TINJAUAN PUSTAKA

KONDILOMA AKUMINATA

Perseptor : Dian Mardianti, dr., Sp.KK

Disusun oleh:
Kelompok XLIX-D & L-D

Presentan :
Rangga Satria Nugraha 4151151523
Marwan Rosada 4151151476
Zahvita Caecaria 4151151412
Westha Dega Sasriya 4151151457

Partisipan:
Yulan Fitriah Basuni 4151151501
Revira Anggraini 4151151506
Rangga Ielman 4151151466

PROGRAM STUDI PROFESI DOKTER
ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI
CIMAHI
2017
KONDILOMA AKUMINATA

A. Definisi

Kondiloma akuminata adalah infeksi menular seksual yang disebabkan

oleh Virus Papiloma Humanus (VPH) tipe tertentu dengan kelainan berupa

fibroepitelioma pada kulit dan mukosa. Kondiloma akuminata seringkali disebut

juga penyakit jengger ayam, kutil kelamin (genital warts) .

B. Epidemiologi

Risiko seorang perempuan tertular kondiloma akuminata dari partner

seksualnya adalah sebesar 30%. Akan tetapi sangat disayangkan, kondiloma

akuminata bersifat asimptomatis. Dari semua total kasus kondiloma akuminata

yang ada, 60%-nya bersifat asimptomatis, 10% hanya bisa dideteksi lewat

pemeriksaan DNA/RNA, hanya 1% yang muncul manifestasi klinis sebagai

vegetasi genital, 4% hanya bisa dideteksi lewat colposcopy, dan 25% adalah

infeksi menetap kondiloma akuminata. Hal ini berarti bahwa kasus kondiloma

akuminata merupakan ice berg phenomen sehingga kasus yang muncul ke

permukaan sesungguhnya bukanlah kasus yang sebenarnya. Sebagaimana kasus

IMS yang lain, prevalensi kondiloma akuminata di tiap negara berbeda tergantung

praktek seksual dan distribusi umur penduduk. Prevalensi tertinggi kondiloma

akuminata adalah pada pekerja seks komersial (PSK), PSK berisiko tinggi

terinfeksi kondiloma akuminata karena biasanya PSK berumur muda dan

mempunyai kebiasaan promiskuitas.
World Health Organization (WHO) pada tahun 2005 memerkirakan setiap

tahunnya pada umur 15-49 tahun terdapat lebih dari 448 juta tambahan kasus baru

IMS yang dapat disembuhkan seperti kondiloma akuminata, gonore, klamidiosis,

sifilis, dan trikomoniasis. Menurut Centre for Disease Control and Prevention, di

Amerika Serikat tercatat lebih dari 19,7 juta kasus baru Infeksi Menular Seksual

(IMS) setiap tahun dan 14,1 juta kasusnya merupakan infeksi HPV.

Di Indonesia, prevalensi kondiloma akuminata pada perempuan yang datang

ke klinik KB sebesar 5–19%. Prevalensi kondiloma akuminata jauh lebih tinggi

pada perempuan yang datang ke klinik IMS yaitu sebesar 27%. Hasil penelitian di

RSUP H. Adam Malik Medan, didapatkan pada IMS yang paling sering terjadi

adalah kondiloma akuminata (29,9%), gonorrhea (28,4%), sifilis (7,5%), herpes

simplex (3%), dan Infeksi genital non spesifik (4,5%).

C. Etiologi

Kondiloma akuminata disebabkan oleh infeksi dari virus. Virus

penyebabnya adalah Virus Papilloma Humanus (VPH). VPH adalah virus DNA

double-stranded dan tergolong dalam ordo Papovavirales, family Papovaviridae,

genus polyomavirus. Virus ini menginfeksi daerah epitel kulit.
Gambar 1. Virus Papilloma Human (VPH).

Sampai saat ini telah dikenal sekitar 100 tipe VPH, namun tidak

seluruhnya dapat menyebabkan kondiloma akuminata, hanya 23 tipe yang dapat

menyebabkan kondiloma akuminata. Tipe yang pernah ditemui pada kondiloma

akuminata adalah tipe 6, 11, 16, 18, 30, 31, 33, 35, 39, 41, 42, 44, 51, 52, dan 56.

Beberapa tipe VPH tertentu mempunyai potensi onkogenik yang tinggi, yaitu tipe

16 dan 18. Tipe ini merupakan jenis virus yang paling sering dijumpai pada

kanker serviks, sedangkan tipe 6 dan 11 lebih sering dijumpai pada kondiloma

akuminata dan neoplasia intraepithelial serviks derajat ringan.

HPV mempunyai 2 protein kapsid (protein mayor dan protein minor) yang

menginfeksi berbagai vertebrata termasuk manusia dan DNA sirkuler rantai ganda
dengan panjang genom sekitar 8000 bp. Genom virus mengandung Open Reading

Frame (ORF) yang terbagi dalam 3 daerah, yaitu Early region (E), Late Region

dan Long Control Region. Early region sekitar 45% dari genom, terdiri dari

protein E1, E2, E4, E5, E6, E7. Protein E1 berperan dalam kontrol replikasi

episomal DNA, protein E2 berperan dalam siklus hidup yang menekan atau

mengaktifkan promoter virus, protein E4 terlibat dalam pematangan partikel virus,

dan protein E5 bergabung dalam membran sitoplasma. Dua onkoprotein

transformasi dihasilkan oleh E6 dan E7. Late Region sekitar 40% genom, yang

mengkode protein kapsid, yang terdiri atas L1 (protein besar berukuran 54.000

dan yang bersifat lestari untuk tipe HPV yang berbeda dan L2 (protein spesifik

untuk tiap tipe virus). Long Control Region sekitar 15% dari genom virus yang

mengandung promoter untuk memulai replikasi dan kontrol transkripsi.

Gambar 2 Struktur sirkuler episom DNA VPH.
Cara transmisi dari kondiloma akuminata adalah kontak langsung dengan

penderita, seperti misalnya transmisi seksual, dapat juga melalui seks oral,

perabaan alat kelamin, tangan dan perantara objek atau benda yang terkontaminasi

VPH.

D. Faktor risiko

Faktor risiko dari kondiloma akuminata antara lain:

 Kelompok usia produktif dan seksual aktif

 Pasangan seksual yang berganti-ganti pasangan

 Higiene pada alat genital, terutama dengan meningkatnya kelembapan,

seperti pada keputihan, kehamilan, dan pada laki laki yang tidak di

sirkumsisi.

 Tidak menggunakan pengaman pada saat melakukan hubungan seksual

 Sosial ekonomi dan tingkat pendidikan yang rendah

E. Patogenesis

Infeksi Virus Papilloma Humanus (VPH) terjadi akibat kontak langsung atau

setelah hubungan seksual secara anal, oral, dan genital dengan individu yang memiliki

lesi VPH. Dalam kondisi normal, virus tidak dapat masuk ke dalam sel epidermis yang

lapisan selnya berbeda-beda sehingga terbentuk suatu penghalang mekanis. Trauma

seperti mikroabrasi yang terjadi selama aktivitas seksual menyebabkan sel-sel di

lapisan basal epidermis terpapar sehingga tidak ada penghalang mekanis dan

memungkinkan penetrasi virus ke dalam kulit.
Heparin sulfat diduga memediasi penempelan virion terhadap sel epitel.

Heparin sulfat mengkode proteolglikan dan mengikat partikel VPH dengan

afinitas tinggi sehingga virus dapat masuk. Siklus hidup HPV terjadi hanya pada

keratinosit yang sedang berdiferensiasi. Pada infeksi yang tidak menyebabkan

keganasan (lesi jinak), DNA virus diatur secara terpisah dengan DNA sel inang

(lokasinya ekstra kromosom pada nukleus) sebagai episome. Pada infeksi yang

menyebabkan keganasan, DNA virus akan berintegrasi dengan genom sel inang

yang menyebabkan terjadinya mutasi.

Mekanisme infeksi virus diawali dengan protein menempel pada dinding sel

dan mengekstraksi semua protein sel kemudian protein sel itu ditandai (berupa

garis-garis) berdasarkan polaritasnya. Jika polaritasnya sama dengan polaritas

virus maka, dapat dikatakan bahwa sel yang bersangkutan terinfeksi virus. Setelah

itu, virus menginfeksikan materi genetiknya ke dalam sel yang dapat

menyebabkan terjadinya mutasi gen jika materi genetik virus ini bertemu dengan

materi genetik sel. Setelah terjadi mutasi, DNA virus akan bertambah banyak

seiring pertambahan jumlah DNA sel yang sedang bereplikasi. Ini menyebabkan

displasia (pertumbuhan sel yang tidak normal) jadi bertambah banyak dan tak

terkendali sehingga menyebabkan kanker.

Integrasi HPV-DNA mengganggu atau menghilangkan bagian E2. Fungsi

E2 adalah sebagai down-regulation transkripsi E6 dan E7. Gangguan fungsi E2

akan meningkatkan ekspresi E6 dan E7. Kedua protein tersebut masing-masing

mensupresi gen p53 dan gen Rb (retinoblastoma) yang merupakan gen

penghambat perkembangan tumor. Apabila fungsi gen tersebut terganggu, maka
neoplasma akan terbentuk. Pada lesi jinak, protein E6 tidak mengakibatkan efek

pada stabilitas p53 sedangkan E7 mengikat Rb dengan afinitas yang rendah.

Selanjutnya produk protein E5 akan meningkatkan aktivitas mitogen-activated

protein kinase. Hal tersebut menyebabkan peningkatan respon seluler terhadap

faktor pertumbuhan dan diferensiasi.

Untuk mengadakan infeksi yang persisten, virus memanfaatkan proses

diferensiasi alami dari keratin di lapisan basal. Beberapa salin genom virus

dipertahankan sebagai plasmid ekstrakromosom di dalam sel epitel yang

terinfeksi. Genom virus ini juga direplikasi dan diturunkan, kemudian ditranspor

di dalam sel yang sudah ditranskrip saat sel epitel basal berdiferensiasi dan

tumbuh ke permukaan epitel. Genom virus direplikasi dengan bantuan dua protein

VPH nonstruktutal, yaitu E1 dan E2. Kemudian terdapat protein nonstruktural

lainnya, yaitu E6 dan E7 yang menunda pematangan alami dari sel epitel yang

bertujuan nuntuk membuat DNA sel inang mensintesis protein struktural (L1 dan

L2) untuk merakit virus.

Sel epitel yang terinfeksi tumbuh ke atas dan menjadi displasia, kutil, atau

tumor. Seluruh proses tersebut akhirnya menghasilkan partikel virus yang baru

(koilositosis atipikal kondiloma akuminata) kepermukaan epitel. Virus yang sudah

menginfeksi sel epitel di basal ini dapat bertahan dalam keadaan laten. Lesi pada

satu area dapat mengganggu dan memungkinkan inokulasi virus ke sel-sel sekitar,

dengan pertumbuhan lesi yang baru selama beberapa minggu sampai beberapa

bulan. Fase laten virus dimulai tanpa ada tanda dan gejala yang timbul serta

berlangsung selama satu bulan hingga beberapa tahun.
Gambar 3 Patogenesis Kondiloma Akuminata.

F. Manifestasi Klinis

Masa inkubasi kondiloma akuminata berlangsung antara 1 – 8 bulan, rata-

rata selama 2 – 3 bulan. VPH masuk ke dalam tubuh melalui mikrolesi pada

kulit, sehingga kondiloma akuminata sering timbul di daerah yang mudah

mengalami trauma pada saat hubungan seksual dan di daerah lipatan yang lembab.

Pada pria tempat yang sering terkena adalah perineum dan disekitar anus, glans

penis, muara uretra eksterna, korpus, dan pangkal penis, sedangkan pada wanita

adalah di daerah vulva dan sekitarnya, introitus vagina, kadang-kadang pada

porsio uteri.

Kondiloma akuminata juga dapat berkembang di mulut atau tenggorokan,

terutama pada pelaku orogenital seks.Tanda dan gejala yang sering timbul pada

penderita kondiloma akuminata adalah :
─ Bintil kecil berwarna abu-abu, merah muda atau agak kemerahan pada alat

kelamin dan tumbuh secara cepat.

─ Beberapa bintil berkembang saling berdekatan, hampir menyerupai bunga

kol.

─ Panas di sekitar alat kelamin.

─ Nyeri, perdarahan dan rasa tidak nyaman pada saat melakukan Hubungan

Seksual.

─ Pada wanita banyak mengeluarkan flour albus atau wanita yang hamil

pertumbuhan penyakit akan lebih cepat.

Gambar 4. Kondiloma akuminata

Gejala Klinis Kondiloma akuminata, yaitu

1. Asimptomatik

a. Bentuk datar (flat)

Sebanyak 60 %, berbentuk bintil

sangat kecil yang jarang bisa dilihat dengan

mata telanjang. Untuk mendiagnosisnya,
diberikan larutan asam asetat pada daerah yang dicurigai terdapat bintil kondiloma

akuminata. Selanjutnya pemeriksaan dapat ditegakkan dengan menggunakan

mikroskop khusus (colposcope).

2. Simptomatik

a. Bentuk akuminata

Sering dijumpai di daerah lipatan dan lembab. Terlihat vegetasi bertangkai

dengan permukaan berjonjot seperti jari. Kutil bentuknya kecil (berdiameter 1 – 2

mm), namun dapat berkembang dalam kelompok yang lebih besar dan banyak.

Jika berkembang dalam jumlah banyak bisa menyerupai bunga kol.

b. Bentuk papul

Kelainan berupa papul dengan permukaan halus dan licin, multipel dan

menyebar secara diskret. Terdapat di daerah dengan keratinisasi sempurna (batang

penis, vulva bagian lateral, perianal dan perineum).

G. Diagnosis

Pemeriksaan untuk diagnosis kondiloma akuminata adalah dengan tes

asam asetat/acetowhite, colposcopy dan pemeriksaan histopatologi. Langkah
Anamnesis: Pasien datang dengan benjolan pada alat kelamin
penatalaksanaan kondilomaPemeriksaan
akuminata harus
Genital:dilaksanakan
Terdapat kutilsecara
kelaminlengkap mulai
Diduga tertular dari pasangan seksual
dari anamnesis faktor risiko sampai dengan tindakan pengobatan yang

komprehensif.

Pasangan Simtomatik Pasangan Asimtomatik

Ada benjolan verukosa Lakukan pemeriksaan dengan Acetowhite

Obati sebagai kondiloma akuminata dengan pengobatan topikal
+
-

Rujuk
Bagan 1. Penatalaksanaan Kondiloma Akuminata berdasarkan Pendekatan Sindrom
Bagan 1 menunjukkan bahwa pasien yang datang harus dianamnesis dan

dilakukan pemeriksaan genital, bila terdapat tumbuhan yang verukosa maka

dilakukan pengobatan kondiloma akuminata.
Infeksi kondiloma akuminata dapat dideteksi secara dini melalui

pemeriksaan pap smear, hal ini terutama dilakukan di negara maju. Di AS, sekitar

2,5 juta perempuan AS melakukan tes pap smear setiap tahunnya dan ditemukan

hampir seluruhnya mempunyai gejala terinfeksi kondiloma akuminata. Melalui tes

tersebut,13.000 perempuan dinyatakan positif kondiloma akuminata dan angka

mortalitas kondiloma akuminat sebesar 5000 penderita perempuan AS per

tahunnya.

H. Penatalaksanaan

1. Kemoterapi
a. Podofilin
Podofilin yang digunakan adalah tingtura podofilin 25%. Kulit di sekitarnya

dilindungi dengan vaselin atau pasta agar tidak terjadi iritasi, setelah 4-6 jam

dicuci. Jika belum ada penyembuhan dapat diulangi setelah 3 hari. Setiap kali

pemberian tidak boleh melebihi 0,3 cc karena akan diserap dan bersifat toksik.

Gejala toksisitas berupa mual, muntah, nyeri abdomen, gangguan alat napas, dan

keringat yang disertai kulit dingin. Keadaan lain yang dapat terjadi adalah supresi

sumsum tulang yang disertai trombositopenia dan leukopenia. Podofilin sebaiknya

tidak diberikan kepada wanita hamill karena dapat menyebabkan kematian fetus.
Cara pengobatan dengan podofilin ini sering dipakai. Hasil yang didapat

memuaskan pada lesi yang baru, namun kurang memuaskan pada lesi yang lama

atau yang berbentuk pipih.
b. Asam triklorasetat
Digunakan larutan dengan konsentrasi 50%, dioleskan setiap minggu.

Pemberiannya harus berhati-hati karena dapat menimbulkan ulkus yang dalam.

Dapat diberikan pada wanita hamil.

c. Krim 5-fuorourasil 1-5%.

Obat ini terutama untuk kondiloma akuminata yang terletak di atas meatus

uretra. Pemberianya setiap hari sampai lesi hilang. Sebaiknya penderita tidak

miksi selama dua jam setelah pengobatan.

d. Podofilotoksin 0,5% (podofiloks)

Bahan ini merupakan zat aktif yang terdapat di dalam podofilin. Setelah

pemakaian podofiloks, dalam beberapa hari akan terjadi destruksi pada jaringan

kondiloma akuminata. Reaksi iritasi pada pemakaian podofiloks lebih jarang

terjadi dibandingkan dengan podofilin dan reaksi sistemik belum pernah

dilaporkan. Obat ini dapat dioleskan sendiri oleh penderita sebanyak dua kali

sehari selama tiga hari berturut-turut.

2. Bedah Listrik (elektrokauterisasi)
3. Bedah Beku (N2, N2O cair)
4. Bedah Skalpel
5. Laser Karbondioksida
Luka lebih cepat sembuh dan meninggalkan sedikit jaringan parut bila

dibandingkan dengan elektrokauterisasi.
6. Interferon
Interferon dapat diberikan dalam bentuk suntikan intramuskular atau

intralesi dan bisa diberikan dalam bentuk sediaan krim. Interferon alfa diberikan
dengan 4-6 mU intramuskular 3 kali seminggu selama 6 minggu atau dengan

dosis 1-5 mU intramuskular selama 6 minggu. Interferon beta diberikan dengan

dosis 2 x 106 unit selama 10 hari berturut-turut.
7. Immunoterapi
Pada penderita dengan lesi yang luas dan resisten terhadap pengobatan

dapat diberikan pengobatan bersama dengan immunostimulator.

I. Pencegahan

1. Intervensi Perilaku

 A - Abstinence : adalah tidak melakukan hubungan seksual sama sekali

sebelum menikah. Cara ini adalah cara yang paling utama mencegah IMS

terutama pada orang muda.

 B - Be Faithfull : Be faithfull adalah bersikap setia hanya pada satu

pasangan saja.

 C - Condom : Penggunaan kondom sebagai salah satu metode pencegahan

IMS dan mengurangi resiko untuk transmisi terjadinya HIV

2. Vaksin VPH

Merupakan upaya pencegahan primer yang diharapkan akan menurunkan

terjadinya infeksi VHP berisiko tinggi yaitu kanker serviks. Pemberian vaksin

dilaporkan memberi proteksi sebesar 89% karena vaksin tersebut mempunyai

cross protection dengan tipe lain. Vaksin ini dikembangkan dari virus VPH tipe 16

dan 18 (Bivalent) dan 6, 11, 16, 18 (Quadrivalent). Namun, sejauh mana tingkat

efektifitas vaksin VPH dalam mencegah kondiloma akuminata belum diketahui

dengan jelas.
Indikasi pengggunaan vaksin VPH dapat diberikan pada setiap wanita

dapat diberikan vaksinasi. Pada usia 9-26, baik sudah menikah atau belum.

Diberikan pada usia mulai 9 tahun karena pada usia tersebut seorang wanita mulai

mengalami menstruasi. Salah satu pembentukan epitel serviks dipengaruhi oleh

faktor hormonal. Diberikan pada usia 26 tahun, dimana akan masuk ke jenjang

pernikahan, dimana akan memulai hubungan seksual.Pada pasien yang belum

terinfeksi, proteksi sebesar 89%. Pada pasien yang sudah terinfeksi, proteksi

sebesar 51%.

Kedua vaksin tersebut bekerja dengan cara vaksin terbentuk sebagai

kapsid dari VHP tipe 6, 11, 16, dan 18 (Gardasil) serta tipe 16 dan 18 (Cervarix),

namun tidak berisikan genom dari virus-virus tersebut, sehingga tubuh

membentuk antibody terhadap virus tersebut namun tidak menimbulkan gejala.

Hal ini akan memberikan proteksi sebesar 81% terhadap VPH pada lapisan sel

basal dalam tubuh yang belum pernah terinfeksi, sedangkan dalam tubuh yang

pernah terinfeksi virus VPH memberikan proteksi sebesar 50-60 %.

Kegagalan 19% pada tubuh yang belum terinfeksi dikarenakan vaksin

hanya terbentuk oleh kapsid virus tipe VPH 6,11,16,18 (Gardasil) atau 16,18

(Cervarix) saja, sedangkan beberapa tipe VPH lainnya tidak terlindungi. Pada

tubuh yang pernah terinfeksi, virus VPH sudah menginvasi sel inang, sehinggal

sel yang telah terinvasi tersebut tidak terlindungi yang dapat kembali timbul

gejala, namun pada sel lainnya yang belum terinfeksi akan terlindungi.
Tabel 1. Pedoman Vaksinasi VPH

J. Komplikasi

Kondiloma akuminata merupakan IMS yang berbahaya karena dapat

menyebabkanterjadinya komplikasi penyakit lain yaitu:

a. Kanker serviks

Lama infeksikondiloma akuminata meningkatkan risiko terjadinya kanker

serviks.Kanker serviks merupakan penyebab kematian kedua padaperempuan

karena kanker di negara berkembang dan penyebab ke11 kematian pada
perempuan di AS. Tahun 2005, sebanyak 10.370kasus kanker serviks baru

ditemukan dan 3.710 diantaranyamengalami kematian.

b. Kanker genital lain

Selain menyebabkan kanker serviks, kondiloma akuminata juga dapat

menyebabkankanker genital lainnya seperti kanker vulva, anus dan penis.

c. Infeksi HIV

Seseorang dengan riwayat kondiloma akuminata lebih berisiko terinfeksi HIV.

d. Komplikasi selama kehamilan dan persalinan

Kondiloma akuminata selama masa kehamilan, dapat terus berkembang

membesardi daerah dinding vagina dan menyebabkan sulitnya prosespersalinan.

Selain itu, kondisi kondiloma akuminata dapat menurunkan kekebalan tubuh,

sehingga terjadi transmisi penularan kondiloma akuminata pada janinsecara

transvertikal, dan janin dapat menderita kondiloma akuminata

padatenggorokannya.

K. Prognosis

Walaupun sering mengalami residif, prognosisnya baik. Faktor

predisposisi dicari, misalnya higiene, adanya fluor albus, atau kelembaban pada

pria akibat tidak disirkumsisi.

DAFTAR PUSTAKA
1. Fitzpatrick TB. Sexually transmitted disease. In: Dermatology in general

medicine. 7th ed. USA: McGraw-Hill Companies, Inc; 2008.

2. James WD. Syphilis, yaws, bejel, and pinta. In: Andrews’ diseases of the

skin. 11th ed. UK: Elsevier; 2011.

3. Perspectives on Sexually TransmittedDiseases : Challenges for Prevention

and Control. In Holmes :Sexually Transmitted Diseases. New York :

McGraw Hill. 2002; 3rded; chapter 2; p 491 – 501.

4. FK UI. Infeksi Menular Seksual. Jakarta : FK UI. 2009; edisi ketiga : hal

140-145.

5. FK UI. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta : FK UI. 2011; edisi

keenam : hal 113-114.

6. Andrijono. Vaksin HPV Merupakan Pencegahan Primer Kanker Serviks.

Jakarta : Departemen Obsteri dan Ginekologi FK UI. 2007; vol. 57.

7. Pradipta B, Sungkar S. Penggunaan Vaksin Human Papilloma Virus dalam

Pencegahan Kanker Serviks. Jakarta : FK UI. 2007; vol. 57.