ASUHAN KEPERAWATAN PADA KELUARGA Tn.

K
DENGAN MASALAH KESEHATAN RUMAH SEHAT
DI DUSUN GEDANGAN DESA PUGER KULON
KECAMATAN PUGER
JEMBER

Oleh
Afthon Yazid A, S.Kep.
NIM. 1601032008

PROGRAM STUDI PROFESI NERS
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JEMBER
2017
PERYATAAN PERSETUJUAN

Asuhan Keperawatan pada Keluarga Tn. K dengan Masalah Kesehatan Rumah Sehat
di Dusun Gedangan Desa Pugerkulon Kecamatan Puger Kabupaten Jember.

Jember, 02 Juni 2017
Mengetahui

Pembimbing Akademik Pembimbing Lapangan

Ns. Cahya tri Bagus, S.Kep.M.Kes Ns. Suprayitno, S,Kep.
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Keluarga merupakan orang terdekat dari seseorang yang mengalami gangguan
kesehatan/dalam keadaan sakit. Keluarga juga merupakan salah satu indikator
dalam masyarakat apakah masyarakat sehat atau sakit (Efendi , 1998).
Peran/tugas keluarga dalam kesehatanyang dikembangkan oleh ilmu keperawatan
dalam hal ini adalah ilmu kesehatan masyarakat ( Komunitas ) sangatlah
mempunyai arti dalam peningkatan dalam peran / tugas keluarga itu sendiri.
Perawat diharapkan mampu meningkatkan peran keluarga dalam mengatasi
masalah kesehatan keluarga.( Friedman,ed3, 1998 : 145 ) Peran keluarga dalam
mengenal masalah kesehatan yaitu mampu mengambil keputusan dalam
kesehatan, Ikut merawat anggota keluarga yang sakit, memodifikasi lingkungan,
dan memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada sangatlah penting dalam
mengatasi kecemasan klien.(Friedman,2003146).
Penanggulangan Injecting Drug User (IDU) memang cukup sulit, perlu
diperhatikan dari berbagai aspek, misalnya ketersediaan sarana kesehatan publik,
hukuman bagi pengguna, pengedar dan berbagai cara yang lain.
Cara yang dapat dilakukan adalah melalui pendekatan keluarga. Keluarga
merupakan lingkungan terkecil bagi seorang IDU. Kasih sayang orang tua akan
menyebabkan pengguna merasa bahwa dirinya masih ada yang memperhatikan,
merasa dihargai dan dibutuhkan. Dengan kasih sayang orang tua diharapkan
menjadi manusia yang dapat diterima oleh masyarakat (Abu ahmadi, 2002 : 106).
Ada dua persepsi berbeda yang cukup menarik ketika kita mendengar ungkapan
atau semboyan “Menuju Indonesia Sehat 2010”, pertama adalah jelas bahwa di
tahun 2010 diharapkan mayoritas penduduk Indonesia berada pada kondisi sehat
dalam konteks kesehatan pada umumnya baik lahir maupun batin, dan kedua
adalah di tahun 2010 nanti Negara Kesatuan Republik Indonesia menjadi sebuah
negara yang sehat dan kuat sehingga dapat melindungi dan mensejahterakan
seluruh penduduknya dalam pemenuhan hak-hak Sipol (sipil dan politik) dan
juga hak-hak Ekosob (ekonomi, sosial, dan budaya), namun para perawat di
Indonesia tetap dapat berperan sesuai dengan kompetensi yang dimiliki walau
apapun persepsinya, namun dalam tulisan ini saya akan lebih banyak membahas
peran perawat dari perspektif yang pertama yaitu dalam konteks kesehatan dan
ilmu keperawatan.
Sebelum membahas lebih jauh mengenai peran perawat menuju Indonesia yang
sehat, sangat baik bila kita lebih dulu mengetahui definisi dari sehat itu sendiri.
Setiap individu memiliki pengertian dan persepsi yang berbeda mengenai sehat.
Pada masa lalu sebagian besar individu dan masyarakat memandang kesehatan
yang baik atau kesejahteraan sebagai suatu kondisi kebalikan dari penyakit atau
kondisi tidak adanya penyakit (Potter dan Perry, 1997).
Namun dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan kompleksnya
pemahaman tentang kesehatan dengan berbagai pendekatan, saat ini pengertian
sehat mulai dipandang dengan perspektif yang semakin luas.
Aspek sehat menjadi lebih luas antara lain dengan memasukkan elemen-elemen
seperti rasa memiliki kekuasaan, hubungan kasih sayang, semangat hidup,
jaringan dukungan sosial yang kuat, rasa berarti dalam hidup, atau tingkat
kemandirian tertentu (Haber, 1994).
Neuman (1990) berpendapat bahwa “sehat dalam suatu rentang adalah tingkat
sejahtera klien pada waktu tertentu, yang terdapat dalam rentang dari kondisi
sejahtera yang optimal, dengan energi yang paling maksimum, sampai kondisi
kematian, yang menandakan habisnya energi total.” Model ini disebut dengan
model kontinum sehat sakit yang menyatakan bahwa sehat bersifat dinamis yang
berubah setiap waktu sesuai dengan adaptasi individu terhadap berbagai
perubahan eksternal maupun internal yang bertujuan untuk mempertahankan
keadaan fisik, emosional, intelektual, perkembangan, sosial, dan spiritual.
Sedangkan sakit adalah proses dimana individu mengalami kemunduran fungsi
dalam satu dimensi atau lebih kehidupannya bila dibandingkan dengan keadaan
individu tersebut sebelumnya. Karena sehat dan sakit memiliki kualitas yang
relatif maka sebaiknya ditentukan dengan titik tertentu pada skala yang kontinum
antara sehat-sakit, dan keadaan sehat atau sakit seseorang harus lebih dikaitkan
dengan nilai-nilai, kepribadian, dan gaya hidup seseorang daripada diukur
dengan berbagai standar yang absolute.
Tahun 2010 nanti juga diharapkan penduduk Indonesia tidak lagi menemukan
hambatan yang berarti dalam menjangkau pelayanan kesehatan baik itu dalam
hal ekonomi atau biaya maupun yang bersifat non-ekonomi seperti jarak
pelayanan kesehatan yang semakin dekat sehingga memudahkan klien yang
membutuhkannya. Dalam hal ini perawat dapat menggunakan metode kunjungan
ke rumah-rumah klien yang membutuhkan pelayanan kesehatan ataupun dengan
menggunakan kemajuan teknologi untuk mempermudah komunikasi seperti
pesawat telepon maupun video conference yang memang belum begitu
berkembang di Indonesia. Selain itu, perawat juga harus menambah
pengetahuannya dengan terus menuntut ilmu ke jenjang yang lebih tinggi guna
meningkatkan kualitas pelayanannya.
Perilaku sehat dan lingkungan yang sehat serta ditunjang dengan fasilitas
kesehatan yang memadai dan kemampuan klien untuk mendapatkan pelayanan,
akan membuat derajat kesehatan juga meningkat.
Kondisi di Indonesia sekarang memang sangat memprihatinkan dan
sesungguhnnya merupakan tantangan yang sangat besar sekaligus kesempatan
bagi para perawat Indonesia untuk menampilkan eksistensinya sebagai profesi
kesehatan yang senantiasa memberikan pelayanan sesuai dengan peran-peran
yang telah penulis sebutkan di paragraf sebelumnya.
Namun perlu diakui bahwa untuk mencapai indikator Indonesia yang sehat di
tahun 2010 nanti bukanlah suatu pekerjaan yang mudah, apalagi kita dihadapkan
dengan beberapa masalah internal di dalam tubuh profesi perawat itu sendiri.
Menjadi perdebatan yang tidak berkesudahan ialah tentang standar pendidikan
perawat yang sangat variatif yang menyebabkan kualitas lulusan perawat
sangatlah beragam di setiap daerahnya sehingga cukup sulit untuk menetapkan
standar kompetensi di tingkat nasional, adapun masalah yang sebenarnya sangat
penting namun mulai mendapatkan respon negatif di dalam tubuh profesi ini
adalah tentang belum tersedianya sebuah Undang-undang Keperawatan sebagai
paying hukum untuk melindungi para perawat supaya seluruh asuhan
keperawatan yang dilakukan oleh perawat menjadi legal dan tidak rancu dengan
tindakan dari profesi kesehatan lainnya.
Salah satu aspek yang penting dalam keperawatan adalah keluarga karena
keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat. Keluarga memiliki peran
yang sangat penting dalam menentukan cara asuhan yang diperlukan anggota
keluarga yang sakit. Keluarga juga menempati posisi di antara individu dan
masyarakat, sehingga dengan memberikan pelayanan kesehatan kepada keluarga,
perawat dapat mendapatkan keuntungan dua sekaligus yaitu memenuhi
kebutuhan individu dan memenuhi kebutuhan masyarakat dimana keluarga itu
berada.
Kesehatan lingkungan dalam keluarga sangat penting sehingga tercipta rumah
yang sehat. Untuk terciptanya rumah yang sehat perlu peran serta perawat
kesehatan komunitas, sehingga tercipta derajat kesehatan yang tinngi didalam
kelurga maupun masyarakat.
Rumah sehat adalah rumah yang layak dihuni, tidak harus berwujud rumah
mewah dan besar sehingga penghuni/masyarakat memperoleh derajat kesehatan
yang optimal. Rumah sehat dapat diartikan sebagai tempat berlindung, bernaung,
dan tempat untuk beristirahat, sehingga menumbuhkan kehidupan yang sempurna
baik fisik, rohani, maupun social.(Prabu, 2009)
Dari hasil pengkajian dari 100 rumah penduduk yang ada didesa suci kecamatan
panti, 82% rumah penduduk belum memenuhi rumah sehat, itu disebabkan
karena ventilasi yang kurang, 78,05% jendela patent tidak bias dibuka, keadaan
rumah lembab, pencahayaan tidak terjamin. Selain itu hampir seluruh penduduk
tidak punya jamban, 60% buang sampah disungai
Berkaitan dengan praktek keperawatan komunitas yang sudah dimulai, maka
dilaksanakan penerapan asuhan keperawatan keluarga kepada keluarga/ klien
yang memiliki resiko tinggi terhadap kesehatan. Salah satunya adalah asuhan
keperawatan keluarga pada keluarga Tn. K.
B. Tujuan
1. Tujuan umum
Mengetahui asuhan keperawatan Tn, K dengan masalah kesehatan rumah
sehat di dusun Gedangan desa Puger Kulon kecamatan Puger Kabupaten
Jember
2. Tujuan khusus
a. Mengetahui pengertian rumah sehat
b. Mengetahui pengertian keluarga
c. Melaksanakan asuhan keperawatan dengan masalah kesehatan rumah
sehat
C. Manfaat
1. Bagi peneliti
Memberikan pengetahuan yang lebih tentang asuhan keperawatan keluarga
dengan masalah kesehatan rumah sehat.
2. Bagi keluarga/pasien
Memberikan akses informasi kesehatan tentang rumah sehat
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. KONSEP DASAR KESEHATAN LINGKUNGAN
Ada beberapa definisi dari kesehatan lingkungan :
1. Menurut WHO (World Health Organization), kesehatan lingkungan adalah
suatu keseimbangan ekologi yang harus ada antara manusia dan lingkungan
agar dapat menjamin keadaan sehat dari manusia.1
2. Menurut HAKLI (Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia)
kesehatan lingkungan adalah suatu kondisi lingkungan yang mampu
menopang keseimbangan ekologi yang dinamis antara manusia dan
lingkungannya untuk mendukung tercapainya kualitas hidup manusia yang
sehat dan bahagia.

Ruang lingkup kesehatan lingkungan
Menurut World Health Organization (WHO) ada 17 ruang lingkup kesehatan
lingkungan, yaitu : Penyediaan Air Minum, Pengelolaan air Buangan dan
pengendalian pencemaran, Pembuangan Sampah Padat, Pengendalian Vektor,
Pencegahan/pengendalian pencemaran tanah oleh ekskreta manusia, Higiene
makanan, termasuk higiene susu, Pengendalian pencemaran udara, Pengendalian
radiasi, Kesehatan kerja, Pengendalian kebisingan, Perumahan dan pemukiman,
Aspek kesling dan transportasi udara, Perencanaan daerah dan perkotaan,
Pencegahan kecelakaan, Rekreasi umum dan pariwisata, Tindakan-tindakan
sanitasi yang berhubungan dengan keadaan epidemi/wabah, bencana alam dan
perpindahan penduduk, Tindakan pencegahan yang diperlukan untuk menjamin
lingkungan.
Di Indonesia, ruang lingkup kesehatan lingkungan diterangkan dalam Pasal 22
ayat (3) UU No 23 tahun 1992 ruang lingkup kesling ada 8, yaitu : Penyehatan Air
dan Udara, Pengamanan Limbah padat/sampah, Pengamanan Limbah cair,
Pengamanan limbah gas, Pengamanan radiasi, Pengamanan kebisingan,
Pengamanan vektor penyakit, Penyehatan dan pengamanan lainnya, sepeti keadaan
pasca bencana.
Sasaran kesehatan lingkungan
Menurut Pasal 22 ayat (2) UU 23/1992, Sasaran dari pelaksanaan kesehatan
lingkungan adalah sebagai berikut :
1. Tempat umum : hotel, terminal, pasar, pertokoan, dan usaha-usaha yang
sejenis
2. Lingkungan pemukiman : rumah tinggal, asrama/yang sejenis
3. Lingkungan kerja : perkantoran, kawasan industri/yang sejenis
4. Angkutan umum : kendaraan darat, laut dan udara yang digunakan untuk
umum
5. Lingkungan lainnya : misalnya yang bersifat khusus seperti lingkungan yang
berada dlm keadaan darurat, bencana perpindahan penduduk secara besar2an,
reaktor/tempat yang bersifat khusus

Masalah-masalah kesehtan lingkungan di Indonesia

Masalah Kesehatan lingkungan merupakan masalah kompleks yang untuk
mengatasinya dibutuhkan integrasi dari berbagai sector terkait. Di Indonesia
permasalah dalam kesehatan lingkungan antara lain :

1. Air Bersih
Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang
kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah
dimasak. Air minum adalah air yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan
dan dapat langsung diminum.
Syarat-syarat Kualitas Air Bersih diantaranya adalah sebagai berikut :
Syarat Fisik : Tidak berbau, tidak berasa, dan tidak berwarna
Syarat Kimia : Kadar Besi : maksimum yang diperbolehkan 0,3 mg/l,
Kesadahan (maks 500 mg/l)
Syarat Mikrobiologis : Koliform tinja/total koliform (maks 0 per 100 ml air)

2. Pembuangan Kotoran/Tinja
Metode pembuangan tinja yang baik yaitu dengan jamban dengan syarat
sebagai berikut :
a. Tanah permukaan tidak boleh terjadi kontaminasi
b. Tidak boleh terjadi kontaminasi pada air tanah yang mungkin memasuki
mata air atau sumur
c. Tidak boleh terkontaminasi air permukaan
d. Tinja tidak boleh terjangkau oleh lalat dan hewan lain
e. Tidak boleh terjadi penanganan tinja segar ; atau, bila memang benar-
benar diperlukan, harus dibatasi seminimal mungkin
f. Jamban harus babas dari bau atau kondisi yang tidak sedap dipandang
g. Metode pembuatan dan pengoperasian harus sederhana dan tidak mahal.
3. Kesehatan Pemukiman
Secara umum rumah dapat dikatakan sehat apabila memenuhi kriteria sebagai
berikut :
a. Memenuhi kebutuhan fisiologis, yaitu : pencahayaan, penghawaan dan
ruang gerak yang cukup, terhindar dari kebisingan yang mengganggu
b. Memenuhi kebutuhan psikologis, yaitu : privacy yang cukup, komunikasi
yang sehat antar anggota keluarga dan penghuni rumah
c. Memenuhi persyaratan pencegahan penularan penyakit antarpenghuni
rumah dengan penyediaan air bersih, pengelolaan tinja dan limbah rumah
tangga, bebas vektor penyakit dan tikus, kepadatan hunian yang tidak
berlebihan, cukup sinar matahari pagi, terlindungnya makanan dan
minuman dari pencemaran, disamping pencahayaan dan penghawaan
yang cukup
d. Memenuhi persyaratan pencegahan terjadinya kecelakaan baik yang
timbul karena keadaan luar maupun dalam rumah antara lain persyaratan
garis sempadan jalan, konstruksi yang tidak mudah roboh, tidak mudah
terbakar, dan tidak cenderung membuat penghuninya jatuh tergelincir.
4. Pembuangan Sampah
Teknik pengelolaan sampah yang baik dan benar harus memperhatikan faktor-
faktor /unsur, berikut:
a. Penimbulan sampah. Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi sampah
adalah jumlah penduduk dan kepadatanya, tingkat aktivitas, pola
kehidupan/tk sosial ekonomi, letak geografis, iklim, musim, dan
kemajuan teknologi
b. Penyimpanan sampah
c. Pengumpulan, pengolahan dan pemanfaatan kembali
d. Pengangkutan
e. Pembuangan
f. Dengan mengetahui unsur-unsur pengelolaan sampah, kita dapat
mengetahui hubungan dan urgensinya masing-masing unsur tersebut agar
kita dapat memecahkan masalah-masalah ini secara efisien.
5. Serangga dan Binatang Pengganggu
Serangga sebagai reservoir (habitat dan suvival) bibit penyakit yang kemudian
disebut sebagai vektor misalnya : pinjal tikus untuk penyakit pes/sampar,
Nyamuk Anopheles sp untuk penyakit Malaria, Nyamuk Aedes sp untuk
Demam Berdarah Dengue (DBD), Nyamuk Culex sp untuk Penyakit Kaki
Gajah/Filariasis. Penanggulangan/pencegahan dari penyakit tersebut
diantaranya dengan merancang rumah/tempat pengelolaan makanan dengan
rat proff (rapat tikus), Kelambu yang dicelupkan dengan pestisida untuk
mencegah gigitan Nyamuk Anopheles sp, Gerakan 3 M (menguras mengubur
dan menutup) tempat penampungan air untuk mencegah penyakit DBD,
Penggunaan kasa pada lubang angin di rumah atau dengan pestisida untuk
mencegah penyakit kaki gajah dan usaha-usaha sanitasi.Binatang pengganggu
yang dapat menularkan penyakit misalnya anjing dapat menularkan penyakit
rabies/anjing gila. Kecoa dan lalat dapat menjadi perantara perpindahan bibit
penyakit ke makanan sehingga menimbulakan diare. Tikus dapat
menyebabkan Leptospirosis dari kencing yang dikeluarkannya yang telah
terinfeksi bakteri penyebab.
6. Makanan dan Minuman
Sasaran higene sanitasi makanan dan minuman adalah restoran, rumah makan,
jasa boga dan makanan jajanan (diolah oleh pengrajin makanan di tempat
penjualan dan atau disajikan sebagai makanan siap santap untuk dijual bagi
umum selain yang disajikan jasa boga, rumah makan/restoran, dan hotel).
Persyaratan hygiene sanitasi makanan dan minuman tempat pengelolaan
makanan meliputi :
a. Persyaratan lokasi dan bangunan
b. Persyaratan fasilitas sanitasi
c. Persyaratan dapur, ruang makan dan gudang makanan
d. Persyaratan bahan makanan dan makanan jadi
e. Persyaratan pengolahan makanan
f. Persyaratan penyimpanan bahan makanan dan makanan jadi
g. Persyaratan peralatan yang digunakan
h. Pencemaran Lingkungan
Pencemaran lingkungan diantaranya pencemaran air, pencemaran tanah,
pencemaran udara. Pencemaran udara dapat dibagi lagi menjadi indoor air
pollution dan out door air pollution. Indoor air pollution merupakan problem
perumahan/pemukiman serta gedung umum, bis kereta api, dll. Masalah ini
lebih berpotensi menjadi masalah kesehatan yang sesungguhnya, mengingat
manusia cenderung berada di dalam ruangan ketimbang berada di jalanan.
Diduga akibat pembakaran kayu bakar, bahan bakar rumah tangga lainnya
merupakan salah satu faktor resiko timbulnya infeksi saluran pernafasan bagi
anak balita. Mengenai masalah out door pollution atau pencemaran udara di
luar rumah, berbagai analisis data menunjukkan bahwa ada kecenderungan
peningkatan. Beberapa penelitian menunjukkan adanya perbedaan resiko
dampak pencemaran pada beberapa kelompok resiko tinggi penduduk kota
dibanding pedesaan. Besar resiko relatif tersebut adalah 12,5 kali lebih besar.
Keadaan ini, bagi jenis pencemar yang akumulatif, tentu akan lebih buruk di
masa mendatang. Pembakaran hutan untuk dibuat lahan pertanian atau sekedar
diambil kayunya ternyata membawa dampak serius, misalnya infeksi saluran
pernafasan akut, iritasi pada mata, terganggunya jadual penerbangan,
terganggunya ekologi hutan.

B. KONSEP DASAR RUMAH SEHAT
1. Pengertian Rumah Sehat
Rumah sehat adalah rumah yang layak dihuni, tidak harus berwujud rumah
mewah dan besar sehingga penghuni/masyarakat mmperoleh derajat
kesehatan yang optimal.
Rumah sehat dapat diartikan sebagai tempat berlindung, bernaung, dan
tempat untuk beristirahat, sehingga menumbuhkan kehidupan yang
sempurna baik fisik, rohani, maupun sosial

2. Kriteria Rumah Sehat
Kriteria rumah sehat yang diajukan oleh dalam Entjang (2000) dan Wicaksono
(2009) yang dikutip dari Winslow antara lain:
a. Harus dapat memenuhi kebutuhan fisiologis
b. Harus dapat memenuhi kebutuhan psikologis
c. Harus dapat menghindarkan terjadinya kecelakaan
d. Harus dapat menghindarkan terjadinya penularan penyakit
Hal ini sejalan dengan kriteria rumah sehat menurut American Public Health
Asociation (APHA), yaitu:
a. Memenuhi kebutuhan dasar fisik
Sebuah rumah harus dapat memenuhi kebutuhan dasar fisik, seperti:
1) Rumah tersebut harus dibangun sedemikian rupa sehingga dapat
dipelihara atau dipertahankan temperatur lingkungan yang penting
untuk mencegah bertambahnya panas atau kehilangan panas secara
berlebihan. Sebaiknya temperatur udara dalam ruangan harus lebih
rendah paling sedikit 4°C dari temperatur udara luar untuk daerah
tropis. Umumnya temperatur kamar 22°C - 30°C sudah cukup segar.
2) Rumah tersebut harus terjamin pencahayaannya yang dibedakan atas
cahaya matahari (penerangan alamiah) serta penerangan dari nyala
api lainnya (penerangan buatan). Semua penerangan ini harus diatur
sedemikian rupa sehingga tidak terlalu gelap atau tidak menimbulkan
rasa silau.
3) Rumah tersebut harus mempunyai ventilasi yang sempurna sehingga
aliran udara segar dapat terpelihara. Luas lubang ventilasi tetap,
minimum 5% dari luas lantai ruangan, sedangkan luas lubang
ventilasi insidentil (dapat dibuka dan ditutup) minimum 5% luas
lantai sehingga jumlah keduanya menjadi 10% dari luas lantai
ruangan. Ini diatur sedemikian rupa agar udara yang masuk tidak
terlalu deras dan tidak terlalu sedikit.
4) Rumah tersebut harus dapat melindungi penghuni dari gangguan
bising yang berlebihan karena dapat menyebabkan gangguan
kesehatan baik langsung maupun dalam jangka waktu yang relatif
lama. Gangguan yang dapat muncul antara lain gangguan fisik seperti
kerusakan alat pendengaran dan gangguan mental seperti mudah
marah dan apatis.
5) Rumah tersebut harus memiliki luas yang cukup untuk aktivitas dan
untuk anak-anak dapat bermain. Hal ini penting agar anak
mempunyai kesempatan bergerak, bermain dengan leluasa di rumah
agar pertumbuhan badannya akan lebih baik, juga agar anak tidak
bermain di rumah tetangganya, di jalan atau tempat lain yang
membahayakan.
b. Memenuhi kebutuhan dasar psikologis
Rumah harus dibangun sedemikian rupa sehingga dapat terpenuhi
kebutuhan dasar psikologis penghuninya, seperti:
1) Cukup aman dan nyaman bagi masing-masing penghuni
Adanya ruangan khusus untuk istirahat bagi masing-masing
penghuni, seperti kamar tidur untuk ayah dan ibu. Anak-anak
berumur di bawah 2 tahun masih diperbolehkan satu kamar tidur
dengan ayah dan ibu. Anak-anak di atas 10 tahun laki-laki dan
perempuan tidak boleh dalam satu kamar tidur. Anak-anak di atas 17
tahun mempunyai kamar tidur sendiri.
2) Ruang duduk dapat dipakai sekaligus sebagai ruang makan keluarga,
dimana anak-anak sambil makan dapat berdialog langsung dengan
orang tuanya.
3) Dalam memilih letak tempat tinggal, sebaiknya di sekitar tetangga
yang memiliki tingkat ekonomi yang relatif sama, sebab bila
bertetangga dengan orang yang lebih kaya atau lebih miskin akan
menimbulkan tekanan batin.
4) Dalam meletakkan kursi dan meja di ruangan jangan sampai
menghalangi lalu lintas dalam ruangan
5) W.C. (Water Closet) dan kamar mandi harus ada dalam suatu rumah
dan terpelihara kebersihannya. Biasanya orang tidak senang atau
gelisah bila terasa ingin buang air besar tapi tidak mempunyai W.C.
sendiri karena harus antri di W.C. orang lain atau harus buang air
besar di tempat terbuka seperti sungai atau kebun.
6) Untuk memperindah pemandangan, perlu ditanami tanaman hias,
tanaman bunga yang kesemuanya diatur, ditata, dan dipelihara secara
rapi dan bersih, sehingga menyenangkan bila dipandang.
c. Melindungi dari penyakit
Rumah tersebut harus dibangun sedemikian rupa sehingga dapat
melindungi penghuninya dari kemungkinan penularan penyakit atau zat-
zat yang membahayakan kesehatan. Dari segi ini, maka rumah yang sehat
adalah rumah yang di dalamnya tersedia air bersih yang cukup dengan
sistem perpipaan seperti sambungan atau pipa dijaga jangan sampai
sampai bocor sehingga tidak tercemar oleh air dari tempat lain. Rumah
juga harus terbebas dari kehidupan serangga dan tikus, memiliki tempat
pembuangan sampah, pembuangan air limbah serta pembuangan tinja
yang memenuhi syarat kesehatan.
d. Melindungi dari kemungkinan kecelakaan
Rumah harus dibangun sedemikian rupa sehingga dapat melindungi
penghuni dari kemungkinan terjadinya bahaya atau kecelakaan. Termasuk
dalam persyaratan ini antara lain bangunan yang kokoh, tangga yang
tidak terlalu curam dan licin, terhindar dari bahaya kebakaran, alat-alat
listrik yang terlindung, tidak menyebabkan keracunan gas bagi penghuni,
terlindung dari kecelakaan lalu lintas, dan lain sebagainya (Azwar, 1990;
CDC, 2006; Sanropie, 1989).

3. Manfaat Rumah Tangga Sehat
a. Manfaat Bagi Rumah Tangga :
1) Setiap anggota keluarga menjadi lebih sehat dan tidak mudah sakit.
2) Anak-anak akan tumbuh sehat dan cerdas, sehingga kualitas generasi
penerus lebih bermutu.
3) Anggota keluarga lebih giat bekerja, berarti produktifitas kerja bisa
ditingkatkan.
4) Pengeluaran biaya rumah tangga dapat ditujukan untuk memenuhi
gizi keluarga, pendidikan dan modal usaha untuk menambah
pendapatan keluarga.
b. Manfaat Bagi Masyarakat :
1) Masyarakat mampu mengupayakan lingkungan sehat secara mandiri
dan menyeluruh
2) Masyarakat mampu mencegah dan menanggulangi masalah-masalah
kesehatan disekitarnya
3) Masyarakat bisa memanfaatkan pelayanan kesehatan kesehatan yang
ada.
4) Masyarakat mampu mengembangan Upaya Kesehatan Bersumber
Masyarakat (UKBM) seperti posyandu, tabungan ibu bersalin, arisan
jamban, ambulans desa dan lain-lain.
4. Menjaga Rumah Tetap Sehat
a. Sapu rumah setiap hari
b. Bersihkan sarang laba-laba minimal seminggu sekali
c. Buka jendela setiap hari agar udara bisa keluar masuk
d. Cuci lantai rumah (pel) minimal seminggu sekali
e. Buang sampah pada tempatnya
f. Taruhlah barang-barang pada tepatnya, jangan berserakan
g. Bersihkan kaca jendela minimal dua minggu sekali

C. KONSEP DASAR KELUARGA
1. Pegertian Keluarga
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga
dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah
suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan (Effendy,2005).
2. Tahap-tahap Kehidupan Keluarga
a. Tahap pembentukan keluarga, tahap ini dimulai dari pernikahan, yang
dilanjutkan dalam membentuk rumah tangga.
b. Tahap menjelang kelahiran anak, tugas utama keluarga untuk
mendapatkan keturunan sebagai generasi penerus, melahirkan anak
merupakan kebanggaan bagi keluarga yang merupakan saat-saat yang
sangat dinantikan.
c. Tahap menghadapi bayi, dalam hal ini keluarga mengasuh, mendidik, dan
memberikan kasih sayang kepada anak karena pada tahap ini bayi
kehidupannya sangat bergantung kepada orang tuanya. Dan kondisinya
masih sangat lemah.
d. Tahap menghadapi anak prasekolah, pada tahap ini anak sudah mulai
mengenal kehidupan sosialnya, sudah mulai bergaul dengan teman
sebaya, tetapi sangat rawan dalam masalah kesehatan karena tidak
mengetahui mana yang kotor dan mana yang bersih. Dalam fase ini anak
sangat sensitif terhadap pengaruh lingkungan dan tugas keluarga
adalah mulai menanamkan norma-norma kehidupan, norma-norma
agama, norma-norma sosial budaya, dsb.
e. Tahap menghadapi anak sekolah, dalam tahap ini tugas keluarga adalah
bagaimana mendidik anak, mengajari anak untuk mempersiapkan masa
depannya, membiasakan anak belajar secara teratur, mengontrol
tugas-tugas di sekolah anak dan meningkatkan pengetahuan umum
anak.
f. Tahap menghadapi anak remaja, tahap ini adalah tahap yang paling
rawan, karena dalam tahap ini anak akan mencari identitas diri dalam
membentuk kepribadiannya, oleh karena itu suri tauladan dari kedua
orang tua sangat diperlukan. Komunikasi dan saling pengertian antara
kedua orang tua dengan anak perlu dipelihara dan dikembangkan.
g. Tahap melepaskan anak ke masyarakat, setelah melalui tahap remaja dan
anak telah dapat menyelesaikan pendidikannya, maka tahap selanjutnya
adalah melepaskan anak ke masyarakat dalam memulai kehidupannya
yang sesungguhnya, dalam tahap ini anak akan memulai kehidupan
berumah tangga.
h. Tahap berdua kembali, setelah anak besar dan menempuh kehidupan
keluarga sendiri-sendiri,tinggallah suami istri berdua saja. Dalam tahap
ini keluarga akan merasa sepi, dan bila tidak dapat menerima kenyataan
akan dapat menimbulkan depresi dan stress.
i. Tahap masa tua, tahap ini masuk ke tahap lanjut usia, dan kedua orang
tua mempersiapkan diri untuk meninggalkan dunia yang fana ini.

3. Tugas Perkembangan Sesuai Dengan Tahap Perkembangan
a. Keluarga baru menikah
1) Membina hub. Intim
2) Bina hubungan dengan keluarga lain, teman dan kelompok sosial
3) Mendiskusikan rencana punya anak
b. Keluarga dengan anak baru lahir
1) Persiapan menjadi orang tua
2) Adaptasi keluarga baru, interaksi keluarga, hubungan seksual
c. Keluarga dengan usia pra sekolah
1) Memenuhi kebutuhan anggota keluarga rumah, rasa aman
2) Membantu anak untuk bersosialisasi
3) Mempertahankan hubungan yg sehat klg intern dan luar
4) Pembagian tanggung jawab
5) kegiatan untuk stimulasi perkembangan Anak
d. Keluarga dengan anak usia sekolah
1) Membantu sosialisasi anak dg lingkungan luar
2) Mempertahankan keintiman pasangan
3) Memenuhi kebutuhan yang meningkat
e. Keluarga dengan anak remaja
1) Memberikan kebebasan seimbang dan bertanggugung jawab
2) Mempertahankan hubungan intim dg keluarga
3) Komunikasi terbuka : hindari, debat, permusuhan
4) Persiapan perubahan sistem peran
f. Keluarga mulai melepas anak sebagai dewasa
1) Perluas jaringan keluarga dari keluarga inti ke extended
2) Mempertahankan keintiman pasangan
3) Membantu anak untuk mandiri sebagai keluarga baru
4) Penataan kembali peran orang tua
g. Keluarga usia pertengahan
1) Mempertahankan kesehatan Individu dan pasangan usia pertengahan
2) Hubungan serasi dan memuaskan dg anak-anaknya dan sebaya
3) Meningkatkan keakraban pasangan
h. Keluarga usia tua
1) Mempertahankan suasana saling menyenangkan
2) adapatasi perubahan: kehilangan pasangan, kekuatan Fisik,
penghasilan
3) Mempertahankan keakraban pasangan
4) Melakukan life review masa lalu

4. Struktur Keluarga
Struktur keluarga terdiri dari bermacam-macam, diantaranya adalah :
a. Patrilineal adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara
sedarah dalam beberapa generasi, dimana hubungan itu disusun melalui
jalur garis ayah.
b. Matrilineal adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara
sedarah dalam beberapa generasi dimana hubungan itu disusun melalui
jalur garis ibu.
c. Matrilokal adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga
sedarah istri.
d. Patrilokal adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama kelurga
sedarah suami.
e. Keluarga kawinan adalah hubungan suami istri sebagai dasar bagi
pembinaan warga dan beberapa sanak saudara yang menjadi bagian
keluarga karena adanya hubungan dengan suami atau istri.

5. Ciri-ciri Struktur Keluarga
Menurut Anderson Carter ciri-ciri struktur keluarga :
a. Terorganisasi: saling berhubungan, saling ketergantungan, antara anggota
keluarga.
b. Ada keterbatasan: setiap anggota memiliki kebebasan tetapi mereka
juga mempunyai keterbatasan dalam menjalankan fungsi dan tugasnya
masing-masing.
c. Ada perbedaan dan kekhususan: setiap anggota keluarga mempunyai
peranan dan fungsinya masing-masing.

6. Tipe/Bentuk Keluarga
a. Keluarga inti (Nuclear Family) adalah keluarga yang terdiri dari Ayah,
Ibu, dan Anak-anak.
b. Keluarga besar (Extended Family) adalah keluarga Inti ditambah
dengan sanak saudara, misalnya : nenek, kakek, keponakan, saudara
sepupu, paman, bibi, dan sebagainya.
c. Keluarga berantai (Serial Family) adalah keluarga yang terdiri dari satu
wanita dan pria yang menikah lebih dari satu kali dan merupakan satu
keluarga inti.
d. Keluarga Duda/Janda (Single Family) adalah keluarga yang terjadi
karena perceraian atau kematian.
e. Keluarga berkomposisi (Camposite) adalah keluarga yang
perkawinannya berpoligami dan hidup secara bersama.
f. Keluarga Kabitas (Cahabitasion) adalah dua orang menjadi satu
tanpa pernikahan tapi membentuk suatu keluarga. Keluarga Indonesia
umumnya menganut tipe keluarga besar (extended family) karena
masyarakat Indonesia yang terdiri dari beberapa suku hidup dalam suatu
komuniti dengan adat istiadat yang sangat kuat.
7. Pemegang Kekuasaan Dalam Keluarga
a. Patriakal, yang dominan dan memegang kekuasaan dalam keluarga adalah
pihak Ayah.
b. Matriakal, yang dominan dan memegang kekuasaan dalam keluarga
adalah pihak Ibu.
c. Equlitarian, yang memegang dalam keluarga adalah Ayah dan Ibu.
8. Peranan Keluarga
Peranan keluarga menggambarkan seperangkat perilaku interpersonal,
sifat, kegiatan yang berhubungan dengan individu dalam posisi dan situasi
tertentu. Peranan individu dalam keluarga didasari oleh harapan dan pola
perilaku dari keluarga, kelompok dan masyarakat.

Berbagai peranan yang terdapat di dalam keluarga adalah sebagai berikut :
a. Peranan Ayah : Ayah sebagai suami dari istri dan anak-anak, berperan
sebagai pencari nafkah, pendidik, pelindung dan pemberi rasa aman,
sebagai kepala keluarga, sebagai anggota dari kelompok sosialnya
serta sebagai anggota dari kelompok sosialnya serta sebagai anggota
masyarakat dari lingkungannya.
b. Peranan Ibu : Sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya, ibu mempunyai
peranan untuk mengurus rumah tangga, sebagai pengasuh dan
pendidik anak-anaknya, pelindung dan sebagai salah satu kelompok
dari peranan sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari
lingkungannya, disamping itu juga ibu dapat berperan sebagai
pencari nafkah tambahan dalam keluarganya.
c. Peran Anak : Anak-anak melaksanakan peranan psikosial sesuai
dengan tingkat perkembangannya baik fisik, mental, sosial, dan spiritual.
9. Fungsi Keluarga
Menurut Friedman (1999), lima fungsi keluarga adalah sebagai berikut:
a. Fungsi efektif Adalah fungsi internal keluarga untuk pemenuhan
kebutuhan psikosial, saling mengasah dan memberikan cinta kasih, serta
saling menerima dan mendukung.
b. Fungsi sosialisasi Adalah proses perkembangan dan pembahan individu
keluarga, tempat anggota keluarga berinteraksi social dan belajar berperan
di lingkungan social.
c. Fungsi reproduksi Adalah fungsi keluarga memutuskan kelangsungan
keturunan dan menambah SDM.
d. Fungsi ekonomi Adalah fungsi keluarga untuk memenuhi kebutuhan
keluarga, seperti sansang pangan dan papan.
e. Fungsi perawatan kesehatan Adalah kemampuan keluarga untuk merawat
anggota keluarga yang mengalami masalah kesehatan.
Ahli lain membagi fungsi keluarga, sebagai berikut :
a. Fungsi Pendidikan. Dalam hal ini tugas keluarga adalah mendidik dan
menyekolahkan anak untuk mempersiapkan kedewasaan dan masa depan
anak bila kelak dewasa.
b. Fungsi Sosialisasi anak. Tugas keluarga dalam menjalankan fungsi ini
adalah bagaimana keluarga mempersiapkan anak menjadi anggota
masyarakat yang baik.
c. Fungsi Perlindungan. Tugas keluarga dalam hal ini adalah melindungi
anak dari tindakan-tindakan yang tidak baik sehingga anggota keluarga
merasa terlindung dan merasa aman.
d. Fungsi Perasaan. Tugas keluarga dalam hal ini adalah menjaga secara
instuitif merasakan perasaan dan suasana anak dan anggota yang lain
dalam berkomunikasi dan berinteraksi antar sesama anggota keluarga.
Sehingga saling pengertian satu sama lain dalam menumbuhkan
keharmonisan dalam keluarga.
e. Fungsi Religius. Tugas keluarga dalam fungsi ini adalah
memperkenalkan dan mengajak anak dan anggota keluarga yang
lain dalam kehidupan beragama, dan tugas kepala keluarga untuk
menanamkan keyakinan bahwa ada keyakinan lain yang
mengatur kehidupan ini dan ada kehidupan lain setelah di dunia ini.
f. Fungsi Ekonomis. Tugas kepala keluarga dalam hal ini adalah
mencari sumber-sumber kehidupan dalam memenuhi fungsi-fungsi
keluarga yang lain, kepala keluarga bekerja untuk mencari
penghasilan, mengatur penghasilan itu, sedemikian rupa sehingga
dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan keluarga.
g. Fungsi Rekreatif. Tugas keluarga dalam fungsi rekreasi ini tidak harus
selalu pergi ke tempat rekreasi, tetapi yang penting bagaimana
menciptakan suasana yang menyenangkan dalam keluarga sehingga dapat
dilakukan di rumah dengan cara nonton TV bersama, bercerita tentang
pengalaman masing-masing, dsb.
h. Fungsi Biologis. Tugas keluarga yang utama dalam hal ini adalah
untuk meneruskan keturunan sebagai generasi penerus.
Dari berbagai fungsi di atas ada 3 fungsi pokok kelurga terhadap keluarga
lainnya, yaitu :
a. Asih adalah memberikan kasih saying, perhatian, rasa aman,
kehangatan,pada anggota keluarga sehingga memungkinkan mereka
tumbuh dan berkembang sesuai usia dan kebutuhannya.
b. Asuh adalah menuju kebutuhan pemeliharaan dan perawatan anak agar
kesehatannya selalu terpelihara sehingga memungkinkan menjadi anak-
anak sehat baik fisik, mental, sosial, dan spiritual.
c. Asah adalah memenuhi kebutuhan pendidikan anak, sehingga siap
menjadi manusia dewasa yang mandiri dalam mempersiapkan masa
depannya.
10. Tugas-tugas Keluarga
Pada dasarnya tugas keluarga ada delapan tugas pokok sebagai berikut :
a. Pemeliharaan fisik keluarga dan para anggotanya
b. Pemeliharaan sumber-sumber daya yang ada dalam keluarga
c. Pembagian tugas masing-masing anggotanya sesuai dengan
kedudukannya masing-masing
d. Sosialisasi antar anggota keluarga
e. Pengaturan jumlah anggota keluarga
f. Pemeliharaan ketertiban anggota keluarga
g. Penempatan anggota-anggota keluarga dalam masyarakat yang
lebih luas
h. Membangkitkan dorongan dan semangat para anggotanya

11. Bentuk-Bentuk keluarga
a. Keluarga inti
b. Keluarga asal
c. Keluarga keluar
d. Keluarga berantai
e. Keluarga janda/duda
f. Keluarga komposit
g. Keluarga rehabilitasi
h. Keluarga insus
i. Keluarga tradisional dan nontradisional
12. Struktur Kekuatan Keluarga
a. Kemampuan berkomunikasi
b. Kemampuan keluarga saling berbagi
c. Kemampuan system pendukung diantara anggota keluarga.
d. Kemampuan perawatan dini
e. Kemampuan menyelesaikan masalah
13. Tugas Keluarga Dalam Bidang Kesehatan
Keluarga dalam masalah kesehatan mempunyai tugas pemeliharaan kesehatan
para anggotanya dan saling memelihara. Suprajitno (2004) membagi 5 tugas
kesehatan yang harus dilakukan oleh keluarga yaitu mengenal gangguan atau
masalah perkembangan kesehatan setiap anggota keluarga, setelah mengenal
keluarga diharapkan mampu mengambil keputusan untuk melakukan tindakan
yang tepat. keluarga juga bertugas memberi keperawatan kepada anggota
keluarganya yang sakit dan yang tidak dapat membantu dirinya karena cacat
atau usia yang terlalu muda.
Dalam hal lingkungan untuk menjamin kesehatan, keluarga diharapkan dapat
memodifikasi lingkungan sehingga tidak terjadi dampak dari lingkungan yang
tidak sehat baik didalam maupun diluar rumah. Suprajitno (2004)
menambahkan keluarga memannfaatkan dengan baik fasilitas-fasilitas
kesehatan dalam menjamin kondisi yang sehata didalam keluarga.
D. FOKUS PENGKAJIAN
1. Identitas keluarga
Pengkajian identitas keluarga terdiri dari adalah umur, pekerjaan, tempat
tinggal, dan tipe keluarga. Pada umumnya penderita hipertensi merupakan
penyakit yang dipengaruhi oleh pola hidup terutama pola hidup yang salah,
pola hidup yang berhubungan dengan emosi yang negative seperti emosi
yang tidak terkendali atau temperamental, ambisius, pekerja keras yang tidak
tenang, takut dan kecemasan yang berlebihan (Indomedia, 2002).
2. Latar belakang budaya /kebiasaan keluarga
a. Kebiasaan makan
Kebiasaan makan ini meliputi jenis makanan yang dikosumsi oleh
Keluarga.
b. Pemanfaatan fasilitas kesehatan
Perilaku keluarga didalam memanfaatkan fasilitas kesehatan.
3. Status Sosial Ekonomi
a. Pendidikan
Tingkat pendidikan keluarga mempengaruhi keluarga dalam mengenal
rumah sehat. berpengaruh pula terhadap pola pikir dan kemampuan
untuk mengambil keputusan dalam mengatasi masalah dangan tepat dan
benar.
b. Pekerjaan dan Penghasilan
Penghasilan yang tidak seimbang juga berpengaruh terhadap keluarga
4. Tingkat perkembangan dan riwayat keluarga
Riwayat keluarga mulai lahir hingga saat ini. termasuk riwayat
perkembangan dan kejadian serta pengalaman kesehatan yang unik atau
berkaitan dengan kesehatan yang terjadi dalam kehidupan keluarga yang
belum terpenuhi berpengaruh terhadap psikologis seseorang yang dapat
mengakibatkan cemas stres(Friedman, 1998).

5. Aktiftas
Aktifitas fisik seperti olah raga.
6. Data Lingkungan
a. Karakteristik rumah
Cara memodifikasikan lingkungan fisik yang baik seperti lantai rumah,
penerangan dan fentilasi yang baik dapat mengurangi terjadinya
penyakit dan juga ketenangan dalam rumah tangga.
b. Karakteristik Lingkungan
Menurut (Friedman,1998) derajad kesehatan dipengaruhi oleh
lingkungan. Ketenangan lingkungan sangat mempengaruhi derajat
kesehatan tidak terkecuali pada hipertensi.
c. Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat
7. Struktur Keluarga
a. Pola komunikasi
Menurut (Nursalam, 2001) Semua interaksi perawat dengan pasien
adalah berdasarkan komunikasi. Istilah komunikasi teurapetik
merupakan suatu teknik diman usaha mengajak pasien dan keluarga
untuk bertukar pikiran dan perasaan. Tekhnik tersebut mencakup
ketrampilan secara verbal maupun non verbal, empati dan rasa
kepedulian yang tinggi.
b. Struktur Kekuasaan
Kekuasaan dalam keluarga mempengaruhi dalam kondisi kesehatan.
c. Struktur peran
Bila anggota keluarga menerima dan konsisten terhadap peran yang
dilakukan, maka ini akan membuat anggota keluarga puas atau tidak ada
konflik dalam peran, dan sebaliknya bila peran tidak dapat diterima dan
tidak sesuai dengan harapan maka akan mengakibatkan ketegangan
dalam keluarga (Friedman, 1998).
8. Fungsi Keluarga
a. Fungsi afektif
b. Fungsi sosialisasi .
c. Fungsi kesehatan
Pengetahuan keluarga tentang penyakit dan penanganannya
1) Mengenal masalah kesehatan
Ketidaksanggupan keluarga mengenal masalah kesehatan pada
keluarganya, salah satunya adalah disebabkan karena kurang
pengetahuan (Effendy, 1998).

2) Mengambil keputusan.
Ketidaksanggupan keluarga mengambil keputusan dalam
melakukan tindakan yang tepat, disebabkan karena tidak memahami
mengenai sifat, berat dan luasnya masalah tidak begitu menonjol
(Eendy, 1998).
3) Merawat anggota keluarga yang sakit
Ketidakmampuan merawat anggota keluarga yang sakit disebabkan
karena tidak mengetahui keadaan penyakit, misalnya komplikasi,
progrfosis, cara perawatan dan sumber-sumber yang ada dalam
keluarga.
4) Memelihara lingkungan rumah yang sehat
Keluarga diharapkan mengetahui keuntungan atau manfaat
pemeliharaan lingkungan yang sehat, dan menyadarinya sebagai
salah satu media perawatan bagi anggota keluarga yang sakit.
Lingkungan rumah yang berdebu dan asap rokok bisa menjadi
pemicu menimbulkan penyakit (Sundaru, 2001). Dengan melihat
hal tersebut, keluarga harus mampu memodifikasi lingkungan yang
sehat dan nyaman.
5) Menggunakan fasilitas kesehatan yang ada
Pengetahuan keluarga tentang keberadaan dan keuntungan yang
didapat dari fasilitas-fasilitas kesehatan.

9. Pola istirahat tidur
Istirahat tidur seseorang akan terganggu manakala sedang mengalami
masalah yang belum terselesaikan.

10. Pemeriksaan fisik anggota keluarga
Sebagaimana prosedur pengkajian yang komprehensif, pemeriksaan fisik
juga dilakukan menyeluruh dari ujung rambut sampai kuku. Setelah
ditemukan masalah kesehatan.
11. Koping keluarga
Bila ada stresor yang muncul dalam keluarga, sedangkan koping keluarga
tidak efektif, maka ini akan menjadi stres anggota keluarga yang
berkepanjangan.

E. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Menentukan Prioritas Masalah
a. Berdasarkan sifat atau tifologi masalah. Penelitian masalah adalah
sebagai berikut :
1) Ancaman keluarga
Keadaan yang dapat beresiko terjadinya penyakit, kecelakaan atau
kegagalan dapat mempertahankan kesehatan optimal m,isalnya
riwayat penyakit keturunan, resiko tertular, resiko kecelakaan dan
lain-lain.
2) Kurang sehat
Suatu keadaan sedang sakit atau gagal mencapai kesehatan optimal,
misalnya sedang sakit dan kegagalan tumbuh kembang.
3) Krisis
Suatu keadaan individu atau keluarga memerlukan penyesuaian
lebih banyak dalam hal sumber daya yang dimiliki, misalnya
kehamilan, aborsi, lahir diluar nikah dan kehilangan orang yang
dicintai.

b. Kemungkinan masalah dapat diubah adalah kemungkinan berhasilnya
mengurangi masalah keperawatan atau mencegah masalah bila ada
tindakan tertentu. Pemberian nilainya adalah :
( 2 ) dengan mudah
( 1 ) hanya sebagian
( 0 ) tidak dapat diubah
c. Retensi masalah untuk dicegah adalah sifat dan beratnya masalah
keperawatan yang akan terjadi bila dapat dikurang atau dicegah.
Pemberian nilanya adalah (3) tinggi, (2) cukup, (1) rendah.
d. Munculnya masalah adalah cara keluarga memandang dan menilai
masalah keperawatan berkaitan dengan berat dan mendesaknya untuk
segera diatasi untuk segera diatasi, pemberian nilainya adalah masalah
berat dan harus segera diatasi (2), msalah dirasakan tetapi perlu segera
diatasi (1) dan masalah tidak dirasakan (0).

No Kriteria Skor Bobot Nilai
2
1 Sifat masalah 1 /3 x 1
- Ancaman 3
- Kurang sehat 2
- Krisis 1
2 Kemungkinan masalah dapat diubah 2 ½x2
Dengan mudah 2
Hanya sebagian 1
Tidak dapat 0
2
3 Potensial masalah untuk dicegah 1 /3 x 1
Tinggi 3
cukup 2
Rendah 1
4 Menonjolnya masalah 1 ½x1
Masalah berat yang harus segera diatasi 2
Masalah dirasakan, tapi tidak perlu segera diatasi 1
Masalah tidak dirasakan 0

2. Diagnosis Keperawatan Keluarga
Tiga kelompok besar dalam tipologi masalah kesehatan keluarga adalah
sebagai berikut :

a. Ancaman kesehatan adalah sebagai berikut
1) Penyakit keturunan
2) Keluarga atau anggota yang mengidap penyakit menular
3) Jumlah anggota keluarga terlalu terlalu besar atau tidak sesuai
dengan kemampuan dengan sumber daya keluarga
4) Resiko terjadi kecelakaan dalam keluarga
5) Kekurangan atau kelebihan gizi
6) Keadaan yang dapat menimbulkan stress
7) Sanitasi lingkungan buruk
8) Kebiasaan yang merugikan kesehatan
d. Kurang atau tidak sehat adalah kegagalan mereka memantapkan
kesehatan
c. Situasi krisis
1) Ketidakmampuan keluarga mengenal masalah kesehatan karena hal-
hal berikut:
a) Kurang pengetahuan atau tidak mengetahui fakta
b) Rasa takut akibat masalah yang diketahui
c) Sikap dan falsafah hidup
2) Ketidakmampuan keluarga mengambil keputusan dalam melakukan
tindakan yang tepat karena hal-hal sebagai berikut:
a) Keluarga tidak memahami dan mengenal sifat dan luasnya
masalah
b) Fasilitasi kesehatan tidak terjangkau
c) Ketidakcocokan pendapat terjadi antara anggota keluarga
3) Ketidakmampuan merawat anggota keluarga yang sakit karena hal-
hal sebagai berikut :
a) Tidak mengetahui keadaan penyakit
b) Ketidaseimbangan sumber yang ada dalam keluarga
c) Konflik individu dalam keluarga
d) Perilaku yang mementingkan diri sendiri
4) Ketidakmampuan memelihara lingkungan rumah yang dapat
mengalami kesehatan dan perkembangan pribadi anggota keluarga
karena hal-hal berikut :
a) Sumber dari keluarga tidak cukup
b) Ketidaktahuan pentingnya sanitasi lingkungan
c) Kurang mampu memelihara keuntungan dan manfaat dari
pemeliharaan lingkungan murah.
d) Ketidakompakan keluarga karena sifat mementingkan diri
sendiri.
5) Ketidakmampuan menggunakan sumber dimasyarakat untuk
memelihara kesehatan karena hal-hal berikut :
a) Rasa takut akibat dari tindakan
b) Tidak memahami keuntungan yang diperoleh
c) Kualitas yang diperlukan tidak terjangkau
4. Intervensi Keperawatan Keluarga
Perencanaan merupakan suatu proses merumuskan tujuan yang diharapkan
sesuai prioritas masalah keperawatan keluarga, memilih strategi keperawatan
yang tepat dan mengembangkan rencana asuhan keperawatan keluarga
sesuai dengan kebutuhan klien.

BAB III
TINJAUAN KASUS
A. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Identitas Umum Keluarga
a. Identitas Kepala Keluarga
Tn. K berusia 30 tahun, agama Islam, suku Madura, pendidikan tamat
SMP, pekerjaan swasta, alamat Dusun Glengseran Desa Suci Kecamatan
Panti Kabupaten Jember
b. Komposisi keluarga
No Nama L/P Umur Hub. Kel Pekerjaan Pendidikan
1. Tn. K L 53 th Kepala keluarga Petani SD
2. Ny. S P 59 th Istri Ibu RT SD
3. Tn. D L 24 th Anak Wiraswasta SMP
4. Sdr. M P Anak Wiraswasta SMP
20 th
5. Ny. R P Menantu Ibu RT SD
18 th
6. Nn. A P Anak Pelajar SD
13 th
7. By. A P Cucu - -
5 th

c. Genogram

Keterangan :

: Laki- laki : hubungan perkawinan
: Perempuan : hubungan keturunan
: Meninggal : serumah

d. Type Keluarga
1) Jenis tipe keluarga: Keluarga inti dengan pasangan suami istri yang
tidak bekerja.
2) Masalah yang terjadi dengan tipe tersebut: tidak ada masalah
e. Suku Bangsa
1) Asal suku bangsa: Jawa
2) Budaya yang berhubungan dengan kesehatan: Tn. K mengatakan
keluarganya tidak makan makanan pantangan, bila keluarga sakit
segera periksa ke mantri.
f. Agama dan kepercayaan yang mempengaruhi kesehatan
Agama dan kepercayaan yang dianut klien dan keluarga adalah islam.
g. Status Sosial Ekonomi Keluarga
1) Anggota keluarga yang mencari nafkah: Kepala keluarga (Tn. K)
dan ibu (Ny. S)
2) Penghasilan: Tn. K mengatakan < Rp. 500.000,00 / bulan
3) Upaya lain: tidak ada
4) Harta benda yang dimiliki (perabot, transportasi, dll)
Tn. K mengatakan hanya memiliki meja, Tv, kursi, lemari, tempat
tidur, sepeda.
5) Kebutuhan yang dikeluarkan tiap bulan: Tn. K mengatakan
kebutuhan yang rutin di keluarkan tiap bulan adalah kebutuhan
makan dan listrik.
h. Aktivitas Rekreasi Keluarga
Tn. K mengatakan melakukan rekreasi dengan menonton TV. Karena
penghasilannya pas-pasan jadi hiburannya hanya menonton TV.
2. Riwayat Dan Tahap Perkembangan Keluarga
a. Tahap perkembangan keluarga saat ini (ditentukan dengan anak tertua):
Keluarga dengan anak usia dewasa atau melepas anak ke masyarakat.
b. Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi dan kendalanya:
1) Membantu anak untuk mandiri
2) Mempertahankan komunikasi
c. Riwayat kesehatan keluarga inti:
1) Riwayat kesehatan keluarga saat ini:
Tn. K mengatakan tidak ada keluarga yang sakit. Penyakit yang
biasanya diderita keluarga adalah batuk dan flu.
2) Riwayat penyakit keturunan: Tn. K mengatakan
keluarganya ada yang menderita hipertensi
3) Riwayat kesehatan masing-masing anggota keluarga
No Nama Umur BB Keadaan Imunisasi Masalah Tindakan yg
Kesehatan (BCG/Polio/DPT/ Kesehatan telah
Campak/HB) dilakukan
1. Tn. K 53 th 55 kg Sehat Tidak tahu Kadang sesak -
Ny. S 59 th
2. 49 kg Sehat Tidak tau Hipertensi Berobat
Tn. D 24 th
3. Sdr. M - Sehat Lengkap - -
20 th
Ny. R
4. 18 th - Sehat Lengkap - -
Nn. A
13 th
5. - Sehat Tidak tau - -
By. A 5 th
6. - Sehat Lengkap - -
7. 13 kg Sehat Lengkap -Pilek -Minum obat

4) Sumber pelayanan kesehatan yang dimanfaatkan : Tn.
K mengatakan setiap ada anggota keluarga yang sakit di bawa ke
bidan/ puskesmas
d. Riwayat kesehatan keluarga sebelumnya:
Tn. K mengatakan keluarga dalam keadaan sehat.
3. Pengkajian Lingkungan
a. Karakteristik Rumah
1) Luas rumah: 6 m x 8 m
2) Type rumah: Permanen
3) Kepemilikan: Milik Sendiri
4) Jumlah dan rasio kamar/ruangan: terdapat 1 ruang tamu, 1 ruang
dapur, ada 3 kamar tidur, 1 ruang tengah, rasio luas rumah dan
penghuni cukup.
5) Ventilasi/cendela: Tn. K mengatakan”rumahnya sudah ada jendela
dibagian depan 4, 2 terbuka dan 3 tetapi tidak pernah dibuka”.
Ventilasi kurang, jendela hanya di ruang tamu.
6) Pemanfaatan ruangan: Tn. K mengatakan “ruangan yang sering
dipakai adalah ruang tamu dan ruang tengah”.
7) Septic tank: tidak ada
8) Sumber air minum: Tn. K mengatakan menggunakan sumber/sumur
9) Kamar mandi/WC: Tn. K mengatakan “tidak memiliki kamar mandi
atapun WC, biasanya mandi disumber dan BAB di Jamban”.
10) Sampah: Tn. K mengatakan ”sampah dibuang disungai.
11) Kebersihan lingkungan: Rumah kotor, Lantai rumah kotor, Sampah,
Jendela tampak jarang dibuka dan tampak kotor, Rumah kurang
rapi, Dapur kotor

U Teras

Kamar Tidur Ruang
Tamu
Kandang
Kamar Tidur ternak

Gambar Denah Ruang Tengah
Rumah Tn. K Kamar Tidur
Dapur
Kamar Mandi

b. Karakteristik Tetangga dan Komunitas RW
1) Kebiasaan: Tn. K mengatakan bermain di rumah bersama keluarga,
menonton TV di rumah saudara
2) Aturan/kesepakatan: Tn. K mengatakan tidak ada aturan dan
kebiasaan yang mengikat warga.
3) Budaya: Tn. K mengatakan kerjasama antar warga masih sangat
kuat.

c. Mobilitas Geografis Keluarga
Tn. K bekerja sebagai penjual ikan keliling, Ny. S dahulu pernah
menikah cerai dan bekerja jualan makanan diwarung .
d. Perkumpulan Keluarga dan Interaksi dengan Masyarakat
Tn. K mengatakan keluarga aktif mengikuti kegiatan di masyarakat.
4) Struktur Keluarga
a. Pola/cara Komunikasi Keluarga: Tn. K mengatakan “sehari-hari dalam
berkomunikasi keluarga menggunakan bahasa jawa”.
b. Struktur Kekuatan Keluarga: Tn. K dan Ny. S sama- sama mencari
nafkah
c. Struktur Peran (peran masing/masing anggota keluarga) :
1) Tn. K sebagai kepala keluarga, bertanggungjawab mencari nafkah
2) Ny. S sebagai ibu dan ikut bekerja membantu menopang kebutuhan
sehari- hari dalam keluarganya
d. Nilai dan Norma Keluarga
Keluarga Tn. K taat dan mengikuti norma-norma atau aturan yang
berlaku di masyarakat dan agama yang di anut.
5) Fungsi Keluarga
a. Fungsi afektif
Keluarga mau berinteraksi dengan anggota masyarakat yang lain,
terbuka terhadap kehadiran orang lain (mahasiswa), keluarga mau
menerima saran/ masukan tentang masalah kesehatan dari petugas
kesehatan.
b. Fungsi sosialisasi
1) Kerukunan hidup dalam keluarga: Tn. K mengatakan “konflik antar
keluarga tidak pernah terjadi”.
2) Interaksi dan hubungan dalam keluarga: Baik dan akrab
3) Anggota keluarga yang dominan dalam pengambilan keputusan: Tn.
K sebagai kepala keluarga.
4) Kegiatan keluarga waktu senggang: Tn. K mengatakan “berkumpul
di ruang tamu”.
5) Partisipasi dalam kegiatan sosial: keluarga mengikuti kegiatan yang
ada di lingkungan rumah
c. Fungsi perawatan kesehatan
1) Pengetahuan dan persesi keluarga tentang penyakit/masalah
kesehatan keluarganya: Pengetahuan keluarga tentang kesehatan
masih minim, hal ini dari perilaku keluarga dalam mengelola
rumah.
2) Kemampuan keluarga mengambil keputusan tindakan kesehatan
yang tepat: cukup, karena tingkat pendidikan Tn. K dan Ny. N
rendah sehingga mempengaruhi perilaku dan proses mengambil
keputusan.
3) Kemampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit: baik,
karena apabila ada anggota keluarga yang sakit maka anggota yang
lainnya merawat dan perhatian.
4) Kemampuan keluarga memelihara lingkungan rumah yang sehat:
Kurang baik, karena rumah dan sekitar lingkungannya kotor dan
berantakan.
d. Kemampuan keluarga menggunakan fasilitas kesehatan di masyarakat:
Keluarga memanfaatkan puskesmas pembantu untuk memeriksakan
status kesehatan.
e. Fungsi reproduksi
1) Perencanaan jumlah anak: tidak ada
2) Akseptor: ya, Suntik KB

f. Fungsi ekonomi
1) Upaya pemenuhan sandang pangan: Tn. K hanya mampu membeli
sandang seperlunya dan pangan secukupnya
2) Pemanfaatan sumber di masyarakat: keluarga Tn. K memanfaatkan
sumber air sebagai sumber air sehari hari

6. Stres Dan Koping Keluarga
a. Stresor jangka pendek: Tn. K mengatakan berharap tidak mengalami
pusing dan sesak.
b. Stresor jangka panjang: Tn. K mengatakan selalu berdiskusi dengan
keluarga tentang apapun itu manfaat rumah sehat ?
c. Respon keluarga terhadap stresor : Tn. K mengatakan sudah terbiasa
dengan rumah seperti ini
7. Keadaan Gizi Keluarga
Pemenuhan gizi: Keluarga Tn. K setiap hari makan nasi, sayur dan lauk
seperti tahu, tempe.
Upaya lain: tidak ada
8. Pemeriksaan Fisik
a. Identitas
Tn. K berusia 53 tahun, laki2, pendidikan Sd, Pekerjaan tani.
b. Keluhan/Riwayat Penyakit saat ini
Tn. K mengatakan tidak ada keluhan apa-apa
c. Riwayat Penyakit Sebelumnya
Tn. K mengatakan sebelumnya tidak menderita penyakit apa-apa, selain
batuk dan flu.
d. Tanda-tanda vital: tekanan darah 120/70 mmHg, Nadi = 88 x/menit,
RR = 20 x/menit.
e. Sistem Cardio Vascular
I : Iktus tidak tampak
P: tidak ada pembesaran jantung
P: Pekak
A: S1 dan S2 tunggal
f. Sistem Respirasi
I: Bentuk dada normal, gerakan simetris
P: Tidak ada nyeri tekan, fremitus dada normal
P: Redup
A: tidak suara napas tambahan

g. Sistem Gastrointestinal
I: Flat
A: Bising usu 14 x/menit
P: Tidak ada nyeri tekan, tidak teraba masa
P: Timpani
h. Sistem Persyarafan
Kesadaran Composmentis, GCS 456

i. Sistem Muskuloskeletal
kekuatan otot 55555 55555
55555 55555
Akral hangat, CRT < 2 detik
j. System Genitalia: Tidak dikaji
9. Harapan Keluarga
a. Terhadap masalah kesehatannya: Keluarga ingin seluruh keluarga
terhindar dari penyakit.
b. Terhadap petugas kesehatan yang ada: Dapat diadakan pengobatan gratis
No Pemeriksaan Tn. K Ny.S Sdr. M Ny. N Ny. S Sdr. D
1 Kepala Bersih, Bersih, Bersih, hitam, Bersih, hitam, Bersih, hitam, Bersih, hitam,
beruban, rata beruban, rata rata rata rata rata
2 TTV TD:120/80 TD:120/70 TD:- TD:- TD:- TD:-
mmHg mmHg N: 90 x/mnt N: 98 x/mnt N: 98 x/mnt N: 98 x/mnt
N:80 x/mnt N: 88 x/mnt RR:18 x/mnt RR:20 x/mnt RR:20 x/mnt RR:20 x/mnt
RR:20 x/mnt RR:20 x/mnt
3 BB,TB,PB - - - - - -
4 Mata Simertris, Simertris, Simertris, Simertris, Simertris, Simertris,
ikterus-,sklera ikterus-,sklera ikterus-,sklera ikterus-,sklera ikterus-,sklera ikterus-,sklera
putih, putih, putih, putih, putih, putih,
konjungtiva konjungtiva konjungtiva konjungtiva konjungtiva konjungtiva
merah muda merah muda merah muda merah muda merah muda merah muda

5 Hidung Simetris, PCH Simetris, PCH Simetris, PCH Simetris, PCH Simetris, PCH Simetris, PCH
-, sekret - -, sekret - -, sekret - -, sekret - -, sekret - -, sekret -
6 Mulut Mukosa bibir Mukosa bibir Mukosa bibir Mukosa bibir Mukosa bibir Mukosa bibir
lembab, lembab, lembab, lembab, lembab, lembab, karies
karies gigi -. karies gigi -. karies gigi -. karies gigi -. karies gigi -. gigi -.
7 Leher Pembersaran Pembersaran Pembersaran Pembersaran Pembersaran Pembersaran
kelenjera kelenjera kelenjera kelenjera kelenjera kelenjera
tiroid - tiroid - tiroid - tiroid - tiroid - tiroid -
8 Dada I:simetris, I:simetris, I:simetris, I:simetris, I:simetris, I:simetris,
retraksi - retraksi - retraksi - retraksi - retraksi - retraksi -
P: nyeri tekan P: nyeri tekan P: nyeri tekan P: nyeri tekan P: nyeri tekan P: nyeri tekan
- - - - - -
P: pekak P: pekak P: pekak P: pekak P: pekak P: pekak
(paru), redup (paru), redup (paru), redup (paru), redup (paru), redup (paru), redup
(jantung) (jantung) (jantung) (jantung) (jantung) (jantung)
A: whe -/-, A: whe -/-, A: whe -/-, A: whe -/-, A: whe -/-, A: whe -/-,
ronki -/- ronki -/- ronki -/- ronki -/- ronki -/- ronki -/-
9 Perut I:flat I:flat I:supel I:supel I:supel I:supel
A:bising usus A:bising usus A:bising usus A:bising usus A:bising usus A:bising usus
15x/mnt 12x/mnt 8x/mnt 10x/mnt 15x/mnt 15x/mnt
P:nyeri tekan P:nyeri tekan P:nyeri tekan P:nyeri tekan P:nyeri tekan P:nyeri tekan
-, massa - -, massa - -, massa - -, massa - -, massa - -, massa -
P:timpani P:timpani P:timpani P:timpani P:timpani P:timpani

10 Tangan Akral hangat, Akral hangat, Akral hangat, Akral hangat, Akral hangat, Akral hangat,
CRT< 2 detik CRT< 2 detik CRT< 2 detik CRT< 2 detik CRT< 2 detik CRT< 2 detik
11 Kaki Kekuatan otot Kekuatan otot Kekuatan otot Kekuatan otot Kekuatan otot Kekuatan otot
3, akral 5, akral 5, akral 5, akral 5, akral 5, akral
hangat hangat hangat hangat hangat hangat

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Analisa Data
Tanggal Analisa : 12-Mei 2017
No Tanggal Data Diagnosa Keperawatan
1. 12-Mei 2017 Data subyektif : Kurangnya manajemen
Tn. K mengatakan”rumahnya rumah sehat yang
sudah ada jendela tetapi tidak berhubungan dengan
pernah dibuka, sampah dibuang kurang pengetahuan
kesungai ”. keluarga tentang
Data obyektif : manajemen rumah sehat
 Rumah kotor
 Lantai rumah kotor
 Sampah dibuang kesungai
 Jandela 5, 2 terbuka dan 3
patent
 Rumah kurang rapi
 Dapur kotor
 Pendidikan Sd
2. 12-Mei 2017 Data subyektif : Potensial terjadi
 Tn. K mengatakan jika ada peningkatan status
anggota keluarganya yang sakit kesehatan keluarga
keluarga di bawa ke bidan/
puskemas

SCORING/ PRIORITAS
DIAGNOSA KEPERAWATAN KELUARGA

Diagnosa keperawatan :
Kurangnya manajemen rumah sehat yang berhubungan dengan kurang pengetahuan
keluarga tentang manajemen rumah sehat.
No. KRITERIA NILAI BOBOT SCORING PEMBENARAN
1. Sifat masalah : 2 1 2/3 Ventilasi yang kurang akan
Ancaman menyebabkan timbulnya
kesehatan banyak penyakit, namun
dinding rumah celah yang
memungkinkan cahaya dan
udara masuk.
2. Kemungkinan 2 2 2 Keluarga ada kemauan untuk
diubah: berubah.
Sebagian
3. Potensial 2 1 2/3 Dengan memberikan penkes
dicegah: pada keluarga tentang rumah
Cukup sehat akan menambah
pengetahuan keluarga
tentang rumah sehat, tetapi
kebiasaan keluarga menjadi
penyulit keluarga untuk
berubah.
4. Menonjolnya 1 1 1/2 Selama ini keluarga belum
masalah : pernah merasakan masalah
Masalah tidak yang ada.
dirasakan
Jumlah total 5 3/6

Diagnosa keperawatan :
Potensial terjadi peningkatan status kesehatan keluarga
No. KRITERIA NILAI BOBOT SCORING PEMBENARAN

1. Sifat masalah: 1 1 1/3 Keluarga menggunakan
fasilitas kesehatan yang ada
ketika terdapat salah satu
anggota keluarganya yang
sakit
2. Kemungkinan 1 2 1 Adanya kemauan keluarga
diubah: untuk berubah namun masih
Sebagian bergantung pada adanya dana
3. Potensial 2 1 2/3 Dengan memberikan penkes
dicegah: serta motivasi dapat
Cukup meningkatkan pengetahuan
4. Menonjolnya 0 1 0 Keluarga tidak pernah
masalah : merasakan masalah yang ada.
Masalah tidak
dirasakan
Jumlah total 2
Diagnosa Keperawatan Berdasarkan Prioritas Utama:
1. Kurangnya manajemen rumah sehat yang berhubungan dengan kurang
pengetahuan keluarga tentang manajemen rumah sehat.
2. Potensial terjadi peningkatan status kesehatan keluarga
C. INTERVENSI ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA
Diagnosa Tujuan Evaluasi
Keperawatan Intervensi
TUM TUK KRITERIA STANDAR
Kurangnya Setelah dilakukan Keluarga dapat : Respon verbal 1. Mampu menjelaskan 1. Jelaskan syarat-syarat
manajemen rumah dua kali pertemuan 1. Menjel pengertian rumah sehat rumah sehat
sehat yang dengan askan pengertian 2. Mampu menjelaskan 2. Jelaskan kembali
berhubungan dengan memberikan rumah sehat Respon verbal syarat-syarat rumah sehat upaya yang mungkin
kurang pengetahuan penkes, keluarga 2. Menjel 3. Mampu menjelaskan dilakukan untuk
keluarga tentang dapat mengerti askan kriteria rumah kembali upaya yang mencapai rumah
manajemen rumah tentang manajemen sehat mungkin dilakukan untuk sehat
sehat. rumah sehat 3. Menjel mencapai rumah sehat 3. Jelaskan cara
askan upaya yang Respon verbal 4. Mampu menjelaskan cara pembuangan sampah
mungkin dilakukan pembuangan sampah yang benar
untuk mencapai yang benar 4. Minta keluarga untuk
rumah sehat Respon verbal Mendemonstrasikan cara mendemonstrasikan
4. Menjel pembuangan sampah cara pembuangan
askan cara yang benar sampah yang benar
pembuangan sampah Respon 5. Jelaskan pentingnya
yang benar motorik 5. Mampu menjelaskan pencahayaan dan
5. Menjel kembali tentang ventilasi yang cukup
askan pentingnya Respon verbal pentingnya pencahayaan beserta bahayanya
pencahayaan dan dan ventilasi yang cukup 6. Minta keluarga untuk
ventilasi yang cukup beserta bahayanya membuka jendela
serta bahayanya. Respon Mendemonstrasikan rumahnya
Motorik pembukaan jendela
rumah
Diagnosa Tujuan Evaluasi
Keperawatan Intervensi
TUM TUK KRITERIA STANDAR
Potensial terjadi Keluarga dapat 1. Keluarga dapat Respon 1. Keluarga mengerti 1. Jelaskan pada keluarga
peningkatan status mewujudkan menjelaskan verbal pentingnya menjaga tentang pentingnya
kesehatan keluarga menjadi keluarga pentingnya kesehatan mencegah dari pada
yang sehat dan mencegah daripada 2. Keluarga mampu mengobati suatu
sejahtera mengobati Respon mengambil keputusan penyakit
2. Keluarga mampu verbal yang tepat 2. Motivasi keluarga
mengambil menggunakan sarana untuk menggunakan
keputusan yang kesehatan jika ada sarana kesehatan yang
tepat menggunakan anggota keluarga yang tepat jika ada anggota
sarana kesehatan sakit keluarganya yang sakit
jika ada anggota
keluarga yang sakit
D. TINDAKAN KEPERAWATAN DAN EVALUASI
Diagnosa Tgl/ Jam
Implementasi Evaluasi
Keperawatan
Kurangnya 30 Mei 1. Menjelaskan pengertian Knowledge:
manajemen rumah 2017 rumah sehat - Keluarga mampu
sehat yang 16.00 2. Menjelaskan syarat- menjelaskan pengertian
berhubungan dengan syarat rumah sehat rumah sehat
kurang pengetahuan 3. Menjelaskan upaya yang - Keluarga mampu
keluarga tentang mungkin dilakukan menyebutkan syarat
manajemen rumah untuk mencapai rumah rumah sehat
sehat. sehat - Keluarga mampu
4. Menjelaskan cara menjelaskan cara
pembuangan sampah pembuangan sampah
yang benar yang benar
5. Meminta keluarga untuk - Keluarga mampu
mendemonstrasikan cara menyebutkan manfaat
pembuangan sampah ventilasi dan akibat dari
yang benar kurangnya ventilasi dan
6. Menjelaskan pentingnya cahaya di dalam rumah
pencahayaan dan
ventilasi yang cukup Afektif
beserta bahayanya Ny. S mengatakan
7. Meminta keluarga untuk memahami tentang rumah
membuka jendela sehat
rumahnya Psikomotor
Ny. S mendemonstrasikan
cara pembuangan sampah
yang benar, membedakan
sampah organik dan non
organik dan membuka
jendela rumahnya.
Potensial terjadi 30 Mei 1. Menjelaskan pada Knowledge:
peningkatan status 2017 keluarga tentang Keluarga mampu
kesehatan keluarga 10.00 pentingnya mencegah menyebutkan manfaat
dari pada mengobati menggunakan sarana
suatu penyakit kesehatan yang tepat
2. Memotivasi keluarga ketika anggota
untuk menggunakan keluarganya sakit
sarana kesehatan yang
tepat jika ada anggota Afektif:
keluarganya yang sakit Ny. S mengatakan
memahami pentingnya
mencegah suatu penyakit
dan akan berobat ke
petugas kesehatan ketika
dirinya dan anggota
keluarganya sakit.
Kurangnya 30 Mei 1. Menjelaskan Knowledge:
manajemen rumah 2017 kembali upaya yang - Keluarga mampu
sehat yang 16.00 mungkin dilakukan menyebutkan upaya
berhubungan dengan untuk mencapai yang mungkin
kurang pengetahuan rumah sehat dilakukan untuk
keluarga tentang 2. Meminta keluarga mencapai rumah sehat
manajemen rumah untuk
sehat. mendemonstrasikan Afektif
cara pembuangan Ny. S mengatakan
sampah yang benar memahami tentang upaya
3. Meminta keluarga yang mungkin dilakukan
untuk membuka untuk mencapai rumah
jendela rumahnya sehat

Psikomotor
Ny. S mendemonstrasikan
cara pembuangan sampah
yang benar, membedakan
sampah organik dan non
organik dan membuka
jendela rumahnya.
BAB IV
PEMBAHASAN
Pada bab ini akan dibahas mengenai hasil evaluasi terhadap asuhan keperawatan pada Tn.
K dengan kaasus masalah kesehatan rumah sehat. Dimana setelah dilakukan pengakajian
dan analisa data diddapatkan 2 diagnosa yaitu kurangnya manajemen rumah sehat yang
berhubungan dengan kurang pengetahuan keluarga tentang manajemen rumah sehat.
Potensial terjadi peningkatan status kesehatan keluarga.
1. Kurang pengetahuan keluarga tentang manajemen rumah sehat.
Pada diagnosa keperawatan yang pertama ini setelah dilakukan pelaksanaan sesuai
perencanaan, tindakan pada hari pertama pada tanggal 12 Mei 2017 didapatkan hasil
dari evaluasi Knowledge keluraga mampu menjelakan pengertian rumah sehat, kelurga
mampu menyebutkan syrat rumah sehat, keluarga mampu menjelaskan cara
pembuangan sampah yang benar, Afektif adalah Tn. K mengatakan memahami tentang
rumah sehat kemudian hasil evaluasi dari psikomotor Tn. K mendemontrasikan cara
pembuangan sampah yang benar, membedakan sampah organik dan non organik.
Dimana treatmen yang dilakukan untuk mengubah kebiasaan perilaku seseorang
tentang rumah sehat tidak dapat dilakukan hanya dalam 1 hari saja. Selain faktor
kebiasaan , tingkat pengetahuan dan sikap memiliki peran yang sangat penting dalam
manajemen rumah sehat dalam hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh
Tarigan (2010) dengan penelitian yang berjudul hubungan karakteristk, pengetahuan
dan sikap kepala keluarga dengan kepemilikan rumah sehat di Kelurahan Pekan Selesei
Kecamatan Selesai Kabupaten Langkat. Hasil menunjukan adanya hubungan yang
signifikan antara variabel status pendidikan, pendapatan, pekerjaan, pengetahuan, sikap
dengan kepemilikan rumah sehat.

2. Potensial terjadi peningkatan status kesehatan keluarga
Pada diagnosa yang kedua ini setelah dilakukan implementasi sesuai tindakan
keperawatan pada hari pertama dan kedua didapatkan evaluasi knowledge yaitu
keluarga mampumenyebutkan manfaat mengunakan sarana kesehatan yang tepat ketika
anggota keluarga nya sakit, Afektif : Tn. K mengatakan memahami pentingnya
mencegah suatu penyakit dan akan berobat ke petugas kesehatan ketika dirinya dan
anggota keluarganya sakit. hasil pemeriksaan vital sign pada hari pertama didapatkan
Tn. K Tekanan darah : 120/90mmHg, Nadi : 80 x/menit, Suhu : 36,8 o C, RR : 20
x/menit,Ny. N Tekanan darah : 100/60 mmHg, Nadi : 88 x/menit, Suhu : 36,5 o C,
RR : 18 x/menit, Nn. Nadi : 90 x/menit, Suhu : 36,8 o C, RR : 19 x/menit,An. N
Nadi : 100 x/menit, Suhu : 36,7 o C, RR : 20 x/menit,Ny. S Tekanan darah :
140/90 mmHg, Nadi : 98 x/menit, Suhu : 36,6 o C, RR : 20 x/menit. Pada
pemeriksaan vital sign kali ini didapatkan vital sign pada keluarga Tn. K dalam kondisi
batas normal hal ini dikarenakan kesadaran Tn. K dan keluarga tentang pentingnya
kesehatan dimana lebih baik mencegah daripada mengobati.
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kesehatan lingkungan dalam keluarga sangatlah penting sehingga tercipta rumah yang
sehat. Untuk terciptanya rumah yang sehat perlu peran sert keluarga itu sendiri dan
perawat sebagai konselor. Asuhan keperawatn keluarga yang dilaksanakan pada tanggal
12 Mei 2017 sampai dengan 2 Juni 2017 dapat disimpulkan teratasi sebagian pada
diagnosa yang pertama karena unutk mengubah pola pikir perilaku tidak dapat dilakukan
hanya dalam satu hari saja seperti yang sudah di jelaskan pada bab pembahasan diatas.
Kemudian pada diagnosa kedua dapat disimpulkan sudah teratasi. Melalui pendekatan
keluarga yang tepat perawat akan mampu diterima dengan cepat oleh keluarga yang
menjadi keluarga binaannya.
B. Saran
Dibutuhkan lintas sektoral dalam hal ini perangkat desa dan petugas kesehatan yang ada
diwilayah untuk memonitoring setiap keluarga yang ada dan melibatkan tokoh agama
setempat untuk mewujudkan manajmen keluarga sehat.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2009. 2 Manfaat Utama Rumah Tngga Sehat. http://puskelinfo.wordpress.
com/2009/11/18/2-manfaat-utama-rumah-tangga-sehat/, diperoleh tanggal 10
September 2013
Prabu. 2009. Rumah Sehat. http://putraprabu.wordpress.com/2009/01/03/rumah-sehat/,
diperoleh tanggal 10 September 2013.
P2KP. 2010. Tentang Rumah Sehat. http://www.p2kp.org/wartadetil.asp?mid
=3049&catid=2&, diperoleh tanggal 10 September 2013.
Tarigan. 2011. BAB II Tinjauan Pustaka. repository.usu.ac.id/bitstream/
123456789/22479/.../Chapter%20II.pdf, diperoleh tanggal 10 September 2013.
Bailon,S.G. & Maglaya ,A. 1978.perawatan kesehatan keluarga :suatu pendekatan proses
(terjemahan ).jakarta : pusd Iknakes.
Gunarso,Y. singgihD.1988. psikologis untuk keluarga . Jakarta:PT BPK Gunung
mulia .PPNI.2003.standar praktek keperawatan .
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. “Visi Pembangunan Kesehatan: Indonesia
Sehat 2010.” http://www.depkes.go.id/indonesiasehat.html (16 Feb. 2008)