Analisis Pertumbuhan Tanaman Komponen Dalam Sistem Intercropping Kedelai-Jagung yang

Dipengaruhi Oleh Waktu Tanam dan Penganturan Spasial

(Growth Analysis Of Component Crops in a Maize-Soybean Intercropping System As Affected By
Time Of Planting And Spatial Arrangement)

Lusi Anna Sitorus/145040201111047/Kelas D

Banyak dan beragam sistem tanam telah digunakan dan dalam beberapa kasus terus digunakan
untuk menghasilkan peningkatan produksi pangan di Afrika. Salah satu sistem ini adalah tumpangsari,
tumbuh dari dua atau lebih spesies tanaman secara bersamaan di bidang yang sama selama musim
tanam. Karakteristik umum dari berbagai bentuk tumpang sari adalah bahwa mereka memiliki
keuntungan untuk memanfaatkan sumber daya lingkungan secara lebih efisien meningkatkan
kesuburan tanah dan peningkatan hasil dan kualitas panen. Penanaman jagung dan kedelai penting
dilakukan karena Jagung merupakan komponen sereal dan kombinasinya dengan kedelai menjadi
sangat populer di kalangan petani skala kecil pada daerah-daerah tertentu di Ghana. Jagung dan kedelai
memiliki peran penting untuk memenuhi gizi, menjadi makanan tinggi karbohidrat dan protein bagi
masyarakat. Namun, waktu tanam dan pengaturan spasial kedelai yang tumbuh dalam kaitannya
dengan jagung di Ghana belum banyak dipelajari dan tidak terdokumentasi dengan baik. Tujuan umum
dari penelitian ini adalah untuk menetapkan urutan penanaman dan pengaturan spasial yang tepat untuk
sistem tumpang sari kedelai jagung untuk pertumbuhan optimum.
Dari hasil kesimpulan berikut bisa ditarik pernyataan bahwa, pengaruh waktu relatif pengenalan
jagung atau kedelai ke dalam sistem tumpangsari mempengaruhi LAI, CGR dan NAR dari kedua
tanaman. Jagung yang ditanam bersamaan dengan atau sebelum kedelai ditanam, pertumbuhan jagung
dalam hal parameter yang diukur lebih tinggi dari pada saat ditanam setelah kedelai. Begitu pula
semakin lama jagung ditunda penanamanya ke dalam sistem tumpangsari, semakin baik kinerja
tanaman kedelai. Hasil terbaik untuk jagung diperoleh untuk perlakuan T3S1, yaitu jagung ditanam 28
hari sebelum kedelai. Demikian pula, hasil kedelai yang paling baik saat penanaman jagung yang
tertunda hingga 28 hari (T5S1).
Penataan ruang tidak secara signifikan mempengaruhi pertumbuhan tanaman jagung. Penataan
ruang tidak mempengaruhi NAR mungkin dikarenakan banyak perbedaan tingkat naungan dalam
perawatan karena tata ruang yang berbeda yang digunakan, Saat LAI meningkat, shading shading daun
pada suatu waktu diperkirakan akan mengurangi fotosintesis oleh sebagian dedaunan, dan dengan
demikian menurunkan NAR. Hal ini terjadi bahkan di bawah sinar matahari terang karena fraksi yang
meningkat dari area daun akan diterangi oleh intensitas cahaya di bawah nilai saturasi. Dalam
penelitian ini, perbedaan NAR karena perbedaan waktu pengenalan jagung ke tanaman tumpangsari
kemungkinan disebabkan oleh kenaikan naungan yang dialami lebih banyak oleh tanaman pengganda
akhir daripada yang awal. Maka dari itu, NAR umumnya menurun pada panen berturut-turut pada
jagung. Sebaliknya, pertumbuhan kedelai sangat dipengaruhi oleh penataan ruang yang signifikan.
Interaksi antara waktu pengenalan jagung dan tata ruang mencatat pengaruh yang signifikan terhadap
NAR. LAI dan CGR tanaman kedelai dalam pola tanam double row diikuti oleh satu baris jagung.
Pengaturan secara signifikan lebih tinggi daripada tanaman kedelai dalam satu baris yang bergantian
dengan satu baris jagung. Bagaimanapun NAR tidak terpengaruh oleh pengaturan spasial. Efek dari
perlakuan pada hasil dan produktivitas tanaman akan diteliti lebih lanjut lagi di dalam karya lain.

Quaye. A. A., A. A. Darkwa and G. K. Ocloo. 2011. Growth Analysis Of Component Crops in a Maize-
Soybean Intercropping System As Affected By Time Of Planting And Spatial Arrangement.
University of Cape Coast. Ghana. 6(6): 34-44.