BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN PPOK

A.PENGKAJIAN
Identitas
Nama : Tn. S
Umur : 56 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Pekerjaan : Petani
Pendidikan : SD
Alamat : Sendang Kulon
Keluhan Utama : sesak dan batuk
Riwayat Penyakit
1) Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke RS dengan keluhan sesak nafas , sejak 2 hari sebelum masuk RS pasien
sesak terus menerus, dan sering batuk.
Keadaan umum Compos mentis, GCS : E4,V5,M6, suhu : 37C, T : 130/80mmHg, N : 104
x/menit, RR: 28x/menit
Pernafasan melalui : hidung + terpasang 02 kanule ( 2 liter/menit ). Trachea tidak ada
pembengkokan Cyanosis (-), dyspnea (+), batuk lendir putih, darah( )Whezeeng (+) / (+),
Ronchi (+) / (+) dada simetris. Eliminasi urin : 400-500cc/hari, warna kuning, jernih, khas
amoniak. Ekstremitas atas tangan kiri terpasang infus RL 7 Tetes/menit.
Spiritual Klien mengharapkan dengan perawatan yang diberikan bisa sembuh dan yakin
dengan pertolongan Tuhan bisa sembuh, persepsi penyakitnya sebagai cobaan dalam hidup.
Tetapi pasien tidak dapat melakukan sholat di RS. Pemeriksaan Lab AGD : - PH : 7,359 (
7,35-7,45 ), PCO2 : 46,0 ( 35-45 ), PO2 : 115,0 ( 80-104 ), HCO3 : 25, Sputum : BTA (-)
Therapi. Infus RL : Dex.5% 1:1/ 24 jam ( 7 tts/menit ), Aminophylin 1 amp / 24 jam, -
Tarbutalin 4x0,025 mg, Ciprofloxasin 2x500 mg, Nebulezer 4x ( Atroven : Agua ) =
1:1, Oksigen 2 liter / menit Diet TKTP
2) Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien mengatakan pernah mengalami sesak nafas sejak 5 tahun yang lalu
3) Riwayat Penyakit Keluarga
Pasien mengatakan di keluarganya tidak ada yang mengalami sakit seperti ini
B. Pengkajian Pola Virginia Handerson
1. Pola Pernafasan
belum sakit : Pasien dapat bernafas dengan normal dan tidak menggunakan alat bantu pernafasan .
Saat dikaji : pasien mengeluh sesak nafas dan tampak terpasang O2 kanul (2 liter/ menit)
2. Pola Nutrisi
Sebelum sakit : Pasien makan 3x sehari dengan menu nasi, sayur dan lauk
at dikaji : Saat dirawat di rumah sakit, makan ¼ porsi pada menu yang disajikan di rumah sakit pada
tyap kali jadwal makan
3. Kebutuhan Eliminasi

Saat dikaji : Pasien mandi dengan di seka oleh istrinya pagi dan sore. Personal Hygiene Sebelum Sakit : Mandi 2x sehari dan gosok gigi mandiri. Kebutuhan Spiritual Sebelum sakit : Pasien dapat melakukan ibadah solat 5 waktu at dikaji : Pasien tidak bisa sholat di RS dan berkeyakinan bahwa penyakitnya dapat sembuh karena pertolongan Tuhan. Keadaan Umum : compos mentis. suhu 37 C. oedem pada kornea dekstra. 9. Kebutuhan berkomunikasi dan berhubungan Sebelum sakit : Hubungan pasien dengan keluarga baik biasa berkomunikasi dengan bahasa jawa. 14. sklera tidak ikterik.00 Saat dikaji : Malam hari kadang terbangun karena sesak nafas dan batuk 6. warna kuning dan BAK lancar . hanya tetangganya sering menjenguk di RS untuk menghibur. warna jernih kekuningan Saat dikaji :BAB 1x sehari. Kebutuhan rasa aman dan nyaman Sebelum sakit : Pasien merasa aman dan nyaman jika bersama keluarga dan istrinya Saat dikaji : Pasien mengeluh tidak nyaman karena sering sesak nafas dan batuk 8. C. c. Rambut : hitam. tidak mudah dicabut. Kepala : mesosephal b. N :104x/menit 2. Saat dikaji :Pasien mau berkomunikasi dengan perawat dengan ditemani anaknya 11. fesesnya lunak. fesesnya lunak. Kepala a. palpebra dekstra udem dan spasme. konjungtiva tidak anemis. Kebutuhan bekerja Sebelum sakit : Pasien adalah seorang petani Saat dikaji : Pasien hanya berbaring ditempat tidur. Kebutuhan berpakaian Sebelum sakit : Pasien ganti baju 2x sehari dan dapat berpakaian sendiri.TD 130/80mmHg. warna jernih kekuningan 4. Kebutuhan bermain dan rekreasi belum sakit : Pasien tidak biasa bermaian ataupun rekreasi at dikaji : Pasien tidak bisa pergi kemana . 7. Sebelum sakit : BAB 1x sehari. Kebutuhan Istirahat dan tidur Sebelum sakit : Pasien biasa tidur 8 jam sehari dan bangun pada pukul 05. .Pemeriksaan Fisik 1. RR 28x/menit. 10.mana. Mata : Bulu mata tidak mudah dicabut. Kebutuhan Belajar Sebelum Sakit : Pasien tidak tahu tentang penyakit PPOK yang dideritanya Saat dikaji : Pasien sudah tahu tentang penyakit yang dideritanya karena penjelasan perawat. Temparatur tubuh elum sakit : Pasien biasa memakai pakaina tipis jika panas begitu juga sebaliknya Saat dikaji : Pasien suhunya normal S : 37 C 12. Saat dikaji : Memakai pakaian dibantu oleh anaknya. Gerak dan keseimbangan elum sakit : Pasien dapat melakukan aktivitas tanpa gangguan dikaji : Pasien tampak keseimbangannya terganggu karenatidak bisa bernafas 5. 13. serta gosok gigi. warna kuning dan BAK lancar .

Telinga : Besih. Hidung : tampak terpasang kanul O2 (2L/menit) e. Pemeriksaan Laboratorium AGD a) PH = 7.0 (35-45) c) PO2 = 115. Ronchi(+) DS: ps. g. Tampak sesak nafas/dispneu . Dada a.35-7. f. Ektremitas : tidak ada oedem pada kedua ekstremitas atas dan bawah. pola nafas DO: ps. lengkap. tidak ada stomatitis. reflek suara baik.359 (7. Mulut : Gigi kekuningan. Ekstremitas atas tangan kiri terpasang infus RL 7 ttes/menit 3. Mengatakan sering batuk . wheezing(+). DS : Pasien mengatakan sesak nafas Hiperventilasi Ketidak efektifan sejak 5 tahun yang lalu. RR: 28 x/m.O2 2L/menit d) Diet TKTP E.025mg Ciproflaxosin 2x 500 mg c) Terapi Oksigen Nebulizer 4x (atroven : agua) = 1:1 . tidak ada serumen.Analisa Data NO DATA FOKUS ETIOLOGI PROBLEM 1. Terapi a) Terapi infus : RL Dextro 5 % 1:1/24 jam (7 tetes/menit) b) Terapi injeksi : Aminiphylin 1 amp/24 jam Tarbulatin 4x0.45) b) PCO2 = 46. Paru 1) Inspeksi Bentuk dada simetris Tampak RR 28x/menit 2) Palpasi Tidak ada pembengkakan pada paru Tidak ada nyeri tekan 3) Perkusi Hipersonor 4) Auskultasi Suara nafas wheezing dan kadang terdengar ronchi D.Pemeriksaan Penunjang 1.d.0 (80-104) d) HCO3 = 25 Sputum BTA ( .) 2.tampak menggunakan alat bantu pernafasan kanul O2 . Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan tidak ada pembengkakan pada trakhea h.

Bersihan jalan nafas tidak efektif bd adanya mukus 3. 2. Berikanbronkodilator bila perlu (amonophilin 1 16-24 amp/24 jam) 2. RR normal7. Kriteria : 6. Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi hiperventilasi keperawatan 2. Auskultasi suara nafas. batuk tampak Adanya mukus Bersihan jalan ada lendir putih nafas tidak efektif DS : pasien mengatakan kesulitan nafas 3. Tidak menggunakan otot nafas tambahan 4. Keluarkan sekret dengan batukatau suction jam masalah 4. Monitor respirasi dan status O2 1. Gangguan pertukaran gas bd ventilasi perfusi G. Tidak ada nafas pendek 2 Bersihan jalan Setelah Airway Management . Ketidakefektif Setelah an pola nafas dilakukan bd tindakan 1. Ketidakefektifan pola nafas bd hiperventilasi 2.Diagnosa Keperawatan 1. Tidak ada pernafasan cuping hidung saat beraktifitas 5. Adanya kesimetrisan ekspansi dada 3. Atur intake untuk cairanmengoptimalkankeseimba teratasi ngan. ketidakefektifa catatadanya suara tambahan n pola nafas 5. DO: PCO: 46 .Intervensi N DIAGNOSA NOC NIC O D X Airway Management 1. Lakukanfisioterapi dada jikaperlu (00032) 2x24 3. DO: p stampak batuk .PO2 : 115 Gangguan Ventilasi perfusi pertukaran gas F.

nafas tidak dilakukan Intervensi : efektif bd tindakan 1. Tidak ada batuk 3 Gangguan Setelah Monitoring pernafasan : pertukaran gas dilakukan 1. Berikan minum hangat kepada pasien masalah 4. RR normal 2. Tidak ada hambatan dalam jalan nafas 5. Auskultasi suara nafas.tidur menyamping untuk mencegah aspirasi 1. dan usaha bd ventilasi tindakan pernafasan perfusi keperawtan 2. kedalaman. Palpasi kesimetrisan ekspansi paru masalah 4. catat area yang teratasi mengalami penurunan ventilasi dan adanya suara Kriteria : tambahan Status 6. Monitor rata-rata. Perkusi dada anteriordan posterior dari apeks gangguan sampai bawah pertukaran gas5. takipnea. Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi adanya mukus keperawatan 2. catat adanya suara nafas tidak tambahan efektif dapat teratasi Kriteria : 1. tidak ada sesak nafas saat beraktivitas . Auskultasi suara pernafasan. ritme. Ajarkan batuk efektif bersihan jalan 5. 2x24 jam3. Kemudahan bernafas 2. Lakukan fisioterapi dada jika perlu 2x24 jam 3. Monitor adanya dispnea dan kejadian yang pernafasan: meningkatkan dan memperburuk keadaan pasien pertukaran gas 7. Tidak ada kecemasan 3. tidak ada sesak nafas dalam istirahat 3.Mampu membersihkan secret 4. Monitor pola nafas :bradipnea.

Tidak ada kelelahan 5.2001) Penyakit paru obstruktif kronis merupakan sejumlah gangguan yang mempengaruhi pergerakan udara dari dan ke luar paru. bronkiestasis. Gangguan pertukaran gas bd ventilasi perfusi . Diagnosa yang muncul pada kasus di atas adalah : 1. 4. emfisema. Ketidakefektifan pola nafas bd hiperventilasi 2.PaCO2 DBN (35-45) 7. PPOK merupakan kondisi ireversibel yang berkaitan dengan dispnea saat aktivitas dan penurunan aliran masuk dan keluar udara paru-paru.Kesimpulan PPOK ( Penyakit Paru Obstruksi Kronis) adalah klasifikasi luas dari gangguan. (Arif Muttaqin. dan asma.Tidak ada sianosis 6.2008).PaO2 DBN (80-104) BAB IV PENUTUP A. Bersihan jalan nafas tidak efektif bd adanya mukus 3. yang mencangkup bronkitis kronis.(Brunner&Suddarth.