I.

NEONATAL INFEKSI
A. DEFINISI

Infeksi yang terjadi pada bayi baru lahir ada dua yaitu: early infection (infeksi
dini) dan late infection (infeksi lambat). Disebut infeksi dini karena infeksi diperoleh
dari si ibu saat masih dalam kandungan sementara infeksi lambat adalah infeksi yang
diperoleh dari lingkungan luar, bisa lewat udara atau tertular dari orang lain.1,2

B. PATOFISIOLOGI
Infeksi pada neonatus dapat melalui beberapa cara. Blanc membaginya dalam 3
golongan, yaitu :
1. Infeksi Antenatal
Kuman mencapai janin melalui sirkulasi ibu ke plasenta. Di sini kuman itu
melalui batas plasenta. Selanjutnya infeksi melalui sirkulasi umbilikus dan masuk ke
janin. Kuman yang dapat menyerang janin melalui jalan ini ialah :
a. Virus, yaitu rubella, polyomyelitis, covsackie, variola, vaccinia, cytomegalic
inclusion
b. Spirokaeta, yaitu treponema palidum ( lues )
c. Bakteri jarang sekali dapat melalui plasenta kecuali E. Coli dan listeria
monocytogenes. Tuberkulosis kongenital dapat terjadi melalui infeksi plasenta.
Fokus pada plasenta pecah ke cairan amnion dan akibatnya janin mendapat
tuberkulosis melalui inhalasi cairan amnion tersebut.

2. Infeksi Intranatal
Infeksi melalui jalan ini lebih sering terjadi daripada cara yang lain.
Mikroorganisme dari vagina naik dan masuk ke dalam rongga amnion setelah
ketuban pecah. Ketubah pecah lama ( jarak waktu antara pecahnya ketuban dan
lahirnya bayi lebih dari 12 jam), mempunyai peranan penting terhadap timbulnya
plasentisitas dan amnionitik. Infeksi dapat pula terjadi walaupun ketuban masih utuh
misalnya pada partus lama dan seringkali dilakukan manipulasi vagina. Infeksi janin
terjadi dengan inhalasi likuor yang septik sehingga terjadi pneumonia kongenital

selain itu infeksi dapat menyebabkan septisemia. Infeksi intranatal dapat juga melalui
kontak langsung dengan kuman yang berasal dari vagina misalnya blenorea dan ”oral
trush”.

3. Infeksi Pascanatal
Infeksi ini terjadi setelah bayi lahir lengkap. Sebagian besar infeksi yang
berakibat fatal terjadi sesudah lahir sebagai akibat kontaminasi pada saat penggunaan
alat atau akibat perawatan yang tidak steril atau sebagai akibat infeksi silang. Infeksi
pasacanatal ini sebetulnya sebagian besar dapat dicegah. Hal ini penting sekali karena
mortalitas sekali karena mortalitas infeksi pascanatal ini sangat tinggi.

C. PENEGAKKAN DIAGNOSIS
Diagnosis infeksi perinatal tidak mudah. Biasanya diagnosis dapat ditegakkan
dengan observasi yang teliti, anamnesis kehamilan dan persalinan yang teliti dan
akhirnya dengan pemeriksaan fisik dan laboratarium.
Infeksi lokal pada nonatus cepat sekali menjalar menjadi infeksi umum,
sehingga gejala infeksi lokal tidak menonjol lagi. Walaupun demikian diagnosis dini
dapat ditegakkan kalau kita cukup wasdpada terhadap kelainan tingkah laku neonatus
yang seringkali merupakan tanda permulaan infeksi umum. Neonatus terutama BBLR
yang dapat hidup selama 72 jam pertama dan bayi tersebut tidak menderita penyakit
atau kelaianan kongenital tertentu, namun tiba – tiba tingkah lakunya berubah,
hendaknya harus selalu diingat bahwa kelainan tersebut mungkin sekali disebabkan
oleh infeksi. 3
Menegakkan kemungkinan infeksi pada bayi baru lahir sangat penting,
terutama pada bayi BBLR, karena infeksi dapat menyebar dengan cepat dan
menimbulkan angka kematian yang tinggi. Disamping itu, gejala klinis infeksi pada
bayi tidak khas. Adapun gejala yang perlu mendapat perhatian yaitu :
- Malas minum
- Bayi tertidur
- Tampak gelisah
- Pernapasan cepat

- Berat badan turun drastik
- Terjadi muntah dan diare
- Panas badan bervariasi yaitu dapat meningkat, menurun atau dalam batas normal
- Pergerakan aktivitas bayi makin menurun
- Pada pemeriksaan mungkin dijumpai : bayi berwarna kuning, pembesaran hepar,
purpura (bercak darah dibawah kulit) dan kejang-kejang
- Terjadi edema
- Sklerema

Ada 2 skoring yang digunakan untuk menentukan diagnosis neonatal infeksi :
a. Bell Squash score
- Partus tindakan (SC, forcep, vacum, sungsang)
- Ketuban tidak normal
- Kelainan bawaan
Hasil
- Asfiksia < 4 observasi NI
- Preterm ≥ 4 NI
- BBLR
- Infeksi tali pusat
- Riwayat penyakit ibu
- Riwayat penyakit kehamilan

b. Gupte score
Prematuritas 3 Hasil
3-5Screening NI
Cairan amnion berbau busuk 2
≥ 5 NI
Ibu demam 2

Asfiksia 2

Partus lama 1

Vagina tidak bersih 2

KPD 1

Pemeriksaan laboratorium rutin .Bayi tampak sakit.KPD lebih dr 18 jam . tetanus neonaturum. 1. dantampaklemah . Sepsis Neonatorum Sepsis neonatorum sering didahului oleh keadaan hamil dan persalinan sebelumnya seperti dan merupakan infeksi berat pada neonatus dengan gejala-gejala sistemik.Infeksi/febris pd ibu .Persalinan (partus) lama .3. pneumonia. plelonefritis. meningitis. pucat. Infeksi berat ( major infections ) : sepsis neonatal.D. b. Infeksi ringan ( minor infection ) : infeksi pada kulit.3 Faktor risiko : . infeksi umbilikus ( omfalitis ).Fetal distres Tanda & gejala : .4 a. tidak aktif. warna hijau .Merintih . diare epidemik. osteitis akut.Persalinan dengan tindakan . yaitu berat dan infeksi ringan.Prematuritas & BBLR .Pengobatan antibiotika secara empiris dan terapeutik . atau ikterus Prinsip pengobatan: .Air ketuban bau. oftalmia neonaturum.Reflek hisap lemah . KLASIFIKASI Infeksi pada neonatus dapat dibagi menurut berat ringannya dalam dua golongan besar.Hipotermia atau hipertermia . moniliasis.Dapat disertai kejang.

Laringoskop direct segera setelah lahir bila terdapat meconium staining dan lakukan suction bila terdapat mekonium pada jalan napas . Pada waktu lahir ditemukan meconium staining .Sering didahului atau bersamaan dengan sepsis . Bila setelah di suction rhonki (-) dilakan resusitasi . Dicurigai bila ketuban keruh dan bau . . Sindrom Aspirasi Mekonium SAM terjadi pada intrauterin karena inhalasi mekonium dan sering menyebabkan kematian terutama bayi dengan BBLR karena reflex menelan dan batuk yang belum sempurna. Terapi antibiotika secara empiris dan terapeutik .UUB menonjol . Rhonki (+) Pengobatan : . pasang ET . Gejala : . Bila setelah di suction rhonki masih (+). Meningitis pada Neonatus Tanda dan gejala : . Terjadi serangan apnea (Apneu neonatal) .Kejang .Gunakan antibiotic yang dapat menembus sawar otak dan diberikan dalam minimal 3 minggu .Pemeriksaan lain dapat dilakukan atas indikasi 2.Kaku kuduk Pengobatan : .Pungsi lumbal (atas indikasi) 3. Malas minum . Letargia .Biakan darah dan uji resistensi .

Pemberian ATS 3000 – 6000 unit IM . suara dan sentuhan . Rawat tali pusat . Observasi dilakukan dengan mengurangi sekecil mungkin terjadinya rangsangan 5. BGA. Kadang-kadang disertai sesak napas dan wajah bayi membiru Tindakan . Segera berikan antikonvulsan dan bawa ke Rumah Sakit (hindari pemberian IM karena dapat merangsang muscular spasm) .000 unit / KgBB / 24 jam IV selama 10 hari . Tangan mengepal (boxer hand) . Tetanus neonatorum Etiologi . Kekakuan otot menyeluruh (perut keras seperti papan) dan epistotonus . Perawatan tali pusat yang tidak steril . Bayi yang semula dapat menetek menjadi sulit menetek karena kejang otot rahang dan faring (tenggorok) . Pasang IV line dan OGT . Cek darah rutin. Beri penisilin prokain G 200. Kejang terutama apabila terkena rangsang cahaya. Oftalmia Neonatorum Merupakan infeksi mata yang disebabkan oleh kuman Neisseriagonorrhoeae saat bayi lewat jalan lahir Dibagi menjadi 3 stadium . Mulut mencucu seperti mulut ikan (trismus) . .Stadium infiltrative . Pasang O2 saat serangan atau bila ada tanda-tanda hipoksia . Pembantu persalinan yang tidak steril Gejala . GDS dan foto baby gram 4.

Stadium supuratif Berlangsung 2 – 3 minggu. II. Penatalaksanaan .Penisilin prokain 50. gejala lain tidak begitu hebat lagi. Palpebra bengkak. terdapat secret bercampur darah. Gejala tidak begitu hebat.000 unit/kgbb IM E. o Pakai – pakaian pelindung dan sarung tangan. blefarospasme. mungkit terdapat pseudomembran . yang khas secret akan keluar dengan mendadak (muncrat) saat palpebra dibuka . o Gunakan teknik aseptik. hiperemi.Bersihkan mata dengan larutan garam fisiologis setiap ¼ jam disusul dengan pemberian salep mata penisilin . o Bersihkan unit perawatan khusus bayi baru lahir secara rutin dan buang sampah. o Pisahkan bayi yang menderita infeksi untuk mencegah infeksi nosokomial. SINDROMA ASPIRASI MEKONIUM A. Berlangsung 1-3 hari.Bayi harus diisolasi . Secret jauh berkurang. o Pegang instrumen tajam dengan hati – hati dan bersihkan dan jika perlu sterilkan atau desinfeksi instrumen dan peralatan.Berikan salep mata penisilin setiap jam selama 3 hari . o Cuci tangan atau gunakan pembersih tangan beralkohol. PENCEGAHAN Prinsip pencegahan infeksi antara lain: o Berikan perawatan rutin kepada bayi baru lahir.Stadium konvalesen Berlangsung 2-3 minggu. o Pertimbangkan setiap orang ( termasuk bayi dan staf ) berpotensi menularkan infeksi. DEFINISI .

Keadaan AKK menempati posisi penting sebagai risiko SAM yang merupakan penyebab signifikan morbiditas dan mortalitas janin. namun tidak semua neonatus yang mengalami AKK berkembang menjadi SAM. Lingkaran kejadian yang terdiri dari hipoksemia. penyakit kardiorespiratori maternal. Sindrom aspirasi mekonium dapat terjadi sebelum. Mekonium dapat juga terperangkap dalam jalan napas neonatus saat ekspirasi sehingga mengiritasi jalan napas dan menyebabkan kesulitan bernapas. dan hipertensi pulmonal sering dihubungkan dengan SAM. dan setelah proses persalinan. Berdasar bukti dari penelitian yang tidak acak. Neonatus dengan AKK 2%-36% menghirup mekonium sewaktu di dalam rahim atau saat napas pertama. direkomendasikan bahwa semua neonatus yang lahir dengan mekonium yang kental sebaiknya diintubasi sehingga dapat dilakukan penghisapan jalan napas dengan sempurna. Udara dapat melewati mekonium yang terperangkap dalam jalan napas neonatus saat inspirasi. semakin banyak mekonium yang terhirup. Sindroma Aspirasi Mekonium (SAM) adalah sindrom atau kumpulan berbagai gejala klinis dan radiologis akibat terhisapnya atau mengaspirasi mekonium ke dalam saluran pernafasan bayi. asidosis. Mekonium yang terhirup dapat menutup sebagian atau seluruh jalan napas neonatus. eklampsia. terjadi baik secara fisiologis ataupun patologis yang menunjukkan gawat janin. shunting atau pirau. Secara umum. ditambah dengan kondisi lain seperti infeksi intrauterin atau lewat bulan (usia kehamilan lebih dari 42 minggu). 6 Air ketuban keruh terjadi pada 8%–16% dari seluruh persalinan. sedangkan neonatus yang mempunyai AKK 11% berkembang menjadi SAM dengan berbagai derajat. Insidens air ketuban keruh terjadi pada 6%- 25% kelahiran hidup. selama.9 Tingkat keparahan SAM tergantung dari jumlah mekonium yang terhirup.5 Air ketuban keruh bercampur mekonium (AKK) dapat menyebabkan sindrom aspirasi mekonium (SAM) yang mengakibatkan asfiksia neonatorum yang selanjutnya dapat berkembang menjadi infeksi neonatal. dan berbagai sebab gawat janin. Tujuan intervensi di kamar bersalin untuk menurunkan angka insidens dan tingkat keparahan aspirasi mekonium. semakin berat kondisi klinis neonatus. Pada penelitian . Faktor patologis yang berhubungan dengan AKK termasuk hipertensi maternal.

Mekanisme . sedangkan rangsang parasimpatis menyebabkan terjadinya peningkatan aktivitas peristaltic usus disertai dengan melemasnya spinkter anal. Maka lepaslah mekonium ke dalam cairan amnion. Sulit menentukan mekanisme mana yang paling dominan dalam suatu saat. bayi yang lahir bugar yang menghirup AKK dari nasofaring pada saat lahir dapat berkembang menjadi SAM ringan sampai berat. PENYEBAB. denyut jantung yang tidak teratur atau tidak jelas.8 Penyebab aspirasi mekonium mungkin terjadi intrauterin atau segera sesudah lahir.5. Pada keadaan ini.yang sedang berjalan. Rangsang simpatis meningkatkan denyut jantung. 7. dan berat lahir. SAM sedang apabila memerlukan lebih 40% pada umur lebih 48 jam tanpa kebocoran udara. DERAJAT. Hipoksia janin kronik dan asidosis dapat mengakibatkan gasping janin yang mempunyai konsekuensi aspirasi mekonium intrauterin. terjadi perdebatan pertimbangan penghisapan intratrakeal selektif atau pada semua neonatus dengan pewarnaan mekonium pada air ketuban.6 Mekonium diduga sangat toksik bagi paru karena berbagai macam cara. SAM ringan apabila bayi memerlukan O2 kurang 40% pada umur kurang 48 jam. Refleks gasping ini merangsang aktivitas simpatis dan parasimpatis. MEKANISME TERJADINYA SINDROM ASPIRASI MEKONIUM SAM seringkali dihubungkan dengan suatu keadaan yang kita sebut fetal distress. Berbeda dengan. Beberapa bukti dilaporkan bahwa kejadian kronik intrauterin bertanggung jawab untuk kasus SAM berat yang berbeda dengan kejadian peripartum akut. dan SAM berat apabila memerlukan ventilator mekanik untuk lebih 48 jam dan sering dihubungkan dengan hipertensi pulmonal persisten. sedang dan berat. Analisis bivariat menunjukkan empat faktor risiko terjadi SAM adalah skor Apgar <5 pada menit ke lima. janin yang mengalami distres akan menderita hipoksia (kurangnya oksigen di dalam jaringan) sehingga menimbulkan refleks gasping pada bayi.10 B. mekonium kental. DAN FAKTOR RISIKO Kriteria derajat berat SAM dibedakan menjadi 3 yaitu ringan. C.

dan surfaktan yang inaktif. TNF-1b. Hal ini akan mengakibatkan air trapping di alveoli dengan gangguan ventilasi dan perfusi yang dapat mengakibatkan sindrom kebocoran udara dan hiperekspansi. dan interleukin-8 yang dapat langsung menyebabkan gangguan pada parenkim paru atau menyebabkan kebocoran vaskular yang mengakibatkan pneumonitis toksik dengan perdarahan paru dan edema. mekonium bergerak dari saluran napas sentral ke perifer. Obstruksi parsial menghasilkan dampak katup– bola atau ball-valve effect yaitu udara yang dihirup dapat memasuki alveoli tetapi tidak dapat keluar dari alveoli.12 D. serta mempunyai dampak langsung vasokonstriksi pada pembuluh darah umbilical dan plasenta. Dari makrofag akan dikeluarkan sitokin seperti TNF α. Dalam beberapa jam neutrofil dan makrofag telah berada di dalam alveoli. endotelin-1. DIAGNOSIS . Pada saat bayi mulai bernapas. saluran napas besar dan parenkim paru.7 Obstruksi mekanik Mekonium yang kental dan liat dapat menyebabkan obstruksi mekanik total atau parsial. Risiko terjadinya pneumotoraks sekitar 15%-33%.terjadinya SAM diduga melalui mekanisme obstruksi mekanik saluran napas. dan prostag- landin E2 (PGE2). Partikel mekonium yang terhirup ke dalam saluran napas bagian distal menyebabkan obstruksi dan atelektasis sehingga terjadi area yang tidak terjadi ventilasi dan perfusi menyebabkan hipoksemia.12 Vasokonstruksi pulmonal Kejadian SAM berat dapat menyebabkan komplikasi hipertensi pulmonal persisten. 12 Pneumonitis Mekonium diduga mempunyai dampak toksik secara langsung yang diperantarai oleh proses inflamasi. sebagai akibat adanya mekonium dalam air ketuban diduga mempunyai peran dalam terjadinya hipertensi pulmonal persisten. Pelepasan mediator vasoaktif seperti eikosanoids. pneumonitis kimiawi. Mekonium mengandung berbagai zat seperti asam empedu yang apabila dijumpai dalam air ketuban akan me- nyebabkan kerusakan langsung pembuluh darah tali pusat dan kulit ketuban. vasokonstriksi pembuluh darah vena.

atau emfisema pulmonum intersisialis. Pemeriksaan ekokardiografi dua dimensi diperlukan untuk mengevaluasi hipertensi pulmonal dan berguna untuk bayi pada awal kehidupannya. Gambaran pemeriksaan radiologi klasik menunjukkan sebaran infiltrat difus dan asimetris. Jangan melakukan teknik-teknik berbahaya berikut dalam upaya untuk mencegah aspirasi mekonium yang mengandung cairan ketuban: . Terdapat hubungan antara derajat kelainan abnormalitas radiologik dan derajat penyakit SAM dengan konsolidasi atau atelektasis yang merupakan faktor prognosis yang kurang baik. maka monitor denyut janin merupakan indikator penting. Di dalam rahim hipoksia mengakibatkan relaksasi otot sfingter ani dipertimbangkan sebagai penyebab pasase mekonium. Kejadian AKK merupakan tanda yang serius pada janin yang dihubungkan dengan kenaikan morbiditas perinatal. berhubungan dengan sebab pasase mekonium intra uterin.Meremas dada bayi . Air ketuban yang terinfeksi dan ditelan janin akan memicu terjadinya defekasi dini oleh janin yang juga dapat diterangkan sebagai penyebab AKK. pneumomediastinum. Berhubung berbagai mekanisme yang menyebabkan SAM maka temuan gambaran radiologikpun bervariasi. E. Ketika aspirasi terjadi. PENATALAKSANAAN Rekomendasi sekarang tidak lagi menyarankan penyedotan intrapartum rutin untuk bayi lahir dari ibu dengan mekonium. perlu diingat AKK merupakan media kultur yang kurang baik untuk kuman. Sindrom aspirasi mekonium harus dipertimbangkan terjadi pada setiap bayi baru lahir dengan AKK yang mengalami gejala gangguan napas atau distres respirasi. Dipertimbangkan keadaan kontroversial yang ada saat ini. intubasi dan penyedotan langsung dari saluran napas dapat mengeliminasi banyak mekonium. Seringkali dijumpai overaerasi yang dapat menyebabkan sindrom kebocoran udara seperti pneumotoraks. Sebaliknya lingkungan intra uterin akan mempengaruhi kesejahteraan janin dan mengakibatkan AKK misalnya infeksi intra uterin yang mengakibatkan korioamnionitis. Meskipun ada penelitian lain yang tidak mengkonfirmasi hubungan ini pasien dengan gambaran radiologi klasik menunjukkan perbaikan lambat setelah beberapa hari sampai beberapa minggu.

dan denyut jantung> 100 kali / menit): Jangan melakukan intubasi elektif. Buatlah upaya bersama untuk meminimalkan tekanan udara rata-rata dan untuk digunakan sebagai inspirasi sesingkat mungkin. termasuk pengeringan. mengelola tekanan ventilasi positif dan mempertimbangkan penyedotan lagi nanti. mungkin .. ● Dalam kedua kasus. Hisap tidak lebih dari 5 detik. dan suction trakea segera setelah melahirkan. Hal ini dapat menyebabkan shunting kanan-ke-kiri pada jantung.Terapi Surfaktan sekarang sering digunakan untuk menggantikan surfaktan yang hilang atau tidak aktif dan sebagai pembersih untuk menghapus mekonium.Menjaga lingkungan termal yang optimal untuk meminimalkan konsumsi oksigen. otot normal. .Terapi oksigen melalui kap atau tekanan positif sangat penting dalam mempertahankan oksigenasi arteri yang memadai. reintubate dan hisap. Jika denyut jantung rendah. Jika mekonium tidak dapat diambil. sisa langkah resusitasi awal harus tetap diterapkan. Sedasi sering diperlukan untuk mengurangi agitasi.Memasukkan jari ke mulut bayi American Academy of Pediatrics Comitte telah mengumumkan pedoman untuk pengelolaan bayi yang terkena mekonium. ● Jika bayi kuat (didefinisikan sebagai upaya pernapasan normal. Jika mekonium diambil dan tidak ada bradikardi. reposisi. Minimal diperlukan penanganan karena bayi mudah gelisah. merangsang. Pedoman saat ini adalah sebagai berikut: ● Jika bayi tidak kuat (didefinisikan sebagai upaya pernafasan tertekan. dan/atau detak jantung <100 kali /menit) Gunakan laringoskopi langsung. . Hapus sekresi dan mekonium dari mulut dan hidung dengan cateter suction. dan distribusi oksigen yang diperlukan . intubasi. penggunaan otot yang minimal. Meskipun penggunaan surfaktan tampaknya tidak mempengaruhi tingkat kematian. Pedoman diperiksa terus menerus dan direvisi sebagai penelitian berbasis bukti baru yang telah tersedia. menyebabkan hipoksia dan asidosis. Saturasi oksigen harus dipertahankan pada 90-95%. Ventilasi mekanis diperlukan oleh sekitar 30% dari bayi dengan sindrom aspirasi mekonium. jangan mengulang intubasi dan hisap. Lanjutkan perawatan pernapasan.

lipid.Kortikosteroid tidak dianjurkan. Terapi cairan intravena dimulai dengan infus dekstrosa yang memadai untuk mencegah hipoglikemia. dan vitamin dibutuhkan untuk memastikan nutrisi yang cukup dan mencegah kekurangan asam amino esensial dan asam lemak esensial.Untuk pengobatan hipertensi pulmonal yang persisten pada bayi baru lahir (HPPN) dari oksida . Cairan intravena harus disediakan pada tingkat ringan (60-70 ml / kg / hari).Terapi ventilator yang bertujuan untuk meminimalkan volume tekanan udara tidal rataratadan harus digunakan jika ada emfisema interstisial paru atau pneumotoraks. Diet Distres perinatal dan gangguan pernapasan yang berat menghalangi makan. konsultasi bedahanak mungkin diperlukan pada kasus berat. . Bukti yang mendukung penggunaan steroid dalam pengelolaan sindrom aspirasi mekonium tidak cukup. Evaluasi dengan seorang ahli saraf pediatrik membantu dalam adanya ensefalopati neonatal atau aktivitas kejang. Teknik pencitraan memastikan struktur jantung normal dan menilai keparahan hipertensi pulmonal dan shunting kanan ke kiri. nitrat dihirup merupakan vasodilator paru pilihan. . protein. Terapi dengan lem fibrin telah terbukti efektif pada pasien dengan kebocoran udara persisten. mengurangi keparahan penyakit. Perawatan Bedah Meskipun manajemen utama dari sindrom halangan udara (pneumotoraks atau pneumopericardium) dapat diatasi oleh tabung drainase toraks yang dimasukkan oleh neonatologis. Semakin banyak elektrolit. Evaluasi dengan seorang ahli jantung anak perlu untuk penilaian echocardiographic. Studi sedang berlangsung untuk mengevaluasi peran potensial lavage paru dengan surfaktan. . .

dobutamin dan epinefrin. terapi pengganti surfaktan sering digunakan. Surfaktan juga bertindak sebagai pembersih untuk memecah sisa mekonium. terutama pada pasien dengan penyakit saluran udara yang mendasari reaktif. dan produk yang paling efektif belum ditetapkan. regimen dosis. sehingga mengurangi keparahan penyakit paru-paru. namun kemanjurannya. Ekstrak alam untuk paru-paru diberikan untuk menggantikan surfaktan yang telah hilang. .Medikamentosa Selain perawatan yang tercantum di atas. . Dobutamine (Dobutrex) Meningkatkan tekanan darah terutama melalui stimulasi reseptor beta1- adrenergik. pada dosis yang lebih tinggi. dopamin merangsang reseptor beta1-adrenergik dan dopaminergik (vasodilatasi ginjal. Epinefrin Digunakan untuk bronkokonstriksi parah. Efek agonis alpha termasuk meningkatnya resistensi pembuluh darahperifer . dan permeabilitas pembuluh darah.Pernapasan gas : Inhalasi nitrat oksida (NO) memiliki efek langsung dari vasodilatasi paru tanpa efek samping hipotensi sistemik. .Vasokonstriktor sistemik: Agen ini digunakan untuk mencegah shunting kanan-ke-kiri dengan meningkatkan tekanan sistemik di atas tekanan paru. aktivitas kronotropik jantung. hipotensi sistemik. Surfaktan digunakan pada pasien dengan sindrom aspirasi mekonium (MAS). dan efek inotropik positif. jika kegagalan pernapasan bersamaan hypoxemic terjadi. Obat tampaknya memiliki efek yang lebih menonjol pada output jantung dari pada tekanan darah. Hal ini disetujui untuk digunakan. merangsang reseptor adrenergik alfa-(vasokonstriksi ginjal). vasodilatasi perifer terbalik. Dopamin (Intropin) Pada dosis rendah. Vasokonstriktor sistemik termasuk dopamin. inotropisme positif). Efek agonis beta2-termasuk bronchodilatation.

morbiditas dan disabilitas neonatus.1%-17. Ketika mekonium terdeteksi. bayi dan anak serta memberikan dampak jangka panjang terhadap kehidupannya dimasa depan .3%-38% dan lebih sering terjadi di negara-negara berkembang atau sosio- ekonomi rendah. Angka ini lebih besar dari target BBLR yang ditetapkan pada sasaran program perbaikan gizi menuju Indonesia Sehat 2010 yakni maksimal 7% Etiologi  Persalinan kurang bulan/prematur Bayi lahir pada umur kehamilan kurang dari 37 minggu. Angka kejadian di Indonesia sangat bervariasi antara satu daerah dengan daerah lain. gangguan selama . sehingga meminimalkan keparahan aspirasi. Epidemiologi Prevalensi bayi berat lahir rendah (BBLR) diperkirakan 15% dari seluruh kelahiran di dunia dengan batasan 3. Pada umumnya bayi kurang bulan disebabkan tidak mampunyai uterus menahan janin. yaitu berkisar antara 9%-30%. Secara nasional berdasarkan analisa lanjut SDKI.2 %. garam steril secara teoritis menguntungkan untuk mengencerkan mekonium dalam cairan ketuban. Namun. hasil studi di 7 daerah multicenter diperoleh angka BBLR dengan rentang 2. BBLR termasuk faktor utama dalam peningkatan mortalitas. F. Dokter kandungan harus memonitor status janin dalam upaya untuk mengidentifikasi adanya stres janin.9. bukti saat ini tidak mendukung amnioinfusion rutin untuk mencegah sindrom aspirasi mekonium. Berat lahir adalah berat bayi yang ditimbang dalam 1 (satu) jam setelah lahir.5 %.10 BAYI BERAT LAHIR RENDAH Definisi Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat lahir kurang dari 2500 gram tanpa memandang masa gestasi. angka BBLR sekitar 7. amnioinfusion. Secara statistik menunjukkan 90% kejadian BBLR didapatkan di negara berkembang dan angka kematiannya 35 kali lebih tinggi dibanding pada bayi dengan berat lahir lebih dari 2500 gram. PENCEGAHAN Pencegahan adalah yang terpenting.

Semakin muda umur kehamilan. Komplikasi yang tejadi pada kehamilan ibu seperti perdarahan antepartum. infeksi TORCH. anaemia. dan kelahiran preterm. c. kehamilan kembar/ganda. Kondisi bayi lahir kecil sangat tergantung pada usia kehamilan saat dilahirkan dan berapa lama terjadinya hambatan pertumbuhan itu dalam kandungan. (1) Faktor ibu a. (2) Faktor Janin . eklamsia. Bayi lahir kurang bulan mempunyai organ dan alat tubuh yang belum berfungsi normal untuk bertahan hidp di luar rahim. dan lain-lain. Kelompok BBLR ini sering mendapatkan penyulit atau komplikasi akibat kurang matangnya organ karena masa gestasi yang kurang (prematur)  Bayi lahir kecil untuk masa kehamilan Bayi lahir kecil untuk masa kehamilan adalah bayi yang mengalami hambatan pertumbuhan saat dalam kandungan (janin tumbuh lambat atau retardasi pertumbuhan intrauterin) dengan berat lahir < persentil ke 3 grafik pertumbuhan janin (Lubchenco). lepasnya plasenta lenih cepat dari waktunya atau rangsangan yang memudahkan terjadinya kontraksi uterus sebelum cukup bulan. Penyebab terbanyak terjadinya BBLR adalah kelahiran prematur. Faktor plasenta seperti penyakit vaskuler. Faktor ibu yang lain adalah umur. dan lain-lain b. kurang baiknya keadaan umum ibu atau gizi ibu. atau hambatan pertumbuhan yang berasal dari bayinya sendiri. paritas. fungsi organ tubuh semakin berkurang dan prognosanya semakin kurang baik. kehamilan. pre-eklamsia berat. Usia Ibu dan paritas Angka kejadian BBLR tertinggi ditemukan pada bayi yang dilahirkan oleh ibu-ibu dengan usia muda d. Hal ini dapat disebabkan oleh terganggunya sirkulasi dan efisiensi plasenta. Faktor kebiasaan ibu Faktor kebiasaan ibu juga berpengaruh seperti ibu perokok. Penyakit Seperti malaria. ibu pecandu alkohol dan ibu pengguna narkotika. sipilis. serta faktor janin juga merupakan penyebab terjadinya BBLR . Komplikasi pada kehamilan.

kehamilan kembar/ganda (gemeli). pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Prematur. radiasi. tempat tinggal di daratan tinggi. (3) Faktor Lingkungan Yang dapat berpengaruh antara lain.  Anamnesis  Umur ibu  Riwayat persalinan sebelumnya . kelainan kromosom. sosio-ekonomi dan paparan zat-zat racun Komplikasi Komplikasi langsung yang dapat terjadi pada bayi berat lahir rendah antara lain :  Hipotermia  Hipoglikemia  Gangguan cairan dan elektrolit  Hiperbilirubinemia  Sindroma gawat nafas  Paten duktus arteriosus  Infeksi  Perdarahan intraventrikuler  Apnea of Prematurity  Anemia Masalah jangka panjang yang mungkin timbul pada bayi-bayi dengan berat lahir rendah (BBLR) antara lain:  Gangguan perkembangan  Gangguan pertumbuhan  Gangguan penglihatan (Retinopati)  Gangguan pendengaran Penyakit paru kronis  Kenaikan angka kesakitan dan sering masuk rumah sakit  Kenaikan frekuensi kelainan bawaan Diagnosis Menegakkan diagnosis BBLR adalah dapat diketahui dengan dilakukan anamesis. hidramion.

pada laki-laki belum terjadi penurunan testis dan kulit testis rata (rugae testis belum terbentuk)  Untuk BBLR Kecil untuk Masa Kehamilan  Tanda janin Tumbuh Lambat  Tidak dijumpai tanda prematuritas seperti tersebut diatas  Kulit keriput  Kuku lebih panjang Manajemen Umum Setiap menemukan BBLR. hentikan kejang dengan antikonvulsan 6. warna kulit dan aktifitas 4. Nilai segera kondisi bayi tentang tanda vital : pernafasan. Bila bayi dehidrasi. berikan cairan rehidrasi IV 7. jarak kelahiran sebelumnya  Kenaikan berat badan ibu selama hamil  Aktivitas ibu yang berlebihan  Trauma pada ibu (termasuk post coital trauma)  Penyakit yang diderita selama hamil  Obat-obatan yang diminum selama hamil  Pemeriksaan fisik  Berat badan lahir <2500 g  Untuk BBLR kurang bulan  Tanda prematuritas  Tulang rawan telinga belum terbentuk  Masih terdapat lanugo (rambut halus pada kulit)  Refleks masih lemah  Alat kelamin luar : pada perempuan labium mayus belum menutup labium minus. Kelola sesuai dengan kondisi spesifik atau komplikasinya . jaga bayi tetap hangat (KMC) 2. Bila bayi kejang. pasang jalur intravena. dikelola dengan gangguan nafas 5. Stabilisasi suhu. lakukan manajemen umum sebagai berikut : 1. denyut jantung. Jaga jalan nafas tetap bersih dan terbuka 3.  Jumlah paritas. Bila bayi mengalami gangguan nafas.

Peningkatan berat badan setelah 7 hari pertama sebanyak 20 gram setiap hari 11. 150-200 g seminggu untuk bayi <1500 g (misalnya 20-30 g/hari) 3. Bayi tidur lelap setelah pemberian ASI 10. tingkatkan jumlah pemberian ASI sampai 200 mL/kg/hari 6. kenaikan berat badan selama tiga bulan seharusnya : 2. Tanda kecukupan pemberian ASI 8. apabila pada satu payudara dihisap. Apabila kenaikan berat tetap kurang dari batas yang telah disebutkan di atas dalam waktu lebih dari seminggu padahal bayi sudah mendapat ASI 200 mL/kg/hari. Bayi dengan berat lahir >1500 g dapat kehilangan berat sampai 10%. Buang air kecil minimal 6 kali dalam 24 jam 9. Periksa pada saat ibu meneteki. 7.Pemantauan 1. Ibu sanggup merawat BBLR di rumah. Toleransi minum per oral baik. Kenaikan berat badan dan pemberian minum setelah umur 7 hari  Bayi akan kehilangan berat badan selama 7-10 hari pertama.  Setelah berat lahir tercapai kembali. . Apabila kenaikan berat tidak adekuat. Tingkatkan jumlah ASI dengan 20 mL/kg/hari sampai tercapai jumlah 180 mL/kg/hari 5. tangani sebagai Kemungkinan kenaikan berat bdan tidak adekuat. Berat lahir biasanya tercapai kembali dalam 14 hari kecuali apabila terjadi kmplikasi. 200-250 g seminggu untuk bayi 1500-2500 g (misalnya 30-35 g/hari)  Bila bayi sudah mendapat ASI secara penuh (pada semua kategori berat) dan telah berusia lebih dari 7 hari : 4. diutamakan pemberian ASI 3. Suhu bayi stabil 2. ASI akan menetes dari payudara yang lain. Pemulangan penderita 1.

Sampai saat ini. karena itu penilaian janin selama masa kehamilan. Hampir sebagian besar asfiksia bayi baru lahir ini merupakan kelanjutan asfiksia janin. infeksi dan kejang merupakan penyakit yang sering terjadi pada asfiksia. didapatkan bahwa sindrom gangguan nafas. Gangguan ini dapat timbul pada masa kehamilan. Etiologi Pengembangan paru baru lahir terjadi pada menit-menit pertama kelahiran dan kemudian disusul pernafasan teratur. Asfiksia juga dapat mempengaruhi organ vital lainnya. aspirasi mekonium. persalinan memegang peranan yang sangat penting untuk keselamatan bayi. asfiksia masih merupakan salah satu penyebab penting morbiditas dan mortalitas perinatal. Banyak kelainan pada masa neonatus mempunyai kaitan erat dengan faktor asfiksia ini. Bila proses ini berlangsung terlalu jauh dapat mengakibatkan kerusakan otak atau kematian. Bila terdapat gangguan pertukaran gas atau pengangkutan oksigen dari ibu ke janin akan terjadi asfiksia janin atau neonatus. Keadaan ini perlu . tidak teratur dan tidak adekuat segera setelah lahir. hiperkapnia dan berakhir dengan asidosis. Keadaan ini disertai hipoksia. persalinan atau segera setelah lahir.ASFIKSIA NEONATORUM Definisi Asfiksia neonatorum adalah kegagalan bernafas secara spontan.

Hipoksia ibu ini dapat terjadi karena hipoventilasi akibat pemberian oabat analgetika atau anestesi dalam. lilitan tali pusat dan kompresi tali pusat antara janin dan jalan lahir 4. Hal ini sering diditemukan pada keadaan : a. Faktor Fetus Gangguan aliran darah ini dapat ditemukan pada tali pusat membumbung. Hipotensi mendadak pada ibu karena perdarahan. Faktor plasenta Asfiksia janin dapat terjadi bila terdapat gangguan pada plasenta. misalnya solusio plasenta dan plasenta previa. hipertoni. Faktor ibu Hipoksia ibu. Kelainan kongenital pada bayi (Aplasia paru. Faktor Neonatus Depresi pusat pernapasan pada bayi baru lahir dapat terjadi pada a. Adanya gangguan tumbuh kembang intrauterin . Gangguan aliran darah uterus. atau solutio plasenta. Towell mengajukan penggolongan penyebab kegagalan pernafasan pada bayi yang terdiri dari : 1. kelainan jantung atau penyakit ginjal. Persalinan abnormal (kelahiran sungsang. Gangguan kontraksi uterus (hipotoni. kembar. seksio sesarea) 2. Pemakaian obat anestesi / analgetika berlebihan pada ibu b. Mengurangi aliran darah uterus akan menebabkan berkurangnya pengaliran oksigen ke plasenta dan demikian juga ke janin. Hipertensi ibu ( eklampsia. toksemia) d.mendapat perhatian utama agar persiapan dapat dilakukan dan bayi mendapat perawatan yang adekuat dan maksimal pada saat lahir. e. plasenta previa. f. Hal ini menimbulkan hipoksia janin. hernia diafragmatika) d. Ibu penderita DM. Trauma yang terjadi pada persalinan c. c. 3. atresia saluran nafas. atonia uterus) b. Partus lama.

Segera setelah lahir. Mendapatkan sejumlah O2 masuk ke dalam paru-paru ternyata harus disertai dengan jumlah aliran darah di kapiler paru-paru yang adekuat agar oksigen yang melewati peredaran . Ternyata proses persalinan mempunyai dampak cukup besar untuk mengurangi cairan tersebut. antara lain pada saat bayi menarik napas pertama. Karena O2 ke janin melalui plasenta maka paru-paru tidak berisi udara. Aliran darah yang sebelumnya melewati duktus arteriosus akan dialirkan melalui paru-paru dan O2 akan diambil untuk didistribusikan ke jaringan seluruh tubuh. Tetapi sebagian besar cairan melewati rongga-rongga alveoli ke dalam rongga perivaskuler dan diabsorbsi ke dalam sirkulasi darah dan linfe di paru-paru. Duktus arteriosus akan tetap menciut dan sirkulasi darah yang normal untuk kehidupan ekstrauterin mulai bekerja. Hal ini mengakibatkan paru-paru janin yang berisi cairan tidak dapat dipakai untuk pernafasan. Selain itu peredaran darah lewat paru-paru janin jauh lebih rendah dibandingkan peredaran darah yang diperlukan pasca Kelahiran. sehingga alveoli dapat berkembang dengan baik. Usaha pernafasan akan mengakibatkan arterioli paru-paru mulai membuka yang menyebabkan peningkatan aliran masuk ke dalam jaringan paru-paru. tetapi hanya sebagian kecil pembersihan paru-paru dari cairan akibat pihatan dinding toraks sewaktu melewati jalan lahir. paru-paru mulai berkembang sambil mulai terisi dengan udara.Patofisiologi Selama kehidupan intrauterine paru-paru kurang berperan dalam hal fungsi pertukaran gas karena pemberian O2 dan pengeluaran CO2 dilakukan oleh plasenta. paru-paru mulai mengambil alih fungsinya dalam proses pernapasan. Hal ini akibat adanya vasokonstriksi pembuluh darah arteriol paru-paru janin. Pada saat persalinan akan terjadi beberapa perubahan. sebaliknya akan terjadi perlambatan pengeluaran cairan jika terjadi gangguan kontraksi uterus. Untuk mengeluarkan cairan dari paru-paru diperlukan tekanan yang cukup besar. Selain itu kontraksi uterus dapat mempercepat pengurangan cairan tersebut. dan umumnya sirkulasi darah janin dialirkan dari paru-paru lewat duktus arteriosus. dan pada saat yang sama cairan pada paru-paru berangsur-angsur mulai dikeluarkan. sehingga kadar O2 dalam darah meningkat dan mengakibatkan duktus arteriosus mulai menciut. Usaha pernapasan segera setelah lahir sangat mempercepat dan efektif mengeluarkan cairan dan mengembangkan alveoli dan menggantikan cairan dengan udara. tetapi alveoli janin berisi cairan yang dibentuk di dalam paru-paru itu sendiri.

Pernafasan makin lama makin lemah sampai bayi memasuki periode apneu sekunder (Pada penderita asfiksia berat. diikuti usaha bernafas (Gasping) dan pernapasan teratur). alveoli diisi dengan cairan paru-paru janin. tekanan darah bayi mulai menurun dan bayi akan terlihat lemas. Bayi tidak bereaksi terhadap rangsangan dan tidak akan menujukan upaya pernafasan secara spontan. gerakan pernapasan akan berhenti. paru-paru memerlukan tekanan yang cukup besar untuk mengeluarkan cairan tersebut agar alveoli dapat berkembang untuk pertama kalinya. Untuk mengembangkan paru-paru. upaya pernafasan pertama memerlukan tekanan 2 sampai 3 kali lebih tinggi daripada tekanan untuk pernafasan berikutnya agar berhasil. Apabila asfiksia berlanjut. Dalam kondisi demikian. dimana usaha untuk bernafas tidak terlihat dan langsung diikuti periode apneu kedua).darah dapat dibawa keseluruh tubuh. Maclaurin (1970) menggambarkan secara skematis perubahan yang penting dalam tubuh selama proses asfiksia disertai hubungannya dengan gambaran klinis. Pada bayi yang mengalami kekurangan oksigen akan terjadi pernapasan yang cepat dalam periode yang singkat. Apabila periode terus berlanjut. denyut jantung terus menurun. Cairan tersebut harus dibersihkan terlebih dahulu agar udara dapat masuk ke dalam paru-paru bayi baru lahir. bayi akan menunjukkan pernapasan megap – megap yang dalam. Time Clinical event pO2 pCO2 Onset of asfiksia Primary gasping pH Aerob Metabolism Anaerob Metabolism Glycolisis Primary Skin . Keadaan ini memeprlukan peningkatan jumlah darah yang cukup tinggi melalui perfusi paru-paru saat bayi dilahirkan. Kematian akan terjadi kecuali apabila resusitasi dengan pernafasan buatan dan pemberian oksigen dengan segera. denyut jantung mulai menurun sedangkan tonus neuromuskular berkurang secara berangsur- angsur dan bayi memasuki periode apneu yang dikenal sebagai apneu primer (Periode apneu dan penurunan frekuensi jantung. Pada saat bayi dilahirkan.

Apgar (1953. Kriteria ini kemudian ditinggalkan.1966). Pada tahun lima puluhan digunakan kriteria breathing time dan crying time untuk menilai keadaan bayi. karena tidak dapat memberikan informasi yang tepat pada keadaan tertentu (Apgar. 1958) mengusulkan beberapa kriteria klinis untuk menentukan keadaan bayi baru lahir. Di samping itu dapat pula memberikan gambaran . especially in apnea cyanosis heart & liver Pulmonary Vascular actic acid glycogen heart rate Resitance especially secondary gasping Cardiac Blood pH metabolic secondary Skin acidosis loss of apnea white substrate Pulmonary cardiac intra blood flow cellular pH heart rate Cerebral brain intra cellular pH blood pressure blood flow Pada skema tersebut secara sederhana dapat disimpulkan keadaan pada asfiksia yang perlu mendapat perhatian. Virginia . Kriteria ini ternyata berguna karena berhubungan erat dengan perubahan keseimbangan asam basa pada bayi (Drage & Berendes.1966). yaitu : 1) Menurunnya tekanan O2 darah (PaO2) 2) Meningginya tekanan CO2 darah (PaCO2) 3) Menurunnya pH (akibat asidosis resopiratorik & metabolik) 4) Dipakainya sumber glikogen tubuh untuk metabolisme anaerobik 5) Terjadinya perubahan sistem kardiovaskular Gambaran Klinis Dalam praktek menentukan tingkat asfiksia bayi dengan tepat membutuhkan pengalaman dan observasi yang cukup.

Cara ini dianggap yang paling ideal dan telah banyak digunakan. Penilaian secara Apgar ini juga mempunyai hubungan yang bermakna dengan mortalitas dan morbiditas bayi baru lahir (Drage. Patokan klinis yang dinilai adalah : 1) Menghitung frekuensi jantung 2) Melihat usaha bernapas 3) Melihat tonus otot 4) Menilai refleks rangsangan 5) Memperhatikan warna kulit Setiap kriteria di beri angka tertentu dan penilaian itu sekarang lazim disebut skor Apgar. 1964). Tanda Nilai O Nilai 1 Nilai 2 A Appearace Seluruh Badan Seluruh tubuh (warna tubuh biru merah kaki merah kulit) atau putih biru P Pulse Tidak ada < > 100x/menit (Denyut 100x/menit Nadi) G Grimece Tidak ada Perubahan Bersin/menangis (Refleks) mimik A Activity Lumpuh Ekstremitas Gerakan aktif (Tonus sedikit Ekstremitas Otot) fleksi fleksi R Respiration Tidak ada Lemah Menangis kuat effort (Usaha bernafas) .beratnya perubahan kardiovaskular yang ditemukan.

Dalam hal ini pemeriksaan fisik lainnya sesuai dengan yang ditemukan pada penderita asfiksia berat Penatalaksanaan Tujuan utama mengatasi asfiksia ialah untuk mempertahankan kelangsungan hidup bayi dan membatasi gejala sisa (sekuele) yang mungkin timbul di kemudian hari. Dalam hal ini bayi dianggap sehat dan tidak memerlukan tindakan istimewa 2. yaitu pada saat bayi telah diberi lingkunga yang baikserta telah dilakukan pengisapan lendir dengan sempurna. refleks iritabilitas tidak ada. Dalam menghadapi bayi dengan asfiksia berat. penilaian cara ini kadang – kadang membuang waktu dan dalam hal ini dianjurkan untuk menilai secara cepat (pediatrics’s Staff. karena hal ini mempunyai korelasi yang erat dengan morbiditas dan mortalitas neonatal (Drage.Skor Apgar ini biasanya di nilai 1 menit setelah bayi lahir lengkap. . reflek iritabilitas tidak ada 3. sianosis berat dan kadang – kadang pucat. Mild – Moderate asphyxia (asfiksia sedang). pada pemeriksaan fisik ditemukan frekuensi jantung kurang dari 100x/menit. Vigorus baby. Pada pemeriksaan fisik akan terlihat frekuensi jantung lebih dari 100x/menit. Hosp. skor Apgar = 7 – 10. Skor Apgar 4 – 6. tonus otot kurang baik atau baik. asfiksia neonatorum dapat dibagi dalam : 1. 1966). Skor Apgar 1 menit ini menunjukkan beratnya asfiksia yang diderita dan baik sekali sebagai pedoman untuk menentukan cara resusitasi. Umbilikalis dan menentukan apakah denyutnya lebih atau kurang dari 100x/menit 2) Menilai tonus otot apakah baik/ buruk 3) Melihat warna kulit Atas dasar pengalaman klinis di atas. Henti jantung ialah keadaan bunyi jantung fetus menghilang tidak lebih dari 10 menit sebelum lahir lengkap. Skor Apgar perlu pula dinilai setelah 5 menit bayi lahir.Aust. Asfiksia berat dengan henti jantung. sianosis. Asfiksia Berat Skor Apgar 0-3. Tindakan yang dikerjakan pada bayi lazim disebut resusitasi bayi baru lahir dengan memberikan ventilasi yang adekuat dan pemberian oksigen yang cukup. tonus otot buruk. Wom. 1967): 1) Menghitung frekuensi jantung dengan cara meraba A. Roy. bunyi jantung bayi menghilang post partum.

Penilaian bayi baru lahir perlu dikenal baik. hidung dan kadang – kadang trakea  Memasang pipa endotrakeal. Memberikan lingkungan yang baik pada bayi dan mengusahakan saluran pernapasan tetap bebas serta merangsang timbulnya pernapasan. tetapi kerusakan yang akan terjadi karena anoksia /hipoksia pasca natal harus dicegah dan diatasi 3. pemberian oksigen dan curah jantung yang cukup untuk menyalurkan oksigen kepada otak dan curah jantung yang cukup dan alat – alat vital lainnya. resusitasi akan lebih sulit dan kemungkinan timbulnya sekuele akan meningkat. yaitu agar oksigenasi dan pengeluaran CO2 berjalan lancar 2. bila perlu .Sebelum resusitasi dikerjakan. Faktor waktu sangat penting. Makin lama bayi menderita asfiksia. Riwayat kehamilan dan partus akan memeberikan keterangan yang jelas tentang faktor penyebab terjadinya depresi pernapasan pada bayi baru lahir. Melakukan koreksi terhadap asidosis yang terjadi 4. Kerusakan yang timbul pada bayi akibat anoksia / hipoksia antenatal tidak dapat diperbaiki. perubahan homeostasis yang timbul makin berat. perlu diperhatikan bahwa : 1. Tindakan resusitasi bayi baru lahir mengikuti tahapan yang dikenal sebagai ABC resusitasi A (Airway)– Memastikan saluran napas terbuka  Meletakkan bayi dalam posisi kepala defleksi : bahu diganjal  Menghisap mulut . 4. Prinsip dasar resusitasi yang perlu diingat ialah : 1. agar resusitasi yang dilakukan dapat dipilih dan ditentukan secara adekuat. Menjaga agar sirkulasi darah tetap baik Cara resusitasi Resusitasi bertujuan memberikan ventilasi yang adekuat. Memberikan bantuan pernapasan secara aktif pada bayi yang menunjukkan usaha pernapasan lemah 3. 2.

 Untuk bayi sangat kecil ( BB<1500 gram) / apabila suhu tubuh sangat dingin dianjurkan menutup bayi dengan sehelai plastik tipis yang tembus pandang . B (Breathing)– Mengusahakan timbulnya pernapasan  Melakukan rangsangan taktil  Memakai ventilasi tekanan positif (VTP) C (Circulation) – Mempertahankan sirkulasi darah  Rangsangan dan pertahankan sirkulasi darah dengan cara : kompresi dada dan pengobatan Urutan pelaksana resusitasi Mencegah kehilangan panas dan mengeringkan tubuh bayi  Bayi diletakkan di bawah alat pemancar panas. tubuh dan kepala bayi dikeringkan dengan menggunakan handuk atau selimut hangat (apabila diperlukan pengisapan mekonium. dianjurkan untuk menunda pengeringan tubuh yaitu setelah mekonium dihisap dari trakea).

Membersihkan jalan napas  Kepala bayi dimiringkan agar cairan berkumpul di mulut dan tidak di faring bagian belakang  Mulut dibersihkan terlebih dahulu dengan maksud : o Cairan tidak teraspirasi o Hisapan pada hidung akan menimbulkan pernapaan megap – megap (gasping)  Apabila mekonium kental dan bayi mengalami depresi harus dilakukan pengisapan dari trakea dengan menggunakan pipa endotrakea Menilai bayi Penilaian bayi dilakukan berdasarkan 3 gejala yang sangat penting bagi kelanjutan hidup bayi  Menilai usaha bernapas  Frekuensi denyut jantung  Warna kulit Ventilasi tekanan positif (VTP)  Pastikan bayi diletakkan dalam posisi yang benar  Agar VTP efektif. sebaiknya 40 – 60 x / menit  Tekanan ventilasi. nafas pertama setelah lahir membutuhkan 30 – 40 cmH2O. mungkin disebabkan oleh masuknya dalam udara dalam lambung  Penilaian suara napas bilateral. kepala lurus dan leher sedikit tengadah (ekstensi).  Observasi gerak perut bayi. merupakan bukti bahwa sungkup terpasang dengan baik dan paru – paru mengembang dengan baik. Setelah napas pertama membutuhkan 15 – 20 cmH2O  Observasi gerak dada bayi. adanya saluran napas di kedua paru – paru merupakan indikasi bahwa bayi mendapat ventilasi yang benar . adanya gerakan dada bayi turun naik.Meletakkan bayi dalam posisi yang benar  Bayi diletakkan terlentang di alas yang datar. kecepatan memompa (kecepatan ventilasi ) dan tekanan ventilasi harus sesuai  Kecepatan ventilasi.

kemerahan observassi reposisi Evaluasi pernapasan.  Observasi pengembangan dada bayi. Perawatan napas (bila perlu) FJ >100x/menit  Keringkan. maupun  Bernapas atau menangis? mekonium. sebaiknya dilakukan intubasi endotrakeal dan ventilasi pipa balon. maupun cairan plasenta  Tonus otot naik?  Lakukan stimulasi taktil  Berikan kehangatan  Posisikan. FJ. bersihkan jalan Bernapas. Algoritma Penangangan Bayi Baru Lahir LAHIR Ya Perawatan Rutin  Letakkan bayi di bawah pemancar panas tidak  Bersihkan mulut dan hidung  Keringkan seluruh tubuh bayi  Ganti linen basah dengan yang kering  Cukup bulan?  Letakkan bayi dalam posisi yang benar  Cairan amnion jernih?  Bersihkan saluran napas bayi (trakea) dari lendir. Apabila dengan tahapan di atas dada masih tetap kurang berkembang. warna kulit kemerahan sianosis Apnu Berikan O2 atau FJ <100 sianosis ventilasi efektif Perawatan Pasca Berikan Ventilasi Tekanan Positif Resusitasi FJ >100 & kemerahan FJ <60 FJ<60  Berikan Ventilasi Tekanan Positif Berikan epinefrin  Lakukan kompresi dada . >Arus udara terhambat dan tidak cukup tekanan. apabila dada kurang berkembang mungkin disebabkan oleh salah satu penyebab berikut : >Peletakan sungkup kurang sempurna. rangsang.

Pada respons yang buruk terhadap resusitasi. Asfiksia berat dapat mencetuskan syok kardiogenik.adrenalin 1:10. oksigen arus bebas harus diberikan.  Apabila frekuensi denyut jantung bayi < 60 kali permenit VTP dilanjutkan. hipovolemia. VTP dapat dihentikan.Menilai frekuensi denyut jantung bayi pada saat VTP  Dinilai setelah melakukan ventilasi 15-20 detik pertama. > 100 kali permenit 2. berikan natrium bikarbonat 2 mEq/kgBB perlahan-lahan. Periksa ventilasi apakah adekuat dan oksigen yang diberikan cukup adekuat. dapat diulangi tiap 3-5 menit.3 ml/kgBB intravena/intratrakeal. Pada keadaan ini berikan dopamin atau dobutamin per infus 5-20 ug/kgBB/menit setelah sebelumnya diberikan volume expander Adrenalin 0. Jika kasil pemeriksaan penunjang menunjukkan asidosis metabolik.1 ug/kgBB/menit dapat diberikan pada bayi yang tidak responsif dopamin atau dobutamin. Apabila frekuensi pernafasan spontan dan adekuat tidak terjadi. .  Apabila frekuensi denyut jantung bayi 60-100 kali permenit VTP dilanjutkan dengan memantau frekuensi denyut jantung bayi. 60-100 kali permenit 3. dilakukan rangsangan taktil untuk merangsang frekuensi dan dalamnya pernafasan. Segera dimulai kompresi dada bayi . < 60 kali permenit  Apabila frekuensi denyut jantung bayi >100 kali permenit Bayi mulai bernafas spontan.9%.1-0. dan riwayat perdarahan berikan 10 ml/kgBB cairan infus (NaCl 0. VTP dilanjutkan. atau darah). hipotensi.000 dosis 0. Natrium bikarbonat diberikan hanya setelah terjadi ventilasi juga efektif karena dapat meningkatkan CO2 darah sehingga timbul asidosis respiratorik.  Frekuensi denyut jantung bayi dibagi dalam 3 kategori : 1. Ringer laktat.

berikan Narcan (nalokson) 0. . Asfiksia dengan PH 6.9 dapat menyebabkan kejang sampai koma dan kelainan neurologis permanen. Komplikasi  Edema otak  Perdarahan otak  Anuria atau oligouria  Hiperbilirubinemia  Enterokolikans netrotikans  Kejang  Koma Prognosis  Asfiksia ringan : tergantung pada kecepatan penetalaksanaan  Asfiksia berat : dapat terjadi kematian atau kelainan saraf pada hari-hari pertama. misalnya serebral palsi atau retardasi mental. Bila terdapat riwayat pemberian analgesik narkotik pada ibu saat hamil.1 mg/kgBB subkutan atau intramuskular atau intravena atau melalui pipa endotrakeal.

bisa lewat udara atau tertular dari orang lain G. Patofisiologi Infeksi pada neonatus dapat melalui beberapa cara. Fokus pada plasenta pecah ke cairan amnion dan akibatnya janin mendapat tuberkulosis melalui inhalasi cairan amnion tersebut. Mikroorganisme dari vagina naik dan masuk ke dalam rongga amnion setelah ketuban pecah. mempunyai peranan penting terhadap timbulnya plasentisitas dan amnionitik. Infeksi Antenatal Kuman mencapai janin melalui sirkulasi ibu ke plasenta. Coli dan listeria monocytogenes. yaitu rubella. covsackie. Bakteri jarang sekali dapat melalui plasenta kecuali E. polyomyelitis. variola. vaccinia. Disebut infeksi dini karena infeksi diperoleh dari si ibu saat masih dalam kandungan sementara infeksi lambat adalah infeksi yang diperoleh dari lingkungan luar. yaitu : 4. yaitu treponema palidum ( lues ) f. Infeksi Intranatal Infeksi melalui jalan ini lebih sering terjadi daripada cara yang lain. Spirokaeta. Definisi Infeksi yang terjadi pada bayi baru lahir ada dua yaitu: early infection (infeksi dini) dan late infection (infeksi lambat). Blanc membaginya dalam 3 golongan. Tuberkulosis kongenital dapat terjadi melalui infeksi plasenta. Virus. 5. Infeksi dapat pula terjadi walaupun ketuban masih utuh . Selanjutnya infeksi melalui sirkulasi umbilikus dan masuk ke janin. Di sini kuman itu melalui batas plasenta. Ketubah pecah lama ( jarak waktu antara pecahnya ketuban dan lahirnya bayi lebih dari 12 jam). cytomegalic inclusion e. Kuman yang dapat menyerang janin melalui jalan ini ialah : d.NEONATAL INFEKSI F.

hendaknya harus selalu diingat bahwa kelainan tersebut mungkin sekali disebabkan oleh infeksi. misalnya pada partus lama dan seringkali dilakukan manipulasi vagina. Disamping itu. Sebagian besar infeksi yang berakibat fatal terjadi sesudah lahir sebagai akibat kontaminasi pada saat penggunaan alat atau akibat perawatan yang tidak steril atau sebagai akibat infeksi silang. Infeksi Pascanatal Infeksi ini terjadi setelah bayi lahir lengkap. namun tiba – tiba tingkah lakunya berubah. karena infeksi dapat menyebar dengan cepat dan menimbulkan angka kematian yang tinggi. Infeksi janin terjadi dengan inhalasi likuor yang septik sehingga terjadi pneumonia kongenital selain itu infeksi dapat menyebabkan septisemia. sehingga gejala infeksi lokal tidak menonjol lagi. Hal ini penting sekali karena mortalitas sekali karena mortalitas infeksi pascanatal ini sangat tinggi. Adapun gejala yang perlu mendapat perhatian yaitu : . anamnesis kehamilan dan persalinan yang teliti dan akhirnya dengan pemeriksaan fisik dan laboratarium. Bayi tertidur . Malas minum . Infeksi pasacanatal ini sebetulnya sebagian besar dapat dicegah. Infeksi lokal pada nonatus cepat sekali menjalar menjadi infeksi umum. gejala klinis infeksi pada bayi tidak khas. Neonatus terutama BBLR yang dapat hidup selama 72 jam pertama dan bayi tersebut tidak menderita penyakit atau kelaianan kongenital tertentu. Walaupun demikian diagnosis dini dapat ditegakkan kalau kita cukup wasdpada terhadap kelainan tingkah laku neonatus yang seringkali merupakan tanda permulaan infeksi umum. Menegakkan kemungkinan infeksi pada bayi baru lahir sangat penting. H. 6. Biasanya diagnosis dapat ditegakkan dengan observasi yang teliti. Tampak gelisah . Penegakkan Diagnosis Diagnosis infeksi peria\natal tidak mudah. terutama pada bayi BBLR. Infeksi intranatal dapat juga melalui kontak langsung dengan kuman yang berasal dari vagina misalnya blenorea dan ” oral trush ”.

Terjadi edema . Panas badan bervariasi yaitu dapat meningkat. Sklerema Ada 2 skoring yang digunakan untuk menentukan diagnosis neonatal infeksi : c. Terjadi muntah dan diare . menurun atau dalam batas normal . forcep. Berat badan turun drastik . Riwayat penyakit ibu . Preterm ≥ 4 NI . vacum. Asfiksia < 4 observasi NI . Ketuban tidak normal . Partus tindakan (SC. sungsang) .. Infeksi tali pusat . Gupte score Prematuritas 3 Hasil 3-5Screening NI Cairan amnion berbau busuk 2 ≥ 5 NI Ibu demam 2 Asfiksia 2 Partus lama 1 . Kelainan bawaan Hasil . Pernapasan cepat . pembesaran hepar. purpura (bercak darah dibawah kulit) dan kejang-kejang . Pergerakan aktivitas bayi makin menurun . Bell Squash score . Riwayat penyakit kehamilan d. Pada pemeriksaan mungkin dijumpai : bayi berwarna kuning. BBLR .

diare epidemik. Klasifikasi Infeksi pada neonatus dapat dibagi menurut berat ringannya dalam dua golongan besar.Persalinan (partus) lama .Air ketuban bau. Faktor risiko : .Bayi tampak sakit. warna hijau . plelonefritis. tetanus neonaturum. infeksi umbilikus ( omfalitis ). pucat. d. 6. moniliasis.Fetal distres Tanda & gejala : .Merintih .KPD lebih dr 18 jam . tidak aktif.Reflek hisap lemah . yaitu berat dan infeksi ringan. oftalmia neonaturum.Dapat disertai kejang.Hipotermia atau hipertermia . dantampaklemah . pneumonia.Persalinan dengan tindakan . Infeksi ringan ( minor infection ) : infeksi pada kulit. c. Infeksi berat ( major infections ) : sepsis neonatal.Infeksi/febris pd ibu . atau ikterus Prinsip pengobatan: . Sepsis Neonatorum Sepsis neonatorum sering didahului oleh keadaan hamil dan persalinan sebelumnya seperti dan merupakan infeksi berat pada neonatus dengan gejala-gejala sistemik. Vagina tidak bersih 2 KPD 1 I. osteitis akut. meningitis.Prematuritas & BBLR .

Terjadi serangan apnea (Apneu neonatal) . Pada waktu lahir ditemukan meconium staining . Letargia .Pemeriksaan laboratorium rutin .Gunakan antibiotic yang dapat menembus sawar otak dan diberikan dalam minimal 3 minggu .UUB menonjol . Malas minum . Gejala : . Sindrom Aspirasi Mekonium SAMterjadi pada intrauterin karena inhalasi mekonium dan sering menyebabkan kematian terutama bayi dengan BBLR karena reflex menelan dan batuk yang belum sempurna. Rhonki (+) Pengobatan : .Pemeriksaan lain dapat dilakukan atas indikasi 7.Biakan darah dan uji resistensi . .Kaku kuduk Pengobatan : .Sering didahului atau bersamaan dengan sepsis .Pengobatan antibiotika secara empiris dan terapeutik . Laringoskop direct segera setelah lahir bila terdapat meconium staining dan lakukan suction bila terdapat mekonium pada jalan napas . Bila setelah di suction rhonki masih (+). Dicurigai bila ketuban keruhdan bau . Meningitis pada Neonatus Tanda dan gejala : . pasang ET .Kejang .Pungsi lumbal (atas indikasi) 8.

GDS dan foto baby gram 9. Kejang terutama apabila terkena rangsang cahaya. Oftalmia Neonatorum Merupakan infeksi mata yang disebabkan oleh kuman Neisseriagonorrhoeae saat bayi lewat jalan lahir Dibagi menjadi 3 stadium . Observasi dilakukan dengan mengurangi sekecil mungkin terjadinya rangsangan 10. Perawatan tali pusat yang tidak steril . Pembantu persalinan yang tidak steril Gejala . Bila setelah di suction rhonki (-) dilakan resusitasi . Tetanus neonatorum Etiologi . . suara dan sentuhan . Tangan mengepal (boxer hand) . Cek darah rutin. Pemberian ATS 3000 – 6000 unit IM .000 unit / KgBB / 24 jam IV selama 10 hari . Pasang IV line dan OGT . Pasang O2 saat serangan atau bila ada tanda-tanda hipoksia . Mulut mencucu seperti mulut ikan (trismus) . Segera berikan antikonvulsan dan bawa ke Rumah Sakit (hindari pemberian IM karena dapat merangsang muscular spasm) . Kekakuan otot menyeluruh (perut keras seperti papan) dan epistotonus . Rawat tali pusat . Beri penisilin prokain G 200.Stadium infiltrative . Bayi yang semula dapat menetek menjadi sulit menetek karena kejang otot rahang dan faring (tenggorok) . Terapi antibiotika secara empiris dan terapeutik . Kadang-kadang disertai sesak napas dan wajah bayi membiru Tindakan . BGA.

yang khas secret akan keluar dengan mendadak (muncrat) saat palpebra dibuka .Berikan salep mata penisilin setiap jam selama 3 hari . mungkit terdapat pseudomembran .Stadium supuratif Berlangsung 2 – 3 minggu. Pencegahan Prinsip pencegahan infeksi antara lain: o Berikan perawatan rutin kepada bayi baru lahir. Gejala tidak begitu hebat. o Bersihkan unit perawatan khusus bayi baru lahir secara rutin dan buang sampah. Secret jauh berkurang. Berlangsung 1-3 hari. Palpebra bengkak. gejala lain tidak begitu hebat lagi. o Cuci tangan atau gunakan pembersih tangan beralkohol. o Pakai – pakaian pelindung dan sarung tangan.Penisilin prokain 50.Bayi harus diisolasi . hiperemi. o Pegang instrumen tajam dengan hati – hati dan bersihkan dan jika perlu sterilkan atau desinfeksi instrumen dan peralatan.Bersihkan mata dengan larutan garam fisiologis setiap ¼ jam disusul dengan pemberian salep mata penisilin . blefarospasme. o Gunakan teknik aseptik. .Stadium konvalesen Berlangsung 2-3 minggu. Penatalaksanaan . terdapat secret bercampur darah. o Pertimbangkan setiap orang ( termasuk bayi dan staf ) berpotensi menularkan infeksi. o Pisahkan bayi yang menderita infeksi untuk mencegah infeksi nosokomial.000 unit/kgbb IM J.