PERSEPSI PERAWAT PELAKSANA TERHADAP ASPEK SPIRITUAL DALAM

ASUHAN KEPERAWATAN
DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH
BANTUL

NASKAH PUBLIKASI

Untuk Memenuhi Sebagian Syarat memperoleh Derajat
Sarjana Keperawatan Universitas Gadjah Mada

oleh :

WIDARYATI

99/129771/KU/09479

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2003

1

LEMBAR PENGESAHAN

NASKAH PUBLIKASI

PERSEPSI PERAWAT PELAKSANA TERHADAP ASPEK SPIRITUAL
DALAM ASUHAN KEPERAWATAN
DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH
BANTUL

Diajukan oleh:

Widaryati
99/ 129771/ KU/ 09479

Telah diseminarkan dan diujikan
Pada tanggal 10 Juli 2003

Penguji I Penguji II Penguji III

dr. Moetrarsi Sri K, DTM&H, Sp.KJ Ibrahim Rahmat, SKp,S.Pd.,M.Kes. Intansari Nurjannah, SKp
NIP. 130 367 344 NIP. 132 255 121 NIP. 132 238 676

Mengetahui,
Dekan
u.b. Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan
Fakultas Kedokteran
Universitas Gadjah Mada

dr. Harsono, Sp. S(K)
NIP. 140 055 199

2

scored. nurse’s perception on patient’s spiritual need were categorized good (79. Understanding spiritual aspect is an important factor for nurse to fulfill patient’s spiritual need. Data was tabulated. nurse had understand that nurse had role as spiritual nursing care giver. nursing care. spirituality. nurse had understand that patient need spiritual nursing care. Method: The research method was descriptive. * Student of Nursing Science Program of Gadjah Mada University ** Lecturer of Psychiatric Departement of Medical Faculty of Gadjah Mada University *** Lecturer or Nursing Science Program of Gadjah Mada University 3 .8%) and nurse’s perception on nurse’ role as spiritual nursing care giver were categorized good (76. spiritual nursing care. 40%-55% = less good. and spiritual creation. Ibrahim Rahmat*** ABSTRACT Back ground: Human is bIological. nurse’s perception on spiritual nursing care were categorized enough (72. 56%-75% = enough. and nurse’s role as spiritual nursing care giver. social. strength his or her spirit of live and more ready to accept his or her death. Nurse has a role to fulfill all aspect of of individual as a patient.4%).3%). Objective: The aims of this research are to know nurse’s perception on spiritual aspect of nursing care in RSUD Bantul. Sample was defined by using stratified random sampling technique with subjects were 47 nurses of RSUD Bantul.**. It also helps someone to accept illness. Moetrarsi Sri K. including spirituality. Spiritual belief is important to handle emotional changes. and nurse’s understanding of spiritual nursing care were enough. Research questionnaire had 33 questions grouped in 4 indicators: spirituality. patient’s spiritual need. and < 40% = not good. Result: The result of this research were nurse’s perception on spirituality were categorized good (78. PERSEPSI PERAWAT PELAKSANA TERHADAP ASPEK SPIRITUAL DALAM ASUHAN KEPERAWATAN DI RSUD BANTUL NURSE PERCEPTION TO SPIRITUAL ASPECT IN NURSING CARE IN RSUD BANTUL Widaryati*. Key words: Perception.6%). Conclusion: Nurse had well understand on spirituality. and then categorized with percentage : 76%-100% = good. spiritual nursing care and nurse’s role as spiritual nursing care giver. Patient who is sick experiences emotional changes which will delay his or her recovery process. patient’s spiritual need. psychological.

mereka percaya bila keyakinannya tinggi mereka akan cepat membaik atau sembuh dari sakitnya.3a Perawat merupakan orang pertama dan secara konsisten selama 24 jam menjalin kontak dengan pasien. Beberapa klien menganggap bahwa sakit adalah ujian keyakinan. sehingga dia sangat berperan dalam membantu memenuhi kebutuhan spiritual pasien. sosial dan spiritual. Pada kondisi tersebut.1a Pemenuhan kebutuhan spiritual sangat penting ketika sedang mengalami sakit fisik. LATAR BELAKANG MASALAH Manusia adalah makhluk biologi. Individu sebagai klien dipandang sebagai kesatuan utuh dari aspek biologi. Keimanan pada Tuhan. A. komponen spiritual seseorang sangat penting untuk mengatasi perubahan emosi tersebut. dan spiritual. dalam arti bahwa manusia merupakan satu kesatuan dari aspek jasmani dan ruhani serta bersifat unik karena memiliki berbagai macam kebutuhan sesuai dengan tingkat perkembangannya. dengan agama seseorang akan mampu memiliki kekuatan ketika dalam kondisi kritis dan memberi rasa aman.4a 4 . Ketika kondisi fisik terganggu ada kemungkinan mengalami perubahan emosi. Pemenuhan kebutuhan spiritual memerlukan hubungan interpersonal yang baik. diyakini akan memudahkan seseorang untuk mengatasi perubahan emosional selama sakit. psikologi.2a Kepercayaan spiritual akan membantu seseorang menerima sakit yang dialami. oleh karena itu perawat sebagai satu-satunya petugas kesehatan yang berinteraksi dengan pasien selama 24 jam maka perawat adalah orang yang paling tepat untuk memenuhi kebutuhan spiritual pasien. Kepercayaan spiritual memberi makna terhadap kehidupan dan kematian. mempersiapkan kematian dan memperkuat hidup. psikologi.

B. seorang perawat menjelaskan bahwa pemenuhan kebutuhan spiritual sebagian besar dilakukan oleh petugas rohaniawan dengan memberikan dukungan spiritual dan mengajak untuk berdo’a bersama-sama.5 Dengan latar belakang ini maka peneliti berminat untuk melakukan penelitian yang dapat menggambarkan persepsi perawat pelaksana di RSUD Bantul terhadap aspek spiritual dalam asuhan keperawatan. Kuesioner menggunakan skala Likert. Pengumpulan data dilakukan secara kuantitatif dengan menggunakan kuesioner sebagai alat ukur persepsi perawat pelaksana terhadap aspek spiritual dalam asuhan keperawatan. CARA PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian dekriptif. Pemahaman perawat tentang aspek spiritual akan menentukan apakah perawat akan memenuhi kebutuhan spiritual pasien atau tidak. Berdasarkan wawancara yang dilakukan oleh peneliti pada tanggal 12 September 2002 di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bantul. dan kriteria 5 . dengan rentang nilai antara 1 sampai 4. Peran spiritual di rumah sakit pada umumnya sering diabaikan. Individu akan berespon atau bertindak setelah memahami makna dari stimulus yang datang kepadanya. Di RSUD Bantul pemenuhan kebutuhan spiritual sebagian besar masih dilakukan oleh petugas rohaniawan. Salah seorang perawat pelaksana di bangsal yang berbeda menjelaskan bahwa petugas rohaniawan juga rutin berkunjung namun diutamakan pada pasien yang terminal dan pasien yang pre operasi untuk memberi dukungan ketenangan dalam menghadapi tindakan operasi. Padahal pemenuhan kebutuhan spiritual idealnya dilakukan oleh perawat sebagaimana dengan kebutuhan yang lain.

persepsi perawat pelaksana terhadap kebutuhan spiritual pasien. tidak setuju dan sangat tidak setuju. dihitung. persepsi perawat pelaksana terhadap perannya sebagai pemberi asuhan keperawatan spiritual. 56%-75% = cukup.Kuesioner terdiri dari 33 pertanyaan yang dikelompokkan ke dalam 4 indikator yaitu spiritualitas.jawaban sangat setuju. Gambaran karakteristik responden dipaparkan pada table 1. 1. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian yang akan dipaparkan antara lain tentang karakteristik responden. Karakteristik Responden Responden penelitian ini adalah perawat pelaksana di RSUD Bantul yang berjumlah 47 orang tersebar di seluruh bangsal di RSUD Bantul. 40%-55% = kurang baik. Data yang diperoleh ditabulasi. kebutuhan spiritual pasien. 6 . dan dikategorikan ke dalam 4 kategori yaitu 76%-100% = baik. dan persepsi perawat pelaksana terhadap asuhan keperawatan spiritual. C. dan < 40 % = tidak baik. persepsi perawat pelaksana terhadap spiritualitas. setuju. asuhan keperawatan spiritual dan peran perawat sebagai pemberi asuhan keperawatan spiritual.

Hasil ini didukung oleh penelitian Darmiastuti 7 .16 %.8 Pendidikan SPK masih mendominasi perawat yaitu 64 %.6 %.7 Sebagian besar responden berada pada rentang umur 20-29 tahun yaitu 55 %. Hasil ini sesuai dengan hasil penelitian dari penelitian Nurhayani bahwa persentase perawat paling besar berada pada rentang usia 25-30 tahun yaitu 45.23%. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Widodo dimana perawat perempuan di RSUD DR Soeradji Tirtonegoro sebesar 63.Tabel 1 : Karakteristik Responden No Indikator Frekuensi Persentase (%) 1 Jenis kelamin : Laki-laki 8 17 % Perempuan 39 83% 2 Umur : 20-29 tahun 26 55% 30-39 tahun 16 35% 40-49 tahun 3 6% di atas 50 tahun 2 4% 3 Latar belakang pendidikan : SPK 30 64% DIII Keperawatan 16 34% SI Keperawatan 1 2% 4 Masa kerja : 0-4 tahun 18 38% 5-9 tahun 8 17% 10-15 tahun 15 31% di atas 15 tahun 7 14% Sumber : Data primer Tabel 1 menunjukkan bahwa sebagian besar responden adalah perempuan yaitu 83 % dan hanya 17 % yang laki-laki.6a Hasil penelitian Ruhyana juga mendukung hasil penelitian ini yaitu persentase perawat perempuan di RSU PKU Muhammadiyah di RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta sebesar 64.6b Masa kerja responden paling banyak pada rentang waktu 0-4 tahun yaitu 38 %.4 %. Hasil yang sesuai dengan penelitian ini adalah penelitian dari Widodo di RSUD Soeradji Tirtonegoro bahwa perawat sebagian besar lulusan SPK dengan persentase sebesar 54.

4 64. yaitu 77.77 %.3 67.4%.yang menujukkan hasil bahwa masa kerja perawat di RSUD Purworejo sebagian besar adalah 1-5 tahun yaitu sebesar 77.7 keperawatan spiritual Rata-rata 77. Pemahaman paling baik terhadap asuhan keperawatan spiritual ada pada perawat dengan usia 20-29 tahun.7 80.2 72.2 72. yaitu sebesar 80. yaitu sebesar 74.0 Sumber : Data primer Tabel 2 menunjukkan bahwa persentase persepsi perawat terhadap aspek spiritual terbaik pada usia 20-29 tahun. Perawat dengan golongan umur 20-29 tahun paling memahami bahwa pasien membutuhkan pemenuhan spiritual. yang ditunjukkan dengan besar persentase 80.4 75.8 70.5 80.2%.3 68.Persepsi Perawat Pelaksana terhadap Aspek spiritual dalam Asuhan Keperawatan di RSUD Bantul Berdasarkan Umur Persepsi perawat pelaksana terhadap aspek spiritual dalam asuhan keperawatan di RSUD Bantul berdasarkan umur perawat akan dipaparkan pada tabel 2.9 68.0 spiritual pasien 3 Persepsi terhadap peran perawat 76.8 69. masuk kategori baik.2 75.4 77. Peran yang paling memahami akan perannya sebagai pemebri asuhan 8 . Golongan umur yang paling baik pemahamannya terhadap spiritualitas adalah umur 20-29 tahun.4 % masuk dalam kategori baik. Hal ini berarti perawat usia 20-29 tahun telah memahami dengan baik aspek spiritual dalam asuahan keperawatan.9 2.0 2 Persepsi terhadap kebutuhan 79.8%. Tabel 2: Persepsi Perawat Pelaksana terhadap Aspek Spiritual dalam Asuhan Keperawatan di RSUD Bantul berdasarkan Umur Perawat No Indikator Persentase 20-29 30-39 40-49 diatas 50 tahun tahun tahun tahun 1 Persepsi terhadap spiritualitas 79.3 sebagai pemberi asuhan keperawatan spiritual 4 Persepsi terhadap asuhan 74.3 65.5 75.

Artinya seseorang melakukan hal yang menyangkut pelaksanaan pekerjaannya secara lebih mantap. Hal ini berarti bahwa perawat memahami dengan baik tentang aspek spiritual dalam asuhan 9 .4%.9 78.7 % yang masuk kategori baik. Organisasi kognitif akan menentukan arti suatu obyek persepsi. sehingga persepsinya baik terhadap hal tersebut. Dalam hal ini.3 75.6 76.keperawatan psiritual adalah perawat dengan usia 20-29 tahun. yaitu sebesar 76.10a Sedangkan teori lain menyebutkan bahwa usia 30-40 tahun merupakan tahap stabilisasi terhadap pekerjaan.2 75. Secara tidak langsung dengan bertambahnya umur. pengalaman akan semakin banyak. pengalaman akan semakin banyak sehingga persepsi akan semakin tepat.0 spiritual Rata-rata 75. konsep spiritual perawat usia 30-39 sudah lebih baik. Tabel 3 : Persepsi Perawat Pelaksana terhadap Aspek Spiritual dalam Asuhan Keperawatan di RSUD Bantul berdasarkan Latar Belakang Pendidikan No Indikator Persentase SPK DIII Keperawatan 1 Persepsi terhadap spiritualitas 79. semakin meningkatnya umur. 3. Persepsi Perawat Pelaksana terhadap Aspek Spiritual di RSUD Bantul berdasarkan Latar Belakang Pendidikan Persepsi perawat pelaksana terhadap aspek spiritual di RSUD Bantul berdasarkan latar belakang pendidikan disampaikan pada tabel 3. Pengalaman yang telah berlalu akan membentuk suatu organisasi kognitif yang relatif stabil dalam diri seseorang. Jadi.5 3 Persepsi terhadap peran perawat sebagai 75.2 pemberi asuhan keperawatan spiritual 4 Persepsi terhadap asuhan keperawatan 72.3 2 Persepsi terhadap kebutuhan spiritual pasien 75.7 Sumber : Data primer Tabel 3 menunjukkan bahwa persepsi perawat terhadap aspek spiritual paling baik pada perawat lulusan DIII Keperawatan yaitu 76.0 78.

6 70. Responden ini tidak diikutsertakan dalam hasil penelitian karena hasilnya tidak dapat digenerasasikan.4 78. pada Perawat dengan masa kerja 5-9 tahun pemahamannya paling baik terhadap spiritualitas.3 63.8 78.keperawatan.3 2 Persepsi terhadap kebutuhan spiritual 79. Perawat lulusan SPK memahami aspek spiritual dengan baik.4 82. sehingga mempersepsikan aspek spiritual secara baik.1 72.10b Tingkat pendidikan mempengaruhi jangkauan pemikiran dan wawasan seseorang.5 74.1 pasien 3 Persepsi terhadap peran perawat sebagai 71. Semakin banyak dan jelas informasi yang diperoleh.9 68. ditunjukkan dengan persentase 75.9 pemberi asuhan keperawatan spiritual 4 Persepsi terhadap asuhan keperawatan 74 69. Persepsi dan sikap seseorang terhadap sesuatu sangat dipengaruhi oleh informasi yang berkaitan dengan hal tersebut. 4. Tabel 4: Persepsi Perawat Pelaksana terhadap Aspek Spiritual dalam Asuhan Keperawatan di RSUD Bantul berdasarkan Lama Kerja No Kategori Persentase 0-4 5-9 10-15 Di atas 15 tahun tahun tahun tahun 1 Persepsi terhadap spiritualitas 78. yaitu 78.6%. Pada penelitian ini hanya ada satu orang responden dengan latar belakang pendidikan SI Keperawatan. semakin baik persepsinya.6 82. Persepsi Perawat Pelaksana terhadap Aspek Spiritual dalam Asuhan Keperawatan di RSUD Bantul berdasarkan Lama Kerja Persepsi Perawat pelaksana terhadap aspek spiritual dalam asuhan keperawatan di RSUD Bantul berdasarkan lama kerja akan dipaparkan pada tabel 4.0 79.9 75. Perawat lulusan DIII Keperawatan cukup banyak mendapat informasi dan pengetahuan tentang persepsi.9 69.5 78.9 spiritual Rata-rata 75.2 75. kebutuhan spiritual 10 .2 % masuk kategori baik.8 Tabel 4 menunjukkan bahwa persepsi terbaik berada pada perawat dengan masa masa kerja 5-9 tahun.

dan 8. a. Asuhan keperawatn spiritual paling dipahami oleh perawat dengan masa kerja 0-4 tahun. 6. pengetahuan seseorang tentang dunia sekeliling akan menyebabkan lebih spesifik dalam penyelidikannya. Persepsi perawat pelaksana terhadap spiritualitas di RSUD Bantul Persepsi perawat pelaksana terhadap spiritualitas di RSUD Bantul akan dipaparkan pada tabel 5. 5. kebutuhan spiritual pasien. Persepsi Perawat Pelaksana terhadap Aspek Spiritual dalam Asuhan Keperawatan di RSUD Bantul Persepsi perawat pelaksana terhadap aspek spiritual dalam asuhan keperawatan di RSUD Bantul terhadap spiritualitas. asuhan keperawatan spiritual dan peran perawat sebagai pemberi asuhan keperawatan spiritual dipaparkan pada tabel 5.10c Masa kerja 5-9 tahun merupakan waktu yang cukup untuk mengenali dan memahami peran dan tugas perawat. Lama kerja masa seseorang akan memberikan peluang untuk melakuakn pengenalan terhadap dunia kerja dan lingkungan. 7. dan peran perawat sebagai pemberi asuhan keperawatan spiritual. sehingga persepsi akan menjadi lebih tepat.pasien. dimana salah satunya adalah peran sebagai pemberi asuhan keperawatan spiritual sehingga perawat mempersepsikan secara baik terhadap aspek spiritual. Dengan peningkatan pengenalan tersebut persepsi terhadap dunia kerja dan lingkungan akan semakin tepat. Sejalan dengan pendapat ini adalah pendapat. 11 .

Rata-rata 78. penyakit fisik. penerimaan ini yang akan mendukung kesembuhan seseorang. 4 lain dan lingkungan bukan merupakan dimensi spiritual.5 akan mampu beribadah lebih tenang. atau kematian.4% yang masuk kategori cukup. 3 Kondisi spiritual seseorang berusaha 14 32 1 . Kaitan kesehatan dan kondisi spiritual. sesama manusia dan lingkungannya.3b 12 . Spiritual merupakan konsep dua dimensi yaitu dimensi vertikal yang mencakup hubungan manusia dengan Tuhan dan dimensi horisontal mencakup hubungan manusia dengan dirinya. perawat sudah memahami dengan baik yang ditunjukkan dengan besar persentase 81. Spiritual penting sebagai sumber kekuatan ketika menghadapi stres emosional. Spiritual lebih penting ketika dalam keadaan sakit dari pada kondisi yang lain. 81.9% dan 83. 4 Dalam kondisi fisik yang sehat seseorang 20 23 4 . yang ditunjukkan dengan rata-rata sebesar 78.3 Sumber : Data primer Tabel 5 menunjukkan perawat pelaksana memahami spiritualitas dengan baik.Tabel 5: Persepsi Perawat Pelaksana terhadap Spiritualitas di RSUD Bantul No Pernyataan SS S TS STS Persentase 1 Spiritual hanya mencakup ibadah 1 10 29 8 74.5%. Hal ini menunjukkan bahwa perawat masih memahami bahwa yang menonjol dari aspek spiritual itu dimensi Ketuhanan sedangkan dimensi horisontal belum dipahami dengan baik sebagai bagian dari dimensi spiritual.3 %. yang ditunjukkan dengan persentase sebesar 74.9 mempertahankan keselarasan dengan dunia luar dan memberi kekuatan ketika mengahadapi stres fisik maupun psikis. hal ini karena spiritual dapat membantu seseorang menerima kondisi sakit secara lapang. 83.0 manusia kepada Tuhan 2 Berhubungan dengan diri sendiri orang 1 5 35 6 74. Perawat cukup memahami konsep dimensi spiritual yang mencakup dua dimensi yaitu dimensi vertikal (Ketuhanan) dan horisontal (hubungan antar manusia).

0 merupakan kebutuhan spiritual. Perawat juga memahami bahwa pasien cukup membutuhkan untuk mencintai dan dicintai dengan sesama manusia.0 keperawatan merupakan bagian dari pemenuhan kebutuhan spiritual pasien.8 %. 3 Kebutuhan mencari arti dan tujuan hidup 10 35 2 .0 dalam lingkungan yang religius. 7 Menghargai pasien dalam setiap tindakan 15 29 3 . 2 Dukungan spiritual dalam setiap tindakan 30 17 . 90. Jadi kebutuhan 13 .4 %. 4 Kebutuhan untuk mencintai dan dicintai 1 8 32 6 72.8 %. ditunjukkan dengan besar persentase 72. 78.8 mendapatkan maaf dari orang lain bukan merupakan kebutuhan spiritual. Rata-rata 79.9 keperawatan akan memberi kekuatan besar untuk mencapai kesembuhan pasien. yang ditunjukkan dengan rata-rata persentase 79.b. 5 Kebutuhan untuk memberikan dan . . .4 Sumber: Data primer Tabel 6 menunjukkan bahwa perawat pelaksana memahami bahwa pasien membutuhkan pemenuhan spiritual.0 melaksanakan ibadah agamanya selama sakit. 81. Perawat cukup memahami bahwa pasien cukup membutuhkan untuk mendapat dan memberi maaf dengan sesama manusia. Persepsi perawat pelaksana terhadap kebutuhan spiritual pasien di RSUD Bantul Gambaran persepsi perawat pelaksana terhadap kebutuhan spiritual pasien akan dipaparkan pada tabel 6. 6 Secara alamiah manusia ingin berada 13 27 7 .0 perawat ketika perawat akan melakukan tindakan keperawatan. 9 35 3 71.8 bukan merupakan kebutuhan spiritual. 79. 8 Pasien ingin diajak berdoa bersama 12 35 . 81. Tabel 6: Persepsi Perawat Pelaksana terhadap Kebutuhan Spiritual Pasien di RSUD Bantul No Pernyataan SS S TS STS Persentase 1 Pasien membutuhkan bimbingan dalam 15 30 1 1 81. ditunjukkan dengan besar persentase 71.

11b 14 . Hal ini sesuai dengan pendapat seorang ahli bahwa setiap orang ingin dihargai. 11a Perawat memahami bahwa pasien membutuhkan untuk bertemu dengan lingkungannya yang mempunyai hubungan keagamaan. Jadi. Hal ini karena komunitas keagamaan diperlukan oleh seseorang. kebutuhan untuk mencintai dan dicintai dan kebutuhan untuk memberi dan mendapatkan maaf.0%. serta kebutuhan untuk mendapatkan maaf serta kebutuhan untuk mencintai dan dicintai. perawat masih memandang bahwa kebutuhan spiritual pasien yang paling utama adalah hubungan manusia dengan Tuhan atau mencakup masalah ibadah ritual. dengan persentase sebesar 81. Perawat berpandangan bahwa pasien membutuhkan bimbingan dalam melaksanakan ibadah agamanya selama sakit.0%. hal ini ditunjukkan dengan persentase sebesar 81.0 %. dengan sering berkumpul dengan orang yang beriman akan mampu meningkatkan dan memelihara iman orang tersebut. Kebutuhan spiritual juga mencakup kebutuhan mencari arti dan tujuan hidup. Menurut kebutuhan spiritual merupakan kebutuhan untuk mempertahankan atau mengembalikan keyakinan dan memenuhi kewajiban.yang berkaitan dengan hubungan antar manusia masih dipahami perawat cukup dibutuhkan oleh pasien.3c Perawat sebagian besar juga setuju bila pasien butuh untuk dihargai dalam setiap tindakan keperawatan. Perawat juga setuju apabila setiap akan melakukan tindakan pasien diajak berdoa bersama perawat. yang ditunjukkan dengan besar persentase 81. diterima dan diakui oleh orang lain.

sehingga perawat mengabaikannya. perawat . 11 Pasien tidak pernah mengeluh 1 11 35 7 75. 7 Saya sendiri merasa tidak nyaman .7 penting bagi kesehatan dan kesembuhan pasien sehingga bisa dikesampingkan.2 dengan spiritualitas saya sehingga saya juga merasa tidak nyaman dalam memenuhi kebutuhan spiritual pasien.4 memerlukan hubungan interpersonal yang baik. sehingga saya tidak biasa melakukan asuhan keperawatan spiritual pada pasien.5 yang tidak kelihatan sehingga sering terlupakan. Gambaran persepsi perawat pelaksana di RSUD Bantul terhadap peran perawat sebagai pemberi asuhan keperawatan spiritual akan dipaparkan pada tabel 7.0 tepat untuk memenuhi kebutuhan spiritual pasien karena paling banyak berinteraksi dengan pasien.c.0 melelahkan sehingga aspek spiritual sering dikesampingkan. Rata-rata 76.6 Sumber: Data primer 15 . Tabel 7: Persepsi Perawat Pelaksana terhadap Peran Perawat sebagai Pemberi Asuhan Keperawatan Spiritual di RSUD Bantul No Pernyataan SS S TS STS Prosentase 1 Perawat adalah orang yang paling 1 30 6 1 76. 6 Aspek spiritual merupakan aspek 2 14 27 4 67. 10 Pemenuhan kebutuhan spiritual 1 4 33 9 76.5 sudah dilakukan oleh keluarga.4 umumnya diberikan hanya untuk 8 pasien dengan kondisi terminal. 9 Ketika di sekolah/kuliah. 5 Aspek spiritual tidak terlalu . 8 Tugas perawat banyak dan 1 7 29 10 75. 2 Pemenuhan kebutuhan spiritual 17 30 . Persepsi perawat pelaksana terhadap perannya sebagai pemberi asuhan keperawatan spiritual. 82.5 tentang kebutuhan spiritual kepada perawat. namun tanggung jawab petugas rohaniawan. .3 tidak mendapat pendidikan tentang spritualitas.5 pasien bukan merupakan tanggung jawab perawat. 1 23 23 86. 3 Pemenuhan spiritual pada 1 2 26 1 82. 4 Pemenuhan spiritual biasanya 3 29 11 4 58. 6 30 11 79. 3 29 15 81.

Beban pekerjaan perawat yang masih terlalu banyak mengakibatkan pekerjaan yang sifatnya perawatan akan terlewatkan karena sudah kecapekan dalam bekerja.4b Walaupun perawat telah memahami tanggung jawabnya.1b Perawat merupakan orang pertama dan secara konsisten selama 24 jam berinteraksi dengan pasien. Tabel 7 menunjukkan bahwa perawat pelaksana memahami dengan baik bahwa perawat berperan sebagai pemberi asuhan keperawatan spiritual. ditunjukkan dengan persentase sebesar 75. ditunjukkan dengan rata-rata persentase sebesar 82. dengan rata-rata presentase 76.1c Perawat mengangap bahwa aspek 16 . Perawat pelaksana mempunyai peran untuk memberikan asuhan keperawatan pada pasien secara holistik.0 %. meliputi aspek biologi. psikologi. Perawat telah memahami dengan baik bahwa dirinya adalah orang yang paling tepat untuk memenuhi kebutuhan spiritual pasien. Pemenuhan kebutuhan spiritual diberikan pada semua kondisi pasien tidak hanya pada kondisi terminal telah dipahamai dengan baik oleh perawat.6%. sehingga perawat adalah orang yang paling tepat untuk memenuhi kebutuhan spiritual pasien. sosial dan spiritual. Agar bisa memberikan intervensi perawat harus melakukan pengkajian yang salah satunya adalah pengkajian data subyektif berupa keluhan atau perkataan dari pasien atau keluarga. yang ditunjukkan persentase sebesar 75. yang ditunjukkan dengan besar persentase 76.12a Perawat beranggapan bahwa meskipun pasien tidak pernah mengeluh tentang kebutuhan spiritual kepada perawat.4 %.5 % Perawat juga memahami dengan baik bahwa pemenuhan kebutuhan spiritual merupakan tanggung jawabnya sebagai seorang perawat. perawat masih cukup perawat mengesampingkan aspek spiritual karena tugas perawat yang banyak dan melelahkan perawat.5 %. seharusnya perawat tidak mengabaikan peran ini.

Perawat memahami dengan baik bahwa kematangan spiritual perawat diperlukan dalam memenuhi kebutuhan spiritual pasien. Kondisi spiritual akan membantu seseorang menerima sakit yang dialami. Pemenuhan spiritual memerlukan hubungan interpersonal yang baik dengan pasien. yang ditunjukkan dengan besar persentase 86. Dalam melakukan praktek keperawatan. Oleh karena itu. perawat bekerja sama dengan tim kesehatan lain serta memanfaatkan sumber daya yang ada pada pasien dalam proses pemberian layanan keperawatan.3d Kondisi spiritual penting ketika sakit untuk mengatasi perubahan 2b emosi yang terjadi.4 %.4c Pasien masih menganggap bahwa aspek spiritual itu bersifat pribadi sehingga tidak semua orang boleh mengetahuinya. Perawat memahami dengan baik jika pemenuhan kebutuhan spiritual memerlukan hubungan interpersonal yang baik. Pemahaman ini merupakan modal yang baik bagi perawat untuk melaksanakan peran perawat ini. Soeradji Tirtonegoro dalam kategori cukup baik. agar pasien mau membuka diri mengenai masalah spiritualnya maka harus dibina hubungan interpersonal yang baik antara perawat dan pasien. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Widihartono bahwa penerapan konsep spiritual di IRNA A RSUD Dr. Keluarga merupakan salah satu sumber kekuatan dalam upaya penanganan masalah keperawatan. karena dukungan dari perawat yang 17 . Hal ini ditunjukkan dengan besar persentase 82.7%. Sebagian besar responden menyatakan setuju jika sebaiknya pemenuhan kebutuhan spiritual dilakukan oleh keluarga. 13a Perawat memahami dengan baik bahwa kondisi spiritual pasien penting untuk kesembuhan pasien.spiritual merupakan aspek yang tidak tampak secara jelas sehingga perawat mungkin melupakannya. mempersiapkan kematian dan memperkuat hidup.

9 memberikan intervensi keperawatan spiritual. antara satu pasien berbeda dengan pasien lain. 3 Perawat mengkaji perilaku. 7 Perawat biasanya spontan dalam 3 30 12 2 56.0 Ketuhanan dan praktek ibadah agama pada pasien yang baru masuk. Rata-rata 72.14a d. Tabel 8: Persepsi Perawat Pelaksana terhadap Asuhan Keperawatan Spiritual di RSUD Bantul No Pernyataan SS S TS STS Persentase 1 Perawat mengidentifikasi tentang konsep 9 30 7 1 75.8 Sumber: Data primer 18 . Persepsi perawat pelaksana terhadap asuhan keperawatan spiritual di RSUD Bantul Persepsi perawat pelaksana terhadap asuhan keperawatan spiritual dipaparkan pada tabel 8.7 perawat perlu mempersiapkan kondisi spiritualnya. perawat akan lebih peka dalam memenuhi kebutuhan spiritual pasien. 2 Perawat mengkaji pemahaman pasien 11 36 . tanpa perencanaan terlebih dahulu 8 Sebelum melaksanakan implementasi 10 36 1 .cukup baik serta perawat sendiri kebanyakan juga beribadah secara baik.9 keperawatan yang berkaitan dengan masalah spiritual. 75.0 untuk menilai perkembangan kesehatan pasien. 79. dll) 4 Distres spiritual merupakan diagnosa 4 39 3 . 9 Evaluasi tidak dilakukan karena respon 1 12 32 2 68. . 5 Diagnosa keperawatan spiritual jarang 3 28 13 3 58. baju yang dipakai. 79.5 dimunculkan ketika membuat asuhan keperawatan 6 Dalam membuat perencanaan spiritual 12 30 12 2 81.8 tentang hubungan antara spiritualitas dan kesehatan. 1 80.6 pasien dalam aspek spiritual sulit dilihat 10 Evaluasi aspek spiritual penting pula 8 39 .0 penampilan pasien yang berhubungan dengan spiritualitas (misal: kebiasaan berdoa.12b Keyakinan perawat terhadap agama yang dianutnya sudah cukup kuat. sikap dan 6 35 6 .3 bersifat individual. 73.

perilaku. praktek ibadah. atau mungkin karena tidak ada tema yang melakukan pekerjaan ini. Perawat seharusnya melakukan pengkajian data subyektif dengan aspek yang perlu dikaji adalah konsep Ketuhanan. Perawat menganggap pengkajian tentang konsep Ketuhanan dan praktek ibadah agama pasien cukup diperlukan. dengan persentase sebesar 75.0%. Asuhan keperawatan meliputi 5 tahap kerja yaitu pengkajian.8%. sikap dan penampilan pasien yang berkaitan dengan spiritual juga cukup diperlukan oleh perawat.8%. dan penampilan pasien. diagnosa. misal baju yang dipakai. Hasil penelitian Susanto menyebutkan bahwa faktor yang 19 . perencanaan. dengan rata-rata persentasenya adalah 72. buku yang dibaca. mungkin juga karena perawat sudah sibuk dengan pekerjaan rutinnya. Tabel 8 menunjukkan bahwa perawat pelaksana cukup memahami asuhan keperawatan spiritual. Sebesar 53% responden menyatakan setuju bila diagnosa keperawatan yang berkaitan dengan aspek spiritual itu jarang dimunculkan. Perawat mengangap perlu melakukan pengkajian mengenai hubungan antara spiritual dan kesehatan..9%. ditunjukkan dengan persentase sebesar 73. dengan persentase sebesar 75. ditunjukkan dengan persentase sebesar 80.0%. Sedangkan pengkajian data obyektif dilakukan dengan mengkaji sikap. dan hubungan antara agama dan kesehatan. Hal ini mungkin terjadi karena perawat masih belum memahami secara baik bahwa masalah spiritual juga merupakan masalah keperawatan. implementasi dan evaluasi. kebiasaan berdoa. Hal ini karena perawat mungkin masih menganggap bahwa masalah spiritual itu tidak perlu diangkat sebagai masalah keperawatan. Pengkajian tentang perilaku.3c Perawat cukup memahami bahwa diagnosa keperawatan adalah diagnosa yang berkaitan dengan spiritual. dan lain-lain.

Apabila perawat sendiri sudah merasa nyaman dengan kondisi spiritualnya. Penelitian Widihartono tentang analisa Penerapan Konsep Bio-Psiko-sosial dan spiritual di RSUD Dr. Manusia adalah makhluk yang unik apalagi untuk masalah spiritual. tidak direncanakan oleh perawat.15a Sejalan pula dengan hasil penelitian Susanto perawat tidak menyusun perencanaan. tidak ada teman dan tidak ada waktu karena mengurusi pekerjaan lain yang dianggap lebih penting. namun merupakan kegiatan yang sudah melekat pada diri perawat. ini ditunjukkan dengan persentase sebesar 81. Hasil penelitian Sumantri memperkuat hasil penelitian ini bahwa kegiatan yang berkaitan dengan pemenuhan spiritual spiritual. Hal ini sesuai dengan teori bahwa memeriksa dan mempersiapkan keyakinan spiritual pribadi 14b perawat merupakan prinsip pertama yang harus dilakukan. Namun sebagian besar perawat setuju bila dalam melakukan intervensi dilakukan secara spontan.16b Perawat memahami dengan baik bahwa sebelum melakukan intervensi keperawatan spiritual perawat harus mempersiapkan kondisi spiritualnya sendiri.3%. maka perawat akan lebih percaya diri ketika memenuhi kebutuhan spiritual pasien. masing-masing individu memiliki keunikan tersendiri.16a Perawat memahami dengan baik bahwa perencanaan keperawatan spiritual bersifat individual. perawat melayani pasien ketika ada masalah pasien.12c Apabila keyakinan dari perawat terhadap agama 20 . antara paisen yang satu berbeda dengan pasien yang lain.menghambat penyusunan diagnosa keperawatan karena tidak ada reward. karena dukungan dari perawat yang cukup baik serta perawat sendiri juga beribadah menurut agamanya masing-masing secara baik. Soeradji Tirtonegoro hasilnya menunjukkan bahwa penerapan konsep spiritual sudah cukup baik.

perawat pelaksanamemahami bahwa pasien membutuhkan pemenuhan spiritual.14c Perawat mengangap cukup perlu melakukan evaluasi keperawatan spiritual. Sebuah teori menyatakan bahwa nilai keyakinan agama tidak dapat dengan mudah dievaluasi. 21 . karena respon pasien dalam aspek spiritual sulit dilihat.14d Hasil penelitian Susanto menguatkan hasil penelitian ini yaitu perawat tidak melakukan evaluasi dengan alasan tidak tahu cara mengevaluasi dan tidak ada waktu karena banyak pekerjaan.0%. KESIMPULAN DAN SARAN 1. Evaluasi diperlukan untuk mengetahui apakah klien telah mencapai kriteria hasil yang ditentukan pada fase perencanaan yaitu dengan mengumpulkan data terkait yang berupa respon klien.14e D.16c Namun perawat telah memahami dengan baik bahwa evaluasi aspek spiritual itu penting pula untuk mendukung kesembuhan pasien. ditunjukkan dengan persentase sebesar 68.yang dianutnya sudah cukup kuat.0%. perawat pelaksana memahami bahwa perawat berperan sebagai pemberi asuhan keperawatan spiritual dan perawat pelaksna cukup memahami asuhan keperawatan spiritual. maka perawat akan lebih peka dalam memenuhi kebutuhan spiritual pasien. yang ditunjukkan dengan persentase sebesar 79. Kesimpulan Kesimpulan yang bisa diambil dari hasil penelitian ini adalah perawat pelaksana memahami dengan baik terhadap spiritualitas.

2. perlu adanya penelitian lebih lanjut mengenai pelaksanaan asuhan keperawatan di RSUD Bantul. Saran Saran untuk RSUD Bantul. Bagi pengembangan ilmu pengetahuan keperawatan. 22 . perlu adanya penyegaran secara berkala mengenai materi tentang aspek spiritual dalam keperawatan agar perawat secara berkesinambungan bias memenuhi kebutuhan spiritual pasien.

. Annette G. Jakarta. Pengantar Psikologi. 1999. Margaret M. Transcultural Concepts in Nursing Care. and Boyle. Penerimaan Klien terhadap Perawat Laki-laki dan Perempuan di RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Andrew. Mayuset. 1999. 2000. Gerontologic Nursing. and Practice. Karya Tulis Ilmiah. 1996. Tidak diterbitkan. Glenora. Fundamental of Nursing: Concepts. Tidak diterbitkan. Joyceen S. 2000. EGC. Walgito. Karya Tulis Ilmiah.1995. Widodo. dan Usia dalam Kaitan dengan Persepsi Guru SD terhadap Jabatannya. Jakarta. 6. Achir Yani S. Jakarta. Widya Medika. Waringah. Penerbit Andi. 2002.. Widihartono. Kozier. 8. Ruhyana. Peran Serta Keluarga dalam membantu Pelaksanaan Asuhan Keprawatan pada Anak di IRNA II RSUP Dr. Edy. Slamet. Soeradji Tirtonegoro Klaten. 12. 5. Kathleen. 2002. Pengantar Keperawaan Profesional. Karya Tulis Ilmiah. 7. Soeradji Tirtonegoro. Karya Tulis Ilmiah. Barbara. Gaffar. Philadelpia. PT Dana Bhakti Prima Yasa. Analisa Penerapan Konsep Bio-Psiko sosial dan Spiritual pada Asuhan Keperawatan di IRNA A RSUD Dr. Tidak diterbitkan. Al Qur’an : Ilmu Kedoteran Jiwa & Kesehatan Jiwa. 4. 13. Erb. Nurhayani. Ekaningtyas. edisi revisi. 14. Analisa Faktor-faktor Motivasi kerja yang Mempengaruhi Kinerja Perawat di RSUD Bantul. Hamid. 11. Mosby Year Book. Sukmana. 1995. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Motivesi Perawat terhadap Pelaksanaan Pendokumentasian Proses Keperawatan di IRNA A RSUD Dr. Tidak diterbitkan. 2. Karya Tulis Ilmiah. 23 . Addison Wesley Nursing. Bimo. Sardjito Yogyakarta. La Ode Jumadi.. Hubungan antara Tingkat Pendidikan Perawat tentang Proses Keperawatan dengan Pendokumentasian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat Inap RSUD Purworejo. 3. Tidak diterbitkan. Siti. Yogyakarta. Hawari. Siti. 1994. 2002. Process. Dadang. Karya Tulis Ilmiah. Lippincott. fifth edition. DAFTAR PUSTAKA 1. Studi Megenai Latar Belakang Pendidikan. Darmiastuti. Lama Masa Kerja. 2002. Lueckenotte. Tidak diterbitkan. Karya Tulis Ilmiah. 10. 9. 2002. & Blais. 2002. Tidak diterbitkan. Buku Ajar Aspek Spiritual dalam Keperawatan.

Karya Tulis Ilmiah.15. 16. 2002. Rachmat. Tidak diterbitkan. Karya Tulis Ilmiah. Penerapan Konsep Biologi-Psikologi-Sosial-Spiritual dalam Asuhan Keperawatan Anak di Ruang IRNA II Rumah Sakit Dr. Sardjito. 1999. Penerapan Standar Proses Keperawatan di Puskesmas dengan Rawat Inap di Kabupaten Cilacap. Tidak diterbitkan. Sumantri. 24 . Susanto.