Bab 14

3. jelaskan perbedaan antara metode penentuan biaya penuh dengan biaya variabel!

Perbedaan Full Costing dan Variabel Costing
Penentuan harga pokok variabel bermanfaat untuk
pengendalian manajemen dalam jangka pendek, khususnya
untuk perencanaan, pembuatan keputusan, dan pengendalian.
Metode harga pokok penuh memasukkan semua elemen biaya
produksi, baik tetap maupun variabel, ke dalam harga pokok
produk. Metode harga pokok variabel hanya memasukkan
elemen biaya produksi variabel ke dalam harga pokok produk.
Terdapat perbedaan antara metode harga pokok penuh dan
harga pokok variabel. Perbedaan tersebut dapat ditinjau dari
segi elemen harga pokok, besarnya harga pokok persediaan,
susunan laporan laba-rugi, besarnya laba-rugi.
Perbedaan pokok antara metode full costing dan variabel costing sebetulnya terletak pada
perlakuan biaya tetap produksi tidak langsung. Dalam metode full costing dimasukkan unsur
biaya produksi karena masih berhubungan dengan pembuatan produk berdasar tarif (budget),
sehingga apabila produksi sesungguhnya berbeda dengan budgetnya maka akan timbul
kekurangan atau kelebihan pembebanan. Tetapi pada variabel costing memperlakukan biaya
produksi tidak langsung tetap bukan sebagai unsur harga pokok produksi, tetapi lebih tepat
dimasukkan sebagai biaya periodik, yaitu dengan membebankan seluruhnya ke periode dimana
biaya tersebut dikeluarkan sehingga dalam variabel costing tidak terdapat pembebanan lebih
atau kurang.
Adapun unsur biaya dalam metode full costing terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja
langsung dan biaya overhead pabrik baik yang sifatnya tetap maupun variabel. Sedangkan
unsur biaya dalam metode variabel costing terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja
langsung dan biaya overhead pabrik yang sifatnya variabel saja dan tidak termasuk biaya
overhead pabrik tetap.
Akibat perbedaan tersebut mengakibatkan timbulnya perbedaan lain yaitu :

1. Dalam metode full costing, perhitungan harga pokok produksi dan penyajian laporan laba
rugi didasarkan pendekatan “fungsi”. Sehingga apa yang disebut sebagai biaya produksi
adalah seluruh biaya yang berhubungan dengan fungsi produksi, baik langsung maupun
tidak langsung, tetap maupun variabel. Dalam metode variabel costing, menggunakan
pendekatan “tingkah laku”, artinya perhitungan harga pokok dan penyajian dalam laba
rugi didasarkan atas tingkah laku biaya. Biaya produksi dibebani biaya variabel saja, dan
biaya tetap dianggap bukan biaya produksi.

2. Dalam metode full costing, biaya periode diartikan sebagai biaya yang tidak
berhubungan dengan biaya produksi, dan biaya ini dikeluarkan dalam rangka
mempertahankan kapasitas yang diharapkan akan dicapai perusahaan, dengan kata lain
biaya periode adalah biaya operasi. Dalam metode variabel costing, yang dimaksud
dengan biaya periode adalah biaya yang setiap periode harus tetap dikeluarkan atau
dibebankan tanpa dipengaruhi perubahan kapasitas kegiatan. Dengan kata lain biaya
periode adalah biaya tetap, baik produksi maupun operasi.

3. Menurut metode full costing, biaya overhead tetap diperhitungkan dalam harga pokok,
sedangkan dalam variabel costing biaya tersebut diperlakukan sebagai biaya periodik.
Oleh karena itu saat produk atau jasa yang bersangkutan terjual, biaya tersebut masih

4. Biaya Overhead pabrik tetap diperlakukan sebagai period costs dan bukan sebagai unsur harga pokok produk. Dalam metode full costing. Dalam praktiknya. . biaya tersebut langsung diakui sebagai biaya pada saat terjadinya. Laporan laba rugi full costing tidak membedakan antara biaya tetap dan biaya variabel. Metode ini akan menunda pembebanan biaya overhead pabrik tetap sebagai biaya samapi saat produk yang bersangkutan dijual. dibebankan kepada produk atas dasar tarif yang ditentukan di muka pada kapasitas normal atau atas dasar biaya overhead yang sesungguhnya. 4. menggunakan istilah marjin kontribusi (contribution margin). No 4. 2. Jumlah persediaan akhir dalam metode variable costing lebih rendah dibanding metode full costing. yaitu kelebihan penjualan atas harga pokok penjualan. Jika biaya overhead pabrik dibebankan kepada produk atau jasa berdasarkan tarif yang ditentukan dimuka dan jumlahnya berbeda dengan biaya overhead pabrik yang sesungguhnya maka selisihnya dapat berupa pembebanan overhead pabrik berlebihan (over-applied factory overhead). selisih tersebut dapat diperlakukan sebagai penambah atau pengurang harga pokok yang belum laku dijual (harga pokok persediaan). 1. 2. yaitu kelebihan penjualan dari biaya-biaya variabel. dapat terjadi penundaan sebagian biaya overhead pabrik tetap pada periode berjalan ke periode berikutnya bila tidak semua produk pada periode yang sama. variable costing tidak dapat digunakan secara eksternal untuk kepentingan pelaporan keuangan kepada masyarakat umum atau tujuan perpajakan. melekat pada persediaan produk atau jasa. perhitungan laba rugi menggunakan istilah laba kotor (gross profit). Biaya Overhead pabrik baik yang variabel maupun tetap. 6. sehingga biaya overhead pabrik tetap dibebankan sebagai biaya dalam periode terjadinya. Dalam metode full costing. Dalam variabel costing. sehingga tidak terdapat bagian biaya overhead pada tahun berjalan yang dibebankan kepada tahun berikutnya. Sedangkan dalam variabel costing. 5. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dari perbedaan laba rugi dalam metode full costing dengan metode variable costing adalah : 1. sehingga tidak cukup memadai untuk analisis hubungan biaya volume dan laba (CVP) dalam rangka perencanaan dan pengendalian. 3. Menurut metode full costing. Dalam metode variable costing seluruh biaya tetap overhead pabrik telah diperlakukan sebagai beban pada periode berjalan. Alasannya adalah dalam variable costing hanya biaya produksi variabel yang dapat diperhitungkan sebagai biaya produksi. 3.

menggunakan ukuran output keuangan dan standar statis dan benchmarking untuk mengevaluasi kinerja. biaya overhead pabrik variabel dan biaya overhead pabrik tetap. biaya adminstrasi dan umum variabel (variable of general & administative expense). Biaya variabel produksi. N0. biaya digolongkan menjadi: 1. 5. Akuntansi pertanggung jawaban berdasarkan fungsi memfokuskan pada unit organisasi seperti departemen dan pabrik. Penggolongan biaya dalam laporan laba-rugi Pada metode full costing. . Biaya produksi. biaya finansial variabel (variable of financial expense). Biaya ini dikelompokkan ke dalam: . Biaya variabel non produksi. 2. BTKL(direct labor cost) dan BOP tetap (fixed FOH) maupun BOP variabel (variable FOH). No 6. yang meliputi biaya bahan baku. dan menekankan status quo dan stabilitas organisasi. Biaya tetap (fixed costs). yaitu biaya pemasaran variabel (variable of marketing expense). Bab 15 1. meliputi semua biaya yang jumlah totalnya tetap konstan tidak dipengaruhi oleh perubahan volume kegiatan. komponen biaya produksi yang bersifat variabel sebagai unsur harga pokok. . biaya bahan baku. biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik variabel. Pada metode variable costing. meliputi BBB (raw material cost). Biaya non produksi atau biaya periode (period cost). meliputi semua biaya yang tidak termasuk dalam harga pokok produk sehingga harus dibebankan langsung ke laporan laba-rugi periode terjadinya. 2. menggunakan ukuran operasional dan keuangan dan standar dinamis serta menekankan dan mendukung perbaikan dan berkelanjutan. No 4. yaitu: 1. Akuntansi pertanggungb jawaban berdasarkan strategi memperluas jumlah dimensi tanggung jawab dari dua menjadi empat. Biaya variabel (variable costs).11 2 kelang Perbedaan di dalam penyajian laporan laba-rugi antara metode full costing dengan variable costing dapat ditinjau dari segi: a. meliputi semua biaya yang jumlah totalnya berubah secara proporsioanal sesuai dengan perubahan volume kegiatan. biaya digolongkan menjadi dua. Biaya tetap pada konsep variable costing disebut pula dengan biaya periode (period cost) atau disebut pula biaya kapasitas(capacity cost).N0. Dipihak lain. Tidak diperhitungkan biaya overhead tetap dalam persediaan dan harga pokok persediaan akan mengakibatkan nilai persediaan lebih rendah sehingga mengurangi modal kerja. yaitu BBB. Akuntansi pertanggung jawaban berdasarkan aktivitas menambah perspektif proses. akuntansi pertanggung jawaban berdasarkan aktivitas memfokuskan pada proses. BTKL dan BOP variabel. biaya tenaga kerja langsung.

2. 4. Ukuran lag adalah ukuran output. dan pemanfaatan bersama berbagai sumber daya perusahaan. 3. mengurangi biaya tidak langsung. Mereka juga berusaha untuk lebih memanfaatkan basis aktiva tetap. serta penetapan ulang harga produk dan jasa. efisien sumber daya yang langka. para manajer berusaha untuk mengurangi tingkat modal kerja yang dibutuhkan untuk mendukung volume dan bauran bisnis tertentu. ukuran hasil dari usaha di masa lalu (contoh: profitabilitas pelanggan). Tema Strategis Perspektif Finansial Ada tiga tema yang dapat mendorong penetapan strategi bisnis : 1. Bauran dan pertumbuhan pendapatan Bauran dan pertumbuhan pendapatan mengacu kepada berbagai usaha untuk memperluas penawaran produk dan jasa. dan melepas aktiva yang tidak memberikan pengembalian yang memadai sebesar nilai pasarnya. Pemanfaatan aktiva/strategi investasi Untuk tema pemanfaatan aktiva. internal dan eksternal. jangka pendek dan jangka panjang. dan organisasi nirlaba di seluruh dunia untuk kegiatan usaha untuk menyelaraskan visi dan strategi organisasi. Semua tindakan ini memungkinkan setiap unit bisnis untuk memperbesar tingkat pengembalian aktiva perusahaan. Penghematan biaya/peningkatan produktifitas Tujuan penghematan biaya dan peningkatan produktifitas mengacu kepada usaha untuk menurunkan biaya langsung produk dan jasa. pemerintah. .Ukuran lead (penggerak kinerja) adalah faktor-faktor yang menggerakkan kinerja masa depan (contoh: jumlah jam pelatihan karyawan) 5. 8. Balanced Scorecard adalah sebuah perencanaan strategis dan sistem manajemen yang digunakan secara ekstensif dalam bisnis dan industri. dan memantau kinerja organisasi terhadap strategis tujuan. Ukuran objektifadalahukuran yang bisa langsung dihitung dan diversifi kasi(contoh: pangsa pasar). Kata berimbang dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa kinerja organisasi/individu diukur secara berimbang dari dua aspek: keuangan dan non keuangan.sedangkanukuran subjektiflebih sulit dihitung dan lebih bersifat praduga (contoh:kemampuan karyawan) 6. menjangkau pelanggan dan pasar baru. 7. dengan mengarahkan berbagai bisnis baru kepada sumber daya perusahaan. meningkatkan komunikasi internal dan eksternal. 3.2. mengubah bauran produk dan jasa ke arah penciptaan nilai tambah yang lebih tinggi.

Tiga pengukuran hasil utama bagi kemampuan pegawai adalah tingkat kepuasan pegawai. peningkatan kepuasan pelanggan. peningkatan pembelian pelanggan. 14. Peningkatan kemampuan sistem informasi berarti memberikan informasi yang lebih akurat dan tepat waktu pada pegawai sehingga dapat meperbaiki proses dan secara efektif melaksanakan proses baru.9. pemberdayaan dan pensejajaran. Pegawai harusnya tidak hanya memiliki keahlian yang diperlukan namun juga harus memiliki kebebasab. peningkatan retensi pelanggan. persentase pergantian pegawai dan produktivitas pegawai (contohnya pendapatan per pegawai). . motivasi dan inisiatif untuk menggunakan keahlian tersebut secara efektif. peningkatan pangsa pasar. P e n i n g k a t a n k e m a m p u a n Peningkatan motivasi dan Peningkatan kemampuan (1) peningkatan kemampuan pegawai. peningkatan pembelian pelanggan. dan peningkatan profitabilitas pelanggan. Kemampuan pegawai. pen ingkatanretensi pelanggan. 11. peningkatan kepuasan pelanggan. 10. pemberdayaan dan pensejajaran serta (3) peningkatan kemampuan sistem informasi. 13.  Motivasi.dan peningkatan profitabilitas pelanggan. 12. peningkatan pangsa pasar.  Kemampuan sistem informasi. (2) peningkatan motivasi.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.