BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Infeksi HIV/AIDS (Human hnmunodeficiency virus/Acquired lmmune
Deficiency Syndrome) pertama kali dilaporkan di Amerika pada tahun 1981
pada orang dewasa homoseksual, sedangkan pada anak tahun 1983. Enam
tahun kemudian (1989), AIDS sudah merupakan penyakit yang mengancam
kesehatan anak di Amerika. Di seluruh dunia AIDS menyebabkan kematian
pada lebih dari 8,000 orang seriap hari saat ini, yang berarti 1 orang setiap 10
detik. Karena itu infeksi HIV dianggap senagai penyebab kematian tertinggi
akibat satu jenis agen infeksius.
Sejak dimulainya epidemi HIV AIDS telah mematikan lebih dari 25 juta
orang; lebih dari 14 iuta anak kehilangan salah satu atau kedua orang tuanya
akibat AIDS. Setiap tahun diperkirakan 3 juta orang meninggal karena AIDS;
500.000 diantaranya adalah anak di bawah umur 15 tahun. Setiap tahun pula
terjadi infeksi baru pada 5 juta orang terutama di negara terbelakang dan
berkembang; 700.000 diantaranya terjadi pada anak-anak. Dengan angka
transmisi sebesar ini maka dari 37.8 iuta orang pengidap infeksi HIV/AIDS
pada tahun 2005, terdapat 2.l juta anak-anak di bawah 15 tahun.
Sejauh ini lebih dari 6,5 juta perempuan di Indonesia jadi populasi rawan
tertular HIV. Lebih dari 24.000 perempuan usia subur telah terinfeksi HIV, dan
sedikitnya 9000 perempuan hamil terinfeksi HIV positif setiap tahun. Bila
tidak ada program pencegahan, lebih dari 30% diantaranya melahirkan bayi
yang tertular HIV. Pada tahun 2015, diperkirakan akan terjadi penularan pada
38.500 anak yang dilahirkan dari ibu yang terinfeksi HIV. Sampai tahun 2006,
diprediksi 4.360 anak terkena HIV dan separuh diantaranya meninggal dunia.
Saat ini diperkirakan 2.320 anak terinfeksi HIV.

Anak yang didiagnosis HIV juga akan menyebabkan terjadinya trauma
emosi yang mendalam bagi keluarganya. Orang tua harus menghadapi
masalah berat dalam perawatan anak, pemberian kasih saying, dan sebagainya

Penanganan dan Perawatan ODHA pada Anak Page 1

sehingga dapat mempengaruhi pertumbuhan mental anak. Orang tua
memerlukan waktu untuk mengatasi masalah emosi, syok, kesedihan,
penolakan, perasaan berdosa, cemas, marah, dan berbagai perasaan lan.
Dukungan nutrsi, pemberian ARV, psikososial, dan perawatan paliatif
membantu anak menghadapi HIV/AIDS.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan HIV?
2. Bagaimanakah epidemiologi HIV pada anak sekarang ini?
3. Bagaimana cara penularan HIV pada anak?
4. Siapa saja yang bias menjadi factor resiko penularan HIV ?
5. Apa manifestasi klinik dari ODHA pada anak?
6. Bgaimana diagnose, HIV pada anak dan bayi?
7. Bagaimana cara pengobatan dan pencegahan ODHA pada anak?
8. Bagaiamana prognosis hiv/aids pada anak?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan HIV/AIDS
2. Untuk mengetahui epidemiologi HIV pada anak sekarang ini
3. Untuk mengetahui cara penularan HIV pada anak
4. Untuk mengetahui siapa saja yang bias menjadi factor resiko penularan
HIV
5. Untuk mengetahui manifestasi klinik dari ODHA pada anak
6. Untuk mengetahui diagnose, HIV pada anak dan bayi
7. Untuk mengetahui cara pengobatan dan pencegahan ODHA pada anak
8. Untuk mengetahui Bagaiamana prognosis hiv/aids pada anak

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi

AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) atau sindrom cacat
kekebalan dapatan merupakan epidemi mikroorganisme terpenting dari abad

Penanganan dan Perawatan ODHA pada Anak Page 2

kemiskinan. yaitu dengan hancurnya sel limfosit T (sel-T) (Rampengan dan Laurentz. Penyebabnya adalah jumlah populasi yang besar. Myanmar dan Indonesia. AIDS (Acquired immunodeficiency syndrome) adalah kumpulan gejala penyakit akibat menurunnya system kekebalan tubuh secara bertahap yang disebabkan oleh infeksi Human Immunodeficiency virus (HIV). Rubinstein dan Amman pada tahun 1983 di Amerika serikat sejak itu laporan jumlah AIDS pada anak di Amerika makin lama makin meningkat. Dan remaja yang mendapat infeksi yang akut secara seksual atau karena penggunaan obat-obatan intravena. ke-20.480 kasus. 1995). tetapi pertumbuhan prevalensnya saat ini paling tinggi sedunia. Di Asia Tenggara Thailand yang pertama kali melaporkan AIDS pada anak tahun 1988. ketidaksetaraan gender. yang untuk pertama kalinya disinyalir di AS pada awal tahun 1980-an (Nursalam. Pada bulan Desember 1989 di Amerika telah dilaporkan 1995 anak yang berumur kurang dari 13 tahun yang menderita AIDS dan pada bulan Maret 1993 terdapat 4.7 juta orang yang menjadi pengidap HIV/AIDS. Diperkirakan pada tahun 2005 terdapat 6. B.adalah India. dan stigmatisasi sosial. AIDS adalah Runtuhnya benteng pertahanan tubuh yaitu system kekebalan alamiah melawan bibit penyakit runtuh oleh virus HIV. Meskipun saat ini tingkat prevalens HIV masih tergolong rendah di Asia Tenggara. Negara dengan tingkat infeksi tertinggi. 2008). Kasus infeksi HIV terbanyak pada orang dewasa maupun anak-anak tertinggi di dunia adalah di Afrika terutama negara-negara Afrika Sub-Sahara. Jumlah ini merupakan l. tetapi yang mengetahui status HIVnya diperkirakan kurang dari 10%. Epidemiologi Tiga populasi pediatric utama yang beresiko infeksi HIV-1 adalah bayi- bayi yang dilahirkan oleh ibu yang terkontaminasi HIV.sebelum tahun 1985- 198. AIDS pada anak pertama kali dilaporkan oleh Oleske. Thailand. Umumnya infeksi di Asia Tenggara disebarkan melalui hubungan seksual Penanganan dan Perawatan ODHA pada Anak Page 3 . Di Eropa sampai tahun 1988 terdapat 356 anak dengan AIDS.5 % dari seruruh jumlah kasus AIDS yang dilaporkan di Amerika.

child Transtmission (MTCT). yaitu mencegah penularan HIV pada wanita usia subur. Penularan lain yang juga penting adalah dari transfusi produk Penanganan dan Perawatan ODHA pada Anak Page 4 . Pemakaian jarum suntik tidak steril pada pencandu narkoba suntik menambah cepatnya penyebaran infeksi HIV Sekitar setengah dari pengguna narkoba suntik di Nepal. sebanyak 40. Pada orang dewasa sampai dengan September 2005 terdapat 8. Upaya pencegahan transmisi HIV pada anak menurut WHO dilakukan melalui 4 strategi. Dengan kemampuan reproduksi penderita dewasa. Sebagian besar pengidap usia dewasa ini adalah pada usia subur. mencegah kehamilan yang tidak direncanakan pada wanita HIV mencegah penularan HIV dari ibu HIV hamil ke anak yang akan dilahirkannya dan memberikan dukungan. Di RSCM hingga tahun 2006 terdapat 150 pasien terinfeksi HIV/AIDS pada anak < 15 tahun. 90%nya di negara berkembang atau terbelakang dan melalui penularan dari ibu ke anaknya. dan 100 anak yang terpapar HIV tetapi tidak tertulari.169 pengidap infeksi HIV Penderita pria lebih banyak 3 kali lipat dari wanita. Thailand. Myanmar. Namun demikian setiap hari terjadi 1800 infeksi baru pada anak umur kurang dari 15 tahun.45 anak-anak ini akan tertulari. heteroseksual yang tidak aman. C. Cara Penularan Cara penularan HIV yang paling penting pada anak adalah dari ibu kandungnya yang sudah mengidap HIV baik saat sebelum dan sesudah kehamilan. layanan dan perawatan berkesinambungan bagi pengidap HIV Pemberian obat Anti Retroviral (ARV) untuk anak dan bayi yang terinfeksi karenanya menjadi satu jalan untuk menanggulangi pandemi HIV pada anak di samping upaya untuk mencegah penularan infeksi HIV pada anak dan bayi. dari setiap 100 wanita dewasa pengidap HIV yang hamil dan melahirkan. akan lahir anak-anak yang mungkin tertular HIV Bila tidak dilakukan intervensi. Indonesia dan Distrik Manipur dan Nagaland di India sudah terinfeksi HIV Cara paling efisien dan efektif untuk menanggulangi infeksi HIV pada anak secara universal adalah dengan mengurangi penularan dari ibu ke anaknya (mother-to.

prostitusi anak. Selain iru prematuritas akan meningkatkan angka transmisi HIV pada bayi. persalinan pervaginam dan dilakukannya prosedur invasif pada bayi. yaitu lamanya ketuban pecah. HIV dapat diisolasi dari ASI pada ibu yang mengandung HIV di dalam tubuhnya baik dari cairan ASI maupun sel-sel yang berada dalam cairan ASI (limfosit. namun ciuman. epitel duktus laktiferus). penyakit koinfeksi hepatitis B. penularan melalui darah. Risiko untuk rertular HIV melalui ASI adalah ll-29%. Transmisi dapat terjadi pada 20-50 % kasus. seorang anak yang terinfeksi HIV tetapi belum memberikan gejala AIDS tidak perlu dikucilkan dari sekolah atau pergaulan. dan sebab-sebab lain yang buktinya sangat sedikit. Transmisi dapat terjadi melalui plasenta (intrauterin) intrapartum. Bayi yang lahir dari ibu HIV (+) dan mendapat ASI tidak Penanganan dan Perawatan ODHA pada Anak Page 5 . Proses intrapartum yang sulit juga akan meningkatkan transmisi. penularan melalui hubungan seks (pelecehan seksual pada anak). Penularan HIV ke bayi dan anak bisa dari ibu ke anak. kadar Limfosit T CD4 dan jumlah virus pada tubuh ibu. Ibu hamil yang terinfeksi HIV dapat menularkan virus tersebut ke bayi yang dikandungnya. berenang di kolam renang atau kontak sosial seperti pelukan dan berjabatan tangan serta dengan barang yang dipergunakan sehari-hari bukanlah merupakan cara untuk penularan. dan post partum melalui ASI. Meskipun HIV dapat ditemukan pada cairan tubuh pengidap HIV seperti air ludah (saliva) dan air mata serta urin. Cara transmisi ini dinamakan juga transmisi secara vertikal. Oleh karena itu. darah yang tercemar HIV kontak seksual dini pada perlakuan salah seksual atau perkosaan anak oleh penderita HIV. Penularan dari ibu ke anak terjadi karena wanita yang menderita HIV/AIDS sebagian besar (85%) berusia subur Faktor prediktor penularan adalah stadium infeksi ibu. yaitu pada waktu bayi terpapar dengan darah ibu atau sekret genitalia yang mengandung HlV selama proses kelahiran. serta apakah ibu pengguna narkoba suntik sebelumnya dan tidak minum obat ARV selama hamil. CMV atau penyakit menular seksual lain pada ibu.

tetapi diduga IgA yang terlarut berperan dalam proses pengurangan antigen. Faktor Risiko Dari cara penulaian tersebut di atas maka faktor risiko untuk tertular HIV pada bayi dan anak adalah: 1) Bayi yang lahir dari ibu dengan pasangan biseksual. 4) Bayi atau anak yang mendapat transfusi darah atau produk darah berulang. 5) Anak yang terpapar pada infeksi HIV dari kekerasan seksual (perlakuan salah seksual). dan hepatosplenomegali. D. 3) Bayi yang lahir dari ibu atau pasangannya penyalahguna obat intravena. WHO menganjurkan untuk negara dengan angka kematian bayi tinggi dan akses terhadap pengganti air susu ibu rendah. E. parasit. Gejala klinis yang terlihat adalah akibat adanya infeksi oleh mikloorganisme yang ada di lingkungan anak. panas berulang. AIDS pada anak terutama terjadi pada umur muda karena sebagian besar (>80%) AIDS pada anak akibat transmisi vertikal dari ibu ke anak. Manifestasi klinik Manifestasi klinis infeksi HIV pada anak bervariasi dari asimtomatis sampai penyakit berat yang dinamakan AIDS. jamur. dan 6) Anak remaja dengan hubungan seksual berganti-ganti pasangan. 2) Bayi yang lahir dari ibu dengan pasangan beganti. atau protozoa Penanganan dan Perawatan ODHA pada Anak Page 6 . Oleh karena itu. Lima puluh persen kasus AIDS anak berumur < I tahun dan82o/o berumur <3 tahun. yaitu infeksi dengan kuman. limfadenopati. pemberian ASI eksklusif sebagai pilihan cara nutrisi bagi bayi baru lahir dari ibu HIV (+).t badan menurun. manifestasinya pun berupa manifestasi nonspesifik berupa gagal tumbuh. bera. semuanya tertular HIV dan hingga kini belum didapatkan jawaban pasti. Gejala yang menjurus kemungkinan adanya infeksi HIV adalah adanya infeksi oportunistik. Transmisi melalui perawatan ibu ke bayinya belum pernah dilaporkan. anemia. Meskipun demikian ada juga bayi yang terinfeksi HIV secara vertikal belum memperlihatkan gejala AIDS pada umur 10 tahun.

Antigen HIV dapat ditemukan pada jaringan susunan saraf pusat atau cairan serebrospinal. Klasifikasi klinis yang mengarahkan ke pengambilan keputusan dilakukannya pemeriksaan laboratorium dikenal dengan nama AIDS Defining illness. jari tabuh. Anak sering juga menderita diare berulang. dan limfadenopati. penyakitnya akan berjalan berat dengan kelainan luas pada paru dan otak. yang lazimnya tidak memberikan penyakit pada anak normal. terkadang dengan adenopati di hilus dan mediastinum. Penggunaan klasifikasi ini untuk membantu dalam menentukan diagnosis. radang paru karena mikobakterium atipik. Penyakit tersebut antara lain kandidiasis mulut yang dapat menyebar ke esofagus. yaitu kelainan yang mungkin langsung disebabkan oleh HIV pada jaringan paru. Karena adanya penurunan fungsi imun. Klasifi'kasi klinis mengenai penyakit WHO dapat dilihat pada tabel berikut. atau toksoplasmosis otak. Manifestasi klinis lainnya yang sering ditemukan pada anak adalah pneumonia interstisialis limfositik. terutama imunitas selular maka anak akan menjadi sakit bila terpajan pada organisme tersebut. tatalaksana dan prognosis. Ensefalopati dapat merupakan manifestasi primer infeksi HIV Otak menjadi atrofi dengan pelebaran ventrikel dan kadangkala terdapat kalsifikasi. lebih berat serta sering berulang. Manifestasi klinisnya berupa hipoksia. sesak napas. A. yang biasanya lebih lama. Secara radiologis terlihat adanya infiltrat retikulonodular difus bilateral. Manifestasi klinis yang lebih tragis adalah yang dinamakan ensefalopati kronik yang mengakibatkan hambatan perkembangan atau kemunduran keterampilan motorik dan daya intelektual. radang paru karena Pnetnnocystis carinii. Bila anak terserang Mycobacterium tuberculosis. Klasifikasi klinis menurut CDC adalah N. Tabel 32-2 Klasifi'kasi klinis mengenai penyakit yang berhubungan dengan HIV Penanganan dan Perawatan ODHA pada Anak Page 7 . sehingga terjadi retardasi mental dan motorik. Secara khusus dilakukan klasifikasi manifestasi klinis ini oleh CDC Amerika Serikat (1994) dan WHO (tahun 2006). B dan C (AIDS) dengan tambahan prefix E pada semua anak yang terpapar pada HIV dari orangtuanya.

> 1 bulan) Kondisi oral persisten (di luar saat 6-8 minggu pertama kehidupan) Oral hairy leukoplakia Periodontitis/ginggivitas ulseratif nekrotikans akut TB kelenjar TB Paru Pneumonia bakterial yang berat dan berulang Pneumonia interstitial limfoid simtomatik Penyakit paru berhubungan dengan HIV yang kronik termasuk bronkiektasis Anemia yang tidak dapat dijelaskan (<8g/dl). otorhoea.neutropenia (<500/mm³) atau trombositopenia(<50 000/mm³) Stadium 4 Penanganan dan Perawatan ODHA pada Anak Page 8 . sinusitis. Klasifikasi Stadium klinis WHO Stadium Klinis WHO untuk Bayi dan Anak yang Terinfeksi HIV Stadium klinis 1 Asimtomatik Limfadenopati generalisata persisten Stadium 2 Hepatosplenomegali persisten yang tidak dapat dijelaskan Erupsi pruritik papular Infeksi virus wart luas Angular cheilitis Moluskum kontagiosum luas Ulserasi oral berulang Pembesaran kelenjar parotis persisten yang tidak dapat dijelaskan Eritema ginggival lineal Herpez zoster Infeksi saluran napas atas kronik atau berulang (otitis media. Diare persisten yang tidak dapat dijelaskan (14 hari atau lebih) Demam persisten yang tidak dapat dijelaskan (lebih dari 37.5° C intermiten atau konstan.tonsillitis) Infeksi kuku oleh fungus Stadium 3 Malnutrisi sedang yang tidak dapat dijelaskan.tidak berespons secara adekuat terhadap terapi standar.

Pneumonia pneumosistis Infeksi bakterial berat yang berulang (misalnya empiema. Karena antibody ibu bisa diseteksi pada bayi sampai bayi berusia 18 bulan. Penyakit penanda AIDS tersering yang ditemukan pada anak adalah pneumonia yang disebabkan Pneumocystis carinii.wasting dan stunting berat yang tidak dapat dijelaskan dan tidak berespons terhadap terapi standar.dengan onset umur > 1 bulan Kriptokokosis ekstrapulmonar termasuk meningitis Mikosis endemik diseminata Kriptosporidiosis kronik (dengan diare) Isosporiasis kronik Infeksi mikobakteria non-tuberkulosis diseminata Kardiomiopati atau nefropati yang dihubungkan dengan HIV yang simtomatik Limfoma sel B non-Hodgkin atau limfoma serebral Progressive multifocal leukoencephalopathy Catatan : a. Gejala umum yang ditemukan pada bayi dengan infeksi HIV adalah gangguan tumbuh kembang. Kultur HIV yang positif juga menunjukkan pasien terinfeksi HIV. maka tes ELISA dan Western Blot akan positif meskipun bayi tidak terinfeksi HIV Karena tes ini berdasarkan ada atau tidaknya antibody terhadap virus HIV. kandidiasis oral. Beberapa kondisi khas regional seperti Penisiliosis dapat disertakan pada kategori ini. bayi harus dilakukan pengambilan sampel darah untuk tes Penanganan dan Perawatan ODHA pada Anak Page 9 . Diagnosis HIV pada Bayi dan Anak Bayi yang tertular HIV dari ibu bisa saja tampak normal secara klinis selama periode neonatal. Tidak dapat dijelaskan berarti kondisi tersebut tidak dapat dibuktikan oleh sebab yang lain b. atau hepatosplenomegali (pembesaran hati dan lien).bronkus.meningitis.retinitis atau infeksi CMV pada organ lain. kecuali pneumonia) Infeksi herpes simplex kronik (orolabial atau kutaneus >1 bulan atau viseralis di lokasi manapun) TB ekstrapulmonar Sarkoma Kaposi Kandidiasis esofagus (atau trakea. Malnutrisi. F.infeksi tulang dan sendi.piomiositis. Tes paling spesifik untuk mengidentifkasi HIV adalah PCR untuk DNA HIV.atau paru) Toksoplasmosis susunan saraf pusat (di luar masa neonatus) Ensefalopati HIV Infeksi sitomegalovirus (CMV). Untuk pemeriksaan PCR. diare kronis.

Pengobatan Tatalaksana pada pendeita HIV atau yang terpapar HIV harus lengkap. Anak usia lebih dari 18 bulan bisa didiagnosis dengan ELISA dan tes konfirmasi lain seperti pada dewasa. Tetapi. keterlambatan berkembang. tatalaksana psikologis dan penanganan sisi social yang akan Penanganan dan Perawatan ODHA pada Anak Page 10 . atau 3) dan kategori klinis (N. imunisasi. limfadenopati menetap. Klasifikasi klinis dan imunologis ini bersifat eksklusif. A. tatalaksana medikamentosa. sariawan pada mulut dan faring. maka bayi beresiko tertular HIV sehingga tes PCR perlu diulang setelah bayi disapih. E). CDC mengembangkan klasifikasi HIV pada bayi dan anak berdasarkan hitung limfosit CD4+ dan manifestasi klinis penyakit. C. Seorang anak yang mempunyai 2 gejala mayor dan 2 gejala minor bisa di diagnosis HIV meskipun tanpa pemeriksaan ELISA atau tes laboratorium lain. Anak-anak berusia berusia lebih dari 18 bulan bisa didiagnosis dengan menggunakan kombinasi antara gejala klinis dan pemeriksaan laboratorium. Jika tes ini negative. Pada usia 18 bulan. maka klasifikasi ini tidak berubah meskipun terjadi perbaikan status karena pemebrian terapi atau faktor lain. WHO mengembangkan diagnosis HIV hanya berdasarkan penyakit klinis dengan mengelompokkan tanda dan gejala dalam kriteria mayor dan minor. Terdapat dua klasifikasi yang bisa digunakan untuk mendiagnosis bayi dan anak dengan HIV yaitu menurut CDC dan WHO. Klasifkasi ini memungkinkan adanya surveilans serta perawatan pasien yang lebih baik. nutrisi. PCR pada dua saat yang berlainan. Anak dengan HIV sering mengalami infeksi bakteri kumat – kumatan. 2. B. G. Pasien dikategorikan berdasarkan derajat imunosupresi (1. CDC merekomendasikan pemeriksaan DNA PCR setidaknya diulang pada saat bayi berusia empat bulan. pemeriksaan ELISA bisa dilakukan pada bayi bila tidak tersedia sarana pemeriksaan yang lain. bila bayi tersebut mendapatkan ASI. maka bayi tidak terinfeksi HIV. DNA PCR pertama diambil saat bayi berusia 1 bulan karena tes ini kurang sensitive selama periode satu bulan setelah lahir. meliputi pemantauan tumbuh kembang. gagal tumbuh atau wasting. sekali pasien diklasifikasikan dalam suatu kategori.

Langkah diagnosis perlu dilakukan untuk menetapkan kasus mana yang memerlukan pengobatan dan yang tidak. Pemberian imunisasi harus mempertimbangkan situasi klinis. meskipun belum ada yang mampu mengeradikasi virus dalam bentuk DNA proviral pada stadium dorman di sel CD4 memori. semua jenis vaksin polio oral dan BCG sebaiknya di hindari. Bila obat ini digunakan sendiri. dan obat lain yang di berikan sesuai kondisi klinis yang ditemukan pada penderita. Panduan imunisasi WHO berkenaan dengan anak pengidap HIV adalah. pirimetamin untuk toksoplasma. Pengobatan mendikametosa mengcakupi pemberian obat-obat propilaksis infeksi oportunistik yang tingkat morbiditas dan mortalitasnya tinggi. Riset mengenai obat ARV terjadi sangat pesat. status imunologis serta panduan yang berlaku. Kalangan yang menolak menganggap bahwa di negara TBC. Obat pofilaksis lain adalah preparat nistatin untuk antikadida. Pemberian isoniazid (INH) sebagai propilaksis penyakit TBC pada pendeita HIV masih di perdebatkan. Riset yang luas telah di lakukan dan menunjukka kesimpulan rekomendasi pemberian kotrimoksasol pada penderita HIV yang berusia kurang dari 12 bulan dan siapun yang memiliki kadar CD4 < 15% hingga dipastikan bahaya infeksi pnemonia akibat parasit pneumocystis jiroveci dihindari. dan harus di buktikan dengan metode diagnosis yang handal.secara bermakna dapat mengurangi kadar RNA HIV plasma selama beberapa bulan atau tahun. Untuk itu banyak panduan yang cukup baik di jadikan bahan bacaan. Obat pertama di temukan di temukan 1990 yaitu azidothymidine (AZT) suatu analog nukleosid deoksitimidin yang bekerja pada tahap penghambatan kerja enzim tanskriptase riversi. kemungkinan infeksi TBC natural sudah terjadi. Biasanya progresivitas penyakit HIV tidak Penanganan dan Perawatan ODHA pada Anak Page 11 . TBC yang berat . Pengobatan inffeksi HIV dan AIDS sekarang mengguanakan paling tidak 3 gelas anti virus. beperan dalam kepatuhan program pemantauan dan terapi. Pengobatan penting adalah pemberian antiretrovirus atau ARV. dengan sasaran molekul virus di mana tidak ada homolog manusia. selama asimtomatik. preparat sulfa untuk malaria.

Kapan mulai pengobatan ARV? Keputusan untuk memulai terapi ARV pada bayi dan anak tergantung pada penilaian klinis dan imunologis. 2. Hal ini menunjukkan berkurangnya reservoir virus dalam makrofag. Penurunan viremia sebagai efek pemberian ARV dibagi dalam 3 fase. (3) menjaga. (5) mengurangi morbiditas anak-anak dan meningkatkan kualitas hidupnya. bila digunakan dengan benar berhubungan dengan perbaikan. diperlukan berpuluh-puluh tahun untuk menghilangkan reservoir virus ini. (4) menekan replikasi virus HIV dan mencegah progresifitas penyakit. di pengaruhi oleh pemakaian AZT. serta penilaian situasi social seperti siapa yang akan menjadi pemberi obat. Karena masa hidup yang panjang dari sel memori. Tujuan pengobatan yang ingin dicapai adalah (1) memperpanjang hidup usia anak yang terinfeksi. 3. Virus dalam darah diproduksi oleh sel T CD4+ yang terinfeksi dan sebagian kecil oleh sel lain yang terinfeksi. asupan nutrisi. Bila seandainya si pemberi obat yang bertanggung jawab lalai. Kualitas hidup penderita. Fase pertama adalah penurunan jumlah virus dalam plasma secara cepat dengan waktu paruh kurang dari 1 hari. karena pada jangka panjang virus HIV berevolusi membentuk mutan yang resisten terhadap obat. Penanganan dan Perawatan ODHA pada Anak Page 12 . 1. (2) mencapai tumbuh dan kembang yang optimal. menguatkan dan memperbaiki system imun dan mengurangi infeksi oportunistik. Terapi obat dikembangkan untuk menghambat semua produksi HIV yang terdeteksi untuk beberapa tahun. dan kelompok pendukung keluarga. Penurunan ini menunjukkan bahwa virus diproduksi oleh sel yang hanya hidup sebentar (short-lives) yaitu sel T CD4+ yang merupakan reservoir utama (93-97% dari seluruh sel T) dan sumber virus. Fase kedua penurunan HIV plasma dengan waktu paruh 2 minggu menyebabkan jumlah virus dalam plasma berkurang hingga dibawah ambang deteksi. Fase ketiga yang sangat lambat menunjukkan terdapat penyimpanan virus sel T memori yang terinfeksi secara laten. Prinsip dasar dalam pemberian ARV adalah bahwa ARV sampai saat ini bukan untuk menyembuhkan.

Bila digunakan sebagai dasar untuk memulai pengobatan ARV. terutama pada anak yang sakit ringan. prinsip umum yang bisa digunakan sebagai patokan adalah: 1. jumlah virus maupun nilai CD4. Penanganan dan Perawatan ODHA pada Anak Page 13 . Beberapa patokam berikut dapat membantu memutuskan apakah pengobatan ARV diperlukan:  Bila ada data PCR RNA. Terapi ARV dipertimbangkan untuk bayi <12 bulan yang asimtomatik dan memiliki kadar CD4>25%. III.B. kadar virus mendekati 100. Hitung absolute CD4 dan total limfosit [pada bayi sehat jauh lebih tinggi dari orang dewasa.C menurut CDC atau II. Terapi ARV direkomendasikan untuk bayi<12 bulan yang memiliki gejala infeksi HIV (klasifikasi A. Dalam hal penilaian klinis memungkinkan ARV diberikan pada anak yang didiagnosis secara presumtif melalui gejala klinis. 3. Bila mungkin digunakan parameter nilai hitung CD4 sebelum mempertimbangkan pengobatan. Terapi ARV juga direkomendasikan untuk bayi <12 bulan yang tergolong stadium klinis N atau I yang memiliki kadar CD4<25%. dan menurun sampai mencapai nilai orang dewasa. dan menurun sampai mencapai nilai orang dewsa pada usia 6 tahun. dan hal ini digunakan sebagai dasar penilaian imunologis. dan penggunaan harus bersamaan dengan penilaian klinis. Berdasarkan penilaian imunologis anak yang terinfeksi HIV Parameter imunologi digunakan untuk menilai imunodefesiensi. tanpa melihat stadium klinis. Penggunaan stadium ini berguna sebagai data dasar dan untuk digunakan sebagai penuntun apakah obat profilaksis infeksi oportunistik perlu diberikan pada anak kurang dari 1 tahun yang terinfeksi atau terpapar HIV harus mendapatkan profilaksis ini. Tetapi presentasi CD4 hampir tidak berubah pada usia berapapun. 2. dan IVm menurut WHO). untuk memulai pembarian ARV.000 kopi/mL  Hitung absolute atau persentase CD4 menurun dengan cepat ke ambang defisiensi imun berat  Munculnya gejala klinis  Kemampuan orang tua atau pengasuh mematuhi ketentuan pemberian ARV Berdasartan penilaian klinis Stadium klinis ditetapkan setelah infeksi ditegakkan melalui bukti serologis atau virologist.

5 meringkas rekomendasi kapan memulai ARV pada anak yang positif terinfeksi menurut kriteria klinis dan parameter laboratorum menurut WHO (2006).5 Rekomendasi untuk memulai pemberian ARV pada bayi dan anak HIV positif sesuai stadium klinis dan ketersediaan imunologis. Hasil CD4 juga berguna untuk memantau respons terhadap terapi.Pada anak yang kurang dari 5 tahun (lihat tabel). terutama pada stadium klinis 1 dan 2. Imunodefisiensi Nilai CD4+ menurut umur < 11 bulan 12-35 bulan 36-59 bulan > 5 tahun (%) (%) (%) (sel/mm3) Tidak ada > 35 > 30 > 25 > 500 Ringan 30-35 25-30 20-25 350-499 Sedang 25-30 20-25 15-20 200-349 Berat < 25 <20 < 15 <200 atau <15 % Tabel 32-4. Pengukuran serial lebih informatif daripada informasi tunggal. Penanganan dan Perawatan ODHA pada Anak Page 14 . Seperti juga status klinis. perbaikan imunologis terjadi dengan pemberian ARV. Tabel 32. Klasifikasi WHO tentang imunodefisiensi HIV menggunakan CD4+ Nilai absolut CD4 dapat naik atau turun bergantung pada penyakit yang sedang diderita. Perubahan fisiologis atau variabilitas tes. Bila mungkin ada 2 kali pengukuran di bawah ambang batas sebelum mulai pemberian ARV. Tabel 32.

OHL-oral hairy leukoplakia.Stadium ada tidaknya rekomendasi tetapi menurut umur [A (II)]* klinis pengukuran <12 bulan >12 bulan pediatrik hitung CD4 4 CD4 Tampa CD4 semua diobati 3 CD4 semua diobati. Pada anak yang terinfeksi TB paru atau kelenjar. Trombosiponia Tampa CD4 semua diobati 2 CD4 bergabtung nilai CD4 Tampa CD4 bergantung nilai limposit total 1 CD4 bergantung nilai CD4 Tampa CD4 jangan diobati LIP-lymhocytic interstitial pneummonia. Tabel 32. Hitung total limfosit tidak dapat digunakan untk memantau keberhasilan ARV. Data awal CD4 berguna untuk memantau ARV meskipun tidak diperlukan untuk membuat keputusan memulai terapi ARV. LIP. OHL. 36 bulan. pemeriksaan hitung total limfosit dapat digunakan untuk memulai pemberian ARV. d.6 Kriteria limsofit total Petanda rekomendasi pemberian ARV menurut umur Imunologis < 11 bulan 12 bulan. Kriteria total limfosit ini sebaiknya digunakan pada stadium klinis 2. 5-8 tahun [ C (II) ]* 35 bulan 59 bulan Penanganan dan Perawatan ODHA pada Anak Page 15 . Bila tidak tersedia pemeriksaan hitung CD4. TB-tuberculosis *kekuatan rekomendasi/tingkat kepercayaan Catatan: a. Obati infeksi oportunistik sebelum mulai memberi ARV b. c. CD4 dan status klinis sesuai panduan terapi TB. bergantung Semua diobati nilai CD4 pada anak yang Terinveksi TBc. Nilai CD4 dan linfosit total dilihat di tabel terpisah.

dan menjadi dasar memulai pemberian ARV. Diagnosis prensumtif infeksi HIV:  Pemeriksaan anti body menunjukkan hasil positif  Ditegakkan diagnosis penyakit klinis yang emenuhi kriteria AIDS. Penegakan diagnosis presumtif hanya di lakukan oleh dokter yang sudah terlatih dalam penegakan HIV. hubungannya dengan makanan dan minuman). Kombinasi ARV yang sudah dicobakan pada anak bermacam-macam. Bila terdapat bukti baru bahwa ternyata bayi atau anak ini terbukti negatif. dan efek samping Pemberian ARV terpilih untuk anak adalah penggunaan paling tidak 3 obat. formulasi yang tepat untuk anak dan pembuatan dosia yang tepat menurut umur. pneumonia berat atau sepsis berat. Berdasarkan diagnosis klinis presumtif infeksi HIV berat. Panduan yang benar dianut adalah WHO. maka ARV harus dihentikan. dan dilakukan pemantauan dengak ketat. dan minimal di gunakan 2 kelas obat yang berbeda. merawat pasien yang diduga HIV. Bla mungkin dilakukan kriteria CDC akan lebih tepat di gunakan. atau  Bayi memiliki dua gejala baik itu kandidiasis oral. Pilihan Obat ARV Antiretviral untuk anak harus memenuhi syarat farmakokinetik. Faktor lain yang mendukung ditegakkannya diagnosis presumtif adalah apabila terdapat kematian ibu karena HIV atau ibu menderita AIDS dengan hitung CD4 < 20%. Diagnosis klinis presumtif infeksi HIV memungkingkann seorang dokter memberi tata laksana penyakit akut secara memadai. tetapi untuk Negara berkembang dibuat panduan yang memudahkan dokter untuk memilih ARV. Hal ini Penanganan dan Perawatan ODHA pada Anak Page 16 . komplesitas pemberian (frenkuensi dosis.TLC <4000sel/mm <3000sel/mm <2500sel/mm <2000sel/mm Pengukuran viral load (dengan menggunakan PCR RNA) belum diperlukan menjadi standar penilaian memulai ARV. Selain itu juga faktor yang berpengaruh dalam pemberian ARV adalah potensi obat. meskipun di dunia banyak panduan pengobatan yang dibuat oleh masing-masing tempat penelitian. Penggunaan cara ini pada anak usia <18 bulan harus di sertai upaya menegakkan diagnosis HIV.

perlu dikocok.Tablet kunyah: 25 2x/hari atau 240 minimal 30 menit sebelum atau mg.<30 hari:2 mg/kg .Untuk anak cukup besar (AZT) .sirup stabil dalam suhu <60kg ruangan .≥ 60 kg: 1 tablet d4T 40 mg plus 40 mg d4T-based.Diminum saat perut kosong.tidak boleh diberikan bersama D4T (antagonistik). 50 mg.Sirup: 1 mg/ml Semua . 2x/hari .180-240 simpan dalam botol gelas dan data laboratorium lengkap adalah langka. mg/m/dosis.Sirup harus dsimpan di kulkas. 2x/hari atau 400 .dapat diberi bersama makanan .Dosis maksimal: sebelum di minum. pediatrik: 10 umur m2/dosis sampai kulkas. Indonesia) 2x/Hari stabil selama 30 hari. 40 .sirup : 10mg/ml semua .Dosis maksimal: air. . Pilihan kedua 2 NRTI + Nevirapin . 200 sejali sehari .dosis maksimal: Penggantian obat makanan > 13 tahun: 30 .Tablet d4T 30 mg 2x/hari plus 3TC 150 mg: . mg Dosis.toleransi baik (3TC) Formulasi dan mg . umur mg/kg/dosis. Saat ini rekomendasi CDC dan WHO . Lebih lengkapnya rekomendasi ini berbunyi: air (sirup stabil dalam suhu  Anak >3 tahun.4 minggu to 13 terlalu besar. .>30 hari atau .4 mg/kg/dosis. stabil selama 30 hari dan dideoxynosin mg/ml (tidak ada < 13 th: 90-120 kocok merata e) di Indonesia) mg/ m2/dosis. lini pertama tablet adalah dapt dibuat puyer.Dapat diminum bersama depan.Dosis 600 mg/m/dosis perhari dilakukan terlalu cepat dapat membahayakan pilihan dan harus dihindari mg/dosis.dapat dibuatkan puyer dan 2x/ hari campurkan sedikit air . >60 kg:150 mg/dosis.Enteric-coated beadlets in . Pengambilan kebijakan memerlukan pertimbangansensitif terhadap dimasa opsi pilihan cahaya. di harus Sirup dukung di . .30-60 kg: 1 tablet plus 3TC Indonesia) dewasa 30 mg d4T-based. dan tidak di Tahun: diambil karena dinegara berkembang pengambilan keputusan yang toleransi.< 30 Kg: 1 . .Enteric-coated ≥13 thn atau >60 larut untuk buffering yang beadlets in kg: 200 mg/dosis adekuat capsules: 125 mg.Tablet: 300mg .Susoensi oral Semua .Kapsul dapat dibuka. 2 jam sesudah makan mg. minimal 2 tablet forte harusPage 17 Penanganan dan Perawatan ODHA pada Anak .2x/hari Untuk ensefalopati HIV kecuali bila perlu.Perlu volume yang besar (d4T) (tidak ada di umur Mg/Kg/ Dosis.  Anak < tahun.Dosis maksimal dicampur air saat minum obat > 60 kg: 40 mg/ .Kapsul: 100 mg. dalam . .< 3 bulan: 50 mg/ . 2x/Hari . 2 NRTI + Nevirapin Lamivudine .Tidak boleh dipakai bersama dosis.< 4 minggu:4 . Data Umur (berat bdan).Kapsul dapat dibuka dan . Nama obat Formulasi farmako Lain-lain dosis dan frekuensi -kinetik Nucleosside analogue reverse transcriptase inhibitors (NRTI) Zidovudine . Anak 2x/hari. 2x/hari AZT (antagonistic) Kombinasi .Jika tablet dihancurkan dalam mg .sirup: 10 mg/ml semua . campur menggunakan 2 kelas obat: 2 NRTI yang direkomendasikan dengan satu dengan makanan atau sedikit NNRTI atau PI. . 3TC 150 mg 2x/hari Didanosine(d . pemberian dalam bentuk sirup 250 mg 2x/hari akan menyebabkan volume . 2x/hari Stavudine .Suspensi harus disimpan di dl. pilihan pertama 2 NRTI + Efavirenz ruangan).30-60 Kg: 30 Mg/ botol gelas. .Tablet :150 Dosis Anti umurRetroviral Untuk dosis. 150 mg. termasuk munculnya resistensi terhadap obat. 100 mg/m2/ dosis.Tidak adas sediaan Remaja Dosis maksimal: Sebaiknya tablet tidak dibelah tetap d4T sirup (tdk ada di dan .Kapsul: 30 mg.

Kapsul (sirup): . kocok 2x/hari 2 minggu.Hindari penggunaan (NVP) . dahulu kemudian 20.Dapat dibelah.< 33 kg: 350 . waspada sekali sehari 2 alergi.Ukuran kapsul besar. terutama 2 ml) sekali sehari minggu pertama.20 .Sirup stabil dalam 120 mg/m2/dosis.Tablet: 200 mg disis.Dosis maksimal: >13 tahun: 200 mg/dosis.15 .Kapsul gel lunak: > 25 kg . dipuyerkan.mg/ .Tidak ada dosis bersama makanan Penanganan dan Perawatan ODHA pada Anak Page 18 . ditelan mg .Non-Nucleoside reverse transcriptase inhibitors (NNRTI) Nevirapine .Sirup: 30 mg/ml Hanya untuk . kemudian . 2x/hari dibuka. 2x/hari Efavirenz .25 .15-30 hari: 5 mg/kg/ . sekali sehari 2 bersama rifampicin minggu.Isi kapsul dapat dibuka (EFV) (sirup anak > 3 10-15 kg: 200 mg dan dicampur dengan membutuhkan tahun atau (270 mg = 9 ml) minuman manis. untuk . suhu ruangan.Dapat diberi bersama m2/dosis.Diminum menjelang mg (450 mg = 15 tidur. kemudian dinaikkan) 120-200 mg/m2/ dosis.30 hari – 30 tahun: .Dosis dewasa yang .< 40 kg: 400 mengurangi efek mg (510 mg = 17 samping susunan saraf ml) sekali sehari pusat.Sirup: 10 mg/ml Semua umur . sekali sehari 2 minggu. 120 mg/m2/dosis. tidak dosis yang lebih berat > 10 kg sekali sehari boleh diminum tinggi dari kapsul) . 200 mg di anjurkan adalah: tidak boleh . 2x/hari .Kapsul: 50 mg. 2x/hari makanan . lalu 200 mg/dosis. mg (300 mg = 10 makanan sangat 100 mg.< 20 kg: 250 sesudah makan .Dosis maksimal: ≥ 40 kg: 600 mg sekali sehari Saquinavir/r .< 25 kg: 300 absorpsi dapat mg (360 mg = 12 meningkat sampai ml) sekali sehari 50% .33 . (dosis jangan minggu. 200 mg ml) sekali sehari berlemak karena . .Kapsul gel keras: SQV 1000 mg/ dihancurkan atau 200 mg dan 500 RTV100mg.

Tablet: d4T 30 tablet 30 mg . jika mungkin dengan pemantauan kadar obat Kombinasi tetap d4T . perlu peningkatan dosis Protease inhibitors Nelfinavir NFV . 200 mg per k berfariasi dosis.Sebaiknya disimpan (LPV/r Penanganan dan Perawatan ODHA pada Anak Page 19 .Bubuk terasa manis. d4T 40 .Karena mengandung NVP. Dosis optimum NVP 200 mg/m2. suspense oral Data kg/dosis. Jika dielah.Tidak ada Remaja dan Dosis Maksimal: . tablet. mg/dosis. susu atau (5ml)(50 mg/1.Tablet: 250 mg tinggi .25 tahun.Interaksi obat (lebih jarang dibandingkan ritonavir) Liponavir/ ritonavir . pudding jangan ml) mungkin lebih 2x/hari menggunakan asam .> 6 bulan – 13 . . . dosis mg/kg/dosis.Pada berat < 30 kg. 3x/hari namun seperti pasir dan (dicampur dengan farmakokineti atau 75 mg/kg/ sulut larut.Tidak ada di minimal dosis NVP harus Indonesia 150 mg/m2.dihaluskan.Sebaiknya tablet tidak plus 3TC plus NVP sediaan sirup Dewasa 30-60 kg: 1 dibelah .Minum bersama makanan .< 1 tahun: 50 mg/ . tetapi bila > 25 kg dapat digunakan dosis dewasa. atau dicampur air) . . dosis mg plus NVP 2x/sehari NVP inadekuat untuk 200 mg anak yang lebih muda dan . 2x/hari diaduk jika dicampur satu sendok the pada bayi < 1 .Dosis makasimal: (meningkatkan rasa pahit) (Dapat dibagi ≥ 13 tahun: 1250 solusi stavil dalam 6 jam. 2x/hari. 2. d4T/3TC/NVP tidak mg plus NVP 2x/hari dapat dihitung dengan 200 mg . harus segera air).≥ 60 kg: 1 tablet tepat dalam sediaan mg plus 3TC 150 40mg d4T-bassed. 2 kali Karena persiapan yg dicampurkan sehari susah lebih dipilih tablet dalam makanan yang dihancurkan.1 tahun < 13: 5-65 dengan air.Bubuk untuk Semua umur. mg plus 3TC 150 d4T-bassed.Dapat disimpan diseluruh ruangan. 2x/hari.Sirup: 80 mg/ml ≥ 6 bulan . untuk anak.

5 mg/m2 suhu ruang sampai 25°C (mengandung ritonavir. harus segera air). tablet.Pada berat < 30 kg.≥ 60 kg: 1 tablet tepat dalam sediaan mg plus 3TC 150 40mg d4T-bassed.3 mg . Jika dielah. 2x/hari . suspense oral Data kg/dosis.1 tahun < 13: 5-65 dengan air.25 tahun. .Bubuk untuk Semua umur. mg plus 3TC 150 d4T-bassed.Dosis makasimal: (meningkatkan rasa pahit) (Dapat dibagi ≥ 13 tahun: 1250 solusi stavil dalam 6 jam. 2x/hari Kombinasi tetap d4T . Dosis optimum NVP 200 mg/m2.Tidak ada Remaja dan Dosis Maksimal: . . mg/dosis. lopinavir plus 20 tahun: 225 mg/m2 dilemari pendingin atau mg/ml ritonavir LPV/57. 2 kali Karena persiapan yg Penanganan dan Perawatan ODHA pada Anak Page 20 . 2x/hari.< 1 tahun: 50 mg/ .15-40 kg: 10 mg/kg dihancurkan. 2.3 mg ritonavir ritonavir/dosis.Bubuk terasa manis.7-15 kg: 12 mg/kg lebih cepat liponavir plus LPV/3 mg/kg . 2x/hari.Ukuran kapsul besar. d4T/3TC/NVP tidak mg plus NVP 2x/hari dapat dihitung dengan 200 mg .Tablet: d4T 30 tablet 30 mg .Tablet: 250 mg tinggi . susu atau (5ml)(50 mg/1.Tidak ada di dan minimal dosis NVP Indonesia harus 150 mg/m2. 2x/hari tidak boleh dibuka atau . d4T 40 . dimakan lopinavir/5 mg/kg bersama makanan ritonavir. . 2x/hari diaduk jika dicampur satu sendok the pada bayi < 1 . 2x/hari* maksimal 2 bulan. 200 mg per k berfariasi dosis.dihaluskan. pudding jangan ml) mungkin lebih 2x/hari menggunakan asam .Kapsul: 133. dosis mg plus NVP 2x/sehari NVP inadekuat untuk 200 mg anak yang lebih muda . dosis mg/kg/dosis. perlu peningkatan dosis Protease inhibitors Nelfinavir NFV . bila > alcohol 42%) kg: 12 mg atau 25°C obat akan rusak . 3x/hari namun seperti pasir dan (dicampur dengan farmakokineti atau 75 mg/kg/ sulut larut.Dosisi maksimum: > 40 kg: 400 mg LPV/100 mg ritonavir (3 kapsul atau 5 ml).Sirup rasanya pahit 33.Karena mengandung NVP.Sebaiknya tablet tidak plus 3TC plus NVP sediaan sirup Dewasa 30-60 kg: 1 dibelah .

.Dosisi maksimum: > 40 kg: 400 mg LPV/100 mg ritonavir (3 kapsul atau 5 ml).3 mg ritonavir ritonavir/dosis.Interaksi obat (lebih jarang dibandingkan ritonavir) Liponavir/ ritonavir . Pada setiap kesempatan pengasuh atau orangtua pasien perlu ditanya mengenai aktivitas pemberian obat.15-40 kg: 10 mg/kg dihancurkan.3 mg .> 6 bulan – 13 .Sirup: 80 mg/ml ≥ 6 bulan . atau dicampur air) . Penanganan dan Perawatan ODHA pada Anak Page 21 . . penerimaan obat oleh anak. dan kadar CD4 yang dilakukan paling tidak 3 bulan sekali.Dapat disimpan diseluruh ruangan.Ukuran kapsul besar.7-15 kg: 12 mg/kg lebih cepat liponavir plus LPV/3 mg/kg . pemeriksaan specimen infeksi dan pemeriksaan pencitraan. Pemantauan klinis perlu dilakukan untuk mencari adakah infeksi oportunistik baru yang muncul atau kemungkinan penyakit pulih imun (immune reconstitution disease). Pemeriksaan laboratorium sangat perlu dipantau adalah terutama darah tepi. 2x/hari .Sirup rasanya pahit 33. indicator laboratorium dan kondisi klinis harus dilakukan. bila > alcohol 42%) kg: 12 mg atau 25°C obat akan rusak . hambatan dalam pemberian obat tepat waktu dan melakukan konsultasi secara rutin. 2x/hari* maksimal 2 bulan. 2x/hari tidak boleh dibuka atau . dicampurkan sehari susah lebih dipilih tablet dalam makanan yang dihancurkan.Kapsul: 133.Sebaiknya disimpan (LPV/r lopinavir plus 20 tahun: 225 mg/m2 dilemari pendingin atau 2 mg/ml ritonavir LPV/57. 2x/hari Pemantauan selama pemberian Bila terapi ARV sudah dimulai maka pemantauan berkala pada kepatuhan obat. Bila perlu ditambahkan pemeriksaan kadar RNA virus. dimakan lopinavir/5 mg/kg bersama makanan ritonavir.5 mg/m suhu ruang sampai 25°C (mengandung ritonavir.Minum bersama makanan . enzim transaminase hati.

Kegagalan klinis juga harus dipikirkan bila tidak ada perbaikan perkembangan neurologic meskipun terapi adekuat sudah diberikan. karena itu nilai persentasenya dipakai untuk penilaian keberhasilan terapi ARV. Lama penilaian keberhasilan terapi ini juga 6 bulan. tidak ada peningkatan jumlah dan presentase CD4. Pada pasien yang parameter imun dan virologiknya stabil. dan bila terdapat hasil pemeriksaan CD4 sebaiknya dilakukan pemeriksaan ulang paling tidak 1 minggu sesudahnya untuk konfirmais sebelum menyimpulkan terdapar respon imun suboptimal. maka hal tersebut menunjukkan disfungsi imun persisten meskipun jumlah virus sudah berkurang. Kegagalan supresi virus dapat bersifat komplit atau parsial. Kegagaln pemberian ARV perlu dipikirkan bila pada pemantauan didapatkan tidak ada penurunan kadar virus dalam plasma. (2) virus yang kembali bertambah banyak setelah sebelumnya berhasil ditekan (viral rebound). Kondisi klinis harus selalu dihubungkan denga respon imun dan virologik terhadap pemberian ARV. Kemungkinan sindrom pulih imun juga harus dipikirkan sebelum satu infeksi oportunistik baru dikategorikan sebagai kegagalan klinis. Tetapi persentase CD4 variasinya sedikit. Dinegara maju. Kadang-kadang timbul ketidaksinambungan antara keberhasilan klinis dan imunologis pada kasus yang tidak memiliki efek supresi virologik yang diharapkan. Kegagalan supresi imun adalah tidak tercapainya jumlah CD4 normal menurut umur. timbul troksisitas atau intoleransi ARV. disertai masalah tidak patuh obat. terdapatnya gejala simtimatik HIV yang baru tidak berarti ARV tidak perlu diganti. bila ditemukan kondisi ini maka uji resistensi terhadap golongan ARV tertentu perlu dilakukan. Penggantian ke lini kedua Penanganan dan Perawatan ODHA pada Anak Page 22 . Tetapi bila timbul pada infeksi oportunistik pada kasus imunosupresan berat pada awal pemberian terapi ARV. Untuk melihat apakah terapi ARV berhasil diperlukan waktu 6 bulan. gejala klinis bertambah atau memburuk. atau. Ktireria kenormalan menurut umur ini mutlak karena secara fisiologis parameter CD4 menurut umur akan menurun. Kegagalan supresi ini mungkin memiliki pola (1) jumlah virus yang tidak bisa turun.

tetapi meneruskan pemberian 3TC mungkin dapat menurunkan ketahanan virus HIV. Resistensi terjadi ketika HIV terus berproliferasimeskipun dalam pengobatan ART. Setelah dilakukan evaluasi menyeluruh dan diputuskan untuk melakukan penggantian obat. Konsultasi dengan panel ahli di per. Memilih meneruskan NNRTI pada kondisi tidak ada gunanya. Prinsip pemilihan rejimen kedua adalah pilih kelas obat ARV sebanyak mungkin. dosis dan infeksi oportunistik yang belum berhasil diatasi. Untuk rejimen bernbaris ritonavirboosted PI. Bila terdapat kondisi yang mengarah ke kegagalan terapi ARV lini pertama. terapi penyelamatan yang efektif masih sulit di lakukan. Factor yang harus diperhatikan adalah bahwa resistensi silang dalam kelas ART yang sama terjadi pada mereka yang mengalami kegagalan terapi (berdasarkan penilaian klinis atau CD4+). hampir pasti terjadi resistensi terhadap seluruh NNRTI dan 3TC. tetapi responnya tidak sebaik pada rejimen lini pertama karena sudah terjadi resistensi silang di antara obat ARV. sehingga tidak dianjurkan mengganti satu dengan yang lainnya. maka opsi pilihan lini kedua dipertombangkan. Tujuan pemberian rejimen lini kedua adalah untuk mencapai respon klinis dan imunologis (CD4+). Bila kelas yang sama akan digunakan. Anak yang dengan rejimen lini kedua pun gagal. AZT dan d4T hampir selalu bereaksi silang dan mempunyai pola resistensi yang sama.lukan. Jika kegagalan terapi terjadi dengan rejimen NNRTI atau 3 TC (lihat pengkodean). pilih obat yang sama sekali belum dipakai sebelumnya. maka dilakukan evaluasi kearah kepatuhan berobat. pemeriksaan lipid (trigliserida dan kolesterol. jika mungkin LDL dan HDL) dilakukan setiap 6-12 bulan. Sebelum pindah kerejimen lini kedua. kepatuhan obat harus benar-benar dinilai. Rekomendasi bila ini pertama adalah 2 NRTI+1 NNRTI=2 NRTI baru + 1 PI 2 NRTI NRTI lini pertama NRTI lini kedua AZT atau d4T+3TC ddl + ABC ABC+3TC ddl + AZT Penanganan dan Perawatan ODHA pada Anak Page 23 .

dan sekarang tidak berbeda pada berada pada terapi antiretrovirus dianjurkan menggunakan zidovudin.I positif. Pencegahan. 1PI PI terpilih Keuntungan Kerugian Lopinavir/ .membutuhkan penyimpangan ritonavirLPV/r yang belum pernah mendapat PI dalam lemari pendingin . * Meneruskan penggunaan 3TC pada rejimen lini kedua dapat dipertimbangkan karena 3TC dihubungkan dengan berkurangnya ketahanan virus HIV. hamil dengan masa kehamilan 14-34 minggu. Wanita yang HIV.kapsul gel ukurannya besar Karena kadar obat tinggi dengan .Efikasi sangat baik.harganya mahal Penambahan ritonavir .Ambang terhadap resistensi tinggi . Pemberian zidovudin terhadap wanita hamil yang terinfeksi HIV-I menguranggi penularan HIV-1 terhadap bayi secara dramatis. Penanganan dan Perawatan ODHA pada Anak Page 24 .Tersedia dalam bentuk sirup.khususnya anak .tidak bisa dibagi Dan tablet . Pelayanan Kesehatan masyarakat A.S telah menghasilkan pedoman untuk penggunaan zidovudin pada wanita hamil HIV-l positif untuk mencegah penularan HIV-1 perinatal. mempunyai angka limfosit CD4 + 200/mm3 atau lebih besar.Dosis anak sudah tersedia Saquinavir/ -Dapat digunakan bersamaan ritonavir Ritonavir SQV/r boosting .Efiaksi baik H.pil . Penggunaan zidovudin (100 mg secara oral lima kali 24 jam) pada wanita HIV-1 positif dari 14 minggu kehamilan sampai kelahiran dan persalinan dan selama 6 minggu pada neonatus (180 mg/m2 secara oral setiap 6 jam ) mengurangi penularan pada 26 % resipien placebo sampai makna.rasanya tidak enak .

Bila pada orang dewasa ada sejumlah pengidap HIV yang dapat tetap sehat dengan hitung CD4 tetap normal bertahun-tahun lamanya. didorong untuk menggunakan zidovudin. Pencegahan penularan seksual mencakup penghindaran pertukaran cairan- cairan tubuh. Wanita HIV-1 positif yang dikenali sesudah kehamilan 34 minggu atau yang berada dalam persalinan juga. Secara umum tercapainya stadium AIDS pada anak lebih cepat pada orang dewasa. Zidovudin intravena (dosis beban 1 jam 2mg/ kg/ jam diikuti dengan infus terus-menerus 1mg/kg/jam sampai persalinan) dianjurkan selama proses klahiran. Seks tanpa perlindungan dengan mitra yang lebih tua atau dengan banyak mitra adalah biasa pada remaja yang terinfeksi HIV-1. PROGNOSIS Prognosis anak-anak pengidap HIV berbeda-beda sesuai stadium klinis dan terutama persentase CD4 yang di miliki sebelum terapi ARV. dan wnita hamil harus di uji untuk positivitas HIV-1. Saat ini. Ibu dan anak yang diobati dengan zidovudin harus diamati dengan ketat untuk kejadian-kejadian yang merugikan dan didaftar pada PPP untuk menilai kemungkinan kejadian yang merugikan jangka lama. Kondom merupakan bagian integral program yang mengurangi penyakit yang ditularkan secara seksual. I. tidak ada bukti yang mendukung kemanjuran obat dalam mencegah infeksi HIV-1 bayi baru lahirr sesudah 24jam. maka pada anak di Penanganan dan Perawatan ODHA pada Anak Page 25 . Penularan seksual.umtuk melaksanakan pendekatan ini secara temu semua wanita harus mendapat perwatan perinatal yang tepat. zidovudin harus dimulai pada bayi baru lahir. untuk mencegah penularan HIV-1. Pada semua keadaan dimana ibu mendapat zidovudin.. hanya anaemia ringan reversibel yang telah di temukann pada bayi. bayi harus mendapat sirup zidovudin (2mg/kg setiap 6 jam selama usia 6 minggu pertama yang mulai 8-12 jam sesudah lahir) jika ibu HIV-1 positif dan tidak mendapat zidovudin.

Studi awal menunjukkan bahwa pada anak-anak terinfeksi HIV yang sebelum usia 1 tahun pun sudah memerlukan terapi ARV. dapatkan studi kohord dengan hati yang sebanding. Tetapi memang di temukan anak-anak yang hingga usia paling tidak 8 tahun tidak memiliki gejala infeksi HIV dan hitung CD4 nya normal. meskipun HIV seropositif. Dengan perkembangan riset obat ARV pada anak dan keberhasilan hidup anak pengidap HIV lebih tinggi di masa yang akan datang. Penanganan dan Perawatan ODHA pada Anak Page 26 .

AIDS (Acquired immunodeficiency syndrome) adalah kumpulan gejala penyakit akibat menurunnya system kekebalan tubuh secara bertahap yang disebabkan oleh infeksi Human Immunodeficiency virus (HIV). dan sebab-sebab lain yang buktinya sangat sedikit. B. BAB III PENUTUP A. Dari cara penulaian tersebut di atas maka faktor risiko untuk tertular HIV pada bayi dan anak adalah: a. prostitusi anak. Bayi yang lahir dari ibu atau pasangannya penyalahguna obat intravena. yaitu dengan hancurnya sel limfosit T (sel-T) 2.Anak yang terpapar pada infeksi HIV dari kekerasan seksual (perlakuan salah seksual). Saran Semoga dalam pembuatan makalah ini dapat berguna bagi seluruh para pembaca yang ingin belajar mengenai perawatan HIV/AIDS pada anak dan Penanganan dan Perawatan ODHA pada Anak Page 27 . Bayi yang lahir dari ibu dengan pasangan biseksual dan pasangan beganti b. Penularan lain yang juga penting adalah dari transfusi produk darah yang tercemar HIV kontak seksual dini pada perlakuan salah seksual atau perkosaan anak oleh penderita HIV. AIDS adalah Runtuhnya benteng pertahanan tubuh yaitu system kekebalan alamiah melawan bibit penyakit runtuh oleh virus HIV. Bayi atau anak yang mendapat transfusi darah atau produk darah berulang. dan Anak remaja dengan hubungan seksual berganti-ganti pasangan. Cara penularan HIV yang paling penting pada anak adalah dari ibu kandungnya yang sudah mengidap HIV baik saat sebelum dan sesudah kehamilan. 3. Kesimpulan 1.

cetakan kedua. Penanganan dan Perawatan ODHA pada Anak Page 28 . bias mengaplikasikannya pada orang yang membutuhkan. Penyakit Infeksi Tropik Pada Anak. Jakarta. EGC. 1995. Segala kritik dan saran penulis sangat mengharapkan hal itu. DAFTAR PUSTAKA Rampengan dan Laurentz.