1

BAB I
PENDAHULUAN

Penurunan kesadaran atau anak tidak sadar adalah gangguan neurologis yang sering
dijumpai saat pasien datang ke ruang gawat darurat atau saat kita merawat pasien di ruang
perawatan. Pasien dapat datang dengan tidak sadar atau kesadaran menurun dengan
perawatan. Anak tidak sadar merupakan kegawatdaruratan yang perlu penanganan yang tepat
sehingga prognosisnya akan lebih baik.1
Kesadaran ditentukan oleh pusat kesadaran yang berada pada kedua hemisfer serebri
dan sistem ARAS (Ascending Reticular System). ARAS merupakan sebuah rangkaian sistem
yang berasal dari medulla spinalis bagian kaudal menuju rostral, yakni diensefalon melalui
brain stem dengan lintasnya berada diantara medulla, pons, mesenchepalin menuju ke
subthalamus, hipotalamus, dan talamus. Terjadinya kelainan pada salah satu sistem atau
kedua sistem yang mengatur kesadaran tersebut akan menyebabkan seseorang jatuh ke dalam
kondisi yang tidak sadar.2
Saat ini dibutuhkan pengetahuan neurologis tentang pendekatan etiologi, manifestasi
klinis, pemeriksaan fisis neurologis, dan tatalaksana awal yang tepat karena itu dibutuhkan
pengetahuan neurologis yang berbeda dengan pemeriksaan saat anak sadar. Pada keadaan
awal perlu ditentukan kelainannya, apakah pada tingkat korteks atau batang otak.
Berdasarkan gabungan hasil pemeriksaan tersebut, ditentukan pemeriksaan penunjang
untuk mencapai diagnosis pasti.1
Pada referat ini berisi mengenai pendekatan diagnosis penurunan kesadaran pada anak
mulai dari evaluasi awal pada saat pasien datang dimulai dari anamnesis, pemeriksaan fisik,
pemeriksaan neurologis, dan pemeriksaan penunjang yang sekiranya dibutuhkan untuk
mendiagnosis anak yang datang dengan penurunan kesadaran.

2

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II. 1. Definisi
Kesadaran dapat didefinisikan sebagai keadaan yang mencerminkan pengintegrasian
impuls eferen (input) dan aferen (output) dari susunan saraf pusat. 8 Proyeksi neuron
diteruskan dari ascending reticular activating system (ARAS) melalui hipotalamus ke
nukleus reticular talamus dan diproyeksikan ke daerah korteks.1
Definisi kesadaran mengacu kepada ketanggapan seseorang terhadap lingkungan
sekitarnya, dan dirinya sendiri. Kesadaran memiliki 2 dimensi, yakni dimensi wake fulness
atau aerosal atau bangun dan awareness atau content atau tanggap.3,4
Fungsi anatomi dari ARAS dibagi atas daerah medial dan lateral. Daerah medial
mengatur siklus tidur dan penggunaan serotonin sebagai neurotransmitter utama. Jaras
descending mengatur fungsi anatomik motor yang mengatur ritmik irama pernapasan. Daerah
laeral ARAS mempertahankan kesadaran dengan keseimbangan cholinergik dan
noradrenegik.1
Kesadaran yang sehat dan adekuat disebut sebagai compos mentis, pada aksi dan reaksi
(ekspresi) terhadap apa yang dilihat, didengar, dihidu, dikecap, dialami dan perasaan
keseimbangan, nyeri, suhu, raba, gerak, getar, tekan, dan sikap, bersifat adekuat yaitu tepat
dan sesuai. Kesadaran yang terganggu ialah kesadaran dimana tidak terdapat aksi dan reaksi,
walaupun dirangsang dengan kasar. Keadaan tersebut yang disebut koma.8
Di dalam klinik diketahui bayi yang dilahirkan tanpa serebrum, hanya dengan medula
spinalis batang otak saja (anensefalus) masih bisa bereaksi dan akan menangis atau bergerak
apabila ditusuk.8 Locked in syndrome (kerusakan pada batang otak namun individu masih
dapat memproses informasi tetapi tidak dapat meresponnya), atau katatonia yaitu terjadi
respon menurun padahal anak sadar penuh.1

dan tidak ada jawaban sama sekali terhadap rangsang nyeri yang sangat kuat. 1. dan 3) Metabolik. Penyebab Penurunan Kesadaran1 Berdasarkan pemeriksaan fisik. terjadi respons yang lambat terhadap rangsangan tersebut tetapi anak masih dapat diajak untuk berkomunikasi sedikit-sedikit. (2) Apatis atau sering kali disebut dengan obtundasi. dan toksik.11 II. merupakan tingkat kesadaran yang ditandai dengan tidak adanya gerakan spontan. neurologis dan pemeriksaan penunjang dapat dibuat diagnosis banding kemungkinan sebagai penyebeb tersering penurunan kesadaran. Derajat penurunan kesadaran1 Keadaan Definisi Letargi (somnolen) Kesulitan dalam mempertahankan keadaan sadar Obtudansi (apatis) Responsif terhadap stimulus lain selain nyeri Stupor(sopor) Responsif hanya terhadap nyeri Koma Tidak responsif terhadap nyeri Penjelasan yang lebih rinci tentang pengertian derajat kesadaran diatas adalah sebagai berikut : (1) Sadar atau compos mentis merupakan keadaan dimana seseorang tanggap terhadap lingkungan sekitar dan dirinya sendiri baik dengan atau tanpa rangsangan. juga dapat dinilai secara kualitatif seperti pada tabel 1 dibawah ini. tetapi dapat dibangunkan dengan stimulus selain nyeri. Pada penderita dengan tingkat kesadaran stuppor. (4) Sopor atau stuppor yang biasa dikenal sebagai keadaan kantuk yang dalam. 2. nutrisi. mereka masih dapat dibangunkan tetapi hanya dengan rangsang nyeri yang kuat. (3) Letargis atau seringkali lebih dikenal dengan somnolen merupakan keadaan dimana anak cenderung mengantuk. seperti contohnya stimulus suara. yakni keadaan dimana anak mengalami kesulitan dalam mempertahankan keadaan sadar (anak cenderung mengantuk) dan apabila diberikan rangsangan. Tabel 2. (5) Koma dalam atau komplit. 3 Penilaian tingkat kesadaran dapat dinilai selain dengan skala numerik. . Secara garis besar penyebab dapat dibagi atas : 1) Infeksi atau inflamasi 2) Kelainan struktur otak.

Ensefalopati luka bakar Dikutip dari : Trihono PP. dan toksin A. Toksin eksogen Obat-obatan E.Iskemik Meningitis bakterialis Kontusio Syok Ensefalitis Perdarahan intrakranial Gagal jantung atau paru Riketsia. Pramita G. 3. Kelainan metabolik Vaskulitis Perdarahan otak Sarkoidosis. Sekartini R. Trauma A. Nutrisi Defisiensi tiamin Piridoksin.9 . 2012 Tabel. Hipoksik. Windiastuti E. 2. Ensefalopati hipertensi F. Infeksi Lokal Strangulasi Ensefalopati sepsis Infark otak B. Infeksi A. 2. Tabel 2. hipoglikemia Demielitis Kelainan kongenital Gangguan cairan dan Multiple Sclerosis Trauma tulang belakang elektrolit D. Penyebab tersering penurunan kesadaran pada anak Infeksi dan inflamasi Struktural Metabolik. 3 Patofisiologi Keadaan sadar tergantung dari hubungan timbal-balik siklus antara sistem keterjagaan (reticular activating system) yang berasal dari batang otak bersama dengan pusat tidur gelombang lambat di hipotalamus dan pusat tidur paradoksal dibatang otak. Indawati W. Kejang Asidosis Ketoasidosis diabetika Organik asidemia Hiperamonia Sindrom Reye Uremia Penyakit mitokondria C. Penyebab Penurunan Kesadaran Menurut Umur10 Bayi Anak Remaja Infeksi Toksin Toksin Metabolik Infeksi Trauma Kejang Kejang Psikiatrik Kekerasan Intususepsi Kejang Inborn error Kekerasan/trauma II. Idris SN. Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM : Jakarta. Batang otak adalah jalur penghubung penting antara bagian otak lain dan medula spinalis. 4 Dibawah ini diberikan diagnosis kemungkinan penyebab penurunan kesadaran pada tabel 7 berikut ini. protozoa Injury Tenggelam Infestasi cacing B. sianida B. Hidrosefalus Kelainan endokrin E. penyunting. Neoplasma Keracunan O2. nutrisi. Inflamasi C. Kegawatan pada Bayi dan Anak. asam folat D. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Departemen Ilmu Kesehatan Anak.

terdiri dari serat-serat asendens yang berasal dari formasio retikularis dan membawa sinyal ke atas untuk membangunkan dan mengaktifkan korteks serebri. 5 Substrat kualitas dan derajat kesadaran disingkatkan sebagai berikut : jumlah (kuantitas) input susunan saraf pusat menentukan derajat kesadaran.9 Kontrol utama kesadaran terletak pada sistem formasio retikularis yang memiliki fungsi sebagai berikut : (1) mengontrol derajat kewaspadaan . Reticular activating system9 Formasio retikularis adalah suatu anyaman luas neuron di dalam batang otak yang menerima dan mengintegrasikan semua input sinaptik. unilateral dan bilateral yang selanjutnya memancarkan impuls yang mengaktifkan seluruh korteks secara difus dan bilateral sehingga terdapatlah penghantaran aferen yang berbeda. Input susunan saraf pusat dibedakan menjadi input yang bersifat spesifik dan non-spesifik.8 Gambar 2. Reticular activating system yang mendorong kesadaran korteks dan membantu mengarahkan perhatian ke kejadian-kejadian spesifik. Input spesifik merupakan impuls aferen yang khas dan kesadran yang disalurkan oleh impuls aferen itu adalah khas juga yaitu berlaku pada semua lintasan berupa lintasan aferen impuls perasaan protopatik.8 Input non-spesifik terdiri dari lintasan berupa serangkaian neuron-neuron di substansia retikularis medula spinalis dan batang otak yang menyalurkan impuls aferen ke talamus yaitu ke inti intralaminar yang cara penyalurannya ke talamus berlangsung secara multisinaptik. 1. propioseptif dan pancaindera.

yang erat kaitanya dengan intoksikasi obat. 6 (2) kemampuan mengarahkan perhatian (3) memfiltrasi informasi sensoris. hal-hal yang ditanyakan seperti : 1) Onset terjadinya penurunan kesadaran. setelah keadaan stabil dapat ditanyakan riwayat klinis pasien secara singkat dan cepat dengan perhatian pada waktunya. apakah pasien memiliki riwayat penyakit diabetes.6 Pada saat kedatangan pasien. yang erat kaitannya dengan hipoglikemia atau ketoasidosis. 5) Apakah ada gejala neurologis yang bertahap atau mendadak. pernapasan (breathing) dan sirkulasi darah (circulation) (the ABC of emergency management). 7) Adakah demam yang dapat menunjukkan kearah penyakit infeksi.10 Apabila terjadi gangguan sehingga kesadaran menurun sampai derajat yang terendah (koma). riwayat muntah-muntah sebelumnya. Informasi penting lainnya adalah yang berhubungan dengan kesehatan. apabila terdapat riwayat trauma apakah trauma tersebut terjadi pada kepala. bingung. 6) Bagaimana kejadian sebelum penurunan kesadaran tersebut terjadi. 3) Riwayat penyakit dahulu.8 II. 2) Riwayat trauma. gangguan bicara. Pasien dengan muntah-muntah kemudian tidak sadar dapat disebabkan sindrom Reye. pakah akut yang biasanya mengarah pada penyakit jantung atau penyakit neurovaskular atau subakut yang biasanya lebih mengarah pada kelainan metabolik. 4) Riwayat penggunaan obat-obatan pada pasien. Sakit kepala dengan kekakuan di leher dapat disebabkan meningitis. pajanan. Evaluasi Diagnosis a) Riwayat Klinis2. Anak sering tampak tidak sadar dapat disebabkan kelainan metabolik. . pemeriksaan awal dan penanganan kedaruratan yang meliputi jalan napas (airway). hemiparesis. anak jatuh mungkin karena perdarahan intrakranial atau anak tidak sadar setelah kejang lama. atau sakit dada. 3. anak tiba-tiba tidak sadar karena pecahnya pembuluh darah. dan gejala penyertanya. Dilakukan dengan cermat. apabila ya apakah ada lusid interval setelah terjadinya trauma kepala tersebut. Dari anamnesis. atau gejala neurologis yang terjadi sebelum penurunan kesadaran. dapat dibuat daftar kemungkinan penyebabnya.5. dan (4) mengkoordinasi aktivitas-aktivitas otot.

Beberapa penyebab yang perlu dipikirkan berdasarkan kelainan tanda vital dapat dilihat pada tabel 2. perdarahan intrakranial. seperti kelemahan anggota gerak. sindroma hemolisis uremia Petechiae Dengue. laju nadi atau denyut jantung dan laju napas sangat membantu dalam menentukan penyebab penurunan kesadaran. nyeri kepala mendadak. campak Pallor (pucat) Malaria serebri. pembuluh darah. Pemeriksaan fisis dan neurologis umum dilakukan sebagai berikut : 1. Respirasi. sebagai berikut. jantung. pusing. tinja berdarah. dan sirkulasi (ABC management) sebagai resusitasi awal. Pemeriksaan sistemik : suhu. telinga-hidung-tengorokan. gerakan bola mata. koma hepatik c) Tanda Vital1 Pada keadaan awal pemeriksaan tanda vital meliputi tekanan darah. dan perut.disfungsi saluran napas atau bawah 3. pengihatan ganda atau kabur. neurocutaneus marker Kemungkinan terjadinya kejang Bau nafas yang tidak normal Ketoasidosis diabetik. dengue. Derajat kesadaran 4. aktivitas motorik spontan. demam berdarah dengue Hematome pada kulit kepala Trauma Dismorfik. Pemeriksaan saraf otak.6 b) Pemeriksaan fisis dan neurologis1 Pada prinsipnya pemeriksaan fisis umum tidak terpisahkan dengan pemeriksaan neurologis. infeksi virus. posisi istirahat. 4. leptospirosis. Secara garis besar pemeriksaan ini dapat langsung dikerjakan pada saat yang bersamaan. refleks okulosefalik dan okulovestibular 5. meningococcemia. respon pupil. 7 8) Adakah gejala penyerta lain. Jalan napas. pikirkan : Ikterik Ensefalopati hepatikum. Pemeriksaan motorik. muntah. kejang. respon terhadap rangsang 6.5.1 Tabel. dapat pula ditanyakan riwayat penyakit pada keluarga. 2. Tabel yang menunjukkan kepada etiologi berdasarkan hasil pemeriksaan fisik5 Lihat Jika ditemukan. pernapasan.2. 5. funduskopi. . Selain itu. 2. malaria Ruam Meningcoccemia. riketsia.

Skala Koma Glasglow dan modifikasinya untuk anak lebih objektif dalam menilai tingkat kesadaran. yakni membuka mata. nilai skala 12.1 Tabel 2. 6. nilai skala 9-11 menunjukkan gangguan kesadaran sedang dan nilai skala <8 didefinisikan sebagai koma.Tinggi . terdapat tiga aspek yang dinilai. Penyebab tersering perubahan tekanan darah dan laju nadi anak tidak sadar Tekanan darah Denyut dan irama jantung . Pada Skala koma Glasgow Pediatrik dibuat sedikit perubahan penilaian verbal dan mengubah nilai terbaik berdasarkan perkembangan dan usia anak.14 menunjukkan gangguan kesadaran ringan. Dalam pemeriksaannya. 5.Tidak teratur Peningkatan tekanan intrakarnial Amfetamin Perdarahan subarahnoid Antikolinergik Intoksikasi Triskilik Amfetamin Digitalis Antikolinergik . dan respons verbal.Cepat Kegagalan adrenal Alkohol Keracunan Amfetamin Narkotika reofolin Sianida Sedatif atau hipnotik simptomatik d) Skala Koma Glasgow Pada skala GCS. Ketiga aspek penilaian GCS tersebut memilik rentang nilai masing-masing.Rendah Narkotik Syok spinal . Skala berkisar antara 3-15. nilai yang diambil ialah repons terbaik yang dapat dilakukan oleh pasien.4 Skala ini dapat menentukan prognosis pada trauma kepala pada dewasa. 8 Tabel 2.Rendah Simpatomimetik Beta bloker . repons motor. Penilaian skala koma Glasgow pada anak1 Tanda Skala Koma Glasgow Nilai Buka mata Spontan 4 (eye = E) Reaksi terhadap bicara 3 Reaksi terhadap nyeri 2 Tidak ada 1 . tetapi tidak dapat menentukan prognosis penurunan kesadaran akibat lain pada anak.

interaksi tidak menyerang 3 Menangis. tidak 2 kooperatif Mengerang 2 Mengerang dengan 1 rngsang nyeri Tidak ada respon 1 Tidak ada respon Motorik (gerakan) Menuruti perintah 6 Gerakan aktif 6 Melokalisasi nyeri 5 Melokalisasi 5 rangsang nyeri Reaksi menghindar 4 Reaksi menghindar 4 Reaksi fleksi 3 Reaksi fleksi 3 Reaksi ekstensi 2 Reaksi ekstensi 2 Tidak ada respon 1 Tidak ada respon 1 e) Pola napas . tetapi 3 tidak dibujuk Berupa kata-kata 3 Rewel. interaksi tidak tepat 4 Menangis. 9 Motorik Spontan atau menurut perintah 6 (motorik = M) Lokalisasi nyeri 5 Menarik karena nyeri 4 Fleksi abnormal karena nyeri(dekortikasi) 3 Ekstensi abnormal karena nyeri(deserbrasi) 2 Tidak ada 1 Lisan Terorientasi. tersenyum 5 (verbal = V) Menangis. Skala Koma dan Modifikasinya untuk Anak4 Glaslow Coma Scale Skor Glaslow Coma Scale Skor (Modifikasi untuk bayi) Membuka mata Spontan 4 Spontan 4 Terhadap suara 3 Terhadap suara 3 Terhadap rangsang 2 Terhadap ransang 2 nyeri nyeri Tidak ada respon 1 Tidak ada respon 1 Verbal Terorientasi 5 Babbles. 7. interaktif iritabel 2 Tidak ada 1 Tabel 2. coos 4 Bicara kacau 4 Menangis.

10 Pola napas normal membutuhkan interaksi normal antara batang otak dan korteks. Gambaran skematis pola pernapasan12 . organofosfat) Menyebabkan gangguan di daerah midpons-midbrain Apneuristik Berhentinya inspirasi (kelainan pons atau medula) Ataksik Tidak ada pola (kelainan medula) Hipoventilasi Alkohol. sedangkan kortek berperan dalam mengatur pola napas. hidrokarbon. Penentuan lokalisasi kelainan berdasarkan pola napas tidak terlalu pasti. batang otak berperan dalam mengatu keinginan napas (drive). hipoksia atau keracunan (amfetamin. Kontrol metabolik. Gangguan metabolik dan hipoksia dapat diatasi dengan perubahan pola pernapasan sehingga pola napas yang abnormal mencerminkan gangguan neurologis yang berat. kokain) Edema paru neurogenik (karbo monoksida. 6 Adapun karakteristik pola napas dapat dilihat pada tabel 4 berikut ini.1 Cheyne Stokes Pola napas apnue disertai hiperpneu Gangguan serebral bilateral atau diensefalon (metabolik atau ancaman herniasi) Hiperventilasi Metabolik asidosis menyeluruh. asam-basa dikontrol dengan menurunkan pusat batang otak antara medula dan midpons. oksigenasi. narkotik atau sedatif (kelainan di ARAS) Gambar 2. Kontrol pola napas di midbrain.

Ukuran dan reaktifitas pupil.1 Serabut saraf simpatis berasal dari hipotalamus. dan menaik ke atas sepanjang arteri karotis interna dan melalui fisura orbitalis superior menuju pupil.3.6 Kelumpuhan asimetri lebih sering ditemukan akibat kelainan struktural sebagai penyebab penurunan kesadaran. 1 Gambar 2. cenderung disebabkan kelainan struktural yang mempengaruhi derajat kesadaran. sedangkan serabut saraf parasimpatis berasal dari midbrain. 11 f). Letak lesi disertai reaksi kedua pupil6 Gerakan bola mata abnormal pada pasien dengan penurunan kesadaran disebabkan oleh gangguan anatomis yang lokasinya sama dengan bagian kaudal ARAS. Adapun serabut-serabut parasimpatis berasal dari midbrain dan menuju pupil melalui saraf okulomotorius (Nervus III). .2. serta gerak bola mata1 Reaksi pupil (konstriksi dan dilatasi) diatur oleh sistim saraf simpatis (midriasis) dan parasimpatis (miosis). tetapi tetap menimbulkan refleks terhadap cahaya langsung. Serabut-serabut simpatis berasal dari hipotalamus. menurun ke daerah atas spina torasikus. Tidak adanya refleks pupil terhadap cahaya. Adanya gangguan atau lesi yang terletak di daerah diensefalon akan menyebabkan konstriksi pupil. IV di batang otak. yang relatif tidak terpengaruh oleh gangguan metabolik. Jaras yang mengatur gerakan bola mata melalui fasikulus longitudinal medialis yang berhubungan dengan saraf otak ke III. IV.

Deviasi ke arah destruksi hemisfer. mata bergerak ke arah telinga yang dirangsang.Doll’s eye bola mata bergerak berlawanan dengan gerakan kepala. dan menjauhi lesi batang otak : hemiplegia . kerusakan menetap.Ke bawah dan keluar (down and out) : diabetes neuropati. frkatur kompresi tulang kepala.Menetap : midriasis sentral Gerakan bola mata . Tabel 7. 4. Respons dekortikasi atau fleksi disebabkan oleh kerusakan hemisfer serebri bilateral dengan . Gambar 2. meningitis di daerah pons Refleks . Reaksi bola mata pada pemeriksaan doll’s eye movement 6 g). ensefalitis atau syok perdarahan Konstriksi pupil .Isi lateral (satu sisi).Dua sisi : pasca kejang. Adanya hemiparesis mengindikasikan adanya lesi kontralateral pada otak. ancaman herniasi. Gangguan refleks pupil dan gerakan bola mata pada penurunan kesadaran1 Dilatasi pupil . penyebaran darah secara cepat. 12 Beberapa keadaan yang menyebabkan gangguan refleks pupil dan gerakan bola mata dapat dilihat pada tabel 5 berikut ini.Menetap : kelainan pons dan metabolik . Respon Motorik Fungsi motorik dapat memberikan informasi tambahan mengenai lokasi lesi. peningkatan tekanan intrakranial. hipotermia. batang otak baik . menjauhi fokus kejang.Reaktif : kelainan medulla dan metabolik Pupil midriasis . hipoksia. pasca kejang atau lesi di saraf otak III .Kalori air es dialirkan pada membran timpani intak. tumor.

13 fungsi batang otak yang masih baik. Manifestasi klinis berdasarkan tingkat gangguan1 Secara garis besar manifestasi klinis berdasarkan tingkat gangguan pada susunan saraf pusat pada susunan saraf pusat dapat dilihat pada tabel 6 berikut. (kerusakan N VI) dekortikasi atau Tidak ada defek Pons decerebrasi Pinpoint Blot Medulla Posisi decerebrasi Kecil. atau akibat keracunan.8.10 Dekortikasi atau posisi fleksi (lengan fleksi dan tertarik ke atas dada) disebabkan oleh kerusakan traktur spinalis atau di atas red nucleus. Deserebrasi atau posisi ekstensi (lengan ekstensi dan rotasi interna) disebabkan kerusakan dekat traktus vestibulospinalis.1 h). Respons deserebrasi atau ekstensi biasanya menunjukkan adanya lesi destruktif otak tengah dan bagian atas pons. gerak bola mata dan pola pernapasan. Tabel 2. Manifestasi klinis berdasarkan tingkat gangguan di susunan saraf pusat1 Tingkat gangguan kedua Respon motorik Pupil kecil. Gerak bola mata Pernapasan korteks withdrawl reaktif Cheyne- Stokes Cheyne- Talamus Posisi Spontan konyugasi Stokes dekortikasi Kecil. Ke arah medial Posisi tidak reaktif. Dengan mengetahui tingkat gangguan kesadaran secara berkala dapat ditentukan prognosis pasien . dan tangan di samping skibat kerusakan berat kedua korteks. fleksi Evaluasi diagnosis tingkat gangguan kesadaran perlu ditentukan dengan menilai respon motorik. reaktif gerakan horizontal sama seperti di atas Cheyne- Ke arah lateral Stokes (kerusakan N III) Midbrain Midposition. besar dan reaksi pupil. Opistotonus adalah posisi kepala ke belakang disertai tulang belakang melengkung. Horner Ataksik syndrome Tungkai lemah.

B (breathing. 5. Hal pertama kali yang harus dilakukan pada pasien yang datang dengan penurunan kesadaran ialah stabilisasi A (airway / jalan napas). kelainan dicurigai akibat metabolik dan proses ensefalitis. 3) Cek kadar gula dalam darah. 14 II.1 II. perlu dilakukan tergantung manifestasi klinis yang meragukan. Bila didapatkan perbaikan dramatis. iskemia awal.5 dan 2. lesi demielinisasi. Tatalaksana Pendekatan tatalaksana anak yang datang dengan penurunan kesadaran dapat mengikuti algoritme yang tercantum dalam gambar 2. dan C (circulation / sirkulasi darah). CT scan kepala dipilih bila dicurigai adannya trauma kepala dengan komplikasi perdarahan intrakranial. 7) MRI kepala atau medula spinalis. fungsi hati termasuk dan ammonia. kalsium.10 Anak dengan penyebab koma yang belum jelas penyebabnya. Dilakukan apabila dicurigai kelainan pada daerah massa kelabu.6. Dilakukan pemeriksaan penunjang sesuai indikasi dalam mencari etiologi. tumor atau massa di daerah supratetorial. karena hal pertama yang harus disingkirkan pada pasien dengan penurunan kesadaran ialah keadaan hipoglikemia. Adapun pemeriksaan penunjang yang dilakukan adalah sebagai berikut : 1) Pemeriksaan darah : darah tepi lengkap. selanjutnya diberikan infus . Pemeriksaan Penunjang Setelah dilakukan pemeriksaan fisis dan neurologis yang teliti.6. dilakikan pemeriksaan gula darah dextrostick atau diberikan langsung dektrosa 25% sebanyak 1-4 ml/kgBB sambil memperhatikan responnya. 5.5 4) Pemeriksaan elektrodiografi dan rontgen dada bila dicurigai adanya kelainan jantung atau paru. glukosa. dan magnesium.1 2) Urinalisis. laju napas). 6) Pemeriksaan CT scan kepala sebelum dilakukan pemeriksaan pungsi lumbal. 4. dilakukan untuk pemeriksaan toxikologi. 8) Pemeriksaan elektrosefalografi (EEG) digunakan untuk mendiagnosis kejang tanpa adanya konvulsi. Kadangkala pada pasien infeksi susunan saraf pusat dengan ubun-ubun yang telah menutup. 5) Pungsi lumbal harus dilakukan bila terdapat dugaan adanya infeksi susunan saraf pusat. tekanan intrakranial yang meningkat perlu diturunkan lebih dahulu sebelum dilakukan pungsi lumbal. Tatalaksana awal penurunan kesadaran bertujuan untuk mencegah terjadinya perburukan pada pasien. elektrolit.

seperti hipokalsemia. Agitasi dapat meningkatkan tekanan intrakranial dan menyulitkan bantuan ventilasi mekanik sehingga dapat dipertimbangkan pemberian sedatif walaupun mungkin akan menyulitkan evaluasi neurologik berkala. pemberian cairan yang tidak tepat pada keadaan ini dapat memperburuk keadaan. hipernatremia. 5.kgBB selama 30 menit setiap 6 sampai 8 jam dapat diberikan apabila terdapat tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial yang jelas. Adanya asidosis atau alkalosis juga harus segera dikoreksi secepat mungkin.5 – 1. adanya defisit neurologis fokal. atau hipomagnesemia.1 Jalan napas-intubasi bila SKG ≤8 Pernapasan-pertahankan saturasi O2> 80% Sirkulasi-pertahankan tekanan arteri> 70 . Gangguan keseimbangan elektrolit sering diakibatkan gangguan sekresi hormon antidiuretik.10 Status epileptikus dan kejang lain harus diberantas perlu dipertimbangkan adanya kejang walaupun tidak bermanifestasi secara klinis (status epileptikus nonkonvulsif subklinis). atau apabila telah selesai kita curigai adanya hipoglikemia.1 CT scan kepala juga harus dilakukan pada setiap anak yang datang dengan penurunan kesadaran akibat trauma kepala. hiponatremia. Monitor adanya tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial juga harus selalu dilakukan.6 Nalokson diberikan bila dicurigai adanya overdosis narkotika. Dexametason dapat diberikan dengan dosis 1-2 mg/kgBB.10 Suhu tubuh normal baik untuk pemulihan dan pencegahan asidosis.1 Gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit juga perlu dikoreksi sedini mungkin. Antipiretik yang sesuai harus diberikan untuk menurunkan demam.6.0 gr. papiledem. 15 glukosa 10%. Tidak menutup kemungkinan kalau penurunan kesadaran yang terjadi merupakan akibat dari ketidakseimbangan elektrolit. sehingga tersedianya EEG sangat esensial. 1 Pemberian kortikosteroid seperti dexametason mungkin bermanfaat apabila terdapat edema perifokal (tumor). agar metabolisme tubuh dapat berlangsung normal kembali. seperti muntah proyektil. Bila dicurigai adanya infeksi susunan saraf pusat dilakukan pungsi lumbal dan diobati dengan antibiotik atau antivirus yang sesuai. Pemberian manitol 20% sebanyak 0.5. 7. menyingkirkan adanya hipoglikemia. Kesadaran yang tidak pulih setelah pemberian infus dektrosa.

darah lengkap. dan 4) respon motorik terhadap rangsangan. skrining toksikologi PEMERIKSAAN NEUROLOGIS Hiperventilasi. analisa gas darah. tiamin (100 mg IV) diikuti dengan 25 gram glukosa bila serum glukosa <60 mg/dl nalokson bila overdosis narkotika. fungsi tiroid. elektrolit.8 mg/kgBB/jam. 2) ukuran pupil dan reaksi terhadap rangsangan.5-1.0 gram/kg BB. diberikan infus intravena 0. yang dilakukan dengan pemeriksaan. bilas lambung dengan activeted charcoal bila dicurigai keracunan obat CT scan/ MRI kenali bila dicurigai adanya kelainan struktur retak Riwayat lengkap dan pemeriksaan sistemik Pertimbangkan. 3) doll’s eye movement. 1) pola pernapasan. Algoritma tata laksana awal pasien dengan kesadaran menurun1 Pemantauan berkala terpenting adalah penentuan tingkat gangguan susunan saraf pusat pasien.1 . 5. pungsi lumbal. monitol 0. dll Gambar 2. EEG. fungsi ginjal. 16 Pemeriksaan darah untuk glukosa. fungsi hati. bila tekanan intrakranial meningkat atau herniasi.

17 Gambar 2. 6. Algoritma penatalaksanaan anak dengan penurunan kesadaran7 .

Tata laksana awal pada penurunan kesadaran adalah menjaga oksigenasi jaringan otak dengan melakukan stabilisasi A (airway / jalan napas). serta faktor metabolik. 3. besar dan reaksi pupil. nutrisi. dan toksi. dan C (circulation / sirkulasi darah). pemeriksaan fisis. Kesadaran yang menurun pada anak merupakan suatu kedaruratan yang membutuhkan intervensi dan tatalaksana cepat dan terencana. 5. Evaluasi riwayat penyakit. DAFTAR PUSTAKA . Prinsip pendekatan diagnostik penurunan kesadaran pada anak dimulai dengan evaluasi diagnosis tingkat gangguan kesadaran berdasarkan: respon motorik. gerak bola mata dan pola pernapasan. kelainan struktur otak. Pemantauan berkala tingkat gangguan kesadaran dan tata laksana yang tepat akan menentukan prognosis pasien selanjutnya. Kesadaran menurun yang terjadi pada anak bisa disebabkan oleh banyak hal yaitu infeksi atau inflamasi. laju napas). 2. B (breathing. 4. 6. pemeriksaan penunjang khusus merupakan langkah selanjutnya dalam menentukan tata laksana khusus berdasarkan etiologinya. 18 BAB III KESIMPULAN 1.

h. Budiwardhana N. Trihono PP. Kurniati N. Available from : http://www.pdf 8. 2010. 2009. 2013. Neurologi Klinis Dasar.nottingham. United Kingdom : The Paediatric Accident and Emergency Research Group. 2010. Mardjono M. 7th ed. Latief A. 5th ed. Yuliarto S. alih bahasa. Mangunatmaja I. Sharma S. Handyastuti S. Harmoniati ED. Datang Tidak Sadar. . 2012. Cetakan ke-14. Jakarta: Penerbit Dian Rakyat. Jakarta : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia. Gandaputra EP. Setyabudhy. Schor NF. 2014. Passat J. 167-169. In Indian J. Penurunan Kesadaran dalam Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter Anak Indonesia. p. Vol. 19 1. The Management of a Child (aged 0 – 18 years) with a Decreased Conscious Level. 2011. 1064-1070. Pediatr. Sherwood L. Kegawatan pada Bayi dan Anak. Altered States of Consciousness in Pediatrics in Review. p. Pediatric Neurology and Neuroemergency in Daily Practice. Jakarta : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta :EGC. 6. Canada : Brook/cole Cengage Learning. p. 43 – 61. [review Date January 2008. 2013. Buku Ajar Pediatri Gawat Darurat. 181 10. USA: Elsevier Saunders. Sidharta P. 205-210 3. 13. Avner JR. Human Pgysiology From Cells to System. 11. p. Sekartini R. 2011. editor edisi bahasa Indonesia. Indawati W. Kochar GS. 4. 7. Approach to the Child with Coma. Edisi 6. 77: 1279-1287. Jakarta : Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Sankhyan N. Brahm UP. 2. Gulati S. 5. Jakarta : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jilid II. Swaiman’s Pediatric Neurology Principles and Practice. 1. Apa yang Harus Dilakukan. p. 2010.ac. Handyastuti S. Hegar B. Nella Y. Ashwal S. Swaiman KF. Sherwood L. 27 : 331 – 337 12. penyunting.cited 2014 Sept 3]. Pudjiadi AH. 19 – 29. 2010. 183 9. Pramita G. Dalam : Pudjiadi AH. 1. Idris SN. Windiastuti E. dkk. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Departemen Ilmu Kesehatan Anak. Fisiologi Manusia : dari Sel ke Sistem. penyunting. Lumbantobing SM. Neurologi Klinik Pemeriksaan Fisik dan Mental. penyunting. h. h. Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM : Jakarta.uk/paediatric-guideline/Guideline%20algorithm. Evaluasi Diagnosis dan Tata Laksana Penurunan Kesadaran pada Anak. Pusponegoro HD. h. Ferriero DM. Idris NS.

20 .