LAPORAN ANALISIS

MELATIH KEMANDIRIAN ANAK
MELALUI KEGIATAN MERAPIKAN PERMAINAN DI TPA
BINA CENDEKIA
KEDAUNG - PAMULANG

DISUSUN OLEH :
BINTSNG NURVITA YULIANA
NIM : 823950098

Program S1 Pendidikan Anak Usia Dini
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Terbuka
2015.2

LAPORAN PENELITIAN DAN ANALISIS

Judul Penelitian : Memgembangkan Kemandirian Anak Melalui Kegiatan
Merapikan Mainan.
Waktu Pelaksanaan : Selasa, 18 April 2017
Tempat Penelitian : Taman Penitipan Anak / Day Care Bina Cendekia
Jl. H. Taip No. 104 Kedaung Pamulang
Tangerang Selatan

BAB I
Pendahuluan

A. Latar Belakang Penelitian
Pendidikan pada dasarnya adalah upaya yang disengaja atau
direncanakan dalam rangka mengembangkan berbagai potensi anak baik
psikis dan fisik yang meliputi moral dan nilai agama, sosial emosional,
kemandirian kognitif, bahasa, fisik atau motorik dan seni, yang semua
kemampuan tersebut diperlukan kematangannya untuk siap memasuki jenjang
pendidikan selanjutnya. Dimana di usia Golden Age merupakan “masa peka”
dan datang hanya sekali (Depdiknas, 2007).
Undang-undang No. 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak bahwa
orang tualah yang pertama-tama bertanggung jawab atas terwujudnya
kesejahteraan anak baik secara jasmani, rohani, maupun sosial. Namun,
seiring dengan meningkatnya kegiatan orang tua diluar rumah, telah
menimbulkan salah satu dampak kurang terpenuhi kebutuhan anak baik
pengasuhan, bimbingan sosial dan pendidikan, khususnya bagi mereka yang
memiliki anak balita.

Dalam masyarakat kita terdapat fakta antara lain masih rendahnya
angka partisipasi kasar masyarakat dalam mengikuti PAUD/TK serta

kurangnya perhatian pemerintah dalam mengembangkan pendidikan anak
usia dini. Program PAUD/TK masih didominasi oleh kesadaran beberapa
kelompok masyarakat dalam menyelenggarakan program PAUD/TK di
daerahnya, tentunya dengan berbagai kendala, baik dari pendanaan maupun
kualitas pembelajarannya.
Dengan dikeluarkannya Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), maka pengembangan pendidikan
usia dini mulai dilakukan dengan baik. Baik peran pemerintah secara
langsung maupun peran pemerintah untuk mendorong pengembangan PAUD
yang lebih berkualitas. Dalam hal ini UU No, 20 Tahun 2003 tentang
Sisidiknas menyatakan bahwa yang dimaksud pendidikan usia dini adalah
suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai
dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan
pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan
rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
Salah satu jenis layanan pendidikan anak usia dini adalah Taman
Penitipan Anak (TPA) bagi anak usia 0-6 tahun. Layanan ini merupakan salah
satu bentuk Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) nonformal yang diarahkan
pada kegiatan pengasuhan anak bagi orang tua yang mempunyai kesibukan
kerja, sehingga memerlukan sebuah layanan pengasuhan anak yang selain
berfungsi untuk menjaga anak-anak mereka juga memberikan pendidikan
yang sesuai dengan usia anak-anak mereka.
Taman Penitipan Anak merupakan bentuk layanan Pendidikan Anak
Usia Dini (PAUD) Non-Formal yang keberadaannya terus berkembang
jumlahnya. Pada awalnya Taman Penitipan Anak telah dikembangkan oleh
Departemen Sosial sejak tahun 1963 sebagai upaya untuk mengisi
kesenjangan akan pengasuhan, pembinaan, bimbingan, sosial anak balita
selama ditinggal orang tuanya bekerja atau melaksanakan tugas. Sejak
dibentuknya Direktorat Pendidikan Anak Dini Usia (Dit PADU) tahun 2000,
maka pembinaan untuk pendidikan menjadi tanggung jawab Departemen

etikan dan estetika dalam diri anak. Oleh karena itu sifat mandiri perlu dilatih sejak dini. Keadaan lingkungan kehidupan saat ini banyak berakibat buruk terhadap perkembangan dan kehidupan Sosial Emosional dan kemandirian anak. Kemandirian adalah perilaku seseorang untuk hidup dengan usaha mandiri tidak bergantung pada orang lain. dalam melatih kemandiriannya menjadikan masalah fokus dalam keseharian di TPA dikarenakan anak diharapkan mampu bersikap disiplin dan mengerti aturan untuk mencapai tujuan yang sama agar mempunyai pembiasaan baik yang akan mempengaruhi sikap anak dalam kesehariannya. Kebutuhan akan adanya Taman Penitipan Anak juga semakin penting karena keberadaan lembaga tersebut dapat membantu orang tua membentuk kepribadian. . berkembang dan mempertahankan kelangsungan hidup) dilayani dalam lembaga penyelenggara TPA. Kemampuan anak dalam hal merapikan kembali alat bermain. Kebijakan Direktorat PAUD untuk seluruh bentuk layanan PAUD termasuk TPA adalah memberikan layanan yang holistik dan integratif. Orang yang mandiri identik selalu memecahkan masalahnya sendiri tanpa minta bantuan orang lain. karakter. pendidikan. kecerdasan. perlindungan. Kemandirian juga hampir sama dengan kreatif yang tidak bisa muncul begitu saja. Anak-anak seringkali menolak merapikan mainan ketika selesai bermain selama di TPA. toleransi. penanaman nilai-nilai agama.Pendidikan Nasional. Integratif berarti semua lembaga TPA melakukan koordinasi dengan instansi-instansi Pembina. Holistik berarti seluruh kebutuhan anak (kesehatan. norma. Kajian yang lebih mendalam terhadap berbagai aspek dalam program PAUD terutama TPA harus terus dilakukan. Sesuai dengan tahap perkembangannya maka anak harus belajar tentang pembiasaan kemandirian. gizi. budi pekerti. baik melalui kajian kepustakaan maupun pengalaman penulis dalam mengelola program PAUD. Dalam hal ini uraian yang membahas hal itu diupayakan dengan tujuan mengembangkan pemahaman terhadap TPA sebagai salah satu bentuk PAUD.

beraktivitas sesuai dengan perkembangan usianya dibawah bimbingan para guru dan pengasuh yang berpengalaman dan orang tua pun dapat bekerja dengan tenang dan nyaman. B. Menambah wawasan dan pengetahuan bagi saya selaku mahasiswa dan Guru Taman Kanak-kanak. 2. 3. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk : 1. Fokus Penelitian Setelah saya mengobservasi kegiatan-kegiatan di Taman Penitipan Anak Bina Cendekia. Mengembangkan kemampuan mahasiswa dalam menganalisis suatu kegiatan anak di lembaga PAUD. Manfaat Penelitian Penelitian ini bermanfaat untuk : 1. 2. Membuat Analisis Kritis ( Critical Analysis) mengenai kegiatan-kegiatan tersebut. belajar. bersosialisasi. Dapat mengetahui pola / sistem Kegiatan Belajar Mengajar yang dilaksanakan di Taman Penitipan Anak Bina Cendekia. C. saya tertarik dan memfokuskan analisis saya pada “Melatih Kemandirian Anak Melalui Kegiatan Merapikan Mainan di TPA Bina Cendekia”. Mengumpulkan data yang cukup akurat mengenai pengembangan sosial emosional dalam melatih kemandirian anak melalui kegiatan merapikan mainan. 4. D. . Day Care Bina Cendekia merancang Taman Penitipan Anak dimana buah hati mendapatkan waktu yang berharga setiap hari dengan bermain. Melatih saya sebagai mahasiswa untuk melakukan Penelitian Kelas.

.

Melatih Kemandirian 1. yaitu kemampuan dasar yang harus dimiliki anak agar mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya. Pengertian Kemandirian Kata kemandirian berasal dari kata dasar “diri” yang mendapatkan awalan “ke” dan akhiran “an” yang kemudian membentuk suatu kata. Karena kemandirian berasal dari kata dasar “diri”. dan berfikir secara mandiri disertai dengan kemampuan dalam mengambil resiko dan memecahkan masalah. Kemandirian harus mulai dikenalkan kepada anak sedini mungkin. Suryati Sidharto dan Rita Eka Izzaty (2007: 16) mengemukakan bahwa salah satu ciri khas perkembangan psikologis pada anak usia pra sekolah adalah mulai munculnya keinginan anak untuk mengurus dirinya sendiri atau mandiri. Kemandirian merupakan salah satu sifat kebiasaan positif. Karena diri merupakan inti dari kemandirian (dalam Ali. 2006 hlm: 109). berjalan. Sikap kemandirian ini juga merupakan salah satu komponen pembantukan social life skill. Dengan kemandirian akan menghindarkan anak dari sifat ketergantungan pada orang lain. Dengan kemandirian tidak ada kebutuhan untuk mendapat persetujuan orang lain ketika hendak melangkah menentukan sesuatu yang baru. keadaan atau kata benda. BAB II LANDASAN TEORI A. pembahasan mengenai kemandirian tidak dapat dilepaskan dari pembahasan mengenai perkembangan diri itu sendiri yang dalam konsep Carl Rogers disebut dengan istilah “Self” oleh Branner dan Shostrom (1982). Anak yang mandiri adalah anak yang mampu mengurus dirinya sendiri tanpa bantuan . dan yang terpenting adalah menumbuhkan keberanian dan motivasi pada anak untuk mengeksploitasi pengetahuan-pengetahuan baru. Kemandirian (self-relience) adalah kemampuan untuk mengelola semua yang dimilikinya sendiri yaitu mengetahui bagaimana mengelola waktu.

Interaksi anak dengan lingkungan sosial yang lebih luas akan memperkaya pengalamanpengalaman barunya berkenaan dengan orang- orang di sekitarnya. kemauan untuk melakukan dan bertindak yang pada gilirannya akan menumbuhkan sikap untuk suka mengamati dan meneliti yang bersifat alami. maka hal tersebut menjadi sebuah pembiasaan anak yang dibawa juga oleh anak ke sekolah. kemandirian anak dibentuk dari lingkungan keluarga di mana anak tinggal dan dari kesempatan yang diberikan orangtua kepada anaknya untuk melakukan sesuatu secara mandiri. misalnya ketika orangtua sedang sibuk dan dia butuh perhatian atau ketika dia merasa tidak sehat dan tidak senang. Kemandirian memberi anak-anak kepercayaan dan harga diri. 2006: 204). Adakalanya anak-anak menunjukkan ketergantungan seperti masa bayi.orang lain atau dengan sedikit bantuan tetapi tidak dilakukan secara terus menerus. Hal ini senada dengan pendapat Nana Sudjana (2005: 22 25). tetapi bukan berarti tidak mau memikirkan orang lain”. Menurut Rich (2008: 22). Tumbuhnya pandangan dan keinginan sendiri pada anak akan mengurangi ketergantungan anak kepada orangtua. Herman Mujdjiono dan W Hisbaron dalam Retno Wulandari (2011: 27) menyatakan bahwa “kemandirian adalah tidak mau bergantung kepada orang lain (tidak mau tergantung kepada orang lain). Sentuhan-sentuhan nyata dari interaksi dengan lingkungan ini sangat berhubungan dengan emosi. Berawal dari bawaan anak dari lingkungan keluarganya. 2005: 25-26). teman maupun makluk hidup lainnya. Pembiasaan kemandirian dapat dilakukan melalui masalah sederhana misalnya mau berusaha menyelesaikan tugas sendiri sampai selesai tanpa bantuan. “Kemandirian anak dapat dibangun melalui interaksi dengan lingkungan sekitarnya. Pada tahap ini anak membutuhkan hubungan emosional yang kuat yang dapat memberikan rasa aman dan terlindungi dalam dirinya” (Sutrisno & Hary Soedarto Harjono. Lingkungan yang dimaksud dimulai dari lingkungan keluarga. kemandirian diartikan sebagai sifat atau sikap yang dimiliki . Tetapi biasanya anak-anak dengan senang hati bersikap mandiri jika diberi kesempatan (Einon.

Hal tersebut akan menjadikan anak berpikir lebih maju dan membuat anak lebih mandiri dalam bertindak dan menyelesaikan tugasnya sendiri sampai selesai. melakukan sesuatu atas dorongan diri sendiri. mendorong dirinya untuk dapat mengaktualisasikan dirinya dalam segala tindakan. mampu mengerjakan tugas sendiri. Sutrisno dan Hary Soedarto Harjono (2005: 25-26) menyatakan bahwa tumbuhnya pandangan dan keinginan sendiri pada anak akan mengurangi ketergantungan anak kepada orangtua. Pada tahap ini anak membutuhkan hubungan emosional yang kuat yang dapat memberikan rasa aman dan terlindungi dalam dirinya. 2. guru dapat mengambil alih peran dan sekaligus mengarahkan kegiatan anak yang positif terhadap lingkungan. maka dapat ditegaskan bahwa kemandirian anak merupakan suatu kemampuan untuk berpikir. Kemandirian seperti halnya kondisi peikologis yang lain. dapat berkembang dengan baik jika diberikan kesempatan untuk berkembang melalui latihan . arah perkembangan tersebut harus sejalan dan berlandaskan pada tujuan hidup manusia (Ali. melaksanakan tugas yang diberikan sampai selesai. kedua.seseorang yang mampu mengenali dirinya sendiri sehingga mampu menolong dirinya sendiri. Interaksi anak dengan lingkungan sosial yang lebih luas akan memperkaya pengalaman-pengalaman barunya berkenaan dengan orang-orang di sekitarnya. dan keempat. hlm 112). 2006. dapat bekerjasama dalam menyelesaikan tugas. ketiga. Dari pendapat-pendapat yang telah diuraikan tersebut. merasakan. Kemandirian dalam penelitian ini mengacu pada empat aspek yaitu pertama. Dalam hal ini diharapkan. Karena perkembangan kemandirian sejalan dengan hakikat eksistensi manusia. Ini mengandung makna bahwa kemandirian merupakan suatu proses yang terarah. anak mengerjakan sesuai tugasnya. dan mampu mengatur diri sendiri sesuai dengan kewajibannya dalam kehidupan sehari-hari tanpa dibantu oleh orang lain. Perkembangan Kemandirian Perkembangan kemandirian adalah proses yang menyangkut unsur-unsur normatif.

Tahap kedua. memakai pakaian. Tahap pertama. menata meja. meletakkan pakaian kotor di tempat pakaian kotor. Latihan kemandirian yang diberikan kepada anak harus disesuaikan dengan usia anak. maka sebaiknya kemandirian diajarkan pada anak sedini mungkin sesuai dengan kemampuannya. menyelesaikan pekerjaan rumah. aktivitas ekstra seperti pelajaran music dan lain sebagainya. menguru orang lain di dalam maupun di luar rumah. 3.yang dilakukan secara terus-menerus dan dilakukan sejak dini. Tahap keempat. Misalnya. Seperti telah diakui segala sesuatu yang dapat diusahakan sejak dini akan dapat dihayati dan akan semakin berkembang menuju kesempurnaan. kemandirian merupakan core value pendidikan nasional. Tahap kelima. 5. Kemandirian akan mengantarkan anak memiliki rasa kepercayaan diri dan motivasi intrinsik yang tinggi. Mengingat kemandirian akan banyak memberikan dampak yang positif bagi perkembangan individu. Misalnya di sekolah. kehidupan sosial mereka. 3. makan. mengatur diri mereka sendiri di luar rumah. membereskan mainan setiap kali selesai bermain. menyiapkan segala keperluannya. Tahap ketiga. menjaga saudara yang lebih muda ketika orangtua sedang mengerjakan sesuatu yang lain. mengatur kehidupan dan diri mereka sendiri: misalnya. contohnya membiarkan anak memasang kaos kaki dan sepatu sendiri. 2. Menurut Parker tahap-tahap kemandirian bisa digambarkan sebagai berikut : 1. 2014): . melaksanakan gagasana-gagasan mereka sendiri dan menentukan arah permainan mereka sendiri. ke kamar mandi. Misalnya. membersihkan gigi. 4. mengelola uang saku sendiri. Ciri-Ciri Kemandirian Anak Usia Dini Dalam konsep pendidikan nasional kita. bertanggung jawab dalam pekerjaan rumah. Latihan tersebut dapat berupa pemberian tuga-tugas tanpa bantuan yang tentunya disesuaikan dengan usia dan kemampuan anak. menata kamar sendiri. Berikut adalah ciri-ciri kemandirian anak usia dini (wiyani.

d. . Bahkan. f. kebanyakan anak ditunggu oleh orangtuanya ketika sedang belajar di kelas. Kreatif dan inovatif Kreatif dan inovatif pada anak usia dini merupakan salah satu cirri anak yang memiliki karakter mandiri. Memiliki motivasi intrinsik yang tinggi Motivasi intrinsik merupakan dorongan yang berasal dari dalam diri untuk melakukan suatu perilaku maupun perbuatan. Bertanggung jawab menerima konsekuensi yang menyertai pilihanya Anak yang mandiri akan bertanggung jawab atas keputusan yang di ambilnya apapun yang akan terjadi. dia akan cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru dan dapat belajar walaupun tidak di tunggui oleh orangtuanya. lalu dengan senang hati menggantinya dengan alat mainan lain yang di inginkannya. tidak menangis ketika salah mengambil alat mainan. c. Bagi anak yang memiliki karakter mandiri. contoh memilih makanan atau mainan yang diinginkan. Mampu dan berani menentukan pilihanya sendiri Anak yang berkarakter mandiri memiliki kemampuan dan keberanian dalam menentukan sendiri. Sering sekali kita menemukan dengan mudah anak yang menangis ketika pertama kali masuk maupun TK. Misalnya. Mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya Lingkungan maupun TK merupakan lingkungan yang baru bagi anak usia dini. Motivasi yang datang dari dalam akan mampu menggerakkan anak untuk melakukan sesuatu yang diinginkannya. e.a. b. seperti dalam melakukan sesuatu atas kehendak sendiri tanpa disuruh orang lain dan selalu ingin mencoba ha-hal yang baru. Memiliki kepercayaan kepada diri sendiri Anak yang memiliki rasa percaya diri memiliki keberanian untuk melakukan sesuatu dan menentukan pilihan sesuai dengan kehendaknya sendiri dan bertanggung jawa terhadap konsekuensi yang dapat ditimbulkan karena pilihanya.

artinya anak tidak bergantung pada pelayanan yang diberikan oleh orangtuanya untuk mengurus diri anak. Mampu menyelesaikan masalah yang dihadapi. selalu berusaha untuk melakukan sendiri selagi anak mampu. 4. tidak bergantung lagi dengan orang dewasa. b. Mampu bertanggung jawab atas barang-barang yang dimiliki. Fitri Ariyanti. mampu dan mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan. Mampu mengurus diri sendiri. dan Khamsa Noory (2007: 94-95) mengemukakan bahwa perkembangan kemandirian anak usia 3-4 tahun adalah sebagai berikut: a) Membantu diri berpakaian. artinya anak ketika melakukan kesalahan dengan orang tuanya anak mampu meminta maaf dengan kesadaran anak sendiri tanpa diminta dan diingatkan oleh orangtuanya untuk meminta maaf. Jadi berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan ciri-ciri kemandirian anak usia dini adalah seorang anak yang memiliki rasa tanggung jawab dan kepercayaan diri. Lita Edia. Senada dengan pendapat Anita Lie dan Sarah Prasasti. Tidak bergantung pada orang lain Anak yang memiliki karakter mandiri selalu ingin mencoba sendiri dalam melakukan segala sesuatu. c. memiliki rasa ingintahu yang tinggi dan selalu ingin mencoba sesuatu. Anak mampu mengurus diri sendiri dengan mandiri dan tidak selalu meminta bantuan. artinya anak dapat mandiri ketika mempersiapkan diri sebelum sekolah dengan mengambil tas sendiri dan memilih perlengkapan sendiri yang akan dibawa ke sekolah. tertarik dan mampu melepaskan pakaian (masih memerlukan bantuan saat .g. tidak bergantung kepada orang lain dan dia tahu kapan waktunya meminta bantuan orang lain. Karakteristik Kemandirian Anak Usia Dini Anita Lie dan Sarah Prasasti (2004: 4-5) mengemukakan bahwa karakteristik kemandirian anak usia dini adalah: a. yaitu terbagi dalam kemampuan di antaranya. serta memiliki motivasi untuk memilih maupun melakukan sesuatu yang anak inginkan.

memakai kaos kaki tetapi hasilnya belum begitu baik karena bagian kanan dan kiri masih sering terbalik. mencuci dan mengeringkan tangan sendiri tanpa bantuan. menggosok gigi (masih tetap perlu pengawasan orang dewasa). dapat melepas 24 kancing depan dan samping dengan mendorongnya masuk ke lubang kancing.mengenakan kaos atau sweater). Faktor-Faktor yang Mendorong Terbentuknya Kemandirian Anak Usia Dini Kemandirian merupakan salah satu karakter atau kepribadian seorang manusia yang tidak dapat berdiri sendiri. . kemandirian terkait dengan karakter percaya diri dan berani. memakai celana tetapi mungkin bagian depan dan belakang masih sering tertukar. memiliki inisiatif diri sendiri untuk meminta maaf dan minta ijin. mampu pergi ke toilet dengan meminta ijin terlebih dahulu kepada guru. 5. dapat membersihkan dirinya sendiri setelah buang air kecil. berani mengerjakan tugas serta memiliki keingintahuan yang besar dari dalam diri anak untuk melakukan sesuatu yang baru dengan menyelesaikan secara mandiri. Ada dua faktor yang berpengaruh dalam mendorong timbulnya kemandirian anak usia dini. makan sambil berbicara. dan adanya kemantapan dari dalam diri anak untuk mencoba sendiri. yaitu meliputi tertarik dan memiliki inisiatif untuk menata meja makan sendiri dan menyiapkan makanan sendiri. mampu menuangkan sendiri air ke dalam gelas. yaitu faktor internal dan faktor eksternal.. maka dapat ditegaskan bahwa karakteristik kemandirian anak adalah tidak bergantung pada orang lain dalam mengurus dirinya sendiri. Dari uraian karakteristik kemandirian yang telah dikemukakan oleh Anita Lie dan Sarah Prasasti serta Fitri Ariyanti. b) Membantu diri makan. memakai sepatu sendiri tetapi masih tertukar antara kiri dan kanan. mampu menyelesaikan tugas sendiri sampai selesai yaitu ketika anak dihadapkan pada permasalahan anak mampu menyelesaikannya dengan mandiri. mengikat tali sepatu tetapi hasilnya belum begitu baik. dkk.

a. Faktor internal ini terdiri dari dua kondisi. pola asuh orangtua dalam keluarga. Kondisi Psikologi Kecerdasan atau kemampuan berpikir seorang anak dapat diubah atau dikembangkan melalui lingkungan. B. Kondisi Fisiologi Kondisi fisiologi yang berpengaruh antara lain keadaan tubuh. Berikut adalah deskripsi dari faktor-faktor yang mendorong timbulnya kemandirian anak (Parker. b. 2005). Kemampuan bertindak dan mengambil keputusan yang dilakukan oleh seorang anak hanya mungkin dimiliki oleh anak yang mampu berpikir dengan seksama tentang tindakannya. anak perempuan dituntut untuk bersikap pasif. yaitu kemampuan mengontrol emosi dan intelektual. yaitu kemampuan untuk mengatasi berbagai masalah yang dihadapi. A. yaitu kondisi fisiologi dan kondisi psikologi. anak yang menderita sakit mengundang rasa kasihan yang berlebihan sehingga sangat berpengaruh terhadap kemandirian mereka. berbeda dengan anak laki-laki yang agresif dan ekspansif. kecerdasan atau kemampuan kognitif yang dimiliki seorang anak memiliki pengaruh terhadap pencapaian kemandirian anak. Jenis kelamin anak juga berpengaruh terhadap kemandiriannya. Dengan demikian. Berikut adalah penjelasan dari dua kondisi tersebut. Faktor Internal Faktor internal merupakan faktor yang berasal dari diri anak itu sendiri. meliputi emosi. Pada umumnya. akibatnya anak perempuan berada lebih lama dalam ketergantungan daripada anak laki-laki. kesehatan jasmani. sebagian ahli berpendapat bahwa faktor bawaan juga berpengaruh terhadap keberhasilan lingkungan dalam mengembangkan kecerdasan seorang anak. dan jenis kelamin. rasa cinta dan kasih sayang orangtua kepada anaknya. Lingkungan . Faktor Eksternal Faktor eksternal yaitu faktor yang datang atau ada di luar anak itu sendiri. a. faktor eksternal ini meliputi lingkungan. dan faktor pengalaman dalam kehidupan. anak yang sakit lebih bersikap tergantung daripada orang yang tidak sakit.

Pemberian rasa cinta dan kasih sayang orangtua kepada anaknya juga dipengaruhi oleh status pekerjaan orangtua. Rasa Cinta dan Kasih Sayang Rasa cinta dan kasih sayang orangtua kepada anak hendaknya diberikan sewajarnya karena hal itu dapat mempengaruhi mutu kemandirian anak. seorang ibu tidak berani melepaskan anaknya untuk berdiri sendiri. Namun. c. Sementara itu. ibu yang tidak bekerja bisa melihat langsung perkembangan kemandirian anaknya dan bisa mendidiknya secara langsung. Pola Asuh Orangtua dalam Keluarga Pola asuh ayah dan ibu mempunyai peran nyata dalam membentuk karakter mandiri anak usia dini. Kondisi lingkungan keluarga ini sangat berpengaruh dalam kemandirian anak. Sementara disisi lain. lingkungan yang baik dapat menjadikan cepat tercapainya kemandirian anak. Apabila orangtua. Pada akhirnya. pemanjaan dari ayah yang . akibatnya itu tidak bisa melihat perkembangan anaknya apakah anaknya sudah bisa mandiri atau belum. karena dimanjakan anak menjadi tidak dapat menyesuaikan diri dan perkembangan wataknya mengarah kepada keragu- raguan. anak akan lebih cepat mandiri disbanding dengan anak yang kurang dalam mendapat stimulasi. b. menjadikan anak tersebut harus selalu dibantu. Keluarga sebagai lingkungan terkecil bagi anak merupakan kawah candradimuka dalam pembentukan karakter anak. khususnya ibu bekerja di luar rumah untuk mencari nafkah. toleransi yang berlebihan begitu pun dengan pemeliharaan yang berlebihan dari orangtua yang terlalu keras kepada anak dapat menghambat pencapaian kemandiriannya. Bila karena kasih sayang dan rasa khawatir. sikap ayah yang keras juga dapat menjadikan anak kehilangan rasa percaya diri. Dengan pemberian stimulasi yang terarah dan teratur di lingkungan keluarga. bila rasa cinta dan kasih sayang diberikan berlebihan. Masalah tersebut dapat diatasi jika interaksi antara anak dan orangtua berjalan dengan lancar dan baik. anak akan selalu terikat pada ibu. Lingkungan merupakan faktor yang sangat menentukan dalam pembentukan kemandirian anak usia dini. anak akan menjadi kurang mandiri.

lingkungan sekolah berpengaruh terhadap pembentukan kemandirian anak. memiliki rasa percaya diri dan mandiri. 2. serta pola asuh yang baik kepada anak adalah kunci utama keberhasilan anak untuk menjadi seorang anak yang disipin. . dengan pemberian rasa cinta kasih sayang. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang datang dari luar anak. Faktor internal merupakan faktor yang berasal dari diri anak itu sendiri yang terkait dengan perbedaan jenis kelamin. anak mulai memisahkan diri dari orangtuanya dan mengarah kepada teman sebaya. berlebihan juga dapat menjadikan anak kurang berani menghadapi masyarakat luas. Interaksi anak dengan teman sebaya di lingkungan sekitar juga berpengaruh tehadap kemandiriannya. dengan demikian melalui hubungan dengan teman sebaya anak akan belajar berpikir mandiri. Bermain adalah aktivitas yang khas yang menggembirakan. B. faktor-faktor yang mendorong terbentuknya kemandirian anak usia dini ada dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. menyenangkan dan menimbulkan kenikmatan. yang paling utama yaitu lingkungan keluarga. Berdasarkan uraian di atas. Kesibukan yang dipilih sendiri oleh anak sebagai bagian dari usaha mencoba-coba dan melatih diri. baik melalui hubungan dengan teman maupun dengan guru. Pengertian Bermain dan Permainan Berdasarkan pendapat para ahli di atas maka dapat diuraikan beberapa pengertian bermain : 1. begitu juga pengaruh teman sebaya di sekolah. d. Merapikan Permainan 1. kebutuhan dan kesehatan anak itu sendiri serta kecerdasan kognitif anak yang mampu mempengaruhi kemampuan anak terhadap kemandirian. Dalam perkembangan sosial. Pengalaman dalam Kehidupan Pengalaman dalam kehidupan anak meliputi pengalaman di lingkungan seolah dan masyarakat.

Peran bermain dalam perkembangan anak adalah untuk Mempraktekan dan melakukan konsolidasi konsep- konsep serta keterampilan yang telah dipelajari sebelumny. Menurut teori Kognitif oleh Bruner/Sutton-Smith Singer -Peran bermain dalam perkembangan anak adalah untuk Memunculkan fleksibilitas perilaku dan berpikir. 2. Menurut teori Arousal Modulation. Berikut ini akan dijabarkan bagai tentang intisari teori- teori perkembangan bermain tersebut. belajar dalam kaitan ZPD. Juga untuk Mengatur kecepatan stimulasi dari dalam dan dari luar. e. Dunia Anak = Dunia Bermain. Hal ini disebabkan karena masih terbatasnya pengetahuan tentang perkembangan anak. Menurut teori Psikoanalitik oleh Sigmund Freud. a. Menurut teori Kognitif oleh Piaget. Menurut teori Kognitif oleh Vygotsky. Menurut teori Bateson. Peran bermain dalam perkembangan anak adalah untuk Memajukan kemampuan untuk memahami berbagai tingkatan makna. c. d. Perkembangan Bahasa . Bermain bagi anak mempunyai nilai yang sama dengan bekerja dan belajar bagi orang dewasa. b. f. jadi bermain merupakan kegiatan pokok dan penting untuk anak. Fungsi dan Manfaat Bermain Pada Perkembangan Usia Dini 1. 4. Peran bermain dalam perkembangan anak adalah untuk Mengatasi pengalaman traumatik. imajinasi dan narasi.3. Secara umum perkembangan teori bermain terbagi menjadi dua yaitu teori-teori klasik dan teori-teori modern. coping terhadap frustasi. Pada awalnya aktivitas bermain pada anak belum mendapatkan perhatian yang khusus dari para ahli ilmu jiwa. pengaturan diri. Peran bermain dalam perkembangan anak adalah untuk Memajukan berpikir abstrak. Peran bermain dalam perkembangan anak adalah untuk Tetap membuat anak terjaga pada tingkat optimal dengan menambah stimulasi.

Perkembangan kognitif Melalui kegiatan bermain anak belajar berbagai konsep bentuk. menerima kekalahan. sehingga anak memiliki kecakapan motorik dan kepekaan penginderaan. ukuran dan jumlah yang memungkinkan stimulasi bagi perkembangan intelektualnya. tolong menolong dan berlatih sikap sosial lainnya. Perkembangan Sosial Bermain bersama teman melatih anak untuk belajar membina hubungan dengan sesamanya. 5.Aktivitas bermain adalah ibarat laboratorium bahasa anak. Perkembangan Emosi Bermain merupakan ajang yang baik bagi anak untuk menyalurkan perasaan/emosinya dan ia belajar untuk mengendalikan diri dan keinginannya sekaligus sarana untuk relaksasi. Pada beberapa jenis kegiatan bermain yang dapat menyalurkan ekspresi diri anak. bertenggang rasa dan sebagainya. yaitu memperkaya perbendaharaan kata anak dan melatih kemampuan berkomunikasi anak. 6. memberi. warna. Perkembangan Moral Bermain membantu anak untuk belajar bersikap jujur. Anak juga dapat belajar untuk memiliki kemampuan ‘problem solving’ sehingga dapat mengenal dunia sekitarnya dan menguasai lingkungannya. menerima. Perkembangan Fisik Bermain memungkinkan anak untuk menggerakkan dan melatih seluruh otot tubuhnya. . dapat digunakan sebagai cara terapi bagi anak yang mengalami gangguan emosi. Anak belajar mengalah. 3. 4. 2. menjadi pemimpin yang baik.

Misalnya bermain rumah-rumahan ada yang jadi bapak. Misalnya bayi mengamati jari tangan atau kakinya sendiri dan menggerakannya tanpa tujuan. Misalnya seorang anak yang memperhatikan temannya sedang bermain petak umpat. 3. Associative Play / Bermain Asosiatif Anak melakukan kegiatan bermain bersama anak lain tetapi belum ada pemusatan tujuan bermain. Misalnya anak bermain puzzle dan anak lain juga bermain puzzle. tanpa perduli dengan orang lain/ teman lain yang ada disekitarnya. ada tujuan yang ingin dicapai bersama dan ada pembagian tugas yang disepakati bersama. tanap ia ikut bermain tetapi ia turut merasa senang seolah ia ikut bermain. ibu dan anak. Parraley Play /Bermain Paralel Anak melakukan kegiatan bermain di antara anak yang lain tanpa ada unsur saling mempengaruhi.sama. Unoccupied Behavior / Gerakan Kosong Anak sepertinya belum melakukan kegiatan bermain. Perkembangan Kreativitas Bermain dapat merangsang imajinasi anak dan memberikan kesempatan kepada anak untuk mencoba berbagai ideanya tanpa merasa takut karena dalam bermain anak mendapatkan kebebasan. Misalnya beberapa anak bermain menepuk- nepuk air di kolam bersama. 2. 5. Tahap-tahap perkembangan bermain anak usia dini Menurut Mildred Parten melalui 6 tahap yaitu : 1. 6. Cooperative Play / Bermain Koperatif Anak melakukan kegiatan bermain bersama-sama dengan teman secara terorganisasi dan saling bekerja sama.7. mereka ada bersama tetapi tidak saling mempengaruhi. Solitary Play / Bermain Soliter Anak bermain sendiri mencari kesibukan sendiri. 3. Onlocker Behaviour/Tingkah laku pengamat Anak memperhatikan anak yang lain yang sedang melakukan suatu kegiatan atau sedang bermain. masing- . 4. hanya mengamati sesuatu sejenak saja.

4. Sedangkan bermain pasif kurang melibatkan keterampilan dan koordinasi motorik. sehingga mereka suka dengan permainan yang membutuhkan kemampuan problem solving (misal puzzle) melibatkan daya fantasi dan imajinasi (drama). Jenis kelamin Beberapa penelitian menunjukkan bahwa terdapat kecenderungan perbedaan antara anak laki-laki dan anak perempuan dalam memilih . Kesehatan Anak yang sehat cenderung akan memilih berbagai jenis kegiatan bermain aktif daripada pasif. Dengan demikian anak yang memiliki keterampilan motorik yang baik akan lebih banyak memilih kegiatan bermain aktif dan begitu pula sebaliknya anak yang kurang terampil motoriknya cenderung memilih kegiatan bermain yang pasif. 4. Anak yang pandai juga akan lebih kreatif dan penuh rasa ingintahu. jika diamati secara cermat. Perkembangan Motorik Kegiatan bermain aktif lebih banyak menggunakan keterampilan motorik terutama motorik kasar. 3. Sementara anak yang kurang sehat akan mudah lelah ketika bermain sehingga lebih menyukai bermain pasif karena tidak membutuhkan banyak energi. Karena biasanya anak yang pandai akan lebih aktif daripada anak yang tidak pandai. dan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor sebagai berikut : 1. permainan konstruktif (lego. Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Bermain Anak Menurut Elizabeth Hurlock. Anak membuat rumah-rumahan tersebut dengan kain atau balok-balok dan bermain peran dengan boneka. masing memiliki tugas. balok) juga permainan membaca buku. dan musik. membuatnya lebih aktif dan ingin menyalurkan energinya tersebut. 2. karena banyaknya energi yang dimiliki anak. Inteligensi Anak yang memiliki inteligensi yang baik (pandai/cerdas) cenderung akan menyukai baik kegiatan bermain aktif maupun pasif. ada berbagai variasi kegiatan bermain yang dilakukan anak.

Anak kota dengan anak desa menggunakan alat permainan yang berbeda . Diantara jenis kegiatan bermain aktif adalah : 1.anak melakukan aktivitas gerakan yang melibatkan seluruh indera dan anggota tubuhnya. ranting kayu. karena pasti akan terjadi perbedaan-perbedaan pada setiap individu mengingat manusia adalah mahluk yang unik. Hal ini akan berdampak positif bagi semua aspek perkembangannya. Berbagai kecenderungan ini bersifat umum dan belum tentu terjadi pada setiap anak. komputer dan video games. Bermain Aktif Dalam kegiatan bermain aktif. Perbedaan ini terjadi karena secara alamiah dan ditentukan secara genetik. Lingkungan dan taraf sosial ekonomi Lingkungan dan taraf sosial ekonomi akan mempengaruhi jenis kegiatan bermain dan alat permainan yang digunakan oleh anak. misal anak kota biasa bermain dengan mobil-mobilan bertenaga baterai. 5. Tetapi juga dapat muncul juga karena adanya perbedaan perlakuan yang diterima oleh anak laki-laki dan anak permpuan sejak mereka bayi. kegiatan bermain. Tipe dan Jenis Kegiatan Bermain Anak Berbagai jenis kegiatan bermain anak adalah sebagai berikut: A. sedangkan anak desa bermain dengan mobil-mobilan yang terbuat dari kulit jeruk bali. Anak laki-laki cenderung menyukai kegiatan bermain aktif tetapi anak perempuan menyukai permainan konstruktif dan permainan lainnya yang bersifat ‘tenang’. Alat permainan Ketersediaan berbagai alat permainan yang dimiliki anak mempengaruhi jenis kegiatan bermain. 6. Tactile Play Merupakan kegiatan bermain yang meningkatkan keterampilan jari jemari anak serta membantu anak memahami dunia sekitarnya melalui alat perabaan dan penglihatnnya. 2. serta bermain dengan daun. kerikil dan bahan alam lainnya. Functional Play . Perlu kiranya disediakan berbagai variasi alat permainan anak sehingga memungkinkan anak untuk bermain dengan berbagai cara dan jenis permainan. 5.

tetapi hanya melibatkan sebagian indera saja terutama pendengaran dan penglihatan. Creative Play Permainan yang memungkinkan anak menciptakan berbagai kreasi dari imajinasinya sendiri. . 3. Play Games Permainan yang dilakukan menurut aturan tertentu dan bersifat kompetisi/ persaingan. Symbolic /Dramatic Play Permainan dimana anak memegang sustu peran tertentu. bukan masa anak untuk dipaksa belajar atau bekerja. Jika permainan di luar ruangan (gross motor/fungsional play) sebaiknya dilakukan pada pagi hari atau sore hari. 6. Masa usia dini merupakan masa bermain. Syarat Bermain dan Permainan Edukatif Anak Usia Dini a. Play Time Anak harus memiliki waktu yang cukup dalam bermain. Bermain Pasif Kegiatan bermain pasif tidak melibatkan banyak gerakan tubuh anak. agar anak merasa nyaman dengan udara yang sejuk dan tidak panas. yaitu permainan dimana anak menerima kesan-kesan yang membuat jiwanya sendiri menjadi aktif (bukan fisik yang aktif) melalui mendengarkan dan memahami apa yang dia dengar dan ia lihat. 5. Kegiatan bermain pasif diantaranya adalah Receptive Play. lego dan sebagainya. Bermain Fungsional/Functional Play adalah kegiatan bermain yang melibatkan panca indera dan kemampuan gerakan motorik dalam rangka mengembangkan aspek motorik anak. Saat yang tepat untuk anak bermain dapat disesuaikan dengan jenis permainan. 4. (Charlotte Buhler) Permainan yang mengutamakan anak untukmembangun atau membentuk bangunan dengan media balok. B.

Sesuai kemampuan anak (tidak terlalu sulit atau terlalu mudah) 7. Berfungsi mengembangkan seluruh aspek perkembangan anak.b. tidak terlalu sedikit atau tidak terlalu banyak. Fitzhugh Dodson porsinya 90 % aktivitas anak dan 10% aktivitas alat permainan. Dapat dimainkan secara bervariasi/cara 5. menurut DR. Merangsang partisipasi aktif anak. maka ia akan kehilangan kesempatan belajar dari teman-temannya. Alat permainan hendaknya memnuhi kriteria: 1. Play Fellows Anak harus merasa yakin bahwa ia mempunyai teman bermain jika ia memerlukan. Teman bermain dapat ditentukan anak sendiri. saudara atau temannya. maka dapat mengakibatkan anak tidak mempunyai kesempatan yang cukup untuk menghibur diri sendiri dan menemukan kebutuhannya sendiri. Luas tempat bermain dapat disesuaikan dengan jenis permainan dan jumlah anak yang bermain. 4. bentuk dan warna sesuai usia anak dan taraf perkembangannya. Diterima oleh semua budaya 11. 3. Mudah didapat dan dekat dengan lingkungan anak 10. Ukuran. Play Things Jenis alat permainan harus disesuaikan dengan usia anak dan taraf perkembangannya. Jumlah alat permainan yang digunakan hendaknya cukup. Jika anak bermain sendiri. Menarik dari segi warna dan bentuk atau suara (jika bersuara) 8. Play Space Untuk bermain perlu disediakan tempat bermain yang cukup untuk anak sehingga anak dapat bergerak dengan bebas. dengan kebutuhan anak. d. apakah itu orangtua. Play Rules . Sebaliknya kalau terlalu banyak bermain dengan anak lain. c. Tahan lama/tidak mudah rusak 9. e. Aman bagi anak 2. 6.

. meniru teman- temannya atau diberitahu caranya oleh orang lain (guru atau orangtua). karena anak tidak terbatas pengetahuannya dalam menggunakan alat permainannya dan anak akan mendapat keuntungan lebih banyak lagi.Anak belajar bermain. Cara yang terakhir adalah yang terbaik. Jadi permainan yang baik adalah permainan yang ada cara/aturan bermainnya. melalui mencoba-coba sendiri.

2. C. yaitu untuk menggali informasi lebih mendalam mengenai fokus penelitian. Wawancara. Dokumentasi. Subjek Penelitian Subjek penelitian yang dilakukan ini adalah anak-anak. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode interpretatif yaitu menginterpretasikan data mengenai fenomena / gejala-gejala yang diteliti di lapangan. 3. yaitu sebuah pengamatan kritis yang sengaja dilakukan untuk melihat fenomena yang unik / menarik yang akan dijadikan fokus bagi penelitian ini. BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Observasi. . pendidik dan pemimpin Taman Penitipan Anak ( Day Care ) Bina Cendekia Jumlah Anak : 9 Orang Tenaga Pendidik : 3 Orang Pemimpin : 1 Orang B. Instrumen Penilaian Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1. yaitu untuk mengumpulkan bukti-bukti dan penjelasan yang lebih luas mengenai fokus penelitian.

M. asri dan mandiri Misi 1. Fokus dan arahan diri 2.000. 1. Anak baru siswa  Formulir : Rp. Neneng Susilawati.000  SPP/bulan : Rp.Pd Pendirian Tahun 2013 – 2014 Visi Terwujudnya lembaga pendidikan yang Islami. Menumbuhkan dan membiasakan cinta lingkungan 3. 100. penerimaan  Biaya pendaftaran uang pangkal 1. 150.800. 5.000  Harian : Rp. dan potensi peserta didik Tujuan  Untuk membantu orang tua dalam melaksanakan dibentuknya pengasuhan dan pendidikan anak usia 2-6 tahun. “Engaged Learning” Peraturan  Tidak menerima usia bayi. Anak dari dalam  Formulir : Rp. Menangkap kesempatan 7.000 2. Berpikir kritis 6.000 . TPA  Untuk membangun tujuan pendidikan melalui : 1. Pemimpin Taman Penitipan Anak (TPA) a. Arahan diri. Membuat hubungan 5.000  Gedung : Rp. Komunikasi 4. Menanamkan aqidah melalui pengalaman belajar 2. BAB IV ANALISIS DATA A. Mengoptimalkan proses pembelajaran dan bimbingan 4. minat. Hasil Pengamatan 1. Mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi sesuai bakat. 50. Tabulasi Data Aspek Wawancara dengan Pemimpin TPA Pemrakarsa Pendirian TPA Bina Cendekia ini diprakarsai oleh Ibu Hj. Pengambilan sudut pandang 3.

000  Harian : Rp. sabun. pakaian tidur)  Perlengkapan sholat (mukena.000  Extended Time : Rp 25. sajadah)  Sandal  Susu + sarapan pagi. Aspek Wawancara dengan Pemimpin TPA  Gedung : Rp. 1. dan lingkar kepala)  Pembimbing 4 berbanding 9 anak Perlengkapan  Alat mandi (sikat gigi. minyak telon.000  SPP/bulan : Rp. pasta gigi.000  Usia peserta Day Care : 2-6 Tahun Fasilitas  Ruang tidur ber-AC  Tempat tidur lengkap  Loker arena bermain indoor dan outdoor  Makan siang dan snack sore  Kegiatan sentra  Cek kesehatan (berat badan. pakaian muslim. sarung. yang harus handuk) dibawah anak  Peralatan sesudah mandi (bedak.000. TPA cologne)  1 stel baju ganti (pakaian main. 100. snack pagi Jumlah anak  9 orang Bentuk TPA  Bulanan Bina  Harian (full day) Cendekia Target TPA  Terbuka untuk muslim Bina  Anak normal dan yang kurang normal Cendekia Klasifikasi  Semua pengasuh bertanggung jawab dengan usia semua anak Day Care Keunggulan  Waktu penyambutan yang ramah dan penuh TPA kekeluargaan  Waktu penjemputan yang fleksibel  Harga terjangkau  Tidak ada pendaftaran ulang Jumlah Jumlah pembimbing 3 orang dan koordinator TPA 1 . tinggi badan. 1.000. shampo.

pengasuhpun melayani dengan hati dan penuh kasih sayang sehingga anak-anak merasa dirumah seperti dirumah. 2. Penyambutan guru operasional piket pukul 06. Pendidik / Pengasuh TPA a) Tabulasi Data Wawancara Observasi dengan Pendidik Dokumentasi TPA . Aspek Wawancara dengan Pemimpin TPA pembimbing orang Waktu Pukul 07. Keunggulan Taman Penitipan Anak Bina Cendekia adalah anak yang dititipkan di TPA belajar dan bermain sesuai program KBM yang berjalan seperti murid kelompok bermain dan TK.Selain itu waktu yang fleksibel tidak ada penambahan administrasi ketika anak dijemput terlambat.00 pagi s/d 05.00 pagi Pelatihan Dilaksanakan secara rutin (berjalan) pengasuh Panduan/ Berpengalaman pedoman Jumlah staf Dokter 2 orang pembimbing Dokter gigi dan umum b.00 sore. kekeluargaan. Analisa Data Taman Penitipan Anak Bina Cendekia berdiri dengan tujuan yang sangat baik dengan visi misi yang jelas. adanya penyambutan dan pelayanan yang ramah.

Kenyamanan dan kebebasan anak juga menjadi faktor yang diutamakan di TPA Bina Cendekia. Anak mendapatkan tidak hanya pengasuhan saja tetapi juga pemenuhan kebutuhannya akan pendidikan khususnya aspek perkembangan Sosial Emosional khusunya tentang kemandirian. b) Analisis Data Dari data diatas terlihat bahwa keseluruhan kegiatan yang ada di TPA Bina Cendekia merupakan pelayanan setengan hari ( half day ) dan sehari penuh ( full day). Pelatihan-pelatihan dan training yang . 3. Kelengkapan dan Kualifikasi a) Tabulasi Data Pendidikan No Jenis Jml D1/2/ Lain- . SDM SD SMP SMA S1 S2 3 lain 1 Pemimpin 2 Petugas TU 3 Pendidik 4 Tenaga Penunjang 5 Dokter/ Paramedis b) Analisis Data Data di atas menunjukkan bahwa TPA Bina Cendekia mempunyai Sumber Daya Manusia yang cukup memadai untuk menjalankan pengelolaan sebuah TPA.

Tabulasi Data Jawaban Kode Item Ada Tidak Ket A1 A2 A3 A4 A5 B1 B2 B3 . 4. Kelengkapan Sarana Prasarana a. Tabulasi Data No Item Jumlah Anak Luas Ruang 1 Gedung Utama 500 m2 2 Tanah 1000 m2 3 Ruang Tidur Anak 36 m2 4 Ruang Bermain Anak 250 m2 Tempat bermain anak di 5 luar ruangan b. Tabulasi Data Jumlah No Kategori Usia Anak Jumlah Anak Pengasuhan 1 Bayi 2-12 bulan 2 Bayi 1-3 tahun 3 Anak 3-9 tahun b. Sarana Prasarana a. Analisis Data 6. Analisis Data 5. Rasio Pengasuhan a. diberikan juga meningkatkan pengetahuan dan kemampuan para pendidikan / pengasuh dalam menjalankan program.

B4 C1 C2 C3 D1 E1 E2 E3 E4 E5 E6 E7 F1 F2 F3 F4 F5 b. Tabulasi Data Ada Kode Aspek Kuran Tidak Baik Cukup g A1 A2 A3 A4 B1 B2 B3 B4 B5 b. Bidang Administrasi a. Analisis Data . Analisis Data 7.