1

I. PENDAHULUAN
Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan terbesar di dunia
di mana terdapat sekitar kurang lebih 13.466 pulau besar dan kecil. 1
Kondisi Indonesia yang demikian menyebabkan Indonesia memiliki luas
mencapai kurang lebih 5.193.250 km 2 yang mencakup wilayah daratan
dan perairan di antara dan sekitar pulau-pulaunya.2 Selain itu, posisi
geografis Indonesia juga sangat strategis karena terletak di antara dua
benua (Asia dan Australia) dan dua samudera (Hindia dan Pasifik),
tepatnya antara 6o08’ Lintang Utara dan 11o15’ Lintang Selatan serta 94o5’
dan 141o05’ Bujur Timur dengan jarak 3.443 mil dari Barat ke Timur dan
1.272 mil dari Utara ke Selatan. Hal ini menyebabkan perairan Indonesia
sejak zaman dahulu hingga sekarang ramai oleh pelayaran internasional.
Juga karena kekayaan alamnya, Indonesia telah menjadi pusat perhatian
dunia.
Sejarah hukum perairan Indonesia menunjukkan bahwa sistem
wilayah perairan Indonesia telah mengalami perkembangan dan
perubahan yang sangat mendasar yang mampu mempengaruhi
perkembangan hukum laut internasional. Di mana Indonesia telah
membawa perubahan terhadap sistem hukum laut internasional di akhir
abad ke-20 dengan dibentuknya Konvensi PBB tentang Hukum Laut
Internasional (United Nations Convention on the Law of the Sea) 10 Desember
1982.
Perubahan dalam sejarah hukum perairan Indonesia yang dimaksud
adalah perubahan yang terjadi karena dikeluarkannya Pengumuman
Pemerintah pada tanggal 13 Desember 1957 mengenai Konsepsi Nusantara
yang dikenal dengan “Deklarasi Juanda”, yang kemudian dituangkan

1
Berdasarkan data hingga tahun 2010, jumlah pulau adalah 17.508, tetapi
berdasarkan hasil survey dari tahun 2007 hingga 2010 oleh Tim Nasional Pembakuan
Nama Rupabumi (Timnas PNR) jumlah pulau tercatat menjadi 13.466 pulau besar dan
kecil.
2
Luas darat dan laut setelah dianutnya Konsepsi Nusantara.

2

dalam Undang-Undang No. 4 Prp Tahun 1960 tentang Perairan Indonesia
dan akhirnya diperbarui dengan dikeluarkannya Undang-Undang No. 6
Tahun 1996 tentang Perairan Indonesia.3
Sebelum lahirnya Konsepsi Nusantara, Indonesia menganut sistem
wilayah perairan yang didasarkan pada Ordonansi Laut Teritorial dan
Lingkungan Maritim (Territoriale Zee en Maritieme kringen Ordonnantie)
tahun 1939, Stb. 1939 No. 442. Dalam ordonansi tersebut antara lain
ditentukan: (a) lebar laut teritorial Indonesia adalah 3 mil 4; (b) penetapan
lebar laut teritorial diukur dari garis pangkal yang menggunakan garis air
rendah (pasang surut) yang mengikuti liku-liku pantai dari masing-
masing pulau Indonesia; (c) perairan yang terletak pada sisi dalam dari
garis pangkal merupakan laut lepas dengan batas laut teritorial 3 mil.
Dengan demikian perairan yang berada di sekitar dan di antara
pulau-pulau Indonesia yang terletak pada sisi bagian luar dari batas luar
(outer limit) laut teritorial yang lebarnya hanya 3 mil itu, tunduk pada
rezim laut lepas di mana kapal-kapal asing mempunyai kebebasan
berlayar sebagai bagian dari kebebasan laut lepas. Adanya rezim laut
lepas di perairan Indonesia dengan lebar laut teritorial hanya 3 mil dari
garis pangkal biasa tersebut, telah memberatkan fungsi perlindungan
negara Indonesia sebagai negara kepulauan.
Dengan adanya Konsepsi Nusantara dalam Deklarasi Juanda, maka
lebar laut teritorial Indonesia berubah menjadi 12 mil; penetapan lebar
laut teritorial diukur dari garis pangkal lurus berupa garis-garis lurus

3
Pergantian ini didasarkan pada ketidaksesuaian pengaturan hukum negara
kepulauan dalam Undang-Undang No. 4 Prp. Tahun 1960 dengan perkembangan
rezim hukum negara kepulauan sebagaimana dimuat dalam Bab IV Konvensi PBB
tentang Hukum Laut (United Nations Convention on the Law of the Sea 10 Desember
1982).
4
Batas laut teritorial 3 mil didasarkan atas Teori Cornelius Van Bijnkerhoek tahun
1702 di mana kedaulatan negara dapat diperluas keluar sampai kepada kapal-kapal di
laut sejauh jangkauan tembakan meriam. Pada abad ke-18 jangkauan rata-rata dari
tembakan meriam adalah 3 mil. Chairul Anwar, Hukum Internasional Horizon Baru
Hukum Laut Internasional Konvensi Hukum Laut 1982, Penerbit Djambatan, Jakarta,
1989, hlm. 15.

8 Tahun 1962 tentang Lintas Damai. 103 Tahun 1963 tentang Lingkungan Maritim. Penerbit Alumni. Status Hukum Perairan Kepulauan Indonesia dan Hak Lintas Kapal Asing. IV Tahun 1973 tentang Wawasan Nusantara. dan diterimanya Konsepsi Nusantara itu dalam TAP MPR No. Bandung. keputusan Indonesia ini masih mendapat pertentangan dari negara-negara maritim yang merasa terancam kepentingannya. Keppres No. 5 Sementara di luar negeri. tetapi pemerintah Indonesia tetap menjamin adanya hak lintas damai bagi kapal-kapal asing selama tidak merugikan kepentingan dan tidak mengganggu ketertiban perdamaian serta keamanan Negara Kesatuan Republik Indonesia. 1 tahun 1973 tentang Landas Kontinen yang didasarkan pada Undang-Undang No. hlm. Oleh karena itu. di mana kedaulatan negara atas perairan tersebut praktis sama dengan kedaulatan negara atas daratannya. Tahun 1960. Upaya pemerintah Indonesia dalam mengukuhkan Deklarasi Juanda 1957 adalah dengan mengeluarkan berbagai kebijakan terkait dengan hukum perairan Indonesia. Di antaranya adalah dikeluarkannya Peraturan Pemerintah No. Meskipun status perairan yang terletak pada sisi dalam garis pangkal itu tunduk pada rezim perairan pedalaman. 4 Prp. 4. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia masih menghormati kepentingan internasional di samping melindungi kedaulatannya sebagai negara kepulauan. Indonesia perlu melakukan upaya untuk mendapat pengakuan internasional terhadap Konsepsi Nusantara. dan semua perairan yang terletak pada sisi dalam garis pangkal lurus tersebut berubah statusnya dari laut teritorial atau laut lepas menjadi Perairan Pedalaman. . upaya Indonesia dalam mendapat pengakuan hukum lautnya adalah dengan menjelaskan hakikat dan isi 5 Atje Misbach Muhjiddin. antara lain yaitu Belanda. Namun demikian. 1993. dan Undang-Undang No. 3 yang menghubungkan titik-titik terluar dari ujung-ujung pulau Indonesia terluar.

dasar laut dan tanah di bawahnya serta kekayaan alam yang terkandung di dalamnya. dan perairan yang berada pada sisi dalam dari garis pangkal kepulauan dinyatakan sebagai Perairan Kepulauan (Archipelagic Waters) sehingga 6 Salah satunya seperti yang dilakukan oleh Prof.. 7 Sampai tahun 1992 sudah ada 51 negara yang meratifikasi dan sampai tahun 2010 sudah mencapai 155 negara.7 Dalam Konvensi Hukum Laut 1982 yang berasal dari Konsepsi Nusantara (Pengumuman Pemerintah RI tanggal 13 Desember 1957) tersebut.com/berita/baca/lt50879b8dbc7de/kepala-daerah-belum- paham-unclos.hukumonline. hlm. Indonesia mendapat pengakuan internasional atas prinsip negara kepulauan dan secara resmi mempertegas kedaulatan penuh Indonesia atas seluruh wilayah perairannya. Ibid. Konvensi ini ditandatangani oleh 119 negara dan sampai saat ini telah diratifikasi oleh sejumlah negara. Dengan demikian. selaku Guru Besar Hukum Internasional Unpad pada Konferensi Tahunan The Law of the Sea Institute tahun 1972 di Rhode Island. 4-5. Kepala Daerah Belum Paham UNCLOS. Konferensi ini telah melahirkan Konvensi Hukum Laut baru yang bernama United Nations Convention on Law of the Sea (UNCLOS 1982) yang selanjutnya disebut sebagai Konvensi Hukum Laut 1982 (KHL 1982). termasuk ruang udara di atasnya. Indonesia diwakili oleh Dr. Hukum Online. 4 konsepsi dalam berbagai forum ilmiah internasional maupun usaha-usaha diplomatik dan konferensi-konferensi internasional resmi.6 Upaya-upaya yang dilakukan Indonesia ini mencapai puncaknya pada tanggal 10 Desember 1982 yaitu diadakannya Konferensi PBB III tentang Hukum Laut di Montego Bay.Dr. mengakui dan menerima konsep Negara Kepulauan yang dimuat dalam bab tersendiri yakni pada Bab IV yang berjudul Archipelagic States (Negara Kepulauan). yang dalam tahun 1971 menyampaikan papernya dengan judul “The Concept of Archipelago Applied to Archipelagic States”. Mochtar Kusumaatmadja. USA. Jamaica. Kebijakan dan pengelolaan sumber daya laut jadi tumpang tindih. http://www. diakses tanggal 13 Juli 2014 . Sementara forum resmi di luar PBB antara lain forum Afro Asian Legal Consultative sejak 1971 di Colombo dan New Delhi. Hasjim Djalal.

dengan angin musim yang menguntungkan. sejak zaman dahulu Indonesia telah menjadi daerah tujuan negara-negara dagang besar seperti Spanyol. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk memperbandingkan konsep negara kepulauan yang ada di dalam Deklarasi Juanda 1957 (Konsepsi Nusantara) dengan konsep negara kepulauan yang terkandung dalam Undang-Undang No. 6 Tahun 1996 tentang Perairan Indonesia. Portugis. Terlebih letak geografis Indonesia yang terletak di daerah khatulistiwa yang mendapat cahaya matahari sepanjang tahun. LATAR BELAKANG DEKLARASI JUANDA 1957 Sejarah lahirnya Deklarasi Juanda 1957 tidak terlepas dari status wilayah negara Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar yang terletak pada posisi yang sangat strategis dalam lalu lintas perdagangan dunia. 5 Indonesia berhak mengatur Hak Lintas Damai dan Hak Lintas Alur Laut Kepulauan. II. Belanda yang menguasai seluruh kepulauan Nusantara selama kurang lebih tiga setengah abad. Sejak Belanda berhasil mengalahkan Portugis. telah membuat Indonesia tidak hanya menjadi sarana lalu lintas kapal dagang asing tetapi juga menjadi tujuan pelayaran itu sendiri. 52. dan Belanda. 4 Prp Tahun 1960 tentang Perairan Indonesia yang menjadi tidak sesuai setelah diberlakukannya Konvensi Hukum Laut 1982. Dikeluarkannya undang-undang tersebut sekaligus menggantikan Undang-Undang No. Oleh karena itulah. serta ditambah kekayaan alam yang luar biasa yang sangat dibutuhkan oleh bangsa-bangsa lain. 53 KHL 1982. Belanda memegang Doktrin Kebebasan Laut (freedom of the 8 Lihat Pasal 49. 6 Tahun 1996 berdasarkan pada ketentuan dalam Konvensi Hukum Laut 1982. .8 Selanjutnya ketentuan-ketentuan dalam Konvensi Hukum Laut Internasional 1982 tersebut diatur oleh Pemerintah Indonesia dengan mengeluarkan Undang-Undang No.

Di mana di dalam TZMKO 1939 tersebut Indonesia menganut lebar laut teritorial 3 mil disertai dengan penggunaan garis pangkal biasa. hlm32. Sistem wilayah perairan yang menganut lebar laut teritorial 3 mil yang diukur dari garis pangkal biasa (normal base lines) sangat tidak menguntungkan bagi negara kepulauan seperti Indonesia yang terdiri dari beribu-ribu pulau besar dan kecil. Namun sebaliknya. Sistem tersebut telah menyebabkan masing-masing pulau memiliki laut teritorialnya sendiri. Maka selat yang lebarnya kurang dari 6 mil dan menghubungkan dua wilayah laut bebas dan Indonesia (Hindia Belanda) bukan satu-satunya negara- negara pantai. di mana garis lurus dapat digunakan sebagai garis pangkal laut teritorial di mulut teluk tersebut (Gambar 1. maka pembagian garis batas antara kedua negara ditarik pada tengah-tengah selat itu. dan kesehatan. 9 Doktrin tersebut tecermin dalam Territoriale Zee en Maritime Kringen Ordonantie. 1939 No 442 (TZMKO 1939) yang diwariskan ke dalam sistem wilayah perairan Indonesia. Stb. kecuali di muara sungai dan teluk yang lebar mulutnya kurang dari 10 mil laut. Atje Misbach Muhjiddin. lebar laut 3 mil diukur dari garis lurus yang menghubungkan titik terluar pada garis-garis air rendah pada bagian luar pulau dari gugusan kepulauan itu di mana jarak antara titik ini tidak melebihi 6 mil. op. dan di antara pulau-pulau yang jaraknya lebih dari enam mil terdapat kantong-kantong laut lepas di mana masih berlaku rezim laut lepas. sebuah gugusan pulau yang terdiri dari dua atau lebih pulau. 6 seas) sebagaimana yang dikemukakan oleh Grotius yang juga turut mendukung keberhasilan Belanda mengalahkan Portugis. sistem yang demikian justru memberikan keuntungan kepada negara-negara 9 Tertuang dalam bukunya yang terkenal. imigrasi. yaitu garis air rendah yang mengikuti liku-liku pantai pulau-pulau Indonesia.). Mare Liberum tahun 1609 yang berisi tentang kedaulatan. seperti keamanan. . Hal ini sangat menyulitkan tugas pengawasan laut untuk berbagai kepentingan.cit. Dalam hal ini.. kepabean. kebebasan berlayar di Samudera Hindia dan perdagangan internasional.

Peta Batas Wilayah Indonesia Berdasarkan TZMKO 1939 (sebelum Deklarasi Juanda)10 Keadaan inilah yang mendorong bangsa Indonesia untuk mencari suatu pemecahan yang berpangkal pada pendirian bahwa kepulauan Indonesia itu merupakan satu kesatuan (unit) dan bahwa lautan di antara pulau Indonesia itu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari bagian darat (pulau-pulau) negara Indonesia. Spanyol. telah cukup menjadi bukti bahwa pendirian itu secara sadar atau tidak sudah meresap pada pikiran rakyat Indonesia. dan Inggris. Peta Batas Wilayah Indonesia Berdasarkan TZMKO 1939. karena mereka memiliki keleluasaan untuk melewati wilayah negara lain. . Gambar 1. Setelah berakhirnya revolusi fisik antara tahun 1945-1950. Portugis. Pemikiran yang berujung kepada lahirnya Konsepsi Nusantara ini juga dilatarbelakangi oleh peristiwa-peristiwa yang terjadi di tanah air setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945. 7 maritim seperti Belanda. http://indonesiaputra. diakses tanggal 15 Juli 2014. Berdasar pada pendirian ini maka laut teritorial haruslah terletak sepanjang garis yang menghubungkan titik-titik ujung terluar dari kepulauan Indonesia. 2010. di Indonesia banyak 10 Amirudin Kurdi. Kata “tanah air” dalam bahasa Indonesia.html.com/2010/11/peta-batas-wilayah-indonesia.blogspot.

terutama bagi Pulau Sumatera dan Pulau Sulawesi yang sangat terbuka dari laut dan udara disinyalir dapat mempermudah masuknya pihak luar untuk mendekati daerah-daerah yang sedang bergejolak. PERMESTA di Sulawesi Utara. melalui saluran diplomatik dengan membawa masalah tersebut dalam forum PBB.undip. karena Indonesia masih menganut sistem wilayah perairan yang didasarkan pada TZMKO 1939. Indonesia juga sedang berjuang untuk mengembalikan wilayah Irian Barat ke pangkuan Republik Indonesia.12 Peristiwa-peristiwa dalam negeri inilah yang lebih mendorong Pemerintah Indonesia untuk melakukan perubahan sistem wilayah perairan dari sistem lama berdasarkan TZMKO 1939 menjadi sistem baru 11 APRA di Sulawesi Selatan dan Bandung. 12 Singgih Tri Sulistiyono. . dan politik penjajah dengan menggunakan nama-nama yang bermacam-macam.pdf. dan DI/TII di Jawa Barat dan Sulawesi Selatan. 8 terjadi peristiwa-peristiwa pemberontakan yang berlatar belakang kedaerahan. Indonesia tidak memiliki hak untuk melarang karena laut di antara pulau-pulau masih termasuk laut lepas. masalah Irian Barat menjadi berlarut-larut karena Belanda tidak mau menyerahkan begitu saja daerah ini kepada Indonesia. Konsep Batas wilayah Negara di Nusantara.11 Adanya kantong-kantong laut bebas di tengah-tengah wilayah perairan Indonesia. dalam KMB tersebut Belanda tidak mengakui Irian Barat masuk dalam wilayah kedaulatan Indonesia. Namun. Kondisi yang demikian jelas menempatkan Indonesia pada posisi yang sulit.id/3258/2/13_artikel_pak_Singgih. Belanda berjanji akan menyelesaikan masalah Irian Barat paling lambat tanggal 27 Desember 1950. 2010. . PRRI di Sumatera. http://eprints. keagamaan. RMS di Maluku. Masalah Irian Barat ini berawal dari Konferensi Meja Bundar (KMB) di mana Belanda akhirnya mengakui kedaulatan RI pada tanggal 27 Desember 1949. Bahkan secara terang-terangan Belanda telah mengirimkan kapal-kapal perangnya ke wilayah perairan Indonesia tanpa Indonesia berhak menghalanginya. Tetapi pada kenyataannya. Pada periode yang sama.ac.

Kabinet Ali bubar dan digantikan dengan Kabinet Djuanda. Djuanda mengangkat Mr. Pada prinsipnya RUU ini masih mengikuti konsep Ordonansi tahun 1939 hanya bedanya adalah bahwa laut teritorial Indonesia ditetapkan dari 3 mil menjadi 12 mil. Luar Negeri. Sebenarnya pemikiran untuk mengubah TZMKO 1939 tersebut sudah dimulai pada tahun 1956. dan Kepolisian Negara.M. Perlanian. Pada tanggal 17 Oktober 1956 Perdana Menteri Ali sastroamidjojo memutuskan membentuk suatu panitia interdepartemental yang ditugaskan untuk merancang RUU (Rencana Undang-Undang) Wilayah Perairan Indonesia dan Lingkungan Maritim berdasarkan Keputusan Perdana Menteri RI No. Pelayaran. 9 yang dapat menjamin kesatuan dan keutuhan wilayah Negara Republik Indonesia. Keuangan. Ir. Sebelum RUU ini disetujui. Panitia ini di bawah pimpinan Kolonel Laut R. 400/P. Akhirnya ia memberikan gambaran ’Asas Archipelago’ yang telah ditetapkan oleh Mahkamah ./1956. Mochtar Kusumaatmadja untuk mencari dasar hukum guna mengamankan keutuhan wilayah RI. Untuk itu sejak 1 Agustus 1957. Sejalan dengan ketegangan-ketegangan yang terjadi antara Belanda dengan RI maka Pemerintah Djuanda lebih banyak mencurahkan perhatiannya untuk menemukan sarana yang dapat memperkuat posisi RI dalam melawan Belanda yang lebih unggul dalam pengalaman perang dan persenjataannya.M. Panitia ini belum berani mengambil berbagai kemungkinan resiko untuk menetapkan asas straight base line atau asas ’from point to point’ mengingat kekuatan Angkatan Laut Indonesia masih belum memadai. Setelah bekerja selama 14 bulan akhirnya ’panitia Pirngadi’ berhasil menyelesaikan konsep ’RUU Wilayah Perairan Indonesia dan Lingkungan Maritim’. Desakan ini juga didukung oleh departemen-departemen lain seperti Departemen Dalam Negeri. Pada tahun itu pimpinan Departemen Pertahanan Keamanan RI mendesak pemerintah untuk segera merombak hukum laut warisan kolonial yang secara nyata tidak dapat menjamin keamanan wilayah Indonesia.S. Pirngadi.

yaitu dengan dikeluarkannya ’Pengumuman Pemerintah mengenai Perairan Negara Republik Indonesia’. Sebagai alternatif terhadap RUU itu maka dibuatlah konsep ’Asas Negara Kepulauan’. Dalam pengumuman ini pemerintah menyatakan bahwa semua perairan di sekitar. 10 Internasional pada tahun 1951 seperti yang telah dipertimbangkan oleh RUU sebelumnya namun tidak berani untuk menerapkannya dalam hukum laut Indonesia. dan yang menghubungkan pulau-pulau atau bagian pulau-pulau yang termasuk daratan Negara Republik Indonesia. Dengan demikian wilayah Indonesia tidak terpisah-pisah lagi oleh laut antara satu pulau dengan pulau yang lainnya. Dalam sidangnya tanggal 13 Desember 1957 akhirnya Dewan Menteri memutuskan penggunaan ’Archipelagic state Principle’ dalam tata hukum di Indonesia. Batas laut teritorial Indonesia yang sebelumnya 3 mil diperlebar menjadi 12 mil diukur dari garis yang menghubungkan titiktitik ujung terluar pada pulau-pulau dari wilayah negara Indonesia pada saat air laut surut. di antara. Lalu-lintas yang damai di perairan pedalaman ini bagi kapal-kapal asing dijamin selama dan sekadar tidak bertentangan dengan dan/ atau mengganggu kedaulatan dan keselamatan negara Indonesia. Dengan dikeluarkannya peraturan tersebut. Dengan keluarnya pengumuman tersebut maka wilayah Indonesia menjadi suatu kesatuan antara pulau-pulau dan laut-laut yang menghubungkan antara pulau-pulau itu. . Dengan menggunakan ’Asas Archipelago’ sebagai dasar hukum laut Indonesia. dengan tidak memandang luas atau lebarnya adalah bagian dari wilayah daratan Negara Republik Indonesia dan dengan demikian merupakan bagian dari perairan nasional yang berada di bawah kedaulatan mutlak Negara Republik Indonesia. maka Indonesia akan menjadi negara kepulauan atau ’Archipelagic State’ yang merupakan suatu eksperimen radikal dalam sejarah hukum laut dan hukum tata negara di dunia.

11 maka Ordonantie 1939 sudah tidak berlaku lagi di Indonesia. 14 Atje Misbach Muhjiddin. di mana dalam RUU tersebut. di antara dan yang menghubungkan pulau-pulau atau bagian pulau-pulau yang termasuk daratan Negara Republik Indonesia. . Adapun diktum yang terpenting dalam Deklarasi Juanda 1957 mengenai Wilayah Perairan Indonesia itu berbunyi: 14 “Bahwa segala perairan di sekitar. dan garis teritorial laut Indonesia yang sebelumnya 3 mil menjadi 12 mil. masih digunakan ketentuan dari TZMKO 1939 dalam penetapa lebar laut teritorial yakni menggunakan garis pangkal biasa (normal base line). Asas archipelago ini berbeda dengan konsep RUU tentang Wilayah Perairan Hasil Panitia Interdepartemental.cit. op. dengan sendirinya wilayah udara yang berada di atas wilayah darat dan laut tersebut menjadi satu kesatuan sehingga tidak ada lagi wilayah udara bebas. hlm 49. KONSEP NEGARA KEPULAUAN DALAM DEKLARASI JUANDA 1957 Penggunaan asas archipelago (Archipelagic state Principle) dalam perumusan rancangan isi Deklarasi Juanda mengubah konsep negara Indonesia menjadi negara kepulauan atau Archipelagic State dan digunakan sebagai dasar hukum laut Indonesia. Hal ini menyebabkan wilayah Indonesia tidak dapat menjadi satu wilayah kesatuan karena masih menganut rezim TZMKO 1939. bahwa dengan terbentuknya kesatuan antara wilayah darat dan seluruh perairannya. Penggunaan asas archipelago dalam Deklarasi Juanda yang dijelaskan sebagai Konsepsi Nusantara telah membawa suatu perubahan yang mendasar dalam sistem wilayah perairan Indonesia dari sistem wilayah perairan yang terpisah-pisah menjadi suatu unit wilayah perairan yang di dalamnya tidak ada lagi kantong-kantong bagi laut lepas. dengan tidak memandang luas atau lebarnya adalah 13 Ibid. Lebih dari itu. 13 III..

maka jelas bahwa ada satu solusi untuk menyatukan wilayah-wilayah Indonesia yang selama ini terpecah-pecah oleh adanya kantong-kantong laut lepas. Lalu-lintas yang damai di perairan pedalaman ini bagi kapal asing terjamin selama dan sekedar tidak bertentangan dengan kedaulatan dan keselamatan negara Indonesia. laut dan dasar laut dan tanah di bawahnya.” Dengan memperhatikan isi dari Pengumuman Pemerintah yang kemudian dikenal sebagai Konsepsi Nusantara itu. Penetapan batas laut teritorial yang lebarnya 12 mil yang diukur dari garis-garis yang menghubungkan titik yang terluar daripada pulau-pulau Negara Republik Indonesia akan ditentukan dengan Undang-Undang. Dengan adanya Deklarasi Juanda tersebut maka istilah negara kesatuan sebagaimana disebutkan dalam Undang- Undang Dasar 1945 itu tidak hanya mengandung pengertian kesatuan politik semata-mata tetapi juga kesatuan fisik berupa kesatuan wilayah darat. sebagai akibat dianutnya lebar laut wilayah berdasarkan Ordonansi 1936 No. udara di atasnya dan seluruh kekayaan alamnya secara utuh. 442 yang pada saat itu masih berlaku. 12 bagian-bagian yang wajar daripada wilayah daratan Negara Republik Indonesia dan dengan demikian merupakan bagian daripada perairan nasional yang berada di bawah kedaulatan mutlak daripada Negara Republik Indonesia. .

Konsep Wawasan Nusantara dalam Konvensi Hukum Laut 1982. IV. http://indonesiaputra. diakses tanggal 15 Juli 2014 . 4 Prp Tahun 1960 tentang Perairan Indonesia.com/2010/11/konsep-wawasan-nusantara- dalam-konvensi.).html. Indonesia kembali 15 Amirudin Kurdi. Peta Batas Wilayah Indonesia Setelah Deklarasi Djoeanda 15 Penetapan batas laut teritorial yang lebarnya 12 mil yang diukur dari garis-garis lurus yang menghubungkan titik-titik yang terluar dari pulau- pulau dan bagian pulau Indonesia terluar tersebut telah mengubah status perairan Indonesia yang semula laut lepas (tanpa ada kedaulatan negara) menjadi perairan kepulauan yang berada di bawah kedaulatan penuh Negara Republik Indonesia. Dengan demikian wilayah laut yang dulunya menjadi pemisah antar wilayah daratan Indonesia (pulau-pulau) telah berubah fungsi menjadi penghubung dan alat pemersatu seluruh wilayah daratan Indonesia (Gambar 2. 13 Gambar 2. Dalam undang-undang tersebut. HAK-HAK YANG DIKLAIM INDONESIA DALAM DEKLARASI JUANDA 1957 Konsep Nusantara yang terkandung dalam Deklarasi Juanda 1957 dituangkan dalam bentuk Undang-Undang No.blogspot.

14 menegaskan hak-hak sebagai negara kepulauan (Archipelagic state) melalui penjelasan dalam pasal-pasal. op. . 2. Poin pertama undang-undang di atas. Yang pertama adalah perubahan status hukum wilayah perairan Indonesia yang berada di antara pulau-pulau. 4 Prp Tahun 1960 ini memuat 4 pasal disertasi dengan lampiran peta yang menunjukkan letak titik-titik serta garis-garis batas wilayah negara Indonesia. 4 Prp Tahun 1960 tersebut. cara penetapan lebar laut teritorial dengan menggunakan garis-garis lurus yang menghubungkan titik-titik terluar ujung pulau-pulau terluar sebagai garis pangkal (straight base lines) menjadikan status hukum perairan yang tadinya berstatus laut lepas menjadi perairan pedalaman di mana negara berkedaulatan penuh.cit. Undang-Undang No. 16 Mochtar Kusumaatmadja dalam Atje Misbach Muhjiddin. Secara garis besar. Jalur laut wilayah (laut teritorial) selebar 12 mil diukur terhitung dari garis-garis pangkal lurus tersebut. dapat disimpulkan beberapa perubahan mendasar dari sistem TZMKO 1939 yang sebelumnya dianut oleh Indonesia. undang-undang tersebut mencakup hal-hal sebagai berikut: 1. Hak lintas damai kendaraan air (kapal) asing melalui perairan nusantara (archipelagic waters) dijamin selama tidak merugikan kepentingan negara pantai dan mengganggu keamanan dan ketertibannya. 3.16 Dari poin-poin isi Undang-Undang No. integritas wilayah dan kesatuan ekonomi Indonesia. dengan segala kekayaan alam yang terkandung di dalamnya. Negara berdaulat atas segala perairan yang terletak dalam garis-garis pangkal lurus ini termasuk dasar laut dan tanah di bawahnya maupun ruang udara di atasnya.. ditarik garis-garis pangkal lurus yang menghubungkan titik-titik terluar dari pulau-pulau terluar. 4. Untuk menjamin dan menegaskan kesatuan bangsa. hlm 55.

15 Poin kedua menyangkut perubahan lebar laut teritorial Indonesia yang semula 3 mil (TZMKO 1939) menjadi 12 mil.17 V. . 4 Prp Tahun 1960 ini.” Dalam pelaksanaan pasal 3 ayat 1 ini selanjutnya dinyatakan bahwa lintas damai di perairan pedalaman ini berbeda dengan lintas damai di laut teritorial. 57. 4 Prp Tahun 1960 pasal 3 disebutkan “(1) Lalu-lintas damai dalam perairan pedalaman Indonesia terbuka bagi kendaraan air asing. 6 Tahun 1996 tentang Perairan Indonesia merupakan implementasi dari ketentuan-ketentuan hukum laut 17 Ibid. Indonesia menegaskan bahwa meskipun telah berganti status menjadi perairan pedalaman. Lintas damai di perairan pedalaman Indonesia bersifat “kelonggaran”. hak lintas damai kapal asing tetap diberikan selama tidak mengganggu ketertiban dan keamanan negara. Dalam Undang-Undang No. perairan Indonesia terdiri dari laut wilayah (laut teritorial) yaitu jalur laut yang berada antara garis pangkal dengan garis luar (outer limit).080 km 2 (daratan saja) menjadi sekitar 5. (2) Dengan Peraturan Pemerintah dapat diatur lalu- lintas damai dimaksud pada ayat (1).250 km2. Jadi setelah diberlakukannya Undang-Undang No. Dalam poin terakhir.193. dan perairan pedalaman tradisional yaitu perairan yang berada pada sisi dalam dari garis pangkal biasa (normal base lines). sedangkan di laut teritorial adalah “hal” yang diakui oleh hukum internasional. UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 1996 TENTANG PERAIRAN INDONESIA SEBAGAI IMPLEMENTASI KONVENSI HUKUM LAUT INTERNASIONAL 1982 Undang-Undang No.. Sementara perubahan luas wilayah Indonesia yang semula sekitar 2. Perubahan ini mengakibatkan pertambahan luas negara yang sebelumnya tidak menyertakan luas perairan pedalaman.027. perairan pedalaman yang merupakan akibat dari dipergunakannya garis pangkal lurus. hlm.

Undang-Undang No. yurisdiksi. . PT Rineka Cipta. perairan yang saling bersambung (interconnecting waters) dan karakteristik 18 Gatot Supramono. 4 Prp Tahun 1960 resmi dicabut. 19 Lihat Pasal 2 UU No.18 Dalam Undang-Undang No. 16 sebagaimana telah diatur dalam Konferensi PBB III tentang Hukum Laut Internasional 1982.19 Penjelasan ini mengacu pada ketentuan dalam Konvensi Hukum Laut Internasional 1982. 2011. Jakarta. 9-10. 6 Tahun 1996 tersebut ditegaskan kembali bahwa Negara Republik Indonesia adalah Negara Kepulauan (Archipelagic State) di mana segala perairan di sekitar. dengan tidak memperhitungkan luas atau lebarnya merupakan bagian integral dari wilayah daratan Negara Republik Indonesia sehingga merupakan bagian dari perairan Indonesia yang berada di bawah kedaulatan Negara Republik Indonesia. 6 Tahun 1996. Dalam KHL 1982 ketentuan tersebut tertuang dalam Bab IV tentang Negara Kepulauan (Archipelagic States). di antara. 6 Tahun 1996 tentang Perairan Indonesia maka Undang-Undang No. Hukum Acara Pidana dan Hukum Pidana di Bidang Perikanan. Pemerintah Indonesia kemudian meratifikasi KHL 1982 tersebut melalui Undang-Undang No. hlm. kedaulatan. Selanjutnya ditentukan bahwa yang dimaksud dengan kepulauan ialah sekumpulan pulau-pulau. Dengan diterbitkannya Undang-Undang No. 73 dan Tambahan Lembaran Negara No. hak dan kewajiban serta kegiatan di bidang perairan. Definisi yang diberikan terhadap negara kepulauan sendiri adalah sebagai negara-negara yang terdiri seluruhnya dari satu atau lebih kepulauan. 3647 sebagai landasan hukum yang mengatur wilayah perairan Indonesia. 6 Tahun 1996 ini kemudian dimuat dalam Lembaran Negara Tahun 1996 No. dan yang menghubungkan pulau-pulau atau bagian pulau-pulau yang termasuk daratan Negara Republik Indonesia. 17 Tahun 1985 tentang Pengesahan UNCLOS. Ketentuan-ketentuan tentang negara kepulauan dalam Konvensi Hukum Laut Internasional 1982 adalah rezim baru yang tidak terdapat di dalam konvensi-konvensi Geneva tentang hukum laut tahun 1958.

karang kering terluar dari kepulauan Indonesia. dan perairan pedalaman serta ruang udara di atas laut teritorial. bahwa untuk keperluan menetapkan zona maritimnya. negara-negara kepulauan dapat menarik garis pangkal lurus kepulauan (straight achipelagic baselines) sampai sejauh 100 mil laut. dalam Undang-Undang No. dan politis atau secara historis memang dipandang sebagai demikian. hingga suatu kepanjangan maksimum 125 (seratus dua puluh lima) mil laut (Gambar 3.22 Wilayah perairan Indonesia dalam Undang-Undang No.). Garis pangkal lurus kepulauan adalah garis -garis lurus yang menghubungkan titik-titik terluar pada garis air rendah pulau-pulau dan karang.20 Dalam KHL 1982 juga ditentukan garis pangkal kepulauan. dan perairan pedalaman. 6 Tahun 1996. Selama rasio perbandingan antara air dengan daratan tidak melebihi 9 : 1 serta dengan ketentuan bahwa wilayah yang dihasilkan tidak memotong negara lain dari laut lepas dan zona ekonomi eksklusif. kecuali bahwa 3% (tiga per seratus) dari jumlah keseluruhan garis -garis pangkal yang mengelilingi kepulauan Indonesia dapat melebihi kepanjangan tersebut. perairan kepulauan. perairan kepulauan. Indonesia menetapkan garis pangkal kepulauan Indonesia ditarik dengan menggunakan garis pangkal lurus kepulauan. Indonesia memiliki kedaulatan penuh di wilayah perairan yang meliputi laut teritorial.21 Namun. dan perairan pedalaman 20 Lihat Pasal 46 KHL 1982. Panjang garis pangkal lurus kepulauan tersebut tidak boleh melebihi 100 (seratus) mil laut. ekonomis. 22 Lihat Pasal 5 UU No. 21 Lihat Pasal 47 KHL 1982. 6 Tahun 1996 . 6 Tahun 1996 meliputi laut teritorial. perairan kepulauan. yang menghubungkan titik-titik paling luar dari pulau terluar dan batu-batu karang. 17 alamiah lainnya dalam pertalian yang demikian eratnya sehingga membentuk suatu kesatuan intrinsik geografis.

Lihat Pasal 56-60 KHL 1982. laut teritorial merupakan jalur laut selebar 12 (dua belas) mil laut yang diukur dari garis pangkal kepulauan Indonesia.. 18 serta dasar laut dan tanah di bawahnya termasuk sumber kekayaan alam yang terkandung di dalamnya. cit. 6 Tahun 1996 25 Suryo Sakti Hadiwijoyo. Sementara Perairan Kepulauan Indonesia adalah semua perairan yang terletak pada sisi dalam garis pangkal lurus kepulauan tanpa memperhatikan kedalaman atau jaraknya dari pantai. Hak berdaulat (sovereign rights) untuk mengadakan eksplorasi dan eksploitasi.6 Tahun 1996 24 Lihat Pasal 3 UU No. hlm. Batas Wilayah Negara Indonesia. hlm. 6 Tahun 1996. konservasi dan pengurusan dari sumber kekayaan alam 23 Lihat Pasal 4 UU No. Gava Media.23 Laut teritorial adalah bagian laut atau jalur laut yang terletak pada sisi luar dari garis pangkal dan sebelah luarnya dibatasi oleh garis atau batas luar. Lihat Pasal 4 UU No. Adapun hak-hak negara pantai dalam ZEE adalah:26 1. 45-46. op. dalam Undang-Undang No. 2008. Sebagimana halnya dengan laut teritorial. Dalam konteks Indonesia sebagai negara kepulauan. Yogyakarta. 70. Dengan penerapan garis pangkal lurus pada pantai yang berliku-liku atau pada pantai yang di depannya terdapat pulau atau gugusan pulau. 26 Chairul Anwar. Perairan Pedalaman Indonesia adalah semua perairan yang terletak pada sisi darat dari garis air rendah dari pantai-pantai Indonesia. 6 Tahun 1996 juga disebutkan hak-hak Indonesia dalam Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) sebagaimana ditetapkan dalam KHL 1982. maka akan mengakibatkan adanya bagian perairan atau laut yang terletak di sebelah dalam dari garis pangkal lurus tersebut.25 Selain itu. perairan pedalaman ini juga merupakan bagian dari wilayah negara sehingga negara memiliki kedaulatan penuh di dalamnya. .24 Perairan pedalaman terjadi sebagai akibat dari penarikan garis lurus dari ujung ke ujung. termasuk ke dalamnya semua bagian dari perairan yang terletak pada sisi darat dari suatu garis penutup.

instalasi dan bangunan. Di mana segala jenis kapal dan pesawat udara negara asing.27 27 Lihat Pasal 18-20 UU No. 3. Semua kapal dan pesawat udara asing mempunyai kebebasan pelayaran dan penerbangan untuk tujuan transit yang terus-menerus. riset ilmiah kelautan. . 6 Tahun 1996. antara satu bagian dari laut lepas atau Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia dengan bagian laut lepas atau Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia lainnya. perlindungan dan penjagaan lingkungan maritim. Hak berdaulat atas kegiatan-kegiatan eksplorasi dan eksploitasi seperti produksi energi dari air dan angin. Sementara dalam Undang-Undang No. baik negara pantai maupun negara tak berpantai. 6 Tahun 1996 hanya dijelaskan tentang pengaturan hak lintas damai di wilayah ZEE Indonesia. dasar laut dan tanah di bawahnya. Yurisdiksi untuk pendirian dan pemanfaatan pulau buatan. 19 hayati atau non hayati dari perairan. langsung dan secepat mungkin melalui laut teritorial Indonesia di selat antara satu bagian laut lepas atau Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia dan bagian laut lepas atau Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia lainnya. dapat menikmati hak lintas alur laut kepulauan melalui perairan kepulauan Indonesia. Namun demikian Negara pantai tidak boleh mendirikan instalasi yang membahayakan pelayaran di daerah yang sudah menjadi lintasan pelayaran internasional. 2.

Ketentuan-ketentuan ini menegaskan kedaulatan negara-negara pantai atas wilayah perairannya yang menjadi satu kesatuan utuh negara dan bukan lagi menjadi wilayah laut lepas yang bebas dilalui dan dimanfaatkan oleh negara lain.com/2014/05/negara-negara-tetangga- indonesia-dan. tidak hanya untuk Indonesia sendiri. Konsepsi Nusantara yang dituangkan dalam Deklarasi Juanda tersebut telah mengilhami lahirnya Konvensi PBB III tentang Hukum Laut Internasional pada tahun 1982. hak-hak negara kepulauan seperti Indonesia tercantum jelas dalam bab tersendiri tentang Negara Kepulauan (Archipelagic State).html. http://indonesiatop. tetapi hukum laut internasional yang diakui oleh negara-negara lain. yang dalam Proklamasi 1945 28 Indonesia Top. Peta Wilayah Indonesia Menurut KHL 198228 VI. PENUTUP Deklarasi Juanda 1957 telah membawa perubahan besar dalam hukum laut. Oleh karena itu. Dengan adanya konvensi ini. terutama untuk wilayah perairannya.blogspot. Deklarasi Juanda 1957 juga disebut-sebut sebagai Proklamasi Indonesia kedua. diakses tanggal 15 Juli 2014 . 20 Gambar 3. Negara-negara tetangga Indonesia dan hubungannya sejak zaman dulu.

Kepala Daerah Belum Paham UNCLOS. Jakarta. 21 belum diakui karena masih menganut rezim TZMKO 1939 di mana batas laut teritorial hanya 3 mil dan diukur dari garis pangkal biasa. 362 hlm. S. 214 hlm. Yogyakarta. Dengan status Indonesia sebagai negara kepulauan yang diakui dalam KHL 1982. Hukum Online. Kebijakan dan pengelolaan sumber daya laut jadi tumpang tindih. 2008. . maka keamanan. 2012. DAFTAR PUSTAKA Anwar. Hukum Internasional Horizon Baru Hukum Laut Internasional Konvensi Hukum Laut. C.hukumonline. Penerbit Djambatan. Gava Media. kesatuan dan keutuhan Negara Republik Indonesia dapat terjamin dan dihormati negara-negara lain. Perubahan dalam KHL 1982 menjadikan lebar laut teritorial Indonesia menjadi 12 mil dan diukur dari garis pangkal lurus. Batas Wilayah Negara Indonesia. S.com/berita/baca/lt50879b8dbc7de/ke pala-daerah-belum-paham-unclos (13 Juli 2014). http://www. 1989. Hadiwijoyo.

Konvensi Hukum Laut Internasional (KHL/UNCLOS) 1982. 466 Pulau. T.blogspot. 2011. M. Negara-negara tetangga Indonesia dan hubungannya sejak zaman dulu. http://indonesiatop. A.ac.html (15 Juli 2014). Status Hukum Perairan Kepulauan Indonesia dan Hak Lintas Kapal Asing. 2010. Penerbit Alumni. Di Indonesia Ada 13. Konsep Wawasan Nusantara dalam Konvensi Hukum Laut 1982. http://www.html (15 Juli 2014). 2010. Bukan 17. Kurdi.com/2010/11/peta-batas-wilayah- indonesia. Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat. S.id/content/di-indonesia-ada-13-466- pulau-bukan-17508-pulau (21 Mei 2014).go. (15 Juli 2014). 2010. 2013.com/2014/05/negara-negara- tetangga-indonesia-dan. A. . Bandung. Muhjiddin. 374 hlm.pdf. 338 hlm.blogspot. 2011. 22 Indonesia Top. G.com/2010/11/konsep- wawasan-nusantara-dalam-konvensi. Hukum Acara Pidana dan Hukum Pidana di Bidang Perikanan.blogspot.undip.id/3258/2/13_artikel_pak_Singgih. http://indonesiaputra. http://indonesiaputra. Peta Batas Wilayah Indonesia Berdasarkan TZMKO 1939.html (15 Juli 2014). Konsep Batas wilayah Negara di Nusantara. PT Rineka Cipta. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1996 tentang Perairan Indonesia. http://eprints. Jakarta. _______. Supramono. Sulistiyono.508 Pulau.menkokesra. 1993.