Volume 9 No.

1 Maret 2013
20

Jurnal Ilmiah Fakultas Teknik

LIMIT’S
Analisis Degradasi Polutan Limbah Cair Pengolahan Rajungan (portunus
portunus pelagicus)
dengan Penggunaan Mikroba Komersial
Nurhayati dan Isye Marda Samallo

Perancangan Sistem Informasi Administrasi Pendataan Barang Berbasis Barcode
B
Pada Centro Plaza Semanggi Jakarta
J
Pualam Dipa Nusantara dan Petrus Sianggian

Aplikasi
plikasi Sistem Informasi Penyewaan Lapangan Futsal
utsal Berbasis Java
Pada
ada Eaganta Futsal
Prionggo Hendradi, Riama Sibarani, Sudarmaji Usman

Rancangan Sistem Keamanan Gedung Berbasis Komputer
Pertumpun Gurusinga, Hendro Diwantoro

Efektivitas Teknik Biofiltrasi Dengan Media Bio-ball
B Terhadap
Penurunan Kadar Nitrogen Total
T
Yusriani Sapta Dewi danMega
dan Masithoh

Perancangan Sistem Informasi Kepegawaian Di PT. Higindo Kinerja Chemica
Pualam Dipa Nusantara

I S SN 2161184

9 7 7 2 1 6 1 1 8 4 4 0 0

ISSN 0216-1184

Si. ST.Kom.M.Kom.MSi.Kom. MSi.. Kiki Kusumawati. Alamat Redaksi Publikasi Ilmiah: FakultasT eknik – UniversitasS atya Negara Indonesia Jl. MMSi. M. Hernalom Sitorus. Nunung Nurhayati.M. M. MS.ac..M. Jupiter Sitorus.id . S.usni. Dra.Kom.Kom. Prionggo Hendradi. 11 Jakarta Selatan 12240I ndonesia Telp.Kom (Dekan Fakultas Teknik) Staff Ahli: Ahli: Dr.Si Sukarno Bahat Nauli Sitorus. Arteri Pondok Indah No.MSi AnggotaDewanRedaksi: AnggotaDewanRedaksi: Ir. Bosar Panjaitan. Ir Tambak Manurung. PimpinanRedaksi: Drs. SSi. Dr.Kom Sekretariat: Lina Mursadi. Dr.Kom. M.M.Volume 9 Nomor1Tahun 2013 ISSN 0216-1184 JURNAL ILMIAH FAKULTAS TEKNIK LIMIT’S LIMIT’S SUSUNAN REDAKSI PimpinanUmum/PenanggungJawab: Berlin Sitorus. S. Yusriani Sapta Dewi. Charles Situmorang.M.M. S. SSi. Agung Priambodo.Eng.Kom. Ir.PertumpunG urusinga. ST. S. SekretarisRedaksi: Riama Sibarani.Kom. M...M.. SE. Fax: (021) 7200352 http://www. (021) 7398393.

13 Perancangan Sistem Informasi Administrasi Pendataan Barang Berbasis Barcode Pada Centro Plaza Semanggi Jakarta Pualam Dipa Nusantara danPetrus Sianggian 14 .60 Pualam Dipa Nusantara . Riama Sibarani. Hendro Diwantoro 37 .36 Rancangan Sistem Keamanan Gedung Berbasis Komputer Pertumpun Gurusinga. Higindo Kinerja Chemica 54 .44 Efektivitas Teknik Biofiltrasi Dengan Media Bio-ball Terhadap Penurunan Kadar Nitrogen Total Yusriani Sapta Dewi dan Mega Masithoh 45 . DAFTAR ISI Analisis Degradasi Polutan Limbah Cair Pengolahan Rajungan (Portunus pelagicus) dengan Penggunaan Mikroba Komersial Nurhayati dan Isye Marda Samallo 1 . Sudarmaji Usman 24 .23 Aplikasi Sistem Informasi Penyewaan Lapangan Futsal Berbasis Java Pada Eaganta Futsal Prionggo Hendradi.53 Perancangan Sistem Informasi Kepegawaian Di PT.

a very important development of fishery processing industry in Indonesia. DO. Keywords: crab meat waste. Cara biologis atau biodegradasi oleh mikroorganisme. Total Bacteria. ANALISIS DEGRADASI POLUTAN LIMBAH CAIR PENGOLAHAN RAJUNGAN (Portunus pelagicus) DENGAN PENGGUNAAN MIKROBA KOMERSIAL Nurhayati dan Isye Marda Samallo Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Satya Negara Indonesia Abstrak Potensi sumber daya laut Indonesia yang sangat besar. mikroorganisme. Kata kunci : limbah daging rajungan. Total Bakteri. Traditional processors are generally not handling their wastewater before disposing causing water pollution and odor wafted around the typical crab traditional processing. salah satunya adalah industri pengolahan daging rajungan (Portunus pelagicus). oleh karena itu harganya relatif mahal. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh penambahan kultur campuran mikroba komersial sebagai agen pendegradasi polutan pada limbah cair industri mini plant pengolahan rajungan terhadap waktu inkubasi . ammonia. with the addition of commercial microbes with some variation of the concentration in the waste water can increase the swimming crab and crab waste concentration levels. This is because not produce toxic or blooming (explosion amount of bacteria). salah satunya adalah industri pengolahan daging rajungan (Portunus pelagicus). TSS and total bacterial sewage and crab while decreasing parameters are BOD and DO concentration. sehingga industri pengolahan daging rajungan ini menjadi sangat penting. BOD. microbes commercial PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Mengingat potensi sumber daya laut Indonesia yang sangat besar. ammonia. Increased concentrations occurred at pH. TSS. Hasil yang didapat. Permintaan rajungan lebih tinggi datang dalam bentuk olahan berupa daging rajungan kaleng yang berkualitas dan memiliki protein cukup tinggi. Penelitian menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan penambahan kultur campuran mikroba komersial BSL MW 0. mendapatkan hasil analisis dari parameter pH. This study aimed to examine the effect of adding commercial mixed culture of microbes as agents degrade pollutants in industrial wastewater treatment plant mini crab against incubation time. Hal ini dikarenakan tidak menghasilkan racun ataupun blooming (peledakan jumlah bakteri). one of which is the meat processing industry crab (Portunus pelagicus). Research using randomized block design (RBD) with the addition of a commercial microbial mixed culture BSL MW 0. Peningkatan konsentrasi terjadi pada pH. getting on the analysis of the parameters pH. menjadi sangat penting dikembangkannya industri pengolahan perikanan di Indonesia. TSS. dengan penambahan mikroba komersial dengan beberapa variasi konsentrasi dalam air limbah rajungan dapat meningkatkan dan menurunkan kadar konsentrasi limbah rajungan. Pengolah rajungan skala rumah tangga (mini plant) memasok bahan baku daging rajungan kepada perusahaan pengalengan (plant) yang kemudian diekspor ke manca . biodegradation. Amonia. is one right way. menjadi sangat penting dikembangkannya industri pengolahan perikanan di Indonesia. amonia. TSS dan dan total bakteri air limbah rajungan sedangkan parameter yang menurun konsentrasinya adalah BOD dan DO. Biological means or biodegraded by microorganisms. efektif dan hampir tidak ada pengaruh sampingan pada lingkungan. biodegradasi. rajungan telah lama diminati oleh masyarakat baik di dalam negeri maupun luar negeri. effective and virtually no side effects on the environment. Menurut Mirzards (2008). Umumnya pengolah tradisional tidak melakukan penanganan sebelum membuang air limbah mereka sehingga mengakibatkan pencemaran air dan bau khas rajungan tercium di sekitar pengolahan tradisonal. BOD. DO. The results obtained. microorganisms. mikroba komersial Abstract Indonesian marine resource potential is very large. merupakan salah satu cara yang tepat.

72 jam dan dilakukan 3 kali pengulangan dengan parameter pengujian adalah pH. TSS. Oleh karena itu untuk menyeimbangkan tatanan ekosistem kehidupan diperlukan sistem pengolahan limbah yang mudah diterapkan dan murah. DO. DO. Agar pengolahan limbah berlangsung secara efektif pada limbah yang dibuang dari industri perikanan pada pengolahan rajungan.negara. 12. karena polutan yang mudah terdegradasi dapat diuraikan oleh mikroorganisme menjadi bahan yang tidak berbahaya seperti CO2 dan H2O. Selain berpotensi menjadi sumber penyakit terhadap manusia yang ditularkan lewat lalat misalnya muntaber. Batasan Masalah Ruang lingkup penelitian ini akan dibatasi pada masalah : a. 6. Total Bakteri. maka pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan kultur campuran mikroba komersial dengan nama dagang BSL MW . Umumnya pengolah tradisional tidak melakukan penanganan sebelum membuang air limbah mereka sehingga mengakibatkan pencemaran air dan bau khas rajungan tercium di sekitar pengolahan tradisonal. Perumusan Masalah Berdasarkan uraian tersebut di atas. Hal ini dikarenakan tidak menghasilkan racun ataupun blooming (peledakan jumlah bakteri). Metodologi Penelitian Penelitian menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan penambahan kultur campuran mikroba komersial BSL MW 01 dalam konsentrasi 0% sebagai kontrol. . Kultur campuran mikroba komersial BSL MW 01. Mikroorganisme akan mati seiring dengan habisnya polutan dilokasi terkontaminan tersebut (Citroreksoko. Parameter yang diuji adalah pH. dan amonia. Cara biologis atau biodegradasi oleh mikroorganisme. b. Timbulnya bau busuk disebabkan oleh dekomposisi lanjut dari protein yang kaya akan asam amino bersulfur (sistein) menghasilkan asam sulfida. BOD. BOD. degradasi protein menyebabkan terbentuknya peptida-peptida sederhana. Air hasil perebusan daging rajungan dari mini plant masih mempunyai kandungan protein dan zat padatan terlarut yang tinggi. Total Bakteri. Manfaat penelitian yang dilakukan ini untuk mengeksplorasi potensi kultur campuran mikroba komersial BSL MW 01 sebagai agen pendegradasi polutan pada pembuangan limbah cair industri perikanan khususnya pengolahan rajungan di Cirebon. merupakan salah satu cara yang tepat. TSS. c. 2011). efektif dan hampir tidak ada pengaruh sampingan pada lingkungan. maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut : a. 48. Asam lemak rantai pendek hasil dekomposisi bahan organik juga menyebabkan bau busuk. Apakah dengan penambahan kultur campuran mikroba komersial dapat mendegradasi polutan limbah cair industri perikanan pada limbah pengolahan rajungan? b. Amonia. DO. Limbah cair pada industri pengolahan perikanan jika tidak diolah akan menimbulkan pencemaran bau yang menyengat yang menyebabkan adanya keluhan tentang adanya gangguan dan kekurang nyamanan dari masyarakat sekitarnya. 1996). Variasi konsentrasi & waktu inkubasi setelah penambahan kultur campuran mikroba komersial BSL MW 01 pada limbah rajungan. Menurut Hadiwiyoto (2011). Amonia. gugus thiol. 2) Mendapatkan hasil analisis dari parameter pH. 24. TSS. Konsep dan aplikasi teknologi bersih dan daur ulang telah mendorong dikembangkannya teknologi pengolahan limbah menggunakan produk berbahan aktif mikroba yang lebih ramah lingkungan (mengurangi dampak penggunaan bahan kimia) dan memenuhi kriteria tersebut (Suyasa. 5% dan 10% dengan variasi waktu inkubasi 0. Apakah dengan lama waktu inkubasi terhadap campuran mikroba komersial mempengaruhi proses degradasi polutan limbah cair pengolahan rajungan? Tujuan dan Manfaat Penelitian ini bertujuan untuk : 1) mengkaji pengaruh penambahan kultur campuran mikroba komersial sebagai agen pendegradasi polutan pada limbah cair industri mini plant pengolahan rajungan terhadap waktu inkubasi . Total Bakteri. asam-asam amino bebas dan kemudian menjadi senyawa-senyawa amino dan amonia yang mudah menguap.01 sebagai agen pendegradasi polutan dengan mengambil sampel di lokasi pembuangan limbah. BOD. Untuk mengatasi limbah dapat digunakan metode biologis sebagai alternatif yang aman. Amonia.

amonia (NH3). Bau merupakan salah satu parameter pencemaran udara yang merupakan sumber gangguan fisik dan nonfisik yang penyebarannya terjadi melalui udara sebagai mediumnya.LANDASAN TEORI Deodorisasi Menurut Aziziah (2008).com (2012).. G dan Santika. Tiga dari 26 jenis senyawa tersebut dijadikan sebagai parameter kebauan dalam KEPMEN No.PD. 4) Menghilangkan bau. dalam penelitian ini dikhususkan untuk bau limbah industri pengolahan perikanan. aplikasi BSL MW 01 adalah sebagai berikut : 1) Sebagai pengganti sedot septik tank menggunakan dosis 1-3 liter dalam tangki septik tank kapasitas rumah tangga disiramkan setiap 3-6 sekali ke dalam septik tank.. Pemanfaatan Mikroorganisme Dalam Penguraian Limbah Kultur campuran mikroba komersial dengan nama dagang BSL MW 01 yang diproduksi oleh PT. Putra Utama. Ketiga senyawa tersebut adalah metil merkaptan (CH3SH). sehingga jumlah bakteri dapat diketahui dengan menghitung jumlah koloni. Semua bakteri dari sampel akan tumbuh pada media tertentu dan setiap golongan bakteri akan tumbuh menjadi satu koloni yang spesifik. Buana Semesta Lestari Engineering merupakan teknologi bioremediasi dengan memanfaatkan mikroorganisme alami (indigenous) yang bermanfaat dan efektif. yang dimaksud dengan bau adalah suatu rangsangan dari zat yang diterima oleh alat indera penciuman. Metode hitungan cawan (TPC) merupakan metode yang paling banyak digunakan dalam analisa. Ada 26 jenis senyawa yang menjadi sumber bau yang diemisikan dari kegiatan industri. Menurut Kepmen No 50/MenLH/II/96 tentang kebauan. kultur campuran bakteri komersial BSL telah berhasil mengembangkan mikroba probiotik dengan nama produk yaitu: MW-01 yang mempercepat proses degradasi limbah organik. serta dipadukan dengan konsep pengkayaan nutrisi/inoculant and enrichment concepts (Santosa. daging) dengan menggunakan konsentrasi 10%. dan hidrogen sulfida (H2S). 3) Sebagai agen pendegradasi polutan pada industri pengolahan nugget (ikan. deodorisasi adalah usaha untuk mengurangi atau menghilangkan bau. Menurut www.bsl-online. 2) Sebagai penetral bau dengan menyemprotkan atau menyiramkan pada sumber bau (dapat diencerkan setiap 200 cc dalam 1 liter). Putra Utama (2012) adalah : 1)”Mixed culture” (biakan campuran) mikroba alami. produk ini didasarkan pada kinerja bakteri simbiosis mutualisme seperti Lactobacillus. Penggunaan kultur campuran mikroba komersial BSL MW 01 biasanya digunakan pada limbah rumah sakit dan domestik. juga dari hasil pembusukan protein serta bahan organik dalam air. Perombakan anaerob inilah yang menimbulkan bau busuk dan mengganggu estetika lingkungan. Karakteristik umum kultur campuran mikroba komersial BSL MW 01 menurut PD. oleh karena tiap spesies bakteri membentuk koloni tersendiri dalam pertumbuhannya. bakteri pengurai selulosa dan lain sebagainya yang menguntungkan manusia. Pada penelitian ini aktivitasnya diujikan pada limbah perikanan. Aziziah (2008) menuliskan bahwa bau yang tidak sedap disebabkan oleh adanya campuran nitrogen. dalam Municipal Waste Treatment. hewan dan tumbuhan serta ramah lingkungan. ayam. Untuk menghitung total bakteri dengan metode cawan digunakan Nutrient Agar (NA) (Feliatra. (2012). setelah ditambah dengan BSL MW-01 maka kemampuan bakteri pengurai alamiah dan tambahannya meningkat drastis dari segi jumlah maupun kemampuannya. Menurut Alaerts. 5) Menekan bakteri patogen dalam air limpasan. 3) Mudah penerapannya dan ekonomis. 1999). yang tergantung dari perkiraan populasi .50/MenLH/II/1996. Acetobacter. Media adalah suatu substrat untuk menumbuhkan bakteri yang menjadi padat dan tetap tembus pandang pada suhu inkubasi (Pelczar et al. Menurut Firmawan (2010).1986). Menurut Santosa. standard plate count dipergunakan untuk menentukan kerapatan bakteri aerob dan anaerob fakultatif heterotrop dari air. 2) Aman bagi manusia. Alaerts juga menyatakan bahwa pada umumnya dibutuhkan pengenceran sampel. tanpa rekayasa genetika.Putra Utama.P. tidak bersifat patogen dan aman bagi lingkungan sekitarnya.. Total Bakteri Total bakteri/Total Plate Count (TPC) merupakan salah satu metode yang dapat digunakan untuk menghitung jumlah mikroba dalam bahan pangan.. SS (1984)..P. karena koloni dapat dilihat langsung dengan mata tanpa menggunakan mikroskop. 2012). sedangkan kebauan adalah bau yang tidak diinginkan dalam kadar dan waktu tertentu yang dapat mengganggu kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan. Penentuan dengan cara ini merupakan pengukuran empiris saja. 6) Mempercepat dekomposisi bahan organik dan meningkatkan kualitas air limpasan. Perombakan materi organik telah memberikan indikasi terjadinya bau busuk jika O2 yang tersedia di perairan telah habis. Proses penguraian (degradasi) menjadi jauh lebih cepat yaitu 6 jam dari sebelumnya yang memerlukan waktu berhari-hari. Sacharomyces. sulfur.PD.

Air pengencer yang digunakan harus selalu mengandung garam nutrient. BOD. Model RAK dengan banyaknya kelompok (ulangan) k dan banyaknya perlakuan t adalah : Yij = µ+Ti+ßj+ εij Dimana i=1. petridish.5 for Windows dan Microsoft Excel 2003.85%. tabung 50 ml. Lay Out Penelitian Penelitian dirancang secara acak kelompok (Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang digambarkan pada tabel uji analisis varian. A. Dilakukan pengulangan sebanyak 3 kali dan parameter yang diuji adalah pH. Suprihadi. Penelitian dimulai pada bulan April sampai dengan Juni 2012. Amonia. Total Bakteri. larutan MgSO4. bunsen. botol pengencer. akuades. Air sisa perebusan tersebut didapat dari penampungan sisa proses perebusan pada mini plant pengolahan rajungan di Desa Gebang Mekar. medium NA. 48. Dilakukan dengan 3 perlakuan penambahan kultur mikroba campuran (0%.T. 5%. 12. Bahan-bahan lain yang digunakan adalah kultur campuran bakteri komersial dengan nama dagang BSL MW-01. Cirebon Jawa Barat. rak. TSS. shaker water bath. MG. untuk memperoleh hasil digunakan program SPSS 11. inkubator. microtube. Bakteri akan bereproduksi pada medium agar dan membentuk koloni setelah 18-24 jam inkubasi. Amonia. Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan adalah metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang dirancang dengan perlakuan penambahan kultur campuran mikroba komersial dengan nama dagang BSL MW-01 dilakukan dengan perlakuan konsentrasi 5%. air sisa perebusan dibawa menggunakan jerigen 5 l steril dan dimasukkan ke dalam cool box yang telah diberi es. TSS. 10 µl. Secara umum. Lunggani. Total Bakteri.48 dan 72) jam dengan 3 kali ulangan sehingga jumlah sampel sebanyak 54 buah dan pengujian sesuai parameter yang di uji yaitu pengukuran pH. Untuk menghitung jumlah koloni dalam cawan petri dapat digunakan alat ’colony counter’ yang biasanya dilengkapi dengan pencatat elektronik. Penelitian dilakukan di laboratorium Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Jakarta yang sudah trakreditasi KAN dan KNAPPP. FeCl3. semakin tinggi konsentrasi bakteri dan semakin kecil volume sampel yang diperlukan.6. Semakin tercemar suatu badan air. timbangan digital. beaker glass. 1 atm. 2008).…. agar jumlah koloni dapat dihitung. dan 72 jam. Pengambilan contoh air limbah perikanan pada industri mini plant pengolahan rajungan di Cirebon. RANCANGAN PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Lokasi pengambilan sampel limbah cair industri pengolahan perikanan (sisa air rebusan rajungan) adalah pada mini plant di Desa Gebang Mekar. spreader. Bahan dan Alat Bahan utama yang digunakan adalah limbah cair industri perikanan dari air rebusan pengolahan rajungan. BOD. CaCl2. 15 menit). Jawa Barat.2.24. botol winkler. 6. metode penanaman dapat dibedakan atas dua macam yaitu metode tuang (pour plate) dan metode sebar (spread plate). (Rukmi. kolorimeter dan vial. Oleh karena sampel limbah adalah anaerob fakultatif maka tidak digunakan aerasi tapi hanya dengan shaker water bath untuk menjaga tersedianya oksigen dengan berbagai waktu inkubasi yaitu 0.….2. spatula. Adapun peralatan yang digunakan adalah Autoklaf (121 oC.r Y(ij) : pengamatan pada perlakuan ke-i dan kelompok ke –j µ : mean populasi Ti : pengaruh aditif dari perlakuan ke-i ßj : pengaruh utama faktor taraf ke-j . 2003). 10% dan 0% sebagai kontrol (limbah tanpa penambahan mikroba). Setelah penampungan selesai. ruang laminar. Model matematika rancangan percobaan yang digunakan adalah sebagai berikut (Mattjik dan Sumertajaya. model 24 S LION STAR).12. (Mukhlis.I.. colony counter.t dan j=1. larutan pengencer NaCl 0. yang sudah diberi es batu. micro pipet dan tip 1 ml. gelas ukur. Kabupaten Cirebon. Sampel air diambil secara langsung dari 10 mini plant di Cirebon dengan dipilih 10% secara acak sebagai sampel menggunakan jerigen steril 5 l kemudian dimasukkan dalam kotak es volume 24 l (Marina Cooler. DO. 10 ml. 10%) dan 6 titik waktu inkubasi (0. pH meter. A. DO meter. DO. reagen amonium Salisilat. 24.bakteri. 2008). oven. buffer fosfat. alkohol. reagen amonium sianurat. Erlenmeyer 2 l.

maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: H0 : Terima Ho bila penambahan mikroba komersial dan waktu inkubasi mempengaruhi parameter yang di uji H1 : Tolak H0 bila penambahan mikroba komersial dan waktu inkubasi tidak mempengaruhi parameter yang di uji Analisis Parameter Tingkat kandungan limbah dari industri perikanan yang dianalisis sesuai baku mutu Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 06 Tahun 2007 tentang Baku Mutu Air Limbah bagi Usaha dan/atau Kegiatan Pengolahan Hasil Perikanan.5 for Windows dan Microsoft Excel 2003.5 6.2 6.5 6. BOD. Total bakteri menggunakan Nutrient Agar (NA) untuk penanaman secara aseptis. Analisis untuk mengolah data penelitian ini menggunakan program SPSS 11. Untuk mengukur DO probe direndam dalam air limbah dan akan terbaca hasilnya. Data-data sifat kimia dan jumlah mikroba dinalisis menggunakan ragam ANOVA.5 7. dan Total Bakteri.1 12 7. .4 Pada Gambar 1 dapat dilihat grafik derajat keasaman limbah rajungan yang telah mengalami proses bioremediasi dengan perlakuan waktu dan konsentrasi yang berbeda dari mikroba komersial.5 7.5 48 7.6 6.1 7 6.2 72 7.2 6 7. Pengujian zat padatan terlarut menggunakan HACH Kolorimeter DR 890. Pengujian kadar amonia menggunakan HACH Kolorimeter DR 890. Pengukuran pH dilakukan dengan menggunakan pH meter. sedangkan untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan digunakan uji lanjut Duncan. Amonia. Hipotesis Berdasarkan perumusan masalah dan kerangka pemikiran.1 6. TSS. Cara penentuan oksigen terlarut dengan metoda elektrokimia adalah cara langsung untuk menentukan oksigen terlarut dengan alat DO meter.1 7.1 7.2 24 7. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian terhadap perlakuan waktu inkubasi dengan konsentrasi bakteri komersial terhadap air limbah disajikan dalam bentuk tabel. Sebelum dipakai pH meter dicuci terlebih dahulu dengan menggunakan aquades dan dikalibrasi pada buffer netral (pH 7) dan larutan buffer asam (pH 4). grafik untuk masing-masing parameter yang dianalisis yaitu pH. diambil 1 ml dari masing – masing sampel dan dituang pada cawan petri. Penentuan BOD tergantung pada penentuan oksigen yang terlarut. ε(ij) : pengaruh acak yang menyebar normal Apabila dalam perlakuan menunjukan berbeda nyata taraf α 5 % maka dilakukan uji lanjut Tukey-Duncan untuk mengetahui perbedaan antara taraf perlakuan. pH Limbah Rajungan dengan Variansi Konsentrasi dan Waktu Inkubasi Tabel 1 Rerata pH Limbah dalam Waktu Inkubasi dan Konsentrasi setelah Penambahan Mikroba Komersial BSL MW 01 pH Waktu Konsentrasi Inkubasi 0% 5% 10% 0 7 6. Koloni yang tumbuh kemudian dihitung dengan menggunakan Colony Counter. DO. Prinsip pengukuran BOD ini adalah pengukuran jumlah zat organik yang akan dioksidasi oleh bakteri aerobik selama 5 hari pada suhu 20°C.

53 7.40 7. Pada 48 7.48 Gambar 2 dapat dilihat grafik DO 72 7.05) serta antar konsentrasi remedian (p = 0.45 DO 7.49 7. Grafik Derajat Keasaman (pH) pada Limbah Setelah Penambahan Mikroba Komersial BSL MW 01 Uji Kruskal Wallis menunjukan bahwa tingkat pH cenderung untuk berbeda secara signifikan antar waktu (p = 0. Kecenderungan yang berbeda antara konsentrasi 0% dibandingkan dengan yang ditambahkan remedian (5% dan 10%) menunjukan adanya aktivitas bakteri pada penampang uji. 7.42 7.44 7.44 limbah rajungan yang telah mengalami proses bioremediasi dengan perlakuan waktu dan konsentrasi yang berbeda dari mikroba komersial.49 udara maupun yang berasal dari mikroorganisme 24 7.53 7.47 7.50 (mg/l) 7.45 7.52 yang begitu cepat dapat disebabkan 6 7.35 0 6 12 24 48 72 waktu (jam) konsentrasi 0% konsentrasi 5% konsentrasi 10% Gambar 2.47 7.25 < 0. kemudian baru cenderung menjadi stagnan setelah waktu 48 jam. 8 6 pH 4 2 0 0 6 12 24 48 72 waktu (jam) konsentrasi 0% konsentrasi 5% konsentrasi 10% Gambar 1. kondisi penambang uji menjadi lebih basa. Jika pada 0% cenderung stagnan.47 7. kondisi cenderung bersifat lebih asam. Rerata DO Limbah Rajungan dengan Waktu Inkubasi dan Konsentasi Setelah Penambahan Mikroba Komersial Waktu Konsentrasi DO (mg/l) Inkubasi 0% 5% 10% Perubahan 0 7.46 yang ada dalam limbah. maka pada penambahan bahan remedian.50 udara dan jumlah O2 yang berasal dari 12 7.55 7.05) yang ditambahkan. kemudian dengan adanya perombakan amonia serta aktivitas yang menghasilkan senyawa kimiawi lainnya.00 < 0.43 7. Grafik DO pada Limbah dengan Kombinasi Waktu Inkubasi dan Kombinasi Konsentrasi Mikroba Komersial . DO Limbah Rajungan dengan Variansi Konsentrasi dan Waktu Inkubasi Tabel 2.46 7.47 7.

Namun.67 283.00 Pada hari ke tiga atau inkubasi pada 72 jam amonia masih meningkat pada limbah dengan penambahan bakteri komersial pada 10% yaitu kenaikan amonia sebesar 17. Koefisien determinasi yang rendah (R2) menunjukan bahwa bahwa aktivitas perombakan ini tidak linear terhadap fungsi waktu.00 850. Setelah inkubasi selama satu hari (24) jam amonia pada konsentrasi 0% meningkat 36. maupun 10%) adalah tidak signifikan (p = 0. Hal ini terlihat dari R2 yang dibentuk oleh model hanyalah sebesar 0.07%. sehingga terjadi penurunan kadar DO yang serupa. Hasil sidik ragam DO limbah rajungan dengan waktu inkubasi dan kombinasi konsentrasi mikroba komersial.05). Sementara perbedaan kadar DO antara sistem remedian yang berbeda (0. pada tiap konsentrasi remedian yang ditambahkan. Pada sistem dengan 0% juga terjadi penurunan kadar DO.816. Kenaikan amonia tertinggi terjadi pada waktu inkubasi 24 jam dengan konsentrasi penambahan bakteri komersial sebanyak 5%. Hal ini diduga terjadi karena selain bakteri remedian yang ditambahkan. Tabel 3. > 0.00 12 433. Kenaikan amonia pada jam ke 6 pada konsentrasi 0% mikroba komersial sudah ada peningkatan. Namun walaupun demikian. Uji lanjut Turkey-Dunkan menunjukan bahwa perbedaan nyata terletak antara kadar oksigen di 0 jam dan 72 jam.00 6 316. kecenderungan penurunan DO ini tidak linear terhadap perubahan jam maupun konsentrasi.05). 5.65% sedangkan pada konsentrasi 5% meningkat amonia sebesar 3.67 200. Kemudian interaksi antara selang waktu dan perbedaan remedian yang ditambahkan juga tidak memperlihatkan perbedaan kecenderungan yang signifikan (p = 0.00 350.05). Kurva DO terhadap waktu menunjukan bahwa tingkat kadar oksigen (Dissolved Oxygen/DO) menurun dalam fungsi waktu. kecenderungan penurunan DO selama selang waktu antara 0 hingga 72 jam. Pada jam ke 48 amonia meningkat pada konsentrasi 0% sebesar 24. Amonia Limbah Rajungan dengan Variansi Konsentrasi dan Waktu Inkubasi Amonia limbah akan meningkat seiring lamanya waktu inkubasi terlihat pada konsentrasi penambahan 0%. < 0.43% pada konsentrasi 10% kenaikan amonia sebesar 29.039. pada konsentrasi 5% meningkat sebesar 31.33 583. > 0. Amonia pada waktu inkubai 12 jam pada konsentrasi 0% terjadi kenaikan amonia sebesar 26. juga terdapat bakteri indigenous yang turut berkembang secara aerobik.057. karena perombakan bahan organik menjadi bahan non-organik oleh bakeri secara aerobik. sedangkan pada konsentrasi 5% meningkat sebanyak 51.33 48 900.33 216.05%.00 24 683.33 283.53% setelah 6 jam inkubasi tanpa adanya penambahan mikroba komersial.00 72 850. .33 150. adalah signifikan (p = 0.88%. Hal ini memperlihatkan bahwa pada tiap sistem yang ditambahkan remedian yang berbeda.756.03% dan pada konsentrasi 0% meningkat 5.33 283. pada konsentrasi bakteri 5% peningkatan amonia yaitu 23. sedangkan di penambahan mikroba komersial pada konsentrasi 5% tidak ada kenaikan jumlah amoniak dan 10% meningkat 25%.33 200. terjadi kecenderungan penurunan kadar oksigen yang selaras. 5% maupun 10%. Amonia yaitu sebesar 10.53% sedangkan pada konsentrasi penambahan mikroba komersial 10% juga meningkat amonia sebesar 3.37% sedangkan pada konsentrasi 10% meningkat sebesar 19.41%.00 425. Rerata Amonia dalam Limbah Rajungan dengan Waktu Inkubasi dan Konsentrasi Setelah Penambahan Mikroba Komersial Waktu Konsentrasi Amonia (mg/l) Inkubasi 0% 5% 10% 0 283.92%.47.59%.00 825. Setelah inkubasi 48 jam amonia pada konsentrasi 0% tidak ada perubahan dari amonia 7.33% setelah inkubasi selama 6 jam.

35%% sedangkan pada konsentrasi 10% menurun sebesar 9.87% dan konsentrasi 10% meningkat 0. BOD pada waktu inkubasi 12 jam pada konsentrasi 0% terjadi penurunan BOD sebesar 1.36%. Sementara antar kadar remedian. yang salah satunya adalah amonia. sehingga perubahan bentuk nitrogen anorganik telah terjadi. Setelah inkubasi 48 jam BOD pada konsentrasi 0% meningkat kembali sebanyak 1.75 .99%.1 1824. Namun pada 10%. Kenaikan BOD tertinggi terjadi pada waktu inkubasi 48 jam dengan konsentrasi penambahan bakteri komersial sebanyak 5%. selaras dengan interaksi keduanya yang juga signifikan (p = 0.08% setelah inkubasi selama 6 jam.1 1826 6 1690 1775. Nilai determinasi R2 yang sebesar 0. BOD Limbah Rajungan dengan Variansi Konsentrasi dan Waktu Inkubasi BOD limbah akan menurun seiring lamanya waktu inkubasi terlihat pada konsentrasi penambahan 0%.46%. sedangkan pada konsentrasi 5% menurun sebanyak 4. sementara 10% yang lebih rendah.50%. pada konsentrasi bakteri 5% penurunan BOD yaitu 9.97%.07% sedangkan pada konsentrasi penambahan mikroba komersial 10% juga meningkat BOD sebesar 0. Hal ini memperlihatkan bahwa pada tiap sistem terjadi perombakan protein organik menjadi nitrogen anorganik.15%. 1000 800 600 Amoniak 400 (mg/l) 200 0 0 6 12 24 48 72 waktu (menit) konsentrasi 0% konsentrasi 5% konsentrasi 10% Gambar 3.99% Pada jam ke 48 kandungan BOD meningkat pada konsentrasi 0% sebesar 1. Kenaikan BOD pada jam ke 6 pada konsentrasi 0% mikroba komersial sudah ada penurunan BOD yaitu sebesar 16. dapat diduga bahwa bakteri pengubah amonia telah terdapat dalam jumlah yang cukup. sedangkan di penambahan bakteri pada konsentrasi 5% kenaikan jumlah BOD sebesar 5.49% pada konsentrasi 10% penurunan BOD sebesar 3. Pada konsentrasi 0 dan 5% keberadaan bakteri pengubah amonia lebih lanjut cenderung belum terdapat dalam jumlah yang efektif. ketiganya berbeda secara signifikan dengan masing- masing membentuk rataan hasil tersendiri.5 1774.27% setelah 6 jam inkubasi tanpa adanya penambahan mikroba komersial.05).5 12 1665 1675 1821.75 24 1752 1753.5 1575 1610 72 1887 1758. Kecenderungan perbedaan kadar amonia selama selang waktu dan tiap konsentrasi remedian yang berbeda adalah signifikan. pada konsentrasi 5% menurun sebesar 11. sehingga tingkat amonia terdapat dalam jumlah dengan tren yang kian meningkat. Setelah inkubasi selama satu hari (24) jam BOD pada konsentrasi 0% menurun 4.926 menunjukan bahwa model yang terbentuk dari jam dan konsentrasi adalah linear terhadap kadar amonia. 5% maupun 10%. seperti tumbuhan air. dengan peningkatan kadar 0% dan 5% yang tinggi. > 0.75 1760. Grafik Amonia pada Limbah dengan Kombinasi Waktu Inkubasi dan Variansi Konsentrasi Mikroba Komersial BSL MW 01 Analisis memperlihatkan adanya kecenderungan peningkatan kadar amonia.00. Hasil amonia ini seharusnya dirombak lebih lanjut menjadi nitrat agar hasil remediasi dapat menjadi bahan starter yang subur untuk dipergunakan oleh penyerap nitrogen. Tabel 4. Rerata BOD dalam Limbah Rajungan dengan Waktu Inkubasi dan Konsentasi Setelah Penambahan Mikroba Komersial Waktu Konsentrasi BOD (mg/l) Inkubasi 0% 5% 10% 0 1965 1936.75 48 1787.

Namun. Pada jam ke 12 penurunan jumlah bakteri pada konsentrasi 0% sebesar 28%. Grafik BOD pada Limbah Rajungan dengan Kombinasi Waktu Inkubasi dan Kombinasi Konsentrasi Mikroba Komersial Pengujian ANOVA memperlihatkan bahwa fungsi waktu maupun banyaknya bioremedian yang ditambahkan tidak berpengaruh secara nyata terhadap konsentrasi BOD yang terdapat dalam penampang uji (P > 0. perbedaan ini tidak dinyatakan perbedaan nyata oleh uji ANOVA.27%. Sehingga secara keseluruhan akan dapat tercapai tujuan dari remediasi limbah tersebut.43% dan pada konsentrasi 0% meningkat 5.17% sedangkan pada penambahan mikroba komersial konsentrasi 5% penurunannya sebesar 22. berdasarkan hasil penelitian ini.09%. Hal ini terjadi dikarenakan jumlah bakteri dengan konsentrasi tersebut terlalu melebih dosis yang diberikan sehingga efektifitasnya berkurang.05). Selain itu. Pada pengujian ANOVA lanjutan.94% dan pada penambahan 10% bakteri komersial menurun sebanyak 17. maka dapat disimpulkan bahwa konsorsium bakteri komersial yang dipergunakan untuk meremediasi air limbah perebusan rajungan memiliki potensi tinggi sebagai perombak kandungan protein lalu mampu mengubah amonia toksik menjadi bentuk nitrogen yang dapat dimanfaatkan sebagai starter penyubur tumbuhan. Oleh karena itu. Seiring waktu inkubasi terjadi penurunnya konsentrasi TSS dalam air limbah yang diberikan bakteri komersil maupun limbah yang tidak penambahan mikroba komersial BSL MW 01. TSS/ Total Suspended Solid Limbah Rajungan dengan Variansi Konsentrasi dan Waktu Inkubasi Hasil penelitian pengaruh variansi konsentrasi dengan waktu inkubasi terhadap parameter Total Suspended Solid (TSS). atau pada konsorsium bakteri komersial yang dipergunakan tidak terdapat jenis bakteri yang mampu merombak kandungan karbon organik menjadi bentuk anorganik atau karbon bebas. terlihat terdapat perbedaan antara 0 jam dan 48 jam. kecuali untuk uji Duncan pada perbedaan jam. Pada hari ke tiga atau inkubasi pada 72 jam BOD meningkat pada limbah dengan penambahan mikroba komersial pada 10% yaitu kenaikan BOD sebesar 9. Duncan-Turkey.75% sedangkan pada konsentrasi 5% meningkat sebanyak 41.17%. Sebagai saran dari penelitian ini. pada konsentrasi 5% menurun sebesar 14% sedangkan pada konsentrasi 10% meningkat menjadi 26. Tidak adanya perbedaan nyata antara konsentrasi 0. Namun kelemahan dari konsorsium komersial ini adalah ketidakmampuannya dalam merombak jenis cemaran organik karbon. dengan output limbah air yang telah memenuhi persyaratan baku mutu air limbah untuk proses industri perikanan. 2500 2000 1500 (mg/l) BOD 1000 500 0 0 6 12 24 48 72 waktu (jam) konsentrasi 0% konsentrasi 5% konsentrasi 10% Gambar 4. Total Suspended Solid pada awal air limbah rendak konsentrasinya yaitu rata-rata 3 mg/l setelah 6 jam meningkat tanpa penambahan mikroba komersial maupun setelah dilakukan penambahan mikroba komersial BSL MW 01. Pada konsentrasi 0% kandungan TSS sangat tinggi kenaikannya yaitu sebesar 43.28 % sedangkan pada konsentrasi 5% meningkat BOD sebesar 10. Cemaran BOD atau cemaran karbon organik dari limbah mini plant rajungan ini misalnya adalah lemak yang terlarut saat proses perebusan rajungan dilakukan. Setelah 2 hari (48 jam) terjadi penurunan TSS pada semua konsentrasi pada . terlihat bahwa rataan data adalah homogen. dan 10% memperlihatkan bahwa tingkat cemaran organik tersebut tidak terombak. Setelah inkubasi selama 1 hari (24 jam) pada limbah yang tidak diberikan penambahan mikroba terjadi penurunan yang rendah yaitu 4. aplikasi fitoremediasi yang dirangkaikan dengan aplikasi bioremedian-mikroba ini juga sangat potensial untuk menyerap nitrogen dan karbon anorganik yang dihasilkan dari perombakan limbah organik dari aplikasi bioremedian-mikroba ini. maka penelitian lanjutan dapat dilakukan dengan penambahan jenis bakteri yang mampu merombak cemaran jenis lemak.65%. secara keseluruhan. berdasarkan penggunaan ternyata yang terbaik adalah 5% V/V antara limbah dengan mikroba.72% dan pada konsentrasi 10% masih meningkat konsentrasi TSS yaitu sebesar 4. sehingga konsorsium bakteri dapat lebih potensial untuk dikembangkan sebagai bahan remedian dari limbah rajungan. 5.

500.33 3. pada konsentrasi penambahan 5% sebesar 62. dan berfungsi sebagai bahan pembentuk endapan dan peningkatan konsentrasi BOD maka semakin banyak pula kandungan organik didalamnya sehingga semakin besar konsentrasi TSSnya.333. Peningkatan TPC setelah 6 jam pada konsentrasi 0% meningkat sebesar 53%.833. Hal ini terlihat dari nilai koefisien determinasi R2 yang rendah. Setelah 12 jam inkubasi kenaikan sebesar 60. terjadi akibat berlangsungnya reaksi-reaksi kimia yang heterogen. Hal ini menurut Firmawan (2010).66% sedangkan pada konsentrasi 10% meningkat 59. 12.29% dan peningkatan pada penambahan konsentrasi 10% meningkat sebesar 90. Tabel 5.32%.000.33 6 5.00 TSS 2. kelompok 2 (24 jam).500.666. sedangkan pada penambahan mikroba dengan konsentrasi 5% dan 10% meningkat sampai 12 jam setelah itu terjadi penurunan jumlah bakteri. Total Bakteri/Total Plate Count (TPC) Limbah Rajungan dengan Variansi Konsentrasi dan Waktu Inkubasi Metode hitungan cawan (TPC) merupakan metode yang paling banyak digunakan dalam analisa.00 48 3. hanya sebesar 0.0% penurunan sebesar 4.00 1.67 3.000. Grafik TSS pada Limbah Rajungan dengan Kombinasi Waktu Inkubasi dan Konsentrasi Mikroba Komersial BSL MW 01 Ineraksi antara waktu dengan konsentrasi membuat perbedaan yang signifikan antar kadar TSS dalam tiap model percobaan.166.08% pada konsentrasi 0% dan pada konsentrasi 5% meningkat sebesar 81.67 2. Rerata TSS dalam Limbah Rajungan dengan Perlakuan Lama Inkubasi dan Konsentrasi Setelah Penambahan Mikroba Komersial Waktu Konsentrasi TSS (mg/l) Inkubasi 0% 5% 10% 0 3.000.000.00 (mg/l) 3.833.166. karena koloni dapat dilihat langsung dengan mata tanpa menggunakan mikroskop. diketahui bahwa penambahan remedian yang berbeda tidak menyebabkan perubahan TSS dan nilainya homogen. terbentuk 3 kelompok dengan kadar TSS yang berbeda.00 4.833. Menurut Ihsan (2011).33 24 4. Sementara pada selang waktu berbeda.000.000.00 3. Setelah 12 jam . disebabkan sifat mikroba BSL MW-01 setelah ditambah dalam limbah maka kemampuan bakteri pengurai alamiah dan tambahannya meningkat drastis dari segi jumlah maupun kemampuannya.00 3.00 - 0 6 12 24 48 72 konsentrasi 0% konsentrasi 5% waktu10% konsentrasi (jam) Gambar 5. yaitu kelompok 1 (0 dan 48 jam).000. Sementara pada pada uji lanjut Duncan.34% dan pada penambahan mikroba 5% sebesar 15.333.000.00 5.833. pengaruh antar waktu tersebut tidak membentuk model yang linear terhadap kadar TSS.79% dan pada penambahan mikroba dengan konsentrasi 10% menurun sebanyak 14%.39%. Pada hari ke 3 (72jam) terjadi peningkatan konsentrasi TSS dalam limbah pada konsentrasi 15 dan 10% .67 3.00 72 3.67 4.33 6. Jumlah bakteri dalam limbah tanpa penambahan bakteri dari 0 jam sampai dengan 72 jam terus meningkat walaupun peningkatannya tidak segnifikan.447.00 3. Proses penguraian (degradasi) menjadi jauh lebih cepat yaitu 6 jam dari sebelumnya yang memerlukan waktu berhari-hari.000.67 4.666.33 4.33 5.000.833.166.33 12 4. dan 6 jam). dan kelompok 3 (72. Namun.00 3.

Sedangkan pada penambahan bakteri dengan konsentrasi 5% pada waktu inkubasi 24 jam penurunan jumlah bakteri sebesar 12% dan pada waktu inkubasi 72 jam penurunan sebesar 8. Peningkatan konsentrasi terjadi pada pH. Hasil penelitian pada konsentrasi mikroba 5% dengan waktu inkubasi 48 jam parameter pH limbah meningkat yaitu dari pH 6.17%. Rerata TPC dalam Limbah Rajungan dengan Waktu inkubasi dan Konsentasi Mikroba Komersial BSL MW 01 Konsentrasi TPC Waktu Inkubasi 0% 5% 10% 0 22700000 3600000 900000 6 49100000 9300000 9300000 12 123000000 50700000 22900000 24 127000000 28000000 13000000 48 135000000 25000000 10000000 72 138000000 23000000 9000000 15000000 10000000 (kol/ml) TPC 50000000 0 0 6 12 24 48 72 waktu (jam) konsentrasi 0% konsentrasi 5% konsentrasi 10% Gambar 6.67 mg/l menjadi 850 mg/l.67 mg/l sedangkan jumlah total bakteri pendegradasi meningkat dari 3.166.5 menjadi pH 7.15% sedangkan pada konsentrasi 5% dan 10% menurun sebesar 81. amonia.5 sedangkan konsentrasi amonia limbah dari 216. Menandakan jumlah mikroba yang mendegradasi mulai berkurang. Tabel 6. Konsentrasi TSS meningkat dari 3000 mg/l menjadi 3.93% dan pada waktu inkubasi 72 jam kenaikan 2. Grafik TPC pada Limbah dengan Kombinasi Waktu Inkubasi dan Konsentrasi Mikroba Komersial BSL MW 01 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian degradasi polutan limbah cair pengolahan rajungan (Portunus pelagicus) dengan menggunakan mikroba komersial BSL MW 01 adalah dengan penambahan mikroba komersial dengan beberapa variasi konsentrasi dalam air limbah rajungan dapat meningkatkan dan menurunkan kadar konsentrasi limbah rajungan. pada waktu inkubasi 48 jam kenaikan jumlah bakteri sebesar 5. Pada waktu inkubasi 48 dan 72 jam pada konsentrasi penambahan mikroba komersial 10% penurunan sebesar 30% dan 11.39%. Pada limbah dengan tanpa mikroba tambahan masih terjadi peningkatan bakteri walaupun tingkat pertumbuhannya tidak cepat. .53 mg/l menjadi 7.11%.70%.inkubasi masa aktif dari bakteri sudah mulai berkurang terlihat dari penurunan jumlah bakteri. TSS dan dan total bakteri air limbah rajungan sedangkan parameter yang menurun konsentrasinya adalah BOD dan DO. Pada konsentrasi 0% masih terjadi peningkatan yang rendah yaitu 3.1 mg/l menjadi 1575 mg/l dan DO menurun dari 7.6 x 106 menjadi 2.07% dan 76.46 mg/l.5 x 107 Cfu/ml Konsentrasi BOD menurun dalam air limbah dari 1936.

2001. Sa’id E . P. 2011. Masalah Pencemaran. Junaidi dan Hatmanto.P. RK. Feliatra. Linsley. Aziziah. Standard Methods for Examination of Water and Wastewater. 9215 Heterotrophic Plate Count.33. Erlangga. 2009. Jakarta Mahida. Daryanto. hlm 1-11. Jurnal Nature.A dan Sumertajaya. 2005. Online: Envo09.html. Indonesia II (1) : 28 . Akses tertanggal 28 Mei 2012. Alaerts G and Santika SS. Jakarta : Penebar Swadaya. Prosiding Pelatihan dan Lokakarya. 2006. 2008. Jakarta. Bioindustri. . Rajawali. 20th Edition. Iskandar Indah Printing Textile Surakarta). Bogor: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Ginting. Acetobacter. 2010. Skripsi. Hubungan keadaan kimiawi dan mikrobiologik ikan pindang naya pada penyimpanan suhu kamar dengan sifat organoleptiknya. Penanganan Limbah Industri Pangan.A.1992. 24-28 Jun 1996.. Pengantar Bioremediasi.1995. BPPT. Analisis Teknologi Pengolahan Limbah Cair. 1984. Jakarta: FKM-UI. dan W.D. Agritech15(1. 1995.Saran Bioremediasi limbah rajungan tidak hanya menggunakan mikroba komersial saja sebaiknya dilakuan penelitian dengan kultur campuran mikroba lain seperti : Lactobacillus. Cibinong. Kusnoputranto dan Haryoto. Franzini. Anonim. Anonim. Online : http//chemistryismyworld. Firmawan.sungai 07. Th. Pada Industri Tekstil (Studi Kasus PT. 1 No. DAFTAR PUSTAKA American Public Health Association. Institut Pertanian Bogor. Anonim.DR/890. Pengaruh Limbah Tinja Terhadap Badan Tanah. Bandung.I. CV. UnilaBanjarbaru. American Water Works Association and Water Environtment Federation. Ihsan. pH dan TSS bila dibuang ke badan air. JB. Pencemaran air dan Pemanfaatan Limbah Industri. Html. Surabaya. Datalogging and Colorimeter. 1991. Perancangan Percobaan dengan Aplikasi dan Minitab Jilid I. Jakarta Anonim. 1987. 2009. BAPEDAL-. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 1993. mengingat masih tinggi kandungan amonia. Citroreksoko P. Jilid. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. Hubungan antara Total Suspended Solid dengan Turbidity dan Dissoved Oxygen Online: http//thorik-staff. 2008. HACH.06 Tahun 2007 tentang Baku Mutu Air Limbah Bagi Usaha Dan/Atau Kegiatan Pengolahan Hasil Perikanan Yang Melakukan Lebih Dari Satu Jenis Kegiatan Pengolahan. Kep-51/MENLH/10/1995”. 2 .3):19-23. Analisa Kimia Sampel Air Sungai : Penentuan Zat Padat Tersuspensi (TSS) dan Zat Padat Terlarut (TDS).RN. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. Identifikasi Bakteri Patogen (Vibrio sp. Mattjik. ISSN 1907-187X. Jakarta. Harianja. Sistem Pengelolaan Lingkungan dan Limbah Industri. Rahayu.I. Di dalam : Peranan Bioremediasi dalam Pengelolaan Lingkungan. Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Rumah Sakit. Air Limbah dan Ekskreta Manusia. Jenie. 2007. CO Hadiwiyoto S.blogspot. Metode Penelitian Air.S. 1984. Tarsito: Bandung. Bogor: IPB Press. 1999. Mutiara Laut Kabupaten Serang Propinsi Banten. IPB. Strategi Pengembangan Usaha Daging Rajungan CV.Yrama Widya.com/2010_05_01archive.Akses tertanggal 2 April 2012. Huda.L. Badan Pengendalian Dampak Lingkungan.1996.uii.) di Perairan Nongsa Batam Propinsi Riau. Penerbit: Usaha Nasional. Cibinong: LIPI.82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air di Jakarta. Gumbira. Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi. Loveland. Penerbit CV. HSF. Edisi ke-3.com/2011/05analisa-kimia-sampel-air.Jurnal PRESIPITASI Vol. 2007. 1990. Deodorisasi Limbah Lateks Pekat dan Dekolorisasi Zat Pewarna Tekstil Secara Enzimatis dengan Formula Omphalina sp. Kep-50/MENLH/11/1996 tentang Baku Mutu Tingkat Kebauan. Aksestertanggal 10 Mei 2012. 1998. P. [Skripsi]. 1 September 2006.ac. Sacharomyces. B. 2003.id/2009/08/23/hubungan-antara-total-suspended-solid-dengan-turbidity-dan- dissolved-oxygen/. Teknik Sumber Daya Air. Tentang Pengendalian Pencemaran Air.“Surat Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup.2. Jakarta Anonim. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 1990. 1996.blogspot..M.

Ricky Rositasari dan S. 1994. Putra Utama. UI Press. Tangerang (Djoko P. Bali. Jakarta Shukla KP. Singh NK dan Sharma S. Pengemasan Daging Rajungan Pasteurisasi Dalam Kaleng.com/PDFinterstitial. Adv.http://Mizards. 1996.com/gebj. & E. Karateristik Biosurfaktan dari Azotobacter chroccum. Ratna Siri Hadioetomo. Universitas Indonesia Press. A. 24-28 Jun 1996. Makalah Pelatihan untuk Pelatih Pengelolaan (TOT) Wilayah Pesisir Terpadu. Bioremediation : Developments. hlm 139-161. P.Products and Waste for Animal Feed in Relation to Environmental Sanitation. 2009.P. MG.72:2009. Jurnal Mikrobiologi Indonesia.2011. Kerjasama PKSPL IPB – Proyek Pesisir CRC URI. Goba. Jakarta. 2008. 2000. Enny.. Genetic Engineering and Biotechnology Journal 3:1-20. McGraw-Hill.. Diakses tanggal 22 April 2012.disoveryindonesia.Suryatmana. 2011. Md.. da Fonseca MMR dan de Carvalho CCCR. BPPT. Penterjemah . [terhubung berkala]. Gramedia Pustaka Utama. Available at http://journal.Edwan. Dalam : Foraminifera Sebagai BioindikatorPencemaran. G Reed.LIPI hal 42 – 46 Santosa. Kadar Oksigen Terlarut di Perairan Sungai Dadap. Bioaugmentation and Biostimulation Strategies to Improve the Effectiveness of Bioremediation Processes. SNI.. 11:30-34. Widigdo. Salmin. Mirzard. Dasar-dasar Pengolahan Air Limbah.PD.) P3O . Analisis cuplikan dalam air limbah. Pemanfaatan Pesisir dan Lautan untuk Kegiatan Perikanan Budidaya (Aquaculture). Di dalam : Peranan Bioremediasi dalam Pengelolaan Lingkungan. A. 1981. SNI 6989. 51(114-154). Chan. Diakses tanggal 21 Mei 2012. hlm 1-20. 1986. Mukhlis. 1994. A. FMIPA.. Cibinong: LIPI. 1. HadiRiyono. eds. Bogor. Cibinong. Mikroba Pengolah Limbah. Isolasi Bakteri Pendegradasi Minyak/Lemak dari Beberapa Sedimen Perairan Tercemar dan Bak Penampungan Limbah. Lunggani. MuaraKarang dan Teluk Banten. M. Mikrobiologi Pangan I.Universitas Udayana.com/. Hasil Studi di Perairan EstuarinSungai Dadap. Tyagi M. Wiesmann U.perhitungan+jumlah+mikroba. 22:231-241. New York.wordpress. Dasar-Dasar Mikrobiologi 1. Review Paper. Prosiding Pelatihan dan Lokakarya. 2008. 2010. Biotechnology vol. HSF. 13-28 November 2000. . K. Biological Nitrogen Removal from Wastewater. Akses tertanggal 20 Maret 2012. Fakultas Peternakan Unud 3-28 Februari 1992. Wisjunuprapto. http://astonjournals.Metcalf and Eddy.Praseno.C. Produksi dan Persediaan Limbah Pertanian dan Limbah Industri Pertanian di Indonesia. Rehm HJ.. T. 2nd Ed. Suyasa IWB.S. Microbial Fundamentals. Sugiharto (1987). In Biochemical Engineering/Biotechnology. 2008. Weinheim : Verlag Chemic. Pelczar. 2006. 2000. Air dan Air Limbah – Bagian 72: Cara Uji Kebutuhan Oksigen Biokimia (Biological Oxygen Demand/BOD).J. Fiechter (ed) Vol. 1992. Biodegradation.Makalah/Materi Short Course of Recycling of Agricultural and Industrial By . Jurusan Kimia. Current Practices and Perspectives. Simanjuntak P. Rukmi. Suprihadi. 2012. B. Waste water Engeneering Treatment. Nitis. Jakarta. Disposal and Reuse. Akses tertanggal 28 Juni 2012. I.id). 2006. Jakarta.