BAB I

PENDAHULUAN

Di seluruh dunia malnutrisi merupakan salah satu penyebab utama
morbiditas dan mortalitas pada masa anak. Malnutrisi dapat akibat dari masukan
makanan yang tidak sesuai atau tidak cukup atau dapat akibat dari penyerapan
makanan yang tidak cukup. Penyediaan makanan yang tidak cukup, kebiasaan diet
yang tidak bagus, mengikuti mode makanan, dan faktor-faktor emosi dapat
membatasi masukan makanan. Kelainan metabolik tertentu dapat juga
menyebabkan malnutrisi.1

Di Indonesia dengan masih tingginya angka kejadian gizi kurang, istilah
malnutrisi lazim dipakai untuk keadaan ini. Secara umum gizi kurang disebabkan
oleh kekurangan energi atau protein. Namun keadaan di lapangan menunjukkan
bahwa jarang dijumpai kasus yang menderita defisiensi energi murni ataupun
defisiensi protein murni. Anak dengan defisiensi protein biasanya disertai pula
dengan defisiensi energi atau nutrisi lainnya. Karena itu istilah yang lazim dipakai
adalah malnutrisi energi protein (MEP) atau kekurangan kalori protein (KKP).2

Malnutrisi Energi Protein (MEP) merupakan salah satu masalah gizi utama
di negara berkembang seperti di Indonesia, kejadian ini terutama pada anak-anak
di bawah usia 5 tahun (balita). MEP itu sendiri terdiri dari MEP ringan, sedang
dan berat. MEP berat adalah yang paling sering ditemukan terutama marasmus,
kemudian kwashiorkor dan marasmus kwashiorkor. MEP merupakan salah satu
masalah gizi utama di Indonesia. MEP disebabkan karena defisiensi makro
nutrient (zat gizi makro). Meskipun sekarang ini terjadi pergeseran masalah gizi
dari defisiensi makro nutrient kepada defisiensi mikro nutrient, namun beberapa
daerah di Indonesia prevalensi MEP masih tinggi ( > 30% ) sehingga memerlukan
penanganan intensif dalam upaya penurunan prevalensi MEP.3
Penyakit akibat MEP ini dikenal dengan Kwashiorkor, Marasmus, dan
Marasmik Kwashiorkor. Kwashiorkor disebabkan karena kurang protein.
Marasmus disebabkan karena kurang energi dan marasmik kwashorkor

1

disebabkan karena kurang energi dan protein. MEP umumnya diderita oleh balita
dengan gejala hepatomegali (hati membesar). Tanda-tanda anak yang mengalami
kwashiorkor adalah badan gemuk berisi cairan, depigmentasi kulit, rambut jagung
dan muka bulan (moon face). Tanda-tanda anak yang mengalami marasmus
adalah badan kurus, kering, rambut rontok dan flek hitam pada kulit.3

2

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi

WHO mendefinisikan malnutrisi sebagai “ketidakseimbangan seluler
antara asupan nutrisi dan energi dengan kebutuhan tubuh untuk pertumbuhan,
pemeliharaan, dan fungsi yang spesifik.” Istilah Malnutrisi Energi Protein (MEP)
berkaitan dengan sekelompok penyakit yang meliputi marasmus, kwashiorkor dan
marasmus-kwashiorkor.1,4

Istilah marasmus berasal darah bahasa Yunani, yaitu marasmos, yang
berarti layu atau menyusut. Marasmus melibatkan tidak memadainya asupan
protein dan kalori dan ditandai oleh emasiasi (kehilangan berat badan yang
signifikan dan sangat kurus, terkait dengan kehilangan lemak subkutan dan otot
seluruh tubuh). Istilah kwashiorkor diambil dari bahasa Ga di Ghana dan berarti
“kurangnya kasih sayang”. William pertama kali menggunakan istilah ini pada
tahun 1933, dan berkaitan dengan asupan protein yang inadekuat dengan asupan
kalori yang cukup. Edema merupakan karakteristik dari kwashiorkor, namun tidak
pada marasmus. Anak-anak bisa tampil dengan gambaran campuran marasmus
dan kwashiorkor, oleh karena itu Jelliffe menggunakan istilah malnutrisi energi
protein pada kedua kondisi tersebut.4

B. Epidemiologi

Prevalensi sangat kurus secara nasional tahun 2013 masih cukup tinggi
yaitu 5,3 persen, terdapat penurunan dibandingkan tahun 2010 (6,0 %) dan tahun
2007 (6,2 %). Demikian pula halnya dengan prevalensi kurus sebesar 6,8 persen
juga menunjukkan adanya penurunan dari 7,3 persen (tahun 2010) dan 7,4 persen
(tahun 2007). Secara keseluruhan prevalensi anak balita kurus dan sangat kurus
menurun dari 13,6 persen pada tahun 2007 menjadi 12,1 persen pada tahun 2013.5

3

Gambar 1.Kecenderungan prevalensi status gizi BB/TB <-2 SD menurut provinsi,
Indonesia 2007, 2010, dan 2013 (dikutip dari daftar pustaka no. 5)

Masalah kesehatan masyarakat sudah dianggap serius bila prevalensi kurus
antara 10,0-14,0 persen, dan dianggap kritis bila ≥15,0 persen (WHO 2010). Pada
tahun 2013, secara nasional prevalensi kurus pada anak balita masih 12,1 persen,
yang artinya masalah kurus di Indonesia masih merupakan masalah kesehatan
masyarakat yang serius. Diantara 33 provinsi, terdapat 16 provinsi yang masuk
kategori serius, dan 4 provinsi termasuk kategori kritis, yaitu Kalimantan Barat,
Maluku, Aceh dan Riau. 5

Gambar 2. Kecenderungan prevalensi gizi kurang, pendek, kurus pada balita,
Indonesia 2007, 2010, dan 2013 (dikutip dari daftar pustaka no. 5)

4

C. Etiologi

MEP disebabkan oleh masukan energi dan protein yang sangat kurang
dalam makanan sehari-hari dengan jangka waktu yang cukup lama. Pada
umumnya MEP disebaban oleh beberapa faktor, antara lain:3,4,6

 Pola makan
Protein (asam amino) adalah zat yang sangat dibutuhkan anak untuk
tumbuh dan berkembang. Meskipun intake makanan mengandung kalori yang
cukup, tidak semua makanan mengandung protein / asam amino yang
memadai. Bayi yang masih menyusui umumnya mendapatkan protein dari ASI
yang diberikan ibunya, namun bagi yang tidak memperoleh ASI protein dari
sumber-sumber lain (susu, telur, keju, tahu dll) sangatlah dibutuhkan.
Kurangnya pengetahuan ibu mengenai keseimbangan nutrisi anak berperan
penting terhadap terjadi kwashiorkhor, terutama pada masa peralihan ASI ke
makanan pengganti ASI.
 Faktor sosial
Hidup di negara dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi, keadaan
sosial dan politik tidak stabil, ataupun adanya pantangan untuk menggunakan
makanan tertentu dan sudah berlangsung turun temurun dapat menjadi hal yang
menyebabkan terjadinya kwashiorkor.
 Faktor ekonomi
Kemiskinan keluarga / penghasilan yang rendah yang tidak dapat
memenuhi kebutuhan berakibat pada keseimbangan nutrisi anak tidak
terpenuhi, saat dimana ibunya pun tidak dapat mencukupi kebutuhan
proteinnya.
 Faktor infeksi dan penyakit lain
Telah lama diketahui bahwa adanya interaksi sinergis antara MEP dan
infeksi. Infeksi derajat apapun dapat memperburuk keadaan gizi. Dan
sebaliknya MEP, walaupun dalam derajat ringan akan menurunkan imunitas
tubuh terhadap infeksi. Seperti gejala malnutrisi protein disebabkan oleh
gangguan penyerapan protein, misalnya yang dijumpai pada keadaan diare
kronis, kehilangan protein secara tidak normal pada proteinuria (nefrosis),

5

dan penyakit hati. 6) Marasmus berawal dari masukan kalori yang tidak cukup karena diet yang tidak cukup. infeksi menahun. hilangnya protein melalui air kemih (sindrom nefrotik). infeksi saluran pencernaan.3. Gambar 3. keseimbangan nitrogen yang negatif dapat pula disebabkan oleh diare kronik. karena kebiasaan makan yang tidak tepat seperti mereka yang hubungan orangtua-anak terganggu.4 D. selain oleh pengaruh negatif faktor sosio-ekonomi-budaya yang berperan terhadap kejadian malnutrisi umumnya.3.1. Patofisiologi 6 . Etiologi terjadinya MEP dalam berbagai aspek (dikutip dari daftar pustaka no. serta kegagalan mensintesis protein akibat penyakit hati yang kronis. luka bakar. malabsorpsi protein. atau karena kelainan metabolik atau malformasi kongenital serta infeksi kronik atau kelainan organ tubuh lainnya.1.4 Kwashiorkor.

4 Gambar 4. Disebut malnutrisi sekunder bila kondisi masalah nutrisi seperti diatas disebabkan karena adanya penyakit utama. Disebut malnutrisi primer bila kejadian MEP akibat kekurangan asupan nutrisi yang pada umumnya didasari oleh masalah sosial ekonomi. MEP merupakan manifestasi dari kurangnya asam protein dan energi dalam makanan sehari-hari yang tidak memenuhi angka kecukupan gizi (AKG). pendidikan serta rendahnya pengetahuan dibidang gizi. dan biasanya juga disertai adanya kekurangan dari beberapa nutrisi lainnya. 7) Makanan yang tidak adekuat akan menyebabkan mobilisasi berbagai cadangan makanan untuk menghasilkan kalori demi penyelamatan hidup. infeksi kronis ataupun kelainan pencernaan dan metabolik yang mengakibatkan kebutuhan nutrisi meningkat. seperti kelainan bawaan. dimulai dengan pembakaran cadangan karbohidrat kemudian cadangan lemak serta protein 7 . penyerapan nutrisi yang turun dan/ meningkatnya kehilangan nutrisi. Patofisiologi MEP (dikutip dari daftar pustaka no.3.

6. penting peranan radikal bebas dan anti oksidan. Patofisiologi MEP (dikutip dari daftar pustaka no. Klasifikasi 8 . penurunan sistem kekebalan tubuh. penurunan kadar albumin serum. penurunan berbagai sintesa enzim. 7) E. kalau kondisi ini terjadi maka terjadilah kwashiorkor (decompensated malnutrition). penurunan hemoglobin. Kalau kondisi kekurangan ini dapat teradaptasi maka akan terjadilah marasmik (compensated malnutrition).7 Gambar 5. Kalau terjadi stress katabolic maka kebutuhan akan protein akan meningkat sehingga dapat menyebabkan defisiensi protein. Pada kondisi ini.dengan melalui proses katabolik. Dengan demikian pada MEP dapat terjadi gangguan pertumbuhan atrofi otot.

MEP diklasifikasikan menjadi derajat ringan-sedang (gizi kurang. dimana WHZ score -3 SD . Marasmus: Seorang anak yang kurus dapat diklasifikasikan menjadi malnutrisi akut sedang atau berat berdasarkan pengukuran tubuh. Gizi kurang belum menunjukkan gejala klinis yang khas.-2 SD) dan MEP derajat berat (gizi buruk.8 MEP BB/U BB/TB Ringan 70-80 % 80-90 % Sedang 60-70 % 70-80 % Berat < 60 % < 70 % Tabel 1.10 1.Berdasarkan lama dan beratnya kekurangan energi dan protein. Marasmic-kwashiorkor – kombinasi keduanya. hanya dijumpai gangguan pertumbuhan dan anak tampak kurus. kurus dan bilateral oedem 1. Kwashiorkor – tampak bengkak karena retensi air (bilateral oedem) 3. yaitu: 8. Klasifikasi MEP berdasarkan Antropometri % median WHO-NCHS (dikutip dari daftar pustaka no. dimana WHZ score <-3 SD). Lingkar lengan atas dan Berat badan terhadap tinggi badan (Weight-for-Height Z-score (WHZ)) merupakan indikator 9 . 9) Malnutrisi energi protein berat yang merupakan malnutrisi akut berat / gizi buruk terdapat dalam 3 bentuk klinis. Marasmus – kehilangan berat badan yang berat atau sangat kurus 2. 9. Derajat keparahan malnutrisi akut (dikutip dari daftar pustaka no. 8) Tabel 2.

tangan atau lengan  +++ Berat: Oedem generalisata meliputi kedua kaki. tungkai bawah. Kwashiorkor: Kwashiorkor diklasifikasikan berdasarkan derajat oedem sebagai berikut: 9  + Ringan: kedua kaki  ++ Sedang: kedua kaki.untuk mengklasifikasikan seorang anak yang kurus. ditambah tungkai bawah. 9) 10 . WHZ < -3SD merupakan kondisi sangat kurus dan tergolong dalam marasmus9 Gambar 6. 9) 2. tangan. dan wajah Gambar 7. lengan. Derajat kwashiorkor (dikutip dari daftar pustaka no. Derajat marasmus (dikutip dari daftar pustaka no.

Penampilan Muka seorang penderita marasmus menunjukkan wajah seorang tua. Otot-otot atrofi. Perubahan mental Anak menangis. dingin. Gejala klinis marasmus (dikutip dari daftar pustaka no. 3. F. Lemak dan otot-otot di bawah kulit Lemak subkutan menghilang sehingga turgor kulit berkurang dan anak beresiko mengalami hipotermi. 9. 2. Baggy Pants Muka seperti orang tua Gambar 8. Manifestasi Klinis Marasmus Tanda atau gejala yang dapat dilihat pada anak dengan malnutrisi energi protein marasmus. Kelainan pada kulit tubuh Kulit biasanya kering. Iga tampak jelas terlihat (iga gambang). Kesadaran yang menurun (apatis) terdapat pada penderita marasmus yang berat. sehingga tulang-tulang terlihat lebih jelas. juga setelah mendapat makan oleh karena masih terasa lapar. antara lain: 8. 4. 10) 11 . Pada pantat didapatkan kulit mengendur karena lemak subkutis yang sangat sedikit (baggy-pants).10 1. dan mengendur disebabkan kehilangan banyak lemak di bawah kulit serta otot-ototnya. Anak terlihat sangat kurus karena hilangnya sebagian besar lemak dan otot-otonya.

antara lain : 8.10 6. Pada stadium lanjut bisa menjadi apatis.10 5. adanya edema pedis dan pretibial serta asites. rambut akan tampak kusam. kurus. Kesadarannya juga bisa menurun. 8. Kelainan Rambut Perubahan rambut sering dijumpai. maupun warnanya. Muka penderita ada tanda moon face dari akibat terjadinya edema. jarang dan berubah warna menjadi putih. 9. Sangat khas untuk penderita kwashiorkor ialah rambut kepala yang mudah tercabut tanpa rasa sakit. Edemanya bersifat pitting. Wujud Umum Secara umumnya penderita kwashiorkor tampak pucat. hilang nafsu makan dan rewel.10 2. tinggi badan juga kurang dibandingkan dengan anak sehat. Pada sebagian besar penderita dtemukan perubahan kulit yang khas untuk penyakit kwashiorkor.Kwashiorkor Tanda atau gejala yang dapat dilihat pada anak dengan malnutrisi energi protein kwashiorkor. Perubahan mental bisa menjadi tanda anak mengalami dehidrasi. 9. dan anak menjadi pasif. baik mengenai tekstur. Edema Pada sebagian besar penderita ditemukan edema baik ringan maupun berat. Kelainan Kulit Kulit penderita biasanya kering dengan menunjukkan garis-garis kulit yang lebih mendalam dan lebar. Selain berat badan. Sering bulu mata menjadi panjang. 8. Gizi buruk dapat mempengaruhi perkembangan mental anak. yaitu crazy pavement dermatosis yang merupakan bercak-bercak putih atau merah muda dengan tepi hitam ditemukan pada bagian tubuh yang 12 .10 4. 8. 9. kering. halus. Penampilan anak kwashiorkor seperti anak gemuk (sugar baby). Perubahan Mental Biasanya penderita cengeng. 9. 8. Sering ditemukan hiperpigmentasi dan persisikan kulit karena habisnya cadangan energi maupun protein. 9.10 3. Pada penderita kwashiorkor lanjut. atrofi pada ekstremitas. 9. Retardasi Pertumbuhan Gejala penting ialah pertumbuhan yang terganggu. 8.10 1.

seperti pada bokong. Kelainan dari pembentukan darah dari hipoplasia 13 .10 8. Perubahan kulit demikian dimulai dengan bercak-bercak kecil merah yang dalam waktu singkat bertambah dan berpadu untuk menjadi hitam. sering mendapat tekanan. nekrosis. dan infiltrasi sel mononukleus. fosa poplitea. 8. 9. Kelainan Gigi dan Tulang Pada tulang penderita kwashiorkor didapatkan dekalsifikasi. terutama infestasi parasit (ankilostomiasis. B6). Terutama bila tekanan itu terus-menerus dan disertai kelembapan oleh keringat atau ekskreta. Anemia juga terjadi disebabkan kurangnya nutrien yang penting untuk pembentukan darah seperti Ferum. amoebiasis) maka dapat dijumpai anemia berat. dan hambatan pertumbuhan. buku kaki. Pada suatu saat mengelupas dan memperlihatkan bagian-bagian yang tidak mengandung pigmen. 8. 10) 9. dan sebagainya. lutut.10 Gambar 9. folat. paha. 9. bisa juga ditemukan biopsi hati yang hampir semua sela hati mengandung vakuol lemak besar. dibatasi oleh tepi yang masih hitam oleh hiperpigmentasi.10 7. Perlemakan hati terjadi akibat defisiensi faktor lipotropik. Gejala klinis kwashiorkor (dikutip dari daftar pustaka no. Bila disertai penyakit lain. Sering juga ditemukan caries pada gigi penderita. lipat paha. Sering juga ditemukan tanda fibrosis. 9. Kelainan Darah dan Sumsum Tulang Anemia ringan selalu ditemukan pada penderita kwashiorkor. 8. Kurangnya nicotinamide dan tryptophan menyebabkan mudah terjadi radang pada kulit. Kelainan Hati Pada biopsi hati ditemukan perlemakan. osteoporosis. vitamin B kompleks (B12.

Protein juga dibakar untuk dijadikan kalori demi penyelamatan hidup. sehingga segala pemberian makanan ditolak dan makanan hanya dapat diberikan dengan sonde lambung. 8.10 11. Kelainan Pankreas dan Kelenjar Lain Di pankreas dan kebanyakan kelenjar lain seperti parotis. intoleransi laktosa. Kelainan Ginjal Malnutrisi energi protein dapat mengakibatkan terjadi atrofi glomerulus sehingga GFR menurun. saliva dan usus halus terjadi perlemakan. Intoleransi laktosa disebabkan defisiensi laktase. Diare terdapat pada sebagian besar penderita. Akibatnya terjadi defek imunitas seluler. 8.10 14. 9. Pada pankreas terjadi atrofi sel asinus sehingga menurunkan produksi enzim pankreas terutama lipase. 8. 8. Atrofi Otot Massa otot berkurang karena kurangnya protein. Kelainan Gastrointestinal Gejala gastrointestinal merupakan gejala yang penting. 9. 9.10 12. Malabsorbsi lemak terjadi akibat defisiensi garam empedu. Defisiensi protein juga menyebabkan gangguan pembentukan sistem kekebalan tubuh. Hal ini terjadi karena 3 masalah utama yaitu berupa infeksi atau infestasi usus.10 13. dan atrofi villi mukosa usus halus. 8. Pada anak dengan gizi buruk dapat terjadi defisiensi enzim disakaridase. 9. 8.10 10. lakrimal. konjugasi hati. 9. defisiensi lipase pankreas. dan gangguan sistem komplemen. dan malabsorbsi lemak. atau aplasia sumsum tulang disebabkan defisiensi protein dan infeksi menahun. 9.10 Marasmus-Kwashiorkor: Gambaran klinik merupakan campuran dari beberapa gejala klinik kwashiorkor 14 . Anoreksia kadang- kadang demikian hebatnya. Kelainan Jantung Bisa terjadi miodegenerasi jantung dan gangguan fungsi jantung disebabkan hipokalemi dan hipomagnesemia.

perbedaan tersebut antara lain: Tabel 3. 9. Perbedaan Marasmus dengan Kwashiorkor (dikutip dari daftar pustaka no. disertai dengan edema yang tidak mencolok 8.dan marasmus. 9) 15 .10 Gambar 10. 9) Perbedaan Marasmus dengan Kwashiorkor Secara klinis. marasmus dan kwashiorkor dapat dibedakan. Gejala klinis marasmus kwashiorkor (dikutip dari daftar pustaka no.

Perbedaan klinis marasmus dengan kwashiorkor (dikutip dari daftar pustaka no.11. sering menderita sakit yang berulang atau timbulnya bengkak pada kedua kaki.12 Tabel 4. 13) Pemeriksaan Fisik 16 . anak kurus. Gambar 11. Anamnesis pada anak gizi buruk (dikutip dari daftar pustaka no. Diagnosis Anamnesis Keluhan yang sering ditemukan adalah pertumbuhan yang kurang.8. Selain itu ada keluhan anak kurang/tidak mau makan. kadang sampai seluruh tubuh. atau berat badannya kurang. 10) G.

 Demam (suhu aksilar≥ 37.  Tampilan tinja (konsistensi. lendir).12 1. tenggorokan. paru.  Frekuensi dan tipe pernapasan: pneumonia atau gagal jantung  Sangat pucat  Pembesaran hati dan ikterus  Adakah perut kembung.  Tanda dan gejala infeksi HIV Penyakit penyerta yang sering ditemui pada MEP:11. lipatan paha.Pemeriksaan fisik yang harus diperhatikan pada penderita malnutrisi energi protein selain dari gejala klinis.13  Apakah anak tampak sangat kurus. capillary refill time yang lambat. antara lain: 11. bercak Bitot o Ulkus kornea o Keratomalasia  Ulkus pada mulut  Fokus infeksi: telinga. darah.bising usus melemah/meninggi.5° C) atau hipotermi (suhu aksilar < 35. genital. belakang telinga) o lesi eksudatif (menyerupai luka bakar). turgor buruk  Adakah tanda syok (tangan dingin.seringkali dengan infeksi sekunder (termasuk jamur). paha. kulit  Lesi kulit pada kwashiorkor: o hipo.  Tentukan status gizi dengan menggunakan BB/TB-PB  Tanda dehidrasi: tampak haus. tanda asites  Tanda defisiensi vitamin A pada mata: o Konjungtiva atau kornea yang kering. kesadaran menurun. nadi lemah dan cepat). Gangguan mata 17 .5° C). adakah edema pada kedua punggung kaki.12. mata cekung.atau hiper-pigmentasi o deskuamasi o ulserasi (kaki.

Tuberkulosis 7. HIV Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan penunjang yang diperlukan: 8. Parasit/cacing 6. 3. Antropometri – pengukuran BB. globulin). anemia selalu ditemukan terutama jenis normositik normokrom karena adanya gangguan sistem eritropoesis akibat hipoplasia kronis sumsum tulang di samping karena asupan zat besi yang kurang dalam makanan. feritin. Tes mantoux 4. LILA BB/TB – menunjukkan kondisi kurus atau malnutrisi akut TB/U – menentukan kondisi pendek atau malnutrisi kronis BB/U – menentukan kondisi berat badan rendah atau kurus dan pendek 2.12. Malaria 8. Pemeriksaan laboratorium: kadar gula darah. pemeirksaan urin. Pada pemeriksaan laboratorium. Gejala klinis 3. 2. Anemia berat 5.11. antara lain:9 1. protein serum (albumin. elektrolit serum. Biokimia 4.13 1. feses lengkap. AP dan lateral) juga perlu dilakukan untuk menemukan adanya kelainan pada paru. kerusakan hati dan gangguan absorbsi. darah tepi lengkap. terdapat 4 indikator menentukan adanya malnutrisi. PB/TB. Selain itu dapat ditemukan kadar albumin serum yang menurun. EKG Menurut Unicef. Diare persisten 4. Pemeriksaan radiologi (dada. Gangguan kulit 3. Riwayat asupan makanan 18 . 2.

Pellagra infantil I. Imunitas menurun sehingga mudah infeksi 5. Edema anasarka 4. Sindroma nefrotik 3. Hipoglikemia. Komplikasi lain yang dapat ditimbulkan dari kwashiorkor adalah :11. Payah jantung kongestif 4. Diare karena terjadi atrofi epitel usus 6. Trauma 2. Terlihat sangat kurus 2. Diagnosis Banding Adanya edema serta ascites pada bentuk kwashiorkor perlu dibedakan dengan :11 1. hipokalemia. Hal ini terjadi sebagai akibat perubahan sumber energi utama metabolisme tubuh.15 1. Bukti secara statistik mengemukakan bahwa kwashiorkor yang terjadi pada awal kehidupan (bayi dan anak-anak) dapat menurunkan IQ secara permanen. Hiperpigmentasi kulit 3. dan hipomagnesemia. dari lemak pada saat kelaparan menjadi 19 .Dignosis malnutrisi akut berat berdasarkan kriteria:14 1. hipomagnesemia Refeeding syndrome adalah salah satu komplikasi metabolik dari dukungan nutrisi pada pasien malnutrisi berat yang ditandai oleh hipofosfatemia. Edema nutrisional 3. Tinggi maksimal dan kemampuan potensial untuk tumbuh tidak akan pernah dapat dicapai oleh anak dengan riwayat kwashiorkor. BB/TB < -3 SD 4. LILA < 11. Defisiensi zat besi 2.5 cm H. Komplikasi Anak dengan kwashiorkor akan lebih mudah untuk terkena infeksi dikarenakan lemahnya sistem imun.

dan disfungsi hati. apatis seperti tidak sadar 20 .karbonhidrat yang diberikan sebagai bagian dari dukungan nutrisi.15  Gejala klinik (-). 1.15  Anak lemas. tampak kurus/hipotrofi  Tidak perlu dirawat  Identifikasi penyebab  Penyuluhan dan suplementasi 2. gagal napas akut. gagal jantung. infeksi saluran nafas o Anemia berat (Hb < 5 g/dl) o Ikterus o Tidak nafsu makan o Usia < 1 tahun Tanda/gejala dehidrasi pada MEP berat : 14.15  Berat Badan Sangat Rendah : o BB/TB < 70% o BB/U < 60% (BB/U > 60% + edema)  Dengan Gejala Lain : o Edema o Dehidrasi berat o Diare persisten dan/atau muntah o Sangat pucat. Tatalaksana Walaupun secara klinis terdapat perbedaan antara marasmus dan kwashiorkor. sehingga terjadi peningkatan kadar insulin serta perpindahan elektrolit yang diperlukan untuk metabolisme intraseluler. syok o Tanda infeksi sistemik/lokal. Oleh sebab itu dalam pemberian dukungan nutrisi pada pasien malnutrisi berat perlu diberikan secara bertahap. koma paralisis. hipotermia. nefropati. prosedur tatalaksana terapi pada marasmus maupun kwashiorkor sama. MEP ringan – sedang :14.15 J. Secara klinis pasien dapat mengalami disritmia. MEP berat : rawat di RS Kriteria Lain Untuk Perawatan Di RS : 14.

15) Pada saat masuk rumah sakit:16  anak dipisahkan dari pasien infeksi  ditempatkan di ruangan yang hangat (25–30°C. Nadi cepat dan lemah  Tidak ada air mata bila menangis  Mata dan UUB cekung  Mukosa mulut kering  Kulit pucat. Tindakan pada fase stabilisasi bertujuan untuk mengatasi kedaruratan medis dan 21 . Alur pemeriksaan anak gizi buruk (dikutip dari daftar pustaka no. turgor kulit lambat  Diuresis << / - Bagan 1. transisi dan rehabilitasi). MEP berat ditatalaksana melalui 3 fase (stabilisasi. bebas dari angin)  dipantau secara rutin  memandikan anak dilakukan seminimal mungkin dan harus segera keringkan. dingin.

Sepuluh langkah tatalaksana MEP berat / MAB dan perkiraan waktu setiap fase (dikutip dari daftar pustaka no. Pemberian makan yang sering sangat penting dilakukan pada anak gizi buruk. Jika fasilitas setempat tidak memungkinkan untuk memeriksa kadar gula darah.16 Semua anak dengan gizi buruk berisiko hipoglikemia (kadar gula darah < 3 mmol/L atau < 54 mg/dl) sehingga setiap anak gizi buruk harus diberi makan atau larutan glukosa/gula pasir 10% segera setelah masuk rumah sakit. Atasi/cegah hipoglikemi13. 22 . 15) Tatalaksana Umum 1. Pada 3 fase tersebut disertai dengan 10 langkah tindakan seperti tabel di bawah ini :14 Tabel 5. sedangkan tujuan fase transisi untuk mengubah dari pemberian makanan awal ke makanan tumbuh kejar.14.menstabilkan kondisi klinis anak.15. Tujuan fase rehabilitasi adalah pemulihan serta tumbuh kejar yang memerlukan waktu lebih lama.

berikan 50 ml larutan glukosa atau gula 10% (1 sendok teh penuh gula dalam 50 ml air) secara oral atau melalui NGT. mungkin hipoglikemia disebabkan oleh hipotermia. maka semua anak gizi buruk harus dianggap menderita hipoglikemia dan segera ditangani sesuai panduan.  Beri antibiotik. Pemantauan Jika kadar gula darah awal rendah. lakukan rehidrasi lebih dulu.16 23 .  Jika suhu rektal < 35. berikan larutan glukosa 10% secara intravena (bolus) sebanyak 5 ml/kg BB.  Jika kadar gula darah di bawah 3 mmol/L (< 54 mg/dl). siang dan malam selama minimal dua hari. Pencegahan Beri makanan awal (F-75) setiap 2 jam. atau larutan glukosa/larutan gula pasir 50 ml dengan NGT.15.  Bila masih mendapat ASI teruskan pemberian ASI di luar jadwal pemberian F-75.14. Pemberian makan harus teratur setiap 2-3 jam siang malam.  Lanjutkan pemberian F-75 setiap 2–3 jam. ulangi pengukuran kadar gula darah setelah 30 menit.  Bila F-75 pertama tidak dapat disediakan dengan cepat. ulangi pengukuran kadar gula darah dan tangani sesuai keadaan (hipotermia dan hipoglikemia). 2.5° C atau bila kesadaran memburuk. Tatalaksana :  Segera beri F-75 pertama atau modifikasinya bila penyediaannya memungkinkan. ulangi pemberian larutan glukosa atau gula 10%.  Jika anak tidak sadar (letargis). Hipotermia13. mulai sesegera mungkin atau jika perlu.

sepanjang hari.5° C  Pastikan bahwa anak selalu tertutup pakaian atau selimut. lakukan rehidrasi lebih dulu). atau selama pemeriksaan medis)  Biarkan anak tidur dengan dipeluk orang tuanya agar tetap hangat. terutama pada malam hari  Periksa kadar gula darah bila ditemukan hipotermia Pencegahan  Letakkan tempat tidur di area yang hangat. Pemantauan  Ukur suhu aksilar anak setiap 2 jam sampai suhu meningkat menjadi 36. atau letakkan anak langsung pada dada atau perut ibunya (dari kulit ke kulit: metode kanguru). Diagnosis  Suhu aksilar < 35. Jika digunakan pemanas. Bila menggunakan lampu listrik. jaga agar anak dan tempat tidur tetap kering  Hindarkan anak dari suasana dingin (misalnya: sewaktu dan setelah mandi. mulai sesegera mungkin.14. 3. letakkan lampu pijar 40 W dengan jarak 50 cm dari tubuh anak.5° C atau lebih. Hentikan pemanasan bila suhu mencapai 36.16 24 . di bagian bangsal yang bebas angin dan pastikan anak selalu tertutup pakaian/selimut  Ganti pakaian dan seprai yang basah. Dehidrasi13. terutama di malam hari  Beri makan F-75 atau modifikasinya setiap 2 jam. siang dan malam.  Pastikan bahwa anak berpakaian (termasuk kepalanya).15. ukur suhu tiap setengah jam.5° C Tatalaksana  Segera beri makan F-75 (jika perlu. Tutup dengan selimut hangat dan letakkan pemanas (tidak mengarah langsung kepada anak) atau lampu di dekatnya.  Beri antibiotik sesuai pedoman.

anggap dehidrasi ringan. Hal ini disebabkan oleh sulitnya menentukan status dehidrasi secara tepat pada anak dengan gizi buruk. Anak gizi buruk dengan diare cair. lakukan lebih lambat dibanding jika melakukan rehidrasi pada anak dengan gizi baik. 13) Tatalaksana  Jangan gunakan infus untuk rehidrasi.  beri 5 ml/kgBB setiap 30 menit untuk 2 jam pertama 25 . Tabel 6. secara oral atau melalui NGT. kecuali pada kasus dehidrasi berat dengan syok.  Beri ReSoMal. hanya dengan menggunakan gejala klinis saja.Diagnosis Cenderung terjadi diagnosis berlebihan dari dehidrasi dan estimasi yang berlebihan mengenai derajat keparahannya pada anak dengan gizi buruk. Tanda-tanda dehidrasi (dikutip dari daftar pustaka no. bila gejala dehidrasi tidak jelas.

 Selanjutnya berikan F-75 secara teratur setiap 2 jam. cairan yang lebih tepat adalah ReSoMal. maka dapat diberikan makanan yang merupakan sumber mineral tersebut. Dapat pula diberikan MgSO4 40% IM 1 x/hari dengan dosis 0. beri ReSoMal setiap kali diare. dan Cu. Zn. 26 . Cara membuat ReSoMal dan larutan penggantinya (dikutip dari daftar pustaka no.  setelah 2 jam. Catatan: Larutan oralit WHO (WHO-ORS) yang biasa digunakan mempunyai kadar natrium tinggi dan kadar kalium rendah.3 ml/kg BB. setiap jam selama 10 jam. berikan ReSoMal 5–10 ml/kgBB/jam berselang-seling dengan F-75 dengan jumlah yang sama. Jumlah yang pasti tergantung seberapa banyak anak mau. maksimum 2 ml/hari. usia ≥ 1 th: 100-200 ml setiap buang air besar. Untuk usia < 2 th: 50-100 ml setiap buang air besar. Jika masih diare. volume tinja yang keluar dan apakah anak muntah. 16) Oleh karena larutan pengganti tidak mengandung Mg. Tabel 7.

Cara membuat larutan mineral mix dan larutan penggantinya (dikutip dari daftar pustaka no. yang sangat berbahaya dan bisa mengakibatkan gagal jantung dan kematian. 16) Pemantauan Pantau kemajuan proses rehidrasi dan perbaikan keadaan klinis setiap setengah jam selama 2 jam pertama. Waspada terhadap gejala kelebihan cairan.Tabel 8. kemudian tiap jam sampai 10 jam berikutnya. 27 .

frekuensi napas dan nadi akan berkurang dan mulai ada diuresis. Kembalinya air mata. Gangguan Keseimbangan Elektrolit13. cekung mata dan fontanel berkurang serta turgor kulit membaik merupakan tanda membaiknya hidrasi. Jangan obati edema dengan diuretikum.  Jika anak masih mendapat ASI. kecuali penggunaan cairan ReSoMal sebagai pengganti larutan oralit standar. Pencegahan Cara mencegah dehidrasi akibat diare yang berkelanjutan sama dengan pada anak dengan gizi baik. Edema dapat diakibatkan oleh keadaan ini. Terdapat kelebihan natrium total dalam tubuh. tetapi anak gizi buruk seringkali tidak memperlihatkan tanda tersebut walaupun rehidrasi penuh telah terjadi. hentikan pemberian cairan/ReSoMal segera dan lakukan penilaian ulang setelah 1 jam. Periksalah:  frekuensi napas. mulut basah. walaupun kadar natrium serum mungkin rendah. Pemberian natrium berlebihan dapat menyebabkan kematian. sehingga sangat penting untuk memantau berat badan.15. 28 . Jika ditemukan tanda kelebihan cairan (frekuensi napas meningkat 5x/menit dan frekuensi nadi 15x/menit). 4.16 Semua anak dengan gizi buruk mengalami defisiensi kalium dan magnesium yang mungkin membutuhkan waktu 2 minggu atau lebih untuk memperbaikinya. frekuensi nadi  frekuensi miksi dan jumlah produksi urin  frekuensi buang air besar dan muntah Selama proses rehidrasi.14. lanjutkan pemberian ASI  Pemberian F-75 sesegera mungkin  Beri ReSoMal sebanyak 50-100 ml setiap buang air besar cair.

Tunda imunisasi jika anak syok. Tatalaksana Berikan pada semua anak dengan gizi buruk:  Antibiotik spektrum luas  Vaksin campak jika anak berumur ≥ 6 bulan dan belum pernah mendapatkannya. beri Kotrimoksazol per oral (25 mg SMZ + 5 mg TMP /kgBB) setiap 12 jam selama 5 hari  Jika ada komplikasi (hipoglikemia.15. beri Ampisilin per oral (50 mg/kgBB setiap 6 jam selama 5 hari) sehingga total selama 7 hari.14. padahal infeksi ganda merupakan hal yang sering terjadi. Infeksi13. atau jelas ada infeksi. beri:  Ampisilin (50 mg/kgBB IM/IV setiap 6 jam selama 2 hari).16 Pada gizi buruk. gejala infeksi yang biasa ditemukan seperti demam. atau jika anak berumur > 9 bulan dan sudah pernah diberi vaksin sebelum berumur 9 bulan. 29 . hipotermia. dilanjutkan dengan Amoksisilin oral (15 mg/kgBB setiap 8 jam selama 5 hari) ATAU. atau anak terlihat letargis atau tampak sakit berat). Oleh karena itu. Siapkan makanan tanpa menambahkan garam (NaCl). Pilihan antibiotik spektrum luas  Jika tidak ada komplikasi atau tidak ada infeksi nyata. Gunakan larutan ReSoMal untuk rehidrasi. anggaplah semua anak dengan gizi buruk mengalami infeksi saat mereka datang ke rumah sakit dan segera tangani dengan antibiotik. seringkali tidak ada. yang sudah terkandung di dalam larutan Mineral-Mix yang ditambahkan ke dalam F-75. 5. Tatalaksana Untuk mengatasi gangguan elektrolit diberikan Kalium dan Magnesium. F-100 atau ReSoMal. Hipoglikemia dan hipotermia merupakan tanda infeksi berat. jika tidak tersedia amoksisilin. DITAMBAH:  Gentamisin (7.5 mg/kgBB/hari IM/IV) sekali setiap hari selama 7 hari.

15) 6. tetapi tunggu sampai anak mempunyai nafsu makan yang baik dan mulai bertambah berat badannya (biasanya pada minggu kedua.14. tunda pemberian gentamisin dosis ke-2 sampai ada diuresis untuk mencegah efek samping/toksik gentamisin  Jika anak tidak membaik dalam waktu 48 jam.16 Semua anak gizi buruk mengalami defisiensi vitamin dan mineral. Tabel 9. tambahkan Kloramfenikol (25 mg/kgBB IM/IV setiap 8 jam) selama 5 hari. Defisiensi Zat Gizi Mikro13. Dosis pemberian antibiotika berdasarkan berat badan (dikutip dari daftar pustaka no.15. jangan beri zat besi pada fase awal. mulai fase rehabilitasi). karena 30 . Catatan: Jika anak anuria/oliguria. Meskipun sering ditemukan anemia.

dengan dosis seperti di bawah ini : Tabel 10. zat besi dapat memperparah infeksi serta terjadinya reaksi oksidatif oleh besi bebas yang akan merusak membran sel dan berakibat fatal. dan 15. 16) Jika ada gejala defisiensi vitamin A. Tatalaksana Sifat utama yang menonjol dari pemberian makan awal adalah:  Makanan dalam jumlah sedikit tetapi sering dan rendah osmolaritas maupun rendah laktosa (F75)  Berikan secara oral atau melalui NGT.3 mg Cu/kgBB/hari)  Ferosulfat 3 mg/kgBB/hari setelah berat badan naik (mulai fase rehabilitasi)  Vitamin A: diberikan secara oral pada hari ke 1 (kecuali bila telah diberikan sebelum dirujuk). pemberian makan (formula) harus diberikan secara hati-hati sebab keadaan fisiologis anak masih rapuh. Pemberian Makan Awal13. Tatalaksana Berikan setiap hari paling sedikit dalam 2 minggu:  Multivitamin  Asam folat (5 mg pada hari 1. atau pernah sakit campak dalam 3 bulan terakhir. 7. Dosis pemberian vitamin A (dikutip dari daftar pustaka no.14. beri vitamin A dengan dosis sesuai umur pada hari ke 1. dan selanjutnya 1 mg/hari)  Seng (2 mg Zn elemental/kgBB/hari)  Tembaga (0.15. hindari penggunaan parenteral 31 . 2.16 Pada fase awal.

Formula awal F-75 sesuai resep dan jadwal makan dibuat untuk mencukupi kebutuhan zat gizi pada fase stabilisasi. jadwal di atas dapat dipercepat menjadi 2-3 hari. tetapi perlu dimasak dulu. sebagian gula diganti dengan tepung beras atau maizena sehingga lebih menguntungkan karena mempunyai osmolaritas yang lebih rendah. Pada F-75 yang berbahan serealia. 32 .5 g/kgBB/hari  Cairan: 130 ml/kgBB/hari (bila ada edema berat beri 100 ml/kgBB/hari)  Jika anak masih mendapat ASI. Tabel 11. Energi: 80-100 kkal/kgBB/hari  Protein: 1-1. Jadwal pemberian F75 (dikutip dari daftar pustaka no. tetapi pastikan bahwa jumlah F-75 yang ditentukan harus dipenuhi. Formula ini baik bagi anak gizi buruk dengan diare persisten. 16) Pada anak dengan nafsu makan baik dan tanpa edema. Terdapat 2 macam tabel petunjuk pemberian F-75 yaitu untuk gizi buruk tanpa edema dan dengan edema berat (+++). lanjutkan.

Tabel 12. 16) 33 . Jumlah F75 / kali makan (130ml/hari) untuk anak tanpa edema (dikutip dari daftar pustaka no.

Jumlah F75 / kali makan (130ml/hari) untuk anak tanpa edema (dikutip dari daftar pustaka no. 16) Tabel 14. Jumlah F75 / kali makan (100ml/hari) untuk anak dengan edema berat (dikutip dari daftar pustaka no.Tabel 13. 16) 34 .

Tabel 15. 16) 35 . Jumlah F75 / kali makan (100ml/hari) untuk anak dengan edema berat (dikutip dari daftar pustaka no.

Tabel 16. 16) 36 . Resep F75 dan F100 (dikutip dari daftar pustaka no.

berikan sisanya melalui NGT. Apabila pemberian makanan per oral pada fase awal tidak mencapai kebutuhan minimal (80 kkal/kgBB/hari). 16) Pemberian makan sepanjang malam hari sangat penting agar anak tidak terlalu lama tanpa pemberian makan (puasa dapat meningkatkan risiko kematian). Pemantauan Pantau dan catat setiap hari:  Jumlah makanan yang diberikan dan dihabiskan  Muntah  Frekuensi defekasi dan konsistensi feses  Berat badan. Cara membuat F75 dan F100 (dikutip dari daftar pustaka no. 37 . Pada cuaca yang sangat panas dan anak berkeringat banyak maka anak perlu mendapat ekstra air/cairan. Tabel 17. Jangan melebihi 100 kkal/kgBB/hari pada fase awal ini.

lanjutkan pemberian ASI tetapi pastikan anak sudah mendapat F-100 sesuai kebutuhan karena ASI tidak mengandung cukup energi untuk menunjang tumbuh-kejar. Tumbuh Kejar13. Beri F-100 sejumlah yang sama dengan F-75 selama 2 hari berturutan.14.8.  Selanjutnya naikkan jumlah F-100 sebanyak 10 ml setiap kali pemberian sampai anak tidak mampu menghabiskan atau tersisa sedikit.  pemberian makan yang sering (setidaknya tiap 4 jam) dengan jumlah tidak terbatas (sesuai kemampuan anak)  energi: 150-220 kkal/kgBB/hari  protein: 4-6 g/kgBB/hari.  Kebutuhan pada fase transisi ini antara lain: o Energi: 100-150 kkal/kgbb/hari o Protein: 2-3 g/kgbb/hari  Setelah transisi bertahap. Biasanya hal ini terjadi ketika pemberian formula mencapai 150 kkal/kgBB/hari. 38 .15. Makanan-terapeutik-siap-saji (ready to use therapeutic food = RUTF) yang mengandung energi sebanyak 500 kkal/sachet 92 g dapat digunakan pada fase rehabilitasi. anak masuk ke fase rehabilitasi:  Lanjutkan menambah pemberian F100 sampai anak tidak mampu menghabiskan atau tersisa sedikit.16 Tanda yang menunjukkan bahwa anak telah mencapai fase ini adalah:  Kembalinya nafsu makan  Edema minimal atau hilang Tatalaksana Lakukan transisi secara bertahap dari formula awal (F-75) ke formula tumbuh- kejar (F-100) (fase transisi):  Ganti F 75 dengan F 100. Bila anak masih mendapat ASI. Biasanya hal ini terjadi ketika pemberian formula mencapai 30 ml/kgbb/makan (200 ml/kgBB/hari).

16) Tabel 19. Tabel 18. Petunjuk pemberian F100 (dikutip dari daftar pustaka no. 16) 39 . Kebutuhan zat gizi anak gizi buruk menurut fase pemberian makanan (dikutip dari daftar pustaka no.

dan kenaikan ini menetap selama 2 kali pemeriksaan dengan jarak 4 jam berturut-turut. Penilaian kemajuan Kemajuan terapi dinilai dari kecepatan kenaikan berat badan setelah tahap transisi dan mendapat F-100:  Timbang dan catat berat badan setiap pagi sebelum diberi makan. Jika nadi maupun frekuensi napas meningkat (pernapasan naik 5x/menit dan nadi naik 25x/menit). 16) Pemantauan Hindari terjadinya gagal jantung.  atasi penyebab. Petunjuk pemberian F100 (dikutip dari daftar pustaka no. Tabel 20. tingkatkan perlahan-lahan sebagai berikut:  115 ml/kgBB/hari selama 24 jam berikutnya  130 ml/kgBB/hari selama 48 jam berikutnya  selanjutnya. tingkatkan setiap kali makan dengan 10 ml sebagaimana dijelaskan sebelumnya. plot pada formulir pemantauan berat badan  Hitung dan catat kenaikan berat badan setiap 3 hari dalam gram/kgBB/hari (lihat kotak halaman berikut) 40 . maka hal ini merupakan tanda bahaya (cari penyebabnya). Lakukan segera:  kurangi volume makanan menjadi 100 ml/kgBB/hari selama 24 jam  kemudian. Amati gejala dini gagal jantung (nadi cepat dan napas cepat).

Ada perbaikan kondisi mental c. 10.16 Kriteria Pemulangan Balita Gizi Buruk dari Ruang Rawat Inap 1. berdiri atau berjalan. Selera makan sudah bagus. Keterlibatan ibu (memberi makan. bermain dan sebagainya. Memberikan Stimulasi Sensorik dan Dukungan Emosional13. Balita: a. dl) 4. Suhu tubuh berkisar antara 36. memandikan. duduk. Kasih sayang 2. Balita sudah dapat tersenyum.16 Pada anak gizi buruk terjadi perkembangan mental dan perilaku karenanya harus diberikan : 1.5 °C 41 . Lingkungan yang ceria 3. 16) 9. makanan yang diberikan dapat dihabiskan b.15. merangkak. anak membutuhkan penilaian ulang lengkap  sedang (5-10 g/kgBB/hari). atau mungkin ada infeksi yang tidak terdeteksi.5 – 37. Tabel 21. Contoh perhitungan kenaikan berat badan setelah 3 hari (dikutip dari daftar pustaka no. periksa apakah target asupan terpenuhi. Terapi bermain terstuktur selama 15 – 30 menit/hari (permainan ci luk ba. Aktifitas Fisik segera setelah sembuh 5. Persiapan tindak lanjut setelah perawatan13. lanjutkan tatalaksana.14. sesuai dengan umurnya d.14.Jika kenaikan berat badan:  kurang (< 5 g/kgBB/hari).15.  baik (> 10 g/kgBB/hari).

Tumbuh Kembang : a. Pola pemberian makan yang baik dan stimulasi harus tetap dilanjukan di rumah setelah penderita dipulangkan 42 . Menjaga kebersihan diri dan lingkungan Tindak Lanjut di Rumah Bagi Anak Gizi Buruk 1. Ibu sudah mampu merawat serta memberikan makan dengan benar kepada balita 3. Institusi Lapangan: Institusi lapangan telah siap untuk menerima rujukan pasca perawatan. Ibu / Pengasuh: a. Kriteria Sembuh : BB/TB ≥ -2 SD 2. Sudah dapat membuat makanan yang diperlukan untuk tumbuh kejar di rumah b. Pemantauan 1. Tidak ada muntah atau diare f. Terdapat kenaikan berat badan > 5 g/kgBB/hr selama 3 hari berturut-turut atau kenaikan sekitar 50 g/kgBB/minggu selama 2 minggu berturut-turut h. e. Pengetahuan gizi b. Tidak ada edema g. Melatih ketaatan dalam pemberian diet c. Memantau perkembangan psikomotor 3. Memantau status gizi secara rutin dan berkala b. Bila gejala klinis dan BB/TB-PB ≥-2 SD dapat dikatakan anak sembuh 2. Sudah berada di kondisi gizi kurang (sudah tidak gizi buruk) 2. Edukasi Memberikan pengetahuan pada orang tua tentang : a.

Alur tatalaksana MEP berat / gizi buruk (dikutip dari daftar pustaka no. 15) 43 . Memberikan makanan dengan porsi kecil dan sering. Pemberian suntikan/imunisasi dasar dan ulangan (booster) 4. Menu dan cara membuat makanan dengan kandungan energi dan zat gizi yang padat.Beri contoh kepada orang tua: 1. Gambar 12. sesuai dengan umur anak 2. Terapi bermain terstuktur Sarankan: 1. Pemberian vitamin A dosis tinggi setiap 6 bulan sekali (dosis sesuai umur) Tatalaksana sesuai hasil pemeriksaan Berikut ini akan diuraikan beberapa alur sesuai dengan hasil pemeriksaan MEP berat/ gizi buruk pada berbagai kondisi. sesuai dengan umur. berat badan anak. Membawa anaknya kembali untuk kontrol secara teratur: Bulan I : 1x/minggu Bulan II : 1x/2 minggu Bulan III-IV : 1x/bulan 3. 2.

15) 44 . Tatalaksana MEP berat / gizi buruk (dikutip dari daftar pustaka no.Tabel 22.

dan muntah/diare/dehidrasi (dikutip dari daftar pustaka no. Rencana I: Pemberian cairan dan makanan untuk stabilisasi pada kondisi renjatan/syok.Bagan 2. letargi.15) 45 .

dan muntah/diare/dehidrasi (dikutip dari daftar pustaka no.15) Bagan 4. Rencana III: Pemberian cairan dan makanan untuk stabilisasi pada muntah/diare/dehidrasi (dikutip dari daftar pustaka no.15) 46 .Bagan 3. Rencana II: Pemberian cairan dan makanan untuk stabilisasi pada letargi.

Bagan 5.15) Bagan 6. Rencana IV: Pemberian cairan dan makanan untuk stabilisasi pada letargi (dikutip dari daftar pustaka no.15) 47 . Rencana V: Pemberian cairan dan makanan untuk stabilisasi pada tanpa tanda bahaya & tanda penting (dikutip dari daftar pustaka no.

Bagan 7. Alur pada fase transisi dan rehabilitasi (dikutip dari daftar pustaka no.15) Penatalaksanaan penyakit penyerta pada anak MEP berat 48 .

setiap 2-3 jam selama 7-10 hari. Beri salep atau krim (Zn dengan minyak katsor) iii. Kompres bagian kulit yang terkena dengan larutan KmnO (kalium- permanganat) 1% selama 10 menit ii. Umumnya terdapat defisiensi seng (Zn) : beri preparat Zn peroral c. Tuberkulosis 49 . lakukan penilaian ulang menyeluruh pada anak. b. ii. walaupun belum terbukti adanya infestasi cacing. Beri : Metronidazole 7. Tutup mata dengan kasa yang dibasahi larutan garam faali. menyerupai luka bakar. Jika nafsu makan belum membaik.Atasi penyakit penyerta yang ada sesuai pedoman13. Tetes mata chloramphenicol atau salep mata tetrasiklin. Parasit/cacing Jika terdapat bukti adanya infestasi cacing.15.14. Sering kerusakan mukosa usus dan Giardiasis merupakan penyebab lain dari melanjutnya diare.16 a. Tatalaksana: i. Beri mebendazol setelah 7 hari perawatan. deskuamasi (kulit mengelupas). 1 tetes 3 kali sehari selama 3-5 hari. Usahakan agar daerah perineum tetap kering iv. Teteskan tetes mata atropin. d. Pemantauan Jika terdapat anoreksia setelah pemberian antibiotik di atas. Bila ada ulkus di mata diberikan: i. Bila mungkin. Dermatosis Dermatosis ditandai adanya hipo/hiperpigmentasi. beri mebendazol (100 mg/kgBB) selama 3 hari atau albendazol (20 mg/kgBB dosis tunggal). sering disertai infeksi sekunder. e. antara lain oleh Candida. iii. lanjutkan pengobatan sampai seluruhnya 10 hari penuh. lesi ulcerasi eksudatif. lakukan pemeriksaan tinja mikroskopik. Diare Diobati bila hanya diare berlanjut dan tidak ada perbaikan keadaan umum.5 mg/kgBB setiap 8 jam selama 7 hari. Berikan formula bebas/rendah lactosa.

perlambat transfusi. Bila terdapat gejala gagaI jantung. Anak dengan kwashiorkor mengalami redistribusi cairan sehingga terjadi penurunan Hb yang nyata dan tidak membutuhkan transfuse.16 Langkah Promotif/Preventif13.14.  Furosemid.16 50 . transfusi harus diberikan secara lebih lambat dan dalam volume lebih kecil dibanding anak sehat. berikan komponen sel darah merah (packed red cells) 10 ml/kgBB. Monitor frekuensi nadi dan pernapasan setiap 15 menit selama transfusi. 10 ml/kgBB secara lambat selama 3 jam.15. Bila positif atau sangat mungkin TB. 13. 1 mg/kg IV pada saat transfusi dimulai. Beri:  Darah utuh (Whole Blood). Anemia Transfusi darah diperlukan jika:  Hb < 4 g/dl  Hb 4–6 g/dl dan anak mengalami gangguan pernapasan atau tanda gagal jantung. Pada anak gizi buruk.14. lakukan tes tuberkulin/mantoux (seringkali alergi) dan Ro-foto toraks. diobati sesuai pedoman pengobatan TB. Pada setiap kasus gizi buruk. Jika terjadi peningkatan (frekuensi napas meningkat 5x/menit atau nadi 25x/menit). Hentikan semua pemberian cairan lewat oral/NGT selama anak ditransfusi. f.15.

walaupun dalam derajat ringan. protein. Pola Makan Penyuluhan pada masyarakat mengenai gizi seimbang (perbandingan jumlah karbonhidrat. sedangkan kemiskinan penduduk merupakan akibat lanjutannya. Ditekankan pula perlunya bahan makanan yang bergizi baik di samping kuantitasnya. Pemantauan tumbuh kembang dan penentuan status gizi secara berkala (sebulan sekali pada tahun pertama) c. Oleh karena ada beberapa faktor yang menjadi penyebab timbulnya masalah tersebut. Faktor sosial Mencari kemungkinan adanya pantangan untuk menggunakan bahan makanan tertentu yang sudah berlangsung secara turun-temurun dan dapat menyebabkan terjadinya MEP. menurunkan daya tahan tubuh terhadap infeksi. MEP. Faktor infeksi Telah lama diketahui adanya interaksi sinergis antara MEP dan infeksi. d. antara lain : a. vitamin dan mineral berdasarkan umur dan berat badan) b. BAB III 51 . Malnutrisi energi protein merupakan masalah gizi yang multifaktorial. lemak. Faktor ekonomi Dalam World Food Conference di Roma tahun 1974 telah dikemukakan bahwa meningkatnya jumlah penduduk yang cepat tanpa diimbangi dengan bertambahnya persediaan bahan makanan setempat yang memadai merupakan sebab utama krisis pangan. Tindakan pencegahan bertujuan untuk mengurangi insidens dan menurunkan angka kematian. e. maka untuk mencegahnya dapat dilakukan beberapa langkah. Infeksi derajat apapun dapat memperburuk keadaan status gizi.

Prevalensi tertinggi terdapat pada anak-anak di bawah umur lima tahun (balita) dan ibu yang sedang mengandung atau menyusui. ditemukan malnutrisi dari derajat ringan hingga berat. Akibat dari kondisi tersebut. sedangkan kelainan biokimiawi dan gejala klinis tidak terlihat. gejala klinis yang lebih menonjol bahwa penderita terlihat wajahnya seperti orang tua dan anak sangat kurus karena hilangnya sebagian besar lemak dan atrofi dar otot-ototnya. Pada tipe marasmus. gejala klinis yang lebih terlihat adalah penampilannya yang gemuk disertai adanya edema ringan maupun berat dan adanya ascites dikarenakan kekurangan protein. serta diantaranya terdapat suatu keadaan dimana ditemukan percampuran ciri-ciri kedua tipe malnutrisi tersebut yan dinamakan marasmur-kwashiorkor. Pada keadaan yang berat ditemukan dua tipe malnutrisi. Penyakit ini mempunyai komplikasi dari yang ringan hingga yang berat. yaitu marasmus dan kwashiorkor. Penatalaksanaannya dilakukan bersama-sama dengan memperbaiki keadaan gizinya. 52 . Pada kondisi ini ditemukan berbagai macam keadaan patologis disebabkan oleh kekurangan energi maupun protein dalam tingkat yang bermacam-macam. Pada keadaan yang sangat ringan tidak ditemukan kelainan dan hanya terdapat pertumbuhan yang kurang. Sedangkan pada tipe kwashiorkor. Masing-masing dari tipe itu mempunyai gejala-gejala klinis yang khas. KESIMPULAN Malnutrisi Energi protein merupakan salah satu penyakit gangguan gizi yang penting bagi negara-negara tertinggal maupun Negara berkembang seperti Indonesia dan lainnya. disamping itu juga terlihat perubahan warna rambut menjadi merah seperti rambut jangung serta udah dicabut.

Tanda dan Gejala Klinis Anak Gizi Buruk. Ilmu Kesehatan Anak (Nelson Texbook of Pediatrics). 12. Lestari ED. Pedoman Pelayanan Medis. Jakarta: Bakti Husada.3/12. Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia. Soetomo. Pudjiadi. 2006. Jakarta: Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Marasmus. 5. Rabinowitz SS. Riset Kesehatan Daerah 2013.com/article/1104623- overview#a0104. Protein Energy Malnutrition. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 8. 2003. Jilid 1. Akib A. Sjarif DR. Pedoman Diagnosis dan Terapi: Bag/SMF Ilmu Kesehatan Anak.html. NS. 1999. WHO. 10. 2010. Jakarta: Bakti Husada. Nasar SS. 165 no. Buku Ajar Pediatrik. CMAJ (Canadian Medical Association Journal) November 13. 53 . DAFTAR PUSTAKA 1. Richard E.medscape. Gangguan Nutrisi. Petunjuk Teknis Tata Laksana Anak Gizi Buruk: Buku II. Unicef. 2013. Mexitalia M. Hidajat. Rudolph S. 3. Edisi 15. 13. Hoffer LJ. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2013 : 213-5. Scheinfeld. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementrian Kesehatan RI. Jakarta: IDAI.org/nutrition/training/2. 11. Surabaya: RSU dr. Hegar. Ismael S. Alatas H.com/article/984496-clinical#a0217. Diunduh pada tanggal 7 April 2014.unicef. Acute Malnutrition. Direktorat Bina Gizi Masyarakat Departemen Kesehatan RI. Irawan dan Hidajati. Available at: http://www.medscape. 1991 : 163-9. Geneva: World Health Organization. 1996 : 211-14. Jakarta: Departemen Kesehatan. Abraham M. Clinical nutrition: Protein–energy malnutrition in the inpatient. Malnutrisi. 2. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak. 4. Jili I. Management of Severe Malnutrition: a Manual for Physicians and Other Senior Health Workers. Available at: http://emedicine. Diunduh pada tanggal 8 April 2014. Robert K. Ann M. 6. 2001 vol. Diunduh pada tanggal 8 April 2014. Available at: http://emedicine. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. 7. Buku Ajar Nutrisi Pediatrik dan Penyakit Metabolik. 2011: 128-54. 14. 10 : 1345-9. Handryastuti. 9.

15. WHO Indonesia. 2009. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 54 . Jakarta: WHO Indonesia. Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit Rujukan Tingkat Pertama di Kabupaten. Jakarta: Departemen Kesehatan. Petunjuk Teknis Tata Laksana Anak Gizi Buruk: Buku I. 16. 2003.