeri saat berkemih. Tingkatkan higiene perseorangan 2. perubahan keadaan urine. Jelaskan cara mengenali perubahan urine yang abnormal seperti adanya peningkatan mukosa. . pengambilan urine steril dan pengumpulan selama 24 jam. d. seperti peningkatan suhu. apabila belum berhasil. lakukan hal berikut ini selama 2. Tingkatkan integritas kulit e. ketuk supra pubis secara dalam. Pertahakan hidrasi optimal dengan cara b. nyeri supra pubis bagian atas. mual. dengan cara menghindari penggunaan bedpan (pispot). jadwalkan program kateterisasi pada saat tertentu Inkontinensia Fungsional 1. tajam dan berulang 2. maka pengambilan sampel urine juga dibeda- bedakan sesuai dengan tujuannya. muntah 2. Tingkatkan intergritas diri dan berikan motivasi kemampuan mengontrol kandung kemih. darah dalam urine dan perubahan warna 3. Ajarkan cara memantau adanya tanda dan ISK. Pertahankan nutrisi yang adekuat c. 1.

Mencuci tangan 2. Pengambilan urine selama 24 jam merupakan pengambilan urine yang dikumpulkan dalam 24 jam. Anjurkan pasien untuk berkemih . botol penampung beserta penutup 2. Lepas pakaian bawah pasien 5. Pengambilan urine biasa merupakan pengambilan urine dengan cara mengeluarkan urine seperti biasa. Pengambilan urine steril merupakan pengambilan urine dengan cara dengan menggunakan alat steril. etiket khusus Prosedur Kerja 1. Catat nama dan tanggal pengambilan pemeriksaan 6.1. bantu untuk BAK. Bagi pasien yang mampu BAK sendiri. anjurkan pasien untuk BAK dan anjurkan untuk menampung urine ke dalam botol 5. 3. bertujuan untuk mengeetahui jumlah urine selama 24 jam dan mengukur berat jenis urine. Pengambilan urine steril bertujuan mengetahui adanya infeksi pada uretra. urinal 2. asupan dan pengeluaran serta mengetahui fungsi ginjal. keluarkan urine setelah itu tampung dengan meggunakan botol 4. 2. Alat dan bahan : 1. yaitu buang air kecil. tisu Prosedur Kerja 1. dilakukan dengan menggunakan alat steril. Pasang urinal di bawah glutea/pinggul atau diantara kedua paha 6. Jelaskan prosedur pada pasien 3. dilakukan dengan keteterisasi atau pungsi supra pubis. Alat : 1. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan 3. Cuci tangan Menolong pasien untuk buang air kecil dengan menggunakan urinal Menolong BAK dengan menggunakan urinal merupakan tindakan keperawatan dengan membantu pasien yang tidak mampu BAK sendiri di kamar kecil dengan menggunakan alat penampung dengan tujuan menampung urine dan mengetahui kelainan urine (warna dan jumlah). ginjal atau saluran kemih lainnya. Biasanya untuk memeriksa gula atau kehamilan. Pasang alas urinal di bawah glutea 4. pengalas 3. Cuci tangan 2. Bagi pasien yang tidak mampu buang air kecil sendiri.

rapikan alat 8. sarung tangan steril 2. spuit yang berisi cairan 7. sampiran Prosedur Kerja Untuk pasien pria : 1. perlak dan alasnya 8. bengkok 10. Cuci tangan dan catat warna serta jumlah produksi urine Melakukan kateterisasi Indikasi : Tipe Intermitten  tidak mampu berkemih 8 – 12 jam setelah operasi  retensi akut setelah trauma uretra  tidak mampu berkemih akibat obat sedatif atau analgesic  cedera pada tulang belakang  degenerasi neuromuskular secara progresif  pengeluaran urine residual Tipe Indwelling  obstruksi aliran urine  pasca operasi saluran uretra dan struktur disekitarnya  obstruksi uretra  inkontinensia dan disorientasi berat Alat dan bahan 1.7. pinset anatomi 9. kateter steril (sesuai dengan ukurannya dan jenis) 3. urinal bag 11. larutan pembersih antiseptic 6. Duk steril 4. Cuci tangan . minyak pelumas/ gel 5. Setelah selesai.

Gunakan sarung tangan steril 6. Pasang duk steril 7. kondom kateter . Beri gel pada ujung kateter. hingga urine keluar 10. Cuci tangan Untuk pasien wanita : 1. lalu preputium ditarik sedikt ke pangkalnya dan bersihkan dengan kapas savlon 8. Setelah kateter masuk. Rapikan alat 13. Cara ini bertujuan agar pasien dapat berkemih dan mempertahankannya. Pasang perlak/alas 5. Buka labia mayor dengan ibu jari dan telunjuk tangan kiri lalu bersihkan bagian dalam 9. Atur ruangan/pasang sampiran 4. Pasang duk steril 7. Setelah selesai. lalu masukkan pelan-pelan sambil anjurkan untuk tarik napas 9. isi balon dengan cairan aquades atau sejenisnya menggunakan spoit 11. pengalas 4. sarung tangan 2.2. Pegang penis dengan tangan sebelah kiri. Jika tertahan. Gunakan sarung steril 6. Cuci tangan Menggunakan kondom kateter Menggunakan kondom kateter merupakan tindakan keperawatan dengan cara memberikan kondom kateter pada pasien yang tidak mampu mengontrol berkemih. air sabun 3. Jelaskan prosedur 3. Cuci tangan 2. Atur ruangan 4. Bersihkan vulva kapas savlon dari atas ke bawah 8. jangan dipaksa 10. Sambung kateter dengan urine bag dan fiksasi ke arah samping 12. Sambung kateter dengan urobag dan fiksasi ke arah paha 12. Pasang perlak/alas 5. Jelaskan prosedur 3. Rapikan alat 13. Beri gel pada ujung kateter lalu masukkan pelan-pelan sambil anjurkan tarik napas. isi balon dengan cairan aquades 11. Alat dan bahan : 1.

ditunjukkan dengan kemampuan berkemih sesuai dengan asupan cairan dan pasien mampu berkemih tanpa menggunakan obat. Cuci tangan 2. dan lancarnya kepatenan drainase 3. Lakukan pemasangan kondom dengan menyisakan 2. Mengosongkan kandung kemih. frekuensi. Jelaskan prosedur pada klien 3. volume urine residu. dan rasa terbakar 4. Bersihkan area genitalia dengan sabun dan bilas dengan air hangat bersih kemudian keringkan 8. ditunjukkan dengan adanya perineal kering tanpa inflamasi dan kulit di sekitar uterostomi kering 5. Atur ruangan/pasang sampiran 4. Letakkan batang penis dengan perekat elastis. Hubungkan ujung kondom kateter dengan saluran urobag 11. urgensi. tapi jangan terlalu ketat 10. ditunjukkan dengan berkurangnya frekuensi inkontinensia dan mampu berkemih di saat ingin berkemih . ditunjukkan dengan berkurangnya distensi. Cuci tangan 2.6 Evaluasi Keperawatan Evaluasi keperawatan terhadap gangguan kebutuhan eliminasi urine secara umum dapat dinilai dari adanya kemampuan dalam : 1. Pasang perlak/alas 5. tidak ditemukan adanya distensi kandung kemih dan adanya ekspresi senang 6. sampiran Prosedur kerja 1. Atur posisi klien dengan terlentang 7. Memberikan pasa nyaman.5. Miksi dengan normal. Melakukan Bladder training.5 – 5 cm ruang antara glans penis dengan ujung kondom 9. ditunjukkan dengan tidak adanya infeksi. Mempertahankan intergritas kulit. tidak ditemukan adanya disuria. kompresi pada kandung kemih atau kateter 2. Rapikan alat 12. ditunjukkan dengan berkurangnya disuria. Gunakan sarung tangan 6. Mencegah infeksi/ bebas dari infeksi. Urinal bag 6.

3. Bagi perawat agar dapat menunjang kebersihan keperawatan maka perlu memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam penanganan kasus retensio urine 2. Karena jika tidak dilaksanakan.2 Usul dan Saran 1. intervensi. pelaksaan. Tahap-tahap asuhan keperawatan juga harus dilakukan sesuai prosedur. akan menimbulkan banyak masalah kesehatan. Mulai dari pengkajian. agar intervensi yang dilakukan dapat terlaksana dengan baik untruk mengatasi masalah pasien. BAB III PENUTUP 3. Sehingga pasien dapat nyaman dan kembali sembuh.1 Kesimpulan Asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan eliminasi fekal dan urin dilakukan untuk memenuhu kebutuhan dasar manusia. Perawat hendaknya menerapkan asuhan keperawatan dalam melaksanakan proses 3. Perlu ada kerja sama antara perawat dan pihak keluarga pasien yang baik. . hingga evaluasi.

com/2011/01/askep-masalah-kebutuhan-eliminasi-urine.1 Latar Belakang 1.com/2011/10/16/materi-eliminasi-fekal-dan-urin/ http://www.scribd.html http://dewaprogsus.2 Rumusan Masalah 1. DAFTAR PUSTAKA http://ato3nurse07.blogspot.wordpress.com/doc/46810174/Asuhan-Keperawatan-pada-Pasien-dengan-Gangguan- Eliminasi-Urine-dan-Fekal DAFTAR ISI Kata Pengantar BAB I Pendahuluan 1.3 Tujuan BAB II Pembahasan .

adalah suatu sistem dimana terjadinya proses penyaringan darah sehingga darah bebas dari zat-zat yang tidak dipergunakan oleh tubuh dan menyerap zat-zat yang masih di pergunakan oleh tubuh. Satuan struktural dan fungsional ginjal yang terkecil di sebut nefron.1 Kesimpulan 3.3 Perencanaan Keperawatan 2. Susunan Sistem Perkemihan atau Sistem Urinaria : 1.1 Pengkajian 2. GINJAL Kedudukan ginjal terletak dibagian belakang dari kavum abdominalis di belakang peritonium pada kedua sisi vertebra lumbalis III. Dalam .5 Pelaksanaan (Tindakan Keperawatan) 2. Tiap – tiap nefron terdiri atas komponen vaskuler dan tubuler.2. B.2 Saran Daftar Pustaka http://kekasihsetianaruto.com/2013/11/asuhan-keperawatan-pada-pasien_3. Pengertian Sistem Urinaria Sistem perkemihan atau sistem urinaria. Pada orang dewasa berat ginjal ± 200 gram.html Pemenuhan kebutuhan eliminasi urin Anatomi Fisiologi Sistem Perkemihan (Urinaria) A.6 Evaluasi Keperawatan BAB III Penutup 3.4 Rencana Tindakan 2. Komponen vaskuler terdiri atas pembuluh – pembuluh darah yaitu glomerolus dan kapiler peritubuler yang mengitari tubuli. ginjal kiri lebih besar dari pada ginjal kanan.blogspot. Bentuknya seperti biji buah kacang merah (kara/ercis).2 Diagnosa Keperawatan 2. dan melekat langsung pada dinding abdomen. Zat-zat yang tidak dipergunakan oleh tubuh larut dalam air dan dikeluarkan berupa urin (air kemih). Dan pada umumnya ginjal laki – laki lebih panjang dari pada ginjal wanita. jumlahnaya ada 2 buah kiri dan kanan.

Dengan dasarnya menghadap korteks dan puncaknya disebut apeks atau papila renis. dan gabungan antara glomerolus dengan simpai bownman disebut badan malphigi Penyaringan darah terjadi pada badan malphigi. 2. kemudian berlanjut sebagai tubulus kontortus distal. maka aka tampak bahwa ginjal terdiri dari tiga bagian. kemudian menjadi saluran yang lurus yang semula tebal kemudian menjadi tipis disebut ansa Henle atau loop of Henle. Sumsum Ginjal (Medula) Sumsum ginjal terdiri beberapa badan berbentuk kerucut yang disebut piramid renal. bagian tubulus yang keluar dari korpuskel renal disabut dengan tubulus kontortus proksimal karena jalannya yang berbelok – belok. yaitu bagian kulit (korteks). Bagian – Bagian Ginjal Bila sebuh ginjal kita iris memanjang. 1. mengarah ke bagian dalam ginjal. tubulus pengumpul dan lengkung Henle yang terdapat pada medula. sumsum ginjal (medula). a. yaitu diantara glomerolus dan simpai bownman. Satu piramid dengan jaringan korteks di dalamnya .komponen tubuler terdapat kapsul Bowman. dan bagian rongga ginjal (pelvis renalis). Tiap glomerolus dikelilingi oleh simpai bownman. Kapsula Bowman terdiri atas lapisan parietal (luar) berbentuk gepeng dan lapis viseral (langsung membungkus kapiler golmerlus) yang bentuknya besar dengan banyak juluran mirip jari disebut podosit (sel berkaki) atau pedikel yang memeluk kapiler secara teratur sehingga celah – celah antara pedikel itu sangat teratur. Zat – zat yang terlarut dalam darah akan masuk kedalam simpai bownman. tubulus kontortus distal. Kulit Ginjal (Korteks) Pada kulit ginjal terdapat bagian yang bertugas melaksanakan penyaringan darah yang disebut nefron. serta tubulus – tubulus. Dari sini maka zat – zat tersebut akan menuju ke pembuluh yang merupakan lanjutan dari simpai bownman yang terdapat di dalam sumsum ginjal. Kapsula bowman bersama glomerolus disebut korpuskel renal. Pada tempat penyarinagn darah ini banyak mengandung kapiler – kapiler darah yang tersusun bergumpal – gumpal disebut glomerolus. karena membuat lengkungan tajam berbalik kembali ke korpuskel renal asal. yaitu tubulus kontortus proksimal.

ke pelvis renis ke ureter. Tes Fungsi Ginjal Terdiri Dari : 1. Rongga Ginjal (Pelvis Renalis) Pelvis Renalis adalah ujung ureter yang berpangkal di ginjal. 3. Mengekskresikan zat – zat yang jumlahnya berlebihan (misalnya gula dan vitamin) dan berbahaya (misalnya obat – obatan. hingga di tampung dalam kandung kemih (vesikula urinaria). urine masuk ke kaliks mayor. 4. Sabelum berbatasan dengan jaringan ginjal. Mengatur tekanan darah dalam arteri dengan mengeluarkan kelebihan asam atau basa. Diantara pyramid terdapat jaringan korteks yang disebut dengan kolumna renal. b. Dari Kaliks minor. pelvis renalis bercabang dua atau tiga disebut kaliks mayor. Mengukur konsentrasi urenum darah . Fungsi Ginjal: 1. berbentuk corong lebar. misalnya amonia. yang masing – masing bercabang membentuk beberapa kaliks minor yang langsung menutupi papila renis dari piramid. Tes untuk protein albumin Bila kerusakan pada glomerolus atau tubulus. Pada bagian ini berkumpul ribuan pembuluh halus yang merupakan lanjutan dari simpai bownman. maka protein dapat bocor masuk ke dalam urine. c. bakteri dan zat warna). Piramid antara 8 hingga 18 buah tampak bergaris – garis karena terdiri atas berkas saluran paralel (tubuli dan duktus koligentes). Mengekskresikan zat – zat sisa metabolisme yang mengandung nitrogennitrogen. Di dalam pembuluh halus ini terangkut urine yang merupakan hasil penyaringan darah dalam badan malphigi. 3. 2. 2.disebut lobus ginjal. Kliks minor ini menampung urine yang terus kleuar dari papila. Mengatur keseimbangan air dan garam dengan cara osmoregulasi. setelah mengalami berbagai proses.

d.Bila ginjal tidak cukup mengeluarkan urenum maka urenum darah naik di atas kadar normal (20 – 40) mg%. Dinding luar jaringan ikat (jaringan fibrosa) b. 3. 2. arteria interlobularis yang berada di tepi ginjal bercabang menjadi kapiler membentuk gumpalan yang disebut dengan glomerolus dan dikelilingi leh alat yang disebut dengan simpai bowman. didalamnya terjadi penyadangan pertama dan kapilerdarah yang meninggalkan simpai bowman kemudian menjadi vena renalis masuk ke vena kava inferior. saraf inibarjalan bersamaan dengan pembuluh darah yang masuk ke ginjal. yang berpasangan kiri dan kanan dan bercabang menjadi arteria interlobaris kemudian menjadi arteri akuata. Anak ginjal (kelenjar suprarenal) terdapat di atas ginjal yang merupakan senuah kelenjar buntu yang menghasilkan 2(dua) macam hormon yaitu hormone adrenalin dan hormn kortison. URETER Terdiri dari 2 saluran pipa masing – masing bersambung dari ginjal ke kandung kemih (vesika urinaria) panjangnya ± 25 – 30 cm dengan penampang ± 0.5 cm. Lapisan dinding ureter terdiri dari : a. Peredaran Darah dan Persyarafan Ginjal Peredaran Darah Ginjal mendapat darah dari aorta abdominalis yang mempunyai percabangan arteria renalis. Lapisan tengah otot polos . Ureter sebagian terletak dalam rongga abdomen dan sebagian terletak dalam rongga pelvis. Tes konsentrasi Dilarang makan atau minum selama 12 jam untuk melihat sampai seberapa tinggi berat jenisnya naik. Persyarafan Ginjal Ginjal mendapat persyarafan dari fleksus renalis (vasomotor) saraf ini berfungsi untuk mengatur jumlah darah yang masuk ke dalam ginjal.

c. Lapisan sebelah dalam lapisan mukosa Lapisan dinding ureter menimbulkan gerakan – gerakan peristaltik tiap 5 menit sekali yang akan mendorong air kemih masuk ke dalam kandung kemih (vesika urinaria). Penyempitan ureter terjadi pada tempat ureter terjadi pada tempat ureter meninggalkan pelvis renalis. Bentuk kandung kemih seperti kerucut yang dikelilingi oleh otot yang kuat. oleh air kemih akan merangsang stres reseptor yang terdapat . bagian yang maju kearah muka dan berhubungan dengan ligamentum vesika umbilikalis. bagian ini terpisah dari rektum oleh spatium rectosivikale yang terisi oleh jaringan ikat duktus deferent. terletak di belakang simfisis pubis di dalam ronga panggul. peritonium (lapisan sebelah luar). Distensi kandung kemih. tunika submukosa. pembuluh darah. saraf dan pembuluh sekitarnya mempunyai saraf sensorik. vesika seminalis dan prostate. berhubungan ligamentum vesika umbikalis medius. Bagian vesika urinaria terdiri dari : 1. tunika muskularis. Korpus. Gerakan peristaltik mendorong urin melalui ureter yang dieskresikan oleh ginjal dan disemprotkan dalam bentuk pancaran. Verteks. dan lapisan mukosa (lapisan bagian dalam). 3. yaitu bagian yang mengahadap kearah belakang dan bawah. 3. VESIKULA URINARIA ( Kandung Kemih ) Kandung kemih dapat mengembang dan mengempis seperti balon karet. Dinding kandung kemih terdiri dari beberapa lapisan yaitu. yaitu bagian antara verteks dan fundus. Fundus. Proses Miksi (Rangsangan Berkemih). 2. melalui osteum uretralis masuk ke dalam kandung kemih. Ureter berjalan hampir vertikal ke bawah sepanjang fasia muskulus psoas dan dilapisi oleh pedtodinium.

dan pada saat yang sama terjadi relaksasi spinser internus. Pada laki. dan akhirnya terjadi pengosongan kandung kemih. vena membentuk anyaman dibawah kandung kemih. Torako lumbar berfungsi untuk relaksasi lapisan otot dan kontraksi spinter interna. Peritonium melapis kandung kemih sampai kira – kira perbatasan ureter masuk kandung kemih. Uretra Prostaria 2. Kontraksi sfinger eksternus secara volunter bertujuan untuk mencegah atau menghentikan miksi. Pembuluh limfe berjalan menuju duktus limfatilis sepanjang arteri umbilikalis. Peritoneum dapat digerakkan membentuk lapisan dan menjadi lurus apabila kandung kemih terisi penuh. Pembuluh darah Arteri vesikalis superior berpangkal dari umbilikalis bagian distal. diikuti oleh relaksasi spinter eksternus.pada dinding kandung kemih dengan jumlah ± 250 cc sudah cukup untuk merangsang berkemih (proses miksi). Rangsangan yang menyebabkan kontraksi kandung kemih dan relaksasi spinter interus dihantarkan melalui serabut – serabut para simpatis. Persarafan dan peredaran darah vesika urinaria. diatur oleh torako lumbar dan kranial dari sistem persarafan otonom.laki uretra bewrjalan berkelok – kelok melalui tengah – tengah prostat kemudian menembus lapisan fibrosa yang menembus tulang pubis kebagia penis panjangnya ± 20 cm. 4. Bila terjadi kerusakan pada saraf – saraf tersebut maka akan terjadi inkontinensia urin (kencing keluar terus – menerus tanpa disadari) dan retensi urine (kencing tertahan). Uretra kavernosa . Uretra membranosa 3. Akibatnya akan terjadi reflek kontraksi dinding kandung kemih. Uretra pada laki – laki terdiri dari : 1. URETRA Uretra merupakan saluran sempit yang berpangkal pada kandung kemih yang berfungsi menyalurkan air kemih keluar. kontrol volunter ini hanya dapat terjadi bila saraf – saraf yang menangani kandung kemih uretra medula spinalis dan otak masih utuh.

fosfat dan sulfat . Urine (Air Kemih) 1. Lapisan uretra pada wanita terdiri dari Tunika muskularis (sebelah luar). tergantung pada diet (sayur menyebabkan reaksi alkalis dan protein memberi reaksi asam). amoniak dan kreatinin . dan lapisan submukosa.Jumlah eksresi dalam 24 jam ± 1. Komposisi air kemih . NH3.500 cc tergantung dari masuknya (intake) cairan serta faktor lainnya.Baerat jenis 1. urobilin) . diet obat – obatan dan sebagainya. dan lapisan mukosa (lapisan sebelah dalam).Air kemih terdiri dari kira – kira 95 % air . lapisan spongeosa merupakan pleksus dari vena – vena. kalsium. Sifat – sifat air kemih .Pigmen (bilirubin.Lapisan uretra laki – laki terdiri dari lapisan mukosa (lapisan paling dalam).Warna bening muda dan bila dibiarkan akan menjadi keruh. Uretra pada wanita terletak dibelakang simfisis pubisberjalan miring sedikit kearah atas. .Toksin .Reaksi asam bila terlalu lama akan menjadi alkalis. . . panjangnya ± 3 – 4 cm. bikarbonat. C.Zat – zat sisa nitrogen dari hasil metabolisme protein asam urea.015 – 1. natrium. .Warna kuning terantung dari kepekatan. 2.Bau khas air kemih bila dibiarkan terlalu lama maka akan berbau amoniak.Muara uretra pada wanita terletak di sebelah atas vagina (antara klitoris dan vagina) dan uretra di sini hanya sebagai saluran ekskresi.Elektrolit.020. .

5 L) yang akhirnya keluar sebagai kemih. b. air. sedangkan sebagian yang tersaring adalah bagian cairan darah kecuali protein. dan sebagian diserap kembali. diteruskan ke seluruh ginja. Namun dari jumlah ini hanya sekitar 1% (1. sodium. Prosesnya terjadi secara pasif yang dikenal dengan obligator reabsorpsi terjadi pada tubulus atas. Proses filtrasi Terjadi di glomerolus. sodium. klorida. klorida. Tahap – tahap Pembentukan Urine a. bikarbonat dll. Sedangkan pada tubulus ginjal bagian bawah terjadi kembali penyerapan dan sodium dan ion karbonat. fosfat dan beberapa ion karbonat. Ketika kandung kemih sudah penuh. urine dikeluarkan dari tubuh melalui uretra.Hormon 3. .. 4. Proses reabsorpsi Terjadi penyerapan kembali sebagian besar dari glukosa. Cl-. Augmentasi (Pengumpulan) Proses ini terjadi dari sebagian tubulus kontortus distal sampai tubulus pengumpul. Setiap harinyadapat terbentuk 150 – 180L filtart. sulfat. dan urea sehingga terbentuklah urine sesungguhnya. cairan yang tersaring ditampung oleh simpai bowman yang terdiri dari glukosa. Pada tubulus pengumpul masih terjadi penyerapan ion Na+. penyerapannya terjadi secara aktif dikienal dengan reabsorpsi fakultatif dan sisanya dialirkan pada pupila renalis. c. Dari ureter. Dari tubulus pengumpul. proses ini terjadi karena permukaan aferent lebih besar dari permukaan aferent maka terjadi penyerapan darah. bila diperlukan akan diserap kembali kedalam tubulus bagian bawah. urine yang dibawa ke pelvis renalis lalu di bawa ke ureter. Mekanisme Pembentukan Urine Dari sekitar 1200ml darah yang melalui glomerolus setiap menit terbentuk 120 – 125ml filtrat (cairan yang telah melewati celah filtrasi). urine dialirkan menuju vesika urinaria (kandung kemih) yang merupakan tempat penyimpanan urine sementara.

Protein dapat menentukan jumlah urine yang dibentuk. Diet dan Asupan (intake) Jumlah dan tipe makanan merupakan faiKtcw utama yang memengaruhi output urine (jumlah urine). Stres Psikologis Meningkatnya stres dapat mengakibatkan meningkatnya frekuensi keinginan berkemih. Mikturisi Peristiwa penggabungan urine yang mengalir melui ureter ke dalam kandung kemih. Hilangnya tonus otot vesika urinaria menyebabkan kemampuan pengontrolan berkemih menurun dan kemampuan tonus otot didapatkan dengan beraktivitas. keinginan untuk buang air kecil disebabkan penanbahan tekanan di dalam kandung kemih dimana saebelumnmya telah ada 170 – 23 ml urine. yang lebih memiliki mengalami kesulitan untuk mengontrol buang air kecil. Hal ini karena meningkatnya sensitivitas untuk keinginan berkemih dan jumlah urine yang diproduksi. gerakannya oleh kontraksi otot abdominal yang menekan kandung kemih membantu mengosongkannya. 3. 5.. Tingkat Aktivitas Eliminasi urine membutuhkan tonus otot vesika urinaria yang baik untuk fungsi sfingter. reaksinya sedikit asam terhadap lakmus dengan pH rata – rata 6. 2. 6. Miktruisi merupakan gerak reflek yang dapat dikendalikan dan dapat ditahan oleh pusat – pusat persyarafan yang lebih tinggi dari manusia.4. Tingkat Perkembangan Tingkat pertumbuhan dan perkembangan juga dapat memengaruhi pola berkemih. Ciri – ciri Urine Normal Rata – rata dalam satu hari 1 – 2 liter. baunya tajam. Respons Keinginan Awal untuk Berkemih Kebiasaan mengabaikan keinginan awal untuk berkemih dapat menyebabkan urine banyak tertahan di dalam urinaria sehingga memengaruhi ukuran vesika urinaria dan jumlah urine. I-Ial tersebut dapat ditemukan pada anak. 5. juga dapat meningkatkan pembentukan urine. Gaya Hidup Perubahan gaya hidup dapat memengaruhi pemenuhan kebutuhan eliminasi dalam kaitannya terhadap tersedianva fasilitas toilet. Selain itu. Warnanya bening oranye pucat tanpa endapan. 4. tapi berbeda – beda sesuai dengan jumlah cairan yang masuk. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Eliminasi Urine 1. Namun dengan usia kemampuan dalam mengontrol buang airkecil .

7.lain itu tindakan sistoskopi dapat menimbulkan edema lokal pada uretra yang dapat mengganggu pengeluaran urine.dangkan pemberian obat antikolinergik dan antihipertensi dapat menyebabkan retensi urine. Ketiganya sangat berperan dalam kontraksi pengontirolan pengeluaran urine. yang dapat membatasi jumlah asupan sehingga mengurangi produksi urine. otot abdomen dan pelvis. perubahan pola urine (frekuensi. Pembedahan Efek pembedahan dapat menye. Batu .kelainan pada sistem perkemihan Masalah-masalah dalam Eliminasi Masalah-masalahnya adalah : retensi. Obstruksi . 13. Penyebab umum masalah ini adalah : . Misalnya pemberian diure.tik dapat meningkatkan jumlah urine. khususnya prosedur-prosedur yang berhubungan dengan tindakan pemeriksaan saluran kemih seperti IVY (intra uenus pyelogram). Retensi a) Adanya penumpukan urine didalam kandung kemih dan ketidak sanggupan .babkan penurunan pemberian obat anestesi menurunkan filtrasi glomerulus yang dapat jumlah produksi urine karena dampak dari 12. Tonus Otot Tonus otot yang memiliki peran penting dalam membantu proses berkemih adalah otioti kandung kemih. Infeksi . 11. Kondisi Penyakit Kondisi penyakit dapat memengaruhi produksi urine. Se. Kelainan. enuresis. inkontinensia urine. keinginan (urgensi). seperti diabetes melitus. se. seperti adanya kultur pada masyarakat tertentu yang meaarang untuk buang air kecil di tempat tertentu9. Masalah-masalah lain. Pemeriksaan Diagnostik Pemeriksaan diagnostik ini juga dap'at memengaruhi kebutuhan eliminasi urine. 8. 1. Sosiokultural Budaya dapat memengaruhi pemenuhan kebutuhan eliminasi urine. Kebiasaan Seseorang Seseorang yang memiliki kebiasaan berkemih di mengalamikesulitan untuk berkemih dengan melalui urineal/pot urine bila dalam keadaan sakit. Pertumbuhan jaringan abnormal . 10. poliurine dan urine suppression). Pengobatan Pemberian tindakan pengobatan dapat berdampak pada terjadinya peningkatan atau penurunan proses perkemihan.

trauma pada kandung . meningkatnya frekuensi berkemih. e) Dalam keadaan distensi. Inkontinensi urine a) Ketidaksanggupan sementara atau permanen otot sfingter eksterna untuk mengontrol keluarnya urine dari kandung kemih b) Jika kandung kemih dikosongkan secara total selama inkontinensia sampai inkontinensi komplit c) Jika kandung kemih tidak secara total dikosongkan selama inkontinensia sampai inkontinensi sebagian Penyebab Inkontinensi a) Proses ketuaan b) Pembesaran kelenjar prostat c) Spasme kandung kemih d) Menurunnya kesadaran e) Menggunakan obat narkotik sedative I. Perubahan pola berkemih 1. b) Menyebabkan distensi kandung kemih c) Normal urine berada di kandung kemih 250 – 450 ml d) Urine ini merangsang refleks untuk berkemih. tetapi ini tidak akibat meningkatnya intake cairan.kandung kemih untuk mengosongkan diri. b) Distensi kandung kemih c) Ketidak sanggupan unutk berkemih. 1. Dysuria a) Adanya rasa sakit atau kesulitan dalam berkemih b) Dapat terjadi karena : striktura urethra. infeksi perkemihan. 1. Frekuensi a) Normal. f) Meningkatnya keresahan dan keinginan berkemih. kandung kemih dapat menampung urine sebanyak 3000 – 4000 ml urine Tanda-tanda klinis retensi a) Ketidaknyamanan daerah pubis. Urgency a) Adalah perasaan seseorang untuk berkemih b) Sering seseorang tergesa-gesa ke toilet takut mengalami inkontinensi jika tidak berkemih c) Pada umumnya anak kecil masih buruk kemampuan mengontrol sfingter eksternal. karena meningkatnya cairan b) Frekuensi tinggi tanpa suatu tekanan intake cairan dapat diakibatkan karena cystitis c) Frekuensi tinggi pada orang stress dan orang hamil d) Canture / nokturia – meningkatnya frekuensi berkemih pada malam hari. 2. d) Sering berkeih dalam kandung kemih yang sedikit (25 – 50 ml) e) Ketidak seimbangan jumlah urine yang dikelurakan dengan intakenya.

pemeriksaan darah meliputi : HB. dan osmolalitas. Urografi ekskretorius 9. fosfat. kalium. Protein. 2. Urinari suppresi a) Adalah berhenti mendadak produksi urine b) Secara normnal urine diproduksi oleh ginjal secara terus menerus pada kecepatan 60 – 120 ml/jam (720 – 1440 ml/hari) dewasa c) Keadaan dimana ginjal tidak memproduksi urine kurang dari 100 ml/hari disanuria d) Produksi urine abnormal dalam jumlah sedikit oleh ginjal disebut oliguria misalnya 100 – 500 ml/hari e) Penyebab anuria dan oliguria : penyakit ginjal. dan Klorida. 3. warna. arteriogram ginjal 5. Pemeriksaan penunjang 1. dan magnesium meningkat. Bikokarbonat. J. dehidrasi dan hilangnya berat badan. Ph. Kebiasaan berkemih Pengkajian ini meliputi bagaimana kebisaan berkemih serta hambatannya. EKG 6. Pengkajian Keperawatan Pengkajian pada kebutuhan elimiasi urine meliputi : 1.500 ml/hari. Frekuensi berkemih tergatung pada kebiasaan dan kesempatan. CT Scan 7.kemih dan urethra. Pola berkemih • frekuensi berkemih frekuesi berkemih menentuka berapa kali individu berkemih dalam waktu 24 jam • Urgensi . Banyak orang berkemih setiap hari pada waktu bangun tidur dan tidak memerlukan waktu untuk berkemih pada waktu malam hari. Berat Jenis. tanpa adanya peningkatan intake cairan b) Dapat terjadi karena : DM. kegagalan jantung. seperti 2. SDM. penyakit ginjal kronik c) Tanda-tanda lain adalah : polydipsi. pencitraan radionuklida. defisiensi ADH. Pemeriksaan Urine meliputi Volime. Endourologi 8. 2. pemeriksaan ultrasound ginjal 4. warna tambahan. 1. luka bakar dan shock. Polyuria a) Produksi urine abnormal dalam jumlah besar oleh ginjal. sistouretrogram berkemih Askep masalah kebutuhan eliminasi urine Asuhan Keperawatan pada Masalah Kebutuhan Eliminasi Urine A. 1. Natrium.

darah. defisiensi ADH. Keadaan ini ditemukan pada striktur uretra. tetapi bila produksiya atara 100 – 500 ml/hari dapat dikataka sebagai oliguria. kejerihan. • Poliuria Keadaan produksi urine yang abnormal yang jumlahnya lebih besar tanpa adanya peingkata asupa caira. Inkontinensia fungsional b/d penurunan isyarat kandung kemih§ dan kerusakan kemampuan untuk mengenl isyarat akibat cedera atau kerusakan k. pH. bau. Perubahan pola eliminasi urine b/d Ketidakmampuan salura kemih akibat anomali saluran urinaria Penurunan kapsitas atau iritasi kandung kemih akibat penyakit§ Kerusakan pada saluran kemih§ Efek pembedahan pada saluran kemih§ 2. da pen yakit kronis ginjal.Perasaan seseorang untuk berkemih seperti seseorang ke toilet karena takut megalami inkotinensia jika tidak berkemih • Disuria Keadaan rasa sakit atau kesulitan saat berkemih. Tanda klinis gangguan elimiasi urine seperti retensi urine. B. 4. spinalis . protei. • Tingkat aktivitas 5. Diagnosa Keperawatan Diagosa keperawata yang terjadi pada masalah kebutuhan eliminasi urine adalah sebagai berikut : 1. Volume urine volume urine menentukan berapa jumlah urine yang dikeluarka dalam waktu 24 jam. Keadaan urine Keadaan urie meliputi : warna. 6. sedangka kopi dapat meningkatkan jumlah urine • gaya hidup • stress psikologi dapat meingkatka frekuensi keinginan berkemih. glukosa. trauma pada vesika urinaria. Kemih kerusakan mobilitas§ kehilangan kemampuan motoris dan sensoris§ 3. Inkontinensia refleks b/d Gagalnya fungsi rangsang di atas tingkatan arkus refleks akibat cedera pada m. • Urinaria supresi Keadaan produksi urine yang berhenti secara medadak. Keadaan ini dapat terjadi pada penyekit diabetes. infeksi saluran kemih. inkontinensia uirne. Bila produksi urine kurag dari 100 ml/hari dapat dikataka anuria. faktor yang mempengaruhi kebiasaan berkemih • diet da asupan (diet tinngi protei dan natirum) dapat mempengaruhi jumlah urine yang dibentuk. berat jeis. 3.

mencegah infeksi 4. retesi urine b/d adanya hambatan pada sfingter akibat pebyakit striktur. memulihkan self esteem atau mencegah tekanan emosional D. Inkontinensia dorongan b/d Penurunan kapasitas k. pertahankan hidrasi secara optimal 2. mempertahankan integritas kulit 5. memahami arti eliminasi urine 2. resiko terjadinya infeksi salura kemih b/d pemasangan kateter . memberikan asupan secara tepat 8. Rencanakan Tindakan : 1. mengembalikan fungsi kandung kemih 7. ajarkan pola berkemih terencana (untuk mengatasi kontraksi kandung kemih yang tidak biasa) . membantu mengosongkan kandung kemih secara penuh 3. ajarkan untuk meningkatkan kapasitas kandung kemih dengan cara 3. tanda dan gejala terhadap masalah perubahan eliminasi urine. memberikan rasa nyaman 6. monitor/obervasi perubahan faktor. Inkontinensia stress b/d Tingginya tek. resiko perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit b/d gangguan drainase ureterostomi. retensi dan urgensia 2. tindakan pembedahan. faktor penuaan 7. C. kurangi faktor yang mempengaruhi/penyebab masalah 3. lakukan kateterisasi urine Inkontinensia dorongan 1.4. Perencanaan Keperawatan Tujuan : 1. trauma. perubahan body image b/d inkontinensia dan enuresis 9. Kemih akibat penyakit infeksi. mencegah kerusakan kulit 9. Inkontinensia total b/d Defisit komnikasi atau persepsi 6. monitor terus perubahan retensi urine 4. kebersihan perineum yang kurang 10. Intraabdimibal dan lemahnya otor peviks akibat kehamilan§ Penurunan tonus otot 5. BHP 8.

tajam dan berulang 2. dengan berkemih seperti : mekanisme supra pubis kutaneus 1. kencangkan otot-otot belakang dan depan dalam waktu 10 detik. apabila belum berhasil. pertahankan jumlah cairan dan berkemih 2. lakukan hal berikut ini selama 2. kehilangan jaringan atau tonus otot. mandi 5. latihan fisik. berarti sudah tidak ada lagi yang dikeluarkan. lakukan kolaborasi dengan tim dokter dalam mengatasi iritasi kandung kemih Inkontinensia total 1. ulangi hingga 10 kalidan lakukan 4 kali sehari 2.3 menit dan berikan jeda waktu 1 menit di antara setiap kegiatan • tekan gland penis • pukul perut di atas ligamen inguinalis . kemudian lepaskan atau rileks. anjurkan untuk menahan sampai waktu berkemih 6. meningkatkan tekanan abdomen dengan cara : • latih untuk menghindari duduk lama • latih untk sering berkemih sedikitnya tiap 2 jam. 3. anjurkan pasien untuk • posisi setengah duduk • mengetuk kandung kemih secara langsug denga rata-rata 7 – 8 kali seiap detik • gunakan sarung tangan • pindahkan sisi rangsangan di atas kandung kemih untuk menentukan posisi saling berhasil • lakukan hingga aliran baik • tunggu kurang lebih 1 menit dan ulangi hingga kandung kemih kosong • apabila rangsangan dua kali lebih dan tidak ada respon. apabila terjadi kegagalan pada latihan kandung kemih pertimbangan untuk pemasangan kateter indweeling Inkontinensia stress kurangi faktor penyebab seperti : 1.4. ketuk supra pubis secara dalam. Inkontinensia fungsional Ajarkan teknik merangsang redleks berkemih. anjurkan berkemih pada saat terjaga seperti setelah makan. rencanakan program kateterisasi intermiten apabila ada indikasi 3. dengan cara : • ajarkan untuk mengidentifikasi otot dasar pelviks dan kekuatan dan kelemahannya saat melakukan latihan • untuk otot dasar pelviks anterior bayangkan anda mencoba menghentikan aliran urine.

asupan dan pengeluaran serta mengetahui fungsi ginjal. Cara pengambilan urine tersebut atara lain : pegambilan urine biasa. etiket khusus Prosedur Kerja 1. mual. 2. muntah E. bertujuan untuk mengeetahui jumlah urine selama 24 jam dan mnegukur berat jenis urine. Tingkatkan higiene perseorangan denga cara 2. pengambilan urine biasa merupaka pengambilan urine dengan cara mengeluarkan urine seperti biasa. ajarkan cara memantau adanya tanda dan ISK. pengambilan urine steril merupakan pengambilan urine dengan cara dengan menggunakan alat steril. d. Tingkatka intergritas diri dan berikan motivasi kemampuan mengontrol kandung kemih. . dengan cara menghindari penggunaan bedpan (pispot). maka pengambilan sampel urine juga dibeda-bedakan sesuai dengan tujuannya. nyeri supra pubis bagian atas. botol penampung beserta penutup 2. Biasanya untuk memeriksa gula atau kehamilan. Pertahakan hidrasi optimal dengan cara b. sepperti : a. bantu untuk BAK. seperti peningkatan suhu. yaitu buang air kecil. Pelaksanaan (tindakan Keperawatan) Pengumpulan Urine untuk bahan pemeriksaan Mengingat tujuan pemeriksaan berbeda-beda. Tingkatkan integritas kulit dengan cara e. pegambila urine steril dan pengumpulan selama 24 jam. bagi pasien yang tidak mampu buang air kecil sendiri. bagi pasien yang mampu BAK sendiri. perubahan keadaan urine. darah dala urine dan perubahan warna 3. Pengambilan urine steril bertujuan mengetahui adanya infeksi pada uretra. pengambilan urine selama 24 jam merupakan pengambilan urine yang dikumpulkan dalam 24 jam. jelaskan cara mengenali perubahan urine yang abnormal seperti adanya peningkatan mukosa. keluarkan urine setelah itu tampung dengan meggunakan botol 4. Pertahankan nutrisi yang adekuat c.• tekan paha bagian dalam 4. 3. catat jumlah asupan dan pengeluaran 5. 1. tingkatkan faktor yang berperan dalam kontinen. ginjal atau saluran kemih lainnya. anjurka pasien untuk BAK dan anjurkan untuk menampung urine ke dalam botol. dilakukan dengan keteterisasi atau pungsi supra pubis. dilakukan dengan menggunakan alat steril. jelaskan prosedur yang akan dilakukan 3. mencuci tangan 2. Alat : 1. jadwalkan program kateterisasi pada saat tertentu Inkontinensia Fungsional 1. nyeri saat berkemih.

minyak pelumas/ gel 5. catat nama dan tanggal pengambilan pemeriksaan 6.5. setelah selesai. sarung tangan steril 2. tisu Prosedur Kerja 1. urinal 2. cuci tangan Menolong untuk buang air kecil dengan menggunakan urinal Menolong BAK dengan menggunakan urinal merupakan tindakan keperawatan dengan membantu pasien yang tidak mampu BAK sendiri dikamar kecil dengan menggunakan alat penampung dengan tujuan menampung urine dan mengetahui kelainan urine (warna dan jumlah) Alat dan bahan : 1. larutan pembersih antiseptik 6. rapikan alat 8. pengalas 3. jelaskna prosedur pada pasine 3. pasang urinal dibawah glutea/pinggul atau diantara kedua paha 6. cuci tangan dan catat warna serta jumlah produksi urine Melakukan kateterisasi Indikasi : Tipe Intermitten o tidak mampu berkemih 8 – 12 jam setelah operasi o retensi akut setelah trauma uretra o tidak mampu berkemih akibat obat sedatif atau analgesik o cedera pada tulang belakang o degenerasi neuromuskular secara progresif o pengeluaran urine residual Tipe Indwelling o obstruksi aliran urine o pasca operasi saluran uretra dan struktur disekitarnya o obstruksi uretra o inkontinensia dan disorientasi berat Alat dan bahan 1. spuit yang berisi cairan . Duk steril 4. kateter steril (sesuai denga ukurannya dan jenis) 3. anjurkan pasien untuk berkemih 7. Cuci tangan 2. pasang alas urinal di baah glutea 4. lepas pakaian bawah pasien 5.

setelah kateter masuk. versihka vulva kapas savlon dari atas ke bawah 8. cuci tangan Menggunakan kondom kateter Menggunakan kondom kateter merupakan tindakan keperawata dengan cara memeberikan kondom kateter pada pasine yang tidak mampu mengontrol berkemih. rapikan alat 13. cuci tangan 2. bengkok 10.7. setelah selesai. pasang duk steril 7. atur ruangaan/ pasang sampiran 4. cuci tangan U/ pasien wanitaØ 1. Alat dan bahan . pasang perlak/alas 5. cuci tangan 2. beri gel pada ujunng kateter lalu masukkan pelan-pelan sambil anjurkan tarik napas. buka labia mayor dengan ibu jari dan telunjuk tangan kiri lalu bersihkan bagian dalam 9. isi balon dengan cairan aquades 11. jelaskan prosedur 3. atur ruangan 4. urinal bag 11. jangan dipaksa 10. perlak dan alasnya 8. pasang duk steril 7. isi balon dengan cairan aquades atau sejenisnya menggunaka spoit 11. Cara ini bertujuan agar pasine dapat berkemih dan mempertahankannya. beri gel pada ujung kateter. pasang perlak/alas 5. lalu masukkan pelan-pelan sambil anjurkan untuk tarik napas 9. pinset anatomi 9. sampiran Prosedur Kerja U/ pasien priaØ 1. jika tertahan. gunakan sarung tangan steril 6. pegang penis dengan tangan sebelah kiri. sambung kateter dengan urobag dan fiksasi ke arah paha 12. hingga urine keluar 10. rapikan alat 13. sambung kateter denga urine bag dan fiksasi ke arah samping 12. jelaskan prosedur 3. gunakan sarung steril 6. lalu preputium ditarik sedikt ke pangkalnya dan bersihkan dengan kapas savlon 8.

pasang perlak/alas 5. ditunjukkan dengan berkurannya distensi. jelaskan prosedur pada klien 3. letakkan batang penis dengan perekat elastis. mencegah infeksi/ bebas dari infeksi. cuci tangan 2. Evaluasi Keperawatan Evaluasi keperaatan terhadap gangguan kebutuhan eliminasi urine secara umum dapat dinilai dari adanya kemampuan dalam : 1. 8. memnerikan pasa nyaman. ditunjukkan dengan berkurangnya frekuensi inkontinensia dan mampu berkemih di saat ingin berkemih. cuci tangan F. urgensi.5 – 5 cm ruang antara glans penis dengan ujung kondom 9. lakukan pemasangan kondom dengan menyisakan 2. 5. frekuensi. dan rasa terbakar 4. pengalas 4. volume urine residu. PROSEDUR PEMASANGAN KATETER 1. atur ruangan/pasang sampiran 4. woven silk dan silikon . mempertahankan intergritas kulit. rapikan alat 12. tidak ditemukan adanya distensi kandung kemih dan adanya ekspresi senang. gunakan sarung tangan 6. mengosongkan kandung kemih. ditunjukkan dengan berkurangnya disuria. air sabun 3. atur posisi klien dengan terlentang 7. tapi jangan terlalu ketat 10. sampiran Prosedur kerja 1. miksi dengan normal. sarung tangan 2. ditunjukkan dengan adanya perineal kering tanpa inflamasi an kulit di sekitar uterostomi kering. bersihkan area genitalia dengan sabun dan bilas dengan air hangat bersih kemudian keringkan. tidak ditemukan adanya disuria. hubungkan ujung kondom kateter dengan saluran urobag 11.1. ditunjukkan dengan kemampuan berkemih sesuai dengan asupan cairan dan pasien mampu berkemih tanpa menggunakan obat. kompresi pada kandung kemih atau kateter. Melakukan Bladder training. ditunjukkan dengan tidak adanya infeksi. metal. dan lancarnya kepatenan drainase 3. kondom kateter 5. 6. Urinal bag 6. 2. Definisi • Kateter adalah pipa untuk memasukkan atau mengeluarkan cairan • Kateter terutama terbuat dari bahan karet atau plastik.

Selimut B. Gass steril c. Tujuan • Untuk segera mengatasi distensi kandung kemih • Untuk pengumpulan spesimen urine • Untuk mengukur residu urine setelah miksi di dalam kandung kemih • Untuk mengosongkan kandung kemih sebelum dan selama pembedahan 3. Aquadest b. Cucing f. Perlak dan pengalasnya m. Usahakan jangan sampai menyinggung perrasaan penderita. Prosedur A. melakukan tindakan harus sopan. Tromol steril berisi b. Tempat spesimen urine jika diperlukan k. Pengetahuan dasar tentang anatomi dan fisiologi dan sterilitas mutlak dibutuhkan dalam rangka tindakan preventif memutus rantai penyebaran infeksi nosokomial b. Bethadine c. Disposable spuit n. perlahan-lahan dan berhati-hati d. Handscoen e. Diharapkan penderita telah menerima penjelasan yang cukup tentang prosedur dan tujuan tindakan . Alkohol 70 % C. Cukup ketrampilan dan berpengalaman untuk melakukan tindakan dimaksud c. Neirbecken g. Doek i. Obat a.• Kandung kemih adalah sebuah kantong yang berfungsi untuk menampung air seni yang be rubah-ubah jumlahnya yang dialirkan oleh sepasang ureter dari sepasang ginjal • Kateterisasi kandung kemih adalah dimasukkannya kateter melalui urethra ke dalam kandung kemih untuk mengeluarkan air seni atau urine. 2. Deppers steril d. Urinebag l. Pinset anatomis h. Alat a. Kateter steril sesuai ukuran yang dibutuhkan j. Petugas a.

Aturlah cahaya lampu sehingga didapatkan visualisasi yang baik 3. deppers terakhir ditinggalkan diantara labia minora dekat clitoris untuk mempertahankan penampakan meatus urethra. tuangkan bethadine secukupnya 4. Pada saat melaksanakan tangan kiri memegang penis sedang tangan kanan memegang pinset dan dipertahankan tetap steril. diulang sekali lagi dan dilanjutkan dengan alkohol. Masukkan katether ke dalam meatus. desinfeksi dimulai dari meatus termasuk glans penis dan memutar sampai pangkal. Kenakan handscoen dan pasang doek lubang pada genetalia penderita 5. Hal ini diulang 3 kali . Penatalaksanaan 1. Siapkan deppers dan cucing . 7. desinfeksi dimulai dari atas (clitoris). Mengambil deppers dengan pinset dan mencelupkan pada larutan bethadine 6. tangan kanan memegang kateter dan memasukkannya secara pelan-pelan dan hati-hati bersamaan penderita menarik . Pada penderita wanita : Jari tangan kiri membuka labia minora. Khusus pada penderita laki-laki gunakan jelly dalam jumlah yang agak banyak agar kateter mudah masuk karena urethra berbelit-belit 8. Menyiapkan penderita : untuk penderita laki-laki dengan posisi terlentang sedang wanita dengan posisi dorsal recumbent atau posisi Sim 2. Lumuri kateter dengan jelly dari ujung merata sampai sepanjang 10 cm untuk penderita laki-laki dan 4 cm untuk penderita wanita. Melakukan desinfeksi sebagai berikut : Pada penderita laki-laki : Penis dipegang dan diarahkan ke atas atau hampir tegak lurus dengan tubuh untuk meluruskan urethra yang panjang dan berkelok agar kateter mudah dimasukkan.D. Penderita Penderita telah mengetahui dengan jelas segala sesuatu tentang tindakan yang akan dilakukan penderita atau keluarga diharuskan menandatangani informed consent E. meatus lalu kearah bawah menuju rektum. bersamaan dengan itu penderita diminta untuk menarik nafas dalam. Untuk penderita laki-laki : Tangan kiri memegang penis dengan posisi tegak lurus tubuh penderita sambil membuka orificium urethra externa.

Melaporkan pelaksanaan dan hasil tertulis pada status penderita yang meliputi : • Hari tanggal dan jam pemasangan kateter • Tipe dan ukuran kateter yang digunakan • Jumlah. Menaruh neirbecken di bawah pangkal kateter sebelum urine keluar. Menaruh nierbecken di bawah pangkal kateter sebelum urine keluar.Mengembangkan balon kateter dengan aquadest steril sesuai volume yang tertera pada label spesifikasi kateter yang dipakai 11. Kaji kelancaran pemasukan kateter jika ada hambatan berhenti sejenak kemudian dicoba lagi. Masukkan kateter sampai urine keluar sedalam 5 – 7.Menempatkan urinebag ditempat tidur pada posisi yang lebih rendah dari kandung kemih 13.blogspot. Untuk penderita wanita : Jari tangan kiri membuka labia minora sedang tangan kanan memasukkan kateter pelan-pelan dengan disertai penderita menarik nafas dalam .5 cm dan selanjutnya dimasukkan lagi +/. jik ada hambatan kateterisasi dihentikan.3 cm. Mengambil spesimen urine kalau perlu 10. kaji kelancaran pemasukan kateter. Masukkan kateter sampai urine keluar sedalam 18 – 23 cm dan selanjutnya dimasukkan lagi +/.html . bau urine dan kelainan-kelainan lain yang ditemukan • Nama terang dan tanda tangan pemasang http://nikadekitapurnama.3 cm. 9.com/p/blog-page_208.Memfiksasi kateter : Pada penderita laki-laki kateter difiksasi dengan plester pada abdomen Pada penderita wanita kateter difiksasi dengan plester pada pangkal paha 12. Jika masih ada tahanan kateterisasi dihentikan. warna.nafas dalam.