ROLE PLAY AMAN NYAMAN

Pemeran :

1. Narator
2. Ibu Sriyant
3. Anak
4. Pak de
5. Buk de
6. Warga 1
7. Perawat 1
8. Perawat 2
9. Dokter
10. Warga 2

Prolog :

Pada malam hari disebuah rumah sakit di Semarang , tepatnya di Rumah Sakit Kariadi .
Malam itu seketka panik karena terdapat dua pasien yang berlumuran darah karena kecelakaan.
Pasien sepasang suami istri bernama Bapak Muryanto yang berumur 40 tahun dan Ibu Sriyant yang
berumur 36 tahun. Namun bapak Muryanto tdak dapat diselamatkan karena pendarahan diotak
akibat benturan dikepala yang sangat kuat tetapi Ibu Sriyant alhamdulillah masih dapat tertolong
dan hanya mengalami luka kecil dibeberapa bagian tubuhnya .

Pada malam hari di rumah sakit Kariadi suasana seketka panik dengan pasien kecelakaan yang baru
masuk pada malam itu, dan langsung dibawa ke ruangan IGD.

Warga1 : “Malam mbak saya warga sekitar yang membawa sepasang pasien yang barusan
saja dibawa ke IGD , segera diberi tndakan sebaik mungkin ya mbak.”

Perawat 2 : “ Ya mbak, perawat dan dokter di dalam sudah langsung memberikan tndakan”

Warga2 : “ Ya mbak sepertnya mereka sepasang suami istri, ini saya tadi sempat mengambil
kartu identtas dan handphone milik mereka mbak.” (Sambil memberikan KTP dan handphone
kepada perawat tersebut)

Perawat 2 : “ Ya terimakasih banyak ya mbak atas bantuannya. Sebentar dari pihak rumah
sakit akan mecoba menghubungi salah satu keluarga pasien.”

Warga 1 : “ Ya mbak terimaksih banyak, kalau begitu kami akan menunggu disini sampai
keluarga pasien datang dan kemudian menjelaskan kepada keluarga serta memberikan barang-
barang milik pasien .”

Perawat2 : “ Kalau begitu saya permisi dulu kembali ke ruangan saya.”

kami akan mengurus jenazah almarhum.. benar sekali beberapa jam yang lalu ada pasien kecelakaan . bu Sriyant sekarang berada dikamar Mawar 110.” (menangis keras) Bude : “Yang ikhlas nduk. jadi kami memindahkan pasien ke ruang perawatan.” Pak de : “Baiklah sus. sedangkan bapak Muryanto masih berada di IGD. Adik saya dirawat diruangan mana ya?” Perawat2 : “ Ya selamat malam pak.Perawat 2 langsung kembali ke ruangan untuk mencoba menghubungi keluarga pasien. apakah bapak saudara dari pasien?” Bu de : “Iya dok benar sekali . mau tanya apakah benar ini kamar Mawar 110? Dokter : “Ya benar pak . Masih ada ibu. bude. Silahkan bapak menunggu di ruang tunggu.” Bude : “Innalillahiwainnailaihirojiun”. terimakasih.” Perawat : “Baik pak. Pak de : “Selamat malam sus. dan sudah ditangani oleh dokter dan beberapa perawat lainnya. Pakde : “ Dok . dan tdak lama kemudian keluarga pasien pun datang dengan keadaan panik. karena Pak Muryanto tdak dapat kami selamatkan. Dan bapak bisa langsung kesana . dokter baru saja keluar ruangan.. (meneteskan air mata) Anak : “Bapaaakk. bapak Muryanto mengalami benturan keras dikepalanya yang menyebabkan pendaharaan di otak. Tetapi kami mohon maaf sebelumnya pak. pakde dan keluarga yang lain.” Setbanya didepan kamar Mawar 110 . kami dari pihak rumah sakit sudah berusaha menangani secepat dan semaksimal mungkin. Bagaimana keadaan adik saya dok ?” (keadaan keluarga panik) Dokter : “Ya jadi begini pak .” . saya kakak kandung dari pasien. Alhamdulillah ibu Sriyant keadaannya sudah membaik dan perlu perawatan lebih lagi. sudah jalannya sepert itu. saya Hartono kakak kandung dari adik saya yang bernama Muryanto pasien kecelakaan yang baru masuk beberapa jam yang lalu. Pak de berjumpa dengan dokter yang baru saja menangani pasien tersebut.” (memeluk anak) Perawat : “Pak bagaimana dengan jenazah Bapak Muryanto? Mau dimandikan di sini atau di rumah saja?” Pakde : “Di rumah saja sus. Sekarang pasien akan dipindakan keruangan rawat pak. Yang sabar ya.

bude dan anak almarhum menuju ke ruang inap untuk melihat keadaan Ibu Sriyant yang sudah sadarkan diri. Bude : “Bagaimana keadaanmu.” Bude : “Cobalah liat kenyataan Sri.” Perawat dan dokter datang karena mendengar keributan di kamar Mawar 110. Sri.” Ibu Sriyant : “Suami saya memang masih hidup kok mbak.” (Sambil mengelus pundak bu Sriyant) . Sri. suamimu memang sudah benar-benar meninggal.” Sembari perawat mengurus jenazah almarhum. sudah jalan dari yang diatas. mas Mur tdak mungkin meninggal.” (menenangkan Ibu Sriyant) Ibu Sriyant : “Apa??? Tidak mungkin mbak. mas Mur mana? Dia tdak apa-apa kan?” Bude : “Yang sabar ya.” Ibu Sriyant : “Aku tdak percaya mbak. Semua yang direncanakan oleh manusia tdak akan bisa menentang rencana dari sang Pencipta.” Bude : “Yasudah. tadi dia masih bersama-sama dengan ku (berusaha bangun dari tempat tdur)” Bude : (menenangkan adiknya) “Tenang Sri. Terimakasih. Mbak past bohong. Dokter : “Maaf permisi. aku yakin mas Mur nant past datang untuk menengokku mbak.” Ibu Sriyant : “Mbak. alhamdulillah. Pakde.” Ibu Sriyant : “Lho mbak sabar kenapa? Suamiku kenapa mbak?” Bude : “Suamimu sudah tenang di alam sana.Pakde : “Baik sus. Sri? Sudah merasa baikan?” Ibu Sriyant : “Sudah mendingan mbak. hidup itu tdak bisa direncanakan. ada apa ini ribut-ribut?” Bude : “Ini mbak perawat adik saya tdak percaya kalau suaminya sudah meninggal. Seseorang yang msih sehat bisa saja beberapa menit kemudia bisa saja meninggal dunia. Semua sudah diatur dan kita hanya bisa menerima kenyataan. ini hanya lecet sedikit. suamiku tdak mungkin meninggal. supaya beliau tenang disana. ini sudah takdirnya.” Perawat : “Begini ibu Sri. Ikhlaskan saja kepergian suami ibu.

bude. . Sri minta diantar untuk melihat suaminya. jangan menyalahkan dokter atau siapapun. anak dibantu dengan perawat kemudian memapah ibu Sriyant kembali ke ruang perawatan.” (Menangis tersedu-sedu) Pakde : “Ada apa ini.” Perawat : “Ibu tenang dulu bu.” Ibu Sriyant : “Kalau dokternya pintar tdak mungkin suamiku keadaannya sepert sekarang. Sekitar satu jam.” Ibu Sriyant kemudian pingsan. saya mau melihatnya. pakde. Bu?” (Panik) Anak : “Ibu kenapa. dan melakukan aktvitas lainnya.” Kemudian ditemani dokter dan perawat.Ibu Sriyant : “Mas Murrrrrrr…. bagaimana kerjanya!!!!!” (teriak dan marah kepada dokter) Bude : “Sri. sudah Sri sudah. Saya mau melihat mas Mur mbak.” Bude : “Sabar sri. bangun mas.” Pakde : “iya. ibu Sriyant akhirnya bangun dan kemudian kembali menangis tersedu-sedu. Kenapa mas meninggalkan aku dan adek sendirian. Kenapa kamu tega meninggalkan aku dan anak kita sendirian mas. Suamiku past masih hidup. ibu Sriyant pu menangis tersedu-sedu sambal memeluk tubuh suaminya.” Ibu Sri : “Mas Murrr…. Ayo kita antar melihat jenazahnya. Aku sama siapa mas sekarang?” Dokter : “Maaf bu. Saya belum percaya kalau belu melihat sendiri keadaannya mbak. Bude?” (ikut menangis) Bude : “Ini pak. Dokter tdak becus. sabar. kami sudah berusaha melakukan yang terbaik dan semaksimal mungkin tetapi suami ibu tdak dapat diselamatkan karena terjadi pendarahan di otak yang cukup parah. Ibu Sriyant : “Masssss.” Ibu Sriyant : “Dokter bagaimana sih? Harusnya dokter bisa menyembuhkan suami saya bukan malah membunuh suami saya. Ini semua kehendak dari Yang Di Atas. tdak mau makan. tdak mau gant baju. ibu Sriyant dan keluarga melihat jenazah pak Mur yang terbujur kaku di ruang jenazah. bangun masssss. Sesampainya diruang jenazah.

jangan begini terus. ibu masih punya aku. Saat waktu makan. Bu.” Ibu Sriyant : “Seharusnya kamarin aku tda keluar dengan mas Mur. Apa kamu tdak ingin cepat pulang dari sini?” Anak : “Iya.” Anak : “Sudah bu. semua sudah ditakdirkan. Perawat : “Selamat pagi Ibu. Ibu harus ikhlas.Bude : “Sri. Pak de : “Sri makan dulu nant kamu sakit..” Kemudian sang anak memeluk ibunya. Perawat yang sedang bertugas pada shift pagi mengecek kondisi Ibu Suryant. Apa kamu tdak merasa kasian dengan anakmu? Makanlah. Kalau akuberada dirumah past kecelakaan ini tdak akn terjadi. ibu Sriyant tetap tdak mau makan. dia juga tdak mau makan dan minum. perkenalkan saya perawat . yang bertugas pada shift pagi ini. Keesokan harinya Ibu Sriyant masih tetap murung dan tdak mau makan ataupun berbicara dengan orang-orang di sekitarnya. tapi tubuhmu itu butuh asupan makanan. dan mas Mur past masih hidup. walaupun kamu tdak merasa lapar. kita ikhlaskan saja kepergian bapak.” (tba-tba menangis) .” (Menangis) Anak : “Bu sudah bu. Bu ayo Ibu makan sedikit.. Jangan sedih buuu. aku merusak konsentrasinya nyetr mas Mur.. dia hanya menatap tembok dengan tatapan kosong.” Ibu Sriyant : (diam) Bude : “Sri kamu gak mau mandi?” Ibu Sriyant : (menggelengkan kepala) Ibu Sriyant tetap tdak menggubris kata-kata sang kakak dan anaknya. gak keluar-keluar dari rumah sakit. namun ibu Sriyant masih saja diam dan tdak berespon.” Ibu Sriyant : “Kenapa sepanjang perjalanan aku mengajak ngobrol mas Mur. Bu? Apa makanannya tdak enak?” Ibu Sriyant : “Saya tdak nafsu makan.. Oh iya ibu bagaimana keadaan Ibu sekarang? Sudah membaik atau belum?” Bude : “Adik saya masih tdak mau berbicara sus.” Perawat : “Oh begitu. Adek tdak mau Ibu sakit terus. Ibu kenapa tdak mau makan..

Perawat : “Ibu jangan sedih lagi ya bu. ibu menjadi sepert ini. Bu. ibu Sriyant dan kakaknya menuju ke administrasi dan kembali ke rumah. Ingat juga anak semata wayang ibu.” Ibu Sriyant : (mulai luluh) “Iya sus.” (tersenyum) Bude : “iya sus terimakasih. Tetap semangat ya bu. Ini semua sudah jalan Yang Di atas.” Setelah perawat keluar dari ruang inap. Almarhum dipulangkan ke kediamannya untuk di doakan bersama keluarga. .” Bude : “Iya. Suasana berduka masih menyelimut keluarga. Keluarga sudah mengikhlaskan kepergian Bapak Muryanto. karena kondisi ibu sudah membaik. ikhlaskan bapak saja bu dan doakan agar bapak diterima di sisi Tuhan Yang maha Esa.” Perawat : “Yang sabar ya. Tidak baik sedih berlarut- larut. ibu diperbolehkan untuk pulang. kasihan dia masih membutuhkan sosok seorang ibu. sekarang waktunya ibu untuk bangkit dan menata kehidupan ibu yang baru bersama anak ibu. saya juga sadar bahwa anak saya masih membutuhkan saya. Jangan hanya karena kepergian suami ibu. saya ingin melihat jasad mas Mur yang terakhir kalinya. Sri kasihan anakmu.” Bude : “Bagaimana Sri kamu mau ikut prosesi pemakaman Mur atau tdak?” Ibu Sriyant : “Iya mbak. Dia masih membutuhkanmu.” Perawat : “Baik Ibu.” Ibu Sriyant : (menangis) “Iya mbak tapi saya masih tdak rela mas Mur pergi secepat itu.