KAJIAN PERTUMBUHAN STEK BATANG

SANGITAN
(Sambucus javanica Reinw.)
DI PERSEMAIAN DAN LAPANGAN

RITA RAHARDIYANTI

DEPARTEMEN KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA
FAKULTAS KEHUTANAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2005

KAJIAN PERTUMBUHAN STEK BATANG
SANGITAN
(Sambucus javanica Reinw.)
DI PERSEMAIAN DAN LAPANGAN

RITA RAHARDIYANTI

Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kehutanan
pada
Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata
Fakultas Kehutanan
Institut Pertanian Bogor

DEPARTEMEN KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA
FAKULTAS KEHUTANAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2005

Judul Penelitian : KAJIAN PERTUMBUHAN STEK BATANG SANGITAN
(Sambucus javanica Reinw.) DI PERSEMAIAN DAN
LAPANGAN
Nama Mahasiswa : Rita Rahardiyanti
NRP : E 34101029
Departemen : Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata
Fakultas : Kehutanan

Disetujui
Komisi Pembimbing

Ir. Siswoyo, M.Si. Ir. Ervizal A.M. Zuhud, M.S.
Ketua Anggota

Diketahui
Dekan Fakultas Kehutanan

Prof. Dr. Ir. Cecep Kusmana, M.S.

Tanggal Lulus : 15 Desember 2005

RINGKASAN

Rita Rahardiyanti. E 34101029. Kajian Pertumbuhan Stek Batang Sangitan
(Sambucus javanica Reinw.) di Persemaian dan Lapangan. Dibawah
bimbingan : Ir. Siswoyo, M.Si. dan Ir. Ervizal A.M. Zuhud, M.S.

Salah satu metode perbanyakan tanaman secara buatan yang banyak
dilakukan adalah dengan menggunakan stek. Perbanyakan dengan stek adalah
perbanyakan tanaman dengan cara menumbuhkan akar dan pucuk dari potongan
atau bagian tanaman seperti akar, batang, atau pucuk sehingga menjadi tanaman
baru. Keuntungan utama metode stek adalah dapat menghasilkan tumbuhan yang
sempurna dengan akar, batang, maupun daun dalam waktu yang singkat dengan
hasil yang mempunyai sifat serupa dengan induknya.
Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui teknik perbanyakan stek
yang tepat bagi Sangitan (Sambucus javanica Reinw.), terutama mengenai
pengaruh dan efektivitas pemberian Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) IBA (Indole
Butyric Acid), NAA (Naphthalene Acetic Acid), kombinasinya, serta interaksinya
dengan pupuk terhadap pertumbuhan stek. Penelitian ini dilaksanakan di rumah
kaca dan dilanjutkan pengamatannya di lapangan. Perbanyakan bibit di rumah
kaca menggunakan rancangan faktorial 6 x 6 dengan pola acak lengkap, yaitu 6
taraf percobaan untuk faktor ZPT IBA dengan konsentrasi 0, 100, 200, 300, 400,
dan 500 ppm (part per million) serta 6 taraf percobaan untuk faktor ZPT NAA
dengan konsentrasi 0, 100, 200, 300, 400, dan 500 ppm. Tiap perlakuan terdiri
dari 4 ulangan, dan setiap ulangan terdiri dari 2 stek. Jumlah keseluruhan ada 288
stek. Peubah yang diamati meliputi jumlah daun, jumlah tunas, jumlah akar,
panjang akar, persentase hidup, serta kondisi iklim setempat selama pengamatan.
Penanaman stek di lapangan menggunakan rancangan faktorial 6 x 6 x 2 dengan
pola acak lengkap, dengan 2 taraf percobaan untuk faktor pupuk (pupuk kotoran
sapi) yang terdiri dari konsentrasi pupuk 7.5% dan 0%. Tiap perlakuan terdiri dari
2 ulangan, dan setiap ulangan terdiri dari 2 stek. Jumlah keseluruhan ada 288 stek.
Peubah yang diamati meliputi penambahan jumlah daun, penambahan tinggi
tanaman, serta penambahan jumlah cabang.

Nilai respon data dianalisis dengan sidik ragam dalam selang
kepercayaan 95% dan 99%. Data yang menunjukkan respon berbeda nyata dan
berbeda sangat nyata diuji lanjut dengan menggunakan uji lanjut Duncan. Dari
hasil pengamatan di rumah kaca diketahui bahwa pertumbuhan stek terbesar
terjadi pada minggu kedua setelah perlakuan, yaitu sebesar 89.24%. Pada akhir
pengamatan di rumah kaca, jumlah stek yang hidup sebanyak 227 stek atau
sebesar 78.82% dari jumlah keseluruhan stek.
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa pemberian ZPT NAA dan
kombinasi antara ZPT IBA dan NAA di rumah kaca berpengaruh sangat nyata
terhadap pertumbuhan jumlah daun. Konsentrasi ZPT NAA 500 ppm dan
kombinasi antara ZPT IBA 500 ppm dengan NAA 500 ppm memberikan hasil
yang terbaik, yaitu masing-masing sebesar 5-6 helai dan 4-5 helai. Konsentrasi
ZPT IBA 400 ppm merupakan konsentrasi terbaik yang mempengaruhi
pertumbuhan jumlah tunas, yaitu sebesar 1-2 tunas. Konsentrasi ZPT IBA 400
ppm dan kombinasi antara ZPT IBA 400 ppm dan NAA 500 ppm memberikan
hasil yang terbaik terhadap pertumbuhan jumlah akar, yaitu masing-masing
sebesar 10-11 buah. Sedangkan konsentrasi ZPT IBA 100 ppm merupakan
konsentrasi terbaik yang mempengaruhi pertumbuhan panjang akar, yaitu sebesar
27-28 cm. Suhu rata-rata selama pengamatan di rumah kaca mencapai 25.5 0C
dengan kelembaban udara rata-rata mencapai 88.8%.
Pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa konsentrasi ZPT IBA 500
ppm, ZPT NAA 400 ppm, serta interaksinya dengan pupuk memberikan hasil
yang terbaik pada penambahan jumlah daun, yaitu masing-masing sebesar 33-34
helai, 29-30 helai, 28-29 helai, dan 27-28 helai. Konsentrasi ZPT IBA 500 ppm,
ZPT NAA 500 ppm, interaksi antara ZPT IBA 500 ppm dengan pupuk serta
interaksi antara ZPT NAA 400 ppm dengan pupuk merupakan konsentrasi terbaik
yang mempengaruhi penambahan tinggi tanaman, yaitu masing-masing sebesar
68-69 cm, 61-62 cm, 60-61 cm, dan 57-58 cm. Sedangkan penambahan jumlah
cabang tanaman hanya dipengaruhi oleh faktor tunggal pupuk, yaitu 1-2 cabang.

S. Pada tahun 2004 penulis melakukan Praktek Pengenalan dan Pengelolaan Hutan (P3H) di KPH Garut. Siswoyo. Penulis mendapatkan beasiswa SPP pada tahun ajaran 2001/2002. Pada tahun 2005 penulis melakukan Praktek Kerja Lapang Profesi (PKLP) di Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS). lulus pada tahun 1995. RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Salatiga. Selama mengikuti perkuliahan. penulis pernah melakukan kegiatan magang di Laboratorium Lapangan Fakultas Kehutanan IPB pada tahun 2003. Jenjang pendidikan SLTA penulis jalani di SMUN I Salatiga dan berhasil lulus pada tahun 2001. Fakultas Kehutanan. dilanjutkan dengan menempuh pendidikan di SLTPN I Salatiga dan lulus pada tahun 1998. . Jenjang pendidikan formal penulis dimulai dari SDN Sugihan IV. Penulis juga mengemban amanah sebagai bendahara di Asrama Putri Darmaga pada kepengurusan tahun 2004 dan 2005. Jawa Tengah. penulis melakukan penelitian dan penyusunan skripsi dengan judul ”Kajian Pertumbuhan Stek Batang Sangitan (Sambucus javanica Reinw.) di Persemaian dan Lapangan” dibawah bimbingan Ir. International Forestry Student Association (IFSA). pada tanggal 13 Oktober 1982. M. dan beasiswa PPA pada tahun ajaran 2003/2004 dan tahun ajaran 2004/2005. Pada tahun yang sama penulis lulus seleksi dan diterima di Institut Pertanian Bogor melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) pada Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan. Ervizal A. Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan pada Fakultas Kehutanan IPB. M.Si. Penulis pernah melakukan kegiatan magang di Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) pada tahun 2002. tergabung dalam UKM Koperasi Mahasiswa. penulis menjadi asisten dosen mata kuliah Dendrologi pada tahun ajaran 2003/2004 dan 2004/2005. Selain itu. serta Kelompok Pemerhati Goa (KPG) HIMAKOVA. M. Zuhud. dan Ir. Penulis merupakan putri kedua dari empat bersaudara dari keluarga Bapak Dali Mursito dan Ibu Imronah Estiningsih. kepengurusan DKM Ibaadurrahmaan pada periode 2002/2003. Penulis aktif di kepengurusan KSR PMI Unit I IPB pada periode 2002/2003.

Bapak Dr. Supriyanto. penulis banyak mendapatkan bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. M. Ervizal A.S. Ir. dan segenap keluarga atas doa dan pengertiannya. 4. Pihak-pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Penulis berharap semoga tulisan ini bermanfaat bagi pembangunan masyarakat luas pada umumnya dan bagi pembangunan kehutanan pada khususnya. Ayah. DEA selaku dosen penguji dari Departemen Manajemen Hutan dan Bapak Ir.Si. M. KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan anugerah-Nya penulis dapat menyelesaikan tugas akhir ini yang merupakan syarat kelulusan program sarjana. Bapak Dr. Bunda. 8. Zuhud. Asrama Putri Darmaga atas segala fasilitas dan bantuannya. 5. Hasil analisis penelitian tersebut dituliskan dalam skripsi yang berjudul ”Kajian Pertumbuhan St ek Batang Sangitan (Sambucus javanica Reinw. Segenap civitas akademika IPB.S. M.M. Ir. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada : 1. Siswoyo. 7. selaku dosen pembimbing skripsi.) di Persemaian dan Lapangan”. Bapak Ir. 2. Bogor. Rekan-rekan cova ’38 dan keluarga besar Fakultas Kehutanan IPB. Semoga Allah SWT berkenan mengaruniakan balasan yang lebih baik atas segala bantuan yang telah diberikan kepada penulis. Selama penelitian dan penyusunan skripsi. Bedyaman Tambunan selaku dosen penguji dari Departemen Hasil Hutan. Desember 2005 Penulis . selaku dosen pembimbing akademik. Burhanuddin Masy’ud. 6. dan Bapak Ir. 3.

3 2............. TINJAUAN PUSTAKA A............................................................................................................................................................ 12 C............................................. 14 1..... Deskripsi Sangitan (Sambucus javanica Reinw............... 13 D.......................... Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Stek............. Keuntungan Perbanyakan Tumbuhan dengan Cara Stek..... Perbanyakan Bibit di Rumah Kaca ............................... Zat Pengatur Tumbuh. Penanaman Bibit di Lapangan......... METODOLOGI A...... 1 B.......... Tempat dan Waktu ................ 12 2........... 12 1.......................................................... iv DAFTAR GAMBAR................................................. 9 III......................................... .................... 2 C................................... 6 C........................ 2 II............................................................. 5 B......................................................................................... 8 E........ 3 1..................................................................... 14 ...................... 12 B........................................................................................................................................... Bahan dan Alat .............................................................................................................. dan Efek Farmakologis .... v DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................................... Latar Belakang................................................... Tujuan Penelitian .............. PENDAHULUAN A...... Rancangan Percobaan dan Analisis Data ..... 7 D............ Persiapan Penelitian............... Pupuk .. Manfaat Penelitian ............................ DAFTAR ISI KATA PENGANTAR................ 12 3... 8 F....................................... 5 3............. Kegunaan Sangitan ...... vi I...................... .............. Perbanyakan Tumbuhan dengan Cara Stek....................... ii DAFTAR TABEL ....................................................... 5 4. Taksonomi dan Morfologi............ Kandungan Kimia..........)....................... i DAFTAR ISI................................... Metode........... Habitat dan Penyebaran...... Perbanyakan Bibit di Rumah Kaca......................................................... Sifat Kimia.......

......................................................................... Pengamatan di Rumah Kaca.... 18 C............... 15 3............................................................................... 31 DAFTAR PUSTAKA.............................................................. 17 B.... 31 B....................... 2........................................................................ 25 V.............. Pengamatan di Lapangan......... Kesimpulan............................. Saran.................................................... 16 IV............................... HASIL DAN PEMBAHASAN A......................................................... Kondisi Umum.......... 32 LAMPIRAN............................................. Analisis Data....... 35 ................................ KESIMPULAN DAN SARAN A.. Penanaman di Lapangan.......................................................................

.... 11 ...... Kadar Rata-rata Unsur Hara yang Terdapat dalam Pupuk Kandang ......... DAFTAR TABEL No Teks Halaman 1.......

............. Penurunan persentase stek hidup Sangitan di rumah kaca... Sangitan (Sambucus javanica Reinw... 21 7............ 28 14......................................... Pengaruh ZPT IBA terhadap rata-rata jumlah daun di lapangan............... Rata-rata penambahan jumlah tunas Sangitan di rumah kaca ....... 30 19............. Pengaruh ZPT NAA terhadap rata-rata jumlah cabang di lapangan....... 22 8.............................................. Kondisi perakaran Sangitan pada berbagai perlakuan .... 28 16............................. 29 17.............. Pengaruh pupuk terhadap rata-rata tinggi tanaman di lapangan............................................. Pengaruh ZPT NAA terhadap rata-rata jumlah daun di lapangan..................... 24 10................... 28 15..................... Pengaruh ZPT IBA terhadap rata-rata jumlah cabang di lapangan .... 30 ......... 4 2.................... Pengaruh ZPT IBA terhadap rata-rata tinggi tanaman di lapangan.............. 21 6............... 26 12................ Pengaruh pupuk terhadap rata-rata jumlah cabang di lapangan ............ Rata-rata penambahan jumlah daun Sangitan di rumah kaca...... 23 9.............. DAFTAR GAMBAR No Teks Halaman 1........... Pengaruh ZPT NAA terhadap rata-rata tinggi tanaman di lapangan ................. Grafik hubungan antara ZPT terhadap rata-rata panjang akar ............................................. ) ... .................. 18 3........................... Kondisi pertumbuhan Sangitan pada berbagai perlakuan di lapangan ........... Rumus Bangun ZPT IBA dan NAA ........................... 26 13....................... Grafik hubungan antara ZPT terhadap rata-rata jumlah akar............... Pengaruh pupuk terhadap rata-rata jumlah daun di lapangan .....19 4... 26 11......... Kondisi pertumbuhan Sangitan pada berbagai perlakuan.......... 20 5.............. .................... 30 18...

......... 40 15..................................... DAFTAR LAMPIRAN No Teks Halaman 1..................................... Tabel sidik ragam pengaruh ZPT IBA............... 41 18........... 36 3. dan kombinasinya terhadap pertumbuhan jumlah daun di rumah kaca.............. NAA....... kombinasinya....................................... 36 4.................................... Tabel sidik ragam pengaruh ZPT IBA...... Uji Lanjut Duncan ZPT IBA dan NAA terhadap pertumbuhan jumlah akar di rumah kaca ................... Uji Lanjut Duncan ZPT NAA terhadap penambahan jumlah daun di lapangan ................................................................................................ 40 17................................. Uji Lanjut Duncan pupuk terhadap penambahan jumlah daun di lapangan ................... 37 5............................ Tabel sidik ragam pengaruh ZPT IBA............... Uji Lanjut Duncan ZPT NAA terhadap pertumbuhan jumlah daun di rumah kaca ....................................................... dan kombinasinya terhadap pertumbuhan jumlah akar di rumah kaca.......................................................... 39 13.......................................... Uji Lanjut Duncan ZPT IBA terhadap pertumbuhan jumlah akar di rumah kaca ............... NAA................................................ NAA....... 37 6..... NAA.................. 41 ............ 40 16....................................................................... kombinasinya..... dan kombinasinya terhadap pertumbuhan panjang akar di rumah kaca....................... Uji Lanjut Duncan kombinasi ZPT IBA dan NAA terhadap pertumbuhan jumlah daun di rumah kaca .................... Uji Lanjut Duncan ZPT IBA terhadap pertumbuhan panjang akar di rumah kaca ............................... Uji Lanjut Duncan ZPT IBA terhadap pertumbuhan jumlah daun di rumah kaca ......... 39 11.......................................... Tabel sidik ragam pengaruh ZPT IBA..... Tabel sidik ragam pengaruh ZPT IBA dan pupuk terhadap penambahan jumlah daun di lapangan ................................ Uji Lanjut Duncan ZPT NAA dan pupuk terhadap penambahan jumlah daun di lapangan............ 37 7. 36 2...................................................................... 38 8....................................................... Tabel sidik ragam pengaruh ZPT IBA............................................... dan interaksinya dengan perlakuan pupuk terhadap penambahan tinggi tanaman di lapangan ... Tabel sidik ragam pengaruh ZPT IBA dan NAA dan kombinasinya terhadap pertumbuhan jumlah tunas di rumah kaca ... 40 14........ Uji Lanjut Duncan ZPT IBA terhadap penambahan tinggi tanaman di lapangan....................................................... dan interaksinya dengan perlakuan pupuk terhadap penambahan jumlah daun di lapangan .... 39 12............................. Uji Lanjut Duncan ZPT IBA terhadap penambahan jumlah daun di lapangan ....... NAA................. 39 10................................ 38 9.......

..................................... Uji Lanjut Duncan pupuk terhadap penambahan tinggi tanaman di lapangan..................................................... Uji Lanjut Duncan ZPT IBA dan pupuk terhadap penambahan tinggi tanaman di lapangan.................................................................................................................................... Uji lanjut ZPT NAA terhadap penambahan tinggi tanaman di lapangan ........................................................................................................... dan interaksinya dengan perlakuan pupuk terhadap penambahan jumlah cabang di lapangan............................................. Data Klimatologi Darmaga Bogor tahun 2004-2005 ............ Uji Lanjut Duncan ZPT NAA dan pupuk terhadap penambahan tinggi tanaman di lapangan....................................... 43 26........................... NAA.... 42 22... 41 20..................... kombinasinya........ Tabel sidik ragam pengaruh ZPT IBA...... 45 ..................................................... 42 23...... 41 21..... 44 27.............. Keadaan Kelembaban di Rumah Kaca (%) ................................. Uji Lanjut Duncan pupuk terhadap penambahan jumlah cabang di lapangan........ 42 24.......... 42 25...........................19......... Keadaan Suhu di Rumah Kaca ( 0 C ) ..

I. Spesies ini merupakan tumbuhan asli Indonesia. diantaranya adalah diuretik. . dapat dihasilkan sejumlah besar bibit tanaman yang seragam dalam ukuran tinggi. pembengkakan. berbentuk perdu. yang dalam jumlah sedikit dapat mendukung. ketahanan terhadap penyakit. 1996). et al. Di dalam dunia tumbuhan. 1973). Keuntungan utama perbanyakan tumbuhan dengan cara stek adalah dapat menghasilkan tumbuhan yang sempurna dengan akar. Dalimartha. spesies ini jarang diperhatikan banyak orang. Spesies ini juga bisa dimanfaatkan sebagai tanaman hias di pekarangan dan juga sebagai tanaman pagar (Wijayakusuma. mudah. 1996). ZPT tanaman adalah senyawa-senyawa organik selain nutrisi tumbuhan. PENDAHULUAN A. dan cepat adalah dengan melakukan penyetekan. Menurut Hutapea (1994). dan batang dalam waktu relatif singkat serta bersifat serupa dengan induknya. Latar Belakang Sangitan (Sambucus javanica Reinw.. spesies ini mengandung berbagai macam minyak atsiri. Penyetekan dapat didefinisikan sebagai suatu perlakuan pemisahan atau pemotongan beberapa bagian dari tumbuhan seperti batang. menghambat. 2003). analgesik. Di Indonesia. akar. serta dapat mempengaruhi setiap proses fisiologi tumbuhan. Menurut Sinaga (1987). Salah satu metode perbanyakan Sangitan yang sederhana. namun sejauh ini pemanfaatannya belum dilakukan oleh masyarakat luas secara optimal. dan Wirian. serta dapat melancarkan sirkulasi darah. Berbagai bagian dari spesies ini dapat dimanfaatkan sebagai obat. Sangitan memiliki berbagai macam manfaat. zat pengatur tumbuh (ZPT) berperan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan tersebut.) termasuk kedalam famili Caprifoliaceae. dan mempunyai ketinggian antara satu sampai dengan tiga meter (Wijayakusuma. daun. Masyarakat sering menganggap spesies ini sebagai gulma (Afifah. maupun sifat tanamannya. daun. Dengan mempergunakan bahan yang sedikit. umur. dan tunas dengan maksud agar bagian- bagian tersebut membentuk akar (Rochiman dan Harjadi. Spesies ini dapat dimanfaatkan untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit.

persentase hidup. NAA. B. Sampai saat ini belum diketahui dengan jelas ZPT yang paling efektif untuk merangsang pertumbuhan akar stek batang Sangitan. penelitian mengenai pengaruh jenis ZPT IBA. Mengetahui pengaruh ZPT IBA. serta kombinasinya terhadap pertumbuhan jumlah daun. 1947). Oleh karena itu. dan kombinasinya perlu dilakukan untuk menunjang keberhasilan dalam budidaya Sangitan. NAA. NAA. Mengetahui pengaruh ZPT IBA. tinggi tanaman. Tujuan Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk : 1. C. kombinasinya. dan perakaran stek Sangitan di rumah kaca. serta perlakuan pemupukan di lapangan terhadap penambahan jumlah daun. Masalah pembentukan akar merupakan masalah pokok dari perbanyakan vegetatif. dan jumlah cabang stek Sangitan. Dengan adanya ZPT IBA dan NAA yang dapat merangsang pertumbuhan akar. NAA. . 2. Manfaat Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai pengaruh pemberian ZPT IBA. Stek yang diberi perlakuan ZPT akan membentuk akar lebih cepat dan mempunyai kualitas sistem perakaran yang lebih baik daripada yang tanpa perlakuan ZPT (Avery dan Johnson. maka perbanyakan dengan stek seringkali menggunakan ZPT tersebut. serta perlakuan pemupukan dalam perbanyakan Sangitan dengan cara stek batang. kombinasinya. jumlah tunas.Penggunaan ZPT dalam pembiakan tanaman dalam stek adalah untuk mengatasi masalah pembentukan akar. terutama untuk cara stek.

Halemaniri (Tidore). Shuo diao. Phyteuma bipinnata Lour. Kelak Nasi. Deskripsi Sangitan (Sambucus javanica Reinw.) 1. Sambucus canadensis L. Brobos Kebo (Jawa). Sambucus thunbergiana Bl. tidak berambut.. ujung runcing. Sangitan mempunyai klasifikasi sebagai berikut : Kingdom : Plantae Divisio : Spermatophyta Sub Divisio : Angiospermae Class : Dicotyledoneae Ordo : Rubiales Family : Caprifoliaceae Genus : Sambucus Species : Sambucus javanica Reinw. Sangitan (Melayu). Abur (Aceh). warna .. Nama Simplisia : Sambuci Javanicae Herba (Herba Sangitan). Vlier (Belanda). Nama Asing : Javanese Elder (Inggris). lebar 3-5 cm.. Nama Umum/Dagang : Kerak Nasi. Taksonomi dan Morfologi Menurut Hutapea (1994). Helaian anak daun bertangkai.. Memiliki 5-9 anak daun yang letaknya berhadapan (opposite). Sinonim Sangitan menurut Dalimartha (2000) adalah : Sambucus chinensis Lindl. Panjang daun 8-15 cm. Babalat (Bengkulu). tepi daun bergerigi.. Nama Daerah : Kerak Nasi (Sunda). TINJAUAN PUSTAKA A. Pa-so ma (China). Phyteuma cochinchinensis Lour. Sambuci Javanicae Radix (Akar Sangitan). Daun Sangitan termasuk daun majemuk yang letak daunnya berseling. berbentuk ellips memanjang sampai lanset. Sambucus ebuloides Desv. II.

pertulangan daun menyirip. Dalimartha (2000) menambahkan bahwa batang Sangitan tegak dan berkayu. kelopaknya berbentuk bintang. Afifah (2003) berpendapat bahwa bunga Sangitan berwarna putih agak krem. 1996). ujung daun runcing. 2003). Afifah (2003) berpendapat bahwa daun Sangitan memiliki daun yang unik. lebar 2-3 cm. Habitus Sangitan berupa perdu dengan tinggi antara 3-5 meter (Sastrapradja. ujungnya meruncing membuat daunnya semakin tampak sempit. dan sekilas bentuknya mirip payung. Perdu Sangitan mempunyai batang berbentuk bulat dan mempunyai banyak cabang (Wijayakusuma. Perdu Sangitan mempunyai ranting yang saling berdesakan (Afifah. Daun berbentuk lanset dengan panjang 3-5 cm. Gambar 1. ibu tulang daun bagian bawah menonjol. Menurut Hutapea (1994). muncul di bagian pucuk tanaman.. Bentuk mahkota bunga seperti bintang. et al. kepala sari berbentuk bulat. pangkal daun Sangitan meruncing. letaknya berhadapan. 1994). Bunga Sangitan berkelamin dua. pertumbuhannya mengarah keatas. 1996).. Bunga ini berkumpul membentuk payung majemuk dan baunya harum (Wijayakusuma. serta permukaan daun terasa halus.) Bunga Sangitan berukuran kecil dengan kelopak berwarna putih kekuningan. 1996).. dan permukaan bawah hijau muda (Wijayakusuma. tangkai putik berbentuk silindris. . Sangitan (Sambucus javanica Reinw. Lebar daun sekitar 2-3 cm.permukaan atas hijau tua. sehingga kelihatan menonjol. et al. et al. dan helaiannya seperti akan menutup. 1986). dan mahkotanya berwarna putih dengan bentuk corong (Hutapea.

Menurut Hutapea (1994). Kegunaan Sangitan Sangitan memiliki berbagai macam manfaat. Buah Sangitan berwarna hitam bila telah masak.. 1996). 2000). á–amyrin palmitate. teksturnya keras. Batang dan daunnya digunakan untuk . buah Sangitan berbentuk bulat. dan akhirnya berwarna hitam apabila telah masak (Kloppenburg dan Versteegh. 2. termasuk kedalam golongan buah buni. encok (rematik) dan pegal linu. ursolic acid. Bagian-bagian tanaman yang akan digunakan (akar. 3. et al. Afifah (2003) menyatakan bahwa Sangitan dapat ditemukan tumbuh liar di pinggir- pinggir sawah dan di dalam hutan. pinggiran kota pada tanah terlantar. serta sifatnya hangat. Bentuknya bulat. 1988). Akar Sangitan digunakan untuk menyembuhkan frakture (tulang patah). et al. 1994).. Kandungan Kimia. dan Efek Farmakologis Kandungan kimia yang terdapat pada Sangitan antara lain essential oil. Buah Sangitan mengandung saponin dan flavonoid. luka terpukul. Seluruh bagian spesies ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan obat-obatan. mempunyai diameter 3-4 mm. sedang pada bagian daun dan akarnya mengandung saponin dan tanin (Hutapea. Biji buahnya berbentuk lonjong. KNO3.000 kaki diatas permukaan laut. Buahnya mula-mula berwarna kuning. bunga. dan berwarna ungu. batang. dan tanin. 4. sakit kuning. 1996). Spesies ini umumnya menyukai tempat-tempat yang tidak terlalu kering atau terlalu lembab (Wijayakusuma. 1996). â–sitosterol. Buah Sangitan berbentuk lonjong dan keras (Dalimartha. dan buah) dijemur sampai kering jika akan disimpan (Dalimartha. Kloppenburg dan Versteegh (1988) mengemukakan bahwa spesies ini hidup secara liar diatas 4. Habitat dan Penyebaran Sangitan merupakan tanaman asli Indonesia yang dapat ditemukan pada dataran rendah sampai dengan ketinggian 1. Biji buah Sangitan berjumlah 1-3 buah (Wijayakusuma.. Rasa Sangitan manis dan sedikit pahit. kemudian menjadi hijau.000 mdpl. 2000). dan warnanya ungu. Sangitan banyak ditemukan tumbuh liar di daerah pegunungan. Sifat Kimia. daun. Spesies ini masuk meridian hati (Wijayakusuma. pembengkakan. et al.

disentri. Jika bahan stek ditanam pada kondisi yang menguntungkan untuk beregenerasi. Stek merupakan bagian alat hara yang dipotong atau dipisahkan dari induknya yang kemudian dapat tumbuh menjadi tanaman baru (Tjitrosoepomo. sehingga dapat ditanam sebagai tanaman hias. Roshetko. kulit terbakar sinar matahari. stek merupakan bagian dari batang atau bagian lain tanaman. luka terpukul. sakit pada tulang. Soerianegara dan Djamhuri (1979) mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan stek adalah pembiakan tanaman dengan menggunakan bagian vegetatif yang dipisahkan dari pohon induknya. Perbanyakan Tumbuhan dengan Cara Stek Menurut Kamus Pemuliaan Pohon (2004). batang. Sangitan mempunyai bentuk bunga yang menarik. maka bahan stek tersebut akan berkembang menjadi tanaman yang sempurna. Menurut Purnomosidhi. Suparman. Pembiakan dengan cara ini sering dipergunakan untuk menanggulangi tanaman-tanaman yang sulit diperbanyak dengan menggunakan biji. spesies ini dapat dimanfaatkan sebagai tanaman pagar (Wijayakusuma.. beri-beri. 1996). Selain itu. penyetekan merupakan suatu perlakuan pemisahan atau pemotongan beberapa bagian dari tumbuhan seperti batang. jika diakarkan akan menghasilkan tanaman yang utuh. Bunganya digunakan untuk menyembuhkan freckles (bercak hitam di wajah). rubella. pencahar dan perangsang muntah. radang saluran napas kronis. et al. perbanyakan tanaman dengan stek merupakan perbanyakan tanaman dengan cara menumbuhkan akar dan pucuk dari potongan atau bagian tanaman seperti akar. 1996). Menurut Rochiman dan Harjadi (1973). Seluruh bagian tanamannya dapat dimanfaatkan sebagai obat kram/kejang pada kaki. atau pucuk sehingga menjadi tanaman baru. et al.menyembuhkan bengkak karena penyakit ginjal. dan tunas dengan maksud agar bagian-bagian tersebut membentuk akar. 2001). dan Mulawarman (2002). menghaluskan kulit. B. dan pembengkakan (Wijayakusuma. akar. Buahnya digunakan untuk menyembuhkan diuretik (peluruh kencing). erysipelas (infeksi kulit akut yang disebabkan oleh Streptococcus sp). daun. pembersih darah. saraf mudah terangsang. Bahan stek diambil dari bagian pohon yang belum berkayu terlampau ..

Hartana. Permasalahan yang dihadapi dalam perbanyakan tanaman dengan cara stek meliputi berbagai macam aspek. dan Sudiarta (1980) mengemukakan bahwa stek batang banyak dipraktekkan pada tanaman tidak berkayu. yaitu stek akar. Stek yang menggunakan batang sebagai bahan stek sangat menguntungkan karena mempunyai persediaan makanan yang memadai (Wattimena. dan stek tunas atau stek mata. tempat pertumbuhan dan pemeliharaan. pemilihan bibit dan aplikasinya dalam penanaman di lapangan. Faktor tanaman. meliputi : macam bahan stek. penggunaan ZPT. mempunyai pertumbuhan bunga yang bagus. maka akar-akar akan tumbuh dari bagian pangkal dan kuncup yang paling atas akan tumbuh menjadi tajuk. Faktor pelaksanaan. Panjang stek antara 5-10 cm. Pemotongan tersebut sebaiknya menggunakan pisau yang tajam (Atjung. stek batang. Stek dapat dibedakan menurut bagian tanaman yang diambil untuk bahan stek. meliputi : perlakuan sebelum pengambilan bahan stek. Bahan stek dipotong pada bagian dekat daun. Ketersediaan air. meliputi : media pertumbuhan. Stek batang terdiri dari potongan batang sepanjang 10-30 cm atau lebih dengan buku-buku dan kuncup-kuncup lateral. Tjitrosomo. kelembaban. media perakaran. C. waktu pengambilan stek. Djaelani. stek daun atau stek tunas daun. dan aspek cahaya. Jika potongan-potongan itu ditanam dalam tanah. 1975). 1988). kandungan bahan makanan stek. dan berdaun lebat. temperatur. yaitu faktor tanaman. Bahan stek tersebut sebaiknya diambil dari pohon induk yang subur.keras. 1988). karena di lokasi tersebut berkumpul banyak cadangan makanan. umur bahan stek. serta jenis dan konsentrasi hormon yang akan dipergunakan untuk memperoleh hasil yang optimal (Subiakto. . Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Stek Rochiman dan Harjadi (1973) mengemukakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi penyetekan dapat digolongkan menjadi tiga bagian. pemotongan stek dan pelukaan. faktor lingkungan. dan faktor pelaksanaan. Faktor lingkungan. Harran. diantaranya adalah pemilihan bahan stek. Hal ini memudahkan terbentuknya akar di bagian tersebut. kebersihan alat pemotong. adanya tunas dan daun pada stek. dan pembentukan kalus.

Bibit tanaman yang didapatkan akan mempunyai kesamaan didalam ukuran tinggi. Keuntungan lain yang bisa dicapai adalah pengaruh terhadap karakteristik. 1973). etilen. 1960). dapat dihasilkan sejumlah besar bibit tanaman yang seragam. jenis tanaman. umur. dan batang dalam waktu relatif singkat. serta bersifat serupa dengan induknya (Rochiman dan Harjadi. pemanjangan sel. Subiakto (1988) mengemukakan bahwa keuntungan pembiakan tanaman secara vegetatif terutama dengan cara stek adalah mudahnya mendapatkan bahan biakan. Dengan material yang sedikit. umur pohon induk. dan genetik pada keturunannya. Zat Pengatur Tumbuh Zat pengatur tumbuh tanaman adalah senyawa-senyawa organik selain nutrisi tumbuhan. Bahan biakan tersebut dapat dikumpulkan setiap saat pada waktu yang diperlukan. D. Keuntungan Perbanyakan Tumbuhan dengan Cara Stek Metode perbanyakan tumbuhan dengan stek banyak memberikan keuntungan. giberelin. Menurut Abidin (1993). fisiologis. Selanjutnya dikemukakan bahwa zat pengatur tumbuh didalam tanaman terdiri dari lima kelompok. E. Metode stek dapat menghasilkan tanaman yang sempurna dengan akar. hormon tumbuhan (plant hormone) adalah zat organik yang dihasilkan oleh tumbuhan.kandungan bahan makanan. atau . serta dapat mempengaruhi setiap proses fisiologi tumbuhan (Sinaga. yaitu auksin. Auksin adalah senyawa yang dicirikan oleh kemampuannya dalam mendukung terjadinya perpanjangan sel. jenis kelamin tanaman. musim. ketahanan terhadap penyakit. sitokinin. dan inhibitor dengan ciri khas dan pengaruh yang berlainan terhadap proses fisiologis. bagian tanaman. Giberelin adalah senyawa yang menstimulasi pembelahan sel. daun. Hormon biasanya bergerak dari bagian tanaman yang menghasilkan menuju ke bagian tanaman lainnya. dan sifat tanamannya. 1987). menghambat. yang dalam konsentrasi rendah dapat mengatur proses fisiologis. dan adanya perlakuan ZPT juga mempengaruhi pertumbuhan stek (Kramer dan Kozlowsky. yang dalam jumlah sedikit dapat mendukung. Karakteristik ini adalah tidak terjadi perubahan susunan genetik dan dapat mempertahankan karakteristik fisiologis yang diturunkan dari induk tanaman.

Nyakpa. 1947). Untuk mengatasi masalah tersebut. atau secara kualitatif mengubah pertumbuhan dan perkembangan dengan mempengaruhi proses fisik tanaman. IBA dan NAA merupakan auksin sintetis yang banyak digunakan untuk merangsang perakaran. Penggunaan ZPT dalam pembiakan tanaman dalam stek adalah untuk mengatasi masalah pembentukan akar. Sejumlah besar tanaman baik yang berkayu maupun yang tidak. Unsur-unsur pupuk yang terdiri dari nitrogen. kompak. Etilen merupakan senyawa yang sangat sederhana. teknik baru dalam pembiakan tanaman telah memanfaatkan zat pengatur tumbuh untuk merangsang perakaran stek. mudah dikembangbiakkan dengan stek. Namun masih ada sejumlah tanaman yang sukar dibiakkan dengan cara stek. Penggunaan zat pengatur tumbuh ini menyebabkan pembentukan akar lebih cepat dan panjang. Hal ini sesuai dengan pendapat Moore (1979) yang mengatakan bahwa zat pengatur tumbuh tanaman adalah senyawa organik bukan nutrisi yang dalam jumlah sedikit atau konsentrasi rendah dapat mendorong. Pada tahun 1935. Stek yang diberi perlakuan ZPT akan membentuk akar lebih cepat dan mempunyai kualitas sistem perakaran yang lebih baik daripada yang tanpa perlakuan ZPT (Avery dan Johnson. Pemupukan merupakan usaha penambahan bahan kedalam tanah . Zat pengatur tumbuh IBA (Indole Butyric Acid) dan NAA (Naphthalene Acetic Acid) termasuk kedalam golongan auksin. F. Bahkan ada yang sama sekali tidak dapat berakar. 1963). Nugroho. dilakukan usaha penambahan unsur-unsur tersebut kedalam tanah melalui pemupukan (Hakim. Selanjutnya dikemukakan bahwa auksin merupakan salah satu ZPT yang berperan penting pada proses pertumbuhan dan perkembangan suatu tanaman.keduanya. Hong dan Bailey. 1986). menghambat. ZPT ini mempunyai peranan dalam pematangan buah. membentuk suatu sistem perakaran yang kuat. dan menyerabut (Audus. Pupuk Tanaman membutuhkan paling tidak 13 unsur hara penting yang diperoleh dari dalam tanah. Diha. Sitokinin adalah senyawa yang mendukung terjadinya pembelahan sel. fosfor. Inhibitor berfungsi menghambat dalam proses biokimia dan fisiologis bagi aktivitas keempat zat pengatur tumbuh sebelumnya. dan kalium sering sekali mengalami defisiensi didalam tanah. Lubis.

dengan tujuan untuk menyediakan unsur-unsur penting bagi pertumbuhan tanaman dalam bentuk ion-ion dari unsur hara yang dapat diadsorbsi tanaman (Foth. 1986).5% K2O.25% P2O5. dan 0. et al. (1986) mengemukakan bahwa pupuk kandang merupakan kotoran padat dan cair dari hewan ternak yang tercampur dengan sisa-sisa makanan ataupun alas kandang. 0. Pemanfaatan pupuk kandang telah dimulai berabad-abad yang silam sesuai dengan sejarah pertanian (Hakim. . dan sisa makanan dari hewan yang dikandangkan. Namun demikian. dan dapat mendorong kehidupan jasad renik tanah. pupuk kandang merupakan campuran antara kotoran padat. air kencing. Pupuk kandang dan pupuk buatan kedua-duanya menambah bahan makanan tanaman didalam tanah.. pupuk kandang juga dapat mempertinggi humus. memperbaiki struktur tanah. selain dapat menambah unsur hara kedalam tanah. Hakim. et al. Pupuk kandang mempunyai kandungan unsur hara yang lebih sedikit dibandingkan dengan pupuk buatan. Tabel berikut menunjukkan kadar unsur hara yang dikandung oleh beberapa jenis hewan secara rata-rata. Pemakaian kotoran hewan selalu memperlihatkan pengaruh yang baik terhadap pertumbuhan tanaman (Foth. 1984). Salah satu jenis pupuk alam yang sering dimanfaatkan adalah pupuk kandang. 1984). Menurut Soepardi (1983). Kandungan hara dalam satu ton pupuk kandang sapi terdiri atas 0.5% N.

10 Cair 92 1.00 0.50 0.50 0.80 0.70 0.50 0.55 3. Selain unsur-unsur tersebut. serta unsur mikro.40 Keseluruhan 87 0.35 Keseluruhan 86 0.00 4.15 0.2 0.10 0.35 0.35 1. Babi Padat 80 0.25 0. 1984 Keterangan : * dalam satuan % kotoran Lebih lanjut Hakim.Tabel 1. Oleh karena itu.35 Sedikit 1.35 0. untuk keperluan perhitungan telah ditetapkan suatu kesimpulan bahwa hara yang terdapat didalam pupuk kandang berkadar rata-rata 0. .40 Cair 97 0. 0. Kadar Rata-rata Unsur Hara yang Terdapat dalam Pupuk Kandang No Jenis Hewan Bentuk Kotoran H2O* N* P2O5* K2O* 1.5% K2O.00 sedikit 1. pupuk kandang juga mengandung karbon. Kuda Padat 75 0.75 0. et al.40 Sumber : Foth. (1986) menjelaskan bahwa dari tabel diatas terlihat bahwa kadar hara yang terdapat didalam pupuk kandang sangat beragam.25 Keseluruhan 78 0. dan 0.55 0.40 Cair 90 1.60 0.05 2. magnesium.45 2.40 0.25% P2O5. Unsur mikro sangat penting dalam menjaga dan mempertahankan keseimbangan hara dari tanah yang mendapat pupuk ini. belerang.45 Cair 85 1. Domba Padat 60 0.40 5.30 0. Ayam Keseluruhan 55 1.5% N. Sapi Padat 85 0.55 0.95 0.40 0.10 Keseluruhan 68 0.

400 ppm. gelas piala. kaliper. Media pertumbuhan stek berupa campuran antara pasir dan tanah dengan perbandingan 1 : 1. Bahan stek diperoleh dari Balai Penelitian Tumbuhan Rempah dan Obat. tanah. Zat pengatur tumbuh yang digunakan adalah ZPT IBA dan NAA dalam bentuk tepung dengan konsentrasi 0 ppm. pasir. 300 ppm. Metode 1. dan persiapan bahan stek.5%). Kotoran sapi diperoleh dari hasil pembelian. mistar. persiapan zat pengatur tumbuh. komputer. Pengambilan data dilaksanakan mulai pertengahan bulan Oktober 2004 sampai dengan bulan Agustus 2005. tepung talk. METODOLOGI A. dan 500 ppm. termometer bola basah bola kering. Persiapan Penelitian Persiapan penelitian ini meliputi tiga bentuk kegiatan. golok tajam. kalkulator. sprayer. Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kaca Laboratorium Konservasi Tumbuhan Fakultas Kehutanan IPB dan Arboretum Tumbuhan Hutan Tropika Indonesia IPB. alkohol 95 %. termometer ruang. . B. C. ice box. dan alat tulis. neraca sartorius. kompor minyak tanah. III. Alat yang digunakan yaitu gunting stek. dengan kondisi tanah sudah disterilkan. 100 ppm. dan pupuk kandang (kotoran sapi 7. ZPT IBA dan NAA. 200 ppm. Bogor. Bahan dan Alat Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah potongan batang Sangitan sepanjang 10 cm dengan diameter + 1cm dengan umur bahan induk + 2 tahun. yaitu persiapan media pertumbuhan. polybag ukuran 15 cm x 20 cm. paranet untuk naungan.

Dari 288 unit percobaan. kemudian diberi label sesuai dengan perlakuan pada saat penanaman di rumah kaca. Penanaman Stek Kegiatan penanaman dilakukan dalam polybag yang sudah diberi media tanam dan ZPT. c. dilakukan pencatatan data mengenai peubah-peubah yang diamati. Jarak antar stek dibuat sama dan seragam. yakni meliputi jumlah daun. Pemeliharaan Pemeliharaan dilakukan setiap hari. 3. Pengamatan dan Pengambilan Data Dalam kegiatan pengamatan dan pengambilan data. Fakultas Kehutanan IPB dan peletakannya dilakukan secara acak. Lubang tanam yang digunakan berukuran 20 cm x 20 cm x 20 cm. Penanaman Bibit Setelah siap tanam di lapang. separuh dikenakan perlakuan dengan pemakaian pupuk kandang (kotoran sapi). b. jumlah tunas. Perbanyakan Bibit di Rumah Kaca a.2. . stek dipindahkan ke Arboretum Tumbuhan Hutan Tropika Indonesia IPB. dan separuh yang lain tanpa pemakaian pupuk kandang. Kegiatan yang dilakukan adalah melakukan penyiraman pada pagi dan sore hari dengan menggunakan sprayer. persentase stek hidup. Kegiatan penyiangan dilakukan pada saat didalam polybag tumbuh rumput pengganggu. Polybag-polybag ini ditempatkan di rumah kaca Laboratorium Konservasi Tumbuhan. Pencatatan data stek hidup dan stek berakar dilakukan pada saat penanaman stek di rumah kaca sudah selesai.5% dan kotoran sapi sebanyak 7.5%. persentase stek berakar. Peubah-peubah tersebut diamati setiap satu minggu sekali. Stek-stek ini ditanam secara acak di lapangan. serta kondisi iklim setempat selama penelitian (suhu dan kelembaban). Penanaman Bibit di Lapangan a. Pupuk yang digunakan berupa campuran tanah dan kotoran sapi dengan komposisi tanah sebanyak 92.

Rancangan ini terdiri dari dua faktor yang masing- masing mempunyai enam taraf percobaan. Rancangan Percobaan dan Analisis Data 1. Pencatatan data dilakukan setiap dua minggu sekali. Pengamatan dan Pengambilan Data Hal-hal yang diamati dalam penanaman di lapangan ini adalah penambahan jumlah daun. Dilakukan juga kegiatan penyiangan terhadap rumput pengganggu yang tumbuh di sekitar tanaman. Jadi secara keseluruhan terdapat 288 unit percobaan. Masing-masing faktor dirinci sebagai berikut : Faktor A : Konsentrasi ZPT IBA AI = 0 ppm A2 = 100 ppm A3 = 200 ppm A4 = 300 ppm A5 = 400 ppm A6 = 500 ppm Faktor B : Konsentrasi ZPT NAA BI = 0 ppm B2 = 100 ppm B3 = 200 ppm B4 = 300 ppm B5 = 400 ppm . Kegiatan yang dilakukan adalah melakukan penyiraman pada saat hari tidak hujan.. Pemeliharaan Pemeliharaan dilakukan setiap hari. Perbanyakan Bibit di Rumah Kaca Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan rancangan faktorial 6 x 6 dalam pola acak lengkap. dan masing-masing ulangan terdiri dari dua unit percobaan. dan penambahan jumlah cabang tanaman.b. D. penambahan tinggi tanaman. Setiap taraf percobaan diulang sebanyak empat kali. c.

3. dan masing- masing ulangan terdiri dari dua unit percobaan.6) (AB)ij = Pengaruh interaksi faktor A dan B Eijk = Galat percobaan 2.6) Bj = Pengaruh faktor B ke-j (j=1.5. dan ZPT NAA pada taraf ke-j.2.3. Masing-masing faktor dirinci sebagai berikut : Faktor A : Konsentrasi ZPT IBA AI = 0 ppm A2 = 100 ppm A3 = 200 ppm A4 = 300 ppm A5 = 400 ppm A6 = 500 ppm Faktor B : Konsentrasi ZPT NAA BI = 0 ppm B2 = 100 ppm . Rancangan ini terdiri dari tiga faktor.2. Faktor ketiga adalah perlakuan pupuk dengan dua taraf percobaan. ulangan ke-k U = Nilai rata-rata harapan Ai = Pengaruh faktor A ke-i (i=1. Setiap taraf percobaan diulang sebanyak dua kali. Faktor kedua adalah perlakuan ZPT NAA dengan enam taraf percobaan. Faktor pertama adalah perlakuan ZPT IBA dengan enam taraf percobaan.4. Penanaman di Lapangan Penelitian di Arboretum Tumbuhan Hutan Tropika Indonesia IPB ini dilaksanakan dengan menggunakan rancangan faktorial 6 x 6 x 2 dalam pola acak lengkap. Jadi secara keseluruhan terdapat 288 unit percobaan.B6 = 500 ppm Model umum rancangan acak lengkap dengan dua faktor yang digunakan adalah : Yijk = U + Ai + Bj + (AB)ij + Eijk Keterangan : Yijk = Nilai pengamatan sebagai hasil pengaruh pemberian hasil pengamatan pemberian ZPT IBA pada taraf ke-i.5.4.

3.5% P0 = Pupuk kandang (kotoran sapi) 0% Model umum rancangan acak lengkap dengan tiga faktor yang digunakan adalah : Yijkl = U + Ai + Bj + Ck + (AB)ij + (AC)ik + (BC)jk + (ABC)ijk + Eijkl Keterangan : Yijkl : Nilai pengamatan sebagai hasil pengaruh pemberian ZPT IBA pada taraf ke-i. pada ulangan ke-l U : Nilai rata-rata harapan Ai : Pengaruh faktor A ke-i (i=1.2) (AB)ij : Pengaruh interaksi faktor A dan B (AC)ik : Pengaruh interaksi faktor A dan C (BC)jk : Pengaruh interaksi faktor B dan C (ABC)ijk : Pengaruh interaksi faktor A. ZPT NAA pada taraf ke-j. dan C Eijkl : Galat percobaan 3. Kondisi Umum .4. karena perlakuan menggunakan kontrol dan hasilnya diharapkan lebih teliti.6) Bj : Pengaruh faktor B ke-j (j=1. B. IV.3. Analisis Data Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis of variance (ANOVA).2.B3 = 200 ppm B4 = 300 ppm B5 = 400 ppm B6 = 500 ppm Faktor C : P1 = Pupuk kandang (kotoran sapi) 7. dan pemberian pupuk pada taraf ke-k.5.2.5.6) Ck : Pengaruh faktor C ke-k (k=1.4. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Uji lanjutan yang dipakai untuk uji beda nyata antar perlakuan adalah uji Duncan.

banyak stek yang terserang busuk batang.5-28. Suhu rata-rata selama pengamatan di lapangan mencapai 27. Jumlah Daun . Pengamatan di Rumah Kaca 1.8% dengan kisaran antara 80-90%. yaitu di Arboretum Tumbuhan Hutan Tropika Indonesia. Selama pengamatan baik di rumah kaca maupun di lapangan. Suhu rata-rata mencapai 25. Selama pengamatan di rumah kaca.5°C dengan kisaran antara 22-28°C.3%.25°C dengan kisaran antara 25. Selain untuk memberantas gulma. Kelembaban rata-rata mencapai 88. Tanaman seperti ini mempunyai sistem perakaran yang masih terbatas sehingga akan kalah bersaing dalam memperebutkan hara dengan gulma. Tanaman yang masih muda atau yang baru ditanam harus lebih mendapat perhatian. hujan sering sekali turun. perlu dilakukan penyiangan. Gangguan ini diduga ditimbulkan oleh cendawan Puccinia horiana. Oleh karena itu. dan dilanjutkan dengan pengamatan di lapangan. Pengamatan terhadap pertumbuhan stek dilakukan di Rumah Kaca Laboratorium Konservasi Tumbuhan. terutama pada stek yang terletak di barisan terluar. Kelembaban rata- rata mencapai 85. Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.1°C. penyiangan juga bertujuan untuk memperbaiki aerasi tanah. Pengendalian terhadap hama ini dilakukan dengan membuang ulat dari tanaman secara teratur. Tanaman yang dibudidayakan baik di rumah kaca maupun yang ditanam di lapangan tidak lepas dari gangguan gulma (tumbuhan pengganggu).8% dengan kisaran antara 83-97. Selama pengamatan daun stek juga diserang oleh ulat. Hal ini disebabkan oleh white rust (karat putih). Stek mulai mengalami kematian pada 2 MSP (Minggu Setelah Perlakuan). Penyakit ini diduga disebabkan oleh cendawan Fusarium culmorum. Cipratan air hujan yang jatuh dari atap memudahkan penyebaran spora dan menyerang stek. Institut Pertanian Bogor. B. Stek yang tidak tahan terhadap serangan penyakit ini akhirnya mengalami kematian.

Pemberian perlakuan kombinasi antara ZPT IBA dan NAA berpengaruh sangat nyata terhadap penambahan jumlah daun. Audus (1963) menyatakan bahwa setiap jenis tumbuhan akan memberikan respon yang berbeda-beda terhadap pemberian ZPT pada konsentrasi yang berbeda-beda pula. Pemberian ZPT IBA tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan jumlah daun (lihat Gambar 2). Uji lanjut Duncan untuk pengaruh ZPT NAA (Lampiran 2) menunjukkan bahwa konsentrasi ZPT NAA yang paling baik adalah 500 ppm dengan nilai sebesar 5-6 helai. Jumlah daun terus meningkat pada setiap minggunya. Rata-rata penambahan jumlah daun Sangitan di rumah kaca Pertumbuhan daun di rumah kaca mulai terlihat sejak satu minggu pertama setelah perlakuan (1 MSP). sedangkan konsentrasi terbaik kombinasi antara ZPT IBA dan NAA (Lampiran 3) adalah ZPT IBA 500 ppm dan ZPT NAA 500 ppm dengan nilai sebesar 4-5 helai. Hasil analisa menunjukkan bahwa pemberian ZPT NAA dan kombinasi antara IBA dan NAA berpengaruh sangat nyata terhadap pertumbuhan daun. Hal ini diduga disebabkan oleh pemberian konsentrasi ZPT IBA yang belum tepat.0 8 4 2 0 IBA NA A IBA & NA A Z at Pe n g at u r T u m b u h Gambar 2. kemungkinan stek Sangitan belum siap menerima perlakuan ZPT IBA. Selain itu. Hal ini sesuai dengan pendapat .0 6 8 6 5. Lebih lanjut Audus (1963) menjelaskan bahwa pemberian ZPT pada tanaman pada saat yang tidak tepat dapat membuat tumbuhan tidak memberikan respon terhadap ZPT yang diberikan. Analisa sidik ragam dilakukan untuk mengetahui pengaruh perlakuan ZPT IBA dan NAA terhadap pertumbuhan jumlah daun (Lampiran 1). sehingga tidak mampu memberikan respon terhadap zat pengatur tumbuh yang diberikan.6 8 8. Stek mengalami penambahan jumlah daun yang terbesar pada minggu ketiga. R ata-rata p en am b ah an ju m lah d au n (h elai) 10 7.

Tunas berperan sebagai sumber auksin. Pertumbuhan tunas sangat penting bagi keberlangsungan hidup stek. ZPT NAA cenderung stabil terhadap adanya cahaya dan tahan terhadap bakteri pembusuk yang berasal dari lingkungan di sekitarnya (Hartmann dan Kester. Penggunaan kombinasi antara ZPT IBA dan NAA akan memberikan respon yang lebih baik. ZPT NAA berpengaruh sangat nyata terhadap penambahan jumlah daun. . Stek mengalami kenaikan jumlah tunas terbesar pada minggu kedua. kondisi pertumbuhan Sangitan pada berbagai perlakuan dapat dilihat pada Gambar 3. Kontrol IBA +NAA NAA IBA Gambar 3. Secara keseluruhan. Jumlah Tunas Pertumbuhan tunas mulai muncul sejak 1 MSP. Kondisi pertumbuhan Sangitan pada berbagai perlakuan 2. 1978).Weaver (1972). Pembentukan akar sulit terjadi apabila tunas tidak tumbuh. terutama bila tunas tersebut mulai tumbuh (Hartmann dan Kester. Diduga. ZPT NAA mempunyai daya pertahanan terhadap kondisi fisik lingkungannya yang kurang menguntungkan. yang menyatakan bahwa kombinasi antara ZPT IBA dan NAA akan lebih efektif pemakaiannya daripada pemberian ZPT IBA secara tunggal maupun ZPT NAA secara tunggal. 1978). Hal ini dikarenakan tunas mampu mendorong terjadinya perakaran pada stek.

3 0 1 . Hasil analisa menunjukkan pemberian ZPT IBA berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan jumlah tunas. Lebih lanjut Rochiman dan Harjadi (1973) mengemukakan bahwa ZPT IBA bersifat lebih baik dan lebih efektif daripada ZPT NAA karena struktur kimia ZPT IBA lebih stabil. Akar stek yang diduga telah terbentuk akan aktif menyerap zat-zat hara dari media tanam tanam untuk melakukan proses fotosintesis. 1976). Uji lanjut Duncan untuk pengaruh ZPT IBA yang dapat dilihat pada Lampiran 5 menunjukkan bahwa konsentrasi ZPT IBA yang paling baik untuk pertumbuhan tunas adalah 400 ppm dengan nilai sebesar 1-2 tunas. ZPT IBA cenderung mempunyai daya .0 1 0 . Hal ini diduga bahwa ZPT IBA telah mendorong stek untuk membentuk akar sehingga cadangan karbohidrat dalam stek tetap tersedia. R a ta -r a ta pe na m ba ha n jum la h 1 . Sedangkan pemberian ZPT NAA maupun kombinasi antara ZPT IBA dan NAA tidak memberi pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan jumlah tunas.9 0 0 . Hasilnya dapat dilihat pada Lampiran 4. pemberian ZPT IBA. Untuk tumbuhan berkayu lunak.7 8 0 . Selain itu. Daun muda yang baru tumbuh aktif melakukan proses fotosintesis membentuk karbohidrat sebagai cadangan makanan. NAA.1 0 1 .5 0 IB A N AA IB A& N AA Za t P e nga tur Tum buh Gambar 4.7 0 0 .2 0 tuna s (bua h) 1 . maupun kombinasinya akan efektif dalam merangsang pembentukan tunas pada selang konsentrasi 500-2000 ppm (Mahlstede dan Haber. Hal ini diduga konsentrasi ZPT yang dipergunakan belum tepat. Kramer dan Kozlowski (1960) mengemukakan bahwa pertumbuhan tunas dipengaruhi oleh cadangan karbohidrat. Rata-rata penambahan jumlah tunas Sangitan di rumah kaca Analisa sidik ragam dilakukan untuk mengetahui pengaruh perlakuan ZPT IBA dan NAA terhadap pertumbuhan jumlah tunas.

Kondisi perakaran Sangitan dengan berbagai perlakuan Berdasarkan hasil sidik ragam. Berikut merupakan gambar rumus bangun ZPT IBA dan NAA. dan terdapat rangkaian gugus karboksil (Dwidjoseputro. CH2COOH H N CH2CH2CH2COOH IBA NAA Gambar 5. dan kombinasinya terhadap jumlah akar stek dapat dilihat pada Lampiran 6. 1981). kondisi perakaran Sangitan pada berbagai perlakuan dapat dilihat pada Gambar 6. IBA NAA IBA & NAA Kontr ol mati Gambar 6. Kedua jenis ZPT ini mempunyai susunan cincin yang mengandung ikatan rangkap sebagai inti. ZPT NAA berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah akar stek. NAA. Hal ini diduga karena penggunaan konsentrasi untuk ZPT ini belum tepat.kerja yang lebih lama daripada ZPT NAA. Rumus Bangun ZPT IBA dan NAA 3. ZPT NAA mempunyai sifat yang . Menurut Kusumo (1984). Hasil analisis ragam pengaruh konsentrasi ZPT IBA. Jumlah dan Panjang Akar Secara keseluruhan.

ruang pori makro akan membuat sirkulasi udara dan sirkulasi air didalam tanah menjadi lancar. Rangsangannya terhadap pertumbuhan akar mendekati batas menghambat. Hal ini bisa dilihat pada Lampiran 8. Hal ini sesuai dengan pendapat Weaver (1972) yang menyatakan bahwa penggunaan kombinasi antara ZPT IBA dan NAA cenderung memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap perakaran stek. sehingga dalam penggunaannya harus lebih berhati-hati. Grafik hubungan antara konsentrasi ZPT terhadap rata-rata jumlah akar dapat dilihat pada Gambar 7. Uji lanjut Duncan menunjukkan bahwa faktor tunggal ZPT IBA memberikan hasil yang terbaik pada konsentrasi 400 ppm. Menurut Soepardi (1983). Uji lanjut Duncan menunjukkan bahwa kombinasi antara ZPT IBA 400 ppm dan ZPT NAA 500 ppm memberikan hasil yang terbaik. Pasir dalam media tanam memungkinkan adanya ruang pori yang mendukung pertumbuhan akar. Media tanam merupakan faktor luar yang paling berpengaruh terhadap keberhasilan perakaran. Pemberian ZPT IBA yang dikombinasikan dengan ZPT NAA berpengaruh sangat nyata terhadap pertumbuhan jumlah akar. Hal ini bisa dilihat pada Lampiran 7.lebih keras dengan selang konsentrasi yang sempit. Grafik hubungan antara konsentrasi ZPT terhadap rata-rata jumlah akar . Pasir tersebut akan membuat tekstur menjadi kasar dan jumlah ruang pori makronya lebih banyak daripada jumlah ruang pori mikronya. (helai) 13 akar(buah) 12 IBA akar 11 NAA jumlah 10 IBA&NAA jumlah 9 Kontrol rata-rata 8 Rata-rata 7 100 200 300 400 500 Konsentrasi konsentrasi ZPT (ppm) ZPT (ppm) Gambar 7. Hartmann dan Kester (1978) mengemukakan bahwa pembentukan akar dipengaruhi oleh media tanam. stek Sangitan ditanam dalam polybag dengan media tanam berupa campuran antara tanah dan pasir yang sudah disterilkan dengan perbandingan 1:1. Pemberian ZPT IBA berpengaruh nyata terhadap jumlah akar stek. Dalam percobaan di rumah kaca ini.

Persentase Stek Hidup Pengamatan terhadap persentase stek hidup dilakukan pada minggu kedelapan. perlakuan ZPT IBA akan menghasilkan beberapa akar yang cepat menjadi panjang dan membuat sistem perakaran yang lebih baik. rata-rata panjang akar (cm) 28 Rata-rata panjang akar (cm) 26 IBA NAA 24 IBA&NAA Kontrol 22 20 100 200 300 400 500 Konsentrasi ZPT konsentrasi ZPT (ppm) (ppm) Gambar 8. serta tidak menunjukkan gejala kekeringan. Pada satu MSP stek mempunyai persentase hidup yang tinggi (100%). Grafik hubungan antara ZPT terhadap rata-rata panjang akar 4. ZPT NAA dan kombinasi antara ZPT IBA dan NAA berpengaruh tidak nyata terhadap pertumbuhan panjang akar. . Konsentrasi ZPT IBA 100 ppm merupakan konsentrasi yang memberikan hasil terbaik. Menurut Audus (1963). Penurunan persentase stek hidup Sangitan di rumah kaca dapat dilihat pada Gambar 9. Berdasarkan hasil sidik ragam. tidak mengalami kebusukan. dan kombinasinya terhadap panjang akar stek dapat dilihat pada Lampiran 9. NAA. Sedangkan pemberian faktor tunggal ZPT IBA berpengaruh sangat nyata terhadap pertumbuhan panjang akar (Lampiran 10). Stek hidup dicirikan dengan masih segarnya stek sampai akhir pengamatan di rumah kaca. Grafik hubungan antara konsentrasi ZPT terhadap panjang akar dapat dilihat pada Gambar 8. Seluruh stek hidup dan tidak ditemukan gejala kekeringan ataupun kebusukan. Mulai dua MSP hingga akhir pengamatan di rumah kaca persentase hidup semakin menurun. Batang stek tidak menjadi lembek. Pengaruh konsentrasi ZPT IBA.

72 82. culmorum menyebabkan busuk pada akar.82 stek hidup 80 60 persentase Persentase 40 20 0 1 2 3 4 5 6 7 8 Pengamatan (minggu minggu ke. keadaan tanaman. Batang stek yang mengalami kebusukan menjadi lembek.ke-) Gambar 9. cendawan F. suhu udara yang rendah dan kelembaban udara yang tinggi menyebabkan laju transpirasi berkurang.29 82. dan keadaan lingkungan. sehingga akan mempercepat terbentuknya karbohidrat. Senn. cendawan ini bisa berasal dari media tanam yang terinfeksi. Faktor suhu dan kelembaban diduga turut mendukung pertumbuhan stek. Menurut Semangun (1991). stomata terbuka. leher akar.29 80.24 86. Andriance dan . dan Andrews (1964). Hal ini diduga disebabkan oleh adanya respon tanaman terhadap perbedaan konsentrasi ZPT yang diberikan. Penurunan persentase stek hidup Sangitan di rumah kaca Penurunan jumlah stek hidup ini sebagian besar disebabkan oleh kekeringan dan kebusukan pada bagian batang.21 78. dan CO2 akan lebih banyak terdifusi kedalam daun. Menurut Edmond. Cendawan ini menginfeksi batang sehingga menjadi busuk. 120 100 stek hidup (%) 100 89.11 84. tanaman akan memberi respon terhadap pemberian ZPT yang berbeda- beda. tergantung pada konsentrasi ZPT. Respon ini dapat bersifat menguntungkan dan bisa juga bersifat merugikan. dan batang. Menurut Weaver (1972). Secara keseluruhan kondisi pertumbuhan stek di rumah kaca tergolong baik. cendawan tumbuh dengan cepat dan lebat seperti beledu pada permukaan jaringan suatu tanaman. Lebih lanjut Semangun (1991) menjelaskan bahwa dalam keadaan lembab. turgiditas sel terlindungi. Cendawan ini diduga berasal dari tanaman induk sehingga bahan stek yang kurang steril menjadi terinfeksi. Selain bisa terbawa oleh bibit yang terinfeksi. Penurunan persentase stek hidup juga diduga oleh adanya cendawan Fusarium culmorum.

Tidak berpengaruhnya kombinasi antara ZPT IBA dan NAA maupun kombinasi antara ZPT IBA. dan pupuk terhadap jumlah daun di lapangan disajikan pada Gambar 10. NAA. . Pemberian faktor tunggal ZPT NAA berpengaruh nyata. Jumlah Daun Stek yang berdaun cenderung mempunyai kemampuan untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Demikian juga pemberian ZPT IBA yang dikombinasikan dengan pupuk.Brison (1955) mengemukakan bahwa kelembaban udara yang tinggi sangat berguna untuk mencegah kekeringan sebelum stek berakar. Daun-daun yang sudah terbentuk banyak yang berubah warna menjadi kuning. stek melakukan penyesuaian terhadap lingkungannya. dan pupuk. Pengaruh ZPT IBA. Begitu juga dengan interaksi antara ZPT IBA. Rochiman dan Harjadi (1973) mengemukakan bahwa daun dapat menghasilkan auksin yang mendukung pertumbuhan akar stek. dan beberapa diantaranya gugur. Pada 1 MST (Minggu Setelah Tanam) di lapangan. NAA. Pemberian faktor tunggal ZPT IBA dan pupuk memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap penambahan jumlah daun di lapangan. berpengaruh tidak nyata terhadap penambahan jumlah daun (Lampiran 11). NAA. Pengamatan di Lapangan 1. dan 12. 11. dan pupuk terhadap penambahan jumlah daun dimungkinkan karena ZPT IBA dan NAA lebih efektif bekerja pada akar daripada pada daun. Kelembaban udara sebaiknya selalu mendekati 100% selama beberapa hari setelah stek ditanam. Melalui daun ini pula proses fotosintesis dapat berlangsung sehingga stek mampu menghasilkan karbohidrat sebagai persediaan makanannya. Hal ini diduga dengan adanya pertumbuhan daun yang baik akan mempengaruhi kondisi pertumbuhan akar. dan pemberian ZPT NAA yang dikombinasikan dengan pupuk. Hal ini mendukung terjadinya proses pengguguran daun tersebut. Dimungkinkan pada saat penanaman di lapangan terjadi penguapan besar-besaran akibat dari tingginya laju transpirasi. C. sedangkan pemberian ZPT IBA yang dikombinasikan dengan NAA tidak berpengaruh nyata terhadap penambahan jumlah daun.

-r a ta jm l da un 50 Rata-rata jumlah daun 40 m g g uke-2 Minggu k e -2 m g g uke-4 Minggu k e -4 30 r a ta(helai) m g g uke-6 Minggu k e -6 Minggu m g g uke-8 k e -8 20 Minggu m g g uke-10 k e -1 0 10 Minggu m g g uke-12 k e -1 2 0 100 200 300 400 500 Konsentrasi NAA (ppmNAA (ppm) ) Gambar 11. Pengaruh ZPT NAA terhadap rata-rata jumlah daun di lapangan. -r a ta jm l da un 50 Rata-rata jumlah daun 40 30 p u pkotoran Pupuk u k 9sapi 2 . (helai) jm l d au n 50 Rata-rata jumlah daun m gg uke-2 Minggu k e -2 40 m gg uke-4 Minggu k e -4 rata-rata 30 Minggu m gg uke-6 k e -6 20 Minggu ke-8 m gg u k e -8 Minggu m gg uke-10 k e -10 10 Minggu m gg uke-12 k e -12 0 1 00 2 00 3 00 4 00 5 00 Konsentrasi IBA (pIBAp m(ppm) ) Gambar 10. . ke-) Gambar 12. Pengaruh ZPT IBA terhadap rata-rata jumlah daun di lapangan.5% % r a ta(helai) p u pkotoran Pupuk u k 0sapi % 0% 20 10 0 2 4 6 8 10 12 Pengamatan m inggu(minggu ke.57. Pengaruh pupuk terhadap rata-rata jumlah daun di lapangan.

dan pupuk memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap penambahan tinggi tanaman di lapangan. NAA. Demikian juga pemberian ZPT IBA yang dikombinasikan dengan pemberian pupuk. dimana humus ini dapat mempertahankan struktur tanah sehingga mudah diolah dan mengandung banyak oksigen (Sarief. Kegiatan pemupukan pada tanaman diduga mempengaruhi penambahan tinggi tanaman. . NAA. NAA. Pupuk kandang juga berperan dalam meningkatkan kandungan humus. pupuk kandang juga dapat mendorong kehidupan jasad renik. dan 15. dan sintesa klorofil. Cahaya juga mempengaruhi pembesaran sel yang dapat dilihat pada penambahan tinggi tanaman. Curtis dan Clark (1950) mengemukakan bahwa cahaya mempunyai efek yang sangat nyata terhadap pertumbuhan tanaman dikarenakan pengaruhnya terhadap proses fotosintesis. Lebih lanjut dijelaskan bahwa pertumbuhan tinggi dapat diketahui dari bertambahnya jumlah sel.2. dan pupuk. Begitu juga dengan interaksi antara ZPT IBA. Selain dapat menambah unsur hara yang lengkap kedalam tanah. Sedangkan pemberian ZPT IBA yang dikombinasikan dengan NAA tidak berpengaruh nyata terhadap penambahan tinggi tanaman. Tinggi Tanaman Pemberian faktor tunggal ZPT IBA. bertambahnya jumlah struktur sel. dan pupuk terhadap rata-rata tinggi tanaman di lapangan disajikan pada Gambar 13. Pupuk kandang juga mampu menaikkan daya penahanan air. 1985). dan pemberian ZPT NAA yang dikombinasikan dengan pemberian pupuk. pembukaan stomata. Pengaruh ZPT IBA. 14. Hal ini menyebabkan air tanah mengandung bahan-bahan mudah larut yang mudah diserap oleh bulu akar. Intensitas cahaya yang sangat tinggi di lapangan diduga turut mempengaruhi pertumbuhan tanaman. dan bertambah besarnya ukuran sel. bertambahnya jumlah protoplasma.

57. Pengaruh ZPT NAA terhadap rata-rata tinggi tanaman di lapangan g g i (c m ) 100 (cm) 80 ta tin ra ta -ratinggi 60 p u pkotoran Pupuk u k 9sapi 2 . ra ta -ra ta tin g g i (c m ) 80 m g g uke-2 Minggu k e -2 Rata-rata tinggi (cm) 70 m g g u k e -4 Minggu ke-4 60 Minggu m g g uke-6 k e -6 50 Minggu ke-8 m g g u k e -8 Minggu m g g uke-10 k e -1 0 40 Minggu m g g uke-12 k e -1 2 30 0 100 200 300 400 500 Konsentrasi ko n s e n tra s i NAA N AA(ppm) (p p m ) Gambar 14. ra ta -ra ta tin g g i (c m ) 90 m g g uke-2 Minggu k e -2 Rata-rata tinggi (cm) 80 m g g u k e -4 Minggu ke-4 70 60 Minggu m g g uke-6 k e -6 Minggu m g g uke-8 k e -8 50 40 Minggu m g g uke-10 k e -1 0 30 Minggu m g g uke-12 k e -1 2 0 100 200 300 400 500 k oKonsentrasi n s e n tra s iIBA (ppm) IB A (p p m ) Gambar 13.ke-) Gambar 15. Pengaruh pupuk terhadap rata-rata tinggi tanaman di lapangan . Pengaruh ZPT IBA terhadap rata-rata tinggi tanaman di lapangan.5% % 40 Pupuk p u pkotoran u k 0sapi % 0% Rata-rata 20 0 2 4 6 8 10 12 Pengamatan (minggu m in g g u k e .

Mg. auksin yang diberikan pada stek lebih berpengaruh pada pembentukan akar. unsur hara mikro (Ca. S. serta banyak mengandung mikroorganisme (Sarief. Pupuk kandang yang diberikan pada tanaman mempunyai kandungan unsur hara yang lengkap. Bo).1 Minggu m ggu ke-10 k e -1 0 1 Minggu m ggu ke-12 k e -1 2 0 100 200 300 400 500 ko n s e n tr a s i IBA Konsentrasi IB A(ppm) (p p m ) Gambar 16. K).3. Wareing dan Patrick (1976) mengemukakan bahwa asimilat (cadangan makanan) akan bergerak kearah bagian tanaman yang mengandung ZPT dalam konsentrasi tinggi. Pengaruh ZPT IBA terhadap rata-rata jumlah cabang di lapangan . dan 18. Pengaruh ZPT IBA. NAA. P. Co. Lebih lanjut Prawiranata.4 m ggu Minggu k e -4 ke-4 1 .2 Minggu m ggu ke-8 k e -8 rcabang 1 . Diduga. Jumlah Cabang Berdasarkan hasil analisa sidik ragam pada Lampiran 23. Cadangan makanan yang ada sebagian besar dimobilisasi ke bagian akar sehingga pertumbuhan cabang untuk sementara terhambat. Harran dan Tjondronegoro (1989) menambahkan bahwa ZPT dengan konsentrasi tinggi terdapat didalam jaringan meristem. meliputi unsur hara makro (N. ta j m l c a b a n g 1 . Peningkatan pertumbuhan tanaman berupa penambahan cabang diduga banyak dipengaruhi oleh adanya unsur-unsur makro dan mikro yang ditambahkan pada tanaman melalui kegiatan pemupukan. seperti pada ujung batang dan akar. Sedangkan faktor tunggal lainnya beserta berbagai macam kombinasinya tidak berpengaruh nyata. 1986). Mn.ra(buah) 1 . 17.3 m ggu Minggu k e -6 ke-6 1 . dan pupuk terhadap rata-rata jumlah cabang di lapangan disajikan pada Gambar 16.5 m ggu Minggu k e -2 ke-2 Rata-rata jumlah a ta . sedangkan kondisi pertumbuhan Sangitan pada berbagai perlakuan di lapangan dapat dilihat pada Gambar 19. Hal ini dimungkinkan bahwa perlakuan auksin yang diberikan pada stek kurang efektif bekerja pada pembentukan cabang. diketahui bahwa faktor tunggal pupuk berpengaruh sangat nyata terhadap penambahan jumlah cabang di lapangan.

1 0 100 200 300 400 500 Konsentrasi ko n s e n tra s i NAA N AA(ppm) (p p m ) Gambar 17. Pengaruh pupuk terhadap rata-rata jumlah cabang di lapangan A0B0PO A0B0P1 A&B&P1 A&B &P0 A&P0 A&P1 B&P1 B&P0 Gambar 19.2 Minggu g g u ke-10 jumlah m k e -1 0 Minggu m g g uke-12 k e -1 2 Rata-rata ra 1 .3 Minggu ta -ra m g g u ke-8 k e -8 1 .5 cabang p u pkotoran Pupuk u k 9sapi 2 . ke-) Gambar 18. l ca b a n g ta jm (buah) 1 .9 2 4 6 8 10 12 Pengamatan m in g g u (minggu ke .4 Minggu m g g u ke-4 k e -4 cabang Minggu ke-6 m g g u k e -6 1 .5 % 7.5 m g g u ke-2 Minggu k e -2 1 . Pengaruh ZPT NAA terhadap rata-rata jumlah cabang di lapangan l ca b a n g ta jm(buah) 1 .5% 1 . Kondisi pertumbuhan Sangitan pada berbagai perlakuan di lapangan .1 Rata-rata jumlah 0 .3 p u pkotoran Pupuk u k 0sapi % 0% ra ta -ra 1 .7 1 .

dan pucuk). KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan 1. Saran Perlu dilakukan percobaan perbanyakan Sangitan menggunakan kombinasi antara ZPT auksin dan bukan auksin. penggunaan media tanam yang berbeda dan penggunaan bahan stek dari organ selain batang (akar. Pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa : • Konsentrasi ZPT IBA 500 ppm. Selain itu perlu dilakukan uji coba perbanyakan Sangitan dengan menggunakan biji (perbanyakan secara generatif). • Konsentrasi ZPT IBA 400 ppm dan kombinasi antara ZPT IBA 400 ppm dan ZPT NAA 500 ppm memberikan hasil yang terbaik terhadap pertumbuhan jumlah akar. daun. 2. B. interaksi antara ZPT IBA 500 ppm dengan pupuk serta interaksi antara ZPT NAA 400 ppm dengan pupuk merupakan konsentrasi terbaik yang mempengaruhi penambahan tinggi tanaman. V. • Penambahan jumlah cabang tanaman hanya dipengaruhi oleh faktor tunggal pupuk. serta interaksinya dengan pupuk memberikan hasil yang terbaik pada penambahan jumlah daun. ZPT NAA 400 ppm. • Konsentrasi ZPT IBA 100 ppm merupakan konsentrasi terbaik yang mempengaruhi pertumbuhan panjang akar. • Konsentrasi ZPT IBA 500 ppm. ZPT NAA 500 ppm. • Konsentrasi ZPT IBA 400 ppm merupakan konsentrasi terbaik yang mempengaruhi pertumbuhan jumlah tunas. Pengamatan di rumah kaca menunjukkan bahwa : • Konsentrasi ZPT NAA 500 ppm dan kombinasi antara ZPT IBA 500 ppm dengan ZPT NAA 500 ppm memberikan hasil yang terbaik terhadap pertumbuhan jumlah daun. .

Avery. Audus. 1964. Andriance.F.A. Fundamental of Horticulture. H. 1947. Jakarta. Kester.W. D. M.. DAFTAR PUSTAKA Abidin. R.H. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Lampung. Afifah. An Introduction to Plant Physiology. Hartmann. Bailey. Tanaman Obat untuk Mengatasi Hepatitis. O. H. Penerbit Angkasa. 1986. J. N. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Diha. S.Y. Michigan. Hakim. Interscience Publishers.. Gramedia. 1993. Toronto. J. 2000. Dasar-dasar Ilmu Tanah. N.1. Tumbuh-tumbuhan Perhiasan di Pekarangan. Inc. and F. Hong.M. Z. Dalimartha.. Edmond. B. 1955. Plant Propagation : Principles and Practice. A.M. New Jersey.B. and F. 538 p. Penerbit Universitas Lampung. Jakarta. Hormone and Horticulture. Atjung. H. Nyakpa. New York. G.V. Agromedia Pustaka.G.. G.Trubus Agriwidya. Fundamentals of Soil Science. P. Hutapea. Dwidjoseputro. Inc. Inventarisasi Tumbuhan Obat Indonesia (III). Mc Graw-Hill Book Company Inc. 2003.D.. New York. Sons. Lubis.B. A.R. New York. 1981. Mc-Graw Hill Book Co. 293 p. M. International Student Edition. London. New York. E. Inc.. 1963. G.. Andrews. Second Edition. Principle Hall. Johnson. Brison. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. L. and D. J. Mc-Graw Hill Book Co.E. Clark.T. Curtis. 1950. Bandung. Jakarta. 1978. 1994. Jakarta. 1975. Foth. Nugroho. A. Plant Growth Substances. S. Senn. and E.S.C. . Masa Baru.T. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia –Cet. 476 p. Dasar-dasar Pengetahuan Tentang Zat Pengatur Tumbuh. 1984. Propagation of Horticultural Plants. Mc Graw-Hill Book Company Inc. Jakarta. New York. and D.

Kesuburan dan Pemupukan Tanah Pertanian. Rochiman. W. 1985. 1991. Mcgraw Hill Book Co. Indeks Tumbuh-tumbuhan Obat di Indonesia. Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan. Indonesia. Prawiranata. 1976. Indonesia. Inc.C. 850 hal. Bahan Bacaan Pengantar Agronomi. 1986. Biochemistry and Physiology of Plant Hormones. Sarief. Pustaka Buana. Semangun. Haber. Fakultas Pertanian. dan Sawo : Pedoman Lapang. Roshetko. Sinaga.. dan Mulawarman. International Centre for Research in Agroforestry (ICRAF) dan Winrock International. Bekerjasama dengan Indonesian Forest Seed Project (IFSP). Institut Pertanian Bogor. Harjadi. Penyakit-penyakit Tanaman Hortikultura Indonesia di Indonesia. Harran. Pedoman Penggunaan Hormon Tumbuh Akar pada Pembibitan Beberapa Tanaman Kehutanan. S. dan Versteegh. Sastrapradja. New Yok. C. Departemen Kehutanan. Jakarta. Bogor. V. S. Jurusan Biologi. Physiology of Trees. Verlag. John Wiley and Sons Inc. Departemen Kehutanan Republik Indonesia. Jilid II Bagian Botani. 227 hal. Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. dan S. 2002. Perbanyakan dan Budidaya Tanaman Buah-buahan dengan Penekanan pada Durian. 1987. Gadjah Mada University Press. Jeruk. Yogyakarta.. 274 p. S. S. New York. 1988. Bandung. Kozlowski. M. New Jersey. 1973. Melinjo. Purnomosidhi. Petunjuk Lengkap Mengenai Tanam- tanaman di Indonesia dan Khasiatnya Sebagai Obat-obatan Tradisionil. H. J. Jakarta. T. Bogor.Kamus Pemuliaan Pohon. Springer. PT Eisai. Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan Dan Perhutanan Sosial. Mangga.V. D. . 1960. M. Plant Propagation. Institut Pertanian Bogor. J.T. Suparman.S. Mahlstede. K. dan P Tjondronegoro. Kramer and T.P. Pembiakan Vegetatif. Kloppenburg. Bogor. Direktorat Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan. CD RS Bethesda dan Andi Offset. Moore. P. Englewood Cliffs. 2004. J. 1979. Departemen Agronomi. and E. 1989. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.

J. S. Tjitrosoepomo. Jurusan Tanah. Yogyakarta. Weaver. –Cet. S. Bogor. 1979. Institut Pertanian Bogor. Wattimena. Hartana. A. Djamhuri. Wijayakusuma. Fakultas Kehutanan IPB. H.S. 1972. Wareing. Diklat Pengatur Persemaian. Dalimartha. Jakarta.Pergamon Press. 303p. New York. Sudiarta. Bogor. Wirian. dan E. Teknik Propagasi Vegetatif. Bekerjasama dengan Lembaga Sumberdaya informasi – IPB.Soepardi. .. 1976. Bogor. and J. Freeman Company. Patrick. S. Departemen Manajemen Hutan. M. Tanaman Berkhasiat Obat di Indonesia. Plant Growth Substances in Agriculture. R.F. A. Soerianegara. I. Tjitrosomo. G. Departemen Botani.S. W. Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. A. 1988. A. Zat Pengatur Tumbuh Tanaman. G. Pustaka Kartini.H. Jakarta. Source-sink Relations and the Partition of Assimilates in the Plant. Jilid ke 4. G. Harran. Kerjasama Puslitbang Hutan dan Proyek Diklat dalam rangka peng- Indonesia-an Tenaga Kerja Pengusahaan Hutan. 2001. Botani Umum Jilid I. dan A. San Fransisco. 1988. 1996. Subiakto. Pusat antar Universitas – IPB. 1980. Djaelani. 1983.13– Gadjah Mada University Press. Morfologi Tumbuhan. Sifat dan Ciri Tanah. Bogor.. P. Pemuliaan Pohon Hutan.

.

NAA.2968 3.879 3. Uji Lanjut Duncan ZPT NAA terhadap pertumbuhan jumlah daun di rumah kaca Subset NAA 1 2 3 300 2.6109 1.669 IBA 200 NAA 0 3.375 IBA 300 NAA 100 3. dan kombinasinya terhadap pertumbuhan jumlah daun di rumah kaca Sumber dB JK KT Fhit F0.406 IBA 0 NAA 400 4.411 3.411 100 3.466 500 5.6026 2.758 IBA 500 NAA 300 3.6463** 2.065 77.203 35. Tabel sidik ragam pengaruh ZPT IBA.794 IBA 100 NAA 200 3.326 128.669 3.2095** 1.879 IBA 400 NAA 0 3.439 3.205 4.117 Alpha = .056 IBA 300 NAA 300 3.303 3. Uji Lanjut Duncan kombinasi ZPT IBA dan NAA terhadap pertumbuhan jumlah daun di rumah kaca SUBSET INTERAKSI 1 2 3 4 5 6 7 8 9 IBA 100 NAA 300 3.0327 2.393 200 4.027 IBA 500 NAA 100 4.686 IBA 200 NAA 100 3.424 IBA 200 NAA 300 3.099 IBA 100 NAA 500 4.555 Keterangan : ** = Signifikan pada taraf uji 1% Lampiran 2.177 IBA 300 NAA 500 4.369 IBA 400 NAA 200 4.01 IBA 5 356.989 3.408 IBA 0 NAA 200 4.05 F0.Lampiran 1.794 3.2968 3.352 IBA 100 NAA 100 3.917 0 3.686 3.989 IBA 500 NAA 0 4.555 400 4.879 3.961 71.518 .444 IBA 500 NAA 400 4.917 IBA 400 NAA 100 3.843 IBA 300 NAA 200 3.393 4.1904 NAA 5 640.156 IBA 200 NAA 400 4.1904 IBA*NAA 25 1940.555 3.466 4.214 IBA 400 NAA 400 4.3922 2.951 IBA 0 NAA 100 3.424 3.9522 Galat 108 3793.1223 Total 143 6730.831 IBA 300 NAA 400 3.0652 3.214 4.01 Lampiran 3.439 IBA 400 NAA 300 3.780 IBA 100 NAA 400 3.205 IBA 200 NAA 200 4.352 3.879 IBA 0 NAA 0 3.105 IBA 100 NAA 0 3.303 IBA 300 NAA 0 3.632 IBA 0 NAA 300 3.

695 0. IBA 200 NAA 500 4. NAA. Uji Lanjut Duncan ZPT IBA terhadap pertumbuhan jumlah tunas di rumah kaca Subset IBA (ppm) 1 2 0 1.219 Alpha = . dan kombinasinya terhadap pertumbuhan jumlah tunas di rumah kaca Sumber dB JK KT Fhit F0.732 IBA 0 NAA 500 4.555 4.9522 Galat 108 371.6109 1.039 100 1. Tabel sidik ragam pengaruh ZPT IBA. NAA.555 IBA 400 NAA 500 4.592 3.01 IBA 5 54.539 4.875 0. Tabel sidik ragam pengaruh ZPT IBA.1904 NAA 5 1.696 10.198 1.9522 Galat 108 53.05 F0.769 IBA 500 NAA 500 4.3184 0.2312 2.189 6.7515 2.042 300 1.9642 2.01 IBA 5 6.891 0.2968 3.1904 NAA 5 16.05 Lampiran 6.057 200 1.9375 1.117 1.6109 1.375 0.688 3.4416 Total 143 611.156 1.1904 IBA*NAA 25 168.4678 0.2968 3.2968 3.49899 Total 143 73.9548** 1.7276 1.165 Keterangan : * = Signifikan pada taraf uji 5% ** = Signifikan pada taraf uji 1% .617 Keterangan : * =Signifikan pada taraf uji 5% Lampiran 5.1904 IBA*NAA 25 11.05 F0.117 500 1.4674* 2.539 IBA 500 NAA 200 4.1786* 2.01 Lampiran 4.2968 3. dan kombinasinya terhadap pertumbuhan jumlah akar di rumah kaca Sumber dB JK KT Fhit F0.9392 3.880 Alpha = .198 400 1.

96 9.0 9.26 IBA 300 NAA 400 9.83 IBA 200 NAA 500 9.53 9.51 9.0 8.88 8. Uji Lanjut Duncan kombinasi ZPT IBA dan NAA terhadap pertumbuhan jumlah akar di rumah kaca INTERAKSI SUBSET 1 2 3 4 5 6 IBA 0 NAA 0.51 IBA 200 NAA 300 9.88 200 9.77 IBA 0 NAA 300 8.69 IBA 500 NAA 100 9.95 IBA 300 NAA 0.00 10.97 IBA 100 NAA 500 10.77 9.69 9.78 IBA 200 NAA 400 9.71 IBA 100NAA 200 9.01 .75 IBA 400 NAA 200 9.75 9.0 9.51 9.66 9.0 NAA 500 9.05 Alpha = .07 IBA 300 NAA 100 9.05 Lampiran 8.66 IBA 100 NAA 100 9.19 IBA 0.92 IBA 500 NAA 400 9.87 IBA 0 NAA 100 8.94 IBA400 NAA400 9.51 IBA500 NAA0.63 IBA 200 NAA 200 9.07 9.59 IBA 100 NAA 300 9.0 9.0 8.0 NAA 200 8.64 IBA 400 NAA 300 9.00 400 10.Lampiran 7.42 IBA 300 NAA 500 9.78 9.97 IBA 0.96 500 10.0 9.18 IBA 300 NAA 200 9.99 IBA 300 NAA 300 9.0 NAA 400 9.02 IBA 400 NAA 500 10.74 IBA 500 NAA 200 9.61 IBA 500 NAA 300 9.46 IBA 100 NAA 0.00 IBA 500 NAA 500 10.48 300 8.73 IBA 400 NAA 100 9.53 IBA 400 NAA 0.56 IBA 200 NAA 100 9.38 IBA 200 NAA 0. Uji Lanjut Duncan ZPT IBA terhadap pertumbuhan jumlah akar di rumah kaca Subset IBA 1 2 3 0 8.91 IBA 100 NAA 400 9.77 100 9.06 Alpha = .15 IBA 0.

12 26.94 20.56 NAA 5 464.773 7.678 35.Lampiran 9.37 IBA*NAA 25 924.131 32.01 IBA 5 1316. NAA.3974** 2.4184 0.289 24.1904 NAA 5 12.759 263.35 400 22.04 0 26.582* 2.56 NAA*Pupuk 5 810.092 2.04 25.499 254.60 Alpha = .12 400 28.060** 2.6284 1.628 92.027 1.2968 3.131 1157.44 500 33. NAA.176 4.05 F0.47 3.683 1.11 7.13 Alpha = . Uji Lanjut Duncan ZPT IBA terhadap pertumbuhan panjang akar di rumah kaca Subset IBA 1 2 3 0 19.56 Pupuk 1 1157.151** 4.2425 Total 143 4188. Uji Lanjut Duncan ZPT IBA terhadap penambahan jumlah daun di lapangan SUBSET IBA 1 2 3 100 24.47 3.926 2.571 0.3518 12.60 200 26. dan kombinasinya serta interaksinya dengan perlakuan pupuk terhadap penambahan jumlah daun di lapangan Sumber dB JK KT Fhit F0.749 Keterangan : ** =Signifikan pada taraf uji 1% Lampiran 10.01 .1138 2.47 3. Tabel sidik ragam pengaruh ZPT IBA.96 300 25.05 F0.35 21.506** 2.2968 3.710 22. Tabel sidik ragam pengaruh ZPT IBA.188 21.05 Galat 37 1331.47 3.1904 IBA*NAA 25 565.099 7.879 162.56 IBA*NAA*Pupuk 60 1474.66 2.94 300 21.969 1.01 Lampiran 11.6109 1.867 276.89 200 24.9522 Galat 108 2294.01 IBA 5 1383.0652 1.991 Total 143 8817.40 100 27. dan kombinasinya terhadap pertumbuhan panjang akar di rumah kaca Sumber dB JK KT Fhit F0.248 36.78 2.13 500 20.690** 2.26 IBA*Pupuk 5 1270.219 Keterangan : * = Signifikan pada taraf uji 5% ** = Signifikan pada taraf uji 1% Lampiran 12.

10 Alpha = . Uji Lanjut Duncan ZPT NAA terhadap penambahan jumlah daun di lapangan SUBSET NAA 1 2 300 25.56 26.15 Alpha = .37 Alpha = .5 % 28.00 IBA 500 pupuk 7.42 IBA 400 pupuk 7.16 500 28. Uji Lanjut Duncan pupuk terhadap penambahan jumlah daun di lapangan PUPUK SUBSET Pupuk 0 % 24.05 Lampiran 14.0 pupuk 7.10 NAA 400 pupuk 7.Lampiran 13.56 NAA 200 pupuk 7.16 26.5% 26.71 0 25.5% 27. 51 NAA 0 pupuk 7.13 IBA 300 pupuk 7.89 200 26.5% 26.10 27.5% 26.07 400 29.5% 28.42 26.15 26.01 Lampiran 16. Uji Lanjut Duncan ZPT IBA dan pupuk terhadap penambahan jumlah daun di lapangan SUBSET IBA&PUPUK 1 2 3 IBA 100 pupuk 7. Uji Lanjut Duncan ZPT NAA dan pupuk terhadap penambahan jumlah daun di lapangan SUBSET NAA&PUPUK 1 2 3 NAA 300 pupuk 7.01 . 12 IBA 200 pupuk 7.5% 26.5% 27.5% 26.15 IBA 0.5% 26.74 100 25.18 Alpha = .41 Pupuk 7.5% 26.01 Lampiran 15.62 NAA 500 pupuk 7.5% 26.52 NAA 100 pupuk 7.5% 27.

19 400 63.56 NAA 5 2622.26 100 54.26 53.79 300 53.409 Keterangan : * = Signifikan pada taraf uji 5% ** = Signifikan pada taraf uji 1% Lampiran 18. Tabel sidik ragam pengaruh ZPT IBA.201 163.479** 4.76 400 60.736 927.111** 2.78 2.147 7.76 54.47 3.5 % 61.47 3.876 1. Uji Lanjut Duncan pupuk terhadap penambahan tinggi tanaman di lapangan PUPUK SUBSET Pupuk 0 % 51.404 1111.068 3713.022** 2.76 200 55.025 130.01 Lampiran 19.56 Pupuk 1 3713. Uji Lanjut Duncan ZPT IBA terhadap penambahan tinggi tanaman di lapangan SUBSET IBA 1 2 3 4 0 46.608 1.681 8.05 Galat 37 4824. NAA.527** 2.56 NAA*Pupuk 5 3167.56 IBA*NAA*Pupuk 60 6849.255 1.49 200 56.73 Pupuk 7.01 .439 4. Uji Lanjut Duncan ZPT NAA terhadap penambahan tinggi tanaman di lapangan SUBSET NAA 1 2 3 0 51.526 4.82 Alpha = .66 2.51 100 54.11 7.05 F0.01 IBA 5 5558.068 28.58 500 68.01 Lampiran 20.859** 2.76 55.379 Total 143 35460.26 IBA*Pupuk 5 4635.148 114.84 Alpha = .195 524.47 3.07 500 61.632 633.47 3.152 0.37 IBA*NAA 25 4090.60 Alpha = . Lampiran 17.44 300 54. dan kombinasinya serta interaksinya dengan pupuk terhadap penambahan tinggi tanaman di lapangan Sumber dB JK KT Fhit F0.

107 0.854 0.01 Lampiran 22.5% 56.15 Pupuk 7.5% 54.13 Alpha = .1730 0.Lampiran 21.26 IBA*Pupuk 5 0.238 0.849 10.38 IBA 100 PUPUK 7.405 1.153 2.5% 56.5% 57.01 IBA 5 1.48 Alpha = .56 Pupuk 1 3.5341 0.5% 58.38 NAA 300 PUPUK 7.56 NAA 5 0.56 NAA*Pupuk 5 2.5 % 1.47 3.849 3.5% 53. NAA. dan kombinasinya serta interaksinya dengan pupuk terhadap penambahan jumlah cabang di lapangan Sumber dB JK KT Fhit F0.0 PUPUK 7.438 1.192 0.072 0.56 IBA*NAA*Pupuk 60 9.5% 56.78 2.72 NAA 400 PUPUK 7.02 IBA 300 PUPUK 7.84 NAA 500 PUPUK 7.66 2.282 2.0 PUPUK 7.27 NAA 200 PUPUK 7.37 IBA*NAA 25 0. Uji Lanjut Duncan ZPT NAA dan pupuk terhadap penambahan tinggi tanaman di lapangan SUBSET NAA&PUPUK 1 2 3 NAA 0.47 3.5% 60.07 58. Uji Lanjut Duncan ZPT IBA dan pupuk terhadap penambahan tinggi tanaman di lapangan SUBSET IBA&PUPUK 1 2 3 IBA 0.5% 53.749 Keterangan : ** = Signifikan pada taraf uji 1% Lampiran 24.01 .13 56. Tabel sidik ragam pengaruh ZPT IBA.5% 53.86 NAA 100 PUPUK 7.5% 54.618 2.47 3.13 IBA 200 PUPUK 7.129** 4.72 56.11 7.439 2.05 F0.5% 56.235 0.089 1.837 0.74 Alpha = .46 IBA 400 PUPUK 7.154 0.167 0.05 Galat 37 14.01 Lampiran 23.07 IBA 500 PUPUK 7.47 3.380 Total 143 32. Uji Lanjut Duncan pupuk terhadap penambahan jumlah cabang di lapangan PUPUK SUBSET Pupuk 0 % 1.034 0.

00 26/11 92 79 78 83.00 3/11 84 73 92 83.30 14/12 84 92 92 89.00 22/10 100 92 100 97.30 26/10 100 84 92 92.30 16/11 92 72 78 80.00 18/11 84 73 92 83.60 7/11 100 79 85 88.00 14/11 85 79 100 88.00 25/11 91 79 92 87.00 6/11 92 79 92 87.Lampiran 25.00 31/10 100 84 100 94.00 4/11 100 73 92 88.00 10/12 92 93 92 92.30 13/11 85 79 100 88.00 29/11 92 79 91 87.60 29/10 100 92 100 97. Keadaan kelembaban di rumah kaca (%) : Tanggal 07.00 25/10 100 85 92 92.00 8/11 92 79 100 90.30 23/10 92 84 100 92.60 2/11 100 79 100 93.00 3/12 92 85 85 87.30 28/10 92 85 92 89.00 15/11 84 72 85 80.30 30/10 100 73 100 91.00 12/12 92 92 92 92.30 9/11 92 79 100 90.30 rata-rata 20/10 100 92 100 97.00 22/11 77 72 100 83.33 21/10 92 92 92 92.30 10/11 92 84 84 87.00 20/11 84 92 92 89.00 23/11 84 91 91 89.60 1/11 100 84 100 94.00 19/11 84 72 92 83.00 11/12 92 79 91 87.00 12/11 84 72 100 85.00 11/11 78 79 92 83.30 13.00 5/12 92 92 84 89.60 17/11 84 79 92 85.00 1/12 91 92 92 92.00 6/12 92 92 92 92.00 .00 2/12 92 85 85 87.00 28/11 84 79 92 85.00 7/12 92 92 92 92.00 27/11 84 79 92 85.00 24/11 91 78 92 87.00 21/11 92 92 84 89.00 27/10 100 85 92 92.00 8/12 92 93 90 92.00 4/12 92 85 85 87.00 24/10 92 84 100 92.00 9/12 84 92 90 89.30 5/11 100 73 100 91.30 17.00 30/11 91 79 91 87.00 13/12 92 72 92 85.

5 27 14/11 25 29 25 26 15/11 23 29 26.5 28 27 22/10 24 28 22.5 28 18/11 24 30 26.5 28 22 25 30/11 21 28 23 24 1/12 21 28 23.5 30.5 25 24.5 24 23 24 22/11 23.5 26 21/10 22 30.5 23 24 25/11 22 28 23 24 26/11 22.30 17. Keadaan suhu di rumah kaca ( 0 C ) : Tanggal 07.30 rata-rata 20/10 24.5 24 13/12 23 26 25 25 14/12 23.5 27.5 25 2/11 23 26.5 23 24 21/11 23.5 24 1/11 24.5 23 25 8/12 21 28 23.5 24 9/12 25 32 25 27 10/12 25 32 25 27 11/12 25 32 25 27 12/12 23 26 22.30 13.5 26.5 26 23.5 26 26 20/11 24 23.5 27.5 25 23/10 23 28 26 26 24/10 23.5 32.5 26 11/11 25 28 25 26 12/11 24 31 27 27 13/11 25 30.5 22 22 24/11 22 27.5 24 2/12 22.5 24 27 23/11 22 22.5 26 16/11 22 31.5 27 25 25 3/12 23 29 26 26 4/12 23 26 23.5 31 26 27 25/10 23 30 26 26 26/10 24 30 26 27 27/10 24 30 26 27 28/10 24.5 25.5 28 26 26 27/11 25 30 25 27 28/11 24 28 23 25 29/11 23.5 25 29/10 22.5 26.5 21 24 9/11 25 28 26 26 10/11 25 28 24.5 23 25 .5 24 5/12 23 26 22.5 25.5 26.5 24 31/10 22.5 26 23 24 30/10 23 26 23.5 27 17/11 23.5 24 6/12 23 26 25 25 7/12 23.5 33.5 26 27 7/11 23 27.5 27 19/11 24 28.5 26 26 8/11 24 27.5 26 25 3/11 23 27 25 25 4/11 25 27 26 26 5/11 23 28 27 26 6/11 24.5 24.Lampiran 26.5 25.

4 21.0 85 3.4 85.2 21.8 21.9 85 4.7 88 2.6 21.Lampiran 27.9 61.0 214.4 21.8 48 2.0 35 2.6 74 1.4 619.2 23.4 25 568 April 33.5 86 4.9 21.5 35 2.8 21 80 4.2 22 392 Oktober 33.0 234.2 39.6 3.1 25 580 Maret 33.4 87 3.4 460.3 22 308 Mei 33.9 16 429 Juni 32.3 21 82 4.8 86 3.6 Sumber : Badan Meteorologi dan Geofisika Balai Wilayah II Stasiun Klimatologi Klas 1 Darmaga Bogor Keterangan : ABS = Absolut .9 2.3 21 277 Nopember 33.7 22.1 67 2.3 27 401 Desember 34. Data Klimatologi Darmaga Bogor tahun 2004-2005 Bulan Temperatur Kelembaban nisbi Penguapan Lama Kecepatan Hari Curah Maksimum Minimum penyinaran angin hujan hujan ABS ABS September’04 33.7 87 4.4 90 3.2 21.5 89 3.2 59 2.7 82 2.9 24 682 Jumlah 334.3 25 432 Januari‘05 32.0 4605.1 20.2 64 2.2 856.3 27 537 Februari 33.5 67 1.5 Rata-rata 33.4 22.