HALAMAN PENGESAHAN

Judul Karya Tulis Ilmiah : Hubungan Masa Kerja dengan Kapasitas Fungsi Paru pada
Pekerja Pembakaran Amalgam di Kecamatan Sekotong

Nama Mahasiswa : I Made Dwi Dananjaya

Nomor Mahasiswa : H1A 013 028

Fakultas : Fakultas Kedokteran Universitas Mataram

Naskah Publikasi Karya Tulis Ilmiah ini telah diterima sebagai syarat meraih gelar Sarjana
pada Fakultas Kedokteran Universitas Mataram.

Mataram, 14 Februari 2017

Pembimbing Utama Pembimbing Pendamping

dr. Ida Ayu Eka Widiastuti, M.Fis dr. Ardiana Ekawanti, M.Kes
NIP. 19750213200642001 NIP. 19750331200112001

1

HUBUNGAN MASA KERJA DENGAN KAPASITAS FUNGSI PARU PADA PEKERJA PEMBAKARAN AMALGAM DI KECAMATAN SEKOTONG I Made Dwi Dananjaya.com Diajukan sebagai syarat meraih gelar Sarjana pada Fakultas Kedokteran Universitas Mataram Jumlah tabel :4 Jumlah gambar :0 2 . Ida Ayu Eka Widiastuti. Ardiana Ekawanti Fakultas Kedokteran Universitas Mataram e-mail : dwidananjaya99@gmail.

HUBUNGAN MASA KERJA DENGAN KAPASITAS FUNGSI PARU PADA PEKERJA PEMBAKARAN AMALGAM DI KECAMATAN SEKOTONG Masa Kerja dan Kapasitas Fungsi paru ABSTRAK Latar belakang: Pertambangan Emas Skala Kecil (PESK) merupakan sumber terbesar emisi merkuri global. terdapat 10 orang (29. salah satunya terdapat di Kecamatan Sekotong.027) dengan korelasi yang lemah (r = -0. 3 . Kata kunci: paparan merkuri. Paparan uap merkuri dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan salah satunya terhadap gangguan fungsi paru.59%) dengan gangguan campuran.380 ) dan FVC (p = 0. Populasi penelitian adalah pekerja pembakaran amalgam di Kecamatan Sekotong. masa kerja.401). Pada proses pembakaran amalgam paling rentan terkena paparan uap merkuri. Data dan penelitian mengenai hal ini di Indonesia masih sangat kurang sehingga perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui hubungan masa kerja dengan kapasitas fungsi paru pada pekerja pembakaran amalgam di Kecamatan Sekotong. Indonesia merupakan negara terbesar ketiga di Asia yang memiliki hotspot PESK. Hasil: Dari 34 subjek penelitian. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebesar 34 subjek penelitian. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan rancangan potong lintang. Kesimpulan: Masa kerja berhubungan dengan kapasitas fungsi paru pada pekerja pembakaran amalgam di Kecamatan Sekotong. kapasitas fungsi paru. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara untuk pengisian data dan pemeriksaan fungsi paru dengan spirometer.41%) dengan gangguan fungsi paru restriktif dan 24 orang (71. Analisis data menggunakan uji korelasi Spearman. Berdasarkan uji korelasi Spearman diperoleh hasil bahwa masa kerja berpengaruh signifikan terhadap nilai FEV1 (p = 0. pekerja pembakaran amalgam.019) dengan korelasi yang sedang (r = -0.

Conclusion: There was a correlation between duration of work and lung functional capacity among amalgam burning workers in Sekotong.380). THE CORRELATION OF DURATION OF WORK TO LUNG FUNCTIONAL CAPACITY AMONG AMALGAM BURNING WORKERS IN SEKOTONG Duration of Work and Lung Functional Capacity ABSTRACT Background: Artisanal and Small-scale Gold Mining (ASGM) is the largest source of global mercury emission. Data and research on this subject in Indonesia has been limited. Indonesia is the third largest country in Asia that has many small scale mining sites. amalgam burning workers. including lung function disorder. lung functional capacity. 4 . especially in Sekotong.027) with weak correlation (r = -0. Process of burning amalgam cause high exposure to mercury vapor. Method: This study is a descriptive analytic study using cross sectional design. This study was conducted by 34 participants. duration of work.401). 10 (29. Keywords: mercury exposure.019) with moderate correlation ( r = -0. Results: Among 34 participants. The inhalation of mercury vapour can cause various health problems. Spearman correlation analysis showed that there was a significant correlation between working period and FEV1 score (p = 0.59%) had mixed lung capacity disorder. The population of this study were amalgam burning workers in Sekotong.41 %) had restrictive lung capacity disorder and 24 (71. Data were analyzed by using Spearman Correlation test. Data collection was conducted by interviewing the amalgam burning workers and measured lung function test using spirometer. so that it is important to conduct study about the correlation of duration of work to lung functional capacity among amalgam burning workers. and there was a significant correlation between working period and FVC score (p = 0.

Salah satu organ yang mengalami deposit elemental merkuri adalah paru. berasal dari bahasa Yunani yang berarti cairan perak. 128 negara menyetujui Perjanjian Minamata mengenai perlindungan kesehatan manusia dari paparan merkuri. Merkuri juga memiliki kemampuan untuk bioakumulasi.1 Pada bulan Oktober 2013. lama terkena paparan. dan sistem kardiovaskular. emfisema dan asma bronkial atau gangguan restriktif seperti pleuritis. Bentuk fisik dan kimianya sangat menguntungkan karena merupakan satu-satunya logam yang berbentuk cairan dalam temperatur kamar.3 Merkuri elemental dapat meracuni seseorang dari inhalasi uap merkuri. dan sistem reproduksi.PENDAHULUAN Saat ini merkuri menjadi perhatian masyarakat dunia karena memiliki efek negatif terhadap kesehatan manusia dan lingkungan. terutama pada sistem saraf pusat.3 Merkuri terdapat dalam 3 bentuk berbeda yang dapat mempengaruhi kesehatan.7 5 . dan rute paparan. yaitu sistem saraf pada janin. hematologi.6 Spirometri merupakan salah satu uji fungsi paru dengan metode sederhana yang sering digunakan dan dengan prosedur yang cepat. Sistem lain yang dapat terpengaruh meliputi pencernaan. ginjal. 5 Sasaran utama dari toksisitas merkuri dalam tubuh adalah sistem saraf. Melalui pemeriksaan spirometri dapat mengetahui disfungsi paru yaitu gangguan obstruktif seperti bronkitis kronis. dan lumpuhnya otot-otot pernapasan.2 Merkuri merupakan unsur alam yang tidak dapat dibuat oleh manusia ataupun dihancurkan. Sistem yang paling sensitif terhadap efek racun merkuri adalah sistem organ yang sedang berkembang. tumor paru. Merkuri dengan simbol kimia Hg merupakan singkatan dari Hydrargyrum. Pada saat ini sistem saraf pusat dianggap sebagai sistem utama yang menjadi pusat perhatian karena menunjukkan sensitivitas terbesar. yaitu berupa merkuri elemental. usia. kekebalan tubuh.4 Merkuri dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan tergantung pada jenis merkuri yang bersangkutan. Sekitar 80% dari inhalasi uap merkuri diserap oleh traktus respiratorius dan kemudian uap merkuri itu masuk ke sistem sirkulasi untuk didistribusikan ke seluruh tubuh.3 Dalam jangka waktu yang lama merkuri elemental dapat tertimbun di beberapa organ sehingga sering menyebabkan disfungsi organ yang terkena tersebut. dan organik seperti metilmerkuri. inorganik seperti garam merkuri. dosis.

Pengambilan sampel penelitian dilakukan menggunakan teknik convenience sampling.8 METODE PENELITIAN Penelitian ini adalah penelitian deskriptif analitik dengan rancangan cross- sectional. sekitar 20 tempat. 6 . baterai.9 Uap merkuri banyak dihirup oleh para pekerja PESK terutama pada proses pembakaran amalgam. Berdasarkan United States Departement of Health and Human Service konsentrasi uap merkuri dikatakan aman pada konsentrasi kurang dari 1. Kabupaten Lombok Barat. merupakan perokok berat (konsumsi rokok > 15 batang/hari). Pada tahun 2011. Hampir semua PESK menggunakan merkuri dalam proses pembuatan emas. pada bulan Oktober-Desember 2016. kabupaten Lombok Barat. kecamatan Sekotong. Nusa Tenggara Barat. Penelitian ini telah mendapatkan persetujuan dari Komisi Etik Penelitian Kesehatan Universitas Mataram. Merkuri dilepaskan ke lingkungan secara alami oleh letusan gunung berapi dan terdapat pada kerak bumi.3 Pertambangan Emas Skala Kecil (PESK) merupakan sumber terbesar emisi merkuri dengan kontribusi sampai 37 % emisi merkuri global.2 Salah satu lokasi hotspot PESK di Indonesia terdapat di Kecamatan Sekotong. dan merupakan atlet atau olahragawan. proses restorasi/penambalan gigi.1 Semua pekerja PESK selama proses pengolahan emas tidak menggunakan alat pelindung diri.771 ng/m3. jenis kelalamin laki-laki dan memiliki Indeks Massa Tubuh (IMT) <30 kg/m2. Indonesia merupakan negara terbesar ketiga di Asia yang memberikan kontribusi pencemaran merkuri. Hampir setiap rumah di Kecamatan Sekotong ini memiliki mesin pengolah emas. Merkuri secara luas digunakan dalam produk-produk dan proses industri seperti dalam industri klor-alkali. dan didapatkan jumlah sampel sebanyak 34 orang. baik sarung tangan maupun masker untuk menghindari paparan uap merkuri. dan dalam sektor pertambangan emas skala kecil. yang dilakukan di pertambangan emas skala kecil di desa Pelangan.000 ng/m 3. termometer. terdapat sekitar 850 titik lokasi hotspot PESK yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Area pertambangan dan pengolahan emas di Sekotong tersebar di tiga desa yaitu Buwun Mas. berusia 20-40 tahun. Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah pekerja pembakaran amalgam di Sekotong. Kerato dan Pelangan. lampu CFL.8 Konsentrasi uap merkuri di Sekotong telah melewati batas aman dengan nilai rata- rata 4. sedangkan kriteria eksklusinya adalah memiliki riwayat penyakit paru.

kebiasaan merokok.47 L atau 39.93% nilai prediksi dan nilai FVC tertinggi adalah 3. HASIL PENELITIAN Karakteristik Subjek Penelitian Penelitian ini melibatkan 34 responden yang merupakan pekerja pembakaran amalgam di Kecamatan Sekotong.48 L atau 66.8%.34 L atau 77.53 L atau 36. Hasil interpretasi menunjukkan bahwa 10 orang mengalami gangguan 7 .32 L atau 85. Responden yang memiliki masa kerja terlama yaitu 9 tahun dengan presentase 11. Masa kerja terbanyak adalah selama 7 tahun dengan presentase 23. Rentang umur pekerja tambang yang mengikuti penelitian ini adalah 20-40 tahun dengan mayoritas sampel (50%) berumur 35-40 tahun sebagaimana dijelaskan pada Tabel 1.76 %). Gambaran kapasitas fungsi paru ditunjukkan pada Tabel 2. dan kapasitas fungsi paru pada pekerja pembakaran amalagam di Kecamatan Sekotong. Pada penelitian ini didapatkan bahwa 30 orang memiliki kebiasaan merokok dengan presesntase 88. Untuk menganalisis variabel-variabel yang diteliti dengan melihat hubungan antara satu variabel bebas dan terikat dilakukan uji hipotesis dengan analisis bivariat menggunakan uji Spearman.8 %. Nilai rata-rata FEV1 yaitu 2. Kapasitas Fungsi Paru pada penelitian ini mengukur Forced Vital Capacity (FVC) dan Forced Expiratory Volume (FEV1) dengan menggunakan spirometer Digital Autospiro AS-507. Karakterisitik subjek penelitian meliputi: usia.56% nilai prediksi dan nilai rata-rata FVC yaitu 2. Variabel pada penelitian ini adalah masa kerja dan kapasitas fungsi paru. Indeks Massa Tubuh (IMT).26% nilai prediksi.16% nilai prediksi.67% nilai prediksi dan nilai FVC terendah 1. Tidak ada responden yang berada pada katergori obese dan underweight. Nilai FEV1 terendah yaitu 1.59 L atau 61. masa kerja.03% nilai prediksi. Responden yang memiliki Indeks Massa Tubuh (IMT) terbanyak pada kategori normal dengan jumlah 21 orang (61.2% sedangkan sebanyak 4 orang yang tidak memiliki kebiasan merokok. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah masa kerja. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa nilai FEV1 tertinggi adalah 3. Masa kerja adalah lama waktu yang dihitung sejak sampel pertama kali mulai bekerja sebagai pembakaran amalgam sampai saat dilakukan penelitian ini. dengan presentase 11. Hasil interpretasi kapasitas fungsi paru dapat dilihat pada Tabel 3. Data diperoleh dari hasil wawancara. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah kapasitas fungsi paru.5%.

10 Hasil pengukuran kapasitas fungsi paru didapatkan bahwa dari 34 responden terdapat 10 responden dengan gangguan fungsi paru restriktif (29.019 dan kekuatan korelasi yang sedang r=-0.41% dan 24 orang mengalami gangguan campuran dengan presentase 70. Arah hubungan yang negatif menjelaskan bahwa semakin lama masa kerja pekerja pembakaran amalgam maka semakin rendah nilai FEV1 dan FVC.027 antara masa kerja pembakaran amalgam dengan FEV1 dan kekuatan korelasi yang lemah r=-0. Paru dengan gangguan obstruktif memiliki nilai FVC normal dan nilai FEV1 <75% prediksi. Paru dengan gangguan restriktrif nilai FVC <80 prediksi dan nilai FEV1 ≥75%.restriktif dengan presentase 29. PEMBAHASAN Menurut Arabalibeik (2009) pemeriksaan kapasitas fungsi paru dapat menggunakan FVC dan FEV1 sebagai acuan standar dari hasil pengukuran. sedangkan gangguan paru campuran nilai FVC <80% prediksi dan nilai FEV1 <75% prediksi. Berdasarkan hasil analisis diperoleh nilai signifikansi p=0. Berdasarkan penelitian Bhatt pada tahun 2008 gangguan paru obstruktif ditandai dengan obstruksi saluran napas seperti pada penyakit bronkitis kronis.41%) dan 24 responden dengan gangguan fungsi paru campuran (70. Hasil analisis antara masa kerja pembakaran amalgam dengan FVC diperoleh nilai signifikansi p=0.380.401.13 Gangguan fungsi paru akibat inhlasi merkuri secara teoritis disebabkan oleh merkuri elemental (Hg0) yang dapat mengakibatkan gangguan kesehatan melalui inhalasi 8 . Paru yang normal memiliki nilai FVC ≥80% prediksi dan nilai FEV1 ≥75% prediksi.11. Menurut Keliat (2016) gangguan paru restriktif ditandai dengan gangguan pada parenkim seperti pada penyakit inflamasi paru atau pneumonitis. Hubungan Masa Kerja Sampel dengan Kapasitas Fungsi Paru Hubungan masa kerja dengan kapasitas fungsi paru pada pekerja pembakaran amalgam dianalisis dengan menggunakan uji korelasi Spearman yang diuraikan pada Tabel 4. Hal ini sejalan dengan penelitian Tchounwou pada tahun 2003 yang menjelaskan inhlasi uap merkuri dapat mengakibatkan penyakit pneumonitis dan bronkitis kronis. Hal ini menunjukkan bahwa semua responden mengalami gangguan fungsi paru baik itu restriktif maupun obstruktif.59%).12.59%.

salah satunya adalah kebiasaan merokok. Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian oleh Rice pada tahun 2014 yang menjelaskan bahwa Inhalasi uap merkuri dalam jangka waktu yang lama dapat mengakibatkan gangguan pada fungsi paru.6 Selain pengaruh inhalasi uap merkuri.13 Berdasarkan hasil uji korelasi Spearman yang telah dilakukan untuk menganalisis hubungan inhalasi uap merkuri berdasarkan masa kerja dengan kapasitas fungsi paru pada pekerja pembakaran amalagam di Kecamatan Sekotong menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara masa kerja dengan kapasitas fungsi paru pada pekerja pembakaran amalagam di Kecamatan Sekotong. kapasitas fungsi paru juga dipengaruhi beberapa faktor. Menurut Bernhoft (2012) salah satu organ yang mengalami gangguan akibat inhalasi uap merkuri adalah paru. Selain itu elemental merkuri juga menyebabkan perubahan permeabilitas membran. Saat memasuki tubuh. 30 orang dengan persentase 88. kerusakan DNA.uap merkuri. Menurut penelitian Bhatt pada tahun 2008 merokok memiliki dampak pada berbagai organ tubuh. penelitian yang dilakukan oleh Heyer pada tahun 2004 dengan subjek penelitian dokter gigi yang menggunakan tambal gigi amalgam menunjukkan bahwa inhalasi uap merkuri dalam jangka waktu yang lama bahkan dengan jumlah yang sedikit (0. terutama paru.2%. Pada penelitian ini didapatkan bahwa dari 34 pekerja pembakaran amalgam di Kecamatan Sekotong hampir semua memiliki kebiasaan merokok yaitu.7 − 42 µg/m3) dapat mengakibatkan berbagai gangguan kesehatan termasuk gangguan pada paru. 14 Hal ini menyebabkan terjadi jejas sel bahkan kematian sel sehingga fungsi sel dan organ terganggu. dan peningkatan pembentukan spesies oksigen reaktif. uap merkuri memiliki afinitas yang baik terhadap grup sulfhidril dan berikatan dengan asam amino yang mengandung sulfur. Jadi dapat dikatakan kebiasaan merokok berkontribusi sebagai penyebab gangguan obstruksi pada paru pekerja pembakaran amalgam di Kecamatan Sekotong. Arah hubungan yang negatif menjelaskan bahwa semakin lama masa kerja pekerja pembakaran amalgam maka semakin rendah nilai FEV1 dan FVC. Gangguan paru yang paling sering terjadi akibat rokok adalah Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) dan asma yang berakibat pada obstruksi saluran napas.14 Sejalan dengan hal tersebut. kerusakan mitokondria.15 KESIMPULAN 9 .

nih.org/hgmonitorin g/pdfs/indonesia-report-en. Ismawati. & Weinberg. Exposure to Mercury: A Major Public Health Concern. 3. Available from: www..int/phe/news/Mercury-flyer. Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara masa kerja dengan kapasitas fungsi paru pada pekerja pembakaran amalgam di Kecamatan Sekotong.org/sites/default/files/documents/ipen_mercury_booklet-en. 6. J. An NGO introduction to mercury pollution and the Minamata Convention on Mercury.. [online]. Y. Ismawati. 2. Available at: http://www.nih.nlm.edu/16711158/Gold_production_in_rural_areas_of_Bogor_ Regency_and_its_hidden_hazards_implication. 2014. J. Baeuml. Y. L. Available from: www.int/ mediacentre/factsheets/fs361/en/ [Accessed on 26 Juli 2016]. J.. J.gov/pubmed/22235210 [Accessed on 29 Juli 2016].. Bell.. et al. 2016. Available from: http://www.who. 5.. R.pdf [Accessed on 29 Juli 2016]. Ranu. WHO. DAFTAR PUSTAKA 1. 8.. [Online].academia. H. [Online]. Available from: ipen. 7. J. Available from: https://www. Available from: www... 2012.. 2015. ASGM site: Poboya and Sekotong Indonesia IPEN Mercury-Free Campaign Report. [Online].uni-muenchen. Available from: https://epub. Mercury and Health [online]..who. 2010. Journal of Environmental and Public Health [online]. Gold Production in Rural Areas of Bogor Regency and Its Hidden Hazzard Implication. WHO.pdf 10 .A. DiGangi. 4. 2013. & Digangi. Bernhoft.pdf [Accessed on 27 Juli 2016].nlm. Mercury Hotspots in Indonesia.. Human Biomonitoring Data from Mercury Exposed Miners in Six Artisanal Small-Scale Gold Mining Areas in Asia and Africa [Online].pdf [Accessed on 27 Juli 2016].ncbi.de/24142/1/oa_24142.ub.gov/pmc/articles/PMC3229853/ [Accessed on 29 Juli 2016]. Mercury Toxicity and Treatment: A Review of the Literature.. 2007.ncbi.ipen. 2011. Petrlik. Pulmonary Function Tests [online].pdf [Accessed on 26 Juli 2016].

nlm. 142. [Online]. 2017]. 12. N. Chronic Low-Level Mercury Exposure. BDNF Polymorphism. pp. Available from: https://www.nlm. Ismawati.. Mercury Vapour in 3 ASGM Hotspots in Indonesia: Bombana.gov/pubmed/15254338 [Accessed on 26 January 2017].nih. 15.ncbi.ncbi. 25(9). 2017]. Heyer. Sekotong.Y. 2008. Available at: bitstream/123456789/63479/1/062%20..edu/16711800/Mercury_vapour_in_3_ASGM_hotspots_in_I ndonesia_Bombana_Sekotong_and_Cisitu. 2009. 2003.. Bhatt.nlm. 14. & Wood.pdf [Accessed January 24. Classification of Restrictive and Obstructive Pulmonary Diseases Using Spirometry Data. 13.25–7.L.nih.9.. Available at: https://www. What Defines Abnormal Lung Function in Older Adults with Chronic Obstructive Pulmonary Disease? Drugs & aging.nih. Environmental Mercury and Its Toxic Effects [pdf]. and Associations with Self-Reported Symptoms and Mood [pdf]. 2003. Available at: http://www. pp. 2016. N. and Cisitu. Y. Penyakit Paru Obstruktif [pdf]. K. 11 . 2014. Environmental exposure to mercury and its toxicopathologic implications for public health [online].pdf [Accessed on 27 Juli 2016].gov/pubmed/12740802 [Accessed January 24.nlm. Keliat.nih. Available at: http://www..nlm. 2017].gov/pmc/articles/PMC3988285 [Accessed on 29 January 2017]. Arabalibeik.academia..ncbi.ncbi. 2015. [Accessed January 24. H.ncbi. Studies in Health Technology and Informatics.nih. Available at: https://www. Tchounwou. Rice. Available at: https://www.717–28. et al.gov/pubmed/19377105 11. 10.gov/pubmed/18729545..

5) 0 0 Normal (18.9) 21 61.22. Karakteristik Subjek Penelitian Karakteristik Frekuensi Persentase (%) Usia 20-24 5 14.2 12 .29.9) 5 14.0 IMT Underweight (<18.76 Overweight (23 .71 Obese (>30) 0 0 Kebiasaan Merokok Tidak Merokok 4 11.7 25-29 5 14.53 Pre-Obese (25 .8 Merokok 30 88.Tabel 1.5 .7 30-34 7 20.6 35-40 17 50.24.9) 8 23.

32 1.03 0.26 FEV1/FVC 0.Tabel 2.03 67.47 FEV1 (%) 66.54 3.16 36.95 0. Gambaran Kapasitas Fungsi Paru Pekerja Pembakaran Amalgam Variabel Pengukuran Rerata Median Maksimum Minimum Kapasitas Fungsi Paru FEV1 (L) 2.4 77.93 39.67 FVC (L) 2.59 2.56 61.98 1.63 85.64 3.59 13 .53 FVC (%) 61.48 2.34 1.

Tabel 3.59 Total 34 100 14 . Interpretasi Data Hasil Pemeriksaan Kapasitas Fungsi Paru Kategori Frekuensi Presentase (%) Normal 0 0 Restriktif 10 29.41 Obstruktif 0 0 Campuran 24 70.

380 0.027 Masa Kerja terhadap FVC -0.019 15 .Tabel 4.401 0. Hasil Uji Korelasi Masa Kerja Sampel terhadap FEV1 dan FVC Variabel Kekuatan (r) Signifikansi (p) Masa Kerja terhadap FEV1 -0.