Pembaharuan Pendekatan Non Hormonal untuk Manajemen

Menopause

ABSTRAK
Evaluasi risiko - manfaat dari pengaturan gejala vasomotor dan masalah kesehatan lainnya
yang terkait dengan menopause harus disesuaikan pada setiap wanita secara individu, dengan
mempertimbangkan penilaian mengenai gejala-gejala yang paling mengganggu dan faktor risiko yang
paling memberatkan terhadap kualitas hidup. Bagi kebanyakan wanita menopause yang menunjukkan
gejala, terapi hormone (HT) tetap menjadi pengobatan terbaik, tetapi berbagai pilihan terapi non
hormonal tersedia untuk mengobati gejala menopause dan pengeroposan tulang pada wanita yang
tidak dapat atau tidak mau menggunakan terapi hormonal (HT). Dosis rendah estrogen per vagina
tetap menjadi pilihan untuk mengobati atrofi vagina pada wanita-wanita ini. Artikel ini meninjau
alternative terapi hormonal sistemik untuk mengobati gejala menopause dan masalah-masalah
kesehatan yang terkait.

Sebagai dampak angka usia harapan hidup perempuan di Amerika Serikat yang sekarang
melebihi 80 tahun, jutaan wanita AS akan menghabiskan lebih dari sepertiga bahkan setengah dari
kehidupan mereka melewati masa menopause. Sementara terapi hormon (HT) secara efektif dapat
mengatasi banyak gejala menopause, wanita yang tidak mau atau tidak dapat menggunakan HT
memerlukan alternative terapi non hormonal untuk mengobati gejala-gejala menopause serta
pengeroposan tulang akibat kekurangan estrogen yang terjadi pada kebanyakan wanita. Artikel ini
meninjau terapi non hormonal saat ini dan terapi non hormonal eksperimental untuk gejala menopause
dan masalah-masalah yang terkait, seperti disfungsi seksual usia paruh baya dan pemeliharaan
kesehatan tulang.

MENDEFINISIKAN ISTILAH MENOPAUSE
Kita memulai pembahasan mengenai kesehatan menopause dengan melakukan klarifikasi
mengenai beberapa hal.
Menopause mengacu pada periode menstruasi terakhir dan hanya mewakili sebuah batas
waktu. Menopause dapat didiagnosis hanya setahun setelah periode tersebut terjadi, ketika hal ini jelas
bahwa periode menstruasi terakhir tersebut benar-benar yang terakhir.
Perimenopause terdiri dari tiga komponen: periode sesaat sebelum menopause (ketika
gambaran biologis dan klinis menopause yang akan datang dimulai), periode menopause itu sendiri
(periode menstruasi terakhir), dan tahun berikutnya setelah menopause. Perimenopause merupakan
sinonim dari periode transisi menopause.
Postmenopause adalah periode yang dimulai pada saat periode menstruasi terakhir
(menopause), meskipun diakui hanya setelah satu tahun terjadinya amenore. Fase menopause dini
adalah 5 tahun pertama setelah menopause, sedangkan sepanjang waktu sesudahnya disebut sebagai
fase menopause akhir.

PENILAIAN MENOPAUSE
Gejala-Gejala
Gejala primer dari perimenopause adalah:
 Gejala-gejala vasomotor (misalnya, rasa panas berlebih, berkeringat di malam hari)
 Perubahan siklus menstruasi (yaitu, oligomenore, amenore)
 Kekeringan pada vagina

1

dibahas. Gejala sekunder meliputi gangguan tidur. timbulnya rasa malu. profil risiko pasien secara individu. Gejala vasomotor. Gejala-gejala vasomotor merupakan alasan utama perempuan mencari perawatan medis selama masa menopause. Risiko dan manfaat dari berbagai pilihan pengobatan. Selama kunjungan ini. Di antara wanita-wanita yang memiliki gejala timbulnya rasa panas. riwayat keluarga. Gejala-gejala vasomotor mungkin berhubungan dengan gangguan tidur. stress berkemih atau inkontinensia urin. dan risiko kanker. risiko tromboemboli. perubahan mood. riwayat sosial. dan hasil yang diinginkan. dan penggunaan obat-obatan saat ini. 25% melaporkan bahwa gejala-gejala ini menetap selama lebih dari 5 tahun. sedangkan gejala lain yang tercantum di atas (gangguan tidur. Pasien secara keseluruhan harus dipertimbangkan dalam penilaian ini. dan keluhan somatik. gangguan sosial. fungsi vagina. kecemasan. dan penggunaan tembakau). dan kelelahan. defisit kognitif. kekeringan vagina. dan 10% melaporkan bahwa gejala-gejala ini menetap selama lebih dari 10 tahun. yang meliputi riwayat pribadinya. Lebih dari 75% wanita melaporkan timbulnya rasa panas dalam 2 tahun sekitar masa menopause. gejala yang paling mengganggu yang timbul dan keinginan pasien untuk mencari pengobatan untuk meringankan gejala dinilai. tekanan darah. perubahan mood. perubahan mood. Faktor umum yang mempengaruhi kesehatan pascamenopause ⎯ seperti kepadatan tulang. Evaluasi Secara Individu Merupakan Hal Yang Penting Penilaian gejala dan dampaknya terhadap kualitas hidup adalah komponen kunci dari evaluasi menopause (Gambar 1). termasuk kanker payudara ⎯ harus dimasukkan dalam penilaian. gejala-gejala gangguan berkemih. dan dispareunia (nyeri saat berhubungan seksual) yang memberikan kontribusi pada terjadinya disfungsi seksual berhubungan dengan tidak adanya hormone seks (terutama estrogen) yang terkait dengan menopause. penurunan produktivitas. gejala-gejala somatik) belum dikaitkan secara definitif dengan menopause dan mungkin merupakan fungsi dari proses penuaan. kandung kemih. kesehatan jantung (termasuk profil lipid. Bagi kebanyakan wanita di bawah usia 60 tahun yang memiliki gejala-gejala 2 . Rasio risiko- manfaat akan tergantung pada risiko yang melekat pada setiap jenis pengobatan. baik hormonal dan alternatif untuk HT. dorongan seks yang rendah dan/atau kurangnya gairah seksual. dan fungsi seksual.

yang menyebabkan timbulnya respon berlebihan (yaitu. durasi terapi yang pendek. Fluoxetine dan paroxetine masing-masing telah dipelajari dalam uji coba terkontrol secara acak pada wanita menopause dengan gejala vasomotor. Kebanyakan penelitian mengenai SSRI untuk indikasi ini telah dilakukan dengan menggunakan paroxetine. Seperti HT. agen non hormonal yang bekerja sentral. di dalam pernyataan posisi pada tahun 2004 tentang 3 . Patofisiologi gejala vasomotor ini adalah dasar untuk penggunaan alternatif untuk HT. yang memiliki afinitas tertinggi untuk reseptor norepinefrin diantara jenis SSRI. dan terutama bagi mereka dengan kontraindikasi untuk menggunakan HT - terutama mereka dengan kanker payudara yang diobati dengan obat yang meningkatkan terjadinya gejala vasomotor yang berat . Karena kurangnya uji coba head-to-head. dan umumnya hanya terdaftar sejumlah kecil pasien. Pendekatan medis komplementer dan alternatif untuk gejala vasomotor umumnya belum dievaluasi dalam studi yang dirancang dengan baik atau telah ditemukan bahwa pendekatan tersebut tidak efektif.alternatif terapi non-hormonal untuk pengobatan gejala vasomotor jelas diperlukan. Agen yang bekerja sentral ditunjukkan sebagai terapi yang paling menjanjikan dalam hal ini. dan latihan pernapasan dalam dan relaksasi. menyesuaikan suhu kamar. Namun. Sebuah peningkatan kecil dalam suhu inti mendahului episode gejala vasomotor pada sekitar 70% wanita. penelitian mengenai agen farmakologis non-hormonal dibatasi oleh jumlah pasien yang terbatas. dan karena risiko yang dirasakan. dan pengobatan komplementer dan alternatif. seperti selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI) dan serotonin norepinephrine reuptake inhibitors (SNRIs). HT. sehingga sulit untuk menarik kesimpulan yang valid dari data mereka. studi mengenai SSRI biasanya hanya dilakukan selama durasi beberapa minggu. sehingga pendekatan tersebut tidak akan dibahas lebih lanjut di sini. Dasar Pemikiran Untuk Pendekatan Non Hormonal Pengembangan gejala vasomotor tampaknya terkait dengan penarikan gonadotropin dan ketidakstabilan serotonin dan norepinefrin di hipotalamus. terdapat pilihan pengobatan lain yang dapat dipertimbangkan. Modifikasi gaya hidup untuk mengatasi rasa panas yang berlebihan termasuk mengatur lapisan pakaian.menopause. Secara keseluruhan. berkeringat parah dan kemerahan) untuk setiap kenaikan yang sangat kecil pada suhu inti. PENGOBATAN ALTERNATIF UNTUK GEJALA VASOMOTOR: FOKUS PADA PILIHAN TERAPI NON HORMONAL Pilihan untuk pengobatan gejala vasomotor termasuk modifikasi gaya hidup. Penyempitan set point termoregulasi hipotalamus diikuti oleh peningkatan sensasi rasa panas yang hebat dan vasodilatasi perifer. SSRI Seperti diuraikan pada Tabel 1. hasil dengan terapi SSRI dicampur sehubungan dengan keberhasilan dalam mengurangi insiden dan keparahan gejala vasomotor. HT tetap menjadi standar emas dan pengobatan yang direkomendasikan. baik menurut American Association of Clinical Endocrinologists dan North Amerika Menopause Society. kemanjuran relatif terapi non-hormonal tidak dapat ditentukan saat ini. Untuk wanita-wanita ini. HT dibahas panjang lebar dalam artikel sebelumnya dalam lampiran ini. Secara umum. The North American Menopause Society (NAMS). beberapa wanita tidak bersedia untuk menggunakan HT. bagi wanita yang tidak dapat atau tidak akan mengambil HT. sering kali dengan desain penelitian tidak terkontrol atau retrospektif. dan masing-masing telah menghasilkan pengurangan frekuensi dan keparahan gejala-gejala tersebut dibandingkan dengan plasebo. hubungan dosis-respons terhadap efikasi dan efek samping telah diamati pada terapi non-hormonal. dan tingkat respons pada placebo yang tinggi (Tabel 1).

pemeriksaan terbuka yang menunjukkan penurunan frekuensi gejala vasomotor yang sedikit dengan penggunaan obat ini. Obat ini telah terbukti mengurangi frekuensi dan keparahan gejala vasomotor dalam beberapa penelitian. dan The National Institute of Health telah mengakui fluoxetine dan paroxetine sebagai alternatif yang mungkin untuk menggantikan HT untuk pengobatan gejala –gejala vasomotor. Venlafaxine merupakan salah satu SNRI yang paling banyak dipelajari. Desvenlafaxine suksinat.75. Obat ini saat ini berada dibawah tinjauan FDA untuk pengobatan gejala vasomotor yang terkait menopause dan 4 . selama 8 minggu. dan dua studi mengenai obat ini dilakukan dengan desain penelitian acak terkontrol. Satu catatan penting diperlukan mengenai penggunaan SSRI dalam pengaturan ini: karena SSRI merupakan penghambat kuat CYP2D6. telah disetujui oleh US Food and Drug Administration (FDA) pada Februari 2008 untuk pengobatan penyakit depresi. sebuah enzim penting dalam metabolisme tamoxifen. NAMS mengakui venlafaxine dosis rendah (37.5 . tapi follow up terlama dalam studi mengenai Venlafaxine hanya selama 12 minggu. SNRI Studi mengenai SNRI juga telah mendaftarkan beberapa pasien.pengelolaan gejala vasomotor terkait menopause.0 mg) sebagai alternatif terapi non hormonal untuk pengobatan gejala vasomotor. potensi interaksi antara SSRI dan tamoxifen harus diketahui. Pada tahun 2004 pernyataan posisinya. metabolit aktif dari venlafaxine. dengan jangka waktu pengobatan 4 sampai 52 minggu (Tabel 1). Pada pasien kanker payudara dengan genotipe CYP2D6. sebuah percobaan yang kecil. Duloxetine dinilai dalam percobaan klinis tunggal yang telah diterbitkan untuk gejala vasomotor yang timbul. paroxetine mengurangi kadar plasma dari metabolit aktif tamoxifen.

400 mg/hari). secara signifikan lebih besar persentase pasien yang mencapai pengurangan 75% atau lebih besar dalam jumlah terjadinya rasa panas yang berlebihan dari garis dasar pada kelompok dosis 100. praktek yang tidak khas pada penggunaan venlafaxine dan mungkin dapat menjelaskan timbulnya efek samping yang disebutkan di atas. dan sakit kepala. gabapentin (dititrasi sampai 2. Mekanisme kerjanya terhadap rasa panas berlebihan tidak pasti. tetapi dapat diperkirakan secara teori bahwa gabapentin dapat memodulasi arus kalsium. sementara menurut penulis penelitian telah ada bukti bahwa obat tersebut bertanggung atas insiden berkurangnya gejala vasomotor. Di antara agen yang bekerja sentral yang dipelajari untuk pengobatan gejala vasomotor. desvenlafaxine telah dinilai dalam uji coba acak terkontrol terbesar untuk mendapatkan persetujuan. Percobaan acak lainnya membandingkan empat dosis desvenlafaxine (50. 150. Dibandingkan dengan kelompok plasebo. atau plasebo selama 12 minggu.masing-masing secara signifikan unggul dari plasebo mengenai hal ini. Efek samping yang paling umum terjadi yang terkait dengan desvenlafaxine adalah mual. Tiga-perempat dari populasi penelitian memiliki riwayat kanker payudara. SNRI adalah inhibitor lemah dari CYP2D6 dan karena itu merupakan alternatif terapi non hormonal yang baik untuk gejala vasomotor pada pasien kanker payudara yang diobati dengan tamoxifen. Tingkat penghentian pengobatan dengan desvenlafaxine terendah pada kelompok menerima dosis 50 mg. dan dua-pertiga menggunakan tamoxifen atau inhibitor aromatase pada saat masuk. Perlu dicatat bahwa desvenlafaxine dalam penelitian ini dimulai pada dosis penuh tanpa titrasi dan dihentikan secara tiba-tiba. dan pada kelompok dosis 100 dan 200 mg pada minggu ke 12 . Dalam uji coba secara acak pada 541 wanita menopause dengan rasa panas berlebih. Perempuan-perempuan tersebut diacak baik untuk tetap menggunakan antidepresan mereka 5 .diharapkan menjadi agen non-hormonal pertama yang disetujui oleh FDA untuk pengobatan gejala vasomotor pada masa menopause. Studi lain yang menilai gabapentin dalam kombinasi dengan antidepresan (kebanyakan dengan venlafaxine atau paroxetine) pada 118 wanita dengan control rasa panas berlebihan yang tidak adekuat. 100. menunjukkan kemanjuran yang unggul dibandingkan dengan plasebo dalam semua uji coba placebo terkontrol (Tabel 1). atau 200 mg/hari) dengan plasebo pada 707 wanita sehat pascamenopause yang mengalami setidaknya 50 rasa panas berlebihan sedang sampai berat per minggu. Satu studi acak pada 60 wanita pascamenopause dengan rasa panas berlebihan sedang sampai berat yang menerima pengobatan dengan estrogen konjugasi (0. Penarikan desvenlafaxine dikaitkan dengan kambuhnya gejala. 150. meskipun efek placebo yang lebih besar diamati dalam penelitian ini. pusing. hasil terbaik secara keseluruhan terlihat dengan dosis 100 mg desvenlafaxine. Selain uji coba terkontrol plasebo yang disebutkan di atas.625 mg/hari). gabapentin telah dinilai dibandingkan dengan estrogen dan dalam kombinasi dengan antidepresan. yang dikaitkan dengan penurunan 64% dari garis dasar rata-rata jumlah harian rasa panas berlebihan pada minggu ke-12. dan 200 mg pada minggu ke 4. dan insomnia. 91 di antaranya dievaluasi pada 5 minggu. Gejala yang paling umum yang terjadi pada penghentian pengobatan adalah pusing. Di antara 620 perempuan yang dievaluasi. Antikonvulsan Gabapentin adalah antikonvulsan yang telah dinilai dalam beberapa uji coba untuk pengobatan gejala vasomotor. yang menunjukkan efek samping yang berhubungan dengan dosis yang diberikan. mual. dosis desvenlafaxine yang diuji (100 dan 150 mg/hari) dikaitkan dengan penurunan berkelanjutan gejala vasomotor sedang sampai berat yang signifikan dibandingkan dengan plaseboyang diberikan selama 12 sampai 26 minggu pengobatan. Gabapentin dan estrogen sama efektif dalam mengurangi hasil primer penelitian – skor campuran rasa panas berlebihan 12 minggu .

Dalam uji coba terkontrol plasebo yang besar ini. bahwa setiap nilai suplementasi vitamin E pada populasi ini mungkin terletak dalam mengurangi risiko tromboemboli vena (VTE).5 mg. Vitamin E: Kurang Cukup Bukti Untuk Adanya Perbaikan Gejala. Bukti dari Studi Kesehatan Perempuan menunjukkan. bagaimanapun.5 mg sampai 1. Penggunaan gabapentin saja dikaitkan dengan 50% penurunan signifikan rasa panas yang berlebihan dari garis dasar. kemoterapi itu sendiri dapat menyebabkan gejala menopause. obat tersebut harus disediakan untuk pasien yang tidak toleran terhadap pilihan non-hormonal lain yang dibahas di atas. pengacakan 600 IU alfa-tokoferol setiap hari dikaitkan dengan penurunan sedang pada keseluruhan VTE dan pengurangan yang lebih signifikan diantara subkelompok wanita yang berisiko tertinggi untuk mengalami VTE yaitu orang-orang dengan riwayat VTE sebelumnya atau mutasi prothrombotic. dan sakit kepala. kanker mereka merupakan kontraindikasi untuk HT. disorientasi. Total dosis harian yang digunakan berkisar antara 0. Pertimbangan Khusus Pada Pasien Kanker Payudara Wanita dengan kanker payudara diberikan pertimbangan khusus. dan efek samping dari mulut kering dan pusing dilaporkan menyebabkan tingkat penghentian yang relatif tinggi. Karena SSRI adalah inhibitor kuat dari CYP2D6. Terutama. Namun Berperan Dalam Pencegahan VTE? Vitamin E sering direkomendasikan di masa lalu sebagai alternatif terapi non-hormonal untuk mengobati gejala vasomotor. Agonis Reseptor Alpha2-adrenergik Agonis reseptor Alpha2-adrenergik clonidine telah digunakan untuk pengobatan rasa panas yang berlebihan. gejala vasomotor sering disebabkan oleh terapi kanker payudara yang umum lainnya (dan jangka panjang). seperti yang disebutkan di atas. yang sangat penting untuk metabolisme tamoxifen. exemestane. ALTERNATIF ESTROGEN SISTEMIK UNTUK MASALAH KESEHATAN LAINNYA Atrofi vagina Pelumas dan pelembab vagina non-hormonal (Tabel 2) dianggap sebagai lini pertama terapi non hormonal untuk atrofi vagina. termasuk inhibitor aromatase (yaitu. Namun demikian. namun kemanjurannya telah disederhanakan dalam uji kecil terbaik dengan durasi yang singkat (Tabel 1). Karena clonidine menjadi pilihan. karena beberapa alasan. Kedua.700 mg/hari) dibandingkan dosis yang mungkin kadang- kadang dapat dicapai dalam praktek didunia nyata. Pertama. Efek samping yang paling umum dari gabapentin dalam pengaturan klinis adalah mengantuk. sehingga mereka adalah kandidat utama untuk dilakukan pendekatan non hormonal untuk mengontrol gejala vasomotor. Akhirnya. namun uji klinis kecil telah menunjukkan bahwa hal itu tidak jauh lebih efektif dibandingkan plasebo untuk indikasi ini. SNRI atau gabapentin merupakan pilihan non hormonal yang lebih disukai pada wanita menggunakan tamoxifen. sehingga relevansi klinis dari studi ini mungkin agak terbatas. letrozole) selain tamoxifen. dosis efektif gabapentin yang dipelajari pada wanita dengan gejala vasomotor lebih tinggi (900 sampai 2. tanpa adanya manfaat tambahan yang disebabkan melanjutkan pemberian antidepresan tersebut.dan menggunakan tambahan gabapentin atau menghentikan terapi antidepresan mereka dan beralih ke gabapentin sebagai monoterapi. Perubahan mood yang negatif dan timbulnya kegelisahan pada minggu ke-2 tercatat pada wanita yang dihentikan pemberian antidepresan mereka. menurut pernyataan NAMS 2007 mengenai atrofi vagina pada 6 . anastrozole. pernyataan NAMS mengakui gabapentin sebagai alternatif HT untuk mengobati gejala vasomotor. meskipun tidak ada perubahan dalam evaluasi kualitas hidup mereka.

Disfungsi Seksual Disfungsi seksual tidak langsung disebabkan oleh transisi menopause tetapi karena multifaktorial. dan pada mereka yang mengalami bercak atau perdarahan. pemeliharaan tersebut dapat diindikasikan pada wanita yang berisiko tinggi untuk mengalami kanker endometrium. Memfokuskan terapi estrogen untuk pemberian local pada vagina dianjurkan ketika seorang wanita hanya mengeluhkan gejala atrofi vagina. dinamika hubungan. melibatkan kesehatan fisik. pemberian dosis rendah estrogen lokalis vagina (Tabel 2) efektif dan ditoleransi dengan baik untuk atrofi vagina. pada mereka yang membutuhkan dosis yang lebih tinggi untuk membantu mengatasi gejala atrofi vagina. Dosis rendah estrogen vaginal topikal dibatasi penyerapannya secara sistemik dan umumnya tidak memerlukan penggunaan progestogen. bagaimanapun. dan mengurangi keparahan gejala vagina dibandingkan dengan plasebo. kesehatan mental. Penelitian terbaru membantu untuk menentukan seberapa "rendah" dosis rendah terapi topikal yang dapat diberikan yang masih dapat memberikan khasiat. kedua dosis estradiol meningkatkan maturasi vagina secara signifikan.wanita pascamenopause. Sejumlah terapi saat ini sedang diselidiki untuk pengobatan disfungsi seksual pada wanita usia paruh baya. Selama studi 12-minggu. Pelumas non hormonal tidak mengembalikan integritas vagina. Meskipun perbaikan yang lebih besar terjadi dengan dosis 25 µg. menurut pernyataan NAMS yang sama. Meskipun ada bukti yang cukup untuk mendukung pemeliharaan endometrium pada wanita asimtomatik yang menggunakan estrogen vagina. dan ketersediaan mitra seksual. Dua keluhan yang paling umum yang berkaitan dengan disfungsi seksual pada wanita pada usia paruh baya adalah kurangnya keinginan dan hipoarousal. diantara faktor-faktor lainnya. menurunkan pH vagina. Ini termasuk preparat estrogen vagina dosis rendah yang digunakan untuk atrofi 7 . hasil menunjukkan bahwa 10 µg estradiol topikal merupakan pilihan yang efektif untuk wanita dengan atrofi vagina yang ingin meminimalkan paparan mereka ke estrogen. Sebuah uji coba terkontrol plasebo terakhir membandingkan 10 µg dan 25 µg kekuatan tablet vagina yang mengandung estradiol untuk atrofi vagina pada 230 wanita postmenopause. Di luar pilihan ini.

tetapi juga memberikan efek samping mengurangi kadar kolesterol lipoprotein dengan kepadatan tinggi (HDL). pilihan yang paling tepat untuk kebanyakan wanita mungkin adalah bifosfonat atau estradiol transdermal.vagina serta pendekatan terbaru saat ini yang dalam pengujian klinis.014 mg/hari) telah terbukti secara signifikan meningkatkan kepadatan mineral tulang (BMD) pada kedua pinggul dan tulang belakang pada wanita pascamenopause dibandingkan dengan placebo. Pendekatan farmakoterapi yang paling banyak dipelajari untuk disfungsi seksual telah menggantikan testosteron. terapi testosteron saja tidak dapat direkomendasikan pada wanita yang tidak mengambil terapi estrogen secara bersamaan. Menurut pernyataan NAMS pada 2005 mengenai terapi testosteron. Dalam sebuah studi pada wanita premenopause dengan gangguan gairah seksual. dan tablet risedronate bulanan 150 mg dipertimbangkan kemudian. dan estradiol transdermal dosis sangat rendah. Dosis estrogen yang lebih rendah. Para penulis menyimpulkan bahwa dampak dari terapi testosteron pada hasil kesehatan lainnya pada wanita menopause yang kekurangan estrogen tidak jelas. baru-baru ini telah memperoleh persetujuan FDA untuk pemberian secara infus intravena sekali setahun setelah rejimen ini secara signifikan menunjukkan adanya penurunan risiko morfometrik tulang belakang. patch/tempelan transdermal testosteron telah dipelajari untuk pengobatan disfungsi seksual pada wanita menopause. Bifosfonat oral. pinggul. dengan dosis yang lebih tinggi menghasilkan peningkatan BMD yang lebih. wanita postmenopause yang mengalami gejala penurunan hasrat seksual yang menyebabkan stress individu mungkin menjadi kandidat untuk mendapatkan terapi testosteron. tidak memiliki data tentang pengurangan risiko fraktur. bremelanotide meningkatkan baik gairah dan hasrat seksual. Pernyataan NAMS lebih lanjut menjelaskan bahwa semua penyebab lain yang dapat diidentifikasi dari disfungsi seksual harus dipertimbangkan dan dikesampingkan dengan sesuai. termasuk kalsium dan suplemen vitamin D. satu-satunya agen yang telah menunjukkan penurunan risiko patah tulang pada wanita yang tidak dinyatakan memiliki osteoporosis adalah terapi estrogen dengan dosis standar (misalnya. 0. alendronate dan risedronate. Kesehatan Tulang Banyak alternatif untuk HT sistemik yang ada untuk menjaga kesehatan tulang. Selain kalsium dan suplemen vitamin D. Meskipun dosis estrogen yang lebih rendah telah ditemukan untuk meningkatkan BMD.957 wanita perimenopause dan pascamenopause. terdapat respon tergantung dosis. evaluasi FDA mengenai patch/tempelan ini menunggu ketersediaan data keamanan jangka panjang. Bifosfonat. Selain testosteron sistemik. telah terbukti khasiatnya dalam mengurangi tingkat patah tulang pinggul pada wanita yang sudah memiliki osteoporosis. meskipun patch/tempelan testosteron untuk wanita tersedia di Eropa. yang keduanya bekerja dengan menginduksi gairah seksual. rekombinan hormon paratiroid manusia. seperti adanya manfaat pada fungsi seksual bagi wanita perimenopause. Sebuah tinjauan Cochrane baru-baru ini menilai hasil dari 23 uji coba yang mengevaluasi penambahan testosteron untuk HT (estrogen dengan atau tanpa progestogen) pada 1. Asam zoledronic. modulator reseptor estrogen selektif. bisphosphonate injeksi. Risedronate baru-baru ini telah memperoleh persetujuan FDA untuk pemberian dalam rejimen yang meliputi dua tablet 75-mg diambil pada hari yang sama setiap bulan (berturut-turut). bifosfonat. seperti bremelanotide agonis reseptor melanocortin dan alprostadil topikal. Namun.625 mg estrogen terkonjugasi). non vertebra. Tinjauan ini menemukan bahwa menambahkan testosteron untuk HT memiliki efek menguntungkan pada fungsi seksual pada wanita pascamenopause. Karena kurangnya data keamanan dan kemanjuran penggunaan terapi testosteron pada wanita yang kekurangan estrogen. kalsitonin. 8 . Estradion transdermal dosis sangat rendah (0. yang dapat mempertahankan kepadatan tulang.

fibrilasi atrium lebih umum terjadi pada wanita yang diobati dengan asam zoledronic dibandingkan pada mereka yang menerima plasebo. Obat ini belum terbukti dapat menurunkan risiko kejadian penyakit koroner atau risiko stroke secara keseluruhan. obat ini umumnya dicadangkan untuk pasien yang tidak dapat mentolerir agen lainnya. teriparatid) merupakan satu-satunya agen yang tersedia saat ini di kelas baru agen anabolik tulang. Namun. PTH (1-34) diberikan sebagai injeksi subkutan sekali sehari hingga 2 tahun terapi. Obat ini diberikan secara oral sekali sebulan atau secara suntikan intravena yang diberikan setiap 3 bulan. penggunaan PTH (1-34) tidak dianjurkan selama lebih dari 2 tahun atau pada pasien dengan adanya peningkatan risiko untuk terjadinya osteosarkoma. Raloxifene mengurangi tingkat patah tulang belakang sebesar 40% sampai 50% lebih dari 2 sampai 4 tahun penggunaan tetapi tidak mengurangi tingkat fraktur nonvertebral. Obat ini mengurangi risiko patah tulang belakang pada wanita pascamenopause dan disetujui oleh FDA untuk pengobatan. meluasnya penggunaan ibandronate telah dibatasi karena kurangnya bukti untuk pengurangan patah tulang nonvertebral dan tulang pinggul. hubungan antara asam zoledronic dan fibrilasi atrium tidak pasti. Meskipun studi pada tikus mengungkapkan peningkatan risiko potensial untuk terjadinya osteosarcoma dengan penggunaan PTH (1-34). Kalsitonin memiliki efek analgesik ringan yang masih dipertanyakan dalam pengobatan fraktur kompresi. Pemberian obat secara intravena dapat membantu ketika pasien memiliki efek samping intoleransi gastrointestinal atau kontraindikasi lain untuk pemberian secara oral. Rekombinan Hormon Paratiroid Manusia Sintetis (PTH[1-34]. tidak ada peningkatan risiko osteonekrosis rahang pada subjek yang diobati dengan asam zoledronic. Raloxifene juga mengurangi risiko perkembangan kanker payudara invasif. Kalcitonin adalah agen yang lebih tua diberikan terutama sebagai obat semprot hidung. Karena risiko tersebut tergantung pada dosis dan durasi terapi. osteoporosis. Dimulainya kembali penggunaan bifosfonat setelah 2 tahun terapi PTH (1-34) tampaknya diberikan untuk mencegah hilangnya densitometri/kepadatan tulang yang terjadi kemudian setelah penghentian PTH (1-34). meskipun agen lainnya juga tersedia di masa yang akan darang. dan fraktur tulang rusuk pada percobaan terkontrol placebo yang besar selama 3 tahun pada wanita pascamenopause dengan osteoporosis.) Juga. Seiring penggunaan PTH (1-34) bersamaan dengan bisfosfonat tampaknya mengurangi efek keduanya dan karena itu penggunaan keduanya bersamaan harus dihindari. tetapi tidak untuk pencegahan.pergelangan tangan. 9 . Obat ini terkait dengan penurunan risiko patah tulang belakang dan nonvertebral dan diindikasikan untuk wanita menopause (dan laki-laki) dengan osteoporosis yang berisiko tinggi untuk mengalami patah tulang. yang diminta oleh FDA baru-baru ini untuk disebut "agonis estrogen/antagonis estrogen") yang disetujui untuk pencegahan dan pengobatan osteoporosis pada wanita pascamenopause. tetapi malah dikaitkan dengan peningkatan risiko VTE dan stroke fatal. serta untuk memastikan kepatuhan pemberian obat. serta orang-orang yang telah gagal atau tidak menoleransi obat lainnya. Raloxifene adalah satu-satunya modulator reseptor estrogen selektif (SERM. karena episode atrial fibrilasi cenderung terjadi lebih dari 30 hari setelah infus asam zoledronic dan karena tingkat sirkulasi aktif asam zoledronic bertahan hanya sampai 1 minggu. risiko ini belum terlihat dalam studi pada manusia atau dalam pengawasan setelah peredaran. Karena biaya dan efektivitas yang relative rendah terhadap terapi yang lain. Ibandronate adalah bisfosfonat lain yang telah terbukti mengurangi risiko patah tulang belakang. Meskipun rejimen pemberian obat yang diberikan jarang dapat lebih nyaman bagi pasien dan bentuk injeksi dapat menghilangkan efek samping gastrointestinal.Ddalam percobaan ini. (Riwayat aritmia atau fibrilasi atrium tidak tercantum pada label yang disetujui FDA sebagai kontraindikasi untuk asam zoledronic.

Terapi non hormonal untuk gejala menopause harus digunakan untuk menyediakan pilihan pengobatan yang efektif untuk pasien menopause yang tidak ingin atau tidak dapat menggunakan HT. dan kombinasi estrogen/terapi SERM. Terapi-terapi di masa yang akan datang untuk pencegahan osteoporosis dan/atau pengobatan pada wanita pascamenopause termasuk strontium ranelate. Manajemen yang paling sesuai dituntun oleh hasil pemeriksaan pasien sendiri mengenai gejala-gejala yang paling mengganggu dan terapi yang lebih disukai oleh pasien dan tingkat kenyamanan pasien terhadap berbagai risiko dan masalah kualitas hidup. RINGKASAN Penilaian risiko – manfaat untuk manajemen gejala vasomotor dan masalah-masalah kesehatan lainnya yang terkait menopause harus disesuaikan untuk menentukan terapi yang paling berkhasiat dan aman untuk masing-masing wanita secara individu. generasi ketiga SERM atau agonis estrogen/antagonis estrogen (yaitu. Untuk wanita menopause yang menunjukkan gejala. Estrogen vaginal dosis rendah tetap menjadi pilihan untuk pengobatan atrofi genitourinaria. Penilaian ulang data yang ada dan penelitian klinis yang sedang berlangsung akan membantu para dokter dan pasien untuk membuat keputusan mengenai penggunaan HT untuk menopause. Namun. Untuk memperoleh dengan baik pilihan pasien ini. bazedoxifene dan lasofoxifene). para dokter harus berusaha untuk menjelaskan dengan jelas dan akurat mengenai risiko dan manfaat yang akan didapat dari tiap pilihan pengobatan yang tersedia. 10 . bahkan pada wanita yang dikontraindikasikan untuk menerima HT sistemik. terdapat alternative terapi unutk gejala vasomotor dan pengeroposan tulang. HT tetap menjadi terapi terbaik. untuk wanita yang tidak dapat atau tidak bersedia untuk menggunakan HT.