BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
 Kelompok 1D
Obat: Eter (50 ml)

No Waktu Efek
(Detik)
1 13 s Badan mulai melemas saat setelah diletakan dalam
botol kaca
2 15 s Lemas meningkat, mata sayu
3 23 s Tidak dapat berdiri tegak , mulai bingung, laju nafas
meningkat
4 34 s Kepala oleng, mata bertambah sayu hamper tertutup
5 54 s Badan tertidur terbaring lemas, tidak dapat menyangga
tubuhnya
6 128 s Tidak ada lagi laju nafasa dan ritme jantung , mati.

 Kelompok 2D
Obat : alcohol 95% ( 150 ml )

No WAKTU EFEK
1 5s Mata berkedip-kedip
2 35 s Tanagn bergerak-gerak meronta
3 52 s Mata masih berkedip-kedip
4 1.08 menit Kaki depan mengusap-usap muka
5 1.35 menit Mata mulai sayu
6 1.45 menit Ritme laju pernafasan meningkat terjadi sesak nafas
7 2.24 menit Nafas mulai tersengal-senggal
8 2.56 menit Mata semakin sayu
9 3.15 menit Kaki bagian depan gemetar dan mengusap wajah

16 menit Dikeluarkan dari dalam botol  Kelompok 3D Obat : Eter (50 ml) NO WAKTU EFEK 1 2. pulih kembali  Kelompok 4D Obat : alcohol 95% (150 ml) NO WAKTU (detik) EFEK 1 5s Mata sayu 2 31 s Laju nafas tikus meningkat 3 38 s Pupil mengecil 4 50 s Mulai seksak nafas 5 1.07 menit Tubuh mulai kehilanga keseimbangan 4 4.00 menit Aktif segar . cepat 10 6.40 menit Nafas tersenggal-senggal 3 3.52 menit Badan mulai tidak sanggup menyangga 11 8.22 menit Mata muali sayu 2 2. tubuh tidak seimbang 7 8.45 menit Mulai bergerak .45 menit Pupil muali membesar 6 7.00 menit Tubuh kembali segar 5 4.00 menit Mulai susah dalam mengambil nafas dan mulut terbuka 7 2.45 menit Tikus menggaruk-garuk hidung .28 menit Tingkah mulai kebingungan 6 2.20 menit Muali aktif 8 9.

salivasi akan dihambat dan terjadi depresi napas Eter menekan kontraktilitas otot jantung.18 menit Fase pemulihan 10 6. serta hilangnya kesadaran (unconsciousness). Agen anestesi umum bekerja dengan cara menekan sistem syaraf pusat (SSP) secara reversibel. Eter tidak menyebabkan sensitisasi jantung terhadap .31 menit Sulit dalam bernafas mulut terbuka 11 6. 8 3. eter menimbulkan salivasi. tetapi pada stadium yang lebih dalam. Merupakan anestesi yang sangat kuat . Eter pada kadar tinggi dan sedang menimbulkan relaksasi otot serta hambatan neuromuscular yang tidak dapat dilawan oleh neostigmin .Anestesi umum merupakan kondisi yang dikendalikan dengan ketidaksadaran reversibel dan diperoleh melalui penggunaan obat-obatan secara injeksi dan atau inhalasi yang ditandai dengan hilangnya respon rasa nyeri (analgesia). hilangnya respon terhadap rangsangan atau refleks dan hilangnya gerak spontan (immobility). dengan kadar dalam darah arteri 10-15 mg% sudah terjadi analgesia tetapi pasien masih sadar. Eter pertama kali digunakan sebagai anastetik pada tahun 1842 di New York oleh William Clarke. tetapi in vivo efek ini dilawan oleh meningkatnya aktivitas simpatis sehingga curah jantung tidak berubah atau meninggi sedikit. Pembahasan Anastesi yang kami lakukan pada praktikum kali ini adalah anastesi (IV) yang merupakan jenis anastesi umum. Anestesi umum adalah keadaan hilangnya nyeri di seluruh tubuh dan hilangnya kesadaran yang bersifat sementara yang dihasilkan melalui penekanan sistem syaraf pusat karena adanya induksi secara farmakologi atau penekanan sensori pada syaraf. Pada praktikum ini. hilangnya ingatan (amnesia). Eter menyebabkan iritasi saluran napas dan merangsang sekresi kelenjar bronkus.48 menit Pemulihan B. sifat analgesiknya kuat sekali. Pada induksi dan waktu pemulihan.00 menit Tikus sulit dalam mengambil nafas 9 3. anastetik inhalasi yang digunakan adalah eter dan lakohol 95%.

Tikus memasuki stadium anastesi pertama pada detik ke 15. hilang keseimbangan. Sedangkan pada hewan uji (tikus) kelompok tiga hanya megalami stadium 2 anestesi dapat dilihat dari gejala yang dialami yakni mata mulai sayup. Pada kelompok 1. mulai bingung. Kemudiaan pada menit ke-128 tidak lagi ada ritme jantung (mati) yang menunjukkan stadium anestesi keempat. dengan adanya gejala kesadaran mulai hilang dan tubuh yang mulai lemas. laju nafas meningkat. kecuali kelompok 1 melakukan pengamatan hingga tikus mengalami kematian. Selanjutya pada detik ke 23 memasuki stadium anestesi kedua diketahui dari adanya gejala-gejala : Tidak dapat berdiri tegak . mata bertambah sayu hampir tertutup. pada anesthesia yang lebih dalam kulit menjadi lembek. dan kelompok 3 hanya mengamati hingga batas waktu tertentu kemudian menghentikan stimulasi.katekolamin. Pada anesthesia ringan. Sedangkan pada kelompok 2 dan 4 yang meggunakan anestesi berupa alkohol 95% sebanyak 150ml tidak sampai pada stadium anetesi empat.25 hewan uji kelompok 2 mengalami . Pada detik ke-34 dan 54 tikus mengalami gejala Kepala oleng. Sebaliknya pada pembuluh darah otak menyebakan vasodilatasi Pada praktikum ini. Pada menit ke 1. setelah perlakuan hewan uji kembali pulih. Badan tertidur terbaring lemas. Tidak ada perbedaan perlakuan terhadap Tikus pada kelompk 1 maupun kelompok 3. terapi in vivo ini dilawan oleh meningginya aktivitas simpati sehingga curah jantung tidak berubah. eter menyebabkan vasokonstriksi sehingga terjadi penurunan laju filtrasi glomerulus dan produksi urin menurun secara reversibel. yang menggunakan eter 50 ml sebagai anastesi umum adalah kelompok 1 dan kelompok 3 menggunakan hewan percobaan tikus betina. setelah gejala tersebut hewan uji kembali normal namun membutuhkan waktu yang cukup lama. Terhadap pembuluh darah ginjal. onset kerja eter 50 ml yang di masukkan ke dalam toples adalah 13 detik. Selain itu. Mekanisme kerja eter sebagai anastesi adalah melakukan kontraksi pada otot jantung. eter menyebabkan dilatasi pembuluh darah kulit sehingga timbul kemerahan terutama di daerah muka. eter menyebabkan dilatasi pembuluh darah kulit. pucat dingin basah. tidak dapat menyangga tubuhnya yang merupakan gejala dari stadium anestesi ketiga.

perubahan pada mata nya yang mulai terlihat sayup. dan range waktu dari fase anastesi ke fase pemulihan eter lebih lama dari dari alkohol 95%. Namun pada menit ke 8. Dari pengamatan diatas dapat diketahui bahwa eter lebih cepat memberikan efek anastesi terhadap tikus daripada alkohol 95%.24 mulai memasuki stadium 3 dilihat dari gejala ritme pernapasan yang terlalu tinggi hingga terjadi sesak napas. dan hewan uji semakin hilang kesadarannya.16 saat dikeluarkan dari toples hewan uji perlahan-lahan mulai pilih. begitupun pada kelompok 4. Dalam hal ini dosis tidak diperhitungkan karena pemberiannya tidak dilakukan secara oral maupun injeksi. Pada menit ke 2. melainkan dilakukan secara inhalasi. gejala ini menunjukkan pada kondisi stadium anestesi kedua. .