BAB I

PENDAHULUAN

Dunia sedang mengalami revolusi demografik, yaitu meningkatnya jumlah
penduduk berusia lanjut. Prevalensi usia lanjut lebih dari 60 tahun meningkat
lebih cepat dibandingkan populasi kelompok umur lainnya karena peningkatan
angka harapan hidup dan penurunan angka kelahiran. Data demografi dunia
menunjukkan peningkatan populasi usia lanjut 60 tahun atau lebih meningkat tiga
kali lipat dalam waktu 50 tahun; dari 600 juta pada tahun 2000 menjadi lebih dari
2 miliar pada tahun 2050. Hal itu menyebabkan populasi usia lanjut lebih atau
sama dengan 80 tahun meningkat terutama di negara maju.
Jumlah penduduk usia lanjut di Indonesia mencapai peringkat lima besar
terbanyak di dunia, yakni 18,1 juta pada tahun 2010 dan akan meningkat dua kali
lipat menjadi 36 juta pada tahun 2025. Angka harapan hidup penduduk Indonesia
mencapai 67,8 tahun pada tahun 2000-2005 dan menjadi 73,6 tahun pada tahun
2020-2025. Menurut Profil Kesehatan Indonesia tahun 2014 yang dikeluarkan
oleh Kementrian Kesehatan Republik Indonesia menyatakan bahwa golongan
penduduk usia lanjut cukup besar, terutama perempuan. Hal ini dapat dimaknai
dengan semakin tingginya usia harapan hidup, terutama perempuan. Kondisi ini
menuntut kebijakan terhadap penduduk usia lanjut dan bertambahnya jumlah
penduduk usia lanjut dapat dimaknai sebagai meningkatnya kondisi kesehatan dan
meningkatnya tingkat kesejahteraan.
Usia lanjut atau lansia akan mengalami sejumlah penurunan kondisi fisik,
psikologis, maupun sosial yang saling berinteraksi satu sama lain akibat
pertambahan umur.Kemunduran atau menurunnya fungsi fisik, psikologis dan
sosial pada umumnya ditandai dengan menurunnya beberapa fungsi organ tubuh,
seiring dengan menurunnya fungsi organ fisik juga berpengaruh terhadap adanya
penurunan fungsi organ non-fisik, yang ditandai dengan munculnya masalah

1

Dampak terburuk dari insomnia pada usia lanjut adalah adanya resiko bunuh diri. Pertambahan umur menyebabkan terjadinya perubahan pola tidur dan meningkatkan resiko terjadinya insomnia pada usia lanjut. Salah satu masalah yang sering terjadi pada usia lanjut adalah adanya gangguan tidur yang sangat berpengaruh terhadap kualitas hidup seorang usia lanjut.sosial maupun masalah psikologis. Prevalensi lansia yang mengalami insomnia dalam sebuah studi yang luas di komunitas ditemukan sebesar 36% untuk lansia laki-laki dan 54% lansia perempuan mengeluhkan insomnia. Kondisi ini juga menimbulkan berbagai dampak buruk antara lain stres. Perubahan pola tidur yang terkait dengan usia terjadi pada sleep architecture dan ritme sirkadian. alkohol dan substance abuse yang nantinya akan berujung pada penurunan kualitas hidup pada usia lanjut. Insomnia ini tidak bisa dianggap sebagai gangguan yang sederhana karena secara umum tidak bisa sembuh spontan. Dibandingkan dengan yang tidak mengalami insomnia. bangun terlalu dini atau tidur yang tidak menyegarkan. (2011) cukup serius yakni berupa terganggunya fungsi individu. penurunan kualitas hidup yang terlihat dari rendahnya nilai pada komponen mental dan fisik. yang ditandai dengan ketidakmampuan untuk mengawali tidur. Peningkatan resiko jatuh pada lansia diduga kuat menjadi salah satu hal yang menyebabkan penempatan lansia di Panti Jompo. Insomnia adalah gangguan tidur paling sering pada usia lanjut. psikologis dan lingkungan sangat berpengaruh terhadap terjadinya insomnia pada lansia. Dampak dari insomnia menurut Bakr et al. Banyak faktor yang mempengaruhi tingginya angka prevalensi insomnia pada lansia. gangguan mood. mempertahankan tidur. Faktor kondisi kesehatan fisik yang berhubungan dengan proses penuaan. lansia dengan insomnia menunjukkan 2 . Hanya 26% lansia laki-laki dan 21% lansiaperempuan yang melaporkan tidak mengalami kesulitan untuk tidur. dan meningkatkan resiko jatuh serta kecelakaan.

sleep efficiency < 85%.waktu reaksi yang lambat dan mempunyai resiko yang lebih besar mengalami disfungsi kognitif terkait dengan memorinya. meningkatkan 3 . Terapi yang diberikan setelah diagnosis ditegakkan dapat berupa farmakoterapi. Melalui pemeriksaan polysomnography pada pasien insomnia didapatkan sleep latency = 30 menit.5 jam. International Classification of Sleep Disorder-3 (ICSD- 3) tahun 2014. Hal ini disebabkan oleh ketegangan pikiran seseorang terhadap sesuatu yang kemudian mempengaruhi sistem saraf pusat (SSP) sehingga kondisi fisik senantiasa siaga. atau kombinasi keduanya. wake time after sleep onset = 30 menit. Tujuan terapi insomnia ini adalah menghilangkan gejala. atau total sleep time (TST) < 6-6. National of centre for sleep disorder research menyatakan bahwa insomnia adalah suatu pengalaman dari kualitas tidur yang buruk atau kurang memadai yang ditandai oleh satu atau lebih dari gejala berikut : kesulitan untuk jatuh tertidur. terapi terhadap faktor sekunder yang menyebabkan terjadinya insomnia pada lansia harus ditatalaksana dengan baik. Modalitas terapi untuk insomnia terus berkembang. Pada insomnia sekunder. mempertahankan tidur. bangun terlalu dini di pagi hari dan tidur yang tidak menyegarkan. kesulitan untuk mempertahankan tidur. insomnia didefinisikan sebagai ketidakpuasan seseorang terhadap tidurnya baik secara kuantitas maupun kualitas yang dihubungkan dengan ketidakmampuan seseorang untuk mengawali tidur. bangun terlalu dini atau tidur yang tidak menyegarkan. Kejadian ini berlangsung lebih dari 3 bulan. berkurangnya durasi dan kualitas tidur meskipun memiliki waktu yang cukup untuk melakukannya dan ini dihubungkan dengan adanya gangguan pada aktivitas sehari-hari. Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders five edition (DSM-V) tahun 2013. Faktor psikologis menjadi salah satu penyebab kecenderungan munculnya insomnia. insomnia adalah kesulitan mengawali tidur. non-farmakoterapi.

1. Definisi Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders five edition (DSM-V) tahun 2013. BAB 2 INSOMNIA PADA USIA LANJUT 2. Tabel. International Classification of Sleep Disorder-3 (ICSD-3) tahun 2014. gangguan insomnia lainnya. berkurangnya durasi dan kualitas tidur meskipun memiliki waktu yang cukup untuk melakukannya dan ini dihubungkan dengan adanya gangguan pada aktivitas sehari-hari. Melalui pemeriksaan polysomnography pada pasien insomnia didapatkan sleep latency = 30 menit. insomnia jangka pendek.5 jam. 2. insomnia adalah kesulitan mengawali tidur. International Classification of Sleep Disorder-3 (ICSD-3) membagi insomnia menjadi insomnia kronik. Insomnia kronik berlangsung lebih dari 3 bulan dan insomnia jangka pendek lebih kecil dari 3 bulan. wake time after sleep onset = 30 menit.produktivitas dan fungsi kognitif sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup pada pasien usia lanjut. Kejadian ini berlangsung lebih dari 3 bulan. atau total sleep time (TST) < 6-6. Klasifikasi insomnia 4 . bangun terlalu dini atau tidur yang tidak menyegarkan.1. sleep efficiency < 85%. insomnia didefinisikan sebagai ketidakpuasan seseorang terhadap tidurnya baik secara kuantitas maupun kualitas yang dihubungkan dengan ketidakmampuan seseorang untuk mengawali tidur. mempertahankan tidur.

Alat tersebut dapat mencatat aktivitas EEG. Polisomnografi merupakan alat yang dapat mendeteksi aktivitas otak selama tidur. Tidur REM disebut 5 . Elektromiografi perifer berguna untuk menilai gerakan abnormal saat tidur. psikologis dan lingkungan sangat berpengaruh terhadap terjadinya insomnia pada lansia. 2.3.2.2. Faktor kondisi kesehatan fisik yang berhubungan dengan proses penuaan. Banyak faktor yang mempengaruhi tingginya angka prevalensi insomnia pada lansia. Pemeriksaan polisomnografi sering dilakukan saat tidur malam hari.diukur dengan polisomnografi . dan elektromiografi. elektrookulografi.terdiri dari tidur rapid eye movement (REM) dan tidur non-rapid eye movement (NREM). Pertambahan umur menyebabkan terjadinya perubahan pola tidur dan meningkatkan resiko terjadinya insomnia pada usia lanjut. Perubahan pola tidur yang terkait dengan usia terjadi pada sleep architecture dan ritme sirkadian. Fisiologi tidur Fisiologi tidur dapat dilihat melalui gambaran ekektrofisiologik sel-sel otak selama tidur. Epidemiologi Prevalensi lansia yang mengalami insomnia dalam sebuah studi yang luas di komunitas ditemukan sebesar 36% untuk lansia laki-laki dan 54% lansia perempuan mengeluhkan insomnia. Stadium tidur . Hanya 26% lansia laki-laki dan 21% lansiaperempuan yang melaporkan tidak mengalami kesulitan untuk tidur.

periode REM makin panjang. Ia menduduki sekitar 5% dari total waktu tidur. frekuensi 4-7 siklus per detik. Pada fase ini terjadi penurunan aktivitas gelombang alfa (gelombang alfa menurun kurang dari 50%). nadi dan tekanan darah cenderung menurun. Rekaman EEG berupa delta. Tonus otot meningkat tetapi tidak ada gerakan bola mata.juga tidur D atau bermimpi karena dihubungkan dengan bermimpi atau tidur paradoks karena EEG aktif selama fase ini. Aktivitas bola mata melambat. frekuensi 1-2 siklus per detik. negatif. Kumparan tidur adalah gelombang ritmik pendek dengan frekuensi 12-14 siklus per detik. Secara umum ada 4-6 siklus NREM-REM yang terjadi setiap malam. Stadium 1 disebut onset tidur. Stadium 1 dan 2 dikenal sebagai tidur dangkal. berlangsung sekitar 3-5 menit. dan disebut juga tidur delta. dengan durasi 500 mdetik. Pada stadium ini seseorang mudah dibangunkan dan bila terbangun merasa seperti setengah tidur.3.2.4. Stadium 4 lebih lambat dari stadium 3. Kedua stadia ini bergantian dalam satu siklus yang berlangsung antara 70 – 120 menit. Kompleks K yaitu gelombang tajam. frekuensi 2-3 siklus per menit. Stadium ini menduduki sekitar 50% total tidur. voltase tinggi. tegangan rendah. Makin larut malam. Tidur NREM terdiri dari empat stadium yaitu stadium 1. Stadium 1 NREM adalah perpindahan dari bangun ke tidur. Stadium 3 dan 4 disebut juga tidur gelombang 6 . Stadium 4 terjadi jika gelombang delta lebih dari 50%. Stadium 3 ditandai dengan 20%-50% aktivitas delta. diikuti oleh gelombang lebih lambat. Tidur NREM disebut juga tidur ortodoks atau tidur gelombang lambat atau tidur S. amplitudo tinggi. kumparan tidur dan kompleks K. Periode tidur REM I berlangsung antara 5-10 menit. Stadium 2 ditandai dengan gelombang EEG spesifik yaitu didominasi oleh aktivitas teta. voltase rendah-sedang. aktivitas positif. Tonus otot rendah. sinyal campuran. Stadium 3 dan 4 sulit dibedakan. Tidur dimulai dengan stadium NREM. amplitudo rendah. predominan beta dan teta. tonus otot menurun.

Fase ini menggunakan sekitar 20%-25% waktu tidur. Siklus sirkadian tidur-bangun dapat mempengaruhi fungsi neuroendokrin misalnya sekresi kortisol. Tidur REM ditandai dengan rekaman EEG yang hampir sama dengan tidur stadium 1. gangguan kepribadian ambang. Pada tidur REM terdapat mimpi-mimpi.lambat atau tidur dalam. masuk ke stadium 2. Latensi REM sekitar 70-100 menit pada subyek normal tetapi pada penderita depresi. Gangguan siklus temperatur dikaitkan dengan insomnia. Perubahan fisiologi tidur pada usia lanjut 7 .4. Pada pria terjadi ereksi penis. dan 4. Jadi. Refleks tendon melemah atau hilang. Fungsi otonom bervariasi pada tidur REM tetapi lambat atau menetap pada tidur NREM. Pada dewasa normal. gangguan makan. 2. Pada stadium ini terdapat letupan periodik gerakan bola mata cepat. Pergantian siklus dari NREM ke siklus REM biasanya berlangsung 90 menit. Tidur ini terjadi antara sepertiga awal malam dengan setengah malam. Tekanan darah dan nafas meningkat. melatonin. Stadium ini menghabiskan sekitar 10%-20% waktu tidur total. temperatur tubuh juga mengikuti ritme sirkadian. biasanya berlangsung 70-90 menit setelah onset. dan hormon pertumbuhan. Sebagian tidur delta (NREM) terjadi pada separuh awal malam dan tidur REM pada separuh malam menjelang pagi. puncaknya pada sore hari dan paling rendah pada malam hari. 3. dan gangguan penggunaan alkohol durasinya lebih pendek. Durasi periode REM meningkat menjelang pagi. Tidur REM dikaitkan dengan mimpi-mimpi sedangkan tidur NREM dengan pikiran abstrak. Kemudian kembali ke stadium 2 dan akhirnya masuk ke periode REM 1. tidur dimulai pada stadium 1. skizofrenia. Tidur REM dan NREM berbeda dalam hal dimensi psikologik dan fisiologik. Durasi tidur ini meningkat bila seseorang mengalami deprivasi tidur.

menurunnya total sleep time. sleep efficiency. Pertambahan umur menyebabkan terjadinya perubahan pola tidur yang meningkatkan resiko terjadinya insomnia akan tetapi pertambahan umur tidak menjadi faktor mutlak timbulnya insomnia pada usia lanjut. meskipun mereka mempunyai waktu yang cukup untuk tidur tetapi terjadi penurunan kualitas tidur. transient arousal dan bangun terlalu dini. Tabel 2. tahap REM dan REM laten tetapi mengalami peningkatan tidur tahap 1 dan 2. Pada kenyataanya. tahap 4. Perubahan ini menimbulkan beberapa efek yaitu: kesulitan untuk mengawali tidur.2. Perubahan tidur pada usia lanjut Pada usia lanjut terjadi penurunan tidur tahap 3. Pertambahan umur menyebabkan terjadinya perubahan dalam tahapan tidur. Perubahan pola tidur yang terkait dengan usia terjadi pada Sleep Architecture dan ritme sirkadian. 8 .

1. Pusat pengaturan ritme sirkadian adalah suprachiasmatic nucleus (SCN) di hipotalamus. Faktor yang mempengaruhi kerja dari SCN adalah cahaya. aktivitas kardiovaskuler dan sekresi hormon selama 24 jam. suhu tubuh. yang menimbulkan rasa lelah. Gambar 2. aktivitas sosial dan fisik. Neuron fotoreseptor SCN akan teraktivasi pada saat cahaya masuk ke retina maka SCN akan merangsang pineal gland untuk mensekresikan melatonin. aktivitas fisik dan sosial saat memasuki usia lanjut. Akibat gangguan ritme sirkadian adalah ketidakmampuan untuk tidur meskipun terdapat rangsangan. 9 . Hal ini menyebabkan pasien bangun dan tidur pada waktu yang tidak tepat. Penurunan fungsi dari SCN pada usia lanjut yang mengalami penurunan fungsi SCN akan menyebabkan terjadinya gangguan pada ritme sirkadian. peningkatan resiko insomnia dan peningkatan frekuensi tidur. Gejala Penurunan fungsi SCN diduga disebabkan oleh penurunan paparan cahaya. Perubahan sleep architektur pada lansia Ritme sirkadian mengatur siklus tidur. aktivitas saraf otonum.

1. Diagnosis Insomnia pada Usia Lanjut 3. Tatalaksana Insomnia pada Usia lanjut 3.2.1.2. Tatalaksana Farmakologis 10 . BAB 3 DIAGNOSIS DAN TATALAKSANA INSOMNIA PADA USIA LANJUT 3.1. Tatalaksana Non-Farmakologis 3.2.

11 . Pemeriksaan penunjang yang dilakukan adalah barium esofagogram. Akalasia esofagus adalah gangguan motilitas esofagus yang penyebabnya tidak diketahui yang ditandai dengan aperistalsis esofagus dan gangguan relaksasi sfingter esofagus bagian bawah. endoskopi. dan manometri sebagai gold standar untuk diagnosis akalasia esofagus. pemeriksaan fisik. heartbun.1. Diagnosis akalasia esofagus ditegakkan berdasarkan anamnesis. 3. dan nyeri dada. Farmakoterapi yang dapat diberikan adalah farmakoterapi oral berupa nitrat dan calcium chanel bloker dan farmakoterapi via endoskopi berupa injeksi botulinum toxin yang diberikan pada pasien dengan resiko tinggi tindakan bedah. 4. BAB 4 PENUTUP 4. Kesimpulan 1. Gejala klinis yang sering ditemukan pada akalasia esofagus adalah disfagia. 2. Pneumatic dilation (PD) dan tindakan bedah Laparascopic Heller Myotomi LHM) merupakan modalitas terapi yang mempunyai efikasi yang baik pada talaksanaa pasien dengan akalasia esofagus. regurgitasi. dan pemeriksaan penunjang.

Alwi I. Achalasia: an Overview of Diagnosis and Treatment. Achalasia . p887- 897 12 .1-12 6. 2007. 16 p. DAFTAR PUSTAKA 1. Vol. Vol. Diagnosis. 4. 2014: 1743-1748 5. Journal of Gastroenterology and Hepatology. Vol. Editor Sudoyo AW.2. Akalasia. p.10: p89-110 2. Orphanet Journal of Rare Diseases. Richter JE. Vaezi M. Vol. The American Journal of Gastroenterology. Vaezi MF. Journal of Gastrointestinal Liver Disease. 5. Tutuian R. Perlunya penambahan sarana dan prasarana yang mendukung untuk dapat mentalaksana pasien dengan akalasia esofgus dengan baik.11. Pandolfino JE. Saran 1.An Update. 2015. Simadibrata. Perlunya pemahaman yang lebih lanjut tentang talaksanaan akalasia esofagus. Presentation. ACG Clinical Guideline: Diagnosis and Management of Achalasia. Zifodya JS. Pohl D. Idiopathic (primary) achalasia: a review. and Management of Achalasia. Edisi keenam. Setiati S. Penerbit Interna Publising. Peroral Endoscopic Myotomi (POEM) merupakan modalitas terapi baru yang bersifat minimal invasif berbasis endoskopi mempunyai efikasi yang baik dalam tatalaksana akalasia esofagus. 2. Journal of Neurogastroenterology Motil. Kim HP. Dalam: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Pandolfino J. 2010. Setiohadi.102-122 3. Kahrilaz PJ. No 3. Bakri F. Vela M. 297-303 4. 2013. 2013. Patel DA.16.

et al. Systematic review and meta-analysis: Efficacy and safety of POEM for achalasia. Correale L. Barbieri LA. Minami H. Repici A. Kahrilaz PJ. Peroral endoscopic myotomy (POEM) for esophageal achalasia. 3(4). Smouth AJ.6. p325– 334 11. Patti MG. Vol. Vol. Fox M. Palmer JB. Rosati R. 2010. Changes in the Diagnosis and Treatment of Achalasia. Chicago Classification Criteria of Esophageal Motility Disorders Defined in High Resolution Esophageal Pressure Topography (EPT). Anatomy and Physiology of Feeding and Swallowing : 12. Werner. Kaga M.7. Vol. e87 8. Sato Y. United European Gastroenterology Journal. et al. Matsuo K. p265–271 10. 24 : p57–65 9. Pandolfina JE. Romario UF. Schwiezer D. 2015. Vol. Hassan C. Journal of Endoscopy. Physiology Medicine Rehabilitation Clinical. 2015. Vol. Normal and Abnormal. Ramirez M. J Clinical and Translational Gastroenterology. Kobayashi Y. Suzuki M. J Neurogastroenterol Motil. Inoue H. 2012. 2008.19(4): p691–707 13 . 42.