TUGAS IKM

RENDAHNYA CAKUPAN K4
DI PUSKESMAS WERU TAHUN 2016
Disusun untuk Memenuhi Sebagian Syarat Kepaniteraan Klinik
Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat

Pembimbing
dr. M. Shoim Dasuki, M.Kes

Disusun oleh :
Ade Putri Mustikawati, S.Ked J510165062
Adinda Rizky Aulia A., S.Ked J510165002
Adjeng Retno Bintari, S.Ked J510165040
Alban Ramadhan, S.Ked J510165023
Alfiana Kusuma Rahmawati, S.Ked J510165019
Alprinal Alpajri, S.Ked J510165085

KEPANITERAAN KLINIK
ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
PUSKESMAS WERU
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2017

TUGAS IKM

RENDAHNYA PENEMUAN SUSPEK TUBERKULOSIS DI PUSKESMAS
BENDOSARI TAHUN 2016

Yang diajukan Oleh :

Ade Putri Mustikawati, S.Ked J510165062
Adinda Rizky Aulia A., S.Ked J510165002
Adjeng Retno Bintari, S.Ked J510165040
Alban Ramadhan, S.Ked J510165023
Alfiana Kusuma Rahmawati, S.Ked J510165019
Alprinal Alpajri, S.Ked J510165085

Telah disetujui dan disahkan oleh Tim Pembimbing Ilmu Kesehatan Masyarakat
Program Pendidikan Profesi Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah
Surakarta

Pembimbing
Nama : dr. M. Shoim Dasuki,M.Kes (.................................)

Dipresentasikan di hadapan
Nama : dr. M. Shoim Dasuki,M.Kes (.................................)

Disahkan Ketua Program Profesi
Nama : dr. Dona Dewi Nirlawati (.................................)

ii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .......................................................................................... i
LEMBAR PENGESAHAN ................................................................................ ii
DAFTAR ISI ...................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................ 1
A. Latar Belakang ........................................................................ 1
B. Perumusan Masalah ................................................................ 2
C. Tujuan ..................................................................................... 2
D. Manfaat .................................................................................... 2
E. Sasaran ..................................................................................... 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................................................... 5
A. Tuberkulosis Paru ................................................................... 2
B. Indikator Nasional Penanggulangan Tuberkulosis ................ 19
C. Manajemen Puskesmas .......................................................... 27
D. Problem Solving Cycle .......................................................... 29
BAB III METODE PENCAPAIAN KEGIATAN ...................................... 34
A. Gambaran Umum Kecamatan Bendosari ............................... 34
B. Manajemen Pengendalian Tuberkulosis ................................. 36
BAB IV HASIL PEMBAHASAN .............................................................. 39
A. Identifikasi Masalah Pengendalian Tuberkulosis ................... 39
B. Analisis Penyebab Masalah .................................................... 41
C. Alternatif Pemecahan Masalah ............................................... 44
D. Analisis SWOT ........................................................................ 45
E. Rencana Pencegahan Masalah ................................................ 47
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN .................................................... 50
A. Kesimpulan ............................................................................. 50
B. Saran ........................................................................................ 50
DAFTAR PUSTAKA

iii

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pelayanan antenatal adalah pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan
untuk ibu selama masa kehamilannya, yang dilaksanakan sesuai dengan
standar pelayanan yang ditetapkan (Depkes RI, 2010:22). Salah satu
indikator yang digunakan dalam pelayanan antenatal adalah cakupan K4.
Cakupan K4 adalah pelayanan antenatal sesuai standar paling sedikit 4 kali,
yaitu minimal 1 kali pada triwulan pertama, 1 kali pada triwulan kedua
dan 2 kali pada triwulan ketiga (Depkes RI, 2010:12).
Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia pada tahun
2012, dari 14.782 ibu, 96% menerima perawatan antenatal dari tenaga
kesehatan dan 4% tidak menerima pelayanan kesehatan. Dari 14.191 ibu
yang menerima perawatan kesehatan 75% menerima perawatan dari
perawat, bidan atau bidan desa, 19% menerima perawatan dari seorang
dokter kandungan, dan 1% menerima perawatan dari dokter (Statistik
Indonesia BKKBN, 2013:136).
Pada tahun 2012 secara Nasional angka cakupan pelayanan antenatal,
untuk persentase pencapaian cakupan K4 sebesar 90,18% (Kemenkes
RI, 2013:120). Untuk target cakupan K4 nasional adalah 90%, ini
berarti target untuk K4 Nasional ditahun 2012 telah terpenuhi. Walaupun
demikian, masih terdapat disparitas antar provinsi dan antar
Kabupaten/kota yang variasinya cukup besar.
Selain adanya kesenjangan, juga ditemukan ibu hamil yang tidak
menerima pelayanan dimana seharusnya diberikan pada saat kontak dengan
tenaga kesehatan (missed opportunity) (Depkes RI, 2010:2).
Di wilayah propinsi Jawa Tengah pada tahun 2012 persentase
pencapaian cakupan K4 sebesar 92,99%. Pencapaian cakupan K4 Jawa
Tengah sudah lebih dari target Nasional yaitu untuk cakupan K4 Nasional
adalah 90%. Akan tetapi di wilayah provinsi Jawa Tengah masih terdapat

4

5

Kabupaten yang memiliki cakupan kunjungan K4 di bawah target (Depkes
RI, 2013:2). Untuk kabupaten Weru sendiri, data kunjungan K4 didapatkan
dari 13 desa di Kecamatan Weru Kabupaten Sukoharjo pencapaian kunjungan
K4 sampai bulan Desember 2016 yaitu 88,7% lebih rendah dari target yaitu
95%. Angka tersebut masih dibawah dari target yang diharapkan. Maka dari
itu pada laporan ini, kami mencoba melakukan analisis untuk mengetahui
penyebab dan alternatif pemecahan masalah tersebut. Hasil makalah ini
diharapkan dapat menjadi masukan bagi usaha peningkatan kesehatan di
Puskesmas Weru melalui peningkatan kinerja petugas puskesdes terhadap
cakupan kunjungan K4.

B. Perumusan Masalah
Bagaimana manajemen kinerja petugas puskesdes terhadap peningkatan
cakupan kunjungan K4di Kecamatan Weru Kabupaten Sukoharjo?

C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Meningkatkan cakupan kunjungan K4 di Kecamatan Weru
Kabupaten Sukoharjo.
2. Tujuan Khusus
a. Mengoptimalkan puskesmas sebagai pelayanan kesehatan tingkat
dasar yang bersifat komprehensif dan holistik.
b. Mengoptimalkan peran petugas puskesdes terhadap peningkatan
cakupan kunjungan K4 di Kecamatan Weru Kabupaten Sukoharjo.
D. Manfaat
1. Membantu para dokter muda untuk lebih memahami manajerial dari
puskesmas dalam menangani suatu permasalahan.
2. Memberi masukan bagi Puskesmas Weru tentang masalah-masalah yang
terjadi, serta alternatif upaya pemecahannya.
3. Menambah pengetahuan mengenai program peningkatan cakupan
kunjungan K4 di Puskesmas Weru.

E. Memberikan informasi kepada penyusun kebijakan mengenai faktor- faktor yang menjadi kendala dalam pelaksanaan program peningkatan cakupan kunjungan K4 di Puskesmas Weru. . 5. Mengetahui faktor-faktor yang menjadi kendala dalam pelaksanaan program tersebut. 5 4. Sasaran Petugas Puskesdes di Kecamatan Weru Kabupaten Sukoharjo.

dokter umum.spesialis kandungan. 2010:2). c. pemeriksaan fisik(umum dan kebidanan). Pelayanan antenatal sesuai standarmeliputi anamnesis. Tujuan Antenatal Care Adapun tujuan antenatal care adalah: a. Mengenali dan mengurangi secara dini adanya penyulit-penyulit atau komplikasi yang mungkin terjadi selama hamil. Pengertian Antenatal care adalah pelayanan kesehatan secara berkala selamamasakehamilan ibu yang diselenggarakan oleh tenaga kesehatan professional (dokter. dilaksanakan sesuai denganstandar pelayanan antenatal yang ditetapkan dalam Standar Pelayanan Kebidanan(SPK). 5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. . mental dan sosial ibu. Pelayanan antenatal adalah pelayanan kesehatan yang diberikan oleh tenagakesehatan untuk ibu selama masa kehamilannya. b. termasuk riwayat penyakitsecara umum. kebidanan dan pembedahan.persalinan dan nifas denganbaik dan selamat serta melahirkan bayi yang sehat (Depkes RI. Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dantumbuh kembang janin. Antenatal Care 1. d. Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik. 2004:4). Mempersiapkan persalinan cukup bulan dan persalinan yang aman dengantrauma seminimal mungkin. bidan danperawat) kepada ibu hamil danjanin yang dikandungnya untuk menjaminagar ibu hamil dapat melalui masakehamilan. sertaintervensi umum dan khusus (sesuai risiko yang ditemukan dalam pemeriksaan) (Depkes RI. pemeriksaan laboratorium rutin dan khusus. 2.

Satu Kali kunjungan selama trimester kedua (antara minggu 14- 28minggu). atau jika merasa khawatirsewaktu-waktu dapat melakukan kunjungan (Fais M.Satrianegara. Membina hubungan saling percaya antara bidan dan ibu hamil. (Depkes RI. 9 bulan 7 hari. 40 minggu. h. . yaitu 280 hari. Setiap wanita hamil sedikitnya dapt melakukan kunjungan kehamilansedikitnya empat akli kunjungan selama periode antenatal: a. 2007:10). Mengurangi bayi lahir premature. c. Satu kali kunjungan selama trimester pertama (sebelum 14 minggu). Kunjungan Trimester I Kunjungan Trimester 1 pada kehamilan dilakukan sebelum minggu ke-14. b. Dua kali kunjungan selama trimester ketiga (antara 28-36 dan sesudah minggu ke 36). 3. Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan mempersiapkanibu agar dapat memberikan ASI secara ekslusif. f. g. tanda bahaya. 2009: 185). kelainan mati dan kematian neonatal. Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran janinagar dapat tumbuh kembang secara normal. Kunjungan Antenatal Care Ibu Hamil Masa antenatal mencakup waktu kehamilan mulai hari pertama haid yangterakhir (HPHT) atau Last Menstruation Period (LMS) sampai permulaan daripersalinan yang sebenarnya. Bila ibu hamil mengalami masalah. 5 e. 2010: 9 dan 12). 4. Untukmenerima manfaat pelayanan antenatal wanita hamil dapat memanfaatkankunjungan kehamilan/ kunjungan antenatal (Hani Umi dkk. Mempersiapkan kesehatan yang optimal bagi janin.Kegiatan yang dapat dilakukan: a.

Menimbang BB. Antara minggu 28-36. serta memberi imunisasi Tetanus Toksoiddan tablet besi. Kunjungan Trimester III Kunjungan Trimester 3 pada kehamilan dilakukan 2 kali yaitu: a. Setelah 36 minggu. Mendeteksi masalah dan mengatasinya. Mengajari ibu cara mengatasi ketidaknyamanan. g. Kegiatan yang dapat dilakukan: Sama seperti pada hamil minggu 14-28. d. mengukur TB. f. Satrianegara. e. c. Mendokumentasikan pemeriksaan dan asuhan(Fais M. ditambah menentukan tinggi fundus. Mulai mendiskusikan mengenai persiapan kelahiran bayi dan kesiapanuntuk menghadapi kegawat daruratan.kewaspadaan khusus mengenai pre-eklamsi (tanya ibu tentanggejala-gejala preeklamsi. i. ditambah palpasi abdominal untukmengetahui apakah ada kehamilan ganda. Satrianegara. Menjadwalkan kunjungan berikutnya. Kunjungan Trimester II Kunjungan Trimester 2 pada kehamilan dilakukan sebelum minggu ke-28. 2009: 185). 6. evaluasi edema danperiksa urine untukmengetahui proteinuria) (Fais M. h. 2009: 185). 5. 5 b. b. nutrisi dan mengantisipasi tanda-tanda bahaya kehamilan). pantau tekanan darah. Mengajari dan mendorong perilaku yang sehat (cara hidup sehat bagi wanita hamil. Kegiatan yang dapat dilakukan: . Memberitahukan hasil pemeriksaan dan usia kehamilan.Kegiatan yang dapat dilakukan: Sama seperti kunjungan trimester 1.

Ukur Tekanan Darah c. Dengan indikator yang digunakan untuk menggambarkan tingkat perlindungan ibu hamil disuatu wilayah. Satrianegara. 5 Sama seperti setelah 36 minggu. ditambah deteksi letak janin dan kondisilain serta kontraindikasi untuk bersalin diluar RS (Fais M. 7. Pemberian Imunisasi Tetanus Toxoid (TT) Lengkap . Pemantauan Cakupan Antenatal K4 a. Ukur Tinggi Fundus Uteri d. Kontak 4 kali dilakukan sebagai berikut: sekali padatrimester I (kehamilan hingga 12 minggu) dan trimester ke-2 (>12 . menyatakan bahwa dalam penerapan praktis asuhankebidanan pada ibu menggunakan standar minimal pelayanan antenatal “10T”.24 minggu). Rumus yang digunakan adalah: (Depkes RI. Kunjungan antenatal bisa lebih dari 4 kalisesuaikebutuhan dan jika ada keluhan. 8. Standar Pelayanan Antenatal Care Depkes RI (2010). 2010:4). 2009: 186). Kunjunganini termasuk dalam K4. Timbang Berat Badan dan Pengukuran Tinggi Badan b.minimal 2 kali kontak pada trimester ke-3 dilakukan setelah minggu ke 24 sampaidengan minggu ke 36. penyakit atau gangguan kehamilan. Cakupan Kunjungan K4 K4 adalah ibu hamil dengan kontak 4 kali atau lebih dengan tenaga kesehatanyang mempunyai kompetensi.17yang terdiri : a. untuk mendapatkan pelayanan terpadu dankomprehensif sesuai standar.

meliputi : a. Pemberian Tablet Besi minimal 90 tablet selama kehamilan f. b. penyakit kelamin yang ditularkan melaluihubungan seksual. Pemeriksaan Veneral Diseases Reserch Laboratory (VDRL)(T7) Merupakan screening untuk sifilis. Ukur tekanan darah (T2). e.5 kg/minggu. Tetapkan status gizi j. Berat badan yang bertambah terlalu besar atau kurang perlu mendapatkan perhatian khususkarena memungkinkan terjadinya penyulit kehamilan. jikaditemukan hal demikian segerarujuk. Jumlah tersebut mencukupikebutuhan tambahan zat besi selama kehamilan yaitu100 mg. bila melebihi dari140/90 mmHg perlu diwaspadai adanya preeklamsi. h. Ukur tinggi fundus uteri (T3) d.5 mg asam folat) untuk semuaibu hamil sebanyak 1 kali tablet selama 90 hari. Tekanan darah yang normal 110/80 – 140/90 mmHg. Pemberian imunisasi TT (T5) f. senam payudara dan pijat tekan payudara (T8) i. 5 e. Janin yang terinfeksi dapat mengalami gejalanya saat lahiratau beberapa bulan setelah lahir. Pemberian tablet Fe sebanyak 90 tablet selama kehamilan (T4) Pemberian tablet Fe (320 mg Fe sulfat dan 0. Tentukan persentasi janin dan hitung DJJ i. Tatalaksana kasus Sesuai kebijakan program pelayanan asuhan antenatal harus sesuai standarpada tahun 2014 yaitu menjadi “14 T”. Temu wicara (konseling dan pemecahan masalah) h.Kenaikan berat badantidak boleh lebih dari 0. Perawatan payudara. Timbang berat badan (T1). Pemeriksaan Hb (T6) g. Pemeliharaan tingkat kebugaran / senam ibu hamil (T9) . Tes Laboratorium g. Berat badan dalam kilo gram tiap kali kunjungan. c.

sikap. Potensi ini adalah potensi fisik. Pemeriksaan reduksi urine atas indikasi (T12) m. Faktor Bidan 1) Tingkat Pendidikan Pendidikan adalah serangkaian komunikasi dengan menggunakan media dalam rangka memberikan bantuan terhadap pengembangan individu seutuhnya agar dapat mengembangkan potensinya semaksimal mungkin. penciuman. pendengaran. Pendidikan itu dapat berupa pendidikan formal. 2002:55). sosial. Untuk meningkatkan mutu pelayanan bidan baik pengetahuan maupun keterampilannnya. rasa. keterampilan dan kemampuan pegawai (Hariandja. 3) Pelatihan Pelatihan dapat didefinisikan sebagai usaha yang terencana dari organisasi untuk meningkatkan pengetahuan. pengetahuan dan keterampilan. Temu wicara dalam rangka persiapan rujukan (T10) k. informal dan non formal (Notoatmojo. Pemberian terapi kapsul yodium untuk daerah endemis gondok (T13) n. dan raba (Notoatmodjo. Pemberian terapi anti malaria untuk daerah endemis malaria (T14) 9. 2005:143). emosi. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Cakupan K1 dan K4 Bidan a. Pemeriksaan protein urine atas indikasi (T11) l. 2) Tingkat Pengetahuan Pengetahuan merupakan hasil tahu dan terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek dan penginderaan terjadi melalui indera penglihatan. perlu diberikan berbagai macam pelatihan . 5 j. 2005:128).

bidan dan perawat terlatih. 2007:74). status perkawinan. 4) Motivasi Motivasi adalah sebagai pendorong bagi bidan dalam melasanakan kunjungan k4 pada pemeriksaan ibu hamil. yang diungkapkan dengan kata-katanya sendiri dan lamanya mengalami gangguan tersebut. Pelatihan disini adalah suatu proses untuk mengembangkan mutu pelayanan KIA (Ibrahim. dan tanggal anmnesis. pemeriksaan. 1) Anamnesa Data-data yang dikumpulkan antara lain sebagai berikut. a) Identitas klien: nama. . c) Riwayat Haid. 5 atau training. b) Keluhan saat ini: Jenis dan sifat yang dirasakan ibu saat datang ketempat bidan/klinik. umur. alamat. 1996). ras/suku. gravid/para. penanganan tindak lanjut. b. pencatatan hasil pemeriksaan antenatal terpadu dan Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) yang efektif (Depkes RI. disini dapat kita dilihat dari kemauan dan kemampuan tinggi beradaptasi dengan masyarakat dan memberikan pelayanan kesehatan sesuai dengan tugas dan fungsinya sehingga dalam pelaksanaan tugas terlaksana secara optimal dan pasien pun mau melakukan kunjungan ulang kepukesmas tersebut dan bidan pun semakin termotivasi dalam memberikan pelayanan pemeriksaan ibu hamil kepada pasien sehingga dengan demikian kinerja bidan semain baik dan memuaskan (Mubarak. dan nomor telephone. sesuai dengan ketentuan yang berlaku. pekerjaan. Pelayanan antenatal terpadu terdiri dari: anamnesa. dkk. − Hari Pertama haid Terakhir (HPHT). agama. 2010:11). Kualitas Pelayanan Antenatal Pelayanan antenatal terpadu diberikan oleh tenaga kesehatan yang kompeten yaitu dokter.

− Gejala lain yang berhubungan. − Penjelasan kualitas (warna. − Hubungan fungsi tubuh dengan aktivitas. persalinan dan nifas kehamilan sebelumnya. − Gerakan bayi dalam kandungan. konsisten) dan kuantitas (banyaknya. f) Riwayat penyakit sekarang (berhubungan dengan masalah atau alasan datang). − Jumlah dan jenis kelamin anak hidup. − Tanggal terjadinya serangan. − Cara pemberian asupan bagi bayi yang dilahirkan. − Alur penyakit sejak serangan. − Faktor pencetus terjadinya serangan. atau jumlah). − Berat badan lahir. − Identifikasi penyulit (preeklampsia atau hipertensi dalam kehamilan). − Cara persalinan. . − Bantuan kesehatan yang dilakukan dan dari siapa. d) Riwayat kehamilan dan persalinan − Asuhan antenatal. − Penyakit lain yang diderita. − Bentuk serangan. − Lokasi spesifik − Tipe nyeri atau ketidaknyamanan dan intensitasnya. termasuk durasi dan serangan ulang. 5 − Usia Kehamilan dan Taksiran P Persalinan (Rumus Naegele: tanggal HPHT ditambah 7 dan bulan dikurangi 3). e) Riwayat kehamilan saat ini − Identifikasi kehamilan.volume. − Informasi dan saat persalinan atau keguguran terakhir.

atau vakum ekstraksi). infeksi kandungan. 3. kehamilan ganda. kelainan genetik. diabetes. 5 − Efektifitas perawatan dan pengobatan. dalam persalinan (malpresentasi.Masalah obstetrik. − Inkompatibilitas Rhesus. penyakit jantung. penyakit ginjal. − Tanggal terminasi. TB (tuberkulosis). dan lain- lain).Usia gestasi. − Paparan sinar X/Rontgen. g) Riwayat penyakit pada ibu − Penyakit yang pernah diderita. h) Riwayat penyakit pada keluarga − Kanker. dalam kehamilan (preeklamsia dan lain-lain). epilepsi. kelainan kongenital bayi dan komplikasi . berat lahir bayi. jenis kelamin bayi.Tempat lahir. forcep. alergi. − Pernah mendapat transfusi darah dan indikasi tindakan tersebut. drip oksitosin. − Infeksi Virus Berbahaya. 1. − Penyakit Jantung. − Alergi obat atau makanan tertentu. dan lain-lain). 4. medis dan sosial yang lain.Bentuk persalinan (spontan. 2. − Kelainan bawaan. kelainan darah (anemia dan lain-lain). − Tipe golongan darah (ABO dan Rh). − Kehamilan yang lalu.penyakit jiwa. i) Riwayat obstetric − Gravida/Para. bagaimana laktasi. riwayat keturunan kembar. SC. dalam nifas (perdarahan. hipertensi.

− Penyakit menular seksual. − Infeksi panggul. 2) Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik lengkap perlu dilakukan pada kunjungan awal wanita hamil untuk memastikan apakah wanita hamil tersebut mempunyai abnormalitas medisatau penyakit. l) Riwayat KB/kontrasepsi KB terakhir yang digunakan jika pada kehamilan perlu juga ditanyakan rencana KB setelah melahirkan (Hani Umi dkk. j) Riwayat ginekologi − Infertilitas. status kehidupan bayi. − Endometritis. jika meninggal apa penyebabnya. − Bedah ginekologi. − Pap smear abnormal. − Suhu − Nadi − Pernafasan − TB (tinggi badan) − BB sebelum dan pada saat pemeriksaan b) Umum − Kesesuaian penampakan usia − Status gizi umum . − Infeksi vagina. dan lain-lain. 2010: 86-90). 5 yang lain selain seperti ikterus. Berikut adalah pemeriksaan yang dilakukan: a) Pengukuran fisik/tanda-tanda vital − Tekanan darah. − Servisitas kronis. status bayi saat lahir (hidup/mati). k) Riwayat seksual.

gaya berjalan dan gerak tubuh. 4. tempat. dan pengeluarandari saluran luar telinga (bentuk dan warna). periksa payudara untuk mengetahui adanya retraksi atau dimpling. adakah kuning/ikterus pada skera. adakah pengeluaran secret. adakah choasma gravidarum. − Payudara 1. distres pernapasan. proses logika. − Apakah wajah pucat. dan simetris atau tidak. seperti sianosis. Adakah kolostrum atau cairan lain dari putting susu. wajah asimetris. depresi). Putting payudara menonjol. 5 − Penampakan status kesehatan − Tingkat emosi. perilaku umum (seperti bersahabat. 2. ukuran. batuk persisten − Temuan abnormalitas suara dan bicara. kesesuaian mood (ansietas. − Temuan kegagalan sistem. − Telinga: ketajaman pendengaran secara umum. orientasi waktu. Memeriksa bentuk. adakah gigi yang berlubang. abnormalitas tulang. − Leher: adakah pembesaran kelenjar tiroid. − Pada mata: adakah pucat pada kelopak mata bawah. luka. − Hidung: adakah pernapasan cuping hidung. adakah pembuluh limfe. atau masuk kedalam. ingatan. c) Kepala dan leher − Apakah ada edema pada wajah. Pada saat klien mengangkat tangan keatas kepala. . − Postur tubuh. orang. datar. menolak). 3. keadaan lidah. kooperatif.

Lihat adanya tukak/luka. hitung TBJ. dan cairan. Apakah kuku jari pucat 3. Linea nigra. 3. . keadaan pusat. Letak. Dinding vagina: cairan atau darah. tampakkah gerakan anak atau kontraksi rahim). presentasi. lakukan palpasi secara sistematis dari arah payudara dan aksila. 2. DJJ dan gerakan janin. Susu/kehangatan 5. 4. striae abdomen. Dengan mengurut uretra dan skene: adakah cairan atau nanah. 2. − Abdomen 1. konsistensi. Varises. 5. − Tangan dan kaki/ekstremitas 1. varises. Kelenjar Bartolini adakah: pembengkakan. jumlah. 3. posisi dan penurunan kepala janin. kemungkinan terdapat: massa atau perbesaran pembulu limfe. luka. 5 5. bau). Bentuk pembesaran perut (perut membesar ke depan atau ke samping. Pada saat klien berbaring. 6. nyeri goyang atau tidak. 4. Ukuran TFU. Adakah bekas operasi. luka/lesi. Edema 2. Refleksi patella − Genitalia eksternal 1. serviks sudah membuka atau belum. Serviks: adakah cairan atau darah. − Genitalia internal 1. cairan (warna. massa atau kista. 2.

apakah dibutuhkan penyuluhan. dan apakah perlu merujuk klien bila ada masalah-masalah terkait dengan sosial. pada langkah ini tugas bidan adalah merumuskan rencana asuhan sesuai dengan hasil pembahasan rencana asuhan bersama klien kemudian membuat kesepakatan . konseling. sebaiknya pada multigravida anamnesis mengenai persalinan yang gampang dapat memberikan keterangan yang berharaga mengenai keadaan panggul. klien juga akan melaksanakan rencana tersebut. yaitu oleh bidan dan klien agar dapat dilaksanakan dengan efektif karena selain bidan. 2. Pemeriksaan USG 3) Diagnosa Kebidanan Diagnosis kebidanan adalah diagnosis yang ditegakkan bidan dalam lingkup praktik kebidanan dan memenuhi standar nomenklatur diagnosis kebidanan (Hani Umi dkk. rasa nyeri. − Pemeriksaan panggul Keadaan panggul terutama penting pada primagravida. Oleh karena itu. bentuk dan posisi. 2010: 97-99). massa. Pemeriksaan laboratorium. tetapi juga dari kerangka pedoman antisipasi terhadap wanita tersebut. ekonomi. mobilitas. Uterus: ukuran. 4) Intervensi / Implementasi Rencana asuhan menyeluruh (intervensi) tidak hanya meliputi apa yang sudah teridentifikasi dari kondisi klien atau dari setiap masalah yang berkaitan. karena panggulnya belum pernah diuji dalam persalinan. apa yang diperkirakan akan terjadi berikutnya. Pemeriksaan rontgen 3. 5 3. − Pemeriksaan penunjang 1. kultural atau masalah psikologis. Setiap rencana asuhan haruslah disetujui oleh kedua belah pihak.

3. kebutuhan bayi. ia tetap memikul tanggung jawab untuk melaksanakan rencana asuhannya (missal memastikan langkah tersebut benar-benar terlaksana) (Hani Umi dkk. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Setiap ibu hamil dianjurkan untuk menjaga kebersihan badan selama kehamilan misalnya mencuci tangan sebelum makan. Setiap ibu hamil perlu mendapatkan dukungan dari keluarga terutama suami dalma kehamilanya. Perencanaan ini bisa dilakukan seluruhnya oleh bidan. atau anggota tim lainnya. sebagaian lagi oleh klien. Kesehatan ibu. menggosok gigi setelah sarapan dan sebelum tidur serta melakukan olahraga ringan. mandi dua kali sehari dengan menggunakan sabun. Hal ini penting apabila terjadi komplikasi kehamilan. 5 bersama sebelum melaksanakanya. persalinan dan nifas serta kesiapanmenghadapi komplikasi. 4. . 5) Komunikasi Informasi dan Edukasi Komunikasi Informasi Edukasi (KIE) efektif dilakukan pada setiap kunjungan antenatal yang meliputi: 1. keluarga atau masyarakat perlu menyiapkan biaya persalinan. Setiap ibu hamil dianjurkan untuk memeriksakan kehamilannya secara rutin ketenaga kesehatan dan menganjurkan ibu hamil agar beristirahat yang cukup selama kehamilanya (sekitar 9-10 jam perhari) dan tidak bekerja berat. Walau bidan tidak melakukan sendiri. Tanda bahaya pada kehamilan. Peran suami / keluarga dalam kehamilan dan perencanaan persalinan. 2010: 94). transportasi rujukan dan calon donor darah. 2. persalinan dan nifas agar segera dibawa ke fasilitas kesehatan. Suami.

7. 6) Dokumentasi Kebidanan Dokumentasi merupakan suatu catatan otentik atau dokumen asli yang dapat dijadikan bukti dalam persoalan hukum (Wildan. Setiap ibu hamil harus tau mengenai gejala-gejala penyakit menular (misalnya penyakit IMS. Tuberculosis) dan penyakit tidak menular (misalnya hipertensi) karena dapat mempengaruhi pada kesehatan ibu dan janinnya. Gejala penyakit menular dan tidak menular. Asupan gizi seimbang. 5 5. Imunisasi Setiap ibu hamil harus mendapatkan imunisasi Tetanus Toksoid (TT) untukmencegah bayi mengalami tetanus neonatorum. Penawaran untuk melakukan konseling dan testing HIV di daerah tertentu (risiko tinggi). 6. Selama hamil. Inisiasi menyusu dini (IMD) dan pemberian ASI ekslusif/ 9. ibu dianjurkan untuk mendapatkan asupan makanan yang cukup dengan pola gizi yang seimbang karena hal ini penting untuk proses tumbuk kembang janin dan derajat kesehatan ibu. Peningkatan kesehatan intelegensia pada masa kehamilan (Depkes RI. Model dokumentasi yang digunakan dalam askeb adalah dalam bentuk catatan perkembangan. 8. 2012:1). Dokumentasi dalam asuhan kebidanan adalah suatu pencatatan yang lengkap dan akurat terehadap keadaan/kejadian yang dilihat dan dilakukan dalam pelaksanaan asuhan kebidanan (proses asuhan kebidanan). karena . 2010:18). 11. 10. Misalnya ibu hamil disarankan minum tablet tambah darah secara rutin untuk mencegah anemia pada kehamilannya. KB paska persalinan.

KB. dll). pelaporan mengikuti formulir yang ada pada program tersebut. 2012:120). TB. dan UKBM lainnya) yang memberikan pelayanan antenatal di wilayah kerja puskesmas. gizi. 2. 5 bentuk asuhan yang diberikan berkesinambungan dan menggunakan proses yangterus menerus (metode SOAP). penyuluhan. 1. swasta. Pelaporan Pelaporan pelayanan antenatal terpadu menggunakan formulir pelaporan yang sudah ada. yaitu : − LB3 − KIA − PWS KIA − PWS Imunisasi Untuk lintas program terkait. sebaiknya melaporkan . Tenaga kesehatan (baik difasilitas pelayanan kesehatan pemerintah. − Pencatatan dari program yang sudah ada (Catatan dari Imunisasi. tindakan rutin. Pencatatan Pencatatan pelayanan antenatal terpadu menggunakan formulir yang sudah ada yaitu : − Kartu Ibu atau rekam medis lainnya yang disimpan di fasilitas kesehatan. merupakan kumpulan data-data dari kartu ibu. dari Malaria. rujukan dan evaluasi) (Mufdlilah. SOAP S = Data informasi yang subjektif (mencatat hasil anamnesis) O = Data informasi objektif (hasil pemeriksaan. tindakan segera. observasi) A = Mencatat hasil analisa (diagnosa dan masalah kebidanan) P = Mencatat seluruh penatalaksanaan (tindakan. antisipasi. − Buku KIA (dipegang ibu). support. − Register kohort ibu.

2010:8). Faktor Layanan Kesehatan a. 2) Alat dan Obat Bidan dalam menjalankan praktik perorangan sekurang- kurangnya harus memiliki peralatan dan kelengkapan administrative. Sedangkan fasilitas suatu alat atau sarana untuk mendukung melaksanakan tindakan/kegiatan. pengelolaan yang baik dan mudah diperoleh serta pencatatan dan pelaporan yang lengkap dan konsisten (Depkes RI. Sumber Daya 1) Fasilitas Kesehatan Lingkungan dan fasilitas/alat merupakan sarana yang mendukung untuk melaksanakan tindakan atau kegiatan. 10. Standar alat asuhan antenatal terdiri atas: a) Tensimeter b) Stetoskop c) Stetoskop monokuler d) Termometer . kimia dan bakteriologik. 2010:22). 2013:8). peralatan. pencahayaan yang cukup. Lingkungan meliputi ruangan pemeriksaan ibu hamil yang memenuhi standar kesehatan yaitu tersedianya air bersih yang memenuhi syarat fisik. ventilasi yang cukup serta terjamin keamananya. 5 rekapitulasi hasil pelayanan antenatal terpadu setiap awal bulan ke puskesmas atau disesuaikan dengan kebijakan daerah masing-masing (Depkes RI. obat-obatan dan kelengkapan administrasi (KemenKes RI. Selain itu Obat-obatan yang dapat digunakan dalam melakukan praktik sebagaimana tercantum dalam Lampiran I dan II Peraturan Kemenkes (2010). Bidan dalam menjalankan praktik perorangan harus memenuhi persyaratan yang meliputi tempat dan ruangan praktik. tempat tidur.

. Faktor latar belakang meliputi pengetahuan. reduksi) j) Kom k) Bengkok l) Pita pengukur m) Tempat sampah n) Bahan habis pakai (kapas DTT. 12. tissue. 5 e) Timbangan f) Reflek hamer g) Alat pemeriksaan Hb (sahli) h) Blood lancet i) Set pemeriksaan urine (protein. Demografis Faktor demografis adalah faktor-faktor yang mempengaruhi ibu hamil dalam mempengaruhi kunjungan ibu hamil di pelayanan kesehatan. o) Tablet Fe (tambah darah) p) Vaksin TT(Karwati. spiut). Latar Belakang Faktor latar belakang ibu hami juga mempengaruhi kunjungan kehamilan. b. Pekerjaan Pekerjaan mempengaruhi perilaku seseorang dalam melakukan pemeriksaan kehamilan. Faktor Ibu Hamil a. 11. 2011:90). dukungan keluarga dan pendidikan. 2008). Ibu yang bekerja lebih banyak memiliki kesempatan untuk berinteraksi dengan orang lain sehingga lebih banyak peluang untuk mendapatkan informasi tentang kehamilan dan persalinan dibandingkan ibu yang tidak bekerja (Maulana. sarung tangan. Ibu yang bekerja mempunyai cara pandang yang lebih baik dari pada ibu yang tidak bekerja.

Selain itu. pendidikan merupakan faktor yang memotivasi seseorang dalam bersikap dan berperilaku. c. b. Semakin tinggi pendidikan seseorang maka diharapkan semakin mudah seseorang untuk menyerap pengetahuan yang diperolehnya. Kasih sayang keluarga dan keinginan ingin mendapatkan keturunan akan sangat membantu dalam upaya antenatal care. berpisah setelah persalinan karena perkawinan yang dipaksakan. dengan adanya pendidikan yang sebagian besar SMA maka akan berpengaruh terhadap pengetahuan dan sikap tentang pelayanan dan kunjungan antenatal. dan perilaku sehat selama kehamilan. frekuensi kunjungan ANC. standar pelayanan ANC. Peningkatan pengetahuan tidak mutlak diperoleh dipendidikan formal. Tingkat Pendidikan Menurut penelitian Munib (2006) bahwa pendidikan merupakan salah satu faktor yang menentukan luasnya wawasan dan pengetahuan seseorang secara umum. 5 a. akan tetapi juga dapat diperoleh pada pendidikan non formal. Itulah sebabnya motivasi keluarga sangat penting agar . Kehamilan yang tidak dikehendaki dapat menimbulkan hal-hal berikut. Dukungan Keluarga Motivasi keluarga merupakan suatu dukungan psikososial yang mampu memberikan kekuatan emosional kepada ibu. (2012) pengetahuan ibu hamil tentang antenatal care meliputi tujuan ANC. Namun perlu ditekankan bahwa seseorang yang berpendidikan rendah tidak berarti mutlak berpengetahuan rendah pula. tempatpelaksanaan ANC. Tingkat Pengetahuan Menurut penelitian Puspita P. upaya mengakhiri kehamilan dengan menggugurkan kandungan. sampai terjadi persalinan yang diakhiri dengan kebahagiaan keluarga. keluhan hamil yang berlebihan. ketidakseimbangan jiwa menghadapi kehamilan dan persalinan.

Faktor Keterjangkauan Keterjangkauan tempat pelayanan sangat menentukan terhadap pelayanan kesehatan. Pengendalian dan . Rangkaian kegiatan sistematis yang dilaksanakan oleh Puskesmas membentuk fungsi-fungsi manajemen. Manajemen Puskesmas Untuk terselenggaranya berbagai upaya kesehatan yang sesuai dengan azas penyelenggaraan puskesmas. terorganisir. Pelaksanaan dan Pengendalian. manajemen diartikan sebagai sebuah proses perencanaan. perlu ditunjang oleh manajemen puskesmas yang baik. di tempat terpencil ibu hamil sulit memeriksakan kehamilannya. 2. hal ini karena transportasi yang sulit menjangkau samapi tempat terpencil. Efektif berarti bahwa tujuan dapat dicapai sesuai dengan perencanaan. pengorganisasian. 2013).H. B. Ada tiga fungsi manajemen Puskesmas yang dikenal yakni Perencanaan. Selain itu jarak yang jauh dari pusat layanan kesehatan juga mempengaruhi kunjungan ibu hamil (Hasanah. dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran secara efektif dan efesien. serta Pengawasan dan Pertanggungjawaban (pada masa sebelumnya fungsi manajemen ini lebih dikenal dengan P1. pengkoordinasian. dan sesuai dengan jadwal. P3 yaitu P1 sebagai Perencanaan. Definisi Manajemen Menurut Griffin (2000). 2006). Manajemen 1. 13. P2. sementara efisien berarti bahwa tugas yang ada dilaksanakan secara benar. Manajemen puskesmas adalah rangkaian kegiatan yang bekerja secara sistematik untuk menghasilkan luaran puskesmas yang efektif dan efisien.. 5 ibu tidak merasa takut menghadapi kehamilan dan persalinan (Manuaba. P2 sebagai Penggerakan Pelaksanaan dan P3 sebagai Pengawasan.

. 5 Penilaian). Semua fungsi manajemen tersebut harus dilaksanakan secara terkait dan berkesinambungan.

Desa Ngereco merupakan desa yang paling luas daerahnya yaitu 476 Ha sedangkann yang terkecil adalah desa Grogol 213 Ha. Batas-batas Kecamatan Sebelah Utara : Kecamatan Tawangsari Sebelah Timur : Kecamatan Manyaran Kab. Kecamatan Weru terdiri dari 13 desa. DIY Sebelah barat : Kabupaten Klaten Wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Weru terdiri sebagian besar terdiri dari dataran rendah dan sebagian lain berupa dataran tinggi berupa bukit-bukit batu dan kapur sehingga sebagian wilayah di Kecamatan Weru rawan longsor karena struktur tanahnya. Menurut jenis . mata pencaharian penduduk bermacam-macam antara lain petani.168 Ha pada tahun 2012. Kecamartan weru terletak di daerah dengan ketinggial 118 m diatas permukaan laut. Wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Weru terdiri sebagian besar terdiri dari dataran rendah dan sebagian lain berupa dataran tinggi berupa bukit-bukit batu dan kapur sehingga sebagian wilayah di Kecamatan Weru rawan longsor karena struktur tanahnya. 5 BAB III METODE PENERAPAN KEGIATAN A. pedagang.7% dari luas total lahan bukan sawah. Keadaan Umum Kecamatan Weru 1. berbatasan dengan Kecamatan Bulu. Sesuai dengan geografis wilayah Kecamatan Weru.98 km2. pencari batu. wilayah kecamatan Weru berupa area persawahan. Menurut jenis penggunaannya. Wonogiri Sebelah selatan : Kecamatan Semin. Luas lahan bukan sawah yang di gunakan untuk pekarangan sebesar 64. pemukiman dan bukit-bukit terutama di wilayah timur. dengan luas wilayah 41. dan lain sebagainya. Kecamatan Manyaran dan Kecamatan Semin. Wilayah Kecamatan Weru Kecamatan Weru merupakan salah satu Kecamatan di Lingkungan Kabupaten Sukoharjo dengan luas wilayah 4.

7 335 5 Jatingarang 120 12 140 25 24 321 6 Karang Anyar 139 10 134 15 10 308 7 Alasombo 94 40 194 125 7 460 8 Karang Mojo 38 65 105 139 24 371 9 Weru 195 19 71 . wilayah kecamatan Weru berupa area persawahan. Sesuai dengan geografis wilayah Kecamatan Weru. Hutan Lainnya Jumlah No Desa Sawah Tegal Rangan Rakyat 1 2 3 4 5 6 7 8 1 Grogol 147 . 4 280 11 Tegalsari 230 5 86 . pedagang. 5 213 2 Karang Tengah 133 3 101 . berbatasan dengan Kecamatan Bulu. mata pencaharian penduduk bermacam-macam antara lain petani. pemukiman dan bukit-bukit terutama di wilayah timur. 25 262 3 Karang Wuni 133 1 74 . pencari batu. 15 336 . 20 228 4 Krajan 190 43 95 . 5 penggunaannya. dan lain sebagainya. Berikut tabel wilayah menurut jenis penggunaan : Luas wilayah menurut penggunaan Tanah Tanah Peka. 7 292 10 Karakan 164 10 102 . Kecamatan Manyaran dan Kecamatan Semin. 61 .

Pertumbuhan. Peta Wilayah Kecamatan Bulu 2.198 Sumber : Monografi Kecamatan Weru Gambar 4.866 287 435 414 196 4. Keadaan Penduduk Kecamatan Bulu a.150 jiwa dengan jumlah kelahiran penduduk laki-laki sebesar 386 jiwa . 5 12 Tawang 167 17 96 14 22 316 13 Ngreco 116 62 176 96 26 476 JUMLAH 1.Kepadatan Penduduk dan Tingkat Pendidikan Jumlah penduduk Kecamatan Weru tahun 2015adalah 68.

043 1. Tingkat pendidikan penduduk mempengaruhi status kesehatan. tingkat pendidikan penduduk di wilayah Puskesmas Kecamatan Weru dapat dilihat pada tabel berikut : No Nama Desa Blm Tidak Tamat Tamat Tamat Diploma S1 pernah tamat SD SMP SMA sekolah SD 1 GROGOL 288 667 118 385 1.155 dengan kepadatan penduduk 1623.766 745 312 40 20 8 KARANGMOJO 572 3. Sebagai gambaran.902 248 65 12 TAWANG 330 609 1.597 1.625 929 50 62 Sumber : Monografi Kecamatan Weru B.022 1. Sebagai pedoman teknis telah banyak disusun peraturan antara lain : Kepmenkes RI Nomor .230 733 359 102 89 5 JATINGARANG 290 519 1.39 per Km2 jiwa. 5 dan 372 jiwa pada tahun 2014.052 391 292 109 3 KARANGWUNI 187 790 332 332 477 137 34 4 KRAJAN 381 799 1.424 dengan jumlah rumah tangga (KK) sebesar 16. Dasar Melalui UU no 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah telah menetapkan bidang kesehatan merupakan salah satu kewenangan wajib yang harus dilaksanakan Kabupaten. Jumlah penduduk miskin tahun 2015 adalah 28.730 783 1.043 1. Profil Puskesmas Weru 1.321 572 822 536 58 27 9 WERU 327 469 379 1.658 1.158 187 228 2 KARANGTENGAH 88 339 1.334 200 84 13 NGRECO 111 108 1.902 236 65 10 KARAKAN 563 686 693 526 614 311 106 11 TEGALSARI 427 769 679 1. karena perilaku salah satunya dipengaruhi oleh pendidikan.301 557 42 44 6 KARANGANYAR 1886 366 876 834 758 145 40 7 ALASOMBO 248 826 1.

bermutu. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan secara profesional. 5 574/Menkes/SK/VI/2000 tentang Kebijakan Pembangunan Kesehatan Menuju Indonesia Sehat 2010 dan Pedoman Penetapan Indikator Provinsi Sehat dan Kabupaten Sehat dan Kepmenkes RI Nomor 1457/Menkes/SK/X/2003 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan Kabupaten / Kota di Provinsi Jawa Tengah. 3. . tersedianya akses terhadap air bersih. berperilaku bersih dan sehat. Visi Visi Pembangunan Kesehatan di Puskesmas Kecamatan Weru yang dimaksud adalah menjadi sentral pelayanan kesehatan pilihan pertama masyarakat weru dan sekitarnya. memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil. Lingkungan sehat yang diharapkan adalah suatu lingkungan yang kondusif bagi terwujudnya keadaan sehat yaitu lingkungan bebas polusi. merata dan terjangkau serta memiliki derajat kesehatan setinggi-tingginya. 2. Adapun pengertian dari Kecamatan Sehat adalah masyarakat di Kecamatan Weru yang hidup dalam lingkungan yang sehat. efektif dan paripurna serta terjangkau masyarakat weru dan sekitarnya. Adapun Misi Puskesmas Kecamatan Weru adalah : 1. Meningkatkan kualitas SDM untuk memenuhi kebutuhan dan harapan masyarakat. Misi Misi mencerminkan peran dan fungsi dan kewenangan seluruh jajaran organisasi kesehatan di Kecamatan Weru yang secara teknis bertanggung jawab terhadap pencapaian tujuan dan sasaran pembangunan kesehatan. 2. sanitasi memadai dan terwujudnya kawasan pemukiman beserta perencanaan pembangunan berwawasan kesehatan.

Pengendalian dan . Misi dari Puskesmas Kecamatan Weru sesuai dengan misi Pembangunan Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Sukoharjo yaitu : 1. Memelihara dan meningkatkan mutu pemerataan dan keterjangkauan pelayanan kesehatan. 2. masyarakat dan lingkungan maka Program Pencegahan. Kes bermutu Mortalistas dan Status Mortalitas terjangkau dan merata Gizi b. Memelihara dan meningkatkan kesehatan perorangan. proses dan hasil pembangunan kesehatan Kecamatan Weru dapat digambarkan sebagai berikut : Masukan Proses Hasil Antara Hasil Pembangunan kesehatan Lingkungan Sehat Derajat Kesehatan Pelayan kesehatan Perilaku hidup bersih Morbilitas dan sehat Manajemen Kesehatan Pel. 3. Tanggap dan Akurat untuk kesehatan masyarakat 5. 5 3. Kontribusi Lintas sektoral 1. keluarga. Program Pembangunan Kesehatan Tahun 2015 Secara ringkas alur masukan. Menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan. Program Pencegahan. masyarakat dan lingkungan. Meningkatkan pengetahuan sikap dan perilaku masyarakat untuk hidup sehat dan peningkatan peran sertanya terutama dalam promotif dan presentif. 4. 4. Mendorong kemandirian masyarakat agar berperilaku hidup sehat. keluarga. Motto Cepat. Pengendalian dan Penyehatan Lingkungan Masyarakat Sesuai dengan Misi Pembangunan Kesehatan tentang menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan juga memelihara dan meningkatkan kesehatan perorangan.

indikator pelaksanaan dan target tahun 2014 sebagai berikut :  Monitoring kualitas air bersih dan air minum: 100 %  Penyehatan lingkungan: 100 %  Penyehatan tempat-tempat umum :100 %  Pembinaan sekolah sehat: 90 %  Penyehatan makanan dan minuman: 100 %  Promosi kesehatan masyarakat: 90 %  Pemberdayaan masyarakat: 90 % . Adapun kegiatan pokok. sosial budaya dengan memaksimalkan potensi sumber daya secara mandiri.  Meningkatnya kesadaran dan cakupan industri yang telah mengelola limbah dengan aman. 5 PenyehatanLingkungan Masyarakat ( P2PL ) sangat berperan dalam mencapai keberhasilan misi tersebut.  Meningkatnya perwujudan kepedulian perilaku hidup bersih dan sehat dalam kehidupan masyarakat.  Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam bidang kesehatan melalui pengembangan upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat.  Terselenggaranya upaya peningkatan lingkungan fisik.  Terpenuhinya persyaratan kesehatan di rumah sakit termasuk pengelolaan limbahnya.  Terbentuknya institusi pembina dan meningkatnya pelayanan kesehatan dan keselamatan kerja.  Meningkatnya cakupan keluarga yang mempunyai akses terhadap air bersih dan jamban sehat yang memenuhi persyaratan kesehatan. Sasaran dari PLPM adalah :  Meningkatnya kerjasama lintas sektoral sebagai faktor pendorong keberhasilan pembangunan kesehatan.

pelayanan komunitas farmasi.Kes: 80 %  Pelayanan Askes wajib: 100 %  Pelayanan laboratorium: 80 %  Pengelolaan obat dan gudang farmasi: 90 %  Pembinaan BP / RB Swasta: 70 % . Program Peningkatan Pelayanan Kesehatan Misi Pembangunan Kesehatan tentang memelihara dan meningkatkan mutu.  Tersusunnya kebijakan dan konsep pelayanan kesehatan yang mendukung desntralisasi.  Meningkatnya perlindungan masyarakat dari bahaya penyalahgunaan NAPZA.  Terpenuhinya kebutuhan obat esensial dasar bagi pelayanan kesehatan. pemerataan pelayanan kesehatan dasar dan rujukan serta kepuasan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan.  Terjaminnya mutu pengelolaan obat di gudang Puskesmas. meningkatkan pembinaan terhadap pelayanan farmasi. meningkatkan jaminan keamanan masyarakat dari produk makanan dan minuman serta bahan tambahan yang tidak memenuhi syarat kesehatan. sosialisasi dan perlindungan pada masyarakat dari bahaya NAPZA. ketersediaan obat public.  Meningkatnya manajemen di Puskesmas. pemerataan dan keterjangkauan pelayanan kesehatan.  Meningkatnya pengawasan. pembinaan. masyarakat dan desa sehat: 50 % 2. pengendalian produk makanan dan minuman. indikator pelaksanaan dan target 2015 adalah :  Peningkatan mutu pelayanan kesehatan dasar : 100 %  Pelayanan rawat jalan : 100 %  Pelayanan JKN / BPJS Bid. 5  Peningkatan PHBS di tatanan sekolah. Kegiatan pokok.  Meningkatnya penggunaan obat secara rasional. pengawasan. Sasaran program :  Meningkatnya mutu.  Meningkatnya pembinaan.

tercapainya angka kesembuhan TB Paru.  Berkembangnya sistem kewaspadaan dini kejadian luar biasa. ibu hamil. pes dan tetanus neonatorum. malaria dan kusta. 5  Pendataan perijinan sarana kesehatan: 80 %  Pendataan jamaah haji: 90 %  Pelaksanaan program penanggulangan bencana: 100 %  Pelaksanaan program PPPK hari besar / khusus: 100 % 3. Program Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit dibagi menjadi tiga sub unit yaitu :  Sub unit Pencegahan / imunisasi penyakit tidak menular. menurunnya angka kematian pneumonia balita dan diare balita serta pencegahannya.  Sub unit penyakit menular karena binatang. indikator pelaksanaan dan targetnya adalah :  Pengamatan penyakit menular dan tidak menular : 80 %  Penanggulangan KLB : 80 % . pencegahan dan penanggulangan bencana secara terpadu dengan melibatkan peran serta aktif masyarakat. Sasaran program :  Menurunnya angka kesakitan Demam Berdarah.  Menurunnya angka kesakitan penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi dengan prioritas pada bayi.  Tercagahnya kejadian luar biasa.  Sub unit penyakit menular langsung. anthraks. Program Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Tujuan dari program ini adalah meningkatkan dan pemerataan kualitas pelayanan pencegahan dan pemberantasan penyakit.  Tersedianya data dan informasi penyakit tidak menular. peningkatan prevalensi infeksi HIV. balita. anak sekolah dan WUS.  Terbebasnya wilayah kerja puskesmas weru dari penyakit rabies. Adapun kegiatan pokok. menanggulangi kejadian luar biasa dan penanggulangan bencana.

anemia dan KEK pada ibu hamil. intelektualitas dan produktivitas sumber daya manusia. BGT. prevalensi gangguan akibat kekurangan Yodium. cakupan pelayanan ante-post- neonatal. Program Peningkatan Kesehatan Keluarga Tujuan dari program ini adalah meningkatnya mutu dan pemerataan kualitas pelayanan keluarga dan status gizi masyarakat dalam rangka meningkatkan kemandirian. cakupan pembinaan kesehatan anak balita. Program kesehatan keluarga dibagi dalam beberapa sub unit yaitu :  Kesehatan Ibu dan Keluarga Berencana  Kesehatan Anak  Gizi  Kesehatan Lansia Sasaran Program :  Meningkatnya pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan. BGM. cakupan penanganan resti kebidanan.  Terbebasnya masyarakat dari kekurangan vitamin A. pemberian ASI eksklusif dan pemberian PMT.  Menurunnya prevalensi bayi lahir BBLR. Adapun kegiatan pokok. 5  Cakupan imunisasi pada bayi / balita : 100 %  Cakupan imunisasi WUS: 85 %  Cakupan BIAS: 100 %  Pengelolaan dan pemberantasan penyakit : 85 % 4.  Meningkatnya pelayanan kesehatan remaja di luar sekolah dan pelayanan kesehatan usia lanjut. pra sekolah. gizi buruk pada bayi dan balita. indikator pelaksanaan dan target dari program tersebut adalah :  Pemantauan dan penanganan ibu maternal: 90 %  Pemantauan dan penanggulangan ibu hamil Resti : 100 % .  Meningkatnya prosentase rumah tangga yang menggunakan garam beryodium.

Program Peningkatan Sumber Daya Kesehatan Untuk mencapai semua program yang telah dicanangkan tentunya tidak bisa lepas dari sumber daya baik itu SDM maupun sarana dan prasarana yang menunjang dalam pelaksanaan program. Tujuan program ini adalah meningkatkan jumlah. 5  Cakupan K 1 ibu hamil: 100 %  Cakupan kunjungan K4 ibu hamil : 95 %  Cakupan persalinan tenaga kesehatan : 90 %  Pemantauan dan penanggulangan Neo resti: 100 %  Cakupan KN : 95 %  Cakupan KN 2: 95 %  Deteksi tumbuh kembang anak: 80 %  Peningkatan kesehatan reproduksi remaja: 50 %  Pemantauan dan penanggulangan kesehatan lansia : 100 %  Pemantauan dan penanggulangan gizi buruk pada bayi.  Tersedianya peralatan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat . meningkatkan ketersediaan sarana prasarana dan dukungan logistik yang semakin merata. meningkatkan jumlah efektifitas dan efesiensi penggunaan biaya kesehatan. mutu dan penyebaran tenaga kesehatan. balita dan ibu hamil anemia : 100 %  Cakupan Fe 30 / Fe 9 : 90 %  Pemantauan penggunaan garam beryodium : 85 %  Cakupan Vit A dosis tinggi : 100 % 5. Sasaran program :  Tersedianya berbagai tenaga kesehatan yang sesuai dan mendukung konsep paradigma baru puskesmas.  Berkembangnya sistem pembiayaan pra upaya dalam bentuk JPKMM ataupun asuransi kesehatan yang lain. terjangkau dan dimanfaatkan oleh masyarakat.

a.Desa Karakan  Desa Jatingarang . 5  Tersedianya perbekalan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.Desa Weru  Desa Krajan .Desa KArangtengah  Desa KAranganyar . Sarana dan Prasarana Puskesmas Wilayah kerja Puskesmas Bulu meliputi wilayah Kecamatan.Desa Tegalsari  Desa KArangmojo . Adapun kegiatan pokok.Desa Grogol  Desa Alasmombo . Puskesmas mempunyai tanggung jawab terhadap wilayahnya artinya Puskesmas mempunyai wewenang dan tanggung jawab atas pemeliharaan kesehatan diwilayah kerjanya. Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Bulu mempunyai wilayah 13 Desa :  Desa Karang Weni . DIY − Sebelah barat : Kabupaten Klaten . Wonogiri − Sebelah selatan : Kecamatan Semin. indikator pelaksanaan dari manajemen kesehatan meliputi :  Presentase anggaran kesehatan terhadap APBD : 100 %  Monitoring dan evaluasi program kesehatan : 85 %  Ketersediaan sarana dan prasarana: 90 %  Rehab / pembangunan fisik Puskesmas : 90 %  Perbaikan mobil pusling: 80 % 5.Desa Kawang  Desa Ngereco Dengan batas-batas wilayah kerja sebagai berikut : − Sebelah Utara : Kecamatan Tawangsari − Sebelah Timur : Kecamatan Manyaran Kab.

. Bangunan Milik Desa 5 PONED 1 Operasional 1 Januari 2014 Sampai Sekarang 6 RUANG PERPUSTAKAAN 1 Di Puskesmas Induk c. 5 b. Ketenagaan Klasifikasi pegawai berdasarkan fungsi : No Sumber Daya JML Keterangan 1 Dokter Umum 6 6 PNS 2 Dokter Gigi 2 2 PNS 3 Perawat / Perawat Gigi 17 16 PNS / 1 PNS 4 Radiografer 1 1 PNS 5 Pelaksana Farmasi 2 2 PNS. Sarana dan Prasarana No NAMA GEDUNG JUMLAH KETERANGAN 1 BangunanPuskesmas Induk 1 Keadaan Baik (RJ Dan RI) 2 Bangunan Pustu 5 Keadaan Baik 3 Bangunan Rumah Dinas 1 Watukelir Perlu Rehap . Keadaan Dokter Rusak Parah 4 PKD 11 Kondisi Baik.

Sub. Bag. Tata Usaha c. Kepala Puskesmas b. Unit UKM Pengembangan e. Unit UKM Esensial dan Keperawatan Kesehatan Masyarakat d. terdiri dari: a. Susunan Organisasi Susunan organisasi Puskesmas Weru. Unit Jaringan Pelayanan Puskesmas dan Jejaring Fasilitas Kesehatan . 5 6 PKL 1 1 PNS 7 Pelaksana Laborat 3 3 PNS 8 Bidan Puskesmas 19 19 PNS 9 Bidan Desa 13 13 PNS 10 Gizi 2 2 PNS 11 Staf 15 15 PNS 12 Fisioterapi 1 1 PNS 13 Rekam Medik 1 1 PNS 14 Penjaga Malam 2 1 THL 15 Cleaning Servis 2 2 THL 16 Tenaga Lainya 3 3 THL 17 Bagian Dapur 2 2 THL Jumlah 91 83 dan 8THL 6. Unit UKP Kefarmasian dan Laboratorium 1.

5 C. AKB dan AKBa 5. Daftar Masalah 1. proses kehamilan dan persalinan yang aman dan memuaskan. Karangwuni 96. Tabel 14. memantau kemungkinan adanya risiko-risiko kehamilan. Karangtengah 98.3 Belum SPM 5. persalinan dan nifas serta mengusahakan bayi yang dilahirkan sehat. Balita dan Gizi Buruk 2. dan menurunkan morbilitas dan mortalitas ibu dan janin perinatal. Karanganyar 76 Belum SPM 7. K4 yang rendah.4 Sudah SPM 6. Masalah yang akan dianalisa adalah kurangnya pencapaian kunjungan K4. 1. Masalah tersebut kami pilih dikarenakan kunjungan K4 memperlihatkan kinerja persentase ibu hamil dalam mendapatkan pelayanan ANC yang bertujuan untuk menjaga agar ibu sehat selama kehamilan.5 Sudah SPM 4.data kunjungan K4 di Puskesmas Weru tahun 2016 didapatkan dari data pencapaian K4 di Puskesmas Weru tahun 2016. Krajan 83. Laporan Pencapaian K4 Bulan Desember 2016 (Target 95%) No. Balita Gizi Kurang 3. Alas ombo 104. merencanakan penatalaksanaan yang optimal terhadap kehamilan risiko tinggi. Jatingarang 107. Oleh karena itu. Neonatal Resti 4. Desa Pencapaian % Ket. Grogol 64 Belum SPM 2.6 Sudah SPM .1 Sudah SPM 3.

data kunjungan K4 didapatkan dari 13 desa di Kecamatan Weru Kabupaten Sukoharjo.2 Belum SPM 11. Weru 86. Man a. Kurangnya pengetahuan ibu hamil dan keluarga tentang pentingnya pemeriksaan hamil sedini mungin. Kurangnya koordinasi antara bidan desa. Karangmojo 85. 5 8. d.5 Belum SPM 14. Adanya kepercayaan turun temurun yang masih dianut oleh beberapa ibu hamil bahwa melahirkan di tempat pelayanan kesehatan lebih berbahaya dibandingkan melahirkan oleh dukun beranak. Kurang lengkapnya pencatatan pelaporan yang dilakukan oleh petugas pelayanan kesehatan. 2.7 Belum SPM Di Puskesmas Weru. Puskesmas 88. Tegalsari 100 Sudah SPM 12. Method a. Karakan 74. b. Tawang 88.7 Belum SPM 10. dukun dan ibu hamil. Kurangnya keterlibatan tokoh agama dan tokoh masyarakat dalam mensosialisasikan pentingnya pemeriksaan hamil sejak dini. Penyebab masih rendahnyakunjungan K4 di Kecamatan Weru tahun 2016 antara lain dikarenakan: 1.7 Belum SPM 13. b. Ngerco 87. . Motivasi dan loyalitas kader desa yang masih kurang. Pencapaian kunjungan K4 sampai bulan Desember 2016 yaitu 88.7% lebih rendah dari target yaitu 95%.7 Belum SPM 9. c.

Belum semua puskesmas pembantu melakukan pemeriksaan laboratorium dasar bagi ibu hamil. Kurangnya pembinaan yang diberikan oleh petugas pelayanan kesehatan terhadap ibu hamil. 5 c. Desa yang jaraknya jauh dari pusat pelayanan kesehatan. Tabel 15. b. Akses yang masih susah terjangkau karena keadaan jalan yang buruk. Kurangnya alat peraga dalam pelaksanaan penyuluhan di masyarakat. 3. Daftar Masalah M I V (C) MxIxV C Kurangnya pengetahuan ibu hamil dan 3 3 3 1. Material a. Motivasi dan loyalitas kader desa yang masih 3 3 4 4 9 kurang. Adanya kepercayaan turun temurun yang 4 5 3 3 20 masih dianut oleh beberapa ibu hamil bahwa melahirkan di tempat pelayanan kesehatan lebih berbahaya dibandingkan melahirkan oleh dukun beranak 4. . Matrikulasi Daftar Masalah Efektifitas Efisiensi Jumlah No. keluarga tentang pentingnya pemeriksaan 5 5. Kurangnya keterlibatan tokoh agama dan 4 5 4 2 40 tokoh masyarakat dalam mensosialisasikan pentingnya pemeriksaan hamil sejak dini.4 hamil sedini mungkin 2. Environment a. 4. 3. b.

Belum semua puskesmas pembantu 3 3 3 4 6. Rendah 3. Kurangnya alat peraga dalam pelaksanaan 4 5 3 4 15 penyuluhan di masyarakat. C: cost Skala: 1. 5 5. Matrikulasi Alternatif Pemecahan Masalah Prioritas Masalah Kurangnya pengetahuan ibu hamil dan keluarga tentang pentingnya pemeriksaan hamil sedini mungkin No. I: importancy. Kurangnya koordinasi antara bidan desa. Tinggi 5. 8. 2003). 6. Kurang lengkapnya pencatatan pelaporan yang 4 4 3 3 16 dilakukan oleh petugas pelayanan kesehatan.75 melakukan pemeriksaan laboratorium dasar bagi ibu hamil 9.2 keadaan jalan yang buruk 11 Desa yang jaraknya jauh dari pusat pelayanan 4 3 3 4 9 kesehatan Keterangan: M: magnitude. Tabel 16. Sedang 4. Daftar Alternatif Pemecahan Masalah Efektifitas Efisiensi Jumlah . 7. Sangat Tinggi(Azwar. Kurangnya pembinaan yang diberikan oleh 3 5 3 3 15 petugas pelayanan kesehatan terhadap ibu hamil. 10 Akses yang masih susah terjangkau karena 3 4 3 5 7. V: vulnerability. 4 5 3 2 30 dukun dan ibu hamil. Sangat Rendah 2.

5 M I V (C) MxIxV C Mengadakan kunjungan ke rumah ibu hamil 4 5 4 2 40 1. . Tabel 17. Mengadakan ceramah kepada ibu hamil dan 4 5 3 3 20 masyarakat umum tentang pengetahuan tentang pentingnya Ante Natal Care. Mengadakan kursus singkat kepada dukun 4 5 3 4 15 beranak untuk meningkatkan keahlian dalam menangani kasus ibu melahirkan dengan benar 3. untuk meningkatkan pengetahuan ibu hamil tentang pentingnya kunjungan K4 2. Analisis SWOT Prioritas Jalan Keluar Mengadakan kunjungan ke rumah ibu hamil untuk meningkatkan pengetahuan ibu hamil tentang pentingnya kunjungan K4 (MxIxV:C= 40) S: W: − Kurangnya kesadaran petugas − Petugas puskesdes mendapatkan ilmu puskesdes untuk aktif dalam upaya mengenai pengetahuan pentingnya kunjungan guna meningkatkan ANC pada Bumil pengetahuan Bumil − Petugas puskeskes lebih memahami pentingnya upaya dilakukanya ANC pada bumil O: T: − Tingginya angka Kunjungan ANC − Ketidakpatuhan pasien terhadap terutama K4 edukasi yang diberikan petugas.

. 5 − Dukungan dari pihak terkait.

Materi Cara ANC dan tujuan b. Dukun beranak 5. Sasaran a. Metode Kunjungan ke rumah ibu hamil untuk meningkatkan pengetahuan ibu hamil tentang pentingnya kunjungan K4 6. Mengoptimalkan puskesmas sebagai pelayanan kesehatan tingkat dasar yang bersifat komprehensif dan holistik. b. 4. keluarga c. Materi a. 48 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Usulan kegiatan yang akan dilaksanakan adalah mengadakan kunjungan ke rumah ibu hamil untuk meningkatkan pengetahuan ibu hamil tentang pentingnya kunjungan K4 olehpetugas Puskesdes serta menanamkan kesadaraan yang tinggi pada petugas bahwa ANC secara rutin pada bumil menurangi resiko kematian pada Ibu saat melahirkan maupun bayi sehingga harus mendapatkan perhatian lebih. Tujuan khusus a. Ibu Hamil b. Materi tentang Penanganan pertolongan persalinan yang baik dan benar . Tujuan umum Meningkatkan Kesadaran terhadap ibu hamil tenatng pentingnya ANC selama masa kehamilan 3.Berikut adalah rincian pelaksanaan kunjungan ke rumah ibu hamil untuk meningkatkan pengetahuan ibu hamil tentang pentingnya kunjungan K4yaitu : 2. Mengoptimalkan peran petugas puskesdes terhadap peningkatan penemuan kasus Ibu resti terutama pada saat kujungan k1 dan k4.

Waktu dan lokasi a. Biaya Diperoleh dari dana pemerintah atau APBD . Tenaga kesehatan 8. 49 7. Pelaksana a. Tanggal Disesuaikan agenda rapat puskesmas b. Kepala Puskesmas dan Koordinator bidang P2PL b. Lokasi Rumah ibu atau Balai desa setempat 9.

Semarang. 2009. 2007. Satrianegara. Jakarta. 2010. Pencapaian Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan Kabupaten/Kota 2011. __________________________________. Sitti Saleha.) Direktorat Jendral Bina Gizi dan KIA Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2011. Direktorat Jendral Bina Gizi dan KIA Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Direktorat Jendral Bina Gizi dan KIA Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. M. Pedoman Pelayanan Antenatal Terpadu. 2013. Jakarta. Salemba medika. _________________________________ _. Buku Ajar Organisasi dan Manajemen Pelayanan Kesehatan serta Kebidanan. Jakarta. 2004. Direktorat Jendral Bina Gizi dan KIA Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Fais. Pedoman Pemantauan Wilayah Setempat Kesehatan Ibu Dan Anak (PWS-KIA. Jakarta. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu Di Fasilitas Kesehatan Dasar Dan Rujukan. Rencana Aksi Percepatan Penurunan Angka Kematian Ibu Di Indonesia. Jakarta. __________________________________. . _________________________________. Jakarta. Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah. 50 DAFTAR PUSTAKA Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Direktorat Jendral Bina Gizi dan KIA Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2013. Pedoman Pelayanan Antenatal. Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah .

__________________________________. Salemba medika. EGC. Jakarta : Erlangga Hani U. Kementrian Republik Indonesia.. M. Efendi. Fitramaya. A. Jakarta Hariandja. Jakarta. Yogyakarta. Asuhan Kebidanan Pada Kehamilan Fisiologis.blogspot. Hubungan Diklat dengan Kinerja Penyuluh Lapangan Keluarga Berencana di Sulawesi Selatan. Yogyakarta Mufdlilah. Sri mujiati. CV. Asuhan Kebidanan V (Kebidanan Komunitas). Makassar. diakses 31 Mei 2017.02. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Ibu Hamil Tidak Melakukan Antenatal. 2012.H. Manajemen Sumber Daya Manusia. 2011. Thesis Program Pasca Sarjana Unhas. yang- mempengaruhi-ibu. Jakarta. 2006. H. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Konsep Kebidanan.2000.2008.. M. Karwati. . Ima Kharimaturrahmah.. 51 Griffin. 1996. Hasanah. PT Grasindo. (http: //huswatunhasanah13. Manuaba. 2013. Jakarta Maulana . Panduan Lengkap Kehamilan.com/2013/05/faktor-faktor. 2002. Profil Kesehatan Republik Indonesia 2012. T. 2010.Trans Info Media. Kementrian Republik Indonesia. 2010. Dewi pujiati. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK. Ricky W. Buku ajar patologi obstetric. Manajemen Personalia. Jiarti Kusbandiyah. Rita Yulifah.. 2013. .02/MENKES/149/I/2010 Tentang Persyaratan Praktik Bidan. Nuha Medika.) Ibrahim. Marjianti.

. 2012. Switzerland. Salemba Medika. Mujahidatul Musfiroh. Wildan. Rineka Cipta. World Health Statistic 2012. Khoirul. World Health Organization. 2010. Notoatmodjo. .. S. Promosi Kesehatan. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Wahit. Statistik Indonesia Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional. 2013. P. Indonesia Demographic and Health Survey 2012. Jakarta. Dewi. Jakarta. Jurnal Kebidanan Fakultas Kedokteran UNS. I. Yogyakarta . A. Puspita. Jakarta. Nurul. WHO Press. Dokumentasi Kebidanan. 2012. World Health Organization. Supradi. Hubungan Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Antenatal Care Dengan Frekuensi Kunjungan Antenatal Care Di Rumah Bersalin Wikaden Imogiri Bantul.. Metodologi Penelitian Kesehatan. Graha Ilmu.. Aziz alimul hidayat. 2007. M.. 2012. C. 52 Mubarak. R.