BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Angka kematian akibat dari tidak tersedianya cadangan transfusi darah
pada negara berkembang relatif tinggi. Hal tersebut dikarenakan
ketidakseimbangan perbandingan ketersediaan darah dengan kebutuhan
rasional. Di negara berkembang seperti Indonesia, persentase donasi darah
lebih minim dibandingkan dengan Negara maju padahal tingkat kebutuhan
darah setiap negara secara relatif adalah sama. Indonesia memiliki tingkat
penyumbang enam hingga sepuluh orang per 1000 penduduk. Hal ini jauh
lebih kecil dibandingkan dengan sejumlah Negara maju di Asia, misalnya di
Singapura tercatat sebanyak 24 orang yang melakukan donor darah per 1000
penduduk, berikut juga di Jepang tercatat sebanyak 68 orang yang melakukan
donor darah per 1000 penduduk.1
Transfusi darah secara universal dibutuhkan untuk menangani pasien
anemia berat, pasien dengan kelainan darah bawaan, pasien yang mengalami
kecederaan parah, pasien yang hendak menjalankan tindakan bedah operatif
dan pasien yang mengalami penyakit liver ataupun penyakit lainnya yang
mengakibatkan tubuh pasien tidak dapat memproduksi darah atau komponen
darah sebagaimana mestinya. Pada negara berkembang, transfusi darah juga
diperlukan untuk menangani kegawatdaruratan melahirkan dan anak-anak
malnutrisi yang berujung pada anemia berat. Tanpa darah yang cukup,
seseorang dapat mengalami gangguan kesehatan bahkan mengalami
kematian. Oleh karena itu, transfusi darah yang diberikan kepada pasien yang
membutuhkannya sangat diperlukan untuk menyelamatkan jiwa.1
Indonesia membutuhkan sedikitnya satu juta pendonor darah guna
memenuhi kebutuhan 4,5 juta kantong darah per tahunnya. Sedangkan unit
transfusi darah Palang Merah Indonesia (UTD PMI) menyatakan bahwa
pada tahun 2008 darah yang terkumpul sejumlah 1.283.582 kantong. Hal
tersebut menggambarkan bahwa kebutuhan akan darah di Indonesia yang
tinggi tetapi darah yang terkumpul dari donor darah masih rendah

1
dikarenakan tingkat kesadaran masyarakat Indonesia untuk menjadi pendonor
darah sukarela masih rendah. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa kendala
misalnya karena masih kurangnya pemahaman masyarakat tentang transfusi
darah, persepsi akan bahaya bila seseorang memberikan darah secara rutin.
Selain itu, kegiatan donor darah juga terhambat oleh keterbatasan jumlah
UTD PMI diberbagai daerah, PMI hanya mempunyai 188 unit transfusi darah
(UTD). Mengingat jumlah kota/kabupaten di Indonesia mencapai sekitar
440.1
Menurut data statistik, lebih dari 25% diantara kita membutuhkan darah
setidak-tidaknya sekali dalam seumur hidup kita. Terlebih pada orang diatas
50 tahun, dimana pada usia itu seseorang paling banyak membutuhkan
darah.Sesungguhnya donor darah adalah suatu tindakan yang mulia. Di dalam
kemuliaan kegiatannya itu terkandung beberapa tujuan, dimana salah satu
tujuan utamanya adalah menjaga, memelihara, dan mempertahankan
kesehatan pendonor dan resipien.1,2
Pendonor secara langsung memberikan bantuan berharga pada orang lain
yang tengah sangat membutuhkan. Pendonor seperti memberikan kesempatan
dan waktu lebih lama lagi bagi orang lain untuk melanjutkan kehidupannya.
Namun di balik itu semua, si pendonor sendiri mendapatkan keuntungan yang
besar bagi kesehatannya sendiri.1,2
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia (FK
UMI) sebagai masyarakat muda yang berkecimpung di dalam bidang
kesehatan dinilai sesuai untuk berperan dalam meningkatkan jumlah donor
darah sukarela dan dalam meningkatkan ketersediaan darah. Mahasiswa FK
UMI dapat berperan secara langsung dengan menjadi donor darah sukarela
secara berkala, bisa juga secara tidak langsung dengan mengajak atau
mempromosikan aksi donor darah sukarela kepada masyarakat luas. Sebagai
calon praktisi kesehatan Mahasiswa FK UMI dinilai telah memiliki
pengetahuan tentang pentingnya terapi transfusi darah dan diharapkan
memiliki sikap yang positif terhadap aksi donor darah. Penerapan donor
darah oleh Mahasiswa Kedokteran di lingkungan FK UMI dalam kehidupan
sehari-hari masih belum terbukti. Oleh sebab itu, penelitian ini penting

2
dilakukan untuk memberikan gambaran mengenai pengetahuan Mahasiswa
FK UMI tentang donor darah.

1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka peneliti merumuskan masalah
sebagai berikut : “Bagaimana perbandingantingkat pengetahuan antara
Mahasiswa Fakultas Kedokteran UMI, Mahasiswa non Fakultas Kedokteran
UMI dan Masyarakat Makassar tentang donor darah pada tahun 2015” ?

1.3. Tujuan Penelitian
1. Tujuan umum
Untuk mengukur pebandingan tingkat pengetahuan Mahasiswa
Fakultas Kedokteran UMI, Mahasiswa non Fakultas UMI dan Masyarakat
Makassar tentang donor darahtahun 2015.
2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus dari penelitian ini adalah :
a. Mengukur tingkat pengetahuan tentang donor darah pada Mahasiswa
Fakultas Kedokteran UMI, Mahasiswa non Fakultas Kedokteran UMI
dan Masyarakat Makassar mengenai definisi donor darah.
b. Mengukur tingkat pengetahuan tentang donor darah pada Mahasiswa
Fakultas Kedokteran UMI, Mahasiswa non Fakultas Kedokteran UMI
dan Masyarakat Makassar mengenai manfaat dan syarat donor darah.
c. Mengukur tingkat pengetahuan tentang donor darah pada Mahasiswa
Fakultas Kedokteran UMI, Mahasiswa non Fakultas Kedokteran UMI
dan Masyarakat Makassar mengenai indikasi dan resiko donor darah.
d. Mengukur pebandingan tingkat pengetahuan Mahasiswa Fakultas
Kedokteran UMI, Mahasiswa non Fakultas UMI dan Masyarakat
Makassar tentang donor darah.

1.4. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan ilmu
pengetahuan kesehatan masyarakat tentang gambaran pengetahuan
Mahasiswa Fakultas Kedokteran UMI, Mahasiswa non Fakultas
Kedokteran UMI dan Masyarakat Makassar tentang donor darah. Hasil
penelitian ini juga diharapkan dapat digunakan sebagai penilaian terhadap
kesiapan dari seluruh objek yang diteliti untuk ikut berperan dalam

3
menyukseskan peningkatan donor darah sukarela guna memenuhi
kebutuhan darah kota Makassar berdasarkan pengetahuan yang telah
diperoleh.
2. Manfaat Bagi Peneliti Sendiri
Merupakan pengalaman berharga dan wadah latihan untuk
memperoleh wawasan dan pengetahuan dalam rangka penerapan ilmu
pengetahuan yang telah diterima selama kuliah.
3. Manfaat Bagi Organisasi Kemahasiswaan di Fakultas Kedokteran
UMI
Sebagai bahan masukan dalam perencanaan yang direalisasikan
melalui sebuah bentuk program kerja dalam upaya peningkatan kegiatan
donor darah di lingkungan kampus.
4. Manfaat Bagi Akademis
Hasil penelitian tentang tingkat pengetahuan donor darah
Mahasiswa Fakultas Kedokteran UMI, Mahasiswa non Fakultas
Kedokteran UMI dan Masyarakat Makassar dapat digunakan sebagai
referensi untuk penelitian lebih lanjut yang berhubungan tentang donor
darah.
5. Manfaat Aplikatif
Sebagai bahan penilaian dalam upaya promotif donor darah di
kalangan mahasiswa dan masyarakat Kota Makassar.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengetahuan
2.1.1. Pengertian Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah
orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.
Penginderaan rejadi melalui panca indera manusia, yakni
pengelihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba sehingga
sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan
telinga. Jadi pengetahuan merupakan suatu hasil penginderaan
manusia.pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat
penting dalam membentuk tindakan seseorang.2

4
Pengetahuan (knowledge) adalah hasil tahu dari manusia yang
sekedar menjawab pertanyaan “what” misalnya : apa air ?, apa
manusia ?, apa alam ? dan sebagainya.2
Pengetahuan mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi
perilaku baru didalam diri orang tersebut terjadi proses sebagai
berikut:1
a. Awareness (kesadaran) dimana orang tersebut menyadari dalam
arti mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulasi (obyek)
b. Interest (merasa tertarik) terhadap stimulasi atau obyek tersebut
disini sikap obyek mulai timbul.
c. Evaluation (menimbang-nimbang) terhadap baik dan tidaknya
stimulasi tersebut bagi dirinya, hal ini berarti sikap responden
sudah lebih baik lagi.
d. Trial, dimana subyek mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai
dengan apa yang dikehendaki.
e. Adaptation, dimana subyek telah berprilaku baru sesuai dengan
pengetahuan, kesadaran dan sikap terhadap stimulasi.

2.1.2. Tingkat Pengetahuan
Pengetahuan yang dicakup dalam domain kognitif mempunyai 6
tingkatan yaitu :2
a. Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah
dipelajari sebelumnya, pada tingkatan ini reccal (mengingat
kembali) terhadap sesuatu yang spesifik dari seluruh bahanyang
dipelajari atau rangsang yang diterima. Oleh sebab itu tingkatan
ini adalah yang paling rendah.
b. Memahami (comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk
menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahui dan
dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar tentang
obyek yang dilakukan dengan menjelaskan, menyebutkan contoh
dan lain-lain.
c. Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan sebagai suatu kemampuan untuk
menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi dan

5
kondisi riil (sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan sebagai
aplikasi atau penggunaan hokum-hukum, rumus, metode, prinsip
dan sebagainya dalam kontak atau situasi yang lain.
d. Analisis (analysis)
Analisis adalah kemampuan untuk menjabarkan suatu materi
atau obyek ke dalam komponen-komponen tetapi masih di dalam
suatu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitan satu sama
lain, kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata
kerja dapat menggambarkan, membedakan, memisahkan,
mengelompokkan dan sebagainya.
e. Sintesis (synthesis)
Sintesis menunjukkan pada suatu kemampuan untuk
meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu
bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis ini suatu
kemampuan untuk menyusun, dapat merencanakan, meringkas,
menyesuaikan terhadap suatu teori atau rumusan yang telah ada.
f. Evaluasi (evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan
penilaian terhadap suatu materi atau obyek penilaian-penilaian
itu berdasarkan suatu criteria yang ditentukan sendiri atau
menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.

2.1.3. Cara Memperoleh Pengetahuan
Dari berbagai macam cara yang telah digunakan untuk
memperoleh kebenaran pengetahuan sepanjang sejarah, dapat
dikelompokkan menjadi dua yakni; cara tradisional atau non ilmiah
dan cara modern atau yang disebut ilmiah.2
a. Cara Tradisional Atau Non Ilmiah
Cara tradisional atau non ilmiah terdiri dari empat cara yaitu :
1) Trial and Error
Cara ini dipakai orang sebelum adanya kebudayaan,
bahkan mungkin sebelum adanya peradaban. Pada waktu itu
bila seseorang menghadapi persoalan atau masalah, upaya
yang dilakukan hanya dengan mencoba-coba saja. Cara coba-
coba ini dilakukan dengan menggunakan kemungkinan dalam

6
memecahkan masalah, dan apabila kemungkinan tersebut
tidak berhasil maka dicoba kemungkinan yang lain sampai
berhasil. Oleh karena itu cara ini disebut dengan metode Trial
(coba) dan Error (gagal atau salah) atau metode salah coba
(coba-coba).
2) Kekuasaan Atau Otoritas
Dalam kehidupan manusia sehari-hari, banyak sekali
kebiasaan dan tradisi yang dilakukan oleh orang, penalaran,
dan tradisi-tradisi yang dilakukan itu baik atau tidak.
Kebiasaan ini tidak hanya terjadi pada masyarakat tradisional
saja, melainkan juga terjadi pada masyarakat modern.
Kebiasaan-kebiasaan ini seolah-olah diterima dari sumbernya
berbagai kebenaran yang mutlak. Sumber pengetahuan ini
dapat berupa pemimpin-pemimpin masyarakat baik formal
maupun informal, ahli agama, pemegang pemerintahan dan
sebagainya.
3) Berdasarkan Pengalaman Pribadi
Ada pepatah mengatakan “pengalaman adalah guru
terbaik”. Pepatah ini mengandung maksud bahwa pengalaman
itu merupakan sumber pengetahuan atau pengalaman itu
merupakan suatu cara untuk memperoleh kebenaran
pengetahuan.
4) Jalan Pikiran
Sejalan perkembangan umat kebudayaan manusia cara
berpikir umat manusia pun turut berkembang. Kini umat
manusia mampu menggunakan penalarannya dalam
memperoleh pengetahuan. Dengan kata lain, dalam
memperoleh kebenaran pengetahuan manusia telah
menjalankan jalan pikirannya, baik melalui induksi maupun
melalui deduksi. Induksi dan deduksi pada dasarnya adalah
cara melahirkan pemikiran secara tidak langsung melalui
pertanyaan-pertanyaan yang dikemukakan.
b. Cara Modern Atau Cara Ilmiah

7
Cara baru memperoleh pengetahuan pada dewasa ini lebih
sistematis, logis dan ilmiah yang disebut metode ilmiah.
Kemudian metode berpikir induktif bahwa dalam memperoleh
kesimpulan dilakukan dengan mengadakan observasi langsung,
membuat catatan terhadap semua fakta sehubungan dengan obyek
yang diamati.

2.1.4. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan
Ada dua faktor yang mempengaruhi pengetahuan, diantaranya
adalah2
a. Faktor Instrinsik
1) Umur dan Pengalaman
Umur adalah usia individu yang terhitung mulai saat
dilahirkan sampai berulang tahun, semakin cukup umur,
tingkat kematangan dan kekuatan seseoarang akan leih matang
dalam berpikir dan bekerja. Pengalaman merupakan guru yang
terbaik. Pepatah tersebut dapat diartikan bahwa pengalaman
merupakan sumber pengetahuan, atau pengalaman itu
merupakan suatu cara untuk memperoleh kebenaran
pengetahuan. Oleh sebab itu pengalaman pribadi pun dapat
digunakan sebagai upaya untuk memperoleh pengetahuan.
2) Pendidikan
Semakin tinggi pendidikan seseorang semakin mudah
menerima informasi, sehingga semakin banyak pula
pengetahuan yang dimiliki. Sebaliknya pendidikan yang
kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang
terhadap nilai-nilai yang diperkenalkan.
3) Pekerjaan
Bekerja umumnya merupakan kegiatan yang menyita
waktu, bekerja bagi ibu-ibu akan mempunyai pengaruh
terhadap kehidupan keluarga.
4) Informasi
Informasi adalah penerangan, pemberitahuan, kabar
mengenai sesuatu keseluruhan makna yang menunjang
amanah. Pengetahuan diperoleh melalui informasi yaitu

8
kenyataan dengan melihat dan mendengar sendiri, misalnya
membaca surat kabar, mendengarkan radio, melihat film atau
televisi dan sebagainya.
5) Sifat Kepribadian
Tingkah laku individu bersifat unit sesuai kepribadian
yang dimiliki karena dapat dipengaruhi oleh aspek kepribadian
seperti pengalaman hidup, perubahan usia, watak, tempramen,
sistem nilai serta kepercayaan.
6) Bakat Pembawaan
Bakat sangat berpengaruh dalam tingkah laku karena
merupakan interaksi dari faktor keturunan dan lingkungan.
7) Intelegensi
Sesorang yang mempunyai intelegensi rendah akan
bertingkah laku lambat dalam mengambil keputusan.
8) Motivasi
Motivasi dapat diartikan sebagai kecenderungan atau
keinginan yang tinggi terhadap sesuatu. Motivasi merupakan
kekuatan dari dalam dan dampak dari luar sebagai gerak-gerik
dalam menjalankan fungsinya. Motivasi berhubungan erat
dengan pikiran dan perasaan.
b. Faktor Ekstrinsik
1) Lingkungan
Lingkungan adalah seluruh kondisi yang ada disekitar
manusia dan pengaruhnya dapat mempengaruhi
perkembangan dan perilaku orang atau kelompok. Menurut
Ann Manner (1998) lingkungan memberikan pengaruh
lingkungan sosial pertama bagi seseorang dimana seseorang
dapat mempelajari hal-hal yang baik dan juga hal-hal yang
buruk tergantung pada sifat. Kelompok dalam lingkungan
alam.
2) Agama
Agama menjadikan orang bertambah pengetahuan yang
berkaitan dengan kehidupan spiritual seseorang.
3) Kebudayaan
Kebudayaan yang berlaku di suatu wilayah secara tidak
langsung akan memberikan pengaruh yang besar kepada

9
seseorang dalam memperoleh pengetahuan. Masyarakat yang
memegang teguh adat dan budayanya cenderung lebih susah
untuk memperoleh pengetahuan dibandingkan dengan
masyarakat yang mempunyai kultur budaya terbuka.
2.1.5. Pengukuran Pengetahuan
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau
kuisioner uang menyanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari
subyek penelitian atau respoden. Kedalam pengetahuan yang ingin
kita ketahui atau kita ukur dapat kita sesuiakan dengan tingkatan-
tingakatan.2
2.2. Darah
2.2.1. Darah dan Komponennya
Darah adalah cairan di dalam tubuh makhluk hidup tingkat tinggi
yang sangat penting fungsinya. Fungsi darah bagi manusia adalah :3
1. Menjadi alat transportasi dengan mengangkut oksigen dan
karbondioksida, zat-zat makanan dalam system pencernaan, dan
zat-zat yang tidak dibutuhkan tubuh untuk dibuang keluar melalui
system eksresi.
2. Menjadi alat pelindung tubuh dari serangan virus, bakteri, dan
infeksi.
3. Menjadi bahan pembeku darah jika terjadi pendarahan sehingga
tubuh tidak akan banyak kehilangan darah.
4. Menjadi penjaga keseimbangan asam basa darah dan
mengentalkan darah
5. Menjadi alat penstabil suhu tubuh dengan memastikan penyebaran
energy secara merata ke seluruh tubuh.
Darah tersusun oleh dua komponen penting yaitu plasma (cairan)
darah dan sel-sel darah. Plasma darah adalah cairan kekuningan
dalam darah, 55% dari darah yang terdiri dari sebgaian besar air
(91%) dan komponen mikro (9%) yang terdiri dari :3
1. Albumin
Jenis protein larut dalam air yang terbanyak dalam tubuh.
Jenis protein ini diproduksi oleh hati. Fungsinya sebagai pembantu
jaringan sel baru, mempercepat pemulihan jaringan sel tubuh yang
rusak dan memelihara keseimbangan cairan dalam pembuluh darah

10
(memelihara tekanan onkotik), alat pengangkut asam lemak dalam
darah. Gangguan akibat kekurangan albumin dinamakan
albuminemia. Albuminemia dapat menyebabkan gangguan ginjal.
Penyakit hati kronik dan berbagai infeksi tertentu.
2. Bahan Pembeku Darah
Bahan penting dalam plasma darah yang berperan penting
untuk pembekuan darah jika terjadi luka adalah fibrinogen dan
protrombin. Fibrinogen sendiri merupakan faktor penting dalam
proses pembekuian darah yang menempati 4% alokasi protein
dalam plasma. Jika terjadi luka, maka pembuluh darah akan robek
dan darah akan keluar melalui luka tersebut. Keping darah yang
menyentuh permukaan luka akan pecah dan mengeluarkan
trombokinase. Dengan bantuan ion kalsium, trombokinase akan
mengubah protrombin menjadi trombin, dan trombin ini
dibutuhkan untuk mengubah fibrinogen menjadi benang-benang
fibrin yang akan menutup luka hingga darah berhenti keluar.
3. Antibodi (Imunoglobin)
Fungsi antibodi adalah merespon antigen (protein asing)
yang dihasilkan oleh mikroorganisme parasit yang masuk kedalam
tubuh. Antibodi terdiri dari resipitin yang berguna untuk
mengumpulkan antigen. Lisin yang berfungsi untuk menguraikan
kuman. Antitoksi berfungsi untuk menawarkan racun.

4. Terdapat pula berbagai macam hormon, protein dan garam.

Sementara 45% bagian darah yakni korpus kula, terdiri dari:

1. Eritrosit (Sel Darah Merah)
Bagian terbesar dari korpus kula yaitu 99% yang
mengandung hemoglobin, protein sel darah sel darah merah. Selain
bertugas untuk mengedarkan oksigen ke seluruh jaringan dalam
tubuh, sel darah merah penting dalam penentuan golongan darah.
Anemia dapat terjadi jika kadar sel darah merah dalam tubuhnya
kurang dari kondisi normal.

11
2. Trombosit
Bagian dari korpus kula yang mengandung hanya sekitar
0,6% hingga 1%. Trombosit berperan dalam proses pembekuan.
3. Leukosit (Sel Darah Putih)
Leukosit jumlahnya hanya 0,2% dari sel darah. Leukosit
sebagai benteng pertahanan yang kokok bertujuan untuk mengusir
dan memusnahkan virus, bakteri dan benda-benda asing yang
dianggap berbahaya bagi tubuh. Penyakit leukemia dapat terjadi
jika kandungan leukosit dalam tubuh seseorang sangat berlebih.3
2.3. Transfusi Darah dan Donor Darah
2.3.1. Pendahuluan
Kemajuan dalam ilmu bedah dan pengobatan mengakibatkan
bertambah seringnya dilakukan transfusi darah. Transfusi darah
pertama kali dilakukan oleh dr.Jean Baptiste Denys, dokter pribadi
raja Louis XIV dari perancis, yang melakukan transfusi darah pada
tanggal 15 Juni 1667. Pemberian darah ataupun komponennya
dimaksudkan antara lain untuk menjamin kemampuan penyediaan
oksigen dalam batas curah jantung yang dapat dihasilkan oleh tubuh,
menjamin cukup tersedia trombosit dan faktor- faktor permbekuan
dan untuk mencukupi isi ruang intravascular.3
Transfusi darah sering merupakan penyelamat jiwa, akan tetapi
morbiditas dan mortalitas setelah transfuse darah juga cukup tinggi.
Karena itu transfusi darah seyogyanya hanya diberikan apabila ada
indikasi yang jelas. Biasanya seorang dewasa normal masih dapat
dengan baik mengatasi gangguan fungsional yang ditimbulkan oleh
kehilangan 10% isi darah, 20% kemampuan membawa oksigen atau
kehilangan 40% faktor pembekuan. Kehilangan sebanyak dua kali
jumlah tersebut diatas masih belum mengakibatkan kematian
walaupun menimbulkan gejala yang cukup berat.3,4
2.3.2. Pengertian
Menurut Peraturan Pemerintah No. 18 tahun 1980, definisi
transfusi darah adalah tindakan medis memberikan darah kepada
seorang penderita yang darahnya telah tersedia dalam botol kantong
plastik. Usaha transfusi darah adalah segala tindakan yang dilakukan

12
dengan tujuan untuk memungkinkan penggunaan darah bagi
keperluan pengobatan dan pemulihan kesehatan yang mecakup
masalah-masalah pengadaan, pengolahan, dan penyampaian darah
kepada orang sakit. Darah yang digunakan adalah darah manusia atau
bagian-bagiannya yang diambil dan diolah secara khusus untuk
bertujuan pengobatan dan pemulihan kesehatan. Penyumbang darah
adalah semua orang yang memberikan darah untuk maksud dan tujuan
transfusi darah.
Donor darah atau pendonor darah adalah orang yang
menyumbangkan darah atau komponennya kepada pasien untuk
tujuan penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan. Jadi, diluar
dua tujuan itu namanya bukan donor darah. Ada 3 tipe donor yaitu
donor darah bayaran, donor darah pengganti, donor darah sukarela.4
2.3.3. Pengelolaan Darah
Pengelolaan darah adalah tahapan kegiatan untuk mendapatkan
darah sampai dengan kondisi siap pakai sejak darah diambil dari
donor sampai darah ditransfusikan kepada pasien yang
membutuhkan.4
Pengelolaan donor darah yang mencakup antara lain:3
a. Rekruitmen donor
Rekruitmen pendonor harus dilakukan secara ketat dan
teliti. Kesalahan dalam mendapatkan donor akan merugikan
semua pihak. Sebagai missal, darah dari pendonor yang akhirnya
diketahui mengandung virus berbahaya setelah dilakukan
penelitian padanya hingga harus dimusnahkan, memerlukan bahan
serta proses pemeriksaan darah yang biayanya cukup mahal.
b. Pengambilan Darah Donor
Pengambilan darah dari pendonor merupakan tahap
berikutnya yang tak kala penting. Pada tahap inilah terkumpul
darah yang terseleksi secara ketat melalui serangkaian pengujian
sebelumnya. Kehati-hatian dan metode yang baik perlu diterapkan
untuk menjamin mutu darah sekaligus menghindarkan darah dari
kontaminasi kuman, bakteri, dan hal-hal lain yang dapat
menyebabkan darah menjadi tercemar. Prosedur dan ketentuan

13
dalam pengambilan darah dilakukan secara aseptik dan
peralatannya harus steril. Petugas bagian pengambilan harus dapat
mengenali reaksi yang mungkin terjadi pada saat pengambilan
darah. Kantong darah yang digunakan harus mempunyai izin edar.
Pengambilan darah kurang dari 6 menit . volume darah yang
diambil harus sesuai dengan volume anti koagulan. Darah yang
telah diambil harus sesuai antara 20 hingga 60 derajat celcius.
Label harus melekat pada kantong darah dan mudah dibaca.
Semua data-data pengambilan darah harus didokumentasikan dan
diarsipkan dengan baik.
c. Pemeriksaan Golongan Darah
Pemeriksaan golongan darah merupakan bagian dari tes uji
kecocokan antara donor dan resipien. Pemeriksaan golongan
darah ini dapat dilakukan dengan uji golongan darah ABO,
dimana golongan darah dibagi menjadi golongan sel darah merah
plasma dan rhesus faktor.
d. Pra Konseling Donor Darah
Sebelum mendonorkan darahnya, calon pendonor telah
mendapatkan informasi dan penjelasan perihal seluk-beluk donor
darah, diantaranya perihal kondisi kesehatan calon pendonor yang
baik untuk mendonor, darah yang sehat untuk transfusi, maupun
perilaku beresiko yang membuat seseorang tidak cocok untuk
mendonorkan darah. Namun tidak menutup kemungkinan bagi
calon pendonor yang tidak atau belum mengetahuinya. Petugas
UTD-PMI perlu mengadakan konseling pra-donasi sebagai salah
satu bagian penting dari seleksi donor.
e. Penyimpanan Darah
Darah dari pendonor yang belum akan ditransfusikan akan
disimpan dengan baik sesuai standar yang berlaku. Penyimpanan
darah ini dilakukan didalam refrigerator dengan suhu tertentu.
Suhu tersebut berkisar antara 2 hingga 6 derajat celcius, suhu yang
ideal untuk memperlambat glikolisis dalam darah. Untuk
trombosit, suhu penyimpanannya berkisar antara 20 hingga 24

14
derajat celcius dan harus segera ditransfusikan. Waktu untuk
pengolahan darah menjadi komponen trombosit sampai siap
ditransfusikan harus dikerjakan dalam waktu tidak lebih dari 6
jam.
f. Pemeriksaan Uji Saring
Penyakit yang diperiksa dalam uji saring adalah sifilis,
hepatitis B dan C serta HIV AIDS. Khusus untuk daerah
prevalensi malaria cukup tinggi, ditambahkan dengan
pemeriksaan malaria. Ada dua metode yang digunakan dalam uji
saring yaitu, metode ELISA merupakan metode yang dipakai
untuk mendeteksi antigen atau antibodi yang dihasilkan oleh
tubuh sebagai tanggapan atas kehadiran virus atau bakteri dan
metode NAT yang merupakan metode dalam mendeteksi RNA
atau DNA virus. Metode ini dapat lebih cepat mendeteksi virus
yang masuk ke tubuh seseorang.
g. Post Konseling Donor Darah
Meskipun telah dilakukan pra kon seling namun petugas
UTD-PMI tetapmelakukan pemeriksaan lanjutan perihal darah
yang disumbangkan. Pemeriksaan darah tersebut untuk
mengetahui apakah darah yang diberikan pendonor positif
terjangkit virus HIV, Hepatitis B, Hepatitis C dan Sifilis atau
tidak.
h. Pemisahan darah menjadi komponen darah.

2.3.4. Syarat-syarat Teknis Menjadi Donor Darah
Untuk menjadi donor darah, seorang calon donor harus berusia
antara 17-60 tahun. Pada usia 17 tahun diperbolehkan menjadi donor
bila mendapat izin tertulis dari orang tua, berat badan minimal 45 kg,
temperature tubuh secara oral antara 36,6-37,5 derajat celcius,
tekanan darah baik yaitu systole 100-140 mmHg dan diastole 60-90
mmHg, denyut nadi teratur 50-100x/menit, kadar hemoglobin untuk
wanita minimal 12 gr % dan pria minimal 12,5 gr %, jumlah
penyumbangan per tahun sebanyak 3-4 kali dengan jarak

15
penyumbangan sekurang-kurangnya tiga bulan. Keadaan ini harus
sesuai dengan keadaan umum kesehatan donor.3,4
Seseorang yang ingin mendonorkan darahnya tidak sedang
mengonsumsi obat apapun terutama aspirin dan antibiotika (kecuali
konsumsi vitamin diperbolehkan). Untuk wanita tidak sedang haid,
hamil dan menyusui. Interval donor minimal 75 hari atau 12 minggu
atau 3 bulan sejak donor darah sebelumnya (maksimal 5 kali dalam
setahun).
Seseorang tidak diperbolehkan menjadi pendonor darah pada
keadaan pernah menderita hepatitis B dan hepatitis C dan
berhubungan kontak erat dengan penderita hepatitis dalam enam
bulan terakhir, tidak dibolehkan menjadi pendonor pada orang yang
sedang menderita penyakit infeksi menular, tidak diperbolehkan
menjadi pendonor bagi seseorang pasca operasi gigi dalam kurun
waktu 72 jam terakhir, pasca operasi kecil dan besar dalam enam
bulan terakhir. Tidak dianjurkan menjadi pendonor pada seseorang
yang memiliki kelainan darah misalnya thalasemia, hemophilia,
polistemiavera, termasuk kelompok masyarakat yang mempunyai
resiko tinggi untuk mendapatkan HIV/AIDS (homoseks, morfinis,
berganti-ganti pasangan seks, pemakai jarum suntik tidak steril) dan
yang terakhir adalah pengidap HIV/AIDS menurut hasil pemeriksaan
pada saat donor darah.4,5
2.3.5. Pengambilan Darah Donor dan Manfaat Donor Darah Bagi
Kesehatan
Seorang calon donor yang datang ke UTD akan diminta untuk
membaca dan menjawab sendiri persyaratan-persyaratan menjadi
donor, mengisi formulir pendaftaran donor dan diperbolehkan untuk
menanyakan hal-hal yang tidak dimengerti kepada petugas. Riwayat
medis calon donor akan ditanyakan. Kemudian dilanjutkan dengan
pemeriksaan hemoglobin dengan mengambil darah dari ujung jari
untuk diperiksa. Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik sederhana
dan tekanan darah dan akan memerikan pertanyaan sehubungan

16
dengan isian formulir pendaftaran. Pengambilan darah akan
mengambil waktu kurang lebih 15 menit.5,6
Seorang asisten atau laboran akan bersama calon pendonor
dan calon pendonor diminta untuk beristirahat selama 5-10 menit
dalam posisi berbaring. Lama penyumbangan bervariasi tergantung
dari banyak tidaknya penyumbang darah. Pengambilan donor darah
dilakukan secara bergantian. Darah yang diambil sekitar 250 cc atau
350 cc, kira-kira 7-9% dari volume rata-rata orang dewasa. Darah
dikumpulkan ke dalam kantong plastik 250 ml yang mengandung 65-
75 ml. CPC (Citrate Phospate Dextrose) atau ACD (Acid Citrate
Dextrose). Volume tersebut akan digantikan oleh tubuh dalam waktu
24-48 jam dengan minum yang cukup.5,6
Setelah menyumbangkan darah, pendonor dipersilahkan
menuju ruang istirahat sambil duduk untuk memberikan kesempatan
tubuh menyesuaikan diri menikmati hidangan. Kartu donor akan
diberikan sebelum meninggalkan ruangan.5,6
1. Tehnik Penyadapan Darah (Pengambilan Darah Donor)
Tehnik pengambilan darah dan sampel darah dilakukan
pada donor yang telah lolos seleksi. Pada saat akan dilakukan
pengambilan darah dan sampel darah perlu diperhatikan tehnik
pengambilan darah dan sampel agar mendapatkan darah yang
aman.
Adapun ketentuan prosedur sebagai berikut :
a. Semua prosedur dilakukan secara aseptik, alat-alat yang
digunakan harus steril
b. Petugas pengambilan darah adalah tekhnisi yang mempunyai
kompetensi dan terlatih
c. Kantong darah yang dipilih harus memiliki izin edar
d. Aliran darah harus lancar
e. Pengambilan darah harus kurang dari 6 menit
f. Volume darah yang diambil harus sesuai dengan volume
antikoagulan pencampuran darah dan antikoagulan harus baik
g. Selesai pengambilan segera simpan darah pada suhu 20-60
derajat celcius, petugas bagian penyadapan harus mengenali
reaksi yang mungkin terjadi saat penyadapan

17
h. Label harus melekat pada kantong darah dan mudah dibaca
semua data kegiatan pengambilan darah harus
direkomendasikan dan diarsipkan dengan baik
Peralatan dan bahan-bahan yang digunakan dalam
penyadapan darah :
a. Tempat tidur
b. Tensimeter
c. Timbangan
d. Gunting
e. Rak tabung
f. Spidol
g. Kapas
h. Larutan disinfektan (alcohol 70% povidon iodine)
i. Tempat pinset, gunting, kasa steril
j. Katong darah
k. Tabung sampel dan penutup
l. Tensoplast

Persiapan petugas sebelum memulai bekerja :
a. Pakai jas laboratorium
b. Cuci tangan dengan sabun
c. Pakai sarung tangan
d. Persiapan label atau stiker. Label stiker memuat : nomor
kantong golongan darah, tanggal pengambilan, tanggal
kadaluarsa, nama petugas.
e. Identifikasi kantong darah. Setiap kantong harus ada system
penomoran yang tertera pada kantong darah, selang, tabung
specimen dan formulir pengantar ke laboratorium.

Persiapan penusukan vena cubiti :
a. Lakukan pada daerah yang telah dipilih untuk melakukan
venapuncture pembersihan lekuk lengan bagian depan dengan
cara pola lingkaran konsentrik yang membesar. Gunakan
kapas steril yang membesar. Gunakan kapas steril yang diusap
dengan menggunakan alcohol 70%.
b. Tunggu hingga daerah lengan yang dibersihkan kering
kembali dan jangan menyentuh daerah yang telah didesinfeksi.
Tata cara pengambilan darah harus sesuai dengan prosedur
yang ada pada UTD-PMI dengan cara kerja sebagai berikut :
a. Donor dipersilahkan mencuci lengan dengan sabun aseptik

18
b. Donor dipersilahkan berbaring pada tempat tidur yang telah
disediakan dengan posisi terlentang
c. Tangan donor ditempatkan lurus disamping dengan posisi
menghadap ke atas
d. Tensimeter dipasang pada lengan donor dengan posisi selang
diatas
e. Kantong darah diidentifikasi dan tabung sampel harus sesuai
dengan formulir donor darah yaitu : nomor kantong, golongan
darah, tanggal pengambilan, tanggal kadaluarsa, nama
petugas, jam pengambilan darah
f. Tensimeter dinaikkan hingga batas antara sistol dan diastole.
Raba dan tentukan lokasi vena yang akan ditusuk, turunkan
tekanan manset
g. Disinfeksi lokal dengan kapas dan alcohol 70% dengan
melakukan gerakan melingkar dari dalam keluar minimal tiga
kali
h. Buat simpul longgar pada selang kantong darah kurang lebih
15cm dari jarum
i. Tempatkan kantong darah diatas timbangan atau haemoscale
j. Naikkan kembali tekanan manset hingga batas antara systole
dan diastole
k. Lakukan penusukan vena
l. Ketika darah masuk selang turunkan manset hingga 40 mmHg
m. Lakukan fiksasi selang dengan plester
n. Kocok darah perlahan agar bercampur dengan antikoagulan
o. Apabila volume darah sudah mencapai klem dengan pean 1
dan pean 2 dengan jarak 5cm, potong selang antara klem,
kencangkan simpul selang
p. Ambil sampel darah dengan menggunakan tabung contoh;
turunkan tekanan manset hingga 0
q. Letakkan kapas steril diatas jarum, angkat plester, cabut jarum
perlahan; tangan donor dilipat
r. Sealer selang dengan hand sealer hingga darah yang tertinggal
di selang bercampur dengan antikoagulan 2-3 kali
s. Cocokkan nomor sampel dengan nomor kantong dan nomor
pada formulir
t. Rapikan selang dan masukkan ke dalam blood bank

19
u. Periksa bekas tusukan vena pada pendonor, bila tidak berdarah
lagi tusuk dengan tensoplast; angkat manset
v. Persilahkan donor ke ruang istirahat bila tidak ada keluhan
dari donor
2. Tehnik pemberian Darah Donor (Transfusi Darah) :1
a. Sebelum pemberian, minta klien untuk menyebutkan nama
untuk memastikan identifikasi klien dengan benar
b. Bersihkan tangan dengan antiseptik selama 2 menit dan
bersihkan area kerja untuk mengurangi perpindahan
mikroorganisme
c. Atur peralatan
d. Jelaskan prosedur klien, terutama tentang pentingnya
memeriksa tanda vital dengan sering
e. Siapkan selang :
1) Buka kemasan selang dan tutup regulator tetean (yang
dapat diklem, roller, atau sekrup). Perhatikan penutup
merah dan putih diatas bagian penusukan selang
2) Lepaskan penutup putih yang merupakan selang merah
yang harus ditusuk oleh penusuk
3) Lepaskan label dari kantong atau botol salin normal dan
masukkan bagian penusuk selang
4) Lepaskan penutup dari ujung selang, buka klem roller 1
salin, isi ruang tetesan dengan salin dan bilas selang
sampai ke ujung
5) Tutup klem roller cairan
6) Pasang kembali penutup pada ujung selang dan tempatkan
di tempat tidur dekat kateter IV (jika penginfusan darah
cepat, sambungkan ke selang gulungan hangat dan bilas
selang sampai ujung. Letakkan gulungan dalam wadah air
hangat)
f. Gunakan sarung tangan dan masukkan kateter IV, jika perlu atau jika
kateter IV ada dan ukurannya cocok (kateter harus berukuran 20G
atau lebih besar) , lepaskan balutan sehingga hub kateter cukup
terbuka. Memungkinkan akses ke sambungan selang darah,
menurunkan hemolisis, memungkinkan darah mengalir dengan bebas

20
g. Sambungkan selang darah ke hub kateter (buang plug infuse atau
tempatkan penutup jarum diatas selang infus sebelumnya)
h. Buka pengatur cairan, atur kecepatan yang menyebabkan vena tetap
terbuka (15-30 ml/jam)
i. Periksa dan catat nadi, pernapasan, tekanan darah dan suhu
j. Lepaskan penutup merah untuk menunjukkan bagian selang darah
yang harus ditusuk dan lengan dengan gerakan memuntir dorong
penusuk ke lubang kantong darah
k. Tutup klem roller 1 pada sisi selang normal dan buka klem roller 1
pada sisi selang darah
l. Atur kecepatan tetesan untuk memberikan
1) Darah maksimum 30 ml dalam 15 menit pertama
2) ½ sampai ¼ volume darah setiap jam (62-125 ml per jam)
bergantung pada toleransi klien terhadap perubahan volume dan
volume darah yang akan diinfuskan, jika klien mempunyai
toleransi buruk terhadap perubahan volume, beberapa bank darah
akan membagi unit menjadi setengahnya sehingga 8 jam pertama
dapat digunakan menginfus satu unit packed cell. Kebanyakan
reaksi terjadi dalam 15 menit pertama
m. Periksa tanda vital dan suhu 15 menit setelah transfuse dimulai,
kemudian setengah jam atau setiap sampai transfuse selesai
n. Jika transfuse darah selesai :
1) Tutup klem roller 1
2) Buka klem roller salin normal
3) Lepaskan kantong atau botol darah kosong, tutup kembali bagian
penusuk
4) Isilah pada lembar bank darah waktu selesainya infus dan
tempelkan salinan lembar ini ke kantong kosong
5) Tempatkan semua selang yang digunakan dan kantong darah
dalam pendingin dan kembalikan ke bank darah. Jika transfuse
darah kedua diberikan, gunakan selang baru
6) Beritahu klien tentang tanda/ gejala reaksi transfusi lambat
7) Lepaskan jalur perifer atau bilas alat akses sesuai kebijakan
8) Lepaskan sarung tangan dan cuci tangan, kemudian bersihkan
jalur darah untuk infuse cairan lain

21
o. Selama dan setelah transfusi darah, pantau klien dengan ketat dan
instruksikan klien dan pemberi untuk mengobservasi tanda reaksi
transfusi
p. Jika diketahui terdapat rekasi alergi atau pirogenik :
1) Hentikan transfusi darah
2) Lepaskan selang darah dan ganti dengan selang salin normal
3) Berikan salin normal dengan kecepatan tetesan yang lambat
4) Segera hubungi dokter
3. Manfaat Dasar Bagi Kesehatan
Ada banyak manfaat darah bagi kesehatan, antara lain :4,6
a. Mengurangi resiko penyakit jantung karena dengan donor
darah, kadar Fe (besi) dalam darah menjadi berkurang.
Pasalnya jika kandungan Fe teroksidasi dalam darah terlalu
banyak, maka resiko penyakit jantung koroner semakin
meningkat. Zat besi yang menumpuk akan meningkatkan
radikal bebas di dalam tubuh dan dapat mengoksidasi
kolesterol. Kolesterol yang teroksidasi tersebut akan
mengendap di dinding pembuluh darah. Oksidasi kolesterol
yang mengendap di pembuluh darah akan menimbulkan plak
(atherosclerosis) yang merupakan cikal bakal timbulnya
penyakit jantung koroner.
b. Status kesehatan seorang donor akan selalu terpantau setiap 3
bulan sekali. Itulah mencamtumkan alamat yang jelas di
formulir pendaftaran donor darah, karena jika ada penyakit
dalam darah pendonor akan diberikan informasi mengenai hal
tersebut. Jika tidak ada informasi dari UTD/UDD bisa karena
darah lolos skrining atau sebetulnya tidak lolos skrining,
namun karena alamat tidak jelas maka tidak dapat diberikan
informasi yang biasanya berupa surat dalam amplop tertutup
dan bersifat rahasia
c. Perasaan puassecara psikologis karena dapat membantu orang
lain.
d. Membantu proses pengurangan berat badan, karena donor
darah itu dapat membakar kalori di dalam tubuh.
2.3.6. Skrining atau Pemeriksaan Uji Saring

22
Transfusi darah merupakan jalur ideal bagi penularan penyebab
infeksi tertentu dari donor kepada resipien. Untuk mengurangi potensi
transmisi penyakit melalui transfusi darah, diperlukan serangkaian
skrining terhadap factor-faktor resiko yang dimulai dari riwayat medis
sampai beberapa tes spesifik. Tujuan utama skrining adalah untuk
memastikan agar persediaan darah yang ada sedapat mungkin bebas
dari penyebab infeksi dengan cara melacaknya sebelum darah tersebut
ditransfusikan. Untuk skrining donor darah yang aman maka
pemeriksaan harus dilakukan secara individual (tiap individual bag
atau satu unit darah). Jenis pemeriksaan yang digunakan sesuai
dengan standar WHO, dalam hal ini meliputi pemeriksaan atas sifilis,
hepatitis B, hepatitis C dan HIV. Metode tes dapat menggunakan uji
cepat khusus (rapid test), automated test maupun ELISA (Enzyme
Linked Immuno Sorbent Assay). Laboratorium yang menguji 1-35
donasi per minggu sebaiknya menggunakan rapid test. Laboratorium
yang menguji 35-60 donasi per minggu sebaiknya menggunakan
metode uji aglutinasi partikel dan yang menguji lebih dari 60 donasi
per minggu sebaiknya menggunakan EIA. Metode yang umum
digunakan di UTD cabang adalah rapid test.6
Dalam mempertimbangkan berbagai pengujian, perlu
disadari data yang berkaitan dengan sensitivitas dan spesifitas
masing-masing pengujian. Sensitivitas adalah suatu kemungkinan
adanya hasil tes yang akan menjadi reaktif pada seorang individu
yang terinfeksi, oleh karena itu sensitivitas pada suatu pengujian
adalah kemampuannya untuk melacak sampelk positif yang selemah
mungkin. Spesifitas adalah suatu kemungkinan adanya suatu hasil tes
yang akan menjadi non-reaktif pada seorang individu yang tidak
terinfeksi, oleh karena itu spesifitas suatu pengujian adalah
kemampuannya untuk melacak hasil positif non-spesifik atau palsu.6
Dalam mempertimbangkan masalah penularan penyakit
melalui transfusi darah, perlu diingat bahwa seorang donor yang sehat
akan memberikan darah yang aman. Donor yang paling aman adalah

23
donor yang teratur, sukarela dan tidak dibayar. Jelasnya bahwa para
donor yang beresiko terhadap penyakit infeksi harus didorong agar
tidak menyumbangkan darahnya.5,6
Seorang betul-betul tidak boleh donor jika :4,6
a. Memiliki penyakit paru (TB aktif)
b. Memiliki penyakit kanker
c. Memiliki hipertensi
d. Sedang dalam pengobatan diabetes
e. Memiliki kecenderungan perdarahan abnormal atau kelainan
darag lainnya
f. Memiliki penyakit epilepsy dan sering kejang
g. Menderita atau pernah menderita penyakit hepatitis B atau C.
Dapat dilakukan pemeriksaan HBsAg. HBsAg merupakan
penanda awal infeksi hepatitis B. bila HBsAg menetap dalam
darah > 6 bulan berarti telah terjadi infeksi kronis dan pasien
dengan HBsAg positif sangat tidak dianjurkan untuk melakukan
donor darah.
h. Mengidap sifilis
Untuk menegakkan diagnosis sifilis diperlukan
pemeriksaan serologik yaitu Tes Serologi Sifilis (TSS). Selain itu
TSS juga diperlukan untuk evaluasi pengobatan sebagai ukuran
untuk mengevaluasi tes serologik adalah sensitivitas dan
spesifitas. Tes treponemal terdiri dari dua jenis yaitu tes untuk
menentukan jenis antibodi anti treponema positif yang terdiri dari
RPCFT dan RPCIE dan tes untuk menentukan jenis antibodi anti
treponema spesifik yang terdiri dari TPI, FTA Abs, FTA Abs IgM,
FTA Abs IgM (19S), TPHA dan SPHA. Serodia TPPA, Murex
Syphilis ICE dan Enzywell TP telah dievaluasi sebagai tes
treponemal dan menunjukan sensitifitas dan spesifisitas yang
tinggi, sehingga dapat digunakan sebagai skrining diagnosis
sifilis.
i. Ketergantungan narkoba
j. Kecanduan minuman beralkohol
k. Mengidap atau beresiko tinggi HIV-AIDS
l. Dokter menyarankan untuk tidak mendonorkan darah karena
alasan kesehatan

24
2.3.7. Indikasi Pemberian Darah dan Komponen Darah

Faktor keamanan dan keefektifan transfusi darah bergantung
pada indikasi transfusi darah dan pemberian komponen darah yang
tepat. Transfusi darah atas indikasi yang tidak tepat tidak akan
member keuntungan bagi pasien, bahkan malah menambah resiko
yang tidak perlu. Keputusan untuk melakukan transfusi darah harus
selalu berdasarkan penilaian yang tepat dari segi klinis penyakit dan
hasil pemeriksaan laboratorium.5,6
Setelah melalui pengambilan akan didapatkan darah segar utuh
atau darah lengkap (whole blood). Darah segar utuh ini terdiri dari 3
jenis, yaitu :3,6
a. Fresh blood (darah segar)
Darah segar adalah darah yang baru diambil dari pendonor
atau telah disimpan hingga 6 jam setelah pengambilan. Darah
segar diberikan kepada penderita yang mengalami perdarahan
aktif yang kehilangan darah lebih dari 25% untuk meningkatkan
jumlah kandungan eritrosit dan plasma. Keuntungan penggunaan
darah segar untuk transfusi adalah masih lengkapnya faktor
pembekuan, termasuk faktor pembekuan labil (V dan VIII). Selain
itu, fungsi eritrosit masih terbilang baik. Kerugiannya adalah sulit
untuk didapatkan pada waktu yang tepat dan masih relatif
banyaknya resiko penularan karena pemakaiannya.
b. Darah baru
Darah baru adalah darah yang telah disimpan sebelumnya
antara 6 jam hingga 6 hari, setelah darah diambil dari pendonor.
Kerugiaanya adalah hampir habisnya faktor pembekuan dan
terjadinya peningkatan kadar kalium, ammonia dan asam laktat.
c. Darah disimpan (stored blood)

Darah disimpan adalah darah yang telah disimpan lebih dari 6 hari
dan telah disimpan pada suhu 4 derajat celcius. Keuntungan
penggunaan darah simpan adalah ketersediaanya yang mudah dan

25
resiko penularan sifilis dan sitomegalovirus (virus DNA dari
golongan virus herpesviridae, seperti herpes zoster, Epstein barr)
telah menghilang. Kerugiaannya adalah mudah rusaknya faktor
pembekuan labil V dan VIII, kemampuan transportasi oksigen
telah menurun sehingga oksigen sulit untuk dilepas ke jaringan.
Selain itu kadar kalium, ammonia dan asam laktat telah lebih
tinggi.
Darah segar utuh (whole blood) dapat dipisahkan menjadi
komponen-komponen darah yaitu:3,6
1. Sel darah merah
a. Sel darah merah pekat (packed red cell)
PRC merupakan komponen yang terdiri dari sel darah
merah yang dipekatkan dengan memisahkan komponen-
komponen lain, meski masih mengandung sisa-sisa leukosit
dan trombosit. PRC diperuntukkan pada kasus kehilangan
darah yang tidak terlalu berat, transfusi darah pra operasi atau
anemia kronik dimana volume plasmanya normal.
b. Sel darah merah pekat cuci (washed red cell)
WRC didapatkan dengan mencuci PRC sebanyak 2-3
kali dengan salin hingga sisa plasma terbuang habis. Beda
WRC dan PRC adalah kadar sisa leukosit dan trombosit yang
jauh lebih rendah. WRC diperuntukkan bagi penderita yang
alergi terhadap protein plasma.
c. Sel darah merah miskin leukosit
Yang diperuntukkan bagi penderita yang tergantung
pada transfusi darah.
d. Sel darah merah pekat beku
Yang dicuci dan diperuntukkan pada penderita yang
mempunyai antibodi terhadap sel darah merah yang menetap.
e. Sel darah merah diradiasi
Yang diperuntukkan bagi penderita transplantasi organ
atau sumsum tulang.
2. Trombosit

26
Trombosit diperuntukkan bagi penderita yang mengalami
gangguan jumlah atau fungsi trombosit. Darah yang akan diolah
menjadi trombosit harus disimpan pada suhu 2-24 derajat celcius.
3. Plasma
Terdapat 7 jenis plasma yaitu :
a. Plasma protein fraction yang diperuntukkan mengganti plasma
yang hilang pada luka bakar, kedaruratan abdomen dan jika
terdapat trauma.
b. Plasma segar beku (fresh frozen plasma), yang masih
mengandung faktor pembekuan V dan VIII, diperuntukkan bagi
penderita hemofili dan pasien dengan gangguan hemostatis
yang labil.
c. Kriopresipitat yang diperuntukkan bagi pasien hemophilia A,
penyakit non willebrand faktor dan sindrom defibrinectin akut.
d. Faktor VIII konsentrat, yang diperuntukkan bagi hemophilia A
e. Faktor IX-protrombin kompleks konsentrat yang diperuntukkan
bagi pasien hemophilia B
f. Fibrinogen konsentrat yang diperuntukkan bagi pasien
Disseminated intravaskulkar coagulated (DIC) yakni suatu
keadaan dimana bekuan darah kecil tersebar di seluruh aliran
darah, menyebabkan penyumbatan pada pembuluh darah kecil
dan berkurangnya faktor pembekuan yang diperlukan untuk
mengandalkan perdarahan.
g. Immunoglobin konsentrat, diperuntukkan pada pasien
defisiensi immunoglobin.
4. Leukosit
Leukosit atau granulosit konsentrat diperuntukkan bagi
penderita yang leukositnya diketahui turun berat, infeksi yang tidak
membaik, infeksi yang berat dan tidak sembuh dengan pemberian
antibiotik dan penurunan kualitas leukosit.3,6

Tabel 2.1. Bentuk Darah, Indikasi Pemberian dan Massa Simpan Darah.7,8,9

No Bentuk Darah Indikasi Massa Simpan Keterangan

27
1. Darah Lengkap 1. Perdarahan
2. Anemia
3. Renjatan Oligonemik 21 Hari
4. Kelainan Darah seperti anemia aplastik
2. Eritrosit Anemia kronis dimana volume sirkulasi Khususnya untuk
Terkonsumsi tidak bertambah 21 Hari pasien jantung,
amemia berat.
3. Darah Lengkap 12 Jam
Segar
4. Darah Baru Transfusi tukar pada neonates 2 Hari Bila kadar kalium
pasien masih rendah
5. Eritrosit Cucian 1. Hemoglobinuria noktural paroksimal
2. Resipien yang memiliki antobodi
terhadap leukosit/trombosit
3. Reaksi transfusi terhadap antigen Leukosit belum
plasma 6 Jam dapat hilang
4. Pasca transplantasi organ seluruhnya
5. Pasien dengan defisiensi imunitas
6. Eritrosit Beku Sama seperti indikasi untuk eritrosit cucian 6 Jam setelah Pembuatan mahal
dicairkan
7. Plasma Kering 1. Untuk meningkatkan volume sirkulasi Umur 3 jam setelah
2. Luka bakar 8 Tahun dicairkan
8. Plasma Beku Segar Defisiensi factor pembekuan seperti Harus segera dipakai
hemophilia, pasca transfusi massif, setelah dicairkan
kelebihan dosis coumarin dan antikoagulan
indandione
9. Konsentrasi Fraksi Sama dengan indikasi plasma kering 2 Tahun Tidak mengandung
Protein Plasma fibrinogen
10. Albumin Hipoalbuminemia 3 jam setelah
preparasi
11. Fibrinogen Afibrinogenemia 3 jam setelah
preparasi
12. Kripresititat Defisiensi factor VIII
13. Faktor VIII Kering Hemofilia 3 jam setelah
preparasi
14. Konsentrat Trombositopenia karena berbagai macam 2-3 Hari
Trombosit sebab

2.3.8. Pemeriksaan Golongan Darah Donor
Karl Landsteiner, seorang ilmuwan asal Austria yang
menemukan 3 dari 4 golongan darah dalam system ABO pada tahun
1900 dengan cara memeriksa golongan darah beberapa teman
sekitarnya. Percobaan sederhana ini pun dilakukan dengan
mereaksikan sel darah merah dengan serum dari para donor.10

28
Hasilnya adalah dua macam reaksi (menjadi dasar antigen A dan
B, dikenal dengan golongan darah A dan B) dan satu macam tanpa
reaksi (tidak memiliki antigen, dikenal dengan golongan darah O).
Kesimpulannya ada dua macam antigen A dan B di sel darah merah
yang disebut golongan A dan B, atau sama sekali tidak ada reaksi
disebut golongan O.10
Kemudian Alfred Von Decastello dan Adriano Sturli yang masih
kolega dari Landsteiner menemukan golongan darah AB pada tahun
1901. Pada golongan darah AB, kedua antigen A dan B ditemukan
secara bersamaan pada sel darah merah sedangkan pada serum tidak
ditemukan antibodi. Menurut system ABO, golongan darah dibagi
menjadi 4 golongan seperti yang tertera pada tabel 2.2.10
Untuk menentukan golongan darah seseorang tidak diperlukan
biaya yang besar dan relatif mudah karena hanya memerlukan
beberapa tetes dari sampel darah. Sebuah serum anti-A dicampur
dengan satu atau dua tetes sampel darah. Serum lainnya dengan anti-B
dicampurkan pada sisa sampel. Penilaian dilakukan dengan
memerhatikan apakah ada penggumpalan pada salah satu sampel
darah tersebut. Sebagai contoh, apabila sampel darah yang dicampur
dengan serum anti-A tersebut menggumpal pada sampel darah yang
dicampur serum anti-B maka antigen A ada pada sampel darah
tersebut. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa sampel darah
tersebut diambil dari orang dengan golongan darah A.10

Tabel 2.2. Pembagian Golongan Darah Sistem ABO

Golongan Antigen A Antigen B Antibodi Antibodi
Darah Anti-A Anti-B
A + - - -
B - + + -
O - - + +
AB + + - -
BerBerdasarkan ada tidaknya antigen-Rh, maka golongan darah
manusia dibedakan atas dua kelompok. Kelompok pertama adalah

29
kelompok orang dengan Rh-positif (Rh+), berarti darahnya memiliki
antigen-Rh yang ditunjukkan dengan reaksi positif atau terjadi
penggumpalan eritrosit pada waktu dilakukan tes dengan anti-Rh
(antibodi Rh). Kelompok satunya lagi adalah kelompok orang dengan
Rh-negatif (Rh-berarti darahnya tidak memiliki antigen-Rh yang
ditunjukkan dengan reaksi negatif atau tidak terjadi penggumpalan
saat dilakukan tes dengan anti-Rh (antibodi Rh). Menurut Landsteiner
golongan darah Rh ini termasuk keturunan (herediter) yang diatur
oleh satu gen yang terdiri dari dua alel, yaitu R dan r. R dominan
terhadap r sehingga terbentuknya antigen-Rh ditentukan oleh gen
dominana R. Orang Rh+ mempunyai genotip RR atau Rr, sedangkan
orang Rh- mempunyai genotip rr.10

2.4. Resiko Penularan Infeksi Pada Donor Darah
2.4.1. Pendahuluan
Resiko penularan penyakit infeksi melalui transfusi darah
bergantung pada berbagai hal, antara lain prevalensi penyakit di
masyarakat, keefektifan skrining yang digunakan, status imun resipien
dan jumlah donor tiap unit darah (National Blood Users Group,
2001). Penularan penyakit terutama timbul pada saat window period
yaitu periode segera setelah infeksi dimana darah donor sudah
infeksius tetapi hasil skrining masih negatif.11,12
Beberapa resiko yang mungkin terjadi pada transfusi darah
diantaranya adalah :3
1. Reaksi transfusi
Reaksi transfusi adalah semua kejadian yang merugikan
pasien (resipien) yang timbul selama atau setelah transfusi dan
memang berhubungan dengan transfusi darah tersebut.
Diantaranya adalah :
a) Alergi
Reaksi yang paling sering terjadi setelah transfusi darah
dilakukan. Reaksi ini ditandai dengan gatal-gatal.
b) Demam

30
Pasien (resipien) mengalami demam selama transfusi
atau dalam 24 jam setelah transfusi. Demam ini kadang diikuti
dengan perasaan mual, sakit kepala, dan tubuh terasa tidak
nyaman.
2. Reaksi Hemolitik kekebalan akut
Reaksi ini terjadi ketika golongan darah antara resipien
dan pendonor tidak cocok. Antibodi pasien menyerang sel-sel
darah merah yang ditransfusikan. Reaksi ini sangat jarang terjadi
namun reaksi jenis ini yang paling serius dalam transfusi darah
yang dapat menyebabkan kematian jika transfusi darah tidak
segera dihentikan.
3. Reaksi Hemolitik tertunda
Reaksi terjadi secara perlahan-lahan,dimana tubuh
menyerang antigen selain ABO pada sel-sel darah merah yang
ditransfusikan yang mengakibatkan sel-sel darah merah
mengalami pemecahan dalam beberapa hari atau beberapa minggu
setelah transfusi.
4. Gravt-versus-host disease
Seseorang yang mempunyai sistem kekebalan tubuh
sangat lemah mendapatkan transfusi produk darah dimana di
dalamnya terkandung sel darah putih. Sistem kekebalan tubuh
menganggap sel-sel darah putih yang ditransfusikan itu sebagai
benda asing. Sebagai bentuk pertahanan diri, sel-sel darah putih
itu menyerang jaringan tubuh pasien. Kondisi seperti itulah yang
dinamakan Gravt-versus-host disease (GVHD)
5. Kontaminasi bakteri
Diantara komponen-komponen darah, trombosit diketahui
merupakan komponen yang paling memungkinkan untuk terkena
kontaminasi bakteri. Berdasarkan penelitian, 1 dari 5.000 unit
trombosit yang didonorkan terkontaminasi bakteri. Berdasarkan
penelitian tersebut dan ditambah dengan kenyataan bahwa bakteri
dapat tumbuh cepat dalam rentang waktu singkat, maka trombosit
harus disimpan dalam suhu kamar untuk meminimalkan
kontaminasi bakteri.

31
6. Hepatitis B dan C
Berdasarkan penelitian didapatkan, hepatitis merupakan
penyakit yang paling umum ditularkan dengan jalan transfusi.
7. Human Immunodeficiency Virus (HIV)
Salah satu momok menakutkan manusia adalah tertular
virus HIV atau virus penyerang kekebalan tubuh manusia yang
menyebabkan sindrom AIDS
8. Infeksi
Meski telah dilakukan pengujian secara ketat sebelumnya,
namun bagaimanapun juga transfusi bisa menjadi jalan masuk
bagi bakteri, virus, dan parasit yang menyebabkan terjadinya
infeksi. Meskipun kecil kemungkinannya, infeksi tetap dapat
terjadi. Tifdak menutup kemungkinan pasien tertular berbagai
penyakit akibat transfusi darah yang dilakukannya. Salah satu
penangkal yang ampuh untuk mencegah kemungkinan buruk itu
adalah dengan diadakannya pemeriksaan bagi calon-calon
pendonor dan juga pengujian pada darah para pendonor sebelum
digunakan untuk ditransfusi.
2.4.2. Transmisi HIV
Penularan HIV melalui transfusi darah pertama kali diketahui
pada akhir tahun 1982 dan awal 1983. Pada tahun 1983 Public Health
Centre (Amerika Serikat) merekomendasikan orang yang berersiko
tinggi terinfeksi HIV untuk tidak menyumbangkan darah. Bank darah
juga mulai menanyakan kepada donor mengenai berbagai perilaku
beresiko tinggi, bahkan sebelum skrining antibodi HIV dilaksanakan,
hal tersebut ternyata telah mampu mengurangi jumlah infeksi HIV
yang ditularkan melalui transfusi.
Berdasarkan laporan dari Centre for Disease Control and
Prevention (CDC) selam 5 tahun pengamatan, hanya mendapatkan 5
kasus HIV/tahun yang menular melalui transfusi setelah dilakukannya
skrining antibodi HIV pada pertengahan maret 1985 dibandingkan
dengan 714 kasus pada tahun 1984. Untuk mengurangi resiko
penularan HIV melalui transfusi, bank darah mulai menggunakan tes

32
antigen p24 pada tahun 1995. Setelah kurang lebih 1 tahun skrining,
dari 6 juta donor hanya 2 yang positif.11,12
2.4.3. Penularan Hepatitis B dan C
Penggunaan skrining antigen permukaan hepatitis B pada
tahun 1975 menyebabkan penurunan infeksi hepatitis B yang
ditularkan melalui transfusi, sehingga saat ini hanya terdapat 10%
yang menderita hepatitis pasca transfusi. Makin meluasnya vaksinasi
hepatitis B diharapkan mampu lebih menurunkan angka penularan
virus hepatitis B. Meskipun penyakit akut timbul pada 35% orang
yang terinfeksi, tetapi hnya 1-10% yang menjadi kronis.11,12
Transmisi infeksi virus hepatitis non-A non-A sangat
berkurang setelah penemuan virus hepatitis C dan dilakukannya
skrining anti-HCV. Resiko penularan hepatitis C melalui transfusi
darah adalah 1:103.000 transfusi. Infeksi virus hepatitis C penting
karena adanya fakta bahwa 85% yang terinfeksi akan menjadi kronik,
20% menjadi sirosis dan 1-5% menjadi karsinoma yang cukup
adekuat.8,9,11
2.4.4. Penularan Syphilis
Syphilis dapat menular kepada orang lain selain melalui
hubungan seks yaitu juga melalui transfusi darah. Penularan syphilis
di Kanada telah berhasil dihilangkan dengan penyeleksian donor yang
cukup hati-hati dan penggunaan tes serologis terhadap penanda
syphilis (Canadian medical Association, 1997). Di Indonesia syphilis
dikenal dengan nama penyakit raja singa.11,12
2.4.5. Kontaminasi Darah Donor
1. Kontaminasi Bakteri
Kontaminasi bakteri mempengaruhi 0,4% konsentrat sel
darah merah dan 1-2% konsentrat konsentrat trombosit (WHO,
2002). Kontaminasi bakteri pada darah donor dapat timbul sebagai
hasil paparan terhadap bakteri kulit pada saat pengambilan darah,
kontaminasi alat dan manipulasi darah oleh staf bank darah atau
staf rumah sakit pada saat pelaksanaan transfusi atau bakteremia
pada donor saat pengambilan darah yang tidak diketahui.

33
Jumlah kontaminasi bakteri meningkat seiring dengan
lamanya penyimpanan sel darah merah atau plasma sebelum
transfusi. Penyimpanan pada suhu kamar meningkatkan
pertumbuhan hampir semua bakteri. Beberapa organisme seperti
pseudomonas tumbuh pada suhu 2-6 derajat celcius dan dapat
bertahan hidup atau berproliferasi dalam sel darah merah yang
disimpan, sedangkan Yersinia dapat berproliferasi bila disimpan
pada suhu 4 derajat celcius. Stafilokokus tumbuh dalam kondisi
yang lebih hangat dan berproliferasi dalam konsentrat trombosit
pada suhu 20-40 derajat celcius. Oleh karena itu, resiko meningkat
sesuai dengan lamanya penyimpanan (Moore,1997). Gejala klinis
akibat kontaminasi bakteri pada sel darah merah timbul pada 1
juta unit transfusi. Resiko kematian akibat sepsis bakteri timbul
pada 1:9 juta unit transfusi sel darah merah. Di Amerika Serikat
selama tahun 1986-1991, kontaminasi bakteri pada komponen
darah sebanyak 16-28% diantaranya berhubungan dengan
transfusi sel darah merah. Resiko kontaminasi bakteri tidak
berkurang dengan penggunaan transfusi darah autolog.10,11,12
2. Kontaminasi Parasit
Kontaminasi parasit dapat timbul hanya jika donor
menderita parasitemia pada saat pengumpulan darah. Kriteria
seleksi donor berdasarkan riwayat bepergian terakhir, tempat
tinggal terdahulu, dan daerah endemik sangat mengurangi
kemungkinan pengumpulan darah dari orang yang mungkin
menularkan malaria, penyakit Chagas atau Leismaniasis.10,12
2.5. Prosedur Pelayanan Darah di BDRS/UTD/UDD/PMI
Prosedur Pelayanan darah di BDRS/UTD/UDD/PMI terdiri dari:13
a. Dokter yang merawat, mengisi formulir khusus rangkap 4 atau 5 untuk
permintaan darah secara lengkap.
b. Formulir dan sampel darah pasien dikirim ke BDRS/UTD/UDD oleh
keluarga pasien.

34
c. Atas dasar permintaan tersebut, petugas melakukan uji silang antara
sampel darah pasien dengan sampel darah donor untuk memastikan
kecocokannya jika tidak cocok maka diperlukan pemeriksaan lanjutan.
d. Jika stock tersedia, maka waktu yang dibutuhkan maksimal 1 jam karena
petugas hanya tinggal melakukan uji saring. Namun jika tidak ada stock
yang tersedia, maka waktu yang
dibutuhkan bisa lebih dari 4-5 jam
TINGKAT
tergantung pada jenis komponen PENGETAHUAN
darah yang dibutuhkan.
e. Setelah menerima darah yang - Pengetahuan umum
dibutuhkan keluarga pasien akan tentang darah
- Definisi donor
segera membawa ke Rumah Sakit
darah
untuk dilakukan prosedur transfusi. - Manfaat Donor
Hati-hati dalam membawa darah Darah
- Syarat-syarat
agar tidak rusak dalam perjalanan.
menjadi Pendonor
darah
2.6. Kerangka Teori - Indikasi transfusi
darah
- Resiko penularan
infeksi melalui
Pengalaman
donor darah
- Penggolongan darah
Keyakinan
dan pengelolaan
Fasilitas darah
-
Sosial Budaya

Pengetahuan

Persepsi

Sikap

Keinginan

Motivasi

Niat
35
2.7. Kerangka Konsep

Definisi donor darah
Mahasiswa Fakultas Kedokteran UMI, Mahasiswa non Fakultas Kedokteran UMI dan Masyarakat Maka

Pengetahuan Manfaat dan Syarat donor darah
Donor Darah

Indikasi dan resiko donor darah

Variabel dependen

Variabel independen

2.8. Definisi Operasional dan Kriteris Objektif
1. Pengetahuan tentang donor darah
Pengetahuan adalah apa yang diketahui oleh Mahasiswa Fakultas
Kedokteran UMI, Mahasiswa non Fakultas Kedokteran UMI dan

36
Masyarakat Makassar tentang apa itu donor darah, syarat dan manfaat
donor darah, indikasi serta resiko yang timbul akibat tindakan donor
darah.
2. Kriteria Objektif:2,13
- Baik : jika responden mampu menjawab dengan benar 76% sampai
100% dari seluruh pertanyaan.
- Cukup : jika responden mampu menjawab dengan benar 56% sampai
76% dari seluruh pertanyaan.
- Kurang : jika responden mampu menjawab dengan benar kurang dari
56% dari seluruh pertanyaan.

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian analitik dengan pendekatan cross-
sectional. Rancangan penelitian cross-sectioanal artinya penelitian ini di
dalam pengumpulan datanya dilakukan dengan satu periode waktu tertentu,
setiap subyek, studinya hanya satu kali pengamatan selama penelitian,
maksudnya ketika memberikan kuisioner hanya satu kali saja dan tidak
dilakukan ulangan.13
3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian
1. Lokasi penelitian
Penelitian ini dilakukan di Universitas Muslim Indonesia dan Kota
Makassar.
2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada bulanNovember – Desember 2015.
3.3. Populasi dan Sampel Penelitian
1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah Mahasiswa Universitas Muslim
Indonesia dan Masyarakat Kota Makassar.
2. Sampel
Sampel pada penelitian ini adalah 50 orang Mahasiswa Fakultas
Kedokteran UMI, 50 orang Mahasiswa non Fakultas Kedokteran UMI
dan 50 orang Masyarakat Makassar.
3. Tehnik Sampling

37
Tehnik sampling yang digunakan adalah quota sampling, yaitu tehnik
yang menentukan sampel dari populasi yang mempunyai ciri-ciri tertentu
sampai jumlah (quota) yang diinginkan.

4. Kriteria Sampel
a) Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia yang
bersedia mengisi kuisioner.
b) Mahasiswa non Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia
yang bersedia mengisi kuisioner.
c) Masyarakat Kota Makassar yang bersedia mengisi kuisioner.
d) Responden yang memiliki kondisi kesadaran dan psikologi tidak
terganggu
3.4. Metode Pengumpulan Data
Data yang digunakan adalah data primer, yaitu data yang diperoleh dari
responden penelitian. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan
instrumen penelitian berupa kuisioner.
3.5. Instrumen Pengumpulan Data
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuisioner. Adapun
skala pengukuran yang digunakan jika benar diberi nilai atau skor 1 dan bila
jawaban tidak benar atau tidak dijawab diberi nilai 0. Pertanyaan dalam
bentuk pilihan ganda, kemudian responden memilih jawaban a,b atau c yang
responden anggap benar.
3.6. Metode Pengolahan Data
Tehnik nonstatistik yaitu pengolahan data dengan tidak menggunakan
tehnik analisis statistik, tetapi dengan cara deskriptif.Pengolahan data
dilakukan menggunakan program Microsoft Excel 2013. Dalam analisis ini
tidak diperlukan perubahan data kualitatif dalam data kuantitatif.
Rumus yang digunakan adalah :
Rumus : P =- F/N x 100%
Keterangan :
P = persentase
F = jumlah jawaban yang benar
N = Jumlah soal
Penentuan tingkat pengetahuanresponden penelitian dengan cara
mengkonversikan nilai subvariabel maupun variabel ke dalam kategori
kualitatif, sebagai berikut :

38
Nilai 76-100% : Baik
Nilai 56-75% : Cukup
Nilai <56% : Kurang
3.7. Hipotesis
H0, yaitu terdapat perbandingan tingkat pengetahuan antara Mahasiswa
Fakultas Kedokteran UMI, Mahasiswa non Fakultas Kedokteran UMI dan
Masyarakat Makassar tahun 2015.
3.8. Etika Penelitian
Sebelum melakukan penelitian, penelitimeminta izin pada instansi
terkait dalam hal ini bagian KTI Fakultas Kedokteran UMI Makassar. Setelah
mendapat persetujuan, maka kegiatan penelitian dimulai dengan menekankan
masalah etika yang meliputi ;
a. Persetujuan Responden (Informed Consent)
Peneliti meminta persetujuan secara lisan kepada responden yang akan
diteliti, agar responden dapat mengerti maksud dan tujuan penelitian ini
serta responden dapat bekerja sama dengan baik demi kelancaran
penelitian ini. Bila responden menolak, peneliti tidak akan memaksa dan
tetap menghormati hak-hak responden.
b. Kerahasiaan (Confidentiality)
Kerahasiaan informasi responden dijamin oleh peneliti. Hanya kelompok
data tertentu yang dilaporkan sebagai hasil penelitian.

BAB IV

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

39
4.1 Sejarah Universitas Muslim Indonesia
Keberadaan Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, belum
tergoyahkan sebagai salah satu Perguruan Tinggi Islam Swasta tertua, terbesar
dan terkemuka di Kawasan Indonesia Timur. Kebesarannya tampak pada
aspek keilmuan dan profesionalisme, yang diwarnai dengan etika, moral dan
intelektual yang berlandaskan keislaman. Tidak heran jika UMI sampai saat
ini tetap menjadi kebanggaan umat Islam di Indonesia Timur. Juga satu-
satunya universitas swasta di Indonesia Timur yang sudah TERAKREDITASI
INSTUTUSI dari pemerintah Nomor : 036/BAN-PT/Ak-I/Ins/III/2008, dan
UMI satu-satunya universitas swasta di Indonesia Timur yang diberi
kepercayaan oleh pemerintah untuk menyelenggarakan Pendidikan Doktor (S-
3).
Kelahiran UMI berawal dari keprihatinan dan kegelisahan para tokoh
masyarakat, alim ulama dan para raja di Sulawesi, khususnya di Makassar,
karena belum adanya perguruan tinggi Islam ketika itu, sedang penduduknya
mayoritas muslim. Melihat kenyataan tersebut, dan disadari oleh para tokoh
masyarakat dan ulama di Makassar, bahwa jika kondisi itu dibiarkan maka
anak bangsa yang ada di wilayah ini (Sulawesi) akan ketinggalan jauh
dibidang pendidikan, di banding dengan daerah-daerah lain, sementara potensi
tenaga pengajar di Makassar cukup memadai untuk membuka perguruan
tinggi.

40
Akhirnya pada pertengahan tahun 1952, ide untuk mendirikan perguruan
tinggi Islam sudah mulai bergulir, beberapa tokoh masyarakat menghubungi
para raja di daerah ini, seperti H. Andi Mappanyukki (Raja Bone), H. Andi
Jemma (Raja Luwu) Andi Ijo Karaeng Lalolang (Raja Gowa) dan Pajonga
Karaeng Polongbangkeng (orang terkemuka di daerah Polongbangkeng),
Disamping itu rencana tersebut juga disampaikan kepada Gubernur Sulawesi
dan Walikota Makassar, ternyata gagasan itu disambut baik dan para raja dan
pemerintah siap untuk membantu mewujudkan cita-cita luhur tersebut.
Sebagai tindak lanjut rencana membuka perguruan tinggi Islam di
Makassar, maka dibentuklah sebuah badan yang bernama “Wakaf
Pembangunan Universitas Muslim Indonesia” pada tanggal 18 Februari 1953,
kini bernama Yayasan Wakaf UMI. Sebagai pemegang amanah dipercayakan
sebagai Ketua Umum : Sutan Muhammad Yusuf Samah, Ketua I ; H. Andi
Sewang Dg. Muntu, Ketua II : Naziruddin Rahmat, Sekretaris Umum : Abdul
Waris, dan Pembantu Sekretaris : Andi Maddaremmeng.
Kehawatiran mereka mulai sirna ketika para tokoh masyarakat, alim ulama
dan para raja (pemerintah) di Sulawesi sepakat untuk mendirikan lembaga
pendidikan tinggi Islam yang bernama “Universitas Muslim Indonesia”.
Peresmian pendirian UMI dilakukan di Gubernuran Makassar pada tanggal 23
Juni 1954 bertepatan dengan 22 Syawal 1373 H, yang ditandai dengan
penandatangan Azas Piagam Pendirian UMI oleh K.H. Muhammad Ramly
(Dewan Mahaguru), La Ode Munarfa (Dewan Kurator), Sutan Muhammad
Yusuf Samah (Badan Wakaf) dan Chalid Husain (Sekretaris), disaksikan oleh
S.N. Turangan (Wakil Menteri P dan K), H. Muhammad Akib (mewakili
Kementrerian Agama), Andi Burhanuddin (mewakili Gubernur Sulawesi),
serta Ahmad Dara Syahruddin (Walikota Makassar).
Nama Universitas Muslim Indonesia bermakna universitas yang membina
umat Islam, dalam bahasa arab disebut Jamiatul Muslimina Indonesiyah yang
bermakna gerakan yang menghimpun umat Islam sedangkan dalam bahasa
Inggris Moslem University Of Indonesia yang bermakna universitas milik
umat Islam Indonesia.

41
UMI yang dibina oleh Yayasan Wakaf UMI dengan ciri khasnya sebagai
lembaga pendidikan dan dakwah mengemban tugas dan tanggung jawab yang
lebih luas dan lebih berat dari sekedar menghasilkan sarjana, karena proses
pendidikan di UMI memberi pengetahuan dan keterampilan sesuai disiplin
ilmu yang digeluti, serta memberikan nilai plus kepada anak didiknya, melalui
pengembangan aqidah, etika Islam dan pencerahan qalbu, sebagai pondasi
dalam mengarungi masa depan. Kegaiatan akademik di UMI telah
menerapkan standar jaminan mutu, sesuai standar yang telah ditetapkan oleh
Pemerintah, Insya Allah UMI akan melahirkan sumberdaya manusia yang
“UMI” (Unggul, Mutu dan Islami).
4.2 Visi dan Misi
4.2.1 Visi
Mewujudkan UMI sebagai Lembaga Pendidikan dan Da’wah yang
Unggul, Mutu & Islami, melahirkan manusia berilmu amaliah, beramal
Ilmiah dan berakhlaqul karimah, terutama yang terkait dengan
pengembangan IPTEKS (Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Seni)
dalam rangka Syiar Islam serta memperjuangkan kepentingan ummat
secara global sebagai wujud pengabdian kepada Allah Subhanahu Wa
Taala.
4.2.2 Misi
1) Membentuk manusia yang berilmu Amaliah, beramal Ilmiah dan
berakhlaqul karimah yang adabtif, transpormatif dan inovatif.
2) Mengembangkan Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Seni dalam
rangka pembuktian dan pengejawantahan kebenaran perintah Allah
SWT, dan pengembangan Syariat Islam.
3) Memperjuangkan kepentingan umat islam, baik nasional maupun
global, agar umat islam dan cendekiawannya terposisi sebagai
khaerah ummah.
4.3 Lokasi Penelitian
Terletak di Jl. Urip Sumoharjo Km 5 dengan luas areal 140.200 m 2. Pada
areal kampus dua ini telah tersedia 22 gedung, 10 gedung di antaranya
berlantai 4. Kampus ini menjadi pusat kegiatan pendidikan mahasiswa
Universitas Muslim Indonesia yang dilengkapi sarana gedung perkuliahan,

42
pusat laboratorium, gedung serbaguna, pasilitas olah raga, Unit Kegiatan
Mahasiswa (UKM), dan Mesjid yang megah.

43
BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Hasil Penelitian

Penelitian ini mengenai gambaran tingkat pengetahuan tentang donor
darah antara mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia,
mahasiswa Universitas Muslim Indonesia non kedokteran, dan masyarakat di
Makassar Tahun 2015. Penelitian ini dimulai pada November - Desember 2015.
Penelitian ini menggunakan instrumen penelitian berupa kuisioner yang dibagikan
kepada 150 koresponden yang terdiri dari 50 mahasiswa Fakultas Kedokteran
UMI, 50 mahasiswa UMI Non Kedokteran, dan 50 masyarakat Makassar. Data
yang diperoleh dari kuisioner langsung dikumpulkan kemudian diolah dengan
menggunakan fasilitas komputer. Adapun hasil pengolahan data secara lengkap
yang diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

5.1.1 Distribusi tingkat pengetahuan responden penelitian tentang definisi,
manfaat dan syarat, serta indikasi dan resiko donor darah
Tabel 5.1 memperlihatkan bahwa dari sampel mahasiswa Fakultas
Kedokteran UMI yang berjumlah 50 responden, diperoleh bahwa responden yang
memiliki pengetahuan kategori baik tentang pengertian donor darah adalah
sebanyak 41 orang atau 82%. Sedangkan jumlah responden yang memiliki
pengetahuan dengan kategori cukup sebanyak 9 orang atau 18%. Dan responden
yang memiliki pengetahuan dengan kategori kurang adalah tidak ada atau 0%.
Mahasiswa Fakultas Kedokteran UMI yang berjumlah 50 responden,
diperoleh bahwa responden yang memiliki pengetahuan kategori baik tentang
manfaat dan syarat donor darah adalah sebanyak 39 orang atau 78%. Sedangkan
jumlah responden yang memiliki pengetahuan dengan kategori cukup sebanyak
10 orang atau 20%. Dan responden yang memiliki pengetahuan dengan kategori
kurang sebanyak 1 orang atau 2% .

44
Tabel 5.1
Distribusi tingkat pengetahuan responden penelitian tentang definisi, manfaat dan
syarat, serta indikasi dan resiko donor darah

Responden
Variabel Total
Kategori
Pengetahuan
Pengetahuan Mahasiswa Mahasiswa Non Masyarakat
Donor Darah
FK FK Kota Makassar
n % N % n % n %
Baik 41 82.0 21 42.0 4 8.0 86 57.33
Definisi Cukup 9 18.0 26 52.0 29 58.0 64 42.67
Kurang 0 0.0 3 6.0 17 34.0 20 13.33
Baik 39 78.0 30 60.0 6 12.0 75 50.00
Manfaaat
Cukup 10 20.0 18 36.0 29 38.0 57 38.00
Dan Syarat
Kurang 1 2.0 2 4.0 15 30.0 18 12.00
Baik 10 20.0 2 4.0 3 6.0 15 10.00
Indikasi Dan
Cukup 29 58.0 36 72.0 32 64.0 97 64.67
Resiko
Kurang 11 22.0 12 24.0 15 30.0 38 25.33

Mahasiswa Fakultas Kedokteran UMI yang berjumlah 50 responden,
diperoleh bahwa responden yang memiliki pengetahuan kategori baik tentang
indikasi dan resiko donor darah adalah sebanyak 10 orang atau 20%. Sedangkan
jumlah responden yang memiliki pengetahuan dengan kategori cukup sebanyak
29 orang atau 58%. Dan responden yang memiliki pengetahuan dengan kategori
kurang sebanyak 11 orang atau 22% .

Tabel 5.1 memperlihatkan bahwa dari sampel mahasiswa Non Kedokteran
UMI yang berjumlah 50 responden, diperoleh bahwa responden yang memiliki
pengetahuan kategori baik tentang pengertian donor darah adalah sebanyak 21
orang atau 42%. Sedangkan jumlah responden yang memiliki pengetahuan dengan
kategori cukup sebanyak 26 orang atau 52%. Dan responden yang memiliki
pengetahuan dengan kategori kurang adalah sebanyak 3 orang atau 6%.

45
Mahasiswa Non Kedokteran UMI yang berjumlah 50 responden, diperoleh
bahwa responden yang memiliki pengetahuan kategori baik tentang pengertian
manfaat dan syarat donor darah adalah sebanyak 30 orang atau 60%. Sedangkan
jumlah responden yang memiliki pengetahuan dengan kategori cukup sebanyak
18 orang atau 36%. Dan responden yang memiliki pengetahuan dengan kategori
kurang adalah sebanyak 2 orang atau 4%.

Mahasiswa Non Kedokteran UMI yang berjumlah 50 responden, diperoleh
bahwa responden yang memiliki pengetahuan kategori baik tentang indikasi dan
resiko darah adalah sebanyak 2 orang atau 4%. Sedangkan jumlah responden yang
memiliki pengetahuan dengan kategori cukup sebanyak 36 orang atau 72%. Dan
responden yang memiliki pengetahuan dengan kategori kurang adalah sebanyak
12 orang atau 24%.

Tabel 5.1 memperlihatkan bahwa dari sampel masyarakat Makasssar yang
berjumlah 50 responden, diperoleh bahwa responden yang memiliki pengetahuan
kategori baik tentang pengertian donor darah adalah sebanyak 4 orang atau 8%.
Sedangkan jumlah responden yang memiliki pengetahuan dengan kategori cukup
sebanyak 29 orang atau 58%. Dan responden yang memiliki pengetahuan dengan
kategori kurang adalah sebanyak 17 orang atau 34% .

Masyarakat Makassar yang berjumlah 50 responden, diperoleh bahwa
responden yang memiliki pengetahuan kategori baik tentang manfaat dan syarat
donor darah adalah sebanyak 6 orang atau 12%. Sedangkan jumlah responden
yang memiliki pengetahuan dengan kategori cukup sebanyak 29 orang atau 58%.
Dan responden yang memiliki pengetahuan dengan kategori kurang adalah
sebanyak 15 orang atau 30% .

Masyarakat yang berjumlah 50 responden, diperoleh bahwa responden
yang memiliki pengetahuan kategori baik tentang indikasi dan resiko donor darah
adalah sebanyak 3 orang atau 6%. Sedangkan jumlah responden yang memiliki
pengetahuan dengan kategori cukup sebanyak 32 orang atau 64%. Dan responden

46
yang memiliki pengetahuan dengan kategori kurang adalah sebanyak 15 orang
atau 30% .

5.2 Perbandingan Tingkat Pengetahuan responden tentang donor darah
berdasarkan kategori pengetahuan
Tabel 5.2
Distribusi secara keseluruhan Tingkat Pengetahuan responden tentang donor darah
berdasarkan kategori pengetahuan
Responden
Masyarakat P
Kategori Mahasiswa Mahasiswa Value
Kota
Pengetahuan FK Non FK
Makassar
n % n % n %
Baik 39 78.0 18 36.0 5 10.0
Cukup 9 18.0 26 52.0 30 60.0 0,00
Kurang 2 4.0 6 12.0 15 30.0
Total 50 100.0 50 100.0 50 100.0

Tabel 5.2 memperlihatkan bahwa dari sampel mahasiswa Fakultas
Kedokteran UMI yang berjumlah 50 responden, diperoleh bahwa responden yang
memiliki pengetahuan kategori baik tentang donor darah secara keseluruhan
adalah sebanyak 39 orang atau 78%. Sedangkan jumlah responden yang memiliki
pengetahuan dengan kategori cukup sebanyak 9 orang atau 18%. Dan responden
yang memiliki pengetahuan dengan kategori kurang sebanyak 2 orang atau 4% .

Pada mahasiswa Non Kedokteran UMI yang berjumlah 50 responden,
diperoleh bahwa responden yang memiliki pengetahuan kategori baik tentang
donor darah secara keseluruhan adalah sebanyak 18 orang atau 36%. Sedangkan
jumlah responden yang memiliki pengetahuan dengan kategori cukup sebanyak
26 orang atau 52%. Dan responden yang memiliki pengetahuan dengan kategori
kurang sebanyak 6 orang atau 12% .

Pada masyarakat Makassar yang berjumlah 50 responden, diperoleh
bahwa responden yang memiliki pengetahuan kategori baik tentang donor darah

47
secara keseluruhan adalah sebanyak 5 orang atau 10%. Sedangkan jumlah
responden yang memiliki pengetahuan dengan kategori cukup sebanyak 30 orang
atau 60%. Dan responden yang memiliki pengetahuan dengan kategori kurang
sebanyak 15 orang atau 30%.

Pada uji analitik dengan menggunakan uji chi square didapatkan nilai p <
0.05 (p=0.00) yang artinya bermakna yakni terdapat perbandingan tingkat
pengetahuan antara Mahasiswa Fakultas Kedokteran UMI, Mahasiswa non Fakultas
Kedokteran UMI dan Masyarakat Makassar. Sehingga H0 diterima.

5.2 Pembahasan
Penelitian ini memberikan gambaran tingkat pengetahuan tentang donor
darah antara mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia,
mahasiswa Non Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia dan
masyarakat Makassar Tahun 2015. Dimana elemen yang dinilai dalam tingkat
pengetahuan antara lain pengertian donor darah, syarat-syarat donor darah,
manfaat donor darah, indikasi donor darah serta resiko donor darah. Data
tingkat pengetahuan dari ketiga kelompok menunjukkan kelompok mahasiswa
Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia memiliki pengetahuan
yang baik mengenai donor darah, kelompok mahasiswa Non Kedokteran
Universitas Muslim Indonesia dan masyarakat Makassar memiliki
pengetahuan yang cukup mengenai donor darah.
Berdasarkan tabel 5.1 menunjukkan mahasiswa Fakultas Kedokteran
Universitas Muslim Indonesia, yang memiliki pengetahuan tentang pengertian
donor darah tertinggi terdapat pada kategori baik 82% sedangkan terendah
pada kategori buruk 0%. Pada mahasiswa Non Fakultas Kedokteran
Universitas Muslim Indonesia tertinggi terdapat pada kategori cukup sebanyak
52%serta terendah terdapat pada kategori kurang sebanyak 6%. Sedangkan
masyarakat Makassar tertinggi pada kategori cukup sebanyak 58% dan
terendah pada kategori baik sebanyak 8%.
Hal ini sejalan dengan penelitian dari Janice pada tahun 2010 yang
menyimpulkan bahwa Tingkat pengetahuan mahasiswa FK USU angkatan
2006 dan 2007 mengenai mengenai donor darah sebanyak 73 orang (26,6%)

48
dikategorikan baik, 107 orang (39,1%) dikategorikan cukup, 55 orang (20,1%)
dikategorikan kurang dan 39 orang (14,2%) dikategorikan buruk.
Dalam tabel 5.1 dapat dilihat tingkat pengetahuan mahasiswa Kedokteran
Universitas Muslim Indonesia tentang manfaat dan syarat donor darah,
tertinggi pada kategori baik sebanyak 78% dan terendah pada kategori kurang
sebanyak 2%. Pada mahasiswa Non Kedokteran Universitas Muslim
Indonesia tertinggi pada kategori60%, dengan kategori kurang paling rendah
sebanyak 4%. Sedangkan pada masyarakat Makassar, terendah pada kategori
baik sebanyak 12% dantertinggi pada kategori cukup 58%.
Dari tabel 5.1 menunjukkan tingkat pengetahuan mahasiswa Fakultas
Kedokteran Universitas Muslim Indonesia tentang indikasi dan resiko donor
darah, tertinggi pada kategori cukupsebanyak 58%, serta terendah pada
kategori baik sebanyak 20%. Pada mahasiswa Non Kedokteran Universitas
Muslim Indonesia, data terbanyak pada kategori cukupsebanyak 72% dan
terendah pada kategori baik sebanyak 4%.Sedangkan pada masyarakat
Makassar tertinggi pada kategori cukup sebanyak 64% dan terendah pada
kategori baik sebanyak 6%.
Tingkat pengetahuan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muslim
Indonesia secara keseluruhan tentang donor darah yang dapat kita lihat pada
tabel 5.2, yang memperlihatkan kategori tertinggi pada kategori baik sebanyak
78% sedangkan terendah pada kategori kurang sebanyak 4%. Pada mahasiswa
Non Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia tertinggi
sebanyak52% dan terendah pada kategori kurang sebanyak 12%.Pada
masyarakat Makassar, tertinggi padakategori cukup sebanyak 60% dan
terendah pada kategori baik sebanyak 10%.

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

49
6.1 Kesimpulan

Dari hasil penelitian dan pembahasan telah diuraikan diatas maka penulis
dapat menyimpulkan bahwa :

a. Tingkat pengetahuan tentang donor darah secara keseluruhan, didapatkan
pengtahuan baik pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas
Muslim Indonesia, sedangkan mahasiswa Non Kedokteran Universitas
Muslim Indonesia dan masyarakat Makassar cukup.
b. Terdapat perbandingan yang signifikan antara mahasiswa Fakultas
Kedokteran Universitas Muslim Indonesia dan mahasiswa Non
Kedokteran Universitas Muslim Indonesia serta masyarakat Makassar

6.2 Saran
Adapun beberapa saran penulis ingin sampaikan ;
1. Instansi tempat penelitian
Penulis ingin menyampaikan saran terhadap instansi tempat
penelitian yakni Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar. Besar
harapan penulis, Universitas Muslim Indonesia (UMI) senantiasa
memberi dukungan baik terhadap mahasiswa maupun organisasi
kemahasiswaan utamannya untuk menjadi garda terdepan dalam upaya
pecerdasan mengenai donor darah kepada seluruh civitas akademika
pada khususnya dan masyarakat pada umumnya, sehingga lahir jiwa
aplikatif untuk mendonorkan darah dan membantu sesama yang
diwujudkan salah satunya melalui kegiatan bakti sosial.
2. Organisasi Kemahasiswaan Fakultas Kedokteran UMI
Untuk organisasi kemahasiswaan yang berada dalam lingkup
Fakultas Kedokteran UMI, penulis berharap bangunan karakter dan
gerakan moril senantiasa mengawal setiap program kerja yang dibuat
setiap organisasi sehingga prinsip identitas dan fungsi mahasiswa
“agent of change dan social of control” senantiasa dapat terjaga.
3. Bagi Peneliti Selanjutnya

50
Semoga penelitian ini dapat menjadi referensi dan bahan awal
untuk mengembangkan penelitian cakupan yang jauh lebih luas lagi
sehingga dapat bermanfaat untuk banyak orang.

DAFTAR PUSTAKA

1. Palang Merah Indonesia,2010. Serba Serbi Transfusi Darah. Jakarta:
Palang Merah Indonesia.
2. Notoatmodjo, S, 2007. Domain Perilaku Dalam : Promosi dan Ilmu
Perilaku. Jakarta : PT RINEKA CIPTA.
3. Komandoko, Gamal, 2013. Donor darah terbukti turunkan resiko penyakit
jantung dan storke. Yogyakarta : Media Pressindo.
4. Sidikah Fitriana, Nur Robby, 2013. Questions & Answers Donor Darah.
Jakarta: PT Elex Media Komputindo.
5. World Health Organization (WHO). Blood Safety. Switzerland: WHO;
2010. P.3-5. Diperoleh dari http://www.who.int. Diakses: 25 Maret 2015.

51
6. Panitia Medik Transfusi RSUP Dr. Soetomo, 2010. Pedoman Pelaksanaan
Transfusi Darah dan Komponen Darah. Edisi 3. RSUP Dr. Soetomo
Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.

7. Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Pelayanan Transfusi Darah Modul I.
Jakarta: Kemenkes RI; 2011. Hal. 3-45.
8. Contreas M. Petunjuk Transfusi Darah. Jakarta: EGC; Hal. 24-27.
9. Agrawal A, Tiwari AK, Ahuja A, et al. Knowledge, Attitude, and Practice
of People Towards Voluntary Blood Donation in Uttarakhand. Asian
Journal Transfusion Science. 2013;7(1):59-62.
10. Prof. Dr. I Made Bakta, 2010. Hematologi Klinik Ringkas. Jakarta :
Penerbit Buku Kedokteran EGC.
11. Prof. Dr. dr. Ag. Soemantri Sp.A & Setyati Julia.2010. Transfusi Darah
yang Rasional. Pelita insane. Semarang.
12. Widya Anugrah. http://jurnalkesehatan.com/2011/01transfusi-darah.html
(accessed 14 Juni 2014).
13. Machfoedz ircham. 2011. Metodologi Penelitian (kuantitatif & kualitatif).
Yogyakarta. Penerbit Fitramaya.

52