ASUHAN KEPERAWATAN PADA Sdr.

I DENGAN POST MASTOIDECTOMY DI
RUANG TERATAI RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO

A. PENGKAJIAN
a. Tanggal : pengkajian dilakukan pada tanggal 10 April 2017
b. Jam : pukul 17. 30 WIB
1. Identitas Klien
a. Nama : Sdr. I
b. Usia : 16 tahun
c. JenisKelamin : Laki - laki
d. Pendidikan : SLTA
e. Pekerjaan : Pelajar
f. Alamat : Jatipupus Rt 03 Rw 02 Pancawarna Kebumen
g. No RM : 02001190
h. Diagnosa Medis : Otitis Media Supuratif Kronik ( OMSK )
i. DPJP : dr. Anton Budi Darmawan Sp. THT.
2. Riwayat Kesehatan
a. Keluhan Utama
Pasien mengeluh pusing dan nyeri pada daerah telinga yang habis dioperasi.
P : Nyeri didaerah telinga kiri
Q : Nyeri terasa perih seperti ditusuk - tusuk
R : Menjalar sampai ke seluruh kepala dan leher
S : Skala nyeri 5( pengkajian dengan skala numeric dan skala wong blaker )
T : Nyeri hilang timbul pada waktu tertentu
b. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke poli THT RSUD Margono purwokerto pada tanggal 4 April 2017
untuk control yang kedua dengan keluhan terdapat benjolan pada telinga kiri keluar
cairan dan serumen dengan warna dan bau yang khas , keluhan disertai dengan
demam dan menggigil . Dari hasil pemeriksaan dokter pasien diprogram operasi
masteidectomy tanggal 10 april 2017.

Selama melakukan pengobatan di RSMS pasien rutin control ke poli THT untuk mengetahui dan memeriksakan lebih lanjut tentang pengobatan penyakitnya. Sebelumnya pasien mendapatkan perawatan rawat jalan di RS PKU Kebumen selama 4 minggu sebelum akhirnya dirujuk ke RSMS. Genogram Keterangan : : Laki-laki : tinggal serumah : Perempuan : hubungan keluarga : Meninggal : pasien . Riwayat Penyakit Keluarga Pasien mengatakan bahwa dalam keluarganya tidak ada yang memiliki penyakit seperti DM. Keluhan yang sama sudah dirasakan klien kurang lebih selama 2 bulan. Riwayat Penyakit Dahulu Sebelumnya klien sudah pernah berobat di RSMS sebanyak 2x dengan keluhan yang sama dan dilakukan tindakan irigasi telinga di poli THT RSMS. Hipertensi maupun penyakit yang sama dengannya saat ini. d.c.

Saat ini klien mempunyai berat badan 50 kg dan tidak ada penurunan berat badan yang signifikan selama 6 bulan terakhir. b. keluarga pasien selalu berusaha memberikan menu makanan yang seimbang. d. c. Kebiasaan berkemih biasanya dilakukan kurang lebih 4 – 5 x dalam sehari tanpa adanya gangguan / keluhan sama sekali. Pola Eliminasi ( Ellimination pattern ) Keluarga pasien mengatakan sebelum sakit kebiasaan BAK dan BAB pasien tidak mengalami masalah. Hal ini dibuktikan dengan pemeriksaan rutin dan pengobatan yang dilakukan setelah mengetahui penyakit yang dideritanya baik di RSMS maupun fasilitas kesehatan lainnya. Pola Aktivitas dan Latihan ( Activity Exercise Pattern ) Selama sakit dan dirawat dirumah sakit keluarga pasien mengatakan bahwa untuk kebutuhan ADLs sebagian bisa dilakukan sebgian oleh pasien dan ada sebagian yang . Setelah sakit dan dirawat dirumah sakit keluarga klien mengatakan kalau frekuensi BAB tidak mengalami masalah yang berarti. sariawan dll. Keluarga pasien mengatakan pasien sering mengalami gejala pusing. untuk produksi urine pasien saat ini sebanyak 500 cc/ 6 jam dengan warna kuning pekat . pemberian variasi menu yang baik untuk menjaga nafsu makan dan pola makan pasien. Selain dengan pemeriksaan rutin kebiasaan pola istirahat yang teratur dan makan makanan yang bergizi juga dilakukan keluarga pasien dan klien untuk menjaga kesehatanya. kesulitan mengunyah. Pola Kesehatan Fungsional (Gordon) a. Keluarga pasien mengatakan pasien mengalami keluhan dalam makan yaitu nyeri telan. dan lemas untuk akhir – akhir ini. Keluarga juga rutin memberikan multivitamin ke pasien untuk meningkatkan daya tahan tubuh yang dimilikinya.3. sedangkan untuk pola BAK pasien saat ini pasien terpasang DC no 16. Pola Nutrisi dan metabolic ( Nutritional and metabolic ) Keluaraga pasien mengatakan nafsu makan pasien baik makn sebanyak 3x dalam sehari dengan porsi habis sesuai porsi yang disediakan.. Pola Manajemen Kesehatan dan pola persepsi kesehatan ( Health perception ) Keluarga pasien mengatakan bahwa kesehatanya dan keluarga merupakan sesuatu yang sangat penting bagi dirinya.

3 : dibantu orang lain dan alat.3 jam pada siang hari. Kemampuan 0 1 2 3 4 Perawatan Diri Makan/minum √ Mandi √ Toileting √ Berpakaian √ Mobilitas di tempat tidur √ Ambulasi/ROM √ Keterangan: 0 : mandiri. Pada malam hari durasi tidur sekitar 7-8 jam pada malam hari dan 2. tidur berjalan ( sleep walking ). sebelumnya pasien terkadang sering berolahraga dan mengisi waktu luang dengan bersosialisasi dengan teman sekolah maupun tetangganya. 1: alat bantu. Pola Persepsi Kognitif ( Cognitive perceptual pattern ) Keluarga pasien mengatakan bahwa pendidikan saat ini yang ditempuh pasien adalah SLTA kelas II. terror malam ( night terror ). apabila terdapat suatu hal yang tidak bias diselesaikan sendiri. . Dalam pengambilan sebuah keputusan klien selalu meminta saran dan pendapat keluarga yang lain terutama pada ibunya. Untuk kemampuan. e. 4 : tergantung total. 2 : dibantu orang lain. f. penglihatan dan daya ingat pasien tidak mengalami masalah. Pola Istirahat dan Tidur ( Sleep-rest pattern ) Sebelum sakit klien mempunyai kebiasaan tidur yang teratur sekitar 5. ketindihan ( sleep paralysis ). Selama dirumah sakit kebiasaan tidur pasien agak berubah. Pasien mengatakan tidak pernah mengalami gangguan tidur seperti insomnia ( sulit tidur ). dibantu keluarga.6 jam pada malam hari dan jarang tidur pada siang hari. Kesimpulan: Ada beberapa kemampuan perawatan diri pasien yang dibantu oleh orang lain terutama oleh keluarga seperti mandi dan berpakaian sedangkan untuk beberapa aktivitas yang lain dapat dilakukan secara mandiri . syndrome kepala meledak ( exploding head syndrome ). Keluarga pasien mengatakan kurang lebih selama 2 bulan terakhir pasien mengalami gangguan dalam pendengaran hal ini bisa dilihat bila bicara maupun berkomunikasi dengan pasien harus dengan suara yang keras.

Keluarga pasien mengatakan pasien tidak mengalami gangguan orientasi waktu. Respon verbal bicara untuk saat ini belum bisa secara maksimal karena masih adanya pengaruh anstesi setelah dilakukan tindakan operatif. g.adiknya dalam kehidupan keseharian . berkonsentrasi dalam menjawab pertanyaan perawat dengan benar dan tepat. Sekarang keluarga hanya berharap penyakit yang diderita pasien bisa cepat sembuh setelah dilakukan tindakan operasi sehingga bisa beraktivitas lagi seperti biasanya. Pasien mempunyai 2 orang adik kandung yang satu seorang perempuan berusia 10 tahun dan satu lagi seorang laki – laki berusia 7 tahun. Pola Persepsi Diri dan Konsep Diri ( Self perception – self concept pattern ) Keluarga pasien mengatakan sebelum sakit dalam keseharian pasien adalah orang yang ceria dan mudah bergaul.relationships pattern ) Keluarga pasien mengatakan bahwa pasien adalah anak pertama dari tiga bersaudara adik . Keluarga pasien sadar bawa sekarang pasien sedang sakit sehingga tidak bisa beraktivitas sebagaimana biasanya. tempat dan ruang apabila ditanya. h. Pola Peran Hubungan ( Roles. Genogram Keterangan : : Laki-laki : tinggal serumah : Perempuan : hubungan keluarga : Meninggal : pasien . Kontak mata pasien baik saat diajak bicara.

Pola Koping dan Toleransi Stres ( Coping – sress tolerance pattern ) Keluarga pasien mengatakan apabila pasien mempunyai masalah pasti beliau akan selalu membicarakan dengan anggota keluarga yang lain khususnya pada ibunya untuk minta pendapat dari pemecahan masalah yang ada. . Pola Seksualitas dan Reproduksi ( Sexuality. Apabila terjadi beda pendapat biasanya akan langsung dibicarakan dengan istri dan anaknya. Pola Nilai dan Kepercayaan ( Values – beliefs pattern ) Keluarga pasien mengatakan pasien beragama islam dan rutin melaksanakan kewajibanya yaitu sholat ketika belum sakit seperti sekarang. Selama sakit aktivitas keagamaan yang biasa dilakukan tidak biasa dijalankan sebagaimana mestinya. Pasien berasal dari suku jawa. Sebelumnya pasien adalag seorang pelajar yang rajin baik untuk aktivitas didalam sekolah maupun kegiatan diluar sekolah. i. Interaksi antar anggota keluarga pada pasien sangatlah baik karena komunukasi terbuka antara satu dengan yang lainnya. Keluarga pasien mengatakan pasien adalah anak yang aktif dan mudah bergaul dengan temanya maupun dalam kegiatan kemasyarakatan. Dalam keseharian aktivitasnya baik dengan keluarga maupun orang lain pasien terlihat sangat harmonis hal ini terlihat dari kebersamaan anggota keluaraga. musyawarah dalam pengambilan keputusan dan diskusi ataupun candaan yang sering dilakukan oleh para anggota keluarganya.reproductive pattern ) Pasien adalah seseorang dengan jenis kelamin laki – laki. j. k.

pupil isokor diameter 2/2. sclera ikterik negatif. IV dan VI ( occulomotorius ) dalam batas normal. Kepala: a) Kepala : bentuk mesochepal. conjunctiva anemis negatif . pada lubang telinga keluar seruman warna kekuningan dengan bau menyengat. uji nervus I ( Olfaktorius ) dalam batas normal. c) Hidung : bentuk simetris. PemeriksaanFisik a. uji saraf cranial nervus II ( optikus ) dalam batas normal. nervus III. d) Telinga : Sebelum sakit : bentuk telinga simetris . 28 Keterangan < 18. Kesadaran : somnolent GCS : E 4 M 5 V 3 masih pengaruh anasteri dengan GA selesai operasi jam 16. tidak ada nyeri tekan. lubang hidung bersih. tes rinne mengalami gangguan pada . visus normal 6/6.5 ( kurang ) 18. Keadaan Umum : keadaan umum cukup b. b) Mata : bola mata simetris. uji nervus VIII nervus koklearis fungsi pendengaran sedikit berkurang dan mengalami gangguan ( tes weber pada telinga kiri mengalami gangguan. rambut hitam. TB/BB : 161cm / 50 kg e. gerakan mata nistigmus. tidak ada jejas luka hasil tes nervus VII ( fasialis ) untuk sensori motorik daerah wajah normal. 00 c.4.1 ˚ C c) Tekanandarah : 115 / 86 mmHg d) Respirasi : 16 x / menit d. nyeri tekan tidak ada. epistaksis negative. IMT : 19. reflek cahaya positif.5 – 24 ( normal ) 25 – 29 ( lebih )  30 ( obesitas ) f. Tanda-tanda Vital a) Nadi : 106 x/ menit b) Suhu tubuh : 37.

Palpasi : Nyeri tekan tidak ada. . untuk nervus vestibularis dengan tes Romberg tidak mengalami gangguan. kedalaman dan irama pernafasan normal respirasi 16 x / menit. ekspansi paru simetris. Uji nervus XII ( hipoglosus ) dalam batas normal. komposisi gigi banyak yang berlubang dan sering mengeluh nyeri. pada saat dilakukan tes pendengaran baik tes rinne. neck rigidity ( kaku kuduk ) negative. vocal fremitus normal pada kedua lapang paru. tidak ada retraksi dinding dada berlebih. peningkatan JVP tidak ada. Setelah operasi : telinga sebelah kiri tertutup perban. tes weber dan tes schwabach belum bisa dilakukan karena masih adanya pengaruh anestesi pada pasien. Jantung Inspeksi : ictus cordis ( denyutan dinding thorak akibat pukulan ventrikel kiri pada dinding thorak ) noramal berada pada ICS 5 sinistra linea media clavikularis ( PMI ). reflek rahang ( jaw reflex ) positif f) Leher : pembengkakan tiroid tidak ada. Uji nervus IX ( glasofaringeal ) dan nervus X ( vagus ) sedikit mengalami gangguan karena pasien mengalami gangguan berupa nyeri telan post operasi karena pemasangan ETT pada waktu diruang operasi. tidak terdapat stomatisis dan luka pada lidah pasien. tanda brudzinki nenk sign negatif g) Thorak Paru Inspeksi : bentuk dada normochest. Perkusi : terdengar suara resonan / sonor pada kedua lapang paru batas paru hepar ICS 4 sampai ICS 6 Auskultasi : suara nafas dasar vesikuler pada semua lapang paru dengan adanya suara tambahan berupa ronki basah pada beberapa lapang paru dan vocal resonan normal. e) Mulut dan faring : tidak terdapat bibir sumbing. telinga kiri. leher bentuk simetris. tipe pernafasan thoracoabdominal. tes schwabach mengalami gangguan pada telinga kiri ).

Lien : tidak teraba dan tidak terdapat nyeri tekan. warna kulit ikterik negatif. nilai kekuatan ototnya untuk 5 untuk semua ekstrimitas. Apendik : nyeri tekan tidak ditemukan. tanda rovsing negative. Auskultasi : bising usus normal 10 x/ menit. batas kiri bawah jantung linea media clavikularis ICS 5 kekiri. oedema tidak ditemukan . g. h. P ) tanpa adanya suara tambahan irama gallop dan bising jantung / murmur tidak terdengar. Ginjal : tidak teraba dan tidak terdapat nyeri tekan. jejas tidak ada. Ekstremitas Inspeksi : terdapat kesimetrisan antara angota gerak atas dan bawah. VU : distensi dan nyeri tekan tidak ada. Pada kedua ektrimitas atas ditemukan reflek biceps dan . batas atas kanan jantung ICS 2 linea sternalis kanan. Abdomen Inspeksi : bentuk datar. Palpasi : tidak terdapat nyeri tekan. spider nevi tidak ada. tanda psoas dan tanda obturator negative. tidak terdapat kelainan anatomi pada ke empat ekstrimitas. M ) sama dengan Bj 2 ( A. Perkusi : terdengar suara timpani pada 4 kuadran abdomen. Palpasi : HR 106 x/ menit tanpa adanya murmur atau bising jantung. gurgles tidak ada borborigmi negatif. Palpasi Hepar : hepatomegali negatif. tidak ada nyeri tekan. ukuran lingkar perut dalam batas normal. acites tidak ada. Perkusi : batas kiri jantung ICS 2 – 3. terpasang DC no 16. Auskultasi : Terdengar Bj 1 ( T.

4 detik Normal 29. Genetalia : jenis kelamin laki – laki.0 106/µl Normal 4.0 Lymphosit 27.0-99.3 – 11. pada kedua ekstrimitas bawah reflek reflek quadrisep ( patella ) dan reflek akciless positif. 4 APTT 37. nyeri tekan tidak ada.3 detik Normal 9.045 .1 g/dl Normal 33.40 Monochit 4.4 MCV 88. Kuku : tidak terdapat sianosis dan clubbing finger. akral hangat. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan laboratorium a.0 10³/µl Normal 25 . fistule tidak ada 5. reflek fleksor jari tengah positif.0-37.0. tidak tampak kemerahan dan eritema pada daerah kulit pasien.0 MCHC 33.44 PT 10.5 HGB (Hemoglobin) 14. reflek triceps positif.5 PL Rendah 79.8-10. ikterik negatif. capiler refill <2 detik. turgor kulit elastic.0 – 40.9 106/µl Normal 4.9 g/dl Normal 12-16 Trombosit 358 rb / µl Normal 140 rb – 392 rb .2-5.2-5.8 RBC (Eritrosit) 5.5 10³/µl Normal 2-8 Eosinofil 0. 2 GDS 92 Mg/dl Rendah < 200 Pemeriksaan darah tanggal 10 April 2017 Pemeriksaan Hasil Satuan Interpretasi Nilai normal WBC (leukosit) 11400 10³/µl Tinggi 4.2 g/dl Normal 12-16 Trombosit 374 rb / µl Normal 140 rb – 392 rb MPV 8. Pemeriksaan darah tanggal 4 April 2017 Pemeriksaan Hasil Satuan Interpretasi Nilai normal WBC (leukosit) 14760 10³/µl Tinggi 4. hemoroid negatif.8 RBC (Eritrosit) 4. Kulit : elastisitas kulit baik.5 HGB (Hemoglobin) 14.8 % Rendah 9.6 10³/µl Tinggi 0. i.4 – 12.8-10.

44 a.1 % Rendah 9. Analisa Data N DATA FOKUS ETIOLOGI PROBLEM TTD O 1 DS : Pasien mengeluh pusing dan Agen pencedera Nyeri akut ( 00132 ) nyeri pada daerah telinga fisik ( prosedur yang habis dioperasi.0 MCHC 32.9 % 20 tts / menit IVRD RL 20 tts / menit B. Cairan IVFD Ns 0.4 10³/µl Normal 25 . Radiologi Hasil pemeriksaan MSCT scan mastoid tanpa kontras tanggal 22 maret 2017 Kesan : Mastoiditis kronis Penebalan concha nasi kanan kiri Deviasi septum nasi kekanan 6.4 MCV 90.1 10³/µl Normal 2-8 Eosinofil 1. Injeksi pada tanggal 10 April 2017 Injeksi ceftriaxone 2 x 1 g Injeksi ketorolac 3 x 30 mg Injeksi ranitidine 2 x 50 mg Injeksi kalnek 3 x 500 mg Therapy tambahan obat oral pada tanggal 12 April 2017 Ciprofloxacin 2 x 500 mg Asam traneksamat 2 x 500 mg Ketoprofen 3 x 100 mg Ranitidine 2 x 50 mg b.0-99.0.6 PL Normal 79. pembedahan ) .045 . Terapi a.4 – 12.8 g/dl Rendah 33.1 10³/µl Tinggi 0.40 Monochit 6. Pemeriksaan Hasil Satuan Interpretasi Nilai normal MPV 9.0 Lymphosit 27.0-37.

ketoprofen 3 x 100 mg 2 DS : . pada pemeriksaan laboratorium didapatkan hasil leukosit 14. mendapatkan injeksi ketorolac 3 x 30 mg . P : Nyeri didaerah telinga kiri Q : Nyeri terasa perih seperti ditusuk . Prosedur invasive Resiko Infeksi ( 00004 ) DO: tampak luka post operasi pada telinga kiri pasien yang tertutup perban . 760 ( pada tanggal 4 april 2017 ) dan 11. ciprofloxacin 2 x 500 mg. pasien tampak melindungi daerah yang sakit .tusuk R : Menjalar sampai ke seluruh kepala dan leher S : Skala nyeri 5( pengkajian dengan skala numeric dan skala wong blaker ) T : Nyeri hilang timbul pada waktu tertentu DO : Ekpresi wajah pasien menahan nyeri. pada program therapy os mendapatkan antibiotic ceftriaxone 2 x1 gr. 400 ( pada tanggal 10 April .

Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisik ( prosedur pembedahan ) 2.3 (sedang). Ajari teknik relaksasi napas dalam nyeri tanpa dan distraksi untuk mengatasi nyeri anlgetik Melaporkan nyeri 5 5 3. INTERVENSI Tgl/J No Tujuan Intervensi D am P 10/4/17 1 Setelah dilakukan tindakan Management nyeri ( 1400 ) keperawatan selama 3x 8 jam 18. Kolaborasi dalam pemberian obat beristirahat penurun nyeri. 4 (ringan). 2017 ). Kaji nyeri dengan melihat PQRST. C. Prioritas DiagnosaKeperawatan 1. Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur infasif D. 5 (tidakada) 1. Pasien 2 5 tubuh yang lain? Dan menggambarkan dimananyeri yang dirasakan? factor penyebab S: berapa skala nyerinya? T: berapa lama nyeri berlangsung nyeri muncul Menggunakan 2 5 dan apakah hilang timbul atau tindakan terusmenerus? pengurangan 2. 2 (berat). Tentukan lokasi karakteristik dan . 00 1. Monitor TTV terkontrol Klien dapat 3 5 4. diharapkan nyeri akut dapat berkurang dengan kriteria hasil : P: tanyakan apa yang memperburuk nyer iatau ketidaknyamanan? Indikator Awal Target Q:tanyakan bagaimana jenis Mampu 3 5 mengenali kapan nyerinya? R: apakah nyeri menjalar kebagian nyeri terjadi. dengan tenang Keterangan: Pemberian Analgetik ( 2210 ) 1(kuat).

Pertahankan tekhnik aseptic sebelum 1(sangat besar).3 (sedang). Tingkatkan intake nutrisi yang tepat 4. sekitar Peningkatan suhu 3 5 kulit Bau luka busuk 4 5 Kontrol infeksi ( 6540 ) Keterangan: 1. 5 (tidak ada) 2. Berikan analgetik tambahan jika keperawatan selama 3x24 jam diperlukan untuk meningkatakan diharapkan penyembuhan luka : primer efek penurunan nyeri. Setelah dilakukan tindakan 5. Kolaborasi dengan tenaga medis dalam pemilihan penggunaan analgetik yang tepat. 3. Kolaborasi dalam pemberian antibiotic sesuai dengan kebutuhan 5. 4. keparahan nyeri dengan pengkajian nyeri P Q R S T 2. 2 dapat tercapai dengan kriteria hasil : 6. Evaluasi keefektifan analgetik serta Indikator Awal Target tanda dan gejala yang ditimbulkan Drainase purulen 3 5 Eritema dikulit 3 5 pada pasien. Ajarkan cara cuci tangan baik pada pasien maupun keluarga 3. Cek adakah alergi obat pada pasien.2 (besar). Monitoring tanda – tanda vital pasien sebelum pemberian analgetik. 4 melakukan tindakan (terbatas). Ajarkan pada pasien dan keluarga untuk mengenali adanya tanda – tanda infeksi Perawatan luka ( 3660 ) .

50  Menentukan pasien kelolaan yang akan dilakukan intenvensi dan implementasi  Melakukan pengkajian komprehensif akan keluhan pada pasien  Melakukan analisa data dan menentukan NOC serta NIC yang akan dilakukan pada pasien 18. Anjurkan pasien dan keluarga untuk mengetahui tata cara perawatan luka 6. ukuran untuk mengetahui hasil dari perawatan luka yang dilakukan E. Berikan rawatan insisi pada luka 3. Bersihkan luka dengan norma saline 4. 00 I P : Nyeri didaerah telinga kiri Mengkaji nyeri dengan melihat PQRST: Q : Nyeri terasa perih seperti ditusuk . Ganti balutan sesuai dengan kebutuhan 5.tusuk P: apakah yang memperburuk nyeri R : Menjalar sampai ke seluruh atauke tidaknyamanan? kepala dan leher Q : bagaimana jenis nyeri nya? R: apakah nyeri menjalar kebagian S : Skala nyeri 5( pengkajian tubuh yang lain? Dan dimana dengan skala numeric dan nyeri yang dirasakan? skala wong blaker ) . Monitoring karakteristik luka 2. 1. IMPLEMENTASI Tgl No Evaluasi Implementasi Paraf Jam DP Formatif 10/04/2017 17. Dukumentasikan lokasi luka.

kalnek 500 mg 19. 28 Injeksi masuk melalui intravena tidak langsung c Memberikan injeksi ceftriaxone 1 gr.00 I S :Pasien mengatakan masih Mengkaji nyeri dengan melihat PQRST: nyeri P: apakah yang memperburuk nyeri O : Pasien sudah tampak tenang. S: berapa skala nyerinya? T: berapa lama nyeri berlangsung dan kolaborasi dalam pemberian apakah hilang timbul atau terus analgetik menerus? 20. atauke tidaknyamanan? skala nyeri tetap 4 Q : bagaimana jenis nyeri nya? A : masalah nyeri belum teratasi R: apakah nyeri menjalar kebagian tubuh yang lain? Dan dimana P : Ajarkan tekhnik distraksi nyeri yang dirasakan? relaksasi pada pasien.00 Memotivasi untuk istirahat Memberikan injeksi ketorolac 30 mg Injeksi masuk melalui intravena tidak langsung Mengkaji keluhan pasien .1 ˚ C c) Tekanandarah : 115 / 86 mmHg d) Respirasi : 16 x / menit b Mengkaji berat badan pasien dan a. TB/BB : 161cm / 50 kg status gizi pasien berdasarkan IMT IMT : 19. ranitidin 50 mg . S: berapa skala nyerinya? T : Nyeri hilang timbul pada T: berapa lama nyeri berlangsung dan waktu tertentu apakah hilang timbul atau terus menerus? a Mengukur TTV a) Nadi : 106 x/ menit b) Suhu tubuh : 37.

skala nyeri tetap 3 R: apakah nyeri menjalar kebagian tubuh A :masalah nyeri teratasi yang lain? Dan dimana nyeri yang sebagian dirasakan? S: berapa skala nyerinya? P : Memberikan latihan nafas T: berapa lama nyeri berlangsung dan dalam serta tekhnik apakah hilang timbul atau terus relaksasi untuk menurunkan menerus? nyeri Monitor hemodinamik dan TTV pasien a) Nadi : 96 x/ menit 16.11/04/17 I Mengkaji ulang nyeri dengan melihat PQRST: S :Pasien mengatakan nyeri 14. dirasakan? S: berapa skala nyerinya? skala nyeri hanya 1 kadang T: berapa lama nyeri berlangsung dan tidak ada apakah hilang timbul atau terus A :masalah nyeri teratasi menerus? .00 b) Suhu tubuh : 36.00 Memberikan injeksi ketorolac 30 mg tidak langsung Injeksi masuk melalui intravena 20. d) Respirasi : 16 x / menit ranitidin 50 mg .5 ˚ C c) Tekanandarah : 110 / 86 mmHg Memberikan injeksi ceftriaxone 1 gr.00 Mengkaji ulang nyeri dengan melihat tidak langsung PQRST: 12/04/17 P: apakah yang memperburuk nyeri atauke tidaknyamanan? 10.00 sudah sangat berkurang P: apakah yang memperburuk nyeri atauke tidaknyamanan? O : Pasien sudah tampak lebih Q : bagaimana jenis nyeri nya? tenang.00 Q : bagaimana jenis nyeri nya? S :Pasien mengatakan nyeri R: apakah nyeri menjalar kebagian tubuh sudah hilang yang lain? Dan dimana nyeri yang O : Pasien sudah tampak tenang. kalnek 500 mg Memotivasi untuk istirahat Injeksi masuk melalui intravena 18.

hemodinamik stabil Nadi : 96 x/ menit Suhu tubuh : 36.00 Motivasi pasien untuk penatalaksanaan b) Suhu tubuh : 36. EVALUASI Tanggal Dx Diagnosa Evaluasi Paraf Jam 12/04/2017 I Nyeri akut berhubungan dengan S:Pasien mengatakan nyeri sudah ( 10. Memberikan therapy obat oral pasien P :Memberikan cara penata- untuk dirumah : laksanaan nyeri dengan nafas dalam dan Ciprofloxacin 2 x 500 mg memeinimalkan faktor Asam traneksamat 2 x 500 mg pencetus nyeri muncul Ketoprofen 3 x 100 mg Ranitidine 2 x 50 mg Pasien dan keluarga Mengukur TTv pasien mendengarkan penjelasan yang diberitahukan perawat dengan seksama a) Nadi : 96 x/ menit 11.6 ˚ C dirumah dan memberitahu jadwal kontrol c) Tekanan darah : 112 / 76 mmHg d) Respirasi : 16 x / mnt E.15 agen pencedera fisik hilang WIB) O: Pasien sudah tampak lebih tenang dan gembira.6 ˚ C Tekanan darah : 112 / 76 mmHg Respirasi : 16 x / mnt A: masalah nyeri akut sudah teratasi sebagian ditandai dengan criteria hasil : Indikator Awal Akhir Mampu 3 5 mengontrol nyeri .

5 (tidakada) P: lanjutkan intervensi keperawatan  Pertahankan suasana dan lingkungan untuk mengurangi munculnya nyeri lagi. 4 (ringan). Pasien 2 5 menyebut kan nyeri menurun Skala nyeri 2 5 berkurang TTV normal 5 5 Klien dapat 3 5 beristirahat dengan tenang Keterangan: 1(kuat). 2 (berat).3 (sedang). .  Lakukan tekhnik relaksasi dan nafas dalam bila diperlukan.