From: Sayang Yupiter Tarigan

Sent: Tuesday, August 23, 2005 8:48 AM
To: Bahrudin; Berti Dwi Maryanti; Budi Sardjono; Subandi; Darmadi; Eko
Yulianto; Fitriyanti; Jumika; Muhammad Ali; Muhdlor; Neneng Sunarsih;
Nurdin; Ragil Murdopo; Robendri; Saifudin Zuhri; Sayang Yupiter Tarigan;
Sudarman; Suparman; Suratun; Suryani; Sutrasno; Wuntingatun; Yantini;
Yenni Anelsi; Yulyanto; Ahmad Sobri; Arif Hartoyo; Arifah Nur Hayati;
Muslimin Ajibrata; Farizal; Nana Supriatna; Dwiyo
Subject: Menuju Sehat tanpa Sesat
Menuju Sehat tanpa Sesat
“Kesehatan merupakan mahkota di atas kepala orang-orang sehat dan tidak kelihatan
kecuali oleh orang yang sedang sakit.” (Pepatah Arab)
Benar kata pepatah itu, kesehatan adalah sesuatu yang amat sangat berharga bagi
manusia. Namun baru terasa betapa berharga dan nikmatnya kesehatan, manakala
seseorang telah mengalami sakit.
Setiap hari kita bernafas, tetapi jarang kita menyadari betapa nikmatnya bernafas dengan
lancar. Jarang ada orang yang sujud syukur atas nikmat yang ini. Saat orang diserang
penyakit sesak nafas, barulah ia sadar, “Ah, betapa nikmatnya bernafas dengan lega.”
Saat sehat orang bisa melakukan berbagai aktivitas yang ia kehendaki, mulai dari
beribadah, belajar, bekerja, beranjangsana, atau sekedar bersantai-santai. Namun di saat
sakit semua aktivitas tersebut akan terganggu. Bahkan jika sakitnya parah, orang hanya
bisa tergolek tak berdaya di atas ranjang rumah sakit.
Orang yang sakitnya sudah kronis biasanya akan mencoba berbagai jenis pengobatan.
Jika dengan pengobatan medis modern dirasa tak kunjung sembuh, dicobalah pengobatan
tradisional. Jika pengobatan tradisional juga tak memberikan kesembuhan, sebagian
orang kemudian beralih ke pengobatan supra natural alias perdukunan.
Kalau sudah berinteraksi dengan dukun atau paranormal, sudah pasti sedikit atau banyak
akan bersentuhan dengan kesyirikan. Sebab untuk mengobati pasiennya, sang dukun
biasanya meminta bantuan kalangan jin. Padahal Allah jelas-jelas melarang manusia
berkolaborasi dengan jin, sebagaimana firman-Nya: “Dan bahwasannya ada beberapa
orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di
antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (Al-Jin:6).
Sayangnya, banyak orang yang tidak mempedulikan hal ini jika sudah menderita penyakit
kronis, apalagi jika yang dideritanya penyakit berat seperti kanker. Demi mendapat
kesembuhan, sebagian orang akan menempuh tetapi apa saja, meski terjerumus kepada
kesyirikan. Ironisnya lagi, ada juga ustadz dan ulama yang “gelap mata”, pergi ke dukun,
tatkala menderita penyakit kronis. Na’udzubillah min dzalik.
Ada satu lagi kesyirikan yang sering terjadi di dunia kesehatan. Dan repotnya fenomena
kesyirikan yang satu ini begitu jarang orang sadari. Yakni keyakinan bahwa penyakitnya
sembuh karena usaha terapi yang dilakukan dokter dan karena obat yang dikonsumsinya.
Dia lupa bahwa sesungguhnya Allah-lah yang menyembuhkan penyakit manusia. Dokter
dan obat hanya wasilah (sarana) untuk menuju kesembuhan. Sembuh atau tidaknya
tergantung pada kehendak Allah.
Kjian Utama kali ini akan memandu kita sekalian untuk mengidentifikasi fenomena
syirik apa saja yang biasa menelikung upaya kita dalam meraih kesehatan. Kajian ini juga
akan menunjukkan cara untuk menghindari penyesatannya. Semoga berguna. (SHW)

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.