5.

2 Pembahasan

Subjek pada penelitian ini adalah pekerja pembakaran amalgam di Kecamatan Sekotong.

Berdasarkan penelitan Baeuml (2011) pekerja pembakaran amalgam rentan terpapar uap merkuri

atau merkuri elemental melalui inhalasi. Menurut WHO (2016) pengaruh toksisitas merkuri

terhadap kesehatan tergantung pada rute paparan dan lamanya terpapar merkuri tersebut. Jadi

toksisitas merkuri pada penelitian ini tergantung pada inhalasi uap merkuri berdasarkan masa kerja

subjek penelitian.

Berdasarkan Tabel 5.2 di atas dapat diketahui bahwa dari 34 pekerja pembakaran amalgam

di Kecamatan Sekotong masa kerja terlama adalah 9 tahun dengan presentase 11,8 % dan terendah

3 tahun dengan presentase 5,9%. Masa kerja paling banyak adalah selama 7 tahun dengan

presentase 23,5%. Menurut Suma’mur (2009) semakin lama seseorang bekerja maka semakin

banyak paparan bahaya yang didapatkan oleh lingkungan kerja tersebut.

Menurut Antarudin (2003) pemeriksaan kapasitas fungsi paru dapat menggunakan FVC

dan FEV1 sebagai acuan standar dari hasil pengukuran. Paru yang normal memiliki nilai FVC

≥80% prediksi dan nilai FEV1 ≥75% prediksi. Paru dengan gangguan obstruktif memiliki nilai

FVC normal dan nilai FEV1 <75% prediksi. Paru dengan gangguan restriktrif nilai FVC <80

prediksi dan nilai FEV1 ≥75%, sedangkan gangguan paru campuran nilai FVC <80% prediksi dan

nilai FEV1 <75% prediksi.

Berdasarkan tabel 5.5 didapatkan bahwa dari 34 pekerja pembakaran amalgam nilai rata-

rata FEV1 yaitu 65,82% nilai prediksi dan nilai rata-rata FVC yaitu 59,82% nilai prediksi.

Berdasarkan tabel 5.6 hasil pengukuran didapatkan bahwa dari 34 responden terdapat 10

responden dengan gangguan fungsi paru restriktif (29,41%) dan 24 responden dengan gangguan

fungsi paru campuran (70,59%). Hal ini menunjukkan bahwa semua responden mengalami

et al (1998) menjelaskan bahwa pada saluran pernapasan uap merkuri menjadi iritan dan memiliki efek toksik pada sel. Fase kedua yaitu setelah beberapa hari terkena paparan. Dengan kerusakan reversible yang potensial dan durasi yang lebih lama akan mengakibatkan jejas irreversible dan kematian sel sehingga fungsi organ juga terganggu (Kumar. Pada saat sel mengalami jejas. Fase terakhir adalah ketika sudah mengenai sistem saraf pusat (Glezos. uap merkuri memiliki afinitas yang baik terhadap grup sulfhidril dan berikatan dengan asam amino yang mengandung sulfur. Berdasarkan penelitan Lim. demam. Pada fase ini sudah terlihat gejala komplikasi pada paru seperti pneumonitis. dan peningkatan pembentukan spesies oksigen reaktif (Rice. dan sakit kepala. kerusakan mitokondria. 2007). 2014). . Hal ini sejalan dengan penelitian Glezos (2006) yang melakukan uji fungsi paru dan memperlihatkan hasil terjadi gangguan paru restriktif dan obstruktif akibat inhalasi uap merkuri. Efek toksik dari inhalasi akut uap merkuri dapat dibagi menjadi 3 fase. Fasa pertama yaitu setelah beberapa jam terkena paparan. Selain itu elemental merkuri juga menyebabkan perubahan permeabilitas membran.gangguan fungsi paru baik itu restriktif maupun obstruktif. edema paru non kardiogenik dan Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS). Menurut Bernhoft (2012) salah satu organ yang mengalami gangguan akibat inhalasi uap merkuri adalah paru. Hal tersebut mengakibatkan jejas pada sel. Saat memasuki tubuh. sesak. sel akan kehilangan aktivitas fungsional secara cepat karena untuk menjalankan fungsinya bergantung pada semua komponen sel yang masih utuh. Gangguan fungsi paru akibat inhlasi merkuri secara teoritis disebabkan oleh merkuri elemental (Hg0) yang dapat mengakibatkan gangguan kesehatan melalui inhalasi uap merkuri. gejala yang sering ditimbulkan yaitu batuk. kerusakan DNA. 2006).

4 didapatkan bahwa dari 34 pekerja pembakaran amalgam di Kecamatan Sekotong hampir semua memiliki kebiasaan merokok yaitu. kapasitas fungsi paru juga dipengaruhi beberapa faktor. Berdasarkan tabel 5. salah satunya adalah kebiasaan merokok. Arah hubungan yang negatif menjelaskan bahwa semakin lama masa kerja pekerja pembakaran amalgam maka semakin rendah nilai FEV1 dan FVC. penelitian yang dilakukan oleh Heyer (2004) pada dokter gigi yang menggunakan tambal gigi amalgam menunjukkan bahwa inhalasi uap merkuri dalam jangka waktu yang lama bahkan dengan jumlah yang sedikit (0. Selain pengaruh inhalasi uap merkuri. Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian oleh Rice (2014) yang menjelaskan bahwa Inhalasi uap merkuri dalam jangka waktu yang lama dapat mengakibatkan gangguan pada fungsi paru. Sejalan dengan hal tersebut. Inhalasi uap merkuri dalam jangka waktu yang lama dapat mengakibatkan gangguan pada fungsi paru juga dijelaskan pada penelitian Bernhoft (2012) yang menunjukkan bahwa dalam jangka waktu yang lama elemental merkuri dapat tertimbun di beberapa organ sehingga sering .2%. 30 orang dengan persentase 88. Gangguan paru yang paling sering terjadi akibat rokok adalah Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) dan asma yang berakibat pada obstruksi saluran napas. Jadi dapat dikatakan kebiasaan merokok berkontribusi sebagai penyebab gangguan obstruksi pada paru pekerja pembakaran amalgam di Kecamatan Sekotong. terutama paru. Berdasarkan hasil uji korelasi Spearman yang telah dilakukan untuk menganalisis hubungan inhalasi uap merkuri berdasarkan masa kerja dengan kapasitas fungsi paru pada pekerja pembakaran amalagam di Kecamatan Sekotong menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara masa kerja dengan kapasitas fungsi paru pada pekerja pembakaran amalagam di Kecamatan Sekotong.7 − 42 µg/m3) dapat mengakibatkan berbagai gangguan kesehatan termasuk gangguan pada paru. Menurut penelitian Bhatt (2008) merokok memiliki dampak pada berbagai organ tubuh.

.menyebabkan disfungsi organ yang terkena tersebut. Salah satu organ yang mengalami deposit elemental merkuri adalah paru.