Fraktur pada Hidung dan Penebalan Sinus Paranasal

Merry Beatrix Da Clama Nusa

102016241

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Terusan Jalan Arjuna Utara No. 6 Jakarta Barat, 11510

Merry.2016fk241@civitas.ukrida.ac.id

Abstrak
Hidung merupakan organ tubuh yang berfungsi sebagai alat pernafasan dan indera penciuman.
Didalam rongga hidung terdapat sejumlah ruang berisi udara yang disebut sinus paranasal. Ruang ini
membantu mengurangi berat tengkorak dan memberikan perlindungan daerah tengkorak dan
membantu dalam resonansi suara. Terdapat empat pasang sinus, yang dikenal sebagai sinus
paranasalis, yaitu sinus frontalis di daerah dahi, sinus maksilaris di belakang tulang pipi, sinus
etmoidalis diantara kedua mata dan sinus sphenoidalis di belakang bola mata. Sampai saat ini sinus
paranasal merupakan salah satu organ tubuh pada manusia yang sulit dideskripsikan karena bentuknya
bervariasi pada tiap individu. Terdapat membran yang melapisi sinus tersebut yang mensekresikan
mukus, yang mana akan mengalir ke rongga hidung melalui sebuah saluran kecil pada setiap sinus
tersebut. Semua sinus mempunyai muara (ostium) ke dalam rongga hidung. Selain itu terdapat juga
ruang rugi pernapasan dimana tidak semua udara yang masuk dan keluar tersedia untuk pertukaran O 2
dan CO2 dengan darah karena sebagian menempati saluran napas pengantar.
Kata Kunci : Hidung, Sinus Paranasal, Ruang Rugi
Abstract
Nose is a body organ that serves as a respirator and sense of smell. In the nasal cavity there is a
certain amount of air-filled space called the paranasal sinus. This space helps reduce skull weight
and provides shadow area protection and helps in sound resonance. There are four pairs of sinuses,
known as paranasalis sinuses, the frontal sinuses in the forehead area, the maxillary sinus behind the
cheekbone, the etmoidal sinus between the two eyes and the sphenoid sinus behind the eyeball. Until
now paranasal sinus is one of the organs of the human body that is difficult to describe because the
shape varies in each individual. There is a membrane lining the sinus that secretes the mucus, which
will flow into the nasal cavity through a small channel on each sinus. All sinuses have an ostium into
the nasal cavity. In addition there is also a respiratory loss room where not all incoming and outgoing
air is available for the exchange of O2 and CO2 with blood because most occupy the airway of
delivery.
Keywords: Nose, Paranasal Sinus, Space Loss
Pendahuluan

Sistem pernapasan adalah proses masuknya oksigen ke dalam tubuh. Sistem ini sangat
penting karena tanpa oksigen yang masuk ke bagian tubuh manusia dari proses yang
dihasilkan pada sistem pernapasan, maka aktifitas dalam tubuh makhluk hidup tidak dapat
berlangsung. Sistem pernapasan merupakan sistem utama sehingga apabila sistem ini tidak
berfungsi, sistem yang lain juga tidak akan berfungsi. Untuk menghasilkan sistem pernapasan
manusia yang sempurna, diperlukan organ-organ penunjang yang dikenal dengan alat-alat
pernapasan pada manusia. Di organ-organ tersebut tentunya akan berhubungan dengan
bagian-bagian lain yang kemudian akan membentuk suara, berperan dalam proses menelan
dan sebagainya. Hidung yang merupakan alat pernapasan luar yang memiliki banyak
komponen penunjang, baik pembuluh darah, saraf, sinus paranasal dan komponen lain. Pada
hidung dalam keadaan fraktur menimbulkan komponen-komponen tersebut terganggu, bisa
menimbulkan perdarahan bahkan penebalan dinding sinus paranasal. Sehingga hidung tidak
bisa menjalan fungsinya dengan baik. Ini tentu juga dapat mengganggu jalan napas. 1 Makalah
ini bertujuan untuk mengetahui struktur – struktur serta fungsi dari hidung dan sinus
paranasalis secara makroskopik dan mikroskopik, sistem drainase sinus paranasalis dan ruang
rugi pernapasan.

Hidung

Hidung apabila dilihat dari bagian luar berbentuk seperti piramid serta tersusun atas tulang
dan tulang rawan. Punggung hidung (dorsumnasi) memiliki bagian apex (puncak) yang
bergantung bebas dan bagian radiks (akar) yang berhubungan dengan os frontalis.2 Sementara
dibagian inferior hidung terdapat dua nares nasi (rongga hidung) yaitu dua pintu masuk
berbentuk bulat panjang yang dibatasi oleh ala nasi (cuping hidung) dibagian lateral dan
dibagian medial terdapat septumnasi yang membagi bagian menjadi kanan-kiri. Terdapat 3
komponen utama pembentuk septum nasi yaitu lamina perpendiculum os. Ethmoid, cartilago
septum nasi dan os vomer.3 Penyangga hidung tersusun atas tulang yang terdiri daripada os
nasale, processus frontalis maxillae dan bagian nasal ossis frontalis dan tulang rawan yaitu
cartilago septi nasi, cartilago nasi lateralis dan cartilago ala nasi major dan minor (berfungsi
untuk mengembang-kempiskan lubang hidung). Sedangkan otot yang membentuk yaitu
m.nasalis dan m.depresor septi nasi.2,3
Gambar 1. Hidung Bagian Luar 2 Gambar 2. Komponen Tulang Hidung2

Cavum nasi (rongga hidung) akan terbuka ke arah anterior melalui nares nasi dan terbuka ke
arah posterior melalui koana yaitu berupa saluran yang menghubungkan hidung dengan
nasofaring. Pada bagian lateral, cavum nasi berbatasan dengan tiga buah tonjolan tulang yang
disebut concha-concha nasalis.Selanjutnya pada bagian medial cavum nasi berbatasan
dengan septum nasi, bagian superior dengan os frontal, os ethmoidalis dan os sphenoidalis,
sedangkan pada bagian inferior berbatasan dengan palatum durum dan palatum mole. 5

Gambar 3. Cavum Nasi 4

Secara histologi cavum nasi dibagi menjadi 2 yaitu vestibulum nasi dan regio respirasi.
Vestibulum nasi merupakan daerah lebar yang terletak di belakang nares anterior yang
dilapisi oleh kulit dan terdiri atas sel epitel berlapis gepeng . 6

Di vestibulum nasi ini terdapat rambut-rambut kasar yang berfungsi untuk menyaring udara
pernapasan. Selain itu terdapat juga kelenjar sebasea dan kelenjar keringat. Pada rongga
hidung dilapisi oleh mukosa yang dibagi menjadi dua bagian yaitu mukosa pernapasan dan
mukosa penghidu. Mukosa pernapasan atau regio respiratorius terdiri atas sel epitel
bertingkat torak bersilia goblet. Silia ini berfungsi mendorong lendir ke arah naofaring
sehingga lendir tersebut akan tertelan atau dikeluarkan. Lamina propria yang ada di lapisan
bawahnya yang berikatan dengan tulang atau tulang rawan Dalam keadaan normal mukosa
akan berwarna merah muda dan selalu basah karena diliputi oleh lendir pada permukaannya
serta bersifat sangat vaskuler yang berfungsi untuk menghangatkan udara pernapasan.
Mukosa penghidu atau regio olfaktorius terdapat pada bagian dinding lateral atas dan atap
posterior kavum nasi. Terdiri atas sel epitel bertingkat torak bersilia tanpa sel goblet. Sel
epitel ini terdiri atas sel olfaktori, sel sustentakuler/ penyokong dan sel basal. Bagian ini
dilapisi oleh mukosa olfaktori yang berwarna coklat kekuningan karena pigmen yang ada
pada sel epitel olfaktori dan glandula olfaktorius. Lamina propria mukosa olfaktori diikat
secara langsung pada periosteum tulang yang ada di bawahnya oleh jaringan ikat yang
mengandung banyak pembuluh darah dan limfe, saraf olfaktori tidak bermielin, saraf
bermielin, dan glandula olfaktorius. 7

Pada trauma yang berulang karena infeksi atau penyebab lain akan mengakibatkan rusak
atau hilangnya beberapa sel sensorik sehingga pada usia lanjut, daya penciuman akan
menjadi berkurang sehingga epitel olfaktorius memperlihatkan gambaran yang tidak khas. 5

Gambar 4. Epitel Olfaktorius 6
Bagian atas hidung rongga hidung mendapat pendarahan dari a. etmoid anterior dan
posterior yang merupakan cabang dari a. oftalmika dari a.carotis interna. Bagian bawah
rongga hidung mendapat pendarahan dari cabang a. maksilaris interna, di antaranya adalah
ujung a.palatina mayor dan a.sfenopalatina yang keluar dari foramen sfenopalatina bersama
n.sfenopalatina dan memasuki rongga hidung di belakang ujung posterior konka media.
Bagian depan hidung mendapat pendarahan dari cabang – cabang a.fasialis. 5 Pada bagian
depan septum terdapat anastomosis dari cabang-cabang a.sphenopalatina, a.etmoid anterior,
a.labialis superior, dan a.palatina mayor yang disebut pleksus Kiesselbach, Pleksus
Kiesselbach letaknya superfisial dan mudah cidera oleh trauma, sehingga sering menjadi
sumber epistaksis (perdarahan hidung) terutama pada anak. 2,5 Vena-vena hidung mempunyai
nama yang sama dan berjalan berdampingan dengan arterinya .Vena di vestibulum dan
struktur luar hidung bermuara ke v.oftalmika yang berhubungan dengan sinus cavernosus.

Gambar 5. Pembuluh Darah pada Hidung3

Sedangkan untuk persarafannya, bagian depan dan atas rongga hidung mendapat persarafan
sensoris dari n.etmoidalis anterior, yang merupakan cabang dari n.nasosiliaris, yang berasal
dari n.oftalmikus (N.V-1). Rongga hidung lannya, sebagian besar mendapat persarafan
sensoris dari n.maksila melalui ganglion sfenopalatinum. Ganglion sfenopalatinum selain
memberikan persarafan sensoris juga memberikan persarafan vasomotor atau otonom untuk
mukosa hidung. Ganglion ini menerima serabut-serabut sensoris dari n.maksila (N.V-2),
serabut parasimpatis dari n.petrosus superfisialis mayor dan serabut-serabut simpatis dari
n.petrosus profundus. Ganglion sfenopalatinum terletak di belakang dan sedikit di atas ujung
posterior konka media.Nervus olfaktorius yang berasa dari lamina kribrosa dari permukaan
bawah bulbus olfaktorius dan kemudian berakhir pada sel-sel reseptor penghidu pada mukosa
olfaktorius di daerah sepertiga atas hidung.
Gambar 6. Persarafan pada Hidung3

Sinus Paranasalis

Terdapat empat pasang sinus paranasal, mulai dari yang terbesar yaitu sinus maksila, sinus
frontal, sinus etmoid, dan sinus sphenoid kiri dan kanan. Sinus-sinus ini dinamakan
berdasarkan letak-letak tulang. Sinus paranasal merupakan hasil pneumatisasi tulang-tulang
kepala, sehingga terbentuk rongga di dalam tulang. Kempat sinus mempunyai muara (ostium)
ke dalam rongga hidung.Sinus ini berfungsi: menambah resonasi suara, merubah ukuran dan
bentuk wajah setelah pubertas dan meringankan tulang tengkorak.8

Gambar 7. Sinus Paranasal

Sinus ethmoidalis

Sinus ethmoid bentuknya berongga-rongga, terdiri dari sel-sel yang menyerupai
sarang tawon. Terdapat dibagian lateral os ethmoid, yang terletak diantara media dan dinding
media orbita. Berdasarkan letaknya, sinus etmoidalis terdiri dari sel yang anterior (disebut
sinus infudibular) bermuara di meatus nasi medius melalui hiatus semilunaris, sedangkan sel
etmoidalis yang media (disebut sinus bula) karena membentuk bulla etmoidalis dan bermuara
di meatus nasi yang medius, dan sel ethmoidalis yang posterior bermuara di meatus nasi
superior. Sinus ini mendapat aliran darah dari arteri carotis eksterna dan interna. Yang
memperdarahi sinus ini adalah arteri sphenopalatina dan juga arteri opthalmica. Pembuluh
vena mengikuti arterinya dan dapat meyebabkan infeksi intracranial. Sinus ethmoidalis
dipersarafi oleh nervi ethmoidalis anterior dan posterior dan cabang orbital ganglion
pterygopalatinum.

Sinus sphenoidalis

Sinus sphenoidalis terletak di dalam os sphenoid di bagian posterior sinus ethmoidalis.
Bermuara di recessus spheno ethmoidalis. Arteri ethmoid posterior mendarahi atap sinus
sphenoidalis. Bagian lain dari sinus mendapat aliran darah dari arteri sphenopalatina. Aliran
vena melalui vena maxillaris ke vena jugularis dan pleksus pterigoid. Dipersyarafi oleh
nervus ethmoidalis posterior dan cabang orbital ganglion ptrygopalatinum. Recessus
sphenoethmoidalis adalah rongga disamping dan diatas turbinate superior. Batasan-batasan
dari rongga ini dibentuk oleh struktur yang kompleks. Dinding anterior sinus sphenoidalis
membentuk batas posterior. Septum nasi dan cribiform plate membentuk batas medial dan
superior. Perluasan anteriolateral ditentukan oleh turbinate superior. Rongga ini keluar ke
rongga hidung secara lebih rendah. Sel ethmoid posterior, seperti halnya sinus sphenoidalis
mengalir ke daerah ini.

Sinus frontalis

Sinus frontalis adalah dua rongga hidung didalam os frontal tepat diatas orbita. Sinus
ini berhubungan kebawah melalui tabung sempit dengan meatus nasi medius pada setiap sisi.
Sinus frontal bermuara di hiatus semilunaris tepat di meatus nasi medius. Diperdarahi oleh
arteri supraorbita dan arteri etmoidalis anterior dan dipersarafi oleh nervu supraorbitalis
(cabang nervus V1). Serta dipersarafi oleh nervus supraorbitalis.

Sinus maxilaris

Sinus maxilaris merupakan sinus paling besar. Pada bagian apex sinus ini
berbatasan dengan os. Zygomaticum, pada basis berbatasan dengan concha-concha dengan
dinding lateral hidung sedangkan pada bagian superiorberbatasan dengan bagian bawah
orbita dan pada bagian inferior berbatasan dengan gigi maxilla.5

Ostium sinus maksila berada di sebelah superior dinding medial sinus dan bermuara ke
hiatus semilunaris melalui infundibulum etmoid.dipersarafi oleh cabang kedua nervus
trigeminus; nervus palatina mayor, nasalis posterolateral da semua nervus alveolaris superior
cabang nervus infraorbitalis. Sedangkan suplai darahnya diperoleh dari arteri maxillaris
melalui arteri infraorbitalis, arteri palatina mayor dan arteri alveolarisposterosuperior dan
anterosuperior.12 Ostium sinus maksila terletak lebih tinggi dari dasar sinus, sehingga drainase
tergantung dari gerak silia, lagipula drainase harus melalui infundibulum yang sempit.
Infundibulum adalah bagian dari sinus etmoid anterior dan pembengkakan akibat radang dan
alergi pada daerah ini dapat menghalangi drainase sinus maksila dan selanjutnya
menyebabkan sinusitis.4 Penderita sinusitis maxila juga mengalami sakit gigi maxila karena
persyarafan yang sama. Pada gigi maxila hampir semua dipersarafi oleh nervus alveolaris
superior yang juga memperdarahi sinus maxilaris

Secara histologi sinus paranasal berperan dalam menyekresi mukus, membantu pengaliran
air mata melalui saluran nasolakrimalis, dan membantu dalam menjaga permukaan rongga
hidung tetap bersih dan lembab. Sinus paranasal juga termasuk dalam wilayah pembau
dibagian posterior rongga hidung. Wilayah pembau tersebut terdiri atas permukaan inferior
palatum kribriform, bagian superior septum nasal, dan bagian superior konka hidung.
Reseptor didalam epitel pembau ini akan merasakan sensasi bau. Sinus paranasal berfungsi
untuk menghangatkan dan melembabkan udara. Kelenjar memproduksi mukous yang akan
dialirkan ke cavum nasi dengan gerakan silia. Epitel yang membatasi sinus-sinus paranasal
adalah epitel bertigkat silindris bersilia, dengan sedikit sel goblet.

Ruang rugi pernafasan

Tidak semua udara terinspirasi atau yang kita nafas akan turun ke alveoli. Sebagian
tetap berada di saluran udara pengantar, di mana tidak terjadi pertukaran gas, tetapi hanya
mengisi pernafasan bagian dimana pertukaran gas tidak terjadi, seperti hidung, faring, dan
trakea. Udara ini disebut ruang udara mati karena tidak berguna untuk pertukaran gas.
Volume saluran napas penghantar pada dewasa memiliki rata-rata150 ml yang juga biasa
disebut dengan ruang rugi anatomik. Ruang rugi anatomik sangat mempengaruhi efisiensi
ventilasi dari paru. Meskipun 500 ml udara masuk dan keluar setiap kali bernapas, hanya 350
ml yang benar-benar dpertukarkan dalam alveolus, karena 150 ml yang lain menempati ruang
rugi.1
Ventilasi alveolus

Ventilasi alveolus merupakan jumlah udara yang dipertukarkan antara atmosfer dan
alveolus per menit. Pada ventilasi alveolus, jumlah udara yang masuk dan keluar melewati
ruang rugi juga harus diperhitungkan.16

Ventilasi alveolus = (volume tidal – volume ruang rugi) x kecepatan napas

Dengan menggunakan rumus tersebut, maka pada pernapasan tenang, ventilasi alveolus
adalah 4200ml/menit.

Ventilasi alveolus = (500ml/napas – 150 ml) x 12 kali/menit = 4200 ml/menit

Ruang rugi alveolus

Tidak semua udara atmosfer yang masuk ke alveolus ikut serta dalam pertukaran O 2 dan CO2
dengan darah paru. Pertukaran antara udara dan darah tidak selalu sempurna karena tidak
semua alveolus mendapat ventilasi udara dan aliran darah yang sama. Setiap alveolus yang
mendapat ventilasi tetapi tidak ikut serta dalam pertukaran gas dengan darah disebut sebagai
ruang rugi alveolus.1

Fungsi Hidung

Hidung adalah tempat masuknya pernapasan. Di dalam hidung terdapat selaput lendir, bulu-
bulu hidung, dan ujung saraf pembau serta konka. Proses yang terjadi pada udara di dalam
rongga hidung terbagi menjadi tiga.4
1) Penyaringan
Didalam rongga hidung terdapat selaput lendir dan bulu-bulu atau rambut-rambut hidung.
Selaput lendir dan rambut-rambut hidung berfungsi menyaring debu atau benda asing yang
masuk bersama udara.
2) Penghangatan (pengaturan suhu)
Penghangatan dilakukan oleh konka (banyak kapiler darah) untuk mengubah suhu udara agar
sesuai dengan suhu tubuh.
3) Pelembapan (pengaturan kelembapan)
Dengan bantuan lendir menjadikan udara kering yang masuk dalam rongga hidung menjadi
lembap sebelum ke paru-paru.
Kesimpulan
Hidung memiliki banyak komponen seperti sinus paranasal, pembuluh darah dan persarafan.
Dimana komponen ini bekerja secara bersama untuk menjalankan fungsinya. Maka saat
hidung mengalami fraktur pada os nasal, komponennya tersebut sinus paranasal dan
pembuluh darah sekitarnya juga ikut terganggu. Faktur pada os nasale juga dapat
menyebabkan nervus olfaktorius yang berada di belakang os nasal cidera/terganggu.

Daftar Pustaka :

1. Sherwood L. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Jakarta: EGC;2009.h.515-522
2. Soepardi EA, et al. Buku ajar ilmu kesehatan : telinga hidung tenggorok kepala&
leher. 6th ed. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2007
3. Paulsen F, Waschke J, Klonisch T, Hombach-Klonisch S, Sobotta J. Sobotta atlas of
human anatomy. 1st edition. München: Elsevier/Urban & Fischer; 2011: p. 14, 17, 19-
23, 25, 31, 37-8, 40.
4. Drake R, Vogl W, Mitchell A, Gray H. Gray's anatomy for students. 1st edition.
Philadelphia: Churchill Livingstone/Elsevier; 2010: p. 1456.
5. Herawati S, Rukmini S. Ilmu penyakit telinga hidung tenggorok. Jakarta: EGC;
2003.H. 9-12
6. Manikam DI. Anatomi dan fisiologi hidung. Info kedokteran. 2016. Diunduh 20 Mei
2017 http://www.infokedokteran.com/kesehatan-2/anatomi-dan-fisiologi-hidung.html

7. Hartanto H, Suyono J, Susilawati, Nisa MT et al. Anatomi klinik untuk mahasiswa
kedokteran, ed.6 diterjemahkan dari Snell RS. Clinical anatomy for medical student,
6th ed. USA: Lippincott Williams & Wilkins; 2006. h. 720, 723, 803-5, 807
8. Anggraini DR. Anatomi dan fungsi sinus paranasal. Medan: USU Digital Library;
2005