LAPORAN KASUS

FRAKTUR MANDIBULA

Disusun Oleh :

Ardy Oktaviandi 2012730010

Azlin Nur Suliany Sujali 2012730016

Pembimbing:

dr.Rini Febrianti,Sp.THT-KL

KEPANITERAAN KLINIK ILMU THT
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
PERIODE 20 FEBUARI 2017 – 25 MARET 2017
RSUD BANJAR
2017

BAB I
LAPORAN KASUS

2.1 Identitas Pasien
Nama : Tn.S
Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : 21 tahun
Alamat : Pangandaran
Agama : Islam
Pekerjaan : -
Status : Belum Menikah
No. CM : 3498xx
Tanggal Masuk : 08 Maret 2017
Tanggal Pemeriksaan : 10 Maret 2017

2.2 Anamnesis
2.2.1 Keluhan utama:
Nyeri pada rahang kanan bawah setelah kecelakaan lalu lintas

2.2.2 Riwayat penyakit sekarang:
Pasien mengalami kecelakaan lalu lintas 9 jam SMRS. Pasien mengaku mengalami
kecelakaan tunggal dan jatuh dari sepeda motor lalu terlempar ke aspal. Pada saat
kejadian pasien tidak menggunakan helm. Pasien merasakan kesulitan pada saat
membuka mulut. Pusing, mual maupun muntah disangkal pasien. Keluar cairan atau
darah dari telinga ataupun hidung disangkal. Pasien sempat pingsan tetapi tidak
mengetahui berapa lama,dan ketika sadar pasien sudah berada di klinik.Setelah dari
klinik pasien dirujuk ke RSUD Banjar untuk mendapatkan perawatan yang lebih
memadai

2.2.3 Riwayat penyakit dahulu:
 Pasien tidak pernah mengalami keluhan yang sama sebelumnya.

2.2.4 Riwayat penyakit keluarga:

1

2. Tenggorok : Lihat status lokalis 7. Kesan sosial ekonomi kurang. Pembiayaan dengan KIS. Telinga : Lihat status lokalis 4. Thorax a.2. refleks pupil (+/+) isokor Ɵ 3mm/3mm 3. teratur.5°C 2. Kepala : Normocephal(+). Leher : Lihat status lokalis 8. Mata : Konjungtiva anemis (-/-). Hidung :Lihat status lokalis 5. sianosis (-). Keadaan umum : Tampak sakit berat 2. Kesadaran : ComposMentis 3. Tanda Vital Tekanan darah : 110/70 Penafasan : 20 x/menit.4 Status Generalis 1.7 Riwayat Psikososial Pasien belum bekerja dan masih tinggal bersama orangtua.2. debu.5 Riwayat alergi: Riwayat alergi makanan. cuaca dan obat-obatan disangkal 2. yaitu pemasangan collar neck dan pada luka robek di bagian rahang kanan bagian bawah sudah dijahit. distribusi rata (+) 2. 2.6 Riwayat pengobatan: Sebelumnya pasien sudah diberikan pertolongan pertama di klinik. Mulut : Mukosa bibir lembab. kuat angkat Suhu : 36. stomatitis(-) 6. teratur Nadi :88 x/menit. Inspeksi : Kedua hemithoraks tampak simetris.3 Pemeriksaan Fisik 1. retraksi sela iga (-) 2 . Berat badan : 70 Kg 4. 2.  Tidak ada keluhan yang sama di keluarga. rambut berwarna hitam (+). sklera ikterik (-/-). 2.

datar b. Perkusi : Batas jantung relatif dalam batas normal d. Palpasi : Kedua hemithoraks terangkat simetris c. Inspeksi : Simetris. Palpasi : Ictus cordis teraba di ICS 5 linea midclavicularis sinistra c. Perkusi : Sonor pada semua lapang paru d. nyeri tekan epigastrium (-) c. ronkhi (-/-). Telinga Tabel 2. Ekstremitas a. Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat b. Auskultasi : Bunyi jantung I dan II regular 10. udema (-/-). Superior : Akral hangat. Palpasi : Supel. wheezing (-/-) 9. RCT < 2 detik (+) b. Auskultasi : Bising usus (+) normal 11. udema (-/-). b. Perkusi : Timpani pada seluruh kuadran abdomen d. Auskultasi : Suara napas vesikuler (+/+).1 Pemeriksaan Telinga 3 . RCT < 2 detik (+) 2. Jantung a.5 Status lokalis THT 1. Inferior : Akral hangat. Abdomen a.

helix sign (-) edema (-) edema (-) Preaurikula Peradangan (-). serumen(-) kering. pus (-).Hiperemis (-). refleks cahaya (+) di jam Membran timpani 5. retraksi (-) 7. Pembesaran KGB (-) Retroaurikula Peradangan (-). nyeri Peradangan (-). serumen(-) kering. nyeri tekan(-). nyeri Peradangan (-). refleks cahaya (+) di jam Intak. perikondritis (-). udem(-). Pembesaran KGB(-) tekan (-). massa(-) sekret (-). udem(-).Hiperemis (-). hiperemis (-). massa(-) Intak. hematoma (-). Pembesaran KGB (-) tekan (-). hematoma (-).helix sign(-). Pembesaran KGB (-) CAE Kulit tenang (+). pus (-). pus (-). AD AS Normotia. Kuit tenang (+). Aurikula Normotia. nyeri tekan (-). hiperemis (-). pus (-). perikondritis (-). retraksi (-) + Uji Rinne + Lateralisasi (-) Uji Weber Lateralisasi (-) Sama dengan pemeriksa Uji Schwabach Sama dengan pemeriksa Interpretasi : Telinga kanan dan kiri normal 4 . sekret (-).

2 Pemeriksaan Hidung Dextra Rhinoskopi anterior Sinistra Hiperemis (-) Mukosa Hiperemis(-) .3 Pemeriksaan Nasofaring Naofaring (Rhinoskopi posterior) Konka superior Sulit dinilai Torus tubarius Sulit dinilai Fossa Rossenmuller Sulit dinilai Plika salfingofaringeal Sulit dinilai Tabel 2.2. kemerahan kelopak mata bawah mata (-). Sinus paranasal Inspeksi : Pembengkakan kedua pipi (-). Hidung a. nyeri tekan medial atap orbita (-). Sekret - Hipertrofi (-) Konka inferior Hipertrofi (-) Deviasi (-) Septum Deviasi (-) (-) Massa (-) Normal Passase udara Normal b. Rinoskopi Anterior Tabel 2. nyeri ketuk pipi (-). pembengkakan kelopak mata atas (-) Palpasi :Nyeri tekan pipi (-). nyeri tekan kantus medius (-) 3. Tenggorok Tabel 2.4 Pemeriksaan Orofaring Pemeriksaan Orofaring Mulut 5 .

Terdapat vulnus laceratum dengan panjang ± 5 cm dengan dasar jaringan. Leher Tabel 2. warna sama seperti kulit sekitar. oedem (+).5Pemeriksaan Kelenjar Tiroid dan Kelenjar Getah Bening (KGB) Dextra Pemeriksaan Sinistra Pembesaran (-) Tiroid Pembesaran (-) Sulit dinilai Kelenjar submental Pembesaran (-) Sulit dinilai Kelenjar submandibula Pembesaran (-) Sulit dinilai Kelenjar jugularis superior Pembesaran (-) Sulit dinilai Kelenjar jugularis media Pembesaran (-) Sulit dinilai Kelenjar jugularis inferior Pembesaran (-) Sulit dinilai Kelenjar suprasternal Pembesaran (-) Sulit dinilai Kelenjar supraklavikularis Pembesaran (-) Regio Mandibula Inspeksi : deformitas(-). Mukosa mulut Sulit dinilai Lidah Sulit dinilai Palatum molle Sulit dinilai Gigi geligi Sulit dinilai Uvula Sulit dinilai Faring Mukosa Sulit dinilai Granula Sulit dinilai Post nasal drip Sulit dinilai Tonsil Dextra Pemeriksaan Tonsil Sinistra Sulit dinilai Mukosa Sulit dinilai Sulit dinilai Sulit dinilai Sulit dinilai Kripta Sulit dinilai Sulit dinilai Detritus Sulit dinilai Sulit dinilai Perlengketan Sulit dinilai 4.tanda-tanda inflamasi (-) 6 .

Terdapat vulnus laceratum dengan panjang ± 5 cm dengan dasar jaringan.tanda-tanda inflamasi (-) • Palpasi : nyeri tekan (+). Pusing. Nonmedikamentosa  Menjelaskan kepada pasien dan keluarga bahwa pasien mengalami patah tulang rahang bawah kanan. Setelah dari klinik pasien dirujuk ke RSUD Banjar untuk mendapatkan perawatan yang lebih memadai. Keluar cairan atau darah dari telinga hidung. Pasien mengaku mengalami kecelakaan tunggal dan jatuh dari sepeda motor lalu terlempar ke aspal. Pasien sempat pingsan tetapi tidak mengetahui berapa lama. S.Palpasi : nyeri tekan (+). Pasien sebelumnya mengalami kecelakaan lalu lintas 9 jam SMRS.6 Resume • Tn. warna sama seperti kulit sekitar.8 Pemeriksaan Penunjang Foto polos kepala posisi PA CT-scan kepala 2.9 Penatalaksanaan 1. mual maupun muntah disangkal pasien.7 Diagnosa Kerja Fraktur Mandibula dextra tertutup 2.  Menjelaskan kepada pasien dan keluarga bahwa akan dilakukan pemeriksaan rontgen gigi dan kepala untuk memastikan keadaan patahan tulang rahang dan menentukan tindakan yang akan diambil. 7 . • Status lokalis : • Regio Mandibula • Inspeksi : deformitas(-). Pasien merasakan kesulitan pada saat membuka mulut. krepitasi (+) 2. oedem (+).maupun mulut disangkal.Laki-laki 21 tahun datang ke IGD RSUD Banjar dengan keluhan nyeri pada rahang kanan bawah setelah kecelakaan lalu lintas. krepitasi (+) 2.dan ketika sadar pasien sudah berada di klinik. Pada saat kejadian pasien tidak menggunakan helm.

Muntah (-).Rembesan darah pada kassa (-). 36. Rencana Tindakan Penggunaan mini-plate & screw 2.5 C RR : 20x/m 13/03/2017 S : Pasien mengeluh bengkak pada pipi kanan bawah.telinga dan mulut disangkal.Nyeri menelan (+).Rembesan darah pada kassa (-). 36.kepala terasa pusing seperti berdenyut O : Status lokalis et regio mandibular dextra terdapat luka tertutup kassa dan terpasang collar neck.Pasien kesulitan membuka mulut O : Status lokalis et region mandibular dextra terdapat luka tertutup kassa dan terpasang collar neck.11 Prognosis Quo ad Vital : dubia ad bonam Quo ad Functionam : dubia ad bonam Quo ad Sanationam : dubia ad bonam Follow Up 09/03/2017 S : Pasien Mengalami kecelakaan 1 hari SMRS.Keluar darah dari hidung. Medikamentosa  IVFD RL 20tpm  Ceftriaxone 2 x 1 gram  Asam Mefenamat 3 x 500 mg 2.Nyeri 8 .  Menjelaskan kepada pasien agar mengurangi gerakan rahang bawah agar keadaan pasien tidak bertambah parah.5 C RR : 20x/m 10/03/2017 S : Pasien masih meneglukan nyeri di rahang bawah kanan.Nyeri tekan (+) TTV TD :120/80 mmhg N: 85 x/m S .Nyeri tekan (+) TTV TD :120/80 mmhg N: 85 x/m S .Saat kecelakaan pasien tidak menggunkan helm dan setelah kecelakaan pasien pingsan.

36.kemerahan (-).Nyeri (+).panas(-). (+).muntah 1x.collar neck sudah dilepas.bengkak (+).Pusing (+).tidak bisa membuka mulut O : Status lokalis et region mandibular dextra terdapat luka jahitan.5 C RR : 20x/m Hasil CT-Scan 9 . TTV TD :120/70 mmhg N: 88 x/m S .

Fraktur mandibula adalah putusnya kontinuitas tulang mandibula. dapat berakibat fatal bila tidak ditangani dengan benar. Hilangnya kontinuitas pada rahang bawah (mandibula). Menurut penyebab terjadinya a. menurut hubungan dengan jaringan sekitarnya. terjadi seperti pada penderita yang jatuh dengan tangan menumpu dan lengan atas- bawah lurus.3 Secara umum. Contohnya pada fraktur fibula pada olahragawan. Fraktur juga dapat terjadi akibat tarikan otot seperti fraktur patela karena kontraksi quadrisep yang mendadak. Klasifikasi fraktur mandibula2.1 B. dan menurut bentuknya. Trauma langsung yang mengenai anggota tubuh penderita. yang diakibatkan trauma oleh wajah ataupun keadaan patologis. BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Fraktur stress Trauma yang berulang dan kronis pada tulang yang mengakibatkan tulang menjadi lemah. Fraktur traumatik Frakur traumatik. Trauma tidak langsung. fraktur diklasifikasikan menurut penyebab terjadinya. pembengkokan (bending) atau kombinasi pembengkokan dengan kompresi yang berakibat fraktur butterfly. c. berakibat fraktur kaput radii atau klavikula. Gaya tersebut dihantarkan melalui tulang-tulang anggota gerak atas dapat berupa gaya berputar. gaya yang diterima oleh tubuh dapat menyebabkan fraktur. b. Definisi fraktur mandibula Fraktur adalah discontinuitas dari jaringan tulang yang biasanya disebabkan oleh adanya kecelakaan yang timbul secara langsung. Fraktur patologis 10 . maupun kombinasi gaya berputar. 1. pembengkokan dan kompresi seperti fraktur oblik dengan garis fraktur pendek. dapat disebabkan baik oleh trauma langsung maupun tidak langsung.

2. Fraktur komunitif. pembuluh darah. kulit di sekitar fraktur sobek sehingga fragmen tulang berhubungan dengan dunia luar (bone expose) dan berpotensi untuk menjadi infeksi. Regio mandibula2 11 . c. prosesus koronoid. Fraktur terbuka. di antaranya: 1. Sedangkan klasifikasi fraktur mandibula. Fraktur komplikasi. Garis fraktur bisa transversal. Fraktur ini umumnya terjadi di daerah tulang kanselus. Kedua fragmen fraktur terlihat saling impaksi atau masih saling tertancap. Kelainan ini dapat menggambarkan arah trauma dan menentukan fraktur stabil atau unstabil. Berdasarkan regio anatomis Menunjukkan regio-regio pada mandibula yaitu : badan. Biasanya fraktur terjadi spontan. b. Gambar 1. Fraktur inkomplit. prosesus alveolar. organ visera atau sendi. Fraktur komplit. Fraktur yang terjadi dapat pada satu. c. Garis fraktur membagi tulang menjadi dua fragmen atau lebih. prosesus kondilar. disebut juga fraktur tertutup. oblik atau spiral. oleh karena kulit di sekeliling fraktur sehat dan tidak sobek. 3. sudut. ramus. Menurut bentuknya a. simfisis. Fraktur yang menimbulkan lebih dari dua fragmen. Menurut hubungan dengan jaringan sekitar a. fraktur tersebut berhubungan dengan kerusakan jaringan atau struktur lain seperti saraf. b. d. Fraktur terbuka dapat berhubungan dengan ruangan di tubuh yang tidak steril seperti rongga mulut. Fraktur simple/tertutup. dua atau lebih pada region mandibula ini. Pada tulang telah terjadi proses patologis yang mengakibatkan tulang tersebut rapuh dan lemah. Fraktur kompresi.

Fraktur kelas 1 : gigi terdapat di 2 sisi fraktur. Fraktur ramus mandibula dan parasimfisis mandibula kiri4 2.4 Gambar 3. Simfisis – fraktur terjadi pada insisivus tengah yang berjalan dari alveolar melalui perbatasan inferior dari mandibula. penanganan pada fraktur kelas 1 ini dapat melalui interdental wiring (memasang kawat pada gigi) 12 . Fraktur parasimfisis mandibula kanan4 Badan – Fraktur yang terjadi dari distal simfisis bertepatan dengan perbatasan alveolar otot masseter. Berdasarkan ada tidaknya gigi5 Klasifikasi berdasarkan gigi pasien penting diketahui karena akan menentukan jenis terapi yang akan kita ambil.4 Gambar 2. Berikut derajat fraktur mandibula berdasarkan ada tidaknya gigi : a.4 Parasimfisis – fraktur terjadi dibatasi oleh garis vertikal kaninus. Dengan adanya gigi. Ramus mandibula – Dibatasi oleh aspek superior dari sudut dua saluran yang membentuk puncak pada sigmoid. penyatuan fraktur dapat dilakukan dengan jalan pengikatan gigi dengan menggunakan kawat.

Dislokasi. pelvis dll). C.5 Diagnosis fraktur mandibula berdasarkan atas anamnesa. Fraktur kelas 2 : gigi hanya terdapat di salah satu fraktur c. Mekanisme trauma merupakan informasi yang penting sehingga dapat menggambarkan tipe fraktur yang terjadi. Pertanyaan-pertanyaan kepada penderita maupun pada orang yang lebih mengetahui harus jelas dan terarah. 1. Fraktur kelas 3 : tidak terdapat gigi di kedua sisi fraktur. dan pemeriksaan penunjang. sehingga diperoleh informasi mengenai. Bila trauma ragu-ragu atau tidak ada maka kemungkian fraktur patologis tetap perlu dipikirkan. pemeriksaan penderita dengan kecurigaan fraktur mandibula harus mengikuti kaidah ATLS. Jika pasien stabil. atau bisa juga dengan cara intermaxillary fixation. berupa perubahan posisi rahang yg menyebabkan maloklusi atau tidak berkontaknya rahang bawah dan rahang atas 13 . pemeriksaan fisik. abdomen. apakah penderita merupakan penderita diabetes. Riwayat penderita harus dilengkapi apakah ada trauma daerah lain (kepala. pada keadaan ini dilakukan melalui open reduction. Pada penderita trauma dengan fraktur mandibula harus diperhatikan adanya kemungkinan obstruksi jalan nafas yang bisa diakibatkan karena fraktur mandibula itu sendiri ataupun akibat perdarahan intraoral yang menyebabkan aspirasi darah dan bekuan darah. atau riwayat alergi. torak. Diagnosis4. keadaan kardiovaskuler maupun sistem respirasi. kemudian dipasangkan plate and screw. circulation dan disability. perlu diketahui riwayat trauma. Gejala & Tanda Tanda – tanda patah pada tulang rahang meliputi : 1. breathing. dimana terdiri dari pemeriksaan awal (primar survey) yang meliputi pemeriksan airway. b. Anamnesis Pada kasus trauma.

Pergerakan rahang yang abnormal. Krepitasi berupa suara pada saat pemeriksaan akibat pergeseran dari ujung tulang yang fraktur bila rahang digerakkan. kelumpuhan dari bibir bawah. Pembengkakan pada sisi fraktur sehingga dapat menentukan lokasi daerah fraktur. b.2. akibat berkurangnya pergerakan normal mandibula dapat terjadi stagnasi makanan dan hilangnya efek “self cleansing” karena gangguan fungsi pengunyahan. mukosa mulut dan daerah sekitar fraktur. 6. deformitas atau dislokasi. Disability. biasanya bila fraktur terjadi di bawah nervus alveolaris. 9. Pembengkakan preaurikular sering menunjukkan adanya fraktur kondilus. Dilihat juga apakah terdapat gigi yang hilang. atau hematom. ekimosis. Rasa sakit pada saat rahang digerakkan 4. Inspeksi Inspeksi dimulai dari ektraoral kemudian ke intraoral. 2. Palpasi Pada palpasi dievaluasi daerah TMJ dengan jari pada daerah TMJ dan penderita disuruh buka-tutup mulut. Numbness. Perhatikan juga apakah terdapat maloklusi. 7. Pada luka yang mengarah ke fraktur terbuka harus diidentifikasi dan ditentukan menurut derajatnya menurut klasifikasi Gustillo. Pemeriksaan fisik a. Diskolorisasi perubahan warna pada daerah fraktur akibat pembengkakan 8. menilai ada tidaknya nyeri. Laserasi yg terjadi pada daerah gusi. 10. dapat terlihat bila penderita menggerakkan rahangnya atau pada saat dilakukan . Hipersalivasi dan Halitosis. terjadi gangguan fungsional berupa penyempitan pembukaan mulut. laserasi. 3. Untuk memeriksa apakah ada fraktur mandibula dengan palpasi 14 . 5. Kulit di sekitar wajah dan leher perlu diperhatikan apakah hiperemis. Perhatikan adanya deformitas.

Towne. menunjukkan adanya fraktur.  Fraktur kondilus  Fraktur pada anak 15 . pernafasan (breathing). pemeriksaan dapat dimulai dengan foto AP. 3. D. bila terdapat hal tersebut. b. sirkulasi darah termasuk penanganan syok (circulaation). CT scan juga berguna pada pasien dengan cedera serius. perdarahan. penaganan luka jaringan lunak dan imobilisasi sementara serta evaluasi terhadap kemungkinan cedera otak. Timbulnya kecurigaan fraktur mandibula tergantung dari jenis frakturnya.4. apakah cedera tunggal atau multipel. dan oblik.5 Prinsip penanganan fraktur mandibula pada langkah awal bersifat kedaruratan seperti jalan nafas (airway). Pemeriksaan rontgen Pada fraktur mandibula dapat dilakukan pemeriksaan penunjang foto Rontgen untuk mengetahui pola fraktur yang terjadi. Periksa juga status gusi. Pemeriksaan penunjang a. dilakukan evaluasi false movement dengan kedua ibujari di intraoral. Jika dicurigai cedera tunggal. CT Scan CT scan dapat digunakan untuk mengidentifikasi fraktur kondilus kompleks. atau hematom. korpus mandibula kanan dan kiri dipegang kemudian digerakkan keatas dan kebawah secara berlawanan sambil diperhatikan disela gigi dan gusi yang dicurigai ada frakturnya. seperti luka tembak atau fraktur komunitif. Tahap kedua adalah penanganan fraktur secara definitif yaitu reduksi/reposisi fragmen fraktur (secara tertutup (close reduction) dan secara terbuka (open reduction). terutama fraktur sagital atau dislokasi fossa glenoid. Reposisi tertutup Adapun indikasi untuk reposisi tertutup di antaranya:  Fraktur displace atau terbuka derajat ringan sampai sedang. apakah terdapat ekimosis. 1. Penatalaksanaan2. Bila ada pergerakan yang tidak sinkron antara kanan dan kiri maka false movement +.

Fiksasi ini dipertahankan 3-4 minggu pada fraktur daerah condylus dan 4-6 minggu pada daerah lain dari mandibula. Gambar 4. Ivy loop Gambar 5. dengan penggunaan kawat yang lebih kecil untuk memberikan fiksasi maxillomandibular (MMF) antara loop Ivy.  Fraktur eduntulous mandibula  Fraktur mandibula yang terdapat hubungan dengan fraktur panfacial  Fraktur patologis Tehnik yang digunakan pada terapi fraktur mandibula secara closed reduction adalah fiksasi intermaksiler. Fiksasi maksilomandibular  Teknik arch bar 16 . Beberapa teknik fiksasi intermaksila diantaranya:  Ivy loop Penempatan Ivy loop menggunakan kawat 24-gauge antara 2 gigi yang stabil. Fraktur komunitif berat atau fraktur dimana suplai darah menurun.

Pendekatan ekstraoral dapat dilakukan melalui submandibula. Gunning Splints juga telah digunakan pada kasus ini karena memberikan fiksasi dan dapat diberikan asupan makanan. didapatkan fragmen dentoalveolar pada salah satu ujung rahang yang perlu direduksi sesuai dengan lengkungan rahang sebelum dipasang fiksasi intermaksilaris  Reduksi tertutup pada edentulous mandibula Pada edentulous mandibula. Arch bar dapat ditempatkan dan intermaxillary fixation (IMF) dapat tercapai. rekonstruksi mandibula mungkin diperlukan untuk mengembalikan posisi anatomis dan fungsi. atau preaurikular. Pada kasus fraktur kominitif. (Setiap screw dari maxillofacial set dapat digunakan sebagai lag screw). Reposisi terbuka Indikasi reposisi terbuka di antaranya:  Fraktur terbuka atau displace derajat sedang sampai berat  Fraktur yang tidak tereduksi dengan reposisi tertutup  Unfavorable fracture Reposisi terbuka pada fraktur mandibula memiliki pendekatan intra dan ekstraoral. Gigi tiruan rahang atas dapat ditempelkan ke langit-langit. Gambar 6. Approach ekstraoral 17 . gigi palsu dapat ditranfer ke rahang dengan kabel circummandibular. submental. disertai fraktur maksila. Indikasi pemasangan arch bar antara lain gigi kurang/ tidak cukup untuk pemasangan cara lain. 2.

Jika perlu ikatan kawat ini dipasang di berbagai tempat untuk memperoleh fiksasi yang kuat.  Wiring (kawat) Kawat dibuat seperti mata. Setelah plat tepasang. kemudian mata tadi dipasang disekitar dua buah gigi atau geraham dirahang atas ataupun bawah. Adapun material yang bisa digunakan pada reposisi terbuka diantaranya wire.pendekatan intraoral lebih cepat dilakukan. Insisi retromandibular Dengan pendekatan intraoral. pemasangan dengan teknik yang tidak terlalu menekan lebih dipilih dalam pemasangan plat pada fraktur mandibula. dll. sehingga dapat menyatukan bagian fraktur dengan alveolus superior. E. regio mandibula dicapai melalui insisi vestibular di mukosa. wire mesh. Jika dibandingkan dengan pendekatan ekstraoral. dan risiko lebih kecil untuk mengenai saraf wajah. plat dan screw. Rahang bawah yang patah difiksasi pada rahang atas melalui mata di kawat atas dan bawah. oleh karena itu.  Plating Pemasangan plat bertujuan untuk memberi tahanan pada daerah fraktur. Komplikasi 18 . maka tidak dibutuhkan lagi fiksasi maksila. . Karena dengan pemasangan screw yang terlalu kuat akan mengkibatkan terjadinya kesulitan pada saat pelepasan. tidak memiliki parut ekstraoral. Dengan catatan pemasangan screw pada plat tidak dengan penekanan yang terlalu kuat. Gambar 7.

Faktor risiko yang paling besar adalah infeksi. kemudian aposisi yang kurang baik. Komplikasi yang paling umum terjadi pada fraktur mandibula adalah infeksi atau osteomyelitis. Tulang mandibula merupakan daerah yang paling sering mengalami gangguan penyembuhan fraktur baik itu malunion ataupun non-union. Kondisi inilah yang banyak dikeluhkan oleh pasien patah rahang yang tidak dilakukan perbaikan atau penanganan secara adekuat. 19 . Ada beberapa faktor risiko yang secara spesifik berhubungan dengan fraktur mandibula dan berpotensi untuk menimbulkan terjadinya malunion ataupun non-union. adanya benda asing. hal ini akan memberi keluhan berupa rasa sakit dan tidak nyaman (discomfort) yang berkepanjangan pada sendi rahang (Temporo mandibular joint) oleh karena perubahan posisi dan ketidakstabilan antara sendi rahang kiri dan kanan. Kelainan- kelainan ini dapat diperbaiki dengan melakukan perencanaan osteotomi secara tepat untuk merekonstruksi bentuk lengkung mandibula. Malunion yang berat pada mandibula akan mengakibatkan asimetri wajah dan dapat juga disertai gangguan fungsi. Komplikasi setelah dilakukannya perbaikan pada fraktur mandibula umumnya jarang terjadi. kurangnya imobilisasi segmen fraktur. yang nantinya dapat menyebabkan berbagai kemungkinan komplikasi lainnya. Hal ini tidak hanya berdampak pada sendi tetapi otot-otot pengunyahan dan otot sekitar wajah juga dapat memberikan respon nyeri (myofascial pain) Terlebih jika pasien mengkompensasikan atau memaksakan mengunyah dalam hubungan oklusi yang tidak normal. tarikan otot yang tidak menguntungkan pada segmen fraktur.

Edisi 2. Sinha C. L. Dolan. Available at http://emedicine. (2009). Available at http://medind. New York : CRC Press.2003. P. C. Facial plastic. reconstructive. Available at http://emedicine. (2011). Mandibular Fractures.nic.in/maa/t08/i3/maat08i3p218.medscape. (2007).com/article/1283150-overview. Thapliyal C. Management of Mandibular Fractures. Chakranarayan S. Donald R Laub.medscape. G. and trauma surgery. 3. R. Laub D. Facial Trauma. R.com/article/1283150-overview#showall 5. 2004 2. Wim de Jong.Robert W. EGC: Jakarta. 4. Sjamsuhidayat. A. 20 . Menon C. Buku ajar ilmu bedah. DAFTAR PUSTAKA 1.pdf. Mandibular fracture.

Related Interests