BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Ternak ruminansia adalah ternak atau hewan yang memiliki empat buah lambung dan
mengalami proses memamahbiak atau proses pengembalian makanan dari lambung kemulut
untuk dimamah. Contoh hewan ruminansia ini adalah ternak sapi, kerbau, kambing, serta
domba (Ardianto, 2012).
Hewan Ruminansia adalah hewan pemakan hijauan atau herbivora yang memiliki
lambung dengan beberapa ruangan. Hewan ruminansia termasuk dalam sub
ordo Ruminansia dan ordonya adalah Artiodaktil atau berkuku belah. Hewan ruminansia
memiliki empat lambung, yaitu: Rumen, Retikulum, Omasum, Abomasum. Selain itu hewan
ruminansia juga memamah makanan yang telah dicerna atau biasa disebut memamah biak (Apik,
2011).
Hewan memamah biak (ruminansia) adalah sekumpulan hewan pemakan tumbuhan yang
mencerna makanannya dalam dua langkah, pertama dengan menelan bahan mentah, kemudian
mengeluarkan makanan yang sudah setengah dicerna dan mengunyahnya lagi. Lambung hewan-
hewan ini tidak hanya memiliki satu ruang (monogastrik) tetapi lebih dari satu ruang
(poligastrik), atau secara umum biasa dikatakan berperut banyak (Hidayah, 2011).
Pada sistem pencernaan ternak ruminasia terdapat suatu proses yang disebut memamah
biak (ruminasi). Pakan berserat (hijauan) yang dimakan ditahan untuk sementara di dalam
rumen. Pada saat hewan beristirahat, pakan yang telah berada dalam rumen dikembalikan ke
mulut (proses regurgitasi), untuk dikunyah kembali (proses remastikasi), kemudian pakan
ditelan kembali (proses redeglutasi). Selanjutnya pakan tersebut dicerna lagi oleh enzim-enzim
mikroba rumen. Kontraksi retikulorumen yang terkoordinasi dalam rangkaian proses tersebut
bermanfaat pula untuk pengadukan digesta inokulasi dan penyerapan nutrien. Selain itu
kontraksi retikulorumen juga bermanfaat untuk pergerakan digesta
meninggalkan retikulorumen melalui retikulo-omasal orifice (Junaedi, 2011).
Hewan-hewan herbivora (pemakan rumput) seperti domba, sapi, kerbau, dan kambing
disebut sebagai hewan memamah biak (ruminansia). Sistem pencernaan makanan pada hewan
ini lebih panjang dan kompleks. Makanan hewan ini banyak mengandung selulosa yang sulit

Salah satu cara untuk mendapatkan hal tersebut dapat dilaksanakan melalui metode in vitro. Abomasum merupakan lambung sesungguhnya yang juga dimiliki mamalia lainnya (Hasanah. serta lambung kelenjar yaitu omasum (perut kitab) dan abomasum (perut masam). 2011). Tujuan Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengidentifikasi sistem pencernaan ternak ruminansia (kambing) serta fungsinya dan mengetaui bagaimana cara menentukan opf pada cairan rumen. Metode ini adalah tiruan proses pencernaan pada tubuh ternak dengan biaya yang relatif lebih murah dan pelaksanaannya relatif lebih mudah. Berdasarkan penjelasan diatas maka dibutuhkan sebuah praktikum untuk mengetahui bagaimana susunan alat pencernaan ternak ruminansia yaitu khususnya ternak sapi dan kambing. Hewan ruminansia memiliki seperangkat alat pencernaan seperti rongga mulut (gigi) pada hewan ruminansia terdapat gigi gerahan yang besar yang berfungsi untuk menggiling dan menggilas serta mengunyah rerumputan yang mengandung selulosa yang sulit dicerna (Hasanah. serta bagaimana fungsi atau peranan dari alat pencernaan ternak ruminansia tersebut. terutama jika nutrien yang terkandung dalam bahan pakan tidak mencukupi kebutuhan ternak. Kegunaan Adapun kegunaan dari praktikum ini adalah untuk membantu mahasiswa memahami sistem pencernaan ternak ruminansia (kambing) serta membedakan sistem pencernaanya dengan ternak non ruminansia dan mengetaui cara menentukan opf pada cairan rumen. Lambung hewan ruminansia terdiri atas lambung pengunyah. Nilai manfaat suatu bahan pakan dapat diuji melalui penentuan fermentabilitasnya dalam rumen berdasarkan indikator nilai produksi NH3 dan VFA.dicerna oleh hewan pada umumnya sehingga sistem pencernaannya berbeda dengan sistem pencernaan hewan lain (Tim Dosen dan Asisten. C. B. 2011). Pada pengujian pakan tunggal metode ini lebih tepat untuk digunakan dibandingkan dengan metode in vivo. yaitu rumen (perut besar) dan retikilum (perut jala). 2012). .

“Sapi Potong dan Kerja”. “Mikrobiologi In Vitro”. (2000). (2011). (2011). Ardianto. (16 Desember 2012). “Perbedaan hewan ruminansia dan non ruminansia”. Yogyakarta : Penebar Swadaya.org/v12/sponsor/SponsorPendamping/Praweda/Biologi/0066% 20Bio% 202-5d. Etawafarm.htm. “Ternak Ruminansia dan Non Ruminansia”. Tim Dosen dan Asisten. (2011) http://id. Apik. B. (2005). Aris. Junaedi.html. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.scribd. (2011).com/2012/04/05/pencernaan-ruminansiavs-non-ruminansia. Sarwono.blogspot. http://ayisakin.(16 Desember 2012). “Pakan Kambing”. http://peternakan junaedi. Hasanah.com/2011/11/ pakankambing.vlsm. http://apikdewefpp undip2011. http://mellyhatulhasanah. Nur.org/wiki/Sapi. (16 Desember 2012).blogspot. (16 Desember 2012).com/Laporan-Mikrob-in. “Penuntun Praktikum Ilmu Ruminansia dan .http://bebas.“Ilmu Peternakan edisi IV”. (16 Desember 2012) .html.wikipedia. http://www. “Sistem Pencernaan Makanan Hewan Memamah Biak”.net.html. “Beternak Kambing Unggu”l. (16 Desember 2012).com/2011/11/perbedaan- hewan-ruminansia-dan-non. Hidayah.iptek. Anonim. (2011)http://www. “Sapi”. “Sistem Pencernaan Ternak Ruminansia”. (16 Desember 2012).blog spot. . http://www.com/2012/03/ternak-ruminansia-dan-non-ruminansia. (2012).html. (16 Desember 2012). Bade.com/2011/06/sistem-pencernaan-ternakruminansia. 1991.etawafarm. 2008.wordpress. (2011). (16 Desember 2012). Blakely. Yogyakarta : Kanisius. 1991. DAFTAR PUSTAKA Aak.id/ind/ wari ntek. “Budidaya Ternak Kambing”. James dan David H. “Pencernaan Ruminansia VS Non-ruminansia”.

“Asal Usul Kambing Dan Manfaat Susu Kambing”. (2009). (16 Desember 2012).ht ml.com/2008/09/ternak-sapi-dankegunaannya. .blogspot. “Ternak Sapi dan Kegunaannya”. Wawang. http://zafal.2012. Andi. Ruminansia”. Makassar : Universitas Islam Negeri Alauddin. (2008).com/2009/12/28/asal-usul-kambing-dan-manfaat-susu-kambing/. (16 Desember 2012). Zafal. wordpress. http: //andiwawantonra.