Pemeriksaan HbA1c

HbA1C dapat diukur kadarnya dengan menggunakan beberapa metode, seperti
kromatografi afinitas, metode elektroforesis, immunoassay, atau metode afinitas boronat.
Spesimen/ sampel yang digunakan untuk Pemeriksaan HbA1C adalah darah kapiler atau
vena dengan menggunakan antikoagulan (EDTA, Na sitrat, atau heparin).
Apabila hemoglobin bercampur dengan larutan dengan kadar glukosa sangat tinggi
serta rantai beta molekul hemoglobin mengikat satu gugus glukosa secara irreversibel
(Glikolisasi), dapat terjadi secara spontan dalam sirkulasi dan tingkat glikosilasi ini
meningkat apabila kadar glukosa dalam darah tinggi. Pada orang normal, sekitar 4-6%
hemoglobin mengalami glikosilasi menjadi hemoglobin glikosilat atau HbA1c. Pada kasus
hiperglikemia yang berkepanjangan, dapat meningkatkan kadar HbA1c hingga 18-20%.
Glikosilasi tidak mengganggu kemampuan hemoglobin dalam hal mengangkut oksigen,
akan tetapi kadar HbA1c yang tinggi mencerminkan kurangnya pengendalian diabetes
selama 3-5 minggu sebelumnya. Setelah jumlah kadar normoglikemik menjadi stabil maka
kadar HbA1c kembali normal dalam waktu sekitar 3 minggu.
HbA1c terkandung dalam eritrosit yang hidup sekitar 3 – 4 bulan, maka HbA1c
dapat mencerminkan pengendalian metabolisme glukosa selama 100 – 120 hri sebelumnya.
Hal ini lebih menguntungkan secara klinis karena memberikan informasi yang lebih jelas
tentang keadaan penderita dan seberapa efektif terapi diabetik yang diberikan. Peningkatan
kadar HbA1c > 8% mengindikasikan diabetes mellitus yang tidak terkendali sehingga
menyebabkan penderita berisiko tinggi dapat mengalami berbagai macam komplikasi
jangka panjang seperti nefropati, neuropati, retinopati, dan/atau kardiopati.
Eritrosit yang tua karena berada dalam sirkulasi lebih lama dari pada sel-sel eritrosit
yang masih muda memiliki kadar HbA1c yang lebih tinggi. Penurunan hasil palsu kadar
HbA1c bisa disebabkan oleh penurunan dari jumlah eritrosit total. Pada penderita dengan
gejala hemolisis episodik atau kronis, darah dapat mengandung lebih banyak eritrosit muda
sehingga jumlah kadar HbA1c dapat dijumpai dalam kadar yang sangat rendah. Adanya
Glikohemoglobin total dalam darah merupakan indikator yang lebih baik untuk
pengendalian terhadap penyakit diabetes pada penderita yang mengalami anemia ataupun
kehilangan darah.

1. Persiapan Alat Dan Bahan
a. Alat:
1) I Chamber
2) I Chroma
b. Bahan:
1) Whole Blood
2) Reagen HbA1c

Orang normal : 4. Siapkan: 1) Cardridge 2) Cup reagen 3) Buffer 4) Sample (whole blood) c.0 % . DM tidak terkontrol : > 8.0 % d. Masukan sempel campur 75 ul ke lubang I (bulat). Setelah I chamber siap masukan cardridge kedalam I chamber  menit  keluar tandabintang* tarik cartridge keluar (jangan sampai pol) f.0 % b. 10 ul ke lubang ii (panjang)  timmer otomatis 12 Sembari menunggu inkubasi selesai siapkan alat. g. 2) Waktu timer bunyi lepas cartridge dari I Chamber masukan cartridge ke tempatnya (I Chroma) sampai pol  tekan select  hasil keluar  catat hasil.0 – 6. I Chamber: ON  Tunggu sampai suhu 30°C (sampai bunyi selesai) kurang lebih 15 menit b. 3. Interpretasi Hasil a. Masukan 100 ml buffer ke dalam cup reagen  kocok 10 kali d.2. DM terkontrol lumayan : 7. I Chroma 1) ‘ON’ tunggu tampilan di layar  id chipp masukan  tekan select  maka tempat cartridge akan keluar. DM terkontrol baik : kurang dari 7% c. Masukan ul sampel  kocok 10 kali e. Prosedur kerja a.0 – 8.