ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN

DENGAN GANGGUAN KONSEP DIRI

A. PENDAHULUAN
Manusia adalah makhluk bio-psiko-sosial yang unik dan menerapkan
sistem terbuka serta saling berintegrasi. Manusia selalu berusaha untuk
mempertahankan keseimbangan hidupnya. Keseimbangan yang
dipertahankan oleh setiap individu untuk dapat menyesuaikan diri dengan
lingkungannya, keadaan ini disebut sehat. Sedangkan seseorang dikatakan
sakit apabila gagal dalam mempertahankan keseimbangan diri dan
lingkungannya.
Pada hierarki dalam Kebutuhan Maslow dinyatakan bahwa tingkat
yang paling tinggi dalam kebutuhan manusia adalah tercapainya aktualisasi
diri. Untuk mencapai aktualisasi diri diperlukan konsep diri yang sehat.
Konsep diri sangat erat kaitannya dengan diri individu. Kehidupan
yang sehat, baik fisik maupun psikologi salah satunya di dukung oleh konsep
diri yang baik dan stabil. Konsep diri adalah hal-hal yang berkaitan dengan
ide, pikiran, kepercayaan serta keyakinan yang diketahui dan dipahami oleh
individu tentang dirinya. Hal ini akan mempengaruhi kemampuan individu
dalam membina hubungan interpersonal. Meski konsep diri tidak langsung
ada, begitu individu di lahirkan, tetapi secara bertahap seiring dengan tingkat
pertumbuhan dan perkembanga individu, konsep diri akan terbentuk karena
pengaruh ligkungannya . Selain itu konsep diri juga akan di pelajari oleh
individu melalui kontak dan pengalaman dengan orang lain termasuk
berbagai stressor yang dilalui individu tersebut. Hal ini akan membentuk
persepsi individu terhadap dirinya sendiri dan penilaian persepsinya terhadap
pengalaman akan situasi tertentu.

B. DEFINISI KONSEP DIRI
Menurut Stuart dan Sundeen (1998), konsep diri adalah semua ide,
pikiran, kepercayaan dan pendirian yang diketahui individu tentang dirinya

1

dan mempengaruhi individu dalam berhubungan dengan orang lain, termasuk
persepsi individu akan sifat dan kemampuannya, interaksi dengan orang lain
dan lingkungan, nilai-nilai yang berkaitan dengan pengalaman dan objek,
tujuan serta keinginannya.
Menurut Beck, Willian dan Rawlin (1986) menyatakan bahwa konsep
diri adalah cara individu memandang dirinya secara utuh, baik fisikal,
emosional intelektual , sosial dan spiritual.
Potter & Perry (1993), konsep diri adalah merefleksikan pengalaman
interaksi sosial, sensasinya juga didasarkan bagaimana orang lain
memandangnya.
Beck William Rowles (1993), mendefinisikan konsep diri sebagai cara
memandang individu terhadap diri secara utuh baik fisik, emosi, intelektual,
sosial & spiritual.
Secara umum, konsep diri dapat didefinisikan sebagai cara kita
memandang diri kita secara utuh, meliputi: fisik, intelektual, kepercayaan,
sosial, perilaku, emosi, spiritual, dan pendirian.
Konsep diri dipelajari melalui kontak sosial dan pengalaman pribadi
individu berhubungan dengan orang lain, dan interaksi dengan dunia luar
dirinya, konsep diri berkembang terus mulai dari bayi hingga lanjut usia.
Konsep diri belum ada saat bayi dilahirkan, tetapi mulai berkembang secara
bertahap saat bayi mulai mampu mengenal dan membedakan dirinya dengan
orang lain dan mempunyai dalam berhubungan dengan orang lain.
Perkembangan ini sangat dipengaruhi oleh kemampuan bicara individu,
pengalaman dalam keluarga merupakan dasar pembentukan konsep diri
karena keluarga dapat memberikan perasaan mampu dan tidak mampu.
Perasaan diterma atau ditolak dan dalam keluarga individu mempunyai
kesempatan untuk mengidentifikasi perilaku orang lain. Dan pempuanyai
penghargaan yang pantas tentang tujuan, perilaku dan nilai.
Memahami konsep diri sangat penting bagi perawat karena asuhan
keperawatan diberikan secara utuh bukan hanya penyakit saja tetapi juga

2

kontak lensa. keyakinan dan pengetahuan individu secara sadar atau tidak sadar terhadap tubuhnya yaitu ukuran. Citra tubuh merupakan hal pokok dalam konsep diri. keterbatasan. KOMPONEN KONSEP DIRI Konsep diri terdiri atas komponen citra tubuh. ideal diri. kursi roda) baik masa lalu maupun sekarang. C. dan lain-lain. penampilan. ukuran. bentuk. citra tubuh harus realitas karena semakin seseorang menerima dan menyukai tubuhnya. Sikap individu terhadap tubuhnya mencerminkan aspek penting dalam dirinya misalnya perasaan menarik. peran dan identitas personal. ia akan lebih bebas dan merasa aman dari kecemasan sehingga harga dirinya akan meningkat. nilai dan pendapat tertentu tentang dirinya. keterbatasan. suntik dan pemasangan infus 3 . srtuktur. menghadapi individu yang mempunyai pandangan. fungsi. fungsi. perubahan citra tubuh sangat mungkin terjadi. Citra tubuh (Body image) Citra tubuh adalah sikap. makna dan objek. pakaian. struktur. make-up. Gangguan citra tubuh adalah perubahan persepsi tentang tubuh yang diakibatkan oleh perubahan ukuran. gemuk atau kurus. respon individu terhadap konsep dirinya berfluktuasi sepanjang rentang respon konsep diri yaitu dari adaptif sampai mal-adaptif. penampilan dan potensi yang dimiliki. bentuk. fungsi. Citra tubuh dapat diartikan sebagai kumpulan sikap individu yang disadari maupun tidak terhadap tubuhnya temasuk persepsi masa lalu atau sekarang. pada klien yang dirawat di rumah sakit umum. persepsi. harga diri. makna dan objek yang kontak secara terus menerus (anting. 1. Stressor pada tiap perubahan adalah:  Perubahan ukuran tubuh: berat badan yang turun akibat penyakit  Perubahan bentuk tubuh: tindakan invasi sepertin operasi.

Tidak menerima perubahan yang telah terjadi/akan terjadi 3.  Perubahan srtuktur sama dengan perubahan bentuk tubuh disertai dengan pemasangan alat di dalam tubuh  Perubahan fubgsi berbagai penyakit yang dapat merubah sistem tubuh  Keterbatasan gerak: makan. Mengungkapkan ketakutan Masalah keperawatn yang mungkin timbul: 1. keinginan. Menolak penjelasan perubahan tubuh 4. pemeriksaan tanda vital. Sering disebut bahwa ideal diri sam adengan cita-cita. Tanda dan gejala gangguan citra tubuh: 1. Ketidakberdayaan 5. 4 . Preokupasi dengan bagian tubuh yang hilang 6. tujuan. keinginan atau nilai pribadi tertentu. suntik. pemasangan alat pada tubuh klien seperti infus. Mengungkapkan keputusasaan 7. Keputusasaan 4. Gangguan citra tubuh 2. Kepusakan penyesuain 2. kegiatan  Makna dan objek yang sering kontak: penampilan dan dandanan berubah. Menolak melihat dan menyuntuh bagian tubuh yang berubah 2. Ideal diri Ideal diri adalah persepi individu tentang bagaiman dia harus berperilaku berdasarkan standar. Persepsi negatif pada tubuh 5. Gangguan harga diri 3. respurator. harapan tentang diri sendiri.

realita. tujuan aatau nilai yang diyakini. Ideal diri berperan sebagai pengatur internal membantu individu mempertahankan kemampuannya menghadapi konflik atau kondisi yang membuat bingung. Individu cenderung mensetting tujuan yang sesuai dengan kemampuannya. ideal diri yang samar dan tidak jelas dan cenderung menuntut. samar-samar atau kabur. Idela diri harus cukup tinggi supaya mendukung respek terhadap diri dan tidak terlalu tinggi. terlalu menuntut. Penetapan ideal diri dipengaruhi oleh kebudayaan. kaki saya yang dioperasi membuat saya tidak bisa main bola. b. menghindari kegagalam dan rasa cemas. sukar dicapai dan tidak realistik. ideal diri penting untuk mempertahankan kesehatan dan keseimbangan mental. Persepsi individu tentang bagaimana seharusnya berperilaku berdasarkan standar. keluaraga dean ambisi. misalnya saya tidak bisa ikut ujian karena sakit. Pada klien yang dirawat di rumah sakit karena sakit. kultural. Gangguan ideal diri adalah ideal diri yang terlalu tinggi. setelah sehat saya akan sekolah lagi padahal penyakitnya mengakibatkan tidak mungkin lagi sekolah. Menungkapkan keinginan yang terlalu tinggi. ideal diri akan melahirkan harapan individu terhadap dirinya sat berada ditengah masyarakat dengan norma tertentu. saya tidak bisa lagi jadi peragawati karena bekas operasi di muka saya. 5 . keinginan kemampuan individu dalam menyesuaikan siri dengan orang serta prestasi masyarakat setempat. Menungkapkan keputusasaan akibat penyakitnya. maka ideal dirinya dapat terganggu atau ideal diri klien terhadap hasil pengobatan yang terlalu tinggi dan sukar dicapai. Tanda dan gejala yang dapat di kaji: a. Misalnya saya pasti bisa sembuh padahal prognosa penyakitnya buruk. aspirasi.

Memberi kesempatan untuk berhasil 2. sebailknya individu akan merasa harga dirinya rendah bila sering mengalami kegagalan. kecelakaan. Ideal diri tidak realitas b. putus sekolah. Ketidakberdayaan c. misalnya harus operasi. Harga diri (self esteem) Harga diri adalah penilaian individu tentang pencapaian diri dengan menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai dengan ideal diri. dicerai suami. Masalah keperawatan yang mungin timbul: a. hilang kepercayaan diri. dipenjara tiba-tiba). Pada klien yang dirawat dapat terjadi harga diri rendah karena: 6 . tidak dicintai atau tidak diterma dilingkungan. perasaan malu karena sesuatu terjadi (korban perkosaan. Keputusasaan c. Harga diri dibentuk sejak kecil akan meningkat sesuai meningkatnya usia dan terancam pada masa puberitas. Mendukung aspirasi atau ide 4. Coopersmith dalam buku stuart dan sundeen menyatakan ada 4 hal yang dapat meningkatkan harga diri anak yaitu: 1. Dituduh KKN. merasa gagal mencapai keinginan. Harga diri diperoleh dari diri sendiri dan orang lain. Pencapaian ideal diri atau cita-cita/harapan langsung menghasilkan perasaan berharga. Membantu membentuk koping. Gangguan harga diri yang disebut sebagai harga diri rendah dan dapat terjadi secara: a) Situasional. Individu akan merasa harga dirinya tinggi bila sering mengalami keberhasilan. yaitu terjadi trauma yang tiba-tiba. Menanamkan idealisme 3. Gangguan harga diri dapat digambarkan sebagai perasaan yang negatif terhadap diri sendiri. putus hubungan kerja. Penilaian pribadi terhadap hasil yang dicapai dari menganalisa seberapa jauh perilaku memenuhi ideal diri.

berbagai tindakan tanap persetujuan. Percaya diri kurang. Mencederai diri akibat harga diri yang rendah di sertai harapan yang suram. pemasangan alat yang tidak sopan (pencukuran rambut pubis. d. lebih suka sendiri. Tanda dan gejala yang dapat dikaji: a. pemeriksaan perineal)  Harapan akan struktur. kejadian sakit/dirawat akan menabah persepsi negatif terhadap dirinya. Masalah keperawatan yang mungkin timbul: a. Rasa bersalah terhadap diri sendiri (misalnya ini tidak akan terjadi jika saya segera ke rumah). saya orang bodoh dan tidak tahu apa-apa. pemasangan keteter. Klien ini mepunyai cara berfikir yang negatif. mungkin klien ingin mengakhiri kehidupan. f. saya tidak mampu.  Privacy yang kurang diperhatikan. klien tidak ingin bertemu dengan orang lain. Perasaan malu tehadap diri sendiri akibat penyakit dan akibat tindakan penyakit. Misalnya berbagai pemeriksaan yang dilakukan tanpa penjelasan. misalnya pemeriksaan fisik yang sembarangan. klien sukar dalam mengambil keputusan misalnya tentang memilih alternatif tindakan. Gangguan harga diri rendah situasional atau kronik 7 . c. b. misalnya malu dan sedih karena rambut jadi botak setelah mendapatkan terapi pada kanker. menyalahkan. mengejek dan mengkritik diri sendiri. e. b) Kronik yaitu perasaan negatif terhadap diri telah berlangsung lama yaitu sebelum sakit dirawat. bentuk dan fungsi tubuh yang tidak tercapai karena dirawat/sakit  Perlakuan petugas kesehatan yang tidak menghargai. misalnya saya tidak bisa. Merendahkan mertabat. Gangguan hubungan sosial seperti menarik diri.

Isolasi soasial menarik diri d. dapat mengontrol diri. Identitas diri Identitas diri adalah kesadaran akan keunikan diri sendiri yang bersumber dari penilaian dan observasi diri sendiri. Pada klien yang dirawat di rumah sakit karena penyakit fisik. Menyadari hubungan masa lalu. Memandang perlu aspek diri sebagai suatu keselarasan. Mengakui jenis kelamin. mempunyai percaya diri. Identitas diri adalah kesadaran tentang diri sendiri “yang dapat diperoleh individu dari observasi dan penilaian terhadap dirinya”. c. Ciri-ciri individu dengan identitas diri yang positif : a. Mengenal diri sebagai individu yang utuh berpisah dari orang lain. menyadari individu bahwa dirinya berbeda dengna orang lain. mengatur diri dan menerima diri. Keputusaan c. Menilai diri sesuai dengan penilaian masyarakat e. mempunyai persepsi tentang peran serta citra diri. Gangguan identitas diri adalah kekaburan atau ketidakpastian memandang diri sendiri. Sukar menetapkan keinginan dan tidak mampu mengambl keputusan. sintesa dari semua gambaran utuh dirinya. penuh dengan keraguan. atribut atau jabatan dan peran. b. d. respek terhadap diri. Pengertian identitas adalah oraganisasi. Identitas ditandai dengan kemampuan memandang diri sendiri beda dengan orang laian. b. Resiko perilaku kekerasan. mampu menguasai diri. sekarang dan yang akan dating. Dalam identitas diri ada otonomi yaitu mengerti dan percaya diri. maka identitas dapat terganggu karena : 8 . 4. tidak dipengaruhi oleh pencapaian tujuan. Mempunyai tujuan dan nilai yang disadari. f.

Peran Peran adalah seperangkat perilaku yang diharapkan secara sosial yang berhubungan dengan fungsi individu pada berbagai kelompok sosial. perilaku. niali. Tanda dan gejala yang dapat dikaji : a. 9 . Gangguan identitas personal b. Sukar mengambil keputusan c. Tidak ada percaya diri b. Masalah dalam hubungan interpersonal e. Ketergantungan d. Proyeksi yaitu meyalahkan orang lain Masalah keperawatan yang mungkin timbul : a. Peran sebelumnya tidak dapat dijalankan. Ketidakberdayaan c. tiap individu mempunyai berbagai peran yang terintegrasi dalam pola fungsi individu. dan tujuan yang diharapkan oleh masyarakat sesuai posisinya di masyarakat atau kelompok sosialnya. a. Peran yaitu seperangkat pola sikap. Keputusasaan 5. Tubuh klien dikontrol oleh orang lain. Ragu atau tidak yakin terhadap keinginan f. misalnya pelaksanaan pemeriksaan dan pelaksanaan tindakan tanpa penjelasan dan persetujuan klien b. Perubahan peran dan fungsi klien menjalankan peran sakit. Ketergantungan pada orang lain misalnya untuk self-care perlu dibantu orang lain sehingga otonomi atau kemandirian terganggu c. Peran memberikan sarana untuk berperan dalam kehidupan sosial dan merupakan cara untuk menguji identitas dengan memvalidasi pada orang yang berarti.

putus sekolah. Peran klien yang berubah adalah : a. Perubahan penampilan peran b. putus hubungan kerja. Apatis. proses menua. Peran dalam pekerjaan sekolah c. Kejelasan perilaku yang sesuai dengan perannya dari pengetahuan tentang peran yang diharapkan b. Respon atau tanggap yang konsisten dari orang yang berarti terhadap perannya c. otomatis peran sosial klien berubah menjadi sakit. Kesesuaian norma budaya dan harapannya dengan peran d. Ketidakberdayaan 10 . klien tidak mampu melakukan perannya yang biasa. Gangguan harga diri c. Kurang tanggungjawab f. Peran dalam kelompok Klien tidak dapat melakukan peran yang biasa dilakukan selama dirawat di rumah sakit atau setelah kembali dari rumah sakit.Hal – hal yang mempengaruhi penyesuian individu terhadap peran : a. Perbedaan situasi yang dapat menimbulkan penampilan peran yang tidak sesuai Gangguan penampilan peran adalah berubahnya atau berhenti fungsi peran yang disebabkan oleh penyakit. Tanda dan gejala yang dapat dikaji : a. Keputusasaan d. Ketidakpuasaan peran c. Peran dalam keluarga b. bosan dan putus asa Masalah keperawatan yang mungkin timbul : a. Kegagalan menjalankan peran yang baru d. Pada klien yang sedang dirawat di rumah sakit. Mengingkari ketidakmampuan menjalankan peran b. Ketegangan menjalankan peran yang baru e.

RENTANG RESPON KONSEP DIRI Adaptif Mal-adaptif Aktualisasi Konsep Harga diri Kerancuan Depersonalisasi diri diri rendah identitas positif Keterangan: 1.D. Konsep diri positif Menunjukkan individu akan sukses dalam menghadapi masalah. Aktualisasi diri Kesadaran akan diri berdasarkan konservasi mandiri termasuk persepsi masa lalu akan diri dan perasaannya. Respon mal-adaptif adalah respon individu dalam menghadapi masalah dimana individu tidak mampu memecahkan masalah tersebut. 2. Deporsonalisasi (tidak mengenal diri) 11 . b. c. Kekacauan identitas Identitas dari kacu atau tidak jelas sehingga tidak memberikan kehidupan dalam mencapai tujuan. Respon adaptif adalah respon yang dihadapi klien sbila klien mengahadapi suatu masalah dapat menyelesaikannya secara baik antara lain: a. Respon mal-adaptif gangguan konsep diri adalah: a. Gangguan harga diri Transisi antar respon konsep diri positif dan mal-adaptif b.

Perubahan ukuran. Proses pengobatan seperti radiasi dan kemoterapi Harga Diri 1. Sterotipik peran seks 2. tidak mampu berhubungan denga orang lain secara intim. Penolakan 2. Kehilangan/kerusakan bagian tubuh (anatomi dan fisiologi) 2. Ketidakpercayaan orang tua 2. Tidak mampu mencapai standar Peran 1. Perubahan struktur social 12 . Tuntutan peranan kerja 3. tidak konsisten. Proses penyakit dan dampaknya terhadap struktur dan fungsi tubuh 4. Kurang penghargaan 3. Tidak ada rasa percaya diri atau tidak dapat membina hubungan baik dengan orang lain. bentuk dan penampilan tubuh akibat penyakit 3. Tidak mengenal diri yaitu mempunyai kepribadian yang kurang sehat. Tekanan dari “peer group” 3. terlalu dituruti. Harapan peran kuktural Identitas 1. E. Persaingan antar saudara 5. terlalu dituntut 4. Pengkajian a. Faktor predisposisi Citra tubuh 1. ASUHAN KEPERAWATAN 1. otoriter. Pola asuh overprotektif. Kesalahan dan kegagalan berulang 6.

penampilan dan fungsi tubuh. Perilaku Citra tubuh  Menolak menyentuh atau melihat bagian tubuh tertentu  Menolak bercermin  Tidak mau mendiskusikan keterbatasan atau cacat tubuh 13 . perubahan bentuk. khususnya trauma emosi seperti penganiayaan seksual dan psikologis pada masa anak-anak atau merasa terancam atau menyaksikan kejadian yang mengancam kehidupan. Konflik peran terjadi saat individu menghadapi dua harapan yang bertentangan dan tidak dapat dipenuhi. Ketegangan Peran Ketegangan peran adalah rasa frustasi saat individu merasa tidak mampu melakukan peran yang bertentangan dengan hatinya atau tidak merasa sesuai dalam melakukan perannya. keraguan peran dan terlalu banyak peran. Ketegangan peran ini sering dijumpai saat terjadi konflik peran. prosedur medis dan keperawatan c.b.  Transisi peran perkembangan  Perubahan normatif yang berkaitan dengan pertumbuhan  Transisi peran situasi  Perubahan jumlah anggota keluarga baik bertambah ataupun berkurang  Transisi peran sehat-sakit  Pergeseran kondisi klien menyebabkan kehilangan bagian tubuh. Stressor presipitasi Trauma Masalah spesifik dengan konsep diri adalah situasi yang membuat individu sulit menyesuaikan diri. Keraguan peran terjadi bila individu tidak mengetahui harapan peran yang spesifik atau bingung tentang peran yang sesuai.

 Menolak usaha rehabilitasi  Usaha pengobatan mandiri yang tidak tepat  Menyangkal cacat tubuh Harga diri rendah  Mengkritik diri atau orang lain  Produktivitas menurun  Gangguan berhubungan  Ketegangan peran  Pesimis menghadapi hidup  Keluhan fisik  Penolakan kemampuan diri  Pandangan hidup bertentangan  Destruktif kepada diri  Menarik diri secara sosial  Penyalahgunaan zat  Menarik diri dari realitas  Khawatir  Merasa diri paling penting  Destruktif pada orang lain  Merasa tidak mampu  Merasa bersalah  Mudah tersinggung/marah  Perasaan negatif terhadap tubuh Kerancuan identitas  Tidak ada kode moral  Kepribadian yang bertentangan  Hubungan interpersonal yang ekploitatif  Perasaan hampa  Perasaan mengambang tentang diri 14 .

15 . Mekanisme koping 1. dll.  Kehancuran gender  Tingkat ansietas tinggi  Tidak mampu empati pada orang lain  Masalah estimasi Depersonalisasi Afektif Perseptual  Kehilangan identitas  Halusinasi dengar dan  Perasaan terpisah dari diri lihat  Perasaan tidak realistis  Bingung tentang  Rasa terisolasi yang kuat seksualitas diri  Kurang rasa  Sulit membedakan diri berkesinambungan dengan orang lain  Tindakan mampu mencari  Gangguan citra tubuh kesenangan  Dunia seperti dalam mimpi Kognitif Perilaku  Bingung  Pasif  Disorientasi waktu  Komunikasi tidak sesuai  Gangguan berpikir  Kurang spontanitas  Gangguan daya ingat  Kehilangan kendali  Gangguan penilaian terhadap impuls  Kepribadian ganda  Tidak mampu memutuskan  Menarik diri secara sosial d. misalnya : kerja keras. nonton. Pertahanan jangka pendek Aktifitas yang dapat memberikan peralian sementara dari krisis.

Pertahanan jangka panjang Penutupan identitas Adopsi identitas prematur yang diinginkan oleh orang yang penting bagi individu tanpa memperhatikan keinginan. aspirasi. 3. 2. Aktifitas yang dapat memberikan identitas pengganti sementara. misalnya : penyalahgunaan obat. Mekanisme pertahanan ego  Fantasi  Disasosiasi  Isolasi  Proyeksi  Displecement  Marah/amuk pada diri sendiri 16 . misalnya : kompetisi pencapaian akademik. potensi diri individu Identitas negatif Asumsi identitas yang tidak wajar untuk dapat diterima oleh nilai- nilai harapan masyarakat. dll Aktifitas yang sementara dapat menguatkan perasaan diri. Aktifitas yang mewakili upaya jarak pendek untuk membuat masalah identitas menjadi kurang berarti dalam kehidupan. politik. misalnya : ikut kegiatan sosial. agama.

17 .2. Diagnosa Keperawatan Resiko terjadi isolasi Resiko perilaku sosial : Menarik diri kekerasan : Amuk Gangguan konsep diri :  Harga diri rendah  Citra tubuh  Penampilan peran Koping keluarga tidak efektif  Resiko terjadi isolasi sosial: Menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah  Resiko terjadi perilaku kekerasan: amuk berhubungan dengan harga diri rendah  Gangguan konsep diri: citra tubuh berhubungan dengan koping keluarga tidak efektif  Gangguan konsep diri: identitas personal berhubungan dengan perubahan penampilan peran.

Jelaskan tujuan pertemuan.a. 2. aspek positif keluarga dan lingkungan klien. Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya. waktu. tempat tujuan. Tindakan keperawatan : 18 . beri perhatian dan perhatikan kebutuhan dasar klien f. Berdasarkan standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku rencana keperawatan psikososial dimana intervensi spesifik pada klien yang mengalami gangguan konsep diri yaitu harga diri rendah. Klien dapat mengidentifikasi aspek positif dan kemampuan yang dimiliki dengan kriteria evaluasi setelah satu kali interaksi klien dapat menyebutkan kemampuan yang dimiliki klien. jujur dan menepati janji e. Tujuan umum : Klien memiliki konsep diri yang positif Tujuan khusus : 1. Rencana Tindakan Keperawatan Diagnosa keperawatan yang akan dilakukan tindakan keperawatannya adalah gangguan harga diri yaitu harga diri rendah. Perkenalkan diri dengan sopan. tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai d. Salam terapeutik b. Tindakan keperawatan : Bina hubungan saling percaya dengan melakukan a. Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat dengan kriteria evaluasi setelah satu kali pertemuan klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat. Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non verbal c. Buat kontrak yang jelas yaitu topik.

Rencanakan bersama klien aktifitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai dengan kemampuan klien melalui kegiatan mandiri atau dengan bantuan b. keluarga dan lingkungan dan kemampuan yang dimiliki klien b. Hindarkan memberi penilaian yang negatif 3. Klien dapat merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki untuk dilaksanakan dengan kriteria evaluasi setelah satu kali berinteraksi klien dapat membuat rencana kegiatan harian. Berikan “reinforcement”. Diskusikan dengan klien kemampuan yang dapat dilaksanakan b. Beri kesempatan pada klien untuk mencoba kegiatan yang telah direncanakan 5. Berikan contoh cara pelaksanaan kegiatan yang dapat klien lakukan d. Diskusikan dengan klien tentang aspek positif yang dimiliki klien. Bersama klien buat daftar tentang aspek positif klien. Tingkatkan kegiatan sesuai dengan kondisi klien c. Tindakan keperawatan : a. Tindakan keperawatan : a. Tindakan keperawatan yang dilakukan : a. pujian yang realistis terhadap aspek positif klien d. a. Klien dapat melakukan kegiatan sesuai dengan rencana yang dibuat dengan kriteria hasil setelah satu kali berinteraksi klien melakukan kegiatan sesuai jadwal kegiatan. Klien dapat menilai kemampuan yang dimiliki untuk dilaksanakan dengan kriteria evaluasi setelah satu kali berinteraksi klien dapat menyebutkan kemampuan yang dilaksanakan. Anjurkan klien untuk melaksanakan kegiatan yang telah direncanakan 19 . Diskusikan kemampuan yang dapat dilanjutkan pelaksanaannya 4. keluarga dan lingkungan dan kemampuan yang dimiliki c.

b. 20 . Klien dapat membina hubungan saling percaya 2. sistem pendukung 3. di Rumah Sakit Ciptomangunkusuma bagian jiwa dua kali dan sekarang dirawat di Rumah Sakit Jiwa Dr. Dari data primer dan sekunder tidak terungkap pengalaman penganiayaan. Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah. sedih tidak ada tempat tinggal. b. Berikan pujian atas keberhasilan klien 6. Pantau kegiatan yang dilakukan klien c. Klien berperan serta dalam perawatan dirinya 4. 42 tahun pernah dirawat di Rumah Sakit Jiwa Bogor dua kali. Klien dapat menyebutkan aspek positif dan kemampuan dirinya. bicara kacau. Percaya diri klien meningkat dengan menetapkan tujuan yang realistis Contoh kasus Pengkajian Klien Ny. Berikan pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien dengan harga diri rendah b. Diskusikan kemungkinan pelaksanaan kegiatan setelah pulang d. tidak ada yang mau menampung. Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada dengan kriteria evaluasi setelah satu kali interaksi klien memanfaatkan sistem pendukung yang ada di keluarga Tindakan keperawatan : a. bingung. Suharto Herdjan untuk yang kedua kalinya tanggal 19 Agustus dengan alasan masuk rumah sakit karena klien marah-marah. intelektual. klien mengatakan masa lalunya yang tidak menyenangkan yaitu saat klien di PHK dan suaminya juga di PHK. Hasil yang diharapkan 1. dan mudah tersinggung. Bantu keluarga memberikan dukungan selama klien dirawat c.V. fisik.

Klien dapat membina hubungan saling percaya 2. gaya bicara pelan dan lambat. tidak cantik lagi.Klien mengatakan anak ke terakhir dari delapan bersaudara. Data obyektif : Klien berbicara. tidak bisa merawat anaknya dan memberikan tempat tinggal. tidak cantik lagi dan hidungnya pesek. Klien dapat melakuakn kegiatan sesuai kondisi sakit dan kemampuannya 6. lemah. Klien mengatakan tidak berdaya. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki pasien 3. ekspresi wajah tidak bergairah. sudah tua. Analisa data dan masalah keperawatan Data Subyektif: Klien mengatakan tidak berguna. Klien mengatakan tidak berguna karena tidak apat merawat anak dan memberikan tempat tinggal dan klin juga mengatakan dirinya lemah tidak perdaya. tidak punya rumah. Klien dapat merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki 5. Klien dapat menilai kemampuan yang masih dapat digunakan 4. laki-laki dan perempuan. Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung atau keluarga. Masalah keperawatan : Harga diri rendah Rencana tindakan keperawatan : harga diri rendah TUM : Klien dapat berhubungan dengan orang lain secara optimal Tujuan Khusus : 1. klien mengatakan tidak ada yang istimewa pada dirinya. kontak mata berkurang. 21 . Klien mengatakan sudah menikah punya anak dua.

Membina hubungan saling percaya 2. serba salah. Memperkenalkan diri 4. Mengucapkan salam 3. kontak mata kurang. Klien memperkenalkan namanya. klien mau menjawab pertanyaan dengan lambat dan pelan. dan berjabat tangan. klien mengatakan tidak punya rumah sendiri Objektif : Klien mau menjawab salam. Menanyakan sudah berapa lama dirawat dan kenapa sampai dirawat Evaluasi : Subjektif : Klien menjawab salam. Analisa : Klien mampu membina hubungan saling percaya Planning untuk perawat : Diharapkan mampu menggali aspek positif pada diri klien Planning untuk klien : Diharapkan mampu atau dapat mengenal perawat Tindakan keperawatn pada mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki klien : Yaitu merencanakan bersama klien aktifitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai dengan kemampuan klien. Menanyakan nama klien 5.Implemantasi 1. membuat jadwal kegiatan harian Evaluasi Subjektif : 22 . Klien mengatakan dirawat sudah 2 bulan. Klien mengatakan kalau dirumah diacuhkan.

tapi belum mau menulis. klien bersedia melakukan aktifitas membersihkan meja makan Analisa : Klien mampu merencanakan jadwal kegiatan harian dalam kata-kata. Klien mengatakan masih mampu untuk menyapu. membersihkan tempat tidur dan meja makan. Planning untuk klien : Klien mampu melakukan jadwal aktifitas harian 23 . Objektif : Klien perlu motivasi yang lebih untuk mempu melakukan kegiatan.Klien mengatakan tidak mampu untuk menulis dan matanya kurang jelas penglihatannya. Planning untuk perawat : Memotivasi klien untuk mempu melakukan aktifitas yang telah direncanakan. klien bersedia melakukan kegiatan.

Gangguan Konsep Diri. 2008.google. http://www. Jakarta : TIM Sipahutar.Adil. 2009. Ermawati.com. Asuhan Keperawatan Jiwa dengan Masalah Psikososial. DAFTAR PUSTAKA Dalamia. 2 April 2013 24 . Diakses : Selasa.

Related Interests