MODUL SISTEM SYARAF

LEARNING ISSUE – LBM 1

1. Jelaskan anatomi, histologi, dan fisiologi dari sistem saraf!
a. ANATOMI
- Sistem saraf: SSP (encepalon dan medula spinalis) dan SST (N.
cranial dan N. spinalis)
- Embryologi: Encepalon  prosensepalon (telensepalon (hemisfer
cerebri) dan diensepalon (thalamus dan hipothalamus)),
mesensepalon, rhombensepalon (metensepalon (pons dan
cerebellum) dan myelensepalon (medula oblongata))
- Lapisan kepala (pelindung encepalon dll): Kutis – Subkutis – Gallea
aponeurotika – Jaringan ikat longgar – Cranium – Cavum epidural –
Duramater (Endosteal dan Meningeal (Falx Cerebri, Tentorium
Cerebelli, Falx cerebelli, diphragma cella, cavum trigeminal meckeli))
– Cavum subdural – Arachnoideamater – Cavum subarachnoid –
Piamater
- Batang otak terdiri dari mesensepalon, pons, medula oblongata 
medula spinalis yang dilindungi oleh ossis vertebrae
b. HISTOLOGI
- Neuron : terdiri atas dendrit (menerima impuls), badan sel, dan akson
c. FISIOLOGI
- Sistem saraf simpatis : Reseptor mikotinik mengubah asetil kolin
yang ditangkap menjadi norepinefrin  ditangkap reseptor
adrenergik
- Sistem saraf simpatis : Reseptor mikotinik mengubah asetil kolin 
ditangkap reseptor muskarinik
- Mekanisme keadaan sadar penuh menjadi turun/terjadi penurunan
kesadaran :
 Impuls yang kurang dari N. afferen atau kurangnya produksi
neurotransmitter
 Adanya blokade ARAS (pengatur fungsi kesadaran)  sampai
pingsan
- Mekanisme jalannya impuls (jaras) dari N. afferen ke otak dan ke N.
efferen
- Fungsi per bagian encepalon :
a. Cerebri
b. Dst

LEARNING ISSUE

Fisiologis

Otak dapat berfungsi dengan baik bila kebutuhan oksigen dan glukosa
dapat terpenuhi. Energi yang dihasilkan didalam sel-sel saraf hampir seluruhnya
melalui proses oksidasi. Otak tidak mempunyai cadangan oksigen, jadi
kekurangan aliran darahke otak walaupun sebentar akan menyebabkan gangguan
fungsi. Demikian pula dengan kebutuhan oksigen sebagai bahan bakar

metabolisme otak tidak boleh <20 mg %, karena akan menimbulkan koma.
Kebutuhan glukosa sebanyak 25 % dari seluruh kebutuhan glukosa tubuh,
sehingga bila kadar glukosa plasma turun sampai 70 % akan terjadi gejala-gejala
permulaan disfungsi cerebral. Pada saat otak mengalami hipoksia, tubuh berusaha
memenuhi kebutuhan oksigen melalui proses metabolik anaerob yang dapat
menyebabkan dilatasi pembuluh darah. Pada kontusio berat, hipoksia atau
kerusakan otak akan terjadi penimbunan asam laktat akibat metabolisme
anaerob. Hal ini akan menyebabkan asidosis metabolik. Dalam keadaan normal
cerebral blood flow (CBF) adalah 50 - 60 ml / menit / 100gr. jaringan otak, yang
merupakan 15 % dari cardiac output. Trauma kepala menyebab kan perubahan
fungsi jantung sekuncup aktivitas atypical myocardial,perubahan tekanan vaskuler
dan udem paru. Perubahan otonom pada fungsi ventrikel adalah perubahan
gelombang T dan P dan disritmia, fibrilasi atrium dan ventrikel,takikardia. Akibat
adanya perdarahan otak akan mempengaruhi tekanan vaskuler, dimana
penurunan tekanan vaskuler menyebabkan pembuluh darah arteriol akan
berkontraksi. Pengaruh persarafan simpatik dan parasimpatik pada pembuluh
darah arteri dan arteriol otak tidak begitu besar.

Guyton& hall, Buku ajar fisiologi kedoteran . EGC : Jakarta

a. Hukum Monroe-Kellie

Volume intrakranial adalah tetap karena sifat dasar dari tulang tengkorang
yang tidak elastik. Volume intrakranial (Vic) adalah sama dengan jumlah
total volume komponen-komponennya yaitu volume jaringan otak (V br),
volume cairan serebrospinal (V csf) dan volume darah (Vbl).

Vic = V br+ V csf + V bl

b. Tekanan Perfusi Serebral

Adalah selisih antara mean arterial pressure (MAP) dan tekanan intarkranial
(ICP). Pada seseorang yang dalam kondisi normal, aliran darah otak akan
bersifat konstan selama MAP berkisar 50-150mmhg. Hal ini dapat terjadi
akibat adannya autoregulasi dari arteriol yang akan mengalami
vasokonstriksi atau vasodilatasi dalam upaya menjaga agar aliran darah ke
otak berlangsung konstan.

PERDOSSI cabang Pekanbaru. Simposium trauma kranio-serebral tanggal 3
November 2007. Pekanbaru : PERDOSI;2007.

1. Tekanan Intra Kranial
Biasanya ruang intrakranial ditempati oleh jaringan otak, darah, dan
cairan serebrospinal. Setiap bagian menempati suatu volume tertentu
yang menghasilkan suatu tekanan intra kranial normal sebesar 50

yaitu : otak ( 1400 g). Mekanisme kompensasi yang . Ruang intra kranial adalah suatu ruangan kaku yang terisi penuh sesuai kapasitasnya dengan unsur yang tidak dapat ditekan. tekanan intra kranial (TIK) dipengaruhi oleh aktivitas sehari-hari dan dapat meningkat sementara waktu sampai tingkat yang jauh lebih tinggi dari normal. dan darah (sekitar 75 ml).sampai 200 mmH2O atau 4 sampai 15 mmHg. cairan serebrospinal ( sekitar 75 ml). Mekanisme kompensasi intra kranial ini terbatas. tetapi terhentinya fungsi neural dapat menjadi parah bila mekanisme ini gagal. Dalam keadaan normal. 2. dua komponen lainnya harus mengkompensasi dengan mengurangi volumenya ( bila TIK masih konstan ).2003 ). Hipotesa Monro-Kellie Teori ini menyatakan bahwa tulang tengkorak tidak dapat meluas sehingga bila salah satu dari ketiga komponennya membesar. Peningkatan volume pada salah satu dari ketiga unsur utama ini mengakibatkan desakan ruang yang ditempati oleh unsur lainnya dan menaikkan tekanan intra kranial (Lombardo. Kompensasi terdiri dari meningkatnya aliran cairan serebrospinal ke dalam kanalis spinalis dan adaptasi otak terhadap peningkatan tekanan tanpa meningkatkan TIK.

Jelaskan mekanisme tidur! Apakah tidur termasuk penurunan kesadaran??? 3. 2. 2003).Tanda vital : a.ALMIRA PRATIWI .Pupil isokor (refleks cahaya) : Respon positif Glasgow Coma Scale Eye Opening Response • Spontaneous--open with blinking at baseline 4 points • To verbal stimuli. mekanisme kompensasi tidak efektif dan peningkatan tekanan dapat menyebabkan kematian neuronal (Lombardo.Rangsang nyeri. Mengapa keluar darah dari telinga dan hidung? 4.Adanya blokade ARAS (pengatur fungsi kesadaran)  sampai pingsan. TD : Menurun b. membuka mata dan memberikan respon withdrawal : Respon positif CARI SKOR GCS! . command. misal saat trauma  LENGKAPI!!! . Apa interpretasi dari pemeriksaan fisik yang dilakukan? .30101407128 SGD 24 berpotensi mengakibatkan kematian adalah penurunan aliran darah ke otak dan pergeseran otak ke arah bawah ( herniasi ) bila TIK makin meningkat. Mengapa pasien mengalami penurunan kesadaran? . Apabila peningkatan TIK berat dan menetap.Mengorok ??? . RR  Meningkat . Nadi : Meningkat  Keluar darah banyak – Kompensasi dengan meningkatkan frekuensi denyut nadi c. Dua mekanisme terakhir dapat berakibat langsung pada fungsi saraf. speech 3 points • To pain only (not applied to face) 2 points • No response 1 point Verbal Response .Impuls yang kurang dari N. afferen atau kurangnya produksi neurotransmitter .

American College of Surgeons. 34:45-55. Teasdale G. no word verbalizations (3-8) Head Injury Classification: Severe Head Injury----GCS score of 8 or less Moderate Head Injury----GCS score of 9 to 12 Mild Head Injury----GCS score of 13 to 15 (Adapted from: Advanced Trauma Life Support: Course for Physicians. no ability to follow commands. 81-84.30101407128 SGD 24 • Oriented 5 points • Confused conversation. but able to answer questions 4 points • Inappropriate words 3 points • Incomprehensible speech 2 points • No response 1 point Motor Response • Obeys commands for movement 6 points • Purposeful movement to painful stimulus 5 points • Withdraws in response to pain 4 points • Flexion in response to pain (decorticate posturing) 3 points • Extension response in response to pain (decerebrate posturing) 2 points • No response 1 point References Teasdale G. Assessment of coma and impaired consciousness. Lancet 1974. Disclaimer: .ALMIRA PRATIWI . Jennett B. Assessment and prognosis of coma after head injury. Categorization: Coma: No eye opening. Acta Neurochir 1976. 1993). Jennett B.

diabetic ketosis). Womack Army Medical Center. 337:535-538). verbal performance. Teasdale G. Jenis Pemeriksaan Respon buka mata (Eye Opening. The predictive value of the GCS. hepatic or renal failure. mengerang) · Tidak ada suara Respon motorik terbaik (M) · Ikut perintah · Melokalisir nyeri (menjangkau & menjauhkan stimulus saat diberi rangsang nyeri) · Fleksi normal (menarik anggota yang dirangsang) · Fleksi abnormal (dekortikasi: tangan satu atau keduanya posisi kaku diatas dada & kaki extensi saat diberi rangsang nyeri) · Ekstensi abnormal (deserebrasi: tangan satu atau keduanya extensi di sisi tubuh. Young RF. 126:1237- 1242). J Neurol Neurosurg Psychiatry 1978. Washington. E) · Respon spontan (tanpa stimulus/rangsang) · Respon terhadap suara (suruh buka mata) · Respon terhadap nyeri (dicubit) · Tida ada respon (meski dicubit) Respon verbal (V) · Berorientasi baik · Berbicara mengacau (bingung) · Kata-kata tidak teratur (kata-kata jelas dengan substansi tidak jelas dan non-kalimat. and eye opening to appropriate stimuli. in Becker DP. 1985. Source: Adapted from Glascow Coma Scale. dengan jari mengepal & kaki extensi saat diberi rangsang nyeri) · Tidak ada (flasid) . Government Printing Office. DC: U. metabolic disorders (e. Povlishock JR (eds): Central Nervous System Trauma Status Report. Education is necessary to the proper application of this scale. 1988:271-280). Observer variability in assessing impaired consciousness and coma.S. etc.ALMIRA PRATIWI . Fort Bragg. Outcome after head injury: Part I: general Considerations. “aduh… bapak.. health care practitioners continue to use this practical scale widely. 41:603-610. the Glascow Coma Scale was designed and should be used to assess the depth and duration coma and impaired consciousness.. Lancet 1991. misalnya. Rowley G. NC. Reliability and accuracy of the Glasgow Coma Scale with experienced and inexperienced users. Fielding K. Sundine MJ. Is early prediction of outcome in severe head injury possible? Arch Surg 1991. Despite these and other limitations (Eisenberg HM. van der Sande J. Kril-Jones R.g.”) · Suara tidak jelas (tanpa arti. This scale helps to gauge the impact of a wide variety of conditions such as acute brain damage due to traumatic and/or vascular injuries or infections. hypoglycemia.30101407128 SGD 24 Based on motor responsiveness. is limited (Waxman K. even when applied early.

30101407128 SGD 24 Berdasarkan buku Advanced Trauma Life Support. enggan merespon keadaan sekitar/acuh tak acuh (GCS 12-13) c. respon pupil masih positif (3) ???NARKOLEPSI??? 7. tidak merespon thdp rangsang nyeri. Berat: Lebih dari 6 jam. Kompos mentis : kesadaran normal/sadar penuh (GCS 14-15) b. kesadaran kompos mentis b. GCS berguna untuk menentukan derajat trauma/cedera kepala (trauma capitis). respon thdp rangsang nyeri menurun. Semicomma: tidur.Klasifikasi GCS: a. Bagaimana klasifikasi trauma kepala? . Somnolen: respon psikomotor lambat. Apatis : kesadaran mulai menurun. Sedang: Antara 11 menit sampai 6 jam. dapat memberi jawaban secara sadar (GCS 7-9) Setelah minum alkohol/obat-obatan narkotika  bisa disebut sebagai somnolen e. Bagaimana klasifikasi derajat kesadaran? Tingkat kesadaran: a. respon pupil masih positif (4) g. Sopor/soporocomma: tidur. mudah tertidur. bisa bangun jika diberi rangsangan. Ringan: Pingsan kurang dari 10 menit.ALMIRA PRATIWI . Derajat cedera kepala berdasarkan GCS: GCS : 13-15 = CKR (cedera kepala ringan) GCS : 9-12 = CKS (cedera kepala sedang) GCS : 3-8 = CKB (cedera kepala berat) 5. Derilium: gelisah. halusinasi/berhayal (GCS 11-10) Setelah diberi obat sedatif  mengantuk d. kesadaran sopor sampai comma . Trauma kepala primer : benturan kepala langsung . tapi masih direspon dengan rangsang nyeri (GCS 5-6) f. Comma: tidur. Apa hubungan antara nafas pasien berbau alkohol dengan trauma yang dialami? Pasien mengonsumsi alkohol  pengaruhi sistem saraf karena menembus Blood Brain Barrier  berefek ke otak secara langsung 6. Trauma kepala sekunder : akibat dari trauma primer (iskemik otak dan perdarahan) Klasifikasi Trauma Kapitis Klasifikasi Cedera kepala . kesadaran dari apatis sampai somnolen c.

di pukul ) α Luka tembak α Cedera tembus Tembus lain Beratnya Ringan GCS 14-15 Sedang GCS 9-13 Berat GCS 3-8 Morfologi Fraktur tengkorak 1.30101407128 SGD 24 Mekanik Tumpul α Kecepatan tinggi ( tabrakan mobil ) α Kecepatan rendah ( jatuh. Fokal Epidural Subdural Intraserebra 2.ALMIRA PRATIWI . Difus Konkusi Konkusi multiple Hipoksia/iskemik ATLAS AMERICAN COLLEGE OF SURGEONS COMMITTEE ON TRAUMA HAL 174 . Dasar tengkorak Dengan / tanpa kebocoran CSS Dengan / tanpa paresis N VII Lesi intra kranial 1. Kalvaria Garis vs bintang Depresi/ non depresi Terbuka/tertutup 2.

Linier . Cedera tumpul biasanya berkaitan dengan kecelakaan kendaraan bermotor. Menurut Brain Injury Association of Michigan (2005). beratnya cedera. dan dapat pula terbuka ataupun tertutup. Mekanisme Cedera Kepala Cedera otak dibagi atas cedera tumpul dan cedera tembus. 1. Fraktur dasar tengkorak biasanya memerlukan pemeriksaan CT scan dengan teknik “bone window” untuk memperjelas garis frakturnya..ALMIRA PRATIWI . Morfologi A. 1. Fraktur kranium terbuka dapat mengakibatkan adanya hubungan antara laserasi kulit kepala dengan permukaan otak karena robeknya selaput dura. Menurut Japardi (2004). klasifikasi fraktur tulang tengkorak sebagai berikut. Cedera tembus disebabkan oleh luka tembak ataupun tusukan. yaitu berdasarkan. Secara praktis dikenal 3 deskripsi klasifikasi. mekanisme.30101407128 SGD 24 Berdasarkan ATLS (2004) cedera kepala diklasifikasikan dalam berbagai aspek. Fraktur Kranium Fraktur kranium dapat terjadi pada atap atau dasar tengkorak. Adanya tanda-tanda klinis fraktur dasar tengkorak menjadikan petunjuk kecurigaan untuk melakukan pemeriksaan lebih rinci. klasifikasi keparahan dari Traumatic Brain Injury yaitu : 3. 2. dapat berbentuk garis/linear atau bintang/stelata. dibedakan atas : a. Gambaran fraktur. Adanya fraktur tengkorak tidak dapat diremehkan. karena menunjukkan bahwa benturan yang terjadi cukup berat. dan morfologi. Beratnya Cedera Kepala Glasgow Coma Scale (GCS) digunakan secara umum dalam deskripsi beratnya penderita cedera otak. atau pukulan benda tumpul. jatuh.

CT scan sering menunjukkan gambaran normal. 2. Perdarahan Epidural Hematoma epidural terletak di luar dura tetapi di dalam rongga tengkorak dan gambarannya berbentuk bikonveks atau menyerupai lensa cembung. Kontusio dan perdarahan intraserebral Kontusio serebri sering terjadi dan sebagian besar terjadi di lobus frontal dan lobus temporal. Keadaan luka. atau gambaran edema dengan batas area putih dan abu-abu yang kabur. 3. Terjadinya lesi kontusio  adanya akselerasi kepala dan pergeseran otak serta pengembangan gaya kompresi yang destruktif berhubungan dengan pusat keadaran  karena otak . Selama ini dikenal istilah Cedera Aksonal Difus (CAD) untuk mendefinisikan trauma otak berat dengan prognosis yang buruk. Diastase c. Terbuka b. Cedera otak difus yang berat biasanya diakibatkan hipoksia. dibedakan atas : a. Basis cranii ( dasar tengkorak ) 3. iskemi dari otak karena syok yang berkepanjangan atau periode apnoe yang terjadi segera setelah trauma. dalam waktu beberapa jam atau hari. Pada konkusi. Lesi Intra Kranial 1. dibedakan atas : a. penderita biasanya kehilangan kesadaran dan mungkin mengalami amnesia retro/anterograd. dimana gambaran CT scan normal sampai kondisi yang sangat buruk. Lokasi Anatomis. Pada beberapa kasus. Tertutup B. Perdarahan Subdural Perdarahan subdural lebih sering terjadi daripada perdarahan epidural. walaupun dapat juga terjadi pada setiap bagian dari otak. Sering terletak di area temporal atau temporo parietal yang biasanya disebabkan oleh robeknya arteri meningea media akibat fraktur tulang tengkorak. Perdarahan subdural biasanya menutupi seluruh permukaan hemisfer otak. Penelitian secara mikroskopis menunjukkan adanya kerusakan pada akson dan terlihat pada manifestasi klinisnya. Cedera otak difus Mulai dari konkusi ringan. Depressed 2.ALMIRA PRATIWI . Perdarahan ini terjadi akibat robeknya vena-vena kecil di permukaan korteks serebri. Biasanya kerusakan otak lebih berat dan prognosisnya jauh lebih buruk dibandingkan perdarahan epidural.30101407128 SGD 24 b. Kontusio serebri dapat. berubah menjadi perdarahan intra serebral yang membutuhkan tindakan operasi. Comminuted d. 4. membentang batang otak terlampau kuat  adanya blokad ereversible yang terkena lintasan ascenden retikularis difus tidak . Calvarium / Konveksitas ( kubah / atap tengkorak ) b.

Pada pemeriksaan klinis dapat ditemukan rhinorrhea dan raccon eyes sign (fraktur basis kranii fossa anterior). Fraktur diastasis — Fraktur diastasis adalah jenis fraktur yang terjadi pada sutura tulamg tengkorak yang mengababkan pelebaran sutura-sutura tulang kepala. fraktur impresi dianggap bermakna terjadi. Fraktur basis kranii — Fraktur basis kranii adalah suatu fraktur linier yang terjadi pada dasar tulang tengkorak. 5. Kondisi ini juga dapat . atau ottorhea dan batle’s sign (fraktur basis kranii fossa media). Fraktur impresi — Fraktur impresi tulang kepala terjadi akibat benturan dengan tenaga besar yang langsung mengenai tulang kepala dan pada area yang kecal. 2. Fraktur linier — Fraktur linier merupakan fraktur dengan bentuk garis tunggal atau stellata pada tulang tengkorak yang mengenai seluruh ketebalan tulang kepala. 3. Fraktur lenier dapat terjadi jika gaya langsung yang bekerja pada tulang kepala cukup besar tetapi tidak menyebabkan tulang kepala bending dan tidak terdapat fragmen fraktur yang masuk kedalam rongga intrakranial. jika tabula eksterna segmen yang impresi masuk dibawah tabula interna segmen tulang yang sehat.30101407128 SGD 24 mendapatkan input aferen  terjadi hilangnya kesadaran selama ada blokade reversible berlangsung. Durameter daerah basis krani lebih tipis dibandingkan daerah kalfaria dan durameter daerah basis melekat lebih erat pada tulang dibandingkan daerah kalfaria. Hal ini dapat menyebabkan kebocoran cairan cerebrospinal yang menimbulkan resiko terjadinya infeksi selaput otak (meningitis). Fraktur impresi pada tulang kepala dapat menyebabkan penekanan atau laserasi pada duremater dan jaringan otak. Jenis fraktur ini sering terjadi pada bayi dan balita karena sutura-sutura belum menyatu dengan erat. Sehingga bila terjadi fraktur daerah basis dapat menyebabkan robekan durameter. Fraktur basis kranii berdasarkan letak anatomi di bagi menjadi fraktur fossa anterior. fraktur fossa media dan fraktur fossa posterior. Secara anatomi ada perbedaan struktur di daerah basis kranii dan tulang kalfaria.ALMIRA PRATIWI . 4. Fraktur diastasis pada usia dewasa sering terjadi pada sutura lambdoid dan dapat mengakibatkan terjadinya hematum epidural. Fraktur tulang kepala Fraktur tulang tengkorak berdasarkan pada garis fraktur dibagi menjadi: 1. fraktur ini seringkali diertai dengan robekan pada durameter yang merekat erat pada dasar tengkorak. Fraktur kominutif — Fraktur kominutif adalah jenis fraktur tulang kepala yang meiliki lebih dari satu fragmen dalam satu area fraktur.

vestibulokokhlearis). 3. 2011) yang diklasifikasikan menjadi cedera otak fokal dan cedera otak difus. kejang dan hemiparesis. Perdarahan subdural biasanya menutupi seluruh hemisfir otak. Saraf wajah (N. Cedera kepala di area intrakranial Menurut (Tobing. Perdarahan subdural kronik atau SDH kronik — Subdural hematom kronik adalah terkumpulnya darah diruang subdural lebih dari 3 minggu setelah trauma. Pada penderita dengan tanda-tanda bloody/otorrhea/otoliquorrhea penderita tidur dengan posisi terlentang dan kepala miring ke posisi yang sehat. Gejala lain yang ditimbulkan antara lain sakit kepala. Pembentukan neomembran tersebut akan di ikuti dengan pembentukan kapiler baru dan terjadi fibrinolitik sehingga terjadi proses degradasi atau likoefaksi bekuan darah sehingga terakumulasinya cairan hipertonis yang dilapisi . 2.30101407128 SGD 24 menyebabkan lesi saraf kranial yang paling sering terjadi adalah gangguan saraf penciuman (N. mengejan. Penanganan dari fraktur basis kranii meliputi pencegahan peningkatan tekanan intrakranial yang mendadak misalnya dengan mencegah batuk.facialis) dan saraf pendengaran (N. Epidural hematom dapat menimbulkan penurunan kesadaran adanya interval lusid selama beberapa jam dan kemudian terjadi defisit neorologis berupa hemiparesis kontralateral dan gelatasi pupil itsilateral. Perdarahan ini terjadi akibat robeknya vena-vena kecil dipermukaan korteks cerebri. muntah. Perdarahan subdural akut atau subdural hematom (SDH) akut — Perdarahan subdural akut adalah terkumpulnya darah di ruang subdural yang terjadi akut (6- 3 hari). Dalam beberapa hari akan terjadi infasi fibroblast ke dalam clot dan membentuk noumembran pada lapisan dalam (korteks) dan lapisan luar (durameter). Perdarahan epidural atau epidural hematoma (EDH) — Epidural hematom (EDH) adalah adanya darah di ruang epidural yitu ruang potensial antara tabula interna tulang tengkorak dan durameter. Subdural hematom kronik diawali dari SDH akut dengan jumlah darah yang sedikit. dan makanan yang tidak menyebabkan sembelit. Cedera otak fokal yang meliputi: 1. Darah di ruang subdural akan memicu terjadinya inflamasi sehingga akan terbentuk bekuan darah atau clot yang bersifat tamponade. Biasanya kerusakan otak dibawahnya lebih berat dan prognosisnya jauh lebih buruk dibanding pada perdarahan epidural.ALMIRA PRATIWI . jika perlu dilakukan tampon steril (konsultasi ahli THT) pada tanda bloody/ otorrhea/otoliquorrhea. Jaga kebersihan sekitar lubang hidung dan telinga.olfactorius).

Intra cerebral hematom bukan disebabkan oleh benturan antara parenkim otak dengan tulang tengkorak.disamping itu dapat terjadi defisit neorologi yang berfariasi seperti kelemahan otorik dan kejang. maupun serabut yang .30101407128 SGD 24 membran semi permeabel. Perdarahan intra cerebral atau intracerebral hematom (ICH) — Intra cerebral hematom adalah area perdarahan yang homogen dan konfluen yang terdapat didalam parenkim otak. Luasnya PSA menggambarkan luasnya kerusakan pembuluh darah. 2011) maka cedera kepala difus dikelompokkan menjadi. Cedera akson difus (difuse aksonal injury) DAI — Difus axonal injury adalah keadaan dimana serabut subkortikal yang menghubungkan inti permukaan otak dengan inti profunda otak (serabut proyeksi). Jika keadaan ini terjadi maka akan menarik likuor diluar membran masuk kedalam membran sehingga cairan subdural bertambah banyak. PSA yang luas akan memicu terjadinya vasospasme pembuluh darah dan menyebabkan iskemia akut luas dengan manifestasi edema cerebri. bingung. kesulitan berbahasa dan gejala yang menyerupai TIA (transient ischemic attack). Cedera otak difus menurut (Sadewa. Derajat penurunan kesadarannya dipengaruhi oleh mekanisme dan energi dari trauma yang dialami. juga menggambarkan burukna prognosa. Dari gambaran morfologi pencitraan atau radiologi menurut (Sadewa. Gejala klinis yang dapat ditimbulkan oleh SDH kronis antara lain sakit kepala. 5.ALMIRA PRATIWI . Fasospasme luas pembuluh darah dikarenakan adanya perdarahan subarahnoit traumatika yang menyebabkan terhentinya sirkulasi diparenkim otak dengan manifestasi iskemia yang luas edema otak luas disebabkan karena hipoksia akibat renjatan sistemik. tetapi disebabkan oleh gaya akselerasi dan deselerasi akibat trauma yang menyebabkan pecahnya pembuluh darah yang terletak lebih dalam. 2011): Cedera kepala difus adalah terminologi yang menunjukkan kondisi parenkim otak setelah terjadinya trauma. Gejala klinis yang ditimbulkan oleh ICH antara lain adanya penurunan kesadaran. yaitu di parenkim otak atau pembuluh darah kortikal dan subkortikal. Perdarahan subarahnoit traumatika (SAH) — Perdarahan subarahnoit diakibatkan oleh pecahnya pembuluh darah kortikal baik arteri maupun vena dalam jumlah tertentu akibat trauma dapat memasuki ruang subarahnoit dan disebut sebagai perdarahan subarahnoit (PSA). 1. 4. bermanifestasi sebagai cedera kepala difus. Terjadinya cedera kepala difus disebabkan karena gaya akselerasi dan deselarasi gaya rotasi dan translasi yang menyebabkan bergesernya parenkim otak dari permukaan terhadap parenkim yang sebelah dalam.

Perubahan dalam perilaku sosial 8. Kehilangan fleksibilitas dalam berpikir 5. Cedera kepala yang sudah di uraikan di atas menurut (Judikh Middleton. Perubahan kondisi kejiwaan (mudah emosional) 7. dekat bagian belakang dan atas dari kepala: . Ketidakmampuan fokus pada tugas 6. Edema otak bilateral lebih disebabkan karena episode hipoksia yang umumnya dikarenakan adanya renjatan hipovolemik. Kerusakan sejenis ini lebih disebabkan karena gaya rotasi antara initi profunda dengan inti permukaan . dimana hal tersebut menunjukkan besarnya gaya yang sanggup merusak struktur parenkim otak yang terlindung begitu kuat oleh tulang dan cairan otak yang begitu kompak. Adanya gangguan pergerakan bagian tubuh (kelumpuhan) 2. 3. Edema cerebri — Edema cerebri terjadi karena gangguan vaskuler akibat trauma kepala. 4. seperti membuat kopi 3. 2.ALMIRA PRATIWI . Pada edema cerebri tidak tampak adanya kerusakan parenkim otak namun terlihat pendorongan hebat pada daerah yang mengalami edema. Lokasi kontusio yang begitu khas adalah kerusakan jaringan parenkim otak yang berlawanan dengan arah datangnya gaya yang mengenai kepala. Ketidakmampuan dalam berpikir (kehilangan memory) Lobus parietal. Ketidakmampuan untuk melkukan gerakan rumit yang di perlukan untuk menyelesaikan tugas yang memiliki langkah-langkah. 2007) akan menimbulkan gangguan neurologis/tanda-tanda sesuai dengan area atau tempat lesinya yang meliputi Lobus frontal atau bagian depan kepala dengan tanda-tanda: 1. Iskemia cerebri — Iskemia cerebri terjadi karena suplai aliran darah ke bagian otak berkurang atau terhenti. Kehilangan spontanitas dalam berinteraksi dengan orang lain 4.30101407128 SGD 24 menghubungkan inti-inti dalam satu hemisfer (asosiasi) dan serabut yang menghbungkan inti-inti permukaan kedua hemisfer (komisura) mengalami kerusakan. Perubahan dalam personalitas 9. Kejadian iskemia cerebri berlangsung lama (kronik progresif) dan disebabkan karena penyakit degeneratif pembuluh darah otak. Mekanisme lain yang menjadi penyebab kontosio cerebri adalah adanya gaya coup dan countercoup. Kontsuio cerebri — Kontusio cerebri adalah kerusakan parenkimal otak yang disebabkan karena efek gaya akselerasi dan deselerasi.

Kesulitan membedakan kiri dan kanan 7. Menelan makanan dan air (dysfagia) . Ketidakmampuan fokus pada perhatian fisual/penglihatan 10.ALMIRA PRATIWI . Gangguan perhatian selektif pada apa yang dilihat dan didengar 4. penting dalam berpidato 2. Kesulitan mengerjakan matematika (dyscalculia) 8. Kesulitan mengenali obyek yang bergambar 8. Buta kata-ketidakmampuan mengenali kata 7. Kesulitan memahami ucapan (afasiawernicke) 3. Penurunan dan peningkatan ketertarikan pada oerilaku seksual 8. Kesulitan mengenali wajah (prosoprognosia) 2. Gangguan memori jangka panjang 7. Penurunan kesadaran pada bagian tubuh tertentu dan/area disekitar (apraksia) yang memicu kesulitan dalam perawatan diri 9. Peningkatan perilaku agresif Batang otak : dalam di otak: 1. Kesulitan identifikasi dan verbalisai obyek 5. Ketidakmampuan untuk menghadirkan lebih dari satu obyek pada waktu yang bersamaan 2. Kesulitan koordinasi mata dan tangan Lobus oksipital. Ketidakmapuan untuk memberi nama sebuah obyek (anomia) 3. Ilusi visual-ketidakakuratan dalam melihat obyek 6. Gangguan pada penglihatan (gangguan lapang pandang) 2. Teriptanya halusinasi 5.30101407128 SGD 24 1. Kerusakan lobus kanan dapat menyebabkan pembicaraan yang persisten 10. Penurunan kapasitas vital dalam bernapas. Gangguan dalam membaca (alexia) 5. Kesulitan melokalisasi obyek di lingkungan 3. Ketidakmampuan untuk melokalisasi kata-kata dalam tulisan (agraphia) 4. Ketidakmampuan mengenali gerakan dari obyek 9. Kesulitan mengenali warna (aknosia warna) 4. Ketidakmampuan mengkategorikan onyek (kategorisasi) 9. Kesulitan membaca dan menulis Lobus temporal : sisi kepala di atas telinga: 1. area paling belakang. Kesulitan menggambar obyek 6. di belakang kepala: 1. Hilang ingatan jangka pendek 6.

Sakit kepala dan mual (vertigo) 6. Kehilangan kemampuan berjalan 3. namun tidak memberi respon yang sesuai dengan pernyataan yang di berikan. Cedera kepala penetrasi atau teraba fraktur depresi cranium (mansjoer. 1. Sakit kepala (vertigo) 6. Bergetar (tremors) 5. Kehilangan kemampuan untuk mengkoordinasi gerakan halus 2. Masalah dalam keseimbangan dan gerakan 5. Tidak adanya criteria cedera kepala sedang-berat Cedera kepala sedang dengan nilai GCS 9 – 13 Pasien bisa atau tidak bisa menuruti perintah.30101407128 SGD 24 3. Kesulitan tidur (insomnia. Pasien dapat mengeluh nyeri kepala dan pusing 5. Penurunan kesadaran sacara progresif 2. menuruti perintah tapi disorientasi. Kesulitan dalam organisasi/persepsi terhadap lingkungan 4. Pasien sadar. 2000) dapat diklasifikasikan penilaiannya berdasarkan skor GCS dan dikelompokkan menjadi: Cedera kepala ringan dengan nilai GCS 14 – 15 1. apnea saat tidur) Cerebellum : dasar otak: 1. Ketidakmampuan membuat gerakan cepat Klasifikasi cedera kepala berdasarkan beratnya Cedera kepala berdasarkan beratnya cedera. hemotimpanum. 2. Tidak ada kehilangan kesadaran 3. 2000) . Tanda kemungkinan fraktur cranium (tanda Battle. Muntah 3. Pasien dapat menderita laserasi. Tidak ada intoksikasi alkohol atau obat terlarang 4. otorea atau rinorea cairan serebro spinal) 4. menurut (Mansjoer. Kejang Cedera kepala berat dengan nilai GCS sama atau kurang dari 8 1. Amnesia paska trauma 2.ALMIRA PRATIWI . hematoma kulit kepala 6. Tanda neorologis fokal 3. mata rabun. Ketidakmampuan meraih obyek 4.

Pada daerah yang berlawanan dengan tempat benturan akan terjadi lesi yang disebut contrecoup. Dalam mekanisme cedera kepala dapat terjadi peristiwa coup dan contrecoup. Cedera primer yang diakibatkan oleh adanya benturan pada tulang tengkorak dan daerah sekitarnya disebut lesi coup.Bagaimana patogenesis dari kasus di skenario? Cidera primer. dapat disebabkan benturan langsung kepala dengan suatu benda keras maupun oleh proses akselarasideselarasi gerakan kepala. Perdarahan (EDH. Perbedaan densitas antara tulang tengkorak (substansi solid) dan otak (substansi semisolid) menyebabkan tengkorak bergerak lebih cepat dari muatan intrakranialnya. ICH). perubahan TIK. Apa saja pemeriksaan penunjang yang diusulkan? .S) . Perdarahan massive  Hb tidak membawa oksigen. Cedera primer merupakan cedera pada kepala sebagai akibat langsung dari suatu ruda paksa. dehidrasi). Sedang. Bergeraknya isi dalam tengkorak memaksa otak membentur permukaan dalam tengkorak pada tempat yang berlawanan dari benturan (contrecoup). Infeksi misal meningitis). Non Struktural (Hipoglikemi (Bagian mana yang cidera???).30101407128 SGD 24 8. Tes darah rutin (monitoring adanya perdarahan) . kelainan metabolisme  Cidera sekunder  Dst dst dst Pada cedera kepala. Diagnosis dan DD? .Bagaimana patofisiologi dari kasus di skenario? Pasien dicurigai mengonsumsi alkohol sebelumnya  Kesadaran di awal sudah turun  Cidera basis cranii  Perdarahan telinga dan hidung  Penurunan kesadaran 11. Jika perdarahan hanya di hidung/telinga saja bisa dikatakan fraktur basis cranii atau tidak??? .DD berdasarkan penurunan kesadaran : Struktural (Trauma (Ringan. Berat). Diagnosis : Cidera Kranio-Serebral  Basis cranii  perdarahan hidung dan telinga. Akselarasi-deselarasi terjadi karena kepala bergerak dan berhenti secara mendadak dan kasar saat terjadi trauma. ??? 9. . kerusakan otak dapat terjadi dalam dua tahap yaitu cedera primer dan cedera sekunder. SDH. dll??? Hasil akhir penurunan kesadaran antara struktural dan nonstruktural sama atau tidak??? 10.ALMIRA PRATIWI . Radiologi kepala (CT Scan sebagai G.

 Disability (utk mengetahui lateralisasi dan kondisi umum dng pemeriksaan cepat status umum dan neurologi) . Jakarta. 1981? 12. kerusakan neuron berkelanjutan. gigi yg patah. peningkatan tekanan intrakranial dan perubahan neurokimiawi. muntahan. Iskandar J. PT Dhiana Populer.30101407128 SGD 24 Gambar 3. Hindari cairan hipotonis. Coup dan contercoup Cedera sekunder merupakan cedera yang terjadi akibat berbagai proses patologis yang timbul sebagai tahap lanjutan dari kerusakan otak primer.  Circulation (sirkulasi) Pertahankan BP sistolik >90mmHg. Perhatikan frekuensi. Bila perlu lakukan intubasi (waspadai kemungkinan adanya fraktur tulang leher)  Breathing (pernafasan) Pastikan pernafasan adekuat. cari penyebab apakah terdapat gangguan pada sentral (otak dan batang otak) atau perifer (otot pernafasan atau paru2). berupa perdarahan. dsb. pola nafas dan pernafasan dada atau perut dan kesetaraan pengembangan dada kanandan kiri (simetris). Cedera Kepala. edema otak. Kelompok Gramedia. Bila perlu berikan oksigen sesuai dengan kebutuhan dng target saturasi O 2 >92%. Bila perlu berikan obat vasopresor dan atau inotropik.9% atau Ringer.ALMIRA PRATIWI . iskemia. Bila ada gangguan pernafasan. Berikan cairan IV NaCl 0.Bagaimana penatalaksanaan awal yang perlu dilakukan pada kasus seperti pada skenario? !!!CARI!!! Penatalaksanaan SURVEY PRIMER  Airway (jalan nafas) Bebaskan jalan nafas dengan memeriksa mulut dan mengeluarkan darah.

pupil. Past illness. neuroprotektan. BP). Tidur dng posisi kepala ditinggikan 30 derajat 3. Medications. Kritikal GCS 3-4 Perawatan di Unit Intensif Neurologi (Neurological ICU / ICU) B. Pemberian cairan dan nutrisi adekuat 6. CT scan otak.Urine : perdarahan (+) / (-) . Tanda vital : BP. ureum. Events/Environment related to the injury) SURVEY SEKUNDER. jika tersedia. Pupil : ukuran. RR. gerakan ekstremitas sampai pasien sadar. dengan tujuan menjaga saturasi oksigen minimum C. C. B. analisa gas darah dan elektrolit . Atasi komplikasi 5.ALMIRA PRATIWI . Luka2 . Dirawat 2x24jam 2. GCS. hitung jenis leukosit. nootropik sesuai indikasi. anti emetik.Darah : Hb. Lanjutkan penanganan ABC 2. dan reflek cahaya . Roboransia. nadi. PERDOSSI PENATALAKSANAAN SECARA UMUM DAN KHUSUS Umum : A. Jika tidak beri oksigen melalui masker oksigen. Jika pasien bernapas spontan selidiki dan atasi cedera dengan pasang oksimeter nadi. leukosit. meliputi pemeriksaan dan tindakan lanjutan setelah kondisi pasien stabil  Laboratorium . Last meal. lateral.30101407128 SGD 24 . Cegah kemungkinan terjadinya tekanan tinggi intracranial 4.12) 1. circulation ( sirkulasi ) : . kreatinin. dll sesuai indikasi Konsensus Nasional Penanganan Trauma Kapitis dan Trauma Spinal. airway ( jalan nafas ) : bersihkan jalan nafas dari debris dan muntahan.Pemberian terapi obat2an sesuai kebutuhan A. 3. Anamnesa : AMPLE (Allergies. Pemeriksaan neurology cepat : hemiparesis. foto lainnya sesuai indikasi. trombosit. Obat2 simptomatis spt analgetik. Pantau tanda vital (suhu.Siapkan untuk masuk ruang rawat . refleks patologis . GDS. RR.Siapkan untuk operasi pada pasien yang mempunyai indikasi . Trauma Kapitis Sedang – Berat (GCS 5 . bentuk.  Manajemen Terapi . breathing ( pernapasan ) : tentukan apakah pasien bernapas spontan atau tidak.Radiologi : foto polos kepala (AP. Trauma Kapitis Ringan (Komosio Serebri) 1.Penanganan luka2 . suhu . tangensial). GCS .

vi. muntah.30101407128 SGD 24 hentikan semua perdarahan dengan menekan arterinya D. dengan instruksi untuk segera kembali ke bagian gawat darurat jika timbul gejala perburukan. nutrisi : cedera kepala berat menimbulkan respon hipermetabolik dan katabolik dengan keperluan 50-100 % lebih tinggi dari normal. disability Khusus : a. mual. penilaian ulang jalan nafas dan ventilasi ii. pasien yang menderita komosio otak. foto servikal jelas normal iii. b. pemasangan alat monitor tekanan intrakranial pada pasien pada pasien dengan skor GCS < 8. tidak perlu dirawat. adanya orang yang bertanggung jawab untuk mengamati pasien selama 24 jam pertama.Komplikasi dari trauma kepala? . Resiko timbulnya lesi intrakranial lanjut yang bermakna pada pasien dengan cedera kepala sedang adalah minimal. cedera kepala ringan : pasien cidera kepala ini umunya dapat dipulangkan ke rumah tanpa perlu dilakukan pemeriksaan CT Scan bila memenuhi kriteria berikut: i. pusing. monitor tekanan darah iii. dengan skala koma glasglow 15 ( sadar penuh. bila memungkinan iv. orientasi baik dan mengikuti perintah ) dan CT Scan normal. Antibiotik : golongan penisilin dapat mengurangi resiko meningitis pneumokok pada pasien dengan otorea. cedera kepala berat i. Edisi Ke III 13.ALMIRA PRATIWI . c. ix. Temperatur badan : demam dapa mengeksaserbasi cedera otak dan harus diobati secara agresif dengan asetaminofen atau kompres dingin vii. penatalaksanan cairan : hanya larutan isotonis ( laruatan ringer laktat ) v. CT Scan lanjutan : dilakukan 24 jam setelah cedera awal awal pada pasien dengan perdarahan intrakranial untuk menilai perdarahan yang progresif atau yang timbul belakangan. Jilid II. cedera kepala sedang i. hasil pemeriksaan neurologis dalam batas normal ii. Pasien dapat dipulangkan untuk observasi di rumah meskipun terdapat nyeri kepala. Antikejang : fenitoin 15-20 mg/kg BB viii. atau amnesia. rinorea cairan serebrospinal. Kapita Selekta Kedokteran.