BAB 1

LAPORAN KASUS

3.1 Status Pasien

Nama : Marudut Sihombing

Jenis Kelamin : Laki-laki

Umur : 42 tahun

No.RM : 046194

Tgl masuk : 27 Maret 2017

Pekerjaan : PNS

3.2 Anamnesa

Keluhan Utama : Sesak nafas

Telaah : OS mengalami sesak nafas sejak 2 minggu yang lalu.
Sesak dirasakan semakin memberat dalam beberapa hari
sebelum os datang ke Poliklinik Paru. Os juga
mengeluhkan sesak bertambah berat saat Os tiduran. Sesak
nafas dirasakan seperti menekan dada dan tidak
berhubungan dengan aktivitas. Demam (+) selama 1
minggu, batuk berdahak (+) sejak 3 hari yang lalu, dahak
brwarna hijau, mual (+), muntah (+), kaki terasa lemas.
Keringat malam (+), nafsu makan menurun. Berat badan
menurun (-).

Riwayat Penyakit Dahulu

a. Tidak ada

Page
1

Riwayat Penyakit Keluarga

a. Tidak ada

Riwayat Kebiasaan

a. Riwayat merokok (+)

3.3 Pemeriksaan Fisik

KU : Baik

Kesadaran : Compos Mentis

GCS : E4 ; V5 ; M6

TD : 120/80 mmHg

RR : 26 x/menit

Nadi : 80 x/menit

Temperatur : 38,20C

Tinggi badan : 160 cm

Berat badan : 60 kg

Status Generalis

1. Kepala
Simetris, Normocephali, rambut hitam dan distribusi merata, tidak terdapat
jejas maupun hematom.

2. Kelenjar
Kelenjar getah bening di submandibula, leher, aksila, inguinal tidak teraba.

3. Mata

Page
2

Bentuk normal,simetris, konjungtiva anemis (-/-),Sklera ikterik(-/-) Pupil
bulat isokor, Refleks Cahaya (+/+),Strabismus (-/-),edema palpebra (-)
pergerakan mata ke segala arah baik.

4. Hidung
Bentuk normal, tidak ada deformitas, septum nasi simetris, discharge(-/-),
mukosa lembab, pernafasan cuping hidung (-),tidak ada massa.

5. Telinga
Bentuk telinga simetris, tidak ada massa, tidak ada benda asing, tidak ada
sekret, pendengaran baik, tophi (-), nyeri tekan processus mastoideus (-).

6. Mulut
Mulut bersih, mukosa mulut lembab, bibir sianosis(-), luka(-), Sariawan (-),
pembesaran tonsil (-), gusi berdarah (-), lidah pucat (-), lidah kotor (-), atrofi
papil (-), stomatitis (-), rhagaden (-), bau pernapasan khas (-).

7. Leher
Inspeksi : Jejas (-), Oedem (-)
Palpasi : Deviasi trakhea (-), Nyeri tekan(-), TVJ dalam batas normal.
Pembesaran kelenjar getah bening (-), pembesaran kelenjar thyroid (-),
kaku kuduk (-)

8. Thorax
Inspeksi : Bentuk dada simetris kiri dan kanan, pergerakan tidak ada
ketinggalan pernafasan.
Palpasi : Nyeri tekan tidak ditemukan, stem fremitus kiri < kanan, kesan
strem fremitus kiri melemah
Perkusi : Sonor memendek dilapangan paru bagian atas, suara bedah
dilapangan paru kiri atas, batas paru-hati dalam batas normal.
Auskultasi : suara pernafasan vesikuler melemah sampai menghilang pada
lapangan paru kiri, suara tambahan ronki, suara jantung normal.
9. Jantung
a. Inspeksi
Iktus kordis : terlihat

Page
3

b. Palpasi
Iktus : iktus cardis teraba
c. Perkusi
Batas atas Jantung : dalam batas normal (Line parasternalis dekstra dan
sinistra ICS II)
Batas kiri Jantung : dalam batas normal (Linea midklavicularis sinistra
ICS V)
Batas kanan Jantung : dalam batas normal (Linea parasternalis dekstra
ICS IV)

10. Abdomen
a. Inspeksi : Abdomen simetris
b. Palpasi : Supel
c. Perkusi : Timpani
d. Auskultasi : Peristaltik (+)

3.4 Pemeriksaan Penunjang

a) Pemeriksaan Laboratorium pada tanggal 27 Maret 2017

HASIL PEMERIKSAAN LABORATORIUM

LIVER FUNCTION
No. Pemeriksaan Hasil Satuan Normal Metode
1 SGOT 15 U/L 0 - 37 -
2 SGPT 28 U/L 12 - 65 .
3 Albumin 1.5 g/dL 3-5 -

RENAL FUNCTION
No
Pemeriksaan Hasil Satuan Normal Metode
.
1 Ureum darah 57 mg/dl 10 - 38 -
2 Kreatinin 1.27 mg/dL 1.55 - -
1.30

Page
4

0 - 8 MCH 27.000 - 11. Pemeriksaan Hasil Satuan Normal Metode 1 Hemoglobin 10.1 % 0-1 .4 % 2-8 .6. b.45.0 . Pemeriksaan Foto Thoraks pada tanggal 27 Maret 2017 Page 5 . DIABETIC No Pemeriksaan Hasil Satuan Normal Metode .5 .95.50 - 7 MCV 87.6 pg 27.000 3 Laju Endap Darah 48 mm/jam 0 .70 . - 450000 5 Hematocrit 23.7 % 20-40 . 9 Hitung Jenis Lekosit.20 . 4 Trombosit 163000 /mm3 150000 .3 fL 75. Limfosit 3.5 .50 .Pemeriksaan laboratorium pada tanggal 27 Maret 2017 HASIL PEMERIKSAAN LABORATORIUM HEMATOLOGI No.31.15.0 - 6 Eritrosit 2. Eosinofil 2.65 10^6/mm3 4.3 mg/dl 13.9 % 1-3 .3 % 50 .5 2 Leukosit 19950 /mm3 5.2 % 30. Basofil 0. b. Neutrofil 86. Monosit 6.0 . 1 Glukosa ad random 182 mg/dl < 200 .0 .

Posisi scapula kiri dan kanan kedalam d. Sudut costofrenikus kiri lancip Kesan: Infiltrat dilapangan paru kanan Efusi pleura dilapangan paru kanan bawah Page 6 . trakea terdorong ke arah kiri c. Sudut costofrenikus kanan tumpul e.Foto Thoraks : a. Posisi klavikula kiri dan kanan tidak simetris b.

6 Diagnosa Sementara Efusi pleura ec Tuberculosis 3. Efusi pleura ec Pneumonia 3. Efusi pleura ec Tuberkulosis 2.5 Diagnosa Banding 1.3.7 Penatalaksanaan a) Bed Rest b) O2 : 4L c) RL : 20ggt/i d) Inj Levofloxcacin / 12 jam e) Inj Dexamethason / 8 jam f) Codein 3x20mg g) Cetrizin 1x1 Page 7 . Efusi pleura ec PPOK 3.

Efusi pleura adalah adanya penumpukan cairan dalam rongga (kavum) pleura yang melebihi batas normal. Rongga pleura Page 8 . Efusi pleura adalah penimbunan cairan pada rongga pleura atau merupakan suatu keadaan terdapatnya cairan pleura dalam jumlah yang berlebihan di dalam rongga pleura. BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 DEFINISI EFUSI PLEURA Efusi pleura adalah akumulasi abnormal dari cairan pada rongga pleura yang disebabkan oleh banyak penyebab yang dapat terbagi atas cairan eksudat dan transudat.1 Anatomi Paru dan Pleura Pleura adalah membrane serosa yang dimana pleura yang langsung membungkus parekim paru disebut pleura viseralis.yang disebabkan oleh ketidakseimbangan antara pembentukan dan pengeluaran cairan pleura. Dalam keadaan normal terdapat 10-20 cc cairan. diafragma. Rongga pleura terletak antara paru dan dinding thoraks. 2. dan mediastinum disebut pleura parietalis.2 ANATOMI Gambar 2. sedangkan membran serosa yang melapisi dinding thorak.

pus. diantaranya: • Pleura visceralis : 1 Permukaan luarnya terdiri dari selapis sel mesothelial yang tipis < 30mm. Keseluruhan berasal n. Intercostalis dinding dada dan alirannya sesuai dengan dermatom dada 3 Mudah menempel dan lepas dari dinding dada di atasnya 4 Fungsinya untuk memproduksi cairan pleura Ada beberapa jenis cairan yang bisa berkumpul di dalam rongga pleura antara lain darah. terdapat perbedaan antara pleura viseralis dan parietalis. Adapun jenis-jenis cairan yang terdapat pada rongga pleura antara lain : a. Mamaria interna. Hidrotoraks Page 9 . Kedua lapisan pleura ini bersatu pada hillus paru. • Pleura parietalis 1 Jaringan lebih tebal terdiri dari sel-sel mesothelial dan jaringan ikat (kolagen dan elastis) 2 Dalam jaringan ikat tersebut banyak mengandung kapiler dari a. dan banyak reseptor saraf sensoris yang peka terhadap rasa sakit dan perbedaan temperatur.dengan lapisan cairan yang tipis ini berfungsi sebagai pelumas antara kedua pleura. pembuluh limfe. 2 Diantara celah-celah sel ini terdapat sel limfosit 3 Di bawah sel-sel mesothelial ini terdapat endopleura yang berisi fibrosit dan histiosit 4 Di bawahnya terdapat lapisan tengah berupa jaringan kolagen dan serat- serat elastik 5 Lapisan terbawah terdapat jaringan interstitial subpleura yang banyak mengandung pembuluh darah kapiler dari a. Pulmonalis dan a. untuk mengabsorbsi cairan pleura. cairan seperti susu dan cairan yang mengandung kolesterol tinggi. Intercostalis dan a. Brakhialis serta pembuluh limfe Menempel kuat pada jaringan paru. Dalam hal ini. Fungsinya.

Hemotoraks Hemotoraks adalah adanya darah di dalam rongga pleura. Kebocoran aneurisma aorta (daerah yang menonjol di dalam aorta) yang kemudian mengalirkan darahnya ke dalam rongga pleura. Penyebab lainnya hemotoraks adalah: Pecahnya sebuah pembuluh darah yang kemudian mengalirkan darahnya ke dalam rongga pleura. Pada setiap kasus pneumonia perlu diingat kemungkinan terjadinya empiema sebagai salah satu komplikasinya. sirosis hati dengan asites. maka keadaan ini disebut piotoraks atau empiema. c. Gangguan pembekuan darah. Bila darah aspirasi segera membeku. Trauma ini bisa karna ledakan dasyat di dekat penderita. Sebab-sebab lain yang mungkin adalah kegagalan jantung kanan. Kadar Hb pada hemothoraks selalu lebih besar 25% kadar Hb dalam darah. maka biasanya darah tersebut berasal dari trauma dinding dada. atau trauma tajam maupu trauma tumpul. Biasanya terjadi karena trauma toraks. Empiema Bila karena suatu infeksi primer maupun sekunder cairan pleura patologis iniakan berubah menjadi pus. Darah hemothorak yang baru diaspirasi tidak membeku beberapa menit. Dalam hal ini penyakitnya disebut hidrotorak dan biasanya ditemukan bilateral.Pada keadaan hipoalbuminemia berat. asites dan hidrotorak). Hal ini mungkin karena faktor koagulasi sudahterpakai sedangkan fibrinnya diambil oleh permukaan pleura. serta sebgai salah satu tias dari syndroma meig (fibroma ovarii. Empiema bisa merupakan komplikasi dari: Pneumonia Page 10 . akibatnya darah di dalam rongga pleura tidak membeku secara sempurna. sehingga biasanya mudah dikeluarkan melelui sebuah jarum atau selang. b. bisa timbul transudat.

metastasis karsinima ke mediastinum. . histoplasmosis). reseksi esophagus 1/3 tengah dan atas. granuloma mediastinum (tuberkulosis. Adapun sebab-sebab terjadinya kilotoraks antara lain . operasi leher. Yang berasal dari efek operasi daerah torakolumbal. . Trauma yang berasal dari luar seperti penetrasi pada leher dan dada. Penyakit-penyakit ini memberi efek obstruksi dan juga perforasi terhadap duktus torasikus secara kombinasi. Meskipun spektrum etiologi Page 11 . operasi kardiovaskular yang membutuhkan mobilisasi arkus aorta. Disamping itu terdapat juga penyakit trombosis vena subklavia dan nodul-nodul tiroid yang menekan duktus torasikus dan menyebabkan kilotoraks.3 ETIOLOGI DAN KLASIFIKAS EFUSI PLEURA Efusi pleura merupakan hasil dari ketidakseimbangan tekanan hidrostatik dan tekanan onkotik. Gambar 2.Infeksi pada cedera di dada Pembedahan dada d. Obstruksi Karena limfoma malignum. tapi terdapat fistula antara duktus torasikus rongga pleura. Efusi pleura merupakan indikator dari suatu penyakit paru atau non pulmonary. Kongenital. Chylotoraks Kilotoraks adalah suatu keadaan dimana terjadi penumpukan kil/getah bening pada rongga pleura. dapat bersifat akut atau kronis. atau pukulan pada dada (dengan/tanpa fratur).1 Effusi Pleura 2. sejak lahir tidak terbentuk (atresia) duktus torasikus.

atau emboli paru.efusi pleura sangat luas. Meningkatnya tekanan kapiler pulmoner . Transudat Dalam keadaan normal cairan pleura yang jumlahnya sedikit itu adalah transudat. efusi pleura sebagian disebabkan oleh gagal jantung kongestif. Dalam beberapa kasus mungkin terjadi kombinasi antara karakteristk cairan transudat dan eksudat. Menurunnya tekanan intra pleura b. Biasanya hal ini terjadi pada: . Efusi pleura umumnya diklasifikasikan berdasarkan mekanisme pembentukan cairan dan kimiawi cairan menjadi 2 yaitu atas transudat atau eksudat. Transudat terjadi apabila terjadi ketidakseimbangan antara tekanan kapiler hidrostatik dan koloid osmotic. Page 12 . keganasan. Kegagalan aliran protein getah bening ini (misalnya pada pleuritis tuberkulosis) akan menyebabkan peningkatan konsentasi protein cairan pleura. sehingga terbentuknya cairan pada satu sisi pleura melebihi reabsorpsinya oleh pleura lainnya. Eksudat Eksudat merupakan cairan yang terbentuk melalui membrane kapiler yang permeabelnya abnormal dan berisi protein berkonsentrasi tinggi dibandingkan protein transudat. Penyebab pleuritis eksudatif yang paling sering adalah karena mikobakterium tuberkulosis dan dikenal sebagai pleuritis eksudatif tuberkulosa. Protein yang terdapat dalam cairan pleura kebanyakan berasal dari saluran getah bening. Bila terjadi proses peradangan maka permeabilitas kapiler pembuluh darah pleura meningkat sehingga sel mesotelial berubah menjadi bulat atau kuboidal dan terjadi pengeluaran cairan ke dalam rongga pleura. sedangkan eksudat adalah hasil dari peradangan pleura atau drainase limfatik yang menurun. pneumonia. Menurunnya tekanan koloid osmotic dalam pleura . Klasifikasi berdasarkan mekanisme pembentukan cairan: a. Transudat hasil dari ketidakseimbangan antara tekanan onkotik dengan tekanan hidrostatik. sehingga menimbulkan eksudat. Meningkatnya tekanan kapiler sistemik .

causing urinothorax Constrictive pericarditis  Increases IV hydrostatic pressure  In some patients. bilateral in 15%  Ascitic fluid migration to the pleural space through diaphragmatic defects  Effusion present in about 5% patients with clinically apparent ascites Hypoalbuminemia  Uncommon  Bilateral effusions in > 90%  Decreased intravascular oncotic pressure causing transudation into the pleural space  Associated with edema or anasarca elsewhere Nephrotic syndrome  Usually bilateral effusions. left-sided in (hepatic hydrothorax) 15%. left-sided in 7%  With left ventricular failure. right-sided in 12%. commonly subpulmonic  Decreased intravascular oncotic pressure plus hypervolemia causing transudation into the pleural space Hydronephrosis  Retroperitoneal urine dissection into the pleural space.Beberapa contoh penyakit yang dapat menyebabkan efusi pleura : Tabel 2.1 Penyebab Efusi Pleura Causes Comments Tranxudate Heart Failure  Bilateral effusions in 81%. accompanied by massive anasarca and ascites due to a mechanism similar to that for hepatic hydrothorax Atelectasis  Increases negative intrapleural pressure Peritoneal dialysis  Mechanism similar to that for hepatic hydrothorax  Pleural fluid with characteristics similar to dialysate Trapped Lung  Encasement with fibrous peel increasing Page 13 . there is increased interstitial fluid. which crosses the visceral pleura and enters the pleural space Cirrhosis with ascites  Right-sided effusions in 70%.

or lymphoma but possible with any tumor metastatic to pleurae  Typically causing dull. negative intrapleural pressure  May be exudative or borderline effusion Systemic capillary leak  Rare syndrome  Accompanied by anasarca and pericardial effusion Myxedema  Effusion present in about 5%  Usually transudate if pericardial effusion is also present. nitrofurantoin. IL-2 (for Page 14 . most notably bromocriptine. aching chest pain Pulmonary embolism  Effusion present in about 30%  Almost always exudative. either transudate or exudate if pleural effusion is isolated Exudate Pneumonia(ParaPneumoni  Thoracentesis necessary to differentiate c effusion) Cancer  Most commonly lung cancer. not of pleural fluid Drugs  Many drugs. breast cancer. bloody in <50%  Pulmonary embolism suspected when dyspnea is disproportionate to size of effusion Viral Infection  Effusion usually small with or without parenchymal infiltrate  Predominantly systemic symptoms rather than pulmonary symptoms TB  Effusion usually unilateral and ipsilateral to prenchymal infiltrates if present  Effusion due to hypersensitivity reaction to TB protein  Pleural fluid TB cultures positive in < 20% Infradiaphragmatic abscess  Causes sympathetic subpulmonic effusion  Neutrofils predominant in pleural fluid  pH and glucose normal SLE  Effusion possibly first manifestation of SLE  Common with drug-induced SLE  Diagnosis established by serologic tests of blood. dantrolene.

lymphedema and yellow nails. treatment of renal cell cancer and melanoma) and methysergide Pancreatitis  Acute : Effusion present in about 50%: Bilateral in 77%. left-sided in 16%. right- sided in 8%  Effusion due to transdiaphragmatic transfer of the exudative inflammatory fluid and diaphragmatic inflammation  Chronic : Effusion due to sinus tract from pancreatic pseudocyst through diaphragm into pleural space  Predominantly chest symptoms rather than abdominal symptoms  Patients presenting with cachexia that resembles cancer Esophageal rupture  Patients extremely sick  Medical emergency  Morbidity and mortality due to infection of the mediastinum and pleural space Bening asbestos pleural  Effusion occuring > 30 year after initial effusion exposure  Frequently asymptomatic  Tends to come and go  Must rule out mesothelioma Yellow nail syndome  Triad of pleural effusion. sometimes appearing decades apart  Pleural fluid with relatively high protein but low LDH  Tendency for effusion to recur  No pleuritic chest pain Page 15 .

6 LDH serum LDH cairan pleura > 2/3 dari limit atas serum LDH normal Page 16 . sindrom  Kanker nefrotik. isinya dan protein) Penyebab paling  Gagal jantung (90%)  Inflamasi sering  Hypoalbuminemia  Infeksi  Infark (gagal hati.5 / protein serum LDH cairan pleura / > 0.Tabel 2. malnutrisi) Warna Jernih Keruh Protein cairan pleura <30g/L >30g/L Kriteria Light (terdapat 1 atau lebih = eksudat) Protein cairan pleura > 0.2 Transudat vs Eksudat Transudat Eksudat Patofisiologi Peningkatkan tekanan Inflamasi – hidrostatik / penurunan meningkatkan tekanan onkotik permeabilitas vaskular menyebabkan dari permukaan ekstravasasi dari cairan pleura / cairan melalui membran normal merembes dari kapiler- kapiler (termasuk sel- sel.

insiden efusi pleura adalah sama untuk kedua jenis kelamin.000 penduduk pada negara industri.4 EPIDEMIOLOGI EFUSI PLEURA Karena efusi pleura adalah manifestasi dari penyakit yang mendasarinya. Disebabkan oleh banyak jenis penyakit yang tertera pada gambar 2. Dari 2/3 efusi pleura karena malignansi terjadi pada wanita yang disebabkan oleh kanker payudara dan ginekologi. Insiden pada Amerika Serikat dikira adalah 1. Page 17 . Estimasi prevalensi effusi pleura adalah 320 kasus per 100.5 juta per tahun. beberapa penyakit penyebab dipengaruhi oleh faktor resiko jenis kelamin. Efusi pleura yang disebabkan oleh pankreatitis juga lebih sering terjadi pada pria karena faktor resiko konsumsi alkohol. Tetapi.2. mungkin karena faktor pekerjaan dengan paparan asbestos leibh tinggi. Berdasarkan umur. Efusi pleura karena mesothelioma lebih banyak pada pria. insiden pastinya sangat sulit untuk ditentukan.2. Efusi pleura oleh Systemic Lupus Erythematosus (SLE) juga lebih sering terjadi pada wanita daripada pria.

Kemampuan untuk reabsorpsinya dapat meningkat sampai 20 kali. sehingga terjadi empiema/piotoraks. Penumpukan cairan pleura dapat terjadi bila: 1. Meningkatnya tekanan intravaskuler dari pleura 2. Hipoproteinemia Page 18 . selalu terjadi filtrasi cairan ke dalam rongga pleura melalui kapiler pada pleura parietalis tetapi cairan ini segera direabsorpsi oleh saluran limfe. Hal yang memudahkan penyerapan cairan pada pleura visceralis adalah terdapatnya banyak mikrovili di sekitar sel-sel mesothelial. Cairan kebanyakan diabsorpsi oleh sistem limfatik dan hanya sebagian kecil yang diabsorpsi oleh sistem kapiler pulmonal.2 Perkiraan insiden tahunan efusi pleura pada orang dewasa dengan berbagai penyebab 2. Selain itu cairan pleura dapat melalui pembuluh limfe sekitar pleura. Bila penumpukan cairan dalam rongga pleura disebabkan oleh peradangan. Dalam keadaan normal cairan pleura dibentuk secara lambat sebagai filtrasi melalui pembuluh darah kapiler. Meningkatnya kadar protein dalam cairan pleura 4. Bila proses radang oleh kuman piogenik akan terbentuk pus/nanah. Patofisiologi terjadinya efusi pleura tergantung pada keseimbangan antara cairan dan protein dalam rongga pleura. Apabila antara produk dan reabsorpsinya tidak seimbang (produksinya meningkat atau reabsorpsinya menurun) maka akan timbul efusi pleura. Tekanan intra pleura yang sangat rendah 3. Pergerakan cairan dari pleura parietalis ke pleura visceralis dapat terjadi karena adanya perbedaan tekanan hidrostatik dan tekanan koloid osmotik. sehingga terjadi keseimbangan antara produksi dan reabsorpsi. Bila proses ini mengenai pembuluh darah sekitar pleura dapat menyebabkan hemotoraks. Gambar 2. Filtrasi yang terjadi karena perbedaan tekanan osmotic plasma dan jaringan interstitial submesotelial kemudian melalui sel mesotelial masuk ke dalam rongga pleura.5 PATOFISIOLOGI EFUSI PLEURA Dalam keadaan normal.

berkeringat. Efusi pleura sulit dideteksi dengan pemeriksaan fisik bila akumulasi cairannya sedikit.6 MANIFESTASI KLINIS Nyeri dada dan pergerakan rongga dada berkurang merupakan tanda utama. Gambar 2. biasanya suara ronkhi akan menghilang sedangkan bunyi gesek pleura akan tetap terdengar. Bunyi gesek pleura dapat didengar sebelum adanya cairan efusi. Tetapi hal ini sulit dilakukan pada bayi. tetapi bila akumulasi cairannya banyak (300 – 500 ml) maka akan terlihat pergerakan dinding dada yang sakit. Gejala lainnya seperti demam. batuk darah. tetapi nyeri tersebut menghilang bila terjadi akumulasi cairan yang memisahkan kedua permukaan pleura. dan suara pernapasan menghilang sampai tidak terdengar.3 Aliran Cairan Pleura Sesak nafas adalah gejala paling umum dari effusi pleura karena semakin memberatnya efusi akan membuat semakin sulit paru untuk ekspansi yang membuat pasien sulit bernafas. dan lainnya tergantung pada etiologi. sedang atau berat namun adakalanya tidak ada gejala sesak napas karena hal ini tergantung banyaknya cairan di rongga pleura. stem fremitusnya tidak ada. 2. dan terdengar baik pada ekspirasi. Sesak napas dapat bersifat ringan. berat badan menurun. Sesak nafas adalah gejala paling umum dari effusi pleura karena semakin memberatnya efusi akan membuat semakin sulit paru untuk ekspansi yang membuat pasien sulit bernafas. batuk. Obstruksi dari saluran limfe pada pleura parietalis. pada perkusi akan didapatkan bunyi beda/pekak. Untuk membedakannya pasien diperintahkan untuk batuk.5. Nyeri dada terjadi karena lapisan pleura teriritasi umumnya adalah nyeri pleuritik yang dideskripsikan sebagai nyeri yang tajam dan memberat saat tarik nafas dalam. Page 19 . Nyeri dada terjadi karena lapisan pleura teriritasi umumnya adalah nyeri pleuritik yang dideskripsikan sebagai nyeri yang tajam dan memberat saat tarik nafas dalam. Tanda nyeri dada pada inspirasi yang disebabkan peradangan pleura. Kadang-kadang bunyi tersebut sukar dibedakan dengan bunyi ronkhi.

amilase. 2002. Cairan pleura dianalisis dengan kultur bakteri. Selain itu sesak napas terutama bila berbaring ke sisi yang sehat disertai batuk batuk dengan atau tanpa dahak. dan torokosentesis. Pneumonia akan menyebabkan demam. Keberadaan cairan dikuatkan dengan rontgen dada. pemeriksaan kimiawi (glukosa. laktat dehidrogenase (LDH). seperti riwayat hepatitis kronik.. pemeriksaan fisik.Di atas permukaan efusi akan timbul penekanan paru-paru oleh efusi mengakibatkan penurunan kapasitas paru dan pada pemeriksaan fisik di dapatkan gambaran konsolidasi juga dijumpai pernapasan bronchial. Bila terdapat efusi pleura kecil sampai sedang. protein). Deviasi trakea menjauhi tampat yang sakit dapat terjadi jika terjadi penumpukan cairan pleura yang signifikan. menggigil. pekak daat diperkusi. Keluhan yang lain adalah sesuai dengan penyakit yang mendasarinya . hlm : 593) 2. Ukuran efusi akan menentukan keparahan gejala. dan nyeri dada pleuritis. trauma pada Page 20 . (Smeltzer. dan pH. Efusi pleura yang luas akan menyebabkan sesak nafas. hitung sel darah merah dan putih. Berat ringannya sesak napas ini ditentukan oleh jumlah cairan efusi. Area yang mengandung cairan atau menunjukkan bunyi nafas minimal atau tidak sama sekali menghasilkan bunyi datar. Egofani akan terdengar diatas area efusi. dispnea mungkin saja tidak terjadi. Biopsi pleura mungkin juga dilakukan.7 DIAGNOSA EFUSI PLEURA 2.1 Anamnesis Keluhan utama penderita adalah nyeri dada sehingga penderita membatasi pergerakan rongga dada dengan bernapas pendek atau tidur miring ke sisi yang sakit. Biasanya manifestasi klinisnya adalah yang disebabkan oleh penyakit dasar. analisi sitologi untuk sel – sel maligna. ultrasound. pewarnaan gram. basil tahan asam (untuk tuberkolosis). sementara efusi malignan dapat mengakibatkan dispnea dan batuk.

Hasil pemeriksaan fisik juga tergantung dari luas dan lokasi dari efusi. Gangguan pergerakan toraks. suara beda pada perkusi toraks. riwayat pemakaian obat. serta suara nafas yang melemah hingga menghilang biasanya dapat ditemukan. dan tanda-tanda sugestif lainnya.Stem fremitus melemah Page 21 . sedangkan jika ditemukan limfadenopati atau massa yang dapat diraba mungkin merupakan suatu keganasan. riwayat kanker. Palpasi . Temuan pemeriksaan fisik tidak didapati sebelum efusi mencapai volume 300mL.. Sedangkan gejala khas untuk efusi pleura sendiri adalah : adanya sesak nafas yang tidak bisa dijelaskan penyebabnya.Dispnea . Ascites mungkin menandakan suatu penyakit hati. perkusi dan auskultasi : a.Pemeriksaan fisik yang sesuai dengan penyakit dasar juga dapat ditemukan misalnya. edema perifer. Cairan efusi yang masif (> 1000 mL) dapat mendorong mediastinum ke sisi kontralateral. Inspeksi . tumor pleura. Efusi yang sedikit secara pemeriksaan fisik kadang sulit dibedakan dengan pneumonia lobaris. S3gallop pada gagal jantung kongestif. fremitus melemah. atau fibrosis pleura. Friction rubpada pleura juga dapat ditemukan. distensi vena leher. Merubah posisi pasien dalam pemeriksaan fisik dapat membantu penilaian yang lebih baik sebab efusi dapat bergerak berpindah tempat sesuai dengan posisi pasien. dll.Takipnea b. paparan asbestos.thorax.2 Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik dilakukan dengan cara inspeksi. 2. egofoni. Edema juga dapat muncul pada sindroma nefrotik serta penyakit perikardial. nyeri pleuritik. palpasi.

Page 22 .Suara nafas melemah . .Egofoni.Redup d.Ekspansi dada berkurang pada sisi yang terpengaruhi .Trakea deviasi menjauhi sisi yang terpengaruhi c. Perkusi . Auskultasi .

Page 23 .

Gambar 2.5 Obat Yang Dapat Menyebabkan Efusi Pleura S Page 24 .4 Gejala Berdasarkan Penyebab Efusi Pleura Gambar 2.

maka perbedaan antara perifer dan sentral semakin besar oleh karena adanya daya kapilaritas. bila difoto pada posisi PA atau AP akan didapatkan gambaran yang berbeda. A. sehingga meniscus sign tidak tampak.6 Etiologi Berdasarkan Gejala 2. Semakin sedikit cairannya. posisi pasien. homogen.8 PEMERIKSAAN PENUNJANG EFUSI PLEURA  Gambaran Radiologi Temuan gambaran radiologis efusi pleura dipengaruhi oleh sifat cairannya (bebas atau loculated). menutupi paru bawah yang biasanya relative radioopak dengan permukaan atas cekung. serta adanya penyakit paru penyerta. cairan dalam rongga pleura tampak sebagai perselubungan semi opak.Pada pemeriksaan foto thorax rutin tegak. berjalan dari medial atas ke lateral bawah (meniscus sign). proyeksi radiografi. bagian perifer lebih tinggi dari bagian sentral. pada posisi tegak akan tampak meniscus sign. Meniscus sign ini merupakan gambaran khas seperti garis lengkung. Gambar 2. berbentuk konkaf. Pada cairan bebas. Posisi frontal tegak Jumlah cairan minimal yang dapat terlihat pada foto thorak tegak adalah 250-300 ml. jumlah cairan. pada Page 25 . Efusi Pleura Tipikal a.

Foto toraks PA menunjukkan elevasi dari hemidiafragma kanan (Meniscus sign) B. Cairan dalam pleura kadang-kadang menumpuk menggelilingi lobus paru (biasanya lobus bawah) dan terlihat dalam foto sebagai bayangan konsolidasi parenkim lobus. Penumpukan cairan di bawah cavum pleura menyebabkan sinus costofrenikus menjadi tumpul. Page 26 .posisi berbaring meniscus sign tidak tampak. A. Meningkatnya opasitas pada bagian hemitoraks kanan akibat dari adanya cairan pleura A. dengan permukaan daerah lateral lebih tinggi daripada bagian medial. Foto toraks AP. menunjukkan sudut costophrenicus kanan tumpul(tanda panah) Karena cairan mengisi hemithoraks maka paru akan terdorong kearah sentral/hilus dan kadang kadang mendorong mediastinum ke arah kontralateral. Permukaan cairan yang terdapat dalam rongga pleura akan membentuk bayangan seperti kurva. Selain itu.

Sejumlah kecil efusi terakumulasi di lokasi subpulmonary. b. Posisi frontal lateral Bila cairan kurang dari 250 ml (100-200ml). dapat ditemukan pengisian cairan di sinus costofrenikus posterior pada foto thorax lateral tegak. menunjukkan efusi minimal yang terakumulasi di sulcus kostofrenikus posterior (CP). Page 27 . yang dapat dideteksi pada proyeksi radiografi baik lateral maupun frontal. Efusi ini tidak dapat dideteksi pada proyeksi frontal tetapi dapat terlihat pada proyeksi lateral Foto thorax lateral tegak menunjukkan efusi yang lebih besar terakumulasi di dada bagian bawah. menyebabkan sedikit elevasi pada hemidiafragma ipsilateral. Efusi ini menghasilkan penumpulan sudut kostofrenikus lateral pada proyeksi frontal. Foto thorax lateral tegak.

ada lebih banyak cairan posterior dan lateral karena bentuk dada dan karakteristik dari paru-paru. Loculation sekunder hingga adhesi biasanya akibat sekunder dari efusi yang terinfeksi atau hemoragik. efusi subpulmonary muncul sebagai diafragma tinggi (kontur pseudodiaphragmatic). Page 28 . Mekanisme kedua dapat terjadi pada atelektasis. Efusi Pleura Atipikal Large Subpulmonary Effusion Sebuah efusi subpulmonary besar dapat dianggap sebagai efusi atipikal. dan meruncing margin jika dilihat secara tangensial. B. Loculated Pleural Efussion Sebuah distribusi atipikal cairan pleura dapat juga disebabkan oleh loculation sekunder hingga adhesi atau oleh perubahan parenkim paru setelah kemunduran karakteristik paru. Pada pandangan tegak frontal dan lateral. yang dapat dilihat pada kedua pandangan frontal dan lateral sebagai densitas dependen dengan margin berbentuk meniscus. Namun. Efusi Loculated di celah paru (seperti pada gambar di bawah) muncul sebagai opasitas elips yang jelas dengan margin runcing. Perhatikan bahwa batas atas cairan yang sebenarnya adalah horisontal.Efusi Loculated menghasilkan opasitas jaringan lunak perifer dengan margin yang halus tumpul. Foto thorax lateral tegak menunjukkan efusi moderat terakumulasi di dada bagian bawah. Efusi subpulmonary unilateral lebih sering di sisi kanan.

CT scan lebih unggul daripada foto polos dalam mengevaluasi adanya efusi loculated atau efusi dengan penyakit paru-paru yang berhubungan. jaringan paru-paru semakin jelas dengan pemberian material kontras. modalitas ini juga lebih bermanfaat daripada radiografi polos dalam mengevaluasi penyebab yang mendasari efusi. Adanya perbedaan densitas cairan dengan jaringan sekitarnya. Peningkatan kontras sangat membantu dalam memisahkan efusi dari atelektasis. Namun . efusi kecil kadang-kadang sulit untuk dibedakan dari penebalan pleura. Tidak seperti cairan pleura. Loculated effusion in the minor fissure (arrow).Hanya saja pemeriksaan ini tidak banyak dilakukan karena biayanya masih mahal. sangatmemudahkan dalam menentukan adanya efusi pleura. The opacity is smoothly marginated and biconvex  Computed Tomography CT scan sensitif dalam mendeteksi efusi pleura. CT Scan menunjukkan adanya akumulasi cairan sebelah kanan Page 29 .

Ultrasonografi sangat membantu dalam karakterisasi efusi pleura dan dalam membedakan efusi pleura dan penebalan pleura.  Magnetic Resonance Imaging MRI dapat membantu dalam mengevaluasi penyebab dari efusi pleura. Nodularitas dan/atau penyimpangan dari kontur pleura. keterlibatan pleura mediastinum. dan infiltrasi dari dinding dada dan/atau diafragma merupakan tanda penyebab keganasan baik padaCT scan maupun MRI. thoracentesis. biopsi. penempatan saluran dada). Pemeriksaan ini sangat membantu sebagai penentuan waktu melakukan aspirasi cairan tersebut. Modalitas ini juga berguna dalam mengevaluasi beberapa penyebab efusi. terutama pada efusiyang terlokalisasi. Cairan anechoic (E) dapat dilihat pada hemithoraks kiri bawah  Torakosintesis Page 30 .Telah dikemukakan bahwa intensitas sinyal MRI adalah alat yang berharga untuk membedakan penyakit pleura ganas dari jinak.Kombinasi intensitas sinyal MRI dan fitur morfologis lebih berguna dan unggul daripada CT scan dalam membedakan penyakit pleura ganas dari yang jinak. penebalan pleura yang melingkar.Ultrasonografi terutama digunakan untuk mengkonfirmasi efusi pada pasien dengan radiografi dada yang tidak normal dan untuk memandu prosedur intervensi (misalnya .  Ultrasonography Pemeriksaan dengan ultrasonografi pada pleura dapat menentukan adanya cairan dalam rongga pleura. Ultrasonogram dengan metastasis efusi pleura.

Sedangkan cairan yang banyak mengandung protein dan sel serta cairan makin keruh disebut cairan eksudat. dan tuberculosa. pseudomonas. linea aksilaris posterior ujung tulang belikat dan linea aksilaris anterior di bawah permukaan cairan. terutama bila ditemukan sel-sel patologis atau sel-sel tertentu.2 ml/kg  Sel/mm3 : 1. Page 31 . klebsiella. tidak berwarna dan tidak berbau.  Sitologi Pemeriksaan sitologi terhadap cairan pleura amat penting untuk diagnosis penyakit pleura. Komposisi normal cairan pleura  Volume : 0.000  % sel mesothelial : 3 – 70%  % monosit : 30 – 75%  % limfosit : 2 – 30%  % granulosit : 10%  Protein : 1 – 2 g/dl  % albumin : 50 – 70%  Glukosa : sama dengan kadar plasma  LDH : < 50% kadar plasma  Warna Cairan. Kontra indikasi adalah pada pasien yang mengalami kelainan pembekuan darah. untuk menentukan batas atas dari efusi dapat diketahui dengan pemeriksaan fisik.  Kultur Bakteriologi. dan permukaan kulit tempat tusukan harus bebas dari segala penyakit dan jarum tusukan sedalam 5 – 10 cm ke arah vertebra. Torakosentesis dilakukan pada posisi duduk.000 – 5.  Analisa Cairan Pleura Normal cairan pleura seperti air. Torakosentesis dilakukan untuk tujuan mencari penyebab ataupun menghilangkan rasa sesak dengan cara mengeluarkan cairan serta memasukan antibiotik dan antiseptik ke rongga pleura pasien. enterobacter. Cairan transudat biasanya berwarna jernih dan kekuning-kuningan.1 – 0. Torakosentesis dilakukan di sela iga di linea aksilaris. Biasanya cairan pleura steril tapi kadang- kadang dapat mengandung mikroorganisme seperti pneumococcus.

dan untuk x-ray lateral view. b. Foto x-ray PA umumnya didapatkan kelainan pada jumlah efusi 200 ml. Imaging Merupakan langkah utama untuk yang dilakukan bila ada suspek terjadinya efusi pleura. Pasien dengan suspek efusi transudat bilateral tidak perlu dilakukan thoracentesis kecuali ada timbul gejala atipikal seperti (demam. Bisa juga didapatkan tanda meniskus dan pergeseran mediastinum dan juga trakea pada efusi pleura masif. Thoracentesis diagnostik perlu dilakukan pada pasien dengan hasil foto dekubitus lateral efusi >1cm yang tidak terdiagnosa penyebabnya. Page 32 . a. Secara biokimia efusi pleura terbagi atas transudat dan eksudat yang perbedaannya dapat dilihat pada tabel di bawah ini. 50 ml umumnya sudah cukup untuk mendeteksi yaitu dengan adanya penumpulan siku kostofrenik. Thoracentesis Aspirasi diagnostik volume rendah dari cairan pleura (50 – 60 mL) di indikasikan bila penyebab yang mendasari efusi tidak diketahui. nyeri dada pleuritik. efusi dengan banyak cairan paru kiri dan kanan berbeda. tidak merespon kepada tatalaksana).

Gambar 2.8 Beberapa Jenis Tes Cairan Pleura Page 33 .7 Penemuan Makroskopik Cairan Pleura Gambar 2.

Biopsi dengan panduan gambar adalah metode biopsi pleura pilihan. c. mediastinum dan juga pengambilan jaringan untuk tujuan pemeriksaan. Torakoskopi menggunakan endoskopi untuk secara visual menginspeksi pleura. d. Page 34 . Biopsi Pleura Untuk menginvestigasi efusi yang tidak terdiagnosa tetapi dengan suspek malignansi dan ditemukan area nodularitas pleura pada saat dilakukan CT-Scan dengan kontras. paru. Torakoskopi Merupakan investigasi pilihan pada efusi pleura eksudat dengan gejala dan hasil aspirasi pleura tidak inklusif dan malignansi merupakan suspek.

Page 35 .

Page 36 . Nyeri pleuritik bisa ditatalaksana dengan pemberian NSAID atau analgesik oral lainnya. Thoracentesis cukup untuk tatalaksana efusi simtomatis dan bisa direpetisi untuk efusi yang reakumulasi. Kadang diperlukan juga golongan opioid secara jangka- pendek. efusi harus di drainase sepenuhnya dengan thoracentesis atau chest tube. Jika drainase total tidak bisa dilakukan. glucose < 60mg/dL. Agen sklerosing yang paling sering dipakai adalah talc. Pleurodesis dilakukan dengan pemberian agen sklerosing pada rongga pleura untuk melengketkan bagian visceral dan parietal pleura. drainase dari efusi simtomatis dan tatalaksana lain seperti untuk efusi parapneumoni dan malignansi. dan bleomycin yang diberikan via chest tube atau torakoskopi. doxycycline. Efusi sendiri umumnya adalah asimtomatik dan tidak memerlukan tatalaksana karena efusi akan di absorpsi kembali setelah penyebab yang mendasarinya ditatalaksana. drainasi kronik (intermiten) atau pleurodesis di indikasikan.9 PENATALAKSANAAN EFUSI PLEURA Penatalaksanaan efusi pleura bertujuan pada tatalaksana gejala dan penyebab yang mendasari. Tidak ada batas pada jumlah cairan yang boleh di drainase. Efusi asimtomatik dan efusi yang menyebabkan sesak nafas tapi tidak hilang dengan thoracentesis tidak memerlukan prosedur tambahan. pemberian trombolitik (tissue plasminogen activator 10mg) + DNAse (dornase alfa 5mg) pada 100 mL solusi saline secara intrapleural 2x / hari selama 3 hari. Gambar 2. Drainase dengan kateter menetap adalah pilihan yang lebih cocok untuk pasien rawat jalan karena cairan bisa di drainase secara intermiten ke botol vakum. Bila sesak nafas yang disebabkan oleh efusi pleura malignansi yang hilang dengan thoracentesis tetapi cairan dan sesak timbul kembali.20. positif gram stain atau kultur). nyeri dada dan batuk parah.9 Pathway Diagnosis Effusi Pleura 8 2. seperti efusi pada pneumonia tanpa komplikasi dan emboli pulmonal. bisa dilanjutkan sampai semua efusi terserap atau pasien muncul gejala ketat pada daerah dada. Pada efusi parapneumoni dengan hasil (pH < 7.

Efusi Pleura Keganasan . efusi + nyeri dada pleuritik 2.drainase dengan chest tube .30 . 1. angka harapan hidup: minimal beberapa bulan c.75-1 mg/kgBB/hari selama 2-3 minggu. cairan pleura dengan pH >7.pleurodesis kimiawi. pertimbangkan torakotomi 6. bila perdarahn > 200ml/jam.torakosentesis diagnostik bila efusi menetap dengan terapi diuretic.torakosentesis terapeutik. efusi unilateral. terapi kanker paru 5. Efusi karena Parapneumonia/ Empiema .drainase 3. Efusi karena Penyebab Lain : atasi penyakit primer Page 37 . efusi bilateral. terjadi rekurens yang cepat b. ketinggian cairan berbeda bermakna efusi + febris.torakosentesis . pasien tidak debilitasi d.obat anti tuberkulosis (minimal 9 bulan) + kortikosteroid dosis 0. Efusi karena gagal jantung . bila sesak atau efusi > tinggi dari sela iga III 4. Hemothoraks . chest tube/ thoracostomy .antibiotika .diuretik . . Penatalaksanaan untuk efusi pleura berbeda berdasarkan penyakit dasarnya. Efusi Pleura karena Pleuritis Tuberkulosa . Kandidat yang baik untuk pleurodesis adalah: a.

Kebanyakan pasien dengan efusi pleura tidak bersifat rekuren. Pneumothorax setelah thoracentesis c.2. tetapi pada kasus gagal jantung.10 KOMPLIKASI EFUSI PLEURA a. d. Edema pulmonal re-ekspansi Dapat terjadi setelah penyerapan cairan rongga pleura yang banyak dengan thoracentesis. Dan dengan penyebab parapneumoni komplikasi memiliki prognosis buruk sebab dapat terjadi penebalan pleura dan trapped lung. e. pasien TB sering mengalami penebalan pleura. Jika efusi pleura dengan empiemanya tidak di drainase segera maka fibroblas akan tumbuh pada rongga pleura dan menahan ekspansi dari paru. jaringan ikat dapat terbentuk dalam waktu <24 jam. sirosis hati dan malignansi. ini umumnya asimtomatik dan tidak memerlukan terapi. Page 38 . Atelektasis Efusi pleura yang masif dapat menyebabkan atelektasis kompresi dari paru ipsilateral b. 2. efusi akan berulang kembali. Fibrosis pleura 6 bulan setelah terapi dimulai.11 PROGNOSIS Prognosis pada pasien dengan efusi pleura tergantung pada penyebab yang mendasarinya. Trapped lung Pada keadaan inflamasi berat seperti empiema.

Tapi pada umumnya pasien mengeluhkan sesak nafas. Page 39 . batuk. tergantung penyebabnya. Gejala yang timbul akinat efusi pleura bervariasi. Penyebab dari efusi pleura bisa sistemik atau lokal (berasal dari paru-patu sendiri). antibiotik kalau ada infeksi. BAB 3 KESIMPULAN Efusi pleura adalah suatu keadaan dimana terdapat penumpukan cairan pada kavum pleura diantara pleura parietalis dan pleura viseralis dapat berupa cairan transudat atau cairan eksudat. Untuk mengatasi keluhan sesak nafas pada efusi pleura dapat dilakukan tindakan torakosintesis. dna pleurodesis pada kasus efusi yang masif dan tidak pernah berhenti. demam. dll.

Danusantoso. Buku Saku Ilmu Penyakit Paru. Hal: 151-159 4. Tuberkulosis Paru.go. Prof.com/professional/pulmonary-disorders/mediastinal- and-pleural-disorders/pleural-effusion pada tanggal 11 Januari 2017. 2016. 12. 13.cancer. 2.. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta. Amin Z. EGC. Diakses dari alamat web : http://www. Jakarta.bmj. Bahar A. Tuberkulosis Paru. Pleural Effusion Prognosis. Diakses dari alamat web : http://www. Jilid III.R. Tuberkulosis Paru. Jakarta. Bahar A. 10. Danusantoso. Jakarta. Hal: 151-159 7.pdf.com/konsensus/Xsip/tb. Tuberkulosis Paru.pdf pada tanggal 11 Januari 2017. 2013 Tuberkulosis Paru. 2009. Tuberkulosis Paru. Diakses dari alamat web : http://bestpractice. 2016.. Tuberkulosis Paru. 2012. Sinopsis Organ System Pulmonologi.com/best-practice/monograph/287/follow- up/prognosis. Jilid III. EGC. Darmanto. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia.klilpdpi. K Kendali. www. 5. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. 2014./profil/kesehatan-indonesia-2012. Ed IV. Available from: Amin Z.id/resousrces/. Karisma Publishing Group. Available from: www. EGC.pdf 8. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2012. Pedoman Penatalaksanaan TB (Konsensus TB). Darmanto. Hal: 95-159 6. Hal: 95-159 3. Respirologi. Pleural Effusion Pathophysiology. 2014. H Dr. Pleural Effusion. Light W. 2011. Hal: 170-191. Tuberkulosis Paru.British Medical Journal. Jakarta.depkes. EGC. Ed IV. Jakarta: trans Medika. [Di akses pada tanggal 25 Oktober 2016] 9. L Tao. Buku Saku Ilmu Penyakit Paru.gov/resources-for/hp/education/epeco/self- study/module-3/module-3m. Jakarta: Interna Publishing. Jakarta: Interna Publishing. Tabrani Rab. Ilmu Penyakit Paru. 2010. BAB 4 DAFTAR PUSTAKA 1. Kemenkes.merckmanuals.British Medical Journal. 11.html pada tanggal 11 Januari 2017 Page 40 . 2014. Respirologi.

Page 41 .