Topik studi kasus yang menajdi fokus analisis saya ialah mengenai peningkatan volume

limbah sampah yang mencapai limapuluh persen selama bulan Ramadhan pada wilayah
kabupaten bandung, seperti di daerah Terminal Pasar Baleendah, Jalan Dayeuhkolot dan Jalan
Anggadireja yang menuju arah Baleendah. Definisi sampah menurut UU-18/2008 tentang
Pengelolaan Sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang
berbentuk padat. Sampah yang diatur dalam UU tersebut meliputi sampah rumah tangga,
sampah sejenis sampah rumah tangga, serta sampah spesifik. Sampah rumah tangga
merupakan sampah yang berasal dari kegiatan sehari-hari dalam rumah tangga, tidak
termasuk tinja dan sampah spesifik. Sampah sejenis sampah rumah tangga merupakan
sampah yang berasal dari kawasan komersial, kawasan industri, kawasan khusus, fasilitas
sosial, fasilitas umum, dan/atau fasilitas lainnya. Sampah spesifik merupakan sampah yang
mengandung bahan berbahaya dan beracun.
Berdasarkan pemaparan Wildan, seorang warga Dayeuhkolot dalam artikel berita “Volume
Sampah Naik pada Ramadhan” yang dimuat oleh Harian Pikiran Rakyat, pencemaran sampah
di Terminal Pasar Baleendah merupakan limbah sampah rumah tangga yang dibungkus
kantong kresek dan dibuang begitu saja sehingga menumpuk dan meluber ke pinggir jalan.
Damanhuri dan Padmi (2010) menyatakan bahwa sampah yang berasal dari
pemukiman/tempat tinggal dan daerah komersial, selain terdiri atas sampah organik dan
anorganik, juga dapat berkategori B3. Sampah organik bersifat biodegradable sehingga
mudah terdekomposisi, sedangkan sampah anorganik bersifat non-biodegradable sehingga
sulit terdekomposisi. Bagian organik sebagian besar terdiri atas sisa makanan, kertas, kardus,
plastik, tekstil, karet, kulit, kayu, dan sampah kebun. Bagian anorganik sebagian besar terdiri
dari kaca, tembikar, logam, dan debu. Sampah yang mudah terdekomposisi, terutama dalam
cuaca yang panas, biasanya dalam proses dekomposisinya akan menimbulkan bau dan
mendatangkan lalat.
Penjabaran lebih luas lagi mengenai sampah rumah tangga ialah merupakan sampah yang
dihasilkan dari kegiatan atau lingkungan rumah tangga atau sering disebut dengan istilah
sampah domestik. Dari kelompok sumber ini umumnya dihasilkan sampah berupa sisa
makanan, plastik, kertas, karton / dos, kain, kayu, kaca, daun, logam, dan kadang-kadang
sampah berukuran besar seperti dahan pohon. Praktis tidak terdapat sampah yang biasa
dijumpai di negara industri, seperti mebel, TV bekas, kasur dll. Kelompok ini dapat meliputi
rumah tinggal yang ditempati oleh sebuah keluarga, atau sekelompok rumah yang berada
dalam suatu kawasan permukiman, maupun unit rumah tinggal yang berupa rumah susun.
Dari rumah tinggal juga dapat dihasilkan sampah golongan B3 (bahan berbahaya dan
beracun), seperti misalnya baterei, lampu TL, sisa obat-obatan, oli bekas, dll.
Tanggapan Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kabupaten Bandung, Asep
Kusumah ialah berupa pengakuan bahwa pada awal Ramadhan ini memang terjadi
penambahan volume sampah yang mencapai sekian persen dari jumlah biasanya yang 1440
ton perhari. Penjelasan lebih lanjut dari Asep mengenai sistem pengelolaan sampah apabila
dikaitkan dengan teori pengelolaan sampah menurut SNI 19-2454-2002 tentang Teknik
Operasional Pengelolaan Sampah Perkotaan, pengelolaan yang dilakukan oleh kabupaten
Bandung selama ini ialah metode Open Dumping, yang merupakan sistem pengolahan
sampah dengan hanya membuang/ menimbun sampah disuatu tempat tanpa ada perlakukan
khusus/ pengolahan sehingga sistem ini sering menimbulkan gangguan pencemaran
lingkungan. Asep pun menyadari bahwa langkah yang diambil oleh pemerintah kabupaten

solusi tersebut dicetuskan oleh Sudiarno (2009). sehingga proses yang terjadi akan lebih ergonomis. Oleh karena itu. Berdasarkan penjelasan dalam artikel berita bertajuk “Volume Sampah Naik pada Ramadhan”. dan minimnya kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam pengelolaan sampah. yakni pemerintah dan swasta yang menyediakan tempat sampat secara terpisah antara organik dengan anorganik yang kemudian dikelola dengan penanganan berdasarkan jenis sampah yang telah dipilah tersebut. maka dapat permasalahan utama penyebab bertambahnya volume sampah antara lain ialah peningkatan konsumsi kebutuhan rumah tangga yang meningkat selama bulan Ramadhan sehingga berimbas pada meningkatnya limbah sampah yang dihasilkan oleh rumah tangga. pemerintah kabupaten Bandung meluncurkan program Lubang Cerdas Organik (LCO) yang mana merupakan suatu metode untuk mengelola sampah organik dengan cara membuat lubang berdiameter 10 cm dan kedalaman 80 100 cm.bandung ini masih belum maksimal. yakni manajemen sampah terintegrasi yang digambarkan melalui bagan di bawah ini. maka beberapa waktu lalu. Penanganan sampah dengan cara tersebut. sehingga membutuhkan partisipasi aktif dari masyarakat dalam mengelola limbah sampah rumah tangga. menurut Damanhuri dan Padmi (2010) masih menggunakan paradigma kuno. Berdasarkan analisis yang telah saya uraikan. terdapat dua elemen yang bertanggung jawab dalam melakukan pengelolaan sampah. pengelolaan sampah oleh pemerintah kabupaten bandung yang belum maksimal. LCO ini pun selain berfungsi sebagai resapan air. untuk meningkatkan partisipasi masyarakat tersebut. maka terdapat satu solusi yang menurut saya akan sangat efektif apabila diaplikasikan untuk pengelolaan sampah kabupaten Bandung. Dalam manajemen sampah terintegrasi. yaitu kumpul / angkut / buang. masyarakat bertindak sebagai subjek utama dalam memilah sampah yang hendak dibuang dalam tempat sampah. kemudian minimnya tempat pembuangan sampah (TPS). juga bermanfaat sebagai composting sampah organik. . Dalam bagan tersebut. sehingga terjadi penumpukan sampah pada satu titik area yakni wilayah Terminal Pasar Baleendah.

serta dapat pula dilakukan pencegahan antisipasi melalui metode manajemen pengelolaan sampah terintegrasi tersebut. atau agar dapat secara aman dilepas ke lingkungan e. Departemen Pekerjaan Umum. Diktat Kuliah Teknik Lingkungan: Pengelolaan Sampah. Standar Nasional Indonesia (SNI) 19- 2454-1992 tentang Tata cara Pengelolaan Teknik Sampah Perkotaan. maka upayakan memanfaatkan limbah tersebut secara langsung c. Enri. swasta. Langkah 3 Recycle (daur-ulang): residu atau limbah yang tersisa atau tidak dapat dimanfaatkan secara langsung. 1991. Laporan Tesis. Tri. Standar Nasional Indonesia (SNI) S – 04 – 1991 – 03 tentang Spesifikasi Timbulan sampah untuk kota kecil dan kota sedang di Indonesia. Jakarta Sudiarno. dan masyarakat.Secara ideal kemudian pendekatan proses pemilahan sampah oleh masyarakat tersebut dikembangkan menjadi konsep hierarh urutan prioritas penanganan limbah sampah secara umum. seperti bioremediasi dan sebagainya. yaitu melalui rekayasa yang baik dan aman seperti menyingkirkan pada sebuah lahan-urug (landfill) yang dirancang dan disiapkan secara baik f. baik sebagai bahan baku maupun sebagai sumber enersi d. Langkah 4 Treatment (olah): residu yang dihasilkan atau yang tidak dapat dimanfaatkan kemudian diolah. 1992. perlu direhabilitasi atau diperbaiki melalui upaya rekayasa yang sesuai. Dengan adanya integrasi antara elemen pemerintah. Badan Standarisasi Nasional (BSN). 2006. maka permasalahan peningkatan volume sampah ini dapat ditangani dengan cepat dan tepat. Jurusan Teknik Industri ITS.. Langkah 6 Remediasi: media lingkungan (khusunya media air dan tanah) yang sudah tercemar akibat limbah yang tidak terkelola secara baik. Langkah 1 Reduce (pembatasan): mengupayakan agar limbah yang dihasilkan sesedikit mungkin b. Langkah 5 Dispose (singkir): residu/limbah yang tidak dapat diolah perlu dilepas ke lingkungan secara aman. Jakarta Badan Standarisasi Nasional (BSN). . Departemen Pekerjaan Umum. Program Studi Teknik Lingkungan. ITB. Integrasi Ergonomi Total dan Ekologi pada Pemodelan Sistem Manajemen Sampah di Kota Surabaya Menuju Kota Ecopolish. kemudian diproses atau diolah untuk dapat dimanfaatkan. Adithya. FTSL. Damanhuri. agar memudahkan penanganan berikutnya. Surabaya. Langkah 2 Reuse (guna-ulang): bila limbah akhirnya terbentuk. 2010. yaitu [28]: a. dan Padmi.