BAB I

PENDAHULUAN

Skizofren adalah gangguan pada otak yag menimbulkan gejala kejiwaaan berupa sikap,
pikiran dan perilaku menyimpang. Skizofren merupakan penyakit yang serius, dapat berlangsung
lama dan mengakibatkan kekambuhan. Penyakit ini dapat mengakibatkan kemunduran dalam
berbagai aspek kehidupan social penderita. Penyakit ini dapat disembuhkan, terutama bila
diobati dengan sungguh-sungguh.(1) (dr irman)
Menurut World Health Organization (WHO), angka kejadian skizophrenia di dunia
mencapai ± 21 juta jiwa.(1) Di Amerika penyakit skizofrenia ini mengenai ± 3,5 juta jiwa, dimana
penyakit ini merupakan salah satu yang menyebabkan disabilitas, ¾ dari penderita skizofrenia
terdapat pada rentang umur 16 hingga 25. Beberapa studi mengatakan bahwa hanya sebanyak 25%
dari total penderita yang mengalami kesembuhan secara total, 50% mengalami perbaikan untuk
10 tahun setelah dimulai terapi, dan 25 % sisanya tidak mengalami perbaikan. Selain itu
didapatkan data bahwa 1/3 – ½ penderita skizofrenia adalah orang yang tidak memiliki rumah.(2)
Sementara di Indonesia sendiri, epidemiologi penyakit skizofrenia sebanyak 400.000 penduduk
atau 1,7% per 1000 penduduk.(3)
Berdasarkan manifestasi klinisnya skizofrenia dibagi menjadi beberapa subtipe berdasarkan
International Statistical Classification of Disease and Related Helath Problem ke-10 (ICD-10),
membagi skizofrenia menjadi sembilan subtipe yaitu skizofrenia paranoid, hebefrenik, katatonik,
undiiferentiated, depresi postskizofrenik, residual, simpleks, skizofrenia lainnya, dan unspecified.
Di Indonesia sendiri pembagian subtipe skizofrenia berdasarkan pada PPDGJ III juga dibagi
menjadi sembilan subtipe yaitu skizofrenia paranoid, hebefrenik, katatonik, tak terinci
(undifferentiated), residual, simpleks, lainnya, depresi pasca-skizofrenia dan skizofrenia YTT.
BAB II
SKIZOFRENIA

2.1 DEFINISI

2.2 ETIOLOGI
Sampai sekarang belum ditemukan penyebab pasti dari skizofrenia, namun ada beberapa
penelitian yang melaporkan hal ini : (4)
 Biologi
o Tidak ada gangguan fungsional dan struktur yang patognomik pada
penderita skizofrenia. Gangguan yang paling banyak dijumpai yaitu
pelebaran ventrikel tiga dan lateral. Kadang dapat dijumpai atropi bilateral
lobus temporal medial.
 Biokimia
o Hipotesis yang paling banyak yaitu adanya gangguan neurotransmitter yaitu
terjadinya peningkatan aktivitas dipamin sentral.
 Genetika
o Sesuai dengan penelitian hubungan darah (konsanguinitas) skizofrenia
adalah gangguan bersifat keluarga. Semakin dekat hubungan kekerabatan
semakin tinggi risiko. Pada penelitian anak kembar, kembar monozigot
memiliki risiko 4-6 kali lebih sering menjadi sakit bila dibandingkan dengan
kembar dizigot.
 Faktor Keluarga
o Pasien yang berisiko adalah pasien yang tinggal bersama keluarga yang
hostilitas, memperlihatkan kecemasan yang berlebihan, sangat protektif
terhadap pasien, terlalu ikut campur, sangat pengeritik.
2.3 TANDA DAN GEJALA (dr.irman)
Secara umum dapat dibedakan dua kelompok gejala yang terkait dengan periode muncul
penyakitnnya. Pada periode aktif, muncul gejala positif yaitu gejala-gejala yang tidak dimiliki
oleh orang pada umumnya seperti halusinasi, delusi agrevitas dan pembicaraan yang kacau.
Sementara, pada periode lanjut atau kronik, penderita mengalami gejala negative, yaitu memiliki
periolku yang umumnya pada orang kebanyakan. Penderita Nampak tidak memiliki semngat, tidak
memiliki ketertarikan atau hobi, tidak ingin bersosialisasi serta kadang memiliki pola piker yang
ruwet dan menyimpang. Gejala positif dan negative dapat terjadi bersamaan mesti secara
umumgejala negative dijumpai pada keadaan kronis namun awal penyakit gejala ini juga bisa ada
bersamaan dengan munculnya gejala positif.
Beberapa gejala positif dan negative
1. Halusinasi
Halusinasi merupakan persepsi indra yang salah, dimana panca indera pasien menangkap
rangsang atau stimulus yang sesungguhnya tidak ada. Contoh pendengar mendengar suara
yang tidak ada (halusinasi auditorik), melihat yang tidak nyata (halusinasi visual),
merasakan sensasi raba tanpa stimulus (halusinasi taktil), mencium bau yang tidak nyata
(halusinasi olfaktorik) serta merasakan rasa yang aneh (halusinasi pengecap).
2. Delusi atau waham
Delusi atau waham adalah kepercayaan atau pemikiran yang salah, tidak sesuai dengan
budaya setempat serta sulit dikoreksi. Penderita tetap mempertahankan keyakinannya
meskipun tidak didukung oleh bukti apapun atay bahkan bukti-bukti yang menunjukkan
hal sebaliknya.
3. Gangguan proses pikir
Berbagai sensasi dan pikiran yang tidak biasa yang dialami penderita membuat ia menjadi
bingung dan kemudian gagal berpikir dengan baik. Dalam jeadaan lanjut, sering dijumpai
cara pasien berbicara menjadi ngawur. Pembicaraan sulit dimengerti, melompat dari satu
topik ke topik lain yang tidak saling berhubungan, atau pasien seperti tiba-tiba berhenti
berbicara dan sulit menyelesaikan kalimat yang telah dimulai.
4. Perilaku agresif
Dalam periode akut sering terjadi penderita menjadi pemarah tanpa sebab atay dengan
sebab yang sepele. Biasanya penderita yang memiliki waha kejar, yang merasa yakin ada
orang yangbermaksud jahat terhadapnya, merasa tidak nyaman sehingga suasana
perasaannya juga menjadi kacau. Perilaku agresifnya ini dilakukan untuk mempertahankan
diri dari rasa tidak nyaman dan tidak aman. Penderita Nampak marah, merusak barang,
hingga perilaku menyerang dan melukai diri sendiri.
5. Emosi yang datar
Dalam berinteraksi dnegan orang lain, Nampak kedangkalan emosi penderita. Saat
merespon topik yang lucu, penderta tidak tampak tertawa dan terlhat biasa saja. Saat
kondisi yang menyedihkan, emosi juga tampak datar. Kondisi ini sering dijumpai pada
keadaan lanjut.
6. Menarik diri
Penderita menjadi menarik diri dari kehidupan social serta tidak memiliki motivasi atau
inisiatiff untuk melakukan sesuatu. Minat dan hobi menurun. Penderita tidak tertarik
terhadap kegiatan yang sebelumnya sangat senang dilakukan, terhadap kejadian sehari-hari
termasuk terhadap berita-berita yang actual. Ia Nampak asyik dengan dirinya sendiri.
Akibatnya terjadi kemunduran dalam mutu kehidupan social penderita. Kualitas pekerjaan
dan kinerja disekolah menjadi turun. Dalam keadaan lanjut penderita terpaksa berhenti dari
sekolah dan pekerjaannya.
7. Tida peduli dengan perawatan diri dan kesehatan
Kemampuan penderita dalam merawat diri menjadi berkurang. Penderita malas mandi dan
membersihkan diri, tidak peduli dengan pakaian yang dikenakan. Tidak peduli dengan
kesehatannya, banyak merokok, kurang bergerak, makan dan minum serta tidur menjadi
tdak teratur, mengakibatkan penderita rentan menderita penyakit fisik. Tidak heran harapan
hidup skizofren menjadi lebih rendah dibanding umur harapan hidup populasi umum.
8. Postur badan yang aneh
Memperlihatkan gerakan-gerakan motorik yang aneh atau posisi tertentu untuk jangka
waktu yang lama.

2.4 PENEGAKKAN DIAGNOSIS
Pedoman Diagnostik Skizofrenia menurut PPDGJ-III, adalah sebagai berikut
- Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya dua gejala atau
lebih bila gejala gejala itu kurang tajam atau kurang jelas):
a. “thought echo”, yaitu isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema
dalam kepalanya (tidak keras), dan isi pikiran ulangan, walaupun isinya sama,
namun kualitasnya berbeda atau “thought insertion or withdrawal” yang
merupakan isi yang asing dan luar masuk ke dalam pikirannya (insertion) atau
isi pikirannya diambil keluar oleh sesuatu dari luar dirinya (withdrawal); dan
“thought broadcasting”, yaitu isi pikiranya tersiar keluar sehingga orang lain
atau umum mengetahuinya;
b. “delusion of control”, adalah waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu
kekuatan tertentu dari luar atau “delusion of passivitiy” merupaka waham
tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah terhadap suatu kekuatan dari luar;
(tentang ”dirinya” diartikan secara jelas merujuk kepergerakan tubuh/anggota
gerak atau ke pikiran, tindakan, atau penginderaan khusus), atau “delusional
perception”yang merupakan pengalaman indrawi yang tidak wajar, yang
bermakna sangat khas bagi dirinya, biasanya bersifat mistik atau mukjizat.
c. Halusinasi auditorik yang didefinisikan dalam 3 kondisi dibawah ini:
 Suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap
perilaku pasien, atau
 Mendiskusikan perihal pasien pasein di antara mereka sendiri
(diantara berbagai suara yang berbicara), atau
 Jenis suara halusinasi lain yang berasal dan salah satu bagian tubuh.
d. Waham-waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat dianggap
tidak wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya perihal keyakinan agama atau
politik tertentu, atau kekuatan dan kemampuan di atas manusia biasa (misalnya
mampu mengendalikan cuaca, atau berkomunikasi dengan mahluk asing dan dunia
lain).
e. Atau paling sedikit dua gejala dibawah ini yang harus selalu ada secara jelas :
 Halusinasi yang menetap dan panca-indera apa saja, apabila disertai baik
oleh waham yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa
kandungan afektif yang jelas, ataupun disertai oleh ide-ide berlebihan (over-
valued ideas) yang menetap, atau apabila terjadi setiap hari selama
berminggu minggu atau berbulan-bulan terus menerus;
 Arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan
(interpolation), yang berkibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak
relevan, atau neologisme;
 Perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh-gelisah (excitement), posisi tubuh
tertentu (posturing), atau fleksibilitas cerea, negativisme, mutisme, dan
stupor;
 Gejala-gejala “negatif”, seperti sikap sangat apatis, bicara yang jarang, dan
respon emosional yang menumpul atau tidak wajar, biasanya yang
mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunnya kinerja
sosial; tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan oleh
depresi atau medikasi neuroleptika;
e. Adanya gejala-gejala khas di atas telah berlangsung selama kurun waktu satu bulan
atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik (prodromal)
f. Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan
(overall quality) dan beberapa aspek perilaku pribadi (personal behaviour),
bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak bertujuan, tidak berbuat sesuatu,
sikap larut dalam diri sendiri (self-absorbed attitude), dan penarikan diri secara
sosial.

2.5 JENIS – JENIS SKIZOFRENIA
Kraepelin membagi skizofrenia menjadi beberapa jenis. Penderita digolongkan ke dalam
salah satu jenis menurut gejala utama yang terdapat padanya. Akan tetapi batas-batas golongan-
golongan ini tidak jelas, gejala-gejala dapat berganti-ganti atau mungkin seorang penderita tidak
dapat digolongkan ke dalam salah satu jenis. Pembagiannya sebagai berikut :(Maramis, 2009).
Gejala klinis skizofrenia secara umum dan menyeluruh telah diuraikan di muka, dalam PPDGJ III
skizofrenia dibagi lagi dalam 9 tipe atau kelompok yang mempunyai spesifikasi masing-masing,
yang kriterianya di dominasi dengan hal-hal sebagai berikut :

2.5.1 SKIZOFRENIA PARANOID
Skizofrenia paranoid agak berlainan dari jenis-jenis yang lain dalam jalannya penyakit.
Skizofrenia hebefrenik dan katatonik sering lama kelamaan menunjukkan gejala-gejala skizofrenia
simplex, atau gejala-gejala hebefrenik dan katatonik bercampuran. Skizofrenia paranoid memiliki
perkembangan gejala yang konstan. Gejala-gejala yang mencolok adalah waham primer, disertai
dengan waham-waham sekunder dan halusinasi. Pemeriksaan secara lebih teliti juga didapatkan
gangguan proses pikir, gangguan afek, dan emosi.
Jenis skizofrenia ini sering mulai sesudah umur 30 tahun. Permulaannya mungkin subakut,
tetapi mungkin juga akut. Kepribadian penderita sebelum sakit sering dapat digolongkan skizoid,
mudah tersinggung, suka menyendiri dan kurang percaya pada orang lain.Berdasarkan PPDGJ III,
maka skizofrenia paranoid dapat didiganosis apabila terdapat butir-butir berikut :
 Memenuhi kriteria diagnostik skizofrenia
 Sebagai tambahan :
o Halusinasi dan atau waham harus menonjol :
 Suara-suara halusinasi satu atau lebih yang saling berkomentar
tentang diri pasien, yang mengancam pasien atau memberi
perintah, atau tanpa bentuk verbal berupa bunyi pluit,
mendengung, atau bunyi tawa.
 Halusinasi pembauan atau pengecapan rasa, atau bersifat
seksual, atau lain-lain perasaan tubuh halusinasi visual mungkin
ada tetapi jarang menonjol.
 Waham dapat berupa hampir setiap jenis, tetapi waham
dikendalikan (delusion of control), dipengaruhi (delusion of
influence), atau “Passivity” (delusion of passivity), dan
keyakinan dikejar-kejar yang beraneka ragam, adalah yang
paling khas.
o Gangguan afektif, dorongan kehendak dan pembicaraan, serta
gejalakatatonik secara relatif tidak nyata / tidak menonjol.
Pasien skizofrenik paranoid memiliki karakteristik berupa preokupasi satu atau lebih delusi
atau sering berhalusinasi. Biasanya gejala pertama kali muncul pada usia lebih tua daripada pasien
skizofrenik hebefrenik atau katatonik. Kekuatan ego pada pasien skizofrenia paranoid cenderung
lebih besar dari pasien katatonik dan hebefrenik. Pasien skizofrenik paranoid menunjukkan regresi
yang lambat dari kemampuan mentalnya, respon emosional, dan perilakunya dibandingkan tipe
skizofrenik lain.
Pasien skizofrenik paranoid biasanya bersikap tegang, pencuriga, berhati-hati, dan tak
ramah.Mereka juga dapat bersifat bermusuhan atau agresif.Pasien skizofrenik paranoid kadang-
kadang dapat menempatkan diri mereka secara adekuat didalam situasi sosial.Kecerdasan mereka
tidak terpengaruhi oleh gangguan psikosis mereka dan cenderung tetap intak.

2.5.2 SKIZOFRENIA HERBEFRENIK
Permulaannya perlahan-lahan atau subakut dan sering timbul pada masa remaja atau antara
15-25 tahun. Gejala yang mencolok adalah gangguan proses berpikir, gangguan kemauan dan
adanya depersonalisasi atau double personality. Gangguan psikomotor seperti mannerism,
neologisme atau perilaku kekanak-kanakan sering terdapat pada skizofrenia heberfenik. Waham
dan halusinasi banyak sekali.
Berdasarkan PPDGJ III, maka skizofrenia hebefrenik dapat didiganosis apabila terdapat
butir-butir berikut Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia
 Diagnosis hebefrenikbiasanya ditegakkan pada usia remaja atau dewasa muda (onset
biasanya mulai 15-25 tahun)..
 Untuk diagnosis hebefrenik yang menyakinkan umumnya diperlukan pengamatan kontinu
selama 2 atau 3 bulan lamanya, untuk memastikan bahwa gambaran yang khas berikut ini
memang benar bertahan :
o Perilaku yang tidak bertanggung jawab dan tak dapat diramalkan, serta
mannerisme; ada kecenderungan untuk selalu menyendiri (solitary), dan perilaku
menunjukkan hampa tujuan dan hampa perasaan;
o Afek pasien dangkal (shallow) dan tidak wajar (inappropriate), sering disertai oleh
cekikikan (giggling) atau perasaan puas diri (self-satisfied), senyum sendirir (self-
absorbed smiling), atau oleh sikap, tinggi hati (lofty manner), tertawa menyeringai
(grimaces), mannerisme, mengibuli secara bersenda gurau (pranks), keluhan
hipokondrial, dan ungkapan kata yang diulang-ulang (reiterated phrases);
o Proses pikir mengalami disorganisasi dan pembicaraan tak menentu (rambling)
serta inkoheren.
o Gangguan afektif dan dorongan kehendak, serta gangguan proses pikir umumnya
menonjol. Halusinasi dan waham mungkin ada tetapi biasanya tidak menonjol
(fleeting and fragmentary delusions and hallucinations). Dorongan kehendak
(drive) dan yang bertujuan (determination) hilang serta sasaran ditinggalkan,
sehingga perilaku penderita memperlihatkan ciri khas, yaitu perilaku tanpa tujuan
(aimless) dan tanpa maksud (empty of purpose). Adanya suatu preokupasi yang
dangkal dan bersifat dibuat-buat terhadap agama, filsafat dan tema abstrak lainnya,
makin mempersukar orang memahami jalan pikiran pasien.

2.5.3 SKIZOFRENIA KATATONIK
Berdasarkan PPDGJ III, maka skizofrenia katatonik dapat didiganosis apabila terdapat butir-
butir berikut :
 Memenuhi kriteria umum untuk diagnosis skizofrenia.
 Satu atau lebih dari perilaku berikut ini harus mendominasi gambaran klinisnya :
o Stupor (amat berkurangnya dalam reaktivitas terhadap lingkungan dan dalam
gerakan serta aktivitas spontan) atau mutisme (tidak berbicara):
o Gaduh gelisah (tampak jelas aktivitas motorik yang tak bertujuan, yang tidak
dipengaruhi oleh stimuli eksternal)
o Menampilkan posisi tubuh tertentu (secara sukarela mengambil dan
mempertahankan posisi tubuh tertentu yang tidak wajar atau aneh);
o Negativisme (tampak jelas perlawanan yang tidak bermotif terhadap semua
perintah atau upaya untuk menggerakkan, atau pergerakkan kearah yang
berlawanan);
o Rigiditas (mempertahankan posisi tubuh yang kaku untuk melawan upaya
menggerakkan dirinya);
o Fleksibilitas cerea / ”waxy flexibility” (mempertahankan anggota gerak dan tubuh
dalam posisi yang dapat dibentuk dari luar); dan
o Gejala-gejala lain seperti “command automatism” (kepatuhan secara otomatis
terhadap perintah), dan pengulangan kata-kata serta kalimat-kalimat.
o Pada pasien yang tidak komunikatif dengan manifestasi perilaku dari gangguan
katatonik, diagnosis skizofrenia mungkin harus ditunda sampai diperoleh bukti
yang memadai tentang adanya gejala-gejala lain.
o Penting untuk diperhatikan bahwa gejala-gejala katatonik bukan petunjuk
diagnostik untuk skizofrenia. Gejala katatonik dapat dicetuskan oleh penyakit otak,
gangguan metabolik, atau alkohol dan obat-obatan, serta dapat juga terjadi pada
gangguan afektif.
Pasien dengan skizofrenia katatonik biasanya bermanifestasi salah satu dari dua bentuk
skizofrenia katatonik, yaitu stupor katatonik dan excited katatatonik. Pada katatonik stupor, pasien
akan terlihat diam dalam postur tertentu (postur berdoa, membentuk bola), tidak melakukan
gerakan spontan, hampir tidak bereaksi sama sekali dengan lingkungan sekitar bahkan pada saat
defekasi maupun buang air kecil, air liur biasanya mengalir dari ujung mulut pasien karena tidak
ada gerakan mulut, bila diberi makan melalui mulut akan tetap berada di rongga mulut karena tidak
adanya gerakan mengunyah, pasien tidak berbicara berhari-hari, bila anggota badan pasien dicoba
digerakkan pasien seperti lilin mengikuti posisi yang dibentuk, kemudian secara perlahan kembali
lagi ke posisi awal. Bisa juga didapati pasien menyendiri di sudut ruangan dalam posisi berdoa
dan berguman sangat halus berulang-ulang.
Pasien dengan excited katatonik, melakukan gerakan yang tanpa tujuan, stereotipik dengan
impulsivitas yang ekstrim. Pasien berteriak, meraung, membenturkan sisi badannya berulang
ulang, melompat, mondar mandir maju mundur.Pasien dapat menyerang orang disekitarnya secara
tiba-tiba tanpa alasan lalu kembali ke sudut ruangan, pasien biasanya meneriakka kata atau frase
yang aneh berulang-ulang dengan suara yang keras, meraung, atau berceramah seperti pemuka
agama atau pejabat.Pasien hampir tidak pernah berinteraksi dengan lingkungan sekitar, biasanya
asik sendiri dengan kegiatannya di sudut ruangan, atau di kolong tempat tidurnya.
Walaupun pasien skizofrenia katatonik hanya memunculkan salah satu dari kedua diatas,
pada kebanyakan kasus gejala tersebut bisa bergantian pada pasien yang dalam waktu dan
frekuensi yang tidak dapat diprediksi.Seorang pasien dengan stupor katatonik dapat secara tiba-
tiba berteriak, meloncat dari tempat tidurnya, lalu membantingkan badannya ke dinding, dan
akhirnya dalam waktu kurang dari satu jam kemudian kembali lagi ke posisi stupornya.
Selama stupor atau excited katatonik, pasien skizofrenik memerlukan pengawasan yang ketat
untuk menghindari pasien melukai dirinya sendiri atau orang lain. Perawatan medis mungkin
ddiperlukan karena adanya malnutrisi, kelelahan, hiperpireksia, atau cedera yang disebabkan oleh
dirinya sendiri.
2.5.4 SKIZOFRENIA SIMPLEX
Sering timbul pertama kali pada masa pubertas. Gejala utama pada jenis simplex adalah
kedangkalan emosi dan kemunduran kemauan. Gangguan proses berpikir biasanya sulit
ditemukan. Waham dan halusinasi jarang sekali terdapat. Jenis ini timbulnya perlahan-lahan
sekali. Permulaan gejala mungkin penderita mulai kurang memperhatikan keluarganya atau mulai
menarik diri dari pergaulan.
Berdasarkan PPDGJ III, maka skizofrenia katatonik dapat didiganosis apabila terdapat butir-
butir berikut :
 Diagnosis skizofrenia simpleks sulit dibuat secara meyakinkan karena tergantung pada
pemantapan perkembangan yang berjalan perlahan dan progresif dari :
o Gejala negatif yang khas dari skizofrenia residual tanpa didahului riwayat
halusinasi, waham, atau manifestasi lain dari episode psikotik, dandisertai
dengan perubahan-perubahan perilaku pribadi yang bermakna, bermanifestasi
sebagai kehilangan minat yang mencolok, tidak berbuat sesuatu, tanpa tujuan
hidup, dan penarikan diri secara sosial.
o Gangguan ini kurang jelas gejala psikotiknya dibandingkan subtipe skizofrenia
lainnya.
Skizofrenia simpleks sering timbul pertama kali pada masa pubertas.Gejala utama pada jenis
simpleks adalah kedangkalan emosi dan kemunduran kemauan. Gangguan proses berpikir
biasanya sukar ditemukan. Waham dan halusinasi jarang sekali terdapat.Jenis ini timbulnya
perlahan-lahan sekali.Pada permulaan mungkin penderita mulai kurang memperhatikan
keluarganya atau mulai menarik diri dari pergaulan. Makin lama ia makin mundur dalam pekerjaan
atau pelajaran dan akhirnya menjadi pengangguran, dan bila tidak ada orang yang menolongnya
ia mungkin akan menjadi pengemis, pelacur, atau penjahat.

2.5.5 SKIZOFRENIA RESIDUAL
Jenis ini adalah keadaan kronis dari skizofrenia dengan riwayat sedikitnya satu episode
psikotik yang jelas dan gejala-gejala berkembang ke arah gejala negatif yang lebuh menonjol.
Gejala negatif terdiri dari kelambatan psikomotor, penurunan aktivitas, penumpula afek, pasif dan
tidak ada inisiatif, kemiskinan pembicaraan, ekspresi nonverbal yang menurun, serta buruknya
perawatan diri dan fungsi sosial.
Untuk suatu diagnosis yang meyakinkan, persyaratan berikut ini harus dipenuhi semua :
 Gejala “negative” dari skizofrenia yang menonjol misalnya perlambatan
psikomotorik, aktivitas menurun, afek yang menumpul, sikap pasif dan ketiadaan
inisiatif, kemiskinan dalam kuantitas atau isi pembicaraan, komunikasi non-verbal
yang buruk seperti dalam ekspresi muka, kontak mata, modulasi suara, dan posisi
tubuh, perawatan diri dan kinerja sosial yang buruk;
 Sedikitnya ada riwayat satu episode psikotik yang jelas di masa lampau yang
memenuhi kriteria untuk diagnosis skizofenia;
 Sedikitnya sudah melampaui kurun waktu satu tahun dimana intensitas dan frekuensi
gejala yang nyata seperti waham dan halusinasi telah sangat berkurang (minimal) dan
telah timbul sindrom “negative” dari skizofrenia;
 Tidak terdapat dementia atau penyakit / gangguan otak organik lain, depresi kronis
atau institusionalisasi yang dapat menjelaskan disabilitas negative tersebut.

2.5.6 SKIZOFRENIA TAK TERINCI (UNDIFFERENTIATED)
Seringkali pasien yang jelas skizofrenik tidak dapat dengan mudah dimasukkan kedalam
salah satu tipe.PPDGJ mengklasifikasikan pasien tersebut sebagai tipe tidak terinci. Kriteria
diagnostic menurut PPDGJ III yaitu:
 Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia
 Tidak memenuhi kriteria untuk diagnosis skizofrenia paranoid, hebefrenik, atau
katatonik.
 Tidak memenuhi kriteria untuk skizofrenia residual atau depresi pasca skizofrenia.

2.5.7 DEPRESI PASCA SKIZOFRENIA
Diagnosis harus ditegakkan hanya kalau :
 Pasien telah menderita skizofrenia (yang memenuhi kriteria diagnosis umum skizzofrenia)
selama 12 bulan terakhir ini;
 Beberapa gejala skizofrenia masih tetap ada (tetapi tidak lagi mendominasi gambaran
klinisnya); dan
 Gejala-gejala depresif menonjol dan menganggu, memenuhi paling sedikit kriteria untuk
episode depresif, dan telah ada dalam kurun waktu paling sedikit 2 minggu.
 Apabila pasien tidak lagi menunjukkan gejala skizofrenia diagnosis menjadi episode
depresif. Bila gejala skizofrenia diagnosis masih jelas dan menonjol, diagnosis harus tetap
salah satu dari subtipe skizofrenia yang sesuai

2.6 TATALAKSANA
2.6.1 FARMAKOLOGIS
Golongan obat anti-psikosis
1. Golongan tipikal
Mekanisme : memblokir dopamine pada reseptot pasca sinaptik neuron diotak,
khususnya dilimbik dna system ekstrapiramidal (dopamine D2 receptor antagonis)
sehingga efektif untuk gejala positif. gejala positif : gangguan asosiasi pikiran
(inkoherensi), isi pikiran yang tidak wajar (waham), gangguan persepsi (halusinasi),
gangguan perasaan (tidak sesuai dengan situasi), perilaku yang aneh atau tidak terkendali
(disorganized).
a. Phenothiazine
 rantai Alphatic : Chlorpromazine (Largactil)
 rantai Piperazine : Perphenazine (Trilafon), Trifluoperazine (Stelazine),
Fluphenazine (Anatensol)
 rantai Piperidine Thioridazine (Melleril)
b. Butyropheone : Haloperidol (Haldol, serenace, dll)
c. Diphenyl-buthyl-piperidine : Pimozide (Orap)

2. Golongan atipikal
Mekanisme : berafinitas terhadap “dopamine d2 receptors” juga terhadap “serotonin
5HT2 receptors” (serotonin –dopamine antagonis) sehingga efektif untuk gejala
negative. Gejala negative : gangguan perasaan (afek tumpul, respon emosi minimal),
gangguan hubungan social (menarik diri, pasif, apatis), gangguan proses pikir (lambat
, terhambat), isi pikiran yang stereotip dan tidak ada inisiatif, perilaku yang sangat
terbatas dan cenderung menyendiri (abulia).
a. Benzamide : Supiride (Dogmatil)
b. Dibenzodiazepine Clopazine (Clozaril), Olanzapine (Zyprexa),
Qeutiapine (Seroquel), Zotepine (Ludopin)
c. Benzisoxazole : Risperidon (Risperdal), Aripiprazole (Abilify)

Efek samping:
Efek samping obat anti-psikosis dapat berupa:
1. Sedasi dan inhibisi psikomotor (rasa mengantuk, kewaspadaan berkurang, kinerja
psikomotor menurun, kemampuan kognitif menurun)
2. Gangguan otonomik (hipotensi, antikolinergik/ parasimpatolitik : mulut kering, kesulitan
miksi dan defekasi, hidung tersumbat, mata kabur dan tekanan intaokuler meninggi,
gangguan irama jantung)
3. Gangguan ekstrapiramidal (distonia akut, akahthisia, sindroma Parkinson : tremor,
bradikinesia, rigiditas)
4. Gangguan endokrin (amenorrhea, gynekomastia), metabolic (jaundice) biasanya pada
penggunaan jangka panjang.
Cara pemilihan obat
Anti-psikosis Dosis Sedasi Otonomik Ekstrapiramidal
(Mg/h)
Chlopromazine 150-1600 +++ +++ ++
Thioridazine 100-900 +++ +++ +
Perphenazine 8-48 + + +++
Trifluoroperazime 5-60 + + +++
Fluphenazine 5-60 ++ + +++
Haloperidol 2-100 + + ++++
Pimozide 2-6 + + ++
Clozapine 25-200 ++++ + -
Zotepine 75-100 + + +
Sulpride 200-1600 + + +
Risperidone 2-9 + + +
Quetiapine 50-400 + + +
Olanzapine 10-20 + + +
Aripiprazole 10-20 + + +

Pengaturan dosis
1. Onset efek primer (efek klinis) : sekitar 2-4minggu
2. Onset efek sekunder (efek samping) : sekitar 2-6jam
3. Waktu paruh 12-14 jam (pemberian 1-2x perhari)
4. Dosis pagi dan mala dapat pula berbeda untuk mengurangi dampak dari efek samping
(dosis pagi kecil, dosis malam lebih besar) sehingga tidak begitu mengganggu kualitas
hidup pasien.
Mulai dengan “dosis awal” sesuai dengan “dosis anjuran”, dinaikkan setiap 2-3 hari -> sampai
mencapai “dosis efektif” -> dievaluasi setiap 2 minggu dan bila perlu di naikkan -> “dosis
optimal” -> dipertahankan sekitar 8-12 minggu (stabilisasi) -> diturunkan setiap 2 minggu ->
“dosis maintenance” -> dipertahankan 6 bulan hingga 2 tahun (diselingi “drug holiday” setiap 1-
2 hari/ minggu) -> tapering off (dosis diturunkan setiap 2- 4 minggu) -> STOP
Lama pemberian
Pada pasien dengan serangan sindrom psikosis yang “multi episode”, terapi pemeliharaan
diberikan paling sedikit selama 5 tahun, pemberian cukup lama ini dapat menurunkan derajat
kekambuhan 2.5-5 kali. Efek obat psikosis secara relative berlangsyng lama, sampai beberapa
hari setelah dosis terakhir mempunyai efek klinis, sehingga tidak langsung menim bulkan
kekambuhan setelah pemberian obat dihentikan, biasanya satu bulan kemudian baru gejala
syndrome psikosis kambuh kembali.
Pada umumnya pemberian obat anti-psikosis sebaiknya dipertahankan selama 3 bulan sampai 1
tahun setelah semua gejala psikosis mereda sama sekali. Untuk “psikosis relative singkat”
penurunan obat secara bertahap setelah hilangnya gejala dalam kurun waktu 2 minggu-2 bulan.
Obat anti-psikosis tidak menimbulkan gejala lepas obat yang hebat walaupun diberikan dalam
jangka waktu lama, sehingga potensi ketergantungan obat kecil sekali.
Pada penghentian mendadak dapat menimbulkan “cholinergic rebound” : gangguan lambung,
mual, muntah, diare, pusing, dll. Keadaan ini akan mereda dengan pemberian “antikolinergik
agent” (inj.sulfas atropine 0.25mg (IM), tablet trihexilphenidyl 3x2 mg/ hari.
2.7 PROGNOSA
Prognosis skizofrenia ini dapat mempunyai prognosis yang baik jika : (4):
 Awitan gejala – gejala psikotik aktif terjadi dengan secara mendadak
 Awitan terjadi setelah berumur 30 tahun, terutama pada perempuan
 Fungsi pekerjaan dan social premorbid baik.
 Tidak ada riwayat skizofrenia
 Kebingungan sangat jelas, dan gambaran emosi menonjol, selama episode akut.
1. http://www.who.int/mental_health/management/schizophrenia/en/
2. http://www.sardaa.org/resources/about-schizophrenia/
3. http://www.depkes.go.id/article/print/16100700005/peran-keluarga-dukung-kesehatan-
jiwa-masyarakat.html
4. FK UI
5. PPDGJ