Dasar Fisika dan Bagian-bagiannya

Penelitian geothermal dihubungkan ke banyak pertanyaan geosains,
berkisar dari studi fisika tentang bumi, tektonik, seismisitas dan vulkanisme
untuk masalah praktek di tambang, pengeboran minyak, sumber daya panas
bumi, dan metode geothermal yang digunakan di eksplorasi, pertambangan
dan teknik serta geofisika lingkungan.
Sifat petrofisika berikut menjadi yang utama dalam penelitian ini :
λ = konduktivitas thermal
a = konduktivitas suhu (thermal diffusivity)
c = panas/kalor jenis

Kalor Jenis

Kalor jenis atau kapasitas panas per unit massa cdidenisikan sebagai
rasio dari panas masukan Q kepada massa m dan menghasilkan
peningkatan suhu ∆T

Q Q c
c= = =
m ⋅ ∆T d ⋅ V ⋅ ∆ T d

c = c⋅d adalah kapasitas panas volumetric, dengan densitas d
Kapasitas panas tergantung pada tipe dari proses thermal; pembedaan
harus dibuat antara panas jenis pada volume konstan c v dan pada
.

tekanan konstan c p .

Perbedaan tersebut untuk bahan isotropic umumnya diberikan oleh
hubungan :
T
c p − cv = (3αT ) ⋅ k ⋅
2

d

Konduktivitas thermal dan Diffusivitas

Transfer panas (transfer oleh energi panas) dinyatakan oleh proses fisika
diantaranya :
• Konduksi : pemindahan kalor yang terjadi pada dua benda padat yang
berbeda temperatur dan terjadi kontak langsung.
• Konveksi : terjadi dengan medium fluida (gas/zat cair) dengan dicirikan oleh
ikut berpindahnya pembawa panas.
• Radiasi : di mana panas ditransfer secara langsung tidak memerlukan
medium, terpancar dalam bentuk gelombang elektromagnetik seperti cahaya
atau gelombang radio.
Radiasi umumnya diabaikan untuk kondisis lithospheric. Begitu juga, konveksi
diabaikan di kebanyakan proses. Oleh karena itu, untuk studi geofisika dari
litosfer bumi, hanya konduksi yang penting dan sifat thermal batuan paling
substansial adalah konduktivitas thermalnya (Chermak and Rybach,1982).

Konduktivitas thermal λ dari material dapat diartikan adalah sifat sebagai
konduktor dari energi panas. Gradien suhu ∇T dan aliran panas j
dihubungkan dalam bentuk persamaan fourier, yang memberikan definisi
dari konduktivitas thermal λ adalah : j = − λ ∇T

Diffusivitas thermal a dihubungkan dengan konduktivitas panas oleh kalor
jenis c dan densitas d menghasilkan : −1
a = λ ⋅ (d ⋅ c p )
Simbol Sauan SI Satuan cgs Konversi

λ
W m-1K-1 cal cm-1s-1C-1 1 W m-1K-1 = 2.3888.10-3 cal cm-1s-1C-1
1 mcal cm-1s-1C-1 = 0.4187 W m-1K-1

α m2s-1 cm2s-1 1 m2s-1 = 104 cm2s-1
1 cm2s-1= 10-4 m2s-1

c J kg-1K-1 cal g-1C-1 1 J kg-1K-1= 2.3888.10-3 cal g-1C-1
1 cal g-1C-1 = 4.187 kJ kg-1K-1

85 W m-1K-1 •Untuk panas spesifik. kelas mineral utama bisa diatur pada urutan penurunan nilai rata-rata konduktivitas thermal.Sifat Panas Dari mineral dan Kandungan Porinya Di antara batuan yang membentuk mineral.8 19 W m-1K-1 • fluoride dan chloride = 6 W m-1K-1 • karbonat = 4 W m-1K-1 • silikat = 3.8 W m-1K-1 • sulfat = 3.1 W m-1K-1 • native elemen/non metal (selenium.3 W m-1K-1 • nitrat = 2. • native metal dan elemen-elemen seperti grafit dan intan = 120 W m-1K-1 • sulfida = 19 W m-1K-1 • oksida = 11. sulfur) = 0. Nilai rendah terdapat diantara grup mineral dari mica (biotit). kelas mineral juga disusun pada urutan dari penurunan nilai rata-rata. andalusite) memiliki konduktivitas thermal relative tinggi. spinel) konduktivitas thermal yang bernilai sangat tinggi. nepheline. kwarsa dan mineral yang dikandung pada batuan metamorf (kyanite. Setelah Kobranova (1989). Butiran mineral dan beberapa diantaranya (rutile. yakni: silikat – karbonat – sulfat – oksida – sulfida dan analoginya – native metal . dan polyhalite.

Quartz amorphous.Ketergantungan terhadap temperatur Kiri : konduktivitas thermal Kanan : kalor jenis a. Quartz Paralel b. . Olivine (Fo18Fa82) d. Quartz perpendicular optical axis c. Itu juga menunjukkan ketergantungan terhadap arah dari aliran panas (anisotropi) untuk konduktivitas. fused silica Sifat panas beberapa mineral fungsi terhadap temperatur Gambar mengilustrasikan pengaruh temperatur terhadap konduktivitas thermal dan panas spesifik untuk beberapa contoh.

9 Grafit heksagonal 355 89. Mineral Symmetry ( W m-1K-1 ) ( W m-1K-1 ) Muskovit monoclinic 0.6 3.1 Ortoklas monoclinic 2.6 5.7 Kalsit trigonal 3.3 Hematit trigonal 14.Anisotropi karena sifat panas mineral Tergantung pada struktur lattice-nya.4 .5 11.6 Gipsum monoclinic 2.2 3.9 4.7 4.1 Anhidrit orthorhombik 5.84 5.7 12. Kualitas ini adalah khas terutama untuk silikat lembar (mika).3 Kuarsa trigonal 6.7 Dolomit trigonal 4. juga untuk jenis struktural lain. mineral menunjukkan konduktivitas thermal anisotropi.

Sifat Panas Pada Batuan Gambar di atas memberikanpandangan terhadap nilai jangkauan rata-rata konduktivitas thermal untuk kebanyakan tipe batuan .

Batuan kristalin memiliki nilai sedang dengan jangkauan relative kecil dari nilai dibandingkan jangkauan batuan sediment secara luas (sebagai perubahan porositas) 3. konduktivitas termal ditandai oleh yang jangkauan luas di dalam satu jenis batuan. pecahan volumenya dan distribusi ruang di dalam batuan. sifat thermalnya.Lima gambaran kualitatif : 1. dolomites – rocksalt 5. jangkauan ini terutama ditentukan oleh variasi kandungan mineral. . 4. Di dalam batuan sedimen. Material yang hilang (dry sand. Nilai tertinggi teramati pada kuarsit dan batuan garam (rock salt) 2. Di dalam batuan beku. memperlihatkan nilai terendah Dengan cara yang sama ke sifat batuan lain. soil). ditemukan kecenderungan meningkatnya konduktivitas termal dari asam/intermediet ke basa dan batuan ultrabasa. pori-pori dan retakan. konduktivitas termal yang meningkat terlihat utuk seri clay – sandstone – limestone.

λ = 0.0245 ⋅ Vquartz + 2.Sifat Thermal dari Batuan Beku dan Batuan Metamorf Dalam keadaan padat. telah dianalisakan korelasi antara konduktivitas thermal dan kandungan kuarsa dari contoh 100 granit dan monzonit kuarsa dan didapat hubungan untuk penyebaran luas dari masing-masing sampel individu.(1981). . tidak terpengaruh cuaca dan kondisi tanpa fraktur.59 λ dalam Wm-1K-1 dan Vquartz volume fraksi kandungan kuarsa. konduktivitas thermal diatur terutama oleh : • Kandungan mineral dan sifat thermal dari mineral tersebut (terdapat pada grafik anisotropi) • Struktur internal Oleh Roy et al.

Diabas (1) dan Gabro dipengaruhi kandungan plagioklas (2) –. Granit – dipengaruhi kandungan kuarsa b. a. sebagai jumlah dari kandungan olivin dan piroksin Pengaruh kandungan mineral terhadap konduktivitas termal dari batuan magmatik Konduktivitas termal dari granit dan kuarsa monzonit sebagai fungsi kandungan kuarsa .

Pengaruh Fraktur / Retakan dan Ketergantungan Terhadap Temperatur Di dalam patahan atau pecahan batuan. pori-pori. Ini membuat ketergantungan non linear dari konduktivitas thermal pada tekanan dan fenomena hysteresis sebagai hasil perubahan bentuk yang tetap. konduktivitas thermal ditambahi oleh pengaruh : • Kandungan dan sifat sifat dari pecahan yang mengisi material • Geometri pecahan dan distribusinya Ini mengakibatkan suatu ketergantungan tekanan yang dimulai oleh perilaku ketegangan tekanan dari sistem patahannya dan efeknya terhadap konduktivitas termal. . Pada tekanan rendah (diatas sekitar 100 MPa). konduktivitas termal meningkat dalam kaitan terhadap retakan. dan sebagainya. fraktur. dan peningkatan terhadap daerah kontak (pada butir dan batasan retakan).

Konduktivitas termal dari sampel sumur KTB sebagai fungsi tekanan (kiri) dan temperatur (kanan). G = batuan beku dari kedalaman 1793 m. Gambar mengilustrasikan ketidak linieran dari sampel batuan beku G dari lubang bor. p = 10 MPa. tidak menunjukkan tipe retakan dikondisikan pada tekanan rendah . dhitung pada T = 540C. sampel A amphibolite yang lebih kompak. A = amphibolit dari 147 m. Ketergantungan terhadap temperatur juga digambarkan. Jika dibandingkan dengan batuan beku.

Ini menunjukkan temperatur ini tergantung penurunan untuk konduktivitas thermal dan diffusivitas thermal. . karbonat.kandungan mineral dan sifat panas dari mineral . Konduktivitas thermal dari garam biasanya menurun bersamaan dengan meningkatnya temperatur dan meningkat dengan meningkatnya tekanan. Konduktivitas termal dan diffusivitas termal dari batuan garam kristalin sebagai fungsi terhadap temperatur.Sifat Panas Batuan Sedimen Tidak Berpori Batuan sediment padat menunjukkan pengaruh utama yang sama dan sifat yang mengontrol sifat thermal dari batuan magmatik: . dan tipe yang lain dari garam.struktur internal dari batuan anggota khas dari kelompok ini adalah anhydrite tidak berpori.

efek porositas dan kandungan air terhadap konduktivitas batuan sedikit banyak. dan bisa menjadi dominan.Batuan Sedimen Berpori Pada batuan sedimen bepori. Sifat termal sangat dipengaruhi oleh perbedaan yang jelas antara sifat termal material matriks padat (mineral) dengan berbagai pori-pori yang mengisi meterial. .

1 mm. dan tabel 8.9) 3.9 b).Umumnya. konduktivitas termal meningkat dengan : 1. 6. Contoh : pengurangan 27% nilai konduktivitas termal monocrystalline dengan ukuran butir 0.9 c. .9 b. Pengaruh ini sangat baik terutama dalam kasus terhadap konduktivitas termal kandungan pori yang rendah dengan kontras tinggi dari konduktivitas termal antara matriks dan material pori (perbandingan sand dan sandstone di 8.9 c) 5.05 mm. Menurunnya ukuran butir meningkatkan banyaknya kontak butir per unit volume. Meningkatnya kandungan air 4. 8. dan penurunan 50% pada 0. juga menurunkan konduktivitas termal. Tingkat kesempurnaan ukuran butir dan smentasi. Meningkatnya konduktivitas termal terhadap isi mineral padat (membandingkan kuarsit dan limestone di 8. Menurunnya porositas 2. Meningkatnya konduktivitas termal terhadap kandungan pori-pori (8.

62 3.56 Berea s 0.49 3.22 1.34 6.36 Tensleep s 0.54 2.3 2.09 1.56 5. minyak. .026 0.74 4.05 Tabel Konduktivitas termal dari batupasir dengan variasi fluida pengisi pori.68 2.Peters s 0. Ini diakiibatkan oleh dominasi transfer panas oleh sementasi matriks skeleton.65 4.9 6.628 Berkeley s 0.11 7.49 7.155 2.128 0.39 3.48 Teapot s 0.37 5. Dimana untuk sementasi batupasir nilinya sangat mendekati. air) lebih nampak untuk pasir yang belum terpadatkan.11 2.04 4. Pemisahan antara nilai-nilai untuk material pengisi pori-pori (udara.41 St.29 1.Material Porosity Thermal conductivity In W/m K with pore fluid Vacuo Air n-heptane Water Pore Fluid 0 0.

SUMMARY • Kapasitas panas tergantung pada tipe dari proses thermal • Di antara batuan yang membentuk mineral. andalusite) memiliki konduktivitas thermal relative tinggi Konduktivitas thermal anisotropi (dan diffusivitas thermal) utamanya dimulai dari tiga sebab : 1. Bentuk dan geometri dari retakan. kwarsa dan mineral yang dikandung pada batuan metamorf (kyanite. Anisotropi kristal dari batuan individu yang membentuk mineral 2. Intrinsik atau anisotropi structural dihasilkan dari pembentukan mineral dan penempatannya di dalam batuan 3. pecahan. sifat termal sangat dipengaruhi oleh perbedaan yang jelas antara sifat termal material matriks padat (mineral) dengan berbagai pori-pori yang mengisi meterial. . dan gangguan lainnya • Pada sedimen berpori.

.Unconsolidated sediments  Marine unconsolidated sediments merupakan tipe utama dari batuan sediment. yang ditandai dengan porositas yang tinggi dan ikatan yang lemah antara butirnya  Gambar di samping. merupakan grafik hubungan antara konduktivitas panas dan kandungan air (berat %).

61 ± 0.651 ± 0. Bullard dan day (1961) sediment di dasar samudra.030 ).014 ) + (0.Φ ] −1 . mempunyai hubungan empiris antara konduktivitas panas terhadap porositas dalam persamaan berikut λ = [(0.

8 Wm-1K-1) jangkauan maximum sebesar 20 sampai 30 wt% dalam kandungan air (2 atau 3 Wm-1K-1).0. . turun terhadap yang memiliki kandungan air yang tinggi.2 ….Tipe lainnya dari unsolidated rocks adalah soils Schuch(1982) menyebutkan kelakuan soil secara umum : “konduktivitas panas untuk soil kering bernilai kecil (0.

anhydrite). daripada batuan dengan tingkat compressibility nol atau kecil (dense carbonates. consolidated sediment with high porosity).Ketergantungan konduktivitas panas terhadap tekanan dan kedalaman Peningkatan tekanan dan konduktivitas panas batuan sediment tergantung pada : Peningkatan aliran panas Penurunan porositas Variasi kondisi tekanan pada konduktivitas panas lebih mudah dijelaskan pada batuan yang mudah termampatkan (unconsolidated sediment. .

. pada kurva konduktivitas panas vs tekanan.Penurunan langsung kondultivitas panas terhadap deformasi dapat menjelaskan fenomena nonlinearity dan partial irreversibility.

A log-log presentation hasil dari kurva konduktivitas panas vs tekanan berupa korelasi linear. Hal ini sesuai dengan persamaan berikut: λ = λ0. p / ( p) 0 m .

Perbandingan antara kedalaman terhadap proses geologi yang berbeda .

Anisotropy of thermal conductivity (sedimentary rocks) Anisotropy konduktivitas panas berhubungan dengan structural-textural properties of sedimentary rocks. Nilai anisotropy yang lebih besar pada karbonat (1. Karbonat dan batupasir biasanya memiliki anisotropy yang rendah (1. .3).4) biasanya disebabkan oleh distinct bedding atau crack orientation.3-1.

C pi  Cpi = panas specific d i =1 dari komponen i  di = densitas komponen i .di. TEORI DAN KONSEP MODELNYA  Review Panas specific  Vi = pecahan volume dari komponen i 1 n C p = ∑ Vti.

Konduktivitas Panas Konduktivitas panas dapat dibagi menjadi 3 model yaitu :  Sheet or laminated models  Sphere atau inclusion models  Model dengan internal struktur .

aliran panas melewati batas antar komponen secara tegak lurus. sedangkan pada parallel series aliran panas melewatinya pada arah yang sejajar. their modifications and comparable mixing rules The series and parallel model Pada series models.Theories based on sheet models. .

Gambar berikut merupakan model-model untuk dua komponen batuan  parallel model n λ// = ΣVi.λi i =1  series model n −1 λ⊥ = Σ Vi.λ −1 i i =1 .

Untuk batuan berporos yang terdiri dari matrix dan mengandung pori λ // = (1 − Φ ). λ p λ ⊥ = [ (1 − Φ ) / λ m + Φ. λ m + Φ. λ p ] −1 .

Model tersebut terdiri dari:  Porositas  Sandstone(quartz)  Carbonate  Shale (smectite.and mixed-laters) .Modifications and comparable mixing rules Brigaud et al (1989).kaolinite. Griffith et al (1992) and Brigaud et al (1992) telah menggunakan model detail berdasarkan serial dan model geometri untuk menghitung konduktivitas panas batuan sediment menggunakan well log analysis.

1990) .” (Jessop. Masing-masing menggunakan rumusan matematik yang berbeda pada perhitungan untuk distribusi konduktivitas dalam matrik mineral. Teori dan Model ”Beberapa model matematika bertujuan untuk memprediksi konduktivitas panas pada batuan dari informasi tentang unsur pokoknya. Semua tergantung informasi konduktivitas panas mineral dan semua dimulai dengan beberapa kerugian.

serta kondisi transfer panas pada hubungan antaranya. geometrinya. .  konduktivitas panas sebagai tensor bergantung pada fraksi volum dan konduktivitas panas penyusun batuan. Tinjauan  Kalor jenis sebagai besaran skalar dapat digambarkan sebagai hubungan sederhana dari tipe persamaan (3-2) n 1 cp = d ∑V i =1 i ⋅ d i ⋅ c p 'i  dengan Vi fraksi volum untuk komponen i  cp. distribusinya. pori terisi material). dan struktur internal.i kalor jenis untuk komponen i  di densitas untuk komponen i  hubungan di atas valid untuk batuan konsisten yang terdiri dari n komponen (mineral. Keistimewaan rumit ini membuat teori semakin sulit.

Model Seri n −1 λ −1 = ∑V i =1 i ⋅ λi λ seri = [ (1 − Φ ) / λm + Φ / λ p ]−1 . aliran panas mengalir  dengan Vi fraksi volum konduktivitas panas tegak lurus bidang batas antara penyusun. Persamaan ini menggambarkan untuk kasus model paralel. batuan (seperti batu pasir berpori).17 konduktivitas panas untuk batuan diberikan menunjukkan model ini untuk dua penyusun susunan.gambaran tiga grup model yang berhubungan dengan konduktivitas panas Teori Berdasarkan Model Lembaran (Sheet) Modifikasinya dan Aturan Pencampuran yang dapat Dibandingkan  Model Seri dan Paralel  Untuk kasus model seri. Gambar 8.Model Paralel menjadi n λ = ∑V i =1 i ⋅ λi λ paralel = (1 − Φ) ⋅ λm + Φ ⋅ λ p  . dan penyusun ke i. aliran panas batas lebih tinggi (λ//) dan lebih rendah (λ┴) mengalir sejajar dengannya. Hubungan  Untuk batuan berpori–kandungan matrix (subskrip yang sesuai untuk n penyusun adalah: m) dan kandungan pori (subskrip p) – persamaan  .

.17 Kelompok model lembaran (sheet) untuk menghitung konduktivitas panas Keterangan: 1 – model paralel 2 – model seri 3 – model oleh Krischer dan Esdorn (1956) m–matrix p–cairan pori.Gambar 8.

6-112)  b) suatu model tanpa geometri sederhana yang signifikan. tetapi dengan ekspresi matematika 1 λ H = (λ paralel + λ seri ) sederhana merupakan rerata geometrik n V i 2 λ = ∏ λ  Persamaan di atas dikemukakan oleh Horai dan g i i=1 Simmons (1969). persamaan 8-45 menjadi Φ log λ g = (1 − Φ) ⋅ log λ m + Φ ⋅ log λ p λg = λ 1− Φ m ⋅ λp .  Untuk fakta kasus batuan berpori. Modifikasi dan Aturan Pencampuran Komparabel  a) kombinasi sederhana dari dua model dasar adalah rerata aritmatiknya (dalam analogi ”nilai tertinggi” oleh persamaan 6-111.

ini kemungkinan model sederhana terbaik yang didapat”.7 Wm-1K-1 λ fluid = 0. 8-41: s – seri: rerata tertinggi. dan untuk tingkat λmatrix = 7. 8-46: G – rerata geometri Wm-1K-1. ”model ini mencapai popularitas tertentu. . telah ditentukan konduktivitas panas in situ berdasarkan komposisi mineral (diturunkan dari hasil well logging) Edward Batu gamping (San Antonio/ Texas) dan konduktivitas panas rata-rata mineral menggunakan persamaan (8-45) Gambar 8.18. perbandingan antara perhitungan dan eksperimen menentukan konduktivitas panas terhadap ketergantungan porositas untuk kurva sedimen jenuh air dihitung menggunakan persamaan 8-40: p – paralel.6 ketelitian yang mungkin diharapkan.

Model Sederhana untuk Batuan Patahan  konduktivitas panas yang tergantung pada tekanan adalah:   − A⋅    p  λ = λ m 1 − Do ⋅ e  p*        dengan λm konduktivitas panas material matrix kompak Do adalah nilai awal parameter cacat D pada tekanan p=0 dan A adalah parameter deformasi. titik-titik – data eksperimen dari gambar 8.3.  Pendekatan yang baik antara nilai perhitungan dan pengukuran (Gambar 8.5 (sampel gneiss).0015 ⋅ e −0. kurva dihitung  Dua suku eksponensial tersebut menunjukkan bahwa perilaku batuan dikarakterisasi oleh dua sistem dengan persamaan 8-58.20 aplikasi model pada hasil eksperimen. .03 ⋅ e −0.4).20) membutuhkan dua suku eksponensial: λ = 3 .4 p − 0 .62 ⋅ [1 − 0 . patahan komparabel untuk kasus sifat elastis (lihat bab 6.4.03 p ]  Gambar 8.

1975) . Model Bola (Sphere) atau Inklusi Model Maxwell klasik Asumsi pori-pori bola dalam mengandung partikel bola matrix padat menghasilkan terdispersi dalam suatu persamaan (porositas kecil) bahan homogen ( 2η + 1) − 2 Φ (η − 1) λ = λm ⋅ ( 2η + 1) + Φ (η − 1) Partikel (porositas tinggi) 3η − 2Φ(η − 1) λ = λp ⋅ 3 + Φ(η − 1) (Parrot dan Stuckes.

2) yang memiliki konduktivitas berbeda dicelupkan ke dalam suatu fluida kontinu fase ketiga (3): −1  3C 2 λ 2 3C 3 λ3   C1 3C 2 3C 3  λ = C1 + + ⋅ + +   2λ1 + λ 2 2λ1 + λ λ 3  1 2λ1 + λ 2 2λ1 + λ 3 .Brailsford dan Major (1964) membangun suatu persamaan untuk suatu model dalam dua komponen padat (1.

Wm-1K-1 P. .Gambar 8. Data eksperimen: ■-batu pasir.6 matrix. Keterangan: Wm-1K-1 . Woodside dan Messmer (1961) ●-Lempung merah lautan.paralel. S-seri. S-P-spherical λmatrix = 7.7 pores S-M-spherical λ fluid = 0. Ratcliffe (1960).21 perbandingan perhitungan dan eksperimen ditentukan konduktivitas panas terhadap porositas untuk sedimen jenuh air.

Model terdiri dari satu matrix dengan inklusi elipsoidal. Medan kalor di dalam inklusi adalah homogen. 2 Tidak ada interaksi antar inklusi yang berbeda. seperti untuk bola padat Kami menurunkan hubungan di dalam material padatan lainnya atau semen. 1991 terbatas pada campuran material matrix padat dan kandungan pori cair.Model Maxwell diaplikasikan dan persamaannya tidak Artemieva dan Chesnokov. . tetapi juga pada campuran dua komponen padat yang berbeda. inklusi. asumsi utamanya: 1 Anisotrop intrinsik inklusi dan material matrix dapat diabaikan. dan untuk perhitungannya digunakan hubungan untuk model suatu medium yang terdiri hanya satu inklusi terisolasi dalam satu matrix. Pada teoritis untuk konduktivitas panas suatu medium anisotrop kasus ini. porositas harus disubstitusi dengan fraksi yang berdasar pada model volum dari material lain atau semen.

anisotrop lebih berat daripada untuk kasus inklusi prolat ketika atau . 1961) menjelaskan kurva pendekatan yang baik bisa dicapai dengan perhitungan konduktivitas panas terhadap porositas di bawah asumsi segi perbandingan diantara 0.05 dan 0. perhitungan konduktivitas cenderung mendekati nilai asimptotik yang digunakan untuk kasus terbatas oleh persamaan 8-38 dan 8-39 (media ”serat” dan ”berlapis” berturut-turut). Aspek rasio: untuk kasus dengan inklusi oblat (retakan) dengan .1. Perbandingan dengan data eksperimen untuk batu pasir (pengukuran Woodside dan Maessmer. untuk medium dengan menjadi makroskopis seperti medium berlapis. Porositas dan saturasi material pori 2.Karakterisasi panas model diberikan oleh rasio antara konduktivitas panas inklusi dan matrix. dan karakterisasi geometri diberikan oleh konsentrasi volum inklusi (atau porositas) dan aspek rasio inklusi. 1. Hasilnya menunjukkan bahwa efektivitas konduktivitas panas dari material komposit mayoritas bergantung pada. Sehingga. .

λm dan λp adalah konduktivitas panas batuan. dan pori terisi mineral . komposit adalah homogeny dan isotropic. n λ −1 = ∑ i =1 3V i ⋅ ( 2 λ + λ i ) − 1 λ−1 = 3Φ ⋅ (2λ + λp ) −1 + 3 ⋅ (1 − Φ) ⋅ (2λ + λm ) −1 dengan λ. matrix. Teori Medium Efektif Teori medium efektif pertama kali saya publikasikan. Teori medium efektif memprediksi konduktivitas panas material komposit (batuan) λ dengan asumsi bahwa distribusi butir-butir adalah acak dan bahwa pada skala lebih luas daripada ukuran komponen-komponen (butir). Di beberapa kasus metode ini bisa sangat bermanfaat untuk Bruggeman perhitungan sifat komposit material jika fraksi volume Vi (1935) pada component individu i dan sifatnya (λi) diketahui.

P-paralel S-seri E-teori medium efektif.Gambar 8.7 W/Mk λp = 0.6 W/mK. ■-batu pasir jenuh air.22 Perbandingan diantara eksperimen dan teori konduktivitas panas λ terhadap porositas. . λm = 7. Woodside dan Messmer (1961).

. λs.23). Model dengan Variabel Struktur Internal Konduktivitas panas bagian individu matrix padat. λ. Ini valid untuk kasus umum isotropi secara tegak lurus terhadap sifat panas asal untuk contoh dengan struktur lembaran dan juga oleh retakan dan patahan dengan orientasi istimewa (lihat Gambar 8. Untuk konduktivitas panas hubungan systemikro menghasilkan: −1 −1     α grain b  α grain b   λc  1  b λ 1 = λ 2 =  1 − ⋅ λ s + ⋅ ⋅λp   + +   α pore a  α pore a  λ p a  −1 a   b     −1 −1  α grain b  −1 α grain b    λ 2  −1  b  a b  λ 3 =  1 − ⋅ λ s + ⋅ ⋅ λ p  2 −   + − 2  c    α pore a  α pore a  a b a  λp   transformasi ke dalam sistemikro berperan penting untuk hubungan berikut pada konduktivitas panas λ1 = λ 2 = λ paralel = λ1 cos 2 α + λ 3 sin 2 α λ 3 = λ seri = λ 1 sin 2 α + λ 3 cos 2 α Transformasi ini tidak dibatasi model yang jelas. wilayah hubungan dan pori terisi adalah λc.

tapi tidak secara pokok pada ukuran butir. Tercatat bahwa dimensi digambarkan hanya sebagai perbandingan reratanya bahwa konduktivitas panas tergantung pada porositas dan bentuk butir. bahwa konduktivitas panas tergantung pada: a) konduktivitas panas pada unsur pokok (kandungan) b) Dimensi model. transformasi nilai konduktivitas termal wilayah hubungan (di dalam bentuk kekuatan ketergantungan). digambarkan oleh struktur sudut.23. Persamaan 8-64 smapai 8-67 menunjukkan. Perbandingan anisotropi untuk model struktur menghasilkan pengaruh kombinasi pada “anisotropimikro” dan struktur internal (tan α): λ1 + tan 2 α λ paralel λ1 λ3 Aλ = = = λ seri λ3 λ1 ⋅ tan 2 α + 1 λ3 Ketergantungan tekanan pada konduktivitas panas bisa digabungkan ke dalam model ini dengan menggunakan tekanan tergantung pada konduktivitas panas untuk Gambar 8. . c) struktur internal.

5 Wm-1K-1. kurva: dihitung oleh kurva: dihitung oleh model tipe I dengan suatu model dengan struktur internal untuk tipe II.24 konduktivitas panas normal vertical λ3/ λs terhadap porositas. titik-titik: data eksperimen termal di atas porositas. untuk sandstone air tersaturasi. parameter sifat kontak berbeda dan dua sudut struktur α = 30 o kurva adalah sudut struktur α = 45 o . dua konduktivitas matrix λ=4. dihitung untuk model dengan struktur internal. titik-titik: clay merah. Gambar 8.27. struktur sudut α = 45o Gambar 8.26 perbandingan antara perhitungan dan Gambar 8. perbandingan antara perhitungan dan eksperimen dari kebergantungan konduktivitas eksperimen dari kebergantungan konduktivitas termal di atas porositas.