LAPORAN PENDAHULUAN PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR DIRUANG

SERUNI RSUD PROF. DR MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari yang semakin meningkat selaras dengan
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern manusia tidak akan lepas dari fungsi normal system
musculoskeletal. Salah satunya tulang yang merupakan alat gerak utama pada manusia, namun dari kelainan
ataupun ketidaksiplinan dari manusia itu sendiri (patah tulang) fraktur adalah hilangnya kontinuitas jaringan
tulang, tulang rawan sendi, tulang rawan epifisis baik yang bersifat total maupun partial . fraktur biasanya
terjadi pada cruris, karena cruris sangat kurang di lindungi oleh jaringan lunak, sehingga mudah sekali
mengalami kerusakan (Rasjad, 1998).
Berbagai penelitian di Eropa, Amerika Serikat, dan Australia menunjukkan bahwa resiko terjadinya
patah tulang tidak hanya ditentukan oleh densitas massa tulang melainkan juga oleh faktor-faktor lain yang
berkaitan dengan kerapuhan fisik (frailty) dan meningkatkannya resiko untuk jatuh. (Sudoyo: 2010)
Kematian dan kesakitan yang terjadi akibat patah tulang umumnya disebabkan oleh komplikasi
akibat patah tulang dan imobilisasi yang ditimbulkannya. Beberapa diantara komplikasi tersebut adalah
timbulnya dikubitus akibat tirah baring berkepanjangan, perdarahan, trombosis vena dalam dan emboli paru;
infeksi pneumonia atau infeksi saluran kemih akibat tirah baring lama; gangguan nutrisi dan sebagainya.
(Sudoyo: 2010)
Walaupun dalam kasus yang jarang terjadi kematian, namun bila tidak ditangani secara tepat
atau cepat dapat menimbulkan komplikasi yang akan memperburuk keadaan penderita. Sehingga perawat
perlu memperhatikan langkah-langkah yang harus diperhatikan dalam menangani pasien dengan kasus
kegawat daruratan fraktur.

B. Tujuan Umum
Makalah ini disusun dengan tujuan agar mahasiswa mampu menerapkan konsep keperawatan pada pasien
dengan fraktur
Tujuan Khusus:
1. Mahasiswa mampu menjelaskan konsep fraktur
2. Mahasiswa mampu menjelaskan klasifikasi fraktur

3. Mahasiswa mampu menjelaskan etiologi fraktur
4. Mahasiswa mampu menjelaskan anatomi dan fisiologi fraktur
5. Mahasiswa mampu menjelaskan pathofisiologi fraktur
6. Mahasiswa mampu menjelaskan manifestasi klinis fraktur
7. Mahasiswa mampu menjelaskan pemeriksaan penunjang fraktur
8. Mahasiswa mampu menjelaskan stadium penyembuhan fraktur
9. Mahasiswa mampu menjelaskan penatalaksanaan medis fraktur
10. Mahasiswa mampu menjelaskan asuhan keperawatan pada pasien dengan fraktur

KONSEP DASAR FRAKTUR

A. PENGERTIAN
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang, yang biasanya disertai dengan luka sekitar
jaringan lunak, kerusakan otot, rupture tendon, kerusakan pembuluh darah, dan luka organ-organ tubuh dan
ditentukan sesuai jenis dan luasnya, terjadinya fraktur jika tulang dikenai stress yang lebih besar dari yang
besar dari yang dapat diabsorbsinya (Smeltzer, 2001).
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya fraktur terjadi
jika tulang dikenai stress yang lebih besar dari yang dapat diabsorpsinya. Fraktur dapat disebabkan pukulan
langsung, gaya meremuk, gerakan punter mendadak, dan bahkan kontraksi otot ekstrem (Bruner & Sudarth,
2002).
Fraktur adalah patahnya tulang, yang biasanya dialami hewan kecil akibat kecelakaan, terjatuh dan
luka (Bleby & Bishop, 2003).
Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan atau tulang rawan yang
umumnya disebabkan oleh rudapaksa (Sjamsuhidayat, 2005).
Fraktur adalah setiap retak atau patah pada tulang yang utuh. Kebanyakan fraktur disebabkan oleh
trauma dimana terdapat tekanan yang berlebihan pada tulang, baik berupa trauma langsung dan trauma tidak
langsung (Sjamsuhidajat & Jong, 2005).
Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang atau tulang rawan yang
umumnya disebabkan oleh rudapaksa (Mansjoer, 2007).

B. KLASIFIKASI
Klasifikasi fraktur secara umum :
1. Berdasarkan tempat (Fraktur humerus, tibia, clavicula, ulna, radius dan cruris dst).
2. Berdasarkan komplit atau ketidakklomplitan fraktur:
a. Fraktur komplit (garis patah melalui seluruh penampang tulang atau melalui kedua korteks tulang).
b. Fraktur tidak komplit (bila garis patah tidak melalui seluruh garis penampang tulang).
3. Berdasarkan bentuk dan jumlah garis patah :
a. Fraktur Komunitif: fraktur dimana garis patah lebih dari satu dan saling berhubungan.
b. Fraktur Segmental: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak berhubungan.
c. Fraktur Multiple: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak pada tulang yang sama.

c. Faktur Tertutup (Closed). Berdasarkan sifat fraktur (luka yang ditimbulkan). . bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar. 2) Tingkat 1: fraktur dengan abrasi dangkal atau memar kulit dan jaringan subkutan. e.4. Fraktur Terbuka (Open/Compound). a. Pada fraktur tertutup ada klasifikasi tersendiri yang berdasarkan keadaan jaringan lunak sekitar trauma. 3) Tingkat 2: fraktur yang lebih berat dengan kontusio jaringan lunak bagian dalam dan pembengkakan. b. d. Fraktur Oblik: fraktur yang arah garis patahnya membentuk sudut terhadap sumbu tulang dan meruakan akibat trauma angulasijuga. Fraktur Transversal: fraktur yang arahnya melintang pada tulang dan merupakan akibat trauma angulasi atau langsung. Berdasar bentuk garis fraktur dan hubungan dengan mekanisme trauma : a. b. Fraktur Undisplaced (tidak bergeser): garis patah lengkap ttetapi kedua fragmen tidak bergeser dan periosteum masih utuh. 3) Grade III : sangat terkontaminasi. panjangnya kurang dari 1 cm. dan mengalami kerusakan jaringan lunak ekstensif. b.. bila terdapat hubungan antara hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan kulit. Fraktur terbuka dibedakan menjadi beberapa grade yaitu : 1) Grade I : luka bersih. Fraktur Kompresi: fraktur yang terjadi karena trauma aksial fleksi yang mendorong tulang ke arah permukaan lain. disebut juga fraktur bersih (karena kulit masih utuh) tanpa komplikasi. Fraktur Displaced (bergeser): terjadi pergeseran fragmen tulang yang juga disebut lokasi fragmen 5. 2) Grade II : luka lebih luas tanpa kerusakan jaringan lunak yang ekstensif. 6. Fraktur Spiral: fraktur yang arah garis patahnya berbentuk spiral yang disebabkan trauma rotasi. Berdasarkan posisi fragmen : a. 4) Tingkat 3: cedera berat dengan kerusakan jaringan lunak yang nyata ddan ancaman sindroma kompartement. yaitu: 1) Tingkat 0: fraktur biasa dengan sedikit atau tanpa ceddera jaringan lunak sekitarnya. Fraktur Avulsi: fraktur yang diakibatkan karena trauma tarikan atau traksi otot pada insersinya pada tulang.

1/3 medial c. Berdasarkan posisi frakur Sebatang tulang terbagi menjadi tiga bagian : a. . b. 1/3 distal 9.Fraktur Patologis : Fraktur yang diakibatkan karena proses patologis tulang. 8. Tidak adanya dislokasi. Fraktur Kelelahan : Fraktur akibat tekanan yang berulang-ulang. Berdasarkan kedudukan tulangnya : a.7.  At longitudinal : berjauhan memanjang.  At lotus : fragmen tulang berjauhan. 1/3 proksimal b.  At lotus cum contractiosnum : berjauhan dan memendek. Adanya dislokasi  At axim : membentuk sudut. 10.

ETIOLOGI 1. Trauma langsung/ direct trauma Yaitu apabila fraktur terjadi di tempat dimana bagian tersebut mendapat ruda paksa (misalnya benturan. Gambar 1. pukulan yang mengakibatkan patah tulang). 2. Tipe Fraktur C. Trauma yang tak langsung/ indirect trauma .

kombinasi dari ketiganya. Di antara epifisis dan metafisis terdapat daerah tulang rawan yang tumbuh. Anatomi Tulang Tulang terdiri dari sel-sel yang berada pada ba intra-seluler. c. D. ANATOMI FISIOLOGI FRAKTUR 1. Di sebelah proksimal dari epifisis terdapat metafisis. dan tulang berhenti tumbuh. Tulang panjang tumbuh karena akumulasi tulang rawan di lempeng epifisis. b. Kanalis medularis berisi sumsum tulang. Tulang yang tidak beraturan (vertebrata) sama seperti dengan tulang pendek. Tulang dapat diklasifikasikan dalam lima kelompok berdasarkan bentuknya : a. lempeng epifisis berfusi. Tulang rawan digantikan oleh sel-sel tulang yang dihasilkan oleh osteoblas. Estrogen. merangsang fusi lempeng epifisis. estrogen. bersama dengan testosteron. Ada 206 tulang dalam tubuh manusia.Kekuatan dapat berupa pemuntiran. Pada akhir tahun-tahun remaja tulang rawan habis. penekukan. Batang suatu tulang panjang memiliki rongga yang disebut kanalis medularis. 3. 4. Tulang berasal dari embrionic hyaline cartilage yang mana melalui proses “Osteogenesis” menjadi tulang. . Proses mengerasnya tulang akibat penimbunan garam kalsium. yang disebut lempeng epifisis atau lempeng pertumbuhan. Trauma ringan pun dapat menyebabkan terjadinya fraktur bila tulang itu sendiri rapuh/ ada resiko terjadinya penyakit yang mendasari dan hal ini disebut dengan fraktur patologis. Epifisis dibentuk dari spongi bone (cancellous atau trabecular). Humerus) terdiri dari batang tebal panjang yang disebut diafisis dan dua ujung yang disebut epifisis. dan testosteron merangsang pertumbuhan tulang panjang. Proses ini dilakukan oleh sel-sel yang disebut “Osteoblast”. Misalnya penderita jatuh dengan lengan dalam keadaan ekstensi dapat terjadi fraktur pada pegelangan tangan. Tulang pendek datar (tengkorak) terdiri atas dua lapisan tulang padat dengan lapisan luar adalah tulang concellous. Hormon pertumbuhan. Tulang pendek (carpals) bentuknya tidak teratur dan inti dari cancellous (spongy) dengan suatu lapisan luar dari tulang yang padat. penekukan dan penekanan. dan penarikan. d. Kekerasan akibat tarikan otot Patah tulang akibat tarikan otot sangat jarang terjadi. dan tulang memanjang. Batang dibentuk oleh jaringan tulang yang padat. Tulang panjang (Femur.

1 mm). selain sebagai tempat perlekatan tendon dan ligamen. Osteoblas berfungsi dalam pembentukan tulang dengan mensekresikan matriks tulang. yang memperoleh nutrisi melalui prosesus yang berlanjut kedalam kanalikuli yang halus (kanal yang menghubungkan dengan pembuluh darah yang terletak sejauh kurang dari 0. Tulang tersusun atas sel. yang melarutkan tulang untuk memelihara rongga sumsum. Tulang diselimuti dibagian oleh membran fibrous padat dinamakan periosteum. osteosit dan osteoklas. resorpsi dan remosdeling tulang. Osteon merupakan unik fungsional mikroskopis tulang dewasa. matriks protein dan deposit mineral. Lapisan yang paling dekat dengan tulang mengandung osteoblast. Osteoklast . yang terletak di sekitar tulang yang berdekatan dengan persediaan dan didukung oleh tendon dan jaringan fasial. misalnya patella (kap lutut). Osteosit adalah sel dewasa yang terlibat dalam pemeliharaan fungsi tulang dan terletak dalam osteon (unit matriks tulang ). pembuluh darah. . terletak dekat endosteum dan dalam lacuna Howship (cekungan pada permukaan tulang). Endosteum adalah membran vaskuler tipis yang menutupi rongga sumsum tulang panjang dan rongga-rongga dalam tulang kanselus. Dikelilingi kapiler tersebut merupakan matriks tulang yang dinamakan lamella. dan limfatik. Periosteum memberi nutrisi ke tulang dan memungkinkannya tumbuh. Matriks tersusun atas 98% kolagen dan 2% subtansi dasar (glukosaminoglikan. Tulang sesamoid merupakan tulang kecil. Ditengah osteon terdapat kapiler. Osteoklas adalah sel multinuclear ( berinti banyak) yang berperan dalam penghancuran. Didalam lamella terdapat osteosit. Periosteum mengandung saraf. Matriks merupakan kerangka dimana garam-garam mineral anorganik ditimbun.e. yang merupakan sel pembentuk tulang. Sel-selnya terdiri atas tiga jenis dasar-osteoblas. asam polisakarida) dan proteoglikan).

Kecepatan pembentukan tulang berubah selama hidup. osteosit dimatriks membentuk tonjolan-tonjolan yang menghubungkan osteosit satu dengan osteosit lainnya membentuk suatu sistem saluran mikroskopik di tulang. Osteoblas berespon terhadap berbagai sinyal kimiawi untuk menghasilkan matriks tulang. dan terdiri dari lebih dari 90 % serat kolagen dan kurang dari 10 % proteoglikan (protein plus sakarida). Garam-garam menutupi matriks dan berikatan dengan serat kolagen melalui proteoglikan. Struktur tulang dewasa terdiri dari 30 % bahan organik (hidup) dan 70 % endapan garam. dan terjadi akibat aktivitas sel-sel pembentuk tulang yaitu osteoblas. Osteoblas dijumpai dipermukaan luar dan dalam tulang. dan ion magnesium. Pembentukan tulang berlangsung secara terus menerus dan dapat berupa pemanjangan dan penebalan tulang. Bahan organik disebut matriks. dan disebut osteosit atau sel tulang sejati. Sedangkan garam-garam menyebabkan tulang memiliki kekuatan kompresi (kemampuan menahan tekanan). Dalam beberapa hari garam-garam kalsium mulai mengendap pada osteoid dan mengeras selama beberapa minggu atau bulan berikutnya. . Adanya bahan organik menyebabkan tulang memiliki kekuatan tensif (resistensi terhadap tarikan yang meregangkan). Sebagian osteoblast tetap menjadi bagian dari osteoid. Sewaktu pertama kali dibentuk. Pembentukan tulang ditentukan oleh rangsangn hormon. Seiring dengan terbentuknya tulang. faktor makanan. dengan sedikit natrium. kalium karbonat. matriks tulang disebut osteoid. dan jumlah stres yang dibebankan pada suatu tulang. Deposit garam terutama adalah kalsium dan fosfat.

Garam nonkristal ini dianggap sebagai kalsium yang dapat dipertukarkan. Estrogen dan testosteron akhirnya menyebabkan tulang-tulang panjang berhenti tumbuh dengan merangsang penutupan lempeng epifisis (ujung pertumbuhan tulang). aktivitas osteoblas berkurang. aktivitas osteoklas melebihi aktivitas osteoblas dan kepadatan tulang mulai berkurang. Osteoklas adalah sel fagositik multinukleus besar yang berasal dari sel-sel mirip-monosit yang terdapat di tulang. tetapi mekanisme pastinya belum jelas. Osteoklas biasanya terdapat pada hanya sebagian kecil dari potongan tulang. Defisiensi hormon pertumbuhan juga mengganggu pertumbuhan tulang. Aktivitas osteoblas dan osteoklas dikontrol oleh beberapa faktor fisik dan hormon. Pada orang dewasa muda. Keseimbangan antara aktivitas osteoblas dan osteoklas menyebabkan tulang terus menerus diperbarui atau mengalami remodeling. yaitu dapat dipindahkan dengan cepat antara tulang. Aktivitas osteoblas juga melebihi aktivitas osteoklas pada tulang yang pulih dari fraktur. Pada usia dekade ketujuh atau kedelapan. Aktivitas osteoklas juga meningkat pada tulang-tulang yang mengalami imobilisasi. terjadi secara bersamaan dengan pembentukan tulang. dan memfagosit tulang sedikit demi sedikit. aktivitas osteoblas dan osteoklas biasanya setara. Vitamin D dalam jumlah kecil merangsang kalsifikasi tulang secara langsung dengan bekerja pada osteoblas dan secara tidak langsung dengan merangsang penyerapan kalsium di . 0steoblas mulai mengisi daerah yang kosong tersebut dengan tulang baru. sehingga jumlah total massa tulang konstan. Kalsium adalah salah satu komponen yang berperan terhadap tulang. Estrogen. Fraktur tulang secara drastis merangsang aktivitas osteoblas. Sedangkan penguraian tulang disebut absorpsi. sehingga kerangka menjadi lebih panjang dan menebal. Pertumbuhan tulang dipercepat semasa pubertas akibat melonjaknya kadar hormon-hormon tersebut. Sewaktu kadar estrogen turun pada masa menopaus. testosteron. sebagian ion kalsium di tulang tidak mengalarni kristalisasi. dominansi aktivitas osteoklas dapat menyebabkan tulang menjadi rapuh sehingga mudah patah. Osteoklas tampaknya mengeluarkan berbagai asam dan enzim yang mencerna tulang dan memudahkan fagositosis. Proses ini memungkinkan tulang tua yang telah melemah diganti dengan tulang baru yang lebih kuat. dan hormon perturnbuhan adalah promotor kuat bagi aktivitas osteoblas dan pertumbuhan tulang. aktivitas osteoblas melebihi aktivitas osteoklas. osteoklas menghilang dan muncul osteoblas. Pada anak dan remaja. Penyerapan tulang terjadi karena aktivitas sel-sel yang disebut osteoklas. dan darah. Faktor-faktor yang mengontrol Aktivitas osteoblas dirangsang oleh olah raga dan stres beban akibat arus listrik yang terbentuk sewaktu stres mengenai tulang. cairan interstisium. Setelah selesai di suatu daerah. Pada usia pertengahan.

Setelah terjadi fraktur. e. b. Estrogen tampaknya mengurangi efek hormon paratiroid pada osteoklas. Hormon paratiroid meningkatkan ekskresi ion fosfat oleh ginjal sehingga menurunkan kadar fosfat darah. usus. Dengan demikian. vitamin D dalam jumlah besar meningkatkan kadar kalsium serum dengan meningkatkan penguraian tulang. Peningkatan kalsium serum bekerja secara umpan balik negatif untuk menurunkan pengeluaran hormon paratiroid lebih lanjut. Hormon paratiroid meningkatkan aktivitas osteoklas dan merangsang pemecahan tulang untuk membebaskan kalsium ke dalam darah. yang mendorong kalsifikasi tulang. PATOFISIOLOGI Tulang bersifat rapuh namun cukup mempunyai kekuatan dan gaya pegas untuk menahan. Pelepasan hormon paratiroid meningkat sebagai respons terhadap penurunan kadar kalsium serum. Efek-efek ini meningkatkan kalsifikasi tulang sehingga menurunkan kadar kalsium serum. otak. fosfor. misalnya kalsium. E. Kalsitonin memiliki sedikit efek menghambat aktivitas dan pernbentukan osteoklas. Efek lain Hormon paratiroid adalah meningkatkan kalsium serum dengan menurunkan sekresi kalsium oleh ginjal. Adapun faktor-faktor yang mengontrol aktivitas osteoklas terutama dikontrol oleh hormon paratiroid. periosteum dan pembuluh darah serta saraf dalam korteks. dan paru-paru) dan jaringan lunak. Membentuk sel-sel darah merah didalam sum-sum tulang belakang (hema topoiesis). c. Hormon paratiroid dilepaskan oleh kelenjar paratiroid yang terletak tepat di belakang kelenjar tiroid. Sedangkan kalsitonin adalah suatu hormon yang dikeluarkan oleh kelenjar tiroid sebagai respons terhadap peningkatan kadar kalsium serum. Menyimpan garam mineral. Perdarahan terjadi karena kerusakan tersebut dan terbentuklah hematoma di rongga medula tulang. Tapi apabila tekanan eksternal yang datang lebih besar dari yang dapat diserap tulang. vitamin D dalam jumlah besar tanpa diimbangi kalsium yang adekuat dalam makanan akan menyebabkan absorpsi tulang. dan jaringan lunak yang membungkus tulang rusak. Fisiologi Tulang Fungsi tulang adalah sebagai berikut : a. Hal ini meningkatkan konsentrasi kalsium darah. Melindungi organ tubuh (misalnya jantung. maka terjadilah trauma pada tulang yang mengakibatkan rusaknya atau terputusnya kontinuitas tulang. Jaringan . marrow. 2. Memberikan pergerakan (otot yang berhubungan dengan kontraksi dan pergerakan). Pengaktifan vitamin D di ginjal bergantung pada hormon paratiroid. Namun. d. Mendukung jaringan tubuh dan memberikan bentuk tubuh.

eksudasi plasma dan leukosit. elastisitas. Pada fraktur panjang. kelelahan. hilangnya fungsi. Faktor Intrinsik Beberapa sifat yang terpenting dari tulang yang menentukan daya tahan untuk timbulnya fraktur seperti kapasitas absorbsi dari tekanan. dan kepadatan atau kekerasan tulang.5 sampai 5 cm (1 sampai 2 inci). 2. Saat ekstremitas diperiksa dengan tangan. Faktor Ekstrinsik Adanya tekanan dari luar yang bereaksi pada tulang yang tergantung terhadap besar. terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya karena kontraksi otot yang melekat di atas dan bawah tempat fraktur. 3. Pergeseran fragmen pada fraktur lengan dan tungkai menyebabkan deformitas (terlihat maupun teraba) ektremitas yang bisa diketahui dengan membandingkannya dengan ektremitas normal. Ekstremitas tidak dapat berfungsi dengan baik karena fungsi normal otot tergantung pada integritasnya tulang tempat melekatnya otot. pembengkakan lokal. deformitas. tulang segera berdekatan ke bagian tulang yang patah. 2. . dan perubahan warna yang dijelaskan secara rinci sebagai berikut: 1. Uji krepitus dapat mengakibatkan kerusakan jaringan lunak yang lebih berat. F. Jaringan yang mengalami nekrosis ini menstimulasi terjadinya respon inflamasi yang ditandai dengan vasodilatasi. MANIFESTASI KLINIS Manifestasi klinis fraktur adalah nyeri. 4. teraba adanya derik tulang dinamakan krepitus yang teraba akibat gesekan antara fragmen satu dengan lainnya. Fragmen sering saling melengkapi satu sama lain sampai 2. Spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk bidai alamiah yang dirancang untuk meminimalkan gerakan antar fragmen tulang. Setelah terjadi fraktur. krepitus. Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang diimobilisasi. dan arah tekanan yang dapat menyebabkan fraktur. Kejadian inilah yang merupakan dasar dari proses penyembuhan tulang nantinya Faktor-faktor yang mempengaruhi fraktur 1. pemendekan ektremitas. bagian-bagian tidak dapat digunakan dan cenderung bergerak secara alamiah (gerakan luar biasa). dan infiltrasi sel darah putih. waktu.

yang sering berhubungan dengan akumulasi cairan sehingga menyebabkan hambatan aliran darah yang berat dan berikutnya menyebabkan kerusakan pada otot. X. Profil koagulasi: perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah. Arteriogram : dilakukan bila ada kerusakan vaskuler. Komplikasi Awal a. Kerusakan Arteri Pecahnya arteri karena trauma bisa ditandai dengan tidak adanya nadi. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. Tomogram. 5. cyanosis bagian distal. Eritrosit dan Albumin turun. G. traumaa otot meningkatkan beban kreatinin untuk ginjal. Pemeriksaan Darah Lengkap Lekosit turun/meningkat. Bone scans. 4. rasa sakit dengan perenggangan pasif pada otot yang terlibat. transfusi multiple. b. dan paresthesia.Ray dilakukan untuk melihat bentuk patahan atau keadaan tulang yang cedera. Laju Endap Darah (LED) meningkat bila kerusakan jaringan lunak sangat luas. Gejala – gejalanya mencakup rasa sakit karena ketidakseimbangan pada luka. H. Hb. dan pembedahan. tanda fisik. hematokrit sering rendah akibat perdarahan. Diagnosis fraktur bergantung pada gejala. atau cederah hati. . Komplikasi ini terjadi lebih sering pada fraktur tulang kering (tibia) dan tulang hasta (radius atau ulna). perubahan posisi pada yang sakit. Pada masa penyembuhan Ca meningkat di dalam darah. dan pemeriksaan sinar-x pasien. rasa sakit yang berhubungan dengan tekanan yang berlebihan pada kompartemen. 5. KOMPLIKASI 1. CRT menurun. Biasanya pasien mengeluhkan mengalami cedera pada daerah tersebut. Kebanyakan justru tidak ada pada fraktur linear atau fisur atau fraktur impaksi (permukaan patahan saling terdesak satu sama lain). dan dingin pada ekstrimitas yang disebabkan oleh tindakan emergensi splinting. Tidak semua tanda dan gejala tersebut terdapat pada setiap fraktur. 2. atau MRI Scans 3. Tanda ini biasa terjadi setelah beberapa jam atau hari setelah cedera. tindakan reduksi. Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi sebagai akibat trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur. CCT kalau banyak kerusakan otot. hematoma yang lebar. Kompartement Syndrom Komplikasi ini terjadi saat peningkatan tekanan jaringan dalam ruang tertutup di otot.

Fat Embolism Syndrom Merupakan keadaan pulmonari akut dan dapat menyebabkan kondisi fatal. gelisah. Patogen dapat masuk melalui luka fraktur terbuka. tapi bisa juga karena penggunaan bahan lain dalam pembedahan seperti pin dan plat. fraktur tulang panjang. saat kepala femur berputar atau keluar dari sendi dan menghalangi suplai darah. pasien mungkin tidak akan merasakan gejalanya sampai dia keluar dari rumah sakit. Nekrosis avaskular dapat terjadi saat suplai darah ke tulang kurang baik. Hal ini terjadi ketika gelembung – gelembung lemak terlepas dari sumsum tulang dan mengelilingi jaringan yang rusak. Gejala dari sindrom emboli lemak mencakup dyspnea. Avaskuler Nekrosis Avaskuler Nekrosis (AVN) terjadi karena aliran darah ke tulang rusak atau terganggu yang bisa menyebabkan nekrosis tulang dan diawali dengan adanya Volkman’s Ischemia. Karena nekrosis avaskular mencakup proses yang terjadi dalam periode waktu yang lama. Gelombang lemak ini akan melewati sirkulasi dan dapat menyebabkan oklusi pada pembuluh – pembuluh darah pulmonary yang menyebabkan sukar bernafas. e. Luka tembak. tachycardia. Osteomyelitis Adalah infeksi dari jaringan tulang yang mencakup sumsum dan korteks tulang dapat berupa exogenous (infeksi masuk dari luar tubuh) atau hematogenous (infeksi yang berasal dari dalam tubuh). demam. Ini biasanya terjadi pada fraktur.c. perubahan dalam status mental (gaduh. Oleh karena itu. bingung. g. edukasi pada pasien merupakan hal yang penting. luka tembus. Pada trauma orthopedic infeksi dimulai pada kulit (superficial) dan masuk ke dalam. Ini biasanya terjadi pada kasus fraktur terbuka. fraktur terbuka yang terlihat tulangnya. Hal ini paling sering mengenai fraktur intrascapular femur (yaitu kepala dan leher). stupor). ruam kulit ptechie. Perawat harus menyuruh pasien supaya melaporkan nyeri yang bersifat intermiten atau nyeri yang menetap pada saat menahan beban f. marah. Shock Shock terjadi karena kehilangan banyak darah dan meningkatnya permeabilitas kapiler yang bisa menyebabkan menurunnya oksigenasi. Infeksi System pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada jaringan. luka amputasi karena trauma dan fraktur – fraktur dengan sindrom kompartemen atau luka vaskular memiliki risiko osteomyelitis yang lebih besar . d. atau selama operasi.

2. pemisahan lebar dari fragmen contohnya patella dan fraktur yang bersifat patologis. Kadang – kadang dapat terbentuk sendi palsu pada tempat ini. Ada lima stadium penyembuhan tulang. Sel-sel darah membentuk fibrin guna melindungi tulang yang rusak dan sebagai tempat tumbuhnya kapiler baru dan fibroblast. Faktor – faktor yang dapat menyebabkan non union adalah tidak adanya imobilisasi. cacat diisi oleh jaringan fibrosa.. Stadium ini berlangsung 24 – 48 jam dan perdarahan berhenti sama sekali. Delayed Union (Penyatuan tertunda) Delayed Union merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi sesuai dengan waktu yang dibutuhkan tulang untuk menyambung. Stadium Satu-Pembentukan Hematoma Pembuluh darah robek dan terbentuk hematoma disekitar daerah fraktur. Fraktur merangsang tubuh untuk menyembuhkan tulang yang patah dengan jalan membentuk tulang baru diantara ujung patahan tulang. I. . Malunion Kelainan penyatuan tulang karena penyerasian yang buruk menimbulkan deformitas. Tulang baru dibentuk oleh aktivitas sel-sel tulang. yaitu: 1. interposisi jaringan lunak. c. angulasi atau pergeseran. Non union (tak menyatu) Penyatuan tulang tidak terjadi. STADIUM PENYEMBUHAN FRAKTUR Tulang bisa beregenerasi sama seperti jaringan tubuh yang lain. Komplikasi Dalam Waktu Lama a. b. Ini disebabkan karena penurunan supai darah ke tulang.

Massa sel yang tebal dengan tulang yang imatur dan kartilago. 3. Stadium Dua-Proliferasi Seluler Pada stadium ini terjadi proliferasi dan differensiasi sel menjadi fibro kartilago yang berasal dari periosteum. Sementara tulang yang imatur (anyaman tulang ) menjadi lebih padat sehingga gerakan pada tempat fraktur berkurang pada 4 minggu setelah fraktur menyatu.`endosteum. Stadium Tiga-Pembentukan Kallus Sel–sel yang berkembang memiliki potensi yang kondrogenik dan osteogenik. Fase ini berlangsung selama 8 jam setelah fraktur sampai selesai. . Sel-sel yang mengalami proliferasi ini terus masuk ke dalam lapisan yang lebih dalam dan disanalah osteoblast beregenerasi dan terjadi proses osteogenesis. Dalam beberapa hari terbentuklah tulang baru yg menggabungkan kedua fragmen tulang yang patah. Populasi sel ini dipengaruhi oleh kegiatan osteoblast dan osteoklast mulai berfungsi dengan mengabsorbsi sel-sel tulang yang mati. dan bone marrow yang telah mengalami trauma. bila diberikan keadaan yang tepat. tergantung frakturnya. membentuk kallus atau bebat pada permukaan endosteal dan periosteal. sel itu akan mulai membentuk tulang dan juga kartilago.2.

dinding yang tidak . Stadium Lima-Remodelling Fraktur telah dijembatani oleh suatu manset tulang yang padat. Sistem ini sekarang cukup kaku dan memungkinkan osteoclast menerobos melalui reruntuhan pada garis fraktur. anyaman tulang berubah menjadi lamellar. pengelasan kasar ini dibentuk ulang oleh proses resorbsi dan pembentukan tulang yang terus-menerus. 5. Stadium Empat-Konsolidasi Bila aktivitas osteoclast dan osteoblast berlanjut. Ini adalah proses yang lambat dan mungkin perlu beberapa bulan sebelum tulang kuat untuk membawa beban yang normal. dan tepat dibelakangnya osteoclast mengisi celah-celah yang tersisa diantara fragmen dengan tulang yang baru. Lamellae yang lebih tebal diletidakkan pada tempat yang tekanannya lebih tinggi.4. Selama beberapa bulan atau tahun.

dikehendaki dibuang. rongga sumsum dibentuk. . dan akhirnya dibentuk struktur yang mirip dengan normalnya.

Untuk menghilangkan rasa nyeri. dapat diberikan obat penghilang rasa nyeri dan juga dengan tehnik imobilisasi (tidak menggerakkan daerah yang fraktur). Nyeri yang timbul pada fraktur bukan karena frakturnya sendiri. Tehnik imobilisasi dapat dicapai dengan cara pemasangan bidai atau gips. namun karena terluka jaringan disekitar tulang yang patah tersebut. PENATALAKSANAAN MEDIS Empat tujuan utama dari penanganan fraktur adalah : 1.  Pembidaian : benda keras yang ditempatkan di daerah sekeliling tulang. Untuk mengurangi nyeri tersebut.Fase Penyembuhan Tulang J. Gambar 9. .

 Pemasangan gips Merupakan bahan kuat yang dibungkuskan di sekitar tulang yang patah. Gips yang ideal adalah yang membungkus tubuh sesuai dengan bentuk tubuh. Indikasi dilakukan pemasangan gips adalah : o Immobilisasi dan penyangga fraktur o Istirahatkan dan stabilisasi o Koreksi deformitas o Mengurangi aktifitas o Membuat cetakan tubuh orthotik Sedangkan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemasangan gips adalah : o Gips yang pas tidak akan menimbulkan perlukaan o Gips patah tidak bisa digunakan o Gips yang terlalu kecil atau terlalu longgar sangat membahayakan klien o Jangan merusak / menekan gips o Jangan pernah memasukkan benda asing ke dalam gips / menggaruk o Jangan meletakkan gips lebih rendah dari tubuh terlalu lama .

Dilakukan untuk menyempurnakan luka operasi dengan kawat metal / penjepit melalui tulang / jaringan metal. dan pada keadaan emergency  Traksi mekanik. Metode pemasangan traksi antara lain :  Traksi manual Tujuannya adalah perbaikan dislokasi. Digunakan dalam waktu 4 minggu dan beban < 5 kg. atau fiksasi internal tergantung dari jenis frakturnya sendiri. Untuk itu diperlukan lagi tehnik yang lebih mantap seperti pemasangan traksi kontinyu. fiksasi eksternal. a. Bidai dan gips tidak dapat mempertahankan posisi dalam waktu yang lama. Tempat tarikan disesuaikan sedemikian rupa sehingga arah tarikan segaris dengan sumbu panjang tulang yang patah.2. Penarikan (traksi) : Secara umum traksi dilakukan dengan menempatkan beban dengan tali pada ekstermitas pasien. Kegunaan pemasangan traksi. antara lain :  Mengurangi nyeri akibat spasme otot  Memperbaiki & mencegah deformitas  Immobilisasi . o Traksi skeletal Merupakan traksi definitif pada orang dewasa yang merupakan balanced traction. ada 2 macam : o Traksi kulit (skin traction) Dipasang pada dasar sistem skeletal untuk sturktur yang lain misal otot. Untuk menghasilkan dan mempertahankan posisi yang ideal dari fraktur. mengurangi fraktur.

sekrup. Sesudah direduksi. Hematoma fraktur dan fragmen-fragmen tulang yang telah mati diirigasi dari luka. Keuntungan perawatan fraktur dengan pembedahan antara lain :  Ketelitian reposisi fragmen tulang yang patah  Kesempatan untuk memeriksa pembuluh darah dan saraf yang berada didekatnya  Dapat mencapai stabilitas fiksasi yang cukup memadai . Metode perawatan ini disebut fiksasi interna dan reduksi terbuka. Pada saat ini metode penatalaksanaan yang paling banyak keunggulannya mungkin adalah pembedahan. Pada umumnya insisi dilakukan pada tempat yang mengalami cedera dan diteruskan sepanjang bidang anatomik menuju tempat yang mengalami fraktur. pelat.  Difraksi penyakit (dengan penekanan untuk nyeri tulang sendi)  Mengencangkan pada perlekatannya Prinsip pemasangan traksi :  Tali utama dipasang di pin rangka sehingga menimbulkan gaya tarik  Berat ekstremitas dengan alat penyokong harus seimbang dengan pemberat agar reduksi dapat dipertahankan  Pada tulang-tulang yang menonjol sebaiknya diberi lapisan khusus  Traksi dapat bergerak bebas dengan katrol  Pemberat harus cukup tinggi di atas permukaan lantai b. fragmen-fragmen tulang ini dipertahankan dengan alat-alat ortopedik berupa pen. Fraktur kemudian direposisi dengan tangan agar menghasilkan posisi yang normal kembali. dan paku. Dilakukan pembedahan untuk menempatkan piringan atau batang logam pada pecahan-pecahan tulang.

Nailing diindikasikan jika hasil pemeriksaan radiologi memberi kesan bahwa jaringan lunak mengalami interposisi di antara ujung tulang karena hal ini hampir selalu menyebabkan non-union. . tetapi untuk fraktur lainnya kurang cocok. Keuntungan intramedullary nailing adalah dapat memberikan stabilitas longitudinal serta kesejajaran (alignment) serta membuat penderita dápat dimobilisasi cukup cepat untuk meninggalkan rumah sakit dalam waktu 2 minggu setelah fraktur. Comminuted fracture paling baik dirawat dengan locking nail yang dapat mempertahankan panjang dan rotasi. Tidak perlu memasang gips dan alat-alat stabilisasi yang lainPerawatan di RS dapat ditekan seminimal mungkin. tetapi fiksasi mungkin tidak cukup kuat untuk mengontrol rotasi. tetapi paling sesuai untuk fraktur transversal tanpa pemendekan. terutama pada kasus-kasus yang tanpa komplikasi dan dengan kemampuan mempertahankan fungsi sendi dan fungsi otot hampir normal selama penatalaksanaan dijalankan 1) FIKSASI INTERNA Intramedullary nail ideal untuk fraktur transversal. Kerugian meliput anestesi. Closed nailing memungkinkan mobilisasi yang tercepat dengan trauma yang minimal. trauma bedah tambahan dan risiko infeksi. Fraktur dapat dipertahankan lurus dan terhadap panjangnya dengan nail.

Untuk mengembalikan fungsi seperti semula Imobilisasi yang lama dapat mengakibatkan mengecilnya otot dan kakunya sendi. sehingga dibutuhkan graft tulang. Agar terjadi penyatuan tulang kembali Biasanya tulang yang patah akan mulai menyatu dalam waktu 4 minggu dan akan menyatu dengan sempurna dalam waktu 6 bulan. Tahap ini terbagi atas: 1. untuk itu diperlukan kecermatan dan ketelitian tentang masalah-masalah klien sehingga dapat memberikan arah terhadap tindakan keperawatan. Anamnesa 1) Identitas Klien . Fraktur dengan intramedullary nail yang tidak memberi fiksasi yang rigid juga cocok untuk tindakan ini. Namun terkadang terdapat gangguan dalam penyatuan tulang. PENGKAJIAN Pengkajian merupakan tahap awal dan landasan dalam proses keperawatan. Pengumpulan Data a. Maka dari itu diperlukan upaya mobilisasi secepat mungkin. 3. K. cast brace dapat dipasang. 2) FIKSASI EKSTERNA Bila fraktur yang dirawat dengan traksi stabil dan massa kalus terlihat pada pemeriksaan radiologis. yang biasanya pada minggu ke enam. Keberhasilan proses keperawatan sangat bergantuang pada tahap ini. 4.

Untuk memperoleh pengkajian yang lengkap tentang rasa nyeri klien digunakan: a) Provoking Incident: apakah ada peristiwa yang menjadi yang menjadi faktor presipitasi nyeri. relief: apakah rasa sakit bisa reda. atau menusuk. golongan darah. penyakit diabetes dengan luka di kaki sanagt beresiko terjadinya osteomyelitis akut maupun kronik dan juga diabetes menghambat proses penyembuhan tulang 5) Riwayat Penyakit Keluarga Penyakit keluarga yang berhubungan dengan penyakit tulang merupakan salah satu faktor predisposisi terjadinya fraktur. Meliputi nama. dan kanker tulang yang cenderung diturunkan secara genetik . asuransi. apakah rasa sakit menjalar atau menyebar. Selain itu. dan dimana rasa sakit terjadi. register. kapan. Selain itu. Ini bisa berupa kronologi terjadinya penyakit tersebut sehingga nantinya bisa ditentukan kekuatan yang terjadi dan bagian tubuh mana yang terkena. jenis kelamin. seperti diabetes. e) Time: berapa lama nyeri berlangsung. yang nantinya membantu dalam membuat rencana tindakan terhadap klien. bisa berdasarkan skala nyeri atau klien menerangkan seberapa jauh rasa sakit mempengaruhi kemampuan fungsinya. no. b) Quality of Pain: seperti apa rasa nyeri yang dirasakan atau digambarkan klien. umur. bahasa yang dipakai. c) Region : radiation. tanggal MRS. 2) Keluhan Utama Pada umumnya keluhan utama pada kasus fraktur adalah rasa nyeri. pekerjaan. apakah bertambah buruk pada malam hari atau siang hari. alamat. status perkawinan. Nyeri tersebut bisa akut atau kronik tergantung dan lamanya serangan. berdenyut. agama. dengan mengetahui mekanisme terjadinya kecelakaan bisa diketahui luka kecelakaan yang lain 4) Riwayat Penyakit Dahulu Pada pengkajian ini ditemukan kemungkinan penyebab fraktur dan memberi petunjuk berapa lama tulang tersebut akan menyambung. d) Severity (Scale) of Pain: seberapa jauh rasa nyeri yang dirasakan klien. Penyakit-penyakit tertentu seperti kanker tulang dan penyakit paget’s yang menyebabkan fraktur patologis yang sering sulit untuk menyambung. pendidikan. Apakah seperti terbakar. diagnosa medis. osteoporosis yang sering terjadi pada beberapa keturunan. 3) Riwayat Penyakit Sekarang Pengumpulan data yang dilakukan untuk menentukan sebab dari fraktur.

keterbatasan gerak. konsistensi. maka semua bentuk kegiatan klien menjadi berkurang dan kebutuhan klien perlu banyak dibantu oleh orang lain. keterbatasan gerak. C dan lainnya untuk membantu proses penyembuhan tulang. Evaluasi terhadap pola nutrisi klien bisa membantu menentukan penyebab masalah muskuloskeletal dan mengantisipasi komplikasi dari nutrisi yang tidak adekuat terutama kalsium atau protein dan terpapar sinar matahari yang kurang merupakan faktor predisposisi masalah muskuloskeletal terutama pada lansia. pengkajian juga meliputi kebiasaan hidup klien seperti penggunaan obat steroid yang dapat mengganggu metabolisme kalsium. sehingga hal ini dapat mengganggu pola dan kebutuhan tidur klien. Sedangkan pada pola eliminasi uri dikaji frekuensi. vit. dan jumlah. bau. kepekatannya. Selain itu juga obesitas juga menghambat degenerasi dan mobilitas klien. Semua klien fraktur timbul rasa nyeri. zat besi. d) Pola Aktivitas Karena timbulnya nyeri. suasana lingkungan. Selain itu juga. Hal lain yang perlu dikaji . warna. kebiasaan tidur. pengkajian dilaksanakan pada lamanya tidur. warna serta bau feces pada pola eliminasi alvi. Pada kedua pola ini juga dikaji ada kesulitan atau tidak. protein. c) Pola Eliminasi Untuk kasus fraktur humerus tidak ada gangguan pada pola eliminasi. tapi walaupun begitu perlu juga dikaji frekuensi. Pola Tidur dan Istirahat . dan kesulitan tidur serta penggunaan obat tidur.6) Riwayat Psikososial Merupakan respons emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya dan peran klien dalam keluarga dan masyarakat serta respon atau pengaruhnya dalam kehidupan sehari-harinya baik dalam keluarga ataupun dalam masyarakat 7) Pola-Pola Fungsi Kesehatan a) Pola Persepsi dan Tata Laksana Hidup Sehat Pada kasus fraktur akan timbul ketidakutan akan terjadinya kecacatan pada dirinya dan harus menjalani penatalaksanaan kesehatan untuk membantu penyembuhan tulangnya. pengkonsumsian alkohol yang bisa mengganggu keseimbangannya dan apakah klien melakukan olahraga atau tidak b) Pola Nutrisi dan Metabolisme Pada klien fraktur harus mengkonsumsi nutrisi melebihi kebutuhan sehari-harinya seperti kalsium. Selain itu.

j) Pola Tata Nilai dan Keyakinan Untuk klien fraktur tidak dapat melaksanakan kebutuhan beribadah dengan baik terutama frekuensi dan konsentrasi. Karena ada beberapa bentuk pekerjaan beresiko untuk terjadinya fraktur dibanding pekerjaan yang lain e) Pola Hubungan dan Peran Klien akan kehilangan peran dalam keluarga dan dalam masyarakat. dan pandangan terhadap dirinya yang salah (gangguan body image) g) Pola Sensori dan Kognitif Pada klien fraktur daya rabanya berkurang terutama pada bagian distal fraktur. klien tidak bisa melakukan hubungan seksual karena harus menjalani rawat inap dan keterbatasan gerak serta rasa nyeri yang dialami klien. yaitu pemeriksaan umum (status generalisata) untuk mendapatkan gambaran umum dan pemeriksaan setempat (lokalis). begitu juga pada kognitifnya tidak mengalami gangguan. rasa cemas. sedang pada indera yang lain tidak timbul gangguan. timbul rasa nyeri akibat fraktur h) Pola Reproduksi Seksual Dampak pada klien fraktur yaitu. rasa ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas secara optimal. Selain itu juga. Hal ini perlu untuk dapat melaksanakan total care karena ada kecenderungan dimana spesialisasi hanya memperlihatkan daerah yang lebih sempit tetapi lebih mendalam. Karena klien harus menjalani rawat inap f) Pola Persepsi dan Konsep Diri Dampak yang timbul pada klien fraktur yaitu timbul ketidakutan akan kecacatan akibat frakturnya. Mekanisme koping yang ditempuh klien bisa tidak efektif. Pemeriksaan Fisik Dibagi menjadi dua. perlu dikaji status perkawinannya termasuk jumlah anak. Selain itu juga. Hal ini bisa disebabkan karena nyeri dan keterbatasan gerak klien b. yaitu ketidakutan timbul kecacatan pada diri dan fungsi tubuhnya. 1) Gambaran Umum Perlu menyebutkan: . adalah bentuk aktivitas klien terutama pekerjaan klien. lama perkawinannya i) Pola Penanggulangan Stress Pada klien fraktur timbul rasa cemas tentang keadaan dirinya.

sopor. (9) Thoraks Tak ada pergerakan otot intercostae. (8) Mulut dan Faring Tak ada pembesaran tonsil. sedang. komposmentis tergantung pada keadaan klien. (3) Tanda-tanda vital tidak normal karena ada gangguan baik fungsi maupun bentuk. tidak ada nyeri kepala. tidak ada penonjolan. tidak ada penonjolan. reflek menelan ada. gusi tidak terjadi perdarahan. oedema. tak oedema. koma. (4) Muka Wajah terlihat menahan sakit. tak ada pernafasan cuping hidung. (2) Kepala Tidak ada gangguan yaitu. kronik. b) Secara sistemik dari kepala sampai kelamin (1) Sistem Integumen Terdapat erytema. (10) Paru (a) Inspeksi Pernafasan meningkat.a) Keadaan umum: baik atau buruknya yang dicatat adalah tanda-tanda. seperti: (1) Kesadaran penderita: apatis. . gerakan dada simetris. normo cephalik. simetris. (5) Mata Terdapat gangguan seperti konjungtiva anemis (jika terjadi perdarahan) (6) Telinga Tes bisik atau weber masih dalam keadaan normal. Tidak ada lesi atau nyeri tekan. Tak ada lesi. lain-lain tidak ada perubahan fungsi maupun bentuk. (7) Hidung Tidak ada deformitas. reguler atau tidaknya tergantung pada riwayat penyakit klien yang berhubungan dengan paru. ringan. simetris. mukosa mulut tidak pucat. (3) Leher Tidak ada gangguan yaitu simetris. nyeri tekan. bengkak. suhu sekitar daerah trauma meningkat. (2) Kesakitan. keadaan penyakit: akut. berat dan pada kasus fraktur biasanya akut. gelisah.

(11) Jantung (a) Inspeksi Tidak tampak iktus jantung. (b) Palpasi Tugor baik. (12) Abdomen (a) Inspeksi Bentuk datar. simetris. ada pantulan gelombang cairan. tak ada mur-mur. tidak ada hernia. Pulse. Pergerakan). (c) Perkusi Suara thympani. tidak ada defands muskuler. (c) Auskultasi Suara S1 dan S2 tunggal. (c) Perkusi Suara ketok sonor. tak ada erdup atau suara tambahan lainnya. atau suara tambahan lainnya seperti stridor dan ronchi. iktus tidak teraba. Palor. (d) Auskultasi Peristaltik usus normal ± 20 kali/menit. Pemeriksaan pada sistem muskuloskeletal adalah: a) Look (inspeksi) Perhatikan apa yang dapat dilihat antara lain: . (b) Palpasi Nadi meningkat. tak ada wheezing. (b) Palpasi Pergerakan sama atau simetris. 2) Keadaan Lokal Harus diperhitungkan keadaan proksimal serta bagian distal terutama mengenai status neurovaskuler (untuk status neurovaskuler à 5 P yaitu Pain. (d) Auskultasi Suara nafas normal. fermitus raba sama. hepar tidak teraba. tak ada kesulitan BAB. (13) Inguinal-Genetalia-Anus Tak ada hernia. Parestesia. tak ada pembesaran lymphe.

kemudian diteruskan dengan menggerakan ekstrimitas dan dicatat apakah terdapat keluhan nyeri pada pergerakan. dari tiap arah pergerakan mulai dari titik 0 (posisi netral) atau dalam ukuran metrik. Pemeriksaan ini menentukan apakah ada gangguan gerak (mobilitas) atau tidak. (3) Nyeri tekan (tenderness). (6) Posisi dan bentuk dari ekstrimitas (deformitas) (7) Posisi jalan (gait. dan ukurannya. maka sifat benjolan perlu dideskripsikan permukaannya. benjolan yang terdapat di permukaan atau melekat pada tulang. nyeri atau tidak. atau cekungan dengan hal-hal yang tidak biasa (abnormal). Pemeriksaan Diagnostik a. agar dapat mengevaluasi keadaan sebelum dan sesudahnya. (1) Cicatriks (jaringan parut baik yang alami maupun buatan seperti bekas operasi). pergerakan terhadap dasar atau permukaannya. (3) Fistulae. krepitasi. Pergerakan yang dilihat adalah gerakan aktif dan pasif. terlebih dahulu posisi penderita diperbaiki mulai dari posisi netral (posisi anatomi). apakah terdapat fluktuasi atau oedema terutama disekitar persendian. pembengkakan. Pemeriksaan Radiologi . (2) Cape au lait spot (birth mark). c) Move (pergerakan terutama lingkup gerak) Setelah melakukan pemeriksaan feel. konsistensinya. tengah. atau distal). Pencatatan lingkup gerak ini perlu. Selain itu juga diperiksa status neurovaskuler. Gerakan sendi dicatat dengan ukuran derajat. Pada dasarnya ini merupakan pemeriksaan yang memberikan informasi dua arah. (5) Benjolan. (4) Warna kemerahan atau kebiruan (livide) atau hyperpigmentasi. 2. Otot: tonus pada waktu relaksasi atau konttraksi. waktu masuk ke kamar periksa) b) Feel (palpasi) Pada waktu akan palpasi. Capillary refill time à Normal > 3 detik (2) Apabila ada pembengkakan. Apabila ada benjolan. Yang perlu dicatat adalah: (1) Perubahan suhu disekitar trauma (hangat) dan kelembaban kulit. catat letak kelainan (1/3 proksimal. baik pemeriksa maupun klien.

Dalam keadaan tertentu diperlukan proyeksi tambahan (khusus) ada indikasi untuk memperlihatkan pathologi yang dicari karena adanya superposisi. 2) Myelografi: menggambarkan cabang-cabang saraf spinal dan pembuluh darah di ruang tulang vertebrae yang mengalami kerusakan akibat trauma. 3) Elektromyografi: terdapat kerusakan konduksi saraf yang diakibatkan fraktur. Pemeriksaan Laboratorium 1) Kalsium Serum dan Fosfor Serum meningkat pada tahap penyembuhan tulang. Laktat Dehidrogenase (LDH-5). Untuk mendapatkan gambaran 3 dimensi keadaan dan kedudukan tulang yang sulit. 2) Tipis tebalnya korteks sebagai akibat reaksi periosteum atau biomekanik atau juga rotasi. Sebagai penunjang. 4) Computed Tomografi-Scanning: menggambarkan potongan secara transversal dari tulang dimana didapatkan suatu struktur tulang yang rusak. Perlu disadari bahwa permintaan x-ray harus atas dasar indikasi kegunaan pemeriksaan penunjang dan hasilnya dibaca sesuai dengan permintaan. 3) Enzim otot seperti Kreatinin Kinase. 2) Biopsi tulang dan otot: pada intinya pemeriksaan ini sama dengan pemeriksaan diatas tapi lebih dindikasikan bila terjadi infeksi. 4) Sela sendi serta bentuknya arsitektur sendi. . b. Aspartat Amino Transferase (AST). c. maka diperlukan 2 proyeksi yaitu AP atau PA dan lateral. pemeriksaan yang penting adalah “pencitraan” menggunakan sinar rontgen (x-ray). Hal yang harus dibaca pada x-ray: 1) Bayangan jaringan lunak. 2) Alkalin Fosfat meningkat pada kerusakan tulang dan menunjukkan kegiatan osteoblastik dalam membentuk tulang. 3) Trobukulasi ada tidaknya rare fraction. Selain foto polos x-ray (plane x-ray) mungkin perlu tehnik khususnya seperti: 1) Tomografi: menggambarkan tidak satu struktur saja tapi struktur yang lain tertutup yang sulit divisualisasi. 3) Arthrografi: menggambarkan jaringan-jaringan ikat yang rusak karena ruda paksa. Aldolase yang meningkat pada tahap penyembuhan tulang. Pemeriksaan lain-lain 1) Pemeriksaan mikroorganisme kultur dan test sensitivitas: didapatkan mikroorganisme penyebab infeksi. Pada kasus ini ditemukan kerusakan struktur yang kompleks dimana tidak pada satu struktur saja tapi pada struktur lain juga mengalaminya.

luka operasi. keterbatasan kognitif. edema. nyeri. terapi restriktif (imobilisasi) 4. taruma jaringan lunak. perubahan membran alveolar/kapiler (interstisial. 6) MRI: menggambarkan semua kerusakan akibat fraktur. Gangguan integritas kulit b/d fraktur terbuka. pemasangan traksi. L. gerakan fragmen tulang. Kurang pengetahuan tentang kondisi. Gangguan pertukaran gas b/d perubahan aliran darah. Risiko infeksi b/d ketidakadekuatan pertahanan primer (kerusakan kulit. stress/ansietas. 2. Gangguan mobilitas fisik b/d kerusakan rangka neuromuskuler. kongesti) 3. prosedur invasif/traksi tulang) 6. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL 1. cedera jaringan lunak. pemasangan traksi (pen. 5) Indium Imaging: pada pemeriksaan ini didapatkan adanya infeksi pada tulang. kurang akurat/lengkapnya informasi yang ada . Nyeri akut b/d spasme otot. edema paru. prognosis dan kebutuhan pengobatan b/d kurang terpajan atau salah interpretasi terhadap informasi. emboli. 4) Arthroscopy: didapatkan jaringan ikat yang rusak atau sobek karena trauma yang berlebihan. kawat. sekrup) 5.

intensitas. cedera Kriteria Hasil : presipitasi jaringan lunak.  Comfort level lokasi. mencari  Kurangi faktor presipitasi nyeri bantuan)  Ajarkan tentang teknik non farmakologi  Melaporkan bahwa  Evaluasi keefektifan kontrol nyeri nyeri berkurang  Tingkatkan istirahat dengan  Kolaborasikan dengan dokter jika ada keluhan dan menggunakan tindakan nyeri tidak berhasil manajemen nyeri  Monitor penerimaan pasien tentang manajemen nyeri  Mampu mengenali nyeri (skala.  Pain Level. (tahu penyebab pengalaman nyeri pasien stress/ansietas. RENCANA KEPERAWATAN DIANGOSA N KEPERAWAT O AN DAN TUJUAN (NOC) INTERVENSI (NIC) D KOLABORA X SI 1 Nyeri akut b/d NOC NIC spasme otot. nyeri. mampu  Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau luka operasi. frekuensi dan tanda nyeri)  Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang  Tanda vital dalam rentang normal . frekuensi.  Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk fragmen tulang. kualitas dan faktor edema. karakteristik.  Mampu  Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan pemasangan mengontrol nyeri  Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui traksi. menggunakan  Evaluasi bersama pasien dan tim kesehatan lain tentang tehnik ketidakefektifan kontrol nyeri masa lampau nonfarmakologi  Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan untuk mengurangi dukungan nyeri. Pain Management gerakan  Pain control. durasi.

Nursing Interventions Classification (NIC) Second Edition. Jakarta. edisi 8 vol. Jilid 1 edisi 3. 1996. 2001. EGC. Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006. Jakarta: EGC Doengoes. et all. Kapita Selekta Kedokteran..C. Jakarta: Prima Medika Smeltzer. 2000. Jakarta: Media Aesculapius Mc Closkey. M. Budi.E.3. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. LJ. Ircham Machfoedz. New Jersey: Upper Saddle River Mansjoer.. EGC. Nursing Outcomes Classification (NOC) Second Edition. Buku Ajar keperawtan medikal bedah. Jakarta. 2001. A dkk. 2002. 2007. Buku Saku Diagnosa Keperawatan edisi 6 . M. 2007.J. 2000.. Yogyakarta: Fitramaya Johnson. atau di Perjalanan. . C. Rencana Asuhan Keperawatan. di Tempat Kerja. 2007.. et all. S. Suddarth. EGC. Pertolongan Pertama di Rumah. Jakarta Carpenito. DAFTAR PUSTAKA Brunner. New Jersey: Upper Saddle River Santosa.