LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM FARMAKOKINETIKA DASAR

PERCOBAAN 3
ANALISIS OBAT DALAM CAIRAN HAYATI

Disusun Oleh :

Baiq Deby Cahaya L (I1C015008)

Wulan Astutik (I1C015030)

Amelia Lusiani (I1C015046)

Putri Afridamayanti (I1C015064)

Mega Dewi Legiana (I1C015082)

Gita Damai (I1C015100)

Golongan / Kelompok : B1 / 2

Asisten : Widi Wulandari

Dosen Pembimbing Praktikum : Esti Dyah Utami, M.Sc., Apt

LABORATORIUM FARMASI KLINIK

JURUSAN FARMASI

FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

PURWOKERTO

2017

1

Latar Belakang Metode analisis obat dalam cairan biologis diperlukan untuk perhitungan parameter farmakokinetika. Dr. Ketersediaan hayati suatu obat dapat diukur pada keadaan pasien yang bersangkutan (secara in vivo) dengan menentukan kadar dalam plasma darah setelah mencapai keseimbangan antara serum cairan tubuh (keadaan tunak). Ketersediaan hayati digunakan untuk memberikan gambaran mengenai keadaan dan kecepatan obat diabsorbsi dari bentuk sediaan dan digambarkan dengan kurva kadar – waktu setelah obat diminum dan berada pada jaringan biologik atau larutan seperti darah dan urin. Ada kolerasi yang baik antara kadar obat dalam plasma dengan efek terapi. CR (Ed) 1995). 1988)). Baiq Deby Cahaya Lestari ( I1C015008 ) 2.. UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Jurusan Farmasi Jl. bioekuivalen dan yang lainnya ((Kahn. Gita Damai ( I1C015100 ) Tanggal praktikum : 13 April 2017 Judul Praktikum : Analisis Obat Dalam Cairan Hayati Nama Asisten : Widi Wulandari Nama Dosen Pembimbing Praktikum : Esti Dyah Utami. bioavailabilitas. Suparno Kampus Karangwangkal Purwokerto 53133 Banyumas Jawa Tengah LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM FARMAKOKINETIKA DASAR Kelompok :2 Golongan : B1 Nama Mahasiswa : 1.(Shargel et al. M. Wulan Astutik ( I1C015030 ) 3. Amelia Lusiani ( I1C015046 ) 4. 2 .Sc. Mega Dewi Legiana ( I1C015082 ) 6. Putri Afridamayanti ( I1C015064 ) 5. PENDAHULUAN 1. Apt A.

ada hal-hal penting dalam farmakokinetika yang digunakan sebagai parameter-parameter antara lain yaitu (Syukri. Tetapan (laju) invasi (tetapan absorpsi). Kecepatan obat diabsorbsi c. Perolehan Kembali Perolehan kembali (recovery) adalah suatu tolak ukur efisiensi analisis dan dapat bernilai positive dan negative. bila dihubungkan dengan respon pasien d. Ketersediaan hayati Validasi metode analisis diperlukan karena setiap bahan baku yang akan digunakan atau obat jadi harus diperiksa sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan yang meliputi pemeriksaan fisika dan kimia. Hubungan antara kadar obat dalam darah dengan efektivitas terapi/efektoksik (Anief. Parameter yang diujikan dalam validasi ini adalah : 1. dan total f. ekstra renal. 2002). Luas daerah di bawah kurva (AUC) g. 2. Untuk melihat apakah prosedur dan alat yang digunakan tersebut memadai atau mengetahui apakah personil yang mengerjakan sudah cukup terlatih. b. Dirumuskan sebagai berikut : ????? ??????? Perolehan kembali = ????? ??????ℎ??x 100% Persyaratan yang dituntut bagi suatu metode analisa adalah jika metode tersebut dapat memberikan nilai perolehan kembali yang tinggi (75 – 90%) atau lebih. Bersihan (clearance) renal. 3 . Dasar Teori Dalam sebuah analisis obat dalam cairan hayati. maka perlu dilakukan validasi tersebut. Ikatan protein d. Jumlah atau bagian obat yang diabsorbsi dari bentuk sediaan b. Volume distribusi menghubungkan jumlah obat di dalam tubuh dengan konsentrasi obat (c) di dalam darah atau plasma. Masa kerja obat berada didalam cairan biologik atau jaringan. c. Laju eliminasi dan waktu paruh (t½) e. 2002) : a. Data ketersediaan hayati dapat pula digunakan untuk menentukan : a.

b. dan penentuan presisi ini pada umumnya mencakup pemeriksaan: a. dengan kata lain akurasi ukuran ketepatan dari hasil suatu metode analitik. 4. syarat dari perolehan kembali adalah 95 %-105 %.2.1995). Kesalahan ini dapat berupa kesalahan konstan atau proposional. Kesalah acak identik dengan variabilitas pengukuran dan dicerminkan oleh tetapan variasi. Presisi Presisi adalah kedekatan beberapa nilai pengukuran seri sampel yang homogen pada kondisi normal (sampel yang sama dan diuji secara berurutan). 3. Kesalahan sistematik merupakan tolak ukur inakurasi penetapan kadar. Akurasi Akurasi adalah kesesuaian hasil uji yang didapat dari metode tersebut dengan nilai yang sebenarnya. Selektivitas 4 .1995) : Kesalahan sistematik = 100 – P% Persyaratan yang dituntut bagi suatu metode analisa adalah jika metode tersebut kesalahan acak kurang dari 10%. Akurasi sering dinyatakan sebagai persen perolehan kembali (recovery) dari suatu pengujian terhadap penambahan sejumlah analit dengan jumlah yang diketahui.analis yang berbeda dan sebagainya. hari yang berbeda. Repeatibility yang dinyatakan sebagai hasil presisi dibawah perlakuan yang sama (analisa dan alat yang sama) dalam interval waktu pemeriksaan yang singkat. Reproducibility yang dinyatakan sebagai presisi yang diperoleh dari hasil pengukuran pada laboratorium yang berbeda. Rumus dari kesalahan sistematik adalah (USP. Kesalahan acak (random analytical error) merupakan tolak ukur imprecision suatu analisis. dan dapat bersifat positive /negative. Rumus dari kesalahan acak adalah : ????????? ???? Kesalahan acak = ℎ???? ????−???? x 100% (USP. Intermediate precision yang dilakukan dengan cara mengulang pemeriksaan tersebut dengan menggunakan alat yang berbeda.

spektrofotometer. Tujuan Percobaan Memahami langkah-langkah analisis obat dalam cairan hayati. B. Selektivitas adalah kemampuan metode untuk mengukur dengan tepat dan spesifik suatu analit tertentu disamping komponen-komponen lain yang terdapat dalam sampel. asam sulfamat. 10 µg/ml. C. 50 µg/ml. sulfadiazin. pipa kapiler. Prosedur penetapan kadar Bratton-Marshal 1.diencerkan dengan aquadest ad 100 ml hingga diperoleh kadar 5 µg/ml.dilarutkan dengan NaOH 1N . dan stopwatch. skaple/silet.1%. pipet volumetrik. pipet ukur. tabung reaksi/flakon. CARA KERJA I. Pembuatan larutan stok Sulfadiazin Sulfadiazin .1% . heparin (anti koagulan). Bahan yang digunakan adalah asam trikloroasetat (TCA 5%). kuvet spektrofotometer. dan 75 µg/ml Larutan stok 5 . N-EDTA 0. 3.1995). Selektivitas dilakukan untuk memastikan bahwa hanya senyawa yang diperiksa yang dapat diseleksi tanpa adanya gangguan dari senyawa lain (USP. BAHAN DAN ALAT YANG DIGUNAKAN Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah labu takar 10 ml. sentrifuge. natrium nitrit 0.ditimbang sesuai perhitungan . Penentuan kadar Sulfadiazin A. 25 µg/ml. dan darah (tikus).

dibaca intensitas warna pada spektrofotometer dengan panjang gelombang 546 nm Hasil 6 .5 ml beningan dan diencerkan dengan aquadest sebanyak 2 ml .ditambahkan larutan N.EDTA 0.ditambahkan larutan asam sulfamat sebanyak 0. Pemprosesan sampel darah invivo Darah .didiamkan selama 5 menit dalam keadaan gelap .ditambahkan larutan NaNO2 0. dan 50 µg/ml . 25 µg/ml.dihomogenkan .1% sebanyak 0.dihomogenkan dengan sentrifus 3500 rpm selama 15 menit .EDTA 0. 50 mg/ml .dibaca intensitas warna pada spektrofotometer dengan panjang gelombang 546 nm Hasil 3.ditambahkan 2 ml TCA 5% dengan vortexing 2 menit .ditambahkan sbanyak 250 ml larutan obat dengan konsentrasi 10 mg/ml.1% sebanyak 0.2 ml .ditambahkan 250 µg/ml larutan stok sulfadiazin sehingga kadarnya 10 µg/ml.didiamkan selama 5 menit dalam keadaan gelap .2 ml .2 ml dan didiamkan selama 2 menit .ditambahkan larutan N.diambil sebanyak 250 ml . 25 mg/ml.ditambahkan 2 ml TCA 5%.1ml dan didiamkan selama 3 menit .ditambahkan heparin sebanyak 3-5 tetes .diambil 1.1ml dan didiamkan selama 3 menit .5 ml beningan dan diencerkan dengan aquadest sebanyak 2 ml .2.ditambahkan larutan NaNO2 0.ditambahkan larutan asam sulfamat sebanyak 0. Pembuatan kurva baku internal Blanko 250 µg/ml .2 ml dan didiamkan selama 2 menit . didiamkan selama 2 menit .1% sebanyak 0.diambil 1.1% sebanyak 0.

ditentukan kadar berdasarkan persamaan garis . dan kesalahan sistemik Larutan Sulfadiazin dalam darah (10.dihitung kadar rata-rata dan simpangan bakunya Hasil 7 . 50 µg/ml) .diproses seperti analisis sulfadiazin .9 ml air suling . dibuat persamaan garis menggunakan kuadrat terkecil y = bx+a .diambil 0.1 ml masing-masing kadar dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi berisi 3. kesalahan acak.disediakan. diukur resapan pada panjang gelombang 546 nm . dibuat kurva antara resapan lawan kadar masing-masing . dibuat 3 replikasi dari tiap kadar . B. Membuat kurva baku sulfadiazin Larutan Sulfadiazin 5 s/d 75 µg/ml . Menentukan perolehan kembali. dihitung nilai r2 dari plot tersebut Hasil II. 25.

5 R² = 0. V1 = M2 . V2  50 µg/ml 100 µg/ml V1 = 10 µg/ml .138 10 µg/ml 0.9412 0 0 10 20 30 40 50 60 Konsentrasi 8 . V2 V1 = 1 ml ad 10 ml 100 µg/ml V1 = 50 µg/ml .1387 0.970 50 µg/ml 0. Absorbansi Larutan Baku Standar Kadar Absorbansi 5 µg/ml . 10 ml  5 µg/ml V1 = 5 ml ad 10 ml M1 . 10 ml M1 . HASIL PERCOBAAN 1.159 r = 0.0154 x – 0.5 ml ad 10 ml M1 . V1 = M2 . V1 = M2 . Pengenceran Larutan Baku  75 µg/ml 50 µg/ml V1 = 25 µg/ml . 10 ml  10 µg/ml V1 = 7. 10 ml M1 . V1 = M2 .0154 25 µg/ml 0.669 75 µg/ml . V2 V1 = 5 ml ad 10 ml 100 µg/ml V1 = 75 µg/ml . 10 ml M1 . Pembuatan Larutan Baku 5 mg ad 50 ml = 5 mg/ 50 ml = 5000 µg/ 50 ml = 100 µg/ml 2. V2  25 µg/ml 50 µg/ml V1 = 5 µg/ml . V2 V1 = 1 ml ad 10 ml 3.072 b = 0. D.138 4.0155x . a = -0.0. y = 0. Kurva Baku Kurva Baku 1 Absorbansi y = 0. V1 = M2 .

34 109.3+43.612 48.56 115. Perhitungan  Rata-rata Kadar Sampel 1 : Sampel 3 : 14.36% -9.58+27.085 14.92% 6.7 97.7+48.2 242% -142% I 25 0.62% 13.67 II 25 0.333 30.05% -8.607 48.4 109.92% -7.445 III 10 0.284 27.445 x = 48.57 Sampel 2 : 30.8% IV 10 0.35 II 50 0.2 48.3 96.95% IV 50 0. Sampel ?̅ Kadar Kadar Kesalahan Kesalahan Kel.32% SB = 1. 5.58 122.62+11.38+27.36% acak = 5.4 144% -44 % SB = 5.083 9 .283 27.56+24.6% -9.57 III 50 0.04 11.6% -15.6% 3.4+11.01 108.6% SB = 4.32% -22.278 27.40+27.05% I 50 0.38% acak = 8.62 116.4% 2.985 II 10 0.2% -16.4% Keslahan 48.96 107.2% Keslahan 15.235 24.96 x= x= 4 4 x = 15. Absorbansi Recovery (kadar diketahui terukur Sistematik acak terukur) I 10 0.529 43.693 53.041 11.6% Keslahan 28.013 x= 4 x = 28.083 III 25 0.6% acak = 38.96% IV 25 0.31 86.1+53.

0647 SB =√ SB =√ 3 3 SB = √35.465 59.57 = 8.96 % Sampel 3 ?? Kesalahan Acak = x 100 % ? 4. Simpangan Baku Sampel 1 Sampel 3 ∑(?−?)2 ∑(?−?)2 SB =√ SB =√ (?−1) (?−1) 107.8 % Sampel 2 ?? Kesalahan Acak = x 100 % ? 1.2979 SB =√ 3 SB = √2.63 SB = 5.67 = x 100 % 28.985 = x 100 % 15.38 = x 100 % 48.82 SB = √19.083 = 5.67  Kesalahan Acak Sampel 1 ?? Kesalahan Acak = x 100 % ? 5.7993 SB = 1.985 SB = 4.44 Sampel 2 ∑(?−?)2 SB =√ (?−1) 8.445 = 38.95 % 10 .

1995). kemudian dilarutkan dengan NaOH 1 N hingga homogen setelah itu diencerkan dengan aquades ad 100 ml. Langkah ketiga yaitu pemrosesan sampel darah in vivo dengan mengambil darah Sebanyak 250 µl dan dimasukkan kedalam tabung reaksi yang telah ditetesi heparin. 2006). Setelah itu. Penambahan TCA berfungsi untuk memberikan suasana asam bagi reaksi diazotasi. Hal pertama yang dilakukan yaitu membuat larutan stok sulfadiazin. dan 75 µg/ml. serta merupakan senyawa yang dapat menghentikan kerja enzim yang dapat memetabolisme obat sekaligus akan menyebabkan denaturasi protein plasma. 25 µg/ml. ditambah 250 µl larutan stok sulfadiazine kedalam tabung (10 µg/ml. setelah itu ditambah 2 ml TCA 5 % dan divortexing selama 2 menit. dan 50 µg/ml) dan ditambah 2 ml TCA 5 %. karena sulfadiazine praktis tidak larut dalam air. dalam larutan natrium hidroksida dan dalam larutan amonium hidroksida. sukar larut dalam serum manusia pada suhu 37oC (Depkes RI. Kemudian divortex selama 2 menit untuk mempercepat proses homogenisasi dan di sentrifugasi untuk menyempurnakan pengendapan. kemuadian ditambah 250 µl aquadest dicampur hingga homogeny. dalam larutan kalium hidroksida. sebagai donor proton untuk reaksi selanjutnya. Hal ini bertujuan untuk mengambil obat yang bebas dari protein plasma karena obat yang terikat pada protein plasma tidak akan aktif secara farmakologik sehingga tidak memiliki efek terapeutik atau dengan kata lain akan dapat menyebabkan data hasil pengamatan tidak valid (Anggraeni. 50 µg/ml. 10 µg/ml. TCA akan mengikat protein dan mengendapkannya saat sentrifugasi sehingga keberadaan protein tidak mengganggu pembacaan absorbansi (Lethe dan Syahruddin. 2010).3 mg. Selanjutnya dilakukan pengenceran untuk mendapatkan 5 konsentrasi berbeda yaitu 5 µg/ml. Setelah disentrifus akan didapatkan supernatan cairan bening.A. Cairan bening yang diambil harus tanpa endapan. Penetesan heparin berfungsi untuk mencegah penggumpalan. PEMBAHASAN Praktikum kali ini dilakukan analisis obat dalam cairan hayati. Sebanyak 250 µl darah tikus yang telah diambil dimasukkan kedalam tabung reaksi yang telah ditetesi heparin terlebih dahulu. Pembuatan larutan stok diawali dengan menimbang sulfadiazine sebanyak 5. Langkah kedua yaitu pembuatan kurva baku internal dengan mengambil darah tikus melalui mata tikus secukupnya. Penambahan NaOH dilakukan untuk melarutkan sulfadiazine. 25 µg/ml. Hasil dari langkah kedua 11 . mudah larut dalam asam mineral encer. agak sukar larut dalam etanol dan dalam aseton.

dan 242 %. 2003).dan ketiga. kesalahan system dan kesalahan acaknya.32 %. dan didiamkan selama 3 menit. recovery. 115. kadar rata-rata.36 %. disentrifuge pada kecepatan 3500 rpm selama 15 menit.62 %.92 %. Pada konsetrasi 25 ppm yaitu 122. Mekanisme reaksi diazotasi dan pembentukan senyawa kopling: (Hart. 109. dan 107. 2003).6 %. Setelah itu.2. 109.5 ml dan dilarutkan dengan aquadest 2 ml.3 dan 4 pada konsentrasi 10 ppm yaitu 144 %. Ammonium sulfamat merupakan suatu reduktor sehingga dapat bereaksi redoks dengan HNO2 (Hart. Selanjutnya.1 % sebanyak 0. Pada konsentrasi 50 ppm yaitu 97.2 ml dan didiamkakn selama 5 menit ditempat gelap kemudian dibaca intesitas warna pada spektrofotometer pada panjang gelombang 546 nm. 116.6 %. Hasil % recovery dapat dikatakan baik jika memenuhi persyaratkan rentang recovery yang diterima 12 . dan 108. didiamkan selama 2 menit. masing-masing tabung ditambah larutan NaNO2 0. Praktikum kali ini didapatkan hasil recovery secara berurutan dari kelompok 1.1 ml. NaNO2 akan membentuk NaOH dan HNO2 dengan adanya H2O dalam darah. Lalu.05 %. Reaksi diazotasi yaitu pembentukangaram diazonium yang sangat reaktif. Selanjutnya.5 % sebanyak 0.1 % sebanyak 0.02 ml.6 %. Penambahan NaNO2 ini berfungsi sebagai reaksi diazotasi. ditambahkan larutan N (1-naftil) etilendiamin 0. 96. 86.4 %. kemuadian ditambahkan larutan ammonium sulfat 0.2 %. Terakhir dihitung kadar. diambil beningan dan dimasukkan kedalam tiga tabung masing-masing sebanyak 1.

05 %. Dari hasil yang diperoleh …….95 %. -9.yaitu antara 80-120 % ( Susanti.2. Dari hasil yang diperoleh yang tidak masuk rentang yaitu pada konsentrasi 10 ppm yaitu kelompok 1 dan 4 serta pada konsentasi 25 ppm yaitu kelompok 1 selain itu sedah memasuki rentang % recovery yang baik.9 %. 3. dan -8.96 % dan pada konsentrasi 50 ppm yaitu 8. Kesalahan acak adalah kriteria presisi yang ditanyakan dengan koefisien variasi atau simpangan baku relative yaitu sebesar 2% atau kurang (Harahap.2006). Pada konsentrasi 50 ppm yaitu 2.4 %. -15.3 dan 4 pada konsentrasi 10 ppm yaitu -44 %. Kesalahn acak yang diperoleh pada konsentrasi 10 ppm yaitu 38. dan -7.6 %. Secara keseluruhan recovery yang diperoleh sudah baik.38 %.6 %. Pada konsetrasi 25 ppm yaitu -22. -16. 13. . 13 . 2014).8 %. -9.6 %. dan - 142 %.32 %.36 %. pada konsentrasi 25 ppm yaitu 5. Kesalahan sistematik secara berurutan dari kelompok 1.2 %. Dari hasil yang diperoleh dari setiap konsentrasi tidak ada yang masuk rentang ≤ 2% .

kesalahan acak dari setiap konsentrasi tidak masuk rentang dan kesalahan sistematik dari setiap konsentrasi tiap kelompok…… 14 . presisi dan akurasi  Dari ketiga kriteria tersebut hasil dari % recovery kelompok 1pada konsentrasi 10 ppm dan 4pada konsentrasi 25 ppm tidak masuk rentang .E. KESIMPULAN  Penentuan nilai kriteria yang harus dipenuhi pada suatu metode penetapan kadar yaitu meliputi perolehan kembari (recovery) .

Penetapan kadar Medroksiprogesteron Asetat Dalam Plasma Secara In vitro Dengan KCKT. Pengantar Farmakologi. Yogyakarta. Jakarta. Vol 3 (1) Hart. Analisis Glimepirida dalam Plasma tikus. M. L. 15 . Mutschler. Hakim. Dalam Farmakologi dan Terapi Edisi kelima... Biofarmasetika. dan.D.S. L. Theresia Sinandang. Biofarmasetika dan Farmakokinetika Terapan. Farmakokinetik dan Farmakodinamik: Pemilihan Dosis yang Rasional dan Waktu Kerja Obat Dalam Farmakologi Dasar dan Klinik Edisi IV.. Shargel. Jakarta: Penerbit PT. Penuntun Praktikum Kimia Klinik Dasar. D. Surabaya: Airlangga University Press. The United States Pharmacopeia. 1998.. 2012. United States Pharmacopeia Convention Inc. 2002. 2005.DAFTAR PUSTAKA Anggraeni. ”Skripsi”. Farmakokinetik Klinik Farmakologi dan Terapi Edisi 4.H. Edisi V. 2002. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia Press. UII Press. Setiawati. Formulasi Obat Topikal dengan Dasar Penyakit Kulit. Jakarta: Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Rahardja. Yogyakarta : Bursa Ilmu.. Anief. Washington. 2002. Umar Mansur. Bandung: Penerbit ITB. T. Gunawan. Holford. Christiana dan Syahruddin Kasim.. Suyatna. I. Majalah Ilmu Kefarmasian. dan Yu. 1995. Farmakokinetika.. Ernest.. I.. 2003. Laboratorium Kimia Farmasi. 2006. 1999. Elex Media Komputindo. Gadjah Mada University Press. Jakarta. Yogyakarta.. Harahap. 2009. Volume I. Edisi VI. Syukri Y. Obat-obat Penting : Khasiat. Dinamika Obat.. 1995. Jakarta : Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. A. Penerjemah: Mathilda B. Widianto dan Anna Setiadi Ranti. N. K.C. 2006. Universitas Negeri Syarif Hidayatullah. G. S. Zunilda. Kimia Organik. Farmakologi dan Terapi Edisi 5. Lethe. Efek- Efek Sampingnya. Tjay. Erlangga. Yahdiana. Universitas Hasanuddin.H. 2005. Penggunaan. H. The Nasional Formulari 23. Jakarta: Penerbit Salemba Medika. Cetakan Ketiga. 2010. dan F.B..

16 .