BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pupuk adalah material yang ditambahkan pada media tanam atau tanaman untuk
mencukupi kebutuhan hara yang diperlukan tanaman sehingga mampu berproduksi
dengan baik. Material pupuk dapat berupa bahan organik ataupun non-organik
(mineral). Pupuk berbeda dari suplemen. Pupuk mengandung bahan baku yang
diperlukan pertumbuhan dan perkembangan tanaman, sementara suplemen berarti
hormone tumbuhan yang membantu kelancaran proses metabolism. Meskipun
demikian, ke dalam pupuk, khususnya pupuk buatan, dapat ditambahkan sejumlah
material suplemen.
Penggunaan pupuk di dunia terus meningkat sesuai dengan pertambahan luas
areal pertanian, pertambahan penduduk, kenaikan tingkat intensifikasi serta makin
beragamnya penggunaan pupuk sebagai usaha peningkatan hasil pertanian. Para ahli
lingkungan hidup khawatir dengan pemakaian pupuk kimia akan menambah tingkat
polusi tanah akhirnya berpengaruh terhadap kesehatan manusia. Penggunaan pupuk
kimia secara berkelanjutan menyebabkan pengerasan tanah. Kerasnya tanah disebabkan
oleh penumpukan sisa atau residu pupuk kimia, yang berakibat tanah sulit terurai. Sifat
bahan kimia adalah relatif lebih sulit terurai atau hancur dibandingkan dengan bahan
organik. Salah satu cara yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan diatas adalah
dengan memanfaaatkan limbah peternakan menjadi pupuk organik, untuk mencegah
semakin merosotnya kesuburan tanah. Pupuk organik padat lebih banyak dimanfaatkan
pada usahatani, sedangkan limbah cair (urine) masih belum banyak dimanfaatkan. Urin
sapi dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik cair sehingga dapat menjadi produk
pertanian yang lebih bermanfaat yang biasa disebut dengan biourine.
Penggunaan urin ternak merupakan salah satu penerapan zero waste
management. Urin ternak yang biasanya dibuang tanpa dimanfaatkan. Urin ternak sapi
merupakan limbah peternakan yang sangat potensial digunakan sebagai biourin. Dalam
lima tahun terakhir populasi sapi Bali meningkat rata-rata 3,41% pertahun, sehingga
ketersediaan limbah urin sapi berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai pupuk organik.
Selama pertumbuhan dan perkembangan tanaman dari mulai berkecambah hingga
kemudian menghasilkan buah atau bagian lainnya yang dipanen, tanaman membutuhkan

1

unsur-unsur hara atau zat makanan tanaman (Plant nutrients). Unsur hara tanaman
adalah unsur kimia tertentu yang dibutuhkan oleh tanaman untuk pertumbuhannya yang
normal, apabila kebutuhan unsur hara tanaman tidak terpenuhi maka pertumbuhan
tanaman akan terganggu, tampaknya gejala-gejala kekurangan (defisiansi) dan
menurunnya hasil produksi.
Tanaman dalam kelangsungan hidupnya memerlukan nutrisi atau makanan yang
seimbang sesuai dengan kebutuhannya. Nutrisi atau makanan bagi tanaman yang
disebut dengan unsur hara secara garis besar dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu unsur hara
makro dan unsur hara mikro. Unsur hara mikro yang berperan dalam laju pertumbuhan
tanaman diantaranya adalah Besi (Fe), Tembaga (Cu), Seng (Zn), Mangan (Mn).
Kandungan unsur hara yang ada dalam urin ternak dapat ditingkatkan melalui
proses fermentasi. Kandungan unsur hara pada urin sapi mengalami peningkatan
setelah mengalami proses fermentasi. Urin sapi Bali yang difermentasi dengan
Mikroorganisme terjadi peningkatan unsur hara diantaranya kandungan unsur N, C,
dan unsure hara lainnya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Sudana, dkk. (2012),
biourin yang telah ditambahkan dengan Mikroorganisme Juga menghasilkan zat
pengatur tumbuh yaitu giberilin dan sitokinin.
Penggunaan mikroorganisme pada pembuatan pupuk organik cair biasanya
menggunakan EM4 yang dapat diperoleh di toko peternakan. Mikroorganisme juga
dapat di produksi sendiri dari bahan bahan alami (lokal) untuk mengurangi biaya
produksi. Mikroorganisme lokal (MOL) dapat diproduksi dari bahan nabati maupun
hewani. Miroorganisme yang berasal dari nabati menggunakan batang pisang, dan
mikroorganisme hewani menggunakan kotoran ternak (feses).
Dalam pemberian pupuk perlu diperhatikan kebutuhan tumbuhan tersebut, agar
tumbuhan tidak mendapat terlalu banyak zat makanan. Terlalu sedikit atau terlalu
banyak zat makanan dapat berbahaya bagi tumbuhan. Pupuk dapat diberikan lewat
tanah ataupun disemprotkan ke daun. Salah satu jenis pupuk organic adalah kompos.
Pada analisis ini dilakukan untuk mengetahui kadar unsur mikro yang terdapat
pada sampel pupuk cair organik kode-127 yang dapat meningkatkan produktifitas pupuk
yang berguna dalam menyuburkan dan menfrementasi perkembangan dari tanaman.
Pada analisis akan dilakukanya uji dengan menggunakan instrumentasi AAS (Atomic

2

Adsoprstion Spectrometer) yang digunakan untuk mengindentifikasi besarnya kadar
unsur hara mikro yang terdapat didalam sampel.
B. Perumusan Masalah
1. Bagaimana cara menganalisis kadar mineral pupuk cair dengan AAS?
2. Bagaimana cara mengoprasikan instrumentasi AAS?
3. Apakah kadar mineral sampel pupuk cair 127 telah memenuhi standar?
C. Tujuan dan Manfaat PKL
Tujuan dilakukannya analisis kadar mineral mikro dalam sampel pupuk organik
kode-127 adalah untuk mengetahui kadar mineral mikro yaitu Besi (Fe), Tembaga (Cu),
Seng (Zn) dan Mangan (Mn) dalam sampel pupuk organik127 menggunakan AAS dan
membandingkan hasilnya dengan batas acuan kadar mineral standar.
Praktik Kerja Lapangan ini diharapkan dapat bermanfaat dalam memberikan
informasi tentang mineral pupuk organik dengan metode SSA,
D. Sistematika Laporan
Laporan praktik kerja lapangan ini tersusun dalam sistematika penyusunan
sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
Pada bagian pendahuluan ini memuat Latar Belakang, Perumusan Masalah,
Tujuan dan Manfaat, Tempat dan Waktu pelaksanaan, Metode Pelaksanaan dan
Sistematika Peyusun Laporan.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Pada bab ini berisi tentang gambaran secara umum tentang balai serta tinjauan-
tinjauan pustaka yang berubungan dengan kegiatan Praktik Kerja Lapangan.
BAB III METODE PENELITIAN
Bab ini berisikan alat, bahan, dan metode yang digunakan dalam penetapan
kadar air dan kadar abu pada sampel pupuk organik.
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
Bab ini berisikan tentang hasil dan pembahasan dari kegiatan Praktik Kerja
Lapagan (PKL) yang telah dilakukan.
BAB V PENUTUP
Bagian ini berisikan simpulan dan saran.

3

Pusat Balai Penyelidikan Peternakan (PBPP) 1956. Departemen Pertanian. (Bogor Animal Husbandry Research Institute) kemudian berubah menjadi Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan (P4). Wardojo 1961 Lembaga Penelitian Peternakan (LPP) (Direktur) Drh. 71/KPts/OT. Pusat Penelitian dan Pengembangan Ternak (P3T) di Ciawi – Bogor. Sejalan dengan perkembangannya. Semula bernama B. Zainoel Arifin  1966 LEMBAGA PETERNAKAN (LP) 4 . Lembaga Penelitian Peternakan (1967). Drs. Pada tanggal 13 Nopember 1978 berubah menjadi P3T dan diresmikan pengunaannya oleh Presiden Soeharto dan dihadiri oleh Perdana Menteri Australia serta pejabat tinggi kedua negara Penggabungan LPP dan P3T tahun 1981 secara resmi menjadi Balai Penelitian Ternak (Balitnak) SK Mentan No. Sutisno Djuned P. 1956 Pusat Balai Penyidikan Peternakan (PBPP) (Direktur) Drh. Sutisno Djuned P. Lembaga Penelitian Peternakan di Bogor.R. Direncanakan berlangsung selama 10 tahun.I. Gambaran Umum Balai Penelitian Ternak (BPT) Ciawi Bogor Jawa Barat 1. kerjasama Direktorat Jenderal Peternakan. Lembaga ini adalah lembaga penelitian Indonesia-Australia berdasarkan memorandum persetujuan tanggal 4 Desember 1974. Sejarah Balai Penelitian Ternak (Balitnak) merupakan gabungan dua Unit Kerja bidang peternakan yaitu Lembaga Penelitian Peternakan (LPP) di jalan Raya Pajajaranm. Bogor dan Pusat Penelitian dan Pengembangan Ternak (P3T) di Ciawi. Bogor pada tahun 1981. Lembaga Peternakan (1966). sejak didirikan masing-masing unit kerja tersebut telah beberapa kali mengalami perubahan nama. Drs. BAB II TINJAUAN PUSTAKA A.210/1/2002 dan sekaligus pelimpahan kedudukan yang semula dibawah Direktorat Jenderal Peternakan menjadi Unit Kerja Badan Litbang Pertanian. Palai Penyidikan Peternakan (BPP) 1952.A. awal didirikannya bernama Balai Penelitian Umum (BPU 1950. 1950 Balai Peternakan Umum (BPU) (Direktur) Prof. Indonesia dengan Colombo Plan. Lembaga Penelitian Peternakan (1961). 1952 Balai Penyidikan Peternakan (BPP) (Direktur) Prof. CSIRO (Commonwealth Scientific and Industri Research Organization) Australia.

Februari 2016] Dr. Ismeth Inounu [2005-2005] Ir.Sc [2012-2015] Dr. M. MS [2009-2010] Dr. Benny Gunawan [1988-1989] Dr.J. Ir.Dr. Sabrani [1990-1993] Dr. J. Visi 5 . M.Pt.Lubis (Direktur:1967-1968) Drh. I Putu Kompiang [1985-1987] Dr.Hutasoit 1978 Pusat Penelitian dan Pengembangan Ternak (P3T). M. Ir. M. Sekarang] 2. R.A. Direktur : Prof. Direktur :Prof.(Direktur:1967–1980) Prof.Sc [2010-2011] Dr.Si [Februari 2016 s.Ir.J. Hutasoit  BALAI PENELITIAN TERNAK (BALITNAK) Drh.Pandjaitan (Direktur :1975-1979) Drh. Bambang Setiadi.).Dr.H. Sri Muharsini [PLT Ka.H.Soeherman (Direktur:1969-1974) Drh. Dr.M. Argono Rio Setioko [1999-2005] Dr. Soeharsono. Direktur :Prof. Tjeppy D. Endang Romjali. Jan Nari [1981-1985] Dr. Sofjan Iskandar [2006-2009] Prof.d.drh. Visi dan Misi a.H. Bambang Sudaryanto.I. Nasrullah. Kusuma Diwyanto [1994-1997] Dr.Hutasoit 1974 Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan (P4). Soedjana [1998-1999] Dr. MS [2005-2006] Dr.D.R. S.Dr. Rustandi D  Pusat Penelitian Pengembangan Peternakan (P4) di Ciawi 1974 Bogor Animal Husbandry Research Institute (B. Balai dari Agustus 2015 s.d.A.

Pelaksanaan penelitian eksplorasi. sapi perah dan dwi guna. Seksi Pelayanan Teknis dan Seksi Jasa Penelitian. Tugas Pokok dan Fungsi Sesuai dengan SK MENTAN No. Pelaksanaan penelitian pemuliaan. informasi dan dokumentasi serta penyebarluasan dan pendayagunaan hasil penelitian ternak. 71/Kpts/OT. kambing perah. 4. e. kerbau. f. b. 1. c. Sub Bagian Tata Usaha :  Penanggung jawab kepegawaian. identifikasi. Untuk menjalankan tugas Balai Penelitian Ternak mempunyai fungsi sebagai berikut : a.210/1/2002. system dan usaha agribisnis ternak. b. Mendiseminasikan hasil-hasil inovasi teknologi peternakan 4. evaluasi serta pemanfaatan plasma nutfah ternak dan hijauan. karakterisasi. Pelaksanaan penelitian bioteknologi ternak dan agrostologi. Visi Balitnak mengikuti visi Badan Litbang Pertanian yaitu menjadi lembaga penelitian peternakan berkelas dunia dalam menghasilkan inovasi teknologi peternakan mendukung terwujudnya sistem pertanian industrial. Meningkatkan pemanfaatan sumberdaya yang berkaitan dengan sistem produksi peternakan 3. Struktur Organisasi Balai Penelitian Ternak mempunyai beberapa bagian yang terdiri dari Sub Bagian Tata Usaha.  Penanggung jawab rumah tangga. Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga. Penyiapan kerjasama. Meningkatkan kualitas sumberdaya manusia. Membangun jaringan kerjasama dan pertukaran informasi teknologi peternakan 5. sarana dan prasarana penunjang kegiatan penelitian peternakan 3. serta aneka ternak. 6 . Menghasilkan inovasi teknologi peternakan yang berdaya saing dan berwawasan lingkungan sesuai dengan kebutuhan pengguna dan mendukung program strategis Departemen Pertanian 2. d. Pelaksanaan penelitian komponen teknologi. reproduksi dan nutrisi pada ternak unggas. Misi 1. domba.

2. informasi dan publikasi.  Penanggung jawab laboratorium kimia  Penanggung jawab laboratorium Keswan.  Penanggung jawab pelaporan dan monev. Penanggung jawab keuangan. 3.  Penanggung jawab kerjasama.  Penanggung jawab bengkel.  Penanggung jawab perpustakaan. Tugas dan tanggung jawab masing-masing jabatan adalah sebagai berikut : 7 . Seksi Pelayanan Teknis :  Penanggung jawab pelaksanaan SIMROG.  Penanggung jawab kandang dan kebun percobaan. Seksi Jasa Penelitian :  Penanggung jawab komunikasi.

sebanyak 416 orang yang terdiri dari 356 orang pegawai negeri dan 60 orang honorer. Seksi Pelayanan Teknis bertugas kan pemelakungaturan penggunaan dan pemeliharaan sarana penelitian di instalasi kandang percobaan dan lapangan percobaan. Sub Seksi Sarana Lapangan bertugas melakukan pengaturan. Urusan Kepegawaian dan Rumah Tangga bertugas mengatur status pegawai. 3. penggunaan dan pemeliharaan sarana laboratorium. 2. Seksi Rencana Kerja bertugas membantu koordinator penelitian untuk mengkoordinasikan perencanaan pelaksanaan penelitian dan bekerja sama dengan koordinator peneliti. Sub Seksi Informasi mempunyai tugas penyiapan bahan rumusan informasi dan penyebaran hasil penelitian juga melakukan koordinasi dengan instalasi perpustakaan. Urusan Keuangan bertugas melakukan pengaturan anggaran belanja rutin dan anggaran belanja pembangunan. 23 Ahli Peneliti. Sumber daya manusia Seluruh karyawan Balai Penelitian Ternak pada tahun 2012. 34 orang S2 (Magister). 1. 16 Peneliti 8 . 4. 27 orang S1 (Sarjana). 8. 10. Sub Seksi Kerjasama bertugas menjalin kerja sama di luar lembaga untuk kepentingan balai. Kepala Balai berwenang atas semua kegiatan yang ada di balai. Berdasarkan pendidikan. melakukan evaluasi serta monitoring penelitian di lingkup program komoditas masing-masing. 5. penggunaan dan pemeliharaan sarana lapangan. sejumlah 35 orang berpendidikan S3 (Doktor). 9. Berdasarkan jabatan fungsional. 20 orang Peneliti Madya. 7. 6. 5. kenaikan jenjang jabatan fungsional serta semua yang menyangkut rumah tangga. 11 orang setingkat Diploma dan 256 orang SLTA kebawah. Sub Seksi Sarana Laboratorium bertugas melakukan pengaturan. Sub Bagian Tata Usaha bertugas mengkoordinasi urusan kepegawaian dan rumah tangga serta urusan keuangan.

Laboratorium yang ada di Balai merupakan suatu organisasi yang melakukan kegiatan pengujian secara struktural dibawah Seksi Pelayanan Teknis. Labolatuarium Laboratorium Balai Penelitian Ternak berada di bawah Unit Pelaksana Teknis Balai Penelitian Ternak pada Unit Kerja Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan di bawah Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 4 orang Pustakawan. Sarana dan Fasilitas 1. Kabupaten Bogor. kambing perah. Kedudukan Balitnak Berdasarkan SK Menteri Pertanian No. Laboratorium Pelayanan Kesehatan Ternak 9 . Berdasarkan fungsinya laboratorium dibagi 3 katagori yaitu : 1. 114 orang Teknisi Litkayasa. kerbau. Laboratorium Terakreditasi yaitu Laboratorium Pelayanan Kimia Analitik 2.Muda. 3. Balitnak disamping menjalankan fungsi teknis juga melaksanakan urusan tata usaha dan rumah tangga. serta aneka ternak. Balai Penelitian Ternak (Balitnak) merupakan unit kerja sama pelaksanaan teknis di bidang penelitian dan pengembangan peternakan yang mempunyai tugas pokok melaksanakan penelitian ternak unggas. 71/ ktps/ OT. perah dan dwi guna. Balai Penelitian Ternak dilengkapi dengan laboratorium-laboratorium yang berfungsi untuk melayani permintaan pengujian kimia dan biologis dari dalam maupun luar Balai serta didukung oleh personil yang handal dan peralatan yang akurat. 4 orang Peneliti Non Kelas. Laboratorium RIA-EIA. 210/ 1/ 2002. Keadaan Pegawai Per Oktober 2015 : Status Jumlah Total PNS 255 Honorer 61 316 Berdasarkan Tingkat Pendidikan : S3 S2 S1 Diploma SLTA ke Bawah 24 22 28 9 172 Sampai per oktober 2015: 9 orang Profesor Riset 6. Lembaga ini didirikan pada area seluas 28 hektar di Desa Banjar Waru. domba. 11 Peneliti Pertama. Tenaga penggerak utama dalam inovasi teknologi pertanian adalah peneliti. Kementerian Pertanian. Laboratorium Tanaman Pakan. Laboratorium Reproduksi. Laboratorium Eksplorasi yang terdiri dari Laboratorium Pakan. 7. dan 1 orang Analisis Kepegawaian. Laboratorium Pemuliaan Ternak. Kecamatan Ciawi. Laboratorium Nutrisi Ruminan.

q. S. dan Abu). Pb. protozoa). Cd. 2. perbanyakan inokulan untuk fermentasi. Mg. P. Laboratorium Nutrisi Ruminan : Kecernaan pakan dengan menggunakan Rusitek. pengaruh senyawa sekunder (tanin. asam amino. menetapkan produksi enterik gas oleh rumen (metana. teknik produksi pre dan probiotik sebagai imbuhan pakan. Eenergi Kasar. Na. 2. dan kecernaan serat deterjen netral (KCSDN). Alantoin. kecernaan bahan pakan dengan gas tranduscer. Serat Kasar. mineral makro (Ca. dengan penambahan ruang lingkup dari 13 menjadi 30 parameter uji. saponin) terhadap produksi ternak. yang diadopsi di Indonesia menjadi SNI 19-17025-2008. Laboratorium Teknologi Pakan : melakukan penelitian antara lain : peningkatkan mutu pakan dan bahan pakan. B) dan mikro (Cu. Co. Fe. Mn. kecernaan bahan kering (KCBK) dan bahan organic (KCBO). Akreditasi ini mengacu pada standar sistem manajemen mutu laboratorium pengujian internasional ISO/IEC 17025-2005. Pada awalnya Laboratorium Pelayanan Kimia Analitik Ciawi dan Laboratorium Fisiologi Nutrisi Ternak Bogor terakreditasi sebagai Laboratorium Pengujian dengan No LP-347-IDN sejak 22 Maret 2007 oleh Badan Standardisasi Nasional (BSN) c. 10 . dan vitamin. Ni). cholesterol. Komite Akreditasi Nasional (KAN). amonia. mempelajari aktifitas mikroba rumen (total mikroba. Selanjutnya laboratorium tersebut tereakreditasi pada 2 September 2012. Analisis komponen fermentatif rumen (pH. teknik produksi CRM (complete rumen modifier). Zn. Ruang lingkup kegiatan Laboratorium Balai Penelitian Ternak sebagai berikut : 1. AIA. Cl. teknik produksi enzim. Laboratorium Terakreditasi: Laboratorium Pelayanan Kimia Analitik Analisis proksimat lengkap (Air. oksigen. Pada tahun 2013 Laboratorium Fisiologi Nutrisi Ternak Bogor dipindahkan ke Ciawi dan digabungkan dengan Laboratorium Pelayanan Kimia Analitik. analisis komponen susu. Oligosakarida. LCFA. Serat deterjen netral (SDN). teknik produksi mineral organik. K. Lemak Kasar. Protein Kasar. Serat deterjen asam (SDA). karbondioksida) dengan menggunakan respiratory chamber. asam lemak mudah menguap (VFA). Laboratorium Eksplorasi 1.

pakan. pemisahan sperma (X. 4. Laboratorium Tanaman Pakan: uji efektivitas mikroba tanaman dan tanah seperti Rhizobia (uji populasi infektivitas. sinkronisasi dan inseminasi buatan. Y). 6. jeroan. FSH) dan hormon produksi (T3 dan T4). testoteron. uji efikasi tanaman pakan ternak. teknik embrio transfer. kultur jaringan. vaksinasi dan pengobatan ternak tingkat awal. cairan rumen dan lain-lain. teknik Primodial Gem Cell (PGC) dan Enkapsulasi sperma. Bahan yang dianalisis antara lain sampel bahan pakan. 4 Energi Kasar Pembakaran di Standar benzoic acid Calorimeter Timbangan Termometer 11 . perguruan tinggi. mikrobiologi. daging. Laboratorium terakreditasi maupun ekplorasi selain melayani analisis sampel intern (lingkup balai). 3. preservasi semen. metode dan alat ukur untuk laboratorium terakreditasi dapat dilihat pada Tabel 1. PCR. Pelayanan analisis dilakukan selama jam kerja dan dapat menghubungi Manajer Administrasi Laboratorium Terakreditasi. efektivitas. Laboratorium Fisiologi Reproduksi : Pengujian biologis spermatozoa. carrier). seperti dari instansi pemerintahan. urin. Laboratorium Pemuliaan Ternak : Ekstraksi DNA. Timbangan dan Oven. Laboratorium Pelayanan Kesehatan Hewan Uji darah sederhana. LH. darah. Laboratorium RIA/EIA : Analisis hormon reproduksi (progesteron. tulang. feses. perusahaan swasta dll. juga melayani jasa analisis dari luar. Kegiatan pengujian dan peralatan yang tersedia di Laboratorium Eksplorasi dapat dilihat pada Tabel 3. 5. Timbangan 3 Kadar lemak kasar Ekstraksi pelarut Elektrotermal dengan 6 (Solvent extraction) holes dan dilengkapi soxlet. No Parameter Pengujian Metode Nama Standar / Alat Ukur 1 Kadar air Pengeringan pada suhu Oven Timbangan dan 1050C semalam anak timbangan 2 Kadar protein kasar Destruksi Kyedahl dan Auto Analyzer Braun auto-analisis Lub. Parameter pengujian. 3.

K. Zn. Cu. Spektrofotometri Emisi Micro Plasma Emission Mn. Na) Atom Spectrophotometer (AAS) Mikro mineral (Fe. Cd. Parameter pengujian. Spektrofotometri Serapan Atomic Absorption Mg. metode dan alat ukur No Parameter Pengujian Metode Nama Standar / Alat Ukur 12 . oven dan tanur 6 Abu Pengabuan pada suhu Tanur 1050C semalam Timbangan dan Oven 7 Serat Deterjen Netral Ekstraksi dalam larutan Pemanas dengan deterjen netral kapasitas 8 beaker Timbagan dan oven 8 Serat Deterjen Asam Ekstraksi dalam larutan Pemanas dengan deterjen asam kapasitas 8 beaker Timbagan dan oven 9 Makro mineral (Ca. Calorimeter 5 Serat Kasar Ekstraksi asam dan basa Pemanas dengan kapasitas 8 beaker Timbangan. Pb) Atom Atomic Spectrophotometer (MPEAS) 10 Fosfor (P) Spectrofotometri UV-VIS Spectrophotometer 11 Sulfur (S) Spectrofotometri UV-VIS Spectrophotometer 12 Kecernaan bahan in vitro Inkubator shaker kering Timbangan dan oven (KCBK) 13 Kecernaan bahan in vitro Inkubator shaker organik Timbangan dan oven (KCBO) Tanur 14 Kecernaan serat in vitro Inkubator shaker deterjen netral Timbangan dan oven (KCSDN) Tabel 1.

SK dan Reflection abu) 26 Oligosakarida Kromatografi HPLC 26 Vitamin Kromatografi HPLC Tabel 2. Parameter pengujian. metode dan alat ukur (Lanjutan) 13 . PK.15 Selulosa Ekstraksi Pemanas dengan kapasitas 8 beaker Timbagan dan oven 16 Lignin Ekstraksi dan gravimetric Pemanas dengan kapasitas 8 beaker Timbagan dan oven 17 Abu Tak Larut Dalam Kelarutan dalam asam Tanur Asam (AIA) Oven Timbangan Saringan 18 Amonia Conway Glass Conway. Pipet Buret automatik 19 pH Elektrokimia pH meter 20 VFA Kromatografi Gas Kromatografi Gas Ssyringe 21 SCFA Kromatografi Gas Kromatografi Gas Ssyringe 22 LCFA Kromatografi Gas Kromatografi Gas Ssyringe 23 Cholesterol Spectrofotometri UV-VIS Spectrophotometer Timbangan Freeze drier 24 Asam amino Hidrolisis asam dan HPLC kromatogram 25 Komponen pakan Gugus Fungsional Spectra Near Infra (KA. LK.

protozoa). Microencapsulator dan Enkapsulasi sperma. Batch Fermentor kecernaan bahan pakan dengan gas tranduscer. lemak susu. Milk scan Komponen susu (densitas. Cell counter Estrus detector Alat deteksi kebuntingan Semen unggas : teknik Microgrinder dan Primodial Gem Cell (PGC) Microfoge Microscope Fluoresence Egg incubator Laminar Flow 14 . mikroba rumen (total mikroba. sinkronisasi Osmometer Reproduksi dan inseminasi buatan. protein. laktosa). aktivitas Gas Transducer enzim selulolitik. 2 Laboratorium Kecernaan bahan pakan Rusitek Nutrisi Ruminan dan pakan. Portable USG kambing pemisahan sperma (X. Portable USG sapi preservasi semen.No Parameter Parameter uji Peralatan Pengujian 1 Laboratorium Analisis senyawa sekunder Spectrofotometer Teknologi Pakan (tanin. perbanyakan inokulan untuk fermentasi. saponin). oksigen dan karbondioksida. pH meter teknik embrio transfer. Analisis gas Respiratory Chamber metan. total padatan. dan produksi enzim. Y). 3 Laboratorium Pengujian biologis Sperm analyzer Fisiologi spermatozoa.

Parameter pengujian. uji Titrator efikasi tanaman pakan ternak. Fermentor carrier). Pengertian Pupuk Pupuk adalah material ditambahkan pada media tanam atau tanaman untuk mencukupi kebutuhan hara yang diperlukan tanaman sehingga mampu berproduksi dengan baik. khususnya pupuk buatan. Pupuk mengandung bahan baku yang diperlukan pertumbuhan dan perkembangan tanaman. kultur jaringan. 6 Laboratorium Pengujian DNA PCR Thermal Cycler Pemuliaan Ternak Real Time PCR Elektroforesis horizontal Elektroforesisi vertical Gel Documentation System 7 Laboratorium uji darah sederhana. vaksinasi Sentrifuge Kesehatan Hewan dan pengobatan ternak Mikroskop tingkat awal. Tabel 3. Pupuk berbeda dari suplemen. Material pupuk dapat berupa bahan organik ataupun non-organik (mineral). efektivitas. ke dalam pupuk. sementara suplemen sepertihormon tumbuhan membantu kelancaran proses metabolisme. dapat ditambahkan sejumlah material suplemen. Mikroskop Sentrifuge 4 Laboratorium Analisis hormon steroid Scintillation Counter RIA/EIA dan protein ELISA Reader 5 Laboratorium Uji efektivitas mikroba Rumah kaca Tanaman Pakan tanaman dan tanah seperti pH meter Rhizobium (uji populasi Spetrofotometer infektivitas. metode dan alat ukur di laboratorium Eksplorasi dan Pelayanan Kesehatan Ternak B. Meskipun demikian. 15 . Penjelasan Sampel Dan Instrumentasi Analisis 1. Haemositometer Pelayanan mikrobiologi.

bentuk fisiknya. Pupuk organik mencakup semua pupuk yang dibuat dari sisa- sisa metabolisme atau organ hewan dan tumbuhan. Pupuk dapat diberikan lewat tanah ataupun disemprotkan ke daun. Pupuk padat diperdagangkan dalam bentuk onggokan. Terdapat pula pengelompokan yang disebut pupuk mikro. Macam-macam pupuk Dalam praktik sehari-hari. agar tumbuhan tidak mendapat terlalu banyak zat makanan. karena mengandung hara mikro (micronutrients). butiran. Pupuk padatan biasanya diaplikan ke tanah/media tanam. tergantung dari sumbernya. terdapat dua kelompok besar pupuk: (1) pupuk organik atau pupuk alami (misal pupuk kandang dan kompos) dan (2) pupuk kimia atau pupuk buatan. Terlalu sedikit atau terlalu banyak zat makanan dapat berbahaya bagi tumbuhan. 2. Beberapa merk pupuk majemuk modern sekarang juga diberi campuran zat pengatur tumbuh atau 16 . Pembagian itu berdasarkan sumber bahan pembuatannya. sedangkan pupuk kimia dibuat melalui proses pengolahan oleh manusia dari bahan-bahan mineral. 2016).  Pupuk berdasarkan kandungannya Terdapat dua kelompok pupuk berdasarkan kandungan: pupuk tunggal dan pupuk majemuk. remahan. Pupuk cair diperdagangkan dalam bentuk konsentrat atau cairan. Pupuk tunggal mengandung hanya satu unsur. sementara pupuk cair diberikan secara disemprot ke tubuh tanaman. pupuk dibedakan menjadi pupuk padat dan pupuk cair. Pupuk kimia biasanya lebih "murni" daripada pupuk organik.  Pupuk berdasarkan bentuk fisik Berdasarkan bentuk fisiknya. atau berdasarkan kandungannya. keunggulannya adalah ia dapat memperbaiki kondisi fisik tanah karena membantu pengikatan air secara efektif. sedangkan pupuk majemuk paling tidak mengandung dua unsur yang diperlukan. atau kristal. dengan kandungan bahan yang dapat dikalkulasi. pupuk biasa dikelompok-kelompokkan untuk kemudahan pembahasan. Dalam pemberian pupuk perlu diperhatikan kebutuhan tumbuhan tersebut. Salah satu jenis pupuk organik adalah kompos (Wikipedia. Pupuk organik sukar ditentukan isinya.  Pupuk berdasarkan sumber bahan Dilihat dari sumber pembuatannya.

Pupuk dapat di bedakan menjadi dua yaitu pupuk anorganik dan pupuk organik. 2016). diantaranya adalah: 1. karena ketersediaan unsur hara di tanah tidak selamanya cukup untuk memenuhi kebutuhan tanaman. (Admin. Dapat membentuk komplekdengsanunsure mikro sehingga mencegah pencucian (sanchez. daya serap haranya lebih besar dan mempunyai bintil akar yang membantu mengikat nitrogen dari udara.zat lainnya untuk meningkatkan efektivitas penyerapan hara yang diberikan (Wikipedia. Meningkatkan KTK tanah masam yang telah mengalami pelapukan lanjut. Keuntungan penambahan pupuk organic pada tanah adalah Menyediakan sebagian besar unsur N dan Cu serta setengah dari unsur P perlahan-lahan. Pupuk organik ada berbagai macam. Meningkatkan kapasitas penahan air. Pupuk anorganik adalah pupuk yang dibuat oleh pabrik atau hasil industri dan mengandung unsur hara yang diperlukan tanaman. Keuntungan penggunaan pupuk hijau antara lain: 1. Mencegah adanya erosi 3. Jenis tanaman yang banyak digunakan adalah dari familia Leguminoceae atau kacang-kacangan dan jenis rumput-rumputan (rumput gajah). Jenis tersebut dapat menghasilkan bahan organik lebih banyak. Memantapkan agregat tanah dan memperbaiki sifat fisika tanahsehingga menurunkan erosi pada tanah. Sedangkan pupuk organik adalahpupuk yang merupakan hasil penguraian mikroba dekomposer sehingga membentuk senyawa-senyawa sederhana yang siap diserap oleh tanaman. 1976). Pupuk merupakan bahan yang dapat menyediakan unsur hara pada tanamankemudian digunakan oleh tanaman untuk melakukan proses metabolisme sehingga tanaman dapat tumbuh dan berkembang. 2014). Mampu memperbaiki struktur dan tekstur tanah serta infiltrasi air 2. Dapat membentuk komplek dengan oksida amorf sehingga oksida amorf tidak mengkristal dan menurunkan fiksasi fosfor. Pupuk sangat dibutuhkan oleh tanaman. Dapat membantu mengendalikan hama dan penyakit yang berasal dari tanah dan gulma jika ditanam pada waktu tanah bero 17 . Pupuk Hijau Pupuk hijau terbuat dari tanaman atau komponen tanaman yang dibenamkan ke dalam tanah.

seperti jerami.2014) 3. Pupuk Kandang Para petani terbiasa membuat dan menggunakan pupuk kandang sebagai pupuk karena murah.(Pilar Lima. Unsur mikro yang tidak terdapat pada pupuk lainnya bisa disediakan oleh pupuk 18 . Namun. Sumber hara makro dan mikro dalam keadaan seimbang yang sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. lahan. Sangat bermanfaat pada daerah-daerah yang sulit dijangkau untuk suplai pupuk anorganik. Penambahan pupuk kandang dapat meningkatkan kesuburan dan produksi pertanian. air dan hara pada pola pertanaman tumpang sari. Pupuk Kompos Pupuk kompos merupakan bahan-bahan organik yang telah mengalami pelapukan. Pupuk kandang mempunyai keuntungan sifat yang lebih baik daripada pupuk organik lainnya apalagi dari pupuk anorganik. Oleh karena itu dapat mempertahankan struktur tanah sehingga mudah diolah dan banyak mengandung oksigen.2014) 2. Tetapi sekarang sudah banyak spesifisikasi mengenai kompos. begitu pula pengaruhnya terhadap tanaman. (Pilar Lima. (Pilar Lima. tenaga. Hal ini disebabkan tanah lebih banyak menahan air sehingga unsur hara akan terlarut dan lebih mudah diserap oleh buluh akar. pupuk hijau juga memiliki kekurangan yaitu: Tanaman hijau dapat sebagai kendala dalam waktu.4. yaitu pupuk kandang merupakan humus banyak mengandung unsur-unsur organik yang dibutuhkan di dalam tanah. Hal ini juga diharapkan dapat menanggulangi adanya timbunan sampah yang menggunung serta mengurangi polusi dan pencemaran di perkotaan. alang-alang. mudah pengerjaannya. dan lain-lain termasuk kotoran hewan. Penggunaan pupuk ini merupakan manifestasi penggabungan pertanian dan peternakan yang sekaligus merupakan syarat mutlak bagi konsep pertanian. dan air pada pola tanam yang menggunakan rotasi dengan tanaman legume dapat mengundang hama ataupun penyakit dapat menimbulkan persaingan dengan tanaman pokok dalam hal tempa. Sebenarnya pupuk hijau dan seresah dapat dikatakan sebagai pupuk kompos. sekam padi.2014) Biasanya orang lebih suka menggunakan limbah atau sampah domestik yang berasal dari tumbuh-tumbuhan dan bahan yang dapat diperbaharui yang tidak tercampur logam dan plastik.

Spesifikasi dan Manfaat Pupuk Organik Cair : 1. Mengandung giberlin Manfaat:  Mempebaiki sistem jaringan sel dan memperbaiki sel-sel rusak  Merangsang pertumbuhan sel-sel baru pada tumbuhan  Memperbaiki klorofil pada daun  Merangsang pertumbuhan kuncup bunga  Memperkuat tangkai serbuk sari pada bunga  Memperkuat daya tahan pada tanaman  Merangsang pertumbuhan tunas baru 2. dan manusia yang kandungan unsure haranya lebih dari satu unsure. sehingga pupuk kandang merupakan suatu pupuk yang sangat diperlukan bagi tanah dan tanaman dan keberadaannya dalam tanah tidak dapat digantikan oleh pupuk lain.2014). Mn. 4. Mengandung alkohol (alcohol) Manfaat : Sterilisasi pada tumbuhan (mengurangi dan menghentikan pertumbuhan mikroba pengganggu pada tumbuhan terutama pada daun dan batang.kandang. 5. Pupuk Organik Cair Pupuk organik cair adalah laruran dari pembusukan bahan-bahan organic yang berasal dari sisa tanaman. pupuk organic cair umumnya tidak merusak tanah dan tanaman walaupun digunakan sesering mungkin. tidak masalah dalam pencucian hara. Kelebihan dari pupuk organic ini adalah dapat secara cepat mengatasi defesiensi hara. Misal jerami kering. pupuk ini juga memiliki bahan pengikat. Selain itu. jamur/khamir/cendawan serta spora organisme penyakit. Dengan menggunakan pupuk organik cair dapat mengatasi masalah lingkungan dan membantu menjawab kelangkaan dan mahalnya harga pupuk anorganik saat ini. bonggol jerami. dan mampu menyediakan hara secara cepat. (Pilar Lima. Pupuk kandang banyak mengandung mikroorganisme yang dapat membanrupembetukan humus di dalam tanah dan mensintesa senyawa tertentu yang berguna bagi tanaman. Dibandingkan dengan pupuk cair anorganik. misalnya S. tongkol 19 . dan lain-lain. Co. sehingga larutan pupuk yamg diberikan ke permukaan tanah bisa langsung digunakan oleh tanaman. seperti. bercak daun (penyakit blas). Pupuk Seresah Pupuk seresah merupakan suatu pemanfaatan limbah atau komponen tanaman yang sudah tidak terpakai. kotoran hewan. Br. rumput tebasan.

agar komponen udara. air. Menjaga tekstur tanah tetap remah 4. Keadaan ini bersifat labil.2014) Penggunaan pupuk organik pada dasarnya untuk mengimbangi penggunaan pupuk anorganik dan berfungsi sebagai penambah unsur hara dan sekaligus memperbaiki struktur tanah. dan bahan organik selalu dalam keadaan seimbang sehingga keseimbangan ekosistem pada lahan pertanian akan terkendali. Menghambat adanya pencucian unsur hara oleh air dan aliran permukaan 3. Penyerapan tersebut menyebabkan tereksitasinya elektron dalam kulit atom ke tingkat energi yang lebih tinggi. kimia. menambahkan starter mikroba ke dalam bahan kompos dan dengan bantuan biota pengurai cacing tanah. mineral. Mencegah erosi. Adapun penggunaannya adalah pada waktu pengolahan tanah. Proses penguraian bahan organik dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain: memanfaatkan mikroba pengurai secara alami. yaitu ditutupkan pada permukaan tanah di sekitar tanaman (mulsa). Pupuk seresah sering disebut pupuk penutup tanah karena pemanfaatannya dapat secara langsung. yaitu dengan cara dihamparkan atau disebar di permukaan tanah kemudian tanah dibajak atau dicangkul sehingga pupuk organik tercampur dengan tanah. Peranan pupuk ini diantaranya : Dapat menjaga kelembaban tanah. 2014) 3.Penggunaan pupuk organik di lahan pertanian mutlak diperlukan untuk menjaga agar kesuburan tanah dapat dipertahankan secara berkelanjutan. elektron akan kembali ke tingkat energi dasar sambil mengeluarkan energi yang 20 . dan lain-lain. mengurangi penguapan.jagung.(Pilar Lima. Pupuk organik (kompos) merupakan pupuk alami hasil proses penguraian bahan organik oleh mikroba pengurai secara aerob (butuh udara). Fungsi pupuk organik sangat penting dalam hal memperbaiki sifat fisik. (Admin. Menghindari kontaminasi penyakit akibat percikan air hujan 5. permukaan tanah yang tertutup mulsa tidak mudah larut dan terbawa air 2. Penjelasan AAS ( Atomic Adsorption Spectrometer) Spektrofotometri Serapan Atom (AAS) adalah suatu metode analisis yang didasarkan pada proses penyerapan energi radiasi oleh atom-atom yang berada pada tingkat energi dasar (ground state). Memperlancar kegiatan jasad renik tanah sehingga membantu menyuburkan tanah dan sumber humus. dan biologi tanah. penghematan pengairan 1.

ini disebabkan karena sebelum pengukuran tidak selalu memerluka pemisahan unsur yang ditetukan karena kemungkinan penentuan satu logam unsur dengan kehadiran unsur lain dapat dilakukan. dapat dengan mudah membuat matriks yang sesuai dengan standar. 2001). Penyerapan energi cahaya terjadi 21 . Detektor akan menolak arah searah arus ( DC ) dari emisi nyala dan hanya mnegukur arus bolak-balik dari sumber radiasi atau sampel. Interaksi ini menimbulkan proses-proses dalam atom bebas yang menghasilkan absorpsi dan emisi (pancaran) radiasi dan panas. energi kimia dan energi listrik. kemudian radiasi tersebut diteruskan ke detektor melalui monokromator. atom bebas berinteraksi dengan berbagai bentuk energi seperti energi panas. waktu analisa sangat cepat dan mudah dilakukan. Analisis AAS pada umumnya digunakan untuk analisa unsur. Spektrrofotometer serapan atom (AAS) merupakan teknik analisis kuantitatif dari unsur-unsur yang pemakaiannya sangat luas. biaya analisa relatif murah.berbentuk radiasi. AAS dapat digunakan untuk mengukur logam sebanyak 61 logam. Atom-atom dari sampel akan menyerpa sebagian sinar yang dipancarkan oleh sumber cahaya. Chopper digunakan untuk membedakan radiasi yang berasal dari nyala api. Jadi spectra absopsi atom terdiri dari garis- garis yang jauh lebih tajam daripada pita-pita yang diamati dalam spektrokopi molekul (Underwood. energi elektromagnetik. Spectra absorpsi lebih sederhana dibandingakan dengan spectra molekulnya karena keadaan energi elektronik tidak mempunyai sub tingkat vibrasi rotasi. asalkan katoda berongga yang diperlukan tersedia. Radiasi yang dipancarkan bersifat khas karena mempunyai panjang gelombang yang karakteristik untuk setiap atom bebas (Basset. Spektrofotometri molekuler pita absopsi inframerah dan UV-tampak yang di pertimbangkan melibatkan molekul poliatom. 1994). Atom dari suatu unsur padakeadaan dasar akan dikenai radiasi maka atom tersebut akan menyerap energi dan mengakibatkan elektron pada kulit terluar naik ke tingkat energi yang lebih tingi atau tereksitasi. Dalam AAS. spesifik. tetapi atom individu juga menyerap radiasi yang menimbulkan keadaan energi elektronik tereksitasi. teknik AAS menjadi alat yang canggih dalam analisis. Sember cahaya pada AAS adalah sumber cahaya dari lampu katoda yang berasal dari elemen yang sedang diukur kemudian dilewatkan ke dalam nyala api yang berisi sampel yang telah terakomisasi. sensitif tinggi (ppm-ppb). diberbagai bidang karena prosedurnya selektif.

pada panjang gelombang tertentu sesuai dengan energi yang dibutuhkan oleh atom
tersebut (Basset, 1994).
Ada tiga cara atomisasi (pembentukan atom) dalam AAS :
1. Atomisasi dengan nyala
Suatu senyawa logam yang dipanaskan akan membentuk atom logam pada suhu ±
1700 ºC atau lebih. Sampel yang berbentuk cairan akan dilakukan atomisasi dengan
cara memasukan cairan tersebut ke dalam nyala campuran gas bakar. Tingginya suhu
nyala yang diperlukan untuk atomisasi setiap unsure berbeda. Beberapa unsur dapat
ditentukan dengan nyala dari campuran gas yang berbeda tetapi penggunaan bahan
bakar dan oksidan yang berbeda akan memberikan sensitivitas yang berbeda pula.
Syarat-syarat gas yang dapat digunakan dalam atomisasi dengan nyala:
• Campuran gas memberikan suhu nyala yang sesuai untuk atomisasi unsur yang akan
dianalisa
• Tidak berbahaya misalnya tidak mudah menimbulkan ledakan.
• Gas cukup aman, tidak beracun dan mudah dikendalikan
• Gas cukup murni dan bersih (UHP)
Campuran gas yang paling umum digunakan adalah Udara : C2H2 (suhu nyala
1900 – 2000 ºC), N2O : C2H2 (suhu nyala 2700 – 3000 ºC), Udara : propana (suhu
nyala 1700 – 1900 ºC). Banyaknya atom dalam nyala tergantung pada suhu nyala. Suhu
nyala tergantung perbandingan gas bahan bakar dan oksidan.
Hal-hal yang harus diperhatikan pada atomisasi dengan nyala :
1. Standar dan sampel harus dipersiapkan dalam bentuk larutan dan cukup stabil.
Dianjurkan dalam larutan dengan keasaman yang rendah untuk mencegah korosi.
2. Atomisasi dilakukan dengan nyala dari campuran gas yang sesuai dengan unsur
yang dianalisa.
3. Persyaratan bila menggunakan pelarut organik :
• Tidak mudah meledak bila kena panas
• Mempunyai berat jenis > 0,7 g/mL
• Mempunyai titik didih > 100 ºC
• Mempunyai titik nyala yang tinggi
• Tidak menggunakan pelarut hidrokarbon
2. Atomisasi tanpa nyala

22

Atomisasi tanpa nyala dilakukan dengan mengalirkan energi listrik pada batang
karbon (CRA – Carbon Rod Atomizer) atau tabung karbon (GTA – Graphite Tube
Atomizer) yang mempunyai 2 elektroda. Sampel dimasukan ke dalam CRA atau GTA.
Arus listrik dialirkan sehingga batang atau tabung menjadi panas (suhu naik menjadi
tinggi) dan unsur yang dianalisa akan teratomisasi. Suhu dapat diatur hingga 3000 ºC.
pemanasan larutan sampel melalui tiga tahapan yaitu :
 Tahap pengeringan (drying) untuk menguapkan pelarut
 Pengabuan (ashing), suhu furnace dinaikkan bertahap sampai terjadi
dekomposisi dan penguapan senyawa organik yang ada dalam sampel sehingga
diperoleh garam atau oksida logam
 Pengatoman (atomization)
3. Atomisasi dengan pembentukan senyawa hidrida
Atomisasi dengan pembentukan senyawa hidrida dilakukan untuk unsur As, Se,
Sb yang mudah terurai apabila dipanaskan pada suhu lebih dari 800 ºC sehingga
atomisasi dilakukan dengan membentuk senyawa hibrida berbentuk gas atau yang lebih
terurai menjadi atom-atomnya melalui reaksi reduksi oleh SnCl2 atau NaBH4,
contohnya merkuri (Hg).
Hubungan kuantitatif antara intensitas radiasi yang diserap dan konsentrasi unsur
yang ada dalam larutan cuplikan menjadi dasar pemakaian SSA untuk analisis unsur-
unsur logam. Untuk membentuk uap atom netral dalam keadaan/tingkat energi dasar
yang siap menyerap radiasi dibutuhkan sejumlah energi. Energi ini biasanya berasal dari
nyala hasil pembakaran campuran gas asetilen-udara atau asetilen-N2O, tergantung
suhu yang dibutuhkan untuk membuat unsur analit menjadi uap atom bebas pada tingkat
energi dasar (ground state). Disini berlaku hubungan yang dikenal dengan hukum
Lambert-Beer yang menjadi dasar dalam analisis kuantitatif secara SSA. Hubungan
tersebut dirumuskan dalam persamaan sebagai berikut (Ristina, 2006).
I = Io . a.b.c
Atau,
Log I/Io = a.b.c
A = a.b.c
dengan,
A = absorbansi, tanpa dimensi

23

a = koefisien serapan, L2/M
b = panjang jejak sinar dalam medium berisi atom penyerap, L
c = konsentrasi, M/L3
Io = intensitas sinar mula-mula
I = intensitas sinar yang diteruskan
Pada persamaan diatas ditunjukkan bahwa besarnya absorbansi berbanding lurus
dengan konsentrasi atom-atom pada tingkat tenaga dasar dalam medium nyala.
Banyaknya konsentrasi atom-atom dalam nyala tersebut sebanding dengan konsentrasi
unsur dalam larutan cuplikan. Dengan demikian, dari pemplotan serapan dan
konsentrasi unsur dalam larutan standar diperoleh kurva kalibrasi. Dengan
menempatkan absorbansi dari suatu cuplikan pada kurva standar akan diperoleh
konsentrasi dalam larutan cuplikan. Bagian-bagian AAS adalah sebgai berikut (Day,
1986)

4. Bagian dan Fungsi AAS (Atomic Adsorpstion Spectrometer)

Gambar 1. Alat Instrumen AAS (Atomic Adsorption Spectrometer)

24

spray chamber dan burner • Nebulizer berfungsi untuk mengubah larutan menjadi aerosol (butir-butir kabut dengan ukuran partikel 15 – 20 µm) dengan cara menarik larutan melalui kapiler (akibat efek dari aliran udara) dengan pengisapan gas bahan bakar dan oksidan. Partikel-partikel kabut yang halus kemudian bersama-sama aliran 25 . Elektroda lampu katoda berongga biasanya terdiri dari wolfram dan katoda berongga dilapisi dengan unsur murni atau campuran dari unsur murni yang dikehendaki. b. Gas pengisi yang biasanya digunakan ialah Ne.a. arus listrik yang terjadi menimbulkan ionisasi gas-gas pengisi. Ion-ion gas yang bermuatan positif ini menembaki atom-atom yang terdapat pada katoda yang menyebabkan tereksitasinya atom-atom tersebut. Pemancaran radiasi resonansi terjadi bila kedua elektroda diberi tegangan. Atom-atom yang tereksitasi ini bersifat tidak stabil dan akan kembali ke tingkat dasar dengan melepaskan energy eksitasinya dalam bentuk radiasi. disemprotkan ke ruang pengabut. Sumber Radiasi Resonansi Sumber radiasi resonansi yang digunakan adalah lampu katoda berongga (Hollow Cathode Lamp) atau Electrodeless Discharge Tube (EDT). Tanung lampu dan jendela (window) terbuat dari silika atau kuarsa. Atomizer Atomizer terdiri atas Nebulizer (sistem pengabut). Radiasi ini yang dilewatkan melalui atom yang berada dalam nyala. Ar atau He. diisi dengan gas pengisi yang dapat menghasilkan proses ionisasi.

Lampu katoda memiliki masa pakai atau umur pemakaian selama 1000 jam. seperti lampu katoda Cu. Pemilihan atau pemisahan radiasi tersebut dilakukan oleh monokromator. Monokromator berfungsi untuk memisahkan radiasi resonansi yang telah mengalami absorpsi tersebut dari radiasi-radiasi lainnya. Monokromator terdiri atas sistem optik yaitu celah. • Spray chamber berfungsi untuk membuat campuran yang homogen antara gas oksidan. d. Monokromator Setelah radiasi resonansi dari lampu katoda berongga melalui populasi atom di dalam nyala. Detektor Detektor berfungsi mengukur radiasi yang ditransmisikan oleh sampel dan mengukur intensitas radiasi tersebut dalam bentuk energi listrik. Rekorder Sinyal listrik yang keluar dari detektor diterima oleh piranti yang dapat menggambarkan secara otomatis kurva absorpsi. Radiasi lainnya berasal dari lampu katoda berongga. energy radiasi ini sebagian diserap dan sebagian lagi diteruskan. Lampu katoda terbagi menjadi dua macam. Lampu katoda pada setiap unsur yang akan diuji berbeda-beda tergantung unsur yang akan diuji. masuk ke dalam nyala. cermin dan kisi. e. • Burner merupakan sistem tepat terjadi atomisasi yaitu pengubahan kabut/uap garam unsur yang akan dianalisis menjadi atom-atom normal dalam nyala. sedangkan titik kabut yang besar dialirkan melalui saluran pembuangan. Fraksi radiasi yang diteruskan dipisahkan dari radiasi lainnya. bahan bakar dan aerosol yang mengandung contoh sebelum memasuki burner. gas pengisi lampu katoda berongga atau logam pengotor dalam lampu katoda berongga. c. Lampu Katoda Lampu katoda merupakan sumber cahaya pada AAS. f. hanya bisa digunakan untuk pengukuran unsur Cu. yaitu : Lampu Katoda Monologam :Digunakan untuk mengukur 1 unsur Lampu Katoda Multilogam :Digunakan untuk pengukuran beberapa logam sekaligus namun harganya lebih mahal 26 .campuran gas bahan bakar.

Pengujian untuk pendeteksian bocor atau tidaknya tabung gas tersebut. Regulator pada tabung gas asetilen berfungsi untuk pengaturan banyaknya gas yang akan dikeluarkan. h. Hal lainnya yang bisa dilakukan yaitu dengan memberikan sedikit air sabun pada bagian atas regulator dan dilihat apakah ada gelembung udara yang terbentuk. Bila ada. selain gas juga memiliki tekanan. dan ada gas yang keluar. Soket pada bagian lampu katoda yang hitam. dan dus penyimpanan ditutup kembali. lamanya waktu pemakaian dicatat. Lampu katoda berfungsi sebagai sumber cahaya untuk memberikan energi sehingga unsur logam yang akan diuji. agar tidak ada ruang kosong untuk keluar masuknya gas dari luar dan keluarnya gas dari dalam. dan gas yang berada di dalam tabung. Ducting 27 . Gas didalam tabung dapat keluar karena disebabkan di dalam tabung pada bagian dasar tabung berisi aseton yang dapat membuat gas akan mudah keluar. dengan kisaran suhu ± 30.000K. Cara pemeliharaan lampu katoda ialah bila setelah selesai digunakan. jangan menggunakan minyak. karena bila ada gas yang keluar dari dalam dapat menyebabkan keracunan pada lingkungan sekitar. Gas asetilen pada AAS memiliki kisaran suhu ± 20. maka tabung gas tersebut positif bocor. maka lampu dilepas dari soket pada main unit AAS. dan ada juga tabung gas yang berisi gas N2 yang lebih panas dari gas asetilen. dan lampu diletakkan pada tempat busanya di dalam kotaknya lagi. Tabung Gas Tabung gas pada AAS yang digunakan merupakan tabung gas yang berisi gas asetilen. g.000K. untuk pengecekkan. Sebaiknya pengecekkan kebocoran. Bagian yang hitam ini merupakan bagian yang paling menonjol dari ke-empat besi lainnya. Selotip ditambahkan. maka menendakan bahwa tabung gas bocor. Spedometer pada bagian kanan regulator merupakan pengatur tekanan yang berada di dalam tabung. yang lebih menonjol digunakan untuk memudahkan pemasangan lampu katoda pada saat lampu dimasukkan ke dalam soket pada AAS. Sebaiknya setelah selesai penggunaan. akan mudah tereksitasi. Bila terdengar suara atau udara. karena minyak akan dapat menyebabkan saluran gas tersumbat. yaitu dengan mendekatkan telinga ke dekat regulator gas dan diberi sedikit air.

agar bersih. Bagian pada belakang kompresor digunakan sebagai tempat penyimpanan udara setelah usai penggunaan AAS. karena bila lurus secara horizontal. Ducting merupakan bagian cerobong asap untuk menyedot asap atau sisa pembakaran pada AAS. yang langsung dihubungkan pada cerobong asap bagian luar pada atap bangunan. karena burner berfungsi sebagai tempat pancampuran gas asetilen. Ducting berfungsi untuk menghisap hasil pembakaran yang terjadi pada AAS. agar tercampur merata. Cara pemeliharaan ducting. Burner Burner merupakan bagian paling terpenting di dalam main unit. j. agar lantai tidak menjadi basah dan uap air akan terserap ke lap.posisi ke kanan. atau berfungsi sebagai pengatur tekanan. Kompresor Kompresor merupakan alat yang terpisah dengan main unit. spedo pada bagian tengah merupakan besar kecilnya udara yang akan dikeluarkan. Karena bila ada serangga atau binatang lainnya yang masuk ke dalam ducting . agar asap yang dihasilkan oleh AAS. pada waktu pembakaran atom. dimana pada bagian yang kotak hitam merupakan tombol ON-OFF. Lobang yang 28 . Kompresor memiliki 3 tombol pengatur tekanan. sedangkan tombol yang kanan merupakantombol pengaturan untuk mengatur banyak/sedikitnya udara yang akan disemprotkan ke burner. karena alat ini berfungsi untuk mensuplai kebutuhan udara yang akan digunakan oleh AAS. dan aquabides. dan dapat terbakar pada pemantik api secara baik dan merata. dan mengeluarkannya melalui cerobong asap yang terhubung dengan ducting i. agar polusi yang dihasilkan tidak berbahaya. diolah sedemikian rupa di dalam ducting. Asap yang dihasilkan dari pembakaran pada AAS. Alat ini berfungsi untuk menyaring udara dari luar. tidak berbahaya bagi lingkungan sekitar. dan posisi ke kiri merupakan posisi tertutup. menekan bagian kecil pada ducting kearah miring. yaitu dengan menutup bagian ducting secara horizontal. oleh karena itu sebaiknya pada saat menekan ke kanan bagian ini. maka dapat menyebabkan ducting tersumbat. Uap air yang dikeluarkan. Penggunaan ducting yaitu. agar bagian atas dapat tertutup rapat. sehingga tidak akan ada serangga atau binatang lainnya yang dapat masuk ke dalam ducting. sebaiknya ditampung dengan lap. merupakan posisi terbuka. menandakan ducting tertutup. akan memercik kencang dan dapat mengakibatkan lantai sekitar menjadi basah.

karena bila hal ini terjadi dapat mematikan proses pengatomisasian nyala api pada saat pengukuran sampel. merupakan warna api yang paling baik. isi di dalam wadah jangan dibuat kosong. Nilai eksitasi dari setiap logam memiliki nilai yang berbeda-beda. dan sedang berlangsungnya proses pengatomisasian nyala api. merupakan lobang pemantik api. Selang aspirator berada pada bagian selang yang berwarna oranye di bagian kanan burner. Perawatan burner yaitu setelah selesai pengukuran dilakukan. Buangan dihubungkan dengan selang buangan yang dibuat melingkar sedemikian rupa. dan paling panas. akan mengalami eksitasi dari energi rendah ke energi tinggi. hal ini merupakan proses pencucian pada aspirator dan burner setelah selesai pemakaian. Dan warna api paling biru.berada pada burner. Keunggulan/ Kelebihan AAS Spesifik  Batas (limit) deteksi rendah  Dari satu larutan yang sama. menandakan bahwa alat AAS atau api pada proses pengatomisasian menyala. dimana pada lobang inilah awal dari proses pengatomisasian nyala api. Sedangkan selang yang kiri. beberapa unsur berlainan dapat diukur 29 . k. Tempat wadah buangan (drigen) ditempatkan pada papan yang juga dilengkapi dengan lampu indicator. Buangan pada AAS Buangan pada AAS disimpan di dalam drigen dan diletakkan terpisah pada AAS. Selain itu. Warna api yang dihasilkan berbeda-beda bergantung pada tingkat konsentrasi logam yang diukur. papan tersebut juga berfungsi agar tempat atau wadah buangan tidak tersenggol kaki. agar tidak kering. tetapi disisakan sedikit. Bila lampu indicator menyala. sehingga kurva yang dihasilkan akan terlihat buruk. Logam yang akan diuji merupakan logam yang berupa larutan dan harus dilarutkan terlebih dahulu dengan menggunakan larutan asam nitrat pekat. Selang aspirator digunakan untuk menghisap atau menyedot larutan sampel dan standar yang akan diuji. Bila buangan sudah penuh. Bila warna api merah. selang aspirator dimasukkan ke dalam botol yang berisi aquabides selama ±15 menit. Logam yang berada di dalam larutan. maka menandakan bahwa terlalu banyaknya gas. agar sisa buangan sebelumnya tidak naik lagi ke atas. merupakan selang untuk mengalirkan gas asetilen.

 Batas kadar-kadar yang dapat ditentukan adalah amat luas (mg/L hingga persen) 5. maka Fe sering dibungkus dengan Kelat (chelate) seperti EDTA (Ethylene Diamine Tetra-acetic Acid). b. 2. sekaligus menjadi aktivator beberapa enzim. Jika adenium dikeluarkan dari potnya akan terlihat potongan-potongan akar yang mati. Kekurangan Tembaga (Cu) 30 . Daun muda tampak putih karena kurang klorofil. Unsur Hara Mikro antara lain sebagai berikut : 1. dan berperan dalam funsi reproduksi. Tembaga (Cu) Fungsi penting tembaga adalah aktivator dan membawa beberapa enzim. EDTA adalah suatu komponen organik yang bersifat menstabilkan ion metal. Unsur ini tidak mudah bergerak sehigga bila terjadi kekurangan sulit diperbaiki. Dia juga berperan membantu kelancaran proses fotosintesis. Besi berperan sebagai pembawa elektron pada proses fotosintetis dan respirasi . sebagai katalisator pembentukan klorofil. Kekurangan Besi (Fe) Kekurangan besi ditunjukkan dengan gejala klorosis dan daun menguning atau nekrosa. Selain itu terjadi karena kerusakan akar. Walaupun hanya diserap dalam jumlah kecil . Pengukuran dapat langsung dilakukan terhadap larutan contoh (preparasi contoh sebelum pengukuran lebih sederhana. kecuali bila ada zat pengganggu)  Dapat diaplikasikan kepada banyak jenis unsur dalam banyak jenis contoh. Pembentuk klorofil . tetapi amat penting untuk menunjang keberhasilan proses-proses dalam tumbuhan. Besi (Fe) Besi berperan dalam proses pembentukan protein . Adanya EDTA maka sifat antagonis Fe pada pH tinggi berkurang jauh. a. a. Unsur Hara Mikro Unsur mikro adalah unsur yang diperlukan tanaman dalam jumlah sedikit . Kelebihan Besi (Fe) Pemberian pupuk dengan kandungan Fe tinggi menyebabkan nekrosis yang ditandai dengan munculnya bintik-bintik hitam pada daun. Untuk mengurangi efek itu . Fe paling sering bertentangan atau antagonis dengan unsur mikro lain.

percabangan terbatas . akar menebal dan berwarna gelap. sebagai aktivator beberapa enzim respirasi. jarak antar buku pendek . Mangan juga diperlukan untuk mengaktifkan nitrat reduktase sehingga tumbuhan yang mengalami kekurangan mangan memerlukan sumber N dalam bentuk NH4+. pembentukan akar terhambat. Kekurangan Seng (Zn) Pertumbuhan lambat . mengkerut . dalam reaksi metabolisme nitrogen dan fotosintesis. Buah pun akan lebih lemas sehingga buah yang seharusnya lurus membengkok. Kelebihan Tembaga (Cu) Tanaman tumbuh kerdil . sengat berperan dalam aktivator enzim. Kekurangan biasanya terjadi pada media yang sudah lama digunakan. 4. Fungsi unsur hara Mangan (Mn) bagi tanaman ialah:  Diperlukan oleh tanaman untuk pembentukan protein dan vitamin terutama vitaminC  Berperan penting dalam mempertahankan kondisi hijau daun pada daun yang tua  Berperan sebagai enzim feroksidase dan sebagai aktifator macam- macam enzim 31 . Seng (Zn) Hampir mirip dengan Mn dan Mg . daun kerdil . Mangan sangat berperan dalam sintesa klorofil selain itu berperan sebagai koenzim. pembentukan klorofil dan membantu proses fotosintesis. atau menggulung di satu sisi lalu disusul dengan kerontokan. Daun berwarna hijau kebiruan . Peranan mangan dalam fotosintesis berkaitan dengan pelepasan elektron dari air dalam pemecahannya menjadi hidrogen dan oksigen. b. b. dan akhirnya gugur. tunas daun menguncup dan tumbuh kecil. Mangan (Mn) a. Kelebihan Seng (Zn) Kelebihan seng tidak menunjukkan dampak nyata. pertumbuhan bunga terhambat. Bakal buah menguning. Kelebihan Mangan Mangan merupakan unsur mikro yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah yang tidak terlalu banyak. 3. terbuka. b.

Standarisasi Mineral Mikro 32 . atau kata lain kekurangan unsur hara. Identifikasi Gejala defisiensi mangan bersifat relatif. BAB III METODE PENELITIAN 1. bisa menyebabkan pertumbuhan tanaman yg tidak normal dapat disebabkan oleh adanya defisiensi satu atau lebih unsur hara. Defisiensi unsure Mn antara lain : pada tanaman berdaun lebar. Gejala dapat terjadi karena berbagai macam sebab. Mn dalam level yang tinggi dapat mensubstitusikan Mo dalam kultur akar tomat. Kekurangan mangan ditandai dengan menguningnya bagian daun diantara tulang- tulang daun. Kekurangan Mangan Defisiensi unsur hara. Mn dapat menggantikan fungsi Mg dalam beberapa sistem enzym tertentu. dibutuhkan untuk fungsi fotosintetik yang normal dalam kloroplas. Berperan sebagai komponen penting untuk lancarnya proses asimilasi Mn diperlukan dalam kultur kotiledon selada untuk memacu pertumbuhan jumlah pucuk yang dihasilkan. Sedangkan tulang daun itu sendiri tetap berwarna hijau. ada indikasi dibutuhkan dalam sintesis klorofil. seringkali defisiensi satu unsur hara bersamaan dengan kelebihan unsur hara lainnya. karbohidrat. Tidak jarang gangguan hama dan penyakit menyerupai gejala defisiensi unsur hara mikro. Di lapangan tidak mudah membedakan gejala-gejala defisiensi. Mobilitas dari mangan adalah kompleks dan tergantung pada spesies dan umur tumbuhan sehingga awal gejalanya dapat terlihat pada daun muda atau daun yang lebih tua. pada serealia bercak-bercak warna keabu-abuan sampai kecoklatan dan garis-garis pada bagian tengah dan pangkal daun muda. interveinal chlorosis pada daun muda mirip kekahatan Fe tapi lebih banyak menyebar sampai ke daun yang lebih tua.. Gejala dari defisiensi mangan memperlihatkan bintik nekrotik pada daun. Mn merupakan penyusun ribosom dan juga mengaktifkan polimerase. gangguan dapat berupa gejala visual yang spesifik. b. Berperan sebagai activator bagi sejumlah enzim utama dalam siklus krebs. split seed pada tanaman lupin. sintesis protein.

Pada percobaan ini bertujuan untuk mengukur kadar mineral dalam contoh sampel pupuk cair organik kode-127 dengan menggunakan instrumen AAS yang digunakan sebagai Analisis Mineral Laboratorium Proximat Balai Penelitian Ternak (BPT) Bogor Jawa Barat. 5. Dalam tahap preparasi dilakukan dengan cara persiapan sampel pupuk cair organik kode-127 dan pendekstruksi pupuk cair organik kode-127.a . 2. cawan porselin. larutan HNO3 p.a dan Larutan Standar Mix. Sedangkan bahan yang lain digunakan adalah aquades. oven listrik merk Memmert. dan alat Instrumen AAS merk Varian. Cara Kerja 1. Persiapan Sample Sample pupuk diaduk hingga homogen dan diamil 1 ml dengan menggunakan pipet. 3. dan analisis data. 2. Metode Percobaan Percobaan yang dilakukan terdiri dari preparasi. dan deksikator merk Memmert. Tempat dan Waktu Praktik Kerja Lapangan (PKL) ini dilaksanakan mulai tanggal 25 Januari 2016 sampai dengan 25 Februari 2016 di Laboratorium Proximat Balai Penelitian Ternak (BPT) Jawa Barat yang berlokasi di Cibedug. Pada analisis sampel mikro digunakan larutan standar Mix yang merupakan larutan standar yang sudah 33 . Alat Alat yang digunakan untuk penetapan kadar air meliputi Neraca Analitik merk Ohaus. Alat dan Bahan 1. Ciawi Bogor Jawa Barat. 4. H3PO4 p. pengukuran. Cara Pembuatan Larutan Standar Larutan standar merupakan larutan yang digunakan sebagai acuan atau dasar batasan hasil regresi lineritas dari grafik yang akan digunakan. Bahan Bahan uji yang digunakan sebagai sampel contoh dalam percobaan ini adalah sampel pupuk organik kode-127. 2.

00 ml dan dilarutkan dalam labu takar 100 ml sampai tanda batas dengan aquades dan tambahkan 3 tetes HCl p.9997 sehingga harus liner terhadap besarnya adsorbansi. dan 5. Memvalidasi larutan tersebut dapat dilakukan dengan cara mengukur besarnya nilai absorbansi sehingga akan muncul perssamaan regresi lineritas atau akan muncul grafik regresi antara konsentrasi Vs Adsorbansi. f.00 ml dan dilarutkan dalam labu takar 100 ml sampai tanda batas dengan aquades dan tambahkan 3 tetes HCl p. Dimana besarnya angka regresi lineritas dari Larutan Standar Mix tersebut haruslah minimal adalah R2 = 0. Dalam membuat larutan standar Mix dengan berbagai konsentrasi yaitu : a. d.a. Larutan Standar Mix dengan konsentrasi 1 dapat dibuat dengan cara memipet Larutan Standar Mix 1. 4. b. dan 5 maka tahap selanjutnya yaitu memvalidasi dari Larutan Standar Mix tersebut apakan dapat digunakan atau tidak.a.00 ml dan dilarutkan dalam labu takar 100 ml sampai tanda batas dengan aquades dan tambahkan 3 tetes HCl p. Hasil destruksi kemudian dilarutkan dengan akuades 10 mL 34 . Larutan Standar Mix dengan konsentrasi 5 dapat dibuat dengan cara memipet Larutan Standar Mix 5. e. 1.mengandung logam-logam yang akan dianalisis. Larutan standar Mix yang digunakan dengan konsentrasi 0.a. 3. 1.a.a. 4. Setelah Larutan Standar Mix tersebut sudah dibuat dengan berbagai konsentrasi yaitu 0. 2. 3. Larutan Standar Mix dengan konsentrasi 0 dapat dibuat dengan cara memipet larutan standar 0 ml dan dilarutkan dalam 100 ml aquades dan tambahkan 3 tetes HCl p. Larutan Standar Mix dengan konsentrasi 4 dapat dibuat dengan cara memipet Larutan Standar Mix 4.00 ml dan dilarutkan dalam labu takar 100 ml sampai tanda batas dengan aquades dan tambahkan 3 tetes HCl p.a. Larutan Standar Mix dengan konsentrasi 3 dapat dibuat dengan cara memipet Larutan Standar Mix 3. Kemudian sampel tersebut didestruksi selama 24 jam. Cara Kerja Penetapan Kadar Mineral dengan AAS Dalam memulai analisis ini sebelumnya 1 mL sampel pupuk cair 127 ditambahkan dengan 10 mL H3PO4 dan 1 mL HNO3.00 ml dan dilarutkan dalam labu takar 100 ml sampai tanda batas dengan aquades dan tambahkan 3 tetes HCl p. 3. c. 2. Larutan Standar Mix dengan konsentrasi 2 dapat dibuat dengan cara memipet Larutan Standar Mix 2.

1. Kadar Besi (Fe) pada Sampel 127 35 .5 mL larutan Stronsium. dan 5 dengan menggunakan instrumen AAS. 1. 3. 4. 4. Penetapan Kadar Seng (Zn) pada Sampel 127 Mengambil filtrat hasil destruksi yang telah diendapkan dengan diluter dengan perbandingan 0. Penetapan Kadar Tembaga (Cu) pada sampel 127 Mengambil filtrat hasil destruksi yang telah diendapkan dengan diluter dengan perbandingan 0. 2. d. Kemudian dilakukan analisis kadar mineral menggunakan konsentrasi larutan standar Mix 0. 1. Kemudian dilakukan analisis kadar mineral dengan menggunakan konsentrasi larutan standar Mix 0. Residu yang telah mengendap dalam filtrat hasil destruksi.5 mL larutan Stronsium. 3. Hasil Pengamatan 1.5 mL filtrat hasil destruksi dan 9 mL akuabidest serta menambahkan 9. 2.5 mL filtrat hasil destruksi dan 9 mL akuabidest serta menambahkan 9. Filtrat yang diperoleh didiamkan selama 12 jam agar endapannya mengendap.5 mL filtrat hasil destruksi dan 9 mL akuabidest serta menambahkan 9. 4. 1.5 mL filtrat hasil destruksi dan 9 mL akuabidest serta menambahkan 9. dan 5. Penetapan Kadar Mineral Besi (Fe) pada sampel 127 Mengambil filtrat hasil destruksi yang telah diendapkan dengan diluter dengan perbandingan 0. BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN 1. 3. 2. dan 5 dengan menggunakan instrumen AAS. 4. c.5 mL larutan Stronsium. Kemudian dilakukan analisis kadar mineral menggunakan konsentrasi larutan standar Mix 0. Kemudian dilakukan analisis kadar mineral menggunakan konsentrasi larutan standar Mix 0. 3.dan disaring. kemudian dilakukan analisis mineral dengan menggunakan AAS.5 mL larutan Stronsium. 2. b. a. Penetapan Kadar Mangan (Mn) pada sampel 127 Mengambil filtrat hasil destruksi yang telah diendapkan dengan diluter dengan perbandingan 0. dan 5 dengan menggunakan instrumen AAS.

0384 0.2.0030 0.00 Slit 0.1578 .91 Diet 100 x 0.0000 0.8 1 0.00 0.1194 Current 1 Slit OPTICAL 0.00 0.0331 Length Sempel Pengenceran Absorbansi Konsentrasi Rerata - Lamp 10 2 0.0664 rata Current Blanko .64 4 0. Kadar Seng (Zn) pada sampel 127 UNSUR 36 .32 3.0962 100 x 0. Kadar Tembaga (Cu) pada Sampel 127 UNSUR NO Cu 2 OPTICAL Konsentrasi Asorbansi Standard Lamp 1 0 0. 0.1278 Diet 100 x .3 51 0. 0.93 0.0302 0.2779 0.0000 0.2248 0.070 rata Blanko .00 100 x 0. 0.0106 0.0590 UNSUR Lenght NO Lamp 10 2 Fe 0. 0.26 10 x 0. 0.0003 Wave 324.19 0. .0049 0.08 Sempel Pengenceran Absorbansi Konsentrasi Rerata - Sampel .0001 Wave 248.0306 0.64 5 0.5 3 Konsentrasi 0.5 3 0.06 0.92 Sampel 10 x 0.0063 0.1709 Asorbansi Standard Lamp 2 40 0.

1251 1.2102 4 0.0769 Lenght Lamp 10 2 0.2719 37 .5 3 0.95 10 x 0.0014 Wave 279.1643 2.9 1 0.0138 0.0000 0. 0.0103 0.0004 Wave Lenght 213.00 0.2 3 0.2786 Sempel Pengencera Absorbansi Konsentrasi Rerata - n rata Blanko .12 0.NO Zn 4 OPTICAL Konsentrasi Asorbansi Standard Lamp 4 0 0.28 1.62 Diet 100 x 0.1514 Current Slit 0.14 4.5 1 0.2348 5 0.1453 Current Slit 0. Kadar Mangan (Mn) pada sampel 127 UNSUR NO Mn 3 OPTICAL Konsentrasi Asorbansi Standard Lamp 3 0 0.16 Sampel 10 x 0.0868 Lamp 10 2 0.00 100 x 0.1945 4 0.

00 100 x 0. 38 . 0. Sebelum digunakan. biogas.48 Sampel .00 0. 0.1237 1.32 0. Pupuk cair dapat berupa pupuk kandang cair.0000 0. 5 0.07 4 Zn 1.4 bahasan Pupuk adalah material yang ditambahkan pada media tanam atau tanaman untuk mencukupi kebutuhan hara yang diperlukan tanaman sehingga mampu berproduksi dengan baik.3295 Sempel Pengenceran Absorbansi Konsentrasi Rerata - rata Blanko . Meskipun demikian.40 Pem 3 Cu 0. Material pupuk dapat berupa bahan organik ataupun non-organik (mineral).60 1. dapat ditambahkan sejumlah material suplemen.6 2. Penggunaannya pada tanaman akan mengefisienkan penggunaan fosfat oleh tanaman. Penutupan dilakukan untuk mencegah keluarnya unsur nitrogen dalam bentuk gas ammonia yang menguap. Pupuk kandang cair dapat dibuat dengan mencampurkan kotoran hewan dengan air lalu diaduk. 0.55 Diet 100 x 0. Pupuk berbeda dari suplemen. sementara suplemen berarti hormone tumbuhan yang membantu kelancaran proses metabolism. pupuk cair sebagiknya didiamkan terlebih dahulu dalam kondisi tertutup dan terlindung dari sinar matahari sehingga akan terjadi fermentasi. Data Hasil Analisa Konsentrasi NO Unsur (ppm) 1 Fe 2. ke dalam pupuk. Penyimpanan akan membuat kandungan unsur hara pada pupuk kandang cair lebih seimbang. Pupuk mengandung bahan baku yang diperlukan pertumbuhan dan perkembangan tanaman.0249 0.57 . 2 Mn 0.1169 1.40 5. khususnya pupuk buatan.0372 0. pupuk cair dari lombah organik atau pupuk cair dari limbah manusia.

Pupuk kandang cair dapat pula terbuat dari urine sapi maupun kambing. Bakteri pengurai yang umumnya digunakan adalah EM4 (Effective Microorganism 4) atau botani dan molasses sebagai energi yang digunakan oleh bakteri. hindari penggunaannya secara langsung setelah dibuat. perlu ditambahkan bakteri pengurai untuk menguraikan senyawa-senyawa organik yang terkandung di dalam urine sehingga dapat langsung dimanfaatkan oleh tanaman. Pupuk kandang tidak hanya dapat menutrisi tanah dan tanaman. namun karakteristik pupuk pun dipengaruhi oleh jenis hewan yang digunakan kotorannya. namun juga dapat menetralkan logam berat di dalam tanah. Bahan baku pembuatannya berasal dari hewan atau tumbuhan. besi. 39 . Jenis pupuk cair lainnya adalah biogas yang merupakan gabungan dari fermentasi bahan organik cair dengan bahan organik padat yang dikenal dengan istilah biogas. Pupuk organik padat dapat berasal dari kotoran ternak. Pupuk cair dari urine sapi lebih baik digunakan kurnag dari 24 jam setelah urine dihasilkan. fosfor dan potassium. kompos dan pupuk hijau. tanaman. juga seng. sisa pakan atau sisa air minum. Urine sapi yang digunakan adalah urine sapi segar yang tidak tercemar feses. Ada tidaknya campuran urine hewan dalam pupuk juga sangat memperngaruhi kandungan yang terdapat dalam pupuk. EM4 akan mempercepat proses pengomposan atau pembuatan pupuk cair. Pupuk kandang terbuat dari kotoran hewan.Untuk mencegah adanya gulma atau organisme penyebab penyakit pada pupuk kandang cair. Urine sapi mengandung banyak unsur yang dibutuhkan oleh tanaman seperti nitrogen. Sapi.Untuk membuat pupuk cair dari urine sapi. Pupuk Organik Cair berperan sebagai bahan pembenah tanah. kambing juga ayam adalah beberapa hewan yang kotorannya digunakan dalam pembuatan pupuk. maupun campuran sisa makanan dan urine hewan ternak. humus. Hampir semua kotoran hewan ternak dapat digunakan sebagai pupuk organik. meningkatkan kemampuan tanah untuk mengikat kelembaban juga memperbaiki struktur tanah dan pengatusan tanah. Pupuk organik padat dapat berupa pupuk kandang. Pada biogasm akan dihasilkan gas metana sebagai sumber energi sedangkan limbah cair dan padat yang dihasilkan sebagai residu dapat digunakan sebagai pupuk. mangan.

untuk mengurangi penguapan unsur hara akibat proses kimia yang terjadi di dalam tanah. Dalam AAS. Penggunaan pupuk kandang dapat dilakukan dengan menyebarkan dan membenamkan pupuk pada tanah. sisa tanaman jagung juga sabuk kelapa. atom bebas berinteraksi dengan berbagai bentuk energi 40 . sayuran busuk. pelepah pisang. Spektrofotometri Serapan Atom (AAS) adalah suatu metode analisis yang didasarkan pada proses penyerapan energi radiasi oleh atom-atom yang berada pada tingkat energi dasar (ground state). Jenis tanaman yang banyak digunakan adalah jerami. Hanya saja. tak berbau dan memiliki kekentalan yang tinggi. pada pupuk organik cair tersebut memiliki karakteristik yaitu berwarna cream. yang ditanam di dalam tanah. Pada analisis kandungan mineral mikro pada sampel pupuk cair tersebut dengan mengunakan intrumentasi yaitu AAS ( Atomic Adsorpstion Spectroscopy). Sama seperti pupuk organik lainnya. termasuk untuk meningkatkan kemampuannya dalam menyediakan nutrisi yang dibutuhkan tanaman. Pupuk hijau mirip dengan humus karena proses pembentukannya dilakukan denga cara yang sama. Semua jenis tanaman dapat digunakan sebagai pupuk hijau. humus terbentuk secara alamai sementara pupuk hijau harus dibuat oleh manusia. Selain pupuk kandang dan pupuk hijau. gulma. gembur. Pupuk organik lainnya adalah pupuk hijp au yang berasal dari tanaman atau bagian tanaman tertentu yang maish segar. Pada analisis yang dilakukan digunakanya Pupuk Organik Cair sampel kode-127. namun untuk memaksimalkan kandungan unsur hara yang dikandungnya. berbentuk menyerupai tanah dan baunya telah berkurang. elektron akan kembali ke tingkat energi dasar sambil mengeluarkan energi yang berbentuk radiasi. Pupuk kandang yang telah siap digunakan biasanya terasa dingin. pupuk kandang dapat memperbaiki struktur tanah. Keadaan ini bersifat labil. pupuk kompos juga merupakan pupuk organik padat. sekam padi. pilihan tanaman terbaik adalah tanaman dengan sistem perakaran yang bersimbiosis dengan mikroorganisme pengikat nitrogen. Berbeda dengan pupuk hijau yang hanya dbuat dengan membenamkan tanaman-tanaman di dalam tanah. pada pembuatan pupuk kompos disertai dengan penambahan mikroorganisme dekomposer untuk mendekomposisi atau memfermentasi. Penyerapan tersebut menyebabkan tereksitasinya elektron dalam kulit atom ke tingkat energi yang lebih tinggi.

Spektrofotometri molekuler pita absopsi inframerah dan UV-tampak yang di pertimbangkan melibatkan molekul poliatom.ini disebabkan karena sebelum pengukuran tidak selalu memerluka pemisahan unsur yang ditetukan karena kemungkinan penentuan satu logam unsur dengan kehadiran unsur lain dapat dilakukan. Detektor akan menolak arah searah arus ( DC ) dari emisi nyala dan hanya mnegukur arus bolak-balik dari sumber radiasi atau sampel. teknik AAS menjadi alat yang canggih dalam analisis. waktu analisa sangat cepat dan mudah dilakukan. Jadi spectra absopsi atom terdiri dari garis- garis yang jauh lebih tajam daripada pita-pita yang diamati dalam spektrokopi molekul (Underwood. kemudian radiasi tersebut diteruskan ke detektor melalui monokromator. Interaksi ini menimbulkan proses-proses dalam atom bebas yang menghasilkan absorpsi dan emisi (pancaran) radiasi dan panas. diberbagai bidang karena prosedurnya selektif. Atom dari suatu unsur padakeadaan dasar akan dikenai radiasi maka atom tersebut akan menyerap energi dan mengakibatkan elektron pada kulit terluar naik ke tingkat energi yang lebih tingi atau tereksitasi. energi kimia dan energi listrik. Sember cahaya pada AAS adalah sumber cahaya dari lampu katoda yang berasal dari elemen yang sedang diukur kemudian dilewatkan ke dalam nyala api yang berisi sampel yang telah terakomisasi. AAS dapat digunakan untuk mengukur logam sebanyak 61 logam. Spectra absorpsi lebih sederhana dibandingakan dengan spectra molekulnya karena keadaan energi elektronik tidak mempunyai sub tingkat vibrasi rotasi.seperti energi panas. Atom-atom dari sampel akan menyerpa sebagian sinar yang dipancarkan oleh sumber cahaya. 1994). spesifik. Chopper digunakan untuk membedakan radiasi yang berasal dari nyala api. dapat dengan mudah membuat matriks yang sesuai dengan standar. energi elektromagnetik. Radiasi yang dipancarkan bersifat khas karena mempunyai panjang gelombang yang karakteristik untuk setiap atom bebas (Basset. tetapi atom individu juga menyerap radiasi yang menimbulkan keadaan energi elektronik tereksitasi. Penyerapan energi cahaya terjadi 41 . sensitif tinggi (ppm-ppb). 2001). Spektrrofotometer serapan atom (AAS) merupakan teknik analisis kuantitatif dari unsur-unsur yang pemakaiannya sangat luas. Analisis AAS pada umumnya digunakan untuk analisa unsur. biaya analisa relatif murah. asalkan katoda berongga yang diperlukan tersedia.

Atomisasi dilakukan dengan nyala dari campuran gas yang sesuai dengan unsur yang dianalisa. 3. • Gas cukup aman. tidak beracun dan mudah dikendalikan • Gas cukup murni dan bersih (UHP) Campuran gas yang paling umum digunakan adalah Udara : C2H2 (suhu nyala 1900 – 2000 ºC). N2O : C2H2 (suhu nyala 2700 – 3000 ºC). Beberapa unsur dapat ditentukan dengan nyala dari campuran gas yang berbeda tetapi penggunaan bahan bakar dan oksidan yang berbeda akan memberikan sensitivitas yang berbeda pula. Ada tiga cara atomisasi (pembentukan atom) dalam AAS : 1. Banyaknya atom dalam nyala tergantung pada suhu nyala. 2. Atomisasi dengan nyala Suatu senyawa logam yang dipanaskan akan membentuk atom logam pada suhu ± 1700 ºC atau lebih. Suhu nyala tergantung perbandingan gas bahan bakar dan oksidan. Persyaratan bila menggunakan pelarut organik : • Tidak mudah meledak bila kena panas • Mempunyai berat jenis > 0. 1994). Hal-hal yang harus diperhatikan pada atomisasi dengan nyala : 1.pada panjang gelombang tertentu sesuai dengan energi yang dibutuhkan oleh atom tersebut (Basset. Udara : propana (suhu nyala 1700 – 1900 ºC). Tingginya suhu nyala yang diperlukan untuk atomisasi setiap unsure berbeda. Standar dan sampel harus dipersiapkan dalam bentuk larutan dan cukup stabil. Sampel yang berbentuk cairan akan dilakukan atomisasi dengan cara memasukan cairan tersebut ke dalam nyala campuran gas bakar. Syarat-syarat gas yang dapat digunakan dalam atomisasi dengan nyala: • Campuran gas memberikan suhu nyala yang sesuai untuk atomisasi unsur yang akan dianalisa • Tidak berbahaya misalnya tidak mudah menimbulkan ledakan. Dianjurkan dalam larutan dengan keasaman yang rendah untuk mencegah korosi.7 g/mL • Mempunyai titik didih > 100 ºC • Mempunyai titik nyala yang tinggi • Tidak menggunakan pelarut hidrokarbon 42 .

pemanasan larutan sampel melalui tiga tahapan yaitu :  Tahap pengeringan (drying) untuk menguapkan pelarut  Pengabuan (ashing). Energi ini biasanya berasal dari nyala hasil pembakaran campuran gas asetilen-udara atau asetilen-N2O. Hubungan kuantitatif antara intensitas radiasi yang diserap dan konsentrasi unsur yang ada dalam larutan cuplikan menjadi dasar pemakaian SSA untuk analisis unsur- unsur logam. Se. 2006). Untuk membentuk uap atom netral dalam keadaan/tingkat energi dasar yang siap menyerap radiasi dibutuhkan sejumlah energi. Disini berlaku hubungan yang dikenal dengan hukum Lambert-Beer yang menjadi dasar dalam analisis kuantitatif secara SSA.c Atau. Suhu dapat diatur hingga 3000 ºC. a. Hubungan tersebut dirumuskan dalam persamaan sebagai berikut (Ristina. Atomisasi tanpa nyala Atomisasi tanpa nyala dilakukan dengan mengalirkan energi listrik pada batang karbon (CRA – Carbon Rod Atomizer) atau tabung karbon (GTA – Graphite Tube Atomizer) yang mempunyai 2 elektroda. Arus listrik dialirkan sehingga batang atau tabung menjadi panas (suhu naik menjadi tinggi) dan unsur yang dianalisa akan teratomisasi. Atomisasi dengan pembentukan senyawa hidrida Atomisasi dengan pembentukan senyawa hidrida dilakukan untuk unsur As.c 43 .b. Sampel dimasukan ke dalam CRA atau GTA. Log I/Io = a. I = Io . Sb yang mudah terurai apabila dipanaskan pada suhu lebih dari 800 ºC sehingga atomisasi dilakukan dengan membentuk senyawa hibrida berbentuk gas atau yang lebih terurai menjadi atom-atomnya melalui reaksi reduksi oleh SnCl2 atau NaBH4.2. contohnya merkuri (Hg). suhu furnace dinaikkan bertahap sampai terjadi dekomposisi dan penguapan senyawa organik yang ada dalam sampel sehingga diperoleh garam atau oksida logam  Pengatoman (atomization) 3.b. tergantung suhu yang dibutuhkan untuk membuat unsur analit menjadi uap atom bebas pada tingkat energi dasar (ground state).

1986)  Bagian – Bagian dari AAS (Atomic Adsorpstion Spectroscopy) : Gambar 3.c dengan. Dengan menempatkan absorbansi dari suatu cuplikan pada kurva standar akan diperoleh konsentrasi dalam larutan cuplikan. Bagian-bagian AAS adalah sebgai berikut (Day.b. L c = konsentrasi. Banyaknya konsentrasi atom-atom dalam nyala tersebut sebanding dengan konsentrasi unsur dalam larutan cuplikan. Dengan demikian. dari pemplotan serapan dan konsentrasi unsur dalam larutan standar diperoleh kurva kalibrasi. M/L3 Io = intensitas sinar mula-mula I = intensitas sinar yang diteruskan Pada persamaan diatas ditunjukkan bahwa besarnya absorbansi berbanding lurus dengan konsentrasi atom-atom pada tingkat tenaga dasar dalam medium nyala. Sumber Radiasi Resonansi 44 . L2/M b = panjang jejak sinar dalam medium berisi atom penyerap. Bagian – Bagian AAS (Atomic Adsopstion Spectoscopy) 1. tanpa dimensi a = koefisien serapan. A = a. A = absorbansi.

 Spray chamber berfungsi untuk membuat campuran yang homogen antara gas oksidan. Elektroda lampu katoda berongga biasanya terdiri dari wolfram dan katoda berongga dilapisi dengan unsur murni atau campuran dari unsur murni yang dikehendaki. 3. Atomizer Atomizer terdiri atas Nebulizer (sistem pengabut). bahan bakar dan aerosol yang mengandung contoh sebelum memasuki burner.  Burner merupakan sistem tepat terjadi atomisasi yaitu pengubahan kabut/uap garam unsur yang akan dianalisis menjadi atom-atom normal dalam nyala. sedangkan titik kabut yang besar dialirkan melalui saluran pembuangan. disemprotkan ke ruang pengabut. Atom-atom yang tereksitasi ini bersifat tidak stabil dan akan kembali ke tingkat dasar dengan melepaskan energy eksitasinya dalam bentuk radiasi. masuk ke dalam nyala. Fraksi 45 . Pemancaran radiasi resonansi terjadi bila kedua elektroda diberi tegangan. Monokromator Setelah radiasi resonansi dari lampu katoda berongga melalui populasi atom di dalam nyala. diisi dengan gas pengisi yang dapat menghasilkan proses ionisasi. arus listrik yang terjadi menimbulkan ionisasi gas-gas pengisi. 2. Ar atau He. energy radiasi ini sebagian diserap dan sebagian lagi diteruskan. spray chamber dan burner  Nebulizer berfungsi untuk mengubah larutan menjadi aerosol (butir-butir kabut dengan ukuran partikel 15 – 20 µm) dengan cara menarik larutan melalui kapiler (akibat efek dari aliran udara) dengan pengisapan gas bahan bakar dan oksidan. Gas pengisi yang biasanya digunakan ialah Ne. Radiasi ini yang dilewatkan melalui atom yang berada dalam nyala. Sumber radiasi resonansi yang digunakan adalah lampu katoda berongga (Hollow Cathode Lamp) atau Electrodeless Discharge Tube (EDT). Partikel-partikel kabut yang halus kemudian bersama-sama aliran campuran gas bahan bakar. Ion-ion gas yang bermuatan positif ini menembaki atom-atom yang terdapat pada katoda yang menyebabkan tereksitasinya atom-atom tersebut. Tanung lampu dan jendela (window) terbuat dari silika atau kuarsa.

Lampu katoda terbagi menjadi dua macam. akan mudah tereksitasi. Rekorder Sinyal listrik yang keluar dari detektor diterima oleh piranti yang dapat menggambarkan secara otomatis kurva absorpsi. Bagian yang hitam ini merupakan bagian yang paling menonjol dari ke-empat besi lainnya.radiasi yang diteruskan dipisahkan dari radiasi lainnya. seperti lampu katoda Cu. karena bila ada gas yang keluar dari dalam dapat menyebabkan keracunan pada lingkungan sekitar. yaitu : Lampu Katoda Monologam : Digunakan untuk mengukur 1 unsur Lampu Katoda Multilogam : Digunakan untuk pengukuran beberapa logam sekaligus namun harganya lebih mahal Soket pada bagian lampu katoda yang hitam. Selotip ditambahkan. Lampu katoda memiliki masa pakai atau umur pemakaian selama 1000 jam. 46 . 6. Monokromator terdiri atas sistem optik yaitu celah. hanya bisa digunakan untuk pengukuran unsur Cu. 5. Detektor Detektor berfungsi mengukur radiasi yang ditransmisikan oleh sampel dan mengukur intensitas radiasi tersebut dalam bentuk energi listrik. agar tidak ada ruang kosong untuk keluar masuknya gas dari luar dan keluarnya gas dari dalam. Lampu Katoda Lampu katoda merupakan sumber cahaya pada AAS. Lampu katoda berfungsi sebagai sumber cahaya untuk memberikan energi sehingga unsur logam yang akan diuji. Pemilihan atau pemisahan radiasi tersebut dilakukan oleh monokromator. 4. Monokromator berfungsi untuk memisahkan radiasi resonansi yang telah mengalami absorpsi tersebut dari radiasi-radiasi lainnya. Radiasi lainnya berasal dari lampu katoda berongga. Lampu katoda pada setiap unsur yang akan diuji berbeda-beda tergantung unsur yang akan diuji. cermin dan kisi. yang lebih menonjol digunakan untuk memudahkan pemasangan lampu katoda pada saat lampu dimasukkan ke dalam soket pada AAS. gas pengisi lampu katoda berongga atau logam pengotor dalam lampu katoda berongga.

dan dus penyimpanan ditutup kembali. yang langsung dihubungkan pada cerobong asap bagian luar pada atap bangunan. Gas didalam tabung dapat keluar karena disebabkan di dalam tabung pada bagian dasar tabung berisi aseton yang dapat membuat gas akan mudah keluar. diolah sedemikian rupa di dalam ducting. Cara pemeliharaan lampu katoda ialah bila setelah selesai digunakan. agar polusi yang dihasilkan tidak berbahaya. Asap yang dihasilkan dari pembakaran pada AAS.000K. Cara pemeliharaan ducting. maka menendakan bahwa tabung gas bocor. jangan menggunakan minyak. Tabung Gas Tabung gas pada AAS yang digunakan merupakan tabung gas yang berisi gas asetilen. yaitu dengan menutup bagian ducting secara horizontal. Karena bila ada serangga atau binatang lainnya yang masuk ke dalam ducting . Spedometer pada bagian kanan regulator merupakan pengatur tekanan yang berada di dalam tabung. Regulator pada tabung gas asetilen berfungsi untuk pengaturan banyaknya gas yang akan dikeluarkan. Pengujian untuk pendeteksian bocor atau tidaknya tabung gas tersebut. Sebaiknya setelah selesai penggunaan. karena minyak akan dapat menyebabkan saluran gas tersumbat. 7. sehingga tidak akan ada serangga atau binatang lainnya yang dapat masuk ke dalam ducting. agar asap yang dihasilkan oleh AAS. tidak berbahaya bagi lingkungan sekitar. maka tabung gas tersebut positif bocor. 8. yaitu dengan mendekatkan telinga ke dekat regulator gas dan diberi sedikit air.000K. Sebaiknya pengecekkan kebocoran. maka lampu dilepas dari soket pada main unit AAS. dan ada gas yang keluar. agar bagian atas dapat tertutup rapat. lamanya waktu pemakaian dicatat. dengan kisaran suhu ± 30. dan lampu diletakkan pada tempat busanya di dalam kotaknya lagi. Bila terdengar suara atau udara. Ducting Ducting merupakan bagian cerobong asap untuk menyedot asap atau sisa pembakaran pada AAS. 47 . Gas asetilen pada AAS memiliki kisaran suhu ± 20. untuk pengecekkan. selain gas juga memiliki tekanan. Hal lainnya yang bisa dilakukan yaitu dengan memberikan sedikit air sabun pada bagian atas regulator dan dilihat apakah ada gelembung udara yang terbentuk. dan ada juga tabung gas yang berisi gas N2 yang lebih panas dari gas asetilen. maka dapat menyebabkan ducting tersumbat. Bila ada. dan gas yang berada di dalam tabung.

Logam yang akan diuji merupakan logam yang berupa larutan dan harus dilarutkan 48 . Uap air yang dikeluarkan. pada waktu pembakaran atom. agar bersih. agar tercampur merata. sebaiknya ditampung dengan lap. Perawatan burner yaitu setelah selesai pengukuran dilakukan. akan memercik kencang dan dapat mengakibatkan lantai sekitar menjadi basah. 10. dan dapat terbakar pada pemantik api secara baik dan merata. atau berfungsi sebagai pengatur tekanan. Kompresor Kompresor merupakan alat yang terpisah dengan main unit. menekan bagian kecil pada ducting kearah miring. Bagian pada belakang kompresor digunakan sebagai tempat penyimpanan udara setelah usai penggunaan AAS. merupakan lobang pemantik api. dimana pada bagian yang kotak hitam merupakan tombol ON-OFF. merupakan posisi terbuka. selang aspirator dimasukkan ke dalam botol yang berisi aquabides selama ±15 menit. karena burner berfungsi sebagai tempat pancampuran gas asetilen. merupakan selang untuk mengalirkan gas asetilen. dan mengeluarkannya melalui cerobong asap yang terhubung dengan ducting 9. sedangkan tombol yang kanan merupakantombol pengaturan untuk mengatur banyak/sedikitnya udara yang akan disemprotkan ke burner. hal ini merupakan proses pencucian pada aspirator dan burner setelah selesai pemakaian. Alat ini berfungsi untuk menyaring udara dari luar. dan posisi ke kiri merupakan posisi tertutup. karena bila lurus secara horizontal. Sedangkan selang yang kiri. spedo pada bagian tengah merupakan besar kecilnya udara yang akan dikeluarkan. dan aquabides. Lobang yang berada pada burner. karena alat ini berfungsi untuk mensuplai kebutuhan udara yang akan digunakan oleh AAS. oleh karena itu sebaiknya pada saat menekan ke kanan bagian ini. agar lantai tidak menjadi basah dan uap air akan terserap ke lap. Selang aspirator berada pada bagian selang yang berwarna oranye di bagian kanan burner. Selang aspirator digunakan untuk menghisap atau menyedot larutan sampel dan standar yang akan diuji. Kompresor memiliki 3 tombol pengatur tekanan. Ducting berfungsi untuk menghisap hasil pembakaran yang terjadi pada AAS. menandakan ducting tertutup. Burner Burner merupakan bagian paling terpenting di dalam main unit. dimana pada lobang inilah awal dari proses pengatomisasian nyala api. Penggunaan ducting yaitu.posisi ke kanan.

agar sisa buangan sebelumnya tidak naik lagi ke atas. Tempat wadah buangan (drigen) ditempatkan pada papan yang juga dilengkapi dengan lampu indicator. karena bila hal ini terjadi dapat mematikan proses pengatomisasian nyala api pada saat pengukuran sampel. dan paling panas. akan mengalami eksitasi dari energi rendah ke energi tinggi. Bila lampu indicator menyala. tetapi disisakan sedikit.  Cara Kerja AAS (Atomic Adsorption Spectroscopy) Gambar 4. Atom yang berada dalam keadaan dasar ini bisa menyerap sinar yang dipancarkan oleh sumber sinar. Nilai eksitasi dari setiap logam memiliki nilai yang berbeda-beda. pada tahap ini atom akan berada pada keadaan tereksitasi. Logam yang berada di dalam larutan. Skema Analisis AAS ( Atomic Adsorpstion Specroscopy) Prinsip dasar dari pengukuran secara AAS ini adalah. Buangan dihubungkan dengan selang buangan yang dibuat melingkar sedemikian rupa. Sinar yang tidak diserap oleh atom akan 49 . agar tidak kering. Buangan pada AAS Buangan pada AAS disimpan di dalam drigen dan diletakkan terpisah pada AAS. merupakan warna api yang paling baik. Bila buangan sudah penuh. Bila warna api merah. sehingga kurva yang dihasilkan akan terlihat buruk. proses penguraian molekul menjadi atom dengan batuan energi dari api atau listrik. menandakan bahwa alat AAS atau api pada proses pengatomisasian menyala. Selain itu. Warna api yang dihasilkan berbeda-beda bergantung pada tingkat konsentrasi logam yang diukur.terlebih dahulu dengan menggunakan larutan asam nitrat pekat. Dan warna api paling biru. maka menandakan bahwa terlalu banyaknya gas. isi di dalam wadah jangan dibuat kosong. papan tersebut juga berfungsi agar tempat atau wadah buangan tidak tersenggol kaki. 11. dan sedang berlangsungnya proses pengatomisasian nyala api.

3. kecuali bila ada zat pengganggu)  Dapat diaplikasikan kepada banyak jenis unsur dalam banyak jenis contoh. hal ini disebabkan adanya perbedaan matriks sampel dan matriks standar 2. beberapa unsur berlainan dapat diukur  Pengukuran dapat langsung dilakukan terhadap larutan contoh (preparasi contoh sebelum pengukuran lebih sederhana. Panjang gelombang sinar bergantung pada konfigurasi elektron dari atom sedangkan intensitasnya bergantung pada jumlah atom dalam keadaan dasar.  Keunggulan atau Kelebihan AAS  Spesifik  Batas (limit) deteksi rendah  Dari satu larutan yang sama. diantaranya: Sumber kesalahan pengukuran yang dapat terjadi pada pengukuran menggunakan SSA dapat diprediksikan sebagai berikut : 1. kemudian diubah menjadi sinyal yang terukur. karena terdapat beberapa sumber kesalahan. Kurang sempurnanya preparasi sampel.diteruskan dan dipancarkan pada detektor. dengan demikian AAS dapat digunakan baik untuk analisa kuantitatif maupun kualitatif. Aliran sampel pada burner tidak sama kecepatannya atau ada penyumbatan pada jalannya aliran sampel. seperti : – Proses destruksi yang kurang sempurna – Tingkat keasaman sampel dan blanko tidak sama Kesalahan matriks. Gangguan kimia berupa :  Disosiasi tidak sempurna  Ionisasi  Terbentuknya senyawa refrakto  Pengoprasian Alat Instrumen AAS (Atomic Absopstion Spectroscopy) 50 .  Batas kadar-kadar yang dapat ditentukan adalah amat luas (mg/L hingga persen)  Kelemahan Metode AAS Analisis menggunakan AAS ini terdapat kelemahan.

Klik Add Metode 5.Read delay :3 . Membuka aplikasi spektra 2. Menyalakan CPU komputer pada AAS 3. Pilih Develope:  Klik manual pada sampling mode  Unit standar di isi sesuai keinginan (% atau ppm) 8.Pengulangan sampel :1 9. Sehingga prosess pengesetan sistem dilakukan sebelum running berlangsung yang bertujuan untuk mempermudah dari prosess berjalanya analisis atau running dari alat tersebut. pengoprasian dilakukan pada saat persiapan sebelum analisis sampel dilakukan. Adapun sistem atau cara kerja penggunaan alat AAS sebelum running sebagai berikut : 1. Pilih new wooksheet 3. Mengisi :  Analisa Sampel  Nama Analisis  Lalu Ok 4. Menyalakan Komputer pada AAS 5. Pilih Optical 51 . Menyeting Pemrograman Komputer : 1.Pengulangan standar :1 . Menyalakan AAS 4. Pengoprasian dilakukan melalui beberapa tahap dalam menjalankan sistem kerja AAS. Pilih Measurement :  Pilih integration  Dan mengisi borang yang ada : . Pilih Unsur yang akan dianalisis 6. Menyalak Blower pada stop kontak Blower 2.Time Measurement :3 . Memasang Lampu Katoda sesuai analisis yang digunakan 6. Pilih Edit Metode 7.

Mengatur Lakukan hal tersebut untuk semua lampu yang akan digunakan .Control (diet) . Membuka dan mengatur tekanan pada gas 14.Pilih optimze lampu .Klik ok .Sampel  Ok 12.Klik cancel 13.Tunggu sampai pilihan keluar .Pilih unsur yang akan dioptimize . Klik atau pilih optimize pada layar komputer  Pilih unsur yang akan digunakan  Tunggu pilihan aktif muncul  Pilih optimize signal  Pilih Ins Zero  Masukan standar tertinggi 52 . Meyalakan burner dan mengatur besar kecilnya api atau gas 16.posisi lampu sampai pada posisi optimum .  Lampu Position  Lampu Current  Panjang Gelombang  Slit 10. Pilih Instrumen  Klik/pilih optimize . Pilih Standar  Mengisi standar analisis yang dilakukan  Mengatur jumlah angka di belakang koma 11. Pilih Label  Mengisi laman yang terdapat atau tersedia dengan : .Blangko . Menyalakan stop kontak gas 15.

26. Matikan komputer pada AAS 6. Klik atau pilih calibration 19. Klik atau pilih instrument 18. preparasi yang dilakukan dengan cara yaitu memipet 1 ml larutan sampel pupuk cair organik dengan ditambahkan larutan asam perkorat dan asam nitrat pekat. Klik exit pada spektra 2. Klik atau pilih unsur yang dianalisis 20. Klik atau pilih filing  Klik save  Klik close Cara mematikan alat setelah pengoprasian : 1.127 sebelum dilakukan analisis terhadap AAS maka sampel perlu dilakukanya preparasi sampel terlebih dahulu. Masukan standar terendah 21. Call Zero  Ok 23. Jika sudah selesai analisis klik Stop. Tujuan dari 53 .  Cancel 17. 27. Selesai Pada analisis sampel pupuk organik cair kode. Klik start lalu pilih start down 3. Catat nilai adsorbansi dan konsentrasi unsur yang di lakukan dan melakukan hal yang serupa dengan unsur yang lain. Analisis sampel dimulai dari :  Blangko  Control (diet)  Sampel 25. Dimana preparasi dilakukan terlebih dahulu sebelum dianalisis dengan alat instrumen. Menutup Gas 8. Matikan Blower 7. Prepare zero  Ok 22. Analisis standar 1 – 5 24. Matikan AAS 4. Matikan CPU pada komputer 5.

40 3 Cu 0. sekaligus menjadi aktivator beberapa enzim. Proses destruksi sampel selama 24 jam dilakukan untuk menghilangkan asam perkorat yang terdapat pada sampel.6 2 Mn 0. Berdasarkan dari hasil analisis kadar mineral mikro pada sampel pupuk cair didapatkan hasil : Konsentrasi NO Unsur (ppm) 1 Fe 2.4 ppm. kadar Seng (Zn) dalam sampel pupuk cair yaitu sebesar 1. dan kadar Mangan (Mn) pada sampel pupuk cair yaitu sebesar 0. karena logam Besi (Fe) berperan dalam proses pembentukan protein . Setelah penambahan larutan tersebut dilakukanya destruksi atau didigesting. Hasil Analisis Kadar Mikro Berdasarkan dari data tersebut bahwa kandungan logam Besi (Fe) dalam sampel pupuk cair sebesar 2. Cd. kebutuhan kandungan hara mineral pada tumbuhan sangatlah sedikit tidak terlalu banyak. EDTA adalah suatu komponen organik yang bersifat menstabilkan ion metal. dan Mo sehingga tidak mengganggu proses analisis.40 ppm. sebagai katalisator pembentukan klorofil.6 ppm. Setelah 24 jam dilakukan destruksi maka sampel dilarutkan kedalam 10 ml aquades dan diluter.6 ppm. Adanya EDTA maka sifat antagonis Fe pada pH tinggi berkurang jauh Namun. kadar Tembaga (Cu) dalam sampel pupuk cair yaitu sebesar 0.07 4 Zn 1. karena jika tumbuhan memiliki kandungan unsur hara mikro yang sangat tingga dapat menyebabkan mutasi genetik yang terjadi pada tumbuhan itu sendiri dan juga dapat menyebabkan keracunan logam berat sehingga menyebabkan kematian 54 . Penambahan Asam nitrat pekat adalah untuk mendegradasi pembentukan senyawa kompleks lainnya. Dengan hal tersebut kandungan logam yang paling tinggi dalam sampel adalah logam Besi (Fe) yaitu sebesar 2. Fe paling sering bertentangan atau antagonis dengan unsur mikro lain.penambahan larutan asam perkorat adalah untuk menyingkirkan unsur – unsur logam lain yang terdapat pada sampel seperti contohnya Cr.07 ppm. Besi berperan sebagai pembawa elektron pada proses fotosintetis dan respirasi . Untuk mengurangi efek itu . Unsur ini tidak mudah bergerak sehigga bila terjadi kekurangan sulit diperbaiki. maka Fe sering dibungkus dengan Kelat (chelate) seperti EDTA (Ethylene Diamine Tetra- acetic Acid).4 Tabel 1. Maka samper sudah siap untuk dilakukan analisis.

Tabel Baku Mutu Badan Kementrian Pertanian Republik Indonesia dapat dilihat dalam Tabel 2 mengenai Baku Mutu standar kandungan unsur Mikro. 55 .pada tumbuhan tersebut. Karena sifat tumbuhan berbeda beda ada yang resisten terhadap logam – logam berat ada pula yang tidak resisten terhadap logam – logam berat. Berdasarkan kandungan unsur hara mikro pada pupuk cair kode-127 sesuai analisis yang sudah dilakukan bahwa kandungan yang terdapat dalam sampel tidak melebihi kadar Baku Mutu yang ditetapkan oleh Badan Kementrian Pertanian Republik Indonesia pada tahun 2011.

kaca.5 . PARAMETER SATUAN STANDAR MUTU 1. Hara makro: . Mikroba kontaminan: .Pb 0.Fe tersedia ppm 5 .La ppm 0 .Cd maks 12.Cu ppm 250 – 5000 .Mn ppm 250 .900 . E.5 4.P 2O5 % . kerikil) 3.Co ppm 5 – 20 .25 . MPN/ml mak Salmonella sp MPN/ml s 102 mak s 102 7.K 2O % - 6 3 - 6 3–6 6.Ce ppm 0 .As ppm ppm maks 2.NO.Hg ppm ppm maks .Mo ppm 2 – 10 56 ppm 8. Unsur lain : . C – organik % min 6 2.50 .5000 .Fe total atau ppm 90 .Zn ppm 250 – 5000 -B ppm 125 – 2500 .N % 3 .5 maks 0. . Bahan ikutan : % maks 2 (plastik.coli. pH 4–9 5. Hara mikro : . Logam berat: .

Sampel pupuk cair jika dibandingkan dengan kontrol kadar unsur mineral mikro yang terkandung sangatlah jauh kadarnya yang terdapat pada sampel dibandingkan dengan kontrol. Kesimpulan Berdasarkan dari hasil analisis yang telah dilakukan terhadap uji sampel pupuk cair kode-127 dengan menggunakan instrumentasi AAS ( Atomic Adsopstion Spectroscopy) maka didapatkan kadar Unsur Hara Mikro yang terdapat pada Sampel Pupuk Cair Kode-127 adalah kandungan Besi (Fe) yaitu 2. Hal tersebut dikarenakan kontrol yang digunakan kontrol dari semua uji dimana kontrol tersebut standar kontrol dari Balai Penelitian Ternak (BPT) Ciawi Bogor yang digunakan untuk menganalisis semua uji kadar mineral pada laboratuarium Proximat.4 ppm < 250 – 2500 ppm dan sedangkan Mangan (Mn) yaitu 250 – 2500. Tembaga (Cu) yaitu sebesar 0. Terkecuali untuk Kadar Besi (Fe) dalam kontrol sangat tinggi melebihi dari standar Baku Mutu yang ditetapkan yaitu 5 – 50 ppm namun kontrol melebihi standar tersebut yaitu 92 ppm. Tembaga (Cu) adalah 64 ppm.4 ppm .Tabel 2. Kontrol yang digunakan hasil analisis hampir mendekati Standar Baku Mutu yang ditetapkan.6 ppm . 2011) Berdasarkan Standar Baku Mutu yang ditetapkan oleh Mentri Pertanian maka sampel pupuk cair tersebut kadar unsur hara mikro kurang dari Standar Baku Mutu yang ditetapkan.07 ppm < 250 – 5000 ppm . Sedangkan analisis pupuk cair yang di uji kadar mineralnya dalam bentuk cair semi padat sedangkan kontrol dalam bentuk padatan. Seng (Zn) adalah 195 ppm dan Mangan (Mn) adalah sebesar 157 ppm. BAB IV PENUTUP 1. Seng (Zn) yaitu 1. Standar Baku Mutu Unsur Hara Mikro dalam Pupuk Cair Organik (Kementrian Pertanian RI. Berdasarkan data tersebut maka kadar unsur hara 57 .6 ppm < 5 – 50 ppm .40 ppm. dan pada kandungan Mangan (Mn) yaitu sebesar 0. Kandungan Tembaga (Cu) yaitu 0. Memungkinkan kurang signifikanya antara uji sampel dengan kontrolnya. kandungan Seng (Zn) yaitu 1. Sedangkan berdasarkan sampel kontrol yang digunakan maka kadar Besi (Fe) dalam kontrol yaitu 92 ppm.07 ppm . Sehingga kadar unsur hara mikro dalam sampel tidak terlalu tinggi. Untuk kadar Besi (Fe) pada sampel pupuk cair yaitu 2.

Ilmu Peternakan Edisi Keempat. Yogyakarta. Direktorat Jenderal Peternakan. 2. Blakely. 2013.mikro yang terkadung sangat sedikit kurang dari standar Baku Mutu yang ditetapkan oleh Kementrian Pertanian pada tahun 2011. H Bade. (Diterjemahkan oleh Bambang Srigandono) Dairy Sci. Kualitas Pupuk Kompos Bedding Kuda dengan menggunakan aktivator mikroba yang berbeda. Urine Sapi Di Buang Sayang. J. 1998. New York Anonim.go.deptan. Bogor BBPTU Sapi Perah Baturraden .epetani. Diakses tanggal 16 september 2016 Affandi. 2011. IPB. 2008. 1994. Pemanfatan Urine Sapi yang Difermentasi sebagai Nutrisis Makanan. 2013. 2011. Introduction to Soil Microbiology. Baturaden. Pupuk Organik Cair.com/644038359/pemanfaatan-urinesapi-yang-difermentasi- sebagai-nutrisi-tanaman/. Saran Dalam menganalisis sampel. Dalam menganalisis lebih baik sangat berhati – hati dan selalu mencatat pengenceran yang dilakukan agar tidak salah dalam menganalisis kadar yang terdapat pada sampel tersebut Daftar Pustaka Afghanaus. P. Dan juga tidak melebihi standar kontrol yang digunakan oleh Balai penelitian Ternak (BPT) Ciawi Bogor. Sehingga signifikan terkait dengan uji yang akan dilakukan.deptan. Skripsi S1.id. Gadjah Mada University Press. untuk uji kontrol digunakan fase uji kontrol sesuai dengan sampel yang akan di analisis. D.go.xanga. Departemen Pertanian. http://affandi21.id/berita/urine-sapi-dibuangsayang-7753. M. dan D. Diakses tanggal 16 september 2016 Alexander. Petunjuk Pemeliharaan Bibit Sapi Perah. http://afghanaus. 83:1381 – 1386 58 . L. H.epetani. http://m.2009. Diakses tanggal 16 september 2016 Astari. http://m. Wiley Eastern Private Limited.com/pupuk-organikcair/.

http://www. L. 2011. Pedoman Pelaksanaan Manajemen Perbibitan Ternak Terpadu Tahun 2012.mailarchive. W. 2010. A.com/bursa-buku@ yahoogroups. dan J. 2010. Makin.S. G. Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. Graha Ilmu. 2 (11) : 61-73 Hannayuri. Hartati.http://hannayuri.Cahya. Teknik Kimia Undip: Semarang. Nurgiartiningsih. 1998. Jakarta. Jakarta. Penerbit Swadaya.com. wordpress. 2011. Jurnal Ternak Tropika. 2009. S. Direktorat Perbibitan Ternak. Kementan-BPS. Pengaruh Waktu Fermentasi dan Penambahan Aktivator BMF Biofad Terhadap Kualitas Pupuk organik. Diakses tanggal 6 Mei 2016 Hakim. Optimalisasi Fermentasi Urine Sapi dengan Aditif Tetes Tebu (Mollases) untuk Menghasilkan Pupuk Organik Cair Yang Berkualitas Tinggi. lactation curves of Holstein cows from the Balikesir Province of Turkey. Agromedia Pustaka: Jakarta. Rilis Hasil Awal Pendataan Sapi Potong. Sapi Perah: Jenis. Rekording Sapi Siregar. 2011. Universitas Brawijaya. Sapi Perah dan Kerbau (PSPK). M. Kementerian Pertanian. 2007.com /info. 2009. Yogyakarta. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.M.html. Astuti.M. Model Rekording data performans sapi potong di Indonesia. J. S. 2011. Teknik Pemeliharaan dan Analisis Usaha. Enda. B. Buku Pintar Peternakan. 1993. 2012. Diakses tanggal 6 Mei 2016 Hardjosubroto. Ciptadi dan V. Tata Cara Pembuatan Kompos Cair. Tata Laksana Peternakan Sapi Perah.. Pembuatan Pupuk Cair dari Urine Sapi. Malang. Universitas Negeri Malang: Malang Hadisuwito. 59 . 2005 Cara Cepat Membuat Kompos. Djuarnani dan Setiawan. Bogor.

C. Jurusan Ilmu Produksi Ternak. A. Surakarta. The Ruminal Animal : Digestive. Lowrey. Z. A. Prihadi.Yogyakarta Parakkasi. M. Mukhtar. D. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Nugroho. Semarang. Tekerli. A. Jakarta: Agromedia Pustaka. W. S. Sumoprastowo. 1984. Santoso. Upper Saddle River. Jakarta. M. 2003. Ilmu Produksi Ternak Perah. Jenis. Physiology and Nutrition. Pearson Education. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Monogarstrik Vol IB . UNS Press. Madson.. Setiawan. Jakarta. Penyakit Kekurangan Mineral pada Sapi. Inc. A. Edisi Kelima. Institut Pertanian Bogor.. Piliang. T. Factors affecting the shape of 60 . Akinci. Nurdin. 1996. D. Tata Laksana Pemeliharaan Sapi Perah. Rosdiana dan B. Feeds and Feeding. G. Siregar. Taknik Pemeliharaan dan Analisis Usaha. CV. A. E. N. In : Church. J..Graha Ilmu. New Jersey. Manajemen Sapi Perah. U. K. Beternak Sapi Perah Secara Intensif. Sapi Perah. 2000. A. Penerbit Eka Offset. Perry. Penebar Swadaya. Cullison and R. Ternak Perah.1999. E.. Yasaguna. I. Bogor. 2002. 1986. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.S. B. Akean. C. 1986.2011. Syarief. Dogan. Ilmu Ternak Perah. Jakarta. W. 2006. Nutrisi Mineral.Miller.. Manajemen Usaha Ternak Potong. Sudono et al. Penebar Swadaya. Z. dan C. Jakarta. dan A. F. The Trace Elements. Penebar Swadaya. Ramsey and F. Bogor. 1995. (Ed). Sudono et al. Sixth Edition. 2003. Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor. Jakarta. Prentice Hall. New Jersey. 1998. 2006.

A. Gadjah Mada University Press. 1998. 2007.id.Pupuk Cair Organik (Pco). Cetakan Ke. J. Purwanto. Pengaruh Iklim Mikro terhadap Respons Fisiologis Sapi Peranakan Fries Holland dan Modifikasi Lingkungan untuk Meningkatkan Produktivitasnya. F. S. H. E. Efek Penggunaan Pakan Komplit Plus pada Sapi terhadap Produksi dan Kualitas Susu. Underwood. The Mineral Nutrition of Livestock. Suttle.A. A. Yogyakarta. Third Edition. 2006.or. R. Universitas Airlangga. 1981. LPPM-UGM.P. CABI Publishing.2009.. 2011. S Reksohadiprojo. Utomo. Rihastuti. dan B.W. 20 (1): 25-46. Surabaya. MedPet. Hartadi. Yani. Yogyakarta. Lebdosukujo. D. Fakultas Peternakan. Formulasi Pakan Komplit Plus untuk Memproduksi Susu Sehat yang Berkualitas: 2. 1999. Commonweath Agricultural Bureaux.6. Universitas Gajah Mada. Prawirokusumo dan S. London. J. London. Zein. Ilmu Makanan Ternak Dasar. E. and N. http://www. A.. Widjiati. dan R. Budi P. R. Penanganan Gangguan Reproduksi untuk Meningkatkan Produktivitas Sapi Perah di Desa Wringin Anom Kabupaten Gresik.Tillman. The Mineral Nutrition of Livestock. Diakses tanggal 6 Mei 2016 61 .. Underwood. Second Edition.kampoengternak.

Lampiran. 62 .