ILUSTRASI KASUS

Telah dirawat seorang pasien perempuan usia 85 tahun di Bagian Penyakit Dalam
RSUP Dr. M. Djamil Padang sejak tanggal 18 Maret 2016 dengan:

Keluhan utama:
Perubahan kesadaran sejak 4 hari sebelum masuk RS

Riwayat Penyakit Sekarang:
 Perubahan kesadaran sejak 4 hari yang lalu. Pasien kadang bisa diajak
komunikasi dengan keluarga, dan terkadang pasien banyak tidur dan sulit
diajak komunikasi oleh keluarga.
 Pasien sudah merasakan nyeri punggung dan kaki sejak 15 tahun yang lalu.
Nyeri punggung bertambah dengan aktivitas. Pasien sudah dibawa berobat ke
rumah sakit, dan dinyatakan sakit tulang punggung. Pasien dianjurkan untuk
operasi dan pasien tidak bersedia. Semenjak itu pasien berjalan dengan
bantuan tongkat kaki empat dan kursi roda.
 Pasien mengalami jatuh 4 bulan yang lalu, pangkal paha kanan nyeri dan
bertambah nyeri dengan digerakan. Pasien dibawa berobat ke RS dan
dinyatakan patang tulang pangkal tulang paha. Semenjak itu pasien hanya
terbaring ditempat tidur, aktivitas sehari-hari dibantu oleh keluarga.
 Bicara pelo sejak satu bulan yang lalu. Bicara pelo juga diikuti dengan lemah
anggota gerak kanan.
 Borok di pinggul sejak 3 minggu yang lalu. Borok awalnya cuma kulit
kemerahan, setelah itu kulit lecet dan makin meluas.
 Batuk sejak 2 minggu yang lalu, batuk berdahak dan tidak berdarah, riwayat
batuk-batuk lama tidak ada.
 Demam sejak 1 minggu yang lalu, demam tinggi, terus-menerus. Demam
tidak disertai menggigil dan keringat banyak. Kejang tidak ada.
 Sesak nafas semakin meningkat sejak 3 hari yang lalu. Sesak nafas tidak
dipengaruhi aktivitas, cuaca dan makanan. Riwayat terbangun tengah malam
karena sesak tidak ada, riwayat tidur dengan bantal yang ditinggikan tidak ada,
sesak tidak berbunyi menciut.

1

tp keluarga tidak tahu berapa penurunannya.  Nyeri dada tidak ada  Sembab pada kedua tungkai tidak ada  BAK dan BAB jumlah dan warna biasa Riwayat Penyakit Dahulu  Riwayat hipertensi tidak ada  Riwayat sakit gula tidak ada  Riwayat mengkonsumsi OAT tidak ada  Riwayat sakit asma tidak ada  Riwayat sakit jantung tidak ada  Riwayat sakit ginjal tidk ada Riwayat Penyakit Keluarga  Tidak ada anggota keluarga yang menderita hipertensi.  Tidak ada anggota keluarga yang menderita diabetes Silsilah Keluarga NB: Warna hitam tinggal dengan pasien 2 . Pasien mengalami penurunan berat badan sejak sakit.

 Pasien tinggal bersama anak perempuannya 2 orang. Ekonomi.Riwayat Pekerjaan. Analisis Keuangan  Pasien tidak bekerja  Pasien mendapatkan biaya hidup dari anak – anak dan pensiunan suami. hanya di rumah saja karena keterbatasan pergerakan dan tidak bisa melakukan aktivitas sosial dan tidak bisa melakukan ibadah ke mesjid. Sosial. serta 1 orang cucunya Riwayat Penggunaan Obat-Obatan  Pasien mengkonsumsi obat osteocal dan neorodex dari poli ortopedi  Pasien juga dapat obat aprazolam dari poli saraf. menantu 1 orang. laki laki 1 orang. makan 3 kali dan terkadang 2 kali sehari namun sejak 4 hari yang lalu pasien hanya makan ½ porsi Sebelum sakit : • Makan pagi : bubur bayi • Makan siang : bubur bayi + lauk dan sayur yang blender • Makan malam : bubur bayi dengan rasa yang berbeda + jus buah 3 . Perkawinan. 5 orang cucu ). Riwayat Asupan Nutrisi  Sebelum pasien mengalami perubahan kesadaran. tapi sudah dihentikan karena pasien sering tidur lama setelah mengkonsumsi obat itu Riwayat Sosial Kemasyarakatan  Pasien sebelum terjatuh dan patah tulang pangkal paha. suami pasien seorang pensiunan PNS sudah meninggal dunia  Pasien adalah seorang ibu rumah tangga. dan ini mencukupi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kejiwaan  Pasien menikah dan memiliki 1 orang suami dan 6 orang anak ( 3 orang perempuan dan 3 orang laki-laki.

5 ºC Keadaan gizi : kurang Tinggi badan : 154 kg Berat badan : 45 kg BMI : 18. basah halus nyaring di kedua basal paru. tidak mudah dicabut Mata : Konjungtiva tidak anemis. ronki +/+.9 Edema : tidak ada Anemis : tidak ada Ikterus : tidak ada Kulit : Turgor baik Kelenjar getah bening : Tidak ada pembesaran kelenjar getah bening Kepala : Normocephal Rambut : uban (+). sklera tidak ikterik Telinga : Tidak ditemukan kelainan Hidung : Tidak ditemukan kelainan Tenggorokan : Tidak ditemukan kelainan Gigi dan Mulut : caries (+) Leher : JVP 5 . wheezing -/- 4 .Pemeriksaan Fisik Umum Keadaan umum : sakit berat Kesadaran : somnolen Tekanan Darah : 130/80 mmHg (berbaring) Nadi : 112 x/menit Nafas : 32 x/menit Suhu : 37.2 cmH2O Paru :  Paru depan o Inspeksi : simetris kiri = kanan dalam keadaan statis dan dinamis o Palpasi : fremitus sulit dinilai o Perkusi : sonor kiri = kanan o Auskultasi : bronchovesicular.

wheezing -/- Jantung o Inspeksi : ictus cordis tidak terlihat o Palpasi : ictus cordis teraba 1 jari medial LMCS RIC V. pus (+) Alat kelamin : Tidak ditemukan kelainan. kolateral (-) o Palpasi : Hepar tidak teraba. Anggota gerak : Reflek fisiologis +/+. ronki +/+. P2< A2 Abdomen o Inspeksi : Tidak tampak membuncit. luas 1 ibu jari. lien S0. thrill (-). batas bawah 1 jari medial LMCS RIC V. Paru belakang o Inspeksi : simetris statis dan dinamis o Palpasi : fremitus sulit dinilai o Perkusi : sonor kiri = kanan o Auskultasi : bronchovesicular. pinggang jantung (+) o Auskultasi : irama teratur. bising (-). M1> M2. Punggung : CVA : nyeri tekan dan nyeri ketok tidak bisa dinilai Regio gluteal : ulkus decubitus (+) ukuran 4x2x0. Geriatri Comphrehensif Assesment Penapisan Depresi : sukar dinilai MMSE : sukar dinilai ADL Barthel : 0 (ketergantungan total) Uji Mental Singkat : sukar dinilai 5 . basah halus nyaring di kedua basal paru. edema -/- Tampak kaki kiri lebih pendek. batas atas RIC II.5 cm. kuat angkat o Perkusi : batas kanan LSD. venektasi (-). Reflek patologis +/+. Anus : tidak ditemukan kelainan. Atrofi otot gastroknemius (+) Lateralalisasi (+) ke kanan. o Perkusi : timpani o Auskultasi : bising usus (+) normal.

600 /mm3 LED : 20 mm/jam Hematokrit : 32 % Trombosit : 234.9 mmol/L Kalsium : 9.MNA : 9 (malnutrisi) Laboratorium Darah Hb : 10.Jenis : 0/0/2/81/11/6 Na/K : 142/2.7 mmol/L SO2c : 84% Kesan : Gagal nafas tipe 1 6 .6 mg % GDS : 111 mg/dl Ureum/Cr : 2/0.1 gr/dl Leukosit : 8.5 mmol/L BEecf : 3.40 pCO2 : 46 mmHg pO2 : 49 mmHg HCO3 : 28.7 mg% Kesan : Hipokalemia Analisa Gas Darah : pH : 7.000/mm3 Hit.

06 detik SV1+RV5 : <35 PR interval : 0.16 detik R/S V1 : <1 Kesan : sinus takikardi Daftar Masalah :  Perubahan kesadaran  Comunity Acquired Pneumonia (CAP)  Fraktur caput femoris dextra  Ulkus dekubitus grade II-III  Gagal nafas tipe 1  Old stroke  Hipokalemia 7 .Urinalisa : Protein : (-) Glukosa : (-) Leukosit : 2-4/LPB Eritrosit : 0-1/LPB Silinder : (-) Kristal : (-) Epitel : gepeng (+) Bilirubin : (-) Urobilinogen : (+) Feses Rutin : Warna : kuning Konsistensi : lembek Leukosit : (-) Eritrosit : (-) Pemeriksaan EKG: Irama : sinus QRS Komplek : 0.08 dtk HR : 116 x /menit ST Segmen : isoelektrik Axis : normal Gel T : normal Gel P : 0.

 Malnutrisi  Imobilisasi Diagnosis Kerja :  Perubahan kesadaran ec sindrom delirium akut  Comunity Acquired Pneumonia (CAP) dengan gagal nafas tipe 1  Negleted fraktur caput femoris dextra  Hipokalemia ec low intake  Old stroke  Malnutrisi  Immobilisasi Diagnosis Banding :  Penurunan kesadaran ec hipoksemia Terapi :  Istirahat/ Diet MC 6 x 150 cc / 1. Cefoperazone 2x1 Gram (iv)  Azitromisin 1x 500 mg (po)  Paracetamol 3x500 mg (po)  N.350 kkal  O2 5L/menit  IVFD NaCl 0.9% 8 jam/kolf  Inj. Asetil sistein 2x200 mg  KSR 1x1  Pasang kasur dekubitus  Miring kiri dan miring kanan setiap 4 jam Pemeriksaan Anjuran :  Cek albumin/globulin. PT/APTT  Rontgen thorax PA  Rontgen Pelvis  Kultur sputum  Konsul Bedah ortopedi  Konsul Neurologi 8 .

Pasang kasur ulkus dekubitus . Imobilisasi . Konsul bedah ortopedi . Oral higine tiap hari . IVFD Aminofusi L600: triofusin = 1:1 12 jam/kolf . Citicholin 2x500 mg 9 . MC susu nabati 5x200cc . Konsul Fisioterapi  Konsul Gizi FOLLOW UP Tanggal 21 Maret 2016 S/ Penurunan kesadaran (+). Ganti diet nasi tim saring rendah serat 1x. Konsul Gizi . Malnutrisi . Kultur pus ulkus dekubitus Konsul Bagian Neurologi Kesan : Stroke iskemik lama Advis : . Ulkus dekubitus grade II-III . demam (-). sesak nafas (+). Ketergantungan total Advis : . mencret (+) O/ KU Kes TD (mmHg) Nadi (x/i) Nafas (x/i) Suhu (oC) Sedang somnolen 130/ 70 90 27 36. Redressing 2x/hari .5 Konsul konsultan Geriatri : Kesan : . batuk (+). Konsul Fisioterapi .

Latih LGS pasif pada sisi yang sakit . Cefoperazone 2x1 gr (IV) . batuk (+) berkurang.Tanggal 22 Maret 2016 S/ Pasien tidak sadar. Deep breath exercise  inspirasi dalam. Rontgen thorax Konsul Konsultan Rehabilitasi Medik Kesan : .5 Konsul Bagian bedah orthopedi Kesan : Susp. Kultur sputum . Azitromisin 1x500 mg (PO) . mencret (-) O/ KU Kes TD (mmHg) Nadi (x/i) Nafas (x/i) Suhu (oC) Sedang somnolen 140/ 80 88 26 37 Konsul Konsultan Pulmonologi Kesan : Comunity Acquired Pneumonia (CAP) Advis : . sesak nafas (+) berkurang. mencret (-) O/ KU Kes TD (mmHg) Nadi (x/i) Nafas (x/i) Suhu (oC) Sedang CM 130/ 80 88 26 36. dan expirasi pelan melalui mulut ( 5x dalam satu jam) . # dislokasi hip dextra negleted case Dd/ # Colum femur dextra 10 . batuk (+) berkurang. sesak nafas (+) berkurang. Untuk kaki yang sehat dapat dilakukan isometrik contraction exercise .Fraktur collum femur dextra Advis : .Sindrom immobilisasi . Konsul bedah orthopedi . Kebersihan kulit Tanggal 23 Maret 2016 S/ Pasien sadar. tahan.

Heparin 2x5000 unit (SC) Tanggal 28 Maret 2016 S/ Pasien sadar.390 / mm3 . sesak nafas (-) .Advis : . Ganti Diet Nasi tim saring 3 kali. batuk (+) berkurang. Inj.Hipokalemia (perbaikan) . Rencana hemi hip athroplasty / total hip replacement Keluar hasil labor .Hipoalbuminemia . os mau makan O/ KU Kes TD (mmHg) Nadi (x/i) Nafas (x/i) Suhu (oC) Sedang CM 110/ 80 85 21 36. batuk (+) berkurang.Leukosit dan netrofil batang perbaikan P/ .5 11 .Saturasi Oksigen ( perbaikan) Tanggal 24 Maret 2016 S/ Pasien sadar.9 mg % .Faal hemostasis normal . Albumin / Globulin : 3. Rontgen Pelvis . mencret (-) O/ KU Kes TD (mmHg) Nadi (x/i) Nafas (x/i) Suhu (oC) Sedang CM 120/ 80 90 25 36.1 mg % . Perbaiki KU . mencret (-).2 / 2. jus buah 2 kali. Leukosit : 8. DC : 0 / 8 / 0 / 67 / 25 / 0 Kesan : . Na / K / Cl : 134 / 4 / 99 mmol/l .1 / 30. PT/APTT : 10.7 Keluar hasil labor . sesak nafas (+) berkurang. SO2 : 98% Kesan: . susu 1 kali .

Ganti antibiotik dengan ceftazidime 2x1 mg (IV) 12 . Ganti diet dengan Makanan lunak . cefotaxim. Os dilaporkan alergi dengan Meropenem. Ganti antibiotik Meropenem 2x1 gram (IV) . Konsul ulang Bedah Ortopedi Tanggal 29 Maret 2016 S/ Pasien sadar.Aff IVFD. sesak nafas (-) . batuk (+) berkurang. pasang inj. mencret (-). ceftazidime Resisten : Cefoperazone P/ . O/ KU Kes TD (mmHg) Nadi (x/i) Nafas (x/i) Suhu (oC) Sedang CM 120/ 80 82 20 36.6 P/ . Keluar hasil Rontgen Thorak Kesan : Cor dan pulmo dalam batas normal Keluar hasil kultur swab tenggorok Kuman : Stapilococus Aureus Sensitif : Meropenem. Pump .Keluar hasil Rontgen Pelvis Kesan: Fraktur Segmental intertrochanter femur kanan dengan displacement bagian distal ke laterosuperior. os mau makan dan bisa makan tanpa NGT.

Ulkus dekubitus merupakan kerusakan jaringan setempat pada kulit dan/atau jaringan dibawahnya akibat tekanan atau kombinasi antara tekanan dan pegeseran pada bagian tubuh (tulang) yang menonjol. Komplikasi yang terjadi akibat imobilisasi pada pasien ini adalah ulkus dekubitus. malnutrisi dan perubahan posisi yang kurang. bronkopneumonia dan hipoalbuminemia. Imobilisasi adalah keadaan tidak bergerak atau tirah baring selama 3 hari atau lebih dengan gerak anatomik tubuh menghilang akibat perubahan fungsi fisiologik. Ulkus dekubitus yang terjadi pada pasien ini sudah berada pada stadium III dimana ulkus sudah 13 . Imobilisasi pada pasien ini terjadi karena pasien mengalami patah tulang caput femur kanan sejak 4 bulan yang lalu dan diperparah dengan mengalami stroke sejak 1 bulan yang lalu yang mengakibatkan kelemahan pada tubuh. Djamil Padang sejak tanggal 18 Maret 2016 dengan diagnosis akhir :  Perubahan kesadaran ec sindrom delirium akut  Comunity Acquired Pneumonia (CAP)  Negleted fraktur caput femoris dextra  Hipokalemia ec low intake  Old stroke  Malnutrisi  Immobilisasi Masalah utama pada pasien ini adalah imobilisasi. M. DISKUSI Telah dirawat seorang pasien perempuan usia 85 tahun di Bagian Penyakit Dalam RSUP Dr. Faktor risiko terjadinya ulkus dekubitus pada pasien ini adalah adanya stroke. infeksi.

serta mengetahui strategi pencegahan dan penatalaksanaannya. menggunakan kasur berongga (kasur antidekubitus). Pada tatalaksana ulkus dekubitus diperlukan tim terpadu geriatri yang meliputi dokter. Bronkopneumonia (CAP) diteggakkan pada pasien ini karena adanya batuk berdahak. Tekanan akan memberikan pengaruh pada daerah kulit sakral ketika dalam posisi berbaring. Penatalaksanaan nutrisi pada pasien ini kita berikan secara oral. stroke dan faktor usia. Aliran darah akan terhambat pada daerah kulit yang tertekan dan menyebabkan anoksia jaringan dan nekrosis. retensi sputum dan aspirasi lebih mudah terjadi. Terapi yang diberikan yaitu kombinasi golongan cefalosporin dan aminoglikosida. Penatalaksanaan ulkus dekubitus cukup sulit dan butuh waktu lama. Pada posisi berbaring otot diafragma dan interkostal tidak berfungsi dengan baik sehingga gerakan dinding dada juga menjadi terbatas yang menyebabkan sputum sulit keluar.sampai ke jaringan otot. mencegah terjadinya gesekan dan pemberian minyak setelah mandi dan mengompol. Disamping itu imobilisasi juga berperan dalam terjadinya bronkopneumonia pada pasien ini. konsultan terkait. Ulkus dekubitus terjadi akibat peningkatan tekanan pada daerah kulit yang sama secara terus menerus. sehingga pencegahan sangat penting dilakukan. Pasien dan keluarga/pramurawat harus diedukasi mengenai risiko timbul ulkus dekubitus dan perburukan yang akan terjadi. Akibat imobilisasi. Tatalaksana non farmakologis untuk mencegah ulkus dekubitus adalah dengan perubahan posisi secara teratur. perawat. Infeksi pada pasien dipermudah karena kondisi pasien menderita immobilisasi. bagian rehabilitasi medik dan ahli farmasi klinik. sesak nafas dan dan ditemukan ronkhi pada pemeriksaan fisik paru. Kondisi ini juga terjadi akibat elastisitas paru yang sudah berkurang akibat proses menua. melakukan latihan gerakan pasif setiap 1 atau 2 kali sehari selama 20 menit. memiringkan pasien ke kanan dan ke kiri. Tatalaksana dapat berhasil apabila disertai peran serta keluarga atau pramurawat (caregiver). Diet dimulai dengan 1350 kkal berupa makan cair 6x150 cc kemudian secara bertahap diberikan 3 kali makan cair dan 3 kali blender rice dan secara bertahap dinaikkan sampai 2100 kkal. 14 . ahli gizi.

serta dukungan kasih sayang terutama dari pihak keluarga sebagai caregiver kepada pasien. 15 . Edukasi pada keluarga sangat penting mengenai asupan nutrisi. kebersihan tubuh dan lingkungan. Untuk mencegah terjadinya trombosis maka pada pasien ini diberikan antikoagulan. berupa mengatasi penyakit dasar dan penyerta serta sindroma geriatrik yang ada. Penatalaksaan paripurna harus diberikan pada pasien ini karena menderita multimorbiditas. Low dose heparin atau low molecular weight heparin merupakan profilaksis yang aman dan efektif untuk pasien geriatri dengan imobilisasi dan risiko trombosis. oral hygiene.