1.

Co-Assistant
Co-assistant, atau biasa disebut co-ass, adalah mahasiswa atau sarjana
kedokteran yang sedang menjalani proses belajar di rumah sakit dengan sebagian
besar materinya adalah praktikum. Co-ass juga disebut sebagai dokter muda
(Faris 2017).
Tugas dari co-ass adalah sebagai garda terdepan dalam penanganan pasien di
rumah sakit yaitu dengan melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik, membuat
laporan tentang keadaan pasien tersebut, dan kemudan melaporkan hasil yang
telah dicatat ke dokter umum atau dokter konsulen untuk di crosscheck oleh
dokter umum atau dokter konsulen (Utami 2017).
2. Perjalanan Dokter Muda
Perjalanan dokter muda melalui 3 tempat, yaitu poli, IGD, dan ruang operasi
(O.K). Adapun kegiatan yang dijalani co-ass di masing-masing tempat yaitu:
a. Poli

Perjalanan co-ass dari pagi hari yaitu co-ass bangun pada saat subuh dan
membuat laporan tentang pasien yang ditangani. Co-ass harus menunggu
dokter konsulen datang untuk memeriksa ulang laporan yang telah dibuat
serta menunggu instruksi apakah ada pemberian obat tambahan atau tidak.
Jika dokter konsulen telah selesai memeriksa laporan, co-ass menuju ke
poli pada siang hari untuk membantu sesama co-ass. (Utami 2017).
Adapun pasien yang datang ke poli sebagian besar adalah pasien kontrol,
dengan mekanisme kerja yang dlakukan pada saat di poli adalah diawali
dengan anamnesis pasien, melakukan pemeriksaan fisik, mencatat hasil
anamnesis dan pemeriksaan fisik di status pasien, dan melaporkan status
pasien kepada dokter yang ada di poli (Faris 2017). Menurut Utami
(2017), keterampilan yang harus dikuasai oleh co-ass di poli adalah teknik
anamnesis yang baik dan benar, dan teknik pemeriksaan fisik terhadap
pasien. Co-ass juga akan mendapatkan jadwal jaga pada sore dan malam
hari, yang dimana akan membuat waktu istirahat bagi co-ass sedikit
berkurang. Sehingga, diharapkan para co-ass memiliki kesiapan fisik dan
mental dalam menjalani kegiatannya di rumah sakit.

Paramedis. Sikap Terhadap Konsulen. Ruang operasi (O. 3. membantu konsulen dalam menjalankan operasi serta menjalankan instruksi yang iberikan oleh dokter konsulen. dan sebagainya. co-ass dapat melaporkan status pasiennya secara langsung kepada konsulen. c. misalnya menggunting benang jahitan. Utami (2017) menyatakan bahwa pelaporan status pasien di IGD tergantung pada rumah sakit yang co-ass tempati. b. baik terhadap . di ruang operasi tugas co-ass terbagi menjadi 2. seorang co-ass wajib bersikap dan berperilaku baik terhadap semua unsur yang ada di rumah sakit. Co-ass melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Sedangkan di beberapa rumah sakit yang lain. dan melaporkan status tersebut ke dokter jaga (Faris 2017). Tugas co-ass dalam menjadi asisten operasi antara lain menyiapkan alat-alat yang dibutuhkan untuk operasi. Asisten operasi Co-ass sebagai asisten operasi tidak hanya mempelajari proses operasi. Keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang co-ass di ruang operasi antara lain cara mencuci tangan sebelum dan sesudah melaksanakan operasi serta cara memakai baju o.K) Menurut Faris (2017). dan Karyawan Rumah Sakit Dalam hal berperilaku dan bersikap. mencatat hasil temuannya di status pasien. melakukan suction. misalnya di RSPAD Gatot Subroto co-ass melaporkan status pasien ke dokter jaga untuk kemudian dokter jaga melapor kepada konsulen. IGD Perjalanan co-ass di IGD sama hal nya dengan pada saat di poli. Observer Tugas co-ass sebagai observer hanya sebatas melihat dan mempelajari proses berlangsungnya operasi pasien serta menjawab pertanyaan- pertanyaan yang diajukan oleh konsulen 2.k yang benar (Utami 2017). yaitu: 1. tetapi juga ikut melaksanakan proses operasi.

prinsip 5S harus diterapkan seorang co-ass kepada semua unsur di rumah sakit. Selain itu. sehingga tingkat keilmuan yang didapat juga lebih tinggi. Sopan dan Santun) wajib diterapkan oleh seorang co-ass dalam menghadapi dan berinteraksi terhadap semua unsur di rumah sakit (Utami 2017). sehingga seringkali konsulen meminta pendapat dan laporan dari staf dan karyawan tentang perilaku dan sikap dari co-ass tersebut selama berada di rumah sakit. Perbedaan RSPAD Gatot Subroto dengan RS Satelit Pendidikan yang Lain Terdapat beberapa perbedaan antara RSPAD Gatot Subroto dengan rumah sakit satelit pendidikan yang lain. Sapa. tetapi juga kepada paramedis dan juga staf dan karyawan di rumah sakit. penjelasan yang dilakukan oleh tenaga pengajar membuat para co-ass lebih tersambung pemahamannya karena bahasa yang digunakan juga tidak jauh berbeda dengan apa yang dijelaskan pada saat pre- klinik. bahkan jika terdapat pasien yang membutuhkan alat rontgen pasien langsung di rontgen di IGD karena memiliki alat rontgen portable. IGD juga selalu siaga. tidak hanya terhadap konsulen. sehingga apa yang dijelaskan tidak jauh berbeda dengan yang sudah dijelaskan di pendidikan pre-klinik. Menurut Faris (2017). konsulen. keunggulan yang ada pada RSPAD Gatot Subroto antara lain pasien yang datang berobat lebih banyak pasien dengan kasus penyakit tingkat tinggi. Sebagian besar konsulen sangat mempercayai para staf dan karyawan rumah sakit. hanya saja tidak tersedianya IGD portable (Utami 2017). Sementara menurut Utami (2017). Sementara menurut Faris (2017). Salam. aspek pelayanan sudah hampir sama dengan RSPAD Gatot Subroto. jika co-ass mengajukan pertanyaan mengenai kasus yang didapatkan pada hari itu. paramedis. Prinsip 5S (Senyum. Dari segi pelayanan. sehingga pasien tidak perlu pergi ke ruang rontgen. RSPAD Gatot Subroto memiliki keunggulan antara lain tenaga pengajar atau dokter yang bertugas adalah dokter yang sudah pernah mengajar pada saat pre-klinik. dari segi fasilitas RSPAD Gatot Subroto sdah lebih canggih dan memadai dibanding rumah sakit satelit yang lain. Kemudian. rumah sakit satelit pendidikan . Untuk rumah sakit satelit pendidikan yang lain. laboratorium milik RSPAD Gatot Subroto memiliki pelayanan yang cepat. 4. maupun karyawan rumah sakit. Menurut Faris (2017).

aturan penulisan rekam medis dengan teknik SOAP yaitu: 1. Subjective: Isi dari subjective antara lain keluhan utama yang dikemukakan pasien pada anamnesis. Objective: Objective merupakan hasil temuan dari pemeriksaan fisik terhadap pasien. pemeriksaan lab. mulai dari keluhan utama. 3. 5. Hasil ini dapat berupa hasil yang diharapkan ada pada saat pemeriksaan fisik maupun hasil yang tidak diharapkan ada namun yang dapat melemahkan hipotesis dari penyakit tertentu. 2. Sementara menurut Utami (2017). aturan penulisan rekam medis dengan teknik SOAP. Cara Penulisan Rekam Medis Data pasien yang berobat ke rumah sakit selalu dicatat di rekam medis. Planning). yaitu dengan teknik SOAP (Subjective. Objective: Objective berisi hasil pemeriksaan fisik pasien mulai dari head to toe examination. dan sebagainya. riwayat penyakit keluarga. yaitu: 1. 4. riwayat penyakit sekarang. Planning: Dalam planning berisi perencanaan terapi dan tindakan yang akan diberikan kepada pasien. yang lain memiliki jenis penyakit yang lebih beragam. Subjective: Berisi hasil anamnesis yang didapatkan. sehingga ilmu yang didapatkan lebih banyak dan lebih luas. dan sebagainya kemudian dicocokkan dengan keluhan utama yang diceritakan pasien untuk mendapatkan diagnosis kerja. Assessment: Berisi keterangan diagnosis penyakit saat ini yang diderita pasien berdasarkan isi subjective dan objective dari pasien . Menurut Faris (2017). Assessment: Assessment adalah diagnosis kerja yang dibuat berdasarkan temuan pada saat pemeriksaan fisik. 3. Assessment. 2. baik oleh pasien itu sendiri maupun dari keluarga atau orang lain yang mengantar pasien (alloanamnesis). Objective. riwayat penyakit dahulu. Terdapat aturan yang menjadi panduan dalam penulisan rekam medis.

4. Planning: Planning berisi tentang penatalaksanaan baik berupa terapi ataupun tindakan yang akan dilakukan terhadap pasien. .