BAB I

PENDAHULUAN

Dunia sedang mengalami revolusi demografik, yaitu meningkatnya jumlah
penduduk berusia lanjut. Prevalensi usia lanjut lebih dari 60 tahun meningkat
lebih cepat dibandingkan populasi kelompok umur lainnya karena peningkatan
angka harapan hidup dan penurunan angka kelahiran. Data demografi dunia
menunjukkan peningkatan populasi usia lanjut 60 tahun atau lebih meningkat tiga
kali lipat dalam waktu 50 tahun; dari 600 juta pada tahun 2000 menjadi lebih dari
2 miliar pada tahun 2050. Hal itu menyebabkan populasi usia lanjut lebih atau
sama dengan 80 tahun meningkat terutama di negara maju.1
Jumlah penduduk usia lanjut di Indonesia mencapai peringkat lima besar
terbanyak di dunia, yakni 18,1 juta pada tahun 2010 dan akan meningkat dua kali
lipat menjadi 36 juta pada tahun 2025. Angka harapan hidup penduduk Indonesia
mencapai 67,8 tahun pada tahun 2000-2005 dan menjadi 73,6 tahun pada tahun
2020-2025. Menurut Profil Kesehatan Indonesia tahun 2014 yang dikeluarkan
oleh Kementrian Kesehatan Republik Indonesia menyatakan bahwa golongan
penduduk usia lanjut cukup besar, terutama perempuan. Hal ini dapat dimaknai
dengan semakin tingginya usia harapan hidup, terutama perempuan. Kondisi ini
menuntut kebijakan terhadap penduduk usia lanjut dan bertambahnya jumlah
penduduk usia lanjut dapat dimaknai sebagai meningkatnya kondisi kesehatan dan
meningkatnya tingkat kesejahteraan.2,3
Usia lanjut atau lansia akan mengalami sejumlah penurunan kondisi fisik,
psikologis, maupun sosial yang saling berinteraksi satu sama lain akibat
pertambahan umur. Kemunduran atau menurunnya fungsi fisik, psikologis dan
sosial pada umumnya ditandai dengan menurunnya beberapa fungsi organ tubuh,
seiring dengan menurunnya fungsi organ fisik juga berpengaruh terhadap adanya
penurunan fungsi organ non-fisik, yang ditandai dengan munculnya masalah
sosial maupun masalah psikologis. Salah satu masalah yang sering terjadi pada
usia lanjut adalah adanya gangguan tidur yang sangat berpengaruh terhadap
kualitas hidup seorang usia lanjut.2

1

Insomnia adalah gangguan tidur paling sering pada usia lanjut, yang
ditandai dengan ketidakmampuan untuk mengawali tidur, mempertahankan tidur,
bangun terlalu dini atau tidur yang tidak menyegarkan. Insomnia ini tidak bisa
dianggap sebagai gangguan yang sederhana karena secara umum tidak bisa
sembuh spontan. Kondisi ini juga menimbulkan berbagai dampak buruk antara
lain stres, gangguan mood, alkohol dan substance abuse yang nantinya akan
berujung pada penurunan kualitas hidup pada usia lanjut. Dampak terburuk dari
insomnia pada usia lanjut adalah adanya resiko bunuh diri.4,5,6,7
Prevalensi lansia yang mengalami insomnia dalam sebuah studi yang luas
di komunitas ditemukan sebesar 36% untuk lansia laki-laki dan 54% lansia
perempuan mengeluhkan insomnia. Hanya 26% lansia laki-laki dan 21% lansia
perempuan yang melaporkan tidak mengalami kesulitan untuk tidur. Studi
Gambhir et al di India didapatkan prevalensi insomnia pada lansia sebesar 32 %
dan studi Mausafi et al di Iran didapatkan 39,2%. Studi Ogunbode et al di Nigeria
didapatkan prevalensi insomnia pada lansia sebesar 27,5% dan terdapat
peningkatan pada lansia wanita. Banyak faktor yang mempengaruhi tingginya
angka prevalensi insomnia pada lansia. Faktor kondisi kesehatan fisik yang
berhubungan dengan proses penuaan, psikologis dan lingkungan sangat
berpengaruh terhadap terjadinya insomnia pada lansia. Pertambahan umur
menyebabkan terjadinya perubahan pola tidur dan meningkatkan resiko terjadinya
insomnia pada usia lanjut.8,9,10
Dampak dari insomnia menurut Bakr et al. (2012) cukup serius yakni
berupa terganggunya fungsi individu, penurunan kualitas hidup yang terlihat dari
rendahnya nilai pada komponen mental dan fisik, dan meningkatkan resiko jatuh
serta kecelakaan. Peningkatan resiko jatuh pada lansia diduga kuat menjadi salah
satu hal yang menyebabkan penempatan lansia di Panti Jompo. Dibandingkan
dengan yang tidak mengalami insomnia, lansia dengan insomnia menunjukkan
waktu reaksi yang lambat dan mempunyai resiko yang lebih besar mengalami
disfungsi kognitif terkait dengan memorinya.11
National of centre for sleep disorder research menyatakan bahwa
insomnia adalah suatu pengalaman dari kualitas tidur yang buruk atau kurang
memadai yang ditandai oleh satu atau lebih dari gejala berikut : kesulitan untuk

2

atau kombinasi keduanya. meningkatkan produktivitas dan fungsi kognitif sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup pada pasien usia lanjut.jatuh tertidur. Kejadian ini berlangsung lebih dari 3 bulan. mempertahankan tidur. Faktor psikologis menjadi salah satu penyebab kecenderungan munculnya insomnia. insomnia adalah kesulitan mengawali tidur. bangun terlalu dini di pagi hari dan tidur yang tidak menyegarkan. non-farmakoterapi. Hal ini disebabkan oleh ketegangan pikiran seseorang terhadap sesuatu yang kemudian mempengaruhi sistem saraf pusat (SSP) sehingga kondisi fisik senantiasa siaga. Pada insomnia sekunder.15 3 . bangun terlalu dini atau tidur yang tidak menyegarkan. Terapi yang diberikan setelah diagnosis ditegakkan dapat berupa farmakoterapi.12 Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders five edition (DSM-V) tahun 2013.14 Modalitas terapi untuk insomnia terus berkembang. International Classification of Sleep Disorder-3 (ICSD- 3) tahun 2014. wake time after sleep onset = 30 menit. insomnia didefinisikan sebagai ketidakpuasan seseorang terhadap tidurnya baik secara kuantitas maupun kualitas yang dihubungkan dengan ketidakmampuan seseorang untuk mengawali tidur.5 jam. Melalui pemeriksaan polysomnography pada pasien insomnia didapatkan sleep latency = 30 menit. sleep efficiency < 85%. Tujuan terapi insomnia ini adalah menghilangkan gejala. berkurangnya durasi dan kualitas tidur meskipun memiliki waktu yang cukup untuk melakukannya dan ini dihubungkan dengan adanya gangguan pada aktivitas sehari-hari. atau total sleep time (TST) < 6-6. terapi terhadap faktor sekunder yang menyebabkan terjadinya insomnia pada lansia harus ditatalaksana dengan baik.13. kesulitan untuk mempertahankan tidur.

Definisi Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders five edition (DSM-V) tahun 2013. insomnia jangka pendek. atau total sleep time (TST) < 6-6.1. Pada pasien tidak ditemukan gangguan medis. Sedangkan insomnia sekunder adalah insomnia yang disebabkan oleh kondisi 4 . insomnia didefinisikan sebagai ketidakpuasan seseorang terhadap tidurnya baik secara kuantitas maupun kualitas yang dihubungkan dengan ketidakmampuan seseorang untuk mengawali tidur. wake time after sleep onset = 30 menit. gangguan insomnia lainnya. Melalui pemeriksaan polysomnography pada pasien insomnia didapatkan sleep latency = 30 menit. Klasifikasi insomnia menurut ICSD-316 Menurut Arya et al (2013) berdasarkan etiolgi insomnia dapat dibagi atas insomnia primer dan insomnia sekunder. Insomnia primer yaitu insomnia yang penyebabnya tidak diketahui dengan jelas atau idiopatik. gangguan psikiatri atau karena faktor lingkungan. Insomnia kronik berlangsung lebih dari 3 bulan dan insomnia jangka pendek lebih kecil dari 3 bulan. insomnia adalah kesulitan mengawali tidur.13 International Classification of Sleep Disorder-3 (ICSD-3) tahun 2014. International Classification of Sleep Disorder-3 (ICSD-3) membagi insomnia menjadi insomnia kronik. Kejadian ini berlangsung lebih dari 3 bulan. mempertahankan tidur.5 jam.1. berkurangnya durasi dan kualitas tidur meskipun memiliki waktu yang cukup untuk melakukannya dan ini dihubungkan dengan adanya gangguan pada aktivitas sehari-hari. BAB 2 INSOMNIA PADA USIA LANJUT 2. 2.14 Tabel. sleep efficiency < 85%. bangun terlalu dini atau tidur yang tidak menyegarkan.

2.medis tertentu dan juga oleh obat-obatan. Ada beberapa faktor yang menyebababkan insomnia sekunder misalnya penyakit jantung dan paru. nyeri. gangguan cemas dan depresi serta obat-obatan seperti beta-bloker.17 Tabel 2. bronkodilator dan nikotin. Faktor-faktor yang mempengaruhi gangguan tidur pada lansia 18 5 .

Fisiologi tidur Fisiologi tidur dapat dilihat melalui gambaran ekektrofisiologik sel-sel otak selama tidur. Hanya 26% lansia laki-laki dan 21% lansia perempuan yang melaporkan tidak mengalami kesulitan untuk tidur. Prevalensi insomnia juga meningkat sesuai dengan pertambahan usia.9. Studi Gambhir et al di India didapatkan prevalensi insomnia pada lansia sebesar 32 % dan studi Mausafi et al di Iran didapatkan 39.2.23 Stadium tidur .21 2.terdiri dari tidur rapid eye movement (REM) dan tidur non-rapid eye movement (NREM).3.20. Banyak faktor yang mempengaruhi tingginya angka prevalensi insomnia pada lansia.2. Polisomnografi merupakan alat yang dapat mendeteksi aktivitas otak selama tidur. Variasi ini terjadi karena perbedaan definisi dari insomnia dari masing-masing studi.8. Pertambahan umur menyebabkan terjadinya perubahan pola tidur dan meningkatkan resiko terjadinya insomnia pada usia lanjut.10. elektrookulografi.2%.22. psikologis dan lingkungan sangat berpengaruh terhadap terjadinya insomnia pada lansia. Perubahan pola tidur yang terkait dengan usia terjadi pada sleep architecture dan ritme sirkadian. dan elektromiografi. Epidemiologi Studi epidemiologi menyatakan prevalensi insomnia pada populasi umum dilaporkan sangat bervariasi antara 6% sampai 8%. Tidur NREM disebut juga tidur ortodoks atau tidur gelombang lambat atau tidur S. Pemeriksaan polisomnografi sering dilakukan saat tidur malam hari. Alat tersebut dapat mencatat aktivitas EEG. Tidur REM disebut juga tidur D atau bermimpi karena dihubungkan dengan bermimpi atau tidur paradoks karena EEG aktif selama fase ini. Prevalensi lansia yang mengalami insomnia dalam sebuah studi yang luas di komunitas ditemukan sebesar 36% untuk lansia laki-laki dan 54% lansia perempuan mengeluhkan insomnia. Elektromiografi perifer berguna untuk menilai gerakan abnormal saat tidur.diukur dengan polisomnografi .5% dan terdapat peningkatan pada lansia wanita. Kedua stadia ini bergantian 6 .19. Studi Ogunbode et al di Nigeria didapatkan prevalensi insomnia pada lansia sebesar 27. Faktor kondisi kesehatan fisik yang berhubungan dengan proses penuaan.

Stadium 4 terjadi jika gelombang delta lebih dari 50%. Makin larut malam. Stadium 3 dan 4 disebut juga tidur gelombang lambat atau tidur dalam.2. Pada stadium ini seseorang mudah dibangunkan dan bila terbangun merasa seperti setengah tidur. Aktivitas bola mata melambat. Pada pria terjadi ereksi penis. Pada fase ini terjadi penurunan aktivitas gelombang alfa (gelombang alfa menurun kurang dari 50%). Tonus otot rendah. Kumparan tidur adalah gelombang ritmik pendek dengan frekuensi 12-14 siklus per detik. kumparan tidur dan kompleks K. amplitudo tinggi. frekuensi 1-2 siklus per detik. tonus otot menurun.23 Stadium 1 disebut onset tidur. Stadium 3 dan 4 sulit dibedakan. Refleks tendon melemah atau hilang. Stadium 1 NREM adalah perpindahan dari bangun ke tidur. Kompleks K yaitu gelombang tajam. Secara umum ada 4-6 siklus NREM-REM yang terjadi setiap malam. negatif. voltase tinggi. Stadium 1 dan 2 dikenal sebagai tidur dangkal. Durasi tidur ini meningkat bila seseorang mengalami deprivasi tidur.23 Stadium 3 ditandai dengan 20%-50% aktivitas delta. Pada stadium ini terdapat letupan periodik gerakan bola mata cepat. Stadium 2 ditandai dengan gelombang EEG spesifik yaitu didominasi oleh aktivitas teta. dengan durasi 500 mdetik. Tidur ini terjadi antara sepertiga awal malam dengan setengah malam. aktivitas positif. Stadium ini menduduki sekitar 50% total tidur. Tidur NREM terdiri dari empat stadium yaitu stadium 1. Tekanan darah dan nafas meningkat. Stadium 4 lebih lambat dari stadium 3. Ia menduduki sekitar 5% dari total waktu tidur. frekuensi 4-7 siklus per detik. Pada tidur REM terdapat mimpi-mimpi. voltase rendah-sedang. Tonus otot meningkat tetapi tidak ada gerakan bola mata.4.22. Fase ini 7 . dan disebut juga tidur delta. nadi dan tekanan darah cenderung menurun. periode REM makin panjang. Periode tidur REM I berlangsung antara 5-10 menit. berlangsung sekitar 3-5 menit. diikuti oleh gelombang lebih lambat.22.dalam satu siklus yang berlangsung antara 70 – 120 menit. frekuensi 2-3 siklus per menit.3. sinyal campuran.23 Tidur REM ditandai dengan rekaman EEG yang hampir sama dengan tidur stadium 1. tegangan rendah. amplitudo rendah. Rekaman EEG berupa delta. predominan beta dan teta.22. Tidur dimulai dengan stadium NREM. Stadium ini menghabiskan sekitar 10%-20% waktu tidur total.

23 Tidur REM dan NREM berbeda dalam hal dimensi psikologik dan fisiologik. dan gangguan penggunaan alkohol durasinya lebih pendek. Gangguan siklus temperatur dikaitkan dengan insomnia.3. Pada dewasa normal. Pergantian siklus dari NREM ke siklus REM biasanya berlangsung 90 menit. dan 4. Tidur REM dikaitkan dengan mimpi-mimpi sedangkan tidur NREM dengan pikiran abstrak.23 Siklus sirkadian tidur-bangun dapat mempengaruhi fungsi neuroendokrin misalnya sekresi kortisol. Pertambahan umur menyebabkan terjadinya perubahan dalam tahapan tidur.24 Tabel 2. gangguan kepribadian ambang. tidur dimulai pada stadium 1. Latensi REM sekitar 70-100 menit pada subyek normal tetapi pada penderita depresi. gangguan makan.menggunakan sekitar 20%-25% waktu tidur. Perubahan pola tidur yang terkait dengan usia terjadi pada Sleep Architecture dan ritme sirkadian.22. Perubahan tidur pada usia lanjut24 8 .4. skizofrenia. meskipun mereka mempunyai waktu yang cukup untuk tidur tetapi terjadi penurunan kualitas tidur. Jadi.23 2. Sebagian tidur delta (NREM) terjadi pada separuh awal malam dan tidur REM pada separuh malam menjelang pagi. Durasi periode REM meningkat menjelang pagi. Kemudian kembali ke stadium 2 dan akhirnya masuk ke periode REM 1.22. Pada kenyataanya. temperatur tubuh juga mengikuti ritme sirkadian. dan hormon pertumbuhan. biasanya berlangsung 70-90 menit setelah onset. masuk ke stadium 2. Perubahan fisiologi tidur pada usia lanjut Pertambahan umur menyebabkan terjadinya perubahan pola tidur yang meningkatkan resiko terjadinya insomnia akan tetapi pertambahan umur tidak menjadi faktor mutlak timbulnya insomnia pada usia lanjut. melatonin.22. Fungsi otonom bervariasi pada tidur REM tetapi lambat atau menetap pada tidur NREM. 3. puncaknya pada sore hari dan paling rendah pada malam hari.

Saat hari mulai gelap.25. Jika pagi hari cahaya terang masuk. transient arousal dan bangun terlalu dini. sleep efficiency. kortisol dan GH sehingga orang terbangun. meregulasi segala kegiatan bangun dan tidur. Melatonin adalah hormon yang diproduksi oleh glandula pineal (suatu bagian kecil di otak tengah). Jadi faktor kuncinya adalah adanya perubahan gelap dan terang.26 NSC bekerja seperti jam. NSCsegera mengeluarkan hormon yang menstimulasi peningkatan temperatur badan. menurunnya total sleep time. Gambar 2.1. NSC akan mengeluarkan neurotransmiter yang mempengaruhi sekresi berbagai hormon pengatur temperatur badan. tahap 4. Perubahan ini menimbulkan beberapa efek yaitu: kesulitan untuk mengawali tidur. melatonin dikeluarkan dalam darah dan akan mempengaruhi 9 . Jika malam tiba NSCmerangsang pengeluaran hormon melatonin sehingga orang mengantuk dan tidur. Stimulasi cahaya terang akan masuk melalui mata dan mempengaruhi suatu bagian di hipotalamus yang disebut nukleus suprachiasmatic (NSC). Perubahan sleep architektur pada lansia25 Siklus tidur dan bangun (irama sirkadian) memiliki pola bangun sepanjang hari saat cahaya terang dan tidur sepanjang malam saat gelap. GH (growth hormone) dan lain lain yang memegang peran untuk bangun dan tidur. cortisol. tahap REM dan REM laten tetapi mengalami peningkatan tidur tahap 1 dan 2. Pada usia lanjut terjadi penurunan tidur tahap 3.

2. total waktu tidur.4. aktivitas fisik dan sosial saat memasuki usia lanjut. Sekresi melatonin26 2. tetapi dalam sleep diary minimal berisi beberapa hal seperti sleep onset latensy. akan tetapi tidak dirutinkan. peningkatan resiko insomnia dan peningkatan frekuensi tidur. Kadar melatonin dalam darah mulai meningkat pada jam 9 malam. effisiensi tidur. wake after sleep onset. Standart format dari sleep diary tidak ada.26 Pada usia lanjut terjadi penurunan fungsi SCN yang akan menyebabkan terjadinya gangguan pada ritme sirkadian. total waktu ditempat tidur.25.25. terus meningkat sepanjang malam dan menghilang pada jam 9 pagi. Keluhan gangguan tidur dapat dibuat dalam bentuk sleep diary yang berisi aktivitas tidur pasien yang dicatat selama dalam 2 minggu terakhir. Hal ini menyebabkan pasien bangun dan tidur pada waktu yang tidak tepat.24.terjadinya relaksasi dan penurunan temperatur badan serta kortisol.26 Gambar 2. kenyamanan tidur. Penggunaan polisomnografi dapat membantu untuk menilai insomnia pada usia lanjut. Gejala Penurunan fungsi SCN diduga disebabkan oleh penurunan paparan cahaya. Asesmen Insomnia pada Usia Lanjut Pengelolaan insomnia pada usia lanjut meliputi berbagai aspek sehingga dapat mentatalakasana insomnia pada usia lanjut dengan baik. Polisomnografi merupakan alat yang digunakan untuk menggambarkan aktifitas tidur seseorang.27 10 . Akibat gangguan ritme sirkadian adalah ketidakmampuan untuk tidur meskipun terdapat rangsangan.

Sleep diary24 Sleep diary merupakan instrumen yang bagus untuk menilai ganguan tidur dari pasien.28 Gambar 2.3. Selain itu untuk. Pada ISI terdapat 7 item pertanyaan yang menggambar aktivitas tidur seseorang dalam 2 minggu terakhir. 24. Pada PSQI terdapat 19 pertanyaan yang menggambarkan aktivitas tidur seseorang selama 1 bulan terakhir. Gambar 2. Insomnia Severity Index29 BAB 3 DIAGNOSIS DAN TATALAKSANA INSOMNIA PADA USIA LANJUT 11 .4. mengukur derajat insomnia seseorang ada beberapa kuisoner yang dapat dilakukan. Insomnia Severity Index (ISI) dan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) adalah dua instrumen yang sering digunakan untuk menilai derajat insomnia dan melihat respon terapi yang diberikan pada pasien dengan insomnia. Skor lebih dari 14 menandakan klinis insomnia pada seseorang.

Gangguan ini berlangsung sekurang-kurangnya 3 malam dalam seminggu dan berlangsung selama sekurang-kurangnya 3 bulan.13 Diagnosis gangguan insomnia menurut DSM-V ditegakkan apabila memenuhi kriteria. Diagnosis insomnia pada pada DSM-V ini termasuk pada semua keadaan tingkatan umur. Insomnia sekunder diistilahkan dengan insomnia dengan komorbid.13.30. Hal ini ditujukan untuk dapat mentatalaksana insomnia lebih baik lagi dan tidak melihat insomnia dari sisi sekundernya saja. Diagnosis gangguan insomnia disini merupakan keadaan insomnia yang bukan disebabkan oleh keadaan gangguan mental tertentu dan kondisi gangguan medis tertentu. bangun terlalu dini dan tidak bisa tidur kembali. Diagnosis insomnia yang disebabkan oleh keadaan gangguan mental dan ganguan medis lainnya tergabung pada kelompok diagnosis lainnya. dan insomnia yang disebabkan oleh keadaan kondisi medis tertentu disebut dengan insomnia komorbit dengan dengan kondisi medis.13 Hal yang berbeda antara DSM-IV dan DSM-V pada diagnosis gangguan insomnia adalah tidak ditemukan lagi istilah insomnia primer dan insomnia sekunder dan kritreria durasi insomnia yang sebelumnnya 1 bulan menjadi 3 bulan.3. Kriteria diagnostik insomnia menurut DSM-V13 12 . kesulitan mempertahankan tidur.1. yaitu adanya keluhan ketidakpuasan seseorang terhadap tidurnya baik secara kuantitas maupun kualitas yang dihubungkan dengan satu atau lebih keluhan berupa kesulitan untuk mengawali tidur. Diagnosis Insomnia pada Usia Lanjut Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders five edition (DSM-V) tahun 2013 termasuk dalam pembahasan sleep-wake disorders yang terdapat 10 bagian utama dan diagnosis gangguan insomnia adalah salah satu di dalamnya. Gangguan ini tidak termasuk kedalam sleep- wake disorders lainnya dan bukan merupakan efek dari keadaan tertentu seperti obat-obatan serta keadaan insomnia ini tidak disebabkan oleh keadaan kondisi medis atau gangguan mental tertentu. termasuk pada usia lanjut.1.31 Tabel 3. Insomnia yang disebabkan oleh gangguan mental disebut insomnia komorbid dengan gangguan mental.

tetapi tidak mencukupi kriteria insonmnia kronik atau insomnia jangka pendek.13 Menurut International Classification of Sleep Disorder-3 (ICSD-3) tahun 2014. International Classification of Sleep Disorder-3 (ICSD-3) membagi insomnia menjadi gangguan insomnia kronik. Gangguan insomnia lainnya diteggakan jika gejala insomnia. insomnia adalah kesulitan mengawali tidur. berkurangnya durasi dan kualitas tidur meskipun memiliki waktu yang cukup untuk melakukannya dan ini dihubungkan dengan adanya gangguan pada aktivitas sehari-hari. Insomnia akut atau insomnia transien merupakan keadaan insomnia yang berlangsung beberapa hari sampai beberapa minggu kurang dari 1 bulan. Keadan ini sering dikaitkan dengan kondisi kehidupan tertentu seperti adanya distres pekerjaan atau kondisi medis tertentu sehingga mengubah jadwal tidur atau mengalami gejala insomnia. ganggua insonnia jangka pendek dan gangguan insomnia lainnya.14 13 . Gejala insomnia yang bersangsung lebih sama dari 3 bulan disebut disebut gangguan insomnia kronik dan gejala insomnia yang bersangsung kurang dari 3 bulan disebut disebut gangguan insomnia jangka pendek. Ganggua insomnia yang berlansung lebih dari satu bulan sampai 3 bulan disebut dengan insomnia jangka pendek atau short-term insomnia. Keadaan insomnia akut dan insomnia jangkan pendek pada DSM-V dikodekan sebagai gangguan spesifik insomnia lainnya.

Dalam ICD 10 tidak dibedakan antara insomnia primer maupun sekunder akibat penyakit/kondisi abnormal lain. kualitas. Kriteria diagnosis non-organik insomnia menurut ICD-10 32 14 . seperti mimpi buruk. yaitu organik dan non- organik. berjalan sambil tidur).Tabel 3. Kriteria diagnosis insomnia kronik menurut ICSD-3 14 Menurut ICD10 insomnia dibagi menjadi 2. Insomnia non-organik dibagi lagi menjadi 2 kategori yaitu dyssomnias (gangguan pada lama.2.32. dan waktu tidur) dan parasomnias (ada episode abnormal yang muncul selama tidur. Insomnia menurut ICD 10 adalah insomnia kronik yang sudah diderita paling sedikit 1 bulan dan sudah menyebabkan gangguan fungsi dan sosial.3.33 Tabel 3.

34 3. Terapi dapat diberikan secara tunggal maupun kombinasi. Pada insomnia sekunder. Terapi yang diberikan setelah diagnosis ditegakkan dapat berupa farmakoterapi. terapi relaksasi. Terapi non-farmakoterapi terdiri dari beberapa metode yang dapat diterapkan baik secara tunggal maupun kombinasi yaitu stimulus control. Pada intervensi stimulus control diharapkan agar pasien dapat mengasosiasikan tempat tidur dengan tidur.2.20 menit berada disana pasien tidak bisa tidur maka pasien harus bangun dan melakukan aktivitas lain sampai merasa mengantuk baru kembali ke tempat tidur. terapi terhadap faktor sekunder yang menyebabkan terjadinya insomnia pada lansia harus ditatalaksana dengan baik. Melalui metode ini pasien diedukasi untuk mengunakan tempat tidur hanya untuk tidur dan menghindari aktivitas lain seperti membaca dan menonton tv di tempat tidur. Dengan metode terapi ini. pasien mengalami peningkatan durasi tidur sekitar 30-40 menit. sleep restriction. akan tetapi jika selama 15. atau kombinasi keduanya.2. Tatalaksana Insomnia pada Usia lanjut Modalitas terapi untuk insomnia terus berkembang. Terapi ini tidak hanya bermanfaat untuk insomnia primer tapi juga untuk insomnia sekunder jika dikombinasi dengan sleep hygiene dan terapi relaksasi.3. Ketika mengantuk pasien datang ke tempat tidur. Metode ini juga harus didukung oleh suasana kamar yang tenang sehingga mempercepat pasien untuk tertidur.35. Tujuan terapi insomnia ini adalah menghilangkan gejala.35. Tatalaksana Non-Farmakologis Terapi nonfarmakologi khususnya behavioral therapies efektif sebagai farmakoterapi dan diharapkan menjadi pilihan pertama untuk insomnia kronis pada pasien usia lanjut.26. Pasien diedukasi agar tidak terlalu lama dengan mengurangi frekuensi berada di tempat tidur.36 Sleep restriction bertujuan untuk mengurangi waktu di tempat tidur dan meningkatkan sleep efficiency. meningkatkan produktivitas dan fungsi kognitif sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup pada pasien usia lanjut. dan cognitive therapy terapi kombinasi cognitive behavioral therapy for insomnia (CBT-I).1.36 Stimulus control adalah bentuk metode terapi insomnia yang berfokus kepada stimulus untuk tidur yang baik. Terlalu lama di tempat tidur akan 15 . sleep hygiene. non-farmakoterapi.

36 35 Tabel 3.35. Metode terapi relaksasi meliputi: melakukan relaksasi otot. terapi kognitif. sleep retriction.37 Terapi relaksasi merupakan salah satu metode terapi untuk insomnia. Pada usia lanjut yang sudah tidak beraktivitas lebih senang menghabiskan waktunya di tempat tidur namun.36 Sleep Higiene bertujuan untuk mengubah pola hidup pasien dan lingkungannya sehingga dapat meningkatkan kualitas tidur. melakukan aktivitas yang merupakan hobi dari usia lanjut. Terapi ini bertujuan untuk mengubah maladaftive sleep belief menjadi adaftive sleep belief.4 Non-farmakoterapi untuk insomnia 16 . Bani et al (2014) melakukan studi tentang edukasi sleep higiene pada usia lanjut di Iran. menghindari merokok dan minum alkohol 2 jam sebelum tidur dan tidak makan daging terlalu banyak sekitar 2 jam sebelum tidur. Hal-hal yang dapat dilakukan pasien untuk meningkatkan Sleep Higiene yaitu olahraga secara teratur pada pagi hari.menyebabkan pola tidur jadi terpecah-pecah. mengatur waktu bangun pagi.36. Hal ini harus dirubah mengingat yang menentukan kualitas tidur tidak hanya durasi tetapi kedalaman tidur. Sebagai contoh: pasien memiliki kepercayaan harus tidur selama 8 jam setiap malam. yoga atau meditasi. berdampak buruk karena pola tidur menjadi tidak teratur. Tujuan terapi ini adalah mengatasi kebiasaan usia lanjut yang mudah terjaga di malam hari saat tidur. dan sleep higiene dengan atau tanpa terapi relaksasi. mengurangi konsumsi kafein. tidur secara teratur. Studi ini menyimpulkan bahwa edukasi sleep higiene dapat mengurangi gangguan tidur pada lansia dan meningkatkan kualitas hidup.35.35. latihan pernapasan dengan diafragma. Pada beberapa usia lanjut mengalami kesulitan untuk tertidur kembali setelah terjaga.35. Studi ini melibatkan 100 lansia yang mengalami masalah gangguan tidur. jika pasien tidur kurang dari 8 jam maka pasien merasa kualitas tidurnya menurun.36 Cognitive Behavioral Therapy for Insomnia (CBT-I) merupakan psikoterapi kombinasi yang terdiri dari: stimulus control. guided imagery. Pada pasien usia lanjut sangat sulit melakukan metode ini karena tingkat kepatuhannya sangat rendah. Melalui Sleep Restriction ini diharapkan dapat menentukan waktu dan lamanya tidur yang disesuaikan dengan kebutuhan.

CBT-I merupakan terapi lini pertama pada tatalaksana insomnia.Trauer et al (2015) juga melakukan studi meta analisis tentang 17 . CBT-I dapat diberikan secara tunggal atau kombinasi dengan farmakoterapi. Studi ini menyimpulkan bahwa CBT-I efektif digunakan untuk terapi insomnia dibandingkan dengan farmakoterapi. Cognitive Behavioral Therapy for Insomnia (CBT-I) merupakan terapi pilihan pertama pada pentalaksanaan insomnia pada usia lanjut. Studi Michell et al (2012) yang mempelajari efektivitas CBT-I untuk terapi insomnia. Guedlines yang dikeluarkan oleh American Academy of Sleep Medicine (AASM) menyatakan CBT-I merupakan terapi standar pada insomnia.

Seluruh obatan-obatan yang telah diterima oleh FDA untuk insomnia mempunyai efektifitas yang sama pada usia lanjut. Golongan benzodiazepin reseptor agonis seperti eszopiclon. dan anti konvulsan seperti gabapentin. dan orexin agonis.efektifitas terapi CBT-I untuk insomnia kronik. karena terdapat peningkatan sensitifitas pada usia lanjut. dan zolpidem. Selain kelima prinsip diatas. Dengan pertambahan umur akan terjadi perubahan dalam distribusi. flurazepam. melatonin reseptor agonis. Golongan benzodiazepin seperti estazolam. memiliki efek sedasi yang rendah sehingga tidak mengganggu aktivitas sehari-hari pasien. yaitu golongan benzodiazepin. pengobatan jangka pendek (3-4 mimggu). temazepam. Tatalaksana Farmakologis Tujuan terapi farmakologi adalah untuk menghilangkan keluhan pasien memulai tidur. dalam memberikan obat harus memperhatikan perubahan farmakokinetik dan farmokodinamik pada usia lanjut. benzodiazepin reseptor agonis.2. Studi ini menyimpulkan bahwa CBT-I merupakan terapi yang efektif pada dewasa dengan gangguan insomnia kronik. Obat-obatan ini seperti antihistamin seperti diphenhidramin. serta orexin agonis seperti suvorexant. metabolisme dan eliminasi obat yang berkaitan erat dengan timbulnya efek samping obat. anti-depresan trisiklik. Golongan melatonin reseptor agonis seperti ramelteon dan golongan antidepresan trisiklik seperti doxepin.38. menggunakan dosis yang dosis yang diberikan bersifat intermiten (3-4 kali dalam seminggu). anti depresan seperti amitriptilin. Tetapi dosis yang diberikan dimulai dengan separuh dosis. sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup pada usia lanjut. Ada lima prinsip dalam terapi farmakologi yaitu: rendah tetapi efektif. dan triazolam. penghentian terapi tidak menimbulkan kekambuhan pada gejala insomnia. zaleplon. Obat-obatan yang bersifat off-label juga sering digunakan pada terapi farmakoterapi pada insomnia.1.39.41 Ada beberapa golongan obat yang sudah di terima oleh FDA untuk terapi insomnia. tidur yang tidak menyegarkan.40 3. maka golongan benzodiazepin reseptor agonis aksi cepat 18 . mempertahankan tidur. quazepam.41 Galimi et al (2010) menyatakan bahwa ketika farmakoterapi menjadi pilihan terapi insomnia.

43 Tabel. karena berhubungan peningktan resiko jatuh dan efek residu tidur pada siang hari pada usia lanjut. pada hal ini berubah pada Beer Criteria yang dikeluarkan oleh American Geriatric society pada tahun 2015 yang merekomendasi untuk menghindari penggunakan farmakoterapi untuk insomnia pada usia lanjut.6. dengan minimal efek residual obat pada keesokan harinya.22 Tabel.dengan dosis rendah menjadi pilihan. mempertahankan tidur. Studi ini menyimpulkan bahwa doxepin 1 mg dan 3 mg siknifikan memperbaiki gejala insomnia pada usia lanjut yang mengalami insomnia kronik. Obat-obat yang di approved oleh FDA untuk insomnia41 Krystal et al ( 2010) melakukan studi tentang efikasi dan keamanan Doxepin 1 mg dan 3 mg selama 12 minggu pada usia lanjut yang mengalami insomnia kronik.42. Terapi diberikan dalam jangka waktu yang tidak lama. Hal ini juga senada dengan Beer Criteria tahun 2012 yang dikeluarkan oleh American Geriatric society yang merekomnedasi penggunaan benzodiazepin reseptor agonis untuk insomnia pada usia lanjut dan terapi diberikan tidak lebih dari 90 hari. Hal ini juga senada dengan studi yang dilakukan oleh Fernandez et al (2014) yang menyimpulkan bahwa doxepin 3 mg dan 6 mg secara siknifikan memperbaiki gejala insomnia. 3. 3. Obat-obat off label untuk insomnia41 19 .5. Akan tetapi.

44 Studi Sithamparanthan et al (2012) tentang meta analisis efek samping penggunaan benzodiazepin pada usia lanjut.1.44. yang merupakan efek residu dari penggunaan obat-obatan sedatif. penurunan konsentrasi. jadi perlunya monitoring dan pengawasan terhadap usia lanjut yang sedang mengkonsumsi benzodiazepin. Insomnia didefinisikan sebagai ketidakpuasan seseorang terhadap tidurnya baik secara kuantitas maupun kualitas yang dihubungkan dengan 20 . Studi ini menyimpulkan bahwa penggunaan zolpidem pada pengobatan insomnia pada usia lanjut meningkatkan resiko fraktur pada lansia. Hal ini juga senada dengan penelittain Kang et al (2011) yang meneliti efek penggunaan zolpidem pada terapi insomnia pada usia lanjut terhadap resiko terjadinya fraktur. Efek samping tersebut dapat berupa efek letih setelah bangun. penurunan koordinasi tubuh. Kesimpulan 1.45 BAB 4 PENUTUP 4. Penggunaan farmakoterapi baik itu golongan benzodiazepin maupun non-benzodiazepin mempunyai efek samping yang cukup berbahaya bahkan meningkatkan resiko resiko jauh pada usia lanjut yang menyebabkan fraktur bahkan kematian. Studi ini menyimpulkan bahwa penggunaan benzodiazepin pada usia lanjut mempunyai beberapa efek samping dengan beragam tingkatan. Penggunaan farmakoterapi untuk insomnia pada usia lanjut harus dipertimbangkan dengan benar.

2. 3. mempertahankan tidur. Peningkatan prevalensi insomnia pada usia lanjut disebabkan oleh adanya perubahan pola tidur. Geriatric Medicine. Perlunya penelitian lebih lanjut tentang insomnia pada usia lanjut sehingga dapat mentatalaksana dengan baik. ketidakmampuan seseorang untuk mengawali tidur. Diagnosis insomnia ditegakkan menurut DSM-V yaitu terdapat ketidakpuasan seseorang terhadap tidurnya baik secara kuantitas maupun kualitas yang dihubungkan dengan ketidakmampuan seseorang untuk mengawali tidur. bangun terlalu dini atau tidur yang tidak menyegarkan. Terapi non-farmakoterapi merupakan terapi pilihan utama berupa CBT-I.3. DAFTAR PUSTAKA 1. Journal Kedokteran Indonesia. No. dan adanya komorbidtas dengan kondisi medis dan psikologis. Sarkopenia. 2.2. 1.234-242 21 . Penelitian dan Pelayanan Kedokteran di Indonesia. Saran 1. 4. Perlunya pemahaman lebih lanjut tentang terapi insomnia pada usia lanjut terutama terapi non-farmakoterapi. perubahan irama sirkadian pada usia lanjut. Setiati S. 4. 2013. Vol. p. mempertahankan tidur. bangun terlalu dini atau tidur yang tidak menyegarkan yang berlansung selama lebih dari 3 bulan. Terapi insomnia pada usia lanjut dapat berupa farmokoterapi dan non- farmakoterapi yang dapat diberikan secara tunggal maupun kombinasi terapi. Frailty dan Kualitas Hidup Pasien Usia Lanjut: Tantangan Masa Depan Pendidikan.

2014. Tehran. Besset A. Current Gerontology and Geriatrics Research Volume 2014.1. Arlington: American Psychiatric Association. Vol.Vol. 96-106 10. Akbaraly T. Gambhir IS. Iran . Factors Associated with Insomnia among Elderly Patients Attending a Geriatric Centre in Nigeria. 2013. EPMA Journal. Vol. Article ID 780535. 2008 13. Chakrabarti SS. 2011. Sleep disturbances and suicidality: a common association to look for in clinical practise and preventive care. et al Insomnia symptoms in older adults: associated factors and gender differences. Setiohadi. Vol. Alwi I. Journal of Sleep. Simadibrata. 76 No. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 41. Owalabi M. National of centre for sleep disorder research . Editor Sudoyo AW. Edisi keenam. Setiati S. Prevalence and Associated Factors of Insomnia Syndrome in the Elderly Residing in Kahrizak Nursing Home. No. Ancelin JB. Penerbit Interna Publising. Bouyer J. Optimizing Sleep in Older Adults: Treating Insomnia. Insomni: Assessment And Management in Primary Care. Rahayu RA. American Psychiatric Association. 2014.2. Juckel G. No. Mousavi F. 2012. pp. Insomnia and Daytime Sleepiness Are Risk Factors for Depressive Symptoms in the Elderly.3:p5-15 7. Akbaraly T. Vol. Ritvhe K. Vol. Ogundobe AM. 2011. Iranian Journal Public Health. 2014: p. Bouyer J. Smith MT. p117-121 9. Besset A. Ancelin JB. Jaussent I. Nwude A. Tabatabaei R.3823-3834 3. Olowookere O. Saran DP. Norra C. Sharma AR. Tavabi AA. American Journal of Geriatric Psychiatry. Journal of Clinical Gerontology & Geriatrics. Oguniyyi A. Ritvhe K. 2011. 34. Pour EI.19(1): p88–97 6. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders – Fifth Edition. Dalam: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Ervik AL. 8 5.2: p295–307 8. Sleep Disturbance and Suicide Risk in the Elderly. Golestan B. 22 . Profil KesehatanIndonesesia tahun 2014 4. 2012. Maturitas. Richer N. Canham SL. Jaussent I. Skaer TL. Adebusoye LA. 10 pages 11. Wennberg AM. Bakr N. Insomnia in the elderlydA hospital-based study from North India. Journal of Sleep Disorder Therapy. Gangguan Tidur pada Usia Lanjut. et al.3 12.

2014. 3 29. Drapeau C. Classification of sleep disorders. Insomnia in the elderly: an update and future challenges. 2010. 2013. Late-life insomnia: A review. European Sleep Research Society. Yeh ZT. Gomes P. Buysse DJ.199. Zuconi M.3 30.58: p. Indian Journal of Medicine . Fernando. Galimi R.205–218 19. 76 No. 2011. Insomnia current diagnosis: an appraisal Journal of Revista Brasileira de Neurologia. Vol. Cunington D. 2007. 2015.14. pp. Vol. Volume 37. When to Intervene. consequences and effective treatment. Woodard MC. The American Journal of Medicine. American Academy of Sleep Medicine . Reviews in Clinical Gerontology. Darien. Macedo P.9: p. Managing Insomnia in Older People. Sleep in the Elderly – When to Reassure. Prevalence and risk factors for insomnia in community-dwelling elderly in northern Taiwan. Journal of Pharmacy Practice and Research. p. Vol. No. 2009.75-79 20. Vol. Vol. Rodriguez JC. Insomnia in the Elderly: Cause. Journal of Gerontology. Carrier JU. Canadian Sleep Society (CSS).309(7): p. Insomnia: prevalence. Insomnia. Montgomery P. Journal of Clinical Gerontology & Geriatrics. Journal of Geriatric Gerontology International. No. Fetveit A.431–439 25. Insomnia in older people. Vol. p.9–22 28. 2013. Sleep Dissorder.463-469 27. Management of Late-Life Insomnia. Sleep Problems in the Elderly.p. 2010. 4 p. p36-40 22. 2013. Pigeon WR. Journal of the American Medical Association. Kamel NS.706–716 23 .521-527 18. 2015. p. pathways. Smith MT.20. 1 26. IL: American Academy of Sleep Medicine. Raiv K. Journal of Clinical Medicine Insights: Geriatrics. Dzierzewski JM.231-247 23. Canham SL. Maturitas.99(2): p. 15.220–23 24. Gammack JK. Vol. consequences & treatment of Insomnia. Vol. Diagnosis. and Treatment.3 16. Optimizing Sleep in Older Adults: Treating Insomnia. Vol. Shepard LD. Singh R. Alessi CA. Lee AC. Ferri R. 2013. 2010. Yang CM. 2013.321-332 21. Tsou MT.119. MJA. 2006. Junge M. 2014 17.51. Journal of Medicine Clinical North American. Assessment of sleep disorders and diagnostic procedures. Arya SN. 2012. Lafortune M. Neves K. Vol. prevalence. Wennberg AM. Practical Approach to the Diagnosis and Management of Insomnia.International Classification of Sleep Disorders – Third Edition. Vol. Approach.

Journal of Neurotherapeutics. Vol.717–727 37.79. Vol. Journal of Sleep. The ICD-10 classification of mental and behavioural disorders: diagnostic criteria for research.68(4): p666-675 32.9. Rodin SS. Kesman J. Vol. Asnis GM. 201. Suh S.17. 3 38. 2008. Clinical Guideline for the Evaluation and Management of Chronic Insomnia in Adults. Fontanelle JA. Broch L. et al. 40 40. Doyle JS. Rodin SS. Use of ultra-low-dose doxepin for treatment of insomnia in older people. World Health Organization. Malakuti J. Vol. 5 24 .1993. Bani S. Geneva: World Health Organization. Bacellar A. Rajaratnam SM. Durrence HH. p. Vol. No. 5 35. Journal of CPJ. No. Buise D. Dorsey C. Gehrman P. Chen Y. Cunnington D. Vol. Caixeta E. No. Vol.50 42.2008. 2016. Siebern AT. Ludington E. Pharmacotherapy Treatment Options for Insomnia: A Primer for Clinicians. Clinical Guideline for the Evaluation and Management of Chronic Insomnia in Adults. Fernandez CR. Iran. Hasanpour S. 2014. 2010. Krystal AD. Non-Pharmacological Treatment of Insomnia.13. No. Mitchell MD. 2.8 41. Alves RC. No.31. Poyares D. Vol. 2009. Vol. Journal of Clinical Sleep Medicine.11 43. Journal of Neuropsiquiatric. Journal of American Family Physician. New guidelines for diagnosis and treatment of insomnia. Nowakowski S. Sateia M. Journal BMC Family Practice. 2014. 4. Hendarson MA. Trauer JM. International Journal Molecule Science. p. Dorsey C. et al. Vol. Classification of Sleep Disorders. Nonpharmacologic Management of Chronic Insomnia. Pinto LR. 4. Steia M. Buysee D. Perlis M. Rogowski R. 5 39. Cognitive Behavioral Therapy for Chronic Insomnia A Systematic Review and Meta- analysis.125-130 36. Journal of Clinical Sleep Medicine. 33. Comparative effectiveness of cognitive behavioral therapy for insomnia: a systematic review. No. International Journal Women’s Health Reproduction Science. 2012. No. Qian MY. 33. 2012. Scharf M. Umscheid CA. Harsora P. 2010. 147. 2015. Thorpy MJ. Abedi P. Thomas M. Broch L. Annals of Internal Medicine. Jochelsen P. Vol. Efficacy and Safety of Doxepin 1 mg and 3 mg in a 12-week Sleep Laboratory and Outpatient Trial of Elderly Subjects with Chronic Primary Insomnia. Sleep Hygiene and its Related Factors Among the Elderlyin Tabriz. Journal of Neurotherapeutics. Vol 9: p687–701 34. Ansari S.

et al.219-226 25 . p.44. p. Journal Preventive Medicine Public Health. Sithamparanathan K. Choi NK. 2012. Lee J. Vol. Sadera A.107–111 45. 45. Rhee CW. Asian Journal Gerontology Geriatric. Kang DY. Leung L. Zolpidem Use and Risk of Fracture in Elderly Insomnia Patients.7. Kim YC. Vol. Park S. 2012. Adverse effects of benzodiazepine use in elderly people: a meta-analysis.