BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Demam thypoid merupakan salah satu penyakit infeksi endemis di Asia, Afrika,
Amerika latin, Karibia, Oceania dan jarang terjadi di Amerika Serikat dan Eropa. Menurut
data WHO, terdapat 16 juta hingga 30 juta kasus thypoid di seluruh dunia dan
diperkirakan sekitar 500,000 orang meninggal setiap tahunnya akibat penyakit ini. Asia
menempati urutan tertinggi pada kasus thypoid ini, dan terdapat 13 juta kasus dengan
400,000 kematian setiap tahunnya. Penyakit ini banyak diderita oleh anak-anak, namun
tidak menutup kemungkinan untuk orang dewasa. Penyebabnya adalah kuman sallmonela
thypi atau sallmonela paratypi A, B dan C.
Penyakit typhus abdominallis sangat cepat penularanya yaitu melalui kontak dengan
seseorang yang menderita penyakit typhus, kurangnya kebersihan pada minuman dan
makanan, susu dan tempat susu yang kurang kebersihannya menjadi tempat untuk
pembiakan bakteri salmonella, pembuangan kotoran yang tak memenuhi syarat dan
kondisi saniter yang tidak sehat menjadi faktor terbesar dalam penyebaran penyakit
typhus.
Dalam masyarakat, penyakit ini dikenal dengan nama thypus, tetapi didalam dunia
kedokteran disebut dengan Thypoid fever atau thypus abdominalis, karena pada umumnya
kuman menyerang usus, maka usus bisa jadi luka dan menyebabkan pendarahan serta bisa
mengakibatkan kebocoran usus.
Untuk itu kami menyusun makalah ini dengan judul “Asuhan Keperawatan dengan
Demam Thypoid” dengan tujuan agar mahasiswa memahami dan mengetahui asuhan
keperawatan pada klien dengan demam thyoid.

B. TUJUAN
1. Tujuan umum :
Mahasiswa dapat mengetahui dan mencegah terjadinya demam thypoid serta
mengimplementasikan asuhan keperawatan demam thypoid.

1

Mendapatkan pengetahuan tentang penyakit demam thypoid 2. Mendapatkan pengetahuan tentang asuhan keperawatan pada pasien dengan demam thypoid 2 . Tujuan khusus : a. 2. Mampu mengaplikasikan tindakan keperawatan sesuai konsep dan sesuai indikasi klien C. Mengetahui konsep medik dan asuhan keperawatan pada penyakit demam thypoid b. MANFAAT PENULISAN 1.

toksemia dan kematian. (Ranuh. bradikardi relatif. BAB II PEMBAHASAN I. (Arjatmo Tjokronegoro. namun mati pada suhu 70 o C maupun oleh antiseptic. (Samsuridjal D dan heru S. kelesuan. anoreksia. Fomites dan fluids) dapat menyebarkan kuman ke makanan. kadang-kadang pembesaran dari limpa/hati/kedua- duanya. konstipasi/diare. dan dkk. 2001) Penyakit tifus disebabkan oleh infeksi kuman Salmonella Typosa.paratyphi A. ETIOLOGI Salmonella typhi yang menyebabkan infeksi invasif yang ditandai oleh demam. Files. susu. buah dan sayuran yang sering dimakan tanpa dicuci/dimasak sehingga dapat terjadi penularan penyakit terutama terdapat dinegara-negara yang sedang berkembang dengan 3 . toksemia. tidak menghasilkan spora. yang ditandai dengan bakterimia. anaerob. sakit kepala.paratyphi C. pembentukan mikroabses dan ulserasi Nodus peyer di distal ileum. PENGERTIAN Demam thypoid adalah penyakit menular yang bersifat akut. perdarahan. (Soegeng Soegijanto. Demam tifoid disebabkan oleh S.paratyphi b dan S. KONSEP DASAR TEORI A. nyeri perut. Hariyono. Empat F (Finger. 1997) C. 2002) Tifus abdominalis adalah suatu infeksi sistem yang ditandai demam. Bakteri tersebut memasuki tubuh manusia melalui saluran pencernaan dan manusia merupakan sumber utama infeksi yang mengeluarkan mikroorganisme penyebab penyakit saat sedang aktif atau dalam pemulihan. berflagel (bergerak dengan bulu getar). 2003) B. Kuman ini dapat hidup dengan baik pada tubuh manusia maupun pada suhu yang lebih rendah sedikit.typhi. perubahan pada sistem retikuloendotelial yang bersifat difus. S. basil gram negative. PATOFISIOLOGIS Transmisi terjadi melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi urin/feses dari penderita tifus akut dan para pembawa kuman/karier. Komplikasi yang dapat terjadi antara lain: perforasi usus. S.

2002) PATHWAYS Salmonella typhosa Saluran pencernaan Diserap oleh usus halus Bakteri memasuki aliran darah sistemik Kelenjar limfoid Hati Limpa Endotoksin usus halus Tukak Hepatomegali Splenomegali Demam Pendarahan dan Nyeri perabaan perforasi Mual/tidak nafsu makan Perubahan nutrisi Resiko kurang volume cairan (Suriadi & Rita Y. (Samsuridjal D dan heru S. 2001) 4 . Selama masa inkubasi penderita tetap dalam keadaan asimtomatis. 2003) Masa inkubasi demam tifoid berlangsung selama 7-14 hari (bervariasi antara 3-60 hari) bergantung jumlah dan strain kuman yang tertelan. (Soegeng soegijanto. kesulitan pengadaan pembuangan kotoran (sanitasi) yang andal.

Biasanya didapatkan kondisi konstipasi. koma atau gelisah. 2. terjadinya sukar diterangkan. lidah ditutupi selaput putih kotor (coated tongue. sedangkan yang terlama sampai 30 hari jika infeksi melalui minuman. Selama masa inkubasi mungkin ditemukan gejala prodroma. yaitu : 1. Menurut teori relaps terjadi karena terdapatnya basil dalam organ-organ yang tidak dapat dimusnahkan baik oleh obat zat 5 . tapi kembung jarang. Terjadi pada minggu kedua setelah suhu badan normal kembali. Gangguan kesadaranUmumnya kesadaran penderita menurun walaupun tidak seberapa dalam. bibir kering dan pecah-pecah (ragaden). Dalam minggu kedua. Demam lebih dari 7 hari Pada kasus tertentu. 3. suhu tubuh berangsur-angsur meningkat setiap hari. suhu badan berangsur-angsur turun dan normal kembali pada akhir minggu ketiga. dan tidak bersemangat. Pada punggung terdapat roseola (bintik kemerahan karena emboli basil dalam kapiler kulit. Selama minggu pertama. Pada abdomen terjadi splenomegali dan hepatomegali dengan disertai nyeri tekan. akan tetapi berlangsung ringan dan lebih singkat. yaitu perasaan tidak enak badan. Dalam minggu ketiga. Yang tersingkat 4 hari jika infeksi terjadi melalui makanan. penderita terus berada dalam keadaan demam. 4. Biasanya ditemukan pada minggu pertama demam). mual. Jarang terjadi sopor. kadang diare. demam berlangsung selama 3 minggu. nyeri kepala. biasanya menurun pada pagi hari dan meningkat lagi pada sore dan malam hari. 5. jarang disertai tremor. pusing. yaitu apatis sampai somnolen. Gangguan saluran pencernaan Pada mulut terdapat nafas berbau tidak sedap. Relaps (kambuh) ialah berulangnya gejala penyakit tifus abdominalis. muntah. bersifat febris remiten dan suhu tidak seberapa tinggi. GEJALA KLINIS Masa inkubasi rata-rata 10-20 hari. Kemudian gejala klinis yang biasa ditemukan. lesu. ujung dan tepinya kemerahan.D. lidah tifoid).

2. Pemeriksaan Darah Perifer Lengkap Dapat ditemukan leukopeni. Tiamfenikol. Mungkin terjadi pada waktu penyembuhan tukak. 2001) F. Bradikardi (Sjamsuhidayat. Peningkatan SGOT dan SGPT ini tidak memerlukan penanganan khusus 3. Dosis 2 x 2 tablet (satu tablet mengandung 400 mg sulfametoksazol dan 80 mg trimetoprim) 6 . (Widiastuti Samekto. Kortimoksazol. dapat diberikan secara oral atau intravena. Dosis yang diberikan 4 x 500 mg per hari. Akibat adanya infeksi oleh Salmonella typhi maka penderita membuat antibodi (aglutinin) yaitu:  Aglutinin O: karena rangsangan antigen O yang berasal dari tubuh bakteri  Aglutinin H: karena rangsangan antigen H yang berasal dari flagela bakteri  Aglutinin Vi: karena rangsangan antigen Vi yang berasal dari simpai bakter. TERAPI 1. Kloramfenikol. Semakin tinggi titernya semakin besar kemungkinan menderita Demam Tifoid. Dari ketiga aglutinin tersebut hanya aglitinin O dan H yang digunakan untuk diagnosis Demam Tifoid. Leukositosis dapat terjadi walaupun tanpa disertai infeksi sekunder. Dosis yang diberikan adalah 4 x 500 mg perhari. Uji Widal dimaksudkan untuk menentukan adanya aglutinin dalam serum penderita Demam Tifoid. Pemeriksaan SGOT dan SGPT SGOT dan SGPT sering meningkat. 6. sampai 7 hari bebas panas 2.1998) E. terjadi invasi basil bersamaan dengan pembentukan jaringan fibrosis. anti. 3. dapat pula leukositosis atau kadar leukosit normal. Epitaksis 7. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. Pemeriksaan Uji Widal Uji Widal dilakukan untuk mendeteksi adanya antibodi terhadap bakteri Salmonella typhi. tetapi akan kembali normal setelah sembuh.

Kombinasi obat antibiotik. meningitis. (Behrman Richard. 4. osteomielitis dan arthritis septik jarang terjadi pada hospes normal. karena telah terbukti sering ditemukan dua macam organisme dalam kultur darah selain kuman Salmonella typhi. Pielonefritis. selama 2 minggu 5. Golongan Fluorokuinolon  Norfloksasin : dosis 2 x 400 mg/hari selama 14 hari  Siprofloksasin : dosis 2 x 500 mg/hari selama 6 hari  Ofloksasin : dosis 2 x 400 mg/hari selama 7 hari  Pefloksasin : dosis 1 x 400 mg/hari selama 7 hari  Fleroksasin : dosis 1 x 400 mg/hari selama 7 hari 7. dosis 3-4 gram dalam dekstrosa 100 cc. bronkopneumonia. peritonitis. syok septik.Pneumonia sering ditemukan selama stadium ke-2 penyakit. Arthritis septik dan osteomielitis lebih sering terjadi pada penderita hemoglobinopati. meningitis. hepatitis.5-3% dan perdarahan berat pada 1-10% penderita demam tifoid. peritonitis atau perforasi. Ampisilin dan amoksilin. endokarditis. 1992) 7 . 2001) G. (Arif mansjoer & Suprohaitan 2000) Perforasi usus terjadi pada 0. ensefalopati. kolesistitis. Dosis berkisar 50-150 mg/kg BB. (Widiastuti S. Sefalosporin Generasi Ketiga. KOMPLIKASI Perdarahan usus. tetapi seringkali sebagai akibat superinfeksi oleh organisme lain selain Salmonella. Hanya diindikasikan pada keadaan tertentu seperti: Tifoid toksik. Kebanyakan komplikasi terjadi selama stadium ke-2 penyakit dan umumnya didahului oleh penurunan suhu tubuh dan tekanan darah serta kenaikan denyut jantung. diberikan selama ½ jam per-infus sekali sehari. selama 3-5 hari 6.

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak ada nafsu makan.II. epistaksis. pernafasan  Berri minum yang cukup  Berikan kompres air biasa  Lakukan tepid sponge (seka)  Pakaian (baju) yang tipis dan menyerap keringat  Pemberian obat antipireksia  Pemberian cairan parenteral (IV) yang adekuat 2. penurunan kesadaran B. ASUHAN KEPERAWATAN PADA GANGGUAN THYPOID A. mual. tekanan darah. Kaji adanya gejala dan tanda meningkatnya suhu tubuh terutama pada malam hari. dan peningkatan suhu tubuh C. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi 2. dan perut kembung 3. lidah kotor. PENGKAJIAN 1. Meningkatkan kebutuhan nutrisi dan cairan  Menilai status nutrisi  Ijinkan untuk memakan makanan yang dapat ditoleransi anak. PERENCANAAN 1. Riwayat keperawatan 2.  Berikan makanan yang disertai dengan suplemen nutrisi untuk meningkatkan kualitas intake nutrisi 8 . rencanakan untuk memperbaiki kualitas gizi pada saat selera makan anak meningkat. Mempertahankan suhu dalam batas normal  Kaji pengetahuan klien dan keluarga tentang hipertermia  Observasi suhu. nadi. Risiko kurangnya volume cairan berhubungan dengan kurangnya intake cairan. nyeri kepala. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. tidak nafsu makan.

dan dengan skala yang sama  Mempertahankan kebersihan mulut anak  Menjelaskan pentingnya intake nutrisi yang adekuat untuk penyembuhan penyakit  Kolaborasi untuk pemberian makanan melalui parenteral jika pemberian makanan melalui oral tidak memenuhi kebutuhan gizi anak 3. 2001) 9 . memberan mukosa kering. ubun-ubun cekung. Mencegah kurangnya volume cairan  Mengobservasi tanda-tanda vital (suhu tubuh) paling sedikit setiap 4 jam  Monitor tanda-tanda meningkatnya kekurangan cairan: turgor tidak elastis. bibir pecah-pecah  Mengobservasi dan mencatat berat badan pada waktu yang sama dan dengan skala yang sama  Memonitor pemberian cairan melalui intravena setiap jam  Mengurangi kehilangan cairan yang tidak terlihat (Insensible Water Loss/IWL) dengan memberikan kompres dingin atau dengan tepid sponge  Memberikan antibiotik sesuai program (Suriadi & Rita Y.  Menganjurkan kepada orang tua untuk memberikan makanan dengan teknik porsi kecil tetapi sering  Menimbang berat badan setiap hari pada waktu yang sama. produksi urin menurun.

Penderita memerlukan istirahat 5. dan efek samping 8. Berikan informasi tentang kebutuhan melakukan aktivitas sesuai dengan tingkat perkembangan dan kondisi fisik anak 7. 2001) 10 . Tekankan untuk melakukan kontrol sesuai waktu yang ditentukan. 2003) 6. Menjelaskan gejala-gejala kekambuhan penyakit dan hal yang harus dilakukan untuk mengatasi gejala tersebut 9. Penderita harus dapat diyakinkan cuci tangan dengan sabun setelah defekasi 2. Jelaskan terapi yang diberikan: dosis. Diit lunak yang tidak merangsang dan rendah serat (Samsuridjal D dan Heru S. DISCHARGE PLANNING 1. 4. (Suriadi & Rita Y. Lalat perlu dicegah menghinggapi makanan dan minuman.I. Mereka yang diketahui sebagai karier dihindari untuk mengelola makanan 3.

11 . Penyakit pada usus yang menimbulkan gejala-gejala sistemik yang disebabkan oleh salmonella typhi. Cara pencegahan penyakit thypoid yang dilakukan adalah cuci tangan setelah dari toilet dan khususnya sebelum makan atau mempersiapkan makanan.B. BAB III PENUTUP A. gangguan pada saluran cerna dan gangguan kesadaran. SARAN Penulis menyadari makalah ini masih jauh dari kesempurnaan maka dengan adanya makalah ini. KESIMPULAN Typhoid adalah suatu penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran cerna dengan gejala demam lebih dari 7 hari. salmonella type A. B. hindari minum air mentah. diharapkan pembaca dapat memahami tentang penyakit typoid dengan baik.C penularan terjadi secara pecal. oral melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi. hindari minum susu mentah (yang belum dipasteurisasi). rebus air sampai mendidih dan hindari makanan pedas.

1992. 5. Alih bahasa Agnes Kartini. 1997. 2003. Behrman Richard. 2002. Jilid I. Sjamsuhidayat. 3. Editor: Peter Anugrah. CV Sagung Seto. Badan Penerbit Universitas Diponegoro. FKUI. FKUI. Jakarta. Ilmu Kesehatan Anak. Wiwiek S. 2001. EGC. Penerbit Media Aesculapius. Vanda dan Rose. Suprohaitan. Wahyu Ika W.com/hg/nusa/jawamadura/2005/02/03brk 12 . Samsuridjal Djauzi dan Heru Sundaru. 8. 2000. Widiastuti Samekto. Diagnosa dan Penatalaksanaan. EGC. Alih bahasa: Moelia Radja Siregar & Manulang. Jakarta. Jakarta. http://www. Jakarta. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Imunisasi Dewasa. Buku Imunisasi Di Indonesia. 6. dkk. Hipokrates. 11. Joss. Kapita Selekta Kedokteran. FKUI Jakarta. 10. 1997. 2001. Jakarta. Edisi revisi. Buku Ajar Ilmu Bedah. DAFTAR PUSTAKA 1. 2. Semarang. Suriadi & Rita Yuliani. 7. Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia. Ilmu Penyakit Anak. edisi pertama. Arjatmo Tjokronegoro & Hendra Utama. Jakarta. Hariyono dan Soeyitno. Soegeng Soegijanto. Stephan. 1998. Jakarta. Edisi I. Ranuh. Penyajian Kasus pada Pediatri. 4. Belajar Bertolak dari Masalah Demam Typhoid. 9. 2001. Arif Mansjoer. Edisi ke Tiga. Buku Pegangan Praktek Klinik Asuhan Keperawatan pada Anak. Jakarta. Salemba Medika.tempointeraktif.